Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Uji nyala api adalah suatu prosedur yang digunakan dalam ilmu kimia
untuk mendeteksi keberadaan unsur tertentu , terutama ion logam berdasarkan
karakteristik spektrum emestri masing masing unsur warna nyala api secara
umum juga bergantung pada temperatur uji nyala digunakan untuk
mengidentifikasi keberadaan logam dalam jumlah yang relatif kecil pada
senyawa. Tidak semua ion logam menghasilkan warna nyala . untuk warna
nyala unsur-unsur logam dan alkali tanah . uji nyala merupakan cara paling
mudah untuk mengidentifikasi logam warna yang terdapat dalam senyawa.
Untuk logam-logam lain, biasanya metode mudah lainnya yang lebih dapat
dipercaya meski demikian uji nyala bisa memberikan petunjuk yang
bermanfaat seperti metode mana yang akan dipakai .
Berdasarkan latar belakang diatas maka di lakukan percobaan.

B. Rumusan Masalah
bagaimana mengetahui warna nyala logam alkali dan alkali tanah ?

C. Tujuan
Untuk mengetahui warna nyala dari senyawa logam alkali dan alkali tanah.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Alkali
1. Defenisi
Logam alkali( Li,Na,K,Rb, dan Cs) dengan konfigurasi elektron terluar ,
logam alkali mempunyai energi resonansi rendah dan kecenderungannya kuat
melepaskan elektron valensi tunggalnya , cukup reaktif sehingga jarang
ditemukan secara bebas di alam , logam alkali dapat bereaksi dengan air
membentuk hidroksida logam alkali dengan melepaskan gas hidrogen dapat
membentuk oksida , peroksida bahkan superoksida yang ketiganya
menghilangkan bentuk kilapan logamnya. Selain litium yang hanya dapat
membentuk oksida maka logam alkali lain dapat membentuk peroksida dan
untuk K, Rb, Cs, dapat pula membentuk peroksida logam alkali artinya
reaktifitas logam alkali dengan O2 meningkat dari atas ke bawah dalam
golongannya (sutresna ,2007)
2. Sifat umum
Logam-logam alkali sangat elektropositif dan bereaksi langsung dengan
sebagian besar unsur lain dan banyak senyawaan dengan pemanasan. Litium
biasa yang paling kurang reaktif sedangkan yang paling reaktif adalah
sisesium. logam-logam alkali bereaksi dengan alkohol menghasilkanoksida dan
Na/K dalam C2H5OH/ t-butanol . Na dan logam logam lainnya larut dengan
hebat dalam air raksa , amalgam Na(Na/Hg) adalah cairan bila Na sedikit ,
tetapi berupa padatan apabila banyak Na-nya.(sutresna,2007)
3. Manfaat
Litium, natrium, dan kalium dapaat bersebar dengan perlahan pada
berbagai padatan pendukung seperti Na2CO3 dll.
Unsur unsur ini dipakai sebagai katalis untuk berbagai reaksi kimia. (sutresna,
2007)
B. Alkali Tanah
1. Defenisi
Kalsium, stronsium , barium dan radium . membentuk kelompok yang
berkaitan secara erat dimana sifat kimiawi dan sifatnya berubah secara teratur
dengan kenaikan ukuran .contohnya adalah kenaikan Ca ke Ra dalam sifat
keelektropositifan dalam logam. Energi hidrasi garamnya .ketidaklarutan
hampir semua garamnya terutama sulfat dan ketidakstabilan termal dari
karbonat dan nitrat. Seperti dalam kation gol 1 kation-kation yang lebih besar
dapat menstabilkan karna kemiripan dalam muatan dan jari-jari , ion-ion+2 dari
lantanida mirip dengan ion-ion Sr sampai Ra.berilium terdapat di dalam
mineral berly Be3Al2(S1O3). senyawaan berilium sangat beracun khususnya
bila terhirup menyebabkan digenerasi jaringan paru-paru , mirip penyakit
silikosis pada pekerja kembang . senyawa-senyawa tersebut harus ditangani
secara hati-hati . magnesium, kalium, stronsium, dan barium tersebar luas
dalam mineral dan didalam laut. (anonim,2013)

2. Sifat umum
Logam-logam alkali dan alkali tanah adalah Be,Mg,Ca,Sr,dan Ba. Logam
ini cukup reaktif namun tidak sereaktif jika dibandingkan dengan logam alkali.
konfigurasi terluarnya memiliki kecenderungan melepaskan kedua elektron
terluarnya mebentuk ion M2+ dengan bentuk konfigurasinya menyerupai
konfigurasi gas mulia yang stabil dan karakter ini meningkat dari berilium ke
barium. Sejumlah kecil sifat berfariasi secara teratur di sepanjangperiode .
kemampuan menghantar kalor dan listrik adalah 2 sifat yang berfariasi dan
teratur di sepanjang periode . kemampuan menghantar kalor dan listrik adalah
2 sifat yang berfariasi secara teratur . jadi diantara unsur periode ketiga , logam
atrium , magnesium dan aluminium mempunyai selektifitas termal dan listrik
yang baik. Kecenderungan suatu sifat memiliki arah yang terbalik dalam
periode.(shevla,1985)
3. Manfaat
Radiosesium (Cs,137) dan stronsium (Sr,90) adalah salah satu
radionuklida acuan untuk limbah radioaktif berektifitas rendah sedang karna
umur para kedua radionuklida relatif panjang (-30 dan 28 tahun) dan sifat
cesium yang mudah terlarut di air tanah , sedangkan stronsium bersifat mudah
tinggal di dalam tubuh manusia dengan melakuakan subtitusi dengan ion
kalsium yang ada ditulang belakang. (purba,michael.2006)
BAB III

METODE PERCOBAAN

A. Waktu Dan Tempat:


Hari / tanggal : senin,17 oktober 2016
Pukul : 12.00 13.50
Tempat : laboratorium mikrobiologi

B. Alat Dan Bahan


1. Alat:
Pembakar bunsen
Kawat nikrom
Tabung reaksi
Pipet tetes
Rak tabung
Botol semprot

2. Bahan :
Aquades (H2O)
Korek api
Larutan baarium klorida (BaCl2)
Larutan kalsium klorida (CaCl2)
Larutan magnesium klorida (MgCl2)
Larutan stronsium klorida (SrCl2)
Larutan natrium klorida (NaCl)
C. Prosedur Kerja
1. Membersihkan ujung kawat nikrom / kawat platina dalam Hcl pekat ,
kemudian memanaskan pada pembakar bunsen . mengulangi langkah ini
sampai kawat bersih
2. Mencelupkan kawat nikrom / kawat platina pada senyawa , lalu
membakarnya pada pembakar bunsen
3. Mengamati pada perubahan warna pada nyala api yang ditimbulkan untuk
sampel serbuk , meletakkan 3-4 Mg zat di atas kaca arloji , kemudian
membasahi dengan sedikit Hcl pekat . mengulangi prosedur kerja diatas
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil pengamatan
SENYAWA WARNA NYALA API
CaCl2 Merah
NaCl Kuning
MgCl2 Putih
BaCl2 Hijau
KOH Orange

B. Reaksi
1. 2 Ca + O2 2 CaO

2. 4 Na + O2 2 Na2O

3. 2 Mg + O2 2 MgO

4. 2 Ba + O2 2 BaO

5. 4 K + O2 2K2O
C. Pembahasan

Uji nyala api dilakukan sesuai dengan prosedur kerja. Dan sebelum memulai
praktikum uji nyala, nyalakan lampu bunsen terlebih dahulu dan pastikan bunsen nyala
dengan baik, hal ini karena jika pembakar bunsen yang kurang baik, akan sulit di
dapatkan hasil warna nyala yang tepat. Dan jika pembakaran bunsen telah baik, ini
dapat menghasilkan warna nyala yang tepat dan akan memudahkan di dalam
mengamati warna nyala dari logam selama proses pembakaran.

Dalam uji nyala juga digunakan kawat nikron yang bersifat inear atau tidak mudah
bereaksi, dalam artian kawat nikron tersebut tidak teroksidasi, kawat nikron tersebut
dibersihkan terlebih dahulu dengan menggunakan larutan HCI pekat dan di bakar pada
daerah panas dari nyala bunsen. Pembakaran pada daerah panas bertujuan agar
pengotor-pengotor pada daerah kawat mudah lebur sehingga kawat nikron menjadi
bersih, kawat nikron yang bersih akan menghasilkan warna pada nyala.

Dalam uji nyala ini menggunakan sampel berupa garam-garam klorida karena klorida
termasuk senyawa yang sangat mudah menguap, sehingga pada saat pembakaran hanya
dilihat warna nyala unsur logam penyusun sampel tersebut. Ujung kawat nikron yang
telah berisi sampel dibakar pada daerah bawah. Pembakaran sampel dilakukan pada
daerah bawah karena pada daerah tersebut sampel dioksidasi sehingga unsur logam
penyusun sampel menguap dan menghasilkan warna nyala yang sesuai dengan warna
nyala unsur logam penyusun sampel tersebut.

Dari hasil percobaan uji nyala api dapat di dapatkan hasil warna sebagai berikut :

Pada percobaan pertama larutan CaCl2 yang dibakar menggunakan api bunsen
menghasilkan warna merah . dengan reaksi:

2Ca + O2 2CaO

Hasil yang diperoleh sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa apabila kalsium
dibakar menggunakan api bunsen akan menghasilkan warna nyala merah bata.

Pada percobaan kedua larutan NaCl yang dibakar menggunakan api bunsen
menghasilkan warna kuning.dengan reaksi:
4Na + O2 2Na2O

Hasil yang diperoleh sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa apabila natrium
dibakar menggunakan api bunsen akan menghasilkan warna nyala kuning.

Pada percobaan ketiga larutan MgCl2 yang dibakar menggunakan api bunsen
menghasilkan warna putih.dengan reaksi:

2Mg + O2 2MgO

Hasil yang diperoleh sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa apabila
magnesium dibakar menggunakan api bunsen akan menghasilkan warna nyala putih.

Pad a percobaan keempat larutan BaCl2 yang dibakar menggunakan api bunsen
menghasilkan warna hijau. Dengan reaksi:

2Ba + O2 2BaO

Hasil yang diperoleh sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa apabila
barium dibakar menggunakan api bunsen akan menghasilkan warna nyala hijau
kekuningan.

Pada percobaan kelima larutan KOH yang dibakar menggunakan api bunsen
menghasilkan warna orange. Dengan reaksi:

4K + O2 2K2O

Hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa apabila
kalium dibakar menggunakan api bunsen akan menghasilkan warna nyala biru. Hal ini
terjadi karna pada saat mengamati warna pembakaran kurang teliti dan cermat.
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan
Unsur unsur golongan alkali dan alkali tanah memiliki warna nyala yang khas.
Natrium memiliki warna nyala kuning. Kalium warna ungu , kalsium warna merah,
megnesium warna nyala putih dan barium warna kuning.
B. Saran
Pengamatan dapat lebih jelas menggunakan kaca kobalt sebagai alat bantu
pengamatan karena dapat menyerap polutan cahaya. Dan perhatikan warna yang
dihasilkan saat pembakaran dengan cermat karena mempengaruhi warna nyala
unsur alkali dan alkali tanah.
DAFTAR PUSTAKA

Catton.F.Albert, 1989. Kimia Organik Dasar jakarta: Universitas Indonesia

Petrucci.Ralph, 1989. Kimia Dasar. Jakarta: Erlangga

Sunardi, 2000. Kimia. Bandung: Mas Bandung