Anda di halaman 1dari 19

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Penurunan kualitas perairan bisa terjadi karena adanya proses alam (contohnya erosi dan
proses vulkanik) maupun aktivitas manusia (contohnya aktivitas indusri, pertambangan dan
pertanian). Penyumbang dari penurunan kualitas perairan yang yang terbesar adalah dari aktivitas
manusia. Meningkatnya populasi manusia di suatu wilayah, meningkatkan aktivitas yang
menyebabkan bertambahnya masukan limbah yang sebagian besar merupakan limpasan dari
daratan. Masuknya limbah bukan hanya limbah yang bersifat organik, tetapi juga limbah anorganik
seperti logam ringan dan logam berat.
Logam berasal dari kerak bumi yang berupa bahan-bahan murni, organic dan anorganik.
Logam dalam kerak bumi terdiri dari logam ringan dan logam berat. Logam berat dasarnya sangat
diperlukan dalam proses kehidupan manusia khususnya dalam hal proses produksi suatu industry.
Akan tetapi apabila konsentrasinya telah melebihi ambang batas yang telah ditentukan maka
logam-logam tersebut berbahaya karena sifatnya yang beracun. Logam-logam tersebut dikatakan
beracun karena dapat merusak jaringan tubuh makhluk hidup. Logam berat yang terdapat di kolom
perairan dan mengendap di sedimen sangat berbahaya bagi organisme air. Logam berat yang sering
mencemari lingkungan air adalah timbal (Pb), cadmium (Cd) dan merkuri (Hg) karena ketiga
logam berat ini digunakan oleh sebagian besar proses produksi pada industry
Islam mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan. Islam senantiasa untuk
menjaga lingkungan. Karena manusia sebagai khalifah di bumi, sehingga manusia memiliki
kewajiban untuk menjaga lingkungannya bukan hanya memanfaatkan dan mengelolanya saja,
tetapi juga menjaganya juga. Tercemarnya lingkungan sesuai dengan firman Allah SWT dalam
Q.S Al-Rum/30:40 :




()

Terjemahannya: Telah nampak kerusakaan di darat dan di laut disebabkan karena
perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat)
perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (Al-Quran dan Terjemahannya,
Kementerian Agama RI, 2009).
Menurut Shihab, makna dari Q.S Al-Rum/30: 41 yaitu telah terlihat kebakaran,
kekeringan, kerusakan, kerugian pernigaan, dan ketertenggelaman yang disebabkan oleh kejahatan
dan dosa-dosa yang diperbuat oleh manusia. Allah menghendaki untuk menghukum manusia di
dunia dengan perbuatan-perbuatan mereka, agar mereka bertobat dari kemaksiatan.
Terjadinya peningkatan kandungan logam berat pada perairan dapat membahayakan
biota dan organisme yang hidup di dalamnya, salah satunya adalah ikan. Ikan diketahui sebagai
salah satu sumber masuknya logam berat dalam tubuh manusia. Masuknya zat pencemar ke dalam
tubuh biota air dapat melalui saluran pernapasan dan saluran pencernaan. Dalam lingkungan
perairan, unsur-unsur logam meskipun kadarnya relatif rendah dan dapat diabsorbsi oleh hewan
air secara biologik penyerapan tersebut tetap terlibat dalam sistem jaringan makanan. Selanjutnya
melalui proses transformasi, akan terjadi pada tropik level yang lebih tinggi. Keadaan ini bila
dibiarkan terus menerus tentunya dapat menimbulkan kasus pencemaran logam berat.
Pemaparan timbal dapat menyebabkan efek yang luas, seperti efek terhadap
perkembangan system saraf, mortalilitas (kebanyakan disebabkan oleh penyakit
kardiovaskular),kerusakan pada system ginjal, hipertensi, dan gangguan pada kesuburan. Pada
anak-anak, ditemukan hubungan antara tingkat kadar timbal dalam darah dengan penurunan
intelligence quotient (IQ).
Penelitian ini perlu dilakukan karena ikan nila merupakan salah satu ikan konsumsi pada
masyarakat yang mudah dibudidayakan. Perbedaan adsorbsi limbah logam pada bayi ikan nila
dengan ikan nila dewasa tentu berbeda. Logam berat jenis Pb dan Cu yang merupakan jenis logam
berat berbahaya apabila terakumulasi pada jumlah tinggi menjadi berbahaya bagi biota hidup di
air.

1.2. Rumusan masalah


Masalah yang dikaji pada penelitian ini adalah:
1. Berapa kandungan logam Timbal (Pb) pada bayi ikan nila yang dibudidayakan di
beberapa sawah di kota Malang?
2. Berapa kandungan logam Tembaga (Cu) pada bayi ikan nila yang dibudidayakan di
beberapa sawah di kota Malang?
1.3. Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui jumlah kandungan logam berat Timbal (Pb) pada bayi ikan nila yang
dibudidayakan di sawah yang berada di kota Malang.
2. Mengetahui jumlah kandungan logam berat Tembaga (Cu) pada bayi ikan nila yang
dibudidayakan di sawah yang berada di kota Malang.
1.4. Manfaat
Manfaat dari penelitian ini:
1. Dengan dilakukan penilitian ini dapat menyimpulkan bahwa aman tidaknya budidaya
bayi ikan nila bila dilakukan di Sawah kota Malang untuk konsumsi Masyarakat
2. Hasil dari penilitian ini diharapkan menambah data daerah yang telah tercemar untuk
daerah persawahan.
BAB 2.

TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Penelitian Terdahulu

Dasar atau acuan yang berupa teori-teori atau temuan-temuan melalui hasil berbagai penelitian sebelumnya merupakan hal yang
sangat perlu dan dapat dijadikan sebagai data pendukung. Salah satu data pendukung yang menurut peneliti perlu dijadikan bagian
tersendiri adalah penelitian terdahulu yang relevan dengan permasalahan yang sedang dibahas dalam penelitian ini. Dalam hal ini, fokus
penelitian terdahulu yang dijadikan acuan adalah terkait dengan masalah teknologi informasi. Oleh karena itu, peneliti melakukan
langkah kajian terhadap beberapa hasil penelitian berupa tesis dan jurnal-jurnal melalui internet.

Tabel 2.1

Penelitian Terdahulu

No Peneliti Judul Metode Hasil


1 SHITA FEMALA SHINDU KANDUNGAN LOGAM BERAT Cu, Zn, Metode Atomic Kandungan logam Cu,
Zn, dan Pb di perairan
DAN Pb DALAM AIR, IKAN NILA Absorption Waduk Saguling pada
(Oreochromis niloticus) DAN IKAN MAS Spectrophotometer bulan
Juni secara berurutan
(Cyprinus carpio) DALAM KERAMBA
berkisar antara 0,01-
JARING APUNG, WADUK SAGULING
0,06 ppm, 0,010,08
ppm
2 Mohsen Abdel-Tawwab1 Effect of dietary active charcoal active charcoal Data keseluruhan dari
Gamal O. El-Sayed supplementation on growth performance, percobaan ini
Sherien H. Shady1 biochemical and antioxidant responses, and menunjukkan bahwa
resistance of Nile tilapia, Oreochromis kadar arang aktif
niloticus (L.) to environmental heavy metals ditemukan 7,0 g / kg
exposure diet dengan regresi pas.
Selain itu, suplementasi
arang aktif dapat
meningkatkan aktivitas
antioksidan dan dengan
demikian mengurangi
akumulasi HM di tubuh
ikan
3 Abdulali Taweel, M. Assessment of heavy metals in tilapia fish Metode pencernaan Perbedaan konsentrasi
Shuhaimi-Othman, dan A.K. (Oreochromis niloticus) from the Langat gelombang mikro pada organ ikan nila
Ahmad River and Engineering Lake in Bangi, sangatlah berbeda/
Malaysia, and evaluation of the health risk terlihat dan diantara
from tilapia consumption lokasi yang berbeda.
Sampel hati
mengandung kadar
logam berat tertinggi
dibandingkan
ke insang dan otot.
Pada bagian terpenting
ikan dalam hal
konsumsi manusia
(otot), konsentrasi Cu
pada ikan nila yang
dikumpulkan dari
Sungai Langat lebih
tinggi daripada yang
dikumpulkan dari
Danau Teknik. Untuk
Cd, Zn dan Pb,
tingkatnya lebih tinggi
di Danau Teknik
daripada di Sungai
Langat. Ni ditemukan
pada konsentrasi yang
lebih rendah pada ikan
yang terkumpul
2.2 Tinjauan Obyek Penelitian
2.2.1 Logam Berat

Logam berat adalah logam yang massa atom relatifnya besar (Sunardi 2004).
Menurut Vouk (1986) diacu dalam Martaningtyas (2004), terdapat 80 jenis dari
sejumlah 109 unsur kimia yang telah teridentifikasi di muka bumi ini termasuk ke
dalam jenis logam berat.

Keberadaan logam berat di muka bumi sangat berperan bagi makhluk hidup. Beberapa
logam dibutuhkan dalam tubuh makhluk hidup yang turut mempengaruhi kerja enzim,
seperti logam Zn pada enzim karboksipeptidase yang berfungsi dalam pencernaan
protein, Cu yang berikatan dengan protein juga mempunyai fungsi dalam pembentukan
hemoglobin, kolagen, pembuluh darah pada manusia (Palar 2004). Selain bermanfaat
bagi manusia, juga bermanfaat bagi biota air, beberapa logam yang bersifat essensial
antara lain Ca, P, Mg, merupakan logam yang berguna untuk pembentukan kutikula
atau sisik pada ikan, dan logam Cu, Zn, Mn, dalam jumlah tertentu merupakan logam
yang sangat bermanfaat dalam pembentukkan hemosianin dalam sistem darah dan
enzimatik pada hewan air (Darmono 1995). Logam berat selain berperan dalam tubuh
makhluk hidup juga bermanfaat dalam aktivitas manusia, yang dapat dimanfaatkan
sebagai bahan baku maupun sebagai bahan tambahan dalam kegiatan industri
(http://www.dnet.net.id 2005).

Pemanfaatan logam dalam aktivitas manusia, dapat membahayakan kehidupan


manusia itu sendiri dan lingkungan sekitarnya apabila dalam memanfaatkannya tidak
memperhatikan keseimbangan lingkungan, karena kandungan logam berat yang ada di
lingkungan dapat terakumulasi dalam tubuh makhluk hidup (Martaningtyas 2004).

a. Tembaga (Cu)

Tembaga dengan nama kimia cuprum dilambangkan dengan Cu. Dalam tabel
periodik unsur -unsur kimia, tembaga menempati posisi dengan nomor atom (NA) 29
dan mempunyai bobot atau berat atom (BA) 63,546 (Palar 2004). Logam Cu
digolongkan kedalam kelompok logam penghantar listrik yang terbaik setelah perak,
karena itu logam Cu banyak digunakan dalam bidang elektronika dan perlistrikan.
Dalam bidang industri lainnya, senyawa Cu juga digunakan pada industri cat,
insektisida, dan fungisida (Palar 2004).

Secara alamiah, logam Cu masuk kedalam perairan sebagai akibat peristiwa


erosi dan dari udara yang terbawa oleh air hujan. Sedangkan dari aktivitas manusia
berasal dari limbah industri.

Logam Cu merupakan logam esensial yang bermafaat dalam pembentukan


haemosianin sistem darah dan enzimatik bagi hewan air (Darmono 1995). Namun,
keberadaanya yang tinggi pada perairan dapat berakibat buruk bagi ikan, seperti
menghambat oksidasi asam laktat dalam insang. Konsentrasi Cu dalam badan air bila
berada dalam kisaran 2,5-3,0 ppm akan membunuh ikan yang ada di dalamnya (Jackins
et al 1970; bryan 1976; dan Reisch et.al 1979 diacu dalam Palar 2004). Apabila ikan
yang tercemar logam Cu dikonsumsi oleh manusia akan mengakibatkan pengaruh
buruk bagi kesehatan manusia itu se ndiri. Gejala yang timbul pada manusia akibat
keracunan akut adalah mual, muntah, sakit perut, hemolisis, metrifisis, kejang dan
akhirnya mati. Pada keracunan kronis, logam Cu tertimbun di dalam hati dan
menyebabkan hemolisis. Hemolisis terjadi karena tertimbunnya H2O2 dalam sel darah
merah sehingga terjadi oksidasi dari lapisan sel, akibatnya sel menjadi pecah (Darmono
1995).

b. Timbal (Pb)

Timbal dalam keseharian lebih dikenal timah hitam, dalam bahasa ilmiahnya
dinamankan plumbum, dan logam ini disimbolkan dengan Pb. Logam ini termasuk
dalam kelompok logam golongan IV-A pada tabel periodik unsur kimia mempunyai
nomor atom (NA) 82 dengan bobot atau berat atom (BA) 207,2 (Palar 2004).

Darmono (1995) dan Palar (2004) menjelaskan sifat-sifat timbal sebagai


berikut: 1) Merupakan logam yang lunak; 2) Mempunyai titik lebur yang rendah; 3)
Merupakan logam yang tahan terhadap peristiwa korosi; 4) bila dicampur dengan
logam yang lain membentuk logam campuran yang lebih bagus dari pada logam
murninya; 5) Merupakan penghantar listrik yang tidak baik.

Logam Pb dalam perairan berasal dari debu yang mengandung logam Pb yaitu
dari hasil pembakaran bensin yang mengandung Pb tetra etil, erosi dan limbah industri
(Saeni 1989). Darmono (1995) juga menjelaskan bahwa limbah industri yang
mengandung logam Pb, seperti industri kimia, industri percetakan, dan industri yang
memproduksi logam, dan cat akan menambah kandungan logam Pb dalam perairan
apabila limbah tersebut di buang ke perairan.

Kandungan logam Pb yang tinggi pada perairan juga dapat berakibat buruk
pada biota yang ada di dalamnya. Konsentrasi Pb yang mencapai 188 mg/l, dapat
membunuh ikan (Palar 2004). Logam Pb yang terdapat pada perairan akan
menyebabkan proses bioakumulasi dalam tubuh biota yang ada diperairan, misalnya
ikan. Kandungan logam Pb dalam tubuh akan mengganggu aktivitas enzim, seperti
asam amino levulinat dehidrase (ALAD), Hem sintetase, dan enzim lain yang terlibat
dalam sistem hemotopoietik. Ikan yang mengandung Pb apabila dikonsumsi oleh
manusia akan berdampak buruk bagi manusi tersebut karena logam Pb yang bersifat
akumulatif. Menurut Sunardi (2004), keberadaannya didalam tubuh tidak dapat
dikeluarkan lagi sehingga makin lama jumlahnya semakin meningkat dan menumpuk
di otak, saraf, jantung, hati, dan ginjal yang pada akhirnya dapat menimbulkan
kerusakan jaringan yang ditempatinya. Dijelaskan pula oleh Wirarni (1997) diacu
dalam Novianty (1997), bahwa keracunan logam Pb pada manusia dapat menimbulkan
kemandulan, keguguran dan kematian pada bayi. Batas maksimal logam Pb yang boleh
masuk pada orang dewasa adalah 2 mg/hari.

2.2.2 Klasifikasi dan Morfologi Ikan Nila (Oreochromis niloticus)

Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan genus ikan yang dapat hidup dalam
kondisi lingkungan yang memiliki toleransi tinggi terhadap kualitas air yang rendah,
sering kali ditemukan hidup normal pada habitat-habitat yang ikan dari jenis lain tidak
dapat hidup (Iskandar, 2003). Bentuk badan ikan nila (Oreochromis niloticus) ialah
pipih ke samping memanjang. Mempunyai garis vertikal pada badan sebanyak 911
buah, sedangkan garis-garis pada sirip berwarna merah berjumlah 612 buah. Pada
sirip punggung terdapat juga garis-garis miring. Mata kelihatan menonjol dan relatif
besar dengan bagian tepi mata berwarna putih. Badan relatif lebih tebal dan kekar
dibandingkan ikan mujair. Linea lateralis (gurat sisi di tengah tubuh) terputus dan
dilanjutkan dengan garis yang terletak lebih bawah (Susanto, 2007).

Ikan nila mempunyai mulut yang letaknya terminal, garis rusuk terputus menjadi 2
bagian ekor dan letaknya memanjang dari atas sirip dan dada, bentuk sisik stenoid, sirip
kaudal rata dan terdapat garis-garis tegak lurus. Mempunyai jumlah sisik pada gurat
sisi 34 buah. Sebagian besar tubuh ikanditutupii oleh lapisan kulit dermis yang
memiliki sisik. Sisik ini tersusun seperti genteng rumah, bagian muka sisik menutupi
oleh sisik yang lain (Santoso, 2001).

Berikut kedudukan taksonomiikan nila:

Filum: Chordata

Subfilum: Craniata

Superkelas: Gnathostomata

Kelas: Actinopterygii

Subkelas: Neopterygii

Divisi: Teleostei

Subdivisi: Euteleostei

Superordo: Acanthopterygii

Seri: Percomorpha

Ordo: Perciformes

Subordo: Labroidei
Famili: Cichlidae

Subfamili: Pseudocrenilabrinae

Genus: Oreochromis

Spesies: Oreochromis niloticus (Linnaeus, 1758)

(Nelson (2006), Andy Omar (2012), Froese & Pavly (2017) )

Ikan nila hidup baik di dataran rendah atau di pegunungan dengan kisaran ketinggian
antara 0 1.000 meter di atas permukaan air laut (Asnawi, 1986). Ditambahkan oleh
Sugiarto (1988) bahwa ikan nila merah mempunyai toleransi yang tinggi terhadap
perubahan lingkungan. Sesuai dengan sifat dan daya tahan terhadap perubahan
lingkungan maka ikan nila mudah dipelihara dan dibudidayakan di kolam-kolam
dengan pemberian makanan tambahan berupa pakan buatan (pellet).

Ikan nila tergolong jenis ikan yang cukup digemari baik untuk dibudidayakan maupun
dikonsumsi. Potensi pertumbuhannya yang cepat, bersifat omnivora, dan mudah
berkembang biak membuat ikan ini menjadi salah satu primadona para pembudidaya
ikan. Kecepatan pertumbuhan dan bersifat omnivora membuat ikan nila lebih efisien
dalam penggunaan pakan, sehingga lebih menguntungkan untuk dibudidayakan. Ikan
nila memiliki ciri khas sendiri, berupa garis vertikal di bagian ekor sebanyak enam
hingga delapan buah. Garis-gari vertikal ini juga terdapat di sirip dubur dan sirip
punggung, dan garis inilah yang membedakan antara ikan nila (Oreochromis niloticus)
dengan ikan yang lain.
Gambar 1. Oreochromis niloticus (Sumber: FAO 2012)

Ikan nila merupakan ikan konsumsi yang umum hidup di perairan tawar, terkadang
ikan nila juga ditemukan hidup di perairan yang agak asin (payau). Ikan nila dikenal
sebagai ikan yang bersifat euryhaline (dapat hidup pada kisaran salinitas yang lebar).
Ikan nila mendiami berbagai habitat air tawar, termasuk saluran air yang dangkal,
kolam, sungai dan danau. Ikan nila dapat menjadi masalah sebagai spesies invasif pada
habitat perairan hangat, tetapi sebaliknya pada daerah beriklim sedang karena
ketidakmampuan ikan nila untuk bertahan hidup di perairan dingin, yang umumnya
bersuhu di bawah 21 C (Harrysu, 2012).

Ikan nila memiliki kemampuan menyesuaikan diri yang baik dengan lingkungan
sekitarnya. Ikan ini memiliki toleransi yang tinggi terhadap lingkungan hidupnya,
sehingga bisa dipelihara di dataran rendah yang berair payau maupun dataran yang
tinggi dengan suhu yang rendah. Ikan nila mampu hidup pada suhu 14 - 38oC dengan
suhu terbaik adalah 25- 30oC dan dengan nilai pH air antara 6-8,5. Hal yang paling
berpengaruh dengan pertumbuhannya adalah salinitas atau kadar garam jumlah 0
29 % sebagai kadar maksimal untuk tumbuh dengan baik. Meski nila bisa hidup pada
kadar garam sampai 35% namun ikan sudah tidak dapat tumbuh berkembang dengan
baik (Suyanto, 2003).

Ikan nila merupakan famili Cichlidae yang merupakan jenis ikan paling populer dan
memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Ikan dapat menunjukkan perubahan fisiologis di
dalam jaringan tubuh akibat paparan logam berat (Vinodhini dan Narayanan, 2008).
Selama ini pengembangan budidaya ikan nila tidak banyak mengalami masalah, namun
salah satu masalah yang perlu diperhatikan yaitu masalah pencemaran logam berat
perairan budidaya. Jumlah absorbsi logam dan kandungan logam dalam air biasanya
proporsional, yakni kenaikan kandungan logam dalam jaringan sesuai dengan kenaikan
kandungannya dalam air. Pada logam-logam non esensial (termasuk Pb), kandungan
dalam jaringan naik terus sesuai dengan kenaikan konsentrasi logam dalam air
lingkungannya (Darmono, 1995).

2.1.1 Syarat Hidup Ikan Nila

Secara alami, ikan Nila bisa berpijah sepanjang tahun di daerah tropis. Frekuensi
pemijahan yang terbanyak terjadi pada musim hujan. Di alam, ikan nila bisa berpijah
6-7 kali dalam setahun. Berarti, rata-rata setiap dua bulan sekali, ikan Nila akan
berkembang biak. Ikan ini mencapai stadium dewasa pada umur 4-5 bulan dengan
bobot sekitar 250 g. Masa pemijahan produktif adalah ketika induk berumur 1,5-2
tahun dengan bobot di atas 500 gram/ekor. Seekor ikan Nila betina dengan berat sekitar
800 gram menghasilkan larva sebanyak 1.200 1.500 ekor pada setiap pemijahan. Ikan
Nila memiliki toleransi yang tinggi terhadap lingkungan hidupnya sehingga dapat
dipelihara di dataran rendah yang berair payau hingga dataran tinggi yang berair tawar.
Habitat hidup ikan Nila cukup beragam, dari sungai, danau, waduk, rawa, sawah, kolam,
hingga tambak. Ikan Nila dapat tumbuh secara normal pada kisaran suhu 14-38oC dan
dapat memijah secara alami pada suhu 22-37oC. Untuk pertumbuhan dan
perkembangbiakan, suhu optimum bagi ikan nila adalah 25-30oC. Pertumbuhan ikan
Nila biasanya terganggu jika habitatnya lebih rencan dari 14oC atau pada suhu tinggi
38oC dan mengalami kematian pada suhu 6oC atau 42oC (Amri & Khairuman, 2003).

Ikan Nila memiliki toleransi tinggi terhadap perubahan lingkungan hidup. Keadaan pH
air antara 5 11 dapat ditoleransi oleh ikan Nila, tetapi pH optimal untuk
perkembangan dan pertumbuhan ikan ini adalah 7 8. ikan Nila masih dapat tumbuh
dalam keadaan air asin pada kadar salinitas 0 35 permil. Oleh karena itu, ikan Nila
dapat dibudidayakan di perairan payau, tambak, dan perairan laut, terutama untuk
tujuan usaha pembesaran. (Rukmana, 1997).

2.1.2 Jenis Ikan Nila

Ada banyak jenis ikan Nila. Umumnya, berbagai jenis ikan Nila itu banyak ditemukan
di perairan umum Afrika dan sebagian di berbagai negara. Dari berbagai jenis ikan Nila
yang ada, tiga jenis di antaranya merupakan ikan Nila yang produktif dan banyak
dibudidayakan masyarakat, terutama di negara-negara berkembang, termasuk
Indonesia. Ketiga jenis ikan Nila tersebut adalah Nila lokal, Nila GIFT, dan Nila merah.
Jenis lain yang tergolong ikan Nila varietas baru adalah Nila TA.Ikan nila hidup di
perairan yang dalam dan luas maupun di kolam yang sempit dan dangkal, seperti sungai,
waduk, rawa, tambak air payau. Ikan nila hidup pada nilai pH berkisar antara 68,5
namun pertumbuhannya akan optimal pada pH 78 dan pada suhu 2530 0C (Suyanto
2003).

2.3 Landasan Teori Terkait Parameter-parameter yang diteliti

2.3.1 Akumulasi Logam Berat dalam Tubuh Ikan

Simkis (1984) diacu dalam Darmono (1995) mengelompokan logam dalam tubuh
sebagai berikut: logam-logam ringan seperti Na, K, Ca, dan Mg merupakan logam
berat dalam kelompok A yang keterlibatan ion logamnya dalam makhluk hidup
menyangkut proses fisiologis. Logam berat yang dimasukan dalam kelompok B
merupakan logam-logam yang terlibat dalam proses-proses enzimatik dan
menimbulkan polusi, misalnya Cu, Zn, Cd, Hg, dan Pb. Aktivitas dari logam kelas A
masuk ke dalam tubuh hewan biasanya dengan cara difusi membran sel, sedangkan
kelas B terikat dengan protein.

Absorpsi logam, selain masuk melalui insang dapat masuk melalui kulit
(kutikula) dan lapisan mukosa (Darmono 1995). Faktor yang mempengaruhi
toksisitas logam berat dalam perairan terhadap makhluk hidup antara lain, perubahan
dalam siklus hidup, umur dan ukuran tubuh, jenis kelamin, pengaruh lapar dan
aktivitas, serta kemampuan adaptasi terhadap logam itu sendiri (Bryan 1976 diacu
dalam Connell and Miller 1995). Menurut Simkiss and Mason (1983) diacu dalam
Akbar (2002), logam masuk ke dalam jaringan tubuh biota secara umum melalui tiga
cara, yaitu:

1. Endositosis dimana pengambilan partikel dari permukaan sel dengan


membentuk wahana perpindahan oleh membran plasma. Proses ini sepertinya
berperan dalam pengambilan logam berat dalam bentuk tidak terlarut.
2. Diserap dari air. Sembilan puluh persen kandungan logam dalam jaringan
berasal dari penyerapan oleh sel epitel insang. Insang diduga sebagai organ
yang menyerap logam berat dari air.
3. Diserap dari makanan dan sedimen. Penyerapan logam berat dari makanan dan
sedimen oleh biota bergantung pada strategi mendapatkan makanan.

Hubungan antara jumlah absorpsi logam dan kandungan logam dalam air biasanya
secara proporsional, dimana kenaikan kandungan logam dalam jaringan sesuai dengan
kenaikan kandungan logam dalam air. Pada logam-logam esensial kandungannya
dalam jaringan biasanya melalui regulasi (diatur pada batas-batas konsentrasi tertentu
kandungan logam konstan), tetapi pada logam-logam non esensial kandungan logam
tersebut dalam jaringan naik terus sesuai dengan kenaikan konsentrasi logam dalam air
lingkungannya (non regulasi) (Darmono 1995).

Dalam lingkungan perairan bentuk logam antara lain berupa ion-ion bebas,
pasangan ion organik, dan ion komplek. Kelarutan logam dalam air dikontrol oleh
beberapa parameter fisika dan kimia seperti: suhu, pH, oksigen terlarut dan alkalinitas
(Darmono 1995). Se makin tinggi nilai alkalinitas dapat menurunkan toksisitas logam
berat seperti tembaga (Cu) sedangkan pada pH yang asam dapat meningkatan
pelarutan seng (Zn) dalam air dan toksisitas Zn juga akan meningkat dengan
meningkatnya suhu dan menurunnya oksigen terlarut. Begitu juga dengan tembaga
(Pb), toksisitas tembaga akan meningkat dengan menurunnya oksigen terlarut
(Effendi 2003).

a. Suhu

Suhu suatu badan air dipengaruhi oleh musim, lintang (latitude), ketinggian dari
permukaan laut (altitude), waktu dalam hari, sirkulasi udara, penutupan awan, dan
aliran serta kedalaman badan air (Effendi 2003). Haslam (1995) diacu dalam Effendi
(2003) menyatakan bahwa peningkatan suhu menyebabkan penurunan kelarutan gas
dalam air, misalnya gas O2, CO2, N2, CH4, dan sebagainya. Selain itu peningkatan
suhu juga menyebabkan peningkatan kecepatan metabolisme dan respirasi organisme
air yang selanjutnya mengakibatkan peningkatan konsumsi oksigen. Pada
peningkatan suhu perairan sebesar 10 0C menyebabkan peningkatan konsumsi
oksigen oleh organisme akuatik sekitar 2-3 kali lipat. Namun, peningkatan suhu ini
disertai dengan penurunan kadar oksigen terlarut sehingga keberadaan oksigen
seringkali tidak mampu memenuhi kebutuhan oksigen bagi organisme akuatik untuk
melakukan proses metabolisme dan respirasi (Effendi 2003). Apabila perairan
tercemar oleh logam berat, maka sifat toksisitas dari logam berat terhadap biota air
akan semakin meningkat seiring meningkatnya suhu.

b. pH

Derajat Keasaman (PH) menunjukkan kekuatan antara asam dan basa dalam air, juga
dapat diartikan dengan kadar konsenstrasi ion hodrogen dalam larutan (Priyono
1994). Pescod (1973) menyatakan pH perairan dipengaruhi oleh suhu, fotosintesis,
respirasi, oksigen terlarut, dan keberadaan ion-ion dalam perairan tersebut.
(Mackereth (1989) diacu dalam Effendi (2003), berpendapat bahwa pH berkaitan erat
dengan karbondioksida dan alkalinitas. Semakin tinggi nilai pH semakin tinggi pula
alkalinitas dan semakin rendah karbondioksida bebas, bahkan pada pH<5, alkalinitas
dapat mencapai nol. Kelarutan logam dalam air juga dikontrol oleh pH air. Kenaikan
pH air akan menurunkan kelarutan logam dalam air, karena kenaikan pH mengubah
kestabilkan dari bentuk karbonat menjadi hidroksida yang membentuk ikatan dengan
partikel pada badan air sehingga akan mengendap membentuk lumpur. pH juga
mempengaruhi toksisitas suatu senyawa kimia, seperti logam berat. Menurut Novotny
and Olem (1994) diacu dalam Effendi (2003) menyatakan bahwa toksisitas logam
memperlihatkan peningkatan pada pH yang rendah.

c. Alkalinitas

Alkalinitas atau kebasaan adalah suatu pengukuran terhadap kapasitas suatu badan air
untuk menetralkan suatu asam (Priyono 1994). Penyusun utama alkalinitas dalam
perairan tawar terdiri dari kalsium dan magnesium sebagai kation sedangkan anion
terdiri dari bikarbonat dan karbonat. Alkalinitas dihasilkan dari karbon dioksida dan
air yang dapat melarutkan sedimen batuan karbonat manjadi bikarbonat (Effendi
2003).

2.4 Tinjauan Metode


2.2.1 Spektrometri Serapan Atom
Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS) atau biasa disebut dengan
Spektrometri Serapan Atom (SSA) adalah suatu alat yang digunakan pada metode
analisis untuk penentuan unsur-unsur logam dan metalloid yang pengukurannya
berdasarkan penyerapan cahaya dengan panjang gelombang tertentu oleh atom logam
dalam keadaan bebas (Skoog et al., 2000). Metode ini sangat tepat untuk analisis zat
pada konsentrasi rendah. Teknik ini mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan
dengan metode spektroskopi emisi konvensional. Sebenarnya selain dengan metode
serapan atom, unsur-unsur dengan energi eksitasi rendah dapat juga dianalisis dengan
fotometri nyala, akan tetapi fotometri nyala tidak cocok untuk unsur-unsur dengan
energy eksitasi tinggi. Fotometri nyala memiliki range ukur optimum pada panjang
gelombang 400-800 nm, sedangkan AAS memiliki range ukur optimum pada panjang
gelombang 200-300 nm (Skoog et al.,2000). AAS berprinsip pada absorpsi cahaya oleh
atom. Atom-atom menyerap cahaya tersebut pada panjang gelombang tertentu,
tergantung pada sifat unsurnya Spektrometri Serapan Atom (SSA) meliputi absorpsi
sinar oleh atom-atom netral unsur logam yang masih berada dalam keadaan dasarnya
(Ground state). Sinar yang diserap biasanya ialah sinar ultra violet dan sinar tampak.
Prinsip Spektrometri Serapan Atom (SSA) pada dasarnya sama seperti absorpsi sinar
oleh molekul atau ion senyawa dalam larutan. Prinsip pemeriksaan spektrofotometer
serapan atom yaitu molekul sampel diubah menjadi atom-atom bebas dengan bantuan
nyala atau flame. Atom-atom akan mengabsorbsi cahaya yang sesuai dengan panjang
gelombang dari atom tersebut dan intensitas cahaya yang diserap sebanding dengan
panjang gelombang dari atom tersebut serta intensitas cahaya yang diserap sebanding
dengan banyaknya cahaya. Waktu pengujian dengan instrumen AAS lebih cepat
dibandingkan dengan metode pengujian gravimetrik dan titrimetri, karena preparasi
sampel lebih cepat, yakni disediakan dalam larutan kemudian dimasukkan untuk
dibakar (Chasteen 2007).

Gambar 4. Skema cara kerja AAS. (Sumber : Sumar. 2004)

Spektrometri Serapan Atom (SSA) adalah suatu alat yang digunakan pada metode
analisis untuk penentuan unsur-unsur logam dan metalloid yang pengukurannya
berdasarkan penyerapan cahaya dengan panjang gelombang tertentu oleh atom logam
dalam keadaan bebas (Skooget al., 2000). Metode ini sangat tepat untuk analisis zat
pada konsentrasi rendah. Teknik ini mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan
dengan metode spektroskopi emisi konvensional. Beberapa kelebihan AAS, sebagai
berikut (Sumar, 2004):

a. Spesifik
b. Batas (limit) deteksi yang rendah
c. Dari satu larutan yang sama, beberapa unsure yang berlainan dapat diukur
d. Pengukuran dapat langsung dilakukan terhadap larutan contoh, jadi berbeda
dengan kalorimetri (yang membutuhkan pembentukan senyawa berwarna),
gravimetri (dimana endapan perlu dikeringkan dulu) dsb. Jadi preparasi contoh
sebelum pengukuran adalah sederhana.
e. Output data (adsorbance) dapat dibaca langsung
f. Dapat diaplikasikan kepada banyak jenis unsur dalam banyak jenis contoh
g. Batas kadar-kadar yang dapat ditentukan adalah amat luas (ppm hingga %).

Dalam soal harga maka metode dalam instrumentasi AAS berada ditengah-tengah
(antara yang termurah seperti kolorimetri, gravimetric dsb, dan yang mahal seperti
spectrometer emisi dengan automatic direct reading atau XRF dsb). Namun
instrumentasi AAS dapat bertambah mahal apabila dilengkapi dengan misalnya printer,
automatic sampler, penyimpanan data (dengan microprocessor) dsb.Dalam
laboratorium yang biasa menganalisa unsur-unsur logam, maka metode AAS ternyata
telah banyak membantu dalam penyederhanaan prosedur dan pengurangan waktu
analisa dari pada masa-masa sebelumnya. Keuntungan metode AAS dibandingkan
dengan spektrofotometer biasa yaitu spesifik, batas deteksi yang rendah dari larutan
yang sama bisa mengukur unsur-unsur yang berlainan, pengukurannya langsung
terhadap contoh, output dapat langsung dibaca, cukup ekonomis, dapat diaplikasikan
pada banyak jenis unsur, batas kadar penentuan luas (dari ppm sampai %) (Sumar,
2004)