Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM LABORATORIUM LINGKUNGAN 2

Jurusan Teknik Lingkungan FALTL Universitas Trisakti


Gasal 2017/2018

KELOMPOK 1
1. Naufal Calvin Sudrajat (082001500041)
2. Rachel Dista Zebua (082001500047)

Asisten : Annisa Fitria

NITROGEN DIOKSIDA (NO2)

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Udara merupakan campuran beberapa macam gas yang perbandingannya
tidak tetap, tergantung pada keadaan suhu udara, tekanan udara dan lingkungan
sekitarnya. Udara yang merupakan campuran dari gas adalah udara kering yang
bebas bahan pencemar (Mukono, 1997). Udara sebagai komponen lingkungan yang
penting dalam kehidupan perlu untuk dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya
sehingga dapat memberikan daya dukung bagi makhluk hidup secara optimal.
Namun dengan adanya kemajuan teknologi dan industri, selain memberikan
dampak positif berupa kehidupannya yang serba praktis, juga memberikan dampak
negatif terhadap udara, yaitu terciptanya udara yang mengadung senyawa - senyawa
kimia yang berbahaya bagi lingkungan dan makhluk hidup sehingga mengakibatkan
terjadinya pencemaran udara.
Salah satu fokus pencemaran udara yang berasal dari aktivitas manusia adalah
meningkatnya kadar nitrogen oksida (NOx) di udara bebas. Nitrogen oksida adalah
senyawa gas yang terdapat di atmosfer dan sebagian besar terdiri atas nitrit oksida
(NO) dan nitrogen dioksida (NO2). Kedua gas tersebut memiliki sifat
yang berbeda namun keduanya sangat membahayakan kesehetan. Udara dengan
kadar NO yang tinggi dapat menyebabkan gangguan pada sistem saraf hingga
terjadi kejang-kejang. Gas NO yang teroksidasi akan menjadi gas NO2 yang
memiliki sifat lebih berbahaya. Udara yang terkontaminasi gas NO2 dapat
menyebabkan ancaman bagi manusia, hewan, maupun tanaman.
Berdasarkan latar belakang diatas maka dilakukan pengujian yang bertujuan
untuk menentukan konsentrasi NO2 sebagai senyawa pencemar pada udara ambien
berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian
Pencemaran Udara. Pengujian konsentrasi nitrogen dioksida (NO2) dilakukan
dengan menggunakan metode Griess Saltzman. Prinsipnya yaitu gas nitrogen
dioksida akan dijerap dalam larutan Griess Saltzman sehingga membentuk suatu
senyawa azo dye berwarna merah muda yang stabil setelah 15 menit. Konsentrasi
larutan akan diukur pada spektrofotometer dengan panjang gelombang 550 nm.
Pengambilan sampel dilakukan di Pos Satpam Pintu Gerbang I Kampus A Trisakti.

1.2 Tujuan Percobaan


Tujuan percobaan pengujian kadar Nitrogen dioksida (NO2) dengan
menggunakan metode Griess Saltzman di Kampus A Universitas Trisakti adalah :
1. Untuk mengetahui konsentrasi nitrogen dioksida (NO2) di udara ambien
pada lokasi sampling Pos Satpam Gerbang Kyai Tapa, Kampus A
Universitas Trisakti, Grogol, Jakarta Barat.
2. Untuk membandingkan konsentrasi nitrogen dioksida (NO2) di udara
ambien dengan Baku Mutu Udara Ambien yang telah ditetapkan.
3. Untuk mengetahui konsentrasi nitrogen dioksida (NO2) selama 1 jam dan
24 jam di udara ambien.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Nitrogen oksida (NOx) adalah senyawa gas yang terdapat di udara bebas (atmosfer)
yang sebagian besar terdiri atas nitrit oksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta
berbagai jenis oksida dalam jumlah yang lebih sedikit. Kedua macam gas tersebut
mempunyai sifat yang sangat berbeda dan keduanya sangat berbahaya bagi kesehatan.
Gas NO yang mencemari udara secara visual sulit diamati karena gas tersebut tidak
bewarna dan tidak berbau. Sedangkan gas NO2 bila mencemari udara mudah diamati dari
baunya yang sangat menyengat dan warnanya merah kecoklatan. Toksisitas gas NO2
empat kali lebih kuat dari pada gas NO. Organ tubuh yang paling peka terhadap
pencemaran gas NO2 adalah paru-paru. Paru-paru yang terkontaminasi oleh gas NO2
akan membengkak sehingga penderita sulit bernafas yang dapat mengakibatkan
kematiannya (Fardiaz, 1992).
Udara yang mengandung gas NO dalam batas normal relatif aman dan tidak
berbahaya, kecuali bila gas NO yang tinggi dapat menyebabkan gangguan pada sisitem
saraf yang menyebabkan kejang-kejang. Bila keracunan ini terus berlanjut akan dapat
menyebabkan kelumpuhan. Gas NO akan menjadi lebih berbahaya apabila gas itu
teroksidasi oleh oksigen sehingga menjadi gas NO2. Di udara nitrogen monoksida (NO)
teroksidasi sangat cepat membentuk nitrogen dioksida (NO2) yang pada akhirnya
nitrogen dioksida (NO2) teroksidasi secara fotokimia menjadi nitrat (Sastrawijaya,
Tresna. 1991).
Dari seluruh jumlah oksigen nitrogen ( NOx ) yang dibebaskan ke udara, jumlah
yang terbanyak adalah dalam bentuk NO yang diproduksi oleh aktivitas bakteri. Akan
tetapi pencemaran NO dari sumber alami ini tidak merupakan masalah karena tersebar
secara merata sehingga jumlah nya menjadi kecil. Yang menjadi masalah adalah
pencemaran NO yang diproduksi oleh kegiatan manusia karena jumlahnya akan
meningkat pada tempat-tempat tertentu. Kadar NOx diudara perkotaan biasanya 10100
kali lebih tinggi dari pada di udara pedesaan. Kadar NOx diudara daerah perkotaan dapat
mencapai 0,5 ppm (500 ppb). Seperti halnya CO, emisi NOx dipengaruhi oleh kepadatan
penduduk karena sumber utama NOx yang diproduksi manusia adalah dari pembakaran
dan kebanyakan pembakaran disebabkan oleh kendaraan bermotor, produksi energi dan
pembuangan sampah. Sebagian besar emisi NOx buatan manusia berasal dari pembakaran
arang, minyak, gas, dan bensin (Pertamina, 2011).
Kadar NOX di udara dalam suatu kota bervariasi sepanjang hari tergantung dari
intensitas sinar mataharia dan aktivitas kendaraan bermotor. Perubahan kadar NOx
berlangsung sebagai berikut (Wardhana, 2004):
1. Sebelum matahari terbit, kadar NO dan NO2 tetap stabil dengan kadar sedikit
lebih tinggi dari kadar minimum sehari-hari.
2. Setelah aktivitas manusia meningkat ( jam 6-8 pagi ) kadar NO meningkat
terutama karena meningkatnya aktivitas lalu lintas yaitu kendaraan bermotor.
Kadar NO tetinggi pada saat ini dapat mencapai 1-2 ppm.
3. Dengan terbitnya sinar matahari yang memancarkan sinar ultra violet kadar
NO2 (sekunder) kadar NO2 pada saat ini dapat mencapai 0,5 ppm.
4. Kadar ozon meningkat dengan menurunnya kadar NO sampai 0,1 ppm.
5. Jika intensitas sinar matahari menurun pada sore hari ( jam 5-8 malam ) kadar
NO meningkat kembali.
6. Energi matahari tidak mengubah NO menjadi NO2 (melalui reaksi
hidrokarbon) tetapi O3 yang terkumpul sepanjang hari akan bereaksi dengan
NO. Akibatnya terjadi kenaikan kadar NO2 dan penurunan kadar O3.
Produk akhir dari pencemaran NOX di udara dapat berupa asam nitrat, yang
kemudian diendapkan sebagai garam.garam nitrat didalam air hujan atau debu.
Oksida nitrogen seperti NO dan NO2 berbahaya bagi manusia. Penelitian
menunjukkan bahwa NO2 empat kali lebih beracun daripada NO. Selama ini belum
pernah dilaporkan terjadinya keracunan NO yang mengakibatkan kematian. Diudara
ambien yang normal, NO dapat mengalami oksidasi menjadi NO2 yang bersifat racun.
Penelitian terhadap hewan percobaan yang dipajankan NO dengan dosis yang sangat
tinggi, memperlihatkan gejala kelumpuhan sistem syarat dan kekejangan. NO2 bersifat
racun terutama terhadap paru. Kadar NO2 yang lebih tinggi dari 100 ppm dapat
mematikan sebagian besar binatang percobaan dan 90% dari kematian tersebut
disebabkan oleh gejala pembengkakan paru (Edema pulmonari). Kadar NO2 sebesar 800
ppm akan mengakibatkan 100% kematian pada binatang-binatang yang diuji dalam waktu
29 menit atau kurang. Pemajanan NO2 dengan kadar 5 ppm selama 10 menit terhadap
manusia mengakibatkan kesulitan dalam bernapas.
Terdapat tiga baku mutu yang digunakan sebagai pembanding, yaitu sebagai
berikut:
1. WHO Air Quality Guidelines for Particulate Matter, Ozone, Nitrogen Diokside,
and Sulfur Diokside Global Update 2005.
2. Peraturan Pemerintah No.41 Tahun 1999 tentang Pendengalian Pencemaran
Udara.
3. Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 551 Tahun 2001 tentang
Penetapan Baku Mutu Udara Ambien dan Baku Mutu Tingkat Kebisingan di
Provinsi DKI Jakarta.
Berikut ini adalah batas yang diberikan dari masing-masing baku mutu tersebut :

Baku Mutu Waktu 1 Jam Waktu 24 jam


WHO Air Quality Guidelines 200 g/Nm3 40 g/Nm3
PP No. 41 Tahun 1999 400 g/N m3 150 g/Nm3
KepGub DKI Jakarta No. 551
400 g/N m3 92,5 g/Nm3
Tahun 2001
Adapun upaya-upaya yang dilakukan oleh pemeritah pusat untuk mencegah dan
mengendalikan pencemaran udara antara lain:
1. Penetapan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pencemaran udara
seperti Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian
Pencemaran Udara.
2. Penentuan pengelola pengawasan dan penanggungjawab pengendalian
pencemaran udara serta dampaknya, yaitu:
a. Kementerian Negara Lingkungan Hidup bertanggungjawab terhadap regulasi
emisi dan pemantauan dampak lingkungan yang terjadi;
b. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral bertanggungjawab terhadap
pengawasan dan pengendali mutu bahan bakar;
c. Departemen Perindustrian bertanggungjawab mengawasi produk komponen
kendaraan yang ramah lingkungan dan mengawasi dan sertifikasi bengkel
dalam rangka meningkatkan kualitas udara di perkotaan;
d. Departemen Perhubungan bertanggungjawab pengujian tipe untuk kendaraan
bermotor produksi baru termasuk uji emisi gas buang dan pengadaan dan
pemasangan converter kita.
e. Pemerintah Daerah bertanggungjawab terhadap pengujian kendaraan
bermotor yang sedang berjalan.
3. Melaksanakan kegiatan pengendalian pencemaran udara antara lain dengan
pencanangan Program Langit Biru yaitu : Menetapkan regulasi tentang Ambang
Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor baik yang sedang diproduksi
maupun kendaraan lama.

III. ALAT DAN BAHAN


3.1 Alat
Tabel 3.1 Alat yang Digunakan
No Nama Alat Ukuran Jumlah Gambar

Botol Midget
1. - 3
Impinger
No Nama Alat Ukuran Jumlah Gambar

2. Pompa Hisap - 1

3. Corong dan selang - 1 set

25 ml 1
4. Pipet volumetri
50 ml 1

5. Labu ukur 25 ml 2

6. Kuvet - 1
No Nama Alat Ukuran Jumlah Gambar

7. Kabel Roll - 1

8. Flow meter - 1

9. Anemometer - 1

10. Hygrometer - 1

11. Barometer - 1
No Nama Alat Ukuran Jumlah Gambar

12. Bulp - -

13. Lakban - 1

3.2 Bahan
Tabel 3.2 Bahan yang Digunakan
No Bahan Jumlah Gambar

1. Larutan Griess Saltzman 50 ml

0,1 ml
0,2 ml
0,3 ml
2. Larutan Asam Sulfamat
0,4 ml
0,5 ml
0,6 ml
No Bahan Jumlah Gambar

3. Granul secukuppnya

4. Alumunium foil secukupnya

5. Aquadest secukupnya

IV. CARA KERJA (harus ada skema diagram sampling dan analisis) (bobot 10)
4.1 Diagram Sampling

Siapkan 3 botol midget Pipet 50 ml Larutan Griess Lapisi botol midget


impinger dan beri label Saltzman ke dalam botol impinger NO dan NO2
untuk NO dan NO2 midget impinger NO dan dengan Aluminium foil
NO2
Diamkan larutan selama Nyalakan pompa selama Susun alat seperti
20 menit 1 jam dan atur flowmeter gambar di atas pada
1L/mnt, dan catat lokasi sampling. Ukur
flowmeter pada 5 menit data meteorologi.
terakhir

4.1. Diagram Analisis

Pipet 50 ml masing- Diamkan selama 15 Ukur absorbansi dengan


masing larutan NO dan menit. spektrofotometer pada
NO2 ke dalam labu ukur. 550 nm.

V. HASIL PENGAMATAN
5.1 Lokasi Penelitian

Lokasi : Pos Satpam Pintu I Kyai Tapa , Kampus A


Universitas Trisakti
Hari/tanggal : Kamis, 5 Oktober 2017
Waktu : 10.20 - 11.20 WIB
5.2 Data Meteorologi
Tabel 5.1 Hasil Pengukuran Data Meteorologi
No. Data Meteorologi Konsentrasi
1. Arah Angin (Kompas) Angin Timur
2. Kecepatan Angin (Anemometer) 1,23 m/s
3. Hygrometer (Kelembapan) 48%/RH
4. Temperatur (Suhu) 31 C
5. Barometer (Tekanan) 763,5 mmhg

5.3 Data Sampling


Tabel 5.2 Data Sampling
No Keterangan Data Sampling
1. F1 1 L/menit
2. F2 1 L/menit

5.4 Data Analisis


Tabel 5.3 Hasil Pengamatan
No. Parameter Y Gambar
NO2
Hasil percobaan nyaris
1. tidak menghasilkan warna 0,01
merah muda. Mirip dengan
blanko 0,1 ml.
NO
Hasil percobaan
2. memperlihatkan warna 0,008
merah muda seulas. Mirip
dengan blanko 0,4 ml
5.5 Kurva Kalibrasi
Tabel 5.4 Data Kurva Kalibrasi NO2
Konsentrasi Absorbansi
0,000 0,000
0,004 0,008
0,007 0,018
0,011 0,027
0,014 0,037
0,018 0,047
0,022 0,060

Kurva Kalibrasi
0.07
0.06 y = 2.7412x - 0.0016
R = 0.9966
0.05
0.04
Absorbansi

0.03
0.02
0.01
0
0 0.005 0.01 0.015 0.02 0.025
-0.01
Konsentrasi

Gambar 5.1 Kurva Kalibrasi

5.6 Hasil Pengamatan Kelompok


Tabel 5.5 Hasil Pengamatan Kelompok
NO2 ( g/Nm3) NO( g/Nm3) NOX (ppm)
Kelompok
C1 C24 C1 C24 C1 C24
1 0,070 0,040 0,060 0,030 8,59x 10-5 4,575x10-5
2 0,065 0,036 0,076 0,042 9,644x 10-5 5,33 x 10-5
3 0,227 0,127 0,221 0,123 3,604x 10-4 1,669x10-4
4 0,034 0,018 0,053 0,029 6,11x10-5 3,316x10-5
-4
5 0,091 0,050 0,178 0,0988 1,933x10 10,644x10-5
6 0,101 0,056 0,197 0,109 2,141x10-4 1,185x10-4
-4
7 0,120 0,066 0,210 0,116 2,34x10 1,29x10-4
8 0,059 0,032 0,092 0,051 8,02x10-5 4,4410-5
NO2 ( g/Nm3) NO( g/Nm3) NOX (ppm)
Kelompok
C1 C24 C1 C24 C1 C24
9 0,159 0,088 2,320 1,300 1,98x10-3 1,09x10-3
10 0,170 0,093 0,110 0,060 1,79x10-4 9,8x10-4
-3
11 0,056 0,031 0,300 0,160 24,47x10 13,056x10-3
12 0,022 0,012 0,026 0,014 3,279x10-5 1,779x10-5

VI. RUMUS DAN PERHITUNGAN


6.1. Rumus
6.1.1 Volume Udara

1 + 2 () 298
=
2 () 760

Keterangan:
V = Volume udara
F1 = tekanan alir awal
F2 = tekanan alir akhir
Pa = tekanan udara (mmHg)
Ta = suhu udara (oK)
t = waktu (menit)
298 = temperatur pada keadaan normal 25 oC (K)
760 = tekanan udara pada kondisi normal 1 atm (mmHg)

6.1.2 Konsentrasi Nitrogen Dioksida (NO2) selama 1 jam



2 = 1000

Konversi:

C (ppm) = C (g/m3) x (24,45/ (BM NO2 x 103))

Keterangan:
x = hasil kurva kalibrasi
V = volume udara
C = konsentrasi nitrogen dioksida
BM SO2 = berat molekul SO2
Absorbansi

y = a + bx

a = hasil kalkulator
b = hasil kalkulator
y = hasil spektrofotometer

6.1.3 Konsentrasi Nitrogen Dioksida(NO2) selama 24 jam

1 0,185
24 = ( )
2

Keterangan:
C24 = konsentrasi nitrogen dioksida selama 24 jam
C = 17,24 g/m3
T1 = 1 jam
T2 = 24 jam

6.1.4 Konsentrasi NOx selama 1 jam


CNOx = CNO2 + CNO
Keterangan:
CNO2 = Konsentrasi NO2 selama 1 jam
CNO = Konsentrasi NO selama 1 jam

6.1.5 Konsentrasai NOx selama 24 jam


CNOx = CNO2 + CNO
Keterangan:
CNO2 = Konsentrasi NO2 selama 24 jam
CNO = Konsentrasi NO selama 24 jam

6.2 Perhitungan
6.2.1 Volume Udara
Diketahui:
F1 = 1 L/menit
F2 = 1 L/menit
t = 60 menit
Pa = 763,5 mmHg
Ta = 31oC = 304 K
Ditanya: Volume Udara ?
Jawab:
1 /+1 / 763,5 298
V = 60
2 304 760

= 59,09 L

6.2.2 Perhitungan Konsentrasi NO2 selama 1 jam


Diketahui:
y = 0,01
a = -1,62 x 10-3
b = 2,741
V =59,09 L
Ditanya: Konsentrasi NO2 selama 1 jam?
Jawab:
y = a + bx
x = (y-a)/b
x = {(0,01) (-1,62 x 10-3) }/ 2,741
x = 4,24 x 10-3
C1NO2 = (x/V) x 1000
C1NO2 = (4,24 x 10-3 / 59,09 L ) x 1000
C1 NO2 = 0,07 g/L
C1 NO2 = 3,7 x 10-5 ppm

6.2.3 Perhitungan Konsentrasi NO selama 1 jam


Diketahui:
y = 0,008
a = -1,62 x 10-3
b = 2,741
V = 59,09 L
Ditanya: Konsentrasi NO selama 1 jam?
Jawab:
y = a + bx
x = (y-a)/b
x = {(0,008) (-1,62 x 10-3) }/ 2,741
x = 3,5 x 10-3

C1 NO = () x 1000
3,5 103
C1 NO = ( ) x 1000
59,09

C1 NO = 0,06 g/L
C1 NO = 4,89x 10-5 ppm

6.2.4 Menghitung NO2 selama 24 jam


Diketahui:
C = 0,07 g/L
Ditanya = Konsentrasi NO2 selama 24 jam?
Jawab:
1 0,185
CNO2 = C x (24 )

60 0,185
CNO2 = 0,07 x (1440 )

CNO2 = 0,04 g/L


CNO2 = 2,13 x 10-5 ppm

6.2.5 Menghitung NO selama 24 jam


Diketahui:
C = 0,06 g/L
Ditanya = Konsentrasi NO selama 24 jam?
Jawab:
1 0,185
CNO = C x (24 )

60 0,185
CNO = 0,06 x (1440 )

CNO = 0,03 g/L


CNO = 2,445 x 10-5 ppm
6.2.6 Menghitung C1 untuk NOx
Diketahui:
CNO2 = 3,7 x 10-5 ppm
CNO = 4,89x 10-5 ppm
Ditanya: Konsentrasi NOx selama 1 jam?
Jawab:
C1NOx = CNO2 + CNO
C1 NOx = (3,7 + 4,89) x 10-5
C1 NOx = 8,59 x 10-5 ppm

6.2.7 Menghitung C24 untuk NOx


Diketahui:
CNO2 = 2,445 x 10-5
CNO = 2,13 x 10-5
Ditanya: Konsentrasi NOx selama 1 jam?
Jawab:
C24 NOx = CNO2 + CNO
C24 NOx = (2,445 + 2,13) x 10-5
C24 NOx = 4,575x 10-5 ppm

VII. PEMBAHASAN
Percobaan kali ini merupakan pengujian kadar nitrogen dioksida (NO2) di udara
ambien yang menggunakan metode Griess Saltzman. Griess Saltzman merupakan larutan
untuk menjerap NO2. Dengan metode ini, kadar NO2 dapat diukur dari kisaran 0,005 ppm
sampai 5 ppm. Alat penjerap yang digunakan pada metode ini seharusnya impinger fritted
bubbler. Namun karena tidak tersedianya alat tersebut maka digunakan midget impinger
sebagai penggantinya meskipun alat ini tidak terlalu efisien untuk menjerap NO2.
Pengambilan sampel kelompok 1 dilakukan di Pos Satpam, Pintu I Kyai Tapa,
Kampus A Universitas Trisakti. Percobaan dilakukan pada pukul 10.20 - 11.20 WIB.
Dikarenakan jam ini merupakan jam sibuk, hal ini tentunya mempengaruhi kadar NO2
yang terjerap. Karena titik ini merupakan daerah yang sangat dekat dengan jalan raya dan
sangat sering dilalui oleh kendaraan bermotor.
Percobaan kali ini juga dilakukan dalam waktu 1 jam. Laju alirnya di atur pada
kecepatan 1 L/mnt. Hingga 55 menit berlalu, laju alir tetap dalam keadaan stabil.
Sehingga nilai F1 dan F2 adalah 1 L/mnt. Kecepatan angin yang cukup tinggi pada saat
itu yaitu 1,23 m/s juga tentunya mempengaruhi partikel yang terserap oleh rangkaian
alat.
Rangkaian alat penjerap yang digunakan tidak sesuai dengan SNI 19-7119.2-2005
yang hanya menggunakan satu midget impinger untuk larutan penjerap. Pada percobaan
ini digunakan dua midget impinger yang diisi dengan larutan Griess Saltzman. Botol satu
untuk menjerap NO2 dan botol lainnya untuk menjerap NO2 sebagai NO. Hasil
perhitungan tersebut nantinya akan menghasilkan NOx. Diantara kedua midget impinger
ini, terdapat granula yang berfungsi sebagai oksidator. Oksidator diperlukan karena pada
udara ambien gas yang dapat dijerap adalah gas NO2, sehingga diperlukan adanya
oksidator agar gas NO dapat terbentuk.
Setelah pengambilan sampel, larutan Griess Saltzman diharapkan akan berubah
warna menjadi merah muda setelah didiamkan selama 15 menit. Namun setelah
didiamkan selama 15 menit larutan penjerap untuk NO2 nyaris tidak berubah warna.
Ketika dibandingkan dengan blanko, larutan ini mendekati blanko 0,1 ml. Hasil
spektrofotometrinya menunjukan nilai 0,01. Untuk larutan NO, warnanya berubah
menjadi merah muda seulas. Blanko yang paling mendekati adalah 0,04 ml. Hasil
perhitungan spektrofotometrinya adalah 0,008.
Dari semua data yang telah didapatkan, maka dilakukan perhitungan dan dipatkan
hasil perhitungan volume udara sebesar 59,09 L, C1 NO2 adalah 0,07 g/Nm3 (3,7 x 10-5
ppm), C1 NO adalah 0,06 g/Nm3 (4,89 x 10-5 ppm), C24 NO2 adalah 0,04 g/Nm3 (2,13 x
10-5 ppm), C24 NO adalah 0,03 g/Nm3 (2,445 x 10-5 ppm).
Berdasarkan baku mutu Peraturan Pemerintah No. 41 tahun 1999 Tentang
Pengendalian Pencemaran Udara, baku mutu Jakarta menurut Keputusan Gubernur DKI
Jakarta No. 551 tahun 2001 Tentang Penetapan Baku Mutu Udara Ambien dan Baku
Tingkat Kebisingan Di Propinsi DKI Jakarta, kadar NO2 selama 1 jam yang
diperbolehkan masing- masing adalah 400 g/m3, dan menurut World Health
Organizationtentang Air Quality Guidelines for Particulate matter, ozone, nitrogen
dioxide, and sulfur dioxide kadar NO2 selama 1 jam yang diperbolehkan adalah 200
g/m3, sedangkan kadar sampel adalah 0,07 g/m3. Maka dapat dikatakan bahwa kadar
NO2 di titik sampling 1 aman
Untuk hasil perhitungan konsentrasi NO2 di udara selama 24 jam adalah 0,04
g/m3. Apabila dibandingkan dengan baku mutu nasional menurut Peraturan Pemerintah
No. 41 tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran Udara, baku mutu Jakarta menurut
Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 551 tahun 2001 Tentang Penetapan Baku Mutu
Udara Ambien dan Baku Tingkat Kebisingan Di Propinsi DKI Jakarta dan menurut World
Health Organization tentang WHO Air Quality Guidelines for Particulate matter, ozone,
nitrogen dioxide, and sulfur dioxide, maka kondisi ini masih memenuhi standar, yaitu
dibawah 150 g/m3, 92,5g/m3 dan 40 g/m3.
Masing- masing kelompok mempunyai konsentrasi NO2 yang berbeda. Hal ini
dikarenakan perbedaan titik lokasi sampling. Konsentrasi NO2 tertinggi terdapat di
kelompok 3 dimana nilai C1 sebesar 0,227g/m3, sedangkan yang terendah adalah
kelompok 12 dimana nilai C1 sebesar 0,022g/m3.
Karena kadar NO2 sangat rendah dan tidak melewati baku matu, maka hal ini tidak
dapat dikatakan sebagai pencemaran. Dampak langsungnya juga tidak akan terlihat.
Manusia dapat merasakan pengaruh gas NO2 saat kadarnya 5 ppm, dimana manusia akan
sukar untuk bernafas. Namun jika gas NO2 terakumulasi, maka akan meningkatkan
gangguan penyakit lainnya, seperti jantung, asma, dll.
Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah seperti dengan memasang filter
pada knalpot, melakukan uji emisi dan merawat kendaraan bermotor. Untuk sumber tidak
bergerak dapat dilakukan pemasangan scruber pada cerobong asap dan memodifikasi
proses pembakaran. Untuk berjaga-jaga, maka manusia juga perlu menggunakan APD
seperti masker.

VIII. KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan dan perhitungan yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa :
1. Konsentrasi NO2 titik sampel 1 selama 1 jam adalah sebesar 0,07 g/m3 (3,7 x
10-5 ppm), sedangkan selama 24 jam adalah sebesar 0,04 g/m3 (2,13 x 10-5
ppm).
2. Konsentrasi NO titik sampel 1 selama 1 jam adalah sebesar 0,06 g/m3 (4,89 x
10-5 ppm), sedangkan selama 24 jam adalah sebesar 0,03 g/m3 (2,445 x 10-5
ppm).
3. Konsentrasi NOx titik sampel 1 selama 1 jam adalah sebesar 8,59 x 10-5 ppm),
sedangkan selama 24 jam adalah sebesar 4,575 x 10-5 ppm).
4. Konsentrasi NO2 di titik sampel 1 tidak melebihi baku mutu World Health
Organization (WHO), Peraturan Pemerintah no.41 tahun 1999, dan Keputusan
Gubernur DKI Jakarta No.551 tahun 2001.
DAFTAR PUSTAKA
A. Tresna, S. 1991. Pencemaran Lingkungan Hidup. Jakarta : Rineke Cipta.
Arya Wardhana ,W. 2004. Dampak Pencemaran Lingkungan. Cetakan Keempat.
Yogyakarta : Penerbit Andi.
Fardiaz, S. 1992. Polusi Air & Udara. Yogyakarta : KANISIUS.
Mukono, H.J. (1997). Pencemaran Udara dan Pengaruhnya Terhadap Gangguan
Saluran Pernapasan. Surabaya : Airlangga University Press.
PT Pertamina (Persero). 2011. Sustainability Report Terminal BBM Rewulu 2011.
Yogyakarta: PT Pertamina (Persero) Terminal BBM Rewulu.
SNI 19-7119.2-2005. Cara Uji Kadar Nitrogen Dioksida (NO2) dengan Metoda Griess
Saltzman Menggunakan Spektrofotometer. Badan Standarisasi Nasional.

LAMPIRAN
Lokasi sampling Pos Satpam, Pintu I Kyai Tapa, Kampus A Universitas Trisakti

Pos
Satpam