Anda di halaman 1dari 2

Teknik Sampling Obat

01.15 LANSIDA 2 comments


Dalam banyak hal, sediaan obat tidak dapat dianalisis secara langsung dengan metode
kromatografi tanpa didahului dengan tahap perlakuan/penyiapan sampel. Tahap ini
pada umumnya dikelompokkan menjadi tahap pengambilan sampel (sampling) dan
tahap pembersihan sampel (clean up). Tujuan akhir pengambilan sampel adalah untuk
memperoleh sampel yang representatif (mewakili) dari suatu batch sediaan farmasi(1).

Cara pengambilan sampel (sampling) merupakan masalah yang sangat


penting dalam analisis kimia sebab untuk mengetahui kadar atau konsentrasi suatu
senyawa tertentu dalam sampel hanya dilakukan terhadap sejumlah kecil sampel.
Oleh karena itu, cara pengambilan sampel yang salah meskipun metode analisisnya
tepat dan teliti hasilnya tidak akan memberikan petunjuk yang benar mengenai sifat
(dalam hal ini kadar) yang akan diselidiki. Meskipun demikian, masalah ini seringkali
kurang mendapat perhatian dari seorang analis disebabkan para analis sudah terbiasa
menerima sampel yang langsung dianalisis(2).
Aturan umum yang pasti mengenai cara pengambilan sampel dan berapa besarnya
sampel yang harus diambil tidak dapat dirumuskan secara umum sebab cara
pengambilan sampel sangat tergantung pada sifat dan jumlah bahan yang dianalisis.
Cara pengambilan sampel zat padat akan berbeda dengan cara pengambilan zat cair,
dan akan berbeda pula dengan gas. Namun, pada prinsipnya sampel yang dianalisis
harus bersifat representatif, artinya sampel yang akan dianalisis benar-benar mewakili
populasinya(2).
Berdasarkan prinsip ini dikenal dua macam cara pengambilan sampel dalam analisis
kimia yaitu:
1. Pengambilan sampel random (cuplikan random, cuplikan acak)
Cara pengambilan sampel ini dilakukan terhadap bahan yang serba sama (homogen)
atau dianggap serba sama. Misalnya larutan sejati, batch tablet, ampul dan
sebagainya.
Serbuk sampel yang diterima analis untuk dianalisis harus dianggap bukan sampel yang
homogen. Untuk dapat disampel secara random, harus terlebih dahulu digerus secara
homogen. Begitu pula larutan/suspensi harus digojog sampai homogen, baru dilakukan
pengambilan sampel secara random.
2. Pengambilan sampel representatif
Sampel yang dikirim ke laboratorium analisis untuk dilakukan pngujian harus
representatif untuk menghindari resiko adanya hasil analisis yang keluar dari
spesifikasi yang ditentukan. Cara ini dilakukan jika bahan yang akan dianalisis tidak
homogen. Dalam hal ini, sampel harus diambil dari bagian-bagian yang berbeda-beda
dari setiap wadah (bagian atas, tengah, bawah, samping, dan sebagainya). Masing-
masing sampel harus dicampur homogen kemudian sampel diambil secara random
untuk dianalisis(2).
Pengambilan sample sediaan obat

Sediaan-sediaan parenteral

Pada dasarnya sediaan parenteral sudah homogen. Untuk lot yang kecil (biasanya 3000
dos) dilakukan analisis 2 unit sediaan obat secara duplikat(1).

Tablet dan Bentuk sediaan sejenis

Pencampuran suatu formulasi yang mengandung bahan aktif dengan bahan tambahan
seringkali dilakukan dalam suatu ukuran lot yang mana proporsi kandungan bahan
aktif terhadap massa total adalah kecil.
Sampel-sampel bentuk sediaan padat dapat diambil dengan melakukan pengujian unit
individual atau suatu sample komposit dari unit-unit individual. Pengambilan sample
pada suatu unit individual dilakukan ketika kisaran nilai dalam unit-unit terpisah
adalah besar dan atau ketika diperlukan suatu keberagaman unit. Pengambilan sample
komposit dilakukan ketika homogenitas bukalah suatu masalah yang berarti atau
ketika keberagaman unit bukanlah sesuatu yang penting(1).

Sediaan-sediaan yang lain

Sediaan-sediaan seperti gel, lotion, dan suspensi sebelum dianalisis harus dicampur
secara homogen.

Referensi:

1. Adamovics, J.A., 1997, Chromatographic Analysis of Pharmaceuticals, 2nd Edition, Marcel


Dekker, New York.
2. Achmad, M., dan Abdul, R., 2006, Volumetri dan Gravimetri, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.