Anda di halaman 1dari 26

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami haturkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan
rahmat-Nya sehingga makalah ini dapat diselesaikan secara baik. Morfologi adalah cabang
ilmu biologi yang membahas atau mempelajari tentang tata benuk luar atau struktur dari
suatu tumbuhan.

Makalah dengan judul Batang pada tumbuhan disusun dengan maksud untuk
membantu dalam proses belajar para mahasiswa/i.

Kami sangat menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnan,
karena itu harapan kami agar makalah ini dapat memenuhi tujuan dan bermanfaat bagi
pembaca. Saran dan kritik sangat kami harapan untuk menyempurnakan makalah ini.

Akhir kata, kami mengucapkan kepada teman-teman yang ikut membantu dalam
penyusunan makalah ini.

Kupang, 9 Maret 2017

penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................... 1

I. PENDAHULUAN .................................................................................... 3
A. LATAR BELAKANG.................................................................... 3
B. RUMUSAN MASALAH............................................................... 3
C. TUJUAN........................................................................................ 3
II. PEMBAHASAN..................................................................................... 4
1. PENGENALAN TERHADAP BATANG.................................... 4
2. BENTUK BATANG..................................................................... 7
3. ARAH TUMBUH BATANG....................................................... 12
4. PERCABANGAN PADA BATANG........................................... 13
5. MODIFIKASI BATANG............................................................. 19
6. MODEL AESITEKTUR POHON................................................ 21
III. PENUTUP............................................................................................. 23
A. KESIMPULAN................................................................................ 23
DAFTAR PUSTAKA................................................................................... 24

2
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Batang merupakan bagian kedua dari tumbuhan setelah akar. Batang bersatu
dengan akar melanjutkan sari makanan yang dibawa oleh akar melalui jaringan
pengangkut. Pada beberapa jenis tumbuhan, batang berfungsi sebagai tempat
menyimpan cadangan makanan, misalnya pada ubi jalar dan kentang. Batang pada
umumnya berada di atas permukaan tanah. Ada tiga jenis batang tumbuhan yang
terdapat di sekitar, yaitu batang berkayu, batang berair (batang basah) dan batang
rumput (berongga). Mengingat tempat dan kedudukannya bagi tubuh tumbuhan,
batang dapat disamakan dengan sumbu tubuh tumbuhan. Pada umumnya pada batang
terdapat bermacam-macam jaringan tetapi pada dasarnya batang memiliki lapisan-
lapisan jaringan yang sama dengan akar, yaitu Epidermis, Korteks, dan Silinder pusat
(Stele).
Batang merupakan bagian tubuh tumbuhan yang amat penting bagi tumbuhan
yang berada di atas permukaan tanah. Mengingat tempat dan kedudukannya bagi
tubuh tumbuhan, batang dapat disamakan dengan sumbu tubuh tumbuhan. Oleh
karena itu untuk mempertahankan fungsinya, batang melakukan berbagai adaptasi
terhadap lingkungan dimana tumbuhan tersebut tumbuh. Adaptasi setiap tumbuhan
berbeda-beda tergantung kebutuhan dari tumbuhan tersebut. Modifikasi batang
merupakan salah satu jalan tubuh tumbuhan dalam melakukan adaptasi, artinya
adaptasi dapat dilakukan tumbuhan dengan melakukan modifikasi bagian tubuh
tumbuhan, termasuk batang. Dalam makalah ini akan dijelaskan berbagai bentuk
adaptasi dan modifikasi yang dilakukan batang dalam mempertahankan hidup
tumbuhan. Batang memiliki ciri-ciri mempunyai buku dan ruas, umumnya terletak
diatas tanah. Untuk lebih lanjutnya akan penulis bahas pada bab II.

B. TUJUAN
1. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang batang tumbuhan.
2. Untuk mengetahui berbagai macam struktur batang, bentuk batang, arah tumbuh
batang, percabangan pada batang, modifikasi batang dan model arsitektur batang.
3. Untuk mengetahui fungsi batang

C. MANFAAT
1. Agar pembaca dapat mengetahui lebih lanjut mengenai batang tumbuhan.
2. Agar para pembaca dapat meningkatkan pengetahuannya mengenai berbagai
macam struktur dan jenis batang.
3. Agar mengetahui fungsi batang.

3
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pegenalan terhadap batang ( sifat, fungsi dan macam-macam batang )
Batang merupakan bagian tubuh tumbuhan yang amat penting, yang berada di atas
permukaan tanah dan mengignga tempat serta kedudukan batang bagi tubuh tumbuhan,
batang dapat disamakan dengan sumbu tubuh tumbuhan.
Pada umunya btanag mempunyai sifat sifat sebagai berikut :
a. Umunya berbentuk panjang bulat seperti silinder atau dapat pula mempunyai bentuk
lain.
b. Akan tetapi selalu bersifat aktinomorf. Artinya dapat dengan sejumlah bidang di
bagi menjadi dua bagian yang setangkup.
c. Tumbuhnya biasa keatas. Menuju cahaya atau matahari (bersifat autotrof atau
heliotrop),
d. Selalu bertambah panjang di ujungnya. Oleh sebab itu sering dikatakan bahwa
batang mempunyai pertumbuhan yang tidak terbatas,
e. Mengadakan percabangan dan selama hidupnya tumbuhan tidak di gugurkan,
kecuali kadang kadang cabang atau ranting yang kecil.
f. Umunya tidak berwarna hijau kecuali tumbuhan yang umurnya pendek. Misalnya
rumput atau waktu batang masih mudah.
Sebagai bagian tubuh tumbuhan. Batang mempunyai tugas untuk :
a. Mendukung bagian bagian tumbuhan yang ada di atas tanah. Yaitu : daun, bunga
dan buah.
b. Dengan percabangnya memperluas bidang asimilasi. Dan menempatkan bagian
bagian tumbuhandi dalam ruang sedemikian rupa. Sehingga dari segi kepentingan
bagaian bagian tadi terdapat dalam posisi yang paling menguntungkan.
c. Jalan pengangkutan air dan zat-zat makanan dari bawah keatas dan jalan
pengangkutan hasil-hasil asimilasi dari atas ke bawah.
d. Menjadi tempat penimbunan zat-zat makanan cadangan.
Jika kita membandingkan berbagai jenis tumbuhan. Ada di antaranya yang jelas kelihatan
batangnya. Tetapi adapula yang tampak tidak berbatang. Oleh sebab itu kita membedakan
batang menjadi dua bagian.

a. Tumbuhan yang tidak berbatang (Planta acaulis)


Tumbuhan-tumbuhan yang tidak berbatang sesungghunya tidak ada hanya
tampaknya saja tidak ada. Hanya tampaknya saja tidak ada. Hal itu disebabkan karena
batang amat pendek, sehingga semua daunnya seakan-akan keluar dari bagian atas
akarnya dan tersusun rapat satu sama lain merupakan suatu roset (rosula), seperti
misalnya lobak (Raphanus sativus L.), sawi (Brassica juncea L.). Tumbuhan
semacam ini akan memperlihatkan batang dengan nyata pada waktu berbunga. Dari
tengah-tengah roset daun akan muncul batang yang tumbuh cepat dengan daun-daun
yang jarang-jarang, bercabang-cabang, dan mendukung bunga-bunganya.

4
Gambar 1 : lobak
Sumber : Wordpress.com

b. Tumbuhan yang jelas berbatang.


Yaitu tumbuhan yang jelas-jelas kelihatan batangnya seperti kita menjumpai pada
umumnya tumbuhan. Batang tumbuhan dapat dibedakan seperti berikut :
1. Batang basah (herbaceous), yaitu batang yang lunak dan berair, misalnya pada
bayam (Amaranthus spinosus L.), krokot (Portulaca oleracea L.), pisang (Musa
paradiciaca L.)

Gambar 2 : gambar bayam


Sumber : WordPress.com

2. Batang berkayu (lignosus), yaitu batang yang biasa keras dan kuat, karena sebagian
besar terdiri atas kayu, yang terdapat pada pohon-pohon (arbores) dan semak-
semak (frutices) pada umumnya. Pohon adalah tumbuhan yang tinggi besar, batang
berkayu dan bercabang jauh dari permukaan tanah, sedang semak adalah tumbuhan
yang tak seberapa besar, batang berkayu, bercabang-cabang dekat permukaan tanah
atau malahan dalam tanah. Contoh pohon: mangga (Mangifera indica L.), semak :
sidaguri (Sida rhombifolia L.).

5
Gambar 3 : batang berkayu
Sumber : WordPress.com

3. Batang rumput (calmus), yaitu batang yang tidak keras, mempunyai ruas-ruas yang
nyata dan seringkali berongga, misalnya pada padi (Oryza sativa L.) dan rumput
(Gramineae) pada umumnya.

Gambar 4 : batang padi


Sumber : bertaniku.com

4. Batang mendong (calamus), seperti batang rumput, tetapi mempunyai ruas-ruas


yang lebih panjang, misalnya pada mendong (Fimbristylisglobulosa Kunth.),
wlingi (Scirpus grossus L.) dan tumbuhan sebangsa teki (Cyperaceae) lainnya.

Gambar 5 : batang mendong


Sumber : Black Pearl-blogger.com

6
2. Bentuk Batang
Tumbuhan biji belah (Dycotyledoneae) pada umumnya mempunyai batang yang di
bagian bawahnya lebih besar dan ke ujung semakin mengecil, jadi batangnya dapat
dipandang sebagai suatu kerucut atau limas yang amat memanjang, yang dapat
mempunyai percabangan atau tidak. Tumbuhan biji tunggal (Monocotyledoneae)
sebaliknya mempunyai batang yang dari pangkal sampai ke ujung boleh dikata tak ada
perbedaan besarnya. Hanya pada beberapa golongan saja yang pangkalnya tampak
membesar, tetapi selanjutnya ke atas tetap sama, seperti terlihat pada bermacam-macam
palma (Palmae).

Jika kita berbicara tentang bentuk batang biasanya yang dimaksud ialah bentuk batang
pada penampang melintangnya. Dan dilihat dari sudut bentuk penampang melintangnya
ini dapat dibedakan bermacam-macam bentuk batang antara lain:

a) Bulat (teres), misalnya bambu (Bambusa sp.), kelapa (Cocos nucifera L.).

Gambar 6 : bambu
Sumber : WordPress.com
b) Bersegi (angularis). Dalam hal ini ada kemungkinan:

Bangun segitiga (triangularis), misalnya batang teki (Cyperus rotundus).

Gambar 7 : batang teki


Sumber : WordPress.com

7
Segi empat (quadrangularis), misalnya batang markisah.

Gambar 8 : batang markisah


Sumber : tipspetani - blogger

c) Pipih dan biasanya lalu melebar menyerupai daun dan mengambil alih tugas daun
pula. Batang yang bersifat demikian dinamakan:
Filokladia (phyllocladium), jika amat pipih dan mempunyai pertumbuhan yang
terbatas, misalnya pada Jakang (Muehlenbeckia platyclada Meissn.),

Gambar 9 : jakang
Sumber : Semakin-Indonesia.com

Kladodia (Cladodium), jika masih tumbuh terus dan mengadakan


percabangan, misalnya sebangsa kaktus (Opuntia vulgaris Mill.).

Gambar 10 : kaktus
Sumber : Wordpress.com

Dilihat permukaannya, batang tumbuh-tumbuhan juga memperlihatkan sifat yang


bermacam-macam. Kita dapat membedakan permukaan batang yang:

8
a. Licin (laevis), misalnya batang jagung (Zea mays L.),
b. Berusuk (costatus), jika pada permukaannya terdapat rigi-rigi yang membujur,
misalnya iler (Coleus scutellarioides Benth.),

Gambar 11 : iler
sumber : Wordpress.com

c. Beralur (sulcatus), jika membujur batang terdapat alur-alur yang jelas, misalnya
pada Cereus peruvianus (L.) Haw.

Gambar 12 : Cereus peruvianus (L.) Haw.


Sumber : Top Tropicals.com

d. Bersayap (alatus), biasanya pada batang yang bersegi, tetapi pada sudut-sudutnya
terdapat pelebaran yang tipis, misalnya pada ubi (Dioscorea alata L.) dan markisah
(Passiflora quadrangularis L.).

9
Selain dari itu permukaan batang dapat pula :

e. Berambut (pilosus), seperti misalnya pada tembakau (Nicotiana tabacum L.),

Gambar 13 : tembakau
Sumber : Wordpress.com

f. Berduri (spinosus), misalnya pada mawar (Rosa sp),

Gambar 14 : mawar
Sumber : semakinindonesia.com

g. Memperlihatkan bekas-bekas daun, misalnya pada papaya (Carica papaya L.) dan
kelapa (Cocos nucifera L.),

Gambar 15 : pepaya
Sumber : Wordpress.Com

10
h. Memperlihatkan bekas-bekas daun penumpu, misalnya: nangka (Artocarpus
integra Merr.), keluwih (Artocarpus comunis Forst.),

Gambar 16 : nangka
Sumber : Wordpress.Com

i. Memperlihatkan banyak lentisel, misalnya pada sengon (Albizzia stipulate Boiv.),

Gambar 17 : sengon
Sumber : Pracayudha - blogger

j. Keadaan-keadaan lain, misalnya lepasnya kerak (bagian kulit yang mati) seperti
terlihat pada jambu biji (Psidium guajava L.) dan pohon kayu putih (Melaleuca
leucadendron L.)

Gambar 18 : jambu biji


Sumber : Wordpress.Com

11
3. Arah tumbuh batang

Walaupun seperti telah dikemukakan, batang umumnya tumbuh ke arah cahaya,


meninggalkan tanah dan air, tetapi mengenai arahnya dapat memperlihatkan variasi, dan
bertalian dengan sifat ini dibedakan batang yang tumbuhnya:
a. Tegak lurus (erectus), yaitu jika arahnya lurus ke atas, misalnya papaya (Carica
papaya L.),

Gambar 19 : tegak lurus pada batang pepaya


Sumber : Wordpress.Com

b. Menggantung (dependens, pendulus), ini tentu saja hanya mungkin untuk tumbuh-
tumbuhan yang tumbuhnya di lereng-lereng atau tepi jurang, misalnya Zebrina
pendula Schnitzl., atau tumbuh-tumbuhan yang hidup di atas pohon sebagai epifit,
misalnya jenis anggrek (Orchidaceae) tertentu.

Gambar 20 : meggantung pada tumbuhan anggrek


Sumber : Blog Mang Yono.Com

c. Berbaring (humifusus), jika batang terletak pada permukaan tanah, hanya ujungnya
saja yang sedikit membengkok ke atas, misalnya pada semangka (Citrullus vulgaris
Schrad.),

Gambar 21 : berbaring pada semangka. Sumber : Semakin Indonesia.com

12
d. Menjalar atau merayap (repens), batang berbaring tetapi dari buku-bukunya keluar
akar-akar, misalnya batang ubi jalar (Ipomoea batatas Poir.).

Gambar 22 : menjalar pada ubi jalar


Sumber : Wordpress.Com

e. Serong ke atas atau condong (ascendens), pangkal batang seperti hendak berbaring,
tetapi bagian lainnya lalu membelok ke atas, misalnya pada kacang tanah (Arachis
hypogaea L).

Gambar 23 : Condong pada tanaman kacang tanah


Sumber : Siluet - WordPress.com

f. Mengangguk (nutans), batang tumbuh tegak lurus ke atas, tetapi ujungnya lalu
membengkok kembali ke bawah, misalnya pada bunga matahari (Helianthus annuus
L.),

Gambar 24 : mengangguk pada tanman bunga matahari


Sumber : Wordpress.Com

13
g. Memanjat (scandens), yaitu jika batang tumbuh ke atas dengan menggunakan
penunjang. Penunjang dapat berupa benda mati ataupun tumbuhan lain, dan pada
waktu naik ke atas batang menggunakan alat-alat khusus untuk berpegangan pada
penunjang ini, misalnya dengan :
Akar pelekat, contohnya sirih (Piper betle L.),

Gambar 25 : Memanjat akar pelekat pada sirih


Sumber : ScienceAndri - blogger

Akar pembelit, misalnya panili (Vanilla planifolia Andr.),


Cabang pembelit (sulur dahan), misalnya anggur (Vitis vinifera L.),
Daun pembelit atau sulur daun, misalnya kembang sungsang (Gloriosa superba
L.)
Tangkai pembelit, misalnya pada kapri (Pisum sativum L.),
Duri, misalnya mawar (Rosa sp), bugenvil (Bougainvillea spectabilis Willd.),
Duri daun, misalnya rotan (Calamus caesius Bl.),
Kait, misalnya gambir (Uncaria gambir Roxb.).

h. Membelit (volubilis), jika batang naik ke atas dengan menggunakan penunjang seperti
batang yang memanjat, akan tetapi tidak dipergunakan alat-alat yang khusus,
melainkan batangnya sendiri naik dengan melilit penunjangnya. Menurut arah
melilitnya dibedakan lagi batang yang :
Membelit ke kiri (Sinistrorsum volubilis), jika dilihat dari atas arah belitan
berlawanan dengan arah putaran jarum jam. Dapat pula dikatakan demikian: jika
kita mengikuti jalannya batang yang membelit itu, penunjang akan selalu di
sebelah kiri kita. Batang yang membelit ke kiri misalnya pada kembang telang
(Clitoria ternatea L.),

Gambar 26 : Membelit ke kiri pada tumbuhan kembang telang


Sumber : Semakin Indonesia.Com

14
Membelit ke kanan (Dextrorsum volubilis). Jika arah belitan sama dengan arah
gerakan jarum jam, atau jika kita mengikuti arah belitan, penunjang akan selalu di
sebelah kanan kita. Batang tumbuhan yang membelit ke kanan tidak banyak
ditemukan, contoh: gadung (Dioscorea hispida Dennst.).

Gambar 27 : Membelit ke kanan pada gadung


Sumber : Blog mang yono.Com

4. Percabangan pada batang

Batang suatu tumbuhan ada yang bercabang ada yang tidak, yang tidak bercabang
kebanyakan dari golongan tumbuhan yang berbiji tunggal (Monocotyledoneae), misalnya
jagung (Zea mays L.). Umumnya batang memperlihatkan percabangan, entah banyak
entah sedikit.

Cara percabangan ada bermacam-macam, biasanya dibedakan 3 macam cara


percabangan, yaitu:

1. Cara percabangan monopodial, yaitu jika batang pokok selalu tampak jelas, karena
lebih besar dan lebih panjang (Lebih cepat pertumbuhannya) daripada cabang-
cabangnya misalnya pohon cemara (Casuarina equisetifolia L.),

Gambar 28 : percabangan monopodial pada cemara


Sumber : Wordpress.Com

15
2. Percabangan simpodial, batang pokok sukar ditentukan, karena dalam
perkembangan selanjutnya mungkin lalu menghentikan pertumbuhannya atau kalah
besar dan kalah cepat pertumbuhan dibandingkan dengan cabangnya, misalnya pada
sawo manila (Achras zapota L.),

Gambar 29 : percabangan simpodial pada sawo manila


Sumber : Wordpress.Com

3. Percabangan menggarpu atau dikotom, yaitu cara percabangan, yang batang setiap
kali menjadi dua cabang yang sama besarnya, misalnya paku andam (Gleichenia
linearis Clarke).

Gambar 30 : percabangan menggarpu paku andam


Sumber : Wordpress.com

Cabang yang besar yang biasanya langsung keluar dari batang pokok lazimnya disebut
dahan (ramus), sedang cabang-cabang yang kecil dinamakan ranting (ramulus).
Cabang-cabang pada suatu tumbuhan dapat bermacam-macam sifatnya, oleh sebab itu
cabang-cabang dapat dibedakan seperti di bawah ini:

a) Geragih (flagellum, stolo),


Yaitu cabang-cabang kecil panjang yang tumbuh merayap, dan dari buku-
bukunya ke atas keluar tunas baru dan ke bawah tumbuh akar-akar. Tunas pada
buku-buku ini beserta akar-akarnya masing-masing dapat terpisah merupakan
suatutumbuhan baru. Cabang yang demikian ini dibedakan lagi dalam dua macam :

16
Merayap di atas tanah, misalnya pada daun kaki kuda (Centellaasiatica Urb.) dan
arbe (Fragraria vesca L.),

Gambar 31 : Tumbuhan kaki kuda


Sumber : Wordpress.Com

Merayap di dalam tanah, misalnya teki (Cyperus rotundus L.), kentang (Solanum
tuberosum L.).

Gambar 32 : tumbuhan kentang


Sumber : Wordpress.Com

b) Wiwilan atau tunas air (virga singularis),


Yaitu cabang yang biasanya tumbuh cepat dengan ruas-ruas yang panjang, dan
seringkali berasal dari kuncup yang tidur atau kuncup-kuncup liar. Seringkali
terdapat pada kopi (Coffea sp.) dan pohon coklat (Theobroma cacao L.),

Gambar 33 : pohon coklat


Sumber : Wordpress.com

17
c) Sirung panjang (virga),
Yaitu cabang-cabang yang biasanya merupakan pendukung daun-daun, dan
mempunyai ruas-ruas yang cukup panjang. Pada cabang-cabang demikian ini tidak
pernah dihasilkan bunga, oleh sebab itu sering disebut pula cabang yang mandul
(steril),
d) Sirung pendek (virgula atau virgula sucrescens),
yaitu cabang-cabang kecil dengan ruas- ruas yang pendek yang selain daun
biasanya merupakan pendukung bunga dan buah. Cabang yang dapat menghasilkan
alat perkembangbiakan bagi tumbuhan ini disebut pula cabang yang subur (fertil).

Cabang-cabang pada suatu tumbuhan biasanya membentuk sudut yang tertentu dengan
batang pokoknya. Bergantung pada besar kecilnya sudut ini, maka arah tumbuh
cabang menjadi berlainan.

Umumnya orang membedakan arah tumbuh cabang seperti berikut:

1) Tegak (fastigiatus),
Yaitu jika sudut antara batang dan cabang amat kecil, sehingga arah tumbuh
cabang hanya pada pangkalnya saja sedikit serong ke atas, tetapi selanjutnya
hampir sejajar dengan batang pokoknya, misalnya wiwilan pada kopi (Coffea
sp.),
2) Condong ke atas (patens),
jika cabang dengan batang pokok membentuk sudut kurang lebih 450,
misalnya pada pohon cemara (Casuarina equisetifolia L.),
3) Mendatar (horizontalis),
jika cabang dengan batang pokok membentuk sudut sebesar kurang lebih
0
90 C, misalnya pada pohon randu (Ceiba pentandra Gaertn.),
4) Terkulai (declinatus),
jika cabang pada pangkalnya mendatar, tetapi ujungnya lalu melengkung ke
bawah, misalnya kopi robusta (Coffea robusta Lindl.),
5) Bergantung (pendulus),
cabang-cabang yang tumbuhnya ke bawah, misalnya cabang-cabang tertentu
pada Salix.

Mengenai soal batang, selain yang telah diuraikan di muka, ada bermacam-macam
tumbuhan yang mempunyai pangkal batang di dalam tanah, yang dapat merupakan
suatu alat untuk menahan kala yang buruk. Tumbuhan yang mempunyai batang yang
demikian itu, dalam musim buruk, misalnya di daerah panas dalam musim kering (di
daerah iklim sedang dalam musim dingin), bagian yang di atas tanah seringkali mati,
tetapi bagian yang dalam tanah tetap hidup, dan jika musim baik telah tiba, akan
bertunas menghasilkan tumbuhan yang baru. Pangkal batang dalam tanah yang
berguna untuk mengarungi kala yang buruk itu disebut caudex, terdapat misalnya
pada valerian (Valeriana officinalis L.), klembak (Rheum officinale B.).
Dalam membicarakan perihal pangkal batang yang menjadi alat untuk
mempertahankan kehidupan tumbuhan pada masa yang buruk, dapat diketahui bahwa
batang tumbuhan mempunyai umur yang terbatas. Karena kalau batang mati, biasanya
tumbuhannya pun mati, maka tumbuhan seringkali dibeda-bedakan menurut panjang
atau pendek umurnya, yaitu dalam:

18
a. Tumbuhan annual (annuus),
yaitu tumbuhan yang umurnya pendek, umurnya kurang dari satu tahun sudah
mati atau paling banyak dapat mencapai umur setahun. Dalam golongan ini
termasuk bermacam-macam tanaman yang di dunia pertanian terkenal sebagai
tanaman palawija, missal jagung (Zea mays L.), kedele (Soja max Piper), kacang
tanah (Arachis hypogaea L.), dll. Untuk menunjukkan sifat ini, dalam buku-buku
pelajaran dicantumkan tandadibelakang nama tumbuhannya.

b. Tumbuhan biennial (dua tahun) (biennis),


Yaitu tumbuhan yang untuk hidupnya, mulai tumbuh sampai menghasilkan
biji (keturunan baru) memerluikan waktu dua tahun. Sifat ini sering di tunjukkan
dengan tanda, misalnya biet (Beta vulgaris L.), digitalis (Digitalis purpurea L.).

c. Tumbuhan menahun atau tumbuhan keras,


Yaitu yang dapat mencapai umur sampai bertahun-tahun belum juga bmati,
bahkan ada yang yang dapat mencapai umur sampai ratusan tahun. Untuk golongan
pohon-pohon dan semak-semak, sifat ini ditunjukkan dengan tanda planet
Saturnus, sedang untuk tanda terna (herba) yang berumur panjang, sifat ini
ditunjukkan denan tanda planet Jupiter, yaitu tanda X. Terna yang berumur panjang
biasanya mempuyai bagian di bawah tanah yang selalu hidup, walaupun bagiannya
yang di atas tanah yang selalu hidup, walaupun bagiannya yang di atas tanah telah
mati, misalnya : empon-empon (Zingiberaceae).

5. Modifikasi batang

Batang yang bentuknya berubah disebut batang yang telah mengalani modifikasi.
Batang dapat terspesialisasi serta termodifikasi bentuknya untuk keperluan tugas khusus
seperti menimbun cadangan makanan dan untuk fotosintesis.
Pada batang, buku adalah tempat melekatnya daun pada batang, dan batang diantara 2
daun berurutan disebut ruas. Kuncup yang terletak pada ujung batang disebut kuncup
terminal. Bersama kuncup aksilar, kuncup terminal akan menentukan bentuk dari
percabangan.
Beberapa modifikasi batang antara lain:

1) Stolon Geragih

Stolon adalah batang horizontal panjang yang menjalar di atas atau dalam
tanah maupun air. Pada buku-buku batangnya tumbuh tunas dan membentuk akar.
Setelah beberapa waktu tanaman ini tumbuh memanjang dan menjauhi induknya lalu
membengkok ke atas membentuk individu baru. Cabang yang demikian itu
dibedakan menjadi :

19
1. Cabang yang Merayap di Atas Tanah
Misalnya pada daun kaki kuda ( Centella asiatica ) dan arbei ( Fragraria vesca ).

Gambar 34 : tumbuhan kaki kuda


Sumber : Wordpress.com

2. Cabang yang Merayap di Bawah Tanah


Misalnya teki ( Cyperus rotundus )
3. Cabang yang Merayap di Bawah Air
Dapat dijumpai misalnya pada eceng gondok ( Eichornia crassipes )

2) Rhizoma / Rimpang

Rimpang adalah batang di bawah tanah yang tumbuh horisontal dan biasanya
bercabang, berbuku, beruas, daun yang melekat pada buku berbentuk sisik yang tipis
seperti selaput dan warnanya tidak hijau. Rimpang . Rimpang merupakan tempat
penimbunan zat-zat makanan cadangan, contohnya antara lain pada tanaman
tasbih(Canna edulis Ker), kerut (Maranta arundina L) dan iris Rimpang merupakan
organ modifikasi batang bukan akar dengan ciri sebagai berikut:

Gambar 35 : tasbih
Sumber : semakin indonesia.com

1. berdaun, tetapi daun melekat pada buku, telah menjelma menjadi sisik-sisik
yang tipis seperti selaput dan tidak hijau.
2. Mempunyai kuncup-kuncup
3. Tumbuhnya tidak ke pusat bumi atau air, kadang ke atas dan muncul ke
tanah

20
3) Umbi Batang

Batang dapat terspesialisasi serta termodifikasi bentuknya untuk keperluan


tugas khusus seperti menimbun cadangan makanan dan untuk fotosintesis. Umbi
batang merupakan salah satu bentuk modifikasi batang yang berguna untuk
menyimpan cadangan makanan. Umbi batang merupakan pembengkakan batang
yang di dalamnya terdapat jaringan yang digunakan untuk menyimpan zat cadangan
makanan. Ciri dari umbi batang adalah :

1. Berada di bawah permukaan tanah


2. Terdapat tunas
3. Batang menebal namun tidak tertutup daun sisik
4. Buku pada kuncup tiap ketiak tetap tampak.

Contoh dari umbi batang adalah Kentang ( Solanum tuberosum ). Pada pangkal
batang kentang diatas tanah, tumbuh sejumlah geragih yang memasuki tanah dan
menjadi panjang. Di saat kegiatan meristem apeks di ujung geragih terhenti sehinnga
tidak bertambah panjang. Sebagian tumbuh menjadi umbi kentang. Perbanyakan
vegetative dapat dilakukan dengan menanam sebagian batang dengan tunas
ketiaknya.

Gambar 36 : Kentang ( Solanum tuberosum ).


Sumber : wordpress.com

4) Umbi Lapis

Umbi ini terselubung oleh lapisan luar yang kering dan tipis seperti selaput.
Penutup yang dinamakan tunika, berperan sebagai pelindung terhadap kekeringan
dan luka mekanik terhadap umbi. Sisik berdaging tersusun sebagai lapisan continue
dan konsentris sehingga berstruktur padat. Umbi lapis jika ditinjau asalnya adalah
penjelmaan batang beserta daunnya. Dinamakan umbi lapis karena memperlihatkan
susunan yang berlapis-lapis yaitu yang terdiri dari daun-daun yang telah menjadi
tebal, lunak dan berdaging, merupakan bagian umbi yang menyimpan zat cadangan,
sedang batangnya hanya bagian yang kecil pada bagian bawah umbi lapis itu.
Contoh pada bawang merah ( Allium cepa ).

21
Gambar 37 : Bawang merah ( Allium cepa ).
Sumber : Wordpress.com

5) Kormus

Terdiri dari batang pendek dan gemuk yang berorientasi vertical dalam tanah
dan diselubungi sisik ( daun ) kering. Kormus dapat menghasilkan anak kormus
yang disebut kormel yang merupakan tunas yang berkembang di ketiak daun pada
kormus induk. Seringkali kormel terdapat di ujung sumbu batang yang tergolong
geragih . Pada kormus dapat dibedakan ruas dan buku. Sebagian besar kormus
terdiri dari parenkim yang berisi cadangan makanan. Pada kormus yang dewasa,
dasar daun kering bertahan pada buku-buku dan menyelubungi serta menutupi
kormus. Tutup atau tunika ini melindungi kormus terhadap luka dan kekeringan. Di
setiap buku kormus terdapat kuncup ( tunas ) ketiak. Contoh tanaman yang
berkormus adalah Gladiolus gandavensis.

6) Umbi Sisik

Umbi ini tidak memiliki penutup kering. Sisik terpisah dan tidak sama
tingginya serta semua melekat pada papan basal. Pada umumnya umbi sisik ini
mudah rusak dan perlu dirawat agar tetap lembab, sebab akan luka jika kekeringan.
Pada waktu panen tampak bahwa pada umbi terdapat priordium akar. Akar ini tidak
akan mengalami pemanjangan sebelum ditanam pada lingkungan yang sesuai.
Contoh tumbhan dengan umbi sisik adalah pada tanaman bunga lili ( Lilium
longiflorum ).

Gambar 38 : umbi lili (Bulbus squamosus)


Sumber : Semakin Indonesia.com

22
7) Umbi Semu

Umbi semu atau pseudobulbus sering ditemukan pada tanaman anggrek epifit.
Pseudobulbus ini digunakan untuk menyimpan air.

Gambar 39 : jahe (Zingiber officinale)


Sumber : Wordpress.Com

6. Model Arsitektur Pohon (Massart, Rauh dan Nozeran)

Model arsitektur pohon merupakan konstruksi bangunan suatu pohon sebagai hasil
pola pertumbuhan meristematik yang dikontrol secara morfogenik. Elemen-elemen dari
suatu arsitektur pohon terdiri dari pola pertumbuhan batang, percabangan dan
pembentukan puncak terminal (Halle et al, 1975).

Model massart : yaitu model pohon dengan ciri-ciri batang batang bercabang,
poliaksial, dengan aksis vegetatif tidak ekuivalen, homogen (terdiferensiasi dalam
bentuk aksis ortotropic), percabangan seluruhnya acrotonic dalam membentuk batang,
bukan konstruksi modular dengan perbungaan lateral, pola percabangan umum
monopodium, pertumbuhan batang dan cabang ritmik dan percabangan flagiotropik
bukan karena aposisi, monopodial atau simpodial karena substitusi. Contohnya : ki
endog (Geniostoma haemospermum) dari famili Loganiaceae dan ki bangkong
(Turpinia spaerocarpa) dari famili Staphyliaceae. Gambar arsitekturnya sebagai
berikut :

Gambar 6.1 : model massart


Sumber : Wordpress.com

23
Model Rauh : yaitu model pohon yang memiliki ciri-ciri batang bercabang, poliaksial
atau pohon dengan beberapa aksis berbeda, dengan aksis vegetatif yang tidak
ekuivalen dengan bentuk homogen, semuanya orthotropic, percabangan monopidial
dengan perbungaan lateral dan mempunyai batang pokok yang mengalami
pertumbuhan secara ritmik. Contohnya : huru (Litsea angulata) dari famili
Elaeocarpaceae, puspa (Schima wallichii) dari famili Theaceae dan rasamala (Altingia
excelsa) dari famili Hamamelidaceae. Gambar arsitekturnya sebagai berikut :

Gambar 6.2 : model rauh


Sumber : Wordpress.com

Model Nozeran : yaitu model pohon yang memiliki ciri batang bercabang, kadang-
kadang terlihat seperti tidak bercabang, poliaksial, aksis vegetatif tidak ekuivalen
(homogen, heterogen atau campuran) tetapi selalu mempunyai perbedaan yang jelas
antarara batang dan cabang, aksis vegetatif homogen, percabangan akrotoni, bukan
konstruksi modular, seringkali dengan perbungaan lateral, pokok simpodium,
ortotropik, cabang berupa simpodial atau monopodial tetapi tidak pernah plagiotropik.
Gambar arsitekturnya sebagai berikut :

Gambar 6.3 : Model nozeran


Sumber : Wordpress.Com

24
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Batang merupakan bagian tubuh tumbuhan yang amat penting, yang berada di
atas permukaan tanah dan mengignga tempat serta kedudukan batang bagi tubuh
tumbuhan, batang dapat disamakan dengan sumbu tubuh tumbuhan.

Berbagai macam jenis batang yaitu :

o Tumbuhan yang tidak berbatang (Planta acaulis)


o Tumbuhan yang jelas berbatang.
Batang basah (herbaceous),
Batang berkayu (lignosus),
Batang rumput (calmus)
Batang mendong (calamus)
o Bentuk batang : Bulat (teres),Bersegi (angularis), Pipih dan biasanya lalu
melebar
o Arah tumbuh batang : Tegak lurus (erectus), Menggantung (dependens,
pendulus, Berbaring (humifusus), Menjalar atau merayap (repens), Serong ke
atas atau condong (ascendens), Mengangguk (nutans),dan Memanjat
(scandens), Membelit (volubilis),
o Percabangan pada batang : Cara percabangan monopodial, Percabangan
simpodial, dan Percabangan menggarpu atau dikotom
o Modifikasi batang : Stolon Geragih, Rhizoma / Rimpang, Umbi Batang, Umbi
Lapis, Kormus, Umbi Sisik dan UmbiSemu
o Model arsitektur pohon : model massart, model rauh, dan model nozeran.

Adapun fungsi batang adalah sebagai berikut

o Mendukung bagian-bagian tumbuhan seperti daun, bunga, dan buah.


o Dengan percabanganya memperluas bidang asimilasi.
o Sebagai jalan pengangkutan air dan zat-zat makanan dari bawah ke atas dan
sebagai jalan pengangkutan hasil-hasil asimilasi dari atas ke bawah.
o Menjadi tempat penimbunan zat-zat asimilasi makanan cadangan.

25
DAFTAR PUSTAKA

Tjitrosoepomo, G.1992. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta. Gadjah mada University


Press. (hal 242-253).

Pudjoarinto, A. 1986. Sitematika tumbuhan. Laboratorium taksonomi tumbuhan.


Fakultas Biologi UGM. Yogykarta. (hal 45-53)

Sumardi, I. & Pudjoarinto, A. 1992. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. Fakultas


Biologi UGM Yogykarta.

Poppy, K. Devi dan Sri, Anggraeni. 2008. Ilmu Pengetahuan Alam 4. Jakarta. Pusat
Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional (hlm. 38)

Sulistyanto, H. dan Wiyono, E. 2008. Ilmu Pengetahuan Alam 4. Jakarta. Pusat


Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional (hlm. 29)

26