Anda di halaman 1dari 4

SWASEMBADA GARAM 2015, MUNGKINKAH?

Yarifai Mappeaty *)

Negeri ini wajib untuk segera mewujudkan swasembada garam. Tujuannya paling tidak, di
samping untuk menghilangkan ketergantugan pada impor, juga untuk menghapus kesan
yang melekat pada bangsa ini sebagai bangsa pemalas. Bayangkan, untuk kebutuhan akan
garam saja tidak mampu dipenuhi. Padahal, sebagai negeri kepulauan, menurut data
terakhir yang dirilis oleh Badan Informasi Geospasial (BIG), negeri ini memiliki panjang garis
pantai, 99.000 km. Sebagai negeri tropis, sinar matahari sebagai sumber panas melimpah
sepanjang tahun. Meski terjadi musim hujan, tetapi pada umumnya musim kemarau relatif
terjadi lebih lama. Lantas, apa kurangnya negeri ini kalau hanya sekadar untuk membuat
garam?

Sejak lima tahun terakhir, semangat untuk mewujudkan swasembada garam cukup gempita.
Terlebih setelah program pengembangan usaha garam rakyat (PUGAR) diluncurkan 2011,
produksi garam nasional mengalami peningkatan secara spektakuler. Setidaknya, data dari
Kiara (2014) menunjukkan bahwa produksi garam nasional meningkat dari 1,6 juta ton pada
2011 menjadi 2,4 juta ton tahun 2012. Jika peningkatan produksi tersebut dapat
dipertahankan secara konsisten, setidaknya 500 ribu ton per tahun - maka seharusnya
kebutuhan garam nasional yang diperkirakan sebesar 4 juta ton pada akhir 2015, tentu dapat
dipenuhi. Tetapi sayang, pada 2013 produksi garam nasional kembali mengalami penurunan
menjadi 1,1 juta ton, atau sekitar 1,3 juta ton. Kendati pada 2014 kembali terjadi
peningkatan menjadi 2,1 juta ton, tetapi tetap saja mengalami penurunan dibandingkan
produksi 2012.

Terjadinya peningkatan produksi garam nasional 2012, lebih disebabkan oleh optimalisasi
penggunaan lahan pegaraman yang ada sebagai dampak dari Program PUGAR. Pasca
2012, semangat PUGAR memudar. Pemerintah tidak mengambil langkah perluasan
(ekstensifikasi) untuk menambah areal pegaraman Selain itu, juga tidak dilakukan kegiatan
intensifikasi lahan pegaraman rakyat yang secara signifikan dapat meningkatkan
produktivitas lahan. Faktor inilah yang membuat data yang disampaikan Kiara lebih masuk
akal ketimbang data KKP (Kementrian Kelautan dan Perikanan) yang menyebut produksi
garam nasional 2014 mencapai 2,9 juta ton. Perbedaannya sekitar 800 juta ton. Lantas
bagaimana pula data yang dimiliki Kemendag? Pasti defisit jauh dibawah data KKP. Karena
defisit itu selalu menjadi dalih yang kuat bagi Kemendag untuk terus membuka kran impor.
Penting ditekankan di sini bahwa perbedaan data produksi tersebut, perlu segera
diselesaikan karena terkait dengan masalah kebijakan anggaran.

Meski kita mengacu data versi KKP, kita tetap saja mengalami defisit dari target
swasembada 4 juta ton pada akhir 2015, yaitu 1,1 juta ton. Bandingkan dengan data versi
Kiara, defisitnya, 1,9 juta ton. Masalahnya adalah bagaimana memenuhi defisit sebesar itu?

1
Sedangkan pada pasca 2012, tidak tampak tindakan dari KKP yang signifikan untuk
meningkatkan produksi, baik itu ekstensifikasi maupun intensifikasi. Hal inilah yang membuat
kalangan pemerhati garam pesimis terhadap target KKP untuk swasembada garam pada
akhir 2015. Bahkan, tidak kurang seorang anggota Komisi IV DPR RI menyatakan mustahil
swasembada garam dicapai pada akhir 2015.

Sekarang, mari kita mencoba melakukan kalkulasi untuk mengukur apakah target KKP untuk
swasembada garam pada akhir 2015, dengan menggunakan acuan data produksi garam
nasional 2014 versi KKP sendiri.

Untuk keperluan itu, terlebih dahulu kita harus mengkalkulasi berapa luas areal pegaraman
yang berproduksi tahun 2014. Berdasarkan data versi KKP, total produksi garam nasional
2014, sebesar 2,9 juta ton, yang terdiri atas 2,55 juta ton produksi garam rakyat dan 350 ribu
ton produksi PT. Garam. Jika produksi rata-rata garam rakyat mencapai 80 ton per Ha, maka
luas lahan pegaraman rakyat yang berproduksi sekitar 31.875 Ha. Sedangkan luas lahan
PT. Garam yang berproduksi sekitar 2.917 Ha dengan asumsi produksi rata-tata 120 ton per
Ha. Jika luas lahan pegaraman rakyat ditambah dengan luas lahan PT. Garam, maka
diperoleh angka sebesar 34.792 Ha, yang merupakan total luas lahan pegaraman nasional
yang berproduksi pada 2014. Jika produksi rata-rata 83 ton per Ha, maka diperoleh nilai total
produksi 2014 sebesar lebih kurang 2,9 juta ton. Artinya, masih terdapat defisit sebesar 1,1
juta ton dari target produksi nasional pada akhir 2015 sebesar 4 juta ton.

Selanjutnya, kita asumsikan bahwa 34.792 Ha lahan yang berproduksi tahun 2014, juga
berproduksi tahun ini seluruhnya. Sehingga untuk memenuhi defisit 1,1 juta ton, harus ada
tambahan areal pegaraman sekitar 13.000 Ha yang juga berproduksi tahun ini dengan
tingkat produksi, tidak boleh kurang dari 83 ton per Ha. Kalau tambaHan 13.000 Ha itu
dipenuhi, maka tahun ini terdapat kurang lebih 48.000 Ha lahan yang berproduksi. Tetapi,
lagi-lagi produksi rata-rata tidak boleh kurang dari 83 ton per Ha. Kalau kondisi ini tidak
terjadi di lapangan, maka mustahil pada akhir 2015 kita mencapai produksi garam nasional
sebesar 4 juta ton.

Lebih Realistis 2017


Menurut kalkulasi di atas, target swasembada garam pada akhir 2015, tampaknya memang
tidak mungkin tercapai. Selain karena faktor kekurangan lahan sekitar 13.000 Ha yang tidak
mudah dipenuhi, juga masalah penggunaan anggaran 2015 belum terealisasi sepenuhnya.
Konon, hingga saat ini, tingkat penyerapan APBN untuk kegiatan ini masih sangat rendah.
Apalagi saat ini, kita sudah berada pada pertengahan 2015 dan waktu yang tersisa tinggal
enam bulan lagi. Oleh karena itu, lupakan saja target swasembada garam 2015. Lebih baik
berfikir 2016 atau 2017, itu lebih realistis.

Untuk 2015 ini, sebaiknya KKP menggenjot kegiatan revitalisasi lahan pegaraman rakyat
yang terdapat pada 40 kabupaten/kota yang selama ini menjadi sentra produksi garam

2
dengan menggunakan anggaran yang tersedia. Melalui upaya revitalisasi ini, diharapkan
wajah lahan pegaraman rakyat yang masih tradisional dengan produktifitas dan mutu yang
masih rendah, dapat diubah, paling tidak menjadi semi intensif. Sehingga produktifitas lahan
meningkat lebih dari 100 ton per Ha dan mutu garam mendekati kualitas garam industri.

Aplikasi Geomembran
Sebenarnya, upaya KKP untuk meningkatkan produksi dan mutu garam nasional sudah
terlihat sejak 2012 ketika mulai mencoba mengaplikasikan teknologi geomembran. Hanya
saja, mungkin implementasinya masih berbasis proyek dan terbatas hanya pada beberapa
daerah, sehingga luput dari perhatian publik. Atau mungkin karena anggaran yang tersedia
amat terbatas, sehingga KKP tidak bisa melakukannya secara besar-besaran. Namun
demikian, langkah KKP menerapkan aplikasi geomembran, patut didukung. Karena
beberapa hasil peneltian menunjukkan bahwa aplikasi geomembran pada tambak garam
dengan sistim ulir filter, mampu meningkatkan produksi sampai 120 -130 ton per Ha dan
kandungan NaCl memenuhi kategori garam industri, yaitu 97%.

Tetapi, pada tahun anggaran 2015 ini, ada kebijakan KKP yang sangat menggangu terkait
dengan pengadaan geomembran yang melalui Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah (LKPP). Dalam dokumen lelang, jenis geomembran yang akan diadakan adalah
jenis LDPE (low density polyethylene) dengan ketebalan 200 mikron (0,2 mm). Ini terkesan
aneh bagi orang yang paham aplikasi geomembran pada tambak garam. Selain tipis, hanya
0,2 mm, juga LDPE tidak tepat untuk aplikasi pada tambak garam karena karakteristik
materialnya lunak, mudah melar, gampang sobek, serta rawan bocor oleh tusukan benda
keras. Sedangkan aktifitas dipegaraman itu lebih banyak bersifat fisik dan melibatkan
peralatan atau benda-benda yang bersifat keras. Bayangkan saja, ketika petani
menggunakan peralatan seperti garuk di atas permukaan geomembran yang lunak/lembek,
tipis.

Agaknya, patut dipertanyakan, mengapa KKP hendak menggunakan geomembran jenis ini.
Padahal. PT. Garam saja yang sudah berpengalaman dalam aplikasi geomembran, tidak
menggunakan LDPE. Tetapi lebih memilih menggunakan geomembran jenis HDPE (high
density polyethylene) dengan ketebalan 500 mikron (0,5 mm). Coba tengok proyek PT.
Garam di Sampang, Sumenep, dan Pamekasan, tidak ada yang menggunakan LDPE.
Demikian pula Balai Pendidikan dan Penelitian Perikanan (BPPP) Tegal, tidak
mereferensikan LDPE untuk aplikasi geomembran di tambak garam Tetapi justeru
mereferensikan HDPE dengan ketebalan 0,5 mm. Bahkan, karena karakteristik LDPE seperti
disebutkan di atas, membuat Geosynthetic Research Institute (GRI) sebagai lembaga
internasional yang paling kompeten dalam bidang geosynthetic, tidak
merekomendasikannya sebagai geomembran untuk aplikasi, seperti pada tambak garam,
tambak udang, biogas, dan aplikasi pada landfill lainnya. Ini harus menjadi perhatian kita
semua, mengapa KKP lebih memilih menggunakan LDPE - yang belum teruji - ketimbang

3
HDPE. Jangan sampai penggunan LDPE ini oleh KKP, hanya memboroskan uang negara
yang bernilai ratusan milyar rupiah.

Jakarta, Mei 2015

*) Pemerhati masalah pesisir.