Anda di halaman 1dari 52

STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

STUDI
KELAYAKAN

HUSEN SETIO DESA WONOTIRTO


KEC. WONOTIRTO
FELDSPAR
KAB. BLITAR

0
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Lokasi Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi ini berada di Desa Wonotirto,
Kecamatan Wonotirto di Kabupaten Blitar. Semakin pesatnya pembangunan
maka diperlukan bahan baku Feldspar yang lebih banyak, hal ini akan membuka
peluang untuk usaha pertambangan Feldspar. Komoditas yang kami usahakan di
daerah ini merupakan bahan galian batuan komoditas Feldspar. Surat Izin Usaha
Pertambangan Eksplorasi Feldspar kami diterbitkan oleh Gubernur Jawa Timur
dalam bentuk Surat Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor
P2T/17/15.01/IX/2015 tanggal 4 September 2015 berlaku selama 10 (sepuluh)
bulan seluas 7,43 Ha. Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi berakhir tanggal 3
Juli 2016.

Izin tersebut digunakan untuk melakukan kegiatan dalam rangka


pengusahaan mineral Feldspar yang meliputi tahapan kegiatan penyelidikan
umum, eksplorasi dan studi kelayakan yang jika mempunyai nilai ekonomis akan
dilanjutkan pada tahap kegiatan operasi produksi. Pada tahap selanjutnya
wilayah yang diajukan Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi seluas 7,43 Ha
dan tidak mengalami penciutan dari WIUP-nya.

I.2 Maksud dan Tujuan


Maksud dilakukannya penyusunan Studi Kelayakan ini adalah untuk
mengetahui sejauh mana nilai kelayakan kegiatan pengelolaan aktifitas operasi
produksi Feldspar terhadap hubungannya dengan :
1). Pendayagunaan sumber daya mineral.
2). Peningkatan pendapatan daerah dari sektor pajak.
3). Meningkatkan nilai tambah hasil tambang.
4). Penciptaan lapangan kerja dan kegiatan ekonomi.
5). Turut serta dalam pembangunan khususnya dibidang pertambangan

1
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

Tujuannya adalah agar diperoleh informasi yang akurat tentang potensi


Feldspar dan umur ekonomis pada areal izin yang diusahakan dalam
hubungannya dengan :

1). Peningkatan potensi pendapatan penambang.


2). Pengembangan potensi daerah.
3). Meningkatkan produk Feldspar.
4). Membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar tambang.

I.3 Ruang Lingkup dan Metode Studi


Dalam kegiatan studi kelayakan dilihat dari : aspek teknis (layak atau tidak
layak ditambang), aspek ekonomi (ekonomis atau tidak ekonomis), aspek
lingkungan (bagaimana pengelolaan lingkungan yang ramah terhadap
lingkungan), aspek administrasi (legalitas kegiatan penambangan).
Metode studi yang dilakukan adalah pengkajian di lapangan (data primer)
dan studi literatur (data sekunder), sehingga menghasilkan data layak tidaknya
kegiatan usaha penambangan Feldspar dilanjutkan. Dalam kegiatan di lapangan
dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
- Pemetaan geologi (geological mapping) artinya penyelidikan ini dilakukan
dengan aspek geologi yaitu pemetaan potensi Feldspar yang muncul di
permukaan (outcrop).
- Singkapan Feldspar di lokasi wilayah izin usaha pertambangan dipetakan,
sehingga dapat dilihat arah penyebaran yang akan menentukan jumlah
cadangan terbukti Feldspar yang ada.
- Pengambilan sampel lapangan.
- Dengan mengkombinasikan data kontur (ketinggian) pada lokasi wilayah
izin usaha pertambangan eksplorasi dengan luasan dan ketebalan yang
masih ekonomis ditambang, maka akan diperoleh cadangan terbukti yang
layak ditambang baik secara teknis maupun non teknis.
- Untuk mengetahui kualitas Feldspar yang ada, maka dilakukan analisa
kimia. Sehingga diperoleh data-data kualitas Feldspar dari masing-masing
sampel.

2
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

I.4 Pelaksana Studi


Penyusunan studi kelayakan (Feasibility Study) dilaksanakan sendiri
dengan melibatkan tenaga ahli geologi 1 orang dan tenaga pembantu lapangan 2
(dua) orang yang diambil dari penduduk lokal. Pelaksanaan kegiatan efektif
dilaksanakan selama 4 (empat) bulan, sisanya untuk pembuatan laporan dan
evaluasi.

3
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

BAB II
KEADAAN UMUM
II.1 Lokasi dan Luas Wilayah Tambang
Lokasi Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi ini berada di Desa Wonotirto,
Kecamatan Wonotirto di Kabupaten Blitar. Surat Izin Usaha Pertambangan
Eksplorasi Feldspar kami diterbitkan oleh Gubernur Jawa Timur dalam bentuk
Surat Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor P2T/17/15.01/IX/2015 tanggal
4 September 2015 berlaku selama 10 (sepuluh) bulan seluas 7,43 Ha. Izin Usaha
Pertambangan Eksplorasi berakhir tanggal 3 Juli 2016. Titik koordinat izin usaha
pertambangan eksplorasi yang diberikan yaitu :

Tabel 2.1. Titik Koordinat Wilayah Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi

BUJUR LINTANG
NO
Derajat Menit Detik Derajat Menit Detik
1 112 11 5.201 8 13 59.002
2 112 11 10.100 8 13 59.002
3 112 11 10.100 8 13 58.300
4 112 11 12.901 8 13 58.300
5 112 11 12.901 8 14 4.999
6 112 11 14.899 8 14 4.999
7 112 11 14.899 8 14 8.599
8 112 11 13.200 8 14 8.599
9 112 11 13.200 8 14 10.601
10 112 11 9.100 8 14 10.601
11 112 11 9.100 8 14 6.000
12 112 11 6.000 8 14 6.000
13 112 11 6.000 8 14 3.502
14 112 11 5.201 8 14 3.502

Usulan titik koordinat dan luasan untuk Wilayah Izin Usaha Pertambangan
Operasi Produksi tidak mengalami perubahan atau penciutan dari WIUP-nya
sehingga koordinat dan luasan yang diajukan untuk IUP OP sama dengan
koordinat dan luasan WIUP.

4
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

Gambar 2.1. Peta Permohonan WIUP OP Husen Setio

II.2 Kesampaian Daerah dan Sarana Perhubungan

Lokasi daerah penyelidikan ini secara administrasi termasuk wilayah Desa


Wonotirto, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur. Untuk
menuju ke daerah penyelidikan ini dapat ditempuh dengan menggunakan
kendaraan roda empat atau roda dua dengan waktu tempuh sekitar 30 menit dari
jalan raya Blitar menuju ke timur. Lokasi daerah penyelididkan kurang lebih 3 km
dari pusat ibu kota Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar ke arah timur.

II.3 Keadaan Lingkungan Daerah


Wilayah Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi Feldspar a.n. Husen
Setio berdasarkan kondisi eksisting tata guna lahan merupakan wilayah kebun
dan tanah ladang / tegalan seluas 7,34 hektar.
Kondisi fauna yang masuk dalam wilayah izin usaha pertambangan
eksplorasi, yaitu binatang yang hidup di sekitar daerah kegiatan ini meliputi jenis
binatang unggas dan binatang ternak lainnya. Sedangkan kondisi flora pada
daerah penyelidikan ini cukup bervariasi dimana tanaman yang tumbuh antara

5
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

lain padi, pisang, pohon asem, pohon mangga, pepaya dan tanaman keras yang
lain seperti pohon randu.
Daerah ini beriklim tropis dan mempunyai dua musim yaitu musim
kemarau yang berlangsung dari bulan April sampai bulan Oktober, sedangkan
musim penghujan berlangsung pada bulan Nopember sampai bulan Maret.
Penduduk yang bertempat tinggal di daerah penyelidikan ini sebagian besar
bermata pencaharian di bidang perkebunan (sengon) dan peternakan, pengusaha
dan sebagian kecil PNS dan sebagain besar suku jawa. Pendidikan masyarakat
sebagian besar tamat SD hanya sebagian kecil mencapai tingkat Sarjana.

II.4 Topografi dan Morfologi Umum


Secara umum dapat dideskripsikan bahwa wilayah Kabupaten Blitar
terhampar mulai dari daerah dataran sampai pegunungan dengan ketinggian >
400 m dpl dibagian selatan dengan morfologi bentang alam yang bervariasi mulai
dari kemiringan lereng relative datar / sedikit bergelombang (0-8%) sampai
dengan kelerengan yang cukup curam (> 45%).

II.5 Hidrologi
Pola penyaluran belum terbentuk pada lokasi penambangan ini karena luas
wilayah yang sempit. Di wilayah tambang ini hanya terdapat 2 sungai intermitten.
Air hujan akan mengalir ke selatan dimana terdapat sungai dan merupakan lokasi
yang lebih rendah. Kegiatan penambangan tidak akan melebihi muka air tanah.
Berikut ini adalah rata-rata curah hujan di Kabupaten Blitar pada tahun 2014 dan
peta kedalaman muka air tanah dapat dilihat pada gambar 3.1.
Tabel 2.2. Curah Hujan Tahun 2014 di Kabupaten Blitar
No Bulan Curah Hari Hujan Rata-rata Hujan
Hujan (mm) per Hari
1 Januari 252 19 7,6
2 Pebruari 191 20 6,2
3 Maret 248 18 9
4 April 303 20 10,8
5 Mei 316 16 11,5
6 Juni 72 8 2,0
7 Juli 102 9 3,3
8 Agustus 14 7 0,6
9 September 333 18 12,1
10 Oktober 289 15 9,3
11 November 270 18 9
12 Desember 303 20 10,8
6
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

BAB III
GEOLOGI DAN KEADAAN
ENDAPAN
III.1 Geologi
III.1.1 Stratigrafi
Stratigafi daerah penelitian secara regional dibagi dengan urutan dari tua
ke muda yaitu : Formasi Mandalika, Anggota Tuf Formasi Mandalika, Formasi
Campurdarat dan Formasi Wonosari
Formasi Mandalika
Formasi ini terdistribusi luas secara regional dan tersusun dari
material vulkanik berupa lava andesit-basal, latit porfir, riolit, dasit dan tuf
(Sjarifudin dan Hamidi,1992). Formasi ini memliki beberapa anggota yang
terbagi menjadi anggota bagian atas dan bagian bawah. Anggota bagian
atas terdiri dari pumis, tuf halus, batuan basalti yang terdistribusi di
bagian timur are penelitian. Anggota bagian bawah terdiri dari batuan
andesitic dan batuan dasitik yang terdistribusi pada bagian barat. Formasi
Mandalika mengalami alterasi dengan intensif berupa argilik dan proplitik
disertai dengan mineral pirit yang tersebar. Satuan ini memiliki tebal lebih
dari 500m. Umur satuan ini tidak dapat ditentukan, namun FOrmasi
Mandalika telah dinyatakan berumur Oligosen Akhir hingga Miosen Awal
(Samodra dan Gafoer,1990; dalam Sjarifudin dan Hamidi (1992)).

Formasi Wonosari
Formasi Wonosari yang tersusun oleh batugamping koral,
batugamping lempungan, batugamping tufan, batugamping pasiran,
napal, batu lempung hitam bergambut dan kalsirudit. Sebaran satuan
batuan Batugamping dari Formasi Wonosari membentang bagian selatan
Blitar, dari arah barat (Kabupaten Blitar) ke timur. Formasi Wonosari
(Tmwl) ini berhubungan dengan formasi Nampol (Tmn) dan antara Formasi
Campurdarat (Tmcl) dan Formasi Wuni (Tmw) yang menjemari. Satuan
Formasi Wonosari terdiri dari :

7
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

1. Batu gamping koral, warna putih keruh kelabu, banyak


mengandung fosil foram, ganggang, dengan permukaan kasar
dan tajam, tebal lapisannya berkisar 3 100 m. Satuan ini
sering dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan batu gamping.
2. Batu gamping lempungan, warna kelabu kehitaman, berfosil
foram, sebagai perselingan dengan lainnya dan tebalnya
beberapa puluh centimetre
3. Batu gamping tufan, warna kelabu terang, setempat berbentuk
fosil moluska, algae, sebagai perselingan dengan batu gamping
pasiran, tebal lapisan 0,5 20 cm.
4. Batu gamping pasiran, tekstur kasar sampai sedang, berwarna
kelabu hingga coklat, mengandung kalsit, kuarsa dan mineral
mafik, tebal lapisan 0,5 2 m.
5. Napal, warna kelabu sampai putih kehijauan, berlapis tipis 3
10 cm, berfosil foram, moluska hingga sisa tumbuhan, sebagai
sisipan batu gamping.
6. Batu Lempung, setempat terdapat moluska air tawar, sisa
tumbuhan dan bersisipan lapisan tipis gambut. Satuan ini
sering dimanfaatkan masyarakat sebagai Feldspar dan
Feldspar.
7. Batu Kalsirudit, warna cokelat merah, tebal lapisan antara 5
dan 20 cm, sebagai sisipan dalam batu gamping.
Umur satuan batuan Formasi Wonosari ini disimpulkan Miosen Akhir.
Formasi Campurdarat
Formasi Campurdarat tersusun oleh batugamping hablur dan
batulempung. Satuan batuan Formasi Campurdarat berumur Miosen
Awal. Sebaran satuan batuan Batugamping dari Formasi Campurdarat di
sebelah utara dari Formasi Wonosari, mulai dari bagian barat (Kabupaten
Blitar) ke timur, sebarannya ditutupi oleh Formasi Wonosari
Satuan geologi daerah penelitian tersusun atas Satuan Batu
Lempung yang tersusun atas batu lempung. Penjelasan lebih lanjut dapat
dilihat lebih jelas pada Laporan Eksplorasi

8
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

III.1.2 Struktur Geologi


Pada wilayah Kabupaten Blitar struktur geologi yang berkembang berupa
sesar, lipatan terdiri dari antiklin dan sinklin. Pada umumnya pola lipatan
searah dengan arah jalur pegunungan.
Struktur dan tektonika pada Miosen Awal terjadi penurunan diikuti genang
laut yang mengendapkan formasi Campurdarat (Tmcl) dan dilain pihak terjadi
kegiatan gunung api formasi Wuni (Tmw). Setelah pelipatan, terobosan,
pengangkatan dan erosi, terjadi pengendapan di lingkungan darat yang disusul
dengan genang laut pada Miosen tengah.

III.1.3 Geoteknik
Dalam hal operasi produksi Feldspar tidak terlalu dibutuhkan adanya
rekayasa teknik bebatuan karena pengelolaannya masih bersifat sederhana.
Pengendalian secara fisik untuk mencegah erosi dan sedimentasi adalah
dengan cara membuat jenjang (bends) untuk mengurangi kemiringan lahan,
sedangkan pengendalian secara biologi dilakukan dengan cara melakukan
revegetasi.

III.2 Keadaan Endapan


III.2.1 Bentuk dan Penyebaran Endapan
Secara geologi daerah penelitian sangat berpotensi untuk terbentuknya
endapan Feldspar yang merupakan lokasi wilayan izin usaha pertambangan
yang diberikan.
Secara umum lokasi daerah penyelidikan mempunyai potensi endapan
Feldspar, dengan ketebalan tanah pucuk/zona pengakaran (top soil) sebesar 30
cm beserta tanah penutup sebesar 70 cm. Gambar 3.1 di bawah ini
menunjukkan lokasi Feldspar yang ditemukan pada lokasi eksplorasi beserta
peta persebaran titik test pit dan kedalaman muka air tanahnya.

9
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

Gambar 3.1. Peta Test Pit, Pengambilan Sampel dan Muka Air Tanah

10
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

III.2.2 Sifat dan Kualitas Endapan


Dari hasil penyelidikan berupa pemetaan geologi dan analisa sampel
dilapangan ditemukan adanya kandungan Feldspar yang ekonomis. Feldspar
berwarna putih, kecoklat-coklatan, kilap tanah, tidak ada belahan, terdapat
pecahan dan kekerasan sedang. Keberadaan endapan Feldspar di bawah
permukaan cukup melimpah. Kegiatan eksplorasi seperti pemetaan geologi
pada titik-titik lokasi pengamatan menunjukkan bahwa lokasi WIUP Husen
Setio tersusun atas satuan batulempung. Peta geologi daerah penelitian ini
dapat dilihat pada Gambar 3.3.

Gambar 3.2. Singkapan Feldspar

Gambar 3.3. Peta Geologi


11
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

Sifat dan kualitas endapan Feldspar diperoleh dari hasil analisa


laboratorium yang dilakukan terhadap sampel yang diperoleh. Pengambilan
sampel Feldspar di wilayah izin usaha pertambangan eksplorasi diambil
sebanyak 6 (enam) sampel. Analisis laboratorium dilakukan pada satu sampel.
Hal tersebut dilakukan karena kondisi keseluruhan sampel relatif sama secara
fisik.
Analisa laboratorium dilakukan dengan melihat kandungan unsur-unsur
kimia. Untuk analisa kimia yang dianalisa adalah : kandungan Silika Dioksida
(SiO2), Alumunium Oksida (Al2O3), Besi Oksida (Fe2O3), Titan Oksida (TiO2),
Kalsium Oksida (CaO), Magnesiuam Oksida (MgO). Analisa laboratorium kimia
dilakukan di laboratorium UPT Laboratorium Uji Kualitas Air dan Mineral
Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Timur.
Hasil analisa laboratorium kimia yang dilakukan di laboratorium UPT
Laboratorium Uji Kualitas Air dan Mineral Dinas Energi dan Sumber Daya
Mineral Provinsi Jawa Timur pada sampel Feldspar Di Desa Wonotirto
Kecamatan Wonotirto adalah sebagai berikut :
Tabel 3.1. Hasil Analisis Laboratorium
HASIL
NO PARAMETER SATUAN METODE
ANALISA
1 Silika Dioksida-SiO2 % Gravimetri 66,27
2 Aluminium Oksida-Al2O3 % Gravimetri 8,3
3 Besi Oksida-Fe2O3 % Kolorimetri 18,18
4 Titan Oksida-TiO2 % Titrimetri tt
5 Kalsium Oksida-CaO % Titrimetri tt
6 Magnesium Oksida-MgO % Gravimetri 7,25

Berdasarkan hasil analisis laboratorium tersebut diketahui bahwa sampel


feldspar mengandung SiO2 yang besar yaitu 66,27 % sehingga sangat cocok
digunakan sebagai bahan baku industry keramik.

III.2.3 Sumber Daya dan Cadangan


Perhitungan sumberdaya dan cadangan feldspar di daerah penelitian
didasarkan pada beberapa asumsi sebagai berikut :
1. Metode penambangan yang digunakan adalah metode tambang terbuka
(open pit minning).

12
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

2. Front tambang dibuat dengan bentuk jenjang yang terdiri dari beberapa
jenjang dengan dengan tinggi jenjang tertentu yaitu 5 meter, lebar jenjang
5 meter dengan bentuk jenjang yang mengikuti pola kontur topografi
disekitarnya dan sudut jenjang 60. Titik tertinggi di lokasi WIUP OP
adalah 221 mdpl dan titik terendah 158 mdpl.
3. Sebaran bahan galian tersebar merata di seluruh daerah penelitian.
4. Ketebalan rata-rata tanah pucuk atau top soil dan tanah penutup adalah
1 meter.
5. Batas horizontal penambangan adalah mengikuti batas IUP Operasi
Produksi namun diberi jarak 5 meter untuk buffer.
6. Batas vertikal penambangan adalah 160 mdpl. Batas vertikal ini sekaligus
menjadi ketinggian lantai tambang dengan ketinggian yang sama yaitu
160 mdpl.
Metode penghitungan volume sumberdaya dan cadangan yang dilakukan
adalah dengan metode gridding menggunakan bantuan perangkat lunak Global
Mapper yang menghitung volume berdasarkan batas-batas yang sudah ditentukan
seperti kontur (relief), model akhir penambangan, dan parameter lainnya seperti
ketebalan top soil dan tanah penutup . Berdasarkan asumsi dan pendekatan metode
perhitungan tersebut maka dapat dihitung volume cadangan bahan galian batuan
di daerah penelitian adalah sebagai berikut :
Luas area tambang : 7,43 Ha.
Elevasi tertinggi kondisi eksisting di daerah penelitian adalah + 221
mdpl dan elevasi terendah adalah + 158 mdpl.
Elevasi tertinggi desain rencana tambang adalah tetap pada level + 221
mdpl dan terendah adalah pada level + 160 mdpl.
Ketebalan top soil dan tanah penutup rata-rata adalah 1 m
Jenjang dibuat sedemikian rupa arah dari utara ke arah selatan dan
dengan sudut kemiringan jenjang adalah 60 dan kemiringan lantai
tambang maksimum 2o. Tinggi jenjang adalah 5 meter dengan lebar
jenjang sekitar 5 meter.
Volume feldspar terambil diketahui dari volumen sumberdaya
(tanahliat + soil) dikurangi volume soil dikurangi volume feldspar
tersisa (akibat adanya jenjang).

13
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

Tabel 3.2. Perhitungan Cadangan

PARAMETER HASIL

Beda Elevasi 221-158= 63 meter


Volume Sumberdaya (Soil, 2.366.065
OB + Feldspar (m3))
Volume Top Soil + OB (m3) 74.300
Volume Jenjang (m3) 1.079.247
Cadangan Feldspar (m3) 1.212.518
Cadangan Feldspar Terambil 909.388
75 % (m3)
Kapasitas Produksi/hari 40
(ritase @5m3)
Hari Kerja/Tahun 288
Kapasitas Produksi/tahun 69.120
Umur Tambang (Tahun) 13,2

Umur tambang berdasarkan perhitungan di atas adalah 13 tahun 3 bulan. Jika


ditambah 3 bulan untuk reklamasi dan pascatambang maka umur tambang menjadi
13 tahun 6 bulan.

14
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

BAB IV
RENCANA PENAMBANGAN
IV.1 Sistem dan Tata Cara Penambangan
Tujuan utama kegiatan penambangan adalah pengambilan bahan tambang
di dalam perut bumi, sehingga mudah untuk diangkut dan diolah sesuai dengan
peruntukan maupun manfaatnya. Dalam kegiatan penambangan ini, sistem
penambangan yang dilakukan adalah tambang terbuka (Open Pit Mining) dengan
sistim berjenjang (bench). Setiap jenjang memiliki teras untuk ruang gerak peralatan
dan pelaksanaan penambangan. Desain penambangan ini memiliki lebar jenjang 5
m, tinggi jenjang 5 m, dengan sudut jenjang slope 60. Hasil produksi berupa
Feldspar (raw material) disimpan pada stock pile yang berlokasi di area WIUP OP
yang dapat dilihat pada peta fasilitas tambang.
Kegiatan penambangan akan dimulai dari kontur rendah ke kontur tinggi
atau dengan metode bottom up. Luas bukaan lahan untuk kegiatan penambangan 5
tahun pertama seluas 4 hektar.

IV.2 Tahapan Kegiatan Penambangan


Setelah mendapatkan Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi
maka kegiatan usaha pertambangan dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai
berikut :
1. Tahap Development (Persiapan Penambangan)
Untuk dapat melakukan kegiatan penambangan perlu dilakukan
development, yaitu pekerjaan-pekerjaan sebagai persiapan kegiatan
penambangan. Beberapa kegiatan yang termasuk dalam kategori pekerjaan ini
adalah :
a. Pembebasan Lahan
Lahan yang ditambang adalah milik masyarakat yang telah diadakan
kerjasama dengan kesepakatan saling menguntungkan tanpa ada paksaan
dari pihak manapun. Masyarakat pemilik lahan yang akan ditambang akan
mendapatkan keuntungan Rp. 10.000 per rit. Sementara untuk
mendapatkan dukungan dari masyarakat sekitar lokasi penambangan,
pemilik izin tambang melakukan sosialisasi tentang upaya penambangan
15
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

yang akan dilakukan beserta dampaknya yang dapat berimbas kepada


masyarakat. Masyarakat sekitar diberikan informasi yang benar tentang
proses penambangan dan diyakinkan bahwa penambangan yang akan
dilakukan merupakan penambangan yang baik (good mining practice) serta
tidak mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan.
b. Pembuatan Jalan Masuk Lokasi
Untuk mempermudah transportasi ke area penambangan maka dibuat
jalan masuk atau sering disebut sebagai jalan tambang. Pembuatan jalan
tambang di lokasi ini adalah pembangunan jalan akses dari jalan desa sampai
ke lokasi penambangan. Pintu masuk tambang berada di sebelah utara dan
jalan tambang akan mengarah ke selatan.
c. Pembuatan Prasarana Fisik
Pembuatan prasarana fisik yang diperlukan dalam memperlancar
kegiatan pertambangan. Pembangunan tersebut meliputi fasilitas
penimbunan bahan tambang (stock pile) yang juga digunakan untuk
penimbunan tanah penutup (top soil), saluran air dan kolam pengendapan.
d. Penyediaan Peralatan Tambang
Pada pekerjaan ini diupayakan penyediaan peralatan yang akan
digunakan dalam kegiatan penambangan. Alat-alat yang dipersiapkan di
antaranya adalah excavator dan dump truck. Excavator digunakan untuk
melakukan pembukaan lahan, pembersihan lahan, penambangan dan
memuat material bahan tambang atau tanah penutup ke atas dump truck,
sedangkan dump truck digunakan untuk mengangkut material tambang ke
stock pile serta untuk mengangkut tanah penutup dan tanah pucuk ke lokasi
penimbunan. Pemohon menyewa 1 excavator yang digunakan untuk kegiatan
penambangan dan pemuatan material dari stock pile ke dump truck maupun
dari lokasi penambangan langsung ke dump truck pembeli. Komoditas
feldspar yang sudah digali namun belum diangkut pembeli akan dipindahkan
ke stock pile. Pemohon menyediakan 1 dump truck dengan cara sewa yang
akan digunakan untuk pengangkutan material dari lokasi tambang ke stock
pile. Pada saat penyediaan peralatan tambang juga dilakukan mobilisasi
peralatan tersebut ke lokasi tambang.

16
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

e. Penyediaan Peralatan Keselamatan Kerja


Peralatan keselamatan kerja adalah syarat mutlak dalam setiap
kegiatan yang berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja. Peralatan
keselamatan kerja untuk lokasi tambang meliputi pelindung kepala (safety
helmet), sepatu lapangan (safety shoes), masker, sarung tangan, kacamata,
rompi, kotak P3K, alat pemadam kebakaran dan pelindung telinga. Selain
penyediaan peralatan K3, pemohon juga mengadakan sosialisasi K3 di tahun
pertama.
f. Pembersihan lahan
Sebelum kegiatan penambangan material tambang dilakukan,
pemohon melakukan pembersihan lahan dari vegetasi di permukaan dengan
menggunakan excavator dan dump truck. Pohon berbatang keras dan sudah
besar akan ditebang dan kayunya akan diserahkan ke pemilik lahan.
Pembersihan lahan dilakukan selama 7 jam dengan menggunakan tenaga
kerja 2 orang dan operator alat berat 1 orang.
g. Pengupasan top soil dan overburden
Sebelum kegiatan penambangan material tambang dilakukan,
pemohon melakukan pengupasan top soil dan tanah penutup dengan
ketebalan rata-rata 1 m dengan menggunakan excavator dan dump truck. Top
soil dan tanah penutup akan disimpan di stock pile dan akan digunakan
kembali ketika reklamasi.

2. Tahap Kegiatan Penambangan


Tujuan utama kegiatan penambangan adalah pengambilan bahan tambang
dari permukaan sehingga mudah untuk diangkut dan diolah sesuai dengan
peruntukan maupun manfaatnya. Dalam kegiatan penambangan ini, sistem
penambangan yang dilakukan adalah tambang terbuka (Open Pit Mining) dengan
sistim berjenjang (bench) bottom up. Setiap jenjang memiliki teras untuk ruang
gerak peralatan dan pelaksanaan penambangan. Desain penambangan memiliki
lebar jenjang 5 m, tinggi jenjang 5 m, dengan sudut jenjang slope 60. Hasil
produksi berupa Feldspar (raw material) akan langsung diangkut oleh pembeli
dan apabila terdapat sisa maka akan disimpan pada stock pile.
Kegiatan penambangan yang dilakukan adalah pembongkaran feldspar,
pemuatan dan pengangkutan. Kegiatan penambangan menggunakan 1 excavator
17
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

dan 1 dump truck. Excavator digunakan untuk pembongkaran material dan


pemuatan ke dump truck. Dump truck tersebut digunakan untuk mengangkut
material ke stock pile. Sistem penjualan yang dilakukan adalah dump truck
pembeli akan mengambil material secara langsung di lokasi penambangan
maupun di stock pile.
Kegiatan operasional penambangan dilakukan selama 8 jam/hari ( 1 jam
istirahat), 24 hari/bulan atau 288 hari/tahun dengan kapasitas produksi 240
m3/harib atau 40 rit/hari, 5.760m3/bulan atau 69.120 m3/tahun. Kapasitas
produksi ini sudah sesuai dengan keinginan pemohon dan sesuai permintaan
pasar.

3. Tahap Pasca Penambangan


Demi menjaga kelestarian lingkungan di lahan tambang, pertambangan
yang telah memasuki masa-masa akhir kegiatan penambangannya tidak boleh
meninggalkan area bekas pertambangannya dalam keadaan rusak atau
berpotensi menimbulkan dampak negatif pada lingkungan dan masyarakat
sekitar. Peraturan perundang-undangan mengamanatkan kepada penambang di
lokasi tersebut agar mengembalikan fungsi lahan bekas area pertambangan,
meskipun tidak mungkin dapat kembali 100% seperti sebelum dilakukan
penambangan. Kegiatan pasca tambang yang dilakukan adalah revegetasi lahan
bukaan tambang. Lahan bukaan lahan disini merupakan lahan yang ditambang
dan lahan yang digunakan untuk fasilitas tambang. Reklamasi yang dilakukan
adalah penanaman lahan dengan pohon sengon. Pohon sengon merupakan
tanaman kayu keras yang mudah tumbuh diberbagai lingkungan dan memiliki
harga jual tinggi serta permintaan yang besar.
Selama masa penambangan, pemohon juga memberikan dana
pengembangan masyarakat yang digunakan untuk pendidikan, karang taruna,
kesehatan dan kas desa. Dana tersebut diharapkan dapat digunakan untuk
mengembangkan masyarakat di lokasi sekitar tambang serta menjaga hubungan
yang baik antara pemohon dan masyarakat. Pemohon juga menggunakan tenaga
kerja dari masyarakat sekitar sehingga diharapkan kegiatan penambangan ini
dapat membuka lapangan pekerjaan baru.

18
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

PERIZINAN

PERSIAPAN PERTAMBANGAN
Pembebasan Lahan
Pembuatan fasilitas tambang
Pembuatan Jalan Tambang
Penyediaan Peralatan Pertambangan
Penyediaan Peralatan K3
Pembersihan lahan
Pengupasan tanah penutup & top soil
PENAMBANGAN

Pengambilan material (FELDSPAR)

STOCK PILE

Penjualan ke dump truck pembeli

REKLAMASI DAN PASCATAMBANG

Gambar 4.1. Diagram Alir Rencana Penambangan

IV.3 Rencana Produksi


Setelah mendapatkan Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi
maka kegiatan usaha pertambangan dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai
berikut :

19
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

Dalam kegiatan penambangan Feldspar mempunyai perencanaan


pengelolaan areal tambang Feldspar sesuai aturan yang berlaku. Berdasarkan
perhitungan cadangan terbukti yang efektif pada lokasi izin yang diberikan
sebesar 925.087 m3. Dalam perencanaan kegiatan usaha pertambangan sebagai
berikut :
a. Waktu kerja efektif :
= 24 hari / bulan
= 288 hari / tahun
b. Jumlah produksi Feldspar :
= 240m3 / hari
= 5.760 m3 / bulan
= 69.120 m3/ tahun
c. Umur tambang : 13 tahun 3 bulan
Produksi yang dilakukan sebesar 69.120 m3 per tahun dan pada tahun
terakhir produksi yang dilakukan sebesar 10.828 m3 yang merupakan sisa
material dari tahun 1 sampai 13. Bukaan lahan yang dilakukan adalah sebagai
berikut:
Tabel 4.1. Luas Bukaan Lahan
Luas Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5
Bukaan 0.46 ha 1 ha 1 ha 1 ha 1 ha
Lahan

Gambar 4.2 memperlihatkan luas bukaan selama 5 tahun pertama dan


luas bukaan eksisting. Gambar 4.3 dan Gambar 4.4 memperlihatkan desain
jenjang selama 5 tahun pertama. Bentuk akhir tambang pada tahun ke 13 dapat
dilihat di Gambar 4.5 dan Gambar 4.6.

20
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

Gambar 4.2. Bukaan Lahan 5 Tahun dan Bukaan Eksisting

Gambar 4.3. Rencana Desain Tambang 5 Tahun

21
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

Gambar 4.4. Peta Kontur Desain Tambang 5 Tahun

22
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

Gambar 4.5. Peta Akhir Tambang

23
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

A A

Gambar 4.6. Kenampakan 3 Dimensi Peta Akhir Tambang

24
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

IV.4 Peralatan
Kebutuhan akan penggunaan peralatan dalam kegiatan usaha
pertambangan sangat penting dan dibutuhkan dalam pengelolaannya yang mana
jumlah dan kebutuhan disesuaikan dengan kapasitas produksi. Jenis peralatan
yang akan digunakan dalam kegiatan usaha pertambangan secara umum
meliputi :

Tabel 4.2. Peralatan Pertambangan


Alat Jumlah Kegunaan Sistem
Excavator 1 Alat Penambangan Sewa
Alat Pemuatan Rp. 180.000 /
jam
Dump truck 1 Alat Pengangkutan Sewa
Kapasitas 6 m3 Rp. 80.000 /
jam

Tabel 4.3. Peralatan K3


Peralatan K3 Jumlah
Safety Helmet 8
Safety Shoes (Boot) 8
Masker (Masker Hidung Filter) 8
Sarung Tangan 8
Kacamata 8
Kotak P3K 2
Rompi Safety 8
Alat Pemadam Kebakaran 1
Pelindung Telinga 8

IV.5 Pembangunan Sarana dan Prasarana


Kebutuhan akan sarana dan prasarana dalam penambangan sangat
penting dan dibutuhkan dalam pengelolaannya yang mana jumlah dan
kebutuhan disesuaikan dengan kapasitas produksi dan jenis komoditas yang
ditambang. Pembangunan sarana dan prasarana yang akan dilakukan dalam
kegiatan usaha pertambangan ini meliputi :
a. Pembuatan jalan tambang
Jalan tambang digunakan sebagai sarana mobilisasi segala kegiatan
usaha pertambangan di lokasi pertambangan, seperti : pengangkutan
tanah penutup, pengangkutan material Feldspar yang akan diletakkan
pada stock file, dan lain-lainnya. Lebar jalan tambang direncanakan
selebar 7 meter agar dapat digunakan dua arah (bersimpangan) oleh
25
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

kendaraan angkut. Beberapa ruas jalan tambang sudah dibuat


sebelumnya oleh penambang liar sehingga pemohon hanya perlu
menambahkan sedikit ruas jalan tambang sepanjang 150 meter. Total
panjang jalan tambang yang ada sepanjang 403 meter. Peta jalan
tambang dapat dilihat pada Gambar 4.5.
b. Kantor
Lokasi kantor berada di rumah Bapak Husen Setio. Hal tersebut
dilakukan karena lokasi tambang tidak jauh dari rumah Bapak Husen
Setio dan dilakukan untuk penghematan biaya konstruksi.
c. Pembuatan Kolam sedimen
Pembuatan kolam sedimen digunakan sebagai sarana untuk
mendukung kelancaran kegiatan usaha pertambangan khususnya dalam
penanganan limbah yang terjadi dalam kegiatan usaha pertambangan,
seperti : limbah air ataupun endapan tanah / lumpur. Limbah air atau
endapan tanah (lumpur) yang dihasilkan dari kegiatan usaha
pertambangan di salurkan ke kolam sedimen melalui saluran air yang
dibuat disekitar lokasi tambang. Proses yang dilakukan di kolam sedimen
menggunakan prinsip gravitasi dan tumbukan. Luas kolam sedimen
direncanakan seluas 50 m2 ( 5 m x 10 m ).
d. Pembuatan Saluran Air di Lokasi Tambang dan sekitarnya
Pembuatan saluran air digunakan sebagai sarana untuk mendukung
kelancaran kegiatan usaha pertambangan khususnya dalam
penanganan limbah yang terjadi dalam kegiatan usaha pertambangan,
seperti : limbah air ataupun endapan tanah / lumpur.
Saluran air berfungsi sebagai media tempat menyalurkan limbah air
atau endapan tanah (lumpur) yang dihasilkan dari kegiatan usaha
pertambangan ke kolam sedimen. Saluran air dibuat disekitar lokasi
tambang. Lebar saluran air direncanakan selebar 0,6 meter sampai 1,0
meter, sedangkan total panjang saluran air yang akan di buat sepanjang
di akhir penambangan 941 meter.
f. Pembuatan Lokasi Stock Pile dan Tempat Penimbunan Tanah Penutup dan
Tanah Pucuk
Pembuatan lokasi stock pile digunakan sebagai sarana untuk
mendukung kelancaran kegiatan usaha pertambangan khususnya

26
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

sebagai tempat penimbunan material Feldspar yang telah ditambang


untuk di jual. Penempatan lokasi stock file tidak terlalu jauh dari lokasi
tambang yaitu di sebelah utara. Luas lokasi stock pile direncanakan
seluas 320 m2 ( 32 m x 10 m) dimana 100 m2 digunakan untuk tempat
penimbunan tanah pucuk dan tanah penutup serta 220 m2 digunakan
untuk penimbunan feldspar.

Gambar 4.7. Peta Fasilitas Tambang

IV.6 Jadwal Rencana Produksi dan Umur Tambang


Berdasarkan perhitungan, cadangan terbukti yang efektif pada lokasi izin
sebesar 909.388 m3. Dengan perencanaan jumlah produksi Feldspar setiap
tahun sebesar 69.120 m3, maka umur tambang 13 tahun 6 bulan dimana 3 bulan
terakhir digunakan untuk reklamasi dan pascatambang. Dengan rincian rencana
produksi kegiatan penambangan Feldspar setiap bulannya sebesar 5.760 m3.

27
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

IV.7 Rencana Penanganan


Upaya optimalisasi penambangan dapat dilakukan dengan baik dan benar
dengan memperhatikan peningkatan recovery dengan cara :
1. Pengolahan areal tambang sebaiknya disesuaikan dengan kandungan
Feldspar.
2. Pemanfaatan Feldspar disesuaikan dengan permintaan pasar.
3. Penanganan pengembangan masyarakat akan melibatkan seluruh pihak
terkait seperti Pemerintah Daerah, Masyarakat, Tokoh Masyarakat dan
Pemilik Izin. Setiap bulan akan dianggarkan untuk pemberdayaan
masyarakat.
Dalam rangka penangan limbah yang dihasilkan dari kegiatan usaha
pertambangan khususnya endapan tanah (lumpur), maka dilakukan penanganan
dengan membuat lokasi kolam sedimen dan saluran air di lokasi pertamabangan
dan sekitarnya.

IV.8 Rencana Penanganan Sisa Cadangan Pada Pasca Tambang


Tidak ada sisa cadangan feldspar yang tersisa

28
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

BAB V
RENCANA PENGOLAHAN DAN
PEMURNIAN
Pengolahan dan Pemurnian
Pengolahan dan pemurnian adalah kegiatan usaha pertambangan untuk
meningkatkan mutu Feldspar melalui proses pengolahan dan pemurnian. Pada
kegiatan tambang ini produksi yang dihasilkan berupa feldspar dalam bentuk
bahan mentah (raw meterial). Material bahan mentah tersebut di jual ke pembeli
untuk selanjutnya diolah dan diproses oleh pembeli sesuai kebutuhannya
biasanya untuk industry keramik.
Oleh karena itu dalam hal ini penambang tidak akan melakukan proses
pengolahan dan pemurnian terhadap feldspar. Dengan kata lain proses
pengolahan dan pemurnian dalam hal ini tidak dilakukan.

29
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

BAB VI
PENGANGKUTAN DAN
PENJUALAN
Proses pengangkutan mengacu kepada keadaan topografi dan lingkungan
tanah penutup diarea disposal, dibuat timbunan berjenjang dengan tinggi jenjang
5 meter, lebar lantai jenjang untuk kegiatan adalah 5 meter dan slope 60.
sehingga tingkat keamanan terjamin dan kemungkinan longsor dapat
diminimalisasi. Adapun proses pengangkutan dan penjualan dapat digambarkan
sebagai berikut :
1. Proses pengangkutan dari lokasi penambangan
Dump truck pembeli akan datang langsung ke lokasi penambangan tempat
kegiatan pembongkaran material melalui jalan tambang. Excavator akan
memuatkan material feldspar ke dalam dump truck pembeli.
2. Proses pengangkutan menuju stock pile menggunakan jalan tambang.
Lokasi stock pile berada di dalam area tambang seperti terlihat pada Gambar
4.7. Kegiatan ini menggunakan 1 excavator yang digunakan untuk kegiatan
penambangan dan memuatkan Feldspar ke dalam dump truck. Kegiatan
pengangkutan feldspar dari lokasi tambang menuju stock pile menggunakan
1 dump truck kapasitas 6 m3 yang disewa oleh pemohon.
3. Proses pengangkutan dari stock pile
Pembeli akan datang ke stock pile apabila terdapat material sisa tambang yang
berada di stock pile.
4. Adapun dampak perubahan yang dapat terjadi antara lain :
a. Perubahan kualitas air tanah.
b. Kebisingan dan
c. Debu.
Dampak perubahan kualitas air tanah ini dapat diminimalisir dengan
melakukan kegiatan penambangan tidak sampai batas muka air tanah,
membuat saluran air (parit-parit) untuk mengalirkan air dan melakukan
pengupasan tanah penutup dan pembersihan lahan dengan good minning
practice. Dampak kebisingan dapat dikurangi dengan cara pemuatan yang

30
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

tidak melebihi kapasitas muat sehingga saat melewati tanjakan tajam tidak
menimbulkan suara bising akibat ketidak mampuan unit. Sedangkan
dalam kegiatan aktifitas transportasi semua armada dump truck di lengkapi
dengan terpal sehingga debu yang tertiup angin dapat dikurangi intensitas
dan volumenya. Dalam pengangkutan dari lokasi tambang ke stock pile
akan dilakukan setiap hari. Proses penjualan Feldspar akan digunakan
untuk kegiatan pembangunan di Kabupaten Blitar dan sekitarnya.

31
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

BAB VII
KESELAMATAN DAN KESEHATAN
KERJA
VII.1 Lingkungan
VII.1.1 Dampak Kegiatan
Aspek-aspek pengelolaan lingkungan sebagai dampak kegiatan
penambangan ini dan upaya pemantauan dapat kami gambarakan sebagai
berikut :
Tabel 7.1 Dampak Lingkungan
Jenis Rencana Upaya Pengelolaan
No Sumber Dampak
Dampak Lingkungan (UKL)

1 Debu Pengupasan dan penimbunan Land clearing dilakukan hanya pada


tanah penutup, Penambangan, lahan yang segera ditambang
penimbunan Debu dan tanah (overburden) yang
muncul saat pengangkutan pada jalan
angkut dilakukan penyiraman
Mengatur kecepatan kendaraan
pengangkut maksimum 60 km/jam,
sedangkan unit sarana maksimum 70
km/jam
Segera melakukan kegiatan revegetasi
pada daerah yang sudah direklamasi
pada daerah tambang
2 Kebisingan Pengupasan dan penimbunan Penggunaan Ear plug selama operasi
tanah penutup, penambangan, penambangan
pengangkutan Feldspar Pemasangan peredam pada peralatan
yang menjadi sumber bising
Melakukan pemeriksaan kesehatan bagi
karyawan
3 Erosi dan Penebasan dan pembersihan Penataan lereng
Sedimentasi lahan, Pengupasan dan Memperbanyak bangunan permanen
penimbunan tanah penutup pengendali erosi Reklamasi dan
revegetasi
Membuat saluran Drainase tambang
Membuat Perangkap dan kolam sedimen.
4 Kualitas Air Penebasan dan pembersihan Pengadaan dan treatment kolam
lahan, Pengupasan dan pengendap. Maintenace kolam
penimbunan tanah penutup pengendap secara berkala.
5 Transportasi Kegiatan pengangkutan bahan Mengatur dan menentukan jalur alternatif
dan material khusus untuk kendaraan berat

32
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

pengangkut alat material


Mengatur jalur transportasi sehingga
tidak mengganggu aktivitas warga

Pemantauan lingkungan dilakukan dengan menggunakan pengambilan


sampel air yang akan dianalisa di laboratorium dan selanjutnya akan
dibandingkan dengan baku mutu limbah. Analisis sampel air dilakukan satu
bulan sekali. Analisis sampel debu dan kebisingan tidak dilakukan karena kedua
komponen tersebut relatif tidak mengalami dampak yang besar.

VII.1.2 Pengelolaan Lingkungan


Operasi penambangan dan pengelolaan Feldspar ini mengacu pada konsep
pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Untuk mencapai
sasaran tersebut maka telah dilakukan suatu program pengelolaan dan
pemantauan lingkungan selama pelaksanaan operasi penambangan Feldspar
yang memberi gambaran tentang kondisi lingkungan awal (Rona Lingkungan),
Prediksi dampak dan cara penanggulangannya yang mengacu pada dokumen
lingkungan.
VII.1.2.1 Pengelolaan Limbah
Untuk penanganan limbah dalam kegiatan penambangan dapat
dilakukan sebagai berikut :
a) Limbah Domestik
Yaitu limbah yang dihasilkan oleh para pekerja tambang, seperti sisa
makanan, air seni, tinja dan sebagainya. Karena para pekerja tambang
rata-rata adalah warga sekitar maka tidak didapatkan permasalahan
dalam pengelolaan limbah domestik ini.
b). Limbah Tambang
Limbah tambang dari aktivitas penambangan Feldspar yang utama
adalah tanah penutup dan batuan lain yang tidak termasuk komoditi
yang ditambang. Untuk penanganan limbah ini telah direncanakan
bahwa tanah penutup akan dilokalisir ke stock pile.
Untuk areal tambang yang telah dieksploitasi rencana reklamasi
akan dilakukan dengan revegetasi menggunakan sengon.

33
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

VII.1.2.2 Rencana Reklamasi dan Pemanfaatan Lahan Pasca


Tambang
Dalam kegiatan reklamasi disesuaikan dengan tahapan kegiatan
penambangan. Tahapan kegiatan penambangan akan dilakukan dari
permukaan ke batas bawah yang masih ekonomis ditambang (160 meter
diatas permukaan laut). Jadi sistem penambangan dilakukan dari
permukaan ke bawah. Berdasarkan hal tersebut, maka kegiatan
reklamasi akan dilakukan pada lokasi atau blok yang sudah selesai
ditambang.
Berdasarkan kesepakatan dengan pemilik lahan dan dikompilasi
dengan rencana tata ruang di wilayah tersebut, maka pasca tambang
wilayah ini (lahan bekas tambang) akan dikembangkan atau difungsikan
sebagai kawasan perkebunan (sengon).
VII.1.3 Pemantauan Lingkungan
Pemantauan lingkungan mengacu kepada dokumen lingkungan yang
telah disetujui. Aspek lingkungan yang dipantau dalam pengelolaan Feldspar
yang dilakukan adalah kualitas air. Pengambilan contoh air akan dilakukan
di dekat lokasi penambangan dan selanjutnya akan dianalisa di laboratorium.
Jumlah sampel air yang diambil adalah 1 sampel per bulan. Aspek kebisingan
maupun kualitas udara tidak akan mengalami perubahan yang signifikan dan
tidak akan menganggu lingkungan sehingga tidak dilakukan analisis
laboratorium.
VII.2 Keselamatan dan Kesehatan Kerja
VII.2.1 Organisasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Kegiatan ini dipimpin oleh pemilik izin sendiri. Jumlah tenaga kerja yang
rencananya akan dipekerjakan sebagai tenaga pertambangan pada areal
pertambangan sebanyak 3 (tiga) orang yang disesuaikan dengan kebutuhan
masing-masing. Bagian administrasi akan mengurus masalah administrasi
kegiatan pertambangan serta terdapat 1 orang operator alat tambang yang
ditempatkan di lokasi tambang dan stock pile.

34
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

VII.2.2 Peralatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Jumlah pekerja di lokasi tambang sebanyak 6 orang dan peralatan K3
yang dibeli sejumlah 8 buah dimana 2 buah alat digunakan sebagai
persediaan. Peralatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang akan
digunakan untuk kegiatan usaha pertambangan Di Desa Wonotirto
Kecamatan Wonotirto Kabupaten Blitar sebagai berikut :

Tabel 7.2. Peralatan K3

Peralatan K3 Jumlah
Safety Helmet 8
Safety Shoes (Boot) 8
Masker (Masker Hidung Filter) 8
Sarung Tangan 8
Kacamata 8
Kotak P3K 2
Rompi Safety 8
Alat Pemadam Kebakaran 1
Pelindung Telinga 8

VII.2.3 Langkah-Langkah Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan


Kerja (K3) Pertambangan
Kegiatan mobilisasi peralatan (alat berat dan kendaraan dump truck)
dan material pada tahap operasi produksi akan memberikan dampak terhadap
kondisi kesehatan pekerja dan masyarakat disekitar lokasi penambangan.
Kegiatan pembersihan dan pengupasan tanah penutup, penambangan
Feldspar dan kegiatan pemuatan dan pengangkutan hasil tambang akan
menimbulkan dampak terhadap lingkungan berupa penurunan kualitas
udara, air dan biota lainnya disekitar areal penambangan. Untuk itu tetap
berupaya agar lingkungan sekitar areal tambang tetap pada kondisi yang layak
untuk ditempati.
Proses pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K-3) tetap
mengacu pada ketentuan yang ada. Adapun tahapan proses dapat kami
gambarkan sebagai berikut :
1. Setiap pagi dan sore hari dilakukan proses rencana dan evaluasi kerja.
2. Tenaga kerja diareal penambangan telah dibekali dengan skill dan
pengetahuan penggunaan peralatan tambang

35
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

3. Peralatan kerja mulai dari sepatu boot, pakaian kerja, masker,


pelindung telinga, rompi, kacamata dan helm dengan menggunakan
standarisasi keselamatan kerja
4. Kotak P3K telah dilengkapi dengan berbagai macam obat untuk
penanggulangan dan pertolongan pertama yang sifatnya pencegahan
dan pengobatan.
5. Jam kerja telah diatur pelaksanaannya sesuai dengan aturan tenaga
kerja yang berlaku yaitu 8 jam dalam satu hari dan 24 hari kerja dalam
satu bulan.

VII.2.4 Jumlah dan Kriteria Tenaga Kerja


Kegiatan ini langsung dipimpin oleh pemilik izin yang dibantu dengan
tenaga lapangan sebanyak 3 (tiga) orang dengan rincian semua orang sebagai
tenaga tetap, dengan rincian sebagai berikut :

Tabel 7.3. Tenaga Kerja

JUMLAH
NO GAJI Karyawan
(org)
1 Kepala Tambang 1
2 Tenaga Tambang 3
3 Operator alat berat 1
4 Administrasi 1

Kegiatan pertambangan dipimpin oleh seorang Kepala Tambang dan


dibantu 1 orang tenaga administrasi. Tenaga tambang di lapangan berjumlah
3 orang. Tenaga tambang tersebut terdiri atas 1 sopir dump truck yang akan
mengangkut Feldspar dari lokasi tambang ke stock pile dan 2 tenaga tambang
umum yang mengatur operasional pertambangan. Operator alat berat terdiri
atas 1 operator untuk lokasi tambang. Bagian administrasi akan bertugas
untuk mencatat jumlah produksi tiap hari dan bertanggung jawab untuk
pelaporan kegiatan tambang dan perhitungan pajak. Kepala Tambang akan
bertanggungjawab terhadap jalannya kegiatan pertambangan di lapangan.

36
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

VII.3 Tingkat Gaji dan Upah

Tingkat penggajian mengacu kepada Standar Satuan Harga Barang


Pemerintah Provinsi Jawa Timur 2017 namun terhadap karyawan tertentu
penggajiannya berdasarkan atas pengalaman dan tanggung jawab,
kredibilitas serta loyalitas. Dalam hal sistim kerja mengacu kepada ketentuan
Undang-Undang dan aturan yang berlaku. Rincian tingkat gaji berdasarkan
jenis pekerjaan dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 7.4. Gaji Tenaga Kerja

NO GAJI KARYAWAN JUMLAH (org) GAJI SATUAN GAJI 1 TAHUN


1 Kepala Tambang 1 Rp 5,000,000 Rp 60,000,000
2 TenagaTambang 3 Rp 2,500,000 Rp 90,000,000
3 Operator alat berat 1 Rp 4,250,000 Rp 51,000,000
4 Administrasi 1 Rp 2,875,000 Rp 34,500,000
TOTAL Rp 235,500,000

VII.4 Sistem Kerja


Sistem kerja dalam kegiatan penambangan ini tiap hari dilakukan kegiatan
penambangan dan pengangkutan dari lokasi tambang di Desa Wonotirto
Kecamatan Wonotirto Kabupaten Blitar ke lokasi stok pile. Waktu kerja setiap hari
selama 8 (delapan) jam kerja dengan rincian efektif kerja 7 (tujuh) jam istirahat 1
(satu) jam dari jam 07.30 WIB sampai 15.30 WIB. Waktu kerja dalam satu bulan
adalah 24 hari.

37
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

BAB VIII
RENCANA PEMASARAN
VIII.1 Bagan Organisasi Pemasaran
Dalam mendukung kegiatan usaha pertambangan yang kontinyu dan
menguntungkan diperlukan bagian pemasaran yang handal dan solid. Pada
kegiatan usaha pertambangan ini bersifat perorangan, maka kegiatan pemasaran
akan dilakukan oleh pemilik izin yang didukung oleh karyawan tetap. Jadi
penanggung jawab pemasaran di pegang pemilik izin yang akan dibantu oleh :
1. Bagian Administrasi :
Dalam administrasi pemasaran pemilik izin akan dibantu oleh tenaga
administrasi. Tugas bagian administrasi, antara lain :
- Membukukan perjanjian jual beli Feldspar secara baik dan benar.
- Membuat dan menyusun bukti / kuitansi pembayaran.
- Memberikan usulan untuk pembukuan atau pengadministrasian
penjualan.
2. Bagian Lapangan / Kepala Tambang :
Di lapangan untuk pemasaran pemilik izin akan dibantu oleh tenaga
lapangan, yaitu : Kepala Tambang. Tugas Kepala Tambang dalam pemasaran,
antara lain :
- Membantu pemilik izin mencarikan pangsa pasar baik di Kabupaten Blitar
maupun di wilayah sekitar Kabupaten Blitar.
- Memberikan usulan untuk pemasaran kepada pemilik izin.
- Mengawasi pelaksanaan kegiatan dilapangan agar sesuai dengan
perencanaan.
VIII.2 Prospek Pemasaran
Penjualan atau pemasaran Feldspar di sekitar Kabupaten Blitar dan
kabupaten sekitarnya. Hal hal yang masih dalam tahap pendekatan (negosiasi)
biasanya masalah harga. Sedangkan jika spesifikasi tidak sesuai dengan yang
dibutuhkan, maka dengan sendirinya tidak dilanjutkan. Pembeli komoditas
Feldspar yang dijadikan sasaran pemasaran adalah pemilik industri keramik.

38
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

VIII.3 Mekanisme Penjualan


Untuk mencapai suatu keberhasilan tentunya tidak terlepas dari aspek
pemasaran dan penjualan suatu produk. Dengan tekad dan kerja keras disertai
dengan niat tulus dalam memajukan dan membangun bisnis usaha
pertambangan Feldspar, maka pangsa pasar selalu ada.
VIII.3.1 Sistem Penjualan
Mekanisme penjualan diawali dengan adanya kontrak kerja yang dibuat
oleh kedua belah pihak antara pihak penjual dengan pihak pembeli mengenai:
- Waktu pengiriman
- Jumlah material
- Kandungan (kadar)
- Pembayaran
Bilamana ketentuan diatas ini telah terpenuhi maka mekanisme
pembayaran dilakukan sesuai kontrak.
Sedangkan mekanisme penjualan yang tidak melalui kontrak kerja,
direncanakan pembeli langsung membayar ditempat melalui bagian
administrasi.

VIII.3.2 Jenis, Kadar dan Harga Pasar


Adapun jenis produk yang kami pasarkan adalah Feldspar dengan kisaran
kadar kandungan SiO2 sebesar 66,27 % yang sangat baik untuk industri keramik
dengan harga jual Rp. 40.000 / m 3.

39
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

BAB IX
INVESTASI DAN ANALISIS
KELAYAKAN
IX.1 Investasi
Biaya investasi yang dibutuhkan dalam pengelolaan tambang Feldspar
adalah sebagai berikut :
IX.1.1 Modal Tetap
Rincian modal tetap yang diperlukan dalam kegiatan
penambangan di Desa Wonotirto Kecamatan Wonotirto Kabupaten Blitar,
sebagai berikut :

Tabel 9.1. Modal Tetap

NO KEGIATAN BIAYA
1 Biaya perizinan (pencadangan wilayah, cetak peta, administrasi) Rp 15,000,000
2 Biaya Ekplorasi dan Pembuatan UKL UPL Rp 60,000,000
3 Pembuatan Jalan Tambang Rp 5,000,000
4 Pembuatan Tempat Penyimpanan Tanah Pucuk, Stockpile (320 m2) Rp 10,000,000
5 Pembuatan Saluran Air Rp 5,000,000
6 Pembuatan Kolam Pengendapan (50 m2) Rp 5,000,000
7 Jaminan Reklamasi Rp 107,600,000
8 Jaminan Pascatambang Rp 20,100,000
TOTAL Rp 227,700,000

Uraian :

1. Biaya perizinan adalah biaya yang dikeluarkan dari proses awal izin
sampai izin usaha pertambangan operasi produksi terbit, seperti : biaya
transportasi, biaya administrasi, biaya pembayaran cetak peta, biaya
pencadangan wilayah izin usaha pertambangan.
2. Biaya eksplorasi terdiri atas biaya kegiatan eksplorasi di lapangan dan
pembuatan dokumen Laporan Eksplorasi, Studi Kelayakan, RKAB,
Rencana Reklamasi dan Pascatambang serta UKL-UPL.
3. Pembuatan jalan tambang
Pembuatan jalan tambang yang dibuat hingga akhir penambangan
sepanjang 150 meter, dengan biaya pembuatan jalan tambang sebesar
40
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

Rp. 5.000.000 di awal tahun. Pembuatan jalan di awal tahun hanya


untuk menghubungkan jalan desa hingga mulut tambang karena pada
dasarnya pembuatan jalan tambang beriringan dengan kemajuan
tambang sehingga biaya pembuatan jalan di awal tahun tidak terlalu
besar.
4. Pembuatan tempat penyimpanan tanah penutup dan tanah pucuk serta
stockpile
Pembuatan tempat penyimpanan tanah penutup total dan stockpile
seluas 320 m2 dengan biaya sebesar Rp. 10.000.000. Pembuatan lokasi
stock pile digunakan sebagai sarana untuk mendukung kelancaran
kegiatan usaha pertambangan khususnya sebagai tempat penimbunan
material Feldspar yang telah ditambang namun belum dibeli oleh pembeli.
Penempatan lokasi stock file tidak terlalu jauh dari lokasi tambang yaitu
di sebelah utara. Luas lokasi stock pile direncanakan seluas 320 m2 ( 32
m x 10 m) dimana 100 m2 digunakan untuk tempat penimbunan tanah
pucuk dan tanah penutup serta 220 m2 digunakan untuk penimbunan
material. Tempat penyimpanan tanah penutup berupa tanah rata yang
sekitarnya dibuat parit untuk saluran air. Timbunan tanah penutup dan
tanah pucuk akan ditutup terpal.

5. Pembuatan kolam pengendapan


Pembuatan kolam sedimen dibuat sekitar 50 m2 dengan biaya pembuatan
kolam sedimen sebesar Rp. 5.000.000. Kolam pengendapan seluas 5 m x
10 m berupa lahan yang dikeruk hingga berbentuk kolam.
6. Pembuatan saluran air
Pembuatan saluran air dibuat bersamaan dengan pembukaan dan
pembersihan lahan dan biaya yang dianggarkan sebesar Rp. 5.000.000.
7. Jaminan Reklamasi
Jaminan reklamasi adalah biaya yang digunakan untuk jaminan
reklamasi yang akan dibayarkan di depan. Jadi biaya reklamasi dalam
hal ini dimasukkan dalam modal tetap yaitu sebesar Rp. 107.600.000.
8. Jaminan Pascatambang
Jaminan pascatambang adalah biaya yang digunakan untuk jaminan
pascatambang yang akan dibayarkan di depan. Jadi biaya

41
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

pascatambang dalam hal ini dimasukkan dalam modal tetap yaitu


sebesar Rp. 20.100.000.

XI.1.2 Modal Kerja


Modal kerja adalah biaya kegiatan operasi produksi yang
dikeluarkan dalam kegiatan penambangan. Rincian modal kerja yang
dibutuhkan setiap bulan dalam pengelolaan tambang Feldspar di Desa
Wonotirto Kecamatan Wonotirto Kabupaten Blitar dapat digambarkan
sebagai berikut :

1. Mobilisasi peralatan
Mobilisasi peralatan tambang berupa excavator membutuhkan biaya Rp.
2.000.000 yang hanya dikeluarkan pada tahun pertama.
2. Pembersihan Lahan dan Pengupasan Tanah Pucuk dan Tanah Penutup
Pembersihan lahan dan pengupasan tanah pucuk dan tanah penutup
dilakukan sebelum penggalian material tambang. Kegiatan ini dilakukan
seiring dengan luas bukaan lahan per tahunnya dimana selama 5 tahun
pertama lahan yang akan dibuka seluas 4 hektar. Kegiatan ini
membutuhkan excavator untuk membersihkan lahan, mengupas tanah
pucuk dan mengupas tanah penutup serta dump truck yang digunakan
untuk mengangkut vegetasi yang sudah dibersihkan, tanah penutup
dan tanah pucuk.

Tabel 9.2. Biaya Pembersihan Lahan

BIAYA SEWA/GAJI BIAYA BBM


NO KEGIATAN UNIT Jml TOTAL JAM KERJA BIAYA TOTAL
SEWA/JAM JUMLAH L/JAM HARGA/L JUMLAH
1 Pembersihan Lahan Komatsu PC 200 1 7 Rp 180,000 Rp 1,260,000 15 Rp 8,000 Rp 840,000 Rp 2,100,000
2 Tenaga kerja (operator alat) Orang 1 7 Rp 205,000 Rp 205,000
3 Tenaga Buruh dan Supir Truck Orang 2 7 Rp 55,000 Rp 110,000
4 Dump Truck 4T/5T 1 4 Rp 80,000 Rp 320,000 5 Rp 8,000 Rp 160,000 Rp 480,000
TOTAL Rp 2,895,000

Tabel 9.3. Biaya Pengupasan Tanah Pucuk dan Tanah Penutup


BIAYA SEWA/GAJI BIAYA BBM
NO KEGIATAN UNIT Jml TOTAL JAM KERJA BIAYA TOTAL
SEWA/JAM JUMLAH L/JAM HARGA/L JUMLAH
1 Pembersihan Lahan Komatsu PC 200 1 7 Rp 180,000 Rp 1,260,000 15 Rp 8,000 Rp 840,000 Rp 2,100,000
2 Tenaga kerja (operator alat) Orang 1 7 Rp 205,000 Rp 205,000
3 Tenaga Buruh dan Supir Truck Orang 2 7 Rp 55,000 Rp 110,000
4 Dump Truck 4T/5T 1 4 Rp 80,000 Rp 320,000 5 Rp 8,000 Rp 160,000 Rp 480,000
TOTAL Rp 2,895,000

42
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

3. Gaji Karyawan
Gaji karyawan sudah disesuaikan dengan Standar Harga Pokok
Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2017. Tenaga Tambang berjumlah
3 orang yang terdiri dari 1 orang supir dump truck dan 2 orang tenaga
lapangan. Gaji karyawan dibayarkan tiap bulan.

Tabel 9.4. Gaji Karyawan


NO GAJI KARYAWAN JUMLAH (org) GAJI SATUAN GAJI 1 TAHUN
1 Kepala Tambang 1 Rp 5,000,000 Rp 60,000,000
2 TenagaTambang 3 Rp 2,500,000 Rp 90,000,000
3 Operator alat berat 1 Rp 4,250,000 Rp 51,000,000
4 Administrasi 1 Rp 2,875,000 Rp 34,500,000
TOTAL Rp 235,500,000

4. Sewa Alat Berat


Pemohon menyewa alat berat berupa 1 excavator. Biaya sewa excavator Rp.
180.000 per jam dimana dalam satu hari ada 7 jam kerja. Biaya sewa dump
truck sebesar Rp. 80.000 per jam.

Tabel 9.5. Sewa Alat Berat

NO ALAT JUMLAH HARGA SEWA (JAM) WAKTU BIAYA


1 Excavator Komatsu PC200 1 Rp 180,000 7 Rp 1,260,000
2 Dump Truck 1 Rp 80,000 7 Rp 560,000
TOTAL 1 HARI Rp 1,820,000
TOTAL 1 BULAN Rp 43,680,000
TOTAL 1 TAHUN Rp 524,160,000

5. Biaya Bahan Bakar


Excavator membutuhkan bahan bakar berupa solar sebanyak 15 liter per
jam. Harga solar sebesar Rp. 8.000 per liter. Dump truck membutuhkan
solar sebanya 20 liter per hari. Kebutuhan solar dump truck sedikit karena
dump truck ini digunakan untuk mengangkut sisa feldspar yang belum
diambil langsung oleh pembeli dan jarak antara lokasi penambangan dan
stockpile dekat.

43
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

Tabel 9.6. Biaya Bahan Bakar


BBM BBM Biaya BBM Jumlah BIAYA
No Jenis Alat Jenis Unit
Lt/hr Lt/Thn per tahun Unit 1 TAHUN
1 Excavator PC 200 105 30240 Rp 241,920,000 1 Rp 241,920,000
2 Dump Truck 6 m3 20 5760 Rp 46,080,000 1 Rp 46,080,000
Rp 288,000,000
NO KETERANGAN Jumlah
Jumlah Jam Kerja / Tahun (7 Jam per hari, 24
1 hari per bulan, 12 bulan per tahun) 2016
2 Harga BBM (Rp/Ltr) Rp 8,000
4 Kebutuhan BBM (Ltr/Jam) 15
5 Kebutuhan BBM Dump Truck (Ltr/hr) 20

6. Biaya Kerjasama
Pemohon menggunakan lahan masyarakat untuk ditambang dengan
metode kerjasama dimana pemilik lahan akan mendapatkan keuntungan
Rp. 10.000 per rit. Produksi satu tahun sebanyak 11.520 rit.

Tabel 9.8. Biaya Kerjasama


Kerjasama Harga per rit Produksi Biaya
Pemilik Lahan Rp 10,000 11520 Rp 115,200,000
TOTAL Rp 115,200,000

7. Biaya Pengembangan Masyarakat


Pemohon berkomitmen untuk mengadakan kegiatan penambangan yang
selaras dengan kpentingan masyarakat dan berusaha meningkatkan taraf
hidup masyarakat sekitar melalui program pengembangan masyarakat.
Program pengembangan masyarakat terdiri dari bidang pendidikan yaitu
pemberian bantuan biaya pendidikan bagi keluarga tidak mampu, bidang
keagamaan seperti pengajian, iuran karang taruna untuk kegiatan desa,
bidang kesehatan berupa bantuan biaya pengobatan bagi keluarga tidak
mampu serta pemberian kas desa.

Tabel 9.9. Biaya Pengembangan Masyarakat


NO NAMA KEGIATAN BIAYA PER BULAN BIAYA 1 TAHUN
1 Pendidikan Rp 2,000,000 Rp 24,000,000
2 Keagamaan, Karang Taruna dll Rp 2,000,000 Rp 24,000,000
3 Kesehatan Rp 2,000,000 Rp 24,000,000
4 Kas Desa (Rp. 25.000/rit) Rp 24,000,000 Rp 288,000,000
TOTAL Rp 360,000,000

44
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

8. Biaya K3
Pemohon melakukan pengadaan peralatan K3 setiap tahun dan pengadaan
sosialisasi K3 yang dilakukan pada tahun pertama. Seluruh kegiatan
tersebut dilakukan agar kegiatan pertambangan dapat berjalan dengan
lancar tanpa ada kecelakaan kerja. Jumlah perlengkapan yang dibeli
berjumlah 8 peralatan per item dimana 2 peralatan digunakan sebagai
persediaan. Biaya tak terduga dianggarkan untuk pengobatan karyawan
yang sakit atau terluka ketika kegiatan operasi produksi.

Tabel 9.10. Biaya K3


NO ALAT HARGA STANDAR* HARGA SATUAN JUMLAH TOTAL HARGA
1 Safety Helmet Rp 22,500 Rp 25,000 8 Rp 200,000
2 Safety Shoes (Boot) Rp 157,000 Rp 200,000 8 Rp 1,600,000
3 Masker (Masker Hidung Filter) Rp 9,600 Rp 10,000 8 Rp 80,000
4 Sarung Tangan Rp 30,000 Rp 40,000 8 Rp 320,000
5 Kacamata Rp 27,500 Rp 30,000 8 Rp 240,000
6 Kotak P3K Rp 35,000 Rp 40,000 2 Rp 80,000
7 Rompi Safety Rp 27,000 Rp 30,000 8 Rp 240,000
8 Alat Pemadam Kebakaran Rp 234,000 Rp 250,000 1 Rp 250,000
9 Pelindung Telinga Rp 45,000 Rp 45,000 8 Rp 360,000
*Sumber: alatsafety.net TOTAL BIAYA ALAT K3 Rp 3,370,000

NO NAMA KEGIATAN TAHUN I TAHUN II TAHUN III TAHUN IV TAHUN V


1 Pelatihan dan Sosialisasi K3 Rp 2,000,000 Rp - Rp - Rp - Rp -
2 Pembelian Peralatan K3 Rp 3,370,000 Rp 3,538,500 Rp 3,715,425 Rp 3,901,196 Rp 4,096,256
3 Biaya tak terduga Rp 1,000,000 Rp 1,050,000 Rp 1,102,500 Rp 1,157,625 Rp 1,215,506
TOTAL Rp 6,370,000 Rp 4,588,500 Rp 4,817,925 Rp 5,058,821 Rp 5,311,762

9. Biaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan


Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk tanggungjawab pemohon terhadap
lingkungan sehingga kegiatan pertambangan tidak merusak lingkungan.

Tabel 9.11. Biaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan

NO KEGIATAN BIAYA PER BULAN BIAYA 1 TAHUN


1 Kebersihan Lingkungan Rp 500,000 Rp 6,000,000
2 Analisis Sampel Air (1 sampel per bulan) Rp 300,000 Rp 3,600,000
3 Analisi Udara - -
4 Analisis Kebisingan - -
TOTAL Rp 9,600,000

10. Pajak Komoditas


Pajak komoditas merupakan kewajiban pemohon kepada pemerintah
daerah dimana sesuai Peraturan Bupati Blitar Nomor 40 Tahun 2012

45
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

dimana harga jual dasar Feldspar adalah Rp. 20.000/m3 dan pajak yang
dikenakan 25% dari harga jual dasar maka pajak feldspar per m3 sebesar
Rp. 5.000

Tabel 9.12. Biaya Pajak Komoditas Tambang

PRODUKSI m3/th PAJAK TOTAL


69120 Rp 5,000 Rp 345,600,000
TOTAL Rp 345,600,000

11. Biaya Reklamasi


Reklamasi dilakukan setiap lima tahun sesuai luas bukaan lahan.
Kegiatan reklamasi yang dilakukan adalah revegetasi dengan tanaman
sengon. Rincian kegiatan reklamasi dapat dilihat pada dokumen rencana
reklamasi.

Tabel 9.13. Biaya Reklamasi


No. DESKRIPSI BIAYA TAHUN I TAHUN II TAHUN III TAHUN IV TAHUN V
LUAS BUKAAN (Ha) 0.46 1 1 1 1
INFLASI 5% 5% 5% 5%
1. Biaya langsung (Rp)
a. Biaya penatagunaan lahan Rp 1,983,520 Rp 4,527,600 Rp 4,753,980 Rp 4,991,679 Rp 5,241,263
1. Perataan/penataan tanah Rp 1,983,520 Rp 4,527,600 Rp 4,753,980 Rp 4,991,679 Rp 5,241,263
2. Drainase Rp 317,400 Rp 724,500 Rp 760,725 Rp 798,761 Rp 838,699

b. Biaya revegetasi Rp 4,232,428 Rp 9,515,552 Rp 9,981,492 Rp 10,470,728 Rp 10,777,183


Pengadaan bibit sengon Rp 2,300,000 Rp 5,250,000 Rp 5,512,500 Rp 5,788,125 Rp 6,077,531
Pemupukan Rp 1,380,938 Rp 3,152,142 Rp 3,309,749 Rp 3,475,237 Rp 3,648,998
Tenaga kerja penanaman Rp 116,380 Rp 265,650 Rp 278,933 Rp 292,879 Rp 100,279
Penyulaman dan Pengairan Rp 285,200 Rp 651,000 Rp 683,550 Rp 717,728 Rp 753,614

c Biaya Pemeliharaan Rp 74,955 Rp 98,380 Rp 98,380 Rp 98,380 Rp 98,380


Pemupukan Rp 19,955 Rp 43,380 Rp 43,380 Rp 43,380 Rp 43,380
Tenaga Kerja Pemeliharaan Rp 55,000 Rp 55,000 Rp 55,000 Rp 55,000 Rp 55,000

Subtotal I Rp 6,290,903 Rp 14,141,532 Rp 14,833,852 Rp 15,560,787 Rp 16,116,826


2. Biaya tidak langsung
a. Biaya mobilisasi dan demobilisasi alat (2,5% dari biaya langsung) Rp 157,273 Rp 353,538 Rp 370,846 Rp 389,020 Rp 402,921
b. Biaya perencanaan reklamasi (12% dari biaya langsung) Rp 754,908 Rp 1,696,984 Rp 1,780,062 Rp 1,867,294 Rp 1,934,019
c. Biaya administrasi (9% dari biaya langsung) Rp 566,181 Rp 1,272,738 Rp 1,335,047 Rp 1,400,471 Rp 1,450,514
d. Biaya supervisi (5% dari biaya langsung) Rp 314,545 Rp 707,077 Rp 741,693 Rp 778,039 Rp 805,841
Subtotal II Rp 1,792,907 Rp 4,030,337 Rp 4,227,648 Rp 4,434,824 Rp 4,593,295
BIAYA OVERHEAD (SEBESAR 15%) Rp 1,212,572 Rp 2,725,780 Rp 2,859,225 Rp 2,999,342 Rp 3,106,518
BIAYA PPN (SEBESAR 10%) Rp 808,381 Rp 1,817,187 Rp 1,906,150 Rp 1,999,561 Rp 2,071,012
BIAYA TOTAL SETIAP TAHUN Rp 10,104,763 Rp 22,714,836 Rp 23,826,874 Rp 24,994,514 Rp 25,887,651
TOTAL SELAMA 5 TAHUN Rp 107,528,638
BIAYA PEMBULATAN UNTUK JAMINAN REKLAMASI Rp 107,600,000

12. Biaya Pascatambang


Pascatambang dilakukan pada tahun terakhir namun dijaminkan diawal
tambang. Rincian kegiatan pascatambang dapat dilihat pada dokumen
rencana pascatambang.

46
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

Tabel 9.14. Biaya Pascatambang

URAIAN KEGIATAN TOTAL BIAYA

Biaya Langsung
1. Biaya pada tapak bekas tambang
a. Pembongkaran fasilitas tambang Rp 1,675,000

c. Reklamasi Fasilitas Tambang (Seluas 400 m) Rp 4,099,800


2. Pemantauan Rp 5,000,000
Sub Total I Rp 10,774,800
Biaya Tidak Langsung
1. Biaya mobilisasi dan demobilisasi (2,5% Sub Total I) Rp 269,370
2. Biaya Perencanaan (12% Sub Total I) Rp 1,292,976
3. Biaya Adminstrasi (9% Sub Total I) Rp 969,732
4. Biaya Supervisi (5% Sub Total I) Rp 538,740
Sub Total II Rp 3,070,818
BIAYA SETELAH DITAMBAH NILAI INFLASI 16% Rp 16,060,917
BIAYA OVERHEAD (SEBESAR 15%) Rp 2,409,138
BIAYA PPN (SEBESAR 10%) Rp 1,606,092
TOTAL BIAYA PASCA TAMBANG Rp 20,076,146
BIAYA PEMBULATAN UNTUK JAMINAN PASCA TAMBANG Rp 20,100,000

IX.1.3 Sumber Dana


Berkaitan dengan pengelolaan areal tambang Feldspar di Desa
Wonotirto Kecamatan Wonotirto Kabupaten Blitar dibutuhkan biaya modal
tetap dan modal kerja sebesar Rp 2,130,024,763 berasal dari biaya
pribadi.

IX.2 Analisis Kelayakan


Untuk mengetahui sejauh mana kegiatan usaha penambangan Feldspar ini
dapat memberikan kontribusi keuntungan bagi penambang, maka akan diuraikan
sebagai berikut :
IX.2.1 Biaya Produksi
Biaya produksi kegiatan usaha penambangan Feldspar di Desa
Wonotirto Kecamatan Wonotirto Kabupaten Blitar setiap tahun dapat dilihat
pada cash flow. Biaya produksi tiap tahun sebesar Rp1,902,324,763.

47
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

Tabel 9.15. Biaya Produksi


MODAL KERJA
PERSIAPAN
1 Pembersihan Lahan Rp2,895,000
2 Mobilisasi Peralatan Rp2,000,000
3 Pengupasan Tanah Penutup Rp2,895,000
SUB TOTAL Rp7,790,000
BIAYA
PRODUKSI
1 Gaji Karyawan Rp235,500,000
2 Sewa Excavator PC200 dan Dump Truck Rp524,160,000
3 BBM Rp288,000,000
4 Biaya Kerjasama Rp115,200,000
5 CSR (Pengembangan Masyarakat) Rp360,000,000
6 K3 Rp6,370,000
7 Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Rp9,600,000
8 Pajak Komoditas Rp. 5000/m3 Rp345,600,000
SUB TOTAL Rp1,884,430,000
TAHAP
REKLAMASI
Penataan Lahan dan Pengembalian Tanah
1 Pucuk Rp1,983,520
2 Revegetasi Rp4,232,428
3 Pemeliharaan Rp74,955
Biaya mobilisasi dan demobilisasi alat
4 (2,5%) Rp157,273
5 Biaya perencanaan reklamasi (12%) Rp754,908
6 Biaya administrasi (9%) Rp566,181
7 Biaya supervisi (5%) Rp314,545
Sub Total 1 Rp8,083,810
Biaya Overhead 15% Rp1,212,572
Biaya PPN 10% Rp808,381
SUB TOTAL Rp10,104,763

48
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

IX.2.2 Pendapatan Penjualan


Biaya pendapatan dari penjualan Feldspar kegiatan usaha
penambangan Feldspar di Desa Wonotirto Kecamatan Wonotirto Kabupaten
Blitar setiap tahun dapat diuraikan sebagai berikut :

Tabel 9.16. Penjualan


Produksi Harga Jual Pendapatan
69.120 m3 Rp. 40.000 Rp. 2.764.800.000

IX.2.3 Aliran Uang Tunai (Cash Flow)


Cash flow dapat dilihat pada lampiran 1.

1. Dengan Discount Factor 9 % akan diperoleh Net Present Value (NPV) sebesar
Rp7,633,663,498
2. Dengan NPV sebesar Rp7,633,663,498 berarti nilai NPV > 0, maka kegiatan
usaha pertambangan ini layak untuk diusahakan atau layak untuk
ditambang.
3. Return of Investment sebesar 34 % dengan Break Even Point 53.280 m3 dan
Pay Back Period 9 bulan 6 hari maka investasi ini sangat menguntungkan
dan layak ditambang.

49
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

BAB X
KESIMPULAN
Sebagai kesimpulan dari laporan studi kelayakan (Feasibility Study) ini dapat di
uraikan sebagai berikut :

1. Luas wilayah izin usaha pertambangan yang dimohon untuk tahap kegiatan
operasi produksi sebesar 7,43 Ha.
2. Berdasarkan analisa jumlah kandungan Feldspar yang efektif ditambang
sebanyak 909.388 m3. Sedangkan rata-rata setiap tahunnya dilakukan
produksi sebanyak 69.120 m3 maka umur tambang selama 13 tahun 6 bulan
dimana 3 bulan terakhir digunakan untuk reklamasi dan pascatambang.
3. Tata cara penambangan dilakukan dengan sistem dan tahapan sebagai berikut:
a. Pembersihan Lahan (land clearing)
b. Pengupasan Tanah Pucuk (Top Soil) dan Tanah Penutup
(Overburden)
c. Penggalian / Penambangan
d. Pemuatan ke stock pile
4. Pemasaran dan penjualan Feldspar dari stock pile hanya untuk kebutuhan
dalam negeri.
5. Jumlah tenaga kerja 6 orang
6. Dalam kegiatan usaha pertambangan ini diperlukan investasi total sebesar
Rp 2,130,024,763
7. Nilai NPV sebesar Rp7,633,663,498 berarti nilai NPV > 0, maka kegiatan
usaha pertambangan ini layak untuk diusahakan atau layak untuk
ditambang.
8. Return of Investment sebesar 34 % dengan Break Even Point 53.280 m3 dan
Pay Back Period 9 bulan 6 hari maka investasi ini sangat menguntungkan
dan layak ditambang.

50
STUDI KELAYAKAN FELDSPAR

DAFTAR PUSTAKA
Badan Standardisasi Nasional,1998, Klasifikasi Sumberdaya Mineral
dan Cadangan, SNI 13-4726-1998, Jakarta.
Badan Standardisasi Nasional,1998, Penyusunan Peta Geologi, SNI 13-
4691-1998, Jakarta.
Badan Standardisasi Nasional, 2001, Tata Cara Umum Penyusunan
Laporan Eksplorasi Bahan Galian, SNI 13-6606-2001, Jakarta.
Institut Perkebunan (sengon) Bogor, Departemen Agribisnis, 2015,
Kriteria Investasi, Bogor
Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral, 2000, SK No. 1452
K/10/Mem/2000 Tentang Pedoman Teknis PenyelenggaraaN
Tugas Pemerintahan Di Bidang Inventarisasi Sumber Daya
Mineral Dan Energi.
Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral, 2000, SK No. 1453
K/29/Mem/2000 Tentang Pedoman Teknis Penyelenggaraan
Tugas Pemerintahan Di Bidang Pertambangan Umum.
Tushadi Madiadipoera, Ir. Dkk., 1990, Bahan Galian Di Indonesia,
Special Publication Of The Directorate Of Mineral Resources
Indonesia, Direktorat Sumberdaya Mineral Bandung.
Sampurno dan H. Samodra, 1997, Peta Geologi Lembar Ponorogo, Jawa
Timur, Puslitbang Geologi, Bandung.

51