Anda di halaman 1dari 3

Menunggu Godot

Vladimir dan Estragon sepakat menunggu Godot. Mereka


merasa tahu dengan Godot, tapi juga mengakui jika Godot
datang mereka belum tentu bisa mengenalinya. Sambil
menunggu, agar tidak bosan mereka makan, tidur,
berbicara, berdebat, menyanyi, main kartu, memainkan
topi, bahkan mencoba bunuh diri.

Kedua sahabat ini kerap bertengkar dan berdebat tak


habis-habisnya. Vladimir misalnya, kadang-kadang kesal
dengan kemampuan berfikir Estragon yang kurang, dan
tanggapannya yang aneh-aneh dan 'ga nyambung'. Tapi
walaupun begitu, perdebatan demi perdebatan mereka
lakukan selama penantian mereka terhadap Godot.
Vladimir dan Estragon selalu berdebat akan sesuatu yang
tidak jelas.

Mereka berdebat tentang rencana tidur selama menunggu


Godot. Karena Godot ini tidak jelas kapan datangnya,
entah hari ini entah besok. Inipun tidak jadi mereka
lakukan, karena takut mereka sedang tidur ketika Godot
yang ditunggu datang. Estragon ingin meninggalkan
tempat itu, keduanya juga berdebat dan tidak sepakat
apakah mereka menunggu di tempat yang seharusnya,
ataukah memang hari ini Godot datang, bahkan mereka
tidak yakin ini hari apa. Yang mereka tahu bahwa mereka
harus menunggu di dekat sebuah pohon, dan memang ada
pohon di dekat situ.

Dan Godot pun tak kunjung datang.

Karena frustasi, mereka berencana akan menggantung


diri. Rencana ini jadi batal setelah mereka berdebat siapa
yang harus mati duluan, karena mereka tidak bisa
menggantung diri bersama-sama. Begitu selalu, mereka
sibuk berdebat tanpa berbuat sesuatu.

Di antara debat dan pertengkaran yang seolah tak ada


habisnya itu, datanglah Pozzo dan Lucky. Pada mulanya
mereka menyangka Pozzo adalah Godot, dan penantian
mereka akan berakhir. Tapi ternyata adalah Pozzo seorang
penguasa yang jahat, dan Lucky adalah budaknya, yang
selalu disiksa dan diikat dengan tali. Vladimir dan
Estragon hendak menolong Lucky, tapi kemudian sibuk
bertengkar mengenai apa dan bagaimana cara menolong
Lucky. Ketika Pozzo berlalu dan Lucky masih terikat oleh
tali, dua sahabat itu masih terus berdebat.

Penantian mereka berakhir dengan tragedi. Ketika waktu


terurs berlalu, wajah dua sahabat itu makin keriput dan
rambutnya memutih, Godot yang ditunggu tak kunjung
tiba. Lalu ketika datang seseorang, yang lagi-lagi mereka
pikir adalah Godot, ternyata orang itu adalah malaikat
kematian. Hingga kematian menjemput mereka, Godot
tidak pernah datang. Menunggu Godot adalah penantian
yang sia-sia. Yang ditunggu tidak akan pernah datang.

Menunggu Godot (Waiting For Godot) adalah drama dua


babak karya Samuel Becket. Segala aspek dalam drama ini
menyimpan pesan moral yang dalam. Adanya tokoh Godot
yang tidak kunjung datang juga menimbulkan interpretasi
yang bermacam-macam. Apakah dia manusia, hewan,
dewa, ratu adil, uang ataukah kemenangan. Yang jelas,
drama jenius ini bisa menjadi alegori yang cocok dengan
keadaan negara kita saat ini. Jika masalah datang, kita
sibuk berdebat tanpa berbuat, dan sampai masalahnya
berlalu, kita masih berdebat terus.
Debat kusir macam begini takkan ada habisnya, banyak
orang merasa senang mendengar suaranya sendiri.
Apakah suara yang dikeluarkannya itu membantu
memecahkan masalah, itu soal nanti, yang penting
bersuara dulu. Terlalu banyak komentar dari sana-sini,
masing-masing dengan argumen yang juga harus
diperdebatkan lagi. Juga terlalu banyak demo dengan
suara-suara berteriak memekakkan telinga, sehingga kita
tidak bisa mendengar apa yang seharusnya kita dengar.
Mikropon dan megapon laku keras. Kalau mau invest di
Indonesia, investasi yang bagus adalah di pabrik mikropon
dan megapon.

Sementara itu, Godot tak pernah datang.