Anda di halaman 1dari 42

1

BAB V
SPESIFIKASI TEKNIS

5.1. RUANG LINGKUP PROYEK

Nama Kegiatan 5.2.3.14.08


PEMBANGUNAN BOX CULVERT (Jl. Sidotopo
Kode Kegiatan Pembangunan Sarana Prasarana Pematusan (tahun
Kode Rekening jamak/multiyears)
Nama Paket 1.03.28.0032
Pekerjaan Wetan ........ )
Lokasi Anggaran Kota Surabaya

Sumber Dana APBD Pemerintah Kota Surabaya 2013 I


Tahun Anggaran (Satu)
Priode Lelang
5.2. Lingkup Pekerjaan :

I PEKERJAAN PENDAHULUAN
1. Persiapan dan Sewa Direksi Keet
2. Uitzet Dengan waterPass / Theodolit
3. Pasang Rambu Pengaman
4. Pembuatan Bowplank
5. Test Hole

II PEKERJAAN TANAH
1. Galian Untuk Tanah Konstruksi Dengan Alat Berat
2. Bongkaran Pasangan Lama
3. Pengurugan Sirtu Padat
4. Penggalian Tanah Lumpur Dengan Alat Berat
5. Pengangkutan Tanah Keluar Proyek

III PEKERJAAN PENERANGAN JALAN


1. Tanah Taman Terolah
2. Pemasangan Kabel NYFGBY 3cx4mm
3. Pemasangan Kable dan Penarikan
4. Pemasangan PVC untuk Kabel Tanam
5. Perakitan Panel Penerangan Jalan Umum (PJU)
6. Panel Tempat Ballast UK. 25.15.10 cm untuk Lampu Sorot
7. Instalasi 1 titik Lampu PJU (Tarikan Udara) 8 m
8. Pemasangan Panel Lampu PJU - 1 Phase 5500 VA
9. Pemasangan Lampu Natrium 250w/220v
10. Pondasi Pelat Beton 1pc:2ps:2,5kr (K.250) (188 Kg)
11. Pemasangan Tiang Oktagonal 7 m Double Hot Dipped Galvaniszed Dengan Flenders
12. Pembuatan dan Pemasangan Terminal dalam Tiang
13. Pengecetan Tiang PJU

IV PEKERJAAN MEDIAN JALAN


1. Pemasangan Paving Stone (Abu-abu) Tb.6 cm emapat persegi
2. Pemasangan Paving Stone (Abu-abu) Tb.6 cm empat persegi panjang samping
3. Pemasangan Stopper/Uskup (Merah) Tb. 6 cm
4. Pemasnagan Kanstin Uk. 15.25.40
5. Pas. Curbing Type A Panjang 0,6 m
6. Spesi 1pc:2Ps T=3 cm
7. Pemasangan Batu Kali Belah 15/20 cm (1Pc:4Ps)
8. Plesteran Halus 1 Pc:4Ps T=1,5 cm

RKS-KONSTR UKSI
Procurement Unit
9. Pasangan Benangan 2

V PEKERJAAN BOX CULVERT


1. Penggadaan dan Pemasangan Beton Box-Culvert Top Bottom K-400 (200.200.120)(Fabrikasi)
2. Pengadaan dan Pemasangan Beton U-Ditch K-350 (100.100.120) (Fabrikasi)
3. Pengadaan dan Pemasangan Beton U-Ditch K-350 (80.100.120) (Fabrikasi)
4. Pengadaan dan Pemasangan Pelat Intrit Tb.12 cm K-350 (Fabrikasi)
5. Pelat Wiremest 1 pc:2ps:2.5kr (K-250) 97 Kg
6. Pekerjaan Beton Rabat (1pc:3ps:6kr)
7. Manhole + Pemasangan
8. Cor Beton Pelaluan Air + Pemasangan
9. Lapis Resap Ikat / Prime Coat
10. Lapis Resap Ikat / Tack Coat
11. Penghamparan ATB tb.4 cm
12. Penghamparan lapis Perm. Aspal Beton Laston (AC) tb. 4 cm
13. Sewa Steel Sheet Pile

VI PEKERJAAN LAIN-LAIN
1. Mobilisasi dan Demobilisasi
2. Quality Control
3. Pembersihan Lapangan / Lokasi
4. Dewatering
5. Pembuatan Kisdam tinggi 2 m tebal 0,6 m
6. Pemasangan Trucuk bambu dia 8 - 12 cm T.2.5-3 m
7. Pembongkaran Jembatan Beton Dengan Pembersihan
8. Pembongkaran Jembatan Kayu Dengan Pembersihan
9. Rekondisi Paving
10. Rekondsi Taman

5.3. Rencana Kerja

Dalam waktu Secepat-cepatnya 7 hari serta selambat-lambatnya 14 hari setelah Surat Perintah Kerja
(SPK) turun, Kontraktor harus mengajukan sebuah rencana kerja atau action plan tertulis lengkap dengan
gambar-gambar pendukung metode kerja, sehubungan dengan pelaksanaan pekerjaan seperti yang
disebutkan dalam dokumen tender, menjelaskan secara terperinci urusan pekerjaan dan cara
melaksanakan pekerjaan tersebut termasuk hal-hal khusus bila diperlukan, persiapan-persiapannya,
peralatan, pekerjaan sementara yang ada sejauh mana hal tersebut mencakup lingkup dari pekerjaannya
dan harus mendapatkan persetujuan dari Direksi, pengawas dan pihak-pihak atau instansi yang terkait
dengan kelangsungan proyek tersebut di atas.

5.4. Tempat Kerja

Bilamana diperlukan tempat kerja, dan tempat kerja tersebut di luar daerah pengawasan proyek, dimana
harus membayar sewa/dikeluarkan biaya ganti rugi, maka Kontraktor harus menyelesaikannya tanpa
membebani Direksi dengan pembiayaan tambahan.

5.5. Tanggung Jawab Kontraktor

Sebelum pelaksanaan pekerjaan, Kontraktor wajib memeriksa kekuatan konstruksi lama yang akan
dilaksanakan dan harus mengkonsultasikan dengan Konsultan Perencana dan Konsultan Pengawas.
Segala sesuatu kerusakan yang timbul akibat kelalaian Kontraktor tidak melaksanakan pemeriksaan
kekuatan makahal tersebut menjadi tanggung jawab Kontraktor . Pada keadaan apapun, dimana
pekerjaan-pekerjaan yang dilaksanakan telah mendapat persetujuan Direksi Lapangan tidak berarti
membebaskan Kontraktor atas tanggung jawab pada pekerjaannya sesuai dengan isi kontrak.
RKS-KONSTR UKSI
Procurement Unit
5.6. Tenaga Kerja 3

Tenaga-tenaga kerja yang digunakan hendaknya dari tenaga-tenaga yang ahli/terlatih dan berpengalaman
pada bidangnya dan dapat melaksanakan pekerjaan dengan baik sesuai dengan ketentuan / petunjuk
Direksi Lapangan.

5.7. Satuan Ukuran

Semua satuan ukuran yang disebutkan dalam spesifikasi ini serta yang digunakan di dalam pekerjaan
adalah standar meter dan kilogram. Bila disebut satu ton, yang dimaksud adalah satu ton yang bernilai
1000 kilogram.

5.8. Perintah Untuk Pelaksanaan

Bila Kontraktor tidak berada di tempat pekerjaan dimana Direksi bermaksud untuk memberikan petunjuk-
petunjuk, maka petunjuk-petunjuk itu harus diturut dan dilaksanakan oleh Pelaksana atau orang-orang
yang ditunjuk untuk mewakili Kontraktor . Orang atau pelaksana tersebut harus mengerti bahasa yang
dipakai oleh Direksi, atau Kontraktor akan menyediakan penterjemah khusus untuk keperluan tersebut.

5.9. Pekerjaan dan Bahan-bahan yang Termasuk di dalam Harga Satuan

Pekerjaan dan bahan-bahan yang diperlukan sesuai dengan macam-macamnya seperti yang disebutkan
pada artikel-artikel dalam spesifikasi ini, gambar rencana, petunjuk tambahan ataupun petunjuk-petunjuk
Direksi di lapangan harus tercakup dalam pembiayaan untuk tenaga kerja, harga bahan, organisasi kerja,
biaya tak terduga, keuntungan, biaya-biaya penggantian sewa / pemakaian tanah pada pihak ketiga, atau
kerusakan atas milik seseorang, kerja-kerja lain yang disebut dalam spesifikasi ini untuk kesempurnaan
hasil kerja di mana tidak ada mata pembiayaan khusus pengaliran air darurat selama pelaksanaan kerja,
pembongkaran, peralatan, penempatan bahan-bahan sesuai dengan petunjuk perlindungan, perkuatan,
pengaturan as saluran dan tenaga ahli untuk keperluan ini, perumahan dan pembiayaan lain yang biasanya
diperlukan guna menyelesaikan pekerjaan sebaik-baiknya.

5.10. Laporan
5.10.1 Laporan Perkembangan Bulanan.

Kontraktor harus mempersiapkan dan memberikan kepada Direksi, tanpa biaya tambahan, dalam jarak
waktu dan dalam bentuk yang ditetapkan oleh Direksi, lima (5) salinan laporan bulanan yang berisi sebagai
berikut :
Perkembangan fisik dari pekerjaan hingga bulan yang mendahului dan perkiraan perkembangan untuk
bulan ini, Tingkat perkembangan berdasarkan pada jadwal pekerjaan pembangunan. Perkiraan jumlah
pembayaran dari Pemberi Pekerjaan kepada Kontraktor untuk bulan ini. Sebuah tabulasi mengenai catatan
Bangunan Kontruksi yang barangbarang pokoknya dan peralatannya terdiri dari Bangunan Konsruksi yang
disediakan untuk pelaksanaan pekerjaan sepanjang bulan sebelumnya. Sebuah tabulasi pegawai
menunjukan staf supervisi dan jumlah dari beberapa kelas buruh yang dipekerjakan oleh Kontraktor dalam
bulan sebelumnya. Kwantitas mengenai barang pokok dari bahan-bahan dan alat yang disuplai dan
dipergunakan dalam bulan sebelumnya dengan inventarisasi bahan-bahan demikian itu. Bahan-bahan
lainnya yang mungkin diperlukan berdasarkan kontrak atau secara spesifik oleh Direksi.

5.10.2 Laporan Harian

Kontaktor harus mempersiapkan laporan harian atau berkala dari masing-masing seksi pekerjaan seperti
yang diminta oleh Direksi dan dalam bentuk yang disetujui oleh Direksi. Laporan tersebut akan berisi
namun tidak terbatas pada, pekerjaan yang diperkerjakan di pekerjaan, bahan-bahan di lokasi pekerjaan,
bahan-bahan yang sedang dalam pesanan, kecelakaan dan informasi lainnya yang relevan dengan
perkembangan pekerjaan.

5.10.3 Buku Tamu


Pihak Kontraktor harus menyediakan satu buku tamu di Direksi Keet (Kantor di Lokasi Proyek). Tamu
adalah orang-orang yang bukan karyawan Kontraktor.

5.10.4 Pelaksanaan Audit Oleh Proyek

Selain tersebut diatas, Pemilik Proyek berhak melaksanakan audit bila perlu sehubungan dengan: Adanya
biaya yang timbul pada saat berakhirnya kontrak seperti dalam syarat syarat umum kontrak, dan Biaya-
biaya lain yang mungkin diminta oleh Kontraktor yang tidak terdapat dalam Kontrak. Pihak Kontraktor wajib
R K S membuat
- K O N S T R U K S I pembukuan yang tepat mengenai hal-hal diatas, setelah mendapatkan persetujuan dari
Procurement Unit
konsultan perencana dan konsultan pengawas. 4

5.10.5 Request for inspection / Ijin Tahapan

Untuk setiap tahapan pekerjaan yang akan dilaksanakan kontraktor diwajibkan membuat ijin tahapan
pekerjaan yang diajukan kepada direksi dan atas persetujuan direksi maka pekerjaan baru boleh
dilaksanakan.

5.11. Gambar-gambar dan Ukuran

a. Gambar-gambar yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan adalah:


1. Gambar yang termasuk dalam dokumen tender
2. Gambar perubahan yang disetujui Direksi
3. Gambar lain yang disediakan dan disetujui Direksi

b. Gambar-gambar proyek berukuran A3 disimpan oleh Direksi. Kontraktor diberi 2 (dua) set dari semua
gambar-gambar tanpa pungutan biaya. Permintaan Kontraktor akan tambahan dari gambar-gambar
tersebut akan dikenakan biaya.

c. Kontraktor diharuskan menyimpan satu set di kantor lapangan untuk dipergunakan setiap saat apabila
diperlukan.

d. Gambar-gambar pelaksanaan (shop drawing) dan detailnya harus mendapat persetujuan Direksi
sebelum dipergunakan dalam pelaksanaan pekerjaan.

e. Pada penyerahan terakhir pekerjaan yakni sesudah selesainya masa pemeliharaan harus disertai
Gambar hasil pelaksanaan (as built drawing).

f. Semua ukuran dinyatakan dalam sistem metrik.

g. Kalau terdapat perbedaan dengan spesifikasi maka yang benar dan berlaku adalah yang ditetapkan oleh
Direksi.

5.12. Wilayah Kerja

a. Secara umum Kontraktor dilarang menimbun atau menempatkan bahan-bahan bangunan di tepi jalan
umum karena jalan umum tidak termasuk wilayah kerja Kontraktor kecuali ada pertimbangan khusus dan
atas persetujuan dari Direksi.

b. Apabila tidak terdapat tempat kosong yang sesuai untuk menimbun atau menyimpan bahan-bahan
bangunan di sekitar lokasi proyek, maka bahan bangunan harus didatangkan dari gudang Kontraktor
atau Leveransir setiap hari dengan jumlah yang cukup untuk pekerjaan satu hari.

c. Apabila di dalam pelaksanaan pekerjaan, terdapat jaringan utilitas kontraktor harus berkoordinasi
dengan instansi yang terkait sehubungan dengan jaringan utilitas yang ada.

5.13. Bahan-bahan dan Mutu Pekerjaan

a. Semua bahan yang dipergunakan untuk melaksanakan setiap jenis pekerjaan harus terdiri dari kualitas
tinggi sesuai dengan yang tercantum dalam syarat-syarat kualitas bahan masing-masing bagian
pekerjaan. Hasil pekerjaan dan mutu termasuk bahan bahan yang terpakai harus diterima dan disetujui
Direksi.
b. Semua bahan yang dipergunakan harus memenuhi persyaratan yang tercantum dalam peraturan
standar yang berlaku di Indonesia. Standar peraturan yang berlaku adalah edisi yang terakhir. Untuk
bahan-bahan yang mutunya belum diatur dalam peraturan standar maupun ketentuan dalam spesifikasi
teknis, harus mendapat persetujuan dari Direksi sebelum dipergunakan.

c. Untuk bahan-bahan yang mutunya masih berdasarkan standar Internasional, apabila diperlukan, Direksi
dapat meminta Kontraktor untuk menunjukkan sertifikat tes dari agen, distributor yang menjual atau
pabrik yang memproduksi bahan yang bersangkutan.

d. Apabila diperlukan, Direksi dapat meminta copy atau tembusan dari perintah pembelian (faktur) yang
dipesan Kontraktor kepada leveransir atau distributor untuk pembelian bahan-bahan yang akan dipakai.

e. Sebelum bahan-bahan yang dipesan dikirim ke lokasi proyek, Kontraktor harus menunjukkan contoh dari
RKS-KONSTR UKSI
Procurement Unit
bahan bersangkutan kepada Direksi untuk diperiksa 5 dan diteliti mengenai jenis, mutu, berat, kekuatan
dan sifat-sifat penting lainnya dari bahan tersebut.

f. Apabila bahan-bahan yang dikirim ke lokasi proyek ternyata tidak sesuai dengan contoh yang
ditunjukkan, baik dalam hal mutu, jenis, berat maupun kekuatannya, maka Direksi berwenang untuk
menolak bahan tersebut dan mengharuskan Kontraktor untuk menyingkirkannya dan diganti dengan
bahan-bahan yang sesuai dengan contoh yang telah diperiksa terdahulu.

g. Semua bahan yang disimpan di lokasi proyek harus diletakkan dan dilindungi sedemikian rupa sehingga
tidak akan terjadi kontaminasi atau mengalami proses lainnya yang dapat mengakibatkan rusaknya atau
menurunnya mutu bahan-bahan tersebut.

h. Sesuai dengan ketentuan yang berlaku, Kontraktor dilarang menyimpan bahan-bahan berbahaya seperti
minyak, cairan lainnya yang mudah terbakar, gas dan bahan kimia sedemikian rupa sehingga
keselamatan orang dan keamanan lingkungan sekitarnya dapat dijamin.

i. Penggunaan bahan-bahan dalam pelaksanaan pekerjaan harus mengikuti pedoman atau petunjuk dari
pabrik yang memproduksinya. Kelalaian dalam hal ini merupakan tanggung jawab Kontraktor .

j. Direksi berhak menunjuk seorang ahli dalam memeriksa mutu bahan-bahan yang diajukan oleh
Kontraktor , baik di lokasi proyek maupun di gudang leveransir atau dilokasi pabrik atau produsen.
Dalam melaksanakan tugasnya ahli mempunyai wewenang untuk mewakili Direksi dalam menguji dan
menilai bahan-bahan yang diajukan Kontraktor.

5.14. Pelaksanaan Pekerjaan Dalam Keadaan Kering

a. Apabila pada keadaan tertentu Direksi memandang perlu untuk melaksanakan pekerjaan pada kondisi
tanah yang kering, maka Kontraktor diharuskan membuat bangunan atau tanggul sementara dan
menyediakan pompa air berkapasitas cukup beserta alat Bantu dan pelengkapnya untuk menjamin agar
dasar galian, dasar pondasi dan permukaan tanah lainnya tetap kering selama pekerjaan berlangsung.
Semua sarana untuk mengeringkan dasar galian, dasar pondasi dan bidang permukaan lainnya adalah
beban Kontraktor .

b. Kondisi muka air tanah yang tinggi dan jenis tanah yang kurang kedap air dapat menyebabkan derasnya
rembesan air tanah ke dalam galian. Dalam hal ini pelaksanaan pekerjaan menuntut kemajuan
pekerjaan yang cepat dan Direksi dapat menginstruksikan untuk menambah pompa-pompa agar dasar
galian tetap dalam keadaan kering.

c. Kelalaian Kontraktor dalam menyediakan pompa dan bangunan sementara lainnya yang dapat
mengakibatkan rusaknya konstruksi yang telah dibuat adalah tanggung jawab Kontraktor sepenuhnya.
Dalam hal ini semua biaya perbaikan ditanggung Kontraktor .

d. Air hujan yang mengalir ke dalam galian yang mengakibatkan kerusakan Kontruksi pondasi yang masih
dalam pelaksanaan termasuk resiko Kontraktor .Hujan lebat yang mengakibatkan genangan pada galian
tidak dianggap Force Majeure, dan perbaikan atas kerusakan yang terjadi adalah beban Kontraktor

RKS-KONSTR UKSI
Procurement Unit
6
e. Direksi dapat menginstruksikan Kontraktor untuk membuat saluran atau sudetan sementara untuk
mengalirkan air hujan agar pekerjaan dapat tetap dilaksanakan dalam keadaan kering. Apabila
pekerjaan telah dianggap selesai, maka Kontraktor harus menimbun kembali saluran dan sudetan
sementara seperti keadaan semula.

f. Untuk pembuatan pasangan talud ( plengsengan ) pada saluran-saluran yang sudah ada, Kontraktor
diharuskan membuat tanggul ( kisdam ) sepanjang talud dengan ukuran dan Kontruksi yang disetujui
oleh Direksi. Tanggul / kisdam harus dibuat cukup kuat, tidak mudah rusak akibat kikisan air. Sebelum
pelaksanaan pembuatan tanggul dimulai, Kontraktor harus mengajukan gambar detail talud beserta
spesifikasi bahan yang akan digunakan untuk mendapatkan persetujuan Direksi.

g. Persetujuan Direksi seperti tersebut pada gambar tidak mengurangi tanggung jawab Kontraktor, jika
sewaktu-waktu talud mengalami kerusakan. Perbaikan talud serta akibat lainnya menjadi tanggung
jawab Kontraktor .

h. Perlu koordinasi antar Kontraktor dalam pelaksanaan pekerjaan guna mengendalikan aliran air di
saluran.

Ukuran =3mx6m
Lantai = Rabatan beton
Dinding = Triplek tb. 4 mm finish cat
Rangka tembok
= Kayu meranti 5/7
Atap = Asbes gelombang kecil
1. PEKERJAAN PENDAHULUAN
1.1 Persiapan dan Sewa Direksi Keet
a. Kontraktor harus menyediakan kantor lapangan untuk dipergunakan oleh Direksi selama pelaksanaan
pekerjaan, alat komunikasi serta gudang untuk menyimpan bahan dan peralatannya.
b. Lokasi untuk membangun gudang dan kantor lapangan akan ditentukan oleh Direksi.
c. Ukuran dan bentuk gudang, kantor lapangan beserta perlengkapannya akan ditentukan sebagai berikut :
d. Syarat-syarat minimum yang harus dipenuhi untuk pembuatan gudang dan kantor lapangan adalah
penyediaan sarana sanitasi air bersih, sambungan listrik, alat pemadam api dan kotak pertolongan
pertama.
e. Pemeliharaan, kebersihan dan keamanan gudang dan kantor lapangan merupakan tanggung jawab
Kontraktor.
f. Tempat kosong untuk parkir kendaraan proyek harus disediakan di sekitar kantor lapangan.
g. Pada saat pelaksanaan pekerjaan dinyatakan selesai, gudang dan kantor lapangan harus dibongkar
oleh Kontraktor atas biaya sendiri dan semua peralatan dan perlengkapan tetap menjadi milik
Kontraktor.
h. Bangunan untuk kantor Direksi yang diuraikan dalam pasal di atas akan dibayar secara harga unit price
untuk sewa direksi keet, dimana harus dianggap bahwa pembayaran dilaksanakan secara penuh baik
untuk pekerjaan pembangunan, pengadaan, pelayanan, pembersihan maupun pekerjaan pembongkaran
bangunan setelah selesai penanganan pekerjaan.
i. Untuk keperluan air kerja kontraktor harus menyediakan sendiri air tawar yang bersih dan tidak
mengandung minyak, garam, alkali dan bahan-bahan organis atau bahan lain yang dapat merusak
pelaksanaan pekerjaan.
j. Kontraktor harus menyediakan generator sebagai daya listrik secukupnya, guna kebutuhan penerangan
proyek dan keperluan pelaksanaan pekerjaan.
k. Kontraktor bertanggung jawab atas semua biaya pengadaan fasilitas tersebut pada butir a dan b.
l. Bangunan tersebut harus dapat dijamin agar di dalamnya bebas dari air hujan dan sinar matahari,
termasuk dapat melindungi material yang tersimpan.
m. Kontraktor harus mengisi perabotan maupun perlengkapan lain berupa buku harian
n. Kontraktor membuat dan memasang papan nama proyek dilokasi dengan ukuran 0,9 m x 1,2 m

1.2 Uitzet Dengan waterPass / Theodolit


Jaringan dan Permukiman
a. Jaringan dan permukiman diambil berdasarkan referensi titik tetap (patok beton) yang dipasang oleh
Dinas Tata Kota Kotamadya Surabaya yang terdekat.
b. Semua elevasi yang ditunjukkan dan tercantum dalam gambar adalah elevasi yang dikaitkan dengan
ketinggian patok titik tetap seperti yang dijelaskan pada butir di atas.

RKS-KONSTR UKSI
Procurement Unit
7
c. Patok titik tetap yang dipergunakan sebagai referensi dalam proyek ini tercantum dalam gambar-
gambar rencana atau akan ditunjukkan oleh Direksi di lapangan.

Pekerjaan Pengukuran dan Survey Lapangan


1. Sebelum pekerjaan dimulai, Kontraktor harus menggerakkan personil tekniknya untuk melakukan survey
dan membuat laporan mengenai kondisi fisik lapangan khususnya lokasi rencana konstruksi apakah
terdapat ketidaksesuaian. Kontraktor bersama-sama dengan Direksi harus secara bersama- sama
mengambil peil permukaan dan sounding areal kerja dan menyetujui semua kekhususan terhadap mana
semua pekerjaan didasarkan.
2. Kontraktor harus menyediakan dan merawat stasion survey yang diperlukan untuk pelaksanaan
pekerjaan dan harus membongkarnya setelah pekerjaan selesai.
3. Kontraktor harus memberitahu Direksi sekurang-kurangnya 24 jam dimuka, bila akan mengadakan
levelling pada semua bagian daripada pekerjaan.
4. Kontraktor harus menyediakan atas biaya Kontraktor, semua bantuan yang diperlukan Direksi dalam
pengadaan pengecekan levelling tersebut.
5. Pekerjaan dapat dihentikan beberapa saat oleh Direksi bila dipandang perlu untuk mengadakan
penelitian kelurusan maupun level dari bagian-bagian pekerjaan.
6. Kontraktor harus membuat peil/titik-titik tanda (bench mark) permanen di tiap-tiap bagian pekerjaan dan
peil ukuran ini harus diberi pelindung dan dirawat selama berlangsungnya pekerjaan agar tidak berubah.
7. Kontraktor harus menyediakan alat-alat ukur selama pekerjaan berlangsung berikut ahli ukur yang
berpengalaman sehingga apabila dianggap perlu setiap saat siap mengadakan pengukuran ulang.
8. Pengukuran titik ketinggian dan sudut-sudut hanya dilakukan dengan alat optik dan sudah ditera
kebenarannya/dikalibrasi.
9. Apabila terdapat perbedaan antara elevasi yang tercantum dalam gambar dengan hasil pengukuran
ulang, maka Direksi akan memutuskan hal itu kemudian.
10. Apabila terdapat kesalahan dalam pengukuran kembali, maka pengukuran ulang menjadi tanggung
jawab Kontraktor. Kontraktor harus mengukur ukang lagi dan dikoreksi oleh pihak Direksi.
11. Pengukuran kembali juga dilakukan setelah pekerjaan selesai.
12. Hasil pengukuran kembali berupa gambar Long Section dan Cross Section per titik. Tiap Titik adalah
sejarak 25 meter.
13. Hasil pengukuran lengkap mengenai peil elevasi, sudut, koordinat, serta letak patok patok harus dibuat
gambarnya dan dilaporkan kepada Direksi untuk mendapatkan persetujuan. Kebenaran dari hasil
laporan tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kontraktor.
14. Jika menurut pendapat Direksi kemajuan Kontraktor tidak memuaskan untuk menyelesaikan pekerjaan
survey ini tepat pada waktunya atau dalam hal Kontraktor tidak memulai pekerjaan atau melakukan
pekerjaan tidak dengan standar yang ditentukan. Direksi dapat menunjuk stafnya sendiri atau pihak lain
untuk mengerjakan survey lapangan dan membebankan seluruh biayanya kepada Kontraktor.
15. Jika diperlukan untuk mengetahui kondisi tanah (tekstur, jenis tanah dan daya dukung tanah) ,
kontraktor diwajibkan melakukan test penyelidikan tanah dengan menunjuk pihak / lembaga yang
bergerak dalam tes penyelidikan tanah yang bersertifikasi.

1.3. Pemasangan Rambu Pengaman


Pengaturan Lalu Lintas
a. Lalu Lintas Proyek
1. Dalam melaksanakan pekerjaannya Kontraktor diharuskan mematuhi dan mentaati ketentuan dan
peraturan lalu lintas umum yang berlaku, sejauh pekerjaannya mempengaruhi kelancaran lalu lintas
umum. Dalam hal ini Kontraktor diharuskan mendapatkan pengarahan dan pedoman dari instansi
setempat yang berwenang yaitu polisi lalu lintas dan Dinas Perhubungan Kota Surabaya.
2. Penggunaan jalan dan jembatan umum harus diatur sedemikian rupa agar gangguan lalu lintas dan
kerusakan yang timbul sebagai akibatnya dijaga sekecil mungkin. Perbaikan kerusakan terhadap
jalan, jembatan, gorong-gorong yang diakibatkan oleh lalu lintas proyek dibebankan pada Kontraktor
dan harus disetujui Direksi.

b. Pengaturan Pengangkutan Alat-alat Berat dan Bahan Konstruksi


1. Pengangkutan alat-alat berat ke dan dari lokasi proyek harus diatur sedemikian rupa agar beban total
dari kendaraan yang mengangkut alat-alat berat tersebut tidak melampaui kapasitas jalan/jembatan
yang dilalui. Untuk itu alat-alat berat yang dimaksud harus diuraikan menjadi beberapa bagian untuk
kemudian diangkut beberapa kali. Ketentuan yang sama juga berlaku untuk pengangkutan bahan-
bahan konstruksi.
2. Apabila Direksi memandang perlu, maka Kontraktor diharuskan meminta pengawalan dari instansi
yang berwenang.

c. Rambu-rambu Sementara
Kontraktor diharuskan menyediakan, membuat, memasang dan menempatkan rambu-rambu lalu lintas
sementara pada lokasi dan posisi penting termasuk rintangan-rintangan di sekitar lokasi proyek.
RKS-KONSTR UKSI
Procurement Unit
Penempatannya harus dengan persetujuan polisi 8 lalu lintas atau instansi lain yang berwenang. Bentuk
dan ukuran huruf serta susunan kalimat pada rambu dan rintangan harus jelas, mudah dimengerti oleh
setiap pengendara kendaraan dan pada setiap cuaca gelap dan malam hari harus diberi penerangan.
Apabila pekerjaan telah dinyatakan selesai oleh Direksi, Kontraktor diharuskan menyingkirkan semua
rambu-rambu dan rintangan-rintangan sementara yang tidak diperlukan lagi yang selama pelaksanaan
dipergunakan untuk pengaturan lalu lintas di sekitar lokasi proyek.

d. Pengaturan Pemindahan Jaringan Pipa dan Kabel


1. Yang termasuk dalam istilah pipa dan kabel adalah pipa distribusi air bersih PDAM, pipa gas, kabel
listrik, kabel telpon dan kabel TELKOM lainnya yang pemasangan jaringannya tertanam dan terletak
di bawah permukaan tanah.
2. Semua pipa dan kabel yang termasuk dalam kategori (a) di atas dan yang sudah tidak berfungsi lagi
serta jalurnya melintasi dan menghalangi aliran air dalam saluran harus disingkirkan atau dipotong
sesuai petunjuk Direksi atas persetujuan Instansi yang bersangkutan.
3. Biaya penggantian dan perbaikan atas kerusakan terhadap pipa dan kabel yang masih berfungsi
sebagai akibat dari kelalaian Kontraktor dalam melaksanakan pekerjaannya adalah menjadi beban
Kontraktor sepenuhnya.
4. Apabila dalam rangka pekerjaan penggalian saluran baru atau penggalian memperdalam dasar
saluran lama ditemui lintasan pipa dan kabel yang masih berfungsi, maka Direksi dan Kontraktor
menghubungi instansi yang mengelola jaringan tersebut untuk menentukan biaya pemindahan jalur
pipa atau kabel yang dimaksud untuk dialihkan di bawah dasar saluran rencana.
Direksi berhak menunjuk seorang ahli yang akan memberi pengarahan dan mengawasi semua
pekerjaan instalasi dalam rangka pemindahan dan pengalihan jalur atau lintasan pipa dan kabel.

1.4. Pematokan dan Pekerjaan Bouwplank


a. Sebelum pelaksanaan pekerjaan dimulai, Kontraktor harus melaksanakan pematokan dan pemasangan
bouwplank sesuai petunjuk Direksi.
b. Bouwplank harus dibuat tegak lurus sumbu saluran dan harus dibuat melebihi lebar dasar pondasi
jembatan.
c. Patok dan bouwplank harus dibuat kokoh, tidak mudah rusak dan tidak bergerak serta harus dijaga agar
tidak rusak/hilang selama pelaksanaan pekerjaan dengan jarak antar patok 1,5 meter.
d. Elevasi yang tercantum dalam bouwplank dan patok akan menjadi dasar pelaksanaan pekerjaan baik
dalam penentuan lebar jembatan, tinggi jembatan maupun tebal pasangan/konstruksi lainnya.

1.5. Test Hole


1. Kontraktor harus melakukan uji beton Box-Culvert dengan Test Hole minimal sejumlah 4 titik.
2. Laboratoium pengujian material harus independen.

2. PEKERJAAN TANAH
2.1. Pekerjaan Galian Tanah Konstruksi Dengan Alat Berat
2.1.1. Umum
1. Pekerjaan ini harus mencakup penggalian, pembuangan tanah atau material lain bila ada dari tempat
kerja atau sekitarnya yang perlu, untuk penyelesaian yang memuaskan dari pekerjaan dalam kontrak ini.
2. Pekerjaan ini umumnya diperlukan untuk pembuatan pondasi, untuk pembuangan material yang tidak
terpakai atau humus, dan untuk pembentukan secara umum garis, ketinggian penampang yang
ditunjukkan dalam gambar atau yang diperintahkan oleh Direksi.

2.1.2. Perbaikan dari Pekerjaan Galian yang tidak Memuaskan


Pekerjaan galian yang tidak memenuhi toleransi yang diberikan, harus diperbaiki oleh Kontraktor sebagai
berikut :
Material yang berlebihan harus dibuang dengan menggali lebih lanjut
Daerah dimana digali lebih atau daerah retak atau lepas, harus diurug kembali dengan timbunan pilihan
atau lapis pondasi agregat seperti yang diperintahkan oleh Direksi.
2.1.3. Pelaporan dan Pencatatan
a. Kontraktor harus menyerahkan kepada direksi, sebelum memulai pekerjaan, gambar perincian
potongan melintang atau memanjang yang menunjukkan kondisi awal daripada tanah sebelum
operasi pembabatan dan penggarukan dilakukan untuk setiap seksi pekerjaan galian.
b. Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi gambar perincian dari seluruh struktur sementara
yang diusulkannya atau yang diperintahkan untuk digunakan seperti skor, turap, cofferdam, dan
tembok penahan dan harus memperoleh persetujuan direksi sebelum melaksanakan pekerjaan
galian yang dimaksudkan untuk dilindungi oleh struktur yang diusulkan tersebut.
c. Setelah masing-masing galian untuk tanah dasar, formasi atau pondasi selesai, kontraktor harus
memberitahu direksi. Bahan landasan atau material lain tidak boleh dipasang sebelum
RKS-KONSTR UKSI
Procurement Unit
kedalaman galian disetujui oleh direksi. 9

2.1.4. Prosedur Penggalian


1. Penggalian harus dilaksanakan hingga garis ketinggian dan elevasi yang ditentukan dalam
gambar atau ditunjukkan oleh Direksi dan harus mencakup pembuangan seluruh material dalam
bentuk apapun yang dijumpai termasuk tanah, padas, batu bata, batu beton dan lain-lain.
Pekerjaan galian harus dilakukan dengan seminimal mungkin gangguan terhadap material di
bawah dan di luar batas galian.
2. Seluruh galian harus dijaga agar bebas dari air dan kontraktor harus menyediakan seluruh
material yang diperlukan, perlengkapan dan buruh untuk pengeringan, panggalian saluran air
dan pembangunan saluran sementara, tembok ujung dan cofferdam. Pompa agar siap di tempat
kerja setiap saat untuk menjamin tak ada gangguan dalam prosedur pengeringan dengan pompa.

2.1.5. Jaminan Keselamatan Pekerjaan Galian


1. Kontraktor harus memikul seluruh tanggung jawab untuk menjamin keselamatan pekerja yang
melaksanakan pekerjaan galian.
2. Selama masa pekerjaan galian, kontraktor harus menjaga setiap saat suatu lereng yang stabil
yang mampu menahan pekerjaan sekitarnya. Bila diperlukan, kontraktor harus menahan atau
menyangga struktur di sekitarnya yang jika tidak dilakukan dapat menjadi tidak stabil atau rusak
oleh pekerjaan galian.
3. Pada setiap saat dimana kedalaman galian melebihi ketinggian di atas kepala, kontraktor harus
menempatkan pengawas keamanan pada tempat kerja yang tugasnya hanya memonitor
kemajuan dan keamanan. Pada setiap saat peralatan galian cadangan serta perlengkapan P3K
harus tersedia di tempat kerja galian.
4. Seluruh tepi galian terbuka harus diberi penghalang yang cukup untuk mencegah pekerja atau
orang lain terjatuh kedalamnya dan setiap galian terbuka pada badan jalan atau bahu harus
ditambah dengan bamboo pada malam hari dengan drum dicat putih atau lampu kuning sesuai
dengan ketentuan Direksi.

2.1.6. Pembuangan Material Galian


Seluruh material Galian tanah di buang keluar proyek

2.2. Bongkaran Pasangan Lama


Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, alat - alat dan pengangkutan yang dibutuhkan
untuk menyelesaikan semua pekerjaan pembongkaran bangunan lama seperti tertera pada
gambar rencana dan juga pembersihan lokasi pembongkaran dari sisa material lama.
Pekerjaan bongkaran dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Pembongkaran harus dilaksanakan secara tertib dan hati-hati sehingga tidak merusak bagian
lainnya yang tidak semestinya dibongkar dan tidak membahayakan manusia, baik orang lain,
personel yang terlibat dalam pelaksanaan ini maupun pekerjaannya sendiri.
b. Semua Material bekas bongkaran diangkut keluar proyek.

2.3. Urugan Sirtu ( Padat )


1. Bahan yang digunakan sebagai urugan adalah Sirtu
2. Mutu Bahan.
- Sirtu harus terbebas dari Lumpur, Oli, Air, bahan organic maupun an organic.
3. Prosedur Pelaksanaan
- Pelaksanaan Urugan Sirtu Padat sepanjang Pasangan Top-Bottom dan U-Ditch

2.3. Pekerjaan Galian Lumpur Dengan Alat Berat


2.3.1. Umum
1. Pekerjaan ini harus mencakup penggalian, pembuangan lumpur atau material lain bila ada dari tempat
kerja atau sekitarnya yang perlu, untuk penyelesaian yang memuaskan dari pekerjaan dalam kontrak ini.
2. Pekerjaan ini umumnya diperlukan untuk pembuatan pondasi, untuk pembuangan material yang tidak
terpakai atau humus, dan untuk pembentukan secara umum garis, ketinggian penampang yang ditunjukkan
dalam gambar atau yang diperintahkan oleh Direksi.

2.3.2. Perbaikan dari Pekerjaan Galian yang tidak Memuaskan


Pekerjaan galian yang tidak memenuhi toleransi yang diberikan, harus diperbaiki oleh Kontraktor sebagai
berikut :
Material yang berlebihan harus dibuang dengan menggali lebih lanjut
RKS-KONSTR UKSI
Procurement Unit
Daerah dimana digali lebih atau daerah retak atau10 lepas, harus diurug kembali dengan timbunan pilihan
atau lapis pondasi agregat seperti yang diperintahkan oleh Direksi.

2.3.3. Pelaporan dan Pencatatan


a. Kontraktor harus menyerahkan kepada direksi, sebelum memulai pekerjaan, gambar perincian potongan
melintang atau memanjang yang menunjukkan kondisi awal daripada tanah sebelum operasi
pembabatan dan penggarukan dilakukan untuk setiap seksi pekerjaan galian.
b. Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi gambar perincian dari seluruh struktur sementara yang
diusulkannya atau yang diperintahkan untuk digunakan seperti skor, turap, cofferdam, dan tembok
penahan dan harus memperoleh persetujuan direksi sebelum melaksanakan pekerjaan galian yang
dimaksudkan untuk dilindungi oleh struktur yang diusulkan tersebut.
c. Setelah masing-masing galian untuk tanah dasar, formasi atau pondasi selesai, kontraktor harus
memberitahu direksi. Bahan landasan atau material lain tidak boleh dipasang sebelum kedalaman galian
disetujui oleh direksi.

2.3.4. Prosedur Penggalian


1. Penggalian harus dilaksanakan hingga garis ketinggian dan elevasi yang ditentukan dalam gambar atau
ditunjukkan oleh Direksi dan harus mencakup pembuangan seluruh material dalam bentuk apapun yang
dijumpai termasuk tanah, padas, batu bata, batu beton dan lain-lain. Pekerjaan galian harus dilakukan
dengan seminimal mungkin gangguan terhadap material di bawah dan di luar batas galian.
2. Seluruh galian harus dijaga agar bebas dari air dan kontraktor harus menyediakan seluruh material yang
diperlukan, perlengkapan dan buruh untuk pengeringan, panggalian saluran air dan pembangunan
saluran sementara, tembok ujung dan cofferdam. Pompa agar siap di tempat kerja setiap saat untuk
menjamin tak ada gangguan dalam prosedur pengeringan dengan pompa.

2.3.5. Jaminan Keselamatan Pekerjaan Galian


3. Kontraktor harus memikul seluruh tanggung jawab untuk menjamin keselamatan pekerja yang
melaksanakan pekerjaan galian.
4. Selama masa pekerjaan galian, kontraktor harus menjaga setiap saat suatu lereng yang stabil yang
mampu menahan pekerjaan sekitarnya. Bila diperlukan, kontraktor harus menahan atau menyangga
struktur di sekitarnya yang jika tidak dilakukan dapat menjadi tidak stabil atau rusak oleh pekerjaan
galian.
5. Pada setiap saat dimana kedalaman galian melebihi ketinggian di atas kepala, kontraktor harus
menempatkan pengawas keamanan pada tempat kerja yang tugasnya hanya memonitor kemajuan dan
keamanan. Pada setiap saat peralatan galian cadangan serta perlengkapan P3K harus tersedia di
tempat kerja galian.
6. Seluruh tepi galian terbuka harus diberi penghalang yang cukup untuk mencegah pekerja atau orang
lain terjatuh kedalamnya dan setiap galian terbuka pada badan jalan atau bahu harus ditambah dengan
bamboo pada malam hari dengan drum dicat putih atau lampu kuning sesuai dengan ketentuan Direksi.

2.4.6. Pembuangan Material Galian


Seluruh material Galian lumpur di buang keluar proyek

2.5. Pengangkutan Tanah Keluar Proyek


1. Seluruh material yang telah digali dalam batas volume yang telah ditentukan, dan apabila tidak
bisa dibuang secara langsung , maka untuk sementara dapat diletakan didaerah sekitar saluran.
2. Penempatan hasil Galian tersebut jangan sampai menggangu sekitarnya.
3. Walapupun ditempatkan sementara, tanah hasil galian tidak dibenarkan berada pada tempat
tersebut sampai 1 ( satu hari )
4. Seluruh hasil material bekas galian drainase harus dibuang dan tempat bekas penempatan
sementara hasi galian, ditinggalkan dalam keadaan rapih dan bersih.
5. Alat transportasi yang digunakan untuk mengangkut tanah sisa galian adalh Dump Truk dengan
kapasitas muat 6 m3 atau bila kondisi jalan / area yang tidak memungkinkan bisa menggunakan
kendaraan kecil dengan seijin pengawas lapangan
6. Kontraktor harus melaporkan kepada Direksi setiap kali akan mengadakan pengangkutan
material sisa galian keluar proyek, serta harus mencatat berapa m3 volume dari material yang
telah diangkut setiap ada pekerjaan pengangkutan.

3. PEKERJAAN PENERANGAN JALAN

Ruang lingkup
Standar ini memuat ketentuan - ketentuan untuk penerangan ruas jalan, persimpangan
sebidang maupun tidak sebidang, jembatan dan terowongan di kawasan perkotaan yang
mempunyai klasifikasi fungsi jalan arteri, kolektor dan lokal. Spesifikasi yang dimaksud dalam
standar ini meliputi fungsi, jenis, dimensi, pemasangan, penempatan/penataan penerangan
RKS-KONSTR UKSI
Procurement Unit
jalan yang diperlukan. 11

Acuan normatif
Spesifikasi penerangan jalan di kawasan perkotaan ini merujuk pada acuan sebagai berikut :
1) Undang Undang RI Nomor 14 Tahun 1992tentang Lalu Lintasdan Angkutan Jalan
2) Undang Undang RI Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan
3) Peraturan Pemerintah RI Nomor 26 Tahun 1985 tentang Jalan
4) Peraturan Pemerintah RI Nomor 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan
5) SNI No. 03-2447-1991, Spesifikasi Trotoar
6) SNI No. 04-6262-2000, Rekomendasi untuk pencahayaan kendaraan bermotor dan pejalan kaki
7) AASHTO, 1984, An Informational Guide for Roadway Lighting.

Istilah dan definisi


Istilah dan definisi yang digunakan dalam standar ini adalah sebagai berikut:

3.1 jalan
prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap
dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas yang berada pada permukaan tanah, di
bawah permukaan tanah dan/atau air, kecuali jalan kereta api, jalan lori dan jalan kabel. [Undang-
Undang RI No. 38 Tahun 2004]

3.2 jalan arteri


jalan umum yang berfungsi melayani angkutan utama dengan ciri perjalanan jarak jauh,
kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah jalan masuk dibatasi secara berdaya guna.
[Undang-Undang RI No. 38 Tahun 2004]

3.3 jalan kolektor


jalan umum yang berfungsi melayani angkutan pengumpul atau pembagi dengan ciri
perjalanan jarak sedang, kecepatan rata-rata sedang, dan jumlah jalan masuk dibatasi.
Undang-Undang RI No. 38 Tahun 2004]

3.4 jalan lokal


jalan umum yang berfungsi melayani angkutan setempat dengan ciri perjalanan jarak dekat, kecepatan
rata-rata rendah, dan jumlah jalan masuk tidak dibatasi.
[Undang-Undang RI No. 38 Tahun 2004]

3.5 jalur
bagian jalan yang dipergunakan untuk lalu lintas.
3.6 kawasan perkotaan
kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian, dengan susunan fungsi kawasan
sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan,
pelayanan sosial, serta kegiatan ekonomi.
[Penjelasan Undang-Undang RI No. 38 Tahun 2004]

3.7 lajur
bagian jalur yang memanjang, dengan atau tanpa marka jalan, yang memiliki lebar cukup
untuk satu kendaraan bermotor sedang berjalan, selain sepeda motor.
[ PP RI No. 43 Tahun 1993 ]

3.8 lampu penerangan jalan


bagian dari bangunan pelengkap jalan yang dapat diletakkan atau dipasang di kiri/kanan jalan
dan atau di tengah (di bagian median jalan) yang digunakan untuk menerangi jalan maupun
lingkungan di sekitar jalan yang diperlukan termasuk persimpangan jalan, jalan layang, jembatan dan
jalan di bawah tanah; (b) suatu unit lengkap yang terdiri dari sumber cahaya, elemen optik, elemen
elektrik dan struktur penopang serta pondasi tiang lampu.

3.9 luminansi (L)


pantulan cahaya lampu oleh permukaan jalan, yang diukur dalam satuan candela per
meter persegi (cd/m2).

3.10 median jalan


bagian dari jalan yang tidak dapat dilalui oleh kendaraan dengan bentuk memanjang
sejajar jalan, terletak di sumbu/tengah jalan, dimaksudkan untuk memisahkan arus lalu lintas
yang berlawanan. median dapat berbentuk median yang ditinggikan (raised), median yang
diturunkan (depressed), atau median datar (flush).
RKS-KONSTR UKSI
Procurement Unit
3.11 pandangan silau (glare) 12
pandangan yang terjadi ketika suatu cahaya/sinar terang masuk di dalam area
pandangan/ penglihatan pengendara yang dapat mengakibatkan ketidaknyamanan pandangan
bahkan ketidakmampuan pandangan jika cahaya tersebut datang secara tiba-tiba.

3.12 pandangan silhoute


pandangan yang terjadi pada suatu kondisi dimana obyek yang gelap berada di latar
belakang yang sangat terang (negative image).

3.13 ruang milik jalan/right of way (RUMIJA/ROW)


sejalur tanah tertentu di luar ruang manfaat jalan yang masih menjadi bagian dari ruang
milik jalan yang dibatasi oleh batas ruang milik jalan yang dimaksudkan untuk memenuhi
persyaratan keluasaan keamanan penggunaan jalan antara lain untuk keperluan pelebaran
ruang manfaat jalan pada masa yang akan datang.
[Penjelasan Undang-Undang RI No. 38 Tahun 2004]

3.14 ruang pengawasan jalan (RUWASJA)


ruang tertentu yang terletak di luar ruang milik jalan yang penggunaannya diawasi oleh
penyelenggara jalan agar tidak mengganggu pandangan pengemudi, konstruksi bangunan
jalan apabila ruang milik jalan tidak cukup luas, dan tidak mengganggu fungsi jalan;
terganggunya fungsi jalan disebabkan oleh pemanfaatan ruang pengawasan jalan yang tidak
sesuai peruntukannya. [Penjelasan Undang-Undang RI No. 38 Tahun 2004]

3.15 sistem penempatan menerus


sistem penempatan lampu penerangan jalan yang menerus/kontinyu di sepanjang jalan
dan atau jembatan.

3.16 sistem penempatan parsial (setempat)


sistem penempatan lampu penerangan jalan pada suatu daerah-daerah tertentu atau
pada suatu panjang jarak tertentu sesuai dengan keperluannya.

3.17 trotoar
jalur lalu lintas untuk pejalan kaki yang umumnya sejajar dengan sumbu jalan dan lebih
tinggi dari permukaan perkerasan jalan (untuk menjamin keselamatan pejalan kaki yang
bersangkutan).

3.18 kuat pencahayaan (iluminansi, E)


jumlah cahaya yang jatuh pada permukaan jalan, dalam satuan lux.

3.19 rasio kemerataan (uniformity ratio)


perbandingan harga antara dua kondisi dari suatu besaran kuat pencahayaan
(iluminansi atau luminansi) pada suatu permukaan jalan.

4 Ketentuan - ketentuan

4.1 Fungsi penerangan jalan

Penerangan jalan di kawasan perkotaan mempunyai fungsi antara lain :


1) Menghasilkan kekontrasan antara obyek dan permukaan jalan;
2) Sebagai alat bantu navigasi pengguna jalan;
3) Meningkatkan keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan, khususnya pada malam hari;
4) Mendukung keamanan lingkungan;
5) Memberikan keindahan lingkungan jalan.

4.2 Dasar perencanaan penerangan jalan

1) Perencanaan penerangan jalan terkait dengan hal-hal berikut ini :


a) Volume lalu-lintas, baik kendaraan maupun lingkungan yang bersinggungan
seperti pejalan kaki, pengayuh sepeda, dll;
b) Tipikal potongan melintang jalan, situasi (lay-out) jalan dan persimpangan jalan;
c) Geometri jalan, seperti alinyemen horisontal, alinyemen vertikal, dll;
d) Tekstur perkerasan dan jenis perkerasan yang mempengaruhi pantulan cahaya
lampu penerangan;
RKS-KONSTR UKSI
Procurement Unit
13
e) Pemilihan jenis dan kualitas sumber cahaya/lampu, data fotometrik lampu dan
lokasi sumber listrik;
f) Tingkat kebutuhan, biaya operasi, biaya pemeliharaan, dan lain-lain, agar
perencanaan sistem lampu penerangan efektif dan ekonomis;
g) Rencana jangka panjang pengembangan jalan dan pengembangan daerah
sekitarnya;
h) Data kecelakaan dan kerawanan di lokasi.
2) Beberapa tempat yang memerlukan perhatian khusus dalam perencanaan penerangan jalan antara
lain sebagai berikut :
a) Lebar ruang milik jalan yang bervariasi dalam satu ruas jalan;
b) Tempat-tempat dimana kondisi lengkung horisontal (tikungan) tajam;
c) Tempat yang luas seperti persimpangan, interchange, tempat parkir, dll;
d) Jalan-jalan berpohon;
e) Jalan-jalan dengan lebar median yang sempit, terutama untuk pemasangan lampu
di bagian median;
f) Jembatan sempit/panjang, jalan layang dan jalan bawah tanah (terowongan);
g) Tempat-tempat lain dimana lingkungan jalan banyak berinterferensi dengan jalannya.

4.3 Jenis lampu penerangan jalan


1) Jenis lampu penerangan jalan ditinjau dari karakteristik dan penggunaannya secara umum
dapat dilihat dalam Tabel 1.

Tabel 1 Jenis lampu penerangan jalan secara umum menurut karakteristik dan penggunaannya

Umur
Jenis Efisiensi rencana Daya Pengaruh Keterangan
Lampu rata-rata rata-rata (watt) thd warna
(lumen/watt) (jam) obyek

RKS-KONSTR UKSI
Procurement Unit
Lampu 60 - 70 8.000 - 10.000 14
18 - 20; Sedang - untuk jalan kolektor
tabung 36 - 40 dan lokal
fluorescent - efisiensi cukup
tekanan tinggi tetapi
berumur pendek
rendah - jenis lampu ini
masih dapat
digunakan untuk hal-
hal yang terbatas.

Lampu gas 50 - 55 16.000 - 24.000 125; 250; Sedang - untuk jalan kolektor,
merkuri 400;700 local dan
tekanan persimpangan
tinggi - efisiensi rendah,
(MBF/U) umur panjang dan
ukuran lampu
kecil
- jenis lampu ini
masih dapat
digunakan secara
Lampu gas 100 - 200 8.000 - 10.000 90; 180 Sangat terbatas
- untuk jalan kolektor,
sodium buruk lokal,
bertekanan persimpangan,
rendah penyeberangan,
(SOX) terowongan, tempat
peristirahatan (rest
area);
- efisiensi sangat
tinggi, umur cukup
panjang, ukuran
lampu besar sehingga
sulit untuk
mengontrol
cahayanya dan
cahaya lampu sangat
buruk
karena warna kuning;
- Jenis lampu ini
dianjurkan digunakan
karena faktor
efisiensinya yang
sangat tinggi.
Lampu gas 110 12.000 - 20.000 150; 250; Buruk - Untuk jalan tol,
sodium 400 arteri, kolektor,
tekanan persimpangan
tinggi besar/luas dan
(SON) interchange;
- efisiensi tinggi,
umur sangat panjang,
ukuran lampu kecil,
sehingga mudah
pengontrolan
cahayanya;
- Jenis lampu ini
sangat baik
dan sangat
dianjurkan untuk
digunakan.
2)Rumah lampu penerangan (lantern) dapat diklasifikasikan menurut tingkat perlindungan
terhadap debu/benda dan air. Hal ini dapat diindikasikan dengan istilah IP (Index of Protection) atau indek
perlindungan, yang memiliki 2(dua) angka, angka pertama menyatakan indek perlindungan terhadap
debu/benda, dan angka kedua menyatakan indek perlindungan terhadap air. Sistem IP merupakan
penggolongan yang lebih awal terhadap penggunaan peralatan yang tahan hujan dan sebagainya, dan
ditandai dengan lambang. Semakin tinggi indek perlindungan (IP), semakin baik standar
perlindungannya. Ringkasan pengkodean IP mengikuti Tabel 2 (A Manual of Road Lighting in Developing
ountries).
Pada umumnya, indek perlindungan (IP) yang sering dipakai untuk klasifikasi
lampu penerangan adalah : IP 23, IP 24, IP 25, IP 54, IP 55, IP 64, IP 65, dan IP 66.

RKS-KONSTR UKSI
Procurement Unit
15
Tabel 2 Kode indek perlindungan IP (Index of Protection)

ANGKA PERTAMA ANGKA KEDUA

(a) Perlindungan terhadap manusia/benda jika bersentuhan


dengan komponen dalam rumah lampu (a) Perlindungan rumah lampu jika kontak atau bersentuhan
dengan benda cair
(b) Perlindungan terhadap rumah lampu jika bersentuhan
dengan benda
No./Simbol ingkat perlindungan No./Simbol Tingkat perlindungan

Tanpa perlindungan
(a) Tanpa perlindungan
0 0
(b) Tanpa perlindungan
1 (a) Perlindungan terhadap 1 Perlindungan
sentuhan yang tidak disengaja terhadap tetesan
oleh bagian tubuh, seperti air, tetapi tidak
tangan. Menimbulkan efek
(b) Perlindungan terhadap yang bahaya dan
masuknya benda padat, merusak
berdiameter < 50 mm

4.4 Ketentuan pencahayaan dan penempatan


4.4.1 Kualitas pencahayaan

4.4.1.1 Pencahayaan pada ruas jalan


Kualitas pencahayaan pada suatu jalan diukur berdasarkan metoda
iluminansi atau luminansi. Meskipun demikian lebih mudah menggunakan metoda
iluminansi, karena dapat diukur langsung di permukaan jalan dengan menggunakan
alat pengukur kuat cahaya. Kualitas pencahayaan normal menurut jenis/klasifikasi
fungsi jalan ditentukan seperti pada Tabel 3.

Luminansi Batasan silau


Kuat pencahayaan (Iluminansi)
Jenis/ Kemerataan
klasifikasi E (Uniformity) L
Kemerataan (uniformity)
jalan ratarata rata-rata
(lux) (cd/m2) G TJ
g1 VD VI (%)

Trotoar 1-4 0,10 0,10 0,40 0,50 4 20


Jalan lokal :
- Primer 2-5 0,10 0,50 0,40 0,50 4 20
- 2-5 0,10 0,50 0,40 0,50 4 20
Jalan
Sekunder
kolektor :
- Primer 3-7 0,14 1,00 0,40 0,50 4-5 20

Tabel 3 Kualitas pencahayaan normal

RKS-KONSTR UKSI
Procurement Unit
- Sekunder 3-7 0,14 16 0,40 0,50 4-5
1,00 20
Jalan arteri : 1,50 0,40 0,50 - 0,70 5-6 10 - 20
- Primer - 11 - 20 0,14 - 0,20 1,50 0,40 0,50 - 0,70 5-6 10 - 20
Sekunder 11 - 20 0,14 - 0,20
Jalan arteri 15 - 20 0,14 - 0,20 1,50 0,40 0,50 - 0,70 5-6 10 - 20
dengan
akses
kontrol,
jalan
bebas
hambatan
Jalan 20 - 25 0,40 0,70
layang,
simpang 0,20 2,00 6 10
susun,
terowongan
Keterangan : g1 : E min/E maks VD : L min/L maks VI : L min/L rata-rata G : Silau (glare)
TJ : Batas ambang kesilauan

4.4.1.2 Pencahayaan pada tempat parkir


Kuat pencahayaan pada daerah tempat parkir ditentukan seperti pada Tabel 4.

Tabel 4 Kuat pencahayaan pada daerah tempat parkir

Kuat pencahayaan pada tempat parkir terbuka (lux)

Tingkat kegiatan lingkungan di Untuk tujuan


lokasi Lalu-lintas kendaraan Keselamatan pejalan kaki
Rendah 5 2
Sedang 11 6
Tinggi 22 10
Kuat pencahayaan pada tempat parkir tertutup (lux)
Daerah Siang hari Malam hari
Daerah tempat parkir dan pejalan
kaki 54 54
Kegiatan sedang/tinggi 110 54

4.4.1.3 Pencahayaan pada rambu lalu-lintas


Batasan kuat pencahayaan (iluminansi) dan luminansi pada rambu-rambu lalu-lintas
yang dipasang berdekatan dengan lampu penerangan jalan atau papan reklame
ditentukan pada Tabel 5 (AASHTO, 1984), yang bertujuan agar lebih menarik perhatian
bagi pengguna jalan.

Tabel 5 Batasan kuat pencahayaan untuk rambu lalu-lintas


Daerah sekitar Iluminansi Luminansi
penempatan rambu (Lux) (cd/m2)
Rendah 108 - 216 24 - 48
Sedang 216 - 432 48 - 96
Tinggi 432 - 864 96 - 192

4.4.1.4 Pencahayaan pada terowongan

1) Kuat pencahayaan pada terowongan harus cukup dan memberi kenyamanan baik
untuk penglihatan siang maupun malam hari. Adapun kriteria penerangan terowongan
adalah seperti yang ditentukan pada Tabel 6.
2) Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pencahayaan terowongan :

- Memberikan adaptasi pencahayaan yang baik;


- Tingkat kesilauan seminimal mungkin;
- Memberikan pantulan yang cukup dan warna yang kontras pada permukaan
terowongan;
- Memberikan pencahayaan yang jelas rambu-rambu lalu-lintas.
RKS-KONSTR UKSI
Procurement Unit
17
Tabel 6 Batasan kuat pencahayaan pada terowongan
Daerah penempatan (Lux)
Jenis/klasifikasi Jalan Komersil Menengah Permukiman
Jalan arteri dengan 22 15 11
kontrol/
jalan bebas hambatan
Jalan arteri 15 13 11
Jalan kolektor 13 10 6
Jalan local 10 6 4
Jalan kecil/lorong/gang 6 4 4

4.4.2 Rasio kemerataan pencahayaan (uniformity ratio)


Rasio maksimum antara kemerataan pencahayaan maksimum dan minimum menurut
lokasi penempatan tertentu adalah seperti yang ditentukan pada Tabel 7.

Tabel 7 Rasio kemerataan pencahayaan


Lokasi penempatan Rasio maksimum
Jalur lalu lintas :
- di daerah permukiman 6:1
- di daerah komersil/pusat kota 3:1
Jalur pejalan kaki :
- di daerah permukiman 10 : 1
- di daerah komersil/pusat kota 4:1
Terowongan 4:1
Tempat-tempat peristirahatan (rest area) 6:1

4.4.3 Pemilihan jenis dan kualitas lampu penerangan


Pemilihan jenis dan kualitas lampu penerangan jalan didasarkan pada :
1) Nilai efisiensi (Tabel 1);
2) Umur rencana;
3) Kekontrasan permukaan jalan dan obyek.

4.4.4 Penempatan lampu penerangan


1) Penempatan lampu penerangan jalan harus direncanakan sedemikian rupa
sehingga dapat memberikan :
a) Kemerataan pencahayaan yang sesuai dengan ketentuan Tabel 6 dan 7;
b) Keselamatan dan keamanan bagi pengguna jalan;
c) Pencahayaan yang lebih tinggi di area tikungan atau persimpangan, dibanding
pada bagian jalan yang lurus;
d) Arah dan petunjuk (guide) yang jelas bagi pengguna jalan dan pejalan kaki.
2) Sistem penempatan lampu penerangan jalan yang disarankan seperti pada Tabel 8.
3) Pada sistem penempatan parsial, lampu penerangan jalan harus memberikan
adaptasi yang baik bagi penglihatan pengendara, sehingga efek kesilauan dan
ketidaknyamanan penglihatan dapat dikurangi.

Tabel 8 Sistem penempatan lampu penerangan jalan


Jenis jalan / jembatan
Sistem penempatan lampu yang digunakan
- Jalan arteri
- Jalan kolektor
- Jalan lokal sistem menerus dan parsial. sistem menerus dan
- Persimpangan, simpang susun, ramp parsial. sistem menerus dan parsial. sistem
- Jembatan menerus. sistem menerus.
- Terowongan sistem menerus bergradasi pada ujung-ujung
terowongan.

4 Batasan penempatan lampu penerangan jalan tergantung dari tipe lampu, tinggi lampu, lebar jalan
dan tingkat kemerataan pencahayaan dari lampu yang akan digunakan. Jarak antar lampu penerangan
secara umum dapat mengikuti batasan seperti pada Tabel 9 (A Manual of Road Lighting in Developing
Countries). Dalam tabel tersebut dipisahkan antara dua tipe rumah lampu. Rumah lampu (lantern) tipe A
mempunyai penyebaran sorotan cahaya/sinar lebih luas, tipe ini adalah jenis lampu gas sodium
RKS-KONSTR UKSI
Procurement Unit
bertekanan rendah, sedangkan tipe B mempunyai18sorotan cahaya lebih ringan/kecil, terutama yang
langsung ke jalan, yaitu jenis lampu gas merkuri atau sodium bertekanan tinggi.

Tabel 9
Jarak antar tiang lampu penerangan (e)
berdasarkan tipikal distribusi pencahayaan dan
klasifikasi lampu

1. Rumah lampu tipe A


Jenis Tinggi Lebar jalan ( m ) Tingkat
lampu lampu 4 5 7 9 pencahayaan
6 8 10 11
(m)
a 4 32 32 32 - - - - -
5 35 35 35 35 35 34 32 - 3,5 LUX
6 42 40 38 36 33 31 30 29
55W SOX 6 42 42 38 36 33 32 30 28
90W SOX 8 60 60 58 55 52 50 48 46 6,0 LUX
90W SOX 8 36 36 35 33 31 30 29 28
135W SOX 10 46 45 45 44 43 41 40 39 10,0 LUX
135W SOX 10 - - 25 24 23 22 21 20
180W SOX 10 - - 37 36 35 33 32 31 20,0 LUX
180W SOX 10 - - - - 22 21 20 20 30,0 LUX

2. Rumah lampu tipe B


Jenis Tinggi Lebar jalan ( m ) Tingkat
lampu lampu 4 5 7 9 pencahayaan
6 8 10 11
(m)
50W SON atau 4 31 30 29 28 26 - - -
80W MBF/U
5 33 32 32 31 30 29 28 27
3,5 LUX
70W SON atau 6 48 47 46 44 43 41 39 37
125WMBF/U

70W SON atau 6 34 33 32 31 30 28 26 24


125WMBF/U
6,0 LUX
100W SON 6 48 47 45 42 40 38 36 34
150W SON 8 48 47 45 43 41 39
atau
10,0 LUX
250W
MBF/USON
100W 6 - - 28 26 23 - - -
250W SON 10 55 53 50 47
atau
400W MBF/U
20,0 LUX
250W SON 10 36 35 33 32 30 28
atau
400W MBF/U
400W SON 12 - - - - 39 38 37 36 30,0 LUX
Keterangan : - Jarak antar tiang lampu dalam meter.
- Rumah lampu (lantern) tipe A mempunyai penyebaran sorotan cahaya/sinar lebih luas.
- Rumah lampu (lantern) tipe B mempunyai penyebaran sorotan cahaya lebih ringan/ kecil, terutama
yang langsung ke jalan.

4.4.5 Penataan letak lampu penerangan jalan


Penataan/pengaturan letak lampu penerangan jalan diatur seperti pada Tabel 10 dan diilustrasikan pada
Lampiran A. Di daerah-daerah atau kondisi dimana median sangat lebar (> 10 meter) atau pada jalan
dimana jumlah lajur sangat banyak (> 4 lajur setiap arah) perlu dipertimbangkan dengan pemilihan
penempatan lampu penerangan jalan kombinasi dari cara-cara tersebut di atas pada kondisi seperti ini,
pemilihan penempatan lampu penerangan jalan direncanakan dan sendiri-sendiri untuk setiap arah lalu-
lintas.
RKS-KONSTR UKSI
Procurement Unit
Tabel 10 Penataan letak lampu penerangan jalan 19
Tempat Penataan / pengaturan letak
- di kiri atau kanan jalan;
- di kiri dan kanan jalan berselang-seling;
Jalan satu arah
- di kiri dan kanan jalan berhadapan;
- di bagian tengah / separator jalan.
Jalan dua arah - di bagian tengah / median jalan;
- kombinasi antara di kiri dan kanan berhadapan
dengan di bagian tengah / median jalan;
- katenasi (di bagian tengah jalan dg sistem
digantung)
Persimpangan - dapat dilakukan dengan menggunakan lampu
menara dengan beberapa lampu, umumnya
ditempatkan di pulau-pulau, di median jalan, diluar
daerah persimpangan (dalam RUMIJA ataupun
dalam RUWASJA)

4.4.6 Penataan letak lampu pada perlintasan kereta api

1) Penataan lampu penerangan jalan pada perlintasan kereta api (KA), apabila kereta api pada
perlintasan tersebut beroperasi pada malam hari.
2) Persyaratan kuat pencahayaan yang ditetapkan pada suatu area perlintasan KA

4.4.7 Penataan lampu penerangan terhadap tanaman jalan

Dalam penempatan lampu penerangan jalan harus dipertimbangkan terhadap tanaman


jalan akan ditanam maupun yang telah ada, sehingga perlu adanya pemangkasan
pohon dengan batasan seperti pada Gambar 8 dan Tabel 11.

Tabel 11
Tinggi pemangkasan pohon terhadap sudut di bawah cahaya lampu
Garis pemangkasan pada sudut _ di bawah cahaya
lampu Tinggi pemangkasan pohon (h)
70 H - 0.36 D
75 H - 0.26 D

RKS-KONSTR UKSI
Procurement Unit
80 20D
H - 0.17

Keterangan : H = tinggi tiang lampu (mounting height) dalam meter


D = jarak tiang lampu ke proyeksi jarak terendah tanaman dengan tanah

3.1 Pekerjaan Tanah Taman


1. Bahan yang digunakan sebagai urugan adalah Tanah Taman
2. Mutu Bahan.
- Tanah Taman harus terbebas dari Lumpur, Oli, Air

3.2 Pemasangan Kabel NYFGBY 3cx4mm

Bahan Konduktor kabel terbuat dari coopper atau alumunium sesuai dengan spesifikasi yang
disyaratkan kable mampu menahan tegangan isolasi 500 volt. Kabel yang ditawarkan harus lolos uji
dari LMK dan berstandard PLN (SPLN). Kable yang digunakan type Kabel NYFGBY 3cx4mm. Twisted
Kabel 4x16 mm.

3.3 Pemasangan Kabel dan Penarikan

Bahan Konduktor kabel terbuat dari coopper atau alumunium sesuai dengan spesifikasi yang
disyaratkan kable mampu menahan tegangan isolasi 500 volt. Kabel yang ditawarkan harus lolos uji
dari LMK dan berstandard PLN (SPLN). Kable yang digunakan type Kabel NYFGBY 3cx4mm. Twisted
Kabel 4x16 mm.

3.4 Pemasangan PVC untuk Kable Tanam

- Pemasangan kabel PVC harus sesuai dengan gambar kerja dan sesuai spesifikasi dan
brstandard nasional.

3.5 Perakitan Panel Penerangan Jalan Umum

Panel terbuat dari plat baja tebal 1.5 - 2 mm. Dengan ukuran disesuaikan gambar terdiri dari dari
panel hubung bagi dan panel KWH meter sendiri. Panel berisi peralatan / perangkat untuk
mengendalikan aliran listrik dan pengaturan waktu penyalaan/mematikan lampu panel di pasang diatas
pondasi yang letaknya sesuai dengan gambar dan petunjuk dari pengawas lapangan sehingga dapat
melayani seluruh kebutuhan pengaturan ( menyalakan dan mematikan ) dari sekelompok lampu yang
dipasang serta memenuhi standart kualitas yang disyartkan.
Kontruksi Bok Panel Hubung Bagi ( PHB ) dan APP PLN
1. Panel terbuat dari plate baja yang difinishing dengan powder - warna panel ditetapakn oleh
pengunaan barang sebelum pemasangan.
2. Bidang pertemuan antar tutup panel dan body panelnya harus dirancang sedemikian rupa sehingga
air hujan tertahan dibidang temu dan mengalir ke bawah secara sempurna.
3. Proses penyambungan antar plate baja harus dilakukan debgab cara spot weiding.
4. Harus tersedia sarana pendukung kabel dan bus baru untuk pentanahan (grounding) yang berfungsi
untuk dudukan ujung kable pentanahan.
4. Pada dinding samping harus tersedia lubang ventilasi udara secukupnya. Kontruksi ventilasi
sedemikian rupa sehingga tusukan benda logam lurus tidak dapat langsung menyentuh komponen
bertegangan.
5. Ukuran Panel sebagaimana sesuai gambar. Ukuran panel harus mampu menampung seluruh
komponen control dan KWH meter.
6. Bagian sisi depan terdapat kaca bening dengan luasan secukupnya sehingga memudahkan
pembacaan Kwh.
7. KHW meter dilengkapi dengan bok meter untuk penyegelan dan instansi PT.PLN
8. Panel type outdor dilengkapi dengan plat nama MILIK PEMKOT SURABAYA

3.6 Panel Tempat Ballast uk.25 x 15 x 10 untuk lampu sorot

1. Basllast sebagai komponen penting pada system penyalaan lampu pelepasan gas (Gas discharge
berfungsi untuk membatasi arus melalui lampu yang dilayani).

RKS-KONSTR UKSI
Procurement Unit
21
2. Jenis ballast yang digunakan adalah eloektromanetic ballast (inductive ballast) yang berfungsi
sebagai pembatas arus.
3. Kontruksi harus sedemikian rupa hingga dapat terkunci pada dudukan komponen dan mudah dirakit
/ proses penyambungan.
4. Pada tiap ballast harus dilengkapi dengan marking petunjuk wiring, model, arus nominal.
5. Dilengkapi dengan perlindungan terhadap panas berlebih yang dapat mencegah terbakarnya sirkut.

3.7 Instalasi 1 Titik Lampu PJU

3.8 Pemasangan Panel Lampu PJU - 1 Phase 5500 VA

Panel terbuat dari plat baja tebal 1.5 - 2 mm. Dengan ukuran disesuaikan gambar terdiri dari dari
panel hubung bagi dan panel KWH meter sendiri. Panel berisi peralatan / perangkat untuk
mengendalikan aliran listrik dan pengaturan waktu penyalaan/mematikan lampu panel di pasang diatas
pondasi yang letaknya sesuai dengan gambar dan petunjuk dari pengawas lapangan sehingga dapat
melayani seluruh kebutuhan pengaturan ( menyalakan dan mematikan ) dari sekelompok lampu yang
dipasang serta memenuhi standart kualitas yang disyartkan.
Kontruksi Bok Panel Hubung Bagi ( PHB ) dan APP PLN
1. Panel terbuat dari plate baja yang difinishing dengan powder - warna panel ditetapakn oleh
pengunaan barang sebelum pemasangan.
2. Bidang pertemuan antar tutup panel dan body panelnya harus dirancang sedemikian rupa sehingga
air hujan tertahan dibidang temu dan mengalir ke bawah secara sempurna.
3. Proses penyambungan antar plate baja harus dilakukan debgab cara spot weiding.
4. Harus tersedia sarana pendukung kabel dan bus baru untuk pentanahan (grounding) yang berfungsi
untuk dudukan ujung kable pentanahan.
4. Pada dinding samping harus tersedia lubang ventilasi udara secukupnya. Kontruksi ventilasi
sedemikian rupa sehingga tusukan benda logam lurus tidak dapat langsung menyentuh komponen
bertegangan.
5. Ukuran Panel sebagaimana sesuai gambar. Ukuran panel harus mampu menampung seluruh
komponen control dan KWH meter.
6. Bagian sisi depan terdapat kaca bening dengan luasan secukupnya sehingga memudahkan
pembacaan Kwh.
7. KHW meter dilengkapi dengan bok meter untuk penyegelan dan instansi PT.PLN
8. Panel type outdor dilengkapi dengan plat nama MILIK PEMKOT SURABAYA

3.9 Pemasangan Lampu Natrium 250w/220v

Jenis-jenis lampu yang digunakan pada armature lampu penerangan jalan adalah jenis lampu
pelepas gas yaitu lampu Natrium 250/220 V tekanan tinggi berbentuk tabung ( High Pressure Sodium
Tuble/Hps-T). Daya yang digunakan adalah 150 W. Sistem tegangan Listrik adalah 220 Volt 50 Hz. Faktor
data listrik pada rangkaian listrik armanture lampu pada waktu penyalaan mninimal 0.85 (Cos pni : 0.85)
Sedangkan frekuensi harmonic ketiga yang ditimpulkan tidak boleh melebihi 21%.
Spesifikasi jenis lampu sodium tekanan tinggi (High Pressure sodium Dischrage Lamps)
1. Jenis Lampu Natrium bekerja secara emisi electron dengan media pengantar gas sodium. Cahaya
yang dihasilkan adalah kuningan keemasan.dengan temperature warna 2000 kelvin.
2. Efikasi lumen lampu Sodium Sekurang-kurangnya 10 lumen/watt
3. Umur lampu rata-rata (Average Rated Lifetime) minimal adalah 32000 jam

3.10 Pondasi PJU Pekerjaan Beton Berstruktur K-250 (188Kg)

Pekerjaan Struktur Beton Pekerjaan Tulangan Umum.


Seluruh pekerjaan tulangan yang dilaksanakan menurut spesifikasi ini dan seluruh maksud yang
bertalian yang mungkin ditentukan oleh Direksi. Harus terdiri dari bahan-bahan yang diperinci
disini. Syarat-syarat dan ketentuan yang dinyatakan disini akan berlaku untuk semua pekerjaan
tulangan, kecuali ada ketentuan lain dari Direksi untuk pekerjaan tertentu.
Material ( Baja Tulangan )
Besi yang dipakai adalah besi Tulangan dengan diameter sesuai dengan yang sisyaratkan, ada
pada gambar perncanaan. Untuk mendapatkan jaminan akan kualitas besi yang diminta, Kontraktor
diwajibkan untuk memperlihatkan data katalog tentang sertifikasi besi tulangan yang didapatkan
dari supplier.
RKS-KONSTR UKSI
Procurement Unit
Pembengkokan dan Pelaksanaan 22
1. Semua tulangan di bentuk sesuai dengan bentuk dan ukuran seperti tercantum dalam gambar
dan mengikuti syarat - syarat dalam P.B.I dan diletakkan sesuai dengan gambar dengan
memperhatikan selimut beton yang tetap.
2. Tulangan yang mempunyai cacat atau pembengkokan yang tidak sesuai dengan gambar tidak
boleh digunakan. Bila terdapat radius tertentu untuk bengkokan atau hook harus dibuat
sekeliling paku yang mempunyai diameter empat (4) kali dari tulangan yang akan dibengkok.
3. Kawat baja digunakan untuk mengikat tulangan hendaknya mempunyai diameter tidak lebih
kecil dari 1, 6 mm dengan ikatan dari kawat harus dimasukkan dalam penampung beton Beugel-
beugel harus diikat pada tulangan utama dan jaraknya harus sesuai dengan gambar. Tulangan
tidak boleh disokong diatas tulangan baja yang keluar dari permukaan beton, diatas sokongan
kayu atau tidak juga diatas agregat kasar
4. Precast mortar spacing block hendaknya digunakan untuk penahan jarak yang tepat terhadap
tulangan dan minimum mempunyai kekuatan beton yang akan dicor.
5. Bentuknya harus dibuat sepraktis mungkin dalam penggunaannya. Precast mortar spacing
block ini hendaknya dibuat dengan kawat baja dicor bersama-sama, maksudnya untuk
mengikatnya pada tulangan.
6. Sebelum digunakan harus direndam dahulu dalam air. Sebelum pengecoran, semua penulangan
harus betul-betul bersih dari semua kotoran-kotoran.
7. Penulangan yang ditempatkan pada suatu penampang dari pekerjaan harus disetujui oleh
Direksi, sebelum beton dicor pada penampang tersebut.
8. Harap diperhatikan sebelum pengecoran dimulai harus diberikan waktu yang cukup untuk
pemeriksaan.

Pekerjaan Bekesting
Umum
Pekerjaan ini adalah pembuatan begesting-begesting untuk cetakan konstruksi beton. Dan
dikerjakan menurut spesifikasi ini dan seluruh maksud yang bertalian yang mungkin ditentukan
oleh Direksi.

Bahan-bahan
Kayu Papan / Multipleks
Kayu papan atau multipleks yang digunakan harus sesuai dengan syarat-syarat dan spesifikasi
yang telah ditentukan atau menurut petunjuk Direksi.

Pelaksanaan.
1. Begesting-begesting tidak boleh bocor dan cukup untuk mencegah perpindahan tempat atau
kelongsoran dari penyangga. Permukaan Bekesting harus halus dan rata, tidak boleh melendut.
Sambungan-sambungan pada begesting harus diusahakan lurus dan rata dalam arah horisontal
dan vertikal.
2. Bout-bout dan tierod yang diperlukan untuk ikatan-ikatan dalan beton harus diatur sedemikian
sehingga bila begesting dibongkar kembali, maka semua besi tulangan harus berada 4 cm dari
permukaan beton.
3. Semua begesting harus dibersihkan sebelum dipergunakan kembali. Pekerjaan harus
sedemikian rupa sehingga tidak akan terjadi kemungkinan adanya beton yang keropos dan lain-
lain kerusakan beton.
4. Semua sisipan, deretan paku-paku, celah angker, dan lain-lain harus dibuat didalam beton.
5. Segara sebelum beton dicor pada beberapa bagian dari begesting, bagian dalam dari bagian itu
harus dibersihkan dari semua material lain, termasuk air.
6. Tiap-tiap bagian dari begesting, bagian-bagian yang strukturil harus diperiksa oleh Direksi
segera sebelum beton dicor pada bagian itu.
7. Pelapisan (coating) ; Sebelum pemasangan besi beton bertulang, begesting yang dipergunakan
untuk beton yang tidak perlu diplester lagi (exposed concrete) harus dilapisi dengan minyak
yang tidak meninggalkan bekas pada beton.
8. Begesting untuk beton biasa (yang perlu diplester lagi permukaannya) harus dibasahi air
dengan seksama sabagai pengganti minyak segera sebelum dicor.
9. Pembongkaran Begesting ; Bangunan tidak boleh mengalami perubahan bentuk, kerusakan
atau pembebanan yang melebihi beban rencana dengan adanya pembongkaran begesting pada
beton.
10. Pertanggungan jawab atas keselamatan pada waktu pembongkaran tiap bagian begesting atau
penyangga berada dipihak pemborong. Waktu minimum untuk pembongkaran begesting ; Waktu
minimum dari saat selesainya pengecoran beton sampai dengan pembongkaran begesting dari
bagian - bagian struktur harus ditentukan dari percobaan kubus benda uji yang memberikan kuat
desak minimum seperti tercantum pada daftar atau sebagai berikut :
RKS-KONSTR UKSI
Procurement Unit
23 WAKTU MINIMUM
BAGIAN STRUKTUR PEMBONGKARAN
BEGESTING ( HARI )

Sisi balok dan dinding 3


Penyangga pelat lantai 21
Penyangga balok
21

Pekerjaan Beton
Umum
1. Semua beton yang dikehendaki untuk digunakan bagi semua bangunan instalasi pengolahan
lumpur tinja yang akan dikerjakan dengan spesifikasi ini dan untuk semua maksud yang
berhubungan dan sebagaimana diminta oleh Direksi harus diperinci dari bahan-bahan yang
diperinci disini dan harus dicampur dengan perbandingan yang sesuai dengan ketentuan-
ketentuan yang disebut di sini.
2. Setiap syarat dan ketentuan yang tidak termaktub di sini harus sesuai dengan Standar Indonesia
untuk beton N.I.2 P.B.I. 1971.

Bahan
1. Semua portland harus sesuai dengan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan
dalam semen portland.
2. Semua besi beton harus sesuai dengan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan
tentang besi beton.
3. Semua pasir dan agregat kasar yang digunakan dalam beton, spesi/mortel dan spesi injeksi dalam
spesifikasi ini harus disediakan oleh Kontraktor sesuai dengan syarat-syarat yang sudah
diterangkan
4. Air yang dipakai harus sesuai dengan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan di depan.
Kelas dan Mutu Beton
Kelas dan mutu dari beton harus sesuai dengan Standar Beton Indonesia N.I2-P.B.I. 1971, menurut
tabel di bawah ini.

Tabel Standar Mutu Dan Kelas Beton Mutu dan Kelas Beton
Kategori Pengawasan terhadap
o bk o bm Dari
Kls Mutu
Kg/cm2 Kg/cm2 Bangunan
Kualitas Agregat Kekuatan Tekanan
(tujuan)
Non Pemeriksaan dengan
I Bo - - Tidak ada Pengujian
Strukturil mata
Pemeriksaan dengan
II Bl - - Strukturil Tidak ada Pengujian
teliti
Pengujian mendetail Pengujian akan
K125 125 200 Strukturil dengan analisa diadakan
meyakinkan
Pengujian mendetail Pengujian akan
K175 175 250 Strukturil dengan analisa diadakan
meyakinkan
Pengujian mendetail Pengujian akan
K225 225 300 Strukturil dengan analisa diadakan
meyakinkan
Pengujian mendetail Pengujian akan
III K225 225 300 Strukturil dengan analisa diadakan
meyakinkan

Dilakukan pengujian kekuatan tekan beton yang diperoleh dari pemeriksaan benda uji kubus pada
umur 28 hari.

Pencampuran dan Pengecoran Beton.


Komposisi/Campuran Beton
RKS-KONSTR UKSI
Procurement Unit
24
1. Beton harus dibentuk dari semen portland, pasir, kerikil/batu pecah, air seperti yang ditentukan
sebelumnya, semuanya dicampur dalam perbandingan yang serasi dan diolah sebaik-baiknya
sampai pada kekentalan yang tepat/baik.
2. Untuk beton mutu "Bo campuran yang biasa untuk pekerjaan non struktural dipakai
perbandingan dari semen portland, terhadap pasir dan agregat kasar tidak boleh kurang dari 1 :
8. Banyaknya semen untuk tiap m3 sedikitnya harus 225 kg.
3. Untuk beton mutu K 225, campuran nominal dari semen Portland, pasir dan kerikil/batu pecahan
harus digunakan dengan perbandingan volume 1 : 2 : 3 atau banyaknya semen untuk tiap m3
beton minimum harus sampai 325 kg.
4. Untuk mutu beton lainnya yang lebih tinggi harus dipakai "campuran yang direncanakan"
(designed mix). Campuran yang direncanakan diketemukan dari percobaan-percobaan campuran
yang memenuhi kekuatan karakteristik yang disyaratkan. Banyaknya semen untuk tiap m3 beton
paling tidak harus 325 kg.
5. Tingkat agregat yang kasar untuk kelas II - derajat K.125 dan untuk kelas II- derajat K.175 - beton
harus berada dalam batas yang telah ditentukan di atas dan Kontraktor harus memperoleh
derajat yang patut apabila perlu akan dites oleh Direksi, dengan mengkombinir ukuran agregat
yang proporsionil, agar supaya diperoleh derajat yang sepatutnya.
6. Perbandingan antara bahan-bahan pembentuk beton yang dipakai untuk berbagai pekerjaan
(sesuai kelas mutu) harus dipakai dari waktu ke waktu selama berjalannya pekerjaan, demikian
juga pemeriksaan terhadap agregat dan beton yang dihasilkan.
7. Perbandingan campuran dan faktor air semen yang tepat akan ditetapkan atas dasar beton yang
dihasilkan, juga mempunyai kepadatan yang tepat, kekedapan, awet dan kekuatan yang
dikehendaki, dengan tidak memakai semen terlalu banyak.
8. Faktor air semen dari beton (tidak terhitung air yang dihisap oleh agregat) tidak boleh melampaui
0,55 (dari beratnya) untuk kelas III dan jangan melampaui 0,60 (dari beratnya) untuk kelas
lainlainnya. Pengujian dari beton akan dilakukan oleh Direksi dan perbandingan-perbandingan
campuran harus diubah jika perlu untuk tujuan atau penghematan yang dikehendaki, kegairahan
bekerja, kepadatan, kekedapan, awet atau kekuatan dan Kontraktor tidak berhak atas
penambahan konpensasi disebabkan perubahan yang demikian.

Perlengkapan Mengaduk
Kontraktor harus menyediakan peralatan dan perlengkapan yang mempunyai ketelitian yang cukup
untuk
menetapkan dan mengawasi jumlah dari masing-masing bahan pembentukan beton. Perlengkapan-
perlengkapan tersebut dan cara pengerjaannya selalu harus mendapatkan persetujuan Direksi.

Mengaduk
1. Bahan-bahan pembentukan beton harus dicampur dan diaduk dalam mesin pengaduk beton yaitu
"Batch Mixer" atau "Portable Continuous Mixer selama sedikitnya 1 / menit sesudah semua
bahan (kecuali untuk air dalam jumlah yang penuh) ada dalam mixer. Waktu pengadukan
ditambah, bila mesin pengaduk berkapasitas lebih besar dari 1,5 m3, Direksi berwenang untuk
menambah waktu pengadukan jika pemasukan bahan dan cara pengadukan gagal untuk
mendapatkan hasil adukan dengan susunan kekentalan dan warna yang merata/seragam. Beton
harus seragam dalam komposisi dan konsistensi dari adukan ke adukan, kecuali bila dimintakan
adanya perubahan dalam komposisi atau konsistensi. Air harus dituangkan lebih dahulu dan
selama pekerjaan mencampur. Pengadukan yang berlebih-lebihan (lamanya) yang membutuhkan
penambahan air untuk mendapatkan konsistensi beton yang dikehendaki tidak diperkenankan.
2. Pencampuran dengan tangan diperkenankan apabila pada lokasi-lokasi tertentu sebuah Portable
Mixer tak mungkin dipergunakan menurut pandangan Direksi. Untuk mempermudah
pencampuran ini
Kontraktor akan membuat beton masif dengan ketebalan tidak kurang dari 5 cm, licin, rata
dengan luas 2 cm2, diliputi dengan parapet setinggi 10 cm.
3. Penutup saluran dari beton harus dicor pada tempat lain yang berdekatan dengan lokasi, tidak
boleh dicor langsung pada saluran.

Suhu
Suhu beton sewaktu dicor/dituang, tidak boleh lebih dari 32 Celcius dan tidak kurang dari 4,5 C.
Bila suhu dari beton yang ditaruh berada antara 27 C dan 32 C, beton harus diaduk ditempat
pekerjaan untuk kemudian langsung dicor. Bila beton melebihi 32 C, sebagai yang ditetapkan oleh
Direksi, Kontraktor harus mengambil langkah-langkah yang efektif, misalnya mendinginkan agregat
dengan mencampur air dan mengecor pada waktu malam hari bila perlu, mempertahankan suhu
beton, untuk dicor pada suhu dibawah 32 C.

Cetakan Beton
1. Cetakan haruslah sesuai dengan berbagai bentuk, bidang-bidang, batas-batas dan ukuran dari
RKS-KONSTR UKSI
Procurement Unit
hasil beton yang diinginkan sebagaimana pada25 gambar-gambar yang diusulkan oleh Kontraktor
dan yang sudah disetujui oleh Direksi.
2. Cetakan untuk mencetak beton dan membuatnya menurut model yang dikehendaki harus
digunakan bila perlu. Cetakan dapat dibuat dari lembaran Plywood, papan yang diserut/ diketam
rata dan halus, dalam keadaan baik sebagaimana dikehendaki untuk menghasilkan permukaan
yang sempurna seperti terperinci disini.
3. Permukaan yang rata dari beton adalah yang dikehendaki dimanapun juga baik saluran drinase
ataupun tutup beton. Cetakan untuk permukaan yang demikian dapat dibuat dari kayu dan harus
didalam segala hal benar-benar berbentuk dan berukuran yang dikehendaki dan harus
berkekuatan dan berkakuan yang tetap pada tempat dan bentuknya selama pembebanan dan
berlangsungnya pekerjaan vibrasi pemadatan beton. Semua percetakan kayu harus diketam
rata/digosok dengan kertas pasir untuk menghilangkan tanda-tanda bekas dari cetakan sejauh
hal ini dapat dikerjakan. Usaha yang sesuai dan efektif harus dikerahkan dalam pekerjaan
cetakan untuk menguatkan pinggiran batas dan ujung lainnya dalam arah yang tepat untuk
menghindari terbentuknya pelengkungan-pelengkungan sisi-sisi pinggiran tersebut atau
kerusakan-kerusakan permukaan beton yang telah diselesaikan.
4. Semua cetakan yang dibangun harus teguh. Alat-alat dan usaha-usaha yang sesuai dan cocok
untuk membuka cetakan-cetakan tanpa merusak permukaan dari beton yang selesai harus
tersedia. Sebelum beton dicor, permukaan dari cetakan-cetakan harus diminyaki dengan minyak
yang biasa diperdagangkan yang mencegah secara efektif lekatnya beton, semua material untuk
melepaskan lekatan harus dipakai hanya setelah disetujui oleh Direksi. Penggunaan minyak
cetakan harus berhati- hati untuk kontak dengan besi beton yang mengakibatkan kurangnya daya
lekat.
5. Semua cetakan harus betul-betul teliti dan kuat kedudukannya sehingga tidak ada perubahan
atau gerakan lain selama penuangan beton. Penyangga cetakan (perancah) harus bersandar
pada pondasi yang baik sehingga tidak akan ada kemungkinan penurunan cetakan selama
pelaksanaan.
6. Pada pekerjaan saluran longsor harus dalam daerah yang kering maka harus dibatasi dengan
cofferdam diudik dan di hilir, serta disediakan pompa untuk memompa air rembesan dari
cofferdam. Air yang setiap hari mengalir harus dialihkan lewat talang diatas aluran yang akan
dibangun.

Pengecoran
1. Beton tidak boleh dicor sebelum semua pekerjaan cetakan, baja tulangan beton, penyokongan
dan pengikatan dan penyiapan-penyiapan permukaan yang berhubungan dengan pengecoran
yang telah disetujui oleh Direksi.
2. Segera sebelum pengecoran beton, semua permukaan pada tempat pengecoran (cetakan, lantai
kerja) harus bersih dari air yang menggenang, reruntuhan atau bahan lepas.
3. Permukaan-permukaan beton yang lebih dahulu dicor pada mana beton baru akan dicor,
permukaan mana telah begitu mengeras sehingga beton baru tidak akan berpadu dengan
sempurna, ditentukan disini, sebagai "Construction Joints (hubungan konstruksi/pelaksana).
Permukaan-permukaan Construction Joints harus bersih dan lembab ketika ditutup dengan
beton baru atau adukan. Pembersihan harus berupa pembuangan semua kotoran, beton-beton
yang mengelupas atau rusak, bahan-bahan asing yang menutupinya. Permukaan-permukaan
Construction Joints harus dibersihkan dengan cara-cara yang disetujui dan kemudian dicuci
seluruhnya dengan penyemprotan air dengan tekanan udara segera sebelum pengecoran beton
baru. Pembersihan dan pencucian harus dilaksanakan pada kesempatan terakhir dari
pengecoran beton. Semua genangan-genangan air harus dibuang dari permukaan Construction
Joints sebelum beton baru dicor.
4. Cara-cara dan alat-alat yang digunakan untuk pengangkutan beton harus sedemikian sehingga
beton dengan komposisi dan kekentalan yang diinginkan dapat dibawa ke tempat pekerjaan
tanpa adanya pemisahan dan kehilangan bahan yang menyebabkan perubahan nilai slump.
5. Beton dicor hanya pada waktu Direksi atau wakilnya yang ditunjuk serta pengawas Kontraktor
yang setaraf ada ditempat kerja. Setelah permukaan disiapkan baik-baik, permukaan
Construction Joints dimana beton baru akan dicorkan harus dilapisi dengan penutup yang
terbuat dari adukan semen (air hasta semen) atau ditutup dengan lapisan spesi/mortar harus
mempunyai perbandingan semen dan pasir seperti campuran beton yang bersangkutan kecuali
ditentukan lain, demikian juga konsistensinya.
6. Beton harus dicor pada adukan yang baru (fresh). Dalam pengecoran beton pada Construction
Joints yang telah terbentuk, penjagaan khusus harus dijalankan untuk menjamin agar beton yang
baru menjadi rapat betul dengan permukaan joints (sambungan) dengan Pembobokan dan
peralatan dengan memakai alat-alat yang cocok.
7. Pencampuran/penumbukan kembali beton tidak diperkenankan.
8. Beton yang sudah mengeras dalam hal mana pengecoran yang tepat tidak mungkin dijamin harus
dibuang dan tidak dibayar untuk pekerjaan terbuang semacam itu. Transportasi dari pengadukan
RKS-KONSTR UKSI
Procurement Unit
sampai pengecoran beton jangan terlalu jauh 26 sehingga memungkinkan pemisahan bahan dan
pengerasan beton.
9. Kecuali ada penyetopan/pemotongan oleh hubungan/joints, semua penuangan beton harus
selalu kira-kira berlapis-lapis horizontal dan umumnya tebalnya tidak lebih dari 50 cm. Direksi
mempunyai hak untuk mengurangi tebal tersebut apabila pengecoran dengan tebal
lapisanlapisan 50 cm tidak dapat memenuhi spesifikasi-spesifikasi ini.
10. Pengecoran beton tidak diperkenankan selama hujan deras atau lama sedemikian sehingga
spesi/ mortar terpisah dari agregat kasar. Selama hujan air semen atau spesi tidak boleh
dihamparkan pada construction joints dan air semen atau spesi yang hanyut dan terhampar
harus dibuang dan diganti sebelum pekerjaan dilanjutkan. Suatu pengecoran tersebut tidak boleh
terputus sebelum bagian tersebut selesai.
11. Ember-ember/bocket beton yang dipakai harus sanggup menuang dengan tepat pada slump
yang rendah dan memenuhi syarat-syarat campuran pada mana mekanisme pembuangan harus
dibuat dengan kapasitas sedikitnya 0,35 m3 sekali tuang. Ember beton harus mudah untuk
diangkat/ diletakkan dengan alat-alat lainnya dimana diperlukan terutama bagi lokasi-lokasi yang
terbatas.
12. Keadaan construction joints harus mendekati horizontal jika tidak ada ketentuan lain dari yang
ditunjukkan pada gambar atau diperintahkan oleh Direksi.
13. Setiap lapisan beton harus dipadatkan sampai kepadatan maksimum yang mungkin, sehingga
ia bebas dari kantong-kantong kerikil, dan menutup rapat-rapat pada semua
permukaanpermukaan dari cetakan dan material yang dilekatkan. Dalam pemadatan setiap
lapisan dari beton, kepala, alat penggetar (vibrator) harus dapat menenmbus dan menggetarkan
kembali beton pada bagian atas dari lapisan yang terletak dibawah. Semua beton harus
dipadatkan dengan alat penggetar type immersion beroperasi dengan kecepatan paling sedikit
7000 putaran per menit ketika dbenamkan dalam beton.

Pembukaan Cetakan dan Pemeliharaan.


Waktu dan Cara-cara Pembukaan Cetakan
1. Waktu dan cara pembukaan dan pemindahan cetakan harus dikerjakan dengan hati-hati untuk
menghindarkan kerusakan pada beton. Beton yang masih muda tidak diijinkan untuk dibenahi.
Beton yang baru dibuka cetakannya diperlihatkan kepada Direksi untuk dinilai kualitas
pengecorannya, beton yang hasilnya banyak keropos sampai tulangan terlihat, maka harus
mendapatkan penanganan tersendiri atas petunjuk Direksi.
2. Umumnya, diperlukan waktu minimum dua hari sebelum cetakan dibuka untuk dinding-dinding
yang tidak bermuatan dan cetakan-cetakan samping lainnya; tujuh hari untuk dinding-dinding
pemikul dan saluran-saluran, 14 hari untuk dek-dek jembatan atau gorong-gorong jalan.

Perawatan
1. Semua beton harus dirawat (cured) dengan air seperti ditentukan disini. Direksi berhak
menentukan cara perawatan bagaimana yang harus digunakan pada bagian-bagian pekerjaan.
2. Beton harus tetap basah paling sedikit 14 hari terus menerus (segera setelah beton cukup keras
untuk mencegah kerusakan) dengan cara menutupnya dengan bahan yang dibasahi air atau cara-
cara yang disetujui yang akan menjaga agar permukaan selalu basah.
3. Air yang digunakan dalam perawatan (curing) harus memenuhi maksud-maksud
spesifikasispesifikasi air untuk campuran beton.

Perlindungan (Protection)
Kontraktor harus melindungi semua beton terhadap kerusakan-kerusakan sebelum penerimaan
terakhir
oleh Direksi. Permukaan beton yang terbuka harus dilindungi terhadap sinar-sinar matahari yang
langsung paling sedikit 3 hari sesudah pengecoran. Perlindungan semacam itu dibuat efektif dan
secepatnya dilaksanakan sesudah pengecoran beton atau sesudah pembukaan cetakancetakan.

Penyelesaian-penyelesaian dan Penyempurnaan


1. Penyempurnaan permukaan-permukaan beton harus dilaksanakan oleh tukang yang ahli dan
disaksikan oleh Direksi. Permukaan-permukaan beton akan diuji/ ditest oleh Direksi dimana perlu
untuk menentukan apakah ketidakteraturan permukaan berada dalam batas-batas yang
ditentukan disini. Ketidakteraturan digolongkan sebagai sekonyong-konyong (abrupt) atau
lambat laun (gradual).
2. Offset yang disebabkan oleh pemindahan atau penempatan cetakan yang salah yang membentuk
garis-garis, yang disebabkan mata kayu lepas pada cetakan atau kerusakan lain dari kayu, akan
dianggap sebagai ketidakteraturan yang sekonyong-sekonyong (abrupt) dan akan diuji dengan
menggunakan pengukuran langsung. Semua ketidakteraturan lainnya dapat dianggap sebagai
ketidakteraturan yang gradual dan akan diperiksa dengan teliti oleh Direksi, kalau perlu dengan
R K S - K O Nmenggunakan
STR UKSI peralatan pengetesan beton. Sebelum menerima pekerjaannya, Kontraktor harus
Procurement Unit
27 dari kerak-kerak dan kotoran yang lainnya.
membersihkan semua permukaan yang terbuka

Perbaikan Permukaan Beton


1. Bila sesudah pembukaan cetakan ada beton yang tidak tercetak menurut gambar atau diluar
garis atau permukaan tidak rata atau keropos, ternyata ada permukaan yang rusak atau keluar
dari garis, hal itu dianggap sebagai tidak sesuai dengan spesifikasi ini. Ketidaksesuaiannya akan
mendapat penilaian tersendiri yang akan diberikan oleh Direksi dan kalau Direksi memerintahkan
untuk dibongkar maka beton harus dibuang dan diganti oleh Kontraktor atas bebannya sendiri
kecuali bila Direksi memberikan ijinnya untuk menambal tempat yang rusak, dalam hal mana
penambalan harus dikerjakan seperti yang telah tercantum dalam pasal-pasal berikut.
2. Kerusakan yang memerlukan pembongkaran dan perbaikan ialah yang terdiri dari sarang kerikil,
kerusakan karena cetakan, lobang-lobang karena keropos, lubang-lubang baut, ketidakrataan
oleh pengaruh sambungan-sambungan cetakan, dan bergeraknya cetakan. Ketidakrataan dan
bengkok harus dibuang dengan pemahat atau dengan alat lain dan seterusnya digosok dengan
batu gerinda. Semua lubang harus terus menerus dibasahi selama 24 jam sebelum dicor dan
seterusnya disempurnakan.
3. Jika menurut pendapat Direksi Hal-hal yang tidak sempurna pada bagian bangunan-bangunan
yang akan terlihat sedemikian, sehingga dengan penambalan saja tidak akan menghasilkan
sebuah dinding yang tidak memuaskan kelihatannya, Kontraktor diwajibkan untuk menutupi
seluruh dinding (dengan spesi plester), sesuai dengan instruksi dari Direksi.
4. Cacat lubang-lubang tempat cukilan dari sarang kerikil atau keropos kecil yang akan diperbaiki,
harus diisi dengan spesi/ mortel tambalan yang kering yang disusun dari satu bagian semen
Portland dengan dua bagian pasir beton bersama dengan bahan pengisi yang tidak susut, yang
disetujui oleh Direksi, dalam jumlah yang diperinci oleh pabrik dan dengan air yang cukup
sehingga sesudah bahanbahan spesi dicampur akan melekat satu sama lain dan apabila
diremas-remas menjadi bola dan ditekan dengan tangan tidak akan mengeluarkan air. Spesi
penambal harus dikerjakan dengan lapisan-lapisan yang tipis dan selalu dipadatkan dengan alat
yang cocok.

3.11 Pemasangan Tiang Oktagonal 6m Hot Dipped Galvanized dengan Flenders

Stang ornamen menggunakan pipa besi Galvanish (GIV) 2 kelas medium A.dengan ukuran
dengan ukuran disesuaikan gambar ( disesuaikan dengan jarak antar tiang PLN dengan lebar badan
jalan) pembengkokan dengan sistem rolo dengan sudut 150, Finishing hot dip galvaniszed.

3.12 Pembuatan dan Pemasangan Terminal Dalam Tiang

1. Tiang harus tanah karat dan tidak mudah kropos.


2. Tiang yang digunakan adalah:
- Tiang Oktagonal parabola cabang 2 parabola ( double parabolic). Tinggi 9 meter bahan
SPCC standart ASTM. A-36 ketebalan 3mm. Dimensi, bentuk dan ukuran sesuai gambar kerja. Tipe base
plate (pemasangan menggunakan angkur). Diproses dengan hot dipped galvaniszed.pabrik pembuat
tinga harus telah menerapkan sisitem manajemn mutu.

3.13 Pengecatan Tiang PJU


Finishing PJU Dilapisi dengan pengecatan kesleruhan Tiang-tiang PJu

4. PEKERJAAN MEDIAN JALAN


4.1. Grill Manhole (Cover & Frame) Fabrikasi
4.1.1. Lingkup Pekerjaan.
Pekerjaan meliputi pemasangan gird besi saluran.

4.1.2 Bahan-bahan
1. Besi siku
2. Plat besi
3. Besi beton polos dia

4.2. Grill Taman (Cover & Frame) fabrikasi


4.2.1. Lingkup Pekerjaan.
Pekerjaan meliputi pemasangan gird besi saluran.

RKS-KONSTR UKSI
Procurement Unit
4.2.2 Bahan-bahan 28
1. Besi siku
2. Plat besi
3. Besi beton polos dia

4.3. Grill Pelaluan Air (Cover&Frame) Fabrikasi


4.3.1. Lingkup Pekerjaan.
Pekerjaan meliputi pemasangan gird besi saluran.

4.3.2 Bahan-bahan
1. Besi siku
2. Plat besi
3. Besi beton polos dia

4.4. Pemasangan Lantai Porcelain Tile Kasar 30x30 cm(Warna Gelap/Terang)

4.5. Pemasangan Lantai Granit Diglasur 20x30 cm (Warna Gelap) Untuk Tuna Netra

4.6. Pemasangan Lantai Ornamen 50x50 cm


4.7. Pas.Curbing Type A Panjang 0.6 m
Curbing memakai curbing berdimensi 20.40.60 cm, yang dipasang ditepi pasangan paving atau
sebagai pengunci pasangan paving, kwalitas baik minimal K-400 (hasil test laboratorium)

4.8. Spesi 1 PC : 2 Ps t= 3 Cm
a. Lingkup Pekerjaan
1. Termasuk dalam pekerjaan ini adalah pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan
dan alat-alat bantu lainnya yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan ini, sehingga
dapat tercapainya hasil pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna.
2. Lingkup pekerjaan ini meliputi seluruh spesi dibawah kanstin yang ditunjukkan dalam
gambar dan sesuai dengan pengarahan direksi dilapangan .

b. Persyaratan Bahan
1. Semen Portland yang digunakan adalah ex Gresik atau semen Portland lain yang
mempunyai mutu terbaik dari satu jenis merk atas persetujuan Konsultan
Perencana/Direksi Pengawas dan memenuhi syarat-syarat dalam NI-8.
2. Pasir harus memenuhi NI-3 Pasal 14 dan PUBI 1982.
3. Air harus memenuhi NI-3 Pasal 10. - Campuran (aggregate) untuk plester harus dipilih
yang benarbenar bersih dan bebas dari segala mPenghamparan Lapis Aus (AC - WC)am
kotoran, harus bersih dan melalui ayakan 1,6 - 2,0 mm.

c. Syarat-syarat Pelaksanaan
1. Pekerjaan spesi dilakukan dibawah kanstin setelah terlebih dahulu melakukan galian
tanah keras sedalam 8 cm pemasangan. Seluruh spesi pada kanstin dengan aduk
campuran 1 PC : 4 pasir.
2. Pasir pasang yang di gunakan harus di ayak terlebih dahulu dengan mata ayakan seperti
yang dipersyaratkan.
3. Material lain yang tidak terdapat dalam persyaratan di atas tetapi dibutuhkan untuk
penyelesaian/penggantian pekerjaan dalam bagian ini, harus bermutu baik dari jenisnya
dan di setujui Direksi .
4. Semen Portland yang di kirim ke proyek lapangan harus dalam keadaan tertutup atau
dalam yang masih disegel dan berlabel pabriknya, bertuliskan type dan tingkatannya,
dalam keadaan utuh dan tidak ada cPenghamparan Lapis Aus (AC - WC)at.
5. Bahan harus disimpan di tempat yang kering, berventilasi baik, terlindung, dan bersih.
Tempat penyimpanan bahan harus cukup menampung kebutuhan bahan, dan dilindungi
sesuai dengan jenisnya seperti yang disyaratkan dari pabrik.
6. Semua bahan sebelum di kerjakan harus ditunjukkan kepada Konsultan MK/Direksi untuk
mendapatkan persetujuan, lengkap dengan ketentuan/persyaratan dari pabrik yang
bersangkutan. Material yang tidak disetujui harus diganti dengan material lain yang
mutunya sesuai dengan persyaratan tanpa biaya tambahan.
7. Sebelum memulai pekerjaan, Kontraktor diharuskan memeriksa site/ lapangan yang telah
disiapkan apakah sudah memenuhi persyaratan untuk dimulainya pekerjaan.
8. Bila ada kelainan dalam hal apapun antara gambar, spesifikasi dan lainnya, Kontraktor
harus segera melaporkan kepada Direksi, Kontraktor tidak diperkenankan melakukan
RKS-KONSTR U K S I pekerjaan ditempat tersebut sebelum kelainan/perbedaan diselesaikan.
Procurement Unit
29
9. Tebal spesi 3 cm dengan dengan melakukan galian tanah keras terlebih dahulu sedalam 8
cm atau sesuai yang ditunjukkan dalam detail gambar.

4.9. Pasangan Batu Kali Belah 15/20 ( 1 Pc : 4 Ps )


Umum
1. Pekerjaan ini harus mencakup pembangunan dari struktur yang ditunjukan pada gambar atau
seperti yang diperintahkan oleh Direksi.
2. Pekerjaan harus meliputi pengadaan seluruh material, galian, penyiapan pondasi dan seluruh
pekerjaan yang diperlukan untuk menyelesaikan struktur sesuai dengan spesifikasi teknik serta
memenuhi garis, ketinggian, potongan dan dimensi seperti yang ditunjukan pada gambar atau
sebagaimana diperlukan secara tertulis oleh Direksi.
3. Pasangan batu harus digunakan untuk struktur seperti saluran berpenampang persegi di tepi
jalan, tembok penahan, gorong-gorong persegi dan tembok kepala goronggorong. Konstruksi
pasangan batu ini dimaksud untuk menahan beban luar yang cukup besar.
4. Pekerjaan ini juga mencakup pembuatan lubang suling-suling (untuk drainase) termasuk
pengadaan dan pemasangan acuan lubang suling-suling atau pipa dan bahan penyaring.
5. Ukuran/dimensi pasangan, elevasi serta kelandaian sesuai dengan gambar rencana.

Bahan - Bahan :
Batu Kali Belah 15/20 cm
Semen PC 50 Kg
Pasir Pasang
Air Bersih

Mutu Bahan
a. Batu Kali Belah 15/20 cm
Batu Kali yang digunakan adalah :
1. Batu yang dari alam atau batu galian yang telah dibelah, kasar, bersih, tahan lama, keras,
tahan terhadap pengaruh adara dan air dan cocok dalam segala hal untuk fungsi yang
dimaksud.
2. Terkecuali diperintahkan lain oleh Direksi, batu harus memiliki ketebalan yang tidak kurang
dari 150 mm, lebar tidak kurang dari satu setengah kali tebalnya dan panjang tidak kurang dari
satu setengah kali lebarnya.
3. Batu harus rata, lancip atau lonjong bentuknya dan dapat ditempatkan saling mengunci bila
dipasang bersama.

b. Semen PC 50 Kg
Semen yang digunakan adalah :
1. Jenis Portland Cement (PC) produksi dalam negeri yang memenuhi persyaratan yang berlaku
di Indonesia.
2. Semen tidak boleh disimpan terlalu lama dan yang telah menggumpal atau membatu tidak
boleh dipakai dan harus disingkirkan.
3. Penyimpanan harus mengikuti spesifikasi serta diletakkan sedemikian rupa sehingga mudah
untuk diperiksa dan diambil

c. Pasir Pasang
Pasir Pasang yang dipakai adalah :
1. Pasir tersebut terdiri dari butir butir yang bersih dari segala kotoran.
2. Pasir tersebut tidak mengandung lempung atau unsur organik atau non organic lainya.

d. Air Bersih
Air yang digunakan dalam campuran harus bersih, bebas dari benda - benda yang mengganggu
seperti minyak, garam, asam, basa, busa, gula atau organic lainnya. Air yang diketahui dapat
diminum juga dapat dipakai.

Prosedur Pelaksanaan
1. Penyiapan Adukan Campuran ( Spesi 1 Pc : 4 Ps )
Adukan semen terdiri dari material Semen, Agregat, dan Air
a. Seluruh material tadi ( kecuali air ), harus dicampur, baik dalam kotak yang rapat atau dalam
alat pencampuradukan yang telah disetujui, hingga campuran telah berwarna merata, baru
sesudahnya air ditambahkan dan pencampuran dilanjutkan selama lima sampai sepuluh menit.
Jumlah air harus sedemikian hingga guna menghasilkan adukan dengan konsistensi (
kekentalan ) yang diperlukan tetapi tidak boleh melebihi 70 % dari berat semen yang
digunakan.
RKS-KONSTR UKSI
Procurement Unit
b. Adukan dicampur hanya dalam kwantitas 30 yang diperlukan untuk penggunaan langsung. Jika
perlu, adukan boleh diaduk kembali dengan air dalam waktu 30 menit dari proses pengadukan
awal. Pengadukan kemlbali setelah waktu tersebut tidak boleh dilakukan.
c. Adukan yang tidak digunakan dalam 45 menit setelah air ditambahkan harus di buang.
d. Untuk menghasilkan campuran yang homogen ( merata ), pengadukan harus menggunakan
Concrete Mixer / Molen dengan kapasitas 350 l.
e. Komposisi Campuran menggunakan 1 Pc : 4 Ps, yaitu 1 bagian semen dicampur dengan 3
bagian Pasir Pasang, dalam pelaksanaan dilapangan kontraktor harus membuat kotak takaran
dari kayu dengan ukuran yang sama.

Pemasangan Batu Kali Belah 15/20 ( 1 Pc : 4 Ps )


Landasan dari adukan segar paling sedikit 30 mm tebalnya harus dipasang pada pondasi dan
disiapkan sesaat sebelum penempatan masing-masing batu pada lapisan pertama.
Batu besar pilihan harus digunakan untuk lapisan dasar dan pada sudut-sudut.
Batu yang dipasang harus dihampar dengan muka yang terpanjang mendatar dan muka yang
tampak harus dipasang sejajar.
Peralatan yang cocok harus disediakan utnuk memasang batu yang lebih besar dari yang dapat
ditangani oleh dua orang. Menggelindingkan atau menggulingkan batu pada pekerjaan yang baru
dipasang tidak diperkenankan.
Batu harus tertanam dengan kuat satu dengan yang lainnya untuk mendapatkan tebal yang
diperlukan dari lapisan yang diukur tegak lurus terhadap lereng. Tambahan aduk mengisi rongga
yang ada diantara batu-batu dan harus diakhiri hampir rata dengan permukaan lapisan tetapi
tidak menutupi batunya dengan menggunakan perekat 1 pc : 4 pc.
Pekerjaan harus dimulai dari dasar lereng kearah atas, dan permukaan harus diakhiri segera
setelah pengerasan awal dan aduk dengan menyapunya dengan sapu yang kaku.
Lereng yang bersebelahan dengan batu harus diratakan dan dibentuk untuk menjamin pertemuan
yang baik dengan pekerjaan pasangan batu sehingga memungkinkan untuk drainase tang tidak
menghambat dan mencegah gerusan pada tepi perkerasan.
Pasangan yang dihasilkan harus kokoh / masif ( tidak berongga ), untuk itu semua rongga
diantara batu kali harus terisi campuran.
Setiap jarak 20 meter sepanjang saluran dibuatkan celah delatasi tegak dari puncak saluran
sampai dasar saluran

4.10. PEKERJAAN PLESTERAN HALUS Tb=1,5 cm


Umum

RKS-KONSTR UKSI
Procurement Unit
1. Pekerjaan ini harus mencakup pembangunan 31 dari struktur yang ditunjukan pada gambar atau
seperti yang diperintahkan oleh Direksi.
2. Pekerjaan ini juga mencakup pembuatan benangan
3. Ukuran/dimensi pasangan, elevasi serta kelandaian sesuai dengan gambar rencana.

Bahan - Bahan :
Semen PC 50 Kg
Pasir Pasang
Air Bersih

Mutu Bahan.
a. Semen PC 50 Kg
Semen yang digunakan adalah :
1. Jenis Portland Cement (PC) produksi dalam negeri memenuhi persyaratan yang berlaku
yang Indonesia.
2. Semen tidak boleh disimpan terlalu lama dan yang di menggumpal atau membatu tidak
telah dipakai dan harus disingkirkan.
3. Penyimpanan harus mengikuti spesifikasi serta boleh sedemikian rupa sehingga
diletakkan diperiksa dan diambil
mudah untuk
b. Pasir Pasang
Pasir Pasang yang dipakai adalah :
1. Pasir tersebut terdiri dari butir butir yang bersih
dari segala kotoran.
2. Pasir tersebut tidak mengandung lempung atau unsur organik atau non organic lainya.

c. Air
Air yang digunakan dalam campuran harus bersih, bebas dari benda - benda yang menggangu
seperti minyak, garam, asam, basa, busa, gula atau organic lainnya. Air yang diketahui dapat
diminum juga dapat dipakai.

Prosedur Pelaksanaan
Adukan terdiri dari material Semen, Pasir Pasang, dan Air
a. Seluruh material tadi ( kecuali air ), harus dicampur, baik dalam kotak yang rapat atau dalam alat
pencampuradukan yang telah disetujui, hingga campuran telah berwarna merata, baru
sesudahnya air ditambahkan dan pencampuran dilanjutkan selama lima sampai sepuluh menit.
Jumlah air harus sedemikian hingga guna menghasilkan adukan dengan konsistensi ( kekentalan
) yang diperlukan tetapi tidak boleh melebihi 70 % dari berat semen yang digunakan.
b. Adukan dicampur hanya dalam kwantitas yang diperlukan untuk penggunaan langsung. Jika
perlu, adukan boleh diaduk kembali dengan air dalam waktu 30 menit dari proses pengadukan
awal. Pengadukan kemlbali setelah waktu tersebut tidak boleh dilakukan.
c. Adukan yang tidak digunakan dalam 45 menit setelah air ditambahkan harus di buang.
d. Sebelum permukaan bidang pasangan batu diplester terlebih dahulu bidang yang akan diplester
harus dibersihkan dari segala macam kotoran. Bidang-bidang yang telah bersih kemudian
disiram dengan air sampai rata dan jenuh baru kemudian diplester. Plesteran tebal 1,5 cm terdiri
dari campuran 1 Pc: 4 Ps dengan menggunakan pasir pasang yang telah diayak .
e. Pertemuan bidang plesteran vertikal dan horizontal harus lurus, rata (tidak bergelombang) dan
tidak retak.
f. Untuk menghasilkan campuran yang homogen (merata), pengadukan harus menggunakan
Concrete Mixer / Molen dengan kapasitas 350 l.
g. Komposisi Campuran menggunakan 1 Pc : 4 Ps, yaitu 1 bagian semen dicampur dengan 4 bagian
Pasir Pasang, dalam pelaksanaan dilapangan kontraktor harus membuat kotak takaran dari kayu
dengan ukuran yang sama.
h. Pada bagian sudut atas plesteran dibuatkan benangan sepanjang saluran, benangan harus tajam
dan lurus serta tidak mudah terkelupas. Tebal plesteran adalah 1.5 cm.

4.12. Pekerjaan Besi Pipa Galvanish 2 Y2 (Medium)


1. Pipa yang digunakan berukuran 2,5
2. Pipa Galvanis digunakan sebagai pagar jembatan

4.13. Pekerjaan Sambungan Knee Besi Pipa Galvanish Medium 2,5


1. Pipa yang digunakan berukuran 2,5

RKS-KONSTR UKSI
Procurement Unit
2. Pipa Galvanis digunakan sebagai Sambungan32pagar jembatan

4.14. Pemasangan Ornamen Batu Kali Ex. Jember

4.15. Pemasangan Ornamen Batu Andesf beralur

5. PEKERJAAN BOX-CULVERT
5.1. Pekerjaan Pengadaan Dan Pemasangan Beton BOX-CULVERT TOP BOTTOM K-400

1. Box Culvert yang dimaksud adalah Box Culvert Precast yang berasal dari pabrikasi Disesuaikan
Dengan Penulangan dan pemasangan dilakukan menggunakan Crane
2. Box Culvert menggunakan mutu beton K-400 dengan mutu baja BJTD-40 dan BJTP-32
3. Kontraktor harus memesan untuk pembuatan Box Culvert Precast tersebut pada sebuah pabrik,
yang telah disetujui oleh pihak Direksi
4. Mutu, Dimensi serta Detail Box Culvert Precast yang dipesan harus sesuai dengan gambar
perencanaan yang sudah disetujui oleh Direksi
5. Syarat diterimanya beton precast, pihak penyedia diwajibkan mengundang pihak pengguna untuk
melakukan inspeksi / tinjauan ke produsen melihat tahapan dan pemakaian bahan pabrikasi
6. Bila mutu pabrikasi dibawah / tidak sesuai dengan spesifikasi teknis, maka pihak pengguna
berhak menolak produk beton precast
7. Kontraktor diharuskan dapat memberikan Jaminan Spesikasi Pemesanan Box Culvert Precast (
yang berisi Job Mix Formula ) serta Surat Dukungan dari Pabrik ( dengan melampirkan analisa
harga satuan pabrikasi) yang dikeluarkan oleh Pabrik, kepada Direksi dan Pengawas.
8. Sebelum dipasang pada galian Konstruksi yang sudah disiapkan, Kontraktor harus memastikan
bahwa galian Konstruksi tersebut telah diisi dengan Sirtu yang telah dipadatkan.
9. Biaya transportasi Box Culvert Precast yang sudah dipesan, sepenuhnya ditanggung oleh
Kontraktor.

5.2. Pekerjaan Pengadaan & Pemasangan U DITCH & COVER ( K-350 )

1. Mutu Beton dari U DITCH adalah K-350


2. Pemasangan dilakukan Mengunakan Alat Berat Bego/Forklip dan harus sesuai dengan
prosedur yang diberikan oleh produser Pre-Cast U DITCH, Jika kondisi memang tidak
memungkingkan untuk menggunakan alat berat, maka pemasangan dilakukan manual oleh
tenaga manusia.
3. Kerusakan U DITCH akibat kesalahan prosedur pemasangan, merupakan tanggung jawab
kontraktor. Dan kontraktor berkewajiban mengganti U DITCH yang rusak dengan U DITCH
yang baru yang mempunyai spesifikasi yang seragam.
4. Sebelum pemasangan U DITCH, landasan U DITCH berupa rabat beton dengan ketebalan
Sesuai dengan gambar perencanaan.

5.4. Pengadaan dan Pemasangan Pelat Intrit Tb.120 cm K-350 Fabrikasi

5.5. Pelat Wiremest 1pc:2ps:2,5kr (K.250) Pemakaian Besi 97 Kg

5.6. Pekerjaan Beton Rabat (1pc:3ps:6kr)

5.7. Manhole + Pemasangan

Pekerjaan Struktur Beton Pekerjaan Tulangan


Umum.
Seluruh pekerjaan tulangan yang dilaksanakan menurut spesifikasi ini dan seluruh maksud yang
bertalian yang mungkin ditentukan oleh Direksi. Harus terdiri dari bahan-bahan yang diperinci
RKS-KONSTR UKSI
Procurement Unit
33
disini. Syarat-syarat dan ketentuan yang dinyatakan disini akan berlaku untuk semua pekerjaan
tulangan, kecuali ada ketentuan lain dari Direksi untuk pekerjaan tertentu.
Material ( Baja Tulangan )
Besi yang dipakai adalah besi Tulangan dengan diameter sesuai dengan yang sisyaratkan, ada
pada gambar perncanaan. Untuk mendapatkan jaminan akan kualitas besi yang diminta, Kontraktor
diwajibkan untuk memperlihatkan data katalog tentang sertifikasi besi tulangan yang didapatkan
dari supplier.

Pembengkokan dan Pelaksanaan


9. Semua tulangan di bentuk sesuai dengan bentuk dan ukuran seperti tercantum dalam gambar
dan mengikuti syarat - syarat dalam P.B.I dan diletakkan sesuai dengan gambar dengan
memperhatikan selimut beton yang tetap.
10. Tulangan yang mempunyai cacat atau pembengkokan yang tidak sesuai dengan gambar tidak
boleh digunakan. Bila terdapat radius tertentu untuk bengkokan atau hook harus dibuat
sekeliling paku yang mempunyai diameter empat (4) kali dari tulangan yang akan dibengkok.
11. Kawat baja digunakan untuk mengikat tulangan hendaknya mempunyai diameter tidak lebih
kecil dari 1, 6 mm dengan ikatan dari kawat harus dimasukkan dalam penampung beton Beugel-
beugel harus diikat pada tulangan utama dan jaraknya harus sesuai dengan gambar. Tulangan
tidak boleh disokong diatas tulangan baja yang keluar dari permukaan beton, diatas sokongan
kayu atau tidak juga diatas agregat kasar
12. Precast mortar spacing block hendaknya digunakan untuk penahan jarak yang tepat terhadap
tulangan dan minimum mempunyai kekuatan beton yang akan dicor.
13. Bentuknya harus dibuat sepraktis mungkin dalam penggunaannya. Precast mortar spacing
block ini hendaknya dibuat dengan kawat baja dicor bersama-sama, maksudnya untuk
mengikatnya pada tulangan.
14. Sebelum digunakan harus direndam dahulu dalam air. Sebelum pengecoran, semua penulangan
harus betul-betul bersih dari semua kotoran-kotoran.
15. Penulangan yang ditempatkan pada suatu penampang dari pekerjaan harus disetujui oleh
Direksi, sebelum beton dicor pada penampang tersebut.
16. Harap diperhatikan sebelum pengecoran dimulai harus diberikan waktu yang cukup untuk
pemeriksaan.

Pekerjaan Bekesting
Umum
Pekerjaan ini adalah pembuatan begesting-begesting untuk cetakan konstruksi beton. Dan
dikerjakan menurut spesifikasi ini dan seluruh maksud yang bertalian yang mungkin ditentukan
oleh Direksi.

Bahan-bahan
Kayu Papan / Multipleks
Kayu papan atau multipleks yang digunakan harus sesuai dengan syarat-syarat dan spesifikasi
yang telah ditentukan atau menurut petunjuk Direksi.

Pelaksanaan.
11. Begesting-begesting tidak boleh bocor dan cukup untuk mencegah perpindahan tempat atau
kelongsoran dari penyangga. Permukaan Bekesting harus halus dan rata, tidak boleh melendut.
Sambungan-sambungan pada begesting harus diusahakan lurus dan rata dalam arah horisontal
dan vertikal.
12. Bout-bout dan tierod yang diperlukan untuk ikatan-ikatan dalan beton harus diatur sedemikian
sehingga bila begesting dibongkar kembali, maka semua besi tulangan harus berada 4 cm dari
permukaan beton.
13. Semua begesting harus dibersihkan sebelum dipergunakan kembali. Pekerjaan harus
sedemikian rupa sehingga tidak akan terjadi kemungkinan adanya beton yang keropos dan lain-
lain kerusakan beton.
14. Semua sisipan, deretan paku-paku, celah angker, dan lain-lain harus dibuat didalam beton.
15. Segara sebelum beton dicor pada beberapa bagian dari begesting, bagian dalam dari bagian itu
harus dibersihkan dari semua material lain, termasuk air.
16. Tiap-tiap bagian dari begesting, bagian-bagian yang strukturil harus diperiksa oleh Direksi
segera sebelum beton dicor pada bagian itu.
17. Pelapisan (coating) ; Sebelum pemasangan besi beton bertulang, begesting yang dipergunakan
untuk beton yang tidak perlu diplester lagi (exposed concrete) harus dilapisi dengan minyak yang
tidak meninggalkan bekas pada beton.
18. Begesting untuk beton biasa (yang perlu diplester lagi permukaannya) harus dibasahi air dengan
seksama sabagai pengganti minyak segera sebelum dicor.
19. Pembongkaran Begesting ; Bangunan tidak boleh mengalami perubahan bentuk, kerusakan atau
RKS-KONSTR UKSI
Procurement Unit
pembebanan yang melebihi beban rencana dengan34 adanya pembongkaran begesting pada beton.
20. Pertanggungan jawab atas keselamatan pada waktu pembongkaran tiap bagian begesting atau
penyangga berada dipihak pemborong. Waktu minimum untuk pembongkaran begesting ; Waktu
minimum dari saat selesainya pengecoran beton sampai dengan pembongkaran begesting dari
bagian - bagian struktur harus ditentukan dari percobaan kubus benda uji yang memberikan kuat
desak minimum seperti tercantum pada daftar atau sebagai berikut :

WAKTU MINIMUM
BAGIAN STRUKTUR PEMBONGKARAN
BEGESTING ( HARI )

Sisi balok dan dinding 3


Penyangga pelat lantai 21
Penyangga balok
21

Pekerjaan Beton
Umum
3. Semua beton yang dikehendaki untuk digunakan bagi semua bangunan instalasi pengolahan
lumpur tinja yang akan dikerjakan dengan spesifikasi ini dan untuk semua maksud yang
berhubungan dan sebagaimana diminta oleh Direksi harus diperinci dari bahan-bahan yang
diperinci disini dan harus dicampur dengan perbandingan yang sesuai dengan ketentuan-
ketentuan yang disebut di sini.
4. Setiap syarat dan ketentuan yang tidak termaktub di sini harus sesuai dengan Standar Indonesia
untuk beton N.I.2 P.B.I. 1971.

Bahan
5. Semua portland harus sesuai dengan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan
dalam semen portland.
6. Semua besi beton harus sesuai dengan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan
tentang besi beton.
7. Semua pasir dan agregat kasar yang digunakan dalam beton, spesi/mortel dan spesi injeksi dalam
spesifikasi ini harus disediakan oleh Kontraktor sesuai dengan syarat-syarat yang sudah
diterangkan
8. Air yang dipakai harus sesuai dengan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan di depan.
Kelas dan Mutu Beton
Kelas dan mutu dari beton harus sesuai dengan Standar Beton Indonesia N.I2-P.B.I. 1971, menurut
tabel di bawah ini.

Tabel Standar Mutu Dan Kelas Beton Mutu dan Kelas Beton
Kategori Pengawasan terhadap
o bk o bm Dari
Kls Mutu
Kg/cm2 Kg/cm2 Bangunan
Kualitas Agregat Kekuatan Tekanan
(tujuan)
Non Pemeriksaan dengan
I Bo - - Tidak ada Pengujian
Strukturil mata
Pemeriksaan dengan
II Bl - - Strukturil Tidak ada Pengujian
teliti
Pengujian mendetail Pengujian akan
K125 125 200 Strukturil dengan analisa diadakan
meyakinkan
Pengujian mendetail Pengujian akan
K175 175 250 Strukturil dengan analisa diadakan
meyakinkan
K225 225 300 Strukturil Pengujian mendetail Pengujian akan
dengan analisa diadakan
meyakinkan
Pengujian mendetail Pengujian akan
III K225 225 300 Strukturil dengan analisa diadakan
meyakinkan

Dilakukan pengujian kekuatan tekan beton yang diperoleh dari pemeriksaan benda uji kubus pada
umur 28 hari.
RKS-KONSTR UKSI
Procurement Unit
Pencampuran dan Pengecoran Beton. 35
Komposisi/Campuran Beton
9. Beton harus dibentuk dari semen portland, pasir, kerikil/batu pecah, air seperti yang ditentukan
sebelumnya, semuanya dicampur dalam perbandingan yang serasi dan diolah sebaik-baiknya
sampai pada kekentalan yang tepat/baik.
10. Untuk beton mutu "Bo campuran yang biasa untuk pekerjaan non struktural dipakai
perbandingan dari semen portland, terhadap pasir dan agregat kasar tidak boleh kurang dari 1 :
8. Banyaknya semen untuk tiap m3 sedikitnya harus 225 kg.
11. Untuk beton mutu K 225, campuran nominal dari semen Portland, pasir dan kerikil/batu pecahan
harus digunakan dengan perbandingan volume 1 : 2 : 3 atau banyaknya semen untuk tiap m3
beton minimum harus sampai 325 kg.
12. Untuk mutu beton lainnya yang lebih tinggi harus dipakai "campuran yang direncanakan"
(designed mix). Campuran yang direncanakan diketemukan dari percobaan-percobaan campuran
yang memenuhi kekuatan karakteristik yang disyaratkan. Banyaknya semen untuk tiap m3 beton
paling tidak harus 325 kg.
13. Tingkat agregat yang kasar untuk kelas II - derajat K.125 dan untuk kelas II- derajat K.175 - beton
harus berada dalam batas yang telah ditentukan di atas dan Kontraktor harus memperoleh
derajat yang patut apabila perlu akan dites oleh Direksi, dengan mengkombinir ukuran agregat
yang proporsionil, agar supaya diperoleh derajat yang sepatutnya.
14. Perbandingan antara bahan-bahan pembentuk beton yang dipakai untuk berbagai pekerjaan
(sesuai kelas mutu) harus dipakai dari waktu ke waktu selama berjalannya pekerjaan, demikian
juga pemeriksaan terhadap agregat dan beton yang dihasilkan.
15. Perbandingan campuran dan faktor air semen yang tepat akan ditetapkan atas dasar beton yang
dihasilkan, juga mempunyai kepadatan yang tepat, kekedapan, awet dan kekuatan yang
dikehendaki, dengan tidak memakai semen terlalu banyak.
16. Faktor air semen dari beton (tidak terhitung air yang dihisap oleh agregat) tidak boleh
melampaui 0,55 (dari beratnya) untuk kelas III dan jangan melampaui 0,60 (dari beratnya) untuk
kelas lainlainnya. Pengujian dari beton akan dilakukan oleh Direksi dan perbandingan-
perbandingan campuran harus diubah jika perlu untuk tujuan atau penghematan yang
dikehendaki, kegairahan bekerja, kepadatan, kekedapan, awet atau kekuatan dan Kontraktor tidak
berhak atas penambahan konpensasi disebabkan perubahan yang demikian.

Perlengkapan Mengaduk
Kontraktor harus menyediakan peralatan dan perlengkapan yang mempunyai ketelitian yang cukup
untuk
menetapkan dan mengawasi jumlah dari masing-masing bahan pembentukan beton. Perlengkapan-
perlengkapan tersebut dan cara pengerjaannya selalu harus mendapatkan persetujuan Direksi.

Mengaduk
4. Bahan-bahan pembentukan beton harus dicampur dan diaduk dalam mesin pengaduk beton yaitu
"Batch Mixer" atau "Portable Continuous Mixer selama sedikitnya 1 / menit sesudah semua
bahan (kecuali untuk air dalam jumlah yang penuh) ada dalam mixer. Waktu pengadukan
ditambah, bila mesin pengaduk berkapasitas lebih besar dari 1,5 m3, Direksi berwenang untuk
menambah waktu pengadukan jika pemasukan bahan dan cara pengadukan gagal untuk
mendapatkan hasil adukan dengan susunan kekentalan dan warna yang merata/seragam. Beton
harus seragam dalam komposisi dan konsistensi dari adukan ke adukan, kecuali bila dimintakan
adanya perubahan dalam komposisi atau konsistensi. Air harus dituangkan lebih dahulu dan
selama pekerjaan mencampur. Pengadukan yang berlebih-lebihan (lamanya) yang membutuhkan
penambahan air untuk mendapatkan konsistensi beton yang dikehendaki tidak diperkenankan.
5. Pencampuran dengan tangan diperkenankan apabila pada lokasi-lokasi tertentu sebuah Portable
Mixer tak mungkin dipergunakan menurut pandangan Direksi. Untuk mempermudah
pencampuran ini Kontraktor akan membuat beton masif dengan ketebalan tidak kurang dari 5 cm,
licin, rata dengan luas 2 cm2, diliputi dengan parapet setinggi 10 cm.
6. Penutup saluran dari beton harus dicor pada tempat lain yang berdekatan dengan lokasi, tidak
boleh dicor langsung pada saluran.

Suhu
Suhu beton sewaktu dicor/dituang, tidak boleh lebih dari 32 Celcius dan tidak kurang dari 4,5 C.
Bila suhu dari beton yang ditaruh berada antara 27 C dan 32 C, beton harus diaduk ditempat
pekerjaan untuk kemudian langsung dicor. Bila beton melebihi 32 C, sebagai yang ditetapkan oleh
Direksi, Kontraktor harus mengambil langkah-langkah yang efektif, misalnya mendinginkan agregat
dengan mencampur air dan mengecor pada waktu malam hari bila perlu, mempertahankan suhu
beton, untuk dicor pada suhu dibawah 32 C.

RKS-KONSTR UKSI
Procurement Unit
Cetakan Beton 36
7. Cetakan haruslah sesuai dengan berbagai bentuk, bidang-bidang, batas-batas dan ukuran dari
hasil beton yang diinginkan sebagaimana pada gambar-gambar yang diusulkan oleh Kontraktor
dan yang sudah disetujui oleh Direksi.
8. Cetakan untuk mencetak beton dan membuatnya menurut model yang dikehendaki harus
digunakan bila perlu. Cetakan dapat dibuat dari lembaran Plywood, papan yang diserut/ diketam
rata dan halus, dalam keadaan baik sebagaimana dikehendaki untuk menghasilkan permukaan
yang sempurna seperti terperinci disini.
9. Permukaan yang rata dari beton adalah yang dikehendaki dimanapun juga baik saluran drinase
ataupun tutup beton. Cetakan untuk permukaan yang demikian dapat dibuat dari kayu dan harus
didalam segala hal benar-benar berbentuk dan berukuran yang dikehendaki dan harus
berkekuatan dan berkakuan yang tetap pada tempat dan bentuknya selama pembebanan dan
berlangsungnya pekerjaan vibrasi pemadatan beton. Semua percetakan kayu harus diketam
rata/digosok dengan kertas pasir untuk menghilangkan tanda-tanda bekas dari cetakan sejauh
hal ini dapat dikerjakan. Usaha yang sesuai dan efektif harus dikerahkan dalam pekerjaan
cetakan untuk menguatkan pinggiran batas dan ujung lainnya dalam arah yang tepat untuk
menghindari terbentuknya pelengkungan-pelengkungan sisi-sisi pinggiran tersebut atau
kerusakan-kerusakan permukaan beton yang telah diselesaikan.
10. Semua cetakan yang dibangun harus teguh. Alat-alat dan usaha-usaha yang sesuai dan cocok
untuk membuka cetakan-cetakan tanpa merusak permukaan dari beton yang selesai harus
tersedia. Sebelum beton dicor, permukaan dari cetakan-cetakan harus diminyaki dengan minyak
yang biasa diperdagangkan yang mencegah secara efektif lekatnya beton, semua material untuk
melepaskan lekatan harus dipakai hanya setelah disetujui oleh Direksi. Penggunaan minyak
cetakan harus berhati- hati untuk kontak dengan besi beton yang mengakibatkan kurangnya daya
lekat.
11. Semua cetakan harus betul-betul teliti dan kuat kedudukannya sehingga tidak ada perubahan
atau gerakan lain selama penuangan beton. Penyangga cetakan (perancah) harus bersandar pada
pondasi yang baik sehingga tidak akan ada kemungkinan penurunan cetakan selama
pelaksanaan.
12. Pada pekerjaan saluran longsor harus dalam daerah yang kering maka harus dibatasi dengan
cofferdam diudik dan di hilir, serta disediakan pompa untuk memompa air rembesan dari
cofferdam. Air yang setiap hari mengalir harus dialihkan lewat talang diatas aluran yang akan
dibangun.

Pengecoran
14. Beton tidak boleh dicor sebelum semua pekerjaan cetakan, baja tulangan beton, penyokongan
dan pengikatan dan penyiapan-penyiapan permukaan yang berhubungan dengan pengecoran
yang telah disetujui oleh Direksi.
15. Segera sebelum pengecoran beton, semua permukaan pada tempat pengecoran (cetakan, lantai
kerja) harus bersih dari air yang menggenang, reruntuhan atau bahan lepas.
16. Permukaan-permukaan beton yang lebih dahulu dicor pada mana beton baru akan dicor,
permukaan mana telah begitu mengeras sehingga beton baru tidak akan berpadu dengan
sempurna, ditentukan disini, sebagai "Construction Joints (hubungan konstruksi/pelaksana).
Permukaan-permukaan Construction Joints harus bersih dan lembab ketika ditutup dengan beton
baru atau adukan. Pembersihan harus berupa pembuangan semua kotoran, beton-beton yang
mengelupas atau rusak, bahan-bahan asing yang menutupinya. Permukaan-permukaan
Construction Joints harus dibersihkan dengan cara-cara yang disetujui dan kemudian dicuci
seluruhnya dengan penyemprotan air dengan tekanan udara segera sebelum pengecoran beton
baru. Pembersihan dan pencucian harus dilaksanakan pada kesempatan terakhir dari pengecoran
beton. Semua genangan-genangan air harus dibuang dari permukaan Construction Joints
sebelum beton baru dicor.
17. Cara-cara dan alat-alat yang digunakan untuk pengangkutan beton harus sedemikian sehingga
beton dengan komposisi dan kekentalan yang diinginkan dapat dibawa ke tempat pekerjaan
tanpa adanya pemisahan dan kehilangan bahan yang menyebabkan perubahan nilai slump.
18. Beton dicor hanya pada waktu Direksi atau wakilnya yang ditunjuk serta pengawas Kontraktor
yang setaraf ada ditempat kerja. Setelah permukaan disiapkan baik-baik, permukaan
Construction Joints dimana beton baru akan dicorkan harus dilapisi dengan penutup yang
terbuat dari adukan semen (air hasta semen) atau ditutup dengan lapisan spesi/mortar harus
mempunyai perbandingan semen dan pasir seperti campuran beton yang bersangkutan kecuali
ditentukan lain, demikian juga konsistensinya.
19. Beton harus dicor pada adukan yang baru (fresh). Dalam pengecoran beton pada Construction
Joints yang telah terbentuk, penjagaan khusus harus dijalankan untuk menjamin agar beton yang
baru menjadi rapat betul dengan permukaan joints (sambungan) dengan Pembobokan dan
peralatan dengan memakai alat-alat yang cocok.
20. Pencampuran/penumbukan kembali beton tidak diperkenankan.
RKS-KONSTR UKSI
Procurement Unit
21. Beton yang sudah mengeras dalam hal mana 37 pengecoran yang tepat tidak mungkin dijamin
harus dibuang dan tidak dibayar untuk pekerjaan terbuang semacam itu. Transportasi dari
pengadukan sampai pengecoran beton jangan terlalu jauh sehingga memungkinkan pemisahan
bahan dan pengerasan beton.
22. Kecuali ada penyetopan/pemotongan oleh hubungan/joints, semua penuangan beton harus
selalu kira-kira berlapis-lapis horizontal dan umumnya tebalnya tidak lebih dari 50 cm. Direksi
mempunyai hak untuk mengurangi tebal tersebut apabila pengecoran dengan tebal
lapisanlapisan 50 cm tidak dapat memenuhi spesifikasi-spesifikasi ini.
23. Pengecoran beton tidak diperkenankan selama hujan deras atau lama sedemikian sehingga
spesi/ mortar terpisah dari agregat kasar. Selama hujan air semen atau spesi tidak boleh
dihamparkan pada construction joints dan air semen atau spesi yang hanyut dan terhampar
harus dibuang dan diganti sebelum pekerjaan dilanjutkan. Suatu pengecoran tersebut tidak boleh
terputus sebelum bagian tersebut selesai.
24. Ember-ember/bocket beton yang dipakai harus sanggup menuang dengan tepat pada slump
yang rendah dan memenuhi syarat-syarat campuran pada mana mekanisme pembuangan harus
dibuat dengan kapasitas sedikitnya 0,35 m3 sekali tuang. Ember beton harus mudah untuk
diangkat/ diletakkan dengan alat-alat lainnya dimana diperlukan terutama bagi lokasi-lokasi yang
terbatas.
25. Keadaan construction joints harus mendekati horizontal jika tidak ada ketentuan lain dari yang
ditunjukkan pada gambar atau diperintahkan oleh Direksi.
26. Setiap lapisan beton harus dipadatkan sampai kepadatan maksimum yang mungkin, sehingga
ia bebas dari kantong-kantong kerikil, dan menutup rapat-rapat pada semua
permukaanpermukaan dari cetakan dan material yang dilekatkan. Dalam pemadatan setiap
lapisan dari beton, kepala, alat penggetar (vibrator) harus dapat menenmbus dan menggetarkan
kembali beton pada bagian atas dari lapisan yang terletak dibawah. Semua beton harus
dipadatkan dengan alat penggetar type immersion beroperasi dengan kecepatan paling sedikit
7000 putaran per menit ketika dbenamkan dalam beton.

Pembukaan Cetakan dan Pemeliharaan.


Waktu dan Cara-cara Pembukaan Cetakan
3. Waktu dan cara pembukaan dan pemindahan cetakan harus dikerjakan dengan hati-hati untuk
menghindarkan kerusakan pada beton. Beton yang masih muda tidak diijinkan untuk dibenahi.
Beton yang baru dibuka cetakannya diperlihatkan kepada Direksi untuk dinilai kualitas
pengecorannya, beton yang hasilnya banyak keropos sampai tulangan terlihat, maka harus
mendapatkan penanganan tersendiri atas petunjuk Direksi.
4. Umumnya, diperlukan waktu minimum dua hari sebelum cetakan dibuka untuk dinding-dinding
yang tidak bermuatan dan cetakan-cetakan samping lainnya; tujuh hari untuk dinding-dinding
pemikul dan saluran-saluran, 14 hari untuk dek-dek jembatan atau gorong-gorong jalan.

Perawatan
4. Semua beton harus dirawat (cured) dengan air seperti ditentukan disini. Direksi berhak
menentukan cara perawatan bagaimana yang harus digunakan pada bagian-bagian pekerjaan.
5. Beton harus tetap basah paling sedikit 14 hari terus menerus (segera setelah beton cukup keras
untuk mencegah kerusakan) dengan cara menutupnya dengan bahan yang dibasahi air atau cara-
cara yang disetujui yang akan menjaga agar permukaan selalu basah.
6. Air yang digunakan dalam perawatan (curing) harus memenuhi maksud-maksud
spesifikasispesifikasi air untuk campuran beton.

Perlindungan (Protection)
Kontraktor harus melindungi semua beton terhadap kerusakan-kerusakan sebelum penerimaan
terakhir
oleh Direksi. Permukaan beton yang terbuka harus dilindungi terhadap sinar-sinar matahari yang
langsung paling sedikit 3 hari sesudah pengecoran. Perlindungan semacam itu dibuat efektif dan
secepatnya dilaksanakan sesudah pengecoran beton atau sesudah pembukaan cetakancetakan.

Penyelesaian-penyelesaian dan Penyempurnaan


3. Penyempurnaan permukaan-permukaan beton harus dilaksanakan oleh tukang yang ahli dan
disaksikan oleh Direksi. Permukaan-permukaan beton akan diuji/ ditest oleh Direksi dimana perlu
untuk menentukan apakah ketidakteraturan permukaan berada dalam batas-batas yang
ditentukan disini. Ketidakteraturan digolongkan sebagai sekonyong-konyong (abrupt) atau
lambat laun (gradual).
4. Offset yang disebabkan oleh pemindahan atau penempatan cetakan yang salah yang membentuk
garis-garis, yang disebabkan mata kayu lepas pada cetakan atau kerusakan lain dari kayu, akan
dianggap sebagai ketidakteraturan yang sekonyong-sekonyong (abrupt) dan akan diuji dengan
R K S - K O Nmenggunakan
STR UKSI pengukuran langsung. Semua ketidakteraturan lainnya dapat dianggap sebagai
Procurement Unit
38
ketidakteraturan yang gradual dan akan diperiksa dengan teliti oleh Direksi, kalau perlu dengan
menggunakan peralatan pengetesan beton. Sebelum menerima pekerjaannya, Kontraktor harus
membersihkan semua permukaan yang terbuka dari kerak-kerak dan kotoran yang lainnya.

Perbaikan Permukaan Beton


5. Bila sesudah pembukaan cetakan ada beton yang tidak tercetak menurut gambar atau diluar
garis atau permukaan tidak rata atau keropos, ternyata ada permukaan yang rusak atau keluar
dari garis, hal itu dianggap sebagai tidak sesuai dengan spesifikasi ini. Ketidaksesuaiannya akan
mendapat penilaian tersendiri yang akan diberikan oleh Direksi dan kalau Direksi memerintahkan
untuk dibongkar maka beton harus dibuang dan diganti oleh Kontraktor atas bebannya sendiri
kecuali bila Direksi memberikan ijinnya untuk menambal tempat yang rusak, dalam hal mana
penambalan harus dikerjakan seperti yang telah tercantum dalam pasal-pasal berikut.
6. Kerusakan yang memerlukan pembongkaran dan perbaikan ialah yang terdiri dari sarang kerikil,
kerusakan karena cetakan, lobang-lobang karena keropos, lubang-lubang baut, ketidakrataan
oleh pengaruh sambungan-sambungan cetakan, dan bergeraknya cetakan. Ketidakrataan dan
bengkok harus dibuang dengan pemahat atau dengan alat lain dan seterusnya digosok dengan
batu gerinda. Semua lubang harus terus menerus dibasahi selama 24 jam sebelum dicor dan
seterusnya disempurnakan.
7. Jika menurut pendapat Direksi Hal-hal yang tidak sempurna pada bagian bangunan-bangunan
yang akan terlihat sedemikian, sehingga dengan penambalan saja tidak akan menghasilkan
sebuah dinding yang tidak memuaskan kelihatannya, Kontraktor diwajibkan untuk menutupi
seluruh dinding (dengan spesi plester), sesuai dengan instruksi dari Direksi.
8. Cacat lubang-lubang tempat cukilan dari sarang kerikil atau keropos kecil yang akan diperbaiki,
harus diisi dengan spesi/ mortel tambalan yang kering yang disusun dari satu bagian semen
Portland dengan dua bagian pasir beton bersama dengan bahan pengisi yang tidak susut, yang
disetujui oleh Direksi, dalam jumlah yang diperinci oleh pabrik dan dengan air yang cukup
sehingga sesudah bahanbahan spesi dicampur akan melekat satu sama lain dan apabila
diremas-remas menjadi bola dan ditekan dengan tangan tidak akan mengeluarkan air. Spesi
penambal harus dikerjakan dengan lapisan-lapisan yang tipis dan selalu dipadatkan dengan alat
yang cocok.

5.9. Lapisan Resap Pengikat dan Lapis Perekat


1. Pekerjaan ini harus mencakup penyediaan dan pemasangan material aspal pada permukaan
yang telah dipersiapkan sebelumnya untuk penghamparan pelaburan aspal atau lapisan
campuran aspal.
2. Lapis Resap Pengikat digunakan pada permukaan yang tidak beraspal,dengan bahan aspal
dari jenis aspal semen AC - 10 ( yang kurang lebih ekivalenAspal penetrasi 80/100 ) atau
jenis AC - 20 (yang kurang lebih ekivalenAspal penetrasi 60/70 ), mematuhi ASSHTO N226 -
80, dicairkan dengan minyak tanah. Dipasang hanya pada permukaan yang kering atau
sedikit berlembab.
3. Lapis Perekat digunakan pada permukaan yang beraspal,dengan bahan aspal dari jenis
aspal semen AC - 10 atau AC - 20 yang memenuhi ASSHTO M226 - 80 , diencerkan dengan
25 sampai 30 bagian minyak tanah per 100 bagian aspal. Dipasang hanya pada permukaan
yang benar - benar kering.
4. Pekerjaan Lapisan Resap Pengikat dan Lapis Perekat harus tidak dilaksanakan waktu angin
kencang, hujan atau akan turun hujan. Kecuali mendapat persetujuan lain dari Direksi.
5. Lapisan yang telah selesai harus menutup keseluruhan permukaan yang dilapi dan tampak
merata, tanpa lokasi yang tidak tertutup atau beralur atau berlebihan aspalnya.

5.10. Lapis ATB dan AC


1. Pekerjaan ini harus mencakup penyediaan dan pemasangan material aspal pada permukaan
yang
telah dipersiapkan sebelumnya untuk penghamparan pelaburan aspal atau lapisan campuran
aspal.
2. Lapis ATB digunakan sebagai lapis pertama pada rekondisi jalan dalam pekerjaan ini ( setelah
penghamparan tack coat ),
3. Lapis AC digunakan sebagai lapis kedua pada rekondisi jalan dalam pekerjaan ini (juga
sebagai lapisan tas, yang bersentuhan langsung dengan beban yang melintas).
4. Pekerjaan Lapisan ATB dan AC tidak bisa dilaksanakan waktu angin kencang, hujan atau akan
turun hujan. Kecuali mendapat persetujuan lain dari Direksi.
5. Lapisan yang telah selesai harus menutup keseluruhan permukaan yang dilapi dan tampak
merata, tanpa lokasi yang tidak tertutup atau beralur atau berlebihan aspalnya.

RKS-KONSTR UKSI
Procurement Unit
5.11. Pemasangan Steel Sheet Pile 39
a) Pekerjaan ini dilakukan sebelum pekerjaan box culvert dilaksanakan. Pekerjaan ini
dimaksudkan
untuk menahan agar tanah di sekitar box culvert tidak longsor.
b) Material yang digunakan adalah Besi baja dengan panjang 6 m .
c) Turap penahan tanah dipasang pada masing - masing sisi box culvert.
d) Apabila dari hasil pemasangan tersebut di atas menurut Direksi hasilnya meragukan misalnya
turap miring dan sebagainya maka Kontraktor harus mencabut turap penahan tanah tersebut
dan diharuskan melakukan pemasangan ulang.
e) Segala kerugian yang ditimbulkan akibat hal tersebut di atas adalah menjadi tanggung jawab
kontraktor sepenuhnya.

6. PEKERJAAN LAIN - LAIN


Yang dimaksud pekerjaan lain-lain adalah pekerjaan yang belum tercantum dalam RKS ini, tetapi
masih berhubungan dengan pekerjaan di lapangan yang harus diselesaikan : misalnya
pembersihan lokasi / pengembalian sesuatu yang rusak akibat pekerjaan di lapangan Dan
Pembongkaran Saluran Lama. Untuk pembentukan dasar saluran dengan meratakan sesuai
kemiringan dasar saluran rencana pada permukaan tanah galian saluran

6.1. Mobilisasi dan Demobilisasi


Mobilisasi dan Demobilisasi berkaitan dengan proses pengadaan material pre-cast, dan alat berat.
Mobilisasi dan Demobilisasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab kontraktor. Alat berat yang sudah
tidak diperlukan harus segera dikembalikan agar tidak mengganggu aktivitas proyek yang lainnya,
ataupun aktivitas warga sekitar proyek.

6.2. Quality Control / Uji Bahan


Kontraktor harus melakukan Uji material, pada pekerjaan pelat injak/pelat setempat dengan mutu
beton sesuai pada gambar perencanaan. Uji material minimal diambil 1 benda uji. Pengujian bahan
dilaksanakan pada laboratorium yang telah disetujui Konsultan Pengawas / Direksi.

6.3. Pekerjaan Pembersihan Lapangan Selama Proyek Berlangsung.


Yang termasuk dalam pekerjaan ini adalah pembersihan lingkungan area kerja selama proyek
berlangsung termasuk material yang harus dibuang dari areal lokasi pekerjaan sesuai dengan
petunjuk Direksi pekerjaan.Setelah pelaksanaan pekerjaan selesai semua, lokasi areal pekerjaan
juga harus dibersihkan dari sisa-sisa semua material yang tidak terpakai, serta areal diratakan dan
dirapikan kembali. Semua biaya yang timbul akibat pekerjaan sepenuhnya menjadi tanggung jawab
dan beban Kontraktor, serta sudah harus diperhitungkan termasuk "Overhead pada analisa harga
satuan pekerjaan

6.4. Dewatering
Pada Bagian-bagian tertentu dari jenis pekerjaan yang dilaksannakan, areal pekerjaan kadang-
kadang suatu saat tidak bisa bebas sama sekali dari adanya air. Pada keadaan ini, kontraktor
diwajibkan mengeringkan atau membebaskan areal pekerjaan yang akan dipakai sebagai
kedudukan konstruksi dari genangan air atau pengaruh air, karena bisa menyebabkan turunnya
kualitas pekerjaan akibat pengaruh air tersebut. Pada prinsipnya selama amsa pelaksanaan
pekerjaan, semua lokasi yang akan dipakai sebagai kedudukan bangunan harus dijaga agar tetap
kering, bebas dari genangan ataupun rembesan air.
Pekerjaan pengeringan yang dimaksud di sini adalah, termasuk sistem drainase lingkungan
pekerjaan, sehingga tidak menimbulkan dampak yang negatif terutama pada masyarakat dan
lingkungan setempat.
Untuk pekerjaan-pekerjaan menurut sifatnya dipandang oleh Pemilik Pekerjaan tidak diperlukan
adanya sistem pengeringan khusus maka semua biaya yang timbul akibat pekerjaan pengeringan
ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab dan beban ker, serta sudah harus diperhitungkan
termasuk "Overhead pada analisa harga satuan pekerjaan.
Pada jenis pekerjaan yang dipandang oleh Pemilik Pekerjaan memerlukan adanya konstruksi
pengertian sifatnya khusus dan memerlukan penanganan tersendiri, maka perhitugan volume dan
pembayaran untuk pelakasannaan pekerjaan pengeringan tersebut diatas, diperhitungkan dalam
satuan (unit) M untuk pekerjaan "coferring atau "kisdam dan Lump sum untuk pekerjaan
"dewatering, sedangkan harga satuan pekerjaan yang ditawarkan, sudah harus meliputi upah
tenaga, bahan material yang dipakai peralatan yang dipergunakan, "Overhead dan keuntungan
R K S Kontraktor.
-KONSTR UKSI
Procurement Unit
6.5. Pembuatan Kisdam tinggi 2 m tebal 0.6 m 40
1. Umum
1. Uraian
Pada bagian-bagian tertentu dari jenis pekerjaan yang dilaksanakan, areal pekerjaan kadang-
kadang suatu saat tidak bisa bebas sama sekali dari adanya air. Pada keadaan ini, Kontraktor
diwajibkan mengeringkan atau membebaskan areal pekerjaan yang akan dipakai sebagai
kedudukan Konstruksi dari genangan air atau pengaruh air, karena bisa menyebabkan turunnya
kualitas pekerjaan akibat pengaruh air tersebut. Pada prinsipnya, selama masa pelaksanaan
pekerjaan, semua lokasi yang akan dipakai sebagai kedudukan bangunan harus dijaga agar tetap
kering, bebas dari genanan ataupun rembesan air.
2. Bahan Material
Bahan utama dari pembuatan Kisdam ini yakni Bambu Ori dan Gedeg Guling
Bambu Ori yang dipakai berdiameter antara 10 s/d 12 cm dengan panjang 2 meter.
Gedeg yang digunakan harus gedeg yang baru dan bagus,untuk hal ini kontraktor harus
mendapat persetujuan dari Pengawas dan Direksi.
Kawat Ikat diameter 4 mm.
Karung glangsing dan tanah pengisi
3. Pelaksanaan Pemasangan Kisdam
a. Kisdam dipasang memanjang sepanjang saluran yang akan dikerjakan.
b. Jarak titik tanam bambu ori ( sebagai penguat kisdam ) arah melintang sejarak 60 cm, serta
arah memanjang sejarak 100 cm.
c. Bagian dalam bambu ori dipasang gedeg guling setinggi 2 meter dan diikat dengan kawat pada
bambu ori dari dasar saluran, dan bagian dalam tersebut disi tanah yang diambil dari saluran,
sehingga air tidak dapat masuk pada area yang akan dikerjakan.
Khusus pekerjaan pengerukan lumpur, digunakan kisdam sandbag dengan ukuran tinggi 1,00 - 2 M

6.6. Pemasangan Trucuk Bambu 0 8-12 - P.2,5 - 3 m


a) Pekerjaan ini dilakukan sebelum pekerjaan pasangan batu kali pada jembatan. Pekerjaan ini
dimaksudkan untuk meningkatkan daya dukung tanah yang ada pada dasar jembatan
tersebut sehingga diharapkan daya dukungnya menjadi lebih besar dari keadaan
sebelumnya.
b) Material yang digunakan adalah Bambu Bongkotan dengan diameter 8-12 cm .Panjang masing
- masing bambu 1,5 meter
c) Terucuk Bambu dipasang arah pada masing - masing sisi dipasang 2 buah terucuk sejajar,
terucuk bambu dipasang sejarak 40 cm arah melintang dan arah memanjang dengan jarak
antar terucuk 50 cm . Untuk Pemancangannya adalah sebagai berikut :
a. Alat pemancang dipakai Drop Hammer kapasitas 100 kg yang dilengkapi dengan konstruksi
kaki tiga dari pipa besi dan katrol dengan ketinggian jatuh 2 meter.
b. Trucuk bambu dipancangkan dalam keadaan baik, tidak cacat yang dapat mengurangi
kekokohan pekerjaan.
c. Apabila pamancangan tidak bisa terbenam seluruhnya (belum sesuai dengan gambar rencana)
maka drop hammer diganti dengan yang lebih berat sehingga kedalaman tiang trucuk dapat
dipancangkan sesuai dengan gambar rencana.

RKS-KONSTR UKSI
Procurement Unit
d. Apabila dari hasil pemancangan tersebut41 di atas menurut Direksi hasilnya meragukan
misalnya tiang trucuk miring, pecah dan sebagainya maka Kontraktor harus mencabut tiang
trucuk tersebut dan diharuskan melakukan pemancangan ulang.
e. Segala kerugian yang ditimbulkan akibat hal tersebut di atas adalah menjadi tanggung jawab
kontraktor sepenuhnya.

6.7. Pembongkaran Jembatan Beton Dengan Pembersihannya


Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, alat - alat dan pengangkutan yang dibutuhkan
untuk menyelesaikan semua pekerjaan pembongkaran bangunan lama seperti tertera pada
gambar rencana dan juga pembersihan lokasi pembongkaran dari sisa material lama. Pekerjaan
bongkaran dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut :
c. Pembongkaran harus dilaksanakan secara tertib dan hati-hati sehingga tidak merusak bagian
lainnya yang tidak semestinya dibongkar dan tidak membahayakan manusia, baik orang lain,
personel yang terlibat dalam pelaksanaan ini maupun pekerjaannya sendiri.
d. Semua Material bekas bongkaran diangkut keluar proyek.

6.9 Pekerjaan Pembuatan Screen


6.8.1 Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu
lainnya yang diperlukan dalam pelaksanaan, hingga dapat tercapai hasil pekerjaan yang bermutu
baik dan sempurna.
6.8.2 Persyaratan Bahan
1. Bahan :
- Besi L 50.50.2,3 mm
- Besi Plat Tb.10 mm

Alat :
- Electrode Baja 20%
- Sewa Welding Set (min 5 jam)

2.
Besi yang digunakan harus mempunyai permukaan yang halus, tidak melengkung, rata,
datar, dan tidak terdapat cacat cacat lainnya.
6.8.3 Syarat-syarat Pelaksanaan
1. Bahan-bahan yang dipergunakan sebelum digunakan terlebih dahulu harus diserahkan
contoh- contohnya untuk mendapatkan persetujuan dari direksi.
2. Pekerjaan dilakukan berdasarkan gambar kerja.

sedikitnya tiga kali, yakni :


> Sebelum memulai pelaksanaan pekerjaan ........................................ ( 0 % )
> Selama berlangsungnya pekerjaan............................................... (25-75 %)
Photo Dokumentasi
Foto-foto yang memperlihatkan kemajuan pekerjaan, ciri-ciri tertentu dari pekerjaan, peralatan atau
hal- hal yang menarik perhatian lainnya sehubungan dengan pekerjaan atau lingkungannya harus
dibuat
> Setelah selesai pekerjaan atau setelah selesai periode Pemeliharaan...(100 %)
Foto-foto ini harus dilakukan sedikitnya dari tiga posisi (depan, belakang dan samping ), serta pada
posisi yang sama untuk masing-masing kejadian. Ukuran dari foto-foto tersebut tidak boleh kurang
dari 140 x 90 mm dan enam lembar hasil cetakan masing-masing foto (dialbumkan), dengan
membubuhkan nomor seri, tanggal pengambilan dan keterangan ringkasnya harus disampaikan
kepada Direksi. Semua klise/negatif filmnya harus dinomori, ditempatkan dalam arsip dan disimpan
di lokasi dan menjadi Pemberi Proyek. Biaya foto-foto tersebut seperti ditentukan harus ditanggung
oleh Kontraktor dan harus dianggap termasuk dalam over head yang disajikan dalam Daftar
Pengajuan Biaya.

7. PEMELIHARAAN BANGUNAN SEBELUM PENYERAHAN KEDUA


Masa pemeliharaan yang masih menjadi tanggung jawab Kontraktor sepenuhnya antara lain:
1. Keamanan dan penjagaan
2. Penyempurnaan dan pemeliharaan.
RKS-KONSTR UKSI
Procurement Unit
3. Pembersihan 42
4. Penyerahan kedua dapat dilaksanakan apabila kontraktor telah melaksanakan kewajiban pada masa
pemeliharaan
5. Selama masa pemeliharaan, kontraktor pelaksana diwajibkan membuat laporan berkala yang berisi
kondisi bangunan / saluran (yang selesai dibangun ) serta laporan pekerjaan perbaikan bila ada
bangunan yang rusak. Laporan tersebut dibuat dengan persetujuan / diketahui pihak pengawas
lapangan / direksi dan konsultan pengawas.

BAB VI
PENUTUP

Peraturan ini harus dipelajari seksama oleh Penyedia Barang/Jasa yang selanjutnya akan merupakan
bagian yang mengikat dalam pelaksanaan pekerjaan ini. Hal-hal yang belum diatur dalam RKS ini,
akan dijelaskan pada pelaksanaan penjelasan pekerjaan dan semua tambahan atas Penjelasan dalam
dokumen pengadaan, akan dibuat dalam Berita Acara Penjelasan Pekerjaan yang ditanda tangani
Gugus Tugas Pengadaan dan merupakan pedoman dalam proses pelaksanaan berikutnya.

RKS-KONSTR UKSI
Procurement Unit