Anda di halaman 1dari 51

BUDGET PRODUKSI

Budget Produksi adalah Anggaran yang disusun oleh perusahaan untuk


menentukan jumlah barang jadi yang harus diproduksi oleh perusahaan

Anggaran ini dibuat setelah anggaran penjualan disusun, karena perusahaan


harus menentukan barang jadi yang harus diproduksi dalam rangka mendukung
target penjualan yang telah ditetapkan.

Untuk membuat anggaran produksi diperlukan data-data sebagai berikut :

1. Estimasi jumlah unit barang jadi yang akan dijual pada periode mendatang,
datanya dapat diambil dari anggaran penjualan.
2. Estimasi jumlah persediaan barang jadi pada akhir periode anggaran, hal ini
diperlukan, agar perusahaan tidak mengalami kelebihan atau kekurangan
stock, karena akan bedampak terhadap hilangnya peluang pendapatan,
menurunnya tingkat kepercayaan konsumen/kehilangan konsumen dan risiko
tanggung guagat dari pelanggan karena wan prestasi (tak mampu memenuhi
kewajiban memasok barang jadi sesuai kontrak yang telah dibuat.
3. Estimasi persediaan awal barang jadi.

Berdasarkan data estimasi tersebut di atas, selanjutnya barang yang akan


diproduksi bisa dihitung, sehingga formatnya dapat dibentuk sebagai berikut :

ANGGARAN PRODUKSI PT MAYAPADA, PERIODE TAHUN 2009


PENJUALAN (UNIT)
PERSEDIAAN AKHIR BARANG JADI
JUMLAH BARANG JADI YG DIBUTUHKAN (+)
PERSEDIAAN AWAL BARANG JADI (-)
JUMLAH BARANG YG HARUS DIPRODUKSI

Kebijakan Anggaran berdasarkan tingkat Produksi :


1. Kebijakan stabilitas volume produksi
Kebijakan ini dilakukan bilamana rrencana produksi dilakukan secara bulanan
dengan memperhatikan jumlah produksi setiap bulannya tetap, dengan
pertimbangan biaya setiap bulannya relatif tetap, jumlah pegawai tetap dan
jam kerja mesin stabil, sehingga mesin efisien.
Contoh : Anggaran Produksi dengan volume produksi stabil

PT Mayapada menetapkan kebijakan stabilitas volume produksi dalam


menyusun budget produksi Bahan Baku selama periode triwulan, yaitu, Oktober-
Desember 2011 dengan data seperti pada tabel berikut :

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 1


Anggaran Produksi PT MAYAPADA, Triwulan per 31 Desember 2011
Uraian / Bulan OKT NOP DES JML
Penjualan (Unit) 6400 5600 4000 16000
Persediaan akhir barang jadi 2000 2000
Total barang jadi dibutuhkan ( + )
Persediaan Awal barang jadi ( -) (6000) (6000)
Total Barang yang diproduksi

2. Kebijakan stabilitas Persediaan


Kebijaakan anggaran ini ditetapkan berdasarkan persediaan yang stabil,
mengingat pangsa pasar yang tetap dan menghemat biaya inventory barang
jadi.

Contoh : Anggaran Produksi berbasis persedian stabil

Anggaran Produksi PT MAYAPADA, Triwulan per 31 Desember 2011


Uraian / Bulan OKT NOP DES JML
Penjualan (Unit) 8000 12000 10000 30000
Persediaan akhir barang jadi 5600 6400 7200 7200
Total barang jadi dibutuhkan ( + ) 13600 18400 17200 37200
Persediaan Awal barang jadi ( -) (4800) (5600) (6400) (4800)
Total Barang yang diproduksi 8800 12800 10800 32400

Selisih jumlah persediaan awal dan akhir, yaitu = 7200-4800= 2400, sehingga
perubahan persediaan awal setiap bulannya sebesar 2400 : 3 = 800 unit, dengan
demikian persediaan akhir bulan November dan Oktober bisa dihitung.
Menentukan jumlah

Anggaran Biaya Produksi

Anggaran Produksi dalam suatu periode menentukan jumlah persediaan barang


jadi yang akan diproduksi, untuk selanjutnya menyusun anggaran biaya
produksi, yaitu menyusun rencana biaya kebutuhan memproduksi barang jadi
sesuai kebutuhan anggaran produksi

Anggaran biaya produksi terdiri atas :


1. Anggaran Bahan Baku
2. Anggaran Tenaga Kerja Langsung
3. Anggaran Biaya Overhead Produksi

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 2


Angaran bahan Baku

Anggaran bahan baku pada dasarnya terdiri atasa jenis Anggaran, yaitu :

1. Anggaran pemakaian bahan baku, menetukan jumlah dan biaya bahan baku
yang dibutuhkan untuk menunjang anggaran produksi pada rencana produksi
dalam suatu periode anggaran
2. Anggaran Pembelian bahan baku, menentukan jumlah bahan baku yang akan
dibeli dan anggaran pembeliannya dalamsuatu periode anggaran.

Anggaran Pemakaian Bahan Baku


Anggaran pemakaian bahan baku menyajikan informasi tentang kuantitas dan
biaya bahan baku yang dikeluarkan untuk memproduksi barang jadi. Informasi
tentang barang jadi yang akan diproduksi dapat dilihat dari anggaran produksi.
Sementara itu, jumlah kebutuhan baku yang diperlukan untuk memproduksi
barang jadi dapat diperoleh oleh perusahaan dengan mengalikan tingkat produksi
dengan standar kebutuhan bahan baku per unit barang jadi. Standar tersebut
menentukan jumlah bahan baku yang diperlukan untuk memproduksi 1 unit
barang jadi.

Sebagai contoh, 1 unit kemeja pria memerlukan 0,8 meter kain katun. Karena itu,
jika perusahaan ingin memproduksi 1.000 unit kemeja pria, maka bahan baku
yang diperlukan (dalam hal ini kain katun) adalah 800 m (1.000 unit x 0,8 m).

Total biaya bahan baku yang harus dikeluarkan untuk memproduksi barang jadi
didapat dengan mengalikan jumlah kebutuhan baku dengan harga beli bahan
baku dari pemasok. Jika harga satu meter kain adalah Rp. 30.000, maka total biaya
bahan baku untuk produksi 1.000 unit kemeja tersebut adalah 800 m x Rp. 30.000
= Rp. 24.000.000.

Contoh Penyusunan Anggaran Pemakaian Bahan Baku

PT Berkah Abadi Jaya (BAJ) yang didirikan pada tahun 2000 adalah perusahaan
yang bergerak dalam bidang penjualan kemeja formal pria dengan merek CS76.
Pada akhir bulan November 2007, manajemen PT BAJ hendak menyusun
anggaran pemakaian bahan baku untuk produksi kemeja CS76 untuk bulan
Januari 2008.

Contoh

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 3


Di bawah ini adalah anggaran produksi kemeja CS76 untuk bulan Januari 2008

Anggaran Produksi
PT Berkah Abadi Jaya
Untuk Bulan Januari 2008
Nama Produk : Kemeja CS76
Penjualan (unit) 2.000
Ditambah : Persediaan 500
Jumlah barang jadi yang dibutuhkan 2.500
Dikurangi : Persediaan awal barang jadi 200
Jumlah barang jadi yang akan diproduksi 2.300

Adapun standar kebutuhan bahan baku untuk membuat 1 unit kemeja adalah 2 m
kain katun dan 8 buah kancing. Harga kain katun per meternya adalah Rp. 40.000,
sedangkan harga satu buah kancing adalah Rp. 1.500.
Jawaban

Total biaya bahan baku diperoleh dengan mengalikan jumlah kebutuhan bahan
baku untuk produksi dengan harga bahan bakunya.

Anggaran Produksi
PT Berkah Abadi Jaya
Untuk Bulan Januari 2008
Nama Produk : Kemeja CS76
Kain Kancing
Jumlah produksi barang jadi 2.300 2.300
Standar kebutuhan bahan baku per unit 2 8
Jumlah kebutuhan bahan baku untuk produksi 4.600 18.400
Harga bahan baku per unit Rp. 40.000,- Rp. 1.500
Total biaya bahan baku untuk produksi Rp. 184.000.000 Rp. 27.600.000

Anggaran Pembelian Bahan Baku

Setelah mengetahui jumlah bahan baku yang diperlukan untuk memproduksi


barang jadi, perussahaan harus menentukan banyaknya bahan baku yang akan
dibeli dalam satu periode anggaran. Jumlah bahan baku yang akan dibeli pada
satu periode anggaran dapat diketahui dengan menyusun anggaran pembelian
bahan baku. Selain itu, anggaran pembelian bahan baku juga memperlihatkan
perkiraan harga bahan baku per unit dan total nilai pembelian bahan baku
dalam rupiah.

Jumlah bahan baku yang akan dibeli dapat diketahui setelah mempertimbangkan
faktor-faktor berikut ini.

1. Jumlah bahan baku yang diperlukan untuk kegiatan produksi. Informasi ini
diperoleh dari anggaran pemakaian bahan baku.

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 4


2. Jumlah bahan baku yang ingin disimpan oleh perusahaan di akhirperiode
(persediaan bahan baku akhir). Kebijakan manajemen akan menentukan
jumlah persediaan yang ingin disimpan di akhir periode anggaran.

3. jumlah bahan baku yang tersedia di awal periode (persediaan bahan baku
awal).

Di bawah ini adalah contoh format


anggaran pembelian bahan baku yang
dapat digunakan oleh perusahaan.
PT .......................
Anggaran Pembelian Bahan Baku
Bulan................
Keterangan Bahan Baku A Bahan Baku B
Jumlah kebutuhan
Persediaan akhir bahan baku
Jumlah kebutuhan bahan baku
Persediaan awal bahan baku
Jumlah bahan baku yang harus dibeli
Harga bahan baku per unit
Total biaya pembelian bahan baku

Contoh

Setelah penyusunan pemakaian bahan baku untuk produksi dilakukan, PT BAJ


menyusun anggaran pembelian bahan baku untuk bulan Januari 2008.

Berikut ini disajikan kembali anggaran


pemakaian bahan baku PT BAJ untuk
bulan Januari 2008.
Anggaran Produksi
PT Berkah Abadi Jaya
Untuk Bulan Januari 2008
Nama Produk : Kemeja CS76
Kain Kancing
Jumlah produksi barang jadi 2.300 2.300
Standar kebutuhan bahan baku per unit 2 8
Jumlah kebutuhan bahan baku untuk produksi 4.600 18.400
Harga bahan baku per unit Rp. 40.000,- Rp. 1.500
Total biaya bahan baku untuk produksi Rp. 184.000.000 Rp. 27.600.000

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 5


Manajemen memperkirakan harga kain untuk bulan Januari 2008. harga kain
adalah Rp. 40.000 per meter, sedangkan harga kancing diperkirakan sebesar Rp.
1.500 per kancing.

Berikut ini adalah estimasi jumlah


persediaan bahan baku awal dan ahir
untuk Januari 2008.

1 Januari 31 Januari

Kain 200 300

Kancing 400 300

Jawaban

Menyelesaikan penyusunan anggaran


pembelian bahan baku dengan
memasukkan harga pembelian bahan
baku per unit untuk kain dan kancing ke
dalam format anggaran pembelian bahan
baku dan menghitung total biaya
pembelian bahan baku. Total biaya
pembelian bahan baku diperoleh dengan
mengalikan jumlah bahan baku yang
harus dibeli dengan harga bahan baku per
unitnya.
Anggaran Produksi
PT Berkah Abadi Jaya
Untuk Bulan Januari 2008
Nama Produk : Kemeja CS76
Keterangan Kain Kancing
Jumlah kebutuhan baku untuk produksi 4.600 18.400
Persediaan akhir bahan baku 300 300
Jumlah kebutuhan bahan baku 4.900 18.700
Persediaan awal bahan baku 200 400
Jumlah bahan baku yang harus dibeli 4.700 18.300

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 6


Harga bahan baku per unit Rp. 40.000,- Rp. 1.500
Total biaya pembelian bahan baku Rp. 188.000.000 Rp. 27.450.000

Anggaran Tenaga Kerja Langsung

Perusahaan menggunakan tenaga kerjanya untuk mengubah bahan baku menjadi


barang jadi. Atas pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kerjanya, perusahaan
membayarkan upah. Untuk perusahaan manufaktur, tenaga kerja yang terlibat
dalam proses produksi dapat dikelompokkan ke dalam tenaga kerja langsung
dan tenaga kerja tidak langsung. Tenaga kerja langsung adalah karyawan yang
langsung terlibat dalam kegiatan produksi barang dan jasa, sedangkan tenaga
kerja tidak langsung adalah karyawan yang tidak secara langsung terlibat dalam
kegiatan produksi.

Biaya yang dikeluarkan untuk membayar upah tenaga kerja langsung akan
dimasukkan ke biaya tenaga kerja langsung akan dimasukkan ke biaya tenaga
kerja langsung yang kan menjadi salah satu komponen dalam biaya produksi.
Adapun ipah untuk biaya tenaga kerja tidak langsung akan dimasukkan ke biaya
overhead produksi, dan biaya bahan baku langsung adalah komponen dalam
perhitungan total biaya produksi perusahaan.

Setiap tahunnya, perusahaan manufaktur harus menyusun anggaran tenaga kerja


langsung yang memperlihatkan jumlah jam tenaga kerja langsung yang
diperlukan berikut upah per jam untuk memproduksi barang jadi dalam satu
periode anggaran.

Setiap tahunnya, perusahaan manufaktur harus menyusun anggaran tenaga kerja


langsung yang memperlihatkan jumlah jam tenaga kerja langsung yabg
diperlukan berikut upah per jam untuk memproduksi barang jadi dalam satu
periode anggaran.

Berikut ini adalah informasi-informasi yang diperlukan untuk penyusunan


anggaran tenaga kerja langsung.

1. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk memproduksi barang dan jasa,


misalnya pemotongan bahan baku, pencucian bahan baku, dan pengemasan
barang jadi.
2. Jumlah barang jadi yang direncanakan untuk diproduksi. Informasi ini dapat
diperoleh dari anggaran produksi.

3. Jumlah jam tenaga kerja langsung yang diperlukan untuk memproduksi


1 (satu) unit barang jadi atau disebut standar penggunaan jam tenaga kerja
langsung.

4. perkiraan upah tenaga kerja langsung per jam.

Dibawah ini adalah format anggaran tenaga kerja langsung yang dapat
digunakan oleh perusahaan.

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 7


Produk 1 Produk 2

Departemen A

Jumlah Produksi

Standar penggunaan jam tenaga kerja langsung

Jumlah jam tenaga kerja langsung

Upah per jam

Anggaran biaya tenaga kerja langsung

Contoh

PT Berkah Abadi Jaya hendak menyusun anggaran tenaga kerja langsung untuk
bulan Januari 2008. berikut ini adalah informasi yang diperlukan untuk menyusun
anggaran tenaga kerja langsung tersebut.

Berikut anggaran produksi kemeja CS76


untuk bulan Januari 2008.
Anggaran Produksi PT Berkah Abadi Jaya
Periode Bulan Januari 2008 Nama Produk : Kemeja CS76
Penjualan (unit) 2.000
Ditambah : Persediaan 500
Jumlah barang jadi yang dibutuhkan 2.500
Dikurangi : Persediaan awal barang jadi 200
Jumlah barang jadi yang akan diproduksi 2.300

Produksi kemeja CS76 dilakukan oleh 2 (dua) departemen.


1. Departemen Penjahitan
Waktu yang dibutuhkan untuk menjahit 1 kemeja pria adalah 6 menit. Honor
untuk pegawai Departemen Penjahitan per jamnya sebesar Rp. 6.000.

2. Departemen Pengemasan

Diperlukan waktu selama 3 menit untuk mengemas satu baju pria. Honor
untuk pegawai Departemen Penjahitan per jamnya sebesar Rp. 4.800.

Jawaban

Dengan menambahkan anggaran biaya


tenaga kerja langsung Departemen
BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 8
Penjahitan dan Departemen Pengemasan
untuk memperoleh biaya tenaga kerja
langsung PT BAJ untuk bulan Januari 2008.
PT Berkah Abadi Jaya
Anggaran Tenaga Kerja Langsung, Periode Januari 2008
Nama Produk : Kemeja CS76
Departemen Penjahitan
Jumlah Produksi (unit) 2.300
Standar penggunaan jam tenaga kerja langsung 0.1
Jumlah jam tenaga kerja langsung 230
Upah per jam Rp. 6.000
Anggaran biaya tenaga kerja langsung Dept. Penjahitan Rp. 1.380.000

Departeman Pengemasan
Jumlah produksi 2.300
Standar penggunaan jam tenaga kerja langsung 0.05
Jumlah jam tenaga kerja langsung 115
Upah per jam Rp. 4.800
Anggaran biaya tenaga kerja langsung Dept. Pengemasan Rp. 552.000

Total Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp. 1.932.000

Jadi, total biaya tenaga kerja langsung PT BAJ untuk bulan Januari 2008 adalah
Rp. 1.932.000.

Anggaran Biaya Overhead Produksi

Perusahaan manufaktur memiliki tiga komponen biaya produksi, yaitu :

1. Biaya bahan baku langsung,


2. Biaya tenaga keja langsung, dan

3. Biaya overhead produksi.

Biaya overhead produksi (factory overhead-FOH) adalah seluruh biaya yang tidak
terkait secara langsung dengan kegiatan produksi barang dan jasa.

Yang termasuk dalam biaya overhead produksi adalah biaya bahan baku tidak
langsung, biaya tenaga kerja tidak langsung, honor petugas pengawas, biaya
listrik, biaya utilitas, dan lain-lain.

Berdasarkan perilaku biaya, biaya ioverhead produksi dapat dikelompokkan ke


dalam tiga kelompok biaya, yaitu biaya variable, biaya tetap, dan biaya
semivariabel.

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 9


Biaya variable (variable cost) adalah biaya yang nilai keseluruhannya berubah-
ubah seiring dengan perubahan yang terjadi pada cost object. Cost object adalah
unit produksi, departemen, atau aktivitas dimana biaya dihitung dan
dikumpulkan. Jadi, semakin tinggi jumlah cost object (misalnya jumlah barang
yang diproduksi), semakin tinggi biaya variabelnya.

Biaya tetap (fixed cost) adalah biaya yang nilai keseluruhannya tidak berubah-ubah
seiring dengan perubahan cost object sampai relevant range tertentu. Relevant range
dalam konteks perusahaan manufaktur adalah kapasitas produksi.
Contoh : biaya tetap overhead adalah biaya penyusutan mesin produksi.
Misalnya, biaya penyusutan mesin untuk 1 tahun adalah Rp. 30.000.000. dengan
kapasitas produksi normal sebesar 10.000 per tahun. Jadi, sepanjang jumlah
produksi barang jadi tidak melebihi kapasitas normalnya, biaya penyusutan
mesin produksi tetap sebesar Rp. 30.000.000.

Biaya semivariabel (semivariable cost) adalah biaya yang memiliki komponen


biaya tetap sekaligus komponen biaya variable. Biaya listrik adalah salah satu
contoh biaya semivariabel karena biaya listrik memiliki komponen biaya tetap
berupa biaya abonemen yang nilainya sama setiap bulannya dan biaya variable
berupa biaya pemakaian listrik yang besar kecilnya bergantung pada jumlah kilo
watt hour (kwh) yang dipakai. Semakin besar pemakaian kwh, maka semakin
besar pula biaya listrik yang harus ditanggung perusahaan.

Ketika menyusun anggaran biaya overhead, perusahaan harus dapat menentukan


hal-hal sebagai berikut .

1. Jumlah produksi barang jadi yang direncanakan untuk diproduksi dalam satu
periode anggaran. Hal ini dikarenakan jumlah produksi umumnya akan
menentukan biaya overhead yang akan dikeluarkan oleh perusahaan.
2. Biaya overhead tetap yang dianggarkan oleh perusahaan, misalnya biaya sewa
mesin, biaya bahan baku langsung, dan biaya gaji tenaga kerja tidak langsung.

3. Biaya overhead variable yang dianggarkan oleh perusahaan, misalnya biaya


bahan bakar untuk operasional mesin pabrik

4. Biaya overhead semivariabel, misalnya biaya listrik dan telepon.

Semua hal-hal tersebut di atas harus diperhatikan agar anggaran biaya overhead
yang disusun oleh perusahaan benar-benar dapat menunjang kegiatan produksi
perusahaan di suatu periode anggaran.

Contoh Kasus :

PT Berkah Abadi Jaya hendak menyusun anggaran biaya overhead produksi untuk
bulan Januari 2008. Berikut ini adalah informasi yang diperlukan untuk
menyusun anggaran biaya overhead produksi tersebut.

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 10


Anggaran produksi kemeja CS76 untuk
bulan Januari 2008 adalah sebagai berikut.
Anggaran Produksi PT Berkah Abadi Jaya
Periode Bulan Januari 2008 , Nama Produk : Kemeja CS76
Penjualan (unit) 2.000
Ditambah : Persediaan 500
Jumlah barang jadi yang dibutuhkan 2.500
Dikurangi : Persediaan awal barang jadi 200
Jumlah barang jadi yang akan diproduksi 2.300

Produksi kemeja CS76 dilakukan oleh 2 (dua) departemen.

1. Departemen Penjahitan

Waktu yang dibutuhkan untuk menjahit 1 kemeja pria adalah 6 menit. Honor
untuk pegawai Departemen Penjahitan per jamnya sebesar Rp. 6.000.

2. Departemen Pengemasan

Diperlukan waktu selama 3 menit untuk mengemas satu baju


pria. Honor untuk pegawai Departemen Penjahitan per
jamnya sebesar Rp. 4.800.

Berikut ini adalah biaya overhead yang diperkirakan akan dikeluarkan oleh
perusahaan untuk bulan Januari 2008.

a. Biaya gaji pengawas produksi tetap sebesar Rp. 4.000.000 per bulan. Biaya gaji
pengawas produksi yang dialokasikan ke Departemen Penjahitan dan
Departemen Pengemasan dibagi secara merata.
b. Biaya tetap untuk perawatan mesin sebesar Rp. 2.000.000,- per bulan
dialokasikan berdasarkan jumlah mesin yang terdapat di Departemen
Penjahitan dan Departemen Pengemasan. Biaya variable untuk perawatan
mesin untuk kedua departemen sebesar Rp. 1.000 per jam.
c. Biaya tetap untuk sewa pabrik sebesar Rp. 6.000.000 per bulan dialokasikan
berdasarkan luas bangunan yang dipakai oleh setiap departemen.
d. Biaya listrik yang bersifat variable untuk setiap pemakaian mesin per jam
adalah Rp. 3.000. tinggi atau rendahnya biaya listrik untuk setiap departemen
ditentukan oleh waktu pemakaian mesin . biaya listrik yang bersifat tetap
sebesar Rp. 4.000.000 dialokasikan ke Departemen Penjahitan dan Departemen
Pengemasan dengan proporsi 60% dan 40%.
e. Biaya asuransi tetap pegawai pabrik sebesar Rp. 5.000.000 per bulan
dialokasikan ke dua departemen berdasarkan biaya tenaga kerja langsung per
departemen per bulannya.

Di bawah ini adalah table yang diperlukan untuk mengalokasikan biaya overhead
untuk Departemen Penjahitan dan Pengemasan untuk bulan Januari 2008.

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 11


URAIAN /DEPARTEMEN Departemen Departemen
Penjahitan Pengemasan
Jumlah mesin 5 15
Jumlah jam mesin 1.500 2.000
Jumlah luas pabrik 1.000 m 2.000 m
Biaya tenaga kerja langsung Rp. 1. 380.000 Rp. 552.000

Jawaban

Menyelesaikan penyusunan anggaran biaya overhead dengan menjumlahkan


seluruh kolom yang tersedia.

Anggaran Biaya Overhead PT Berkah Abadi Jaya, Periode Januari 2008

FOH Variabel Cost FOH Fixed Cost Total


Departemen Penjahitan
Biaya gaji Supervisor 2.000.000 2.000.000
Biaya perawatan mesin 1.500.000 500.000 2.0000000
Biaya sewa pabrik 2.000.000 2.000.000
Biaya listrik 4.500.000 2.400.000 6.900.000
Biaya asuransi 3.571.430 3.571.430
Total 6.000.000 10.471.430 16.471.430

Departemen Pengemasan
Biaya gaji Supervisor 2.000.000 2.000.000
Biaya perawatan mesin 2.000.000 1.500.000 3.500.000
Biaya sewa pabrik 4.000.000 4.000.000
Biaya listrik 6.000.000 1.600.000 7.600.000
Biaya asuransi 1.428.570 1.428.570
Total 8.000.000 10.528.570 18.528.570
Total Biaya Overhead Produksi 35.000.000

Jadi, total biaya overhead produksi bulan Januari 2008 adalah Rp. 35.000.000.
sebesar Rp. 16.471.430 dianggarkan untuk Departemen Penjahitan, sedangkan Rp.
18. 528.570 dianggarrkan untuk Departemen Pengemasan.

Anggaran Biaya Produksi

Anggaran biaya produksi pada dasarnya hanyalah menampung seluruh perkiraan


biaya produksi yang sudah ditentukan dan dihitung dalam anggaran pemakaian
bahan baku, anggaran pemakaian tenaga kerja langsung, dan anggaran
pemakaian biaya overhead produksi.

Contoh

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 12


PT Berkah Abadi Jaya ingin menyusun anggaran biaya produksi untuk bulan
Januari 2008. Berikut ini disajikan kembali anggaran produksi PT Berkah Abadi
Jaya untuk bulan Januari 2008 yang telah disusun sebelumnya.

Anggaran Produksi PT Berkah Abadi Jaya


Periode Bulan Januari 2008 , Nama Produk : Kemeja CS76
Penjualan (unit) 2.000
Ditambah : Persediaan 500
Jumlah barang jadi yang dibutuhkan 2.500
Dikurangi : Persediaan awal barang jadi 200
Jumlah barang jadi yang akan diproduksi 2.300
PT Berkah Abadi Jaya juga sudah menyusun anggaran pemakaian bahan baku,
anggaran tenaga kerja langsung, dan anggaran biaya overhead produksi untuk
bulan Januari 2008 seperti terlihat di bawah ini.

Tabel Anggaran Pemakaian Bahan Baku PT BAJ untuk bulan Januari 2008

Anggaran Produksi PT Berkah Abadi Jaya Periode Bulan Januari 2008


Nama Produk : Kemeja CS76
Kain Kancing
Jumlah produksi barang jadi 2.300 2.300
Standar kebutuhan bahan baku per unit 2 8
Jumlah kebutuhan bahan baku untuk produksi 4.600 18.400
Harga bahan baku per unit Rp. 40.000,- Rp. 1.500
Total biaya bahan baku untuk produksi Rp. 184.000.000 Rp. 27.600.000
Tabel Anggaran Tenaga Kerja Langsung PT BAJ untuk Januari 2008.

PT Berkah Abadi Jaya Anggaran Tenaga Kerja Langsung, Periode Januari 2008
Nama Produk : Kemeja CS76
Departemen Penjahitan
Jumlah Produksi 2.300
Standar penggunaan jam tenaga kerja langsung 0.1
Jumlah jam tenaga kerja langsung 230
Upah per jam Rp. 6.000
Anggaran biaya tenaga kerja langsung Dept. Penjahitan Rp. 1.380.000

Departeman Pengemasan
Jumlah produksi 2.300
Standar penggunaan jam tenaga kerja langsung 0.05
Jumlah jam tenaga kerja langsung 115
Upah per jam Rp. 4.800
Anggaran biaya tenaga kerja langsung Dept. Pengemasan Rp. 552.000

Total Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp. 1.932.000

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 13


Tabel Anggaran Biaya Overhead Produksi PT BAJ, Periode Januari 2008

Anggaran Biaya Overhead, PT Berkah Abadi Jaya, Periode Januari 2008

FOH Variabel FOH Fixed Total


Cost Cost Cost
Departemen Penjahitan
Biaya gaji Supervisor 2.000.000 2.000.000
Biaya perawatan mesin 1.500.000 500.000 2.0000000
Biaya sewa pabrik 2.000.000 2.000.000
Biaya listrik 4.500.000 2.400.000 6.900.000
Biaya asuransi 3.571.430 3.571.430
Total 6.000.000 10.471.430 16.471.430

Departemen Pengemasan
Biaya gaji Supervisor 2.000.000 2.000.000
Biaya perawatan mesin 2.000.000 1.500.000 3.500.000
Biaya sewa pabrik 4.000.000 4.000.000
Biaya listrik 6.000.000 1.600.000 7.600.000
Biaya asuransi 1.428.570 1.428.570
Total 8.000.000 10.528.570 18.528.570
Total Biaya Overhead Produksi 35.000.000

Jawaban
Menyelesaikan penyusunan anggaran biaya produksi dengan menjumlahkan
subtotal biaya pemakaian bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya
overhead produksi.

Anggaran Biaya Produksi, PT Berkah Abadi Jaya, Periode Januari 2008


Biaya Bahan Baku
Kain Rp. 184.000.000
Kancing 27.600.000
Subtotal Biaya Pemakaian Bahan Baku Rp. 211.600.000

Biaya Tenaga Kerja Langsung


Departemen Penjahitan 1.380.000
Departemen Pengemasan 552.0000
Subtotal Biaya Tenaga Kerja Langsung 1.392.000

Biaya Overhead Produksi


Departemen Penjahitan 16.471.430
Departemen Pengemasan 18.528.570
Subtotal Biaya Overhead Produksi 35.000.000

Total Biaya Produksi 247.922.000

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 14


Harga Pokok Produksi

Setelah anggaran biaya produksi disusun, harga pokok untuk memproduksi


setiap unit produk (harga pokok produksi) dapat ditentukan dengan membagi
total biaya produksi dengan jumlah produksi yang dianggarkan.

Untuk PT Berkah Abadi Jaya, total biaya produksi asalah Rp. 247.922.000 dan
jumlah produksi yang dianggarkan adalah 2.300 unit. Jadi, harga pokok produksi
setiap unit produk adalah Rp. 247.922.000/2.300 unit = Rp. 107.792,17 per unit.

ANGGARAN BEBAN OPERASI

Setelah anggaran biaya produksi disusun, langkah selanjutnya adalah menyusun


Anggaran beban operasi. Beban operasi adalah beban-beban yang dikeluarkan
untuk kegiatan-kegiatan selain kegiatan produksi. Kegiatan-kegiatan yang
menjadi sumber pengeluaran beban operasi umumnya terbagi dalam dua
kelompok kegiatan, yaitu kegiatan penjualan dan administrasi.

Contoh kegiatan penjualan adalah penerimaan order penjualan dan pengiriman


barang dan jasa kepada pelanggan, sedangkan penyusunan laporan keuangan
adalah contoh kegiatan administrasi perusahaan. Kegiatan operasional
perusahaan tersebut memerlukan sumber daya untuk dapat terlaksana yang pada
akhirnya memerlukan biaya.

Secara umum, beban operasi dapat dibagi menjadi dua kelompok.

1. Beban Penjualan ( Selling Expenses )


Beban penjualan adalah beban yang muncul dari aktivitas penjualan barang
dan jasa oleh perusahaan kepada pelanggan ( Reeve, Warren, dan Duchah,
2008 ).
Berikut beberapa contoh dari beban penjualan :
a. gaji wiraniaga ( salesman ),
b. komisi penjualan ( salesman ),
c. biaya penyusutan kendaraan bagian penjualan,
d. biayal istrik, air, dan gas bagian penjualan.

2. Beban Administratif ( Administrative Expenses )


Beban administratif adalah beban yang muncul dari aktivitas administrasi dan
kegiatan umum lainnya yang dilakukan oleh perusahaan ( Reeve, Warren, dan
Duchah, 2008 ).
Berikut beberapa contoh dari beban administrasi :
a. gaji staff akuntansi dan keuangan,
b. biaya penyusutan komputer bagian administrasi,
c. biaya listrik, air, dan gas bagian administrasi.

BEBAN OPERASIONAL TETAP, VARIABEL, DAN SEMIVARIABEL


Untuk keperluan perencanaan dan pengendalian beban penjualan dan
administrasi, perusahaan dapat membagi kedua beban operasional tersebut

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 15


menjadi beban tetap ( fixes cost ), beban variable ( variable cost ), dan beban
semivariabel.

Beban operasional bersifat tetap jika nilainya tetap sama, berapapun tingkat
penjualan yang diperoleh oleh perusahaan dalam satu periode dalam relevant
range tertentu. Relevant range untuk beban operasional adalah tingkat penjualan
perusahaan.
Contoh beban operasional tetap adalah gaji bulanan karyawan bagian penjualan
dan administrasi serta beban listrik ruangan bagian penjualan dan administrasi.

Beban operasional bersifat variable jika nilai keseluruhannya berubah-ubah


seiring dengan perubahan pada tingkat penjualan perusahaan.
Contoh beban operasional yang variable adalah komisi penjualan untuk
wiraniaga ( salesperson ). Besar atau kecilnya komisi penjualan yang harus
dibayar oleh perusahaan dipengaruhi oleh tinggi atau rendahnya tingkat
penjualan perusahaan. Semakin tinggi tingkat penjualan perusahaan, maka
semakin tinggi pula komisi penjualan yang harus dibayarkan oleh perusahaan
kepada wiraniaganya.

Beban operasional bersifat semivariabel jika beban tersebut memiliki komponen


biaya tetap dan biaya variable sekaligus.
Contoh biaya operasional semivariabel adalah biaya listrik bagian penjualan.
Biaya listrik memiliki komponen biaya tetap berupa biaya abodemen yang
nilainya tetap tergantung pada klasifikasi yang ditetapkan oleh PT PLN.
Adapun komponen biaya veriabel dalam biaya listrik adalah biaya pemakaian
listrik yang dihitung berdasarkan jumlah kwh. yang digunakan.

Contoh 5.1 Penyusunan anggaran beban operasi


PT Berkah Abadi Jaya ingin menyusun anggaran beban operasi untuk bulan
Januari 2008. Anggaran beban operasi disusun dengan cara mengelompokkan
semua beban operasi yang ada ke dalam kelompok beban tetap dan variable.
Berikut ini adalah asumsi-asumsi yang diperlukan untuk menyusun anggaran
beban operasi PT Berkah Abadi Jaya.
1. Penjualan bulan Januari 2008 diperkirakan sebesar Rp. 600.000.000,-
2. Gaji tetap karyawan bagian penjualan per bulannya sebesar Rp.
5.000.000,-
3. Gaji tetap karyawan bagian administrasi per bulannya sebesar Rp.
8.000.000,-
4. Komisi karyawan bagian penjualan sebesar 1% dari penjualan.
5. Beban penyusutan kendaraan bagian penjualan dan bagian
administrasi masing-masing sebesar Rp. 2.000.000,- per bulan.
6. Beban iklan per bulannya sebesar Rp. 3.000.000,-
7. Biaya penyusutan peralatan bagian penjualan dan bagian
administrasi setiap bulannya adalah Rp. 2.000.000,- dan Rp. 1.000.000,-
8. Beban tetap listrik bagian penjualan dan administrasi adalah Rp.
500.000,- per bulannya, sedangkan biaya veriabel listrik per kwh adalah Rp.
500,- . Pemakaian listrik bagian penjualan dan administrasi diperkirakan 1.000
dan 1.500 kwh.

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 16


Jawaban
Menyelesaikan penyusunan anggaran beban operasi dengan menjumlah subtotal
beban penjualan dan beban administrasi.

ANGGARAN BIAYA OPERASI


PT BERKAH ABADI JAYA
untuk Periode Januari 2008
Beban Penjualan
Jenis Beban Beban Tetap Beban Variabel Total
Gaji Karyawan 5.000.000 Rp. 5.000.000
Beban Penyusutan Kendaraan 2.000.000 Rp. 2.000.000
Biaya Iklan 3.000.000 Rp. 3.000.000
Biaya Penyusutan Peralatan 1.000.000 Rp. 1.000.000
Biaya Listrik 500.000 500.000 Rp. 1.000.000
Komisi Karyawan Penjualan 6.000.000 Rp. 6.000.000
Subtotal Beban Penjualan Rp. 18.000.000
ANGGARAN BIAYA OPERASI
PT BERKAH ABADI JAYA
untuk Periode Januari 2008
Beban Aministrasi
Jenis Beban Beban Tetap Beban Variabel Total
Gaji Karyawan 8.000.000 Rp. 8.000.000
Beban Penyusutan Kendaraan 2.000.000 Rp. 2.000.000
Jenis Beban Beban Tetap Beban Variabel Total
Biaya Penyusutan Peralatan 1.000.000 Rp. 1.000.000
Biaya Listrik 500.000 750.000 Rp. 1.250.000
Subtotal Beban Administrasi Rp. 12.250.000

Subtotal Beban Penjualan Rp. 30.250.000

Berdasarkan anggaran beban operasi di atas, diketahui bahwa total beban operasi
PT.Berkah Abadi Jaya untuk bulan Januari 2008 adalah Rp. 30.250.000,-.

ANGGARAN LABA RUGI

Penyusunan anggaran laba rugi bertujuan memberikan informasi kepada pihak


manajemen tentang perkiraan laba atau rugi bersih yang akan ditanggung oleh
perusahaan dalam suatu periode anggaran. Informasi-informasi yang dibutuhkan
dalam penyusunan anggaran laba rugi diperoleh dari anggaran-anggaran yang
telah disusun sebelumnya.
Di bawah ini adalah sumber-sumber informasi yang dibutuhkan dalam
menyusun anggaran laba rugi.

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 17


1. Anggaran penjualan, menyediakan informasi tentang perkiraan nilai
penjualan dalam satu periode anggaran.
2. Anggaran produksi, menyediakan informasi tentang nilai persediaan awal
dan akhir barang jadi yang akan digunakan dalam perhitungan beban pokok
penjualan di aggaran laba rugi.
3. Anggaran biaya produksi, menyediakan informasi tentang biaya produksi
dalam satu periode anggaran. Biaya produksi barang jadi meliputi biaya
pemakaian bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya
overhead produksi. Informasi ini diperlukan untuk menghitung beban pokok
penjualan dalam anggaran laba rugi.
4. Anggaran beban operasi, menyediakan informasi tentang perkiraan nilai
beban penjualan dan administrasi penjualan.
5. Tarif pajak penghasilan badan, tarif pajak penghasilan badan diperlukan
untuk menentukan jumlah beban pajak penghasilan yang harus ditanggung
oleh perusahaan dalam satu periode anggaran.
6. Anggaran kas, menyediakan informasi tentang beban bunga, pendapatan
bunga, dan beban piutang tak tertagih.

ANGGARAN LABA RUGI PERUSAHAAN MANUFAKTUR

Bab ini akan membahas tentang penyusunan anggaran laba rugi untuk
perusahaan manufaktur atau pabrik. Anggaran laba rugi untuk perusahaan
manufaktur tidak banyak berbeda dengan anggaran laba rugi untuk perusahaan
dagang atau jasa. Perbedaannya terletak pada penentuan beban pokok penjualan
yang sedikit lebih rumit pada perusahaan manufaktur dibandingkan dengan
perusahaan jasa dan dagang.
Berikut ini adalah contoh format anggaran laba rugi untuk perusahaan
manufaktur.

PT CITRA SARI PERSADA


Anggaran Laba Rugi
Untuk Periode yang berakhir pada 31 Mei 2006
Penjualan 2.000.000*
Beban pokok penjualan
Saldo awal persediaan barang jadi 200.000**

PT CITRA SARI PERSADA


Anggaran Laba Rugi
Untuk Periode yang berakhir pada 31 Mei 2006
Biaya Produksi
Bahan baku yang digunakan 500.000***
Tenaga kerj a langsung 400.000****
Biaya overhead produksi 500.000*****
Persediaan barang jadi tersedia untuk dijual 1.600.000
Dikurangi: persediaan akhir barang jadi 400.000******
Beban pokok penjualan 1.200.000
Laba kotor yang di anggarkan 800.000
Beban operasi
Beban penjualan 200.000*******
Beban administrasi 100.000 300.000

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 18


Laba operasi yang dianggarkan
Pendapatan dan beban lain-lain
Beban bunga 100.000 100.000
Laba sebelum pajak penghasilan 200.000
Perkiraan beban pajak penghasilan 80.000
Laba bersih yang dianggarkan 120.000
Keterangan :
* Dari nilai penjualan dalam anggaran penjualan.
** Dari anggaran produksi.
*** Dari anggaran pemakaian bahan baku.
**** Dari anggaran tenaga kerja langsung.
***** Dari anggaran biaya overhead pabrik.
****** Dari anggaran produksi untuk kuantitasnyadan dikalikandengan biaya
produksi per unitnya.
******* Dari anggaran beban operasi.

MENGHITUNG NILAI PERSEDIAAN AKHIR BARANG JADI

Salah satu informasi yang disajikan dalam anggaran produksi adalah kuantitas
persediaan barang jadi yang akan dipegang oleh persediaan di akhir periode atau
yang biasa kita kenal sebagai persediaan akhir barang jadi. Perhitungan biaya
persediaan akhir barang jadi memerlukan informasi tentang asumsi biaya
persediaan (cost flow assumption) yang digunakan oleh perusahaan.
Dua asumsi arus biaya persediaan yang di bahas dalam buku ini adalah :
1. FIFO ( First In First Out ).
2. Average.

Metode FIFO mengasumsikan bahwa biaya persediaan barang jadi yang


diproduksi pertama kali dalam satu periode akan menjadi beban pokok penjualan
untuk barang jadi yang dijual pertama dalam periode yang sama.
Jika perusahaan menggunakan metode FIFO, maka biaya persediaan akhir barang
jadinya berasal dari persediaan barang jadi yang terakhir dibuat dalam suatu
periode.
Metode Average mengasumsikan bahwa biaya persediaan akhir barang jadi
adalah biaya rata-rata yang diperoleh dari biaya produksi yang dikeluarkan
dalam suatu periode dan biaya persediaan barang jadi awal yang sudah tersedia
di awal periode.
Berikut ini adalah ilustrasi yang menyajikan perbedaan cara perhitungan biaya
persediaan akhir barang jadi dengan menggunakan metode FIFO dan average.

Contoh :
Anggaran produksi PT ABC untuk bulan Juli 2008 adalah sebagai berikut

Penjualan (unit) 1.600


Ditambah : Persediaan akhir barang jadi (unit) 400
Total barang jadi yang dibutuhkan (unit) 2.000
Dikurangi : Persediaan awal barang jadi (unit) 200
Jumlah barang jadi yang akan diproduksi 1.800

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 19


Total biaya persediaan barang jadi pada 1 Juli 2008 adalah Rp. 40.000.000 atau
Rp. 200.000 per unit. Biaya produksi per unit untuk setiap barang jadi yang
diproduksi di bulan Juli 2008 adalah Rp. 220.000.
Berdasarkan anggaran produksi dan informasi tentang biaya persediaan per unit
PT ABC, hitunglah biaya persediaan akhir barang jadi dengan menggunakan
metode arus biaya :
1. FIFO,
2. Average,

Metode FIFO :

Langkah 1
Jika menggunakan metode FIFO, maka biaya persediaan akhir barang jadi berasal
dari biaya barang jadi yang terakhir dibuat pada suatu periode. Pada contoh
PT EFG, biaya produksi per unit barang jadi untuk bulan Juli sebesar Rp. 210.000
per unit sehingga untuk setiap unit barang jadi yang ada di akhir bulan Juli 2008
akan memiliki biaya per unit sebesar Rp. 220.000.

Langkah 2
Dari anggaran produksi, diketahui bahwa jumlah persediaan barang jadi (unit)
adalah 400 unit. Jadi, total biaya persediaan akhir barang jadi adalh Rp. 88.000.000
yang diperoleh dengan mengalikan persediaan barang jadi (400 unit) dengan
biaya produksi per unitnya (Rp. 220.000)

Metode AVERAGE
Langkah 1
Jika menggunakan metode average, kita harus menghitung terlebih dahulu total
biaya produksi untuk bulan Juli dan total biaya persediaan awal barang jadi.
Biaya produksi bulan Juli Rp. 3960.000.000 (Rp. 220.000 x 1.800unit) dan nilai
keseluruhan persediaan barang jadi awal sebesar Rp. 40.000.000 (200unit x Rp.
200.000).

Langkah 2

Tambahkan jumlah unit barang jadi yang diproduksi di bulan Juli (1.800unit)
dengan jumlah unit persediaan awal barang jadi (200unit).
Kemudian, jumlahkan juga biaya produksi bulan Juli (Rp. 396.000.000) dengan
total biaya persediaan awal barang jadi (Rp. 40.000.000) untuk memperoleh total
biaya persediaan barang jadi yang tersedia untuk dijual di bulan Juli.

Unit Biaya
Produksi bulan Juli 1.800 Rp. 396.000.000
Persediaan barang jadi awal 200 Rp. 40.000.000
Persediaan barang jadi tersedia untuk dijual 2.000 Rp. 436.000.000

Langkah 3

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 20


Hitunglah biaya per unit persediaan barang jadi yang tersedia untuk dijual
dengan cara membagi total biaya persediaan abrang tersedia untuk dijual dengan
jumlah unit persediaan akhir tersedia untuk dijual, dalam contoh Rp. 436.000.000
2.000 unit = Rp. 218.000.
Biaya per unit persediaan barang jadi yang tersedia untuk dijual akan menjadi
biaya per unit untuk persediaan akhir barang jadi.

Langkah 4
Nilai akhir persediaan barang jadi diperoleh dengan mengalikan jumlah
persediaan akhir barang jadi dengan biaya per unit persediaan barang jadi
tersedia untuk dijual, pada contoh ini adalah Rp. 218.000 x 400 unit =
Rp. 87.200.000.

MENYUSUN ANGGARAN LABA RUGI


Contoh
Berikut ini adalah informasi yang dibutuhkan oleh PT Abadi Raya untuk
menyusun anggaran laba rugi bulan Oktober 2008.
1. Anggaran produksi bulan Oktober 2008 menyajikan informasi berikut.

Penjualan dalam unit 6.000


Ditambah : persediaan akhir barang jadi 1.800
Total barang jadi yang dibutuhkan 7.800
Dikurangi : Persediaan awal barang jadi 1.400
Jumlah barang jadi yang akan diproduksi 6.400

2. Harga jual barang jadi per unit selama bulan Oktober 2008 diperkirakan
sebesar Rp. 100.000.
3. perusahaan menggunakan metode rata-rata (average) dalam menghitungbiaya
persediaan dan beban pokok penjualan.
4. Total biaya persediaan barang jadi per 1 Oktober sebesar Rp. 84.000.000.
5. Biaya produksi selama bulan Oktober diperkirakan sebesar Rp. 391.800.000.
6. Pajak penghasilan diperkirakan sebesar 30%.
7. Beban penjualan untuk bulan Oktober diperkirakan sebesar Rp. 40.000.000.
8. Beban umum dan administrasi untuk bulan Oktober diperkirakan sebesar Rp.
25.000.000.
9. Beban bunga bulan Oktober diperkirakan sebesar Rp. 26.000.000

Jawaban :
Selesaikan penyusunan anggaran laba rugi dengan menghitung laba bersih yang
dianggarkan dengan mengurangkan laba sebelum pajak penghasilan dengan
perkiraan beban pajak penghasilan.

PT ABADI RAYA
Anggaran Laba Rugi
Untuk Periode yang Berakhir pada 31 oktober 2008
Penjualan 600.000.000
Beban pokok penjualan
Saldo awal persediaan barang jadi 84.000.000
Biaya produksi 391.800.000
Persediaan barang jadi tersedia untuk dijual 475.800.000

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 21


Dikurangi : Persediaan akhir barang jadi 109.800.000
Beban pokok penjualan 366.000.000
Laba kotor yang dianggarkan 234.000.000
Beban Operasi
Beban penjualan 40.000.000
Beban administrasi 25.000.000 65.000.000
Laba operasi yang dianggarkan 169.000.000
Pendapatan dan beban lain-lain
Beban bunga 26.000.000 26.000.000
Laba sebelum pajak penghasilan 143.000.000
Perkiraan beban pajak penghasilan 42.900.000
Laba bersih yang dianggarkan 100.100.000

ANGGARAN KAS
Anggaran kas disusun oleh perusahaan agar pihak manajemen memperoleh
informasi tentang likuiditas perusahaan pada periode mendatang karena
anggaran kas menyajikan informasi tentang perkiraan jumlah penerimaan dan
pengeluaran kas pada periode mendatang.

Anggaran kas juga memberikan informasi kepada manajemen tentang


kemungkinan adanya kekurangan uang kas (pengeluaran kas lebih besar
daripada penerimaan kas) yang akan dialami oleh perusahaan pada periode
mendatang. Dengan demikian, manajemen dapat merencanakan tindakan-
tindakan yang mungkin akan diambil untuk menutupi kekurangan kas tersebut.
Selain itu, anggaran kas juga menyajikan tentang kemungkinan adanya kelebihan
uang kas (penerimaan kas lebih besar daripada pengeluaran kas) dalam satu
periode anggaran. Kelebihan kas ini harus dimanfaatkan oleh manajemen dengan
menginvestasikannya ke alternatif-alternatif tempat berinvestasi yang
menguntungkan sebagai tempat untuk menyalurkan kelebihan kas tersebut,
misalnya membeli saham dan obligasi.

SUMBER INFORMASI PENYUSUNAN ANGGARAN KAS

Penyusunan anggaran kas memerlukan beberapa informasi yang diperoleh dari


anggaran anggaran yang telah disusun sebelumnya dalam anggaran induk
perusahaan.
Berikut ini adalah anggaran-anggaran dan sumber informasi lainnya yang
menyediakan informasi bagi keperluan penyusunan anggaran kas.

1. Anggaran Penjualan

Anggaran penjualan menyediakan informasi tentang perkiraan nilai


penjualan perusahaan dalam suatu periode anggaran. Informasi tentang
penjualan akan lebih berguna dalam penyusunan anggaran kas jika
perusahaan mampu membagi penjualannya menjadi penjualan secara kredit
dan tunai. Hal ini karena hanya penjualan secara tunai yang akan dimasukkan
ke bagian neraca penerimaan kas.
Penjualan secara kredit dapat dimasukkan ke anggaran kas apabila
perusahaan telah mampu menagih piutang pelanggannya.

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 22


2. Pola Penagihan Piutang

Pola penagihan piutang membantu perusahaan dalam memerkirakan


penerimaan kas dari penagihan piutang pelanggannya.

3. Anggaran Pembelian Bahan Baku

Anggaran pembelian bahan baku menyajikan informasi tentang nilai


pembelian bahan baku dalam satu periode anggaran. Hal penting yang harus
diingat adalah hanya pembelian bahan baku yang dilakukan secara tunai
yang dimasukkan ke anggaran kas.
Pembelian secara kredit baru dimasukkan ke pengeluaran kas apabila
perusahaan telah melunasi utang dagangnya kepada pemasok.

4. Pola Pelunasan Utang Dagang

Untuk menentukan jumlah dan waktu utang dagang yang harus dibayarkan
kepada pemasoknya, perusahaan harus dapat memperkirakan pola
penagihan utang dagangnya.

5. Anggaran Biaya Tenaga Kerja Langsung

Anggaran biaya tenaga kerja langsung menyajikan informasi tentang biaya


tenaga kerja langsung yang harus dikeluarkan dalam satu periode anggaran
untuk menunjang proses kegiatan produksi perusahaan. Biaya tenaga kerja
langsung saja yang dibayarkan secara tunai dalam suatu periode anggaran
yang dimasukkan ke anggaran kas. Biaya tenaga kerja langsung dalam satu
periode anggaran yang belum dibayarkan akan menjadi utang gaji dalam
periode tersebut. Utang gaji akan masuk ke anggaran kas jika telah
dibayarkan oleh perusahaan.

6. Angaran Beban Operasi

Anggaran beban operasi menyajikan informasi tentang beban operasi untuk


satu periode anggaran. Beban operasi yang masuk ke anggaran kas hanya
beban operasi yang dibayarkan secara tunai. Beban operasi yang tidak
melibatkan pengeluaran kas tidak dimasukkan ke anggaran kas, misalnya
beban depresiasi aset tetap dan beban amortisasi aset tidak berwujud.

7. Kebijakan Pembayaran Beban Operasi

Jumlah beban operasi yang dibayarkan secara tunai sering kali berbeda
dengan jumlah beban operasi yang di akui dalam laporan laba rugi. Hal ini
terjadi karena perusahaan menggunakan basis akrual dalam melakukan
pencatatan akuntansinya. Beban dalam akuntansi diakui saat terjadinya,
tanpa memandang apakah sudah terjadi pengeluaran kas atas beban atau
belum.

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 23


Misalnya, perusahaan berencana menyewa sebuah ruangan pameran sejak
tanggal 1 Juli 2006 30 Juni 2007. biaya sewa selama satu tahun sebesar Rp.
60.000.000 atas pembayaran sewa tersebut, perusahaan akan memasukkannya
ke beban operasi tahun 2006 sebesar Rp. 30.000.000 (mengakui adanya beban
sewa sejak 1 Juli 2006 31 Desember 2006). Untuk keperluan penyusunan
anggaran kas tahun 2006, perusahaan memasukkan seluruh pembayaran sewa
ruangan pameran sebesar Rp. 60.000.000, yaitu sebesar uang tunai yang
dibayarkan ketika ingin menyewa.

8. Belanja Modal

Belanja modal adalah segala pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan


yang memberikan manfaat lebih dari satu tahun, misalnya pembelian mesin-
mesin pabrik. Belanja modal yang menggunakan kas perusahaan saja yang
dimasukkan ke anggaran kas.

9. Neraca Tahun Lalu

Neraca tahun lalu menyajikan informasi tentang piutang dagang dan seluruh
utang yang akan jatuh tempo pada periode anggaran mendatang. Piutang
dagang yang jatuh tempo akan menambah penerimaan kas, sedangkan utang
dagang yang jatuh tempo akan menambah pengeluaran kas.

FORMAT ANGGARAN KAS

Berikut ini adalah format anggaran kas yang dapat digunakan dalam
penyusunan anggaran kas perusahaan.

PT ABC
Angaran Kas untuk Bulan yang Berakhir pada 31 Januari 2006
Januari
Saldo kas awal
Di tambah penerimaan kas
Penjualan tunai
Penagihan piutang dagang pelanggan
Penerimaan dari pendapatan bunga
Peminjaman uang dari bank
Penerbitan saham baru perusahaan
Saldo kas yang tersedia

Dikurangi pengeluaran kas untuk :


Pembelian bahan baku secara tunai
Pelunasan utang dagang
Pembayaran gaji dan upah
Pembayaran bukan operasi

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 24


Pembayaran biaya overhead
Pembayaran pokok utang dan bunganya
Saldo kas minimum
Surplus atau Defisit kas
Dikurangi pelunasan pinjaman
Ditambah penerimaan pinjaman
Ditambah saldo kas minimum
Saldo Kas Akhir

POLA PENAGIHAN PIUTANG DAGANG DAN PEMBAYARAN UTANG


DAGANG

Penjualan secara kredit memberikan aktivitas tambahan bagi perusahaan, yaitu


penagihan piutang pelanggan. Salah satu indikator keberhasilan perusahaan
adalah seberapa baik kinerja dari manajemen piutang dagangnya. Semakin baik
manajemen piutang dagang (misalnya, hanya diberikan kepada pelanggan yang
layak dan pelunasan piutang dagang oleh pelanggan selalu dimonitor), maka
semakin kecil kemungkinan adanya piutang pelanggan yang tidak tertagih.
Kas yang berasal dari penagihan piutang pelanggan dapat digunakan oleh
perusahaan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan operasinya, misalnya
membeli bahan baku dan membayar gaji karyawan.
Jangka waktu yang diperlukan oleh setiap perusahaan untuk dapat menagih
piutang dagangya tidaklah sama, bergantung pada jenis usaha dan karakteristik
pelanggannya. Perusahaan dengan manajemen piutang dagang yang baik
umumnya membuat jadwal penagihan piutang untuk setiap pelanggannya setiap
bulannya agar perusahaan dapat memperkirakan jumlah piutang dagang yang
dapat ditagih setiap bulannya. Kemudian, jumlah penagihan piutang tersebut
dimasukkan ke anggaran kas dalam kelompok penerimaan kas.
Seperti halnya penjualan secara kredit, pembelian barang dagang secara kredit
(tidak tunai) juga mengharuskan perusahaan menentukan waktu pembayaran
(pola pembayaran) utangnya kepada pemasok.
Pola pembayaran utang dagang kepada pemasok akan menentukan jumlah
pengeluaran kas dalam anggaran kas perusahaan.

Contoh Pola Penagihan Piutang Dagang

Berdasarkan data-data berikut ini, hitunglah jumlah piutang dagang yang dapat
ditagih di bulan Januari, Februari, dan Maret 2008.

1. Berikut ini adalah data tentang nilai penjualan aktual di tahun 2007 dan
perkiraan nilai penjualan di tahun 2008.

November 2007 Rp. 1.200.000


Desember 2007 Rp. 1.200.000
Januari 2008 Rp. 1.000.000
Februari 2008 Rp. 1.000.000
Maret 2008 Rp. 1.200.000

2. Prosentase penjualan secara tunai setiap bulannya adalah 10%.


BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 25
3. 5% dari total penjualan secara kredit setiap bulannya di lunasi pada bulan
terjadinya penjualan dan memperoleh potongan harga sebesar 5%.
4. 80% dari penjualan secara kredit pada suatu bulan dilunasi satu bulan setelah
terjadinya penjualan.
5. 13% dari penjualan secara kredit pada suatu bulan dilunasi 2 bulan setelah
tejadinya penjualan.
6. 2% dari penjualan kredit diperkirakan tidak dapat ditagih.

Jawaban :
Lengkapi tabel penagihan piutang dengan menghitung total seluruh kolom yang
tersedia.

Bulan Piutang
Penjualan Potongan Bulan Penagihan Piutang
Terjadinya Tidak
Kredit Harga
Penjualan tertagih Januari Februari Maret
November 1.080.000 140.400
Desember 1.080.000 864.000 140.400
Januari 900.000 2.250 18.000 42.750 720.000 117.000
Februari 900.000 2.250 18.000 42.750 720.000
Maret 1.080.000 2.700 21.600 51.300
Total 7.200 57.600 1.047.150 903.150 888.300

MASALAH WAKTU PEMBAYARAN

Anggaran beban operasi, anggaran tenaga kerja langsung, dan anggaran biaya
overhead menyajikan biaya yang terjadi pada suatu periode anggaran. Sementara
itu, anggaran kas hanya menyajikan biaya-biaya yang dibayarkan secara tunai
pada suatu periode anggaran. Dalam banyak kasus, suatu pengeluaran sudah
terjadi dan dianggap sebagai beban dalam suatu periode anggaran, tetapi sering
kali belum dibayarkan secara tunai.

Berikut ini adalah contoh yang menyajikan perbedaan antara beban yang sudah
terjadi, tetapi belum dibayarkan secara tunai.

1. Upah tenaga kerja langsung dibayarkan mingguan setiap hari Jumat. Tanggal
31 Januari jatuh pada hari Kamis. Gaji mingguan tenaga kerja langsung baru
dibayarkan pada hari Jumat tanggal 1 Februari. Beban gaji tenaga kerja
langsung yang telah terjadi pada minggu keempat bulan Januari adalah sejak
tanggal 28-31 Januari dan masuk ke anggaran laba rugi bulan Januari.
Anggaran kas bulan Januari tidak memasukkan beban gaji yang terjadi pada
tanggal 28-31 Januari karena belum dibayarkan kepada pegawai.

2. Setiap tahun, perusahaan membeli polis asuransi untuk kendaraan kantor


pada tanggal 1 januari. Setiap bulan (Januari-Desember), pada anggaran
beban operasi akan terdapat alokasi pembebanan beban asuransi pada pos
beban operasi. Pada anggaran kas akan terdapat pengeluaran kas untuk

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 26


pembelian polis asuransi selama 1 tahun penuh. Pengeluaran polis operasi
tdak akan masuk ke anggaran kas bulan Februari sampai Desember.

3. Pembayaran beban listrik pada bulan Januari akan dilakukan pada bulan
Februari. Beban listrik untuk bulan Januari diakui pada anggaran laba rugi
pada bulan Januari juga, tetapi anggaran kas mengakui pembayaran beban
listrik bulan Januari pada anggaran kas bulan Februari.

Contoh

Dari data-data yang ada di bawah ini, hitunglah kas yang dibayarkan untuk
beban gaji, beban sewa, dan komisi tenaga penjual untuk bulan April 2008
Anggaran beban operasi sebagian untuk bulan April menyajikan data sebagai
berikut :

Beban gaji Rp. 20.000.000


Beban sewa Rp. 1.000.000
Beban komisi Rp. 500.000

Neraca per 31 Maret 2008 menyajikan informasi tentang utang gaji dan utang
komisi sebesar Rp. 700.000 dan Rp. 200.000.
Saldo utang gaji pada 30 April diperkirakan sebesar Rp. 500.000 dan beban
komisi bulan April akan dibayarkan seluruhnya pada bulan Mei. Perusahaan
membayar sewa bangunan untuk jangka waktu sewa 1 April 2008 31 Maret
2009 sebesar Rp. 12.000.000 pada tanggal 1 April 2008.

Langkah 1
Hitunglah pembayaran beban gaji secara tunai untuk bulan April 2007.
Saldo utang gaji 1 April Rp. 700.000
(+) Beban gaji bulan April Rp. 20.000.000 (diakui sebagai utang gaji terlebih
dahulu)
Utang gaji April Rp. 20.700.000
(-) Saldo utang gaji 30 April Rp. 500.000
Kas yang dibayarkan untuk beban gaji Rp. 20.200.000

Langkah 2
Hitunglah pembayaran tunai beban komisi untuk bulan April 2007
Saldo utang komisi 1 April Rp. 200.000
(+) Beban komisi bulan April Rp. 20.000.000 (diakui sebagai utang gaji
terlebih dahulu)
Utang komisi April Rp. 20.700.000
(-) Saldo utang komisi 30 April Rp. 500.000
Kas yang dibayarkan untuk beban gaji Rp. 200.000

Saldo utang komisi per 30 April berasal dari beban komisi bulan April yang akan
dibayarkan seluruhnya secara tunai di bulan Mei. Jadi, pembayaran secara tunai
beban komisi di bulan April berasal dari beban komisi bulan Maret yang dibayar

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 27


di bulan April sebesar Rp. 200.000 (lihat utang komisi per 31 Maret sebesar Rp.
200.000).

Langkah 3
Perusahaan membayar sewa bangunan pada tanggal 1 April 2008 sebesar Rp.
12.000.000. Jangka waktu sewa dari 1 April 2007-31 Maret 2008. Pada anggaran
kas bulan April 2007, akan terdapat pengeluaran kas sebesar Rp. 12.000.000.
Untuk anggaran kas bulan-bulan berikutnya sampai 31 Maret 2009 tidak ada
pengeluaran kas untuk beban sewa.
Pada anggaran laba rugi bulanan sejak bulan April 2008 sampai bulan Maret
2009, akan terdapat beban sewa bangunan sebesar Rp. 1.000.000.

SALDO KAS MINIMUM, PINJAMAN, DAN PEMBAYARAN PINJAMAN

Perusahaan harus memelihara saldo kas minimum setiap bulannya untuk


berjaga-jagajika terdapat pengeluaran kas yang tidak direncanakan sebelumnya.
Ketersediaan saldo kas minimum juga dapat menghindari perusahaan dari
kondisi kesulitan likuiditas, yaitu perusahaan tidak mampu membayar seluruh
tagihan yang datang karena ketiadaan kas.
Jika perkiraan pengeluaran kas lebih besar daripada saldo kas yang dimiliki
ditmbah dengan perkiraan penerimaan kas, maka manajemen harus segera
memikirkan dan mencari alternatif sumber pembiayaan untuk menutupi defisit
tersebut. Sebaliknya, jika terdapat surplus (penerimaan kas lebih besar dari
pengeluaran kas), maka manajemen dapat menggunakan surplus tersebut untuk
membayar utang berikut bunganya atau menginvestasikannya ke dalam
sekuritas dalam upaya memperoleh tambahan penghasilan

ANGGARAN NERACA

Anggaran neraca adalah anggaran yang paling terakhir disusun oleh perusahaan
dalam proses penyusunan anggaran induknya (master budget). Anggaran neraca
menyajikan informasi kepada manajemen tentang hasil akhir dari seluruh
anggaran yang telah disusun sebelumnya (anggaran penjualan sampai anggaran
kas). Kemudian, anggaran neraca juga memperlihatkan kepada manajemen
tentang pengaruh kebijakan yang diambil oleh manajemen terhadap aset,
kewajiban, dan ekuitas perusahaan.

FORMAT ANGGARAN NERACA


Format anggaran neraca sama dengan format neraca pada umumnya. Berikut ini
adalah contoh format anggaran yang dapat digunakan dalam penyusunan
anggaran neraca.

PT Sejahtera Indah Lestari


Anggaran Neraca per 31 Desember 2008
Aset Kewajiban dan Ekuitas
Aset lancar Kewajiban Lancar
Kas dan Bank 2.000 Utang dagang 12.000
Piutang Dagang 10.000 Utang Gaji 4.000

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 28


Persediaan 30.000 Utang Pajak 2.000
Biaya di Bayar di Total Kewajiban
4.000 18.000
Muka Lancar
Total Aset Lancar 46.000
Kewajiban Jangka
Panjang
Aset Tidak Lancar Utang Obligasi 50.000
Tanah 20.000
Bangunan dan
120.000 Ekuitas
Peralatan (net)
Paten 10.000 Saham Biasa 60.000
Total Aset Tidak Lancar 150.000 Saldo Laba (defisit) 68.000
Total Ekuitas 128.000
Total Aset 196.000 196.000

Informasi dan laporan yang diperlukan dalam penyusunan anggaran neraca


untuk suatu periode anggaran adalah sebagai berikut :
1. Neraca perusahaan periode lalu.
2. Anggaran kas untuk periode anggaran mendatang.
3. Anggaran laba rugi untuk periode anggaran mendatan

Contoh
Manajemen PT Selaras Industri Sejahtera ingin menyusun anggaran neraca untuk
tahun anggaran 2008. Berikut ini adalah informasi-informasi yang diperlukan
oleh manajemen PT SIS untuk menyusun anggaran neraca tahun 2008.
1. Neraca PT SIS per 31 Desember 2007
PT SIS
Anggaran Neraca per 31 Desember 2007
Aset Kewajiban dan Ekuitas
Aset Lancar Kewajiban Lancar
Kas dan Bank 400 Utang Dagang 24.000
Piutang Dagang 30.000 Utang Bunga 900
Persediaan Bahan
20.000 Utang Pajak 20.000
Baku
Persediaan Barang Total Kewajiban
24.000 44.900
Jadi Lancar
Sewa di Bayar di
700
Muka
Total Aset Lancar 75.100

Aset Tidak Lancar Ekuitas


Tanah 100.000 Saham Biasa 198.000
Kendaraan 220.000 Saldo Laba (defisit) 192.200
Akumulasi
16.000 204.000 Total Ekuitas 390.200
Penyusutan

Peralatan Kantor 60.000


Akumulasi
4.000 56.000
Penyusutan
Total Aset Tidak
360.000
Lancar

Total Aset 435.100 Total Kewajiban 435.100

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 29


dan Ekuitas

2. Anggaran Laba Rugi tahun 2008


PT SIS
Anggaran Laba Rugi
Untuk Periode yang Berakhir pada 31 Desember 2008
Penjualan 200.000
Beban Pokok Penjualan
Saldo awal persediaan barang jadi 24.000
Biaya Produksi 160.000
Persediaan barang jadi tersedia untuk dijual 184.000
Dikurangi : Persediaan akhir barang jadi 20.000
Beban Pokok Penjualan 164.000
Laba kotor yang dianggarkan 36.000
Beban Operasional
Beban Depresiasi kendaraan 1.200
Beban Depresiasi Peralatan Kantor 800
Beban Sewa 2.000
Beban Perlengkapan Kantor 1.000 5.000
Laba Operasi Yang Dianggarkan 31.000

PT SIS
Anggaran Laba Rugi
Untuk Periode yang Berakhir pada 31 Desember 2008
Pendapatan dan Beban Lain-lain
Beban Bunga 6.000
Laba Sebelum Pajak Penghasilan 25.000
Estimasi beban pajak penghasilan 7.500
Laba Bersih Yang Dianggarkan 17.500

3. Anggaran Biaya Produksi tahun 2008


PT SIS
Anggaran Biaya Produksi
Untuk Periode yang Berakhir pada 31 Desember 2008
Bahan Baku
Saldo awal bahan baku 20.000
Pembelian bulan Oktober 130.000
Bahan Baku yang tersedia 150.000
Dikurangi : Persediaan akhir bahan baku 24.000
Biaya pemakaian bahan baku untuk Produksi 126.000
Biaya tenaga kerja langsung 20.000
Biaya overhead produksi 14.000
Biaya produksi 2008 160.000

4. Informasi tambahan yang diperlukan untuk menyusun anggaran neraca


tahun 2008 adalah sebagai berikut.
a. Penjualan tunai 2008 sebesar Rp. 20.000
b. Penerimaan kas selama tahun 2008 adalah sebagai berikut :
1) Pelunasan piutang dagang oleh debitur sebesar Rp. 190.000.
2) Penerbitan saham baru sebesar Rp. 70.000.
c. Pengeluaran kas selama tahun 2008 adalah sebagai berikut :
1) Pelunasan utang dagang atas pembelian bahan baku sebesar
Rp. 136.000

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 30


2) Pembayaran sewa dibayar di muka sebesar Rp. 2.200
3) Pembelian perlengkapan kantor sebesar Rp. 1.000
4) Pembayaran gaji tenaga kerja langsung sebesar Rp. 20.000
5) Pembayaran biaya overhead produksi sebesar Rp. 14.000
6) Pembayaran pajak penghasilan sebesar Rp. 7.500
7) Pembayaran deviden sebesar Rp. 10.000

Jawaban
Menyelesaikan penyusunan anggaran neraca dengan memasukkan data-data
yang diperoleh dari langkah 1-12 ke dalam format anggaran neraca.

PT SIS
Anggaran Neraca per 31 Desember 2008
Aset Kewajiban dan Ekuitas
Aset Lancar Kewajiban Lancar
Kas dan Bank 89.700 Utang dagang 18.000
Piutang dagang 20.000 Utang bunga 6.900
Persediaan Bahan Baku 24.000 Utang pajak 20.000
PT SIS
Anggaran Neraca per 31 Desember 2008
Persediaan barang jadi 20.000 Utang gaji 0
Sewa di bayar di muka 900
Total Aset Lancar 154.600 Total Kewajiban Lancar 44.900

Aset Tidak Lancar Ekuitas


Tanah 100.000 Saham Biasa 268.000
Kendaraan 220.000 Saldo laba (defisit) 199.700
Akumulasi Penyusutan 17.200 202.800
Total Ekuitas 467.700
Peralatan Kantor 60.000
Akumulasi Penyusutan 4.800 55.200
Total Aset Tidak Lancar 358.000

Total Aset 512.600 Total Kewajiban dan Ekuitas 512.600

PENGANGGARAN MODAL

Penganggarna modal (capital budgeting) adalah sebuah proses pengambilan


keputusan oleh manajemen atas kegiatan yang akan memberikan tingkat
pengembalian investasi (return on investment) lebih dari satu tahun.
Penganggaran modal umumnya melibatkan kegiatan pengambilan keputusan
untuk pengadaan aset tetap yang memiliki masa manfaat lebih dari satu tahun.

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 31


Penganggaran modal hanya memfokuskan pada kegiatan-kegiatan yang
memiliki jangka waktu pelaksanaan lebih dari satu tahun.
Penganggaran modal sangat menentukan keberhasilan perusahaan dalam jangka
panjang karena hal-hal berikut.

1. Jumlah dana yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan tersebut sangat


besar.
Dalam melaksanakan kegiatan tersebut, perusahaan tidak hanya mengunakan
dana dari kas internal perusahaan, tetapi juga mengunakan dana dari pihak
kreditur, misalnya bank.
Jika kegiatan yang akan dilaksanakan oleh perusahaan mengalami kegagalan,
maka perusahan kemungkinan besar akan mengalami kesulitan dalam
melunasi segala utang yang terkait dengan kegiatan tersebut. Jika perusahaan
tidak mampu melunasi utangnya, maka perusahaan kemungkinan besar akan
dilikuidasi (ditutup).
2. Kegiatan penganggaran modal memerlukan banyak sekali sumber daya yang
ada di perusahaan, tidak hanya uang, tetapi juga fasilitas dan sumber daya
manusia.
Kegagalan dalam memilih dan menjalankan proyek yang tepat dapat
membuat perusahaan mengalami kerugian yang sangat besar sehingga akan
dapat berdampak buruk pada kondisi keuangan perusahaan.

3. Sebaliknya, jika kegiatan yang dijalankan oleh perusahaan dilaksanakan


dengan sukses, maka perusahaan akan memperoleh keuntungan yang besar
di masa mendatang. Kondisi ini dapat memperkuat posisi perusahaan
dibandingkan dengan pesaingnya.

TEKNIK DAN KONSEP PENGANGGARAN MODAL

Penganggaran modal dapat membantu manajemen perusahaan dalam proses


pengambilan keputusan untuk pelaksanaan sebuah kegiatan. Keputusan yang
diambil oleh manajemen adalah apakah manajemen akan melaksanakan kegiatan
tersebut atau justru menolaknya.
Sebagai contoh, PT ABC ingin menambah mesin produksinya dari 3 buah
menjadi 5 buah. Untuk itu, PT ABC harus membeli 2 buah mesin baru yang
diperkirakan akan dipakai selama 10 tahun. Harga beli mesin sebesar
Rp. 20.000.000.000 per unitnya sehingga diperlukan dana sebesar
Rp. 40.000.000.000
PT ABC harus membuat keputusan apakah akan membeli mesin tersebut atau
tidak membelinya. Berbagai faktor yang menentukan jadi atau tidaknya PT ABC
membeli mesin, antara lain kondisi keuangan perusahaan dan keyakinan
perusahaan tentang target penjualan unit produksinya di masa depan.
Berikut ini adalah langkah-langkah yang dilaksanakan oleh perusahaan dalam
penganggaran modal.

Langkah 1
Tentukan nilai investasi awal (initial outlay) dari kegiatan yang akan dijalankan
oleh perusahaan. Misalnya, perusahaan ingin mengganti mesin lama dengan

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 32


mesin baru agar lebih efisien dalam berproduksi. Nilai investasi awal pembelian
mesin baru adalah seluruh pengeluaran untuk memperoleh mesin baru tersebut.
Berikut ini aalah contoh-contoh pengeluaran untuk pembelian mesin.
Harga beli mesin baru = xxx
Ditambah :
Ongkos angkut pembelian = xxx
Biaya asuransi selama pengiriman = xxx
Biaya test mesin baru = xxx
Biaya pemasangan mesin baru = xxx
Dikurangi :
Harga jual mesin lama = xxx
Niali investasi awal mesin baru = xxx

Langkah 2
Temukan sumber pendanaan untuk mendanai kegiatan yang akan dilakukan
oleh perusahaan.
Sumber-sumber pendanaan untuk mendanai kegiatan perusahaan adalah :
1. dana kas internal perusahaan,
2. hasil penerbitan obligasi kepada masyarakat,
3. hasil dari meminjam dana kepada lembaga keuangan, misalnya ke bank,
4. penerbitan saham baru.
Setiap sumber pendanaan mensyaratkan adanya biaya modal (cost of capital) yang
harus dibayarkan oleh perusahaan. Sebagai contoh, jika perusahaan
menggunakan sumber pendanaan dari penerbitan obligasi, maka perusahaan
harus membayar bunga setiap tahunnya kepada pemegang obligasi. Bunga
tersebut adalah biaya modal dari penerbitan obligasi.

Langkah 3
Tentukan arus kas masuk dan arus kas keluar selama kegiatan tersebut
dijalankan. Arus kas masuk di masa depan dapat berasal dari penjualan produk
dan jasa kepada pelanggan atau dari penghematan yang diterima perusahaan.
Misalnya, perusahaan akan mengganti mesin lama yang dimiliki dengan mesin
baru. Mesin baru tersebut memiliki masa manfaat selama 5 tahun dan
penghematan per tahun yang akan diterima oleh perusahaan dengan
menggunakan mesin baru sebesar Rp. 150.0000.000 Total penghematan dari
mesin baru tersebut selama masa manfaatnya sebesar Rp. 750.000.000.
Arus kas keluar kegiatan berasal dari semua pengeluaran kas selama pelaksanaan
kegiatan, misalnya untuk pembayaran gaji pelaksana kegiatan dan pembalian
bahan baku.
Arus kas masuk kegiatan nantinya dikurangkan dengan arus kas keluar kegiatan
untuk memperoleh arus kas bersih kegiatan.

Langkah 4
Menghitung kelayakan pelaksanaan kegiatan dengan menggunakan metode-
metode yang ada di penganggaran modal. Buku ini hanya akan membahas dua
metode, yaitu metode payback period dan net present value.

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 33


METODE PAYBACK PERIOD

Metode payback period mengukur lamanya waktu yang dibutuhkan oleh sebuah
kegiatan untuk menutupi pengeluaran investasi awalnya atau kembali modal.
Selama kegiatan berlangsung, perusahaan akan memperoleh arus kas masuk
bersih. Kemudian, arus kas bersih yang diperoleh setiap tahun dijumlahkan. Jika
jumlah arus kas masuk bersih telah sama dengan pengeluaran investasi awalnya,
maka perusahaan dianggap sudah kembali modalnya.
Metode payback period akan memilih kegiatan yang memiliki payback period yang
paling cepat.

Contoh

PT XYZ ingin mengganti mesin lamanya dengan sebuah mesin baru yang lebih
efisien. Harga mesin baru diperkirakan sebesar Rp. 1.000.000.000. Mesin baru
tersebut diharapkan akan memberikan manfaat selama 10 tahun. Penghematan
yang diperoleh dengan menggunakan mesin baru setiap tahunnya sebesar
Rp. 250.000.000. PT XYZ mensyaratkan untuk dapat membeli mesin baru
tersebut, maka payback period-nya harus tidak lebih dari 6 tahun.
Dengan menggunakan metode payback period, tentukan apakah PT XYZ akan
menyutujui permohonan pembelian mesin baru tersebut.

Jawaban
Jika arus kas bersih dari seluruh kegiatan nilainya sama untuk setiap tahunnya,
maka kita dapat menggunakan rumus di bawah ini.

Nilai investasi awal


Payback period =
Arus kas bersih setiap tahun

1.000.000.000
Payback period =
250.000.000

Payback period = 4 tahun

Analisis kelayakan kegiatan tersebut dengan membandingkan antara payback


period dari mesin tersebut dengan kebijakan yang ada di perusahaan.
PT XYZ akan menyutujui permohonan pembelian mesin baru tersebut karena
payback period-nya (4 tahun) lebih cepat dibandingkan dengan kebijakan
perusahaan PT XYZ yang mensyaratkan payback period selama 6 tahun.

Contoh
PT ABC memiliki rencana untuk membangun sebuah ruko di daerah Jakarta
Utara. Nilai investasi awal proyek tersebut diperkirakan sebesar Rp. 1.500.00.000.
Berikut ini adalah arus kas bersih yang diperkirakan akan diperoleh dari proyek tersebut.
Tahun Arus kas bersih masuk
1 500.000.000

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 34


2 600.000.000
3 800.000.000
4 900.000.000
5 100.000.000

Sehubungan dengan nilai arus kas bersih yang masuk setiap tahun tidak sama,
kita tidak lagi dapat menggunakan rumus pada contoh awal.
Berikut ini adalah tabel yang dapat digunakan untuk menghitung payback period
sebuah kegiatan yang nilai arus kas bersihnya tidak sama setiap tahun.

Arus kas Arus kas bersih Nilai investasi awal yang belum
Tahun
bersih kumulatif tertutupi sampai akhir tahun
0 1.500.000.000
1 500.000.000 500.000.000 1.000.000.000
2 600.000.000 1.100.000.000 400.000.000
3 800.000.000 1.900.000.000 0
4 900.000.000 2.800.000.000 0
5 100.000.000 2.900.000.000 0

Dari tabel di atas dapat di lihat payback period terjadi pada tahun ke-2, tetapi
sebelum tahun ke-3 berakhir, jadi :
payback period = 2 tahun + (400.000.000/800.000.000) x 1 tahun
= 2 tahun + 0,5 tahun
= 2,5 tahun.
400.000.000 adalah investasi awal yang belum tertutupi sampai akhir tahun pada
tahun ke-2 sedangkan 800.000.000 adalah arus kas bersih tahun ke-3.

METODE NET PRESENT VALUE

Salah satu kelemahan dari metode payback period adalah tidak memasukkan nilai
waktu dari arus kas bersih yang diterima di masa mendatang atau sering disebut
time value of money.
Seperti diketahui, uang memiliki dimensi nilai waktu. Misalnya, nilai uang
sebesar Rp. 1.000.000 yang diterima satu tahun kemudian tidak sama dengan
uang sebesar Rp. 1.000.000 yang diterima. Hal ini terjadi karena konsep bunga
majemuk dan inflasi.
Jika kita menerima Rp. 1.000.000 saat ini, kemudian uang tersebut kita tabung
dan memperoleh bunga nilainya di tahun depan lebih besar dari Rp. 1.000.000
(nilai pokok plus bunga).
Metode dalam penganggaran modal yang akan dibahas selanjutnya adalah
metode net present value. Dengan menggunakan metode net present value,
seluruh nilai arus kas bersih yang diterima di tahun-tahun mendatang akan
dihitung saat investasi awal dikeluarkan (di-present value-kan) dengan
menggunakan tingkat diskonto tertentu.
Tingkat diskonto yang digunakan dapat diperoleh dari tingkat pengembalian
investasi yang diharapkan oleh perusahaan (required rate of return).
Kemudian, arus kas bersih tersebut dikurangi dengan nilai investasi awalnya
untuk memperoleh NPV.
Jika NPV > 0, maka proyek tersebut layak untuk dilaksanakan.

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 35


Sebaliknya
Jika NPV < 0, maka proyek tersebut tidak layak untuk dilaksanakan.

Contoh
PT ABC berniat membangun sebuah ruko di daerah Jakarta Utara. Nilai investasi
awal pembangunanruko adalah Rp. 1.500.000.000. Berikut ini adalah arus kas
bersih yang diperkirakan akan diterima dari kegiatan pembangunan ruko
tersebut.

Tahun Arus kas bersih masuk


1 500.000.000
2 600.000.000
3 800.000.000
4 900.000.000
5 100.000.000

PT ABC memutuskan hanya menggunakan dana kas internal perusahaan untuk


membangun ruko tersebut dan menginginkan tingkat pengembalian investasi
sebesar 10%. Kemudian, manajemen PT ABC hendak memutuskan kelayakan
pembangunan ruko tersebut dengan menggunakan metode net present value.

Jawaban
tingkat pengembalian investasi sebesar 10% merupakan tingkat diskonto
pembangunan ruko tersebut.
Dengan rumus present value sebagai berikut :

Rp 1
Rumus present value =
( 1 +discount rate )n

Maka diperoleh tabel sebagai berikut :

Tahun Arus kas bersih masuk PV,10% NPV dari arus kas bersih masuk
(1) (2) (3) (4) = (2) x (3)
1 500.000.000 0.9091 454.550.000
2 600.000.000 0.8264 495.840.000
3 800.000.000 0.7531 601.040.000
4 900.000.000 0.6830 614.700.000
5 100.000.000 0.6209 62.090.000
Total NPV 2.228.220.000
Nilai investasi awal 1.500.000.000
NPV dari proyek 728.220.000

Kegiatan pembangunan ruko memiliki NPV positif sehingga layak dijalankan.

ANGGARAN PADA PERUSAHAAN JASA

Seluruh perusahaan baik perusahaan manufaktur, dagang, maupun jasa selalu


menyiapkan anggaran induk (master budget) setiap tahunnya. Anggaran induk
disusun untuk perencanaan dan pengendalian kegiatan-kegiatan yang ada di
dalam perusahaan.
BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 36
Bab-bab sebelumnya telah membahas penyusunan anggaran induk untuk
perusahaan manufaktur. Bab ini akan membahas proses penyusunan anggaran
induk untuk perusahaan jasa.
Seperti layaknya penyusunan anggaran perusahaan menufaktur, anggaran untuk
perusahaan jasa dimulai dengan membuat anggaran penjualan atau anggaran
pendapatan.

ANGGARAN PENDAPATAN
Anggaran pendapatan menyajikan informasi tentang perkiraan pendapatan yang
akan diperoleh dari penjualan jasa kepada pelanggan dan harga jual dalam satu
periode anggaran.

Contoh
PPA-FEUI memiliki beberapa jenis pelatihan yang terdiri atas Pelatihan
Akuntansi (tingkat dasar dan menengah), Perpajakan (Brevet A, B, dan C),
Komputer Akuntansi (MYOB dan Accurate), CFA Preparation Course, CIA Course,
USAP review, dan CPMA review. Manajemen PPA-FEUI mengelompokkan
pelatihan-pelatihan tersebut menjadi dua kelompok besar pelatihan berdasarkan
tempat pelaksanaan pelatihan, yaitu Pelatihan Salemba dan Pelatihan Depok.
Pada tahun 2007, Pelatihan Salemba berhasil memperoleh peserta sebanyak 130
peserta dengan harga jual rata-rata per peserta sebesar Rp. 4.000.000. Pada tahun
yang sama pula, Pelatihan Depok memberikan kontribusi peserta sebanyak 300
peserta dengan harga jual rata-rata per peserta sebesar Rp. 1.300.000.
Manajemen PP-FEUI menargetkan jumlah peserta pelatihan dan harga jualnya
untuk tahun 2008 akan naik sebesar 10% dari pencapaian di tahun 2007.
Berikut ini adalah anggaran pendapatan pelatihan PP-FEUI untuk tahun 2008.

PPA FEUI
Anggaran Pendapatan Pelatihan Tahun 2008
Pealatihan Salemba Pelatihan Depok Total
Jumlah Peserta 143 330
Dikalikan : Harga Jual Rp. 4.400.000 Rp. 1.430.000
Pendapatan pelatihan Rp. 629.200.000 Rp. 471.900.000 Rp. 1.101.100.000
Presentase pendapatan/Total
57% 43%
pendapatan

Target pendapatan dari kegiatan pelatihan tahun 2008 yang diharapkan oleh
PPA-FEUI adalah Rp. 1.101.100.000. Pelatihan Salemba diharapkan memberikan
kontribusi pendapatan sebesar 57% dari total pendapatan pelatihan di tahun
2008.

ANGGARAN BEBAN LANGSUNG PELATIHAN


Manajemen PP-FEUI mengelompokkan beban-beban yang dikeluarkan untuk
melaksanakan kegiatan pelatihan ke dalam dua kelompok beban, yaitu beban
langsung dan beban tidak langsung pelatihan. Pengelompokan ini semata-mata
untuk memudahkan manajemen merencanakan mengendalikan biaya pelatihan.

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 37


Beban langsung pelatihan adalah segala macam pengeluaran yang dapat
ditelusuri dengan mudah ke kegiatan pelatihan. Sementara itu, beban tidak
langsung pelatihan adalah beban-beban yang tetap harus dikeluarkan agar
pelatihan dapat berlangsung, tetapi sangat sulit ditelusuri ke kegiatan pelatihan.
Manajemen PPA-FEUI telah menentukan beban-beban langsung pelatihan yang
terdiri atas :

1. beban honor instruktur dan asisten instruktur pelatihan,


2. beban sewa ruangan pelatihan,
3. beban makan-minum peserta pelatihan,
4. beban perlengkapan pelatihan peserta (seminar kit, block note, sertifikat,
kertas folio, dan alat tulis).
Untuk tahun 2008, manajemen telah menetapkan target presentase beban
langsung terhadap pendapatan pekatihan 2008 untuk pelatihan Salemba dan
Depok, seperti terlihat pada tabel di bawah ini.

Jenis Beban Pelatihan Salemba Pelatihan Depok


Beban honor instruktur dan asisten instruktur 17,5 % 15 %
Beban sewa ruangan 8% 6%
Beban makan-minum peserta 8% 10 %
Beban perlengkapan pelatihan peserta 2% 4%

Berikut ini adalah anggaran beban langsung pelatihan PP-FEUI untuk tahun
2008.

PPA FEUI
Anggaran Pendapatan Pelatihan Tahun 2008
Pealatihan Salemba Pelatihan Depok Total
Beban honor instruktur 110.110.000 70.785.000 180.895.000
Beban sewa ruangan 50.336.000 28.314.000 78.650.000
Beban makan-minum peserta 50.336.000 47.190.000 97.526.000
Beban perlengkapan pelatihan 12.584.000 18.876.000 31.460.000
Beban langsung Pelatihan Rp. 223.366.000 Rp. 165.165.000 Rp. 388.531.000

Efisiensi atas pengeluaran beban langsung pelatihan ini akan sangat menentukan
tinggi-rendahnya keuntungan yang akan diperoleh oleh PP-FEUI.

ANGGARAN BEBAN TIDAK LANGSUNG PELATIHAN

Beban tidak langsung pelatihan yang dikeluarkan oleh PPA-FEUI


dikelompokkan ke dalam tiga kelompok besar, yaitu :
1. Beban gaji pegawai pelaksana kegiatan pelatihan, termasuk di dalamnya
adalah tunjangan kesehatan, tunjangan hari raya, dan upah lembur,
2. Beban pemakaian telepon, faks, dan internet,
3. Beban listrik.

Seluruh beban tidak langsung pelatihan ini tidak mengurangi laba yang
diperoleh setiap kegitan, karena beban ini tidak dapat dikendalikan oleh
koordinator setiap pelatihan.

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 38


Untuk tahun 2008, manajemen telah menetapkan target presentase beban tidak
langsung terhadap pendapatan pelatihan, seperti terlihat pada tabel di bawah ini.

Jenis Beban Presentase


Beban gaji pegawai pelatihan 15 %
Beban telepon, faks, dan interner 3%
Beban listrik 2%

Berikut ini adalah anggaran beban tidak langsung pelatihan PPA-FEUI untuk
tahun 2008.

PPA FEUI
Anggaran Beban Tidak Langsung Pelatihan Tahun 2008
Total
Beban gaji pegawai pelatihan 165.165.000
Beban telepon, faks, dan interner 33.033.000
Beban listrik 22.022.000
Total Beban Tidak Langsung Pelatihan Rp. 220.220.000

ANGGARAN BEBAN OPERASIONAL PELATIHAN

Anggaran beban operasional PPA-FEUI dapat dibagi menjadi dua kelompok.


1. Beban Penjualan ( selling expenses )
Beban penjualan yang dikeluarkan oleh PPA-FEUI untuk mendukung
kegiatan pelatihan adalah :

a. beban pemasangan iklan pelatihan di media cetak, Kompas,


b. beban pembuatan brosur pelatihan dan biaya penerimaannya,
c. beban pembuatan desain brosur dan perlengkapan pelatihan,
d. beban gaji pegawai bagian penjualan.

2. Beban administrasi ( Administrative expenses )


Beban administrasi yang dikeluarkan oleh PPA-FEUI adalah :
a. beban gaji pegawai bagian administrasi,
b. beban penyusutan peralatan administrasi,
c. beban perlengkapan kegiatan administrasi.

Untuk tahun anggaran 2008, manajemen telah memutuskan besarnya beban


penjualan dan administrasi sebesar 10% dan 5% dari total pendapatan tahun
2008.
Berikut ini adalah anggaran beban operasional pelatihan PPA-FEUI untuk tahun
2008.

PPA FEUI
Anggaran Beban Operasional Pelatihan Tahun 2008
Total
Beban penjualan 110.110..000
Beban administrasi 55.055.000
Total Beban Operasional Pelatihan Rp. 165.165.000

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 39


ANGGARAN LABA RUGI PELATIHAN
Anggaran laba rugi pelatihan PPA-FEUI disusun untuk memberikan informasi
kepada manajemen tentang perkiraan laba atau rugi yang akan diperoleh untuk
periode anggaran mendatang. Informasi-informasi yang diperlakukan untuk
menyusun anggaran laba rugi berasal dari anggaran-anggaran yang telah
disusun sebelumnya.

Berikut ini adalah anggaran laba rugi pelatihan PPA-FEUI untuk tahun 2008.

PPA-FEUI
Anggaran Laba Rugi Pelatihan Tahun 2008
Pelatihan Salemba Pelatihan Depok Total
Pendapatan Rp. 629.200.000 Rp. 471.900.000 Rp. 1.101.100.000
Dikurangi :
223.366.000 165.165.000 388.531.000
Beban Langsung
Margin kontribusi kotor 405.834.000 306.735.000 712.569.000
Dikurangi :
220.220.000
Beban Tidak Langsung
Margin kontribusi 492.349.000
Dikurangi :
165.165.000
Beban Operasi
Laba Operasi 327.184.000
Pendapatan (beban) lain-lain 0
Laba sebelum pajak 327.184.000
Pajak penghasilan
98.155.200
(asumsi 30%)
Laba Bersih Pelatihan Rp. 229.028.800

ANGGARAN PADA PERUSAHAAN DAGANG

Kegiatan usaha utama perusahaan dagang adalah membeli dan menjual barang
dagang. Perusahaan membeli barang dagang dari pemasok, kemudian langsung
menjualnya kepada pelanggan tanpa ada perubahan yang signifikan terhadap
barang dagang. Contoh perusahaan dagang adalah minimarket atau departement
store.
Setiap tahun layaknya perusahaan lain (perusahaan manufaktur dan jasa),
perusahaan dagang selalu menyiapkan anggaran induk (master budget).
Anggaran tersebut diperlukan untuk perencanaan dan pengendalian kegiatan-
kegiatan yang ada di dalam perusahaan.
Bab-bab sebelumnya pada buku ini telah membahas proses penyusunan
anggaran induk untuk perusahaan manufaktur dan jasa. Pada bab ini, kita akan
membahas tentang penyusunan anggaran induk untuk perusahaan dagang.
Seperti anggaran perusahaan manufaktur dan jasa, perusahaan dagang memulai
penyusunan anggaran induk dengan menyusun anggaran penjualan.

ANGGARAN PENJUALAN

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 40


Anggaran penjualan pada perusahaan dagang menyajikan informasi tentang
perkiraan jumlah barang dagang yang akan dijual berikut harga jualnya untuk
satu periode anggaran.

Contoh 1
PT Kencana Sari, yang didirikan sejak tahun 2004, memiliki toko Kidstore yang
khusus menjual pakaian anak-anak. Selama ini, toko tersebut menjual empat jenis
pakaian, yaitu baju model Ax dan Bx serta celana model Cy dan Dy.
Berikut ini adalah tabel yang menyajikan data penjualan aktual untuk tahun yang
berakhir pada 31 Desember 2007.

PT Kencana Sari
Laporan Penjualan Aktual Tahun 2007
(dalam ribuan rupiah)
Ax Bx Cy Dy Total
Kuantitas 12.000 6.000 24.000 18.000
Dikalikan : Harga Jual 50.000 75.000 80.000 100.000
Penjualan 600.000 450.000 1.920.000 1.800.000 4.770.000

Manajemen PT Kencana Sari menargetkan kenaikan kuantitas penjualan barang


untuk seluruh model di tahun 2008 sebesar 10% dibandingkan penjualan di tahun
2007. Harga jual untuk setiap produk yang dijual ditargetkan hanya naik sebesar
5% dibandingkan dengan harga jual di tahun 2007 karena tingginya tingkat
persaingan dalam penjualan baju khusus anak-anak.
Berdasarkan informasi tentang perkiraan harga jual dan kuantitas barang yang
akan dijual di atas, kemudian manajemen PT Kencana Sari menyusun anggaran
penjualan untuk tahun 2008 seperti tersaji di bawah ini.

PT Kencana Sari
Anggaran Penjualan Tahun 2008
(dalam ribuan rupiah)
Ax Bx Cy Dy Total
Kuantitas 13.200 6.600 26.400 19.800
Dikalikan : Harga Jual 52.500 78.750 84.000 105.000
Penjualan 693.000 519.750 2.217.600 2.079.000 5.509.350

ANGGARAN PEMBELIAN BARANG DAGANG

Setelah anggaran penjualan dibuat, langkah selanjutnya adalah menyusun


anggaran pembelian barang dagang. Anggaran pembelian barang dagang
adalah anggaran yang menyajikan informasi tentang jumlah barang dagang yang
akan dibeli berikut harga belinya untuk satu periode anggaran.
Informasi yang diperlukan dalam menyusun anggaran pembelian barang dagang
adalah sebagai berikut :
1. Jumlah penjualan barang dagang
Informasi tentang jumlah barang yang direncanakan untuk dijual pada satu
periode anggaran. Informasi ini diperoleh dari anggaran penjualan.
BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 41
2. Perkiraan jumlah persediaan akhir barang dagang di akhir periode
Informasi tentang jumlah persediaan akhir barang dagang diperoleh dengan
menganalisis kebijakan perusahaan terkait dengan persediaan barang dagang
yang ingin dimiliki di akhir periode. Perusahaan perlu memiliki cadangan
persediaan barang jadi untuk menghindari stock out cost, yaitu biaya yang
timbul karena perusahaan tidak memiliki persediaan saat pelanggan ingin
membelinya.
3. Jumlah persediaan awal barang dagang
Informasi tentang jumlah persediaan awal barang dagang dapat diperoleh
dari anggaran pembelian barang dagang periode sebelumnya.
4. Perkiraan harga pembelian barang dagang untuk satu periode
Selain informasi tentang kuantitas barang dagang yang akan dibeli,
perusahaan juga harus memperkirakan harga pembelian barang dagang dari
pemasok. Informasi ini dapat diperoleh dengan menanyakan secara langsung
kepada para pemasok tentang harga jual barang dagang mereka untuk
periode anggaran mendatang.

Berikut ini adalah format sederhana anggaran pembelian barang dagang.

PT ......................
Anggaran Pembelian Tahun ......
Produk A Produk B Total
Penjualan (unit)
Ditambah :
Persediaan barang dagang akhir
Persediaan barang dagang yang dibutuhkan
Dikurangi :
Persediaan barang dagang awal

PT ......................
Anggaran Pembelian Tahun ......
Jumlah barang dagang yang akan dibeli
Dikalikan :
Harga pembelian barang dagang
Anggaran pembelian barang dagang

Contoh 2
Setelah anggaran penjualan tahun 2008 dibuat, staf anggaran PT Kencana Sari
segera menyiapkan anggaran pembelian barang dagang untuk tahun 2008.
Berikut ini adalah informasi-informasi yang diperoleh staf PT KS untuk
menyusun anggaran pembelian barang dagang.

1. Jumlah penjualan barang dagang dalam unit untuk tahun 2007 diperoleh dari
anggaran penjualan barang dagang. Berikut ini adalah tabel yang menyajikan
perkiraan penjualan barang dagang untuk produk Ax, Bx, Cy, dan Dy.

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 42


Ax Bx Cy Dy
Perkiraan Penjualan (unit) 13.200 6.600 26.400 19.800

2. Persediaan akhir barang dagang untuk tahun 2008 adalah sebesar 10% dari
penjualan (unit) di tahun 2007 untuk setiap produk.
3. Berikut ini adalah informasi tentang persediaan awal barang dagang PT KS di
tahun 2008.

Ax Bx Cy Dy
Kuantitas persediaan awal 1.000 500 240 350
Harga beli Rp. 26.000 Rp. 39.000 Rp. 32.000 Rp. 50.000

4. Berikut ini adalah informasi tentang harga beli produk Ax, Bx, Cy, dan Dy
dari pemasok untuk tahun 2008.

Ax Bx Cy Dy
Harga beli 2008 Rp. 28.000 Rp. 42.000 Rp. 35.000 Rp. 55.000

Di bawah ini adalah anggaran pembelian barang dagang PT KS untuk tahun


2008.

PT Kencana Sari
Anggaran Pembelian Tahun 2008
(dalam ribuan rupiah)
Ax Bx Cy Dy Total
Penjualan (unit) 13.200 6.600 26.400 19.800
Ditambah :
1.320 660 2.640 1.980
Persediaan barang dagang akhir
Persediaan barang dagang yang
14.520 7.260 29.040 21.780
dibutuhkan
Dikurangi :
1.000 500 240 350
Persediaan barang dagang awal
Jumlah barang dagang yang
13.520 6.760 28.800 21.430
akan dibeli

PT Kencana Sari
Anggaran Pembelian Tahun 2008
(dalam ribuan rupiah)
Dikalikan :
Harga pembelian barang dagang 28.000 42.000 35.000 55.000
(Rp.)
Anggaran pembelian barang
378.560 283.920 1.008.000 1.178.650 2.849.130
dagang (dalam ribuan rupiah)

ANGGARAN BEBAN OPERASIONAL

Anggaran beban operasional perusahaan dagang dapat dibagi menjadi dua


kelompok.
1. Beban penjualan ( selling expenses )

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 43


Beban penjualan adalah segala pengeluaran yang ditujukan untuk menunjang
kegiatan penjualan barang dagang.
Berikut ini adalah perkiraan beban penjualan PT KS untuk tahun 2008.

Jenis pengeluaran Komponen Beban Tetap Komponen Beban Variabel


Beban gaji Rp. 3.000.000/bulan 0,5% dari penjualan
Beban utilitas Rp. 500.000/bulan 0,1% dari penjualan
Beban iklan Rp. 30.000.000/bulan
Beban penyusutan-peralatan Rp. 2.500.000/bulan
Beban lain-lain Rp. 200.000/bulan

2. Beban administrasi ( administrative expenses )


Beban administrasi adalah beban operasi perusahaan yang tidak terkait
langsung dengan kegiatan penjualan barang dagang.
Berikut ini adalah perkiraan beban administrasi PT KS untuk tahun 2008.

Jenis Pengeluaran Komponen Beban Tetap Komponen Variabel


Beban gaji Rp. 2.500.000/bulan
Beban utilitas Rp. 500.000/bulan
Beban pemesanan pembelian Rp. 50.000/order. Jumlah order
barang dagang di tahun 2007 sebesar 24 order
Beban penyusutan peralatan Rp. 2.500.000/bulan
Beban perlengkapan Rp. 50.000/bulan
Beban lain-lain Rp. 100.000/bulan

Berikut ini adalah anggaran beban operasional PT KS untuk tahun 2008.

PT Kencana Sari
Anggaran Beban Operasional Tahun
Beban Tetap Beban variabel Total
Beban Penjualan
Beban gaji 36.000.000 27.546.750 Rp. 63.546.750
Beban utilitas 6.000.000 5.509.350 11.509.350
Beban iklan 30.000.000 30.000.000
Beban penyusutan peralatan 30.000.000 30.000.000
Beban lain-lain 2.400.000 2.400.000
Beban Administrasi
Beban gaji 30.000.000 30.000.000
PT Kencana Sari
Anggaran Beban Operasional Tahun
Beban utilitas 6.000.000 6.000.000
Beban pemesanan pembelian
1.200.000 1.200.000
barang jadi
Beban penyusutan peralatan 30.000.000 30.000.000
Beban perlengkapan 600.000 600.000
Beban lain-lain 1.200.000 1.200.000
Total 173.400.000 33.056.100 Rp. 206.456.100

ANGGARAN BEBAN POKOK PENJUALAN


Anggaran beban pokok penjualan menyajikan informasi tentang perkiraan beban
pokok penjualan untuk periode mendatang. Beban pokok penjualan adalah biaya

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 44


persediaan barang dagang yang telah terjual pada suatu periode tertentu.
Informasi yang diperlukan untuk menentukan beban pokok penjualan adalah
sebagai berikut.
1. Data tentang pembelian barang dagang, persediaan awal barang dagang, dan
persediaan akhir barang dagang.
2. Asumsi arus biaya yang digunakan, FIFO, LIFO, atau rata-rata

Berikut ini adalah format sederhana anggaran beban pokok penjualan.

PT .................................
Anggaran Beban Pokok Penjualan Tahun ...........
Produk A Produk B Total
Pembelian barang dagang
Ditambah :
Persediaan barang dagang awal
Persediaan barang dagang tersedia untuk
dijual
Dikurangi :
Persediaan barang dagang akhir
Anggaran Beban Pokok Penjualan

Contoh 3
Setelah anggaran beban operasional disusun, manajemen PT KS hendak
menyusun anggaran beban pokok penjualan untuk tahun 2008.
Informasi-informasi yang diperlukan untuk menyusun anggaran beban pokok
penjualan adalah sebagai berikut :
1. Informasi tentang perkiraan pembelian barang dagang tahun 2007 yang
diperoleh dari anggaran pembelian barang dagang.

Ax Bx Cy Dy
Anggaran pembelian barang
378.560 283.920 1.178.650 2.849.130
dagang (dalam ribuan rupiah)

2. Data persediaan barang dagang awal tahun di tahun 2008 yang diperoleh dari
anggaran pembelian barang dagang.

Ax Bx Cy Dy
Kuantitas persediaan awal 1.000 500 240 350
Harga beli Rp. 26.000 Rp. 39.000 Rp. 32.000 Rp. 50.000

3. Anggaran pembelian barang dagang menyajikan data persediaan barang


dagang akhir tahun 2008.

Ax Bx Cy Dy
Kuantitas persediaan akhir 1.320 660 2.640 1.980
Harga beli Rp. 28.000 Rp. 42.000 Rp. 35000 Rp. 55000

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 45


4. PT KS menggunakan metode FIFO untuk menghitung nilai persediaan barang
dagang dan beban pokok penjualannya.

Berikut ini adalah anggaran beban pokok penjualan PT KS untuk tahun 2008.

PT Kencana Sari
Anggaran beban Pokok Penjualan Tahun 2008
(dalam ribuan rupiah)
Ax Bx Cy Dy Total
Pembelian barang
dagang 378.560 283.920 1.008.000 1.178.650
(Rp.)
Ditambah :
Persediaan barang
26.000 19.500 7.680 17.500
dagang awal
(Rp.)
Persediaan barang
dagang tersedia untuk 404.560 303.420 1.015.680 1.196.150
dijual (Rp.)
Dikurangi :
Persediaan barang
36.960 27.720 92.400 108.900
dagang akhir
(Rp.)
Anggaran Beban Pokok
367.600 275.700 923.280 1.087.250 2.653.830
Penjualan

ANGGARAN LABA RUGI


Anggaran laba rugi disusun untuk memberikan informasi kepada manajemen
tentang perkiraan laba atau rugi yang akan diperoleh untuk periode anggaran
mendatang. Informasi-informasi yang diperlukan untuk menyusun anggaran
laba rugi berasal dari anggaran-anggaran yang telah disusun sebelumnya.
Berikut ini adalah anggaran laba rugi PT Kencana Sari untuk tahun 2008.

PT Kencana Sari
Anggaran Laba Rugi Tahun 2008
Penjualan (anggaran penjualan) 5.509.350.000
Beban pokok penjualan (anggaran beban pokok penjualan) (2.653.830.000)
Laba (rugi) kotor 2.855.520.000
Beban operasi (anggaran beban operasional) (206.456.100)
Laba (rugi) operasi 2.649.063.900
Pendapatan (beban) lain-lain 0
Laba sebelum pajak 2.649.063.900
Pajak penghasilan (asumsi 30%) (794.719.170)
Laba Bersih Rp. 1.854.344.730

MENYUSUN ANGGARAN LABA RUGI

Contoh

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 46


Berikut ini adalah informasi yang dibutuhkan oleh PT Abadi Raya untuk
menyusun anggaran laba rugi bulan Oktober 2008.
10. Anggaran produksi bulan Oktober 2008 menyajikan informasi berikut.

Penjualan dalam unit 6.000


Ditambah : persediaan akhir barang jadi 1.800
Total barang jadi yang dibutuhkan 7.800
Dikurangi : Persediaan awal barang jadi 1.400
Jumlah barang jadi yang akan diproduksi 6.400

11. Harga jual barang jadi per unit selama bulan Oktober 2008 diperkirakan
sebesar Rp. 100.000.
12. perusahaan menggunakan metode rata-rata (average) dalam menghitungbiaya
persediaan dan beban pokok penjualan.
13. Total biaya persediaan barang jadi per 1 Oktober sebesar Rp. 84.000.000.
14. Biaya produksi selama bulan Oktober diperkirakan sebesar Rp. 391.800.000.
15. Pajak penghasilan diperkirakan sebesar 30%.
16. Beban penjualan untuk bulan Oktober diperkirakan sebesar Rp. 40.000.000.
17. Beban umum dan administrasi untuk bulan Oktober diperkirakan sebesar Rp.
25.000.000.
18. Beban bunga bulan Oktober diperkirakan sebesar Rp. 26.000.000

Jawaban :
Selesaikan penyusunan anggaran laba rugi dengan menghitung laba bersih yang
dianggarkan dengan mengurangkan laba sebelum pajak penghasilan dengan
perkiraan beban pajak penghasilan.

PT ABADI RAYA
Anggaran Laba Rugi
Untuk Periode yang Berakhir pada 31 oktober 2008
Penjualan 600.000.000
Beban pokok penjualan
Saldo awal persediaan barang jadi 84.000.000
Biaya produksi 391.800.000
Persediaan barang jadi tersedia untuk dijual 475.800.000
Dikurangi : Persediaan akhir barang jadi 109.800.000
Beban pokok penjualan 366.000.000
Laba kotor yang dianggarkan 234.000.000
Beban Operasi
Beban penjualan 40.000.000
Beban administrasi 25.000.000 65.000.000
Laba operasi yang dianggarkan 169.000.000
Pendapatan dan beban lain-lain
Beban bunga 26.000.000 26.000.000
Laba sebelum pajak penghasilan 143.000.000
Perkiraan beban pajak penghasilan 42.900.000
Laba bersih yang dianggarkan 100.100.000

ANGGARAN KAS
Anggaran kas disusun oleh perusahaan agar pihak manajemen memperoleh
informasi tentang likuiditas perusahaan pada periode mendatang karena

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 47


anggaran kas menyajikan informasi tentang perkiraan jumlah penerimaan dan
pengeluaran kas pada periode mendatang.

Anggaran kas juga memberikan informasi kepada manajemen tentang


kemungkinan adanya kekurangan uang kas (pengeluaran kas lebih besar
daripada penerimaan kas) yang akan dialami oleh perusahaan pada periode
mendatang. Dengan demikian, manajemen dapat merencanakan tindakan-
tindakan yang mungkin akan diambil untuk menutupi kekurangan kas tersebut.
Selain itu, anggaran kas juga menyajikan tentang kemungkinan adanya kelebihan
uang kas (penerimaan kas lebih besar daripada pengeluaran kas) dalam satu
periode anggaran. Kelebihan kas ini harus dimanfaatkan oleh manajemen dengan
menginvestasikannya ke alternatif-alternatif tempat berinvestasi yang
menguntungkan sebagai tempat untuk menyalurkan kelebihan kas tersebut,
misalnya membeli saham dan obligasi.

SUMBER INFORMASI PENYUSUNAN ANGGARAN KAS

Penyusunan anggaran kas memerlukan beberapa informasi yang diperoleh dari


anggaran anggaran yang telah disusun sebelumnya dalam anggaran induk
perusahaan.
Berikut ini adalah anggaran-anggaran dan sumber informasi lainnya yang
menyediakan informasi bagi keperluan penyusunan anggaran kas.

10. Anggaran Penjualan


Anggaran penjualan menyediakan informasi tentang perkiraan nilai
penjualan perusahaan dalam suatu periode anggaran. Informasi tentang
penjualan akan lebih berguna dalam penyusunan anggaran kas jika
perusahaan mampu membagi penjualannya menjadi penjualan secara kredit
dan tunai. Hal ini karena hanya penjualan secara tunai yang akan dimasukkan
ke bagian neraca penerimaan kas.
Penjualan secara kredit dapat dimasukkan ke anggaran kas apabila
perusahaan telah mampu menagih piutang pelanggannya.
11. Pola Penagihan Piutang
Pola penagihan piutang membantu perusahaan dalam memerkirakan
penerimaan kas dari penagihan piutang pelanggannya.
12. Anggaran Pembelian Bahan Baku
Anggaran pembelian bahan baku menyajikan informasi tentang nilai
pembelian bahan baku dalam satu periode anggaran. Hal penting yang harus
diingat adalah hanya pembelian bahan baku yang dilakukan secara tunai
yang dimasukkan ke anggaran kas.
Pembelian secara kredit baru dimasukkan ke pengeluaran kas apabila
perusahaan telah melunasi utang dagangnya kepada pemasok.

13. Pola Pelunasan Utang Dagang


Untuk menentukan jumlah dan waktu utang dagang yang harus dibayarkan
kepada pemasoknya, perusahaan harus dapat memperkirakan pola
penagihan utang dagangnya.
14. Anggaran Biaya Tenaga Kerja Langsung

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 48


Anggaran biaya tenaga kerja langsung menyajikan informasi tentang biaya
tenaga kerja langsung yang harus dikeluarkan dalam satu periode anggaran
untuk menunjang proses kegiatan produksi perusahaan. Biaya tenaga kerja
langsung saja yang dibayarkan secara tunai dalam suatu periode anggaran
yang dimasukkan ke anggaran kas. Biaya tenaga kerja langsung dalam satu
periode anggaran yang belum dibayarkan akan menjadi utang gaji dalam
periode tersebut. Utang gaji akan masuk ke anggaran kas jika telah
dibayarkan oleh perusahaan.
15. Angaran Beban Operasi
Anggaran beban operasi menyajikan informasi tentang beban operasi untuk
satu periode anggaran. Beban operasi yang masuk ke anggaran kas hanya
beban operasi yang dibayarkan secara tunai. Beban operasi yang tidak
melibatkan pengeluaran kas tidak dimasukkan ke anggaran kas, misalnya
beban depresiasi aset tetap dan beban amortisasi aset tidak berwujud.
16. Kebijakan Pembayaran Beban Operasi
Jumlah beban operasi yang dibayarkan secara tunai sering kali berbeda
dengan jumlah beban operasi yang di akui dalam laporan laba rugi. Hal ini
terjadi karena perusahaan menggunakan basis akrual dalam melakukan
pencatatan akuntansinya. Beban dalam akuntansi diakui saat terjadinya,
tanpa memandang apakah sudah terjadi pengeluaran kas atas beban atau
belum.
Misalnya, perusahaan berencana menyewa sebuah ruangan pameran sejak
tanggal 1 Juli 2006 30 Juni 2007. biaya sewa selama satu tahun sebesar Rp.
60.000.000 atas pembayaran sewa tersebut, perusahaan akan memasukkannya
ke beban operasi tahun 2006 sebesar Rp. 30.000.000 (mengakui adanya beban
sewa sejak 1 Juli 2006 31 Desember 2006). Untuk keperluan penyusunan
anggaran kas tahun 2006, perusahaan memasukkan seluruh pembayaran sewa
ruangan pameran sebesar Rp. 60.000.000, yaitu sebesar uang tunai yang
dibayarkan ketika ingin menyewa.
17. Belanja Modal
Belanja modal adalah segala pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan
yang memberikan manfaat lebih dari satu tahun, misalnya pembelian mesin-
mesin pabrik. Belanja modal yang menggunakan kas perusahaan saja yang
dimasukkan ke anggaran kas.
18. Neraca Tahun Lalu
Neraca tahun lalu menyajikan informasi tentang piutang dagang dan seluruh
utang yang akan jatuh tempo pada periode anggaran mendatang. Piutang
dagang yang jatuh tempo akan menambah penerimaan kas, sedangkan utang
dagang yang jatuh tempo akan menambah pengeluaran kas.

FORMAT ANGGARAN KAS

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 49


Berikut ini adalah format anggaran kas yang dapat digunakan dalam
penyusunan anggaran kas perusahaan.

PT ABC
Angaran Kas untuk Bulan yang Berakhir pada 31 Januari 2006
Januari
Saldo kas awal
Di tambah penerimaan kas
Penjualan tunai
Penagihan piutang dagang pelanggan
Penerimaan dari pendapatan bunga
Peminjaman uang dari bank
Penerbitan saham baru perusahaan
Saldo kas yang tersedia

Dikurangi pengeluaran kas untuk :


Pembelian bahan baku secara tunai
Pelunasan utang dagang
Pembayaran gaji dan upah
Pembayaran bukan operasi
Pembayaran biaya overhead
Pembayaran pokok utang dan bunganya
Saldo kas minimum
Surplus atau Defisit kas
Dikurangi pelunasan pinjaman
Ditambah penerimaan pinjaman
Ditambah saldo kas minimum
Saldo Kas Akhir

I. Soal Kasus :

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 50


PT Abadi Raya akan menyusun anggaran laba rugi bulan Oktober 2011 dengan
data yang ada sebabagi berikut :
Anggaran produksi bulan Oktober 2011 menyajikan informasi sebagai berikut. :

Penjualan dalam unit 8.500


Persediaan akhir barang jadi 1.800
Total barang jadi yang dibutuhkan .............
Persediaan awal barang jadi 2.400
Jumlah barang jadi yang akan diproduksi ..........

1. Harga jual barang jadi per unit selama bulan Oktober 2011 diperkirakan
sebesar Rp. 135.000.
2. Perusahaan menggunakan metode rata-rata (average) dalam
menghitungbiaya persediaan dan beban pokok penjualan.
3. Total biaya persediaan barang jadi per 1 Oktober sebesar Rp. 84.000.000.
4. Biaya produksi selama bulan Oktober diperkirakan sebesar Rp. 421.800.000.
5. Pajak penghasilan diperkirakan sebesar 35 %.
6. Biaya penjualan untuk bulan Oktober diperkirakan sebesar Rp. 40.000.000.
7. Biaya Adm. & Umum bulan Oktober diperkirakan sebesar Rp. 35.000.000.
8. Biaya bunga bulan Oktober diperkirakan sebesar Rp. 45.000.000

Berdasarkan data tersebut di atas, saudara diminta bantuan untuk menyusun anggaran laba
rugi untuk Periode yang berakhir pada tanggal 31 Oktober 2008
Soal No. 2 :
PT AMAN JAYA akan menyusun anggaran biaya operasi untuk ulan Januari 2012,
Anggaran biaya operasi disusun dengan cara mengelompokan semua beban operasi yang
ada ke dalam ke dalam kelompok biaya tetap dan variabel, data-data sebagai berikut :
1. Penjualan bulan Januari 2012 diperkirakan Rp. 600. juta
2. Gaji tetap karyawan bagian penjualan / bulannya Rp.5 juta
3. Gaji tetap karyawan bagian Administrasi/bulannya Rp.8 juta
4. Komisi karyawan bagian penjualan sebesar 1 % dari penjualan
5. Biaya penyusutan kendaraan bagian penjualan dan bagian Administrasi masing-
masing sebesar Rp.2 juta/bulan
6. Biaya iklan/bulan Rp.3 juta
7. Biaya penyusutan peralatan bagian penjualan dan bagian Administrasi masing-masing
perbulannya sebesar Rp.2 juta dan Rp. 1 juta
8. Biaya tetap listrik bagian penjualan dan Administrasi sebesar Rp.500 ribu/bulannya,
biaya variabel listrik Rp.500,-/Kwh, pemakaian listrik bagian penjualan dan
Administrasi sebesar 1000 dan 1500 Kwh/bulannya.
Buatkan Anggaran Biaya Operasi untuk PT Aman Jaya berdasarkan data-data
tersebut di atas.

BUDGETING-EDISUS-FEB-UNSIKA[Type text] Page 51

Anda mungkin juga menyukai