Anda di halaman 1dari 59

Wajibnya Shalat Berjamaah

Sumber: https://almanhaj.or.id/1140-wajibnya-shalat-berjamaah.html

WAJIBNYA SHALAT BERJAMAAH

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Sebagian kaum muslimin sering ketinggalan
shalat jamaah tanpa udzur syari (alasan yang diperbolehkan). Sebagian lagi beralasan dengan
pekerjaan-pekerjaan duniawi. Ketika mereka dinasehati, mereka tidak menghiraukannya bahkan
sering membantah dengan mengatakan bawha shalat itu hanya milik Allah Subhanahu wa Taala
dan tidak ada seorangpun yang boleh campur tangan di dalamnya. Bagaimana pendapat anda
tentang perbuatan mereka itu? Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Taala memberi petunjuk
kepada mereka dan kepada kita semua.

Jawaban
Menasehti kaum muslimin dan mengingkari kemungkaran mereka adalah termasuk kewajiban
yang utama, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Taala.

Artinya : Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi
penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh yang maruf dan melarang yang mungkar [At-
Taubah : 71]

Dan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda.

Artinya : Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya.
Kalau dia tidak mampu, rubahlah dengan lisannya. Kalau dia tidak mampu, rubahlah dengan
hatinya. Dan itulah selemah-lemah iman [HR Muslim]

Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda.

Artinya : Agama adalah nasihat. Ada yang bertanya kepada beliau : Untuk siapa ya
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam?. Beliau menjawab : Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-
Nya, imam-imam kaum muslimin dan kebanyakan kaum muslimin [HR Muslim]

Tidak diragukan lagi bahwa meninggalkan shalat jamaah tanpa udzur adalah termasuk
kemungkaran yang wajib diingkari. Karena shalat lima waktu di masjid dengan berjamaah
adalah kewajiban bagi laki-laki. Hal ini berdasarkan hadits-hadits yang sangat banyak,
diantaranya sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Diantaranya sabda Nabi Shallallahu alaihi
wa sallam.
Artinya : Barangsiapa yang mendengar panggilan adzan kemudian dia tidak datang (ke masjid
untuk shalat berjamaah), maka tidak ada shalat baginya kecuali jika ada udzur/halangan [HR
Ibnu Majah-pent]

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ad-Daruquthni dan lain-lain dengan sanad jayid
dishahihkan oleh Imam Hakim.

Dan diriwayatkan juga dalam sebuah hadits shahih bahwa.

Artinya : Ada seorang laki-laki buta datang kepada Nabi dan berkata : Wahai Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam, saya tidak mempunyai seorang penuntun yang bisa menuntun saya
ke masjid. Adakah keringanan bagi saya untuk shalat di rumah ? Beliau Shallallahu alaihi wa
sallam berkata : Apakah kamu mendengar panggilan adzan? Orang itu menjawab : Ya. Lalu Nabi
Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : kalau begitu kamu wajib datang ke masjid [HR Muslim
: 1044]

Dan hadits-hadits yang semakna dengan ini jumlahnya cukup banyak.

Oleh karena itu, seorang muslim apabila dinasihati oleh saudaranya, dia tidak boleh marah dan
tidak boleh menolak kecuali dengan cara yang baik. Justru sepatutnya dia berterima kasih kepada
saudaranya yang mengajak kepada kebaikan dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Taala.
Dia tidak boleh bersikap sombong terhadap orang yang mengajak kepada kebenaran, karena
Allah Subhanahu wa Taala mencela dan mengancam orang yang bersifat seperti ini dengan azab
Jahannam, sebagaimana firman-Nya.

Artinya : Dan apabila dikatakan kepadanya : Bertakwalah kepada Allah, bangkitlah


kesombongannya berbuat dosa. Maka cukuplah Jahannam baginya dan itulah sejelek-jelek
tempat [Al-baqarah ; 206]

Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Taala agar memberi petunjuk kepada seluruh kaum
muslimin.

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Juz Tsani, Penulis Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Edisi
Indonesia Fatawa bin Baaz, Penerjemah Abu Abdillah Abdul Aziz, Penerbit At-Tibyan Solo]

Sumber: https://almanhaj.or.id/1140-wajibnya-shalat-berjamaah.html
Fatwa Ulama: Lelaki Shalat Wajib Di Rumah, Apakah Diterima
Shalatnya?

Sumber: https://muslim.or.id/18237-fatwa-ulama-lelaki-shalat-wajib-di-rumah-apakah-diterima-
shalatnya.html

Fatwa Syaikh Muhammad bin Abdillah Al Imam

Soal:

Uhibbukum fillah yaa Syaikhana, wa baarakallahu fiikum, wa mattaakum bis sihhah wal afiah
(aku mencintaimu karena Allah wahai Syaikh, semoga Allah memberkahi anda, semoga Allah
senantiasa memberikan anda kesehatan)

Apakah lelaki yang shalat di rumah tanpa udzur itu diterima shalatnya?

Jawab:

Ahabbakallah alladzi ahbabtanaa fiihi (semoga Allah mencintai anda karena sebab anda
mencintai saya karena-Nya)

Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam bersabda:

barangsiapa yang mendengar adzan namun ia tidak memenuhi panggilan tersebut (tidak
datang ke masjid), maka tidak ada shalat baginya kecuali ada udzur

hadits ini diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas dan juga yang lainnya.

Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dan lainnya bahwa Rasulullah Shallallahualaihi
Wasallam bersabda kepada seorang yang buta:

: :

apakah anda mendengar hayya alas shalah hayya alal falah? ia menjawab: ia saya dengar.
Nabi bersabda: jika demikian maka penuhilah panggilan itu, karena saya tidak menemukan
adanya rukhshah bagimu

Orang yang shalat di rumahnya atau di tokonya atau di tempat lain, tidak ikut shalat berjamaah
di masjid tanpa udzur syari maka ia masuk dalam larangan syariat, yaitu ia melalaikan shalat
jamaah. Ia juga telah meninggalkan salah satu amalan wajib yaitu shalat berjamaah.
Meninggalkan amalan wajib ini (yaitu shalat) yang merupakan amalan yang sangat besar
wajibnya, juga meninggalkan shalat berjamaah, ini semua akan membawa seseorang untuk
meninggalkan Islam sedikit-demi-sedikit. Banyaknya masjid-masjid yang dibangun, serta
banyaknya para khatib dan imam masjid, semua itu agar shalat jamaah ditegakkan dan supaya
agama Islam ini ditegakkan dengan ilmu dan talim. Maka meninggalkan shalat jamaah tanpa
udzur syari itu berdosa bahkan termasuk salah satu dosa besar. Hendaknya orang yang telah
melakukan hal itu segera bertaubat kepada Allah Azza Wa Jalla.

Adapun masalah apakah shalatnya diterima atau tidak, ini terjadi perselisihan di antara para
ulama. Dan dikhawatirkan shalatnya tidak diterima di sisi Allah, maksudnya ia tidak mendapat
pahala walaupun ia telah dianggap menunaikannya dan kewajiban shalat telah gugur darinya.
Namun dikhawatirkan ia tidak mendapatkan pahala. Wallahul Mustaan.

Sumber: http://www.sh-emam.com/show_fatawa.php?id=776

Penerjemah: Yulian Purnama

Artikel Muslim.Or.Id

Sumber: https://muslim.or.id/18237-fatwa-ulama-lelaki-shalat-wajib-di-rumah-apakah-diterima-
shalatnya.html
HUKUM MENGKHUSUKAN TEMPAT DI RUMAH UNTUK SHALAT

Apa hukum mengkhusukan suatau tempat dalam rumah untuk beribadah dan shalat di dalamnya?

Alhamdulillah

Tidak mengapa mengkhususkan tempat di rumah untuk ibadah dan shalat di dalamnya. Telah ada
sunnah yang menunjukkan dibolehkannya hal itu.

Dari Abdullah bin Syaddad, dia berkata, aku mendengar bibiku Maimunah, istri Nabi sallallahu alaihi wa
sallam berkata:









)333 (

Waktu itu beliau haid tidak shalat, dan sedang duduk di sisi masjid Rasulullah sallallahualaihi wa
sallam. (Sementara) beliau sedang shalat di masjidnya. Kalau beliau sujud, sebagian bajunya
menyentuhku. )HR. Bukhari, no. 333(

Al-Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah berkata: Yang tampak, bahwa maksud Maimunah dalam hadits ini
adalah masjid )yang ada( di rumah Rasulullah sallallahualihi wa sallam, tempat beliau shalat di dalamnya
yang berada di rumahnya. Karena Maimunah tidak duduk kecuali di sisi masjid ini, dan yang dia maksud
wallahualam- bukanlah Masjid Al-Madinah )Masjid Nabawi(. )Fathul Bari, 1/550(

!
:
( :







: )667( )



( 33(

Dari Mahmud bin Ar-Rabi Al-Anshari, sesungguhnya Itban bin Malik biasanya mengimami kaumnya
sementara beliau buta, maka beliau berkata kepada Rasulullah sallallahualaih wa sallam:

Wahai Rasulullah! Sesungguhnya )kondisinya( gelap gulita dan banjir )hujan(. Sementara saya adalah
orang buta, maka tolong shalatlah Ya Rasulullah di rumahku, di suatu tempat yang akan saya jadikan
sebagai tempat shalat )mushalla(. Lalu Rasulullah sallallahualaihi wasallam datang dan bersabda: Di
mana (tempat) yang anda sukai? Maka beliau menunjukkan pada suatu tempat di rumah. Dan Rasulullah
sallallahualaihi wa sallam shalat di tempat itu. )HR. Bukhari, 667 dan Muslim, 33(

Imam Nawawi rahimahullah berkata; Dalam hadits )terdapat petunjuk( bahwa tidak mengapa senantiasa
shalat pada tempat tertentu di rumah. Adapun adanya hadits yang melarang membuat tempat (khusus) di
masjid dikhawatirkan riya atau semisalnya. )Syarh Muslim, 5/161(

Al-Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah berkata: Masjid-masjid rumah adalah tempat-tempat shalat di rumah.
Dahulu merupakan kebiasaan para salaf menjadikan (salah satu ruangan) rumahnya sebagai tempat
khusus untuk shalat di dalamnya. Namun, masjid-masjid ini tidak terkait dengan hukum masjid yang
dijadikan wakaf- maka tidak harus menjaga dari najis, janabat dan juga orang haid. Ini adalah mazhab di
kalangan kami dan kebanyakan para ahli fiqih.

Adapun menunaikan shalat jamaah di masjid rumah, tidak mendapatkan keutamaan )seperti( shalat di
masjid. Hukumnya sama seperti hukum orang yang menunaikan shalat di rumahnya secara berjamaah
tetapi tidak datang ke masjid.

Kesimpulannya, selayaknya menghormati tempat yang disediakan untuk shalat dalam rumah, dan
membersihkan serta mensucikan. At-Tsauri berkata terkait dengan masjid yang terdapat dalam rumah,
'Ditinggikan sedikit tapi tidak terlalu tinggi, dan dikosongkan untuk shalat, jangan menempatkan sesuatu
pun di dalamnya. )Fathul Bari, Ibnu Rajab, 2/ 377-380)

Wallahualam .
Hukum Shalat Di Rumah Bagi Orang Yang Rumahnya Jauh Dari Masjid

Sumber: https://almanhaj.or.id/1139-hukum-shalat-di-rumah-bagi-orang-yang-rumahnya-jauh-dari-
masjid.html

HUKUM SHALAT DI RUMAH BAGI ORANG YANG RUMAHNYA JAUH DARI MASJID

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Saya tinggal di sebuah rumah yang letaknya jauh dari
masjid. Dan saya merasa berat jika harus naik mobil untuk pergi ke masjid. Jika saya jalan kaki, kadang-
kadang saya ketinggalan jamaah. Dan perlu diketahui bahwa saya mendengar adzan dari rumah lewat
pengeras suara. Dalam keadaan seperti ini, bolehkah saya shalat di rumah atau di rumah tetangga
dengan berjamaah bersama tiga atau empat orang ? Berikan fatwa kepada kami, semoga Allah
Subhanahu wa Taala membalas anda dengan kebaikan.

Jawaban
Anda wajib shalat bersama saudara-saudara anda kaum muslimin di masjid dengan berjamaah, apabila
anda mendengar adzan dari rumah anda tanpa pengeras suara dan tidak ada sesuatu yang menghalangi
suara adzan tersebut. Jika rumah anda jauh dari masjid sehingga anda tidak mendengar suara adzan
yang tidak memakai pengeras suara, maka anda boleh shalat di rumah atau di rumah tetangga. Hal ini
berdasarkan sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam kepada seorang laki-laki buta ketika minta izin
kepada beliau untuk shalat di rumah. Kata beliau : Apakah kamu mendengar suara adzan?. Orang itu
menjawab : Ya. Lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Kalau begitu engkau wajib
datang ke masjid. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahihnya dan lafalnya terdapat
dalam soal di atas (-pent).

Juga berdasarkan sebuah hadits riwayat Ibnu Majah, Ad-Daruquthni, Ibnu Hibban dan Al-Hakim dengan
sanad shahih yang menyatakan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda.

Artinya : Barangsiapa yang mendengar panggilan adzan, kemudian dia tidak datang ke masjid, maka
tidak ada shalat baginya kecuali jika ada udzur.

Walaupun rumah anda jauh dari masjid, tapi anda tetap shalat berjamaah di masjid, dengan berjalan
kaki, meskipun meletihkan, atau anda naik mobil, maka hal itu lebih baik dan lebih utama bagi anda.
Allah Subhanahu wa Taala akan menulis langkah-langkah anda ketika anda pergi ke masjid dan ketika
anda pulang, dengan syarat anda ikhlas dan berniat hanya karena Allah Subhanahu wa Taala. Hal ini
berdasarkan sebuah hadits, bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada seorang laki-laki
yang rumahnya jauh dari masjid Nabawi tapi dia tidak pernah ketinggalan shalat berjamaah bersama
Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada orang itu.

Artinya : Kenapa engkau tidak membeli seekor himar yang bisa engkau kendarai ketika engkau pergi ke
masjid, terutama ketika cuaca sangat panas atau diwaktu malam yang gelap?. Orang itu menjawanb :
Aku tidak ingin rumahku dekat dengan masjid, karena aku ingin langkah-langkah kakiku dicatat, yaitu
ketika aku pergi ke masjid dan ketika aku pulang ke rumah. Lalu Nabi Shallallahu alaihi wa sallam
bersabda kepadanya : Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Taala telah mengumpulkan )memenuhi(
semua keinginanmu itu [HR Muslim]

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Juz Tsani, Penulis Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Edisi Indonesia
Fatawa bin Baaz, Penerjemah Abu Abdillah Abdul Aziz, Penerbit At-Tibyan Solo]
Sumber: https://almanhaj.or.id/1139-hukum-shalat-di-rumah-bagi-orang-yang-rumahnya-jauh-dari-
masjid.html
Apakah Shalat Berjamaah di Masjid Wajib ataukah Sunnah?

Shalat Berjamaah di Masjid

Sebagian besar tulisan di bawah ini yang awal, saya salin dari buku karya Al Jauziyah, Ibnul Qoyyim.
Kitabush-shalah wa hukmu tarikiha, Terjemahan Bahasa Indonesia: Rahasia dibalik Shalat. Hal: 119-150.
Jakarta: Pustaka Azzam, Cetakan Kesembilan Agustus 2005.

Apakah sah shalat seseorang yang melaksanakannya sendirian, sedangkan ia mampu untuk
melaksanakan shalat berjamaah?

Pembahasan tentang masalah ini ditetapkan atas 2 pokok permasalahan:

1. Apakah shalat berjamaah itu wajib hukumnya, ataukah sunnah saja?

2. Jika shalat berjamaah itu wajib, apakah ia merupakan syarat sahnya shalat atakah keshahihan shalat
berjamaah dapat menyebabkan dosa jika ditinggalkan?

Pembahasan permasalahan pertama

Para ahli fiqih berselisih pendapat dalam hal ini, diantara para ahli fiqih yang menyatakan bahwa shalat
berjamaah itu wajib adalah Atha bin Abu Rabah, Hasan Al-Bashry, Abu Amru Al-Auzaiy, Abu Tsaur,
Imam Ahmad dalam madzhabnya, serta tulisan/karangan Imam Syafii dalam Mukhtashar Al-Mazany
tentang shalat berjamaah. Beliau berkata, Tidak ada keringanan dalam meninggalkan shalat berjamaah
kecuali bagi mereka yang berhalangan. )Ringkasan Al-Muzanniy yang dengan sungguh-sungguh
ummu 1/109)

Bnu Al-Mundzir berkata dalam Kitab Al-Ausath, Orang buta sekalupun wajib melaksanakan shalat
berjamaah, walaupun rumah mereka berjauhan dari masjid. Hal ini menunjukkan akan wajibnya shalat
berjamaah: Sesungguhnya menghadiri shalat berjamaah itu wajib hukumnya bukan sunnah.

Dalam satu hadits diriwayatkan bahwa Ibnu Ummi Maktum bertanya kepada Rasulullah saw, Wahai
Rasulullah sesungguhnya jarak antara rumahku dan masjid dibatasi oleh pohon, dapatkah aku jadikan
alasan untuk melaksanakan shalat di rumah saja? Rasulullah berkata, Apakah kamu mendengar
Iqamah? Ia berkata, Ya. Rasulullah bersabda lagi, Maka datanglah kamu ke masjid dan shalat
berjamaahlah kamu di sana.

Ibnu Mundzir berkata, Ditakutkan dapat menyebabkan kenifakan bagi mereka yang meninggalkan shalat
Isya adn Subuh berjamaah. Kemudian dalam pertengahan babnya dijelaskan: Banyak Hadits
menunjukkan wajibnya shalat berjamaah bagi mereka yang tidak berhalangan untuk melaksanakannya.
Dalil yang menunjukkan adalah perkataan Ibnu Munzir tentang Ibnu Ummi Maktum yang cacat, Tiada
keringanan bagimu (dalam shalat berjamaah). Jika seorang buta saja tidak mendapatkan keringanan
dalam shalat berjamaah, apalagi bagi orang yang dapat melihat. Ia berkata, Rasulullah pernah
mengancam akan membakar orang yang tidak melaksanakan shalat berjamaah. Saya ingin menjelaskan
tentang wajibnya shalat berjamaah, karena tidak diperbolehkan (melaksanakan shalat secara sendiri-
sendiri) maka Rasulullah mengancam mereka yang menggantikan yang sunnah dan bukan fardhu.

Ia berkata: Hadits Abu Hurairah menguatkan hal tersebut, Sesungguhnya seorang laki-laki keluar dari
masjid setelah muadzin mengumandangkan adzan. Ia berkata, Orang itu telah mengingkari Abu Qasim
(Rasulullah saw). )Ibnu Majah dalam Masajid dan Jamaah-jamaah, 793 Abu Dawud dalam Shalat,
551 Daruquthni/ 1 420 dan dibenarkan oleh Hakim, 1/245 dan Ibnu Hibban, 2064 dan lengkaplah
pendapat mereka, Kecuali bagi mereka yang udzur(

Walaupun orang menghadapi pilihan untuk meninggalkan shalat berjamaah atau mendatanginya, tidak
boleh (tidak ada alasan) bagi orang yang meninggalkan apa yang tidak wajib baginya hadir untuk berbuat
ingkar )dengan meninggalkan shalat berjamaah(, karena ketika Allah SWT memerintahkan untuk shalat
berjamaah dalam keadaan takut, maka hal ini menunjukkan bahwa dalam keadaan aman hal itu lebih
diwajibkan.

Hadits-hadits yang telah disebutkan dalam tulisan bab-bab Rukhshah tentang meninggalkan shalat
berjamaah bagi mereka yang mempunyai udzur untuk melaksanakannya, menunjukkan atas wajibnya
shalat berjamah bagi mereka yang memilik udzur, walapun keadaan udzur dan tidak udzur adalah sama
saja, secara maknawai dalam bab-ba udzur belum ditemukan Rukhshah (keringanan) untuk
meninggalkans shalat berjamaah.

Dalil yang menegaskan wajibnya shalat berjamaah adalah sabda Rasulullah saw, Barangsiapa
mendengar panggilan untuk shalat dan ia tidak menjawabnya maka tidak sah shalat yang ia lakukan.
)HR. Muslim dalam Al-Masajid 665, diriwayatkan oleh yang lain-lain). Kemudian hadits ini mengarahkan
ke arah tujuan tersebut kemudian ia berkata: Syafii berkata: Allah SWT mengingatkan sahalat dengan
adzan, firman Allah SWT, Dan jika kalian dipanggil untuk melaksanakan shalat. )QS. Al-Maidah: 87)
dan firman Allah SWT, Jika dipanggil untuk melaksanakan shalat di hari Jumat maka bersegeralah
kamu untuk mengingat Allah. )QS. Al-Jumuah: 9(, dan Rasulullah menjadikan adzan sebagai hal yang
sunnah untuk memanggil shalat yang lima waktu, karena sifatnya yang demikian (adzan merupakan
panggilan untuk melaksanakan shalat), maka tidak diperbolehkan untuk shalat yang lima waktu itu selain
berjamaah, sehingga tidak ada shalat yang didirkan selain dengan shalat berjamaah, tidak ada
keringanan bagi mereka yang dapat melaksanakan shalat berjamaah untuk meninggalkannya kecuali
bagi mereka yang mempunyai udzur.

Jika seseorang meninggalkan shalat berjamaah kemudian melaksanakan shalat sendirian, maka tidak
diwajibkan atasnya untuk mengulang shalat kembali, baik ia melaksanakan shalat sebelum imam
maupun sesudahnya, kecuali shalat jumat, karena barangsiapa secara sengaja melaksanakan shalat
sebelum imam, maka dia wajib untuk mengulanginya, karena menghadiri shalat jumat adalah wajib.
Demikiianlah penjelasan Ibnu Al-Mundzir mengenai shalat berjamaah.

Madzhab Hanafi dan Maliki berpendapat: shalat berjamaah itu sunnah muakad, tetapi mereka
berpendapat bahwa meninggalkannya merupakan dosa, sedangkan mereka mensahkan (membenarkan)
shalat yang tanpa berjamaah. Dal hal ini mereka bertentangan dengan orang yang mengatakan bahwa,
Sesungguhnya shalat berjamaah itu wajib lafdzy.

Di Bawah ini merupakan penjelasan orang yang mengatakan wajb:

Orang-orang yang meawjibkan shalat berjamaah berkata: Allah SWT berfirman, Dan apabila kamu
berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan bersama-sama, maka
hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian
apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan rakaat), maka hendaklah mereka
pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang segolongan yang kedua yang
belum sholat, lalu sholatlah mereka denganmu. (QS. An-Nisa: 102).

Bentuk pembuktiannya adalah sebagai berikut:

1. Dalil pertama: Perintah Allah SWT kepada mereka untuk shalat berjamaah, kemudian Allah
mengulangi perintah tersebut untuk kedua kalinya bagi kelompok yang kedua. Firman Allah SWT,
Hendaklah datang golongan yang kedua belum shalat, lalu shalatlah mereka denganmu.
Bukti ini menunjukkan bahwa shalat berjamaah itu fadhu ain. Karena Allah tidak mengabaikan perintah
untuk shalat berjamaah pada kelompok yang kedua sebagaimana yang diperintahkan kepada kelompok
pertama untuk melaksanakan shalat berjamaah pula. Tidaklah tepat jika dikatakan bahwa shalat
berjamaah itu sunnah, karena jika demikian halnya, pastilah kelompok pertama memiliki udzur untuk
tidak melaksanakan shalat berjamaah dengan alasan akan adanya rasa takut. Tidak tepat pula kalau
dikatakan shalat berjamaah itu fardh kifayah, karena menjadi tidak relevan dengan apa yang dilakukan
oleh kelompok yang pertama.

Maka ayat tersebut merupakan dalil bahwa shalat berjamaah hukumnya fardhu ain. Hal ini dapat dilihat
dari tiga aspek, yaitu: 1. Allah memerintahkan untuk shalat berjamaah kepada kelompok pertama, 2.
kemudian Allah memerintahkan kelompok kedua untuk melaksanakkannya juga, 3. Allah tidak
memberikan keringanan-keringanan bagi mereka untuk meninggalkannya walaupundalam keadaan takut.

2. Dalil kedua: Firman Allah SWT:


)(

) (

Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud, maka mereka tidak kuasa, (dalam
keadaan) pandangan mereke tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya
mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud dan mereka dalam keadaan sejahtera. (QS. Al-Qalam:
42-43).

Aspek yang dapat dijadikan dall shalat berjamaah adalah: sesungguhnya Allah SWT member hukuman
di hari kiamat, dikarenakan antara keadaan mereka dan sujud, ketika mereka dipanggil untuk bersujud di
dunia, mereka enggan untuk menjawab panggilan tersebut.

Jika demikian halnya, maka jawaban dari panggilan itu adalah datang ke masjid untuk memenuhi
tuntunan shalat berjamaah, dan bukan mengerjakan shalat di rumahnya sendiri, demikianlah Nabi saw
menjelasakan jawabannya.

Muslim meriwayatkan dalm shahihnya dari Abu Hurairah, ia berkata, Seseorang lelaki buta datang
kepada Nabi seraya bertanya, Wahai Rasulullah, aku tidaklah memiliki penuntun jalan untuk
menuntunku datan ke masjid, kemudian ia meminta Rasulullah memberikan keringanan kepadanya.
Ketika ia berpaling (hendak berlalu pergi) Rasulullah memanggilnya kembai dan berkata, Apakah kamu
mendengar panggilan (adzan). Ia berkata, Ya. Rasululla bersabda, Maka Jawablah. )HR. Muslim Al-
Masaajid wa Mawadli Al-Shalah. 63(.

Ia tidak menjawab panggilan tersebut dengan melaksanakan shalat di rumahnya, jika ia mendengar
panggilan (seruan adzan), hal ini menunjukkan bahwa jaawban yang diminta dari perintah tersebut
adalah mendatangi masjid untuk menunaikan shalat berjamaah.

Hadits Ibnu Ummi Maktum juga membutikannya, ia berkata, Wahai Rasulullah, sesungguhnya kota
(Madinah) itu bnyak sekali hal yang mengerikan dan binatang buas, Rasulullah bersabda, Apakah kamu
mendengar seruan hayya alash shalah dan hayya alal falah (Mariah shalat dan marila mencapai
kebahagiaan)? Ia berkata, Ya. Rasulullah berkata, Hayyahala (Penuhilah kedua ajakan itu).
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Imam Ahmad (Lafadz ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Al-
Shalat 553 dan Nasai dalam Imamah 2/110 dan Ahmad 3/423 serta Ibnu Majah dalam Al-Masajid
792. Dibenarkan oleh Ibnu Khuzaimah 1480).

Hayyahala adalah kalimat perintah yang artinya adalah terimalah dan jawablah. Hal ini menjelaskan
bahwa sesungguhnya menjawabapa yang diperintahkan di sini adalah melaksanakan shalat berjamaah,
sedangkan yang meninggalkan shalat berjamaah tidak menjawab panggilan tersebut.
Tidak sedikit ulama salaf yang mengatakan bahwa yang dimaksud dalam firman Allah, Dan
sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud dan mereka dalam keadaan yang
sejahtera adalah perataan Muadzin, Hayya alash shalah, hayya alal falah. (Diriwayatkan oleh Thabari
43/29) dari Ibrahim at-Taimy an Said bin Jabir dan ditetapkan oleh Suyuti dalam Daruquthni yang
terkenal 8/256. Baihaqi dari Ibnu Abbas dan Ibnu Mardiyah berita-berita dari Kaab(.

Dalil di atas membuktikan dua hal: 1. Bahwasanya menjawab panggilan )untuk shalat berjamaah( adalah
wajib, 2. Bahwa yang dimaksud dengan menjawab panggilan di sini adalah menghadiri shalat
berjamaah.

Inilah yang dipahami oleh golongan orang yang paling mengetahui dan paling memahami apa yang
dimaksud dengan Manjawab Panggilan, mereka itu adalah para sahabat radhiallahuanhum. Ibnu
Mundzir berkata dalam kitab Al-Ausath, Kami meriwayatkan dari Ibnu Masud dan Abu Musa
sesungguhnya keduanya berkata, Barangsiapa yang mendengar panggilan (seruan adzan) kemudian
tidak menjawabnya, maka sesungguhnya tidak diterima salatnya, kecuali bagi mereka yang
berhalangan. (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubar 3/174(.

Ia berkata, dan diriwayatkan dari Aisyah sesungguhnya ia berkata, Barangsiapa yang mendengar
panggilan (seruan adzan) dan ia tidak menjawab, dan tidak menerima dengan baik dan tidak
menerimanya. (Diriwayatkn oleh Al-Baihaqi As-Sunan Al-Kubra: 3/57).

Dari Abu Hurairah ia berkata, Mengisi kedua telinga anak manusia dengan timah yang terkumpul lebih
baik bagi seorang anak manusia daripada ia mendengar seruan (panggilan untuk shalat) kemudian ia
tidak menjawab panggilan tersebut.

Hal ini dan banyak lagi dalil yang lainnya menunjukkan bahwa para sahabat menjawab panggilan
tersebut dengan menghadiri shalat berjamaah, sedangkan mereka yang meninggalkan shalat
berjamaah tidak menjawab panggilan tersebut, aka mereka menjadi berdosa.

3. Dalil ketiga: Firman Allah SWT:

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukulah beserta orang-orang yang ruku (QS. Al-Baqarah:
43).

Konteks dari ayat tersebut adalah sesunguhnya Allah SWT memerintahkan mereka untuk ruku, yang
dimaksud ruku disini adalah shalat, dan shalat diibaratkan dengan ruku karena ruku merupakan salah
satu rukun shalat, dan shalat ini diibaratkan dengan rukun-rukunnya dan wajib-wajibnya. Seperti Allah
SWT menamakannya dengan sujud (sujuudan), quraanan, maupun pujian-pujian (tasbiihan), maka
mestilah firman Allah SWT maar rakiin mempunya pengertian lain, yang tidak lain dari
melaksanakannya bersama para jamaah yang melaksanakan shalat dan kebersamaan itu mengandung
makna tersebut.

Jika perintah yang terikat (Al-Amru Al-Muqayyad) ditetapkan berdasarkan bentuk sifat dan kondisi
tertentu, maka orang yang mendapatkan perintah tersebut harus mengaplikasikannya sesuai dengan
sifat dan kondisi tersebut.

Jika dikatakan bahwa kewajiban shalat berjamaah ini menjadi batal dengan firman Allah SWT, Hai
Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, suju dan rukulah bersama orang-orang yang ruku. (QS. Ali Imran:
43(. Maka wanita tidak diwajibkan untuk hadir dalam shalat berjamaah. Dijelaskan ayat ini tidak
menunjukkan bahwa seorang wanita tidak diperintahkan untuk shalat berjamaah, akan tetapi perintah
tersebut dikhususkan kepada Maryam saja. Berberda dengan firman Allah SWT, Dan dirikanlah shalat,
tunaikanlah zakat, dan rukulah bersama orang-orang yang ruku. )QS. Al-Baqarah: 43). Dalam hal ini
Maryam memiliki kekhususan yang tidak dimiliki oleh wanita lain, karena ibunya pernah bernadzar untuk
menjadikan Maryam sebagai hama yang selalu tunduk dan patuh kepada Allah, dan untuk beribadah
kepada-Nya, serta mengabdi untuk memakmurkan masjid, dan tidak meninggalkannya. Maka
diperintahkan kepadanya untuk ruku bersama orang-orang yang ruku. Dan ketika Allah SWT memilih
Maryam dan mensucikannya di atas semua wanita yang ada di dunia, Allah memerintahkannya untuk
selalu taat kepada perintah-Nya dengan perintah yang khusus dan lain dari wanita pada umumnya.
Firman Allah SWT, Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah
memilih kamu, mensucikan kamu, dan melebihkan kamu atas segala wanita di duni (yang semasa
denganmu). Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, suju dan rukulah bersama orang-orang yang sujud.
(QS. Ali Imran: 42-43(. Maka jika dikatakan keadaan mereka yang diperintahkan untuk ruku bersama
orang-orang yang ruku, tidak secara harfiah menunjukkan kewajiban untuk ruku seperti mereka, akan
tetapi menunjukkan akan keharusan untuk melakukan perintah tersebut.

Sebagaimana firman Allah SWT, Hai orang-orang yang beriman bertawakallah kamu kepada Allah dan
hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS. At-Taubah: 119), kebersamaan (kata maa(
yang dimaksud menuntut keikutsertaan dan keterlibatan dalam melakukan pekerjaan dan bukan hanya
sebatas mengiringi. Dijelaskan bahwa hakekat kebersamaan adalah pertalian antara apa yang
sesudahnya dengan apa-apa yang sebelumnya, dan pertalian disini lebih ditekankan kepada
keikutsertaan, apalagi dalam shalat. Maka jika dikatakan shalatlah engkau bersama jamaah, atau aku
telah melaksanakan shalat bersama dengan jamaah. Maka hal itu tidaklah dapat dipahami kecuali
kumpulnya mereka untuk melaksanakan shalat.

4. Dalil keempat: Yang ditetapkan di dalam kitab Shahihain dengan lafadz Bukhari Dari Abu Hurairah,
sesungguhnya Rasulullah saw bersabda, Demi Dzat yang mana jiwaku berada di tangan-Nya,
sesungguhnya aku sangat ingin memerintahkan (orang-orang) untuk mengumpulkan kayu bakar lalu
dinyalakan, kemudian aku memerintahkan shalat sehingga dikumandangkanlah adzan untuk itu, lalu aku
memerintahkan seseorang laki-laki untuk mengimami mereka, sementara aku mencari orang-orang (yang
tidak mengikuti shalat berjamaah) dan aku bakar rumah mereka. Demi Dzat yang mana jiwaku berada di
tangan-Nya, seandainya seseorang di antara mereka mengetahui bahwa ia akan mendapatkan potongan
daging yang gemuk atau dua binatang buruan yang baik, niscaya ia akan mengikuti jamaah shalat Isya.
)HR. Shahih Bukhari dalam Adzan 744, Muslim dalam Al-Masajid 751, dan Arq = tulang dan daging,
atau memotong daging, sedang marmatami mempunyai pengertian antaranya: yang ada di antara dua
kuku kambing yang dibuang atau selainnya).

Dari Abu Hurairah r.a. sesungguhnya Rasulullah saw bersabda:

Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang-orang munafiq adalah shalat isya (berjamaah) dan
shalat subuh (berjamaah), seandainya merek mengetahui (hikmah) yang ada dalam keduanya niscaya
mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak. Sungguh, aku ingin memerintahkan (orang-
orang) untuk melaksanakan shalat sehingga shalat itu didirikan, kemudian aku memerintahkan
seseorang untuk mengimami mereka, kemudian aku berangkat bersama beberapa orang yang
membawa ikatan kayu bakar (yang menyala) menuju kepada orang-orang yang tidak mengikuti shalat
(berjamaah), lalu aku membakar rumah mereka dengan api itu. (Kedua Imam, Muslim dan Bukhari,
sepakat atas keshahihan hadits ini, dan lafadz dari Muslim. Dari hadits yang sama pendapat keduanya
dan Bukhari berpendapat seperti itu, 657).

Dari Imam Ahmad dari Nabi Muhammad saw, Kalau di rumah itu tidak ada wanita dan anak-anak, aku
melaksanakan shalat isya, dan aku perintahkan para pemuda untuk membakar apa yang ada di dalam
rumah itu. )HR. Musnad Imam Ahmad, 2/367(.
Mereka yang mengatakan tidak wajib mengemukakan beberapa alasan yang menunjukkan tidak
wajibnya shalat berjamaah ditinjau dari beberapa aspek:

a. Pertama: Sesungguhnya ancaman tersebut ditujukan kepada orang-orang yang meninggalkan shalat
jumat. Dalil yang memperkuatnya adalah apa yang diriwayatkan oleh Musim dalam shahihnya dari hadits
Abdullah bin Masud r.a. sesungguhnya Nabi Muhammad saw bersabda kepada kaumnya yang
meninggalkan shalat Jumat, Telah aku perintahkan laik-laki untuk shalat berjamaah, kemudian aku
akan membakar rumah laki-laki yang melaksanakan shalat jumat di rumah mereka. (HR. Shahih Muslim
dalam Al-Masajid wa Mawadiu Al-Shalah 652(

b. Kedua: Sesungguhnya hal ini boleh dilakukan ketika hukuman denda berupa materi dijalankan,
kemudian dihapuskan dengan adanya hukuman yang berupa hukuman denda tersebut.

c. Ketiga: Dalam hal ini Nabi hanya mengancam saja tanpa berniat untuk melaksanakan ancamannya.
Kalau seandainya pembakaran tersebut dibolehkan/dilaksanakan maka hal itu menunjukkan akan
wajibnya shalat berjamaah. Sesungguhnya hukuman tidak harus demikian, bahkan jika seandainya
shalat berjamaah itu wajib, atau haram sekalipun, ketika Nabi tidak melaksanakan ancamannya, hal itu
menunjukkan bahwa pembakaran tidak boleh dilaksanakan.

Mereka berkata, Hadits di atas menunjukkan batalnya wajib shalat berjamaah, karena meninggalkan
shalat berjamaah, bukan berarti meninggalkan hal yang wajib )dalam hal ini shalat fardhu(.

Mereka juga berkata bahwa Nabi saw berniat untuk membakar rumah-rumah mereka, dikarenakan
kepura-puraan (kemunafikan( mereka, bukan lantaran karena mereka meninggalkan shalat berjamaah.

Orang-orang yang mewajibkan shalat berjamaah berkata, Dalil-dalil yang Anda sebutkan tidak
mengandung petunjuk yang membatalkan hadits yang mengisyaratkan wajibnya shalat berjamaah:

Perkataan kalian, Sesungguhnya ancaman tersebut ditujukan kepada mereka yang meninggalkan shalat
Jumat. Memang benar bahwa ancaman tersebut ditujukan kepada mereka yang meninggalkan shalat
Jumat tetapi juga sekaligus ditujukan kepada mereka yang meninggalkan shalat berjamaah. Secara
gamblan hadits Abu Hurairah r.a. menerangkan bahwa hal itu ditujukan kepada mereka yang
meninggalkan shalat berjamaah, dan hal itu secara jelas terdapat di awal dan akhir hadits. Dan hadits
Ibnu Masud r.a. menunjukkan bahwa hal itu juga ditujukan kepada mereka yang meninggalkan shalat
jumat. Maka dalam hal ini tidak ada pertentangan di antar kedua hadits tersebut.

Sedangkan perkataan kaian, Sesungguhnya hal itu dihapuskan. Alangkah sulitnya untuk
menguatkan/menetapkan pendapat tersebut! Dimanakah syarat-syarat naskh (penghapusan) yang
mengharuskan adanya hukum pengganti dari hukum yang digantikannya. Niscaya kalian dan semua
penghuni bumi ini tidak akan mempunyai cara untuk menetapkan statement tersebut. Telah banyak
orang yang menjadikan Naskh dan Ijma sebagai cara untuk menghapuskan sunnah-sunnah yang tetap
dari Rasulullah saw dan ini bukanlah hal yang sepele. Janganlah sekali-kali kamu meninggalkan sunnah-
sunnah Rasulullah saw yang benar dengan menggunakan dan jangan pula meninggalkannya dengan
menggunakan Naskh kecuali ada Naasikh (yang menghapuskannya) yang benar dan jelas yang datang
setelah itu yang diambil dan dijaga oleh ummat manusia. Jika ummat ini meninggalkan Naasikh yang
seharusnya dijaga, dan sebaliknya menjaga Mansukh yang hukumnya telah tidak berlaku lagi, maka tidak
ada lagi yang tersissa dari agama ini. Akan tetapi banyak dari generasi selanjutnya yang jika melihat
hadits yang bertentangan dengan madzhab mereka, mereka kemudian menawilkannya )sesuai dengan
madzhab mereka), hal ini jelas akan menimbulkan pertentangan. Jika datang kepada mereka dalil yang
mematahkan pendapat mereka, mereka akan berdalih dengan menggunakan Ijma, dan jika
mendapatkan pertentangan yang tidak memungkinkan mereka untuk menggunakan Ijma, mereka
berdalih bahwa dalil tersebut telah di-Mansukh-kan.ik A Cara demikian bukanlah cara yang sepatutnya
dilakukan oleh ummat Islam. Bahkan ummat Islam menentang cara-cara seperti ini, dan jika mereka
menemukan sunnah Rasulullah saw yang benar dan jelas, mereka tidak akan membatalkannya dengan
tawil dan tidak pula dengan Ijma serta Naskh. Imam Syafii dan Imam Ahmad adalah merupakan orang-
orang yang sangat menentang cara-cara seperti itu dengan taufik Allah SWT.

Sesugguhnya Nabi tidaklah melaksanakan niatnya untuk orang yang dilarang yang telah dikabarkan
bahwa Rasullah saw telah mencegahnya untuk melakukan hal itu, yaitu mencakup rumah yang di
dalamnya terdapat orang yang tidak diwajibkan atas mereka shalat berjamaah yang terdiri dari para
wanita dan anak-anak, maka apabila seandainya mereka membakar untuk melaksanakan hukuman
kepada mereka yang tidak diwajibkan untuk melaksanakan shalat berjamaah, hal ini tidak dapat
dilakukan. Sebagaiman jika al-Had )Hukum Syariat) dijatuhkan kepada wanit yang hamil, maka hukuman
itu tidak dilakukan (ditunda) sampai wanita itu melahirkan, agar hukuman tersebut tidak berakibat kepada
kehamilannya. Dan Rasulullah saw selamanya tidak bermaksud untuk melakukan apa yang tidak boleh
dilaksanakan.

Sebagian ulama telah memberikan jawaban yang lain, yaitu, Sesungguhnya kaum ini lebih takut kepada
Rasulullah saw daripada mendengarkan perkataan tersebut, kemudian mereka meninggalkan shalat
berjamaah.

Adapun pendapat kalian yang menyebutkan, Bahwa hadits itu menunjukkan adanya ketidakwajiban
shalat berjamaah, karena beliau ragu-ragu apakah ia meninggalkannya atau tidak. Satu hal yang tidak
mungkin dinisbatkan dan tidak pula dituduhkan kepada Rasulullah saw adalah bahwa beliau ragu-ragu
memberikan hukuman kepada sekelompok kaum Muslimin dengan membakar rumah-rumah mereka
karena meninggalkan suatu amalan sunnah yang belum diwajibkan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka,
dan Rasulullah saw belum memberitahukan bahwa beliau pernah melakukan shalat sendirian, tetapi
beliau shalat berjamaah dengan para sahabatnya yang pergi bersamanya ke rumah itu. Juga kalaulah ia
shalat sendirian maka pastilah di sana ada dua kewajiban yaitu, Wajib berjamaah dan wajib memberikan
hukuman kepada orang-orang berbuat maksiat dan memeranginya. Maka dalam hal ini meninggalkan
yang lebih rendah dari kedua kewajiban tersebut karena mendahulukan yang lebih tinggi, seperti halnya
pada shalat khauf.

Adapun pendapat anda yang menyebutkan: Bahwa Beliau saw bermaksud memberi hukuman kepada
mereka karena keingkaran mereka bukan karena mereka meninggalkan shalat berjamaah. Maka hal ini
perlu dilihat dua hal. Pertama adalah pembatalan apa yang diekspresikan oleh Rasulullah saw dan
menghubungkan hukuman karena meninggalkan shalat berjamaah. Kedua mengekspresikan apa yang
dibatalkannya, maka sesungguhnya tidaklah orang-orang munafik itu dihukum karena nifak mereka,
tetapi karena perbuatan mereka yang tidak terlihat, sedangkan yang tersembunyi dari mereka diserahkan
kepada Allah. (Yang berpendapat bahwa maksudnya adalah keinginan orang-orang munafik adalah
Syafii dan lain-lain sebagaimana di dalam Al-Majmu 4/192, dan dikuatkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar
ketika menjelaskan hadits ini dalam Fathul Baari, hanya saja ia menguatkan bahwa maksudnya
kemaksiatan dan bukan kekafiran seperti yang dimaksud oleh Pengarang).

5. Dalil Kelima : Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab Shahih-nya: Bahwa seorang laki-laki
buta berkata, Wahai Rasulullah, aku tidak memilki seorangpun yang dapat menuntunku ke masjid. Lalu
ia meminta Rasulullah saw untuk memberikan keringanan baginya. Ketika ia berpaling, dipanggilnya ia
oleh Rasulullah saw dan berkata, Apakah engkau mendengar adzan? Ia berkata, Ya. Rasulullah saw
menjawab, Penuhilah (datanglah untuk shalat). Orang ini adalah Ibnu Ummi Maktum dan ada
perbedaan pendapat mengenai namanya, kadang disebut Abdullah dan kadang disebut Amru.

Dalam Musnad Imam Ahmad, dan Sunan Abu Dawud dari Amru bin Ummi Maktum berkata, Aku
berkata wahai Rasulullah aku orang lemah yang jauh dari masjid dan aku punya pemimpin tapi tidak
melindungiku, apakah ada keringanan buatku untuk shalat di rumahku? Rasulullah saw bersabda,
Apakah engkau mendengar adzan? Ia berkata, Ya. Rasulullah saw berkata lagi, Tidak ada
keringanan bagimu.
Orang-orang yang menolak diwajibkannya shalat Jamaah berpendapat: Ini perkara yang disukai
bukan perkara yang diwajibkan. Perkataan Nabi saw yang menyebutkan,Tidak ada keringanan bagimu
artinya kalau engkau mau mendapat keutamaan berjamaah, maka lakukanlah.

Ada lagi yang berpendapat: Hal ini telah dimansukh.

Orang yang mewajibkan berpendapat: Perintah itu berarti suatu keharusan. Jadi bagaimana jika seorang
ahli syara menerangkan bahwasanya tidak ada keringanan bagi seorang hamba yang tidak berjamaah
karena lemah dan jau dari masjid dan tidak dilindungi oleh pemimpinnya. Maka kalaulah seorang hamba
itu kebingungan antara shalat sendirian atau berjamaah pasti yang paling bingung ini adalah
orang seperti yang buta itu.

Abu Bakar bin Mundzir berpendapat bahwa perintah untuk berjamaah kepada orang yang buat dan yang
rumahnya jauh merupakan dalil yang menunjukkan bahwa shalat berjamaah itu wajib bukan sunnah.
Ketika dikatakan kepada Ibnu Ummi Maktum yang kenyataannya buta, Tidak ada keringanan bagimu
maka lebih-lebih bagi orang yang melihat tidak ada keringanan baginya.

6. Dalil Keenam : Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Abu Hatim dan Ibnu Hibban dalam
hadits shahihnya dari Abbas berkata, Rasulullah saw bersabda, Barangsiapa mendengar adzan dan
tidak ada udzur apapun yang menghalanginya dari keikutsertaannya. Mereka berkata, Udzur apa?
Nabi saw bersabda, Ketakutan atau sakit, maka shalat yang sudah dilaksanakannya tidak akan
diterima.

Orang-orang yang tidak mewajibkannya berpendapat bahwa hadits ini mempunyai dua cacat:

a. Pertama: Bahwa hadits ini diriwayatkan dari Maariku yang merupakn seorang budak dan ia lemah di
kalangan mereka.

b. Kedua : Hadits itu diketahui dari Ibnu Abbas dan berhenti padanya, tidak sampai kepada Rasulullah
saw.

Orang-orang yang mewajibkannya berpendapat bahwa: Qosim Ibnu Asbagh dalam kitabnya berkata:
Ismaiil bin Ishak al-Qadli telah menceritakan kepada kami, Sulaiman bin Harb menceritakan kepada
kami, Syubah menceritakan kepada kami, dari Habib bin (Abi) Tsabit, dari Said bin Jubair, dari Ibnu
Abbas bahwa Nabi saw bersabda, Barang siapa mendengar adzan dan tidak menjawab, maka tidak
punya pahala shalat kecuali karena adanya udzur. dan cukuplah bagi Anda kebenaran hadits ini dengan
isnad tersebut. [Ibnu Hazm dalam Al-Mahalli 4/190]

Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir Ali bin Abdul Aziz kepada kami, Amr bin Auf menceritakan kepada kami,
Hasyim menceritakan kepada kami, dari Syubah dari Huda bin Tsabit, dari Said bin Jabir dari Ibnu Abbas
dengan hadits yang marfu )sampai kepada Rasulullah saw(. [Hadits ini diriwayatkan berdasarkan jalur
riwayat Hasyim dari Syubah yang dikeluarkan oleh Ibnu Hibban 2064 dari Baihaqi 3/174].

Mereka mengatakan Maarik yang merupakan seorang budak telah meriwayatkan kepadanya Abi Ishak
As-Sabii berdasarkan kemuliaannya. Kalau mungkin tidak benar, dia akan mencabutnya, maka benar
apa yang datang dari Ibnu Abbas tanpa ada keraguan, yaitu bahwa riwaya tersebut merupakan
perkataan sahabat yang tidak dibantah oleh sahabat yang lain.

7. Dalil Ketujuh : Apa yang diriwayatkan Muslim dalam Kitab Shahihnya dari Abdullah bin Masud r.a. ia
berkata, Barang siapa yang merasa senang untuk dipertemukan pada hari kiamat dalam keadaan
muslim, maka hendaknya menjaga shalat lima waktu yang selalu diserukan (di-adzan-i), karena shalat-
shalat itu termasuk jalan-jalan petunjuk, dan sesungguhnya kalau engkau shalat di rumah-rumah kalian
seperti halnya yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak mau berjamaah berarti engkau meninggalkan
sunnah Nabi kalian, kalau engkau meninggakan sunnah Nabi berarti engkau sesat. Seseorang yang
bersuci kemudian memperbaiki kesuciannya, kemudian menuju masjid dari masjid-masjid yang ada, tiada
lain baginya kecuali Allah akan menulis setiap langkahnya dengan kebaikan dan derajatnya ditingkatkan,
dan dilihangkan darinya kejelekan. Dan engkau telah menyaksikan orang-orang yang tidak suka
berjamaah adalah orang yang munafik yang nyata kemunafikannya. Dan tidaklah seseorang telah
didatangi dan diberi petujunjuk di antara dua orang sehingga ia berdiri di shaf (dalam shalat berjamaah).
[Muslim dalam Al-Masajid dan Mawadi Al Shalah 654].

Dalam lafadz: Sesungguhnya Rasulullah mengajari kita jalan untuk mencapai hidayah, dan
sesungguhnya salah satu jalan itu adalah shalat di masjid yang di dalamnya dikumandangkan adzan.
[Hadits ini diriwayatkan oleh riwayat Muslim sebagaimana dikemukakan sebelumnya].

Maka aspek pembuktiannya adalah: Bahwasanya meninggalkan jamaah itu merupakan salah satu tanda
dari orang-oarng munafik yang nyata kemunafikannya, dan tanda-tanda kemunafikan itu dengan (tidak
?)meninggalkan hal-hal yang disukai dan (tidak ?) melakukan yang dibenci. Maka, orang yag mengamati
tanda-tanda orang munafiq di dalam sunnah, ia akan mendapatkannya baik meninggalkan yang wajib
atau mengerjakan yang haram. Pengertian ini telah ditegaskan dengan perkataannya, Barang siapa
yang senang akan dipertemukan dengan Allah pada hari kiamat dalam keadaan muslim, maka
hendaknya menjaga shalat lima waktu yang selalu dipanggil dengannya. Orang yang meninggalkannya
dan yang shalat di rumahnya disebut orang yang meninggalkan sunnah yang merupakan cara Rasulullah
saw, yang selalu dilaksanakannya dan syariatnya yang disyariatkan bagi ummatnya, dan maksudnya
bukan sunnah yang hanya dianjurkan melaksanakannya bagi yang berkehendak saja, dan yang tidak
berkehendak boleh meninggalkannya tidak sesat dan tidak pula sebagai bagian dari tanda-tanda
kemunafikn, seperti meninggalkan shalat dhuha, shalat malam dan puasa sunnah senin dan kamis.

8. Dalil kedelapan : Apa yang diriwayatkn Muslim dalam Kitab Shahihnya dari Abi Said Al Khudzry, ia
berkata, Rasulullah saw bersabda, Jika mereka bertiga, maka hendaknya salah seorang di antara
mereka menjadi imam, dan yang pling berhak menjadi imam adalah orang yang paling baik bacaannya.
[Muslim dalam Al-Masajid wa Mawadli 627]. Dalil ini menunjukkan bahwa Rasulullah saw memerintahkan
berjamaah dan perintahnya itu adalah wajib.

9. Dalil kesembilan : Bahwa Rasulullah menyuruh seseorang yang shalat sendirian di belakang shaf
untuk mengulangi shalatnya. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan para ahli sunnah, Abu Hatim ibnu
Hibban dalam hadits shahihnya dan diperbaiki At-Tirmidzi. [Ahmad 2/228, Abu Dawud 682, Turmudzi 230
dan 231, dan dihasankan, Ibnu Majah1004, dan Ibnu Hibban 2198 dan 2199, semuanya dalam masalah
shalat].

Dari Ali bin Syaiban berkata, Kami keluar hingga menghadap Rasululllah saw dan kami mengucapkan
sumpah setia kami kepada beliau lalu kami shalat di belakang beliau. Ia berkata, Kemudian kami shalat
di belakangnya shalat yang lain lalu beliau mengqadha shalat, kemudian beliau lihat seseorang shalat
sendirian di belakang shaf, kemudia ia berhenti mendekatinya sampai ia menghadapinya kemudian
berkata, Ulangi shalatmu, tidak shalat bagi seseorang yang shalat di belakang shaf. Diriwayatkan oleh
Imam Ahmad dari Ibnu Hibban dan pada Riwayat Imama Ahmad diriwayatkan, Saya shalat di belakang
Rasulullah saw, kemudian Rasulullah saw melihat seorang shalat sendirian di belakang shaf, maka
beliau berhenti sehingga menemuinya dan bekata kepadanya, Ulangi shalatmu, karena tidak ada shalat
bagi orang yang shalat sendirian di belakang shaf. [Ahmad 4/23, Ibnu Hibban 1003, dalam Az-Zawaid
disebutkan, sanadnya shahih dan rawi-rawinya dapat dipercaya, serta dibenarkan pula oleh Ibnu
Khuzaimah 1569]. Ibnu Mundzir berkata, Hadits ini ditetapkan oleh Ahmad dan Ishak.

Konteks dalil ini menunjukkan bahwasanya Rasulullah saw membatalkan shalat seseorang yang keluar
dari shaf sedang ia dalam keadaan berjamaah dan menyuruhnya mengulangi shalatnya sedangkan
beliau tidak pernah shalat menyendiri kecuali di tempat yang khusus. Maka shalat menyendiri dari
jamaah dan di luar tempat jamaah adalah batal. Dijelaskan olehnya bahwa batasan menyendiri adalah
shalat sendirian, kalaulah shalat sendirian itu sah, maka Rasulullah tidak akan menganggap shalatnya
tidak sah atau dianggap tidak ada. Oleh karena itu, beliau menyuruh orang yang melakukan seperti itu
untuk mengulangi shalatnya.

Pendapat orang-orang yang membatalkan wajibnya shalat berjamaah adalah sebagai berikut: Anda tidak
mungkin menggunakan hadits itu sebagai dalil kecuali setelah menetapkan batalnya shalat menyendiri
dibelakang shaf. Ini merupakan pendapat yang rancu yang bertentangan dengan jumhur ulama,
sementara ijma ulama telah menetapkan sahnya shalat wanita sendirian di belakang shaf, dan
Rasulullah didatangi malaikat Jibril dan mengajarinya waktu-waktu shalat, Jibril maju dan Rasulullah
berdiri di belakangnya, dan orang di belakang Rasulullah, kemudian shalat dzuhur ketika matahari
bergeser dan mendatanginya ketika bayangan seperti ukuran dirinya, dan melakukan seperti yang telah
dilakukannya, maka Malaikat Jibril maju ke depan dan Rasulullah saw di belakangnya dan orang-orang di
belakang Rasulullah saw. Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasai. [An-Nasai dalam Al-Mawaqit 1/255].

Rasulullah pernah melakukan shalat di belakang Jibril dengan mengikutiya.

Mereka mengatakan: Abu Bakar pernah melakukan ihram menyendiri di belakang shaf kemudian ia
berjalan memasuki shaf dan Nabi saw tidak menyuruh untuk mengulanginya. [Al-Bukhari dalam Adzan
783].

Mereka juga mengatakan: Ibnu Abbs telah melakukan ihram di sebelah kiri Rasulullah saw, kemudian
Rasulullah menariknya dan menempatkannya di sebelah kanan Rasulullah [Al-Bukhari dalam Adzan 699,
Muslim dalam Shalat Al-Musafirin 763], dan Rasulullah tidak menyuruhnya untuk mengulangi shalatnya,
bahkan membenarkan ihramnya yang sendirian, dan ini terjadi pada shalat nafl (sunnah). Dalam hadits
Jabr dalam masalah fardhu disebutkan bahwa ia berdiri di sebelh kiri Rasulullah, kemudian ia menariknya
dan menempatkannya di sebelah kanannya. [Muslim dalam Al-Zuhud wa Al-Raqaiq dari haditsny yang
panjan 3010].

Kemudian orang-orang yang mewajibkannya berpendapat bahwa yang menarik dari pertentangan
terhadap hadits-hadits yang shahih dan yang jelas seperti itu adalah tidak adanya pertentangan antara
hadits-hadits itu dari segi apapun.

Adapun pendapat kalian: Sesungguhnya ini adalah pendapat yang keliru dan rancu. Apakah hal ini bukan
sesuatu yang rancu, sementara dalam diri Rasulullah saw terdapat sunnah-sunnahnya yang shahih dan
jelas, meskipun ditinggalkan oleh orang-orang yang meninggalkannya, meninggalkan sunnah-sunnah
tersebut bukan berarti hal-hal tersebut tidak diketahui oleh orang-orang yang meninggalkannya, atau
semacam tawil yang membolehkan untuk meninggalkannya bagi yang lainnya.

Maka, bagaimana mendahulukan seorang yang meninggalkan sunnah? Ini telah disebutkan oleh
mayoritas dari kalangan pemuka tabiin, mereka adalah Said bin Jubair, Thawus, Ibrahim An-Nakhai,
dan yang lainnya seperti Hikam, Hamad, Ibnu Abi Laila, Hasan bin Shalih, Waki, dan juga Al-Auzai
diceritakan oleh Thahawy Ishak bin Rahawiyah, Imam Ahmad, Abu Bakar bin Mundzir, dan Muhammad
bin Ishak bin Huzaimah. Maka mana letak kerancuan itu, sementara mereka mengatakan hal itu adalah
sunnah?

Adapun bantahan Anda mengenai posisi wanita, maka itu adalah bantahan yang paling rusak, karena itu
merupakan posisi wanita yang telah disyariatkan baginya, sehingga kalau sampai seorang perempuan
berada di shaf laki-laki maka hal itu akan merusak shalat laki-laki yang berada di belakang wanita itu
sebagaimana dikemukakan Abu Hanifah, dan salah satu dari dua pendapat itu ditemukan pada mazhab
Ahmad.

Dikatakan juga bahwa kalaulah seorang wanita berdiri sendirian di belakang shaf wanita, maka sah
shalatnya. Pendapat lain menyebutkan, Bukan seperti itu, tetapi seandainya seorang wanita berdiri
sendiri di belakang shaf wanita yang lain, maka shalatnya tidak sah seperti halnya laki-laki menyendiri di
belakang shaf laki-laki, demikian menurut Qadhi Abu Yala dalam tanggapannya, berdasarkan
keumuman sabda Rasulullah saw, Tidak ada shalat bagi seseorang yang shalat di belakang shaf. Dari
hadits ini dipahami seandainya seorang wanit berdirian sendirian di belakang shaf laki-laki, maka
shalatnya sah, tetapi tidak demikian jika ia menyendiri dari shaf wanita lainnya, hadits ini berlaku secara
umum.

Adapun tentang kisah shalat Rasulullah saw di belakang Jibril, dan para sahabat di belakangnya, maka
jawaban mengenai hal ini adalah bahwa kisah itu telah terjadi pada masa awal diperintahkannya shalat,
yaitu ketika Jibril mengajari waktu-waktu shalat, sedangkan kisah Rasulullah saw yang memerintahkan
kepada seseorang yang shalat di belakang shaf sendirian untuk mengulanginya pada masa belakang
setelah kisah Jibril, maka itu adalah jawaban yang benar.

Menurutku masih ada jawaban yang lainnya, yaitu bahwa sesungguhnya Nabi saw pada waktu itu adalah
Imam kaum muslimin, maka beliau berdiri di hadapan kaum muslimin. Beliau sendiria disempurnakan
oleh Jibril, dan pada saat itu Jibril a.s lebih depan dengan tujuan agar lebih berhasil mengajari Nabi saw
dibandingkan seandainya dia berdiri di samping Nabi saw. Sebagaimana Nabi saw pernah shalat
bersama kaum muslimin, dan beliau berdiri di atas mimbar, dengan tujuan agar mereka (kaum muslimin)
bisa melihat kesempurnaan shalat yang dilakukan beliau, dan agar mereka mengambil pelajaran
(mencontohnya) shalatnya. Hal itu dilakukan dengan tujuan mendidik, dan beliau tidak melarang
seseorang yang menjadi imam bagi orang lain, berdiri pada tempat yang lebih tinggi dari mereka
(makmum).

Mengenai kisah Abu Bakar, kisah tersebut bukan menceritakan bahwa beliau mengangkat kepalanya dari
ruku sebelum beliau memasuki shaf (barisan shalat), tetapi semata-mata beliau menahan dengan cara
seperti itu agar bisa tetap tegak dalam ruku, dan tidak ada cara lain yang bisa dia lakukan selain dengan
cara seperti itu.

Telah terjadi perbedaan pendapat mengenai hadits yang diriwayatkan dari Imam Ahmad, tentang orang
yang melakukan ruku sebelum masuk dalam shaf, kemudian dia berjalan sambil ruku sebelum masuk
shaf, setelah imam mengangkat kepalanya dari ruku. Dalam masalah ini ada tiga pendapat, yaitu:

Pertama, Hal itu dianggap sah secara mutlak, alasannya berdasarkan riwayat yang mengatakan bahwa,
Sesungguhnya Nabi saw tidak memerintahkan untuk mengulang shalatnya, dan tidak memintanya untuk
menjelaskan apakah dia memasuki shaf sebelum mengangkat kepalanya dari ruku atau tidak,
seandainya hal ini dianggap menyalahi, maka Nabi saw akan meminta penjelasan kepadanya.

Said bin Manshur dalam kitab sunannya dari Zaid bin Tsabit, dia berkata, Sesungguhnya dia melakukan
ruku sebelum memasuki shaf, kemudian berjalan sambil ruku dan melakukannya berulang, sehingga dia
dapat memperkirakan sudah sampai kepada shaf atau tidak. )Imam Malik Al-Muwaththa 1/165, Ath-
Thahawi Syahru Maanil Atsar 1/398, dan Al Baihaqi As-Sunanul Kubra 2/90(.

Kedua, Sesungguhnya hal itu tidak sah, berdasarkan nash hadits riwayat Ibrahim bin Harits dan
Muhammad bin Hakam, dia membedakan antara orang yang melakukan ruku sebelum memasuki shaf
dengan orang yang yang melakukan ruku di dalam shaf, karena orang yang tidak melakukan ruku dalam
shaf dianggap tidak dihitung rakaatnya. Hal ini disamakan dengan orang yang melakukan ruku padahal
imam sudah sujud. Menurut sebagian para sahabt hadits ini shahih.

Ketiga, seandainya dia tahu bahwa hal itu dilarang, maka shalatnya dianggap tidak sah, jika tidak
mengetahui, maka shalatnya dianggap sah berdasarkan sikap Abu Bakar, dan sabda Nabi saw, Kamu
tidak perlu mengulanginya. Larangan itu apabila adanya kerusakan, akan tetapi hal itu dihilangkan
kepada orang yang bodoh, dengan tidak diperintahkan mengulanginya, dan keadaan semacam inilah
yang dialami Abu Bakar.

Adapun kisah Ibnu Abbas dan Jabir dalam meninggalkan urusan keduanya dengan memulai shalat, dan
keduanya takbiratul ihram secara terpisah. Hal ini pertama-tama dilakukan bukan ketika keduanya telah
melakukan shalat, tetapi keduanya berdiri disamping Rasulullah saw, kemudian Rasulullah saw
memindahkan keduanya di saat permulaan berdiri keduanya. Seandainya diperkirakan bahwa takbiratul
ihram yang dilakukan keduanya seperti itu, maka orang yang melakukan takbiratul ihram sendirian,
takbiratul ihram dianggap sah, dan dimasukkan dalam shalat, akan tetapi dia melakukannya setelah
ruku, sehingga yang dihitungan adalah rukunya itu sendiri. Akan tetapi yang satu lagi tidak seperti itu,
orang lain yang berdiri bersamanya itu melakukan takbiratul ihramnya sebelum ruku , sehingga
shalatnya dianggap sah. Seandainya kita menganggap bahwa takbiratul ihramnya dua makmum itu harus
serempak dalam memulai takbir dan mengakhirinya, maa seseorang tidak akan melakukan takbiratul
ihram, sehingga harus sepakat terlebih dahulu dengan orang ada disampingnya. Hal ini merupakan
perbuatan yang dirasakan sangat berat dan menyusahkan. Dengan demikian maka tidak ada
seorangpun yang menganggapnya. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

10. Dalil kesepuluh : hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab sunannya,dan Imam Ahmad
dalam kitab Musnadnya, dari haditsnya Abi Darda, dia berkata, Rasulullah saw bersabda, Tiada
terdapat tiga orang berkumpul di kampung yang tidak dikumandangkan adzan dan tidak didirikan shalat
berjamaah, melainkan mereka telah dijajah oleh Syaithan, maka kerjakanlah olehmu shalat berjamaah,
karena serigala itu hanya dapat menerkam binatang (kambing) yang terpisah jauh dari kawan-
kawannya. )Abu Dawud Bab Shalat 574, Imam Ahmad 5/196, dan An-Nasai Bab Imamah 2/106-
107).

Sisi keadilan (argumentasi) dari hadits tersebut: sesungguhnya Rasulullah saw mengabarkan tentang
menguasainya syaithan kepada mereka dengan sebab meninggalkan shalat berjamaah yang ditandai
dengan adzan dan iqamah. Seandainya shalat berjamaah itu dianggap sunat sehingga seseorang boleh
memilih antara mengerjakan atau meninggalkannya, maka tentu syaithan tidak akan menguasai orang
yang meninggalkan shalat berjamaah, dan yang meninggalkan tanda-tanda shalat berjamaah tersebut.

11. Dalil kesebelas : hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan beliau menganggap hadits ini
shahih, dari haditsnya Abi Syatsail Maharibi, dia berkata, Kami duduk di masjid, kemudian seorang
muadzin mengumandangkan adzan. Seorang laki-laki berdiri dan berjalan keluar dari masjid, kemudian
pandangan Abu Hurairah mengikutinya sampai orang tersebut keluar dari masjid. Abu Hurairah berkata,
Orang itu benar-benar telah berdosa kepada Abal Qasim (Rasulullah saw). Dalam satu riwayat
dikatakan, Saya mendengar Abu Hurairah berkata ketika dia melihat seseorang yang dengan tergesa-
gesa keluar dari masjid setelah dikumandangkan adzan: Orang itu benar-benar telah berdosa kepada
Abal Qasim (Rasulullah saw). Sebagaimana kedua hadits ini telah dikemukakan dalam pembahasan
hukum shalat berjamaah.

Sisi keadilan (argumentasi) dari hadits ini adalah sesungguhnya Abu Hurairah telah mengkatagorikan
orang tersebut berdosa kepada Rasulullah saw disebabkan dia keluar dari masjid setelah
dikumandangkan adzan, karena dia meninggalkan shalat berjamaah. Barangsiapa yang mengatakan
bahwa shalat berjamaah itu sunat, maka Abu Hurairah tidak akan menganggap orang yang keluar dari
masjid setelah dikumandangkan adzan dan dia shalat sendiri itu telah berdosa kepada Allah dan Rasul-
Nya. Ibnu Mundzir telah berhujah (berargumentasi) dengan hadits ini dalam kitabnya. Ketika dia
membahas kewajiban shalat berjamaah dan dia berkata, Seandainya seseorang itu bebas memilih
dalam meninggalkan shalat berjamaah atau melakukannya, maka Abu Hurairah tidak akan
menganggapnya telah berdosa orang yang meninggalkan sesuatu yang tidak diwajibkan kepadanya
untuk melakukannya. Dan orang yang mengatakan bahwa shalat berjamaah itu sunat, jika dia mau
lakukan dan jika dia tidak mau tinggalkan, maka seseorang akan diperbolehkan keluar dari masjid
setelah muadzin mengumandangkan adzan dan iqamah, bahkan dia akan diperbolehkan duduk tanpa
melakukan shalat berjamaah dengan imam dan jamaah yang lainnya, maka apabila mereka mendirikan
shalat, dia boleh shalat sendirian. Namun seandainya Rasulullah saw dan para sahabatnya melihat orang
yang melakukan perbuatan semacam ini, maka beliau dan para sahabatnya benar-benar akan
melarangnya. Bahkan beliau telah mengingkari (melarang) perbuatan yang masih di bawah perbuatan
itu, yakni beliau melarang seseorang yang tidak mau melakukan shalat berjamaah, karena sudah
merasa cukup dengan shalat yang dia lakukan ketika dalam perjalanan, Beliau bersabda, Apa yang
menghalangi kamu shalat bersama kami? bukankah kamu seorang muslim?. Sebagaimana hadits ini
telah dikemukakan sebelumnya.

Rasulullah saw telah memerintahkan shalat berjamaah kepada orang yang telah melakukan shalat
sendirian, kemudian dia datang ke masjid yang sedang dilakukan shalat berjamaah. Beliau bersabda,
Jika kamu berdua telah melakukan shalat dalam perjalanan kamu berdua, kemudian kamu berdua
mendatangi suatu masjid yang di dalamnya sedang dilakukan shalat berjamaah, maka shalatlah kamu
berdua beserta jamaah yang lainnya, karena shalat tersebut bagi kamu menjadi shalat sunnat. (At-
Turmudzi Bab Shalat 219, beliau menganggap hadits ini hasan shahih, An-Nasai Bab Imamah 2/112-
113 dan Imam Ahmad 4/160-161).

12. Dalil keduabelas : Ijma para sahabat r.a. dan kami akan mengungkapkan tentang nash kesepakatan
tersebut, Yaitu:

Sebagaimana perkataan Ibnu Masud telah kami kemukakan, kami berpendapat bahwa tidak ada yang
menolak perkataan Ibnu Masud itu selain orang munafik yang benar-benar telah diketahui
kemunafikannya.

Imam Ahmad berkata, Waki telah menceritakan kepada kami, Sulaiman bin Al-Mughirah telah
menceritakan kepada kami, dari Abu Mus Al-Hilali, dari Ibnu Masud, dia berkata, Barangsiapa yang
mendengar panggilan shalat (adzan), kemudian dia tidak memenuhi pangilan tersebut itu tanpa alasan
syari, maka tidak ada shalat baginya. )Ibnu Hazm, dalam Al-Mahali 4/195(.

Imam Ahmad berkata, Waki telah menceritakan kepada kami, Masar telah menceritakan kepada kami,
dari Abi Al-Hushain, dari Ai Burdah, dari Abi Musa Al-Asyari, dia berkata, Barangsiapa yang mendengar
panggilan shalat (adzan), kemudian dia tidak memenuhi panggilan tersebut, maka tidak ada shalat
baginya. (Hadits riwayat Al-Hakim 1/246, dia telah menshahihkan hadits ini, Imam Adz-Dzahabi dan
Imam Baihaqi telah menyepakatinya sebagai hadits marfu )sanadnya sampai kepada Nabi saw( dan
mauquf)sanadnya sampai kepada sahabat( 3/174 dan lihat kitab Majmuuz Zawaid 2/32(.

Imam Ahmad berkata, Waki telah menceritakan kepada kami dari Sufyan dari Abi Hayan at-Taimi dari
bapaknya dari Ali r.a, dia berkata, Tidak ada shalat bagi orang yang bertetangga dengan masjid, kecuali
di masjid. Dikatakan, Siapakah yang dimaksud dengan orang yang bertetangga dengan masjid itu? Ali
menjawab, Orang yang mendengar panggilan shalat (adzan). (Hadits Riwayat Abdur Razzaq 1/497,
Baihaqi 3/57 dan 174, dan Al-Hafizh telah mendhaifkan hadits tersebut dalam kitab Takhlishul Habir
2/32).

Said bin Manshur berkata, Hasyim telah menceritakan kepada kami, Manshur telah mengabarkan
kepada kami dari Hasan bin Ali, dia berkata, Barangsiapa yang mendengar panggilan shalat (adzan),
kemudian dia tidak mendatanginya, maka shalatnya tidak akan melewati kepalanya (tidak akan diterima),
kecuali bagi orang yang mempunyai alasan syari.

Abdur Razzaq berkata, dari Anas, dari Abi Ishaq, dari Harits, dari Ali, dia berkata, Barangsiapa yang
mendengar panggilan shalat (adzan), dan dia termasuk orang yang bertetangga dengan masjid serta
dalam keadaan sehat, tidak ada alasan syari, maka tidak ada shalat baginya (kecuali di masjid). (Abdur
Razzaq 11/498, Ad-Daaruquthni 1/420 dan Al-Baihaqi 3/57).

Waki berkata, Dari Abdir Rahman bin Hushain, dari Abi Najih Al Maki, dari Abi Hurairah, dia berkata,
Dua telinga keturunan Adam yang dimasuki peluru yang menyakitkan lebih baik daripada orang yang
mendengar panggilan adzan kemudian dia tidak memenuhi panggilan tersebut. (Al-Mahali 4/195).

Imam Ahmad berkata, Waki telah menceritakan kepada kami dari Sufyan dari Manshur dari Adi bin
Tsabit dari Aisyah Ummil Muminin r.a. dia berkata, Barangsiapa yang mendengar panggilan shalat
(adzan) kemudian dia tidak memenuhi panggilan tersebut tanpa adanya alasan syari, maka dia tidak
menemukan kebaikan dan dia tidak termasuk orang yang menghendaki kebaikan tersebut. (Abdur
Razzaq 1/498, dan Al-Baihaqi 3/57).

Waki berkata, Syubah telah menceritakan kepada kami, dari Adi bin Tsabit, dari Said bin Jabir, dari
Ibnu Abbas, dia berkata, Barangsiapa yang mendengar panggilan shalat (adzan), kemudian dia tidak
memenuhi panggilan tersebut tanpa adanya alasan syari, maka tidak ada shalat baginya. (Ibnu Majah
793, Ibnu Hibban 2064, Ad-Daruquthni 1/420, dan Al-Baihaqi 3/57).

Apakah Berjamaah Merupakan Syarat Sah Shalat atau Tidak

Apakah berjamaah itu merupakan syarat sah shalat atau tidak? Dalam menanggapi pertanyaan tesebut,
terdapat dua pandangan yang tepat:

Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa berjamaah itu hukumnya fardhu )kewajiban(, dan berdosa
meninggalkannya. Dan beban itu baru akan terlepas dengan melakukan shalat berjamaah itu sendiri.
Pendapat ini banyak dianut oleh para ulama mutaakhirin dan dari para pengikut Imam Ahmad. Dalam
masalah ini Imam Ahmad bertitik tolak pada pendapat Imam Hanbal yang mengatakan bahwa,
Memenuhi panggilan shalat itu hukumnya fardhu. Seandainya ada seseorang yang mengatakan bahwa,
Hal itu hukumnya sunnat, dan saya melakukannya di rumahku, seperti shalat witir dan lain-lain. Maka
hal ini bertentangan dengan hadits, dimana melakukan shalat witir dan shalat sunnat lainnya hukumnya
boleh.

Kedua, pendapat yang dikemukakan oleh Abul Hasan Az-Zafarani di dalam kitab Al-Iqna, yang
mengatakan bahwa, Berjamaah itu merupakan syarat sahnya shalat, maka tidak sah shalatnya orang
yang melakukannya sendirian. Sebagimana telah diceritakan Al Qadhi dari sebagian para sahabat. Dan
hal ini telah dipilih oleh Abul Wafa bin Aqil dan Abul Hasan At-Tamimi. Dan pendapat tersebut adalah
pendapatnya Daud dan para pengikutnya. Ibnu Hazam berkata, Pendapat tersebut adalah pendapat
seluruh pengikut aliran kami. )Al Mahali 4/196(

Dan kami akan mengungkap argumentasi kedua pendapat tersebut:

Orang-orang yang mensyaratkan berjamaah dalam shalat berkata, Seluruh dalil yang telah kami
sebutkan yang menerangkan tentang kewajiban bejamaah, menunjukkan bahwa berjamaah itu
merupakan syarat sah dalam shalat. Karena apabila berjamaah merupakan kewajiban, maka
meninggalkannya bagi para mukallaf (akil baligh) menyebabkan dia masih dalam ikatan kewajiban
tersebut (harus melakukannya).

Mereka berkata, Seandainya shalat itu dianggap sah tanpa berjamaah, maka para sahabat Rasulullah
saw tidak akan berkata, Tidak ada shalat baginya )yang tidak berjamaah(. Dan seandainya shalat itu
sah tanpa berjamaah, maka Rasulullah saw tidak akan bersabda, Barangsiapa yang mendengar seruan
adzan, kemudian dia tidak memenuhi panggilan tersebut, maka shalat yang dia lakukan tidak akan
diterima. Ketika diterimanya shalat itu dikaitkan dengan berjamaah, maka hal itu menunjukkan kepada
syarat sahnya shalat. Sama halnya dengan ketika diterimanya wudhu itu dikaitkan dengan keharusan
bersuci dari hadats, maka hal itu secara otomatis menjadi syarat sahnya wudhu.

Mereka berkata, Dan tidak diterimanya itu, baik karena tidak dilakukannya satu rukun atau satu syarat,
tidak secara otomatis menolak diterimanya shalat dari seorang hamba yang sedang melarikan diri. Dan
shalatnya peminum khamar (minuman keras) tidak diterima selama empat puluh hari, terhalangnya
diterimanya shalat pada orang tersebut disebabkan perbuatannya yang melakukan hal yang diharamkan,
yang menyertai shalat, maka menjadi batal pahala shalatnya.

Mereka berkata, Seandainya sah shalatnya orang yang munfarid )shalat sendiri(, tentu Ibnu Abbas tidak
akan berkata, Sesungguhnya dia )orang yang melakukan shalat sendirian( akan masuk neraka.
Mereka berkata, Seandainya sah shalat orang yang melakukan shalat sendiri, tentu berjamaah itu tidak
akan diwajibkan. Dan hanya sah ibadah seorang hamba itu apabila melakukan hala-hal yang
diperintahkan kepadanya. Dan dalil-dalil yang mewajibkan tentang itu secara lengkap telah kami
kemukakan.

Adapun kelompok yang menolak pendapat tersebut di atas, terbagi ke dalam tiga pendapat, yaitu:

1. Pendapat yang mengatakan bahwa berjamaah itu hukumnya sunnat. Jika berkehendak, kerjakan, dan
jika tidak berkehendak, tinggalkan.

2. Pendapat yang mengatakan bahwa berjamaah itu hukumnya fardhu kifayah. Jika ada suatu kelompok
yang mengerjakannya, maka gugurlah kewajiban tersebut dari yang lainnya.

3. Pendapat yang mengatakan bahwa berjamaah itu fardhu ain. Namun demikian masih dianggap sah
shalat yang tidak dilakukan secara berjamaah.

Dalam shahih Bukhari dan Muslim telah diungkapkan dari haditsnya Ibnu Umar, dia berkata, Rasulullah
saw telah bersabda,Shalat berjamaah itu lebih utama dari shalat sendiri dengan keutamaan dua puluh
tujuh derajat. )Al Bukhari Al-Adzan 645, dan Muslim Al-Masajid 650(.

Dan dalam shahih Bukhari dan Muslim telah diungkapkan dari Abi Hurairah dari Nabi saw, Shalat
seseorang yang dilakukan dengan berjamaah dilipatgandakan dari shalat sendirian di rumah atau di
pasar dengan dua puluh lima kali lipat. Yang demikian itu karena jika seseorang menyempurnak wudhu,
kemudian dia keluar menuju masjid untuk melakukan shalat, tiada dia melangkahkan kaki selangkah
melainkan terangkat baginya satu derajat dan dihapus darinya satu dosa, dan bila ia shalat, selalu
didoakan oleh para malakaikat selamat dia berada di tempat shalatnya itu tidak berhadats, Malaikat
berdoaa, Allahumma sholli alaihi, Allahummar hamhu, Ya Allah limpahkan rahmat kepadanya, Ya Allah
kasihinilah dia. Dan dia tetap dianggap shalat selama dia menantikan shalat. (Al-Bukhari Al-Adzan 647
dan Muslim Al-Masajid 649(.

Mereka berkata, Seandainya shalat sendiri itu dianggap batal, maka tidak akan ada perbandingan
keutamaan antara shalat sendiri dengan shalat berjamaah, karena tidak logis membandingkan antara
yang sah dengan yang batal.

Mereka berkata, Dalam shahih Muslim dari haditsnya Utsman bin Affan, sesungguhnya Nabi saw telah
bersabda, Barangsiapa yang melakukan shalat Isya dengan berjamaah, maka seakan-akan dia
melakukan shalat setengah malam. Dan barangsiapa yang shalat Subuh berjamaah, maka seakan-akan
dia shalat sat malam penuh.)Muslim Al-Masajid wa Mawadhi as-Shalah 656(.

Mereka berkata, Maka telah diserupakan pelaksanaan shalat berjamaah dengan sesuatu )shalat( yang
bukan wajib, dan hukum yang ada dalam perbuatan yang diserupakan seperti hukum yang ada dalam
perbuatan yang diserupai, atau tanpa adanya penyerupan hukum dengan tujuan sebagai penguat
)takid(.

Mereka berkata, Yazid bin Al-Aswad, dia berkata, Saya hadir bersama Nabi Saw dalam suatu
keperluan, kemudian saya shalat Subuh bersama beliau di masjid Khaif (di Mina), setelah selesai shalat
beliau berpaling ke belakang, dan beliau melihat ada dua orang yang tidak melakukan shalat, di belakang
suatu kaum, kemudian beliau memanggil keduanya, dan keduanya menghadap beliau dalam keadaan
gemetar daging rusuknya. Beliu bersabda kepada mereka, Apa yang menghalangi kamu berdua shalat
bersama kami? Mereka menjawab, Kami telah shalat di tempat kami. Beliau bersabda, Janganlah
kamu berbuat demikian. Apabila kamu telah shalat di tempat kamu, kemudian kamu bertemu imam yang
belum shalat, maka hendaklah amu shalat bersamanya, karena yang demikian itu jadi (shalat) sunnat
buatmu. (An-Nasai Al-Imamah 2/112-123, Abu Dawud Al-Shalat 575, dan At-Turmudzi Shalat 219,
dan beliau menganggap hadits tersebut).
Mereka berkata, Seandainya tidak sah shalat yang pertama (shalat dua orang tersebut di atas, yang
dilakukan di tempat tinggalnya(, tentu shalat yang kedua tidak akan dianggap sebagai shalat sunnat.

Dari Mahjan bin Al-Adra, dia berkata, Saya datang kepada Rasulullah saw dalam waktu shalat,
kemudian beliau shalat dan saya tidak shalat. Beliau bersabda kepadaku, Apakah kamu tidak shalat?
Saya menjawab, Ya Rasulullah, say telah shalat dalam perjalanan, setelah itu saya datang kepadamu.
Beliau bersabda, Apabila kamu datang, maka shalatlah kamu beserta mereka dan jadikanlah shalatmu
itu sebagai shalat sunnat. (H.R Imam Ahmad). Sebagaimana hadits tersebut telah dikemukakan
sebelumnya.

Dalam satu pokok bahasan telah dikemukakan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Abi Dzar,
dan Abdullah bin Umar. Dalam hadits Ibnu Umar dikatakan, Dari Sulaiman seorang budak yang
dimerdekakan oleh Maimunah, dia berkata, Saya mendatangi Ibnu Umar yang sedang duduk di ubin,
sedangkan orang-orang yang sedang melakukan shalat di masjid. Saya berkata, Apa yang menghalangi
engkau shalat bersama orang-orang? Dia menjawab, Sesungguhnya saya telah mendengar Rasulullah
saw bersabda, Janganlah kalian shalat dua kali dalam satu hari untuk satu shalat. )Abu Dawud Al-
Shalat 579, An-Nasai Al-Imamah 2/114, Ahmad 2/19 dan Ahmad Syakir telah menshahihkan hadits
tersebut 4689. Pengertian yang dimaksud: Mengulangi satu shalat dengan dua kali berjamaah(.

Kelompok yang mewajibkan berjamaah berkata, Keutamaan itu tidak mengharuskan lepasnya
tanggungan (kewajiban) dari segala segi, baik bersifat mutlak atau bersifat membatasi. Karena
keutamaan itu merupakan hasil perbandingan antara yang diunggulkan dengan yang diungguli dari
segala segi. Seperti firman Allah, Penghuni-penghuni surga pada hari
itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya. (Al-Furqan: 24). Dan firman Allah
taala, Katakanlah, Apa (adzab) yang demikian itukah yang baik atau surga yang
kekal (Al-Furqan: 15). Dan masih banyak firman Allah yang semacam itu.

Keberadaan shalat sendiri itu merupakan satu bagian dari dua puluh tujuh bagian dari shalat secara
keseluruhan, yang tidak bisa menggugurkan kefardhuan shalat berjamaah. Dan keberadaan shalat
berjamaah yang dianggap perbuatan sunnat, hanya merupakan satu segi dari beberapa segi yang ada
pada shalat berjamaah. Tujuannya adalah melaksanakan kewajiban keduanya dan diantara keduanya itu
ada keutamaan yang dikandung oleh keduanya. Dua orang laki-laki yang berdiri dalam shaf (barisan
shalat) yang sama dan diantara shalat keduanya itu terdapat yang lebih utama, laksana antara langit dan
bumi.

Dalam beberapa kitab Sunan diungkapkan dari Rasulullah saw, Sesungguhnya seseorang yang
melakukan shalat, maka pahalanya tidak ditulis baginya kecuali setengahnya, sepertiganya,
seperempatnya, sepertlimanya, sehingga mencapai sepersepuluhnya. )Al-Musnad 4/319 dan 321, Abu
Dawud Al-Shalat 796, An-Nasai dalam kitab Al-Kubra dari Tuhfatul Asyraf 10356 dan Ibnu Hibban Al-
Shalat 1889(.

Jika kita menganalisa dua orang yang sama-sama melakukan shalat fardhu, dimana shalat salah
seorang di antara keduanya itu lebih utama dari shalat yang lainnya dengan perbandingan sepuluh
pahala, padahal keduanya sama-sama melakukan shalat fardhu. Begitu juga perumpamaan shalat
sendiri dengan shalat berjamaah.

Lebih jauh Rasulullah saw bersabda, Tidak ada bagian (pahala) dari shalatmu, kecuali apa yang engkau
pikirkan (mengerti) dari shalat itu, apabila seseorang shalat dan dia tidak mengerti dari shalatnya itu,
maka dia hanya mendapatkan satu bagian, dan pahala baginya sesuai dengan ukuran yang satu bagian
itu, walaupun dia terlepas dari beban (kewajiban). Begitu juga dengan shalat yang dilakukan sendirian,
baginya hanya mendapat satu bagian (pahala), walaupun dia terlepas dari beban (kewajiban) shalat.

Perumpamaan shalat tersebut, oleh pembuat syara )Allah( tidak dinamakan dengan sah. Hal itu hanya
diistilahkan oleh para fuqaha (ahli hukum Islam). Karena keabsahan yang mutlak itu adalah terciptanya
pengaruh dari suatu perbuatan dan tercapainya apa yang dikehendaki. Hal ini telah meniadakan
pengaruhnya yang sangat besar dan tidak tercapainya apa yang dikehendaki secara jelas. Dengan
demikian maka hal itu dianggap jauh sekali dari kebenaran dan kesempurnaan, yaitu dengan ketentuan
terhindarnya dari siksaan, kalaupun perbuatan itu menghasilkan sesuatu berupa pahala, namun hanya
satu bagian. Hal ini semata-mata ucapan orang-orang yang tidak mau menjadikan berjamaah itu sebagai
syarat sah shalat.

Adapun orang-orang yang menjadikan berjamaah itu sebagai syarat sah shalat dan tidak sah shalatnya
seseorang yang tidak berjamaah. Maka jawabannya adalah keutamaan itu ada apabila yang
dibandingkan itu antara dua shalat yang sah. Dan shalat seseorang yagn dilakukan sendirian, hal itu baru
dianggap sah apabila adanya alasan-alasan syari. Adapun apabila tidak ada alasan syari maka
shalatnya dianggap tidak sah. Sebagaimana telah dikatakan oleh para sahabat Rasulullah saw.

Seandainya mereka menganggapi pernyataan tersebut di atas, mereka akn menampakkan kembali
pertentangannya, dengan mengatakan bahwa, Sesungguhnya orang yang terkena alasan syari, tetap
baginya mendapatkan pahala yang sempurna. Mereka akan menjawab dengan mengatakan,
Sesungguhnya dia itu tidak berhak mendapatkan pahala yang sempurna dari segi perbuatannya kecuali
hanya mendapat satu bagian pahala. Adapun kesempurnaan pahala itu bukan dilihat dari segi
perbuatannya, tetapi dilihat dari segi niatnya. Jika dia terbiasa shalat berjamaah, kemudian dia sakit atau
dipenjara atau sedang berpergian dan dia tidak bisa melakukan berjamaah karena adanya alasan syari
tersebut. Dengan demikian maka sempurnalah pahala baginya. Padahal shalat berjamaah itu lebih
utama dari shalatnya itu apabila dilihat dari segi kedua perbuatan itu.

Mereka berkata, Hal ini sudah pasti dan tidak bisa ditawar-tawar lagi, karena nash-nash hadits shahih
sangat jelas sekali, bahwa tidak ada shalat bagi orang yang mendengar seruan adzan, kemudian dia
shalat sendirian. Maka yang dimaksud dengan baginya mendapat satu bagian pahala itu bagi orang yag
melakukan shalat sendiri karena adanya alasan syari?

Mereka berkata, Allah taala mengutamakan orang yang mampu melaksanakan dari orang yang tidak
mampu, walaupun Allah tidak sampai menyiksanya. Hal itu semata-mata karena Allah memberikan
keutamaan itu kepada orang yang dikehendaki-Nya.

Dalam shahih Bukhari dari Imran bin Hushain, dia berkata, Saya bertanya kepada Rasulullah saw
tentang shalat seseorang yang dilakukan dambil duduk. Beliau bersabda, Barangsiapa yang melakukan
shalat sambil berdiri, maka itu lebih utama, dan barangsiapa yang melakukannya sambil dudu, maka
baginya setengah dari pahala orang yang berdiri, dan barangsiapa yang melakukannya sambil tiduran,
maka baginya setengah pahala dari pahala orang yang duduk. )Bukhari Mengqoshor Shalat 1115(.

Hal ini ditujukan bagi orang-orang yang melakukannya karena adanya alasan-alasan syari. Jika tidak
ada alasan syari, maka ia tidak akan mendapatkan pahala sedikitpun. Apabila shalat yang dilakukannya
shalat sunnat, maka dia tidak akan mendapatkan pahala sunnat. Karena tidak pernah satu hari pun
dalam setahun Rasulullah saw dan para sahabat Nabi saw yang nota bene senang melakukan berbagai
macam ibadah dan kebaikan, tidak pernah melakukan hal itu. Oleh karena itu mayoritas ulama melarang
sambil tiduran kecuali bagi orang yang tidak mampu melakukannya sambil duduk. Sebagaimana
Rasulullah saw telah bersabda kepada Imran, Shalatlah duduk, jika kamu tidak mampu, maka
lakukanlah sambil tiduran. )Bukhari 1117(. Imran bin Hushain ini adalah perawi kedua hadits tersebut
dan dia juga yang menanyakan kedua permasalahan tersebut kepada Nabi saw.

Adapun argumentasi kamu yang bertitik tolak dari haditsnya Utsman bin Affan, Barangsiapa yang shalat
Isya dengan berjamaah, maka seakan-akan dia melakukan shalat setengah malam. Termasuk
argumentasi yang cacat. Dan nampak sekali dalil yang bertentangan bagi kamu seperti dalam gambaran
sabda Rasulullah saw, Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dan ditambah dengan enam
hari dari bulan Syawal, maka seakan-akan ia berpuasa setahun penuh. )Muslim Puasa 1164, At-
Turmudzi Puasa 759, Ibnu Hibban Puasa 1716 dan Abu Dawud Puasa 2433 dan lafadz hadits
tersebut di atas adalah lafadznya Abu Dawud). Puasa setahun penuh itu bukan wajib. Telah diserupakan
perbuatan (puasa setahun) itu dengan puasa yang wajib. Bahkan yang benar itu adalah sesungguhnya
berpuasa setahun penuh itu hukumnya adalah makruh. Dengan demikian telah diserupakan puasa yang
makruh (puasa setahun penuh) dengan puasa yang wajib (puasa Ramadhan). Maka tidak dilarang
menyerupakan sesuatu yang wajib dengan sesuatu yang disunnatkan dari segi pelipatgandaan pahala
terhadap sesuatu yang wajib yang sedikit sehingga pahala dari perbuatan wajib yang sedikit itu mencapai
(sama) dengan pahala perbuatan sunnat yang banyak.

Begitu juga argumentasimu yan bertitik tolak kepada haditsnya Yazid bin Al-Aswad, Mahjan bin Al-Adra,
Abi Dzar dan Ubadah. Sebenarnya tidak ada satupun diantara mereka yang mengemukakan bahwa,
Sesungguhnya seseorang telah shalat sendirian, padahal dia mampu melakukan shalat berjamaah.
Seandainya hal itu dikabarkan kepada Nabi saw, maka beliau tidak akan menetapkannya, dan beliau
akan mengingkarinya. Begitu juga Ibnu Umar tidak pernah mengatakan, Saya shalat sendiri, padahal
saya mampu melakukan shalat berjamah.

Dapat kami katakan bahwa Ibnu Umar tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah di saat dia bisa
melakukannya. Dan kami katakan sebagaimana para sahabat Rasulullah saw berkata, Sesungguhnya
tidak ada shalat baginya. Seandainya mereka itu melakukan hal itu, maka harus dilihat dari dua segi.
Pertama, sesungguhnya mereka melakukan shalat berjamaah dengan jamaah lain, di luar jamaah yang
biasa mereka lakukan. Atau hal itu mereka lakukan karena adanya alasan-alasan syari pada saat
datangnya waktu shalat. Barangsiapa yang melakukan shalat sendirian karena ada alasan syari
kemudian alasan syari itu hilang setelah selesai melakukannya (shalat), maka dia tidak perlu mengulangi
shalatnya. Sebagaimana tidak perlu mengulang shalatnya kalau seseorang shalat dan bersuci
)berwudhu(-nya dengan tayamum, atau seseorang yang shalat sambil duduk karena sakit, kemudian
alasan-alasan syari tersebut hilang setelah selesai melakukan shalatnya. Begitu juga tidak perlu
mengulang shalat orang yang melakukan shalat dalam keadaan telanjang dan setelah selesai shalat dia
menemukan penutup aurat.

Mereka berkata, Hukum-hukum syara )agama( telah menunjukan bahwa shalat berjamaah itu
hukumnya fardhu bagi setiap orang. Hal ini dapat kita lihat dari beberapa segi:

Pertama, sesungguhnya menjama shalat karena alasan tujuan hukumnya jaiz )diperbolehkan(, hal ini
semata-mata untuk menjaga berjamaah. Jika bukan ditujukan untuk menjaga berjamaah, maka sangat
mungkin sekali setiap orang yang ada di rumah melakukan shalat dengan sendiri-sendiri. Seandainya
shalat berjamaah itu hukumnya sunnat, maka tidak diperbolehkan meninggalkan yang wajib, dan
mendahulukan shalat )jama taqdim( hanya karena pertimbangan semata-mata.

Kedua, sesungguhnya orang yang sakit yang tidak mampu berdiri dan dalam shalat berjamaah dan dia
mampu berdiri dalam shalat sendirian, maka shalatlah dia dengan berjamaah walaupun tidak sambil
berdiri. Mustahil sekali meninggalkan satu rukun shalat, hanya karena pertimbangan sunnat semata-
mata.

Ketiga, sesungguhnya shalat berjamaah dalam kondisi ketakukan dilakukan dengan cara mafaraqah
(berpisah dari shalatnya) imam dan mereka (si makmum) melakukan beberapa hal (perbuatan) dalam
shalat tersebut dan pada pertengahan shalat si makmum meninggalkan imamnya dalam keadaan sendiri
(sedangkan si makmum menyelesaikan shalatnya). Hal ini dilakukan semata-mata supaya terlaksananya
shalat berjamaah. Padahal sangat memungkinkan sekali seandainya mereka melakukan shalat secara
sendiri-sendiri tanpa harus melakukan berjamaah. Mustahil sekali melakukan hal ini dan meninggalkan
perbuatan yang lainnya hanya semata-mata pertimbangan sunnat semata yang nota bene perbuatan
tersebut terserah mau dikerjakan atau tidak. Dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk.
Apakah Masjid ditentukan untuk melaksanakan shalat berjamaah atau tidak?

Apakah shalat berjamaah itu boleh dilakukan di rumahnya atau mesti di masjid? Dalam menjawab
permasalahan tersebut pada dasarnya ada dua pendapat yang dikemukakan oleh para ulama, yaitu:

pertama, shalat berjamaah itu boleh dilakukan di rumah. Pendapat ini dianut oleh madzhab Hanafi dan
madzhab Maliki dan pendapat ini pun merupakan salah satu pendapat yang dianut oleh pengikut
madzhab Syafii.

kedua, shalat berjamaah itu tidak boleh dilakukan di rumah kecuali ada alasan syari.

Adapun pendapat yang ketiga hanya penambah dari pendapat yang pertama yang khusus dianut oleh
pengikut madzhab Syafii. Menurut pendapat yang ketiga adalah shalat berjamaah yang dilakukan di
masjid itu hukumnya fardhu kifayah.

Pendapat yang pertama didasarkan kepada hadits yang berkaitan dengan, Dua orang laki-laki yang
melakukan shalat dalam perjalanan. dimana Nabi saw menganggap shalat berjamaah )yakni shalat
kedua orang setelah selesai melakukan shalat sendirian) sebagai shalat sunnat bagi kedua orang
tersebut, seandainya keduanya ikut serta pada waktu itu mengerjakannya di masjid bersama-sama
dengan Nabi saw. Rasulullah saw tidak mengingkari keabsahan shalat yang dilakukan oleh keduanya
dalam perjalanan. Begitu juga yang dikatakan oleh hadits Mahjan bin Al-Adra dan hadist Abdullah bin
Umar, sebagaimana telah dikemukakan dalam pembahasan sebelumnya.

Dalam shahih Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik, dia berkata, Nabi saw adalah sebaik-baiknya
manusia dari segi akhlaknya, terkadang ketika datang waktu shalat beliau masih berada di rumah kami.,
kemudian beliau memerintahkan untuk menghamparkan permadan, menyapu bawahnya dengan
mengepelnya, kemudian beliau berdiri dan kami berdiri di belakangnya dan beliau shalat bersama kami.
)Bukhari Al-Shalat 380 dan Muslim Al-Masajid 659(.

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik, dia berkata, Rasulullah saw jatuh dari tempat
tidur, maka robek sikut tangannya yang sebelah kanan, kemudian kami masuk ke rumahnya dengan
tujuan menengok beliau, tidak lama kemudian datang waktu shalat, maka beliau shalat sambil duduk.
)Bukhari Al-Adzan 689 dan Muslim Al-Shalat 411(.

Dan masih dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abi Dzar, dia berkata, Saya bertanya kepada Nabi
saw, masjid apa yang pertama kali dibangun di muka bumi ini? Beliau menjawab, Masjidil Haram,
kemudian Masjidil Aqsa, kemudian tempat dimana saja kamu mendapati waktu shalat, maka shalatlah
kamu, karena tempat itu menjadi masjid. )Bukhari Bab Hadits-hadist para Nabi 3425 dan Muslim Al-
Shalat 520(.

Dalam satu hadits shahih dari Nabi saw, beliau bersabda, Seluruh permukaan bumi yang bersih bagiku
diperbolehkan untuk dijadikan sebagai masjid dan alat bersuci. )Bukhari At-Tayammum 335 dan
Muslim Al-Masajid 521(.

Pendapat kedua didasarkan kepada beberapa hadits yang menunjukan wajibnya shalat berjamaah
kaerna sesungguhnya perintah mendatangi masjid dalam hadits-hadits tersebut jelas sekali.

Dalam Musnad Imam Ahmad, dari Ibnu Ummi Maktum, dia berkata, Rasulullah saw datang ke suatu
masjid, beliau melihat kaum sedikit sekali, kemudian beliau bersabda, Sesungguhnya aku ingin sekali
menyuruh sesorang untuk mengimami orang-orang, kemudian aku pergi keluar dan aku tidak akan
membiarkan orang-orang yang tinggal dalam rumahnya dan tidak datang shalat, kecuali aku akan
membakar rumah mereka dan sekalian dengan mereka. Dan dalam lafadz hadist Abu Dawud dikatakan,
Kemudian aku mendatangi suatu kaum yang melakukan shalat-shalat di rumah-rumah mereka tanpa
alasan (syari), maka akan aku bakar mereka dan rumah-rumah mereka. Ibnu Ummi Maktum seorang
laki-laki buta berkata kepada Rasulullah saw, Apakah engkau mengizinkan aku untuk shalat di
rumahku? Rasulullah saw menjawab, Aku tidak akan mengizinkanmu. Sebagaimana hadits ini telah
dikemukakan sebelumnya.

Ibnu Masud berkata, Seandainy kamu shalat di rumah-rumahmu sebagaimana yang dilakukan oleh
orang yang meninggalkan shalat (berjamaah) dan melakukannya di rumah, berarti kamu telah
meninggalkan sunnah (kebiasaan) Nabimu dan jika kamu telah meninggalkan sunnah Nabimu, berarti
kamu sesat. Sebagaimana hal ini telah dikemukakan sebelumnya.

Dari Jabir bin Abdullah dia berkata, Nabi saw telah mendatangi suatu kaum yang sedang shalat, beliau
bertanya, Apa yang menyebabkan engkau meninggalkan shalat (berjamaah)? Mereka menjawab, Ada
air (banjir) yang menghalangi kami. Beliau bersabda, Tidak ada shalat bagi orang yang bertetangga
dengan masjid kecuali di masjid. )HR Darul Quthni. Namun hadits ini dianggap dhaif(.

Pengertian tentang hadits tersebut sebagaimana telah dijelaskan dari Ali bin Abi Thalib dan para sahabat
lainnya. Hal ini dapat dilihat kembali dalam dalil kedua belas tentang hukum shalat berjamaah. Adapun
mengenai shah dan tidaknya shalat orang yang meninggalkan shalat )berjamaah di masjid( dan
melakukannya di rumah tanpa alasan syari terdapat dua pendapa, yaitu:

Abul Barakat dalam syarah kitabnya berkata, Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat
)berjamaah di masjid( dan melakukan berjamaahnya di rumah, maka shalatnya tidak sah apabila
dilakukan tanpa alasan syari. Hal ini didasarkan kepada pendapat yang dipilih oleh Ibnu Aqil dalam
pembahasan hukum orang yang meninggalkan shalat berjamaah. Dia telah memilih nahyi )larangan( dan
dia memperkuat pendapatnya itu dengan sabda Rasulullah saw, Tidak ada shalat bagi orang yang
bertetangga dengan masjid kecuali di masjid. Karena berdasarkan sabda Rasulullah saw, Shalat
seseorang yang dilakukan dengan berjamaah dilipatgandakan dari shalatnya yang dilakukan di rumah
dan di pasar dengan dua puluh lima kali lipat. Dia menganggap sabda Rasulullah saw, Tidak ada shalat
bagi orang yang bertetangga dengan masjid kecuali di masjid, menunjukkan tidak adanya
kesempurnaan sama sekali di antara keduana )shalat sendiri dan shalat berjamaah yang dilakukan di
rumah).

Abul Barakat berkata, Riwayat hadits yang pertama yang dipilih oleh teman-teman kami, menganggap
bahwa mendatangi masjid untuk shalat berjamaah itu hukumnya tidak wajib. Pendapat ini menurut saya
jauh sekali dari kebenaran jika melihat segi lahiriah teks hadits, karena shalat )berjamaah( di masjid itu
merupakan syiar dan simbol terbesar agama Islam. Dan meninggalkannya berarti secara total telah
menghancurkan syiar agama tersebut dan menghilangkan pengaruh yang mendasar dari pelaksanaan
shalat yang berdampak pada berbagai tingkah laku. Dengan demikian maka Abdullah bin Masud telah
berkata, Seandainya kamu shalat di rumah-rumahmu, sebagaimana shalatnya orang yang tidak datang
(ke masjid) dan melakukannya di rumahnya, berarti kamu telah meninggalkan sunanh Nabimu dan jika
kamu meninggalkan sunnah Nabimu berarti kamu telah sesat.

Abu Barakat berkata, Sessungguhnya pengertian dari riwayat hadits itu hanya Alla yang Maha Tahu
sesungguhnya mengerjakan shalat di rumah diperbolehkan bagi seseorang jika di masjid sudah ada yang
melaksanakannya, maka shalat yang dilakukan di masjid itu hukumnya fardhu khifayah menurut riwayat
ini. Sedangkan menurut riwayat lain hukumnya fardhu ain.

Abu Barakat berkata, Bertitik tolak pada pendapat tersebut, maka boleh menjama dua shalat
disebabkan oleh hujan deras. Seandainya yang diwajibkan itu hanya berjamaah semata, tanpa harus
mengerjakannya di masjid, maka tidak akan diperbolehkan menjama shalat hanya karena alasan hujan
deras. Karena kebanyakan orang pada umumnya mampu melaksanakan shalat berjamaah di rumahnya
masing-masing. Karena setiap orang pada umumnya memiliki istri, anak, pembantu, teman atau lainnya,
maka sangat memungkinkan sekali untuk melaksanakan shalat berjamaah. Bertitik tolak pada hadits,
maka ketika diperbolehkan menjama shalat, tidak diperbolehkannya meninggalkan persyaratannya yaitu
waktu shalat. Jadi menurut pendapat ini dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa shalat berjamaah itu
hukumnya fardhu, baik fardhu kifayah maupun fardhu ain.

Barangsiapa yang betul-betul ingin mengamalkan hadits, jelaslah baginya bahwa melaksanakan shalat di
masjid itu hukumnya fardhu ain, kecuali apabila ada hal-hal yang membolehkannya untuk meninggalkan
shalat jumat dan shalat berjamaah. Tidak mendatangi masjid tanpa adanya alasan syari, sama
hukumnya dengan meninggalkan berjamaah tanpa adanya alasan syari. Pendapat ini sesuai dengan
semua hadits dan atsar (pendapat para sahabat Nabi saw).

Ketika Rasulullah saw wafat dan berita kewafatannya itu sampai kepada penduduk Mekah. Suhail bin
Amar menasehati mereka dan Atab bin Asyad pegawai (staf) Suhail pergi ke Mekah dengan penuh
ketakutan dari penduduk Mekah. Kemudian Suhail mengajaknya keluar , dan menganjurkan penduduk
Mekah aga tetap berpegang teguh agama Islam. Suhail menasehati mereka yang kemudia dilanjutkan
oleh Atab bin Asyad, dia berkata, Wahai penduduk Mekah, demi Allah seandainya sampai kepadaku ada
di antara kamu yang meninggalkan shalat berjamaah di masjid, maka akan aku penggal lehernya. Para
sahabat Rasulullah saw berterima kasih kepda Atab atas tindakannya itu, dan bertambah tinggi
penghormatan para sahabat kepadanya.

Orang yang berpegang teguh kepada agama Allah akan berpendapat bahwa tidak diperbolehkan bagi
seseorang meninggalkan shalat berjamaah di masjid, kecuali apabila ada alasana syari. Hanya Allah
yang mengetahui kebenarannya.

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Ini adalah akhir kutipan atau salinan dari buku terjemahan dg judul Rahasia Shalat karya Ibnul Qoyyim Al
Jauziyah

Berikut artikel tambahan tentang kenikmatan orang yang rajin shalat berjamaah di Masjid, terutama
ketika mendatangi shalat Isya dan Subuh di malam hari, orang tersebut berjalan dalam kegelapan
malam. Maka Allah akan memberikannya cahaya yang sempurna pada hari kiamat ketika mereka
menyebrangi gelapnya jembatan shirat yang lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari pedang ketika
menuju Surga sedangkan di bawahnya adalah Neraka.

Artikel tersebut diambil dari tulisan Ust. Ihsan Tanjung dari Eramuslim.com, di-artikel tersebut ada
bahasan di Al Quran surat Al-Hadid ayat 12-16 yang menceritakan peristiwa di atas jembatan shirat.
Dimana orang mumin membawa cahaya, dan orang munafik kehilangan cahaya di atas jembatan shirat
tersebut, sehingga memanggil-manggil orang mumin agar memberikan sebagaian cahayanya. Dibagian
ini saya sisipkan Murrotal ayat tersebut yang dibawakan oleh Salma Utaybi, amat syahdu, mengerikan,
menggetarkan hati, dihayati, ada ilustrasi yang pas di video tersebut yang diambil dari youtube.com.

Amal Perbuatan Yang Memudahkan Mukmin Menyeberangi Jembatan Neraka

http://www.eramuslim.com/suara-langit/kehidupan-sejati/amal-perbuatan-yang-memudahkan-mukmin-
menyeberangi-jembatan-neraka.htm

Sebagaimana sudah kita ketahui setiap Ahli Tauhid sebelum berhak mencapai pintu gerbang surga
diharuskan melewati ujian berat yaitu menyeberangi jembatan yang membentang di atas Neraka
Jahannam. Nabi shollallahu alaih wa sallam melukiskan jembatan itu sebagai lebih tipis dari sehelai
rambut dan lebih tajam dari sebilah pedang. Ada mereka yang sukses menyeberanginya, ada yang
sukses namun terluka kena sabetan duri-duri dan besi-besi kait yang merobek sebagian anggota
tubuhnya sementara ada yang gagal sehingga terjatuh dan terjerembab dengan wajahnya terlebih dahulu
masuk ke dalam api menyala-nyala Neraka Jahannam.











Dan Neraka Jahannam itu memiliki jembatan yang lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari pedang. Di
atasnya ada besi-besi yang berpengait dan duri-duri yang mengambil siapa saja yang dikehendaki Allah.
Dan manusia di atas jembatan itu ada yang (melintas) laksana kedipan mata, ada yang laksana kilat dan
ada yang laksana angin, ada yang laksana kuda yang berlari kencang dan ada yang laksana onta
berjalan. Dan para malaikat berkata: Rabbi sallim. Rabbi sallim. ( Ya Allah, selamatkanlah.
Selamatkanlah.) Maka ada yang selamat, ada yang tercabik-cabik lalu diselamatkan dan juga ada yang
digulung dalam neraka di atas wajahnya. (HR Ahmad 23649)

Setiap orang yang mengaku beriman sudah barang tentu berharap dirinya masuk ke dalam golongan
mereka yang selamat menyeberanginya sehingga berhak masuk Surga dan dijauhkan dari azab api
neraka. Namun pertanyaannya ialah bagaimana hal itu bisa tercapai? Apa syarat-syarat agar seorang
Mukmin berhak menikmati kesuksesan tersebut? Sebenarnya dalam hadits lain Nabi shollallahu alaih wa
sallam telah mengisyaratkan sebagian jawabannya.

Allah akan memanggil umat manusia di akhirat nanti dengan nama-nama mereka ada tirai penghalang
dari-Nya. Adapun di atas jembatan Allah memberikan cahaya kepada setiap orang beriman dan orang
munafiq. Bila mereka telah berada di tengah jembatan, Allah-pun segera merampas cahaya orang-orang
munafiq. Mereka menyeru kepada orang-orang beriman: Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil
sebagian dari cahaya kamu. (QS Al-Hadid ayat 13) Dan berdoalah orang-orang beriman: Ya Rabb
kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami.(QS At-Tahrim ayat 8) Ketika itulah setiap orang tidak
akan ingat orang lain. (HR Thabrani 11079)

Di antara solusinya ialah seorang mukmin mesti mengupayakan agar dirinya kelak memiliki cukup
cahaya agar mampu menyeberangi kegelapan dan panasnya neraka. Sebab pada saat akan
menyeberangi jembatan tersebut setiap orang dibekali Allah cahaya agar mampu melihat jalan yang
sedang ditelusurinya di atas jembatan tersebut. Dan bila ia termasuk mukmin sejati cahaya yang
diterimanya itu akan setia menemani dan menyinari dirinya sepanjang penyeberangan itu hingga sampai
ke ujung menjelang pintu surga. Namun jika ia termasuk orang yang imannya bermasalah lantaran begitu
banyak dosanya, apalagi kalau ia termasuk orang munafik, maka di tengah perjalanan menyeberangi
jembatan Allah tiba-tiba padamkan cahaya yang menemaninya sehingga ia dibiarkan dalam kegelapan
dan akibatnya ia menjadi tersesat dan terjatuh ke dalam api neraka.

Begitu cahaya orang-orang munafik itu mendadak dipadamkan Allah, maka mereka akan berteriak panik
dan memohon kepada orang-orang beriman sejati agar dibagi sebagian cahaya yang setia menemani
mukmin sejati itu. Sungguh gambaran mengerikan yang dengan jelas diuraikan Allah di dalam ayat-ayat
berikut ini:

Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-
gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak, (yaitu) pada
hari ketika kamu melihat orang mumin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di
hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): Pada hari ini ada berita gembira
untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai yang kamu kekal di dalamnya. Itulah
keberuntungan yang banyak. Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata
kepada orang-orang yang beriman: Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari
cahayamu. Dikatakan (kepada mereka): Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya
(untukmu). Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada
rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-
orang mumin) seraya berkata: Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu? Mereka
menjawab: Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan
kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu
telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu. Maka pada hari ini tidak diterima tebusan
dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir. Tempat kamu ialah neraka. Dialah tempat berlindungmu.
Dan dia adalah sejahat-jahat tempat kembali. (QS Al-Hadid ayat 11-15)

Lalu apakah amal perbuatan yang akan menyebabkan seorang mukmin memiliki cukup cahaya untuk
sukses menyeberangi jembatan itu? Ternyata, di antaranya ialah kesungguhan seorang mukmin untuk
bertaubat dari dosa-dosa yang selama ini dia kerjakan. Inilah yang disebut dengan aktifitas Taubatan
Nasuhan (Taubat Yang Murni). Taubatan Nasuha inilah yang akan menyebebkan seorang mukmin
memperoleh cahaya yang disempurnakan untuk sukses menyeberangi jambatan Neraka. Bukan taubat
musiman alias taubat yang tidak menyebabkan seseorang benar-benar meninggalkan perbuatan dosa
yang dilakukannya. Perhatikanlah ayat Allah berikut ini:

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan Taubatan Nasuhan (taubat yang
semurni-murninya), mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan
memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah
tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka
memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: Ya Tuhan kami,
sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas
segala sesuatu. (QS At-Tahrim ayat 8 )

Al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Masud, dari Nabi shollallahu alaih wa sallam, beliau bersabda:
Shirath itu setajam pedang dan sangat menggelincirkan. Beliau melanjutkan: Lalu mereka melintas
sesuai dengan cahaya yang mereka miliki. Maka di antara mereka ada yang melintas secepat meteor,
ada pula yang melintas secepat kedipan mata, ada pula yang melintas secepat angin, ada pula yang
melintas seperti orang berlari, dan ada pula yang berjalan dengan cepat. Mereka melintas sesuai amal
perbuatan mereka, hingga tibalah saat orang yang cahayanya ada di jari jempol kedua kakinya melintas,
satu tangannya jatuh, dan satu tangannya lagi menggantung, satu kakinya jatuh dan satu kakinya lagi
menggantung, kedua sisinya terkena api neraka.
Kedua, seorang Mukmin akan dijamin memiliki cukup cahaya saat menyeberangi jembatan di atas
Neraka jika ia rajin berjalan ke masjid dalam kegelapan untuk menegakkan sholat wajibnya semata
ingin meraih keridhaan Allah. Nabi bersabda:

Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan menuju masjid-masjid dalam kegelapan
dengan cahaya yang sempurna pada hari Kiamat. (HR Ibnu Majah 773)

Nabi shollallahu alaih wa sallam seringkali ketika berjalan menuju ke masjid berdoa dengan doa sebagai
berikut:

Ya Allah jadikanlah cahaya dalam hatiku, dalam penglihatanku, dalam pendengaranku, di sebelah
kananku, di sebelah kiriku, di sebelah atasku, di sebelah bawahku, di depanku, di belakangku dan
jadikanlah aku bercahaya. (HR Bukhary 5841)

Ketiga, seorang Mukmin akan sukses menyeberangi jembatan neraka bila ia melindungi sesama mukmin
dari kejahatan orang Munafik. Dan sebaliknya barangsiapa yang mengucapkan perkataan buruk untuk
mencemarkan seorang Muslim, maka Allah akan menghukumnya dalam bentuk ia ditahan di atas
jembatan neraka hingga dosa ucapannya menjadi bersih.

Barangsiapa melindungi seorang Mukmin dari kejahatan orang Munafik, Allah akan mengutus malaikat
untuk melindungi daging orang itu pada hari Kiamat- dari neraka jahannam. Barangsiapa menuduh
seorang Muslim dengan tujuan ingin mencemarkannya, maka Allah akan menahannya di atas jembatan
neraka jahannam hingga orang itu dibersihkan dari dosa perkataan buruknya. (HR Abu Dawud 4239)

Saudaraku, sungguh kita semua sangat membutuhkan cahaya


yang mencukupi untuk menyeberangi jembatan neraka dengan
selamat. Semoga Allah masukkan kita bersama ke dalam
golongan Mukmin sejati. Semoga Allah bersihkan hati kita
bersama dari penyakit kemunafikan. Sebab kemunafikan akan
menyebabkan cahaya seseorang tiba-tiba padam saat
menyeberangi jembatan neraka sehingga ia menjadi tergelincir
lalu jatuh ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Naudzubillahi
min dzalika!

Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari kemunafikan, dan amal


perbuatan kami dari riya dan lisan kami dari dusta serta
pandangan mata kami dari khianat. Sesungguhnya Engkau Maha Tahu khianat pandangan mata dan apa
yang disembunyikan hati.

Berikut Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir At-Taubah Ayat 18 tentang Para Pemakmur Masjid sebagai berikut:

Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan
hari akhir, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain
kepada Allah, maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. At
Tawbah: 18)

Allah Taala mempersaksikan keimanan para pemakmur masjid, sebagaimana Imam Ahmad
meriwayatkan dari Abi Said Al-Khudri bahwa Rasulullah saw bersabda, Jika kamu melihat seseorang
yang biasa ke masjid, maka persaksikanlah dia dengan keimanan. (HR. Ahmad)

Hadist senada diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Marwadih, dan al-Hakim di dalam Mustadraknya. Al-Hafid
Abud Bakar al-Bazar meriwayatkan dari Tsabit bin Anas, dia berkata, Rasulullah saw bersabda,
Sesungguhnya para pemakmur masjid itu hanyalah ahli Allah. (HR. Tirmidzi)

Semua kata Asa )Mudah-mudahan( di dalam Al Quran berarti wajib. Ibnu Ishak berkata, Kata Asa
(mudah-mudahan) dari Allah berarti benar.

Silahkan melihat tulisan mengeanai Bermegahan dalam Membangun Masjid, Menjadikannya Tempat
Jalan-Jalan dan Sedikitnya yang Shalat Berjamaah di dalamnya pada Akhir Zaman di
https://rezakahar.wordpress.com/2009/10/04/bermegahan-dalam-membangun-masjid-dan-
menjadikannya-tempat-jalan-jalan-di-akhir-zaman/

Referensi:

1. Al Jauziyah, Ibnul Qoyyim. Kitabush-shalah wa hukmu tarikiha, Terjemahan Bahasa Indonesia:


Rahasia dibalik Shalat. Hal: 119-150. Jakarta: Pustaka Azzam, Cetakan Kesembilan Agustus 2005.

2. http://www.eramuslim.com/suara-langit/kehidupan-sejati/amal-perbuatan-yang-memudahkan-mukmin-
menyeberangi-jembatan-neraka.htm

3. Ibnu Katsir. Terjemahan Bahasa Indonesia: Kemudahan dari Allah Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir. Hal:
575-576. Cetakan kesembilan. Juli 2006. Penerbit GIP Jakarta.

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Tulisan di bawah ini diambil dari http://www.fimadani.com/shalat-wajib-tapi-bermakmum-pada-imam-


yang-shalat-sunnah-dan-sebaliknya/

Biasanya sehabis shalat berjamaah di masjid atau di mushala, para Jamaah tidak langsung pulang atau
meninggalkan masjid. Tetapi hampir dari semua Jamaah melakukan shalat sunnah Rowatib Badiyah di
dalam masjid. Walaupun mereka tahu bahwa afdhalnya shalat sunnah itu dirumah, tetapi kebanyakan
dari Jamaah shalat di masjid beralasan. Biar ngga lupa lagi, ntar malah kaga shalat sunnah, begitu kata
mereka.

Dan karena para Jamaah yang shalat sunnah di masjid dengan tempat yang menyebar, ini akhirnya
membuat bingung Jamaah masbuq yang ingin shalat wajib yang baru masuk masjid. Mereka bingung
apakah para Jamaah ini sedang shalat sunnah atau shalat wajib. Ketika salah seorang dari mereka
mengikuti shalatnya Jamaah yang sedang shalat wajib, salah seorang yang beada disampingnya
menegur, dia lagi sunnah, mas!

Isyaratnya seakan melarang kita untuk shalat wajib dibelakang orang yang sedang shalat sunnah. Tentu
peristiwa seperti ini sering terjadi, dan mungkin anda juga sering mendapatinya. Tapi yang jadi
pertanyaan ialah Benarkah Dilarang atau Tidak Sah Shalat Wajib tetapi bermakmum kepada Orang
Yang Shalat Sunnah?

Ini masalah yang kita bahas dalam artikel yang anda baca ini. Bolehkah shalat fardhu bermakmum
kepada yang shalat sunnah? Atau sebaliknya, shalat sunnah tetapi Imamnya shalat fardhu?

Masalah semacam ini, bertumpu pada persoalan Niat. Tepatnya perbedaan niat antara makmum dan
Imam, apakah itu dibolehkan atau tidak, yakni sang Imam dan sang makmum harus memiliki niat yang
sama?

Memang permasalahan ini bukanlah permasalahan yang disepakati oleh ulama. Artinya dalam kebolehan
berbedanya niat Imam dan Makmum adalah perkara yang ulama berbeda pendapat didalamnya.

Dalam jajaran 4 Imam Mazhab; 2 diantaranya membolehkan perbedaan niat antara imam dan Makmum,
yaitu imam Syafii dan Imam Ahmad bin Hambal. Sedangkan Imam Abu Hanifah dan Imam Malik
melarangnya. (Al-Majmu, Jil 4 Hal 272(

Dan pendapat yang membolehkan itu yang banyak diambil oleh kebanyakan ulama. Dalilnya ialah hadits
masyhur Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dari riwayat Umar bin Khathab radhiyallahu Anhu,

Sesungguhnya bagi setiap orang itu apa yang ia niatkan )HR Al Bukhari dan Muslim)

Haditsnya jelas menerangkan bahwa bagi setiap seseorang itu apa yang diniatkannya. Begitu juga
dengan Imam dan makmum, mereka mendapatkan apa yang mereka niatkan masing-masing. Dan tidak
ada kaitannya antara niat Imam dan makmum. (Al-Muhalla/Ibnu Hazm, Jil 4 Hal 223)

Dan ada beberapa dalil lainnya yang menguatkan pendapat ini, yakni pendapat bahwa bolehnya
perbedaan niat antara Imam dan makmum, yang akan kami tampilkan dalam penjelasan dibawah nanti.

Sedangkan hadits :

Sesungguhnya Imam )dalam shalat( itu untuk diikuti, maka janganlah kalian berbeda dengan Imam..
(HR Bukhari dan Muslim).

Maksud larangan berbeda dalam hadits ini ialah larangan berbeda dalam gerakan-gerakan badan dalam
shalat, bukan larangan untuk berbeda niat. Dan ini dikuatkan oleh terusan redaksi hadits itu sendiri yang
berbunyi:
Jika ia )Imam( Ruku, maka ruku lah, dan jika ia berdiri maka berdiri lah, dan jika ia sujud maka
sujudlah,.

Jelas tidak ada kaitannya antara gerakan dengan niat dari masing-masing imam atau makmum itu
sendiri. Terlebih lagi bahwa jumhur ulama membolehkan bagi siapa yang melaksanakan shalat sunnah di
belakang imam yang sedang shalat fardhu.

Contoh-contoh shalat dimana sang makmum berbeda niat dengan niat Imam:

Pertama:

Shalat Sunnah dibelakang Imam Shalat Wajib

Yaitu seseorang yang melakukan shalat sunnah tetapi bermakmum kepada Imam yang sedang
melakukan shalat fardhu. Shalat semacam ini dibolehkan oleh jumhur ulama dari 4 Imam Mazhab
bahkan, berdasarkan beberapa dalil:

Dalil pertama

Hadits Yazid bin Al-Aswad yang menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika itu
sedang dalam hajinya. Dan pada waktu shubuh Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam beserta para sahabat
melaksanakan shalat Subuh di Masjid Khaif. Setelah melakukan shalat, Nabi melihat ada dua orang yang
hanya berdiri di depan masjid tanpa mengikuti shalat berjamaah.

Lalu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan agar 2 orang tadi dihadapkan kepada beliau
Shallallahu Alaihi wa Sallam. Setelah menghadap Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya: Apa
yang menyebabkan kalian tidak ikut berjamaah dengan kami?. Salah satu dari 2 orang itu menjawab:
Kami telah melaksanakan shalat dirumah kami, wahai Rasul!.

Kemudian Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab:

Jangan kau seperti itu lagi! Jika kalian telah shalat dirumah kalian masing-masing kemudian kalian
mendatangi masjid dan melihat ada shalat Jamaah, shalatlah kalian bersama mereka! )HR Tirmidzi dan
Nasai(

Hadits diatas jelas sekali menunjukkan bahwa shalat yang dilakukan itu ialah bukan shalat wajib karena
telah dilakukan sebelumnya, akan tetapi itu menjadi shalat sunnah. Dan rasul Shallallahu Alaihi wa
Sallam memerintahkan agar mereka ikut kembali shalat berjamaah, itu berarti boleh shalat Sunnah
dibelakang Imam yang shalat fardhu.

Dalil Kedua:

Hadits Abu Dzar ra yang beliau bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tentangbagaimana
jika ia harus mengikuti pemimpin yang sering mengakhirkan shalat fardhu. Kemudian Rasul Shallallahu
Alaihi wa Sallam menjawab:





Shalatlah )shalat fardhu( tepat pada waktunya! Dan jika kau harus ikut shalat bersama pemimpinmu
(yang mengakhirkan shalat), maka shalatlah bersama mereka! Sesungguhnya itu menjadi Sunnah
untukmu )HR Muslim(

Kedua:

Shalat Wajib dibelakang Imam Shalat Sunnah

Contoh yang paling sering ialah seperti yang telah disebutkan dipembukaan artikel ini. Dan juga yang
apling sering ialah ketika harus melakukan shalat Isya sedangkan Imam beserta Jamaah lainnya sedang
melakukan shalat taraweh. Apakah bisa dan boleh melakukan shalat wajib tapi bermakmum kepada
Imam yang sedang shalat sunnah?

Shalat model semacam ini dibolehkan menurut kebanyakan Ulama, seperti penjelasan diatas tadi
berdasarkan beberapa dalil, dinataranya:

Dalil Pertama:

Hadits Jabir ra yang menyebutkan bahwa Muadz bin jabal ra pernah melaksanakan shalat isya
berjamaah bersma Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam beserta sahabat. Kemudian ia pulang
menemui kaumnya dan menjadi Imam shalat yang sama yaitu shalat isya untuk kaumnya tersebut. (HR
Muslim)

Dan Imam Nawawi menyebutkan riwayat tambahan dari hadits ini yang diriwayatkan oleh Imam Syafii,
bahwa perkara tersebut dilaporkan kepada Nabi SAW, dan Nabi tidak mengingkarinya. (Al-majmu jil 4
hal 272)

Dalil Kedua:

Hadits Abu Bakroh ra tentang salah satu cara lain shalat Khauf yang dilakukan Nabi Shallallahu Alaihi
wa Sallam. Disebutkan: bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melaksanakan shalat zuhur dalam
keadaan khauf (peperangan), kemudian para sahabat membagi barisan menjadi 2 kelompok. Satu
kelompok shalat bersama Rasul dan yang lain berjaga-jaga.

Nabi melaksanakan shalat bersama Kelompok pertama sebanyak 2 rokaat kemudian salam. Lalu
masuklah kelompok yang tadi berjaga-jaga untuk shalat bersama Rasul SAW. Berjamaah 2 rokaat
kemudian salam. (HR Abu Daud)

Imam Sayfii dalam Kitabnya Al-Umm menyebutkan bahwa: 2 rokaat terakhir Nabi adalah sunnah dan
yang pertama wajib. Jadi kelompok kedua yang shalat bersama Nabi itu shalat wajib sedangkan Imam
mereka yakni Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melaksanakan Shalat Sunnah. )Al-Umm, jil 1 hal 173)

Kesimpulan:

Kesimpulannya bahwa perbedaan niat antara Imam dan makmum tidak membuat shalatnya terganggu
atau batal, baik Imam ataupu makmum sah-sah saja shalat dengan niat yang berbeda. Jadi tidak ada
masalah jika kita shalat fardhu tetapi bermakmum kepada orang yang sedang shalat sunnah, seperti
shalat isya bermakmum dengan Imam tarawih. Atau juga sebaliknya, shalat Sunnah tetapi bermakmum
kepda Imam shalat Fardhu.

Wallahu Alam
Adapun tentang boleh atau tidaknya shalat fardhu tetapi bermakmum dengan imam yang shalat fardhu
juga tetapi berbeda. Seperti shalat Fardhu zuhur dibelakang Imam shalat fardhu Ashar. Atau juga shalat
qoshar dibelakang Imam shalat Muqim, atau sebaliknya. Masalah ini akan ada pembahasannya di tulisan
dan artikel yang akan datang.

Insya Allah!

Ustadz Zarkasih Ahmad, S. Sy

===================================================

Sholat Berjamaah dengan Shaf yang Lurus dan Rapat di Masjid sangat penting bagi Persatuan dan
Kesatuan Umat Islam.

Umat Islam saat ini sekitar 1,7 Miliar, atau dari 4 orang di dunia ini maka salah satunya adalah orang
Islam. Akan tetapi sesuai yang disampaikan oleh Rasulullah saw bahwa Umat Islam saat ini banyak tapi
kualitasnya bagaikan buih, bagaikan makanan yang sedang diperebutkan. Salah satu indikator kualitas
dan persatuan umat Islam tertinggi adalah seluruh lelaki melakukan shalat lima waktu berjamaah di
Masjid, dimana shalat subuh, zhuhr, asar, maghrib, isya, shalat jumat, sama ramainya, dengan syarat
shalat tersebut shafnya rapat dan lurus. Jika tidak lurus maka hati-hati kaum muslimin akan berselisih.
Jika tidak rapat maka antara kaum muslimin diisi oleh syetan. Itu pun jika kaum muslim sudah sholat
bareng di dalam Masjid. Bagaimana jika kaum muslimin shalat sendiri-sendiri di rumah atau tempat kerja
masing-masing, tentu makin tidak lurus shaf-nya dan makin tidak rapat shaf-nya. Sehingga akhirnya
jika kurang dari 3 orang yang tidak shalat berjamaah, berarti wilayahnya sudah dijajah oleh syetan.

1. Jika shaf sholat berjamaah rapat tapi tidak lurus, maka akibatnya akan ada perselisihan di hati kaum
muslimin

Dari sahabat Numan bin Basyir -radhiyallahu anhu-berkata:

.




! :

Dulu Rasulullah -Shallallahu alaihi wasallam- meluruskan shaf kami sehingga seakan beliau meluruskan
anak panah (ketika diruncingkan,pen), sampai beliau menganggap kami telah memahaminya. Beliau
pernah keluar pada suatu hari, lalu beliau berdiri sampai beliau hampir bertakbir, maka tiba-tiba beliau
melihat seseorang yang membusungkan dadanya dari shaf. Maka beliau bersabda, [Wahai para hamba
Allah, kalian akan benar-benar akan meluruskan shaf kalian atau Allah akan membuat wajah-wajah
kalian berselisih.[HR.Muslim dalam Shohih-nya(436)]

Hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan,

2. Jika shafnya tidak rapat maka akan diisi oleh syetan

Luruskan shaf, rapatkan pundak, dan tutup celah, perlunak pundak kalian untuk saudaranya, dan jangan
tinggalkan celah untuk setan. )HR. Abu Daud 666 dan dishahihkan al-Albani)

3. Jika yang shalat berjamaah kurang dari 3 orang, maka wilayah tersebut dijajah oleh Syetan

Dari haditsnya Abi Darda, dia berkata, Rasulullah saw bersabda, Tiada terdapat tiga orang berkumpul di
kampung yang tidak dikumandangkan adzan dan tidak didirikan shalat berjamaah, melainkan mereka
telah dijajah oleh Syaithan, maka kerjakanlah olehmu shalat berjamaah, karena serigala itu hanya dapat
menerkam binatang (kambing) yang terpisah jauh dari kawan-kawannya. )Abu Dawud Bab Shalat 574,
Imam Ahmad 5/196, dan An-Nasai Bab Imamah 2/106-107).

4. Bagaikan buih

Dalam hadits dari Tsauban radhiyallahu anhu maula Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika beliau
berkata:
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
Hampir terjadi keadaan yang mana ummat-ummat lain akan mengerumuni kalian bagai orang-orang
yang makan mengerumuni makanannya.
Salah seorang sahabat berkata; Apakah karena sedikitnya kami ketika itu?
Nabi berkata: Bahkan, pada saat itu kalian banyak jumlahnya, tetapi kalian bagai ghutsa )buih kotor yang
terbawa air saat banjir). Pasti Allah akan cabut rasa segan yang ada didalam dada-dada musuh kalian,
kemudian Allah campakkan kepada kalian rasa wahn.
Kata para sahabat: Wahai Rasulullah, apa Wahn itu?
Beliau bersabda: Cinta dunia dan takut mati.
)HR Abu Daud no. 4297, Ahmad 5/278, Abu Nuaim dalam At Hilyah l /182 dengan dua jalan dan dengan
keduanya hadits ini menjadi shohih)

63 Balasan ke Apakah Shalat Berjamaah di Masjid Wajib ataukah Sunnah?

1. habibillah azzikri berkata:

April 24, 2010 pukul 6:11 pm

maaf pak,, saya ingin tahu bapak mengambil pendapat pendapat itu dari kitab mana,,?
dan hadistnya diriwayatkan oleh siapa ..??
seperti hadist dibawah ini..??
Mereka berkata, Seandainya shalat itu dianggap sah tanpa berjamaah, maka para sahabat
Rasulullah saw tidak akan berkata, Tidak ada shalat baginya )yang tidak berjamaah(. Dan
seandainya shalat itu sah tanpa berjamaah, maka Rasulullah saw tidak akan bersabda,
Barangsiapa yang mendengar seruan adzan, kemudian dia tidak memenuhi panggilan tersebut,
maka shalat yang dia lakukan tidak akan diterima. Ketika diterimanya shalat itu dikaitkan dengan
berjamaah, maka hal itu menunjukkan kepada syarat sahnya shalat. Sama halnya dengan ketika
diterimanya wudhu itu dikaitkan dengan keharusan bersuci dari hadats, maka hal itu secara
otomatis menjadi syarat sahnya wudhu.

Mereka berkata, Seandainya sah shalatnya orang yang munfarid )shalat sendiri(, tentu Ibnu
Abbas tidak akan berkata, Sesungguhnya dia )orang yang melakukan shalat sendirian( akan
masuk neraka.

ditunggu balasannyaterima kasih

Balas

o rezakahar berkata:
April 25, 2010 pukul 9:28 pm

Pak Habib, sebagian besar tulisan tersebut saya salin dari kitab As Shalah wa Traikiha
yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul Rahasia Shalat. Kitab ini karya
Ulama besar abad pertengahan yaitu Ibnul Qayyim Al Jauziah, murid dari Ibnu Taimiyah.

Dan hal ini sudah saya tulis di bagian paling bawah yaitu referensi:
1. Al Jauziyah, Ibnul Qoyyim. Kitabush-shalah wa hukmu tarikiha, Terjemahan Bahasa
Indonesia: Rahasia dibalik Shalat. Hal: 119-150. Jakarta: Pustaka Azzam, Cetakan
Kesembilan Agustus 2005.

Semua yang ditanyakan ada semua kalau di tulisan tersebut dibaca dari awal sampai
akhir tanpa dilewatkan. Karena Ibnul Qayyim mengulas dengan sangat detail riwayat
tersebut. Untuk shalat berjamaah ini Ibnul Qayyim mengemukakan 11 dalil, di mana 3
dalil dari Al Quran, 7 dalil dari Hadist dan 1 dalal dari Ijma Sahabat r.a.

Dan juga dilengkapi dengan pro kontra tentang wajibnya shalat berjamaah.

Jadi pertanyaan tersebut sudah ada jawabannya ditulisan tersebut sanad dan
riwayatnya. Tapi setelah saya lihat lagi, untuk riwayat pertama sudah dibahas oleh Ibnul
Qoyyim di dalil ke-6. Sedangkan pendapat Ibnu Abbas bahwa yang shalat sendirian
masuk neraka, saya belum mendapatkan di pembahasan sebelumnya. Jadi perlu diteliti
lagi riwayatnya. Mungkin bisa dibantu. Seluruh tulisan itu sebelum tulisan Ihsan Tanjung,
adalah murni salinan terjemahan karya Ibnul Qayyim

Balas

ahmad berkata:

Juli 9, 2016 pukul 2:10 pm

jadi kalau begitu pandangan pribadi bapak, apabila ada lelaki dewasa yg shalat
di rumah itu sah atau tidak??

Balas

2. abu ramdhani berkata:

April 4, 2012 pukul 5:38 pm

jazzakalloh kheron katsiro !

Balas

3. lucky daniel berkata:


April 20, 2012 pukul 1:44 pm

jadi kalau ada yang mengatakan sholat dimasjid itu sunnah muakad. sya harus menjawab apa.
daniel_lionel@ymail .com

Balas

o rezakahar berkata:

April 20, 2012 pukul 2:07 pm

bilang aja wajib jika tidak ada udzur

Balas

4. Salafy berkata:

Agustus 5, 2012 pukul 1:09 pm

semoga kita selalu sempat untuk shalat berjamaah di masjid.

Balas

o Sofyan Efendi berkata:

Juli 22, 2014 pukul 2:34 pm

Kalau hukumnya wajib, maka tidak bisa lagi mengatakan tidak sempat, wajib berarti
harus, apalagi di Indonesia ini begitu banyak masjid. Kalau tidak ada yg adzan, kita aja
yg adzan, Setelah adzan, mahi juga ngga ada yg dateng, ya imamnya kita, mamumnya
kita. Yang penting kita sudah berusaha tunaikan KEWAJIBAN.

Balas

5. Edo Love Enviroment berkata:

Februari 16, 2013 pukul 8:13 pm

Assalamualaikum..
mf sblmnya..
saya tidak setuju sama pendapat anda,,,
wajib itu jika di tingalkan bakal berdosa.
jadi,, setiap orang yang sholat.a di rumah,, di kantor atau di mana saja kecuali di mesjid apakah
itu juga berdosa.
berilah sesuatu jika kita paham
jagan sampai sesuatu yang belum kita pahami itu akan memberikan kemudharatan untuk kita.
tujuan anda baik
tp,, berikan surat dan ayat berapa yang mengatakan bahwa sholat berjamaah itu wajib,, bukan
sunnah..
jgan berpatok kepada hadist saja,, karna hadist terbagi menjadi 2 golongan..
1. hadist lemah
2. hadist kuat

Balas

o rezakahar berkata:

Februari 16, 2013 pukul 8:38 pm

sudah baca semuanya? itu bukan pendapat saya, saya hanya menyalin dari Ibnul
Qoyyim Al Jauziyah, ada dalil dari ayat Al Quran, Al Hadist dan Ijma Sahabat sampai
total belasan dalil. Banyak ulama yang berpendapat seperti itu, wajib jika tidak ada udzur,

kalau ada udzur yang tidak wajib


Hadistnya juga dibahas dari riwayat siapa

Balas

Reza berkata:

November 4, 2013 pukul 2:22 pm

Assgmn dngan ujian kuliah at tes msk kerja, apkah keduany tmsuk udzur?
Sukron

Balas

indra berkata:

Agustus 3, 2016 pukul 10:22 pm

sy rasa semuanya udah jelas.ada orng yang butapun wajib shalat


berjamah jika ia masih mendengar suara azan dan iqomah

Balas

irwan berkata:
April 20, 2015 pukul 7:39 am

sy pertanyaan si love tak perlu dijawab, berarti dia tdk baca

Balas

o Sofyan Efendi berkata:

Juli 22, 2014 pukul 2:39 pm

Shalat berjamaah bisa ditunaikan juga bilamana kita dikantor. Bagaimana caranya? Ya
kita undang teman2 muslim dikantor untuk shalat berjamaah, kita bisa shalat di musholla
di kantor. Bilamana niat kita kuat, maka insya Allah, Allah akan memberi kita jalannya!
Terkecuali, bila setelah kita ajak tidak ada yang mau, maka kita sudah berusaha, apa
daya, shalat sendirian Insya Allah dimaklumi oleh Allah SWT, karena kita sudah
berusaha.

Balas

6. Lyra Mandini berkata:

Agustus 4, 2013 pukul 7:00 am

ass ?.suamiku selalu shalat fardu sendiri di rumah,di karenakan apabila shalat di masjid ia
selalu mengeluh,karena imam tetap di masjid kami shalatnya terlalu cepat,sehingga beberapa
rukun shalat ia tinggalkan karena kewajiban harus mengikuti imam,apakah saya yang mesti saya
lakukan ?. mohon jawabanya ust jazakalla khairan

Balas

o rezakahar berkata:

Agustus 24, 2013 pukul 10:51 am

Kalau saya pribadi menghadapi masalah tersebut, maka saya suka tetap ke Masjid, dan
aktif diskusi dengan jamaah, silaturahim, jika bisa ikut bantu-bantu pengurus, dan pelan-
pelan bikin kajian sholat sesuai dengan Rasulullah saw, kalau memang merasa
sholatnya tidak sah, bisa diulang lagi di rumah. Semoga masjid di dekat rumah Mbak
Lyra bisa lebih baik lagi.

Balas

o Bhumi Abimanyu berkata:


Februari 3, 2014 pukul 7:16 am

imam terlalu cepat bukan uzur. yang benar adalah suami anda tetap sholat berjamaah di
masjid sambil menyampaikan bahwa sholat itu harus tumakninah. tapi ingat, kewajiban
menyampaikan ini adalah kewajiban paling berat menurut saya.

Balas

o Sofyan Efendi berkata:

Juli 22, 2014 pukul 2:46 pm

Masjid tidak hanya satu. Bilamana kita sakit, lalu rumah sakit didekat rumah tidak ada
dokter yg bisa mengatasi sakit kita, maka kita akan berusaha mencari dokter lain di
rumah sakit yg lain. Begitu juga kita tetap semangat mencari masjid yang lain bilamana
imam di masjid dekat rumah tidak sesuai dengan aturan shalat yang benar secara syariat
Islam.

Balas

7. jelly gamat berkata:

Agustus 24, 2013 pukul 8:09 am

kalo ini saja kita amalkan, mungkin suasana di masjid seluruh Indosia penuh dan sangat indah

Balas

o rezakahar berkata:

Agustus 27, 2013 pukul 3:05 pm

betul sekali

Balas

8. Suyatmoko berkata:

Desember 4, 2013 pukul 10:12 am

Sebaiknya memang sholat wajib dilakukan secara berjamaah, dan kalo memang tidak bisa
karena sesuatu hal, tentunya insaalloh sholat sendiri juga baik, justru yang sangat berdosa jika
tidak mendirikan sholat,. sesungguhnya Alloh Maha Melihat dan mengetahui atas semua
ciptaanNya.

Balas

o Bhumi Abimanyu berkata:

Februari 3, 2014 pukul 7:20 am

maaf pak, saya tegaskan sekali lagi kalau sholat berjamaah di masjid itu wajib. berdosa
besar meninggalkannya kecuali ada uzur. sholat di rumah sendirian tidak ada gunanya
kalau tidak ada uzur.

Balas

rezakahar berkata:

Februari 3, 2014 pukul 8:31 am

senang sekali, makin banyak yang memegang pendapat shalat lima waktu itu
wajib tanpa udzur maka masjid akan semakin ramai di akhir zaman ini

Balas

9. Uyung berkata:

Februari 11, 2014 pukul 9:38 am

itulah pentingnya bermadhab,,,,kalo anda mengambil pendapat bahwa berjamaah wajib berarti
anda bermadhab Imam Ahmad maka segala aturan yang berlakunya pun harus ikut imam ahmad
maaf bung sanad anda buku bacaan saja, tidak jelas gurunya, apalagi kita tahu siapa itu
ALjauziyah ibnu Qoyyim

Balas

10. niko berkata:

Maret 15, 2014 pukul 5:45 pm

SWT selalu melapangkan kita utk selalu


Trimakasih bgt ulasannya,,,, alhamdulillah smoga
berjamaah masjid/mushola,, ane jg yakin seyakin yakinnya kalo sholat fardhu wajib
berjamaah ke masjid/ mushola diawal waktu utk menjawab panggilan adzan, kercuali udzur
syari .
Balas

o safii berkata:

Maret 19, 2014 pukul 8:55 pm

Sholat fardhu wajib berjamaah. Krn Wajib berarti dosa jk ditinggalkan,, dalih uzur ???
Klau sakit, hamil tua , lupa, sakit dll piye ?? Dosa atau bgmn ???

Balas

moh syaifuddin zuhri berkata:

Maret 12, 2015 pukul 11:05 am

unzur dimaksudkan adalah halangan yang dibenarkan contohnya apa ya




- -
.
Dari Jabir, beliau berkata,Kami keluar untuk bersafar bersama Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam. Kemudian ketika hujan, beliau shallallahu alaihi wa
sallam bersabda, Siapa yang mau, silakan mengerjakan shalat di rihal
[kendaraannya masing-masing].[10]

Balas

11. Apriyanto berkata:

April 16, 2014 pukul 5:53 pm

AsslWrWb.
Bab Sholat Wajib Semaksimalnya berjamaah
Mari kita Ajak yang Mengaku Muslim Laki-Laki Untuk Sholat Berjamaah, & Diusahakan Berjamah
Di Masjid/Mushola/surau artinya sama Tempat Sholat.
& Saya, Kami Berupaya Untuk, Mengingatkan, Menyarankan, Mengajak Terutama yang dekat
dengan Masjid Untuk sholat Wajib Berjamaah Semaksimalnya
Yang Banyak Alasan Sanggahan Segera Kembali Ke Hukum Dasar Al-Quran & AshShunah (al
Hadist Sokheh Rosululloh SAW)
Mohon doanya Untuk mampu Dengan/Secara Maruf/Baik Mengajak Saudara2 kita yang
mengaku Beriman Untuk beramal Sholeh Salah Satunya dengan Sholat Berjamah Di Masjid
(Rumah Allah SWT)

Balas

12. miman bento lokodidi berkata:


Mei 2, 2014 pukul 5:50 am

Ass sya mau tanya pa


sya punya istri dan anak . Dan mereka belum bisa baca alquran dengan baik, apakah sya harus
shalat berjamaah dgan mereka dirumah atau sya harus kerjakan shalat berjamaah di mesjid dan
membiarkan mereka shalat tanpa bacaan al fatiha yg pasih ?

Mana yg sbnarnya sya harus pilih mohon pencerahannya .

Balas

o rezakahar berkata:

Mei 2, 2014 pukul 5:57 am

sebaiknya tetap sholat berjamaah ke masjid dan bawa anaknya jika laki-laki. kemudian
pulang ke rumah bisa sholat lagi jadi imam dengan niat sholat sunnah. zaman Rasulullah
saw ada yg seperti itu, mereka ikut sholat berjamaah dg Rasulullah saw kemudian
pulang ke kaumnya dan jadi imam.

Balas

miman bento lokodidi berkata:

Mei 2, 2014 pukul 6:05 am

Terimaksih pa ustad atas nasehatnya

Balas

rezakahar berkata:

Mei 2, 2014 pukul 6:06 am

lebih lengkap lagi dalilnya bisa lihat di sini:

Shalat Wajib Tapi Bermakmum Pada Imam yang Shalat Sunnah dan
Sebaliknya
Posted by Shabra Syatila
Biasanya sehabis shalat berjamaah di masjid atau di mushala, para
Jamaah tidak langsung pulang atau meninggalkan masjid. Tetapi hampir
dari semua Jamaah melakukan shalat sunnah Rowatib Badiyah di
dalam masjid. Walaupun mereka tahu bahwa afdhalnya shalat sunnah
itu dirumah, tetapi kebanyakan dari Jamaah shalat di masjid beralasan.
Biar ngga lupa lagi, ntar malah kaga shalat sunnah, begitu kata
mereka.
Dan karena para Jamaah yang shalat sunnah di masjid dengan tempat
yang menyebar, ini akhirnya membuat bingung Jamaah masbuq yang
ingin shalat wajib yang baru masuk masjid. Mereka bingung apakah para
Jamaah ini sedang shalat sunnah atau shalat wajib. Ketika salah
seorang dari mereka mengikuti shalatnya Jamaah yang sedang shalat
wajib, salah seorang yang beada disampingnya menegur, dia lagi
sunnah, mas!

Isyaratnya seakan melarang kita untuk shalat wajib dibelakang orang


yang sedang shalat sunnah. Tentu peristiwa seperti ini sering terjadi, dan
mungkin anda juga sering mendapatinya. Tapi yang jadi pertanyaan
ialah Benarkah Dilarang atau Tidak Sah Shalat Wajib tetapi
bermakmum kepada Orang Yang Shalat Sunnah?

Ini masalah yang kita bahas dalam artikel yang anda baca ini. Bolehkah
shalat fardhu bermakmum kepada yang shalat sunnah? Atau sebaliknya,
shalat sunnah tetapi Imamnya shalat fardhu?

Masalah semacam ini, bertumpu pada persoalan Niat. Tepatnya


perbedaan niat antara makmum dan Imam, apakah itu dibolehkan atau
tidak, yakni sang Imam dan sang makmum harus memiliki niat yang
sama?

Memang permasalahan ini bukanlah permasalahan yang disepakati oleh


ulama. Artinya dalam kebolehan berbedanya niat Imam dan Makmum
adalah perkara yang ulama berbeda pendapat didalamnya.

Dalam jajaran 4 Imam Mazhab; 2 diantaranya membolehkan perbedaan


niat antara imam dan Makmum, yaitu imam Syafii dan Imam Ahmad bin
Hambal. Sedangkan Imam Abu Hanifah dan Imam Malik melarangnya.
(Al-Majmu, Jil 4 Hal 272(

Dan pendapat yang membolehkan itu yang banyak diambil oleh


kebanyakan ulama. Dalilnya ialah hadits masyhur Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam dari riwayat Umar bin Khathab radhiyallahu Anhu,

Sesungguhnya bagi setiap orang itu apa yang ia niatkan )HR Al


Bukhari dan Muslim)

Haditsnya jelas menerangkan bahwa bagi setiap seseorang itu apa yang
diniatkannya. Begitu juga dengan Imam dan makmum, mereka
mendapatkan apa yang mereka niatkan masing-masing. Dan tidak ada
kaitannya antara niat Imam dan makmum. (Al-Muhalla/Ibnu Hazm, Jil 4
Hal 223)

Dan ada beberapa dalil lainnya yang menguatkan pendapat ini, yakni
pendapat bahwa bolehnya perbedaan niat antara Imam dan makmum,
yang akan kami tampilkan dalam penjelasan dibawah nanti.

Sedangkan hadits :

Sesungguhnya Imam )dalam shalat( itu untuk diikuti, maka janganlah


kalian berbeda dengan Imam.. )HR Bukhari dan Muslim(.

Maksud larangan berbeda dalam hadits ini ialah larangan berbeda dalam
gerakan-gerakan badan dalam shalat, bukan larangan untuk berbeda
niat. Dan ini dikuatkan oleh terusan redaksi hadits itu sendiri yang
berbunyi:

Jika ia )Imam( Ruku, maka ruku lah, dan jika ia berdiri maka berdiri lah,
dan jika ia sujud maka sujudlah,.

Jelas tidak ada kaitannya antara gerakan dengan niat dari masing-
masing imam atau makmum itu sendiri. Terlebih lagi bahwa jumhur
ulama membolehkan bagi siapa yang melaksanakan shalat sunnah di
belakang imam yang sedang shalat fardhu.

Contoh-contoh shalat dimana sang makmum berbeda niat dengan niat


Imam:

Pertama:

Shalat Sunnah dibelakang Imam Shalat Wajib

Yaitu seseorang yang melakukan shalat sunnah tetapi bermakmum


kepada Imam yang sedang melakukan shalat fardhu. Shalat semacam
ini dibolehkan oleh jumhur ulama dari 4 Imam Mazhab bahkan,
berdasarkan beberapa dalil:

Dalil pertama

Hadits Yazid bin Al-Aswad yang menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu


Alaihi wa Sallam ketika itu sedang dalam hajinya. Dan pada waktu
shubuh Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam beserta para sahabat
melaksanakan shalat Subuh di Masjid Khaif. Setelah melakukan shalat,
Nabi melihat ada dua orang yang hanya berdiri di depan masjid tanpa
mengikuti shalat berjamaah.

Lalu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan agar 2 orang tadi


dihadapkan kepada beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam. Setelah
menghadap Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya: Apa yang
menyebabkan kalian tidak ikut berjamaah dengan kami?. Salah satu
dari 2 orang itu menjawab: Kami telah melaksanakan shalat dirumah
kami, wahai Rasul!.

Kemudian Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab:

Jangan kau seperti itu lagi! Jika kalian telah shalat dirumah kalian
masing-masing kemudian kalian mendatangi masjid dan melihat ada
shalat Jamaah, shalatlah kalian bersama mereka! )HR Tirmidzi dan
Nasai(

Hadits diatas jelas sekali menunjukkan bahwa shalat yang dilakukan itu
ialah bukan shalat wajib karena telah dilakukan sebelumnya, akan tetapi
itu menjadi shalat sunnah. Dan rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam
memerintahkan agar mereka ikut kembali shalat berjamaah, itu berarti
boleh shalat Sunnah dibelakang Imam yang shalat fardhu.

Dalil Kedua:

Hadits Abu Dzar ra yang beliau bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi
wa Sallam tentangbagaimana jika ia harus mengikuti pemimpin yang
sering mengakhirkan shalat fardhu. Kemudian Rasul Shallallahu Alaihi
wa Sallam menjawab:

Shalatlah )shalat fardhu( tepat pada waktunya! Dan jika kau harus ikut
shalat bersama pemimpinmu (yang mengakhirkan shalat), maka
shalatlah bersama mereka! Sesungguhnya itu menjadi Sunnah untukmu
(HR Muslim)

Kedua:

Shalat Wajib dibelakang Imam Shalat Sunnah

Contoh yang paling sering ialah seperti yang telah disebutkan


dipembukaan artikel ini. Dan juga yang apling sering ialah ketika harus
melakukan shalat Isya sedangkan Imam beserta Jamaah lainnya sedang
melakukan shalat taraweh. Apakah bisa dan boleh melakukan shalat
wajib tapi bermakmum kepada Imam yang sedang shalat sunnah?

Shalat model semacam ini dibolehkan menurut kebanyakan Ulama,


seperti penjelasan diatas tadi berdasarkan beberapa dalil, dinataranya:

Dalil Pertama:

Hadits Jabir ra yang menyebutkan bahwa Muadz bin jabal ra pernah


melaksanakan shalat isya berjamaah bersma Nabi Muhammad
Shallallahu Alaihi wa Sallam beserta sahabat. Kemudian ia pulang
menemui kaumnya dan menjadi Imam shalat yang sama yaitu shalat
isya untuk kaumnya tersebut. (HR Muslim)

Dan Imam Nawawi menyebutkan riwayat tambahan dari hadits ini yang
diriwayatkan oleh Imam Syafii, bahwa perkara tersebut dilaporkan
kepada Nabi SAW, dan Nabi tidak mengingkarinya. (Al-majmu jil 4 hal
272)

Dalil Kedua:

Hadits Abu Bakroh ra tentang salah satu cara lain shalat Khauf yang
dilakukan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Disebutkan: bahwa Nabi
Shallallahu Alaihi wa Sallam melaksanakan shalat zuhur dalam keadaan
khauf (peperangan), kemudian para sahabat membagi barisan menjadi 2
kelompok. Satu kelompok shalat bersama Rasul dan yang lain berjaga-
jaga.

Nabi melaksanakan shalat bersama Kelompok pertama sebanyak 2


rokaat kemudian salam. Lalu masuklah kelompok yang tadi berjaga-jaga
untuk shalat bersama Rasul SAW. Berjamaah 2 rokaat kemudian salam.
(HR Abu Daud)

Imam Sayfii dalam Kitabnya Al-Umm menyebutkan bahwa: 2 rokaat


terakhir Nabi adalah sunnah dan yang pertama wajib. Jadi kelompok
kedua yang shalat bersama Nabi itu shalat wajib sedangkan Imam
mereka yakni Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melaksanakan Shalat
Sunnah. (Al-Umm, jil 1 hal 173)

Kesimpulan:

Kesimpulannya bahwa perbedaan niat antara Imam dan makmum tidak


membuat shalatnya terganggu atau batal, baik Imam ataupu makmum
sah-sah saja shalat dengan niat yang berbeda. Jadi tidak ada masalah
jika kita shalat fardhu tetapi bermakmum kepada orang yang sedang
shalat sunnah, seperti shalat isya bermakmum dengan Imam tarawih.
Atau juga sebaliknya, shalat Sunnah tetapi bermakmum kepda Imam
shalat Fardhu.

Wallahu Alam

Adapun tentang boleh atau tidaknya shalat fardhu tetapi bermakmum


dengan imam yang shalat fardhu juga tetapi berbeda. Seperti shalat
Fardhu zuhur dibelakang Imam shalat fardhu Ashar. Atau juga shalat
qoshar dibelakang Imam shalat Muqim, atau sebaliknya. Masalah ini
akan ada pembahasannya di tulisan dan artikel yang akan datang.

Insya Allah!

Ustadz Zarkasih Ahmad, S. Sy

July 13, 2013

http://www.fimadani.com/shalat-wajib-tapi-bermakmum-pada-imam-
yang-shalat-sunnah-dan-sebaliknya/

Balas

13. A'Yudha Ferdiansyah berkata:

Juni 12, 2014 pukul 9:02 pm


sah atau tidakah shalat kita jika kita MENJADI makmum kepada ahli hikmah
yang mempunyai hodam , sedangkkan ada keterangan jika kita mendatangi orang pintar dan
mempercayainya maka shalat kita tidak di terima selama 40 hari

Balas

o rezakahar berkata:

Juni 12, 2014 pukul 9:07 pm

mungkim bisa cek di sini https://asahanahsan.wordpress.com/2014/05/05/dukun-


menjadi-imam-sholat/

Balas

14. Sofyan Efendi berkata:

Juli 22, 2014 pukul 2:28 pm

Alhamdulillah, tulisannya sangat bermanfaat, terima kasih

Balas

15. Sofyan Efendi berkata:

Juli 22, 2014 pukul 2:31 pm

Mantap shalat berjamaah hukumnya wajib Alhamdulillah ya Allah

Balas

16. Achmad Boediono berkata:

Oktober 25, 2014 pukul 10:41 am

Bagaimana kalo kita yg pekerjaannya di toko.lalu terdengar adzan (dari pengeras suara
mesjid( apa pekerjaan kita di toko kita tinggalkan? Maaf saya bisa sholat jamah waktu SUBUH
TETAPI ISYA sya selalu sholat sendiri di toko.. Mohon penjelasan apakah alasan saya termasuk
SYARI ?

Balas
o rezakahar berkata:

Oktober 27, 2014 pukul 9:26 am

toko sendiri atau toko orang lain? di tulisan Ibnul Qoyyim ini, disertakan hadist kecuali
bagi yang punya udzur apakah udzurnya? yaitu sakit dan ketakutan. Apakah takut jika
sholat isha di masjid maka akan berkurang rezekinya? Akhirnya kembali ke pribadi
masing2 sekuat apa dia bisa memprioritaskan sholat isya berjamaah.

Balas

17. Rizki berkata:

November 2, 2014 pukul 4:10 pm

Assstadz,sya mau mnta pendapat,sya tuh bekerja sebagai karyawan toko,jam kerja dri siang
ampe malem.dzuhur,ashar,maghrib,isya posisi sya tuh sedang jaga toko.Apakah saya harus
menutup toko ditiap waktu shalat itu,ato diperbolehkan shalat sendiri saja ditoko? sedangkan
posisi sya hanya seorang karyawan.mohon penjelasanya stadz.

Balas

o rezakahar berkata:

Desember 11, 2014 pukul 2:29 pm

Waalaykumsalam warahmatullah wabarakatuh.

Apakah sudah mencoba minta izin dengan pemilik toko untuk sholat berjamaah ke
Masjid?

Balas

18. bambangbudi berkata:

Januari 20, 2015 pukul 5:45 pm

As ww, pelajaran yang baik. Trimakasih

Balas

19. Real Eye4u berkata:


April 16, 2015 pukul 1:20 am

realeye4u.blogspot.com mohon kunjungi blog

Balas

20. Nur Dien Syaifullah Al Fakir berkata:

April 17, 2015 pukul 7:04 pm

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Perlu diketahui satu surat/ayat di dalam AlQuran pun saling berkaitan antara satu dan lainnya.
Maka dengan hukumnya wajib shalat berjamaah di masjid pun terkait dengan hukum-hukum
kesempurnaan shalat.

Seperti contohnya menggunakan pakaian yang bersih dan sebagainya, jika ada jamaah yang
memperhatikan kebersihan pada dirinya seperti (maaf) keringat yang kurang sedap tercium oleh
jamaah lain dikarenakan pulang kerja langsung ke masjid, atau pakaian yang ditempeli dengan
keringat berkucuran saat diatas kendaraan (terlebih jika bekerja menggunakan roda dua).

Karena hal diatas berdasarkan pengalaman pribadi saya, saya bekerja menggunakan roda dua,
dan jika pulang kerja di waktu maghrib atau isya, baju saya basah semua kena keringat, dan
kadang celana saya terdapat tanah-tanah kering/basah yang harus dengan teliti saya bersihkan
terlebih dahulu, lalu saya di anjurkan untuk pulang terlebih dahulu atau shalat dirumah.

Karena saya sadari pula, bau kurang sedap dari saya mengganggu para jamaah yang mungkin
rumahnya berdekatan dengan masjid. Lalu karena selalu macet dijalan, betis/dengkul saya pun
kadang gemetar jika sedang shalat berjamaah, kadang tidak kuat untuk berdiri.

Ustadz, dan imam di masjid dekat rumah saya menganjurkan saya lebih baik shalat dirumah,
karena kesempurnaan dalam shalat itu penting, dan tidak serta merta hanya mengejar Wajib
Berjamaah nya saja.

Dengan pengalaman saya diatas mudah-mudahan para saudaraku kaum Muslimin dimanapun
berada, jangan dibiasakan mengambil ilmu, sumber dan lain-lainnya hanya dari sumber-sumber
yang mendukung satu permasalahan, tetapi adapun terkait dengan ilmu lainnya. Mudah-
mudahan ini sangat diperhatikan.

Perlu diperhatikan kebersihan, kesucian, dan kesempurnaan dalam shalat.

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

Jazakumullah Khairan Katsiran

Balas

o rezakahar berkata:
Juni 19, 2015 pukul 1:22 pm

sebaiknya setelah bersih-bersih di rumah, tetaplah sholat di masjid untuk sholat


wajibnya. Bagi pengurus masjid, tentu akan lebih baik lagi jika kamar mandinya bisa lebih
bagus sehingga jamaahnya bisa bersih-bersih dan dikasih parfum

Balas

21. Djadjang K Suryana berkata:

April 18, 2015 pukul 9:26 am

assalamualaikum wr wbb maaf Pak ustadz sebelumnya saya ikut share, menurut pendapat
saya, perkara ini bukan main2 tentang hukum wajib dan sunnahnya shalat berjamaah di mesjid,
klw memang wajib tunjukan QS surat dan ayat ke berapa? jadi jangan sampai menimbulkan
polemik keragu raguan dikalangan orang2 awam seperti saya ini, jujur saya pun baru membaca
article seperti ini, klw memang benar kenapa para aswaja atau organisasi2 besar islam seperti
NU, Muhammadiyah dll, tidak mensosialisasikan dan menjabarkannya kepada masyarakat
muslim keseluruhan, jangan berargumentasi katanya ataw hanya menyalin dsb semua ini pasti
ada pertanggung jawabannya di hadapan allah swt, karna di umur kepala empat ini saya baru
mengetahui bahwa shalat berjamaah di mesjid ini adalah wajib hukumnya dan mungkin ada yg
sama dgn saya bahkan mungkin lebih serta telat wafat pula, bagaimana mempertanggung
jawabkannya di hadapan allah??? menurut saya, mungkin perbandingannya 70% yg tidak tahu
dan 30% yg tahu, coba kita pelajari dan study Banding di kehidupan nyata masyarakat jg via
media electronic. bagaimana para kaum muslimin sudah terbiasa sholat di rumah dan adapun yg
dekat mesjid mereka pada berjamaah. Saya akan ikut perintah Rosulullah Saw, yg artinya

kutinggalkan dua perkara, dan selama kalian memegang teguh keduanya niscaya tidak akan
sesat selama hidupnya, yaitu kitabullah al-quran dan sunnah rossul

ini sudah jelas dan kalau dari alqurannya tidak ada ayat yg menerangkan, bagaimana dengan
hadistnya? sedangkan hadist itu ada yg kuat dan ada yang lemah. mohon penjelasannya pak
ustadz. barakallah fikum

Balas

o rezakahar berkata:

Juni 19, 2015 pukul 1:20 pm

Saya rasa semua dalil dari Al Quran dan sunnah sudah disampaikan oleh Ibnul Qoyyim
di dalam tulisan yang disalin tersebut. Apakah semuanya sudah dibaca?
Insya Allah jika semua organisasi Islam mewajibkan sholat ke masjid jika tidak ada udzur
atau halangan, maka tentu saja masjid-masjid akan penuh semua ketika sholat
berjamaah. Inilah keadaan akhir zaman di mana masjid megah besar tapi sedikit sekali
yang memakmurkannya

Balas
22. budi berkata:

Juni 19, 2015 pukul 4:45 am

Ustadz.. Bagaimana jika berjamaah dengan istri di rumah?

Balas

o rezakahar berkata:

Juni 19, 2015 pukul 1:28 pm

Sholat dulu di masjid berjamaah, terus ketika pulang shalat berjamaah bersama istri.
Ketika sholat berjamaah dengan istri, niatkan niat sholat sunnah ketika menjadi imam

Hadits Jabir ra yang menyebutkan bahwa Muadz bin jabal ra pernah melaksanakan
shalat isya berjamaah bersma Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam beserta
sahabat. Kemudian ia pulang menemui kaumnya dan menjadi Imam shalat yang sama
yaitu shalat isya untuk kaumnya tersebut. (HR Muslim)

Dan Imam Nawawi menyebutkan riwayat tambahan dari hadits ini yang diriwayatkan oleh
Imam Syafii, bahwa perkara tersebut dilaporkan kepada Nabi SAW, dan Nabi tidak
mengingkarinya. (Al-majmu jil 4 hal 272(

Balas

Pasel berkata:

Juni 24, 2016 pukul 9:39 am

Jarak masjid dgn rumah 3 km dan tak memiliki kendaraan. saat solat dimasjid
tentu memakan waktu lagi untuk pulang mengimami istri, sedangkan waktu solat
magrib itu singkat. Bisa2 istri tak solat gara2 nunggu suami. Ya dosa siapa?
Suami atau istri?

Balas

23. Ping balik: KlipBlog 24 Jam Kebiasaan (Habits) Nabi Muhammad SAW | HIJRAN

24. andre berkata:

Juli 27, 2015 pukul 9:28 am

apakah pengertian masjid sama dengan musholla ,sama dengan tempat khusus shalat yang
disediakan dikantor atau tempat2 lain yang biasa digunakan untuk sholat.. manakah yang lebih
utama untuk dijadikan tempat shalat jika disitu ada ruangan khusus dikantor untuk shalat
dibanding musholla bahkan ada masjid yang letaknya lebih jauh daripada tempat shalat lainnya

Balas

o rezakahar berkata:

Juli 28, 2015 pukul 1:50 am

jika waktu kerja memungkinkan untuk ke masjid sebaiknya berjamaah ke masjid, ruang
sholat di kantor untuk wanita atau pria yang sakit atau ada udzur darurat lainnya

Balas

25. irnianti berkata:

Agustus 27, 2015 pukul 5:48 pm

Di Indonesia mana ada yang iqamat tidak terdengar sampai ratusan meter, pake TOA semua
masjid/mushala nya.

Balas

26. Ibrahim Hambali berkata:

Desember 24, 2015 pukul 5:47 pm

Assalamualaikum wr.wb
Benarkah demikian saudaraku???? Siapakah yang menjamin bahwa orang yang shalat secara
berjamaah di masjid itu adalah orang yang shalatnya diterima oleh Allah SWT, bahwa ia yang
shalatnya khusyuk, tertib gerakannya serta tartil bacaannya????!!! Lalu, apakah orang yang lebih
memilih untuk shalat di rumahnya yang bahkan ia kerjakan secara munfarid, dengan alasan
karena agar shalatnya jauh lebih khusyuk, hening, jauh dari kebisingan suara orang dan
kendaraan yang lalu lalang, itu adalah shalat yang diharamkan dan hanya menghasilkan
ancaman yang saudara sebutkan diatas tadi????! Sedemikian kah Allah akan memberlakukan
ke-Maha Adilan NYA di hadapan para hamba NYA di Padang Mahsyar kelak??!!! mohon untuk
direnungkan saudaraku, berhati-hatilah dalam menafsirkan isi dari ayat ayat Al Quran Yang
Agung.
Wassalam.

Balas

27. Benny z b berkata:


Januari 18, 2016 pukul 9:38 pm

Aslkm pak ustad.mau nanya. Mana yg lebih utama:


Saya memiliki anak balita umur 4 tahun. Dan tergolong anak yg susah diam. Jika dibawa sholat
berjamaah ke masjid tidak bisa tenang dan cukup mengganggu jemaah yang lain. Sedang kan
jika sholat berjamaah bersama di rumah. Dia cukup tenang. Dan pastinya tidak mengganggu org
lain. Sedangkan jika di tinggal di rumah utk sholat bersama istri (krn tdk berjamaah) anak saya
tersebut sulit/tidak mau untuk tenang mengikuti sholat istri saya.
Dalam kondisi ini apakah saya lebih utama sholat di masjid atau di rumah bersama istri dan anak
saya mas?
Mohon penceran nya

Balas

o rezakahar berkata:

Januari 21, 2016 pukul 5:41 am

Waalaykumsalam warahmatullah,

Mungkin Mas Benny bisa mengikuti seperti ini, sholat di masjid dulu berjamaah terus
pulang, sholat berjamaah lagi dengan niat sholat sunnah:

Hadits Jabir ra yang menyebutkan bahwa Muadz bin jabal ra pernah melaksanakan
shalat isya berjamaah bersma Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam beserta
sahabat. Kemudian ia pulang menemui kaumnya dan menjadi Imam shalat yang sama
yaitu shalat isya untuk kaumnya tersebut. (HR Muslim)

http://www.fimadani.com/shalat-wajib-tapi-bermakmum-pada-imam-yang-shalat-sunnah-
dan-sebaliknya/

Balas

sugeng berkata:

Maret 29, 2016 pukul 9:33 am

Islam itu tidak ribet, bahkan menyenangkan, tidak ada paksaan. Patokannya
adalah Alquran dan hadits yg shahih. Bukan hanya dari buku2/tulisan 2.
Memakmurkan masjid lah yg utama. Jamaah di masjid juga utama. Tapi yg wajib
adalah Sholat. Coba renungkan hadits dibawah ini , yg intinya : semua lahan
adalah masjid,kecuali kuburan dan tempat pemandian (HR. Ahmad). Dari buku
1100 hadits terpilih, sinar ajaran Muhammad oleh : Dr. Muhammad Faiz Almath.
Jamaah di Mushalla, boleh (bukan masjid). Tulisan di atas, bagus, telah menjaga
keseimbangan. Mari makmurkan masjid.

Balas
28. bag jali berkata:

Januari 20, 2016 pukul 11:58 pm

tidak ada satu riwayat pun yang menjelaskan Nabi Muhammad selalu menjadi imam dalam shalat
5 waktu di masjid. Karena logikanya, kalau nabi muhammad mewajibkan orang untuk shalat
berjamaah di masjid, maka pada zaman itu, nabi muhammad selalu menjadi imam di masjid,
karena nabi muhammad adalah seorang nabi dan rasul, tentunya akan berjubel itu masjid oleh
para makmum yaitu para sahabat dan umat islam lainnya.
Jadi tidak jadi persoalan apakah kita shalat di masjid atau dirumah. Yang jadi persoalan adalah
apakah dalam shalat tersebut kita sudah khusyu, yaitu satunya ucapan (bacaan) dengan
penganggapan dan pendengaran. Sehingga diharapkan apa yang menjadi bacaan dalam shalat
menghunjam kedalam hati, sehingga ketika dibawa dalam kenyataan perilaku kehidupan sehari-
hari, fungsi dan tujuan shalat itu tercapai.
Kebanyakan kita shalat masih tidak nyambung antara apa yang kita baca dengan penanggapan
dan pendengaran kita, jangan kan itu, apa arti dan makna dari bacaan shalat saja kadang kita
tidak faham. Jadi selama ini kita hanya sebatas SEMBAHYANG, belum pada taraf SHALAT yang
sesungguhnya.
Perdebatan apakah shalat berjamaah atau sendiri2, adalah upaya pengalihan atas diskusi
kualitas shalat. Ini peran tangan-tangan yahudi, yang mencoba mengalihkan kita dari bagaimana
mampu menguasai Shalat dalam arti yang sesungguhnya.

Balas

29. maliq al qattary al mahdi bin al jazayyin bin affan bin ahmad bin abu hayya berkata:

Januari 31, 2016 pukul 9:01 am

intinya menurut tulisan ente wajib gak shalat di masjid???


shah gak kalo shalat lima waktu di rumah saja???

Balas

30. hamba Allah berkata:

Mei 21, 2016 pukul 10:21 pm

diwajibkan sholat berjamaah saja..kok ya bnyk alasan,masih enggan dan merasa


bermasalah..alasannya yg inilah, yg itulah,yg mana bunyi hadisnya lah,mana bunyi
ayatnyalah..masak kalah dgn umat jaman dulu,dulu jalan2nya msh rusak, bangunan masjid
jaraknya sampai puluhan kilometer dari rumah,makanya dengar dong sejarahnya bgmn org
sholat jaman dulu saat jamannya nabi,mereka jalan kaki taukkk!!! ..jadi laki2 itu jangan
cengeng!!!..tinggal cari masjid atau jika tdk bisa,ya kita kumpulkan tetangga2 sebelah utk sholat
berjamaah..makmurkanlah masjid..makmurkanlah silaturahim..APA NGGAK MALU DIBERI
REJEKI OLEH ALLAH SETIAP DETIKNYA SELAMA 24 JAM, dan SHOLAT BERJAMAAH hny
BUTUH 1/2 JAM SAJA KAGAK MAU..lelaki picisan!!..cemennnn!!..sy aja dah tahu dalil hadis
dan ayatnya..makanya hidup itu jgn ngumpulin duit melulu..kumpulin juga amalan dan
pahala..kalo ngumpulin duit melulu terus nggak bisa beli gunung..rugiii!!
Balas