Anda di halaman 1dari 6

143

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari hasil penelitian dalam tesis ini Penulis dapat membuat kesimpulan

sebagai berikut:

1. Imam al-Sarakhsi berpendapat bahwa dalalah lafazh amm bersifat qathi

(pasti) tunjukannya terhadap seluruh satuan makna yang diliputinya, bahkan

beliau menyamakan kedudukannya tersebut dengan dalalah lafazh khass

yang bersifat qathi al-dalalah. Sehingga apabila dijumpai dalil amm

(umum), wajib diamalkan tanpa mesti mencari dalil lain yang menyatakan

tunjukannya sebagai pendukung maupun sebagai pentakhsis. Beliau

berhujjah bahwa: Pada prinsipnya lafazh amm itu dibuat oleh bahasa untuk

menunjuk semua cakupan satuan yang ada di dalamnya tanpa terkecuali,

sehingga tunjukan dalalahnya bersifat qathi (pasti) terhadap seluruh satuan

yang menjadi cakupan keumuman lafazh itu. Jika si pembicara bermaksud

hanya sebagian makna saja, tentulah ia akan menggunakan lafazh khash.

Begitu juga halnya, sebuah lafazh amm ketika diithlaq (lawan muqayyad),

maka harus dipakaikan kepadanya makna hakikat lafazh tersebut (bukan

makna majazi) dalam mengetahui isi dan kandungan hukumnya secara qathi.

Sama halnya dengan lafazh khash yang wajib diberlakukan makna hakikat

lafazh tersebut dalam menetapkan kandungan hukumnya secara qathi kecuali

ada dalil lain yang menunjukkan kepada makna majazi.

143
144

2. Berbedanya pendapat imam al-Sarakhsi dengan jumhur mempunyai

konsekwensi sebagai berikut: Pertama: Dalil amm tidak dapat ditakhshish

dengan dalil zhanni seperti hadits ahad dan qiyas sedangkan jumhur

membolehkan. Kedua: kemungkinan terjadinya taarudh (pertentangan)

antara dalil amm dengan khash, sehingga berlaku metode penyelesaian

taarudh dalam menetapkan kesimpulan hukum, sedangkan konsekwensi

pendapat jumhur, tidak mungkin terjadi taarud dalilain, karena kedudukan

keduanya berbeda.

3. Beberapa contoh fiqh al-Sarakhsi dalam kitab al-Mabsuthnya yang

merupakan konsekwensi berbedanya konsep ushul fiqh dalam kajian dalalah

lafazh amm diantaranya: Di bidang ahwal al-syakhsyiah yaitu tentang thalaq

orang yang dipaksa, menurut beliau jatuh thalaqnya sedangkan jumhur tidak

jatuh, kewajiban nafkah bagi wanita yang dithalaq bain, menurut belau wajib

diberi nafkah, sedangkan jumhur tidak wajib nafkah. Di bidang ibadah yaitu

tentang membaca surat al-Fatihah dalam sholat, menurut beliau tidak

merupakan rukun shalat, sedangkan jumhur mengatakan membaca surat al-

Fatihah salah satu rukun shalat. Sembelihan orang muslim yang tidak

dibacakan basmalah, menurut beliau tidak sah dan haram dimakan,

sedangkan menurut jumhur hukumnya sah dan boleh dimakan. Di bidang

zakat: tentang nishab zakat tanam-tanaman beliau mengatakan tidak ada

nishab dalam zakat tanam-tanaman sedangkan jumhur mengatakan harus ada

nishab.

144
145

B. Saran-saran

Setelah mengadakan penelitian dan membuat kesimpulan sebagaimana di

atas, peneliti membuat dan memberi saran-saran sebagai berikut:

1. Kemampuan menggunakan kaidah-kaidah ushuliyyah perlu dilatih dalam

praktik pemecahan masalah hukum Islam kontemporer dalam forum-forum

khusus, seperti bahtsul masail, Majlis Tarjih dan laboratorium hukum yang

perlu didirikan di Fakultas maupun Jurusan Syariah pada lingkup Perguruan

Tinggi Islam.

2. Kajian ushul fiqh perlu lebih digalakkan dilembaga-lembaga pendidikan dan

perguruan tinggi dengan pemahaman yang lebih luas dan mendalam agar dapat

menghasilkan mufti-mufti yang berkualitas.

3. Penulis menyadari bahwa Tesis ini masih banyak kekurangan, hal ini sangat

disadari karena keterbatasan penulis, maka oleh sebab itu dimohon kritikan dan

saran positif untuk kesempurnaannya.

145
146

Analisa simpulan (rangkuman)


Sebuah kaidah dasar menyatakan bahwa tidak boleh menetapkan hukum dengan menggunakan lafaz
am sebelum dicari takhshishnya. Dengan asumsi bahwa lafaz am masih bersifat zhanny ad-dilalah

Definisi takhshi shh menurut al-Baidhawi:



Artinya: Takhshi shh ialah membatasi cakupan lafadz amm kepada sebagian afradnya.
Dari penjelasan para ulama tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan takhshi shh
adalah penjelasan tentang hukum lafazh amm yang sejak mula mempunyai cakupan makna yang umum
kepada beberapa afarad (makna), dibatasi untuk sebagian afradnya saja. Atau dengan kata lain, menjelaskan
sebagian dari satuan-satuan yang dicakup oleh lafazh amm dengan dali l. Lebih singkatnya takhshi sh adalah
mengeluarkan sebagian satuan-satuan yang masuk di dalam lafazh amm. Sedangkan mukhashshi sh adalah
dali l yang menjadi dasar pegangan untuk adanya pengeluaran tersebut (yang mentakhshi shh).
Dalam pengertian takhshi shh ini, para ulama sepakat bahwa takhshi shh itu tidak boleh terlambat
datangnya, supaya manusia tidak berada dalam ketidaktahuan tentang hakikat yang dimaksud oleh pembuat
hukum (Syari). Apabila terlambat maka bukan dinamakan takhshi shh, melainkan nasakh.1
Menurut pendapat al-Baidhowi, takhshi sh itu bukan penjelasan. Jadi, tidak masalah apabila
takhshi shh itu datangnya terlambat dari lafazh amm.
Adapun hukum takhshi shh itu adalah boleh, apabila takhshi sh itu memang dilakuan dengan dali l
naqli, dali l aqli dan lainya. Tidak ada perbedaan tentang bolehnya takhshi shh dengan dali l.
Dengan melihat keterangan di atas dapatlah diambil kesimpulan bahwa dali l amm tetap berlaku
bagi satuan-satuan yang masih ada sesudah dikeluarkan satuan tertentu yang ditunjukkan oleh mukhashshi sh.
Kaidah untuk itu adalah Lafazh Aam setelah ditakhshi shkan masih menjadi
hujjah (pegangan) bagi satuan-satuan yang terkandung di dalamnya.
Dalam kitab Ushul al-Sarakhsi dijelaskan:



2

Artinya: berkata imam al-Sarakhsi, menurutku yang paling sahih adalah bahwa para ulama kami
(Hanafiyah) bahwa amm apabila telah ditakhshi sh, maka tetap berlaku bagi seluruh satua-satuan yang masih
ada sesudah dikeluarkan satuan tertentu yang ditunjuk oleh mukhashshi sh.
Sebagaimana telah dijelaskan bahwa mayoritas ulama telah sepakat bahwa lafazh yang amm itu
menunjukan kepada setiap satuan yang dicakupnya, sekalipun mereka berselisih dalam hal kekuatan
penunjukan dalamnya terhadap setiap yang dicakup itu; apakah qathi atau zhanni , disamping telah
diterangkan bentuk perselsihan.
Lafazh amm itu terbagi atas dua macam, yaitu amm yang dapat dimasuki takhshiah dan amm
yang tidak dimasuki takhshiah. Karena itu harus ada dali l yang menunjukkan bahwa ia benar-benar ditaksis.
Golongan Hanafi berpendapat bahwa yang bisa mentaksis amm adalah lafazh yang berdiri sendiri bersama
dalam suatu zaman (Mustaqillan muqaranan),3 serta mempunyai kekuatan yang sama dilihat dari segi qathi /
zhannynya. Sebagaimana contoh adalah firman Allah:



Artinya : Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan
hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. (Qs.An- Nisaa:24)
Lafazh amm ini telah ditakhshish dengan sabda Nabi Muhammad SAW:

1
Nasakh adalah..................... cari pengertiannya...
2
Al-Sarakhsi, Ushul al-Sarakhsi, juz I, hlm. 144
3
Lihat Wahbah Zuhaili, al-Wajiz Fi Ushul al-Fiqh, hlm. 200

146
147

Artinya : Seorang wanita tidak bisa dikawini bibi dari Ayahnya/bibi dari lbunya. Dan pula dengan
keponakan dari saudaranya/keponakan dari saudaranya. Sebab jika kamu berbuat itu berarti kamu telah
memutuskan familimu.
Hadi ts ini tergolong hadits Masyhur, yang dalam konteks ini ia sebagai contoh yang mentakhshish
keumuman Al- Quran yang qathi.
Adapun contoh amm yang ditakhshi sh dalam firman Allah tentang waris :



Ayat ini memakai lafaz- lafazh amm, ditakhshi sh dengan dali l lafazh yang berdiri sendiri dan
bersamaan dalam masa yaitu sabda Nabi SAW:

Artinya: Si pembunuh itu tidak berhak mendapatkan harta warisan.
Dan ditaksis lagi dengan sabda Nabi SAW :


Artinya: " Orang yang berlainan agama tidak berhak sedikitpun memperoleh harta warisan"
Syarat-Syarat yang mentakhshi sh yang amm ada 3 yaitu :
a. Harus mustaqil (berdiri sendiri) dari amm. Pengkhususan seperti ististna yang datang
setelah lafazhamm menurut mereka bukan mukhashshi sh, tetapi dali l adanya pembatasan keumuman.
b. Harus bersama dalam masa yang sama (muqarinan li alamm), jika tidak bersamaan
waktunya, maka disebut dengan nasikh, bukan mukhashshi sh
c. Harus sama derajatnya dengan amm, apakah zhanni atau qathi
Betapapun para ulama fiqih berbeda pendapat tentang banyaknya pentakhshi sh Serta kekuatanya,
namun mereka sepakat dalam menetapakan bahwa takhshi sh bukan berarti mengeluarkan sebagian satuan
yang amm (umum) setelah berada didalamnya dari segi hukum.
Pendapat ulama Jumhur berbeda dan tidak mensyaratkan dua hal di atas. Jadi, mukhashshi sh bisa
berupa dali l mustaqil atau ghoir mustaqil, bersamaan dengan nash amm (muqarinan linnasshil amm) atau
tidak, tetapi semuanya dengan catatan tidak datang setelah pengamalan keumuman, bila datangnya setelah
pengamalan namanya nasikh.

147
148

148