Anda di halaman 1dari 18

EFEK PAJAK DALAM PEREKONOMIAN

ABD. KADIR JAELANI 2014 30 259


NUR HALIFAH 2014 30 274

YAYASAN PENDIDIKAN BONGAYA UJUNG PANDANG


SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI MAKASSAR
TAHUN 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan YME, karena dengan karunia-Nya kami dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul Efek Pajak Terhadap Perekonomian. Meskipun
banyak hambatan yang kami alami dalam proses pengerjaannya, tapi kami berhasil
menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.

Tidak lupa kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan
membimbing kami dalam mengerjakan makalah ini. Kami juga mengucapkan terima kasih
kepada teman-teman mahasiswa yang juga sudah memberi kontribusi baik langsung maupun
tidak langsung dalam pembuatan makalah ini. Tentunya kami berharap semoga makalah ini
dapat menjadi sesuatu yang berguna bagi kita bersama.

Kami menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk
itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna sempurnanya
makalah ini. Kami berharap semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi kami khususnya dan
bagi pembaca pada umumnya.

Makassar, 23 Agustus 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI
Sampul ................................................................................................................................ i
Kata Pengantar .................................................................................................................... ii
Daftar Isi ............................................................................................................................. iii

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang ........................................................................................................ 1
2. Rumusan Masalah ................................................................................................... 1
3. Tujuan ..................................................................................................................... 1

BAB II
LANDASAN TEORI .......................................................................................................... 2

BAB III
PEMBAHASAN
1. Penerimaan Pemerintah .......................................................................................... 3
1.1 Sumber-sumber penerimaan negara .................................................................. 3
1.2 Distribusi Beban Pemerintah ............................................................................ 3
2. Pajak........................................................................................................................ 3
2.1 Tujuan Perpajakan ............................................................................................ 4
2.2 Prinsip-prinsip Dalam Perpajakan .................................................................... 4
2.3 Konsep Equal Sacrifice ..................................................................................... 5
2.4 Efek Pajak Dalam Perekonomian ..................................................................... 6
2.5 Pajak Perseorangan ........................................................................................... 7
2.6 Kriteria Pajak Daerah ........................................................................................ 9
2.7 Tax Policy ......................................................................................................... 11
2.8 Dampak Ekonomi Dari Pajak-Pajak Pendapatan Dan Konsumsi; Pajak Atas
Pengeluaran ............................................................................................................. 12

BAB IV
PENUTUP
1. Kesimpulan ............................................................................................................. 14

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................... 15

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Untuk membahas pengaruh pajak terhadap produksi, harus diketahui terlebih dahulu
pengertian dari produksi tersebut. Produksi ialah suatu kegiatan untuk menghasilkan barang
dan jasa, baik dengan cara menambah guna bentuk, tempat maupun menambah guna waktu
atas suatu barang. Pembahasan pengaruh pajak terhadap produksi dilakukan dengan cara
membahas pengaruh pajak terhadap produksi sebagai keseluruhan dan pengaruh pajak terhadap
komposisi produksi. Pengaruh pajak terhadap produksi sebagai keseluruhan dibahas melalui
pengaruh pajak terhadap kemampuan dan keinginan untuk melakukan pekerjaan, menabung,
dan kemampuan serta keinginan untuk melakukan investasi.
Keinginan untuk melakukan investasi tergantung dari tersedianya tabungan dalam masyarakat.
Apabila tabungan yang tersedia lebih besar daripada investasi yang dilakukan maka akan
terjadi suatu keadaan yang disebut dengan deflasi, sedangkan pada saat terjadi tabungan yang
ada dalam masyarakat itu lebih kecil dari investasi maka akan terjadi inflasi. Melalui
kebijaksanaan dalam perpajakan keadaan inflasi maupun keadaan deflasi dapat dikurangi.
Sekarang bagaimanakah pengaruh pajak terhadap produksi sebagai keseluruhan itu.

2. RUMUSAN MASALAH
Makalah ini disusun untuk membahas beberapa persoalan mendasar yang terkait
dengan peran pajak dalam perekonomian Indonesia, yaitu :
1. Apakah yang dimaksud dengan penerimaan pemerintah, dan hal apa saja yang terkait
dengan penerimaan pemerintah?
2. Apakah yang dimaksud dengan pajak, dan hal apa saja yang terkait dengan pajak?
3. Efek apakah yang ditimbulkan pajak terhadap perekonomian?
4. Sebutkan dan jelaskan salah satu bentuk permasalahan yang terkait dengan perpajakan?
5. Solusi apakah yang dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan pajak tersebut?

3. TUJUAN
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1. Makalah ini dapat menjelaskan tentang penerimaan pemerintah dan hal-hal yang terkait
dengan penerimaan pemerintah
2. Makalah ini dapat menjelaskan tentang pajak dan hal-hal yang terkait dengan perpajakan
3. Makalah ini dapat menjelaskan efek yang ditimbulkan oleh pajak terhadap perekonomian
4. Makalah ini dapat menyebutkan dan menjelaskan salah satu bentuk permasalahan yang
terkait dengan perpajakan
5. Makalah ini dapat memberikan solusi yang dapat digunakan untuk menyelesaikan
permasalahan pajak tersebut

1
BAB II
LANDASAN TEORI
Pajak adalah pungutan yang bersifat dipaksakan oleh negara kepada warga negaranya untuk
memenuhi berbagai macam tuntutan dan perkembangan dalam pembangunan. Peran pajak
sangat besar dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara, termasuk di negara Indonesia yang
termasuk negara sedang berkembang, yang menggunakan pajak sebagai salah satu pendapatan
utama untuk membiayai segala macam kebutuhan. Apalagi, dari total penerimaan anggaran di
tahun ini, pajak ditargetkan menyumbang 70,9 persen, atau Rp 500 triliun lebih.
Tidak terbayang, bila pajak yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi,
ternyata dimanipulasi untuk kepentingan beberapa pihak dan merugikan negara hingga
triliunan rupiah. Perlahan tetapi pasti pengurangan pajak yang dilakukan secara sengaja dan
bersifat ilegal tersebut akan banyak mempengaruhi perkembangan ekonomi dan pertumbuhan
pembangunan di Indonesia. Tingkat perkembangan ekonomi akan berjalan di tempat bahkan
mengalami kemunduran. Banyak pembangunan yang tidak berjalan karena prediksi
pendapatan dari pajak yang awalnya ditujukan untuk membiayai pembangunan ternyata tidak
sepadan karena penggelapan uang pajak.

Kepatuhan dalam mematuhi peraturan negara, khususnya untuk membayar pajak


seharusnya sudah menjadi budaya. Pajak bukan sekedar kewajiban semata, karena dari
pajaklah semua pembangunan yang ada di negara Indonesia ini dapat berlangsung. Kita
seharusnya tidak selalu menuntut hak akan fasilitas yang wajib disediakan oleh negara, tetapi
hanya untuk sekedar memberikan kontribusi pajak negara saja, kita memikirkan berbagai
macam cara untuk memanipulasinya. Saat inilah waktu yang tepat bagi kita bersama untuk
memberikan kontribusi bagi negara ini, hanya dengan kepatuhan akan menjalankan peraturan
negara, kita dapat membangun negara ini menjadi lebih baik lagi.

2
BAB III
PEMBAHASAN

1. PENERIMAAN PEMERINTAH
1.1 Sumber-Sumber Penerimaan Negara
Penerimaan pemerintah kita artikan sebagai penerimaan pemerintah dalam arti yang
seluas-luasnya yaitu meliputi penerimaan pajak, penerimaan yang diperoleh dari hasil
penjualan barang dan jasa yang dimiliki dan dihasilkan oleh pemerintah, pinjaman pemerintah,
mencetak uang, dan sebagainya. Cara-cara yang dapat ditempuh pemerintah untuk
mendapatkan uang pada intinya dapat digolongkan sebagai berikut:
1. Pajak
2. Retribusi
3. Keuntungan dari Perusahaan-perusahaan Negara
4. Denda-denda
5. Sumbangan masyarakat
6. Pencetakan Uang Kertas
7. Hasil dari Undian Negara
8. Pinjaman
9. Hadiah

1.2 Distribusi Beban Pemerintah


Hal penting dari inventarisasi sumber-sumber keuangan pemerintah di atas adalah
pemecahan masalah mengenai prinsip-prinsip yang harus ditempuh untuk mendistribusikan
beban pemerintah kepada anggota-anggota masyarakat. Pajak di samping sebagai sumber
penerimaan negara yang utama (fungsi budget) juga mempunyai fungsi lain yaitu sebagai alat
untuk mengatur dan mengawasi kegiatan-kegiatan swasta dalam perekonomian (fungsi
pengatur). Sebagai alat anggaran (budgetary) pajak digunakan sebagai alat untuk
mengumpulkan dana guna membiayai kegiatan-kegiatan pemerintah, terutama kegiatan-
kegiatan rutin. Pajak dalam fungsinya sebagai pengatur (regulatory), dimaksudkan terutama
untuk mengatur perekonomian guna menuju pada pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat,
mengadakan redistribusi pendapatan serta stabilisasi ekonomi.
2. PAJAK
Pajak merupakan sumber anggaran pendapatan negara yang paling pokok. Perpajakan
menyangkut dua masalah pokok, yaitu bagaimanakah sistem administrasi membiayai
pengadaan dan penyediaan barang dan jasa kolektif yang sukar dapat disediakan melalui
mekanisme pasar serta bagaimanakah membiayai program-program yang dapat
menghindarkan akibat sampingan dalam mekanisme pasar.
Ada beberapa alasan mengapa kebutuhan akan perpajakan itu timbul. Alasan pertama
adalah bahwa sistem administrasi perlu menyediakan barang dan jasa kolektif. Alasan kedua,

3
sistem administrasi perlu mengambil langkah-langkah untuk mengatasi kegagalan-kegagalan
tertentu dari mekanisme pasar sehingga langkah-langkah yang diambil itu mencerminkan
mekanisme perencanaan. Alasan ketiga, berkaitan dengan pemerataan dalam pembagian
pendapatan. Alasan keempat, adanya ketidaksempurnaan pasar. Ada sumber lain dari
pengeluaran yang dilaksanakan oleh sistem administrasi yaitu yang berkaitan dengan campur
tangan sistem administrasi yang timbul dari kegagalan mekanisme perencanaan pasar.
Memberikan pengertian pajak akan berkaitan dengan masalah yang dapat menjelaskan
fungsi dari pajak dengan keyakinan bahwa pengartian tersebut mencakup segi-segi pokok yang
terkandung di dalamnya. Sistem administrasi melakukan penarikan pajak bukan semata-mata
untuk memperoleh dana akan tetapi juga dapat mengawasi pengeluaran dari sistem kegiatan
sosial sehingga permintaan konsumsi dan investasi dari sistem administrasi ditambah dengan
permintaan konsumsi dan investasi dari sistem kegiatan sosial akan sama dengan pendapatan
pada tingkat kesempatan kerja tertentu.

2.1 Tujuan Perpajakan


Sistem politik pada umumnya berfungsi dalam membuat keputusan dan menafsirkan
nilai-nilai yang ada dalam dan dibutuhkan oleh sistem kegiatan sosial untuk dapat mengatur
pembagian pendapatan yang lebih merata.
Perpajakan diperlukan untuk membiayai berbagai pengeluaran negara. Tujuan dari
perpajakan adalah untuk menekan konsumsi dan investasi dari sistem kegiatan sosial sehingga
sistem administrasi dapat menyediakan barang dan jasa publik, sosial atau kolektif dan dapat
memberikan subsidi kepada golongan miskin tanpa menimbulkan inflasi dan kesukaran dalam
neraca pembayaran.
Fungsi pokok dari perpajakan adalah untuk menekan berbagai permintaan akan
kapasitas produktif dari sistem kegiatan sosial. Dengan demikian, perpajakan mempunyai
tujuan lain, di samping sebagai sumber pendapatan negara. Perpajakan yang eifisien
dilaksanakan dengan suatu cara yang dapat membantu pembagian pendapatan yang lebih
merata, dapat membantu untuk memberikan dorongan tingkat pertumbuhan ekonomi dan
memperkuat kebijaksanaan pengeluaran anggaran yang dilaksanakan oleh sistem administrasi.

2.2 Prinsip-Prinsip Dalam Perpajakan


v Prinsip Pengenaan Pajak
Soal prinsip pengenaan pajak yang baik telah dikemukakan oleh A. Smith dengan cannon of
taxation dan para ahli keuangan lainya. Suatu sistem pajak yang baik haruslah memenuhi
kriteria, diantaranya adalah sebagai berikut:
Distribusi dari beban pajak harus adil, setiap orang harus membayar sesuai dengan
bagiannya yang wajar.
Pajak-pajak harus sedikit mungkin mencampuri keputusan-keputusan ekonomi.
Pajak-pajak haruslah memperbaiki ketidakefisienan yang terjadi di sektor swasta, apabila
instrumen pajak dapat melakukannya.
Struktur pajak haruslah mampu digunakan dalam kebijakan fiskal untuk tujuan stabilisasi
dan pertumbuhan ekonomi.

4
Sistem pajak harus dimengerti oleh wajib pajak.
Administrasi pajak dan biaya pelaksanaannya haruslah sesedikit mungkin.
Kepastian.
Dapat dilaksanakan.
Dapat diterima,
Suatu sistem pajak yang baik adalah suatu sistem pajak yang adil. Konsep keadilan ini sifatnya
relatif, sehingga harus dijelaskan lebih lanjut. Dalam bidang perpajakan konsep keadilan
menjadi dua klasifikasi, yaitu keadilan datar (horizontal equity) dan keadilan tegak (vertical
equity). Yang dimaksud dengan keadilan datar adalah pengenaan pajak dimana setiap orang
yang keadaannya sama haruslah menderita beban pajak yang sama besarnya. Sedangkan
keadilan tegak adalah situasi dimana orang yang keadaannya berbeda adalah haruslah
menderita beban pajak yang berbeda pula.
v Prinsip Pemanfaatan Dalam Perpajakan
Menurut prinsip ini, setiap orang haruslah membayar pajak sebesar manfaat yang dia
terima dari aktivitas pemerintah. Dari definisi tersebut dapat dilihat bahwa prinsip manfaat
sesuai dengan insidens Keseimbangan Anggaran, kedua-duanya berdasarkan pertukaran model
suka rela (voluntary exchange model). Dalam hal ini pengenaan pajak dapat didasarkan pada
kriteria efisiensi, yaitu dimana tingkat produksi ditentukan pada biaya marginal sama dengan
harga.
v Prinsip Kemampuan Membayar
Menurut prinsip ini, setiap orang haruslah membayar bagiannya (pajak) sesuai dengan
kemampuannya untuk membayar. Prinsip ini tidak mempunyai dasar ilmiah karena didasarkan
pada sesuatu yang sangat abstrak. Untuk dijadikan suatu prinsip perpajakan yang operasional
maka prinsip ini juga harus menggunakan suatu ukuran operasional untuk mengukur
kemampuan seseorang untuk membayar pajak. Tiga ukuran yang biasanya dipakai untuk
mengukur kemakmuran seseorang (atau kemampuan seseorang membayar pajak) adalah:
1. Pendapatan
2. Pengeluaran konsumsi
3. Kekayaan

2.3 Konsep Equal Sacrifice


Sehubungan dengan prinsip kemampuan untuk membayar pajak berdasarkan atas
kesamaan, maka apa yang kita maksud dengan sama di sini adalah pembayarannya dalam arti
beban riil (real burden) yang diderita seorang wajib pajak.
Prinsip atas dasar pengorbanan (sacrifice principle) ini dapat kita golongkan menjadi 3 macam
yaitu:
1. Kesamaan pengorbanan secara absolut (equal absolute sacrifice)
2. Kesamaan pengorbanan secara proporsional (equal proportional sacrifice)
3. Kesamaan pengorbanan secara marginal (equal marginal sacrifice)

5
Sebagai suatu ikhtisar, yang dimaksud dengan:
Kesamaan pengorbanan absolut (equal absolute sacrifice) ialah bahwa pajak hendaknya
dibebankan kepada wajib pajak sedemikian rupa sehingga beban riil atau kepuasan/guna yang
hilang dari masing-masing pembayar pajak itu adalah sama besarnya.
Untuk kesamaan pengorbanan yang proporsional (equal proportional sacrifice) berarti
pajak hendaknya didistribusikan kepada wajib pajak sedemikian rupa sehingga jumlah
kepuasan/ guna yang hilang yang diderita masing-masing wajib pajak itu sebanding dengan
seluruh kepuasan/guna total yang dimiliki oleh masing-masing wajib pajak tersebut dari jumlah
pendapatan yang dimilikinya.
Prinsip kesamaan pengorbanan batas (equal marginal sacrifice) menghendaki agar
pajak itu didistribusikan sedemikian rupa di antara wajib pajak sehingga masing-masing akan
memiliki sejumlah pendapatan setelah dikenai pajak, yang dapat memberikan guna batas
(marginal utility) yang sama.
2.4 Efek Perpajakan Dalam Perekonomian
Pajak merupakan suatu pungutan yang dipaksakan oleh pemerintah untuk berbagai
tujuan, misalnya untuk membiayai penyediaan barang dan jasa publik, untuk mengatur
perekonomian, dapat juga mengatur konsumsi masyarakat. Karena sifatnya yang dipaksakan
tersebut maka pajak akan mempengaruhi perilaku ekonomi masyarakat atau seseorang.
2.4.1 Pengaruh Pajak Terhadap Produksi
Pengaruh pajak terhadap produksi dapat dibagi dalam pengaruhnya terhadap produksi
sebagai keseluruhan dan komposisi produksi. Pengaruhnya terhadap produksi sebagai
keseluruhan berlangsung melalui pengaruh-pengaruhnya terhadap kerja, tabungan dan
investasi. Kemudian lebih jauh lagi kita melihat pengaruh-pengaruh terhadap kerja, tabungan,
dan investasi itu melalui kemampuan dan keinginan, yaitu kemampuan dan keinginan untuk
bekerja, menabung dan mengadakan investasi.
2.4.2 Pengaruh Pajak Terhadap Produksi Sebagai Keseluruhan
Pengaruh pajak terhadap produksi sebagai keseluruhan berlangsung melalui pengaruh-
pengaruhnya terhadap kerja, tabungan, dan investasi. Apabila investasi dapat diarahkan dengan
baik, maka akan dapat membuat pekerjaan lebih produktif. Investasi ini dapat berupa investasi
materiil maupun investasi sumber daya manusia.
Investasi materiil memberikan kepada para pekerja alat-alat materiil untuk dapat bekerja lebih
produktif dan lebih efisien. Investasi ini dapat berbentuk bangunan-bangunan, mesin-mesin,
alat-alat angkutan, tenaga listrik dan sebagainya, sedangkan investasi dalam bidang sumber
daya manusia akan dapat membuat para pekerja lebih efisien sebagai salah satu faktor produksi.
Investasi dalam bentuk ini dapat dalam bentuk tingkat kesehatan yang lebih baik, skill,
pengetahuan khusus dan sebagainya.
Investasi sumber daya manusia maupun investasi materiil hanya mungkin terjadi bila
ada tabungan dalam masyarakat. Pada kenyataannya, besarnya tabungan dan investasi tidak
secara otomatis akan sama. Kadang-kadang terjadi bahwa tabungan lebih tinggi dari investasi,
maka akibatnya ialah akan terjadi pengangguran, perusahaan-perusahaan menjadi lesu, harga-
harga akan menurun sehingga akan terjadi deflasi. Sebaliknya dapat pula terjadi kenaikan harga
dan investasi, dan perusahaan-perusahaan mendapatkan untung.

6
2.4.3 Pengaruh Pajak Terhadap Komposisi Produksi
Pajak dapat mengakibatkan adanya penyimpangan dalam penggunaan faktor produksi,
yaitu penggunaan yang seharusnya dapat menghasilkan produksi yang maksimum menuju ke
arah penggunaan yang menghasilkan produksi yang lebih sedikit, oleh karenanya pajak yang
dikenakan jangan sampai mengakibatkan adanya penyimpangan penggunaan faktor-faktor
produksi atau jika memang tidak dapat dihindarkan. Pajak yang dikenakan dalam
perekonomian jangan sampai menimbulkan terlalu banyak penyimpangan-penyimpangan.
Pajak yang dapat menyebabkan penyimpangan dalam penggunaan faktor-faktor
produksi terutama ialah pajak yang dikenakan terhadap keuntungan-keuntungan yang tidak
diharapkan, peningkatan nilai tanah, dan pajak yang dikenakan pada monopolist yang ternyata
tidak mengakibatkan diubahnya jumlah dan harga barang-barang yang dihasilkan oleh seorang
monopolist tersebut.
Tentang seberapa jauh pengaruh pemungutan pajak terhadap beralihnya penggunaan
faktor-faktor produksi terhadap kegiatan-kegiatan yang dikenai pungutan pajak ke kegiatan
yang lain, dan juga mengenai seberapa banyak jumlah produksi barang-barang yang dihasilkan
pada kegiatan-kegiatan yang dijadikan obyek pajak itu akan berkurang kan tergantung pada
tinggi rendahnya elastisitas permintaan dan penawaran terhadap barang-barang yang
dihasilkan tersebut.
2.4.4 Pengaruh Pajak Terhadap Distribusi Pendapatan
Pada umumnya, tujuan pembangunan suatu negara adalah berupa peningkatan
pendapatan nasional per kapita, penciptaan lapangan pekerjaan, distribusi pendapatan yang
lebih merata dan keseimbangan neraca pembayaran internasional. Keempat tujuan umum
pembangunan ini tidak selalu sejalan dan selaras dalam pencapaiannya, melainkan sering kali
untuk mencapai tujuan yang satu terpaksa harus mengurangi keberhasilan dari tujuan yang lain.
Untuk mencapai laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi sering kali terjadi adanya distribusi
pendapatan yang kurang/tidak merata. Alasan yang diberikan oleh teori ini adalah bahwa
dengan distribusi pendapatan yang tidak merata maka ada golongan yang kaya dan ada
golongan yang miskin dalam suatu perekonomian.
Dari teori ekonomi makro, dikemukakan bahwa semakin tinggi tingkat pendapatan
semakin rendah hasrat untuk mengadakan konsumsi pendapatan. Dengan demikian dapat
diharapkan bahwa kelompok kaya inilah yang sanggup membentuk tabungan dan kemudian
mengadakan investasi apabila diadakan distribusi pendapatan yang lebih merata, maka ini akan
berarti menurunkan tingkat tabungan masyarakat yang berarti pola mengurangi dana yang
tersedia untuk investasi. Dengan kata lain kelompok miskin tidak mempunyai kemampuan
untuk mengadakan tabungan dan investasi.

2.5 Pajak Perseorangan (Personal Taxes)


Yang dimaksud pajak perseorangan di sini adalah pajak yang dikenakan pada seseorang
tanpa mengingat jumlah pendapatannya, tabungan atau pengeluarannya. Pajak ini dapat
dikenakan dalam jumlah yang sama pada semua orang atau dapat dikenakan pada golongan
orang tertentu berdasarkan kriteria tertentu, misalnya status perkawinan, jumlah umur dan
sebagainya. Jadi pajak perseorangan dikenakan pada suatu kelompok tertentu tanpa mengingat
aktivitasnya. Golongan yang dikenakan pajak tidak dapat menghindarkan diri dari pembayaran
pajak perseorangan dengan mengubah pola aktivitasnya. Dalam hal ini, pajak perseorangan
dikatakan merupakan pajak yang netral. Suatu pajak yang netral merupakan jenis pajak yang

7
paling baik karena tidak mengganggu preferensi seseorang. Walaupun demikian, pajak ini
berpengaruh terhadap pendapatan (yang menjadi berkurang setelah pembayaran pajak),
tabungan, atau kedua-duanya.
2.5.1 Pengaruh Pajak Perseorangan Terhadap Konsumsi Suatu Barang
Kita misalkan pajak perseorangan merupakan pajak yang harus di bayar oleh setiap
orang dalam jumlah yang sama, kemudian kita analisis mengenai pengaruh pajak perseorangan
tersebut terhadap pola pengeluaran seseorang. Kita misalkan lebih lanjut bahwa seseorang
dapat membelanjakan seluruh pendapatannya untuk membeli dua jenis barang, yaitu barang
publik (Z) dan barang swasta (S). Apabila seseorang (H) menggunakan seluruh pendapatannya
untuk membeli barang (Z) maka ia akan memperolehnya sebanyak beberapa AO unit.
Sebaliknya apabila H menggunakannya seluruh pendapatannya untuk membeli barang S, maka
ia akan memperoleh barang S sebanyak OB.
2.5.2 Pengaruh Pajak Perseorangan Terhadap Pengeluaran Konsumsi Dan Tabungan
Dalam bagian ini kita akan membahas mengenai pengaruh pajak perseorangan terhadap
kepuasan seseorang untuk melakukan konsumsi dan menabung. Dalam analisis ini kita
asumsikan bahwa seseorang menabung dengan tujuan untuk melakukan konsumsi pada suatu
waktu yang akan datang. Penghasilan seseorang dapat digunakan untuk dua tujuan, yaitu untuk
konsumsi dan untuk tabungan (Y = C + S), jadi pertimbangan seseorang untuk melakukan
pengeluaran untuk konsumsi atau menabung.
Kegiatan menabung tidak lain adalah pertimbangan apakah pendapatan sekarang akan
dikonsumsikan sekarang ataukah akan dikonsumsi pada suatu waktu yang akan datang, jadi
dalam hal ini maka analisis yang harus digunakan adalah analisis antar-waktu atau inter-
temporal analysis. Untuk mempermudah analisis kita membedakan waktu menjadi dua
periode, yaitu periode 1 (waktu sekarang) dan periode 2 (waktu yang akan datang).
2.5.3 Pengaruh Pajak Perseorangan Terhadap Pemilihan Bentuk Tabungan
Pada pembahasan diatas, kita tidak dapat membedakan antara jenis tabungan, kita
anggap bahwa tabungan yang dilakukan seseorang oleh seseorang mempunyai tingkat risiko
yang sama. Pada kenyataannya seseorang dapat memilih berbagai jenis tabungan yang akan
dilakukannya.
Seseorang dapat menyimpan uangnya dalam bentuk uang tunai dimana simpanan dalam bentuk
ini mempunyai tingkat risiko yang sangat rendah, bahkan dikatakan simpanan dalam bentuk
tunai tidak mempunyai risiko sama sekali. Yang dimaksud risiko dalam hal ini adalah risiko
penurunan nilai tabungan. Sebaliknya, ada bentuk tabungan yang mempunyai tingkat risiko
yang sangat tinggi, misalnya tabungan dalam bentuk saham.
Tabungan dalam bentuk saham mempunyai unsur pertaruhan, karena nilai saham mengikuti
mekanisme pasar, suatu saat nilainya dapat naik tanggi sekali yaitu apabila permintaan suatu
jenis saham meningkat relatif dibandingkan penawarannya, akan tetapi suatu saat nilainya
mungkin menjadi rendah sekali apabila penawarannya jauh lebih besar dibanding permintaan
akan saham tersebut.
Untuk mempermudah analisis kita misalkan bahwa orang tidak menyukai risiko. Oleh karena
itu, orang hanya bersedia untuk hanya memegang sebagian besar tabungannya dalam bentuk
tabungan yang mengandung risiko hanya apabila hasil yang diharapkan akan diterimanya
besar. Semakin besar hasil yang diharapkan akan diterima semakin besar pula seseorang
bersedia menanggung risiko.

8
2.5.4 Pengaruh Pajak Perseorangan Terhadap Penawaran Tenaga Kerja
Pajak perseorangan adalah pajak yang dikenakan pada seseorang tanpa mengingat
jumlah pendapatannya, tabungan atau pengeluarannya. Pajak ini dapat dikenakan dalam
jumlah yang sama pada semua orang atau dapat dikenakan pada golongan orang tertentu
berdasarkan kriteria tertentu.
Pajak perseorangan yang berupa pungutan yang jumlahnya telah ditentukan menyebabkan
pendapatan yang diterima harus digunakan sebagian untuk membayar pajak dalam jumlah yang
sama dan besarnya tidak tergantung lamanya ia bekerja. Bahkan orang tersebut harus tetap
membayar pajak perseorangan walaupun ia tidak bekerja sama sekali. Orang yang harus
membayar pajak perseorangan menyebabkan ia bekerja lebih lama dari sebelum ada pajak.
Hal tersebut tidak selalu demikian, sebab pajak juga menyebabkan bekerja lebih sedikit atau
tidak mengubah jam kerjanya sama sekali. Dalam hal ekonomi, teori tidak dapat menentukan
secara apriori pengaruh pajak terhadap lamanya seseorang bekerja.

2.5.5 Pengaruh Pajak Penghasilan Terhadap Penawaran Tenaga Kerja


Pajak penghasilan termasuk salah satu jenis pajak yang menimbulkan distorsi,
walaupun secara umum, pajak penghasilan yang diterapkan secara menyeluruh menimbulkan
distorsi yang paling kecil. Walaupun demikian, ditinjau dari segi keadilan maka pajak
penghasilan merupakan pajak yang baik karena pajak ini struktur pajaknya dapat dibuat
menjadi progresif. Pajak penghasilan dikatakan mempunyai tarif progresif apabila persentase
pajak terhadap pendapatan semakin besar dengan semakin tingginya tingkat pendapatan.
Jadi suatu pajak dikatakan progresif bukanlah karena orang yang pendapatannya besar yang
membayar pajak, akan tetapi karena orang yang pendapatannya besar membayar pajak yang
proposisinya (atau persentasenya) terhadap pendapatannya lebih besar dari orang lain yang
mempunyai pendapatan yang lebih kecil dari dia.
Pajak penghasilan selain mempunyai efek pendapatan (income effect), juga mempunyai efek
substitusi (substitution effect). Adanya pajak penghasilan menyebabkan pendapatan yang
diterima oleh seseorang harus dikurangi untuk membayar pajak. Karena seseorang yang
bekerja lebih memperhatikan pendapatan neto daripada pendapatan bruto, maka efek substitusi
menunjukkan sikap seseorang yang mengurangi jam kerjanya.

2.6 Kriteria Pajak Daerah


Ada 5 (lima) kriteria yang harus dipenuhi suatu potensi pendapatan agar dapat menjadi
obyek pengenaan pajak daerah, meliputi kecukupan dan elastisitas, pemerataan, kemampuan
administratif, kesepakatan politik, dan kecocokan suatu pajak. Semua ini diperlukan agar
proses pungutan, administrasi dan penetapan tarif terhadap sumber-sumber pendapatan
tersebut tidak menyalahi kewenangan Pemerintah Daerah.
2.6.1 Kecukupan Dan Elastisitas
Artinya, sumber pendapatan harus menghasilkan pendapatan pajak lebih besar
dibandingkan sebagian atau seluruh biaya pelayanan yang akan dikeluarkan. Pajak akan
meningkat mengikuti biaya pelayanan yang meningkat untuk menutupi pengeluaran
pemerintah. Keadaan demikian mencerminkan elastisitas pajak.

9
Elastisitas pajak mempunyai 2 (dua) dimensi. Pertama, pertumbuhan potensi dari dasar
pengenaan pajak. Kedua, kemudahan untuk memungut pertumbuhan pajak tersebut. Sebagai
gambaran, ditunjukkan pada keterkaitan antara tingkat inflasi dengan pajak penjualan dan
pajak harta tetap. Saat harga-harga barang dan jasa naik, secara otomatis hasil pajak ikut
meningkat sesuai perkembangan dasar pengenaan pajaknya.
Untuk pertumbuhan potensi dasar pengenaan pajak atas harta tetap, hanya bisa jika tarifnya
ditingkatkan atau harta dinilai kembali (revaluasi). Dalam hal ini elastisitas pajak ditekankan
pada kemudahan untuk memungut pertumbuhan pajak tersebut (dari selisih kenaikan tarif dan
selisih nilai harta tetap dari revaluasi).
Elastisitas pajak bukan hanya sekedar gambaran data penerimaan pajak tetapi elastisitas pajak
dapat mencerminkan pertumbuhan potensi pajak terlepas dari keputusan untuk mengubah tarif
pajak.
2.6.2 Keadilan
Keadilan memandang pajak sebagai suatu alat redistribusi pendapatan, dimana
golongan kaya menyumbang lebih besar daripada nilai pelayanan yang diterimanya, sebaliknya
golongan miskin menerima nilai pelayanan yang lebih besar daripada sumbangan yang
diberikannya. Keadilan dalam perpajakan mempunyai 3 (tiga) dimensi, yaitu keadilan sosial,
keadilan horizontal, dan keadilan geografis.

1. Keadilan vertikal
Pajak dikatakan baik jika bersifat progresif, artinya persentase pajak pendapatan
seseorang bertambah sesuai kenaikan tingkat pendapatannya. Pajak juga dikatakan baik jika
proporsional, yaitu jika persentase pendapatan yang dibayarkan untuk pajak sama untuk semua
tingkat pendapatan. Sedangkan pajak dikatakan tidak baik jika bersifat regresif, yaitu
persentase pendapatan yang dibayarkan untuk pajak menurun dengan adanya tingkat kenaikan
pendapatan.
2. Keadilan horizontal
Keadilan disini maksudnya dalam jumlah pendapatan yang sama maka besarnya pajak
yang dibayar juga sama tidak memandang sumber pendapatannya.
3. Keadilan geografis
Pemerataan harus dilihat dalam kaitannya dengan penerimaan dan pengeluaran.
Pengenaan pajak atas penduduk adalah tepat jika mereka tinggal di daerah yang memperoleh
pelayanan khusus dari Pemerintah. Hal ini untuk memberikan keleluasaan kepada Pemerintah
Daerah untuk menetapkan tingkat pajak yang dikenakannya, agar mereka dapat membebani
pajak yang berbeda-beda untuk berbagai tingkat pelayanan yang diberikan.
2.6.3 Kemampuan Administratif
Dalam menilai pajak yang ditetapkan atas sumber pendapatan pajak memerlukan
ketelitian administrasi. Sebab setiap transaksi antara wajib pajak dengan aparat pajak dalam
menetapkan besarnya pajak, membuka kesempatan untuk mengadakan kerja sama dan korupsi.
Bagi negara-negara berkembang dimana banyak masyarakatnya memiliki penghasilan
yang tidak jelas yang dapat dihitung pengenaan pajaknya, memerlukan kunjungan saat mereka
tengah panen sehingga ada penghasilan untuk dipungut pajak.

10
Ongkos administrasi untuk kegiatan semacam itu sangat tinggi, sehingga mungkin tidak
sebanding dengan pendapatan pajak yang dihasilkan. Sebaliknya pendapatan yang diperoleh
dari pungutan atas minyak misalnya, ongkosnya rendah. Dalam keadaan ekonomi yang
demikian muncul kecenderungan menempuh administrasi yang mudah melalui pungutan saat
transaksi di sektor komersial formal. Namun, yang demikian tidak selalu sesuai dengan
pembebanan yang adil.
2.6.4 Kesepakatan Politis
Tidak ada pajak yang populer. Tapi kemauan politis tetap diperlukan dalam
mengenakan pajak, menetapkan struktur tarif, memutuskan siapa yang harus membayar, dan
bagaimana pajak tersebut ditetapkan, memungut pajak secara fisik, dan memaksakan sangsi
pada para pelanggar. Hal ini tergantung pada dua faktor kepekaan dan kejelasan dari pajak
tersebut dan adanya keleluasaan dalam mengambil keputusan.
Kepekaan politis kadang hanya memusatkan pada masalah nilai-nilai sosial. Ada
masyarakat yang menganggap pajak atas tanah adalah masalah yang sensitif karena tanah itu
dipandang sebagai milik bersama, bukan pribadi. Di pihak lain, pengenaan pajak tertentu dapat
sensitif karena berpengaruh terhadap kepentingan golongan berkuasa atau golongan tertentu.
Kepekaan politis merupakan hambatan atas potensi suatu pajak. Meski demikian, hal
itu berguna untuk pertanggungjawabannya. Kebutuhan untuk membuat suatu keputusan dalam
rangka meningkatkan tarif pajak yang tinggi dapat memaksa instansi Pemerintah lebih teliti
terhadap pertimbangan untuk pengeluaran tertentu atau mengurangi pemborosan.
Agar pajak lebih diterima, sering dikaitkan penggunaannya secara langsung yaitu dengan
meningkatkan pungutan untuk membiayai pelayanan tertentu yang populer. Dalam jangka
panjang, pengkaitan pajak dengan pelayanan yang diberikan dapat bersifat tidak produktif.
Selain itu, pajak dengan jenis yang bermacam-macam malah mempersulit pengenaan yang adil
terhadap masyarakat.
2.7 Tax Policy
Tax policy adalah alat perpajakan pemda yang berfungsi sebagai peraturan pelaksana
maupun pedoman bagi pelaksanaan di lapangan, sehingga dapat membantu Wajib Pajak
dengan pasti melaksanakan kewajiban perpajakannya. Tax policy yang baik harus memenuhi
2 (dua) unsur, yaitu : pertama, haruslah merupakan alat untuk mengalokasikan sumber-sumber
dana yang ada di kelompok atau institusi tertentu untuk mendukung program pemerintah; dan
kedua, mendorong pertumbuhan ekonomi.
Prinsip good tax policy adalah merupakan suatu sistem pajak terhadap kegiatan
ekonomi makro dan mikro yang bersifat netral, tanpa adanya suatu distorsi agar terdapat
pengalokasian sumber daya yang optimal sesuai dengan keadaan atau dinamika pasar, serta
dapat mendorong investasi dari luar.
Tax policy ini memliki hubungan ketergantungan kuat dengan administrasi pajak yang
baik. Jika tax policy terlalu idealis dapat membuat administrasi pajak makin rumit, sedangkan
administrasi pajak yang tidak efektif, dapat melemahkan atau merusak pelaksanaan tax policy
di lapangan.

11
2.8 Dampak Ekonomi Dari Pajak-Pajak Pendapatan Dan Konsumsi; Pajak Atas Pengeluaran
v Perangsang kerja dan penawaran akan tenaga kerja
Suatu pajak pendapatan yang proporsional adalah sama dengan pengurangan proporsional
dalam upah dan gaji. Suatu pajak akan menghasilkan efek substitusi maupun efek pendapatan.
Efek substitusi, dengan mengurangi keuntungan relatif dari pekerjaan dibandingkan dengan
waktu senggang, akan mendorong orang untuk mengurangi kerja dan menikmati lebih banyak
waktu senggang. Efek pendapatan menyebabkan orang-orang bekerja lebih banyak agar dapat
mempertahankan tingkat kehidupan mereka yang sebelumnya.
Pajak pendapatan mengakibatkan dua perbedaan utama. Pertama, pajak relatif bagi
berbagai orang akan berbeda-beda. Golongan-golongan yang berpendapatan rendah yang
paling mungkin untuk meningkatkan usaha untuk bekerja sebagai tanggapan atas suatu pajak,
akan dibebaskan dari pajak, dan jumlah-jumlah yang relatif lebih besar akan ditanggung oleh
mereka yang berada pada tingkat pendapatan tinggi.
Kedua, pada pajak pendapatan, jumlah pajak tergantung kepada jumlah pendapatan
yang diperoleh, dan ada kemungkinan suatu efek substitusi. Oleh karena itu, jumlah bekerja
agak berkurang. Penurunan dalam usaha bekerja dapat berbentuk macam-macam.
Ketidakhadiran menjadi lebih besar, orang yang bersangkutan enggan melakukan kerja lembur,
istri atau anak-anak keluar dari pasar tenaga kerja. Orang-orang yang berpenghasilan besar
yang bukan berasal dari bekerja termasuk dalam golongan yang paling besar kemungkinannya
untuk mengurangi bekerja.
Efek balas dendam. Selama ini kita menganggap semua pekerja memiliki tanggapan
yang sama terhadap kenaikan dalam pajak seperti halnya dalam penurunan upah. Tetapi belum
tentu demikian, menurut Richard Musgrave ada kemungkinan seseorang mengurangi bekerja
karena sedemikian bencinya terhadap pajak pendapatan, sementara ia tidak akan melakukan
hal yang sama terhadap penurunan upah.
Sebaliknya, yang bersangkutan dapat menganggap pajak sebagai bayaran untuk jasa
pemerintah dan sama sekali tidak mengubah tingkah laku bekerjanya, hal ini disebut efek
pembelian (purchase effect).
Progresi. Pemakaian tarif-tarif progresif meningkatkan kemungkinan bahwa seorang
tertentu akan mengurangi bekerja dan bukan lebih giat bekerja pada suatu tingkat tertentu.
Kenyataan bahwa tarif adalah progresif meningkatkan pengaruh relatif dari efek substitusi,
karena tambahan uang yang diperoleh menyebabkan pengorbanan yang lebih besar dari waktu
senggang sebagai gantinya bekerja; pendapatan neto dari tambahan jam bekerja secara
progresif semakin menurun.

v Persediaan relatif tenaga kerja


Sejauh hal bahwa persediaan relatif tenaga kerja dipengaruhi pertimbangan pendapatan uang,
maka suatu pajak akan mengubah persediaan relatif. Suatu pajak poll (pajak langsung yang
dipungut atas perorangan), dengan hanya suatu efek pendapatan akan mendorong orang ke arah
pekerjaan yang lebih tinggi. Namun efek substitusi bekerja ke arah yang berlawanan. Bila pajak
adalah progresif, maka ada kemungkinan yang lebih besar, dibandingkan dengan pajak poll,
untuk mengurangi persediaan yang masuk kepada pekerjaan dengan bayaran tinggi apabila
perbedaannya dibatasi dengan cara yang progresif.

12
Arti efek ini bisa dipertanyakan karena pentingnya motif bukan uang dalam membawa
orang ke pekerjaan dengan bayaran yang lebih tinggi. Gengsi, lingkungan pekerjaan yang baik,
dll. merupakan daya tarik utama yang membawa orang-orang kepada pekerjaan profesional
dan kepemimpinan dengan bayaran relatif tinggi.

v Pajak Atas Pengeluaran


Pendekatan langsung kepada pemungutan pajak yang berhubungan dengan konsumsi adalah
pajak atas pengeluaran, kadang disebut pajak atas pembelanjaan (spendings tax). Pajak ini
dikumpulkan dari perorangan atas dasar pendapatan, atas mana mereka akan melaporkan
pengeluaran mereka untuk konsumsi, yang dihitung sebagai kelebihan pendapatan atas
kenaikan neto dalam tabungan selama periode itu.
Keuntungan besar dari pajak atas pengeluaran adalah bahwa hal ini memungkinkan
tercapainya tujuan dari pungutan pajak atas konsumsi, terutama suatu kenaikan dalam
persentase dari pendapatan nasional yang dihemat, tanpa menempatkan beban yang berat atas
si miskin, tanpa membuat struktur pajak kurang progresif, dan tanpa efek langsung yang
mendorong inflasi dari pajak konsumsi tidak langsung. Dengan tarif progresif yang tajam,
pajak dapat menjadi suatu tindakan anti inflasi yang sangat efektif. ekonomi.

13
BAB IV
PENUTUP

1. KESIMPULAN

Dari semua uraian di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa:

Pajak merupakan iuran wajib yang harus di bayar oleh setiap warga Negara Indonesia
berdasarkan jenisnya masing-masing.
Apabila terjadinya pelanggaran seperti tidak membayar iuran wajib pajak tersebut maka
akan mendapatkan sanksi sesuai dengan undang-undang yang berlaku.
Di dalam pembayaran iuran perpajakan tidak adanya toleransi.
Ketentuan pembayaran pajak sesuai menurut jenisnya masing-masing.

14
DAFTAR PUSTAKA

http://analisishands.blogspot.com/2012/04/pengaruh-pajak-terhadap-perekonomian.html
http://fkipekonomiut.blogspot.com/2011/04/materi-pokok-ekonomi-publik-ilmu.html
http://id.pdfsb.com/makalah+pengaruh+pajak+terhadap+perekonomian+dalam+negeri

15