Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR

MODULUS ELASTISITAS

Oleh:

Ephas indika A

Moh . Saifudin Z

Miftakhu Firdhaus

Asisten : Ervin Budi F

LABORATORIUM FISIKA DASAR

JURUSAN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS JEMBER

2014
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Modulus elastistas merupakan kemampuan benda untuk menahan


perubahan bentuk sampai batas elastisnya. Semakin besar bebannya, semakin
tinggi tegangan yang timbul dan semakin besar perubaha bentuknya. Benda yang
tidak mampu menahan beban, benda tersebut akan berubah bentuk permanen atau
juga bisa patah.

Konsep modulus elastisitas banyak diterapkan dalam kehidupan sehari-


hari. Contohnya adlah pada jembatan, ketika dilewati kendaraan jembatan tersebut
akan melengkung walaupun sedikit. Dan akan kembali ke bentuk semula jika
tidak ada kendaraa yang lewat.

Penentuan modulus elastisitas menggunakan bahan dan diberi beban di


tengahnya. Perubahan bentuk benda dilihat dari skala. Beban yang ditambahkan
tidak boleh melebihi batas elastisnya.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dalam percobaan ini adalah
1. Bagaimana modulus elastisitas masing-masing bahan?
2. Bagaimana hubungan modulus elastisitas dengan jenis bahan?
3. Bagaimana hubungan modulus elastisitas drngan bentuk bahan?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah
1. Menentukan modulus elastisitas masing-masing bahan.
2. Mengatahui hubungan modulus elastisitas dengan jenis bahan.
3. Mengatahui hubungan modulus elastisitas drngan bentuk bahan.

1.4 Manfaat
Konsep modulus elastisitas banyak dimanfaatkan dalam penggunaan
pembuatan jembatan. Bahan yang akan dibuat jembatan akan lebih mudah
digunakan jika diketahui modulus elastisitasnya. Kekuatan jembatan juga dapat
diketahui jika modulus elastisitasnya diketahui.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Sebuah benda yang berad dalam keadaan setimbang tetapi dipengaruhi


gaya-gaya yang berusaha menarik, menggeser atau menekannya maka bentuk
benda itu akan berubah. Jika benda kembali ke bentuknya semula bila gaya-gaya
tersebut dihilangkan, benda tersebut dikatakan elastik. Kebanyakan benda adalah
elastik terhadap gaya-gaya terlalu besar dan batas elastik dilampaui, maka benda
tidak kembali ke bentuknya semula, tetapi secara permanen berubah bentuk. Rasio
gaya F terhadap luas penampang A dinamakan tegangan tarik. Perubahan

fraksional pada panjang batang dinamakan regangan(Tipler,1998).


Satuan Internasional (SI) tegangna adalahnewton per meter persegi (2 ).

Satuan ini juga memiliki nama khusus yaitu Pascal (Pa). 1 Pa= 12 . Perbandingan
tegangan per regangan disebut modulus Young suatu bahan(Sears,1984).
Modulus elastisitas didapat dari rumus sebagai berikut

= ........ (2.1)

Keterangan E : modulus elastisitas (Pa)

: tegangan (Pa)

: regangan
(Budi,2011)

Regangan tidak memiliki satuan karena merupakan rasio dari besara-


besaran yang sama. Modulus Young adalah ukuran dasar yang penting dari
perilaku mekanis bahan (Bueche,2005).

Hampir semua logam pada tahap awal dari uji tarik terjadi hubungan
antara beban atau gaya yang diberikan berbanding lurus dengan perubahan benda
tersebut. Ini disebut daerah linier. Aturan Hooke berbunyi rasio tegangan (stress)
dan regangan (strain) adalah konstan. Stress adalah beban dibagi luas penampang
bahan dan strain adalah penambahan panjang dibagi panjang awal bahan.

= .........(2.2)


: stress (2 )

F : gaya (N)

A : luas penampang (2 )

= ............(2.3)

: strain/regangan

: pertambahan panjang

L : panjang awal. (Gandavi,2010)

berbanding lurus dengan berat atau gaya yang dikenakan pada benda.
Kesebandingan ini dapat dituliskan sebagai persamaan

= ..........(2.4)

Disini F mewakili gaya yang menarik benda, merupakan kenaikan panjang dan
k tetapan kesetimbangan (Giancoli,1997).

Elastisitas menunjukkan bahwa deformasi yang dihasilkan oleh tegangan


dalam batas normal benar-benar kembali ke bentuk semula setelah beban
dihilangkan. Ketika diangkat ke tikngkat tegangan yang lebih tinggi melampaui
batas akan terjadi deformasi plastik atau kegagalan(Bahtiar,2010).
BAB 3. METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah

1. Alat pelentur.
2. Batang-batang uji (ablok kayu, alumunium berongga, alumunium pejal dan
kuningan pejal).
3. Beban-beban.
4. Mistar, untuk mengukur panjang batang uji.
5. Jangka sorong, untuk mengukur lebar, tinggi dan diameter batang uji.

3.2 Desain Percobaan

Gambar 3.1 Skema percobaan (petunjuk praktikum fisika dasar, 2014).

3.3 Langkah Kerja


Adapun langkah kerja dalam praktikum ini adalah sebagia berikut:
A. Batang dengan penampang lintang segi empat
1. Dimensi batang uji diukur.
2. Batang uji diletakkan pada kedua titik tumpu dan diberi tanda untuk tanpa
beban.
3. Beban ditambahkan dan dicatat kedudukan skala pada setiap penambahan
beban.
4. Beban dikurangi dan dicatat kedudukan skala.
5. Langkah 1-4 diulangi sebanyak 3 kali.
6. Langkah 1-5 diulangi untuk kedudukan penampang horisontal.

B. Batang dengan penampang lintang lingkaran berongga


1. Dimensi batang uji diukur sesuai kebutuhan.
2. Batang uji diletakkan pada kedua titik tumpu dan diberi tanda untuk tanpa
beban.
3. Beban ditambahkan dan dicatat kedudukan skala pada setiap penambahan
beban.
4. Beban dikurangi dan dicatat kedudukan skala.
5. Langkah 1-4 diulangi sebanyak 3 kali.

C. Batang dengan penampang lintang lingkaran pejal


Prosedur kerja seperti pada poin B tetapi menggnakan batang dengan
penampang lintang berbentuk lingkaran pejal.

3.4 Analisis data

1. batang dengan penampang lintang segiempat

3
=
43
2 2 2
3 32 33
| 3
| |0.68 |2 + | 3 | |0.68 |2 + | 2 | |0.68 |2
4 4 4
= 2 2
3 3
+ | 3 2 | |0.68 |2 + | 3 2 | ||2
4 4

1
= = = =
2

(1 )2
=
( 1)

2. silinder berongga

3
=
12( 4 4 )

2 2
3 2+|
3 2
| | |0.68 | | |0.68 |2
12( 4 4 ) 12( 4 4 )
2
(4 3 4 ) 3
= +| | |0.68 |2 +
12( 4 4 )
2 2
( 4 4 3 ) 3 2+|
3
| 4 4 )
| |0.68 | 4 4 ) 2
| ||2
12( 12(
1
= = =
2

(1 )2
=
( 1)

3. silinder pejal

3
=
12 4

2 2 2
3 2+|
3 2 2+|
3
| | |0.68 | | |0.68 | | |0.68 |2 +
12( 4 ) 12( 4 ) 12 5
= 2
3
| | ||2
12 4 2

1
= = =
2

(1 )2
=
( 1)
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

a. Menentukan modulus elastisitas pada batang kayu

HORIZONTAL

NO P l t L A/B W Skala
1 1.05 0.01 0.00855 0.853 0.4265 1.47 0.105
2 1.05 0.01 0.00855 0.853 0.4265 1.96 0.105
3 1.05 0.01 0.00855 0.853 0.4265 2.45 0.105

Ulang Ulang Ulang D Y Y I K AP (YY)


1 2 3
0.11 0.11 0.11 0.05 7 E+9 2 E+7 0.3% 99.7% 3
0.121 0.121 0.121 0.016 3 E+9 1E+7 0.3% 99.7% 3
0.122 0.122 0.122 0.17 4 E+9 1E+7 0.3% 99.7% 3

VERTIKAL

NO P l t L A/B W Skala
1 1.05 0.01 0.00855 0.853 0.4265 1.47 0.111
2 1.05 0.01 0.00855 0.853 0.4265 1.96 0.111
3 1.05 0.01 0.00855 0.853 0.4265 2.45 0.111

Ulang Ulang Ulang D Y Y I K AP (YY)


1 2 3
0.114 0.114 0.114 0.003 1 4 E+7 0.3% 99.7% 3
E+10
0.116 0.116 0.116 0.005 1 3 E+7 0.3% 99.7% 3
E+10
0.128 0.128 0.128 0.007 4 E+9 1 E+7 0.3% 99.7% 3

b. Menentukan modulus elastisitas pada aluminium berongga

NO P DL Dd L A=B W skala Ulang Ulang 2 Ulang


1 3
1 1 0.0095 0.007 0.853 0.4265 1.47 0.124 0.129 0.129 0.129
2 1 0.0095 0.007 0.853 0.4265 1.96 0.124 0.132 0.132 0.132
3 1 0.0095 0.007 0.853 0.4265 2.45 0.124 0.135 0.135 0.135
4 1 0.0095 0.007 0.853 0.4265 1.96 0.124 0.132 0.132 0.132
5 1 0.0095 0.007 0.853 0.4265 1.47 0.124 0.129 0.129 0.129
D Y Y I K AP (YY)
0.005 1 E 10+8 1976920 1.5% 98.5% 3
0.008 1 E 10+8 1121316 1% 99% 3
0.011 1 E10+8 681084.9 0.7% 99.3% 3
0.008 1 E10+8 1029847 0.9% 99.1% 3
0.005 1 E10+8 1976920 1.5% 98.5% 3

c. Menentukan modulus elastisits pada silinder pejal

ALUMINIUM

NO P Dl L A=B W skala Ulang Ulang Ulang


1 2 3
1 1 0.0022 0.853 0.4265 1.47 0.11 0.113 0.113 0.113
2 1 0.0022 0.853 0.4265 1.96 0.11 0.114 0.114 0.114
3 1 0.0022 0.853 0.4265 2.45 0.11 0.115 0.115 0.115
4 1 0.0022 0.853 0.4265 1.96 0.11 0.114 0.114 0.114
5 1 0.0022 0.853 0.4265 1.47 0.11 0.113 0.113 0.113

D Y Y I K AP (YY)
0.003 4 E +10 266435785 0.6% 99.4% 3
0.004 4 E +10 266435785 0.6% 99.4% 3
0.005 4 E +10 266435785 0.6% 99.4% 3
0.004 4 E +10 266435785 0.6% 99.4% 3
0.003 4 E +10 266435785 0.6% 99.4% 3

KUNINGAN

NO P Dl L A=B W skala Ulang Ulang Ulang


1 2 3
1 1.01 0.0023 0.853 0.4265 1.47 0.134 0.135 0.135 0.135
2 1.01 0.0023 0.853 0.4265 1.96 0.134 0.137 0.137 0.137
3 1.01 0.0023 0.853 0.4265 2.45 0.134 0.139 0.139 0.139
4 1.01 0.0023 0.853 0.4265 1.96 0.134 0.137 0.137 0.137
5 1.01 0.0023 0.853 0.4265 1.47 0.134 0.135 0.135 0.135

D Y Y I K AP (YY)
0.001 1 E +11 690061227 0.6% 99.4% 3
0.003 5E +10 284470706 0.6% 99.4% 3
0.005 4 E +10 213352699 0.6% 99.4% 3
0.003 5 E +10 284470706 0.6% 99.4% 3
0.001 1 E+11 690061227 0.6% 99.4% 3

4.2 Pembahasan

Praktikum kali ini yaitu menentukan modulus elastisitas bahan. Bahan yang
diuji adalah kayu jati, alumunium dan kuningan. Bentuk batang uji juga berbea-
beda yaitu dengan penampang lintang berbentuk segi empat, penampang lintang
berbentu k lingkaran berongga dan penampang lintang berbentuk lingkaran pejal.

Percobaan pertama yaitu menentukan modulus elastisitas batang kayu


dengan penampang lintang berbentuk segi empat. Penentuan modulus elastisitas
menggunakan 2 penampang yaitu vertikal dan horisontal. Pana penampang

horisontal menghasilkan nilai modulus elastisitas 7.109 2 , 3.109 2 dan

4.109 2 . Pada penampang vertikal nilai modulus elastisitasnya 1010 2 ,

1010 2 dan 4.109 2 .

Jika hasil kedua percobaan diatas dibandingkan maka modulus elastisitas


dengan penampang vertikal lebih besar daripada modulus elastisitas dengan
penampang horisontal. Dari perbandinag tersebut dapat disimpulkan luas
penampang yang lebih kecil akan menghasilkan modulus elastisitas yang lebig
lebih besar.

Percobaan kedua yaitu menentukan modulus elastisitas pada alumunium



berongga. Nilai modulus elastisitasnya yaitu 108 2 . Percobaan ketiga yaitu
menentukan modulus elastisitas pada benda dengan penampang lingkaran pejal.

Pada alumunium pejal modulus elastisitasnya yaitu 4.1010 2 . pada kuningan

pejal modulus elastisitasnya yaitu dengan rata-rata 6.1010 2 .

Perhitungan diatas dapat digunakan untuk membandingkan nilai modulus


elastisitas pada bahan yang sama tetapi bentuknya berbeda, pada bahan yang
berbeda tetapi bentuknya sama. Perbandingan nilai modulus elastisitas pada bahn
yang sama yaitu alumunium tetapi bentuknya berbeda yaitu silinder berongga dan
silinder pejal. Hasilnya, nilai modulus elastisitas lebih besar pada alumunium
pejal daripada alumunium berongga. Kuningan dan alumunium yang bentuknya
sama nilai modulus elastisitasnya berbeda yaitu lebih besar pada kuningan.
BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat dari praktikum ini adalah
1. Modulus elastisitas masing-masing bahan berbeda-bea.
2. Modulus elastisitas benda yang bahannya berbeda akan berbeda meskipun
bentuknya sama.
3. Modulus elastisitas benda yang bentuknya berbeda akan berbeda meskipun
bahannya sama.

5.2 Saran

Beban yang digunakan dalam praktikum ini harusnya seragam. Beban yang
digunakan acuan sebaiknya beba yang digunakan pada benda yang sulit beruabh
bentuk. Jadi ketika digunakan untuk benda lain hasilnya dapat dibandingkan.
DAFTAR PUSTAKA
Bahtiar,Nugroho.2010.Estimating Youngs Modulus of Rupture of coconut lohs
using reconstruction method.Jurnal Teknik Sipil

Bueche,Frederick dan Eugene Hecht.2004.Teori dan Soal Fisika Universitas.New


york:Mc Graw Hill

Gandavi,Ariv.2010.Pengaruh perubahan wajtu Annealing Hingga 20 menit


terhadap struktur mikro dan kuat tarik baja tabung JIS G3116 SG295

Giancoli,Douglas.1997.Fisika Jilid 1.Jakarta:Erlangga

Sears,Francis dan W Zemansky.1984.Univesity Physics sixth Edition part 1.


Massachussets. Addison Wesley

Tipler,Paul A.1998. Fisika untuk Sains dan Teknik.Jakarta:Erlangga

Anda mungkin juga menyukai