Anda di halaman 1dari 24

VISKOSITAS DAN TEGANGAN MUKA

RINGKASAN

Dalam setiap fluida, baik cair maupun gas masing-masing memiliki suatu sifat yang
dikenal dengan viskositas atau kekentalan. Salah satu cara untuk menentukan viskositas cairan
adalah dengan metode Ostwald dan Poiseulle. Tujuan dan manfaat dari praktikum ini antara lain
menentukan viskositas dinamis pada susu dan fanta, membuat grafik antara %V vs x , x vs x ,
Tx vs x , dan menentukan hubungan viskositas dengan %V, densitas larutan, dan waktu alir pada
susu dan fanta. Ada dua macam viskositas, yaitu viskositas dinamis dan viskositas kinematis.
Beberapa cara perhitungan viskositas suatu larutan antara lain viskositas relatif, viskositas
spesifik, viskositas inheren, dan viskositas intrinsik. Faktor faktor yang mempengaruhi
viskositas adalah densitas, suhu, tekanan, dan gaya gesek. Cara cara penentuan viskositas yaitu
cara Ostwald dan cara Hoppler. Kegunaan dari viskositas pada umumnya untuk menentukan
jenis pompa.
Bahan yang digunakan pada praktikum ini antara lain susu kental manis 35% (35oC, 45
o
C, 55 oC, 65 oC), fanta 18%V, 28%V, 38%V, dan 48%V, dan aquadest. Alat yang digunakan
yaitu viskometer Ostwald. Cara kerjanya adalah menentukan densitas pada susu dan fanta
menggunakan picnometer. Kemudian memasukkan sampel kedalam viskometer Ostwald dan
dihisap, lalu mencatat waktu ketika cairan melewati batas S1 sampai batas S2.
Hasil praktikum menunjukkan perbedaan %V pada sampel fanta semakin besar %V
maka viskositas yang didapat semakin besar. Selain itu besar viskositas dan densitas berbanding
lurus, hal ini disebabkan makin besarnya gaya gesek yang terjadi. Dan terakhir yaitu suhu yang
besarnya berbanding terbalik dengan nilai viskositas karena kohesi molekuler pada larutan
berkurang. Kesimpulan yang dapat diambil yaitu viskositas berbanding lurus dengan %V dan
massa jenis, serta berbanding terbalik dengan suhu. Saran yang diberikan antara lain
menggunakan viskometer Ostwald yang baik, melakukan perhitungan waktu sampai dua kali
(kecuali pada perbedaan suhu), melakukan penambahan suhu 2 oC, dan volume cairan dalam
picnometer harus benar benar penuh.
VISKOSITAS DAN TEGANGAN MUKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Dalam setiap fluida, baik gas maupuncairan, masing-masing memiliki suatu sifat yang
dikenal dengan sebutan viskositas. Viskositas dapat disebut juga sebagai kekentalan.
Viskositas dibagi menjadi viskositas dinamis dan viskositas kinematis. Ada beberapa cara
dalam perhitungan viskositas suatu larutan, antara lain viskositas relatif, viskositas spesifik,
viskositas inheren, dan viskositas intrinsik.
Salah satu cara untuk menentukan viskositas cairan adalah dengan metode Ostwald
dari Poiseulle. Metode Ostwald adalah salah satu cara untuk menentukan
nilaiviskositasdimana prinsip kerjanya berdasarkan perbedaan suhu, jenis larutan, dan
waktu yang dibutuhkan oleh sejumlah cairan untuk dapat mengalir melalui pipa kapiler
dengan gaya yang disebabkan oleh berat cairan itu sendiri.
Viskositas sendiri banyak digunakan dalam dunia industri untuk mengetahui koefisien
kekentalan zat cair. Dari perhitungan itu dapat dihitung berapa seharusnya kekentalan yang
dapat digunakan dalam mengomposisikan zat fluida itu dalam sebuah larutan. Salah satu
penerapannya yaitu pada industri oli. Oli memiliki kekentalan yang lebih besar daripada zat
cair lainnya. Dengan mengetahui komposisi dari oli tersebut, penerapan viskositas sangat
berpengaruh dalam menjaga kekentalan oli agar tetap terjaga selama proses produksi. Oleh
karena itu, percobaan tentang viskositas ini perlu dilakukan agar mahasiswa mampu
memahami viskositas dan pengaruhnya serta dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan
sehari-hari.

1.2. Tujuan Praktikum


1. Menentukan viskositas dinamis pada susu kental manis dan fanta.
2. Membuat grafik antara % V vs x, xvsx, dan Tx vs x.
3. Menentukan hubungan antara viskositas dengan % volume, densitas larutan, dan waktu
alir pada susu kental manis dan fanta.

1.3. Manfaat Praktikum


1. Mahasiswa mampu menentukan viskositas dinamis pada susu kental manis dan fanta.
2. Mahasiswa mampu membuat grafik antara % V vs x, x vs x, dan Tx vs x.
3. Mahasiswa mampu menentukan hubungan antara viskositas dengan % volume, densitas
larutan, dan waktu alir susu kental manis dan fanta.
VISKOSITAS DAN TEGANGAN MUKA

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian
Viskositas dapat dianggap sebagai suatu gesekan antara lapisan zat cair atau gas yang
mengalir. Tiap molekul dalam cairan dianggap dalam kedudukan setimbang. Maka sebelum
lapisan molekul dapat melewati lapisan molekul lainnya diperlukan suatu energi tertentu
sehingga suatu lapisan zat cair dapat meluncur diatas lapisan lainnya. Karena adanya gaya
gesekan antara lapisan zat cair, maka suatu zat akan bersifat menahan aliran. Besar kecilnya
gaya gesekan tersebut tergantung dari sifat zat cair yang dikenal dengan nama viskositas.
G

Dirumuskan; A.dv
dy

Dengan: = viskositas
G = gaya gesek
A = luas permukaan zat cair
dv = perbedaan kecepatan antara dua lapisan zat cair yang berjarak dy
Jadi viskositas dapat didefinisikan sebagai gaya tiap satuan luas (dyne/cm3) yang
diperlukan untuk mendapatkan beda kecepatan sebesar 1 cm/dt antara dua lapisan zat cair
yang sejajar dan berjarak 1 cm.
Dalam satuan cgs, viskositas sebesar 1 dyne dt cm-2 disebut 1 poise. Untuk kekentalan
yang kecil dapat digunakan centipoise (10-2 poise).

2.2. Macam-Macam Viskositas


Ada dua macam viskositas, antara lain :
1. Viskositas Dinamis
Adalah viskositas yang disebabkan apabila dua lapisan zat cair saling
bergeseran sehingga besarnya gaya gesekan zat cair dinyatakan dengan banyaknya 1
gram zat cair yang mengalir sejauh 1 cm dt-1, satuannya dalam satuan SI adalah
dyn.s/cm2 atau poise.
2. Viskositas Kinematis
Adalah viskositas yang ditimbulkan bila dua zat cair saling bergesekan sehingga
besarnya gaya gesekan zat cair dinyatakan dengan banyaknya zat cair yang mengalir
per satuan luas tiap detik, satuannya adalah cm2dt-1 atau stokes.
Satu stokes didefinisikan sebagai gaya sebesar 1 dyne yang diperlukan untuk
mendapatkan sejumlah zat cair yang mengalir dalam penampang seluas 1 cm2 dalam
satu detik.
VISKOSITAS DAN TEGANGAN MUKA

Hubungan antara angka kental dinamis (d) dengan angka kental kinematis (k)
berdasarkan satuannya adalah:
d = gr cm-1 det-1
k = cm2/dt
jadi d/ k = gr/cm3 = (densitas)

2.3. ViskositasSuatuLarutan
Dalam suatu larutan, 0 merupakan viskositas dari pelarut murni dan merupakan
viskositas dari larutan yang menggunakan pelarut tersebut. Ada beberapa cara untuk
menghitung pengaruh penambahan zat terlarut terhadap viskositas larutan. Perhitungan
viskositas suatu larutan sering dihubungkan dengan penentuan berat molekul suatu polimer
yang terdapat dalam suatu pelarut. Beberapa perhitungan viskositas suatu larutan yang
paling umum yaitu:
1. Viskositas Relatif
Adalah rasio antara viskositas larutan dengan viskositas dari pelarut yang digunakan.
Dinyatakan dengan rumus:

2. Viskositas Spesifik
Adalah rasio antara perubahan viskositas yang terjadi setelah penambahan zat terlarut
dengan viskositas pelarut murni. Dinyatakan dengan rumus:

3. Viskositas Inheren
Adalah rasio antara logaritma natural dari viskositas relatif dengan konsentrasi dari zat
terlarut (biasanya berupa polimer).Viskositas inheren dinyatakan dengan rumus:

4. Viskositas Intrinsik
Adalah rasio antara viskositas spesifik dengan konsentrasi zat terlarut yang
diekstrapolasi sampai konsentrasi mendekati nol (saat pengenceran tak terhingga).
Viskositas intrinsik menunjukkan kemampuan suatu polimer dalam larutan untuk
menambah viskositas larutan tersebut. Nilai viskositas dari suatu senyawa makromolekul
di dalam larutan adalah salah satu cara yang paling banyak digunakan dalam
karakterisasi senyawa tersebut.Secara umum, viskositas intrinsik dari makromolekul
linear berkaitan dengan berat molekul atau derajat polimerisasinya. Viskositas intrinsik
dinyatakan dengan rumus:
VISKOSITAS DAN TEGANGAN MUKA

2.4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Viskositas:


1. Densitas
Pengaruh densitas terhadap viskositas dapat dilihat dari rumus:
.t .
X
X
X
.t
a a
a

2. Suhu
Untuk gas, semakin besar suhu maka tekanan semakin besar. Akibatnya jarak antar
molekul makin kecil dan gesekan antar molekul bertambah sehingga viskositas makin
besar. Pada cairan, viskositas meningkat dengan naiknya tekanan dan menurun bila
suhu meningkat.
3. Tekanan
Dari percobaan rontgen dan dilanjutkan oleh loney dan Dr.Ichman memperlihatkan
bahwa untuk semua cairan, viskositas akan bertambah bila tekanan naik.
Rumus: p = l + (1+P)
dengan p =viskositas pada tekanan total P (kg/cm2)
l = viskositas pada tekanan total i (kg/cm2)
= konstanta
4. Gaya gesek
Semakin besar gaya gesek antar lapisan maka viskositasnya semakin besar.

2.5. Cara-Cara PenentuanViskositas


1. Cara Ostwald
DasarnyaadalahhukumPoiseuille II yang menyatakan
bahwa volumen cairan yang mengalir dalam waktu t keluar
dari pipa dengan radius R, panjang L dan beda tekanan P
R4Pt
dirumuskan sebagai: V 8L

Viskosimeter Ostwald terdiri dari dua labu pengukur dengan


tanda s1 dan s2, pipa kapiler dan labu contoh. Dengan alat ini
viskositas tidak diukur secara langsung tapi menggunakan
cairan pembanding misalnya aquadest atau cairan lain yang
Gambar2.1 telah diketahui viskositas dan densitasnya. Cairan dihisap
:Viskosimeter Ostwald
melalui labu pengukur dari viskosimeter sampai permukaan
cairan lebih tinggi daripada batas s1.Cairan kemudian dibiarkan turun. Ketika
permukaan cairan turun melewati batas s2, stopwatch dinyalakan dan ketika cairan
VISKOSITAS DAN TEGANGAN MUKA

melewati batas s2, stopwatch dimatikan. Jadi waktu yang diperlukan untuk melewati
jarak antyara s1 dan s2 dapat ditentukan. Perlakuan yang sama juga dilakukan
terhadap zat x yang akan dicari harga viskositasnya.
2. Cara Hoppler
Dasarnya adalah hukum stokes yang menyatakan bahwa jika zat cair yang kental
mengalir melalui bola yang diam dalam aliran laminer atau jika bola bergerak dalam zat
cair yang kental yang berda dalam keadaan diam, maka akan terdapat gaya penghalang
(gaya stokes) sebesar:
f = 6rv
dengan : f = frictional resistance
= viskositas
r = jari-jari bola
v = kecepatanyaitujarak yang ditempuh per satuanwaktu

2.6. Kegunaan Viskositas


Pada umumnya viskositas sering digunakan untuk menentukan jenis pompa.
VISKOSITAS DAN TEGANGAN MUKA

BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1. Bahan dan Alat yang digunakan


3.1.1. Bahan yang digunakan
1. Susu kental manis 35%V (35 C, 45 C, 55 C, 65 C) basis 100ml
2. Fanta 18%V, 28%V, 38%V, 48%V basis 100ml
3. Aquadest
3.1.2. Alat yang digunakan
1. Viskosimeter Ostwald
2. Beaker glass
3. Picnometer
4. Corong
5. Stopwatch
6. Neraca analitik
7. Gelas ukur

3.2.GambarAlat Utama

Data yang diperlukan


1. Massa jenis larutan
2. Waktu alir

3.3. Cara Kerja


1. Tentukan densitas pada susu kental manis dan fanta. dengan menggunakan picnometer.
2. Tentukan batas atas s1 dan batas bawah s2 pada viskosimeter ostwald.
3. Isi viskosimeter ostwald dengan menggunakan 15 ml cairan pembanding (aquadest).
4. Hisap air (melalui selang karet) sampai permukaan cairan lebih tinggi dari batas atas
s1 yang telah ditentukan. Kemudian biarkan cairan mengalir secara bebas.
5. Hidupkan stopwatch pada saat cairan tepat berada di garis batas atas s1 danmatikan
stopwatch saat cairan tepat berada pada garis batas bawah s2.
6. Catat waktu yang diperlukan oleh cairan untuk mengalir dari batas atas s1 ke batas
bawah s2.
VISKOSITAS DAN TEGANGAN MUKA

7. Ulangi langkah 1 s/d 6 untuk susu kental manis dan fanta yang akan dicari viskositasnya.
.t .
X
X
8. Tentukan harga viskositas dengan rumus X
.t
a a
a
VISKOSITAS DAN TEGANGAN MUKA

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hubungan antara % Volume dengan Viskositass pada Fanta

1.6
1.4
1.2
1
%V

0.8
y = 0.0135x + 0.8503 Series1
0.6
0.4 R = 0.9658 Linear (Series1)
0.2
0
0 20 40 60
viskositas

Gambar 4.1 Grafik hubungan antara % volume dengan viskositas pada fanta
Pada grafik diatas diketahui bahwa semakin besar % volume fanta maka viskositas
yang didapatkan juga semakin besar. Hal ini dikarenakan % volume termasuk salah satu
jenis konsentrasi, dimana apabila konsentrasi larutan naik maka viskositas tersebut juga
naik
Pada sumber, viskositas salah satunya dipengaruhi oleh gaya gesek. Apabila gaya
gesek semakin besar, maka viskositas juga semakin besar. Besarnya konsentrasi
menyebabkan kerapatan larutan tersebut menjadi besar, sehingga gesekan yang
ditimbulkan juga semakin besar.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil yang ditemukan sesuai dengan pernyataan
yang ada dalam sumber.
( Anggraeni, 2010 )
4.2 Hubungan antara Densitas dengan Viskositas pada Susu dan Fanta

5.6
5.5 y = 56.568x - 58.369
5.4 R = 0.9767
5.3
viskositas

5.2
5.1 Series1
5
Linear (Series1)
4.9
4.8
4.7
1.115 1.12 1.125 1.13 1.135
%V

Gambar 4.2 Grafik hubungan antara densitas dengan viskositas pada susu
VISKOSITAS DAN TEGANGAN MUKA

1.6
1.4
1.2

viskositas
1
0.8 y = 59.754x - 59.117
Series1
0.6 R = 0.9892
0.4 Linear (Series1)
0.2
0
1.006 1.008 1.01 1.012 1.014 1.016
densitas

Gambar 4.3 Grafik hubungan antara densitas dengan viskositas pada fanta
Pada kedua grafik diatas, dapat dilihat bahwa densitas mempengaruhi besar
viskositas. Pada grafik tersebut semakin besar densitas larutan makan viskositas juga
semakin besar. Semakin besar densitas maka semakin banyak molekul pada larutannya
sehingga akan menghambat alirnya dan gesekannya semakin besar.
Dalam jurnal dijelaskan bahwa semakin besar gaya geseknya, maka semakin besar
pula viskositasnya. Sehingga hasil yang ditemukan sesuai dengan pernyataan dalam
jurnal. Dan grafik terbentuk dari kiri bawah ke kanan atas.
( Wahyuni, 2012 )
4.3 Hubungan antara Suhu dengan Viskositas pada Susu dan Fanta

5.6
5.5
5.4
5.3
viskositas

5.2
5.1 Series1
5 Linear (Series1)
4.9
4.8 y = -0.0239x + 6.3395
R = 0.963
4.7
0 20 40 60 80
suhu

Gambar 4.4 Grafik hubungan antara suhu dengan viskositas pada susu
Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa semakin besar suhu larutannya, maka
semakin kecil nilai viskositasnya. Hal tersebut disebabkan ketika larutan dipanaskan
maka energi kinetiknya akan meningkat, sehingga akan mengurangi kohesi molekuler
pada larutan.
Dalam jurnal peningkatan suhu akan mengurangi kohesi molekuler dan ini
diwujudkan berupa berkurangnya viskositas fluida . Sehingga dapat disimpulkan bahwa
hasil percobaan telah sesuai dengan pernyataan yang terdapat dalam jurnal.
( Taufad, 2008 )
VISKOSITAS DAN TEGANGAN MUKA

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. Hubungan antara viskositas dengan % volume larutan yaitu semakin besar % volume
larutan maka nilai viskositasnya juga semakin besar.
2. Hubungan antara viskositas dengan densitas larutan yaitu semakin besar densitas larutan
maka nilai viskositas juga semakin besar.
3. Hubungan antara viskositas dengan suhu larutan yaitu semakin meningkat suhu larutan
maka nilai viskositas menjadi semakin kecil.
5.2 Saran
1. Menggunakan alat Viskometer Ostwald yang masih baik agar data hasil yang diperoleh
akurat.
2. Ketika melakukan pengisian pada picnometer dengan sampel, volume tersebut harus
benar - benar penuh pada picnometer.
3. Untuk hasil lebih akurat perlu dilakukan perhitungan waktu sebanyak dua kali.
4. Ketika menimbang picnometer beserta cairan pada berbagai suhu, lakukan dengan cepat
dan suhu ditambah 2oC dari suhu yang seharusnya agar hasil yang diperoleh sesuai.
5. Tidak perlu melakukan pengulangan saat menghitung waktu pada cairan dengan berbagai
suhu.
VISKOSITAS DAN TEGANGAN MUKA

DAFTAR PUSTAKA

Badger, W.Z. and Bachero, J.F., Introduction to chemical Engineering,International student


edition, McGraw Hill Book Co.,Kogakusha,Tokyo.
Budianto, Anwar. 2008. Metode Penentuan Koefisien Kekentalan Zat Cair dengan
Menggunakan Regresi Linier Hukum Stokes. Jurnal.sttn-batan.ac.id/wp-
content/uploads/2008/12/12/-anwar157-166. Diakses tanggal 23 April 2017.
Chandler, David. 2012. Density vsConcentration.http://www.ehow.com/facts_5779387_
density-vs_-concentration.html. Diaksestanggal 8 April 2015
Daniels, F.,1961, experimental physical Chemistry,6th ed., McGraw Hill book., Kogakusha,
Tokyo.
Indian Academy of Sciences. Chapter 6: Viscosity
www.ias.ac.in/initiat/sci_ed/resources/chemistry/Viscosity
J.P. Prismas, Antonius, dkk. 2012.
PengaruhKonsentrasidanViskositasLarutanPolistirenterhadapMorfologiPermukaandanKe
tebalanLapisanZnPcpadaPermukaan QCM.
http://physics.studentjournal.ub.ac.id/index.php/psj/article/download/142/77. Diakses
tanggal8 April 2015.
Murdaka, Bambang. 2010. Penyetaraan Nilai Viskositas terhadap Indeks Bias pada Zat Cair
Bening. https://docs.google.com/viewring/viewer?url=http://download.portalgaruda.org/.
Diakses tanggal 23 April 2017
www.academia.edu/5567920/Viskositas_VA_PDF.
VISKOSITAS DAN TEGANGAN MUKA

RINGKASAN

Tegangan muka merupakan gaya atau tarikan yang arahnya ke dalam cairan yang
menyebabkan permukaan zat cair tersebut berkontraksi. Tegangan permukaan zat cair terjadi
karena adanya resultan gaya tarik menarik molekul yang berada di permukaan zat cair tersebut.
Tujuan dan manfaat dari praktikum ini yaitu menentukan nilai tegangan muka berdasarkan
metode kenaikan pipa kapiler dan metode tetes, menentukan pengaruh %V terhadap tegangan
muka, dan mengetahui pengaruh tinggi, jumlah tetesan, dan volume tetesan terhadap tegangan
muka. Faktor-faktor yang mempengaruhi yaitu densitas, konsentrasi, suhu, dan viskositas.
Tegangan muka berguna untuk mengetahui kelembaban tanah, untuk melepas hasil cetakan
ekstrak plastik, dan mengetahui konsentrasi suatu larutan dengan membuat kurva kalibrasi vs
konsentrasi.
Bahan yang digunakan adalah sunlight 3%V, 6%V, 9%V, dan 12%V basis 100 ml,
yoghurt cair 25%V, 30%V, 35%V, 40%V basis 100 ml, dan aquadest. Sementara alat yang
digunakan adalah alat metode tetes dan metode kenaikan pipa kapiler. Cara kerja pertama yaitu
menentukan densitas sunlight dan yoghurt, kemudian menuangkan kedalam beaker glass 100 ml
dan memasukkan pipa kapiler kedalamnya, serta mengukur tinggi cairan yang dihasilkan. Yang
kedua adalah dengan memasukkan cairan kedalam alat metode tetes, kemudia membuka sudut
kran dan konstan, lalu menghitung jumlah tetesan dan volume tetesan yang dihasilkan.
Hasil percobaan menunjukkan semakin besar konsentrasi maka tegangan muka yang
dihasilkan semakin besar. Tetapi ini tidak berlaku untuk sunlight yang mengandung surfaktan,
karena surfaktan dapat menurunkan tegangan muka. Kesimpulan yang dapat diambil adalah
kenaikan tinggi pipa kapiler dan volume tetesan berbanding lurus dengan tegangan muka, dan
berbanding terbalik dengan jumlah tetesan. Saran yang diberikan yaitu menggunakan alat
metode tetes yang baik, larutan yang digunakan harus homogen, kenaikan tinggi cairan ditunggu
sampai konstan, memastikan tidak ada cairan yang tertinggal pada pipa kapiler, dan menguji
larutan dengan %V terbesar dahulu pada metode tetes.
VISKOSITAS DAN TEGANGAN MUKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Tegangan muka merupakan gaya atau tarikan yang arahnya ke dalam cairan yang
menyebabkan permukaan zat cair tersebut berkontraksi. Tegangan permukaan suatu zat cair
terjadi karena adanya resultan gaya tarik-menarik molekul yang berada di permukaan zat
cair tersebut. Gaya tarik-menarik antar molekul dalam cairan bernilai sama ke segala arah,
akan tetapi molekul-molekul pada permukaan cairan akan lebih tertarik ke dalam cairan.
Hal inilah yang menyebabkan cairan akan cenderung mempunyai luas yang sekecil-kecilnya
bila keadaan memungkinkan, sehingga tetesan zat cair akan cenderung berbentuk bulat.
Dalam menentukan nilai tegangan muka suatu zat dapat menggunakan metode
kenaikan pipa kapiler dan metode tetes. Penentuan tegangan muka dengan metode pipa
kapileryaitu berdasarkan pada tinggi kenaikan cairan dalam pipa kapiler tersebut.
Sedangkan penentuan tegangan muka dengan metode tetes yaitu berdasarkan pada jumlah
tetesan dan volume tetesan yang didapat.
Fenomena tegangan muka dapat diaplikasikan dalam berbagai industri, seperti dalam
industri barang-barang ekstrak plastik untuk melepaskan hasil cetakan dari cetakannya.
Selain itu masih banyak lagi aplikasi mengenai fenomena tegangan muka baik dalam bidang
industri maupun dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, tegangan muka penting untuk
dipelajari.

1.2. Tujuan Percobaan


1. Menentukan nilai tegangan muka berdasarkan metode kenaikan pipa kapiler dan metode
tetes pada yoghurt dan sunlight
2. Menentukan pengaruh %V terhadap tegangan muka.
3. Mengetahui pengaruh tinggi, jumlah tetesan, dan volume tetesan terhadap tegangan
muka pada yoghurt dan sunlight.

1.3. Manfaat Percobaan


1. Mahasiswa mampu menentukan nilai tegangan muka berdasarkan metode kenaikan pipa
kapiler dan metode tetes pada yoghurt dan sunlight.
2. Mahasiswa mampu menentukan pengaruh %V terhadap tegangan muka.
3. Mahasiswa mampu mengetahui pengaruh tinggi, jumlah tetesan, dan volume terhadap
tegangan muka pada yoghurt dan sunlight.
VISKOSITAS DAN TEGANGAN MUKA

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian
Molekul-molekul yang terletak didalam cairan dikelilingi oleh molekul-molekul lain
sehingga mempunyai resultan gaya sama dengan nol. Sedangkan untuk molekul yang
berada di permukaan cairan, gaya tarik ke bawah tidak diimbangi oleh gaya tarik ke atas.
Akibat dari gaya tarik ke bawah ini, maka bila keadaan memungkinkan cairan akan
cenderung mempunyai luas permukaan yang sekecil-kecilnya. Misalnya tetesan cairan akan
berbentuk bola, karena untuk suatu volume tertentu bentuk bola akan mempunyai luas
permukaan yang sekecil-kecilnya, maka ada tegangan pada permukaan cairan yang disebut
tegangan permukaan.
Sehingga tegangan permukaan dapat didefinisikan sebagai gaya yang bekerja
sepanjang permukaan cairan dengan sudut yang tegak lurus pada garis yang panjangnya 1
cm yang mengarah ke dalam cairan.

3.2. Metode Penentuan Tegangan Muka


Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengukur tegangan muka, antara lain :
1. Metode Kenaikan Pipa Kapiler
Berdasarkan rumus: = 1
2 hgr
Dengan: = tegangan muka
h = tinggi kenaikan zat cair
= densitas zat cair
g = tetapan gravirasi
r = jari-jari pipa kapiler
Karena kadang-kadang penentuan jari-jari pipa kapiler sulit maka digunakan cairan
pembanding (biasanya air) yang sudah diketahui nilai tegangan mukanya.
2. Metode Tetes
Jika cairan tepat akan menetes maka gaya tegangnan permukaan sama dengan gaya
yang disebabkan oleh gaya berat itu sendiri, maka:
mg = 2r
Dengan : m = massa zat cair
Harus diusahakan agar jatuhnya tetesan hanya disebabkan oleh berat
tetesannyasendiri dan bukan oleh sebab yang lain. Selain itu juga digunakan metode
pembanding dengan jumlah tetesan untuk volume (V) tertentu.
Berat satu tetesan = v. /n
3. Metode Cincin
VISKOSITAS DAN TEGANGAN MUKA

Dengan metode ini, tegangan permukaan dapat ditentukan dengan cepat dengan
hanya menggunakan sedikit cairan. Alatnya dikenal dengan nama tensiometer Duitog,
yang berupa cincin kawat Pt yang dipasang pada salah satu lengan timbangan. Cincin ini
dimasukan ke dalam cairan yang akan diselidiki tegangan mukanya dengan
menggunakan kawat. Lengan lain dari timbangan diberi gaya sehingga cincin terangkat
di permukaan cairan.
4. Metode Tekanan Maksimum Gelembung
Dasarnya adalah bahwa tegangan muka sama dengan tegangan maksimum
dikurangi gaya yang menekan gas keluar

2.3. Faktor-faktor yang mempengaruhi tegangan muka:


Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tegangan muka, antara lain :
1. Densitas
2. Konsentrasi
3. Suhu
4. Viskositas

2.4. Kegunaan Tegangan Muka


1. Mengetahui kelembaban tanah seperti yang ditunjukan tumbuhan dengan proses
kapilaritas
2. Digunakan pada industri barang-barang ekstrak plastik untuk melepaskan hasil cetakan
dari cetakannya
3. Mengetahui konsentrasi suatu larutan dengan membuat kurva kalibrasi vs konsentrasi
VISKOSITAS DAN TEGANGAN MUKA

BAB III
METODE PERCOBAAN

3.1. Bahan dan Alatyang digunakan


3.1.1. Bahan yang digunakan
1. Sunlight 3%V, 6%V, 9%V, 12%V basis 100ml
2. Yoghurt cair 25%V, 30%V, 35%V, 40%V basis 100ml
3. Aquadest secukupnya.
3.1.2. Alat yang digunakan
1. Pipa Kapiler
2. Alat Metode Tetes
3. Picnometer
4. Corong
5. Beaker glass
6. Neraca analitik
7. Gelas ukur
8. Mistar

3.2. Gambar Alat Utama

Keterangan:
1. Alat untuk metode tetes
2. Alat untuk metode pipa kapiler
Data yang diperlukan:
- Densitas - Jumlah tetesan
- Tinggi cairan - Volume tetesan

3.3. Cara Kerja


3.3.1. Metode Kenaikan pipa kapiler
1. Tentukan densitas sunlight dan yoghurt cair dengan menggunakan picnometer.
2. Tuangkan 100 ml cairan pembanding (air) ke dalam beaker glass 100 ml.
3. Masukan pipa kapiler ke dalam beaker glass, biarkan beberapa saat agaraquadest
naik ke pipa.
VISKOSITAS DAN TEGANGAN MUKA

4. Setelah tinggi air konstan, tutup bagian atas dari pipa kapiler dengan ibu jari lalu
angkat, kemudian ukur tingginya menggunakan mistar .
5. Ulangi langkah 1, 2 dan 3 untuk sunlight dan yoghurt yang akan dicari tegangan
mukanya .
.
.h. X X
6. Hitung tegangan mukanya dengan rumus: X
h a a
a

3.3.2. Metode Tetes


A . Volume Konstan
1. Tentukan densitas sunlight dan yoghurt dengan menggunakan air sebagai
cairan pembanding.
2. Isi alat metode tetes dengan menggunakan air sebanyak 13 ml sebagai
cairan pembanding.
3. Buka kran dengan sudut tertentu dan tetap selama percobaan, biarkan air
menetes sampai habis.
4. Hitung jumlah tetesan.
5. Lakukan langkah 1 s/d 4 untuk sunlight dan yoghurt yang akan dicari
tegangan mukanya.
.n.

X a
6. Hitung tegangan mukanya dengan rumus X
.n a X
a

B. Tetes Konstan
1. Tentukan densitas sunlight dan yoghurt dengan menggunakan picnometer.
2. Isi alat metode tetes dengan menggunakan air sebagai cairan pembanding.
3. Buka kran dengan sudut tertentu dan tetap selam percobaan, biarkan air
menetes sejumlah tetesan yang telah ditentukan (28 tetesan).
4. Hitung volume tetesan.
5. Lakukan langkah 1 s/d 4 untuk sunlight dan yoghurt yang akan dicari
tegangan mukanya.
.
.v. X X
6. Hitung tegangan mukanya dengan rumus
v
X
a a
a
VISKOSITAS DAN TEGANGAN MUKA

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hubungan Kenaikan Tinggi Cairan dengan Tegangan Muka

90
80 y = 40.51x - 3.604
tegangan muka (mN/m)

70 R = 0.9997
60
50
40 yoghrut
30 Linear (yoghrut)
20
10
0
0 0.5 1 1.5 2 2.5
tinggi larutan(cm)

Gambar 4.1 Grafik hubungan kenaikan tinggi cairan dengan tegangan muka pada
yoghurt

70
y = 37.374x + 0.7691
60
R = 0.9996
tegangan muka (mN/m)

50

40

30 sunlight
Linear (sunlight)
20

10

0
0 0.5 1 1.5 2
tinggi larutan (cm)

Gambar 4.2 Grafik hubungan kenaikan tinggi cairan dengan tegangan muka pada
sunlight
Pada hasil praktikum menunjukkan bahwa pada sampel minuman yoghurt pada
25%V memiliki hx = 1,7 cm dan = 65,21 mN/m ; pada 30%V memiliki hx = 1,8 cm
dan = 69,44 mN/m ; pada 35%V memiliki hx = 2 cm dan = 77,25 mN/m ; dan
pada 40%V memiliki hx = 2,1 cm dan = 81,56 mN/m. Sedangkan pada sunlight
3%V memiliki hx = 1,6 cm dan = 60,42 mN/m ; pada 6%V memiliki hx = 1,5 cm
dan = 5,7 mN/m ; pada 9%V memiliki hx = 1,4 cm dan = 53,18 mN/m ; dan pada
12%V memiliki hx = 1,2 cm dan = 45,54 mN/m. Pada yoghurt grafik mengalami
kenaikan dan pada sunlight mengalami penurunan tegangan muka dan tinggi cairan.
Berdasarkan persamaan
VISKOSITAS DAN TEGANGAN MUKA

.h .
X
X
X
.h a a
a

Menunjukkan bahwa semakin tinggi suatu cairan, maka semakin besaran tegangan
muka yang dihasilkan. Semakin besar komposisi %V solute suatu zat maka akan
menyebabkan naiknya tinggi cairan pada pipa kapiler. Hal ini dikarenakan jumlah
molekul per satuan volume meningkat, maka berat larutan juga meningkat, molekul
semakin banyak, sehingga gaya tarik - menarik permukaan dengan molekul didalam
semakin besar, gaya tolak menolak kebawah juga besar. Maka luas permukaan
menjadi sekecil kecilnya, dan kenaikan tinggi cairan menjadi semakin tinggi.
Tetapi terjadi penyimpangan pada grafik kedua. Pada grafik kedua terjadi
penurunan tegangan muka. Hal ini disebabkan karena pada sunlight mengandung
surfaktan. Surfaktan adalah zat-zat yang mengabsorpsi pada permukaan atau antar
muka suatu cairan. ( Sofyan, 2013 ) Surfaktan tersebut menurunkan tegangan muka
seiring bertambahnya konsentrasi. Surfaktan menurunkan tegangan muka dengan
mematahkan ikatan ikatan hidrogen pada permukaan. ( Yazid, 2015 )
4.2 Hubungan Jumlah Tetesan Cairan dengan Tegangan Muka
160
140
tegangan muka (mN/m)

120
y = -1.0665x + 267.61
100 R = 0.9986
80
yoghurt
60
Linear (yoghurt)
40
20
0
0 50 100 150 200
jumlah tetesan

Gambar 4.3 Grafik hubungan antara jumlah tetesan cairan dengan tegangan muka pada
yoghurt

79
78
tegngan muka (mN/m)

77
76
75
sunlight
74
Linear (sunlight)
73
y = -0.334x + 147.61
72 R = 0.9983
71
205 210 215 220 225 230
jumlah tetesan
VISKOSITAS DAN TEGANGAN MUKA

Gambar 4.4 Grafik hubungan antara jumlah tetesan cairan dengan tegangan muka pada
sunlight
Hasil praktikum menunjukkan bahwa pada sampel yoghurt 25%V memiliki 144
jumlah tetesan dan = 114,4 mN/m ; 30%V memiliki 140 jumlah tetesan dan =
118,32 mN/m ; 35%V memiliki 110 jumlah tetesan dan = 150,78 mN/m ; 45%V
memiliki 125 jumlah tetesan dan = 133,42 mN/m. Sementara pada sampel sunlight
pada 3%V memiliki 208 jumlah tetesan dan = 78,02 mN/m ; 6%V memiliki 211
jumlah tetesan dan = 77,3 mN/m ; 9%V memiliki 221 jumlah tetesan dan = 73,82
mN/m ; 12%V memiliki 226 jumlah tetsan dan = 72,105 mN/m. Sehingga grafik
yang dihasilkan pada yoghurt mengalami kenaikan dan pada sunlight mengalami
penurunan.
Berdasarkan persamaan :
.n.

X a
X
.n a X
a

Menunjukkan bahwa jumlah tetesan berbanding terbalik dengan viskositas. Semakin


banyak jumlah tetesan maka tegangan muka akan semakin kecil. Pada sampel yoghurt,
semakin banyak konsentrasi cairan maka jumlah tetesan semakin sedikit, sehingga
tegangan muka meningkat. Hal ini disebabkan penambahan zat terlarut akan
meningkatkan viskositas, sehingga tegangan muka akan bertambah besar. Sedangkan
pada sampel sunlight mengalami penurunan tegangan muka dan bertambah jumlah
tetesan. Hal ini disebabkan pada sunlight mengandung surfaktan surfaktan adalah zat
zat yang mengabsorpsi pada permukaan atau antar muka suatu cairan. ( Sofyan, 2013 )
Surfaktan tersebut akan membentuk lapisan monomolecular yang akan menurunkan
tegangan permukaan. ( Douglas, 2011 )
4.3 Hubungan Volume Tetesan Cairan dengan Tegangan Muka

12

10 y = 2.9567x - 0.1444
tegangan muka (mN/m)

R = 0.9999
8

6
yoghurt
4 Linear (yoghurt)

0
0 1 2 3 4
volume tetesan(ml)

Gambar 4.5 Grafik hubungan antara volume tetesan cairan dengan tegangan muka pada
yoghurt
VISKOSITAS DAN TEGANGAN MUKA

8
7

tegangan muka (mN/m)


6
5
4 y = 1.1231x + 3.1249
R = 0.4516 sunlight
3
Linear (sunlight)
2
1
0
0 1 2 3 4
volume tetesan (ml)

Gambar 4.6 Grafik hubungan antara volume tetesan cairan dengan tegangan muka pada
sunlight
Hasil praktikum menunjukkan bahwa pada sampel yoghurt 25%V memiliki 2,1
ml volume tetesan dan = 6,05 mN/m ; 30%V memiliki 2,3 ml volume tetesan dan
= 6,67 mN/m ; 35%V memiliki 3 ml volume tetesan dan = 8,706 mN/m ; 40%V
memiliki 3,4 ml volume tetesan dan = 9,92 mN/m. Sementara pada sunlight 3%V
memiliki 1,6 ml volume tetesan dan = 4,54 mN/m ; 6%V memiliki 1,8 ml volume
tetesan dan = 5,13 mN/m ; 9%V memiliki 2,4 ml volume tetesan dan = 6,85 mN/m
; dan 12%V memiliki 2,9 ml volume tetesan dan = 5,751 mN/m. Sehingga pada
grafik mengalami kenaikan.
Hal tersebut sesuai dengan rumus
.
.v.X X
X
v a a
a

Yang artinya volume tetesan berbanding lurus dengan tegangan muka. Sehingga hasil
yang didapat sesuai dengan teori, apabila konsentrasi ditambahkan semakin banyak,
maka volume tetesan dan tegangan muka semakin besar. Tetapi terdapat penyimpangan
pada grafik kedua, yang seharusnya grafik mengalami penururnan. Ini disebabkan
kandungan surfaktan pada sunlight. Surfaktan adalah zat zat yang mengabsorpsi pada
permukaan atau antar muka untuk menurunkan tegangan muka suatu cairan. Pada
surfaktan, semakin besar konsentrasinya maka volume tetesan semakin banyak dan
tegangan muka semakin besar. ( Atfins, 1994 )
VISKOSITAS DAN TEGANGAN MUKA

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

1. Tegangan muka dipengaruhi oleh kenaikan tinggi pipa kapiler, semakin tinggi kenaikan pipa
kapiler maka semakin besar tegangan mukanya.
2. Tegangan muka dipengaruhi oleh jumlah tetesan cairan, semakin banyak jumlah tetesan
cairan maka semakin kecil tegangan mukanya.
3. Tegangan muka dipengaruhi oleh volume tetesan cairan, semakin banyak jumlah volume
tetesan cairan maka semakin besar tegangan mukanya.

5.2 Saran

1. Gunakan alat untuk metode tetes yang masih baik, agar mendapatkan hasil yang optimal.
2. Larutan harus homogen ketika dimasukkan pada alat ukur tegangan muka.
3. Ketika melakukan pengukuran tinggi cairan, tinggi tersebut harus ditunggu sampai benar
benar konstan.
4. Memastikan tidak ada cairan yang tertinggal pada pipa kapiler setiap berganti variabel.
5. Untuk pengujian dengan metode tetes pada surfaktan ( sunlight ), larutan dengan %V terbesar
diuji terlebih dahulu agar tidak mengalami penyumbatan.
VISKOSITAS DAN TEGANGAN MUKA

DAFTAR PUSTAKA

Badger, W.Z. and Bachero, J.F., Introduction to chemical Engineering,International student


edition, McGraw Hill Book Co.,Kogakusha,Tokyo.
Daniels, F.,1961, experimental physical Chemistry,6th ed., McGraw Hill book., Kogakusha,
Tokyo.
https://id.wikipedia.org/wiki/Tegangan_Permukaan
https://www.academia.edu/640644/Laporan_Kimia_Fisika_Penentuan_Tegangan_Permukaan.
Repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/27672/Chapter%201.pdf?sequence=4