Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tawuran merupakan suatu perilaku negatif yang berakibat negatif pula
bagi para pelaku itu sendiri dan lingkungan sekitarnya. Tawuran adalah tindakan
yang melanggar norma-norma di masyarakat. Jelas sudah bahwa norma-norma
yang ada di masyarakat itu bukan untuk dilanggar, melainkan untuk dipatuhi agar
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara menjadi aman dan tidak ada
suatu kekhawatiran akan perpecahan yang menimbulkan masalah yang lebih besar
lagi nantinya.
Dampak dari tawuran sendiripun sudah jelas terlihat bahwa tak ada
dampak yang positif, semuanya dampak negatif. Merugikan diri sendiri, yaitu
badan penuh luka babak belur, mencoreng nama baik orang tua, menjatuhkan
harga diri sebagai pelajar/mahasiswa yang seharusnya berpendidikan tetapi
berkelakuan seperti manusia yang tidak terdidik. Selain merugikan diri sendiri
juga merugikan lingkungan sekitar. Lingkungan sekitar yang menjadi tempat
perkelahian mengalami kerugian karena barang-barang mereka rusak akibat dari
tingkah laku pelajar/mahasiswa yang melakukan aksi tawuran. Padahal
lingkungan sekitar yang tak tahu awal mula mengapa terjadinya tawuran tersebut
ikut menanggung dampaknya.
Dengan demikian sangat diperlukan cara-cara atau kiat-kiat bagaimana
upaya mengantisipasi tawuran antar pelajar/mahasiswa baik di lingkungan
keluarga, sekolah maupun masyarakat. Agar generasi muda saat ini bisa menjadi
generasi penerus bangsa yang lebih baik dan bermutu.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian konflik/tawuran?
2. Bagaimana dampak yang ditimbulkan dengan adanya tawuran?
3. Bagaimana upaya mengantisipasi tawuran di sekolah, keluarga, dan
masyarakat?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian konflik/tawuran.
2. Untuk mengetahui bagaimana dampak yang ditimbulkan dengan adanya
tawuran.
3. Untuk mengetahui bagaimana upaya mengantisipasi tawuran di sekolah,
keluarga, dan masyarakat.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. PENGERTIAN KONFLIK/TAWURAN
Menurut wikipedia, konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang
berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses
sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak
berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya
tidak berdaya.
Beberapa pengertian konflik menurut para ahli:
1. Menurut Taquiri dalam Newstorm dan Davis (1977), konflik merupakan
warisan kehidupan sosial yang boleh berlaku dalam berbagai keadaan akibat
daripada berbangkitnya keadaan ketidaksetujuan, kontroversi dan
pertentangan di antara dua pihak atau lebih pihak secara berterusan.
2. Menurut Gibson, et al (1997: 437), hubungan selain dapat menciptakan
kerjasama, hubungan saling tergantung dapat pula melahirkan konflik. Hal ini
terjadi jika masing masing komponen organisasi memiliki kepentingan atau
tujuan sendiri sendiri dan tidak bekerja sama satu sama lain.
3. Menurut Robbin (1996), keberadaan konflik dalam organisasi ditentukan oleh
persepsi individu atau kelompok. Jika mereka tidak menyadari adanya konflik
di dalam organisasi maka secara umum konflik tersebut dianggap tidak ada.
Sebaliknya, jika mereka mempersepsikan bahwa di dalam organisasi telah
ada konflik maka konflik tersebut telah menjadi kenyataan.
4. Dipandang sebagai perilaku, konflik merupakan bentuk minteraktif yang
terjadi pada tingkatan individual, interpersonal, kelompok atau pada tingkatan
organisasi (Muchlas, 1999). Konflik ini terutama pada tingkatan individual
yang sangat dekat hubungannya dengan stres.
5. Menurut Minnery (1985), Konflik organisasi merupakan interaksi antara dua
atau lebih pihak yang satu sama lain berhubungan dan saling tergantung,
namun terpisahkan oleh perbedaan tujuan.
6. Konflik dalam organisasi sering terjadi tidak simetris terjadi hanya satu pihak
yang sadar dan memberikan respon terhadap konflik tersebut. Atau, satu
pihak mempersepsikan adanya pihak lain yang telah atau akan menyerang
secara negatif (Robbins, 1993).
7. Konflik merupakan ekspresi pertikaian antara individu dengan individu lain,
kelompok dengan kelompok lain karena beberapa alasan. Dalam pandangan
ini, pertikaian menunjukkan adanya perbedaan antara dua atau lebih individu
yang diekspresikan, diingat, dan dialami (Pace & Faules, 1994:249).
8. Konflik dapat dirasakan, diketahui, diekspresikan melalui perilaku-perilaku
komunikasi (Folger & Poole: 1984).
9. Konflik senantisa berpusat pada beberapa penyebab utama, yakni tujuan yang
ingin dicapai, alokasi sumber sumber yang dibagikan, keputusan yang
diambil, maupun perilaku setiap pihak yang terlibat (Myers,1982:234-237;
Kreps, 1986:185; Stewart, 1993:341).
10. Interaksi yang disebut komunikasi antara individu yang satu dengan yang
lainnya, tak dapat disangkal akan menimbulkan konflik dalam level yang
berbeda beda (Devito, 1995:381)
Sedangkan tawuran dalam kamus bahasa Indonesia dapat diartikan
sebagai perkelahian yang meliputi banyak orang dan Pelajar adalah seorang
manusia yang belajar. Sehingga pengertian tawuran antar pelajar adalah
perkelahian yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mana perkelahian
tersebut dilakukan oleh orang yang sedang belajar.
Secara psikologis, perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja
digolongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja (juvenile deliquency).
Kenakalan remaja dalam hal perkelahian, dapat digolongkan ke dalam 2 jenis
delikuensi yaitu situasional dan sistematik.
1. Pada delikuensi situasional, perkelahian terjadi karena adanya situasi yang
mengharuskan mereka untuk berkelahi. Keharusan itu biasanya muncul
akibat adanya kebutuhan untuk memecahkan masalah secara cepat.
2. Sedangkan pada delikuensi sistematik, para remaja yang terlibat perkelahian
itu berada di dalam suatu organisasi tertentu atau geng. Di sini ada aturan,
norma dan kebiasaan tertentu yang harus diikuti angotanya, termasuk
berkelahi. Sebagai anggota, tumbuh kebanggaan apabila dapat melakukan apa
yang diharapkan oleh kelompoknya.
B. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KONFLIK/TAWURAN
Menurut Soerjono Soekanto, bahwa sebab sebab terjadinya konflik antara
lain sebagai berikut:
1. Perbedaan Antar Perorangan
Perbedaan ini dapat berupa perbedaan perasaan, pendirian, atau
pendapat. Hal ini mengingat bahwa manusia adalah individu yang unik atau
istimewa, karena tidak pernah ada kesamaan yang baku antara yang satu
dengan yang lain.
Perbedaan-perbedaan inilah yang dapat menjadi salah satu penyebab
terjadinya konflik sosial, sebab dalam menjalani sebuah pola interaksi sosial,
tidak mungkin seseorang akan selalu sejalan dengan individu yang lain.
Misalnya dalam suatu diskusi kelas, kamu bersama kelompokmu kebetulan
sebagai penyaji makalah. Pada satu kesempatan, ada temanmu yang mencoba
untuk mengacaukan jalannya diskusi dengan menanyakan hal-hal yang
sebetulnya tidak perlu dibahas dalam diskusi tersebut. Kamu yang bertindak
selaku moderator melakukan interupsi dan mencoba meluruskan pertanyaan
untuk kembali ke permasalahan pokok. Namun temanmu (si penanya) tadi
menganggap kelompokmu payah dan tidak siap untuk menjawab pertanyaan.
Perbedaan pandangan dan pendirian tersebut akan menimbulkan perasaan
amarah dan benci yang apabila tidak ada kontrol terhadap emosional
kelompok akan terjadi konflik.
2. Perbedaan Kebudayaan
Perbedaan kebudayaan mempengaruhi pola pemikiran dan tingkah
laku perseorangan dalam kelompok kebudayaan yang bersangkutan. Selain
perbedaan dalam tataran individual, kebudayaan dalam masing-masing
kelompok juga tidak sama. Setiap individu dibesarkan dalam lingkungan
kebudayaan yang berbeda-beda. Dalam lingkungan kelompok masyarakat
yang samapun tidak menutup kemungkinan akan terjadi perbedaan
kebudayaan, karena kebudayaan lingkungan keluarga yang membesarkannya
tidak sama. Yang jelas, dalam tataran kebudayaan ini akan terjadi perbedaan
nilai dan norma yang ada dalam lingkungan masyarakat. Ukuran yang dipakai
oleh satu kelompok atau masyarakat tidak akan sama dengan yang dipakai
oleh kelompok atau masyarakat lain. Apabila tidak terdapat rasa saling
pengertian dan menghormati perbedaan tersebut, tidak menutup kemungkinan
faktor ini akan menimbulkan terjadinya konflik sosial.
Contohnya seseorang yang dibesarkan pada lingkungan kebudayaan
yang bersifat individualis dihadapkan pada pergaulan kelompok yang bersifat
sosial. Dia akan mengalami kesulitan apabila suatu saat ia ditunjuk selaku
pembuat kebijakan kelompok. Ada kecenderungan dia akan melakukan
pemaksaan kehendak sehingga kebijakan yang diambil hanya
menguntungkan satu pihak saja. Kebijakan semacam ini akan di tentang oleh
kelompok besar dan yang pasti kebijakan tersebut tidak akan diterima sebagai
kesepakatan bersama. Padahal dalam kelompok harus mengedepankan
kepentingan bersama. Di sinilah letak timbulnya pertentangan yang
disebabkan perbedaan kebudayaan.
Contoh lainnya adalah seseorang yang berasal dari etnis A yang
memiliki kebudayaan A, pindah ke wilayah B dengan kebudayaan B. Jika
orang tersebut tetap membawa kebudayaan asal dengan konservatif, tentu saja
ia tidak akan diterima dengan baik di wilayah barunya. Dengan kata lain
meskipun orang tersebut memiliki pengaruh yang kuat, alangkah lebih baik
jika tetap melakukan penyesuaian terhadap kebudayaan tempat tinggalnya
yang baru.
3. Bentrokan Kepentingan
Bentrokan kepentingan dapat terjadi di bidang ekonomi, politik, dan
sebagainya. Hal ini karena setiap individu memiliki kebutuhan dan
kepentingan yang berbeda dalam melihat atau mengerjakan sesuatu.
Demikian pula halnya dengan suatu kelompok tentu juga akan memiliki
kebutuhan dan kepentingan yang tidak sama dengan kelompok lain. Misalnya
kebijakan mengirimkan pemenang Putri Indonesia untuk mengikuti kontes
Ratu Sejagat atau Miss Universe. Dalam hal ini pemerintah menyetujui
pengiriman tersebut, karena dipandang sebagai kepentingan untuk promosi
kepariwisataan dan kebudayaan. Di sisi lain kaum agamis menolak
pengiriman itu karena dipandang bertentangan dengan norma atau adat
ketimuran (bangsa Indonesia). Bangsa Indonesia yang selama ini dianggap
sebagai suatu bangsa yang menjunjung tinggi budaya timur yang santun,
justru merelakan wakilnya untuk mengikuti kontes yang ternyata di dalamnya
ada salah satu persyaratan yang mengharuskan untuk berfoto menggunakan
swim suit (pakaian untuk berenang).
4. Perubahan Sosial yang Terlalu Cepat di Masyarakat
Perubahan tersebut dapat menyebabkan terjadinya disorganisasi dan
perbedaan pendirian mengenai reorganisasi dari sistem nilai yang baru.
Perubahan-perubahan yang terjadi secara cepat dan mendadak akan membuat
keguncangan proses-prosessosial di dalam masyarakat, bahkan akan terjadi
upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap
mengacaukan tatanan kehidupan masyarakat yang telah ada. Sebenarnya
perubahan adalah sesuatu yang wajar terjadi, namun jika terjadinya secara
cepat akan menyebabkan gejolak sosial, karena adanya ketidaksiapan dan
keterkejutan masyarakat, yang pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya
konflik sosial.
Contohnya kenaikan BBM, termasuk perubahan yang begitu cepat.
Masyarakat banyak yang kurang siap dan kemudian menimbulkan aksi
penolakan terhadap perubahan tersebut.
Selain yang disebutkan di atas, proses sosial dalam masyarakat ada
juga yang menyebabkan atau berpeluang menimbulkan konflik yaitu
persaingan dan kontravensi.
Selain itu, dalam pandangan psikologi, setiap perilaku merupakan interaksi
antara kecenderungan di dalam diri individu (sering disebut kepribadian, walau
tidak selalu tepat) dan kondisi eksternal. Begitu pula dalam hal perkelahian
pelajar. Bila dijabarkan, terdapat sedikitnya 4 faktor psikologis mengapa seorang
remaja terlibat perkelahian pelajar.
1. Faktor internal.
Remaja yang terlibat perkelahian biasanya kurang mampu melakukan
adaptasi pada situasi lingkungan yang kompleks. Kompleks di sini berarti
adanya keanekaragaman pandangan, budaya, tingkat ekonomi, dan semua
rangsang dari lingkungan yang makin lama makin beragam dan banyak.
Situasi ini biasanya menimbulkan tekanan pada setiap orang. Tapi pada
remaja yang terlibat perkelahian, mereka kurang mampu untuk mengatasi,
apalagi memanfaatkan situasi itu untuk pengembangan dirinya. Mereka
biasanya mudah putus asa, cepat melarikan diri dari masalah, menyalahkan
orang / pihak lain pada setiap masalahnya, dan memilih menggunakan cara
tersingkat untuk memecahkan masalah. Pada remaja yang sering berkelahi,
ditemukan bahwa mereka mengalami konflik batin, mudah frustrasi, memiliki
emosi yang labil, tidak peka terhadap perasaan orang lain, dan memiliki
perasaan rendah diri yang kuat. Mereka biasanya sangat membutuhkan
pengakuan.
2. Faktor keluarga.
Rumah tangga yang dipenuhi kekerasan (entah antar orang tua atau
pada anaknya) jelas berdampak pada anak. Anak, ketika meningkat remaja,
belajar bahwa kekerasan adalah bagian dari dirinya, sehingga adalah hal yang
wajar kalau ia melakukan kekerasan pula. Sebaliknya, orang tua yang terlalu
melindungi anaknya, ketika remaja akan tumbuh sebagai individu yang tidak
mandiri dan tidak berani mengembangkan identitasnya yang unik. Begitu
bergabung dengan teman-temannya, ia akan menyerahkan dirnya secara total
terhadap kelompoknya sebagai bagian dari identitas yang dibangunnya.
3. Faktor sekolah.
Sekolah pertama-tama bukan dipandang sebagai lembaga yang harus
mendidik siswanya menjadi sesuatu. Tetapi sekolah terlebih dahulu harus
dinilai dari kualitas pengajarannya. Karena itu, lingkungan sekolah yang tidak
merangsang siswanya untuk belajar (misalnya suasana kelas yang monoton,
peraturan yang tidak relevan dengan pengajaran, tidak adanya fasilitas
praktikum, dsb.) akan menyebabkan siswa lebih senang melakukan kegiatan
di luar sekolah bersama teman-temannya. Baru setelah itu masalah
pendidikan, di mana guru jelas memainkan peranan paling penting.
Sayangnya guru lebih berperan sebagai penghukum dan pelaksana aturan,
serta sebagai tokoh otoriter yang sebenarnya juga menggunakan cara
kekerasan (walau dalam bentuk berbeda) dalam mendidik siswanya.
4. Faktor lingkungan.
Lingkungan di antara rumah dan sekolah yang sehari-hari remaja
alami, juga membawa dampak terhadap munculnya perkelahian. Misalnya
lingkungan rumah yang sempit dan kumuh, dan anggota lingkungan yang
berperilaku buruk (misalnya narkoba). Begitu pula sarana transportasi umum
yang sering menomor-sekiankan pelajar. Juga lingkungan kota (bisa negara)
yang penuh kekerasan. Semuanya itu dapat merangsang remaja untuk belajar
sesuatu dari lingkungannya, dan kemudian reaksi emosional yang
berkembang mendukung untuk munculnya perilaku berkelahi.

C. JENIS-JENIS KONFLIK
Menurut Dahrendorf, konflik dibedakan menjadi 6 macam :
Konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi), misalnya antara
peranan-peranan dalam keluarga atau profesi (konflik peran (role))
Konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga, antar gank).
Konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan
massa).
Konflik antar satuan nasional (kampanye, perang saudara)
Konflik antar atau tidak antar agama
Konflik antar politik.
Konflik individu dengan kelompok
BAB III
PEMBAHASAN
(Upaya Mengantisipasi Tawuran Antar Pelajar/Mahasiswa)

Tawuran secara luas dapat diartikan sebagai suatu tindakan agresi


(perkelahian) yang dilakukan oleh suatu kelompok tertentu terhadap kelompok
lainnya yang dimaksudkan untuk membalaskan suatu dendam, menyebabkan
penderitaan/menyakiti orang lain bahkan merusak lingkungan sekitar yang bahkan
tidak tahu apa-apa tentang awal mula terjadinya tawuran tersebut.
Dampak yang ditimbulkan dengan adanya tawuran antara lain :
Meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok (ingroup) yang
mengalami konflik dengan kelompok lain.
Keretakan hubungan antar kelompok yang bertikai.
Perubahan kepribadian pada individu, misalnya timbulnya rasa dendam,
benci, saling curiga dll.
Kerusakan harta benda dan hilangnya jiwa manusia.
Dominasi bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat dalam konflik.
Menanggulangi kenakalan remaja yang termasuk didalamnya yaitu
tawuran, tidak sama dengan mengobati suatu penyakit. Setiap penyakit sudah ada
obat-obat tertentu misalnya suntikan, tablet atau kapsul. Akan tetapi kenakalan
belum mempunyai suntikan, tablet atau kapsul tertentu untuk penyembuhannya.
Hal ini disebabkan karena kenakalan itu adalah kompleks sekali dan amat banyak
ragamnya serta amat banyak jenis penyebabnya. Dengan demikian perlu diketahui
penyebab dan baru kemudian ditentukan cara mengantisipasinya.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas maka upaya mengantisipasi
kenakalan remaja dibagi atas tiga bagian:
1) Upaya Preventif
Upaya preventif merupakan kegiatan yang dilakukan secara
sistematis, berencana dan terarah, untuk menjaga agar kenakalan itu tidak
timbul. Berbagai upaya preventif dapat dilakukan, tetapi secara garis besarnya
dapat dikelompokkan atas 3 bagian yaitu:
a. Di Rumah Tangga (Keluarga)
i. Orang Tua Menciptakan Kehidupan Rumah Tangga yang Beragama
Artinya membuat suasana rumah tangga atau keluarga menjadi
kehidupan yang taat dan taqwa kepada Allah di dalam kegiatan sehari-
hari. Misalnya selalu mengucap salam ketika masuk dan keluar rumah,
membaca al-quran setelah sholat berjamah dirumah. Hal itu bisa berhasil
jika orang tua memberikan keteladanan atau contoh setiap hari. Sehingga
anak-anakpun akan bertingkah laku seperti apa yang dilakukan oleh
orang tua mereka.
ii. Menciptakan Kehidupan Keluarga yang Harmonis
Yaitu hubungan dimana antara ayah, ibu dan anak tidak terdapat
percekcokan atau pertentangan. Hal ini bisa dilakukan dengan
memberikan waktu luang untuk berkumpul bersama anak-anak. Ketika
waktu luang itu ada, orang tua sebaiknya berdialog dengan anak tentang
apa yang menjadi keluhannya, sehingga orang tua bisa memahami diri
anak-anaknya. Disamping itu hendaklah menghindari agar tidak terjadi
pertentangan di depan anak-anak.
iii. Adanya Kesamaan Norma-norma yang Dipegang antara Ayah, Ibu,
dan Keluarga Lainnya Di Rumah Tangga dalam Mendidik Anak-
anak
Perbedaan norma dalam cara mengatur anak-anak akan
menimbulkan keraguan mereka dan pada gilirannya menimbulkan sikap
negatif pada anak dan remaja. Jika timbul sifat negatif karena kesalahan
perbedaan norma antara ayah, ibu, atau mungkin nenek, maka akan
terjadi:
Pertama, menurun kepatuhan anak dan remaja karena orang tua
menurun kewibawaan lantaran norma di keluarga tidak mantap. Kedua,
jika misalnya ayah melarang sesuatu perilaku sedangkan ibu dan nenek
membela, maka anak akan memihak ibu dan neneknya, dan sebaliknya
akan mengabaikan ayah. Ketiga, anak dan remaja semakin bandel karena
orang tua sering bertengkar. Hal itu tidak disukai mereka dan lebih
senang pergi menjauh dari rumah. Jika hal ini terjadi maka akan
membuka peluang untuk menjadi nakal. Karena itu sebaiknya orang tua
mempunyai pegangan norma yang sama dalam mendidik anak.
iv. Memberikan Kasih Sayang Secara Wajar kepada Anak-anak
Kasih sayang yang wajar bukanlah dalam bentuk materi yang
berlebihan, melainkan dalam bentuk hubungan psikologis dimana orang
tua dapat memahami perasaan anaknya dan mampu mengantisipasi
dengan cara-cara edukatif. Orang tua yang terlalu sibuk tidak akan dapat
memberikan kasih sayang yang wajar kepada anak-anaknya. Anak akan
mencari kompensasi kasih sayang itu di luar rumah misalnya dalam
kelompok anak-anak nakal. Kehilangan kasih sayang menimbulkan
tingkah laku negatif yang dapat merusak diri anak dan lingkungannya.
v. Memberikan Pengawasan Secara Wajar Terhadap Pergaulan Anak
Remaja Di Lingkungan Masyarakat
Hal-hal yang perlu diawasi dari anak-anak adalah teman bergaul,
disiplin waktu, pemakaian uang, dan ketaatan beribadah. Apabila teman
bergaul sehari-hari adalah anak yang nakal, disiplin waktunya tidak baik
terutama dalam kegiatan belajar dan kemampuan mengatur waktunya
kurang, serta pemakaian uang yang boros dan disiplin soal beribadah
kepada Tuhan tidak diatur maka anak akan tumbuh dengan sifat negatif
yang bisa merusak masa depan mereka.

Jadi, didalam keluarga haruslah tercipta suatu hubungan yang


harmonis, sehingga anak merasa nyaman berada dirumah daripada di tempat
lain yang bisa saja memberikan pengaruh negatif. Serta memberikan
pengarahan bahwa tawuran itu hal yang tidak baik, hal yang melanggar
aturan, hal yang tidak ada manfaatnya, akan banyak dampak negatif yang
kita dapat apabila terlibat didalamnya, sehingga akan merugikan diri sendiri.
Dengan pengarahan tersebut diharapkan angka pelajar/mahasiswa yang
terlibat dalam tawuran akan berkurang.
b. Upaya di Sekolah
i. Guru Hendaknya Memahami Aspek-aspek Psikis Murid
Untuk memahami aspek-aspek psikis murid, guru hendaknya
memiliki ilmu-ilmu lain selain mata pelajaran, yaitu ilmu psikologi,
bimbingan dan konseling, sehingga memudahkan guru untuk
memberikan bantuan kepada murid-muridnya.
ii. Mengintensifkan Pelajaran Agama dan Mengadakan Tenaga Guru
Agama yang Ahli dan Berwibawa serta Mampu Bergaul Secara
Harmonis dengan Guru-guru Umum Lainnya
Hal ini diperlukan karena masih banyak guru agama yang rendah
diri jika mengajar di sekolah umum yang notabennya cukup baik dalam
hal fasilitas dan mutu. Mereka rendah diri dikarenakan beberapa faktor,
antara lain: pendidikan yang kurang, pergaulan tidak luas. Apabila guru
agama bermutu dan memiliki ketrampilan maka pelajran agama akan
efektif dan efisien dalam rangka membantu tujuan pendidikan.
iii. Mengintensifkan bagian Bimbingan dan Konseling di Sekolah
dengan Cara Mengadakan Tenaga Ahli atau Menatar Guru-guru
untuk Mengelola Bagian ini
Hal ini dimaksudkan agar jangan lagi terjadi adanya guru BK di
sekolah yang dianggap sebagai polisi sekolah yang kerjanya hanya
mengawasi dan membuntuti murid, mangancam serta memarahi murid.
Anggapan ini ada karena kebanyakan guru BK bukan asli lulusan di
bidangnya.
iv. Adanya Kesamaan Norma-norma yang Dipegang oleh Guru-Guru
Hal ini akan menimbulkan kekompakan antar guru dalam
membimbing murid-murid.
v.Melengkapi Fasilitas Pendidikan
Yaitu seperti gedung, laboratorium, alat-alat pelajaran, alat-alat
olahraga dan kesenian, serta alat-alat penunjang lainnya. Dengan adanya
kelengkapan fasilitas tersebut bisa digunakan oleh murid-murid untuk
mengisi waktu luang dengan hal yang bermanfaat dan bisa menggali
bakat yang mereka miliki.
Jadi, peran sekolah dalam upaya mengantisipasi tawuran sangatlah
besar, karena hampir sehari penuh pelajar/mahasiswa berada di sekolah.
Sekolah sebagai rumah kedua setelah keluarga haruslah mengajarkan
banyak hal yang positif dan bermanfaat, sehingga para pelajar/mahasiswa
tidak tergiur untuk melakukan hal-hal yang negatif atau menyimpang dari
aturan yang ada.
Banyak cara di sekolah untuk mengantisipasi tawuran. Misalnya
diadakan semacam kegiatan yang menyenangkan tapi mendidik sehingga
tidak ada jam yang tidak efektif. Dengan demikian para pelajar/mahasiswa
tidak ada waktu luang untuk memikirkan kegiatan lain yang tidak
bermanfaat seperti tawuran.

c. Upaya di Masyarakat
Masyarakat adalah tempat pendidikan ketiga setelah rumah dan
sekolah. Jadi didalam masyarakat juga harus memuat pendidikan yang
baik bagi anak-anak, karena saat ini banyak yang beranggapan bahwa
pendidikan hanya dilakukan di sekolah oleh guru, tetapi mereka tidak
berfikir jauh bahwa anak juga bergaul di masyarakat yang tidak lain juga
terdapat pengaruh-pengaruh negatif.
Jadi di dalam masyarakat haruslah ada yang berperan aktif untuk
menjadikan remaja-remaja desa menjadi remaja yang berguna dan tidak
salah jalan. Banyak cara yang bisa digunakan para pengurus masyarakat,
diantaranya memberikan ketrampilan lain yang hasilnya bisa
menguntungkan masyarakat dan pelajar/mahasiswa itu sendiri sehingga
menumbuhkan jiwa pebisnis dan membuat waktu luang mereka berguna
dengan baik dan benar. Cara lain yang bisa dilakukan yaitu memberikan
kepercayaan pada para pelajar/mahasiswa (pemuda desa) untuk mengatur
atau mengolah suatu acara yang diadakan di desa, sehingga para pemuda
tersebut bisa belajar bertanggungjawab akan suatu kegiatan yang bisa
menjadikan mereka sebagai aktifis-aktifis muda.
Berbagai cara antisipasi diatas sedikit banyak bisa mengurangi
angka tawuran yang terjadi dikalangan pelajar/mahasiswa saat ini.
2) Upaya Kuratif
Yang dimaksud dengan upaya kuratif yaitu upaya antisipasi terhadap
gejala-gejala kenakalan tersebut, supaya kenakalan itu tidak meluas dan
merugikan masyarakat. Upaya kuratif secara formal dilakukan oleh Polri dan
Kejaksaan Negeri. Sebab jika terjadi kenakalan remaja atau tawuran berarti
sudah terjadi suatu pelanggaran hukum yang dapat berakibat merugikan diri
sendiri dan masyarakat.

3) Upaya Pembinaan
Didalam upaya pembinaan memuat tentang pembinaan mental dan
kepribadian dalam beragama, pembinaan mental untuk menjadi warga negara
yang baik, membina kepribadian yang wajar, pembinaan ilmu pengetahuan,
pembinaan ketrampilan khusus serta pengembangan bakat-bakat khusus.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Tawuran secara luas dapat diartikan sebagai suatu tindakan agresi
(perkelahian) yang dilakukan oleh suatu kelompok tertentu terhadap kelompok
lainnya yang dimaksudkan untuk membalaskan suatu dendam, menyebabkan
penderitaan/menyakiti orang lain bahkan merusak lingkungan sekitar yang bahkan
tidak tahu apa-apa tentang awal mula terjadinya tawuran tersebut. Dampak yang
ditimbulkan dengan adanya tawuran sangatlah banyak dan tentu merugikan diri
sendiri.
Upaya mengantisipasi kenakalan remaja dibagi atas tiga bagian:
1. Upaya Preventif
Di Rumah Tangga (Keluarga)
Jadi, didalam keluarga haruslah tercipta suatu hubungan yang
harmonis, sehingga anak merasa nyaman berada dirumah daripada di
tempat lain yang bisa saja memberikan pengaruh negatif. Serta
memberikan pengarahan bahwa tawuran itu hal yang tidak baik, hal yang
melanggar aturan, hal yang tidak ada manfaatnya, akan banyak dampak
negatif yang kita dapat apabila terlibat didalamnya, sehingga akan
merugikan diri sendiri. Dengan pengarahan tersebut diharapkan angka
pelajar/mahasiswa yang terlibat dalam tawuran akan berkurang.
Upaya di Sekolah
Jadi, peran sekolah dalam upaya mengantisipasi tawuran
sangatlah besar, karena hampir sehari penuh pelajar/mahasiswa berada di
sekolah. Sekolah sebagai rumah kedua setelah keluarga haruslah
mengajarkan banyak hal yang positif dan bermanfaat, sehingga para
pelajar/mahasiswa tidak tergiur untuk melakukan hal-hal yang negatif atau
menyimpang dari aturan yang ada.
Banyak cara di sekolah untuk mengantisipasi tawuran. Misalnya
diadakan semacam kegiatan yang menyenangkan tapi mendidik sehingga
tidak ada jam yang tidak efektif. Dengan demikian para pelajar/mahasiswa
tidak ada waktu luang untuk memikirkan kegiatan lain yang tidak
bermanfaat seperti tawuran.
Upaya di Masyarakat
Masyarakat adalah tempat pendidikan ketiga setelah rumah dan
sekolah. Jadi didalam masyarakat juga harus memuat pendidikan yang
baik bagi anak-anak, karena saat ini banyak yang beranggapan bahwa
pendidikan hanya dilakukan di sekolah oleh guru, tetapi mereka tidak
berfikir jauh bahwa anak juga bergaul di masyarakat yang tidak lain juga
terdapat pengaruh-pengaruh negatif.
Jadi di dalam masyarakat haruslah ada yang berperan aktif untuk
menjadikan remaja-remaja desa menjadi remaja yang berguna dan tidak
salah jalan. Banyak cara yang bisa digunakan para pengurus masyarakat,
diantaranya memberikan ketrampilan lain yang hasilnya bisa
menguntungkan masyarakat dan pelajar/mahasiswa itu sendiri

2. Upaya Kuratif
Yang dimaksud dengan upaya kuratif yaitu upaya antisipasi terhadap
gejala-gejala kenakalan tersebut, supaya kenakalan itu tidak meluas dan
merugikan masyarakat. Upaya kuratif secara formal dilakukan oleh Polri dan
Kejaksaan Negeri. Sebab jika terjadi kenakalan remaja atau tawuran berarti
sudah terjadi suatu pelanggaran hukum yang dapat berakibat merugikan diri
sendiri dan masyarakat.
3. Upaya Pembinaan
Didalam upaya pembinaan memuat tentang pembinaan mental dan
kepribadian dalam beragama, pembinaan mental untuk menjadi warga negara
yang baik, membina kepribadian yang wajar, pembinaan ilmu pengetahuan,
pembinaan ketrampilan khusus serta pengembangan bakat-bakat khusus.
B. Saran-saran
Saran Untuk Keluarga
Agar lebih menjaga dan mendidik anak dirumah dengan baik dan
benar. Memberikan pengarahan bahwa tawuran adalah hal yang merugikan
diri sendiri dan banyak pihak.
Saran Untuk Sekolah
Supaya lebih memberikan pendidikan yang intensif dan
mengarahkan para pelajar/mahasiswa untuk menggunakan waktu luang di
sekolah sebaik mungkin dengan melakukan kegiatan-kegiatan atau hal-hal
yang bermanfaat, sehingga tidak ada waktu lain untuk memikirkan hal
negatif seperti tawuran.
Saran Untuk Masyarakat
Supaya para perangkat desa mengajak para pemuda untuk berperan
aktif dalam membangun masyarakat. Karena peran serta masyarakat dalam
membangun pemuda generasi bangsa sangatlah besar. Dengan berbagai
cara masyarakat bisa membantu mengantisipasi adanya tawuran antar
pelajar/mahasiswa. Salah saatunya mengajarkan para pemuda tentang
tanggungjawab mengolah suatu acara. Dengan demikian para pemuda
lebih banyak berfikir dan bekerja positif.
DAFTAR RUJUKAN

Budiyono. 2009. Sosiologi 2 untuk SMA/MA XI. Jakarta: Pusat Perbukuan


Departemen Pendidikan Nasional.
DR. Sofyan S. Willis, M.Pd. 2005. Remaja & Masalahnya. Bandung:
ALFABETA
Soetomo. 2011. Masalah sosial dan Upaya pemecahannya. Pustaka pelajar.
Wrahatnala, Bondet. 2009. Sosiologi 2 untuk SMA dan MA kelas XI. Jakarta:
Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Dessy anwar. 2001. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Karya
Abditama.
Aziza, RS. 2013. Makalah Tentang Tawuran di Kalangan Generasi Muda
Lengkap, (Online), (http://kendakaku.blogspot.com/2013/08/makalah-
tentang-tawuran-di-kalangan.html), diakses 03 Desember 2014
Setiawan, Y. 2012. Pengertian Tawuran, (Online),
(http://yunuzsetiawan.blogspot.com/2012/02/pengertian-tawuran.html),
diakses 03 Desember 2014.
2013. Faktor-faktor Penyebab Konflik Sosial, (Online),
(http://www.siswapedia.com/faktor-faktor-penyebab-konflik-sosial/),
diakses 03 Desember 2014.
Wikipedia. Pengertian Konflik, (Online), (http://id.wikipedia.org/wiki/Konflik)
diakses 03 Desember 2014.
Rizqi, A. 2012. Solusi mengatasi Permasalahan Tawuran antar Pelajar di
Indonesia (BI SS 2012),
(https://afdhalrizqi.wordpress.com/2012/10/22/solusi-mengatasi-
permasalahan-tawuran-antar-pelajar-di-indonesia/), (Online), diakses 03
Desember 2014.