Anda di halaman 1dari 23
ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA
ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA

ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA

ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DIRUMAH

DIRUMAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DIRUMAH
ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DIRUMAH 1. Aat nurhalimah 2. Ade ruhyana 3. Ade sujono 4. Aep

1. Aat nurhalimah

2. Ade ruhyana

3. Ade sujono

4. Aep nurhidayat

5. Ahmad pribadi Iqbal

6. Anis kurnia sari

7. Anita suparnia

8.

9. Desti vitrianingrum

Dede rasja

10. Dini wihardini

11.

12.

13.

Doni dahlia

Edwar torik

Eka septiani

Mata Kuliah : Gerontik Disusun Oleh : Kelompok 1
Mata Kuliah :
Gerontik
Disusun Oleh :
Kelompok 1

14. Eka solehah

15. Fety noviaty

16. Fitria hermawati

17. Fitriana firdaus

18. Haryani

19. Hendi sutiawan

20. Heri haryanto

21. Idoh dohriah

22. Indra sapta hadi

23. Irman

24.

25.

26.

Lina kartini

Maslelah

Herawati

PSIK NR STIKES FALETEHAN SERANG
PSIK NR STIKES FALETEHAN SERANG

PSIK NR STIKES FALETEHAN SERANG

PSIK NR STIKES FALETEHAN SERANG TAHUN 2017/2018

TAHUN 2017/2018

PSIK NR STIKES FALETEHAN SERANG TAHUN 2017/2018

A. LATAR BELAKANG

BAB I

PENDAHULUAN

Keberhasilan pembangunan terutama dalam bidang teknologi kedokteran dan kesehatan

berdampak terhadap meningkatnya usia harapan hidup. Akibatnya terjadi perubahan struktur

penduduk menjadi berbentuk piramid terbalik, dimana jumlah orang lanjut usia (Lansia)

lebih banyak dibandingkan anak berusia 14 tahun kebawah. Hal ini tidak hanya terjadi di

Negara-negara maju, tetapi di Indonesia terjadi hal yang serupa.

Indonesia termasuk salah satu negara, dimana proses penuaan penduduknya terjadi

paling cepat di Asia Tenggara dimana proyeksi penduduk serta estimasi rata-rata harapan

hidup penduduk Indonesia menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Pada tahun

2005 rata-rata usia harapan hidup sekitar 67,8 tahun meningkat menjadi 70 tahun antara

tahun 2005-2010. Persentase penduduk lanjut usia, yaitu seseorang yang berusia di atas 60

tahun, sekitar 9,5% pada tahun 2005 akan menjadi 11% atau sekitar 28 juta pada tahun 2020

(Bappenas, BPS, dan UNFPA, 2005).

Peningkatan harapan hidup ini, memang patut untuk disyukuri, namun disisi lain

kondisi

ini

menimbulkan

polemik

baru

dalam

kehidupan

bermasyarakat

maupun

berkeluarga. Ketika seseorang sudah mencapai usia tua dimana fungsi-fungsi tubuhnya tidak

dapat lagi berfungsi secara baik, maka lansia membutuhkan banyak bantuan dalam menjalani

aktivitas-aktivitas

kehidupannya.

Disamping

itu,

berbagai

penyakit

degeneratif

yang

menyertai keadaan lansia membuat mereka memerlukan perhatian ekstra dari orang-orang

disekelilingnya.

Lansia juga memerlukan berbagai hal lain untuk dapat mempertahankan kualitas

hidupnya seperti latihan-latihan yang dapat melatih kekuatan tubuhnya agar tidak terus

menurun,

ataupun

mempertahankan

fungsi

kognitifnya

serta

membutuhkan

sosialisasi

sehingga lansia tidak

merasa sendirian untuk mencegah depresi. Hal ini menuntut perhatian

khusus dari keluarga sebagai orang terdekat untuk menjaga dan merawat lansia di rumah.

Beberapa penelitian menyebutkan, bahwa lansia lebih senang dirawat di rumah karena mereka mendapatkan rasa nyaman dan aman dan selalu berada di tengah-tengah keluarga. Perawatan kesehatan lansia adalah perawatan lansia sebagai klien di rumah tidak hanya meliputi pelayanan kesehatan saja, namun juga pelayanan pendukung untuk dapat mendorong lansia menjadi lebih cepat mencapai kondisi sehat dan juga mandiri. Mengingat banyaknya masalah dan kebutuhan yang diperlukan lansia, oleh karena itu diperlukan perawatan lansia dirumah dimana perawatan lansia diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup lansia sehingga mereka tetap merasa bahagia dan dapat menjalani kehidupan masa tuanya dengan lebih baik.

B.

RUMUSAN MASALAH Adapun rumusan masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

a. Apa itu lansia dan penggolongannya?

b. Masalah- masalah kesehatan apa saja yang biasanya dihadapi oleh lansia?

c. Bagaimana pendekatan yang dipakai dalam perawatan lansia di rumah?

d. Bagaimana peranan keluarga dalam asuhan keperawatan pada lansia di rumah?

e. Bagaimana asuhan keperawatan pada lansia di rumah?

C.

TUJUAN PENULISAN Adapun tujuan dari penulisan makalah ini sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui pengertian lansia dan penggolongannya.

b. Untuk mengetahui masalah-masalah yang biasanya dihadapi oleh lansia.

c. Untuk mengetahui pendekatan yang digunakan dalam perawatan lansia dirumah.

d. Untuk mengetahui peranan keluarga dalam perawatan lansia di rumah.

e. Untuk mengetahui asuhan keperawatan yang di berikan pada perawatan lansia di rumah

D.

MANFAAT PENULISAN Adapun manfaat yang diperoleh dari makalah ini adalah pembaca dapat memperoleh informasi tentang masalah apa saja yang muncul pada lansia, pendekatan yang dipakai dalam perawatan lansia di rumah, asuhan keperawatan yang diberikan khususnya dari tujuan pemberian asuhan keperawatan pada lansia, diagnosa yang muncul berdasarkan masalah yang terjadi pada lansia, dan Intervensi keperawatan yang bisa diberikan pada lansia berdasarkan diagnosa yang muncul dari masing-masing masalah.

BAB II

ISI

A. PENGERTIAN LANSIA

Lansia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas (UU No.13 tahun

1998 tentang kesejahteraan lansia). Pada lanjut usia akan terjadi proses menghilangnya

kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi

normalnya secara perlahan-lahan sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan

memperbaiki kerusakan yang terjadi (Constantinides, 1994).

Penggolongan lansia :

Depkes RI, membagi lansia menjadi:

a. Kelompok menjelang usia lanjut (masa vibrilitas ) (45-54 tahun)

b. Kelompok usia lanjut (presenium ) (55-64 tahun)

c. Kelompok usia lanjut (senium ) (> 65 tahun)

WHO, membagi lansia menjadi:

a. Usia pertengahan (middle age) (45-59 tahun)

b. Usia lanjut (elderly) (60-74 tahun)

c. Usia tua (old) (75-90 tahun)

d. Usia sangat tua (very old ) (> 90 tahun)

B. MASALAH-MASALAH KESEHATAN PADA LANSIA

Proses penuaan merupakan proses alamiah setelah tiga tahap kehidupan, yaitu

masa anak, dewasa, dan masa tua yang tidak dapat dihindari oleh setiap individu dimana

akan

menimbulkan

perubahan-perubahan

struktur

dan

fisiologis

dari

beberapa

sel/jaringan/organ dan system yang ada pada tubuh manusia. (Mubarak,2009:140)

Kemunduran biologis yang terlihat sebagai gejala-gejala kemunduran fisik, diantaranya

yaitu :

1.

Kulit mulai mengendur dan wajah mulai keriput serta garis-garis yang menetap

2. Rambut kepala mulai memutih atau beruban

3. Gigi mulai lepas (ompong)

4. Penglihatan dan pendengaran berkurang

5. Mudah lelah dan mudah jatuh

6. Gerakan menjadi lamban dan kurang lincah akibat penurunan kelemahan otot

ekstremitas bawah dan kekuatan sendi

7. Gangguan gaya berjalan,

8. Sinkope-dizziness;

Disamping itu, juga terjadi kemunduran kognitif antara lain :

1. Suka lupa, ingatan tidak berfungsi dengan baik

2. Ingatan terhadap hal-hal di masa muda lebih baik daripada hal-hal yang baru saja

terjadi

3. Sering adanya disorientasi terhadap waktu, tempat dan orang

4. Sulit menerima ide-ide baru

Nina Kemala Sari dari Divisi Geriatri, Departemen Ilmu Penyakit Dalam RS Cipto

Mangunkusumo, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dalam suatu pelatihan di

kalangan kelompok peduli lansia, menyampaikan beberapa masalah yang kerap muncul

pada usia lanjut

,

yang disebutnya sebagai a series of

I’s.

Mulai dari immobility

(imobilisasi), instability (instabilitas dan jatuh), incontinence (inkontinensia), intellectual

impairment (gangguan intelektual), infection (infeksi), impairment of vision and hearing

(gangguan

penglihatan

dan

pendengaran),

isolation

(depresi),

Inanition

(malnutrisi),

insomnia (ganguan tidur), hingga immune deficiency (menurunnya kekebalan tubuh).

Selain gangguan-gangguan tersebut, Nina juga menyebut tujuh penyakit kronik degeratif

yang kerap dialami para lanjut usia, yaitu : Osteo Artritis (OA), Osteoporosis, Hipertensi,

Diabetes Mellitus, Dimensia, Penyakit jantung koroner, Kanker

Secara umum permasalahan yang sering terjadi pada lansia antara lain :

1. Mudah jatuh

Jatuh pada lanjut usia merupakan masalah yang sering terjadi. Penyebabnya multi-

faktor. Dari faktor instrinsik misalnya : gangguan gaya berjalan, kelemahan otot

ekstremitas bawah, kekakuan sendi, dan sinkope atau pusing. Untuk faktor ekstrinsik,

misalnya lantai licin dan tidak rata, tersandung benda, penglihatan yang kurang karena

cahaya kurang terang, dan sebagainya.

2. Mudah lelah

Hal ini disebabkan oleh :

Faktor psikologis : perasaan bosan, keletihan, atau depresi

Gangguan organis

: anemia,

kekurangan

vitamin,

perubahan pada

tulang

(osteomalasia), gangguan pencernaan,kelainan metabolisme (diabetes melitus,

hipertiroid), gangguan ginjal dengan uremia, gangguan faal hati, gangguan

sistem peredaran darah dan jantung.

Pengaruh

obat,

misalnya

melelahkan daya kerja otot.

3. Berat badan menurun

obat

penenang,

Berat badan menurun disebabkan oleh :

obat

jantung,

dan

obat

yang

Pada umumnya nafsu makan menurun karena kurang adanya gairah hidup atau

kelesuan serta kemampuan indera perasa menurun.

Adanya penyakit kronis

Gangguan pada saluran pencernaan sehingga penyerapan makanan terganggu

Faktor sosio-ekonomis (pensiunan)

4. Gangguan eliminasi

Sering ngompol yang tanpa disadari (inkontinensia urine) merupakan salah satu

keluhan utama pada orang lanjut usia. Hasil penelitian pada populasi lanjut usia di

masyarakat (usia di atas 70 tahun) didapatkan 7% pria dan 12 % wanita mengalami

inkontinensia urine. Penyebab inkontinensia antara lain :

Melemahnya

otot

dasar

panggul

yang

memperkuar sfingter uretra

Kontraksi abnormal pada kandung kemih

menyangga

kandung

kemih

dan

Obat diuretik yang mengakibatkan sering berkemih dan obat penenang terlalu

banyak

Radang kandung kemih

Radang saluran kemih

Kelainan kontrol pada kandung kemih

Kelainan persyarafan pada kandung kemih

Akibat adanya hipertrofi prostat

Faktor psikologis

5. Gangguan ketajaman penglihatan

Gangguan ini disebabkan oleh :

Presbiopi

Kelainan lensa mata (refleksi lensa mata berkurang)

Kekeruhan pada lensa (katarak)

Iris mengalami proses degenerasi, menjadi kurang cemerlang dan mengalami

depigmentasi. Tampak ada bercak berwarna muda sampai putih

Pupil kontriksi, refleks direk lemah

Tekanan dalam mata meninggi, lapang pandang menyempit, yang disebut

dengan glaukoma

Retina

terjadi

degenerasi,

gambaran

fundus

mata

awalnya

merah

jingga

cemerlang menjadi suram dan jalur-jalur berpigmen.

Radang saraf mata

Penurunan produksi air mata akibat kehilangan jaringan lemak dalam aparatus

lakrimal

Lensa menguning dan berangsur-angsur menjadi lebih buram mengakibatkan

katarak,

sehingga

mempengaruhi

menerima warna-warna

6. Gangguan pendengaran

kemampuan

Gangguan pendengaran yang sering terjadi :

untuk

membedakan

dan

Otosklerosis merupakan tuli konduksi yang menahun karena tulang sanggurdi

kaku dan tidak dapat bergerak secara leluasa. Penyakit ini harus ditangani oleh

dokter THT. Otosklerosis akibat atrofi membran tympani.

Presbikusis merupakan tuli saraf sensorineural frekuensi tinggi, terjadi pada usia

lanjut, simetris kiri dan kanan. Disebabkan proses degenerasi di telinga dalam.

Hilangnya kemampuan pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap

bunyi suara atau nada-nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti

kata-kata, 50% terjadi pada usia diatas umur 65 tahun.

Sumbatan serumen merupakan gangguan pendengaran yang timbul akibat

penumpukan serumen di liang telinga dan menyebabkan rasa tertekan yang

mengganggu.

Terjadinya

meningkatnya keratin.

7. Gangguan tidur

pengumpulan

serumen

dapat

mengeras

karena

Faktor usia sangat berpengaruh terhadap kualitas tidur. Pada kelompok lanjut usia (60

tahun), ditemukan 7 % kasus yang mengeluh mengenai masalah tidur (hanya dapat

tidur tidak lebih dari 5 jam sehari). Hal yang sama juga ditemukan pada 22% kasus

pada kelompok usia 70 tahun. Selain itu, terdapat 30 % kelompok usia 70 tahun yang

terbangun di malam hari. Angka ini tujuh kali lebih besar dibandingkan dengan

kelompok usia 20 tahun.

Gangguan tidur dapat disebabkan oleh :

Faktor ekstrinsik (luar), misalnya lingkungan yang kurang tenang

Faktor intrinsik baik organik maupun psikogenik. Organik berupa nyeri, gatal,

kram betis, sakit gigi, sindrom tungkai bergerak (akatisia) atau penyakit tertentu

yang

membuat

gelisah.

Psikogenik

misalnya

depresi,

iritabilitas, dan marah yang tidak tersalurkan.

(Nugroho, 2008 :41)

kecemasan,

stres,

C. PENDEKATAN PERAWATAN LANJUT USIA DI RUMAH

Pendekatan perawatan pada lansia di rumah menggunakan pendekatan yang

holistik (biologi/fisik, psikologi, sosial, spiritual) diantaranya :

1. Pendekatan Biologi/ fisik

Perawatan yang memperhatikan kesehatan obyektif, kebutuhan, kejadian-kejadian

yang dialami klien lanjut usia semasa hidupnya, perubahan fisik pada organ tubuh,

tingkat kesehatan yang masih bisa di capai dan dikembangkan, serta penyakit yang yang

dapat dicegah atau ditekan progresifitasnya. Perawatan fisik secara umum bagi klien

lanjut usia dapat dibagi atas dua bagian yaitu:

1. Klien lanjut usia yang masih aktif, yang keadaan fisiknya masih mampu bergerak

tanpa bantuan orang lain sehingga untuk kebutuhannya sehari-hari masih mampu

melakukan sendiri di rumah.

2. Klien lanjut usia yang pasif atau yang tidak dapat bangun, yang keadaan fisiknya

mengalami kelumpuhan atau sakit. Perawat harus mengetahui dasar perawatan klien

usia lanjut ini terutama tentang hal-hal yang berhubungan dengan kebersihan

perorangan untuk mempertahankan kesehatannya di rumah.

Kebersihan perorangan sangat penting dalam usaha mencegah timbulnya peradangan,

mengingat sumber infeksi dapat timbul bila keberhasilan kurang mendapat perhatian.

Adapun komponen pendekatan fisik yang lebih mendasar adalah memperhatikan atau

membantu para klien lanjut usia untuk bernafas dengan lancar,

makan,

minum,

melakukan eliminasi, tidur, menjaga sikap tubuh waktu berjalan, tidur, menjaga sikap,

tubuh waktu berjalan, duduk, merubah posisi tiduran, beristirahat, kebersihan tubuh,

memakai dan menukar pakaian, mempertahankan suhu badan melindungi kulit dan

kecelakaan.Toleransi terhadap kekurangan O2 sangat menurun pada klien lanjut usia,

untuk itu kekurangan O2 yang mendadak harus dicegah dengan posisi bersandar pada

beberapa bantal, jangan melakukan gerak badan yang berlebihan.

Seorang perawat homecare harus mampu memotivasi dan memandirikan lansia sesuai

dengan kemampuannya sehingga lansia mampu memenuhi kebutuhan yang optimal.

Kesehatan lansia perlu diperiksa secara berkala untuk mengetahui kondisi kesehatannya

terlebih

lagi

pada

lansia

memperlihatkan

kelainan.

yang

diduga

menderita

penyakit

tertentu

atau

bila

Pemeriksaan

ini

tidak

hanya

dilakukan

oleh

perawat

homecare melainkan keluarga harus ikut berpartisipasi dalam pengawasan kesehatan

pada lansia di rumah. Dalam hal ini perawat homecare berperan dalam memberikan

penjelasan dan penyuluhan kesehatan.

2. Pendekatan Psikososial

Perawat mempunyai peranan penting untuk mengadakan pendekatan edukatif pada

klien lanjut usia, perawat homecare harus selalu memegang prinsip ” Tripple”, yaitu

sabar, simpatik dan service.

Pada dasarnya klien lanjut usia membutuhkan rasa aman dan cinta kasih sayang dari

lingkungan,

termasuk

perawat

yang

memberikan

perawatan.

Dalam

memberikan

pelayanan, perawat homecare harus selalu menciptakan suasana yang aman, tidak

gaduh, membiarkan mereka melakukan kegiatan dalam batas kemampuan dan hobi

yang dimilikinya.

Perawat

homecare

memotivasi

semangat

dan

kreasi

klien

lanjut

usia

dalam

memecahkan dan mengurangi rasa putus asa , rendah diri, rasa keterbatasan sebagai

akibat dari ketidakmampuan fisik, dan kelainan yang dideritanya.

Hal itu perlu dilakukan karena perubahan psikologi terjadi karena bersama dengan

semakin

lanjutnya

usia.

Perubahan-perubahan

ini

meliputi

gejala-gejala,

seperti

menurunnya daya ingat untuk peristiwa yang baru terjadi, berkurangnya kegairahan

atau keinginan, peningkatan kewaspadaan , dan perubahan pola tidur dengan suatu

kecenderungan untuk tiduran diwaktu siang.

3. Pendekatan spiritual

Perawat homecare membantu klien dalam untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan,

memperoleh ketenangan dan kepuasan batin dalam hubungannya dengan Tuhan atau

agama yang dianutnya dalam kedaan sehat maupun sakit. Pendekatan perawat homecare

pada klien lanjut usia bukan hanya terhadap fisik saja, melainkan perawat homecare

lebih dituntut menemukan pribadi klien lanjut usia melalui agama mereka.

Beberapa tujuan pemberian asuhan keperawatan lansia di rumah antara lain :

1. Agar lanjut usia dapat melaukan kegiatan sehari hari secara mandiri dengan

peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dan pemeliharaan kesehatan, sehingga

memiliki ketenangan hidup dan produktif sampai akhir hayatnya.

2. Mempertahankan kesehatan serta kemampuan dari mereka yang usianya telah lanjut

dengan jalan perawatan dan pencegahan.

3. Membantu mempertahankan serta membesarkan daya hidup atau semangat hidup

klien lanjut usia (life support)

4. Menolong dan merawat klien lanjut usia yang menderita penyakit atau gangguan

baik kronis maupun akut.

5. Merangsang

para

petugas

kesehatan

untuk

dapat

mengenal

dan

menegakkan

diagnosa yang tepat dan dini, bila mereka menjumpai kelainan tertentu

6.

Mencari upaya semaksimal mungkin, agar para klien lanjut usia yang menderita

suatu penyakit, masih dapat mempertahankan kebebasan yang maksimal tanpa perlu

suatu pertolongan (memelihara kemandirian secara maksimal).

D.

PERANAN KELUARGA DALAM ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DI

RUMAH

Keluarga merupakan entry point dalam perawatan lansia di rumah karena keluarga

merupakan sistem pendukung yang paling penting untuk lansia.

Peran keluarga dalam merawat lansia menurut Maryam, antara lain :

menjaga atau merawat lansia

Mengantisipasi perubahan social ekonomi

Memberikan motivasi dan memfasilitasi kebutuhan spriritual bagi lansia

Melakukan pembicaraan terarah

Mempertahankan kehangatan keluarga

Membantu melakukan persiapan makan bagi lansia

Membantu dalam hal transportasi

Memberikan kasih sayang

Menghormati dan menghargai

Bersikap sabar dan bijaksana terhadap prilaku lansia

Memberikan kasih sayang, menyediakan waktu, serta perhatian

Jangan menganggapnya sebagai beban

Memberikan kesempatan untuk tinggal bersama

Mintalah nasihat dalam peristiwa-peristiwa penting

Mengajaknya dalam acara-acara keluarga

Membantu mencukupi kebutuhannya

Memberi

dorongan

untuk

tetap

termasuk pengambangan hobi.

Membantu mengatur keuangan

mengikuti

kegiatan-kegiatan

di

luar

rumah

Mengupayakan sarana transportasi untuk kegiatan mereka termasuk rekreasi

Memeriksakan kesehatan secara teratur

Memberi dorongan untuk tetap hidup bersih dan sehat

Mencegah terjadinya kecelakaan baik di dalam maupun di luar rumah

Pemeliharaan usia lanjut adalah tanggung jawab bersama

Memberi perhatian yang baik terhadap orang tua yang sudah lanjut, maka anak-

anak kita kelak akan bersikap hal yang sama.

(Maryam, dkk. 2008 : 42)

E. ASUHAN KEPERAWATAN LANJUT USIA DI RUMAH

Diagnosa Keperawatan

ASUHAN KEPERAWATAN LANJUT USIA DI RUMAH Diagnosa Keperawatan Aspek fisik atau biologis Dx 1 : Ketidakseimbangan

Aspek fisik atau biologis

Dx 1 : Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d tidak

mampu dalam memasukkan, memasukan, mencerna, mengabsorbsi makanan

karena factor biologi.

NOC I : Status nutrisi

Setelah

dilakukan

intervensi

diharapkan mampu:

keperawatan

selama

x

Asupan nutrisi tidak bermasalah

pertemuan

pasien

Asupan makanan dan cairan tidak bermasalah

Energy tidak bermasalah

Berat badan ideal

NIC I : Manajemen ketidakteraturan makan (eating disorder management)

1. Diskusikan dengan pasien untuk membuat target berat badan, jika berat

badan pasien tidak sesuai dengan usia dan bentuk tubuh.

2. Diskusikan dengan ahli gizi untuk menentukan asupan kalori setiap hari

supaya mencapai dan atau mempertahankan berat badan sesuai target.

3. Ajarkan dan kuatkan konsep nutrisi yang baik pada pasien

4. Kembangkan hubungan suportif dengan pasien

5. Dorong pasien untuk memonitor diri sendiri terhadap asupan makanan dan

kenaikan atau pemeliharaan berat badan

6. Gunakan teknik modifikasi tingkah laku untuk meningkatkan berat badan

dan untuk menimimalkan berat badan.

7. Berikan

pujian

atas

peningkatan

berat

badan

mendukung peningkatan berat badan.

dan

tingkah

laku

yang

Dx 2 : Gangguan pola tidur berhubungan dengan insomnia dalam waktu lama,

terbangun lebih awal atau terlambat bangun dan penurunan kemampuan fungsi

yng ditandai dengan penuaan perubahan pola tidur dan cemas

NOC

:

Setelah

dilakukan

tindakan

keperawatan

selama

2×24

jam

pasien

diharapkan dapat memperbaiki pola tidurnya dengan criteria :

Mengatur jumlah jam tidurnya

Tidur secara rutin

Meningkatkan pola tidur

Meningkatkan kualitas tidur

Tidak ada gangguan tidur

NIC : Peningkatan Tidur

1. Tetapkan pola kegiatan dan tidur pasien

2. Monitor pola tidur pasien dan jumlah jam tidurnya

3. Jelaskan pentingnya tidur selama sakit dan stress fisik

4. Bantu pasien untuk menghilangkan situasi stress sebelum jam tidurnya

5. Sarankan keluarga untuk menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman

Dx 3 : Inkontinensia urin

fungsional berhubungan dengan keterbatasan

neuromuskular yang ditandai dengan waktu yang diperlukan ke toilet melebihi

waktu untuk menahan pengosongan bladder dan tidak mampu mengontrol

pengosongan.

NOC : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama

diharapkan pasien mampu :

Kontinensia Urin

x

pertemuan

Merespon dengan cepat keinginan buang air kecil (BAK).

Mampu mencapai toilet dan mengeluarkan urin secara tepat waktu.

Mengosongkan bladde dengan lengkap.

Mampu memprediksi pengeluaran urin.

NIC : Perawatan Inkontinensia Urin

1. Monitor eliminasi urin

2. Bantu klien mengembangkan sensasi keinginan BAK.

3. Ajarkan latihan blader training

4. Modifikasi baju dan lingkungan untuk memudahkan klien ke toilet.

5. Instruksikan pasien untuk mengonsumsi air minum sebanyak 1500 cc/hari.

Dx 4 : Gangguan proses berpikir berhubungan dengan kemunduran atau

kerusakan memori sekunder

NOC : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama

x

pertemuan pasien

diharapkan dapat meningkatkan daya ingat dengan criteria :

Mengingat dengan segera informasi yang tepat

Mengingat inormasi yang baru saja disampaikan

Mengingat informasi yang sudah lalu

NIC : Latihan Daya Ingat

1. Diskusi dengan pasien dan keluarga beberapa masalah ingatan

2. Rangsang ingatan dengan mengulang pemikiran pasien kemarin dengan

cepat

3. Mengenangkan tentang pengalaman di masalalu dengan pasien

Dx

5

:

Kelemahan

mobilitas

fisik

b.d

kerusakan

musculoskeletal

dan

neuromuscular ditandai dengan : Perubahan gaya berjalan, Gerak lambat,

Gerak menyebabkan tremor, Usaha yang kuat untuk perubahan gerak

NOC : Level Mobilitas ( Mobility Level )

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama

pasien dapat :

x

Memposisikan penampilan tubuh

Ambulasi : berjalan

Menggerakan otot

pertemuan

diharapkan

Menyambung gerakan/mengkolaborasikan gerakan

NIC : Latihan dengan Terapi Gerakan ( Exercise Therapy Ambulation )

1. Konsultasi kepada pemberi terapi fisik mengenai rencana gerakan yang

sesuai dengan kebutuhan

2.

Dorong untuk bergerak secara bebas namun masih dalam batas yang aman

 

3.

Gunakan alat bantu untuk bergerak, jika tidak kuat untuk berdiri (mudah

 

goyah/tidak kokoh)

 

Dx

6

:

Kelelahan

b.d

kondisi

fisik

kurang

ditandai

dengan:Peningkatan

kebutuhan istirahat, Lelah, Penampilan menurun

NOC Activity Tolerance

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama

pasien dapat:

x

pertemuan diharapkan

Memonitor usaha bernapas dalam respon aktivitas

Melaporkan aktivitas harian

Memonitor ECG dalam batas normal

Memonitor warna kulit

NIC Energy Management

1. Monitor intake nutrisi untuk memastikan sumber energi yang adekuat

2. Tentukan keterbatasan fisik pasien

3. Tentukan penyebab kelelahan

4. Bantu pasien untuk jadwal istirahat

Dx 7 : Risiko jatuh

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama

terjadi risiko jatuh.

Intervensi Keperawatan :

x

pertemuan diharapkan tidak

1. Anjurkan klien/lansia untuk menggunakan sepatu jalan yang kuat atau datar

ketika hendak berjalan

R/ : bidang datar mempertahankan keseimbangan lansia dalam berjalan

menurunkan resiko terjatuh.

2. Sediakan lingkungan yang aman bagi pasien

R/ : Manipulasi lingkungan sangat diperlukan terhadap perubahan fisik

klien/ lansia sehingga dapat menurunkan resiko jatuh.

3. Memasang side rail tempat tidur, memberikan penerangan yang cukup,

memindahkan barang-barang berbahaya

R/ : Manipulasi lingkungan sangat diperlukan untuk menghindari resiko

jatuh/cidera pada lansia.

4. Menganjurkan keluarga untuk menemani pasien dalam beraktivitas.

R/ : Meningkatkan control terhadap lansia.

Dx 8 : Kerusakan Memori b.d

gangguan neurologi ditandai dengan : Tidak

mampu mengingat informasi factual, Tidak mampu mengingat kejadian yang

baru saja terjadi atau masa lampau, Lupa dalam melaporkan atau menunjukkan

pengalaman,

Tidak

mampu

belajar

atau

menyimpan

keterampilan

atau

informasi baru

NOC : Orientasi Kognitif

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama

pasien dapat :

Mengenal diri sendiri

Mengenal orang atau hal penting

Mengenal tempatnya sekarang

x

pertemuan diharapkan

Mengenal hari, bulan, dan tahun dengan benar

NIC : Pelatihan Memori ( Memory Training )

1.

Stimulasi memory dengan mengulangi pembicaraan secara jelas di akhir

pertemuan dengan pasien.

2. Mengenang pengalaman masa lalu dengan pasien.

3. Menyediakan gambar untuk mengenal ingatannya kembali

4. Monitor perilaku pasien selama terapi

ingatannya kembali 4. Monitor perilaku pasien selama terapi Aspek Psikososial Dx 9 : Coping tidak efektif

Aspek Psikososial

Dx 9 : Coping tidak efektif b.d percaya diri tidak adekuat dalam kemampuan

koping, dukungan social tidak adekuat yang dibentuk dari karakteristik atau

hubungan.

NOC I : koping (coping)

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama

konsisten diharapkan mampu:

Mengidentifikasi pola koping efektif

x

pertemuan pasien secara

Mengedentifikasi pola koping yang tidak efektif

Melaporkan penurunan stress

Memverbalkan control perasaan

Memodifikasi gaya hidup yang dibutuhkan

Beradaptasi dengan perubahan perkembangan

Menggunakan dukungan social yang tersedia

Melaporkan peningkatan kenyamanan psikologis

NIC I : coping enhancement

1. Dorong aktifitas social dan komunitas

2. Dorong pasien untuk mengembangkan hubungan

3. Dorong

berhubungan

dengan

ketertarikan yang sama

seseorang

yang

memiliki

tujuan

dan

4.

Dukung pasein untuk menguunakan mekanisme pertahanan yang sesuai.

5. Kenalkan

pasien

kepada

pengalaman yang sama.

seseorang

yang

mempunyai

latar

belakang

Dx 10 : Isolasi social b.d perubhaan penampilan fisik, peubahan keadaan

sejahtera, perubahan status mental.

NOC I : Lingkungan keluarga : internal ( family environment: interna)

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama

konsisten diharapkan mampu:

Berpatisipasi dalam aktifitas bersama

Berpatisipasi dala tradisi keluarga

x

pertemuan pasien secara

Menerima kujungan dari teman dan anggota keluarga besar

Memberikan dukungan satu sama lain

Mengekspresikan perasaan dan masalah kepada yang lain.

Mendorong anggota keluarga untuk tidak ketergantungan

Berpatisipasi dalam rekreasi dan acara aktifitas komunitas

Memecahkan masalah

NIC I : Keterlibatan keluarga (Family involvement)

1. Mengidentifikasikan kemampuan anggota keluarga untuk terlibat dalam

perawatan pasien.

2. Menentukan sumber fisik, psikososial dan pendidikan pemberi pelayanan

kesehatan yang utama.

3. Mengidentifkasi deficit perawatan diri pasien

4. Menentukan tinggat ketergantungan pasien terhadap keluarganya

sesuai dengan umur atau penyakitnya.

yang

Dx 11 : Cemas b.d perubahan dalam status peran, status kesehatan, pola

interaksi , fungsi peran, lingkungan, status ekonomi ditandai dengan: Ekspresi

yang mendalam dalam perubahan hidup, Mudah tersinggung, Gangguan tidur

NOC Anxiety Control

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama

pasien dapat:

x

Memonitor intensitas cemas

Melaporkan tidur yang adekuat

Mengontrol respon cemas

pertemuan diharapkan

Merencanakan strategi koping dalamsituasi stress

NIC Anxiety Reduction

1. Bantu pasien untuk menidentifikasi situasi percepatan cemas

2. Dampingi pasien untuk mempromosikan kenyamanan dan mengurangi

ketakutan

3. Identifikasi ketika perubahan level cemas

4. Instuksikan pasien dalam teknik relaksasi

level cemas 4. Instuksikan pasien dalam teknik relaksasi Aspek spiritual Dx 12 : Distress spiritual b.d

Aspek spiritual

Dx 12 : Distress spiritual b.d peubahan hidup, kematian atau sekarat diri atau

orang lain, cemas, mengasingkan diri, kesendirian atau pengasingan social,

kurang sosiokultural.

NOC I : pengharapan (hope)

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama

luas diharapkan mampu:

x

pertemuan pasien secara

Mengekspresikan orientasi masa depan yang positif

Mengekspresikan arti kehidupan

Mengekspresikan rasa optimis

Mengekspresikan perasaan untuk mengontrol diri sendiri

Mengekspresikan kepercayaan

Mengekspresikan rasa percaya pada diri sendiri dan orang lain

NIC I : penanaman harapan (hope instillation)

1. Pengkaji pasian atau keluarga untuk mengidentifikasi area pengharapan

dalam hidup

2. Melibatkan pasien secara aktif dalam perawatan diri

3. Mengajarkan keluarga tentang aspek positif pengharapan

4. Memberikan kesempatan pasien atau keluarga terlibat dalam support group.

5. Mengembangkan mekanisme paran koping pasien

A. KESIMPULAN

BAB III

PENUTUP

Lansia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas. Pada lanjut usia akan terjadi proses menghilangnya kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya secara perlahan-lahan sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang terjadi. Kemunduran yang terjadi pada lansia tidak hanya dari segi fisik saja tetapi juga pada kognitifnya sehingga akan sering timbul berbagai masalah mulai dari immobility (imobilisasi), instability (instabilitas dan jatuh), incontinence (inkontinensia), intellectual impairment (gangguan intelektual), infection (infeksi), impairment of vision and hearing (gangguan penglihatan dan pendengaran), isolation (depresi), Inanition (malnutrisi), insomnia (ganguan tidur), hingga immune deficiency (menurunnya kekebalan tubuh). Untuk mengatasi permasalah- permasalan tersebut, perawat harus mengadakan pendekatan dalam perawatan pasien dengan lansia di rumah baik melalui pendekatan fisik, psikososial maupun spiritual sehingga masalah-masalah yang dialami pasien bisa terselesaikan. Perawatan lansia di rumah diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup lansia sehingga mereka tetap merasa bahagia dan dapat menjalani kehidupan masa tuanya dengan lebih baik.

B. SARAN

1. Perawatan lansia di rumah sebaiknya di lakukan secara holistic meliputi: biologi,

psikologi, social, spiritual.

2. Keluarga diharapkan selalu memberikan perhatian yang penuh kepada lansia sehingga

lansia tidak merasa terkucilkan di rumah.

3. Dalam perawatan lansia sebaiknya berupaya untuk memandirikan lansia sesuai dengan

kemampuannya.