Anda di halaman 1dari 3

Yaitu para bhakti dan apara bhakti.

Para bhakti mempunyai makna yang sama dengan prapatti, yakni


penyerahan diri secara total kepada NYA sedang apara bhakti adalah bhaktidengan berbagai
permohonan yang dipandang wajar adalah mohon keselamatan atau mohon berkembang mekarnya
budi nurani, sedang permohonan untuk kekayaan atau kekuasaan, sering disebut bhakti yang bersifat
rajas dan tamas. Perlu pula ditegaskan bahwa prapatti itu buka fatalistic. Artinya, dengan penyerahan
diri kepada NYA, kemudian bersangkutan tidak bekerja sebagai mana mestinya, tidak melakukan tugas
dan kewajiban dengan baik. Di dalam Kitab Suci Weda , dengan tegas dinyatakan bahwa Dia hanya
menyayangi umat manusia yang suka bekerja keras, tidak malas, dan banyak omong kosong.

Lebih jauh, bila kita mengkaji berbagai bentuk, sifat bhakti atau metodologi pendidikan untuk senantiasa
bhakti kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, kitab Bhagavata Purana (VII.52.23) membedakan 9 jenis bhakti
(Navavidhabhakti), yaitu:

a. Sravanam (mempelajari keagungan Tuhan Yang Maha Esa melalui membaca atau
mendengarkan pembacaan kitab- kitab suci).
b. Kirtanam (mengucapkan /menyanyikan nama-nama Tuhan Yang Maha Esa).
c. Smaranam (mengingat nama-Nya atau bermeditasi tentang-Nya).
d. Padasevanam (memberikan pelayanan kepada Tuhan Yang Maha Esa, termasuk melayani,
menolong berbagai makhluk ciptaan-Nya).
e. Arcanam (memuja keagungan-Nya).
f. Vandanam(Sujud Dan Kebhaktian).
g. Dasya (melayani-Nya dalam pengertian mau melayani mereka yang memerlukanpertolongan
dengan penuh keiklasan).
h. Sakhya (memandang Tuhan Yang Maha Esa sebagai sahabat sejati, yang memberikan
pertolongan ketika dalam bahaya).
i. Atmanivedanam (penyerahan diri secara total kepada-Nya).

Brahmavidya(teologi)

Bila kita mengkaji kitab suci Veda maupun praktek keagamaan di India dan Indonesia(Bali) maka Tuhan
Yang Maha Esadisebut dengan berbagai nama. Berbagai wujud digambarkan untuk Tuhan Yang Maha
Esaitu, walaupun sesungguhnya Tuhan Yang Maha Esatidak berwujud, dan di dalam bahasa bahasa
Sansekerta disebut : Acityarupa yang artinya tidak berwujud dalam pikiran manusia (Monier,993:9), dan
dalam bahasa jawa kuno dinyatakan :tan kagrahita dening manah mwang indriya (tidak terjangkau
oleh akal dan indria manusia).

Bila Tuhan Yang Maha Esatidak berwujud (Impersonal God), timbul pernyataan mengapa dalam system
pemujaan kita membuat bangunan suci , arca, pratima, pralingga,mempersembahkan bhusana, sesajen ,
dll. Bukankah semua bentuk perwujudan maupun persembahan itu ditujukan kepada Tuhan Yang Maha
Esa yang berwujud dalam alam pikiran manusia? Sebelum kita lebih jauh membahas tentang Tuhan Yang
Maha Esa yang dikemukakan oleh Maharsio Vyasa yg dikenal juga dengan nama Badarayana dalam
bukunya : Brahmasutra, Vedatasara , Sebagai Berikut: Janmadyasya Yatah (1.1.2), Yang Oleh Svami
Sivananda (1977)
Brahman adalah asal mula alam semesta dan segala isinya (janmadi= asal , awal, penjelmaan dan
sebagainya, asya = dunia / alam semesta ini, yatah = daripadanya ). Jadi menurut sutra ini, Tuhan Yang
Maha Esa yang disebut Brahman ini adalah asal mula segalanya. Penjelasan ini sesuai dengan bunyi
mantram Purusa Sukta Rgveda, berikut:

Purusa evedam sarvam

Yadbhutam yasca bhayam,

Utamrtavasesa no

Yadannenati rohati

Rgveda X.90.2

( TUHAN SEBAGAI WUJUD KESADARAN agung merupakan asal dari segala yang telah dan yang akan ada .
Ia adalah raja di alam yang abadi dan di bumi yang hidup dan berkembang dengan makanan).

Demikian pula, Tuhan Yang Maha Esa sebagai sumber segalanya dan sumber kebahagiaan hidup,
dinyatakan pula di dalam mantram veda berikut ;

Ya bhutam ca bhvyam ca

Sarvam yas cadhitishati

Svar yasyaca kevalam tasmai

Jyesthaya brahmane namah

(arthavaveda X.8.1)

(Tuhan Yang Maha Esa hadir dimana mana, asal dari segalanyayang telah ada dan yang aka nada. Ia
penuh dengan rakhmat dan kebahagiaan. Kami memuja engkau Tuhan Yang Maha Esa)

Selanjutnya dalam naraya upanisad 2, yang kemudian dijadikan mantram baik ke-2 dari mantram tri
sandya, juga menjelaskan tentang Tuhan Yang Maha Esa sebagai asal segalanya, mahasuci tidak ternoda

Definisi atau pengertian tentang Tuhan Yang Maha Esa tersebut diatas tentu sangat terbatas. Oleh
karena itu, kitab-kitab upanisad menyatakan definisi atau pengertian apapun yang ditujukan untuk
memberikan batasan kepada Tuhan Yang tidak terbatas itu tidaklah menjangkau kebesaran-Nya. Oleh
karena itu, kitab-kitab upanisad menyatakan tidak ada definisi yang tepat untuk-Nya, neti neti (na+iti,
na + iti) bukan ini, bukan ini. Bila tidak ada definisi yang tepat untuk-nya, bagaimanakah kita dapat
memuja-Nya/ untuk memahami Tuhan Yang Maha Esa, maka tidak ada jalan lain kecuali mendalami
ajaran agama, memohon penjelasan para guru yang ahli dibidangmya yang mampu merealisasikan
ajaran ketuhanan dalam kehidupan pribadinya.

Tentangkitab suci atau sastra agama sebagai sumber atau ajaran untuk memahami-Nya , kitab Brahma
Sutra, secara tegas menyatakanSastrayonitvat(1.1.20, yang artinya kitab suci/Sastra Agama adalah
sumber untuk memahami-Nya

Kembali pada permasalahan yang dikemukakan pada awal tulisan ini, apakah Shang Hyang Widhi sama
denga Siva atau Brahman ? untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita kaji berdasarkan tinjauan
etimologis maupun leksikal sebagai berikut:

Kata widhi (Sansekerta Widhi) berasal dari urat kata vidh yang artinya yang mengatur hukum, ajaran,
pemerintah, petunjuk, perbuatan, persembahan, pekerjaan, menjadikan atau mentakdirkan Vidhi juga
berarti hukum atau pengendalian, dll.

Di Bali kita temukan sebuah lontar bernama Vidhi Papincatan yang berisi keputusan-keputusan
hukum/pengadilan semacan yurisprudensi. Dengan demikian, Shang Hyang Widhi adalah Tuhan Yang
Maha Esa adalah Tuhan pencipta alam semesta. Tuhan sebagai Widhi disebut berstana di luhuring
Akasa, yakni di atas angkasa. Dalam pengertian ini tentunya Tuhan Yang Maha Esa digambarkan tidak
berwujud. Kapan Sang Hyang Widhi dimohon turun dan hadir untuk menerima persembahan, saat itu
juga Beliau telah berwujud dalam alam pikiran. Wujud wujudutama-Nya itu disebut Tri Murti.

Kata Siva berarti yang memberikan keberuntungan (kerahayuan), yang baik hati, ramah, suka
memaafkan, menyenangkan, member banyak harapan, yang tenang, membahagiakan,dll (ibid;1074).
Shang Hyang Siva di dalam menggerakan hukum kemahakuasaannyadidukung oleh saktinya Durga atau
Parvati. Hyang Siva adalah Tuhan Yang Maha Es, sebagai pelebur kembali ( aspek pralaya atau praline
dari alam semsta dan segala isinya). Siva yang sangat ditakuti disebut rudra ( yang suaranya
menggelegar dan menakutkan ) siva yang......