Anda di halaman 1dari 8

DIRGA RAGILIA MAULIANSYAH

A31114023

RINGKASAN MATA KULIAH AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK

MATERI : TEKNIK AKUNTANSI KEUANGAN SEKTOR PUBLIK

Terdapat beberapa teknik akuntansi keuangan yang dapat diadopsi sektor publik, yaitu :
1) Akuntansi Anggaran ( budgetary accounting )
2) Akuntansi Komitmen ( commitment accounting )
3) Akuntansi Dana ( fund accounting )
4) Akuntansi Kas ( cash accounting )
5) Akuntansi Akrual ( accrual accounting )

Pada dasarnya kelima teknik akuntansi tersebut tidak bersifat mutually exclusive.
Artinya, penggunaan salah satu teknik akuntansi tsb tidak menolak penggunaan teknik yang
lain. Dengan demikian, suatu organisasi dapat menggunakan teknik akuntansi yang berbeda
beda, bahkan dapat menggunakannya kelima teknik dalam waktu yang bersamaan.
Akuntansi kas, akuntansi akrual, dan akuntansi komitmen berbeda satu dengan
lainnya karena adanya perbedaan waktu pengakuan pendapatan dan biaya. Dalam hal
pengakuan pendapatan, pada dasarnya terdapat dua langkah yang mempengaruhi pencatatan,
yaitu pada saat barang dikirim dan faktur dikeluarkan, dan pada saat barang dikirim dan
faktur dibayar.
1. Akuntansi Anggaran (Budgetary Accounting)
Akuntansi Anggaran adalah teknik akuntansi yang digunakan untuk mencatat setiap
transaksi-transaksi yang terjadi dan tedapat pada setiap anggaran mulai dari anggaran yang
disahkan, dialokasikan, ataupun yang dilaksanakan sampai pada penutupan buku anggaran
akhir tahun. Tujuan praktik ini adalah untuk menekankan peranan anggaran dalam siklus
perencanaan-pengendalian-pertanggungjawaban.

2. Akuntansi Komitmen ( Commitment Accounting )


Akuntansi komitmen (commitment accounting) adalah sistem akuntansi yang
mengakui transaksi dan mencatatnya pada saat order dikeluarkan. Akuntansi komitmen
dapat digunakan bersama-sama dengan akuntansi kas atau akuntansi akrual. Tujuan utama
akuntansi komitmen adalah untuk pengendalian anggaran.
Akuntansi Komitmen dapat digunakan bersama, baik dengan basis akuntansi kas
maupun akrual. Karena tidak masuk akal untuk menggunakan akuntansi komitmen
tersebut untuk beban karyawan, maka akuntansi komitmen hanya mencakup salah satu
bagian kecil dalam anggaran organsisasi. Sebagai konsekuensinya, akuntansi komitmen ini
hanya merupakan subsistem dalam sistem akuntansi utama organisasi. Meskipun
demikian, akuntansi komitmen ini dapat menjadi sangat penting, terutama bagi pemegang
anggaran.
Akuntansi komitmen mengakui transaksi ketika organisasi telah memiliki komitmen
untuk melaksanakan transaksi tersebut. Ini berarti bahwa transaksi tidak diakui ketika ada
penerimaan atau pengeluaran kas, juga bukan pada saat faktur diterima atau dikirimkan,
namun pada saat yang lebih awal, yaitu pada saat pesanan dibuat atau diterima.

3. Akuntansi Dana ( Fund Accounting )


Akuntansi Dana adalah sistem akuntansi yang sering digunakan oleh organisasi-
organisasi nirlaba dan institusi sektor publik. Sistem tersebut merupakan metode
pencatatan dan penampilan entitas dalam akuntansi seperti aset, dan kewajiban yang
dikelompokkan menurut kegunaannya masing-masing. Sumber daya keuangan berupa
dana yang disediakan untuk digunakan oleh organisasi nirlaba atau institusi pemerintah
biasanya mempunyai keterbatasan penggunaan dalam arti dana-dana tersebut dibatasi
penggunaannya untuk tujuan atau aktivitas tertentu yang terkadang merupakan syarat dari
pihak eksternal yang merupakan penyedia dana.
Tidak seperti perusahaan swasta yang mencari laba, organisasi sektor publik
mempunyai tujuan-tujuan yang spesifik. Dengan latar belakang seperti itu perusahaan
swasta dapat menggunakan sumber daya yang dimiliki untuk keperluan apapaun yang
penting bagi meraka adalah adanya laba yang berbeda dengan organisasi sektor publik
dimana sumber daya yang ada harus digunakan dengan tujuan tertentu.

Basis Akuntansi dan Fokus Pengukuran


Dalam akuntansi dana dikenal istilah basis akuntansi dan fokus pengukuran. basis
akuntansi menentukan kapan transaksi dan peristiwa yang terjadi diakui. Contoh, bila
organisasi mengadopsi basis akrual penuh, transaksi diakui ketika transaksi tersebut
memiliki dampak ekonomi yang subtantif. Kalau yang diadopsi adalah basis kas, transaksi
diakui kalau kas yang berhubungan dengan transaksi tersebut diterima atau dibayarkan.
Konsep basis akuntansi dan fokus pengukuran ini berhubungan erat dan pemilihan
salah satu akan mengimplikasikan pemilihan yang lain. Contoh kalau basis kas yang
dipilih, maka fokus pengukurannya juga atas kas saja, sehingga implikasinya hanya aktiva
lancar kas yang di laporkan dalam neraca. Perubahan dalam aktiva tetap dan kewajiban
jangka panjang tidak diakui.
Jika suatu entitas mengadopsi basis akrual penuh seperti diharuskan untuk
perusahaan, maka fokus pengukurannya biasanya meliputi semua sumber daya ekonomi
dan neracanya akan melaporkan semua aktiva dan kewajiban, baik lancar maupun tidak
lancar.
Di banyak lingkungan pemerintahan, basis akuntansi dan fokus pengukuran menjadi
permasalahan tersendiri yang sering kali menjadi perdebatan. Hal tersebut muncul karena
banyak entitas pemerintahan yang menggunakan anggaran dengan berbasis kas sehingga
dibutuhkan data realisasi anggaran yang berbasis kas pula. Dalam konteks tersebut,
dikembangkanlah basis akuntansi berupa basis kas yang akan menghasilkan
informasi yang bersifat jangka pendek. Permasalahan muncul karena entitas tersebut juga
dituntut untuk menyusun neraca yang juga menyajikan informsi yang bersifat jangka
panjang (aktiva tetap dan utang jangka panjang). Dengan kata lain. Dalam lingkungan
pemerintahan seperti itu, ada tuntutan untuk menggunakan basis kas dengan fokus
pengukuran jangka panjang. Dari sinilah berkembang basis akuntansi yang disebut dengan
basis kas yang dimodifikasi (cash modified basis).

4. Akuntansi Kas ( Cash Accounting )


Penerapan akuntansi kas, pendapatan dicatat pada saat kas diterima dan pengeluaran
dicatat pada saat kas dikeluarkan. Kelebihan cash basis adalah mencerminkan pengeluaran
yang riil, actual, dan objektif. Namun, GAAP tidak membenarkan pencatatan dengan
dasar kas karena tidak dapat mencerminkan kinerja yang sesungguhnya. Dengan cash
basis tingkat efisiensi dan efektifitas suatu kegiatan, program, aktivitas tidak dapat diukur
dengan baik.
Sebagai contoh, penerimaan kas dari pinjaman akan dicatat sebagai pendapatan
(revenue) bukan utang. Untuk mengoreksi hal tersebut kebanyakan sistem akuntansi kas
tidak hanya mengakui kas saja tapi juga mengakui aktiva dan utang yang timbul sebelum
terjadi transaksi kas. Namun, koreksi semacam ini tidak dapat mengubah kenyataan setiap
waktu,obligasi yang beredar dalam bentuk kontrak atau order pembelian yang dikeluarkan
tidak tampak pada catatan akuntansi. Konsekuensinya adalah saldo yang tercatat akan
dicatat overstated. Hal tersebut dapat mengakibtkan pemborosan anggaran.

5. Akuntansi Akrual ( Accrual Accounting )


Akuntansi akrual dianggap lebih baik daripada akuntansi kas. Teknik akuntansi akrual
diyakini dapat menghasilkan laporan keuangan yang lebih dapat dipercaya, akurat,
komprehensif, dan relevan untuk pengambilan keputusan ekonomi, social, politik. Basis
akrual diterapkan agak berbeda antara properiority fund (full accrual) dan governments
fund (modified accrual) karena biaya (expense) diukur dalam properiority fund,
sedangkan expenditure difokuskan pada general fund.
Expense adalah jumlah sumber daya yang dikonsumsi selama periode
akuntansi. Expenditure adalah jumlah kas yang dikeluarkan dan atau dialokasikan selama
periode akuntansi. Karena governments fund tidak memiliki catatan modal dan utang
(dicatat dan dikategorikan dalam aktiva tetap dan utang jangka panjang), expenditure yang
diukur, bukan expense.
Berbeda dengan governments fund, yang menjadi kepenting-an properiority fund dan
juga organisasi bisnis adalah net income. Full accrual accounting digunakan untuk
mencatat revenue ketika diperoleh (earned) dan biaya (expense) pada saat terjadi
(incurred). Dengan kata lain, biaya dicatat ketika utang terjadi tanpa memandang kapan
pembayaran dilakukan.
Pada governmental fund, hendaknya digunakan modified accrual
basis. Expenditure di accrued tetapi revenue dicatat berdasarkan cash basis yaitu pada
saat diterima bukan pada saat diperoleh. Pendapatan seperti PPN, PPh, dan fee retribusi
dihitung pada saat kasnya. Salah satu pengecualian adalah property tax (PBB) yang
diaccrued karena jumlahnya dapat diestimasi secara lebih pasti.
Pengaplikasian accrual basis dalam akuntansi sektor publik pada dasarnya adalah untuk
menentukan cost of service dan charging of service yaitu untuk mengetahui besarnya
biaya yang dibutuhkan untuk menghasilkan pelayanan public serta penentuan harga
pelayanan yang dibebankan ke publik. Hal ini berbeda dengan tujuan
pengaplikasian accrual basis dalam sektor swasta yang dapat digunakan untuk mengetahui
dan membandingkan besarnya biaya terhadap pendapatan (proper matching cost against
revenue). Perbedaan ini disebabkan karenan pada sektor swasta orientasi lebih difokuskan
pada usaha untuk memaksimumkan laba (profit oriented) sedangkan pada sektor publik
orientasi difokuskan pada optimalisasi pelayanan publik (public service oriented).

PERTANYAAN :
1. Apa yang menjadi alasan/kendala Indonesia belum menerapkan basis full akrual ?
2. Organisasi seperti apa yang memanfaatkan model akuntansi komitmen ? apakah model
akuntansi komitmen masih digunakan sampai sekarang, khususnya di Indonesia ?
BEST PRACITCE TEKNIK AKUNTANSI KEUANGAN
SEKTOR PUBLIK

A. Tren Penggunaan Basis Akrual


Basis kas dan akrual merupakan dua titik ujung dari sebuah spektrum basis
akuntansi dan anggaran yang mungkin untuk diterapkan. Basis kas pada awalnya
telah diterapkan secara tradisional di berbagai negara untuk aktivitas sektor
publik. Namun, pada awal tahun 1990-an telah muncul laporan keuangan dan
anggaran berbasis akrual yang pertama kalinya di dunia yaitu di New Zealand.
Kemudian dalam perkembangan satu dekade berikutnya, telah terjadi perubahan
besar dalam penggunaan basis akuntansi dari basis kas menuju/menjadi basis
akrual di negara-negara anggota OECD (Organisation for Economic Co-operation
and Development) meskipun masih terdapat perbedaan derajat akrual-nya diantara
negara-negara tersebut. Penggunaan basis akrual telah menjadi salah satu ciri dari praktik
manajemen keuangan modern.
Penggunaan basis akrual tidak hanya untuk penyusunan laporan keuangan,
di beberapa negara telah menggunakan basis akrual baik untuk penyusunan
laporan keuangan maupun untuk penganggaran (misalnya, Selandia Baru,
Australia, Inggris). basis akrual sejauh ini lebih banyak diterima untuk pelaporan
keuangan dari pada untuk tujuan penganggaran. Dua alasan yang sering dikemukakan
atas hal ini adalah pertama, penganggaran secara akrual dipercaya akan menimbulkan
risiko disiplin anggaran. Keputusan politik untuk mengeluarkan uang harus dikaitkan
dengan kapan pengeluaran itu dilaporkan dalam anggaran. Hanya basis kas yang dapat
memenuhi hal tersebut. Alasan kedua, yaitu bahwa legislator cenderung resisten untuk
mengadopsi anggaran akrual karena kompleksitas dari konsep akrual itu sendiri.
Namun demikian, apabila penerapan akrual hanya digunakan untuk
pelaporan keuangan dan tidak untuk anggaran, kelemahannya adalah tidak akan
menyelesaikan masalah secara serius/komprehensif. Anggaran adalah dokumen
kunci dari manajemen sektor publik (pemerintah) dan akuntabilitas didasarkan
pada anggaran yang telah disetujui legislator (DPR/DPRD). Apabila anggaran
didasarkan pada basis kas, fokus perhatian dari pemerintah dan legislator hanya
pada sumber daya berbasis kas. Dengan demikian, apabila laporan keuangan
dihasilkan dari basis yang berbeda (pelaporan keuangan berbasis akrual sementara
anggaran berbasis kas), risikonya adalah seakan-akan hanya latihan
akuntansi saja.
Penggunaan basis akrual untuk pelaporan keuangan bisa saja
diimplementasikan dalam hubungannya dengan anggaran berbasis kas atau
sistem lainnya. Namun sejumlah pemerintah (jurisdiksi) yang menggunakan
sistem ganda (dual system) tersebut menemukan rintangan berupa resistensi
penerimaan akuntansi berbasis akrual. Di samping itu, dengan sistem ganda
diperlukan rekonsiliasi yang ekstensif diantara dua sistem tersebut. Keberhasilan
akuntansi akrual, sebagian tergantung dari insentif yang diberikan pada para
manajer. Apabila para manajer tetap diminta bertanggung jawab atas pengelolaan
anggaran secara basis kas, maka fokus mereka (dan fokus para politisi) akan
terus tertuju pada sumber daya kas, misalnya, pada biaya dari informasi akrual
yang baru. Apabila basis akrual mau diterapkan juga untuk penganggaran,
biasanya butuh waktu satu atau dua periode setelah pelaporan keuangan
berbasis akrual diterapkan. Hal ini untuk meyakinkan bahwa informasi keuangan
yang dihasilkan dari akuntansi akrual adalah akurat dan andal.

B. Tujuan dan Manfaat Akuntansi Akrual


Penggunaan basis akuntansi akrual yang menjadi tren di berbagai negara
saat ini tentu sangat terkait dengan tujuan dan manfaat dari penggunaanya itu
sendiri. Penggunaan basis akrual merupakan salah satu ciri dari praktik
manajemen keuangan modern (sektor publik) yang bertujuan untuk memberikan
informasi yang lebih transparan mengenai biaya (kos) pemerintah dan
meningkatkan kualitas pengambilan keputusan di dalam pemerintah dengan
menggunakan informasi yang diperluas, tidak sekedar basis kas. Secara umum,
basis akrual telah diterapkan di negara-negara yang lebih dahulu melakukan
reformasi manajemen publik. Tujuan kuncinya adalah untuk meminta
pertanggungjawaban para manajer dari sisi keluaran (output) dan/atau hasil
(outcome) dan pada saat yang sama melonggarkan kontrol atas masukan (input).
Dalam konteks ini, para manajemer diminta agar bertanggung jawab untuk
seluruh biaya yang berhubungan dengan output/outcome yang dihasilkannya,
tidak sekedar dari sisi pengeluaran kas. Karena itu, hanya basis akrual yang
memungkinkan untuk mengakui semua biaya, dengan demikian dapat
mendukung pengambilan keputusan oleh para manajer secara efisien dan efektif.
A. Penerapan di Indonesia
1. Penerapan Akuntansi Basis Kas Menuju Akrual
Selama beberapa dekade pemerintah Indonesia sudah melakukan berbagai upaya
untuk memperbaiki kualitas kinerja, tranparansi, dan akuntabilitas pemerintahan di
Indonesia. Upaya ini mendapat momentum dengan reformasi keuangan negara di
penghujung tahun 1990an berupa diterbitkannya tiga paket UU di bidang keuangan
negara yaitu UU No. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU No. 1 tahun 2004
tentang Perbendaharaan Negara, dan UU No. 15 tahun 2004 tentang Pemeriksaan
Tanggung Jawab dan Pengelolaan Keuangan Negara. UU No. 17 Tahun 2003
mengamanatkan bahwa pendapatan dan belanja baik dalam penganggaran maupun
laporan pertanggungjawabannya diakui dan diukur dengan basis akrual. Hal tersebut
dapat dilihat dari Pasal 1 UU No.17 tahun 2003 yang mendefinisikan Pendapatan
negara/daerah adalah hak pemerintah pusat/daerah yang diakui sebagai penambah nilai
kekayaan bersih dan Belanja negara/daerah adalah kewajiban pemerintah pusat/daerah
yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih. Selanjutnya pasal 36 ayat (1)
menyatakan bahwa pengakuan dan pengukuran pendapatan dan belanja berbasis akrual
dilaksanakan selambat-lambatnya dalam 5 (lima) tahun.
Perkembangan akuntansi pemerintahan di Indonesia sebelum reformasi belum
menggembirakan. Saat itu, akuntansi pemerintahan di Indonesia belum berperan sebagai
alat untuk meningkatkan akuntabilitas kinerja birokrasi pemerintah dalam memberikan
pelayanan publik kepada masyarakat. Pada periode tersebut, output yang dihasilkan oleh
akuntansi pemerintahan di Indonesia sering tidak akurat, terlambat, dan tidak informatif,
sehingga tidak dapat diandalkan dalam pengambilan keputusan.
Perubahan dari basis kas menjadi basis akrual dalam akuntansi pemerintahan
merupakan bagian dari bangunan yang ingin dibentuk dalam reformasi di bidang
keuangan negara seperti yang diamanatkan dalam UU No. 17 tahun 2003. Oleh karena
itu, perubahan basis akuntansi pemerintahan di Indonesia dari basis kas menuju basis
akrual dilakukan secara bertahap. Berdasarkan Pasal 32 UU 17 Tahun 2003 dan Pasal 57
UU 1 Tahun 2004, penyusunan standar akuntansi pemerintahan ditugaskan pada suatu
komite standar yang independen yang ditetapkan dengan suatu keputusan presiden,
komite tersebut adalah Komite Standar Akuntansi Pemerintahan (KSAP). Organisasi
KSAP terdiri dari Komite Konsultatif dan Komite Kerja yang dibantu oleh Kelompok
Kerja. Komite Konsultatif bertugas memberi konsultasi dan/atau pendapat dalam rangka
perumusan konsep Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan Untuk menjaga kualitas Standar Akuntansi Pemerintahan, maka proses
penyusunannya melalui mekanisme prosedural yang meliputi tahap-tahap kegiatan dalam
setiap penyusunan Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (PSAP) oleh Komite.
Proses penyiapan Standar Akuntansi Pemerintahan yang digunakan ini adalah proses
yang berlaku umum secara internasional dengan penyesuaian terhadap kondisi yang ada
di Indonesia. Penyesuaian dilakukan antara lain karena pertimbangan kebutuhan yang
mendesak dan kemampuan pengguna untuk memahami dan melaksanakan standar yang
ditetapkan.

KESIMPULAN

Anda mungkin juga menyukai