Anda di halaman 1dari 15

BAB II.

TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Penelitian Terdahulu

Dasar atau acuan yang berupa teori-teori atau temuan-temuan melalui hasil berbagai penelitian sebelumnya merupakan hal yang
sangat perlu dan dapat dijadikan sebagai data pendukung. Salah satu data pendukung yang menurut peneliti perlu dijadikan bagian
tersendiri adalah penelitian terdahulu yang relevan dengan permasalahan yang sedang dibahas dalam penelitian ini. Dalam hal ini, fokus
penelitian terdahulu yang dijadikan acuan adalah terkait dengan masalah teknologi informasi. Oleh karena itu, peneliti melakukan
langkah kajian terhadap beberapa hasil penelitian berupa tesis dan jurnal-jurnal melalui internet.

Tabel 2.1

Penelitian Terdahulu

No Peneliti Judul Metode Hasil


1 SHITA FEMALA SHINDU KANDUNGAN LOGAM BERAT Cu, Zn, Metode Atomic Kandungan logam Cu,
Zn, dan Pb di perairan
DAN Pb DALAM AIR, IKAN NILA Absorption Waduk Saguling pada
(Oreochromis niloticus) DAN IKAN MAS Spectrophotometer bulan
Juni secara berurutan
(Cyprinus carpio) DALAM KERAMBA
berkisar antara 0,01-
JARING APUNG, WADUK SAGULING
0,06 ppm, 0,010,08
ppm
2 Mohsen Abdel-Tawwab1 Effect of dietary active charcoal active charcoal Data keseluruhan dari
Gamal O. El-Sayed supplementation on growth performance, percobaan ini
Sherien H. Shady1 biochemical and antioxidant responses, and menunjukkan bahwa
resistance of Nile tilapia, Oreochromis kadar arang aktif
niloticus (L.) to environmental heavy metals ditemukan 7,0 g / kg
exposure diet dengan regresi pas.
Selain itu, suplementasi
arang aktif dapat
meningkatkan aktivitas
antioksidan dan dengan
demikian mengurangi
akumulasi HM di tubuh
ikan
3 Abdulali Taweel, M. Assessment of heavy metals in tilapia fish Metode pencernaan Perbedaan konsentrasi
Shuhaimi-Othman, dan A.K. (Oreochromis niloticus) from the Langat gelombang mikro pada organ ikan nila
Ahmad River and Engineering Lake in Bangi, sangatlah berbeda/
Malaysia, and evaluation of the health risk terlihat dan diantara
from tilapia consumption lokasi yang berbeda.
Sampel hati
mengandung kadar
logam berat tertinggi
dibandingkan
ke insang dan otot.
Pada bagian terpenting
ikan dalam hal
konsumsi manusia
(otot), konsentrasi Cu
pada ikan nila yang
dikumpulkan dari
Sungai Langat lebih
tinggi daripada yang
dikumpulkan dari
Danau Teknik. Untuk
Cd, Zn dan Pb,
tingkatnya lebih tinggi
di Danau Teknik
daripada di Sungai
Langat. Ni ditemukan
pada konsentrasi yang
lebih rendah pada ikan
yang terkumpul
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Shita Femala Shindu

2.2 Tinjauan Obyek Penelitian


2.2.1 Logam Berat

Logam berat adalah logam yang massa atom relatifnya besar (Sunardi 2004). Menurut
Vouk (1986) diacu dalam Martaningtyas (2004), terdapat 80 jenis dari sejumlah 109 unsur kimia
yang telah teridentifikasi di muka bumi ini termasuk ke dalam jenis logam berat.

Keberadaan logam berat di muka bumi sangat berperan bagi makhluk hidup. Beberapa logam
dibutuhkan dalam tubuh makhluk hidup yang turut mempengaruhi kerja enzim, seperti logam Zn
pada enzim karboksipeptidase yang berfungsi dalam pencernaan protein, Cu yang berikatan
dengan protein juga mempunyai fungsi dalam pembentukan hemoglobin, kolagen, pembuluh
darah pada manusia (Palar 2004). Selain bermanfaat bagi manusia, juga bermanfaat bagi biota air,
beberapa logam yang bersifat essensial antara lain Ca, P, Mg, merupakan logam yang berguna
untuk pembentukan kutikula atau sisik pada ikan, dan logam Cu, Zn, Mn, dalam jumlah tertentu
merupakan logam yang sangat bermanfaat dalam pembentukkan hemosianin dalam sistem darah
dan enzimatik pada hewan air (Darmono 1995). Logam berat selain berperan dalam tubuh makhluk
hidup juga bermanfaat dalam aktivitas manusia, yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku
maupun sebagai bahan tambahan dalam kegiatan industri (http://www.dnet.net.id 2005).

Pemanfaatan logam dalam aktivitas manusia, dapat membahayakan kehidupan manusia itu
sendiri dan lingkungan sekitarnya apabila dalam memanfaatkannya tidak memperhatikan
keseimbangan lingkungan, karena kandungan logam berat yang ada di lingkungan dapat
terakumulasi dalam tubuh makhluk hidup (Martaningtyas 2004).

a. Tembaga (Cu)

Tembaga dengan nama kimia cuprum dilambangkan dengan Cu. Dalam tabel periodik
unsur -unsur kimia, tembaga menempati posisi dengan nomor atom (NA) 29 dan mempunyai bobot
atau berat atom (BA) 63,546 (Palar 2004). Logam Cu digolongkan kedalam kelompok logam
penghantar listrik yang terbaik setelah perak, karena itu logam Cu banyak digunakan dalam bidang
elektronika dan perlistrikan. Dalam bidang industri lainnya, senyawa Cu juga digunakan pada
industri cat, insektisida, dan fungisida (Palar 2004).
Secara alamiah, logam Cu masuk kedalam perairan sebagai akibat peristiwa erosi dan dari
udara yang terbawa oleh air hujan. Sedangkan dari aktivitas manusia berasal dari limbah industri.

Logam Cu merupakan logam esensial yang bermafaat dalam pembentukan haemosianin


sistem darah dan enzimatik bagi hewan air (Darmono 1995). Namun, keberadaanya yang tinggi
pada perairan dapat berakibat buruk bagi ikan, seperti menghambat oksidasi asam laktat dalam
insang. Konsentrasi Cu dalam badan air bila berada dalam kisaran 2,5-3,0 ppm akan membunuh
ikan yang ada di dalamnya (Jackins et al 1970; bryan 1976; dan Reisch et.al 1979 diacu dalam
Palar 2004). Apabila ikan yang tercemar logam Cu dikonsumsi oleh manusia akan mengakibatkan
pengaruh buruk bagi kesehatan manusia itu se ndiri. Gejala yang timbul pada manusia akibat
keracunan akut adalah mual, muntah, sakit perut, hemolisis, metrifisis, kejang dan akhirnya mati.
Pada keracunan kronis, logam Cu tertimbun di dalam hati dan menyebabkan hemolisis. Hemolisis
terjadi karena tertimbunnya H2O2 dalam sel darah merah sehingga terjadi oksidasi dari lapisan sel,
akibatnya sel menjadi pecah (Darmono 1995).

b. Timbal (Pb)

Timbal dalam keseharian lebih dikenal timah hitam, dalam bahasa ilmiahnya dinamankan
plumbum, dan logam ini disimbolkan dengan Pb. Logam ini termasuk dalam kelompok logam
golongan IV-A pada tabel periodik unsur kimia mempunyai nomor atom (NA) 82 dengan bobot
atau berat atom (BA) 207,2 (Palar 2004).

Darmono (1995) dan Palar (2004) menjelaskan sifat-sifat timbal sebagai berikut: 1)
Merupakan logam yang lunak; 2) Mempunyai titik lebur yang rendah; 3) Merupakan logam yang
tahan terhadap peristiwa korosi; 4) bila dicampur dengan logam yang lain membentuk logam
campuran yang lebih bagus dari pada logam murninya; 5) Merupakan penghantar listrik yang tidak
baik.

Logam Pb dalam perairan berasal dari debu yang mengandung logam Pb yaitu dari hasil
pembakaran bensin yang mengandung Pb tetra etil, erosi dan limbah industri (Saeni 1989).
Darmono (1995) juga menjelaskan bahwa limbah industri yang mengandung logam Pb, seperti
industri kimia, industri percetakan, dan industri yang memproduksi logam, dan cat akan
menambah kandungan logam Pb dalam perairan apabila limbah tersebut di buang ke perairan.
Kandungan logam Pb yang tinggi pada perairan juga dapat berakibat buruk pada biota yang
ada di dalamnya. Konsentrasi Pb yang mencapai 188 mg/l, dapat membunuh ikan (Palar 2004).
Logam Pb yang terdapat pada perairan akan menyebabkan proses bioakumulasi dalam tubuh biota
yang ada diperairan, misalnya ikan. Kandungan logam Pb dalam tubuh akan mengganggu aktivitas
enzim, seperti asam amino levulinat dehidrase (ALAD), Hem sintetase, dan enzim lain yang
terlibat dalam sistem hemotopoietik. Ikan yang mengandung Pb apabila dikonsumsi oleh manusia
akan berdampak buruk bagi manusi tersebut karena logam Pb yang bersifat akumulatif. Menurut
Sunardi (2004), keberadaannya didalam tubuh tidak dapat dikeluarkan lagi sehingga makin lama
jumlahnya semakin meningkat dan menumpuk di otak, saraf, jantung, hati, dan ginjal yang pada
akhirnya dapat menimbulkan kerusakan jaringan yang ditempatinya. Dijelaskan pula oleh Wirarni
(1997) diacu dalam Novianty (1997), bahwa keracunan logam Pb pada manusia dapat
menimbulkan kemandulan, keguguran dan kematian pada bayi. Batas maksimal logam Pb yang
boleh masuk pada orang dewasa adalah 2 mg/hari.

2.2.2 Klasifikasi dan Morfologi Ikan Nila (Oreochromis niloticus)

Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan genus ikan yang dapat hidup dalam kondisi
lingkungan yang memiliki toleransi tinggi terhadap kualitas air yang rendah, sering kali ditemukan
hidup normal pada habitat-habitat yang ikan dari jenis lain tidak dapat hidup (Iskandar, 2003).
Bentuk badan ikan nila (Oreochromis niloticus) ialah pipih ke samping memanjang. Mempunyai
garis vertikal pada badan sebanyak 911 buah, sedangkan garis-garis pada sirip berwarna merah
berjumlah 612 buah. Pada sirip punggung terdapat juga garis-garis miring. Mata kelihatan
menonjol dan relatif besar dengan bagian tepi mata berwarna putih. Badan relatif lebih tebal dan
kekar dibandingkan ikan mujair. Linea lateralis (gurat sisi di tengah tubuh) terputus dan
dilanjutkan dengan garis yang terletak lebih bawah (Susanto, 2007).

Ikan nila mempunyai mulut yang letaknya terminal, garis rusuk terputus menjadi 2 bagian ekor
dan letaknya memanjang dari atas sirip dan dada, bentuk sisik stenoid, sirip kaudal rata dan
terdapat garis-garis tegak lurus. Mempunyai jumlah sisik pada gurat sisi 34 buah. Sebagian besar
tubuh ikanditutupii oleh lapisan kulit dermis yang memiliki sisik. Sisik ini tersusun seperti genteng
rumah, bagian muka sisik menutupi oleh sisik yang lain (Santoso, 2001).

Berikut kedudukan taksonomiikan nila:


Filum: Chordata

Subfilum: Craniata

Superkelas: Gnathostomata

Kelas: Actinopterygii

Subkelas: Neopterygii

Divisi: Teleostei

Subdivisi: Euteleostei

Superordo: Acanthopterygii

Seri: Percomorpha

Ordo: Perciformes

Subordo: Labroidei

Famili: Cichlidae

Subfamili: Pseudocrenilabrinae

Genus: Oreochromis

Spesies: Oreochromis niloticus (Linnaeus, 1758)

(Nelson (2006), Andy Omar (2012), Froese & Pavly (2017) )

Ikan nila hidup baik di dataran rendah atau di pegunungan dengan kisaran ketinggian antara 0
1.000 meter di atas permukaan air laut (Asnawi, 1986). Ditambahkan oleh Sugiarto (1988) bahwa
ikan nila merah mempunyai toleransi yang tinggi terhadap perubahan lingkungan. Sesuai dengan
sifat dan daya tahan terhadap perubahan lingkungan maka ikan nila mudah dipelihara dan
dibudidayakan di kolam-kolam dengan pemberian makanan tambahan berupa pakan buatan
(pellet).

Ikan nila tergolong jenis ikan yang cukup digemari baik untuk dibudidayakan maupun dikonsumsi.
Potensi pertumbuhannya yang cepat, bersifat omnivora, dan mudah berkembang biak membuat
ikan ini menjadi salah satu primadona para pembudidaya ikan. Kecepatan pertumbuhan dan
bersifat omnivora membuat ikan nila lebih efisien dalam penggunaan pakan, sehingga lebih
menguntungkan untuk dibudidayakan. Ikan nila memiliki ciri khas sendiri, berupa garis vertikal
di bagian ekor sebanyak enam hingga delapan buah. Garis-gari vertikal ini juga terdapat di sirip
dubur dan sirip punggung, dan garis inilah yang membedakan antara ikan nila (Oreochromis
niloticus) dengan ikan yang lain.

Gambar 1. Oreochromis niloticus (Sumber: FAO 2012)

Ikan nila merupakan ikan konsumsi yang umum hidup di perairan tawar, terkadang ikan nila juga
ditemukan hidup di perairan yang agak asin (payau). Ikan nila dikenal sebagai ikan yang bersifat
euryhaline (dapat hidup pada kisaran salinitas yang lebar). Ikan nila mendiami berbagai habitat air
tawar, termasuk saluran air yang dangkal, kolam, sungai dan danau. Ikan nila dapat menjadi
masalah sebagai spesies invasif pada habitat perairan hangat, tetapi sebaliknya pada daerah
beriklim sedang karena ketidakmampuan ikan nila untuk bertahan hidup di perairan dingin, yang
umumnya bersuhu di bawah 21 C (Harrysu, 2012).
Ikan nila memiliki kemampuan menyesuaikan diri yang baik dengan lingkungan sekitarnya. Ikan
ini memiliki toleransi yang tinggi terhadap lingkungan hidupnya, sehingga bisa dipelihara di
dataran rendah yang berair payau maupun dataran yang tinggi dengan suhu yang rendah. Ikan nila
mampu hidup pada suhu 14 - 38oC dengan suhu terbaik adalah 25- 30oC dan dengan nilai pH air
antara 6-8,5. Hal yang paling berpengaruh dengan pertumbuhannya adalah salinitas atau kadar
garam jumlah 0 29 % sebagai kadar maksimal untuk tumbuh dengan baik. Meski nila bisa hidup
pada kadar garam sampai 35% namun ikan sudah tidak dapat tumbuh berkembang dengan baik
(Suyanto, 2003).

Ikan nila merupakan famili Cichlidae yang merupakan jenis ikan paling populer dan memiliki nilai
ekonomis yang tinggi. Ikan dapat menunjukkan perubahan fisiologis di dalam jaringan tubuh
akibat paparan logam berat (Vinodhini dan Narayanan, 2008). Selama ini pengembangan budidaya
ikan nila tidak banyak mengalami masalah, namun salah satu masalah yang perlu diperhatikan
yaitu masalah pencemaran logam berat perairan budidaya. Jumlah absorbsi logam dan kandungan
logam dalam air biasanya proporsional, yakni kenaikan kandungan logam dalam jaringan sesuai
dengan kenaikan kandungannya dalam air. Pada logam-logam non esensial (termasuk Pb),
kandungan dalam jaringan naik terus sesuai dengan kenaikan konsentrasi logam dalam air
lingkungannya (Darmono, 1995).

2.1.1 Syarat Hidup Ikan Nila

Secara alami, ikan Nila bisa berpijah sepanjang tahun di daerah tropis. Frekuensi pemijahan yang
terbanyak terjadi pada musim hujan. Di alam, ikan nila bisa berpijah 6-7 kali dalam setahun.
Berarti, rata-rata setiap dua bulan sekali, ikan Nila akan berkembang biak. Ikan ini mencapai
stadium dewasa pada umur 4-5 bulan dengan bobot sekitar 250 g. Masa pemijahan produktif
adalah ketika induk berumur 1,5-2 tahun dengan bobot di atas 500 gram/ekor. Seekor ikan Nila
betina dengan berat sekitar 800 gram menghasilkan larva sebanyak 1.200 1.500 ekor pada setiap
pemijahan. Ikan Nila memiliki toleransi yang tinggi terhadap lingkungan hidupnya sehingga dapat
dipelihara di dataran rendah yang berair payau hingga dataran tinggi yang berair tawar. Habitat
hidup ikan Nila cukup beragam, dari sungai, danau, waduk, rawa, sawah, kolam, hingga tambak.
Ikan Nila dapat tumbuh secara normal pada kisaran suhu 14-38oC dan dapat memijah secara alami
pada suhu 22-37oC. Untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan, suhu optimum bagi ikan nila
adalah 25-30oC. Pertumbuhan ikan Nila biasanya terganggu jika habitatnya lebih rencan dari 14oC
atau pada suhu tinggi 38oC dan mengalami kematian pada suhu 6oC atau 42oC (Amri &
Khairuman, 2003).

Ikan Nila memiliki toleransi tinggi terhadap perubahan lingkungan hidup. Keadaan pH air antara
5 11 dapat ditoleransi oleh ikan Nila, tetapi pH optimal untuk perkembangan dan pertumbuhan
ikan ini adalah 7 8. ikan Nila masih dapat tumbuh dalam keadaan air asin pada kadar salinitas 0
35 permil. Oleh karena itu, ikan Nila dapat dibudidayakan di perairan payau, tambak, dan
perairan laut, terutama untuk tujuan usaha pembesaran. (Rukmana, 1997).

2.1.2 Jenis Ikan Nila

Ada banyak jenis ikan Nila. Umumnya, berbagai jenis ikan Nila itu banyak ditemukan di perairan
umum Afrika dan sebagian di berbagai negara. Dari berbagai jenis ikan Nila yang ada, tiga jenis
di antaranya merupakan ikan Nila yang produktif dan banyak dibudidayakan masyarakat, terutama
di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Ketiga jenis ikan Nila tersebut adalah Nila
lokal, Nila GIFT, dan Nila merah. Jenis lain yang tergolong ikan Nila varietas baru adalah Nila
TA.Ikan nila hidup di perairan yang dalam dan luas maupun di kolam yang sempit dan dangkal,
seperti sungai, waduk, rawa, tambak air payau. Ikan nila hidup pada nilai pH berkisar antara 68,5
namun pertumbuhannya akan optimal pada pH 78 dan pada suhu 2530 0C (Suyanto 2003).

2.3 Landasan Teori Terkait Parameter-parameter yang diteliti

2.3.1 Akumulasi Logam Berat dalam Tubuh Ikan

Simkis (1984) diacu dalam Darmono (1995) mengelompokan logam dalam tubuh sebagai
berikut: logam-logam ringan seperti Na, K, Ca, dan Mg merupakan logam berat dalam kelompok
A yang keterlibatan ion logamnya dalam makhluk hidup menyangkut proses fisiologis. Logam
berat yang dimasukan dalam kelompok B merupakan logam-logam yang terlibat dalam proses-
proses enzimatik dan menimbulkan polusi, misalnya Cu, Zn, Cd, Hg, dan Pb. Aktivitas dari
logam kelas A masuk ke dalam tubuh hewan biasanya dengan cara difusi membran sel,
sedangkan kelas B terikat dengan protein.

Absorpsi logam, selain masuk melalui insang dapat masuk melalui kulit (kutikula) dan
lapisan mukosa (Darmono 1995). Faktor yang mempengaruhi toksisitas logam berat dalam
perairan terhadap makhluk hidup antara lain, perubahan dalam siklus hidup, umur dan ukuran
tubuh, jenis kelamin, pengaruh lapar dan aktivitas, serta kemampuan adaptasi terhadap logam itu
sendiri (Bryan 1976 diacu dalam Connell and Miller 1995). Menurut Simkiss and Mason (1983)
diacu dalam Akbar (2002), logam masuk ke dalam jaringan tubuh biota secara umum melalui
tiga cara, yaitu:

1. Endositosis dimana pengambilan partikel dari permukaan sel dengan membentuk wahana
perpindahan oleh membran plasma. Proses ini sepertinya berperan dalam pengambilan
logam berat dalam bentuk tidak terlarut.
2. Diserap dari air. Sembilan puluh persen kandungan logam dalam jaringan berasal dari
penyerapan oleh sel epitel insang. Insang diduga sebagai organ yang menyerap logam berat
dari air.
3. Diserap dari makanan dan sedimen. Penyerapan logam berat dari makanan dan sedimen
oleh biota bergantung pada strategi mendapatkan makanan.

Hubungan antara jumlah absorpsi logam dan kandungan logam dalam air biasanya secara
proporsional, dimana kenaikan kandungan logam dalam jaringan sesuai dengan kenaikan
kandungan logam dalam air. Pada logam-logam esensial kandungannya dalam jaringan biasanya
melalui regulasi (diatur pada batas-batas konsentrasi tertentu kandungan logam konstan), tetapi
pada logam-logam non esensial kandungan logam tersebut dalam jaringan naik terus sesuai dengan
kenaikan konsentrasi logam dalam air lingkungannya (non regulasi) (Darmono 1995).

Dalam lingkungan perairan bentuk logam antara lain berupa ion-ion bebas, pasangan ion
organik, dan ion komplek. Kelarutan logam dalam air dikontrol oleh beberapa parameter fisika
dan kimia seperti: suhu, pH, oksigen terlarut dan alkalinitas (Darmono 1995). Se makin tinggi
nilai alkalinitas dapat menurunkan toksisitas logam berat seperti tembaga (Cu) sedangkan pada
pH yang asam dapat meningkatan pelarutan seng (Zn) dalam air dan toksisitas Zn juga akan
meningkat dengan meningkatnya suhu dan menurunnya oksigen terlarut. Begitu juga dengan
tembaga (Pb), toksisitas tembaga akan meningkat dengan menurunnya oksigen terlarut (Effendi
2003).

a. Suhu
Suhu suatu badan air dipengaruhi oleh musim, lintang (latitude), ketinggian dari permukaan laut
(altitude), waktu dalam hari, sirkulasi udara, penutupan awan, dan aliran serta kedalaman badan
air (Effendi 2003). Haslam (1995) diacu dalam Effendi (2003) menyatakan bahwa peningkatan
suhu menyebabkan penurunan kelarutan gas dalam air, misalnya gas O2, CO2, N2, CH4, dan
sebagainya. Selain itu peningkatan suhu juga menyebabkan peningkatan kecepatan metabolisme
dan respirasi organisme air yang selanjutnya mengakibatkan peningkatan konsumsi oksigen.
Pada peningkatan suhu perairan sebesar 10 0C menyebabkan peningkatan konsumsi oksigen oleh
organisme akuatik sekitar 2-3 kali lipat. Namun, peningkatan suhu ini disertai dengan penurunan
kadar oksigen terlarut sehingga keberadaan oksigen seringkali tidak mampu memenuhi
kebutuhan oksigen bagi organisme akuatik untuk melakukan proses metabolisme dan respirasi
(Effendi 2003). Apabila perairan tercemar oleh logam berat, maka sifat toksisitas dari logam
berat terhadap biota air akan semakin meningkat seiring meningkatnya suhu.

b. pH

Derajat Keasaman (PH) menunjukkan kekuatan antara asam dan basa dalam air, juga dapat
diartikan dengan kadar konsenstrasi ion hodrogen dalam larutan (Priyono 1994). Pescod (1973)
menyatakan pH perairan dipengaruhi oleh suhu, fotosintesis, respirasi, oksigen terlarut, dan
keberadaan ion-ion dalam perairan tersebut. (Mackereth (1989) diacu dalam Effendi (2003),
berpendapat bahwa pH berkaitan erat dengan karbondioksida dan alkalinitas. Semakin tinggi
nilai pH semakin tinggi pula alkalinitas dan semakin rendah karbondioksida bebas, bahkan pada
pH<5, alkalinitas dapat mencapai nol. Kelarutan logam dalam air juga dikontrol oleh pH air.
Kenaikan pH air akan menurunkan kelarutan logam dalam air, karena kenaikan pH mengubah
kestabilkan dari bentuk karbonat menjadi hidroksida yang membentuk ikatan dengan partikel
pada badan air sehingga akan mengendap membentuk lumpur. pH juga mempengaruhi toksisitas
suatu senyawa kimia, seperti logam berat. Menurut Novotny and Olem (1994) diacu dalam
Effendi (2003) menyatakan bahwa toksisitas logam memperlihatkan peningkatan pada pH yang
rendah.

c. Alkalinitas

Alkalinitas atau kebasaan adalah suatu pengukuran terhadap kapasitas suatu badan air untuk
menetralkan suatu asam (Priyono 1994). Penyusun utama alkalinitas dalam perairan tawar terdiri
dari kalsium dan magnesium sebagai kation sedangkan anion terdiri dari bikarbonat dan
karbonat. Alkalinitas dihasilkan dari karbon dioksida dan air yang dapat melarutkan sedimen
batuan karbonat manjadi bikarbonat (Effendi 2003).

2.4 Tinjauan Metode


2.2.1 Spektrometri Serapan Atom
Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS) atau biasa disebut dengan Spektrometri
Serapan Atom (SSA) adalah suatu alat yang digunakan pada metode analisis untuk penentuan
unsur-unsur logam dan metalloid yang pengukurannya berdasarkan penyerapan cahaya dengan
panjang gelombang tertentu oleh atom logam dalam keadaan bebas (Skoog et al., 2000). Metode
ini sangat tepat untuk analisis zat pada konsentrasi rendah. Teknik ini mempunyai beberapa
kelebihan dibandingkan dengan metode spektroskopi emisi konvensional. Sebenarnya selain
dengan metode serapan atom, unsur-unsur dengan energi eksitasi rendah dapat juga dianalisis
dengan fotometri nyala, akan tetapi fotometri nyala tidak cocok untuk unsur-unsur dengan energy
eksitasi tinggi. Fotometri nyala memiliki range ukur optimum pada panjang gelombang 400-800
nm, sedangkan AAS memiliki range ukur optimum pada panjang gelombang 200-300 nm (Skoog
et al.,2000). AAS berprinsip pada absorpsi cahaya oleh atom. Atom-atom menyerap cahaya
tersebut pada panjang gelombang tertentu, tergantung pada sifat unsurnya Spektrometri Serapan
Atom (SSA) meliputi absorpsi sinar oleh atom-atom netral unsur logam yang masih berada dalam
keadaan dasarnya (Ground state). Sinar yang diserap biasanya ialah sinar ultra violet dan sinar
tampak. Prinsip Spektrometri Serapan Atom (SSA) pada dasarnya sama seperti absorpsi sinar oleh
molekul atau ion senyawa dalam larutan. Prinsip pemeriksaan spektrofotometer serapan atom yaitu
molekul sampel diubah menjadi atom-atom bebas dengan bantuan nyala atau flame. Atom-atom
akan mengabsorbsi cahaya yang sesuai dengan panjang gelombang dari atom tersebut dan
intensitas cahaya yang diserap sebanding dengan panjang gelombang dari atom tersebut serta
intensitas cahaya yang diserap sebanding dengan banyaknya cahaya. Waktu pengujian dengan
instrumen AAS lebih cepat dibandingkan dengan metode pengujian gravimetrik dan titrimetri,
karena preparasi sampel lebih cepat, yakni disediakan dalam larutan kemudian dimasukkan untuk
dibakar (Chasteen 2007).
Gambar 4. Skema cara kerja AAS. (Sumber : Sumar. 2004)

Spektrometri Serapan Atom (SSA) adalah suatu alat yang digunakan pada metode analisis
untuk penentuan unsur-unsur logam dan metalloid yang pengukurannya berdasarkan penyerapan
cahaya dengan panjang gelombang tertentu oleh atom logam dalam keadaan bebas (Skooget al.,
2000). Metode ini sangat tepat untuk analisis zat pada konsentrasi rendah. Teknik ini mempunyai
beberapa kelebihan dibandingkan dengan metode spektroskopi emisi konvensional. Beberapa
kelebihan AAS, sebagai berikut (Sumar, 2004):

a. Spesifik
b. Batas (limit) deteksi yang rendah
c. Dari satu larutan yang sama, beberapa unsure yang berlainan dapat diukur
d. Pengukuran dapat langsung dilakukan terhadap larutan contoh, jadi berbeda dengan
kalorimetri (yang membutuhkan pembentukan senyawa berwarna), gravimetri (dimana
endapan perlu dikeringkan dulu) dsb. Jadi preparasi contoh sebelum pengukuran adalah
sederhana.
e. Output data (adsorbance) dapat dibaca langsung
f. Dapat diaplikasikan kepada banyak jenis unsur dalam banyak jenis contoh
g. Batas kadar-kadar yang dapat ditentukan adalah amat luas (ppm hingga %).

Dalam soal harga maka metode dalam instrumentasi AAS berada ditengah-tengah (antara yang
termurah seperti kolorimetri, gravimetric dsb, dan yang mahal seperti spectrometer emisi dengan
automatic direct reading atau XRF dsb). Namun instrumentasi AAS dapat bertambah mahal
apabila dilengkapi dengan misalnya printer, automatic sampler, penyimpanan data (dengan
microprocessor) dsb.Dalam laboratorium yang biasa menganalisa unsur-unsur logam, maka
metode AAS ternyata telah banyak membantu dalam penyederhanaan prosedur dan pengurangan
waktu analisa dari pada masa-masa sebelumnya. Keuntungan metode AAS dibandingkan dengan
spektrofotometer biasa yaitu spesifik, batas deteksi yang rendah dari larutan yang sama bisa
mengukur unsur-unsur yang berlainan, pengukurannya langsung terhadap contoh, output dapat
langsung dibaca, cukup ekonomis, dapat diaplikasikan pada banyak jenis unsur, batas kadar
penentuan luas (dari ppm sampai %) (Sumar, 2004)