Anda di halaman 1dari 141

Pedoman Pelaksanaan Klinik Sanitasi di Puskesmas

Apa itu klinik sanitasi ?

Klinik sanitasi adalah Ruang Pelayanan Informasi tentang upaya pencegahan dan
penanggulangan penyakit berbasis lingkungan.

Apa itu Penyakit Berbasis Lingkungan ?

Disebut Penyakit berbasis lingkungan, karena sumber penyakitnya berasal dari lingkungan yang
jelek (air, udara, tanah yang tercemar), yaitu Penyakit Diare, Kecacingan, ISPA, Malaria, DBD,
TB, Paru, Kulit/Gatal-Gatal, Keracunan Makanan/minuman/Pestisida dan keluhan akibat
lingkungan yang buruk/akibat kerja.

Dimana klinik Sanitasi Berada ?

Klinik Sanitasi Berada di Puskesmas dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari program
pelayanan Puskesmas.

Siapa yang Bertugas di Klinik Sanitasi?

Petugas sanitarian Puskesmas / Petugas Penyuluh Puskesmas

Apa Keuntungan yang diberikan dari Klinik sanitasi ?

Terhadap Pasien :

1. Dapat mengetahui penyebab sakitnya

2. Mampu melakukan pencegahan terhadap berbagai penyakit akibat lingkungan

Terhadap Petugas

1. Dapat Mengetahui secara tepat Gaya Hidup Pasien dan Kondisi Lingkungan Pasien

2. Dapat memberikan saran yang tepat kepada pasien sesuai dengan masalah yang dihadapinya

3. Dapat Menyusun Rencana Intervensi Perbaikan Lingkungan

Alur Pelayanan Klinik Sanitasi di Puskesmas :

1. Loket

Di loket dilakukan pengisian kartu status pasien setelah mendapat kartu status pasien ke ruang
periksa
2. Ruang Periksa

Pasien yang menderita penyakit berbasis lingkungan dirujuk ke ruang Klinik Sanitasi

3. Ruang Klinik Sanitasi

4. Apotik

Pasien ke Apotik untuk mengambil Obat

5. Pulang

Untuk Klien bisa Langsung Ke Ruang klinik sanitasi.

Bekal yang harus dimiliki seorang Petugas Klinik Sanitasi :

1. Komunikasi

Mampu berkomunikasi efektif dengan menguasai isi pesan yang akan disampaikan
Mampu memahami topik yang disampaikan
Menguasai sasaran dan bina hubungan balik
Perlihatkan minat terhadap topik yang dibicarakan dengan pasien
Berbicara dengan suara yang dapat diterima sasaran
Mampu mengekpresikan pikiran dan perasaan
Mampu memilih media yang sesuai dengan topik yang sedang dibahas dan latar belakang
budaya dari sasaran

2. Wawancara

Lakukan salam, sapaan yang diikuti dengan jabat tangan, senyuman dan ucapan yang
bernada simpatik terhadap pasien ( misalnya apa yang dapat saya bantu sambil
mempersilakan duduk)
Mulai wawancara dengan pembukaan selanjutnya wawancara dengan menggunakan
formulir penyakit yang sesuai dengan penyakit penderita.
Dalam melakukan wawancara, seorang petugas klinik sanitasi/Penyuluh berekspresi atau
berprilaku seperti bukti-bukti seorang yang baik.

3. Kunjungan Rumah

4 (empat) Langkah Kunjungan Rumah yang diarumuskan dalam Akronim : SANITASI

SA = SALAM

Ucapkan salam sesuai dengan kebiasaan setempat.


Sapa keluarga dengan baik, bicarakan hal-hal yang umum disekitar rumah tangga,
anggota keluarga dan tanyakan kegiatan keluarga sehari -hari
Sampaikan maksud dan tujuan kedatangan sesuai kesepakatan waktu pasien berkunjung
ke Puskesmas.
Tegaskan bahwa maksud kedatangan petugas adalah untuk membantu keluarga dalam
memecahkan masalah kesehatan.

NI = NIAT YANG TULUS

Niat petugas yang tulus akan membantu memecahkan masalah kesehatan keluarga yang
berhubungan dengan lingkungan.

TA = NYATAKAN DAN JELASKAN

Tanya dan jelaskan hubungan kurangnya pengetahuan dengan masalah dan penyebab
masalah :

1. Kurangnya pengetahuan tentang sarana pelayanan kesehatan yang tersedia dan jelaskan
pemanfaatannya.
2. Ketersediaan dana dan bahan kemungkinan untuk perbaikan lingkungan

Gunakan formulir yang berhubungan dengan penyakit penyakit penderita

SI = SIAPKAN SARAN PEMECAHAN

siapkan saran Pemecahan


setelah mengetahui pengetahuan sikap dan perilaku serta ketersediaan sarana untuk
perbaikan lingkungan, petugas menyimpulkan hasil kunjungan dan memberikan saran
pemecahan yang sederhana, murah dan mudah dilaksanakan.
KLINIK SANITASI

1. Klinik sanitasi

Klinik Sanitasi merupakan upaya atau kegiatan yang mengintegrasikan pelayanan kesehatan antara

promotif, preventif, dan kuratif yang difokuskan pada penduduk yang beresiko tinggi untuk mengatasi

masalah penyakit berbasis lingkungan dan masalah kesehatan lingkungan pemukiman yang dilaksanakan

oleh petugas puskesmas bersama masyarakat yang dapat dilaksanakan secara pasif dan aktif di dalam

dan luar gedung puskesmas.2

Klinik Sanitasi bukan sebagai kegiatan pokok yang berdiri sendiri, tetapi sebagian integral dari kegiatan

puskesmas yang dilaksanakan secara lintas program dan lintas sektor di wilayah kerja puskesmas. Dalam

pelaksanaan kegiatan Klinik Sanitasi difasilitasi oleh petugas puskesmas.

2. Petugas Klinik Sanitasi

Adalah tenaga kesehatan lingkungan/tenaga kesehatan lainnya/tenaga pelaksana yang ditunjuk oleh

pimpinan puskesmas untuk melaksanakan kegiatan Klinik Sanitasi.

3. Pasien

Penderita penyakit yang diduga berkaitan dengan kesehatan lingkungan yang dirujuk oleh petugas

medis ke Ruang Klinik Sanitasi atau yang ditemukan di lapangan baik oleh petugas medis/paramedis

maupun petugas survey.

4. Klien
Adalah masyarakat yang berkunjung ke puskesmas atau yang menemui petugas Klinik Sanitasi bukan

sebagai penderita penyakit tetapi untuk berkonsultasi tentang masalah yang berkaitan dengan

kesehatan lingkungan.

5. Lingkungan

Adalah suatu keadaan atau tempat yang dapat mempengaruhi status kesehatan. Lingkungan menjadi

penyebab masalah kesehatan bagi pasien atau masyarakat sekitarnya.

6. Ruang Klinik Sanitasi

Adalah suatu ruangan dalam gedung puskesmas yang dipergunakan untuk penyuluhan dan konsultasi

oleh petugas Klinik Sanitasi terhadap pasien dan klien.

7. Konseling

Adalah hubungan komunikasi antara dua orang antara petugas konseling dan pasien/klien yang

memutuskan untuk kerjasama sehingga pasien/klien dapat mengenali dan memecahkan masalah

kesehatan secara mandiri.

8. Kunjungan Rumah

Adalah kegiatan yang dilakukan oleh petugas Klinik sanitasi ke rumah pasien/klien untuk melihat

keadaan rumah dan lingkungannya sebagai tindak lanjut dari kunjungan pasien/klien ke puskesmas.

9. Kegiatan dalam gedung

Adalah upaya pelayanan klinik sanitasi yang dilakukan di dalam atau di lingkungan puskesmas.

10. Kegiatan luar gedung


Adalah upaya klinik sanitasi yang dilakukan di luar gedung/lingkungan puskesmas.

11. Keluarga Binaan

Adalah keluarga pasien/klien yang perlu difasilitasi untuk mengatasi masalah perilaku hidup bersih dan

sehat, penyakit berbasis lingkungan, dan masalah kesehatan lingkungan.

12. Keluarga Beresiko Tinggi

Adalah keluarga yang mempunyai peluang untuk tertular dan menderita penyakit berbasis lingkungan.

2.2.1 Tujuan dan Sasaran

Tujuan dari Program Klinik Sanitasi adalah untuk meningkatkan kesehatan masyarakat melalui

upaya preventif dan kuratif yang dilakukan secara terpadu, terarah dan tersusun secara terus menerus.

Adapun yang menjadi sasaran program ini yaitu :

1. Penderita penyakit yang berhubungan dengan masalah kesehatan lingkungan yang datang ke

puskesmas.

2. Masyarakat umum ( klien ) yang mempunyai masalah kesehatan lingkungan yang datang ke puskesmas.

3. Lingkungan penyebab masalah bagi penderita/klien dan masyarakat sekitarnya.

2.2.2 Ruang Lingkup

1. Penyediaan dan penyehatan air bersih/jamban dalam rangka pencegahan penyakit diare, kecacingan

dan penyakit kulit.

2. Penyehatan perumahan/lingkungan dalam rangka pencegahan penyakit ISPA, TB Paru, DBD/Malaria.

3. Penyehatan lingkungan kerja dalam rangka pencegahan penyakit yang berhubungan dengan

pekerjaan/akibat kerja.
4. Penyehatan makanan/minuman dalam rangka pencegahan penyakit saluran pencernaan/keracunan

makanan.

5. Pengamanan pestisida dalam rangka pencegahan keracunan pestisida.

6. Penyakit atau gangguan kesehatan lainnya yang berhubungan dengan lingkungan.

2.2.3 Kegiatan Klinik Sanitasi

1. Kegiatan dalam gedung

Semua pasien yang mendaftar di loket, setelah mendapat status seterusnya diperiksa oleh petugas

paramedis/medis puskesmas, apabila didapatkan penderita penyakit yang berhubungan serta dengan

faktor lingkungan, maka yang bersangkutan akan dirujuk ke ruang klinik sanitasi.

2. Kegiatan luar gedung

Kegiatan di luar gedung ini adalah kunjungan rumah/lokasi sebagai tindak lanjut dari kunjungan

pasien/klien ke puskesmas (klinik sanitasi). Kunjungan ini sebenarnya merupakan kegiatan rutin yang

lebih dipertajam sasarannya, sesuai dengan hasil wawancara pasien/klien dengan sanitarian pada waktu

di puskesmas.

Dalam setiap kunjungan, sanitarian selalu mengikut sertakan kader kesling, perangkat desa, dan tokoh

masyarakat. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat dapat mengetahui permasalahan yang dihadapi dan

akhirnya dapat menyelesaikan masalah tersebut secara mandiri.

2.2.4 Sumber Daya

1. Tenaga Pelaksana

Tenaga pelaksana dalam kegiatan klinik sanitasi di UPTD Puskesmas Lebaksiu adalah tenaga inti di

bidang kesehatan lingkungan yaitu sanitarian . Sebagai tenaga pendukung adalah tenaga kesehatan

lainnya yaitu bidan, perawat, petugas gigi, dan yang lainnya.


2. Prasarana dan Sarana

Prasarana dan sarana yang ada di ruang klinik sanitasi yang sesuai standar yaitu ruangan, alat

transportasi, alat peraga penyuluhan dan formulir konseling.

3. Sumber Dana

Sumber dana untuk kegiatan Klinik Sanitasi dari APBD II dan dana BOK (rincian biaya pelaksanaan

kegiatan Klinik Sanitasi terlampir).


CONTOH KARYA TULIS ILMIAH: SUPERVISI KEPALA SEKOLAH

Rabu, 09 September 2015


SUPERVISI KEPALA SEKOLAH

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Supervisi akademik merupakan upaya membantu guru mengembangkan kemampuannya mencapai
tujuan pembelajaran. Dengan demikian, berarti, esensi supervisi akademik itu sama sekali bukan menilai
kinerja guru dalam mengelola proses pembelajaran, melainkan membantu guru mengembangkan
kemampuan profesionalismenya.

Meskipun demikian, supervisi akademik tidak bisa terlepas dari penilaian kinerja guru dalam
mengelola pembelajaran. Apabila di atas dikatakan, bahwa supervisi akademik merupakan serangkaian
kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran, maka
menilai kinerja guru dalam mengelola proses pembelajaran merupakan salah satu kegiatan yang tidak
bisa dihindarkan prosesnya. Penilaian kinerja guru dalam mengelola proses pembelajaran sebagai suatu
proses pemberian estimasi kualitas kinerja guru dalam mengelola proses pembelajaran, merupakan
bagian integral dari serangkaian kegiatan supervisi akademik.1[1]

Dapat dikatakan bahwa supervisi akademik merupakan serangkaian kegiatan membantu guru
mengembangkan kemampuannya, maka dalam pelaksanaannya terlebih dahulu perlu diadakan
penilaian kemampuan guru, sehingga bisa ditetapkan aspek yang perlu dikembangkan dan cara
mengembangkannya. Namun satu hal yang perlu ditegaskan di sini, bahwa setelah melakukan penilaian
kinerja guru tidak berarti selesailah tugas atau kegiatan supervisi akademik, melainkan harus dilanjutkan
dengan perancangan dan pelaksanaan pengembangan kemampuannya. Dengan demikian, melalui
supervisi akademik guru akan semakin mampu memfasilitasi belajar bagi murid-muridnya.

1[1]Ahmad Azhari, Supervisi Rencana Program Pembelajaran, (Jakarta: Rian Putra, 2004), h.65
1. supervisi akademik adalah agar guru semakin mampu memfasilitasi belajar bagi murid-muridnya. 2[2]

Supervisi akademik kepala sekolah mencakup kegiatan:

1. Merencanakan program supervisi akademik dalam rangka peningkatan profesionalisme guru.


2. Melaksanakan supervisi akademik terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan teknik supervisi
yang tepat.
3. Menindaklanjuti hasil supervisi akademik terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalisme
guru3[3]

Tujuan pendidikan yang tercantum dalam Undang-undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2003
tentang Sitem Pendidikan Nasional Bab II pasal 3 adalah sebagai berikut: Pendidikan Nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertjuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.4[4]

Guru merupakan salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar megajar yang sangat
berperan dalam usaha pembentukan sumberdaya manusia yang potensial dibidang pembangunan. Guru
sebagai salah satu unsur dibidang pembangunan. Guru sebagai salah satu unsur dibidang pendidikan
harus berperan akif dan menempatkan kedudukan sebagai tenaga profesional, sesuai dengan tuntutan
masyarakat yang semakin berkembang, hal ini dapat diartikan bahwa pada setiap guru terletak tanggung
jawab untuk membawa para siswa kepada suatu kedewasaan atau taraf pematangan tertentu dalam
rangka ini guru tidak semata-semata sebagai salah pengajar yang hanya menstransfer ilmu
pengetahuan,tetapi juga sebagai pendidik danpembimbing yang memberikan pengarahan dan
menuntun siswa dalam belajar.5[5]

Seseorang harus bekerja sesuai dengan kemampuan dan keahlian masing-masing sehingga
mereka mampu menangani pekerjaannya dan mampu mengembangkan segala potensi yang ada pada

2[2]Gomes, Faustino Cardoso, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Jakarta: Andi Offset, 2000), h. 162

3[3]Badan Standar Nasional Pendidikan, Permendiknas No. 13 Tahun 2007 Tentang Standar
Kompetensi Pengawas, (Jakarta: BNSP, 2007), h. 4

4[4] Diknas, Undang-Undang RI Nomor 20. 2003. Sistem Pendidikan Nasional. (Jakarta: Depdiknas,
2003), h. 5

5[5] Arifin, Kapita Selekta Pendidikan Islam dan Umum (Jakarta : PT Bumi Aksara, 1991), hal. 123
dirinya guna kemajuan hasil kerja. Dan mereka akan selalu mendapat petunjuk dari Allah SWT. Dari
pekerjaan diatas dapat diketahui profesional guru sangat penting dalam melaksanakan proses dalam
belajar mengajar dan dalam mencapai tujuan pendidikan. Profesional ini dirasakan sangat penting sering
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kata profesional menurut Syafruddin Nurdin,
diartikan sebagai suatu pekerjaan yang memerlukan pendidikan lanjut di dalam science dan teknologi
yang digunakan sebagai prangkat dasar untuk di implementasikan dalam berbagai kegiatan yang
bermanfaat.6[6]

Dari pengertian di atas, bahwa profesi adalah suatu pekerjaan yang memerlukan pendidikan lanjut,
profesi juga memerlukan keterampilan melalui ilmu pengetahuan yang mendalam, ada jenjang
pendidikan khusus yang mesti dilalui sebagai sebuah persyaratan. Dengan demikian jelasnya bahwa
mutu pendidikan dan profesional guru memiliki kaitan yang sangat erat dan saling mempengaruhi
proses pencapaian tujuan pendidikan. Jika guru memiliki profesionalisme yang tinggi dalam pendidikan
maka, secara otomatis mutu pendidikan akan tinggi pula. Sehingga hal ini akan berpengaruh pada masa
depan anak didik sendiri maupun bangsa dan negara.

Guru profesional adalah guru yang senantiasa menguasai bahan atau materi pelajaran yang akan
diajarkan dalam interaksi belajar mengajar, serta senantiasa mengembangkannya kemampuannya
secara berkelanjutan, baik dalam segi ilmu yang dimilikinya maupun pengalamannya. Dengan cara
demikian menurut Uzer Usman

Dia akan memperkaya diri dengan berbagai ilmu pengetahuan untuk melaksanakan tugasnya
sebagai pengajar dalam intraksi belajar mengajar sehingga dengan kemampuannya baiki dalam hal
metode mengajar, gaya mengajar ataupun penyampaian materi pelajaraan bisa menyukseskan intraksi
belajar mengajar atau pun proses belajar mengajar.7[7]

Profesi guru yang utama adalah mengajar, hal ini seperti yang tertulis dalam Undang-Undang
Republik Indonesia No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 1 ayat 1, yaitu: Guru adalah
pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih,

6[6] Syafruddin Nurdin, Guru Profesinal dan Implementasi Kurikulum, (Jakarta : Ciputat Pers, 2002),
h.. 16.

7[7] Muhammad Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung : Remaja Rosda Karya, 2002 ), h.9.
menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal,
pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.8[8]

Pelaksanaan supervisi akademik yang dilakukan oleh kepala madrasah terhadap guru sungguh
besar pengaruhnya dalam meningkatkan mutu pendidikan karena ada peningkatan kemampuan
profesional bagi guru sehingga dapat diterapkan dalam pembelajaran.

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, penulis melakukan penu dengalisan Karya Tulis Ilmiah
dengan judul: Pelaksanaan Supervisi Akademik Kepala Madrasah Dalam Meningkatkan Kompetensi
Profesional Guru di MI Al Khairiyah Kangkung Bandar Lampung

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah tersebut diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah Bagaimana Pelaksanaan Supervisi Akademik Kepala Madrasah dalam Meningkatkan Kompetensi
Profesional Guru di MI Al Khairiyah Kangkung Bandar Lampung.

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui Pelaksanaan Supervisi Akademik Kepala
Madrasah dalam Peningkatan Kompetensi Profesional Guru di MI Al Khairiyah Kangkung Bandar
Lampung.

2. Manfaat Penelitian

8[8] Diknas, Undang-Undang RI Nomor 14. 2005. Sistem Pendidikan Nasional. (Jakarta: Depdiknas.
2005), h. 2
Adapun Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Penelitian ini dapat memberikan gambaran bagi para kepala madrasah sebagai supervisor dan yang
bertugas sebagai pengawas dalam melaksanakan supervisi akademik terhadap guru-guru.

b. Penelitian ini juga bermanfaat dalam rangka membantu supervisor menghadapi kesulitan saat
melakukan supervisi akademik terhadap guru-guru.

D. Kerangka Berfikir

Dalam karya tulis ini P enulis mengamabildata dan melakukan pengamatan dan fakta fakta di lapangan
, bahwa pelaksanaan supervisi akademik kepala madrasah meliputi:

1) Merencanakan supervisi

2) Melaksanakan supervisi

3) Melaporkan supervisi

4) Menindaklanjuti hasil superviie

E. Sistematika Penyusunan

Dalam sistematika penyusunan karya tulis ini terdiri dari4 bab. Ini dimaksud untuk memudahkan
pembahasannya antara lain:

BAB I Pendahuluan

A. Latar Belakang masalah

B. Tugas pokok dan fungsi satuan kerja

C. Pokok permasalahan

D. Kerangka berfikir

E. Sistematika penulisan

BAB II Pembahasan

A. Keadaan sekarang
B. Keadaan yang diinginkan

C. Rumusan masalah

BAB III Analisis dan Pemecahan Masalah

A. Analisis

B. Pemecahan masalah

BAB IV Kesimpulan dan Saran

A. Kesimpulan

B. Saran

BAB II
PEMBAHASAN

A. ISI / PENYQJIAN DATA


I Al Khairiyah Kangkung Bandar Lampung
1. Indentitas Sekolah
1. Nama Sekolah : MI Al Khair iyah

2. Alamat Madrsah

a. Jalan : JL. Ikan Kiter No. 30

b. Desa : Kangkung

c. Kecamatan : Bumi Waras

d. Kabupaten / Kota : Bandar Lampung

e. Propinsi : Lampung

f. Kode Pos : 35224

3. Status Madrasah : Swasta

4. Akreditasi : B / tahun 2013

5. Nss : 11121870037

6. Tahun Berdiri : 1 Januari 1930

Visi, Misi, Tujuan, MI Al Khairiyah Kangkung Tahun 2014 2015

1. Visi M.I Al Khoiriyah Kangkung

Membentuk pribadi islami cerdas, trampil dan berwawasan luas.

2. Misi MI Al Khoiriyah Kangkung

1. Meningkatkan iman dan takwa personal didik

2. Memperkuat rasa kekeluargaan


3. Mencetak lulusan yang berkualitas

4. Mengembangkan potensi sumber daya manusia

5. Berorentasi kemasa depan

3. Tujuan Umum Pendidikan MI Al Khairiyah Kangkung

Menjadikan sekolah favorit yang berciri khas islam, berkepribadian dan bermental kuat, mempunyai
pengetahuan dan keterampilan, memupuk persaudaraan dan mengembangkan ilmu pengetahuan di
masyarakat.

erkembangan MI Al Khairiyah Kangkung

Sebelumnya madrasah ini bersetatus Pondok Pengajian, didirikan tanggal 1 Januari 1930 oleh
seseorang wanita yang bernama Ibu Hj. Rani. Kemudian Pondok Pengajian ini diubah menjadi Madrasah
Ibtidaiyah Al Maarif pada tanggal 30 Mei 1940. Setelah beliau meninggal tanggal 1 Januari 1950
diteruskan oleh suaminya seorang lurah yang bernama Hi. Abdul Salim, yang mengubah Madrasah
Ibtidaiyah Al Maarif menjadi Madrasah Ibtidaiyah Al Khoiriyah Kangkung. Setelah beliau meninggal
sekarang diteruskan oleh istri keduanya yang bernama Hj. Salbiah hingga saat ini.Adapun kepala-kepala
sekolah yang pernah memimpin Madrasah Ibtidaiyah Al Khoriah Kangkung adalah :

1. KH. Abdul Mukti dari tahun 1950-1960

2. Ustad Azhari dari tahun 1960-1965

3. Ustad Mujib BA. Dari tahun 1965-1970

4. Ustad Sehabudin dari tahun 1970-1975

5. Bapak Junaidi Dahlan BA dari tahun 1975-1978

6. Bapak Ustad Syamsudin Syaban dari tahun 1978-1995

7. Ibu Rohmawati dari tahun 1995 Sampai dengan 2007.

8. Ibu Sulistyowati dari tahun 2007 Sampai dengan sekarang

3. Ketenagaan/ Keadaan guru


Ketenagaan yang ada di M.I. Al Khoriyah Kangkung terdiri dari

a. Kepala Madrasah : 1 Orang / PNS

b. Guru Swasta : 19 Orang

Jumlah : 20 Orang

Tabel

Data Guru MI Al-Khairiyah Tahun Pelajaran 2014/2015

NAMA L/P JABATAN IJAZAH Bidang studi/ Pangkat Status Mulai Tugas

JABATAN TMT Guru kelas /Gol GT/GTT di sekolah ini

12 Juli
SULISTYOWATI,S.Pd.I P Kep. M.I. 2008 S1 IAIN B.Arab/ Fikih III /b PNS 01 Juni 2005

NIP.1950821 200501 2001

12 Juli
Hi. ARNASA L Wkl. Kep 2008 SI Proses Q.Hadits/A.Akhlak GTY 12 Juli 2007

12 Juli
SOLIKHAH,S.Pd.I P Guru/Bend 2008 SI PAI Guru Kelas III GTY 01 Agusts 1999

12 Juli
SUNARLIK P Guru kelas 2008 SPG Guru Kls VA/IPA GTY 20 maret 1995

12 Juli
ANI KURNIAWATY,S.Pd.Sd P Guru kelas 2008 SI Guru Kls IIA GTY 20 Juli 2002

12 Juli
ROHIMAH,S.Kom P Guru kelas 2008 SI. Kom Guru Kelas IIIB GTY 15 juli 2002

12 Juli
SAFARINI NUR, S.Pd P Guru kelas 2008 SI Bhs Guru Kls VI A GTY 02 Januari 2004

12 Juli
NOVIYANAH,S.Pd.I P Guru kelas 2008 DIII. Mng Guru Kelas IV A GTY 11 Februari 2008

12 Juli
MASRUDIN,S.Pd.I L Guru Agama 2008 S1 IAIN Fiqih/Olaraga GTY 12 Juli 2008

1 Des
NURHAYATI,S.E L Guru/TU 2008 SI.Akt Guru Kelas IIIB GTY 1 Des 2007

1 Juli
MURHANI P Guru Kelas 2009 PGAN Guru Kls V B GTY 1 Juli 2009

1 Juli
MASDALINA,S.Ag P Guru Kelas 2009 SI IAIN Guru Kls IV B GTY 1 Juli 2009
1-Jan-
GUNTUR TRI .P, S.Pd.I L Guru Agama 2010 SI IAIN B.Arab/Akidah GTY 1-Jan-2010

2-Jan-
MUNAWAROH P Guru Kelas 2009 SMK Guru Kls I B GTY 2-Jan-2009

Guru B. 2-Jan-
SITI DAHLIYAH,S.Pd P Lampung 2011 SI IAIN Guru Kls VIB/ MTK GTY 2-Jan-2011

15-Sep-
NUR AINI, S.Pd P Guru B. Inggris 2010 SI Bhs Guru Kls IA/bhs,Inggris GTY 1-Jan-2010

01 Januari MAN/S I (
FAUZIAH RIZKA A P Al-Qur'an/ TPA 2011 Pro) Al-Qur'an/ TPA GTY 01 Januari 2011

01 Januari SMA/S I (
DEWI CITRA NASUTION P Guru Eskul 2011 Pro) TIK/Perpus GTY 01 Januari 2011

02 Juli SMA/S I (
AGUS GOFUR L Guru Agama 2011 Pro) Al-Qur'an/ TPA GTY 02 Juli 2012

14 Juli
KOMARIAH P Penjaga 2003 SD - GTY 14 Juli 2003

Sumber : Rekap Administrasi sekolah

4. Keadaan Siswa / Murid Mi Al- Khairiyah Kangkung

a. Jumlah siswa

Tabel 4

Data Siswa MI AL-Khairiyah TP 2014/2015

NO KELAS LAKI-LAKI PEREMPUAN JUMLAH

1 I 31 27 58

2 II 41 25 66
3 III 35 25 60

4 IV 32 20 52

5 V 20 22 42

6 VI 26 21 47

JUMLAH 186 139 325

5. Keadaan Sarana Dan Prasarana Mi Al Khairiyah Kangkung

a. Perlengkapan Admistrasi Kantor

Tabel 5

Data Perlengkapan Yang Dimiliki MI Al-Khairiyah

NO NAMA PERLENGKAPAN UKURAN JUMLAH KONDISI

BAIK RR RB

1 Komputer P4 1 baik __ __

2 Printer C 1200 1 baik __ __

3 Mesin Tik Besar 1 __ 1 __

4 Mesin Stensel __ __ __ __ __

5 Mesin Foto Copy __ __ __ __ __

6 Brankas __ __ __ __ __

7 Almari Ada 6 2 2 2

8 Meja Ada 7 2 3 2

9 Kursi Ada 7 7 __ __

10 Lain lain __ __ __ __ __

b. Perlengkapan Admistrasi Kelas

Tabel 6
Data Perlengkpan Administrasi Kelas

NO NAMA PERLENGKAPAN UKURAN JUMLAH KONDISI

BAIK RR RB

1 Meja Guru Ada 5 __ __ __

2 Kursi Guru Ada 5 __ __ __

3 Meja siswa Ada 60 20 15 25

4 Kursi Siswa Ada 100 40 20 40

5 Almari Ada 7 2 3 2

6 TV / Audio __ 1 1 __ __

7 Lain lain __ __ __ __ __

B. Keadaan yang diinginkan

Seseorang harus bekerja sesuai dengan kemampuan dan keahlian masing-masing sehingga
mereka mampu menangani pekerjaannya dan mampu mengembangkan segala potensi yang ada pada
dirinya guna kemajuan hasil kerja. Dan mereka akan selalu mendapat petunjuk dari Allah SWT. Dari
pekerjaan diatas dapat diketahui profesional guru sangat penting dalam melaksanakan proses dalam
belajar mengajar dan dalam mencapai tujuan pendidikan. Profesional ini dirasakan sangat penting sering
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kata profesional menurut Syafruddin Nurdin,
diartikan sebagai suatu pekerjaan yang memerlukan pendidikan lanjut di dalam science dan teknologi
yang digunakan sebagai prangkat dasar untuk di implementasikan dalam berbagai kegiatan yang
bermanfaat.9[9] Sedang persyaratannya menurut Uzer Usman adalah:

1. Menuntut adanya keterampilan yang berdasarkan konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendalam.

2. Menemukan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan bidang profesinya.

3. menuntut adanya tingkat pendidikan keguruan yang memadai.

9[9] Syafruddin Nurdin, Guru Profesinal dan Implementasi Kurikulum, (Jakarta : Ciputat Pers,
2002), h.. 16.
4. Adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan.

5. Memungkinkan perkembangan sejalan dengan dinamika kehidupan.

6. Memiliki kode etik sebagai acuan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya.

7. Memiliki klien/objek layanan yang tetap, seperti guru dengan muridnya.

8. Diakui oleh masyarakat, karena memang jasanya perlu dimasyarakatkan.10[10]

Dengan demikian jelasnya bahwa mutu pendidikan dan profesional guru memiliki kaitan yang
sangat erat dan saling mempengaruhi proses pencapaian tujuan pendidikan. Jika guru memiliki
profesionalisme yang tinggi dalam pendidikan maka, secara otomatis mutu pendidikan akan tinggi pula.
Sehingga hal ini akan berpengaruh pada masa depan anak didik sendiri maupun bangsa dan negara.
Berhasilnya guru mengajar dan mendidik, akan tercermintidak hanya dalam tingginya hasil belajar
siswasaja tetapi dalam kematangan emosional siswa, Oleh karena itu, untuk berhasilnya proses belajar
mengajar (PBM) kepala madrasah harus mengadakan supervisi terhadap guru supaya memperoleh hasil
yang baik.

Pelaksanaan supervisi akademik yang dilakukan oleh kepala madrasah terhadap guru sungguh
besar pengaruhnya dalam meningkatkan mutu pendidikan karena ada peningkatan kemampuan
profesional bagi guru sehingga dapat diterapkan dalam pembelajaran.

Dalam hal ini Rohani dan Ahmadi menguraikan tugas kepala sekolah sebagai supervisor adalah:

1. Merancang, mengarahkan dan mengkoordinir semua aktifitas, agar sekolah berjalan dengan baik
menuju tercapainya tujuan sekolah.

2. Membimbing para guru agar menunaikan tugasnya dengan penuh semangat dan kegembiraan.

3. Membimbing para murid untuk belajar rajin, tertib, dan giat.

4. Menjaga suasana baik dalam sekolah antar guru, antar murid, antar pegawai, antar kelas, sehingga
tercapai tujuan kekeluargaan.11[11]

10[10] Muhammad Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung : Remaja Rosda Karya,
2002 ), h..15.
Untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui supervisi akademik kepala madrasah dapat membina
guru-guru dalam merumuskan tujuan pengajaran serta meningkatkan keterampilan mengajar sehingga
PBM dapat terlaksana dengan baik, penuh semangat dan disiplin tinggi. Dengan supervisi akademik
kepala madrasah dapat meningktkan motivasi kerja guru yang lebih bergairah lagi dari sebelumnya. Oleh
karena itu, kepala madrasah sebelum melaksanakan supervisi harus menyusun perogramnya terlebih
dahulu.

Soeripto dan Kosasi mengemukakan,Pendekatan itu antara lain adalah:

1) pendekatan humanistik,

2) pendekatan kompetensi,

3) pendekatan klinis, dan

) pendekatan profesional.12[12]

Jika cara-cara tersebut dilakukan oleh kepala madrasah sebagai supervisor terhadap guru-guru,
akan terjadi perubahan-perubahan dalam kegiatan belajar mengajar di smadrasah sehingga tujuan
pengajaran akan tercapai, siswa akn berhasil dalam meraih prestasi belajar memiliki sumber daya
manusia (SDM) yang tinggi.

Di samping teknik supervisi tersebut di atas, dapat juga dilakukan dengan teknik supervisi
kunjungan kelas, yaitu memantau guru dalam melaksanakan pembelajaran. Sebagaimana yang
dikemukakan oleh Nana Sudjana sebagai berikut:

a. Menguasai bahan

b. Mengelola program belajar mengajar

c. Mengelola kelas

11[11]Ahmad Rohani, H.M dan Abu Ahmadi, Pedoman Penyelenggaraan Administrasi Pendidikan Sekola,
(Jakarta: Bumi Aksara. 1991), h. 73

12[12]Soetjipto, Raflis Kosasi, Profesi Keguruan,(Jakarta: Rineka Cipta, 2000), h. 242


d. Menggunakan media atau sumber belajar

e. Menguasai landasan pendidikan

f. Mengelola interkasi belajar mengajar

g. Menilai prestasi belajar mengajar13[13]

Dengan demikian, masih menurut Satori dapat ditegaskan bahwa sasaran supervisi akademik
adalah :

1) Terutama untuk memberdayakan akuntabilitas profesional guru yang direfleksikan dalam kemampuan-
kemampuan :
a) Merencanakan kegiatan pembelajaran (PBM).
b) Melaksanakan kegiatan pembelajaran (PBM).
c) Menilai proses dan hasil pembelajaran.
d) Memanfaatkan hasil penilaian bagi peningkatan layanan pembelajaran.
e) Memberikan umpan balik secara tepat, teratur, dan terus-menerus kepada peserta didik.
f) Melayani peserta didik yang mengalami kesulitan belajar.
g) Menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan.
h) Mengembangkan dan memanfaatkan alat bantu dan media pembelajaran.
i) Memanfaatkan sumber-sumber belajar yang tersedia.
j) Mengembangkan interaksi pembelajaran (strategi, metode, dan teknik) yang tepat.
k) Melakukan penelitian praktis bagi perbaikan pembelajaran.
2) Menjadikan kepala madrasah dan guru sebagai learning professionals. Yaitu para profesional yang
menciptakan budaya belajar dan mereka mau belajar terus menyempurnakan pekerjaannya. Budaya ini
memungkinkan terjadinya peluang inovasi dari bawah (bottom-up innovation) dalam proses
pembelajaran. Dalam kepentingan ini kepala sekolah menduduki posisi kunci.14[14]
C. Berdasarkan kondisi diatas maka penulis merumuskan masalah:

Bagaimanakah pelaksanaan supervisi akademik kepala madrasah dapat meningkatkan professional


guru di MI AlKhairiyah Kangkung Bumi waras Bandar Lampung?

13[13] Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru, 1991), h. 20

14[14] Ibid, h.4-5


BAB III

ANALISIS DAN PEMECAHAN MASALAH

sis
Dari hasil penelitian penulis beberapa hal yang dapat dilakukan kepala madrasah MI Al-Kahairiyah
kangkung dalam tugasnya sebagai supervisordalam rangka Pelaksanaan Supervisi Akademik Kepala
Madrasah dalam meningkatkan kompetensi Profesional Guru Pelaksanaan Supervisi Akademik Kepala
Madrasah

a. Merencanakan Program Supervisi Akademik

Perencanaan program supervisi akademik adalah penyusunan dokumen perencanaan


pelaksanaan dan perencanaan pemantauan dalam rangka membantu guru mengembangkan
kemampuan mengelola proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Kepala MI Al Khairiyah Kangkung merencanakan program supervisi terlebih dahulu, mengingat


pentingnya manfaat perencanaan program supervisi akademik adalah sebagai berikut.

1) Sebagai pedoman pelaksanaan dan pengawasan akademik.


2) Untuk menyamakan persepsi seluruh warga sekolah tentang program supervisi akademik.
3) Penjamin penghematan serta keefektifan penggunaan sumber daya madrasah (tenaga, waktu dan
biaya)
Prinsip-prinsip perencanaan program supervisi akademik adalah:

1) Objektif (data apa adanya),


2) Bertanggung jawab,
3) Berkelanjutan,
4) Didasarkan pada standar nasional pendidikan, dan
5) Didasarkan pada kebutuhan dan kondisi sekolah
Ruang lingkup supervisi akademik meliputi:

1) Pencapaian standar kompetensi lulusan, standar proses, standar isi, dan peraturan pelaksanaannya; dan
2) Peningkatan mutu pembelajaran melalui:
a) Model kegiatan pembelajaran yang mengacu pada Standar Proses;
b) Proses pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan peserta didik menjadi sdm yang kreatif,
inovatif, mampu memecahkan masalah, berpikir kritis, dan bernaluri kewirausahaan;
c) Peserta didik dapat membentuk karakter dan memiliki pola pikir serta kebebasan berpikir sehingga
dapat melaksanakan mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif
dan berwawasan kebangsaan;
d) Keterlibatan peserta didik secara aktif dalam proses belajar yang dilakukan secara sungguh-sungguh dan
mendalam untuk mencapai pemahaman konsep, tidak terbatas pada materi yang diberikan oleh guru;
e) Bertanggung jawab terhadap mutu perencanaan kegiatan pembelajaran untuk setiap mata pelajaran
yang diampunya.
Bertanggung jawab terhadap mutu perencanaan kegiatan pembelajaran untuk setiap mata
pelajaran agar siswa mampu: (1) meningkat rasa ingin tahunya, (2) mencapai keberhasilan belajarnya
secara konsisten sesuai dengan tujuan pendidikan, (3) memahami perkembangan pengetahuan dengan
kemampuan mencari sumber informasi, (4) mengolah informasi menjadi pengetahuan, (5)
menggunakan pengetahuan untuk menyelesaikan masalah, (6) mengkomunikasikan pengetahuan pada
pihak lain, dan (7) mengembangkan belajar mandiri dan kelompok dengan proporsi yang wajar.

Dalam sebelum melaksanakan supervisi, kepala madrasah terlebih dahulu menyusun perencanaan/
program, baik itu program tahunan (Prota) maupun program semester (Promes). Yang mana di dalam
Prota/Promes kegiatannya meliputi :
1) Menilai hasil belajar / bimbingan siswa dan kemampuan guru,
2) Mengumpulkan dan mengolah sumber daya pendidikan, proses pembelajaran dan lingkungan sekolah,
3) Mengumpulkan analisa belajar guru
4) Melaksanakan pembinaan kepada Guru dan tenaga lainnya di madrasah,
5) Menyusun hasil evaluasi dan hasil pengawasan ,
6) Melaksanakan pembinaan sekolah selain proses belajar mengajar,
7) Melaksanakan evaluasi hasil pengawasan per mata pelajaran.
Adapun program tahunan yang dibuat kepala, bulan Juli dan Januari diprogramkan untuk menyusun
program-program sekolah, menilai hasil belajar/bimbingan siswa dan kemampuan guru dilakukan pada
bulan Agustus dan Februari, September, Oktober, April dan Mei diprogramkan untuk mengumpulkan
dan mengolah sumber daya pendidikan, proses belajar mengajar, dan lingkungan sekolah,
mengumpulkan analisa belajar Guru.
Dalam program semester I tahun ajaran 2014/2015, MI Al Khairiyah Kangkung membuat rencana
pelaksanaan supervisi sebagai berikut: 1) minggu ke 1 dan 4 bulan Juli. 2) Mengumpulkan dan mengolah
sumber daya pendidikan. Proses belajar mengajar dan lingkungan sekolah diprogramkan pada minggu
ke 1,2,3 dan 4 bulan Agustus. 3) Mengumpulkan analisa belajar,pelaksanaan pembelajaran dan sumber
daya pendidikan diprogramkan pada minggu ke 1,2,3 dan 4 bulan September. 4) Melaksanakan
pembinaan kepada guru dan tenaga lainnya di Sekolah diprogramkan pada minggu ke 3 dan 4 bulan Juli,
minggu ke 1,2,3 dan 4 bulan Agustus, September, Oktober, November. 5) Menyusun hasil evaluasi dan
hasil supervisi diprogramkan pada minggu ke 3 dan 4 bulan November dan minggu ke 1 bulan
Desember. 6) Melaksanakan pembinaan guru selain proses belajar mengajar diprogramkan pada minggu
ke 3 dan 4 bulan September dan minggu ke 1 bulan Oktober dan minggu ke 1 dan 2 bulan Desember. 7)
Melaksanakan evaluasi hasil pengawasan per mata pelajaran diprogramkan pada minggu ke 3 dan 4
bulan November dan mingguke 1 dan 2 bulan Desember.

Kemudian untuk persiapan supervisi MI Al Khairiyah Kangkung, Menyiapkan instrumen supervisi


menilai hasil belajar / bimbingan siswa dan kemampuan guru yang digunakan untuk merekam hasil
observasi / kunjungan kelas.

Kepala MI Al Khairiyah Kangkung dalam program tahunan yang dibuat, memprogramkan bulan
Juli dan Januari untuk menyusun program-program sekolah, menilai hasil belajar / bimbingan siswa dan
kemampuan guru dilakukan pada bulan Agustus dan Februari. Pada bulan September, Oktober, April
dan Mei diprogramkan untuk mengumpulkan dan mengolah sumber daya pendidikan, proses belajar
mengajar, dan lingkungan sekolah, mengumpulkan analisa belajar.

Untuk program semester I tahun ajaran 2014/2015, bahwa memprogramkan menilai hasil
belajar/bimbingan siswa pada minggu ke 3 dan 4 bulan Juli; mengumpulkan dan mengolah sumber daya
pendidikan, proses belajar mengajar dan lingkungan madrasah diprogramkan pada minggu ke 1,2,3 dan
4 bulan Agustus, mengumpulkan analisa belajar, Guru dan sumber daya pendidikan diprogramkan pada
minggu ke 1,2,3 dan 4 bulan September; melaksanakan pembinaan kepada GPAI dan tenaga lainnya di
Sekolah diprogramkan pada minggu ke 3 dan 4 bulan Juli, minggu ke 1,2,3 dan 4 bulan Agustus,
September, Oktober, November; menyusun hasil evaluasi dan hasil pengawasan diprogramkan pada
minggu ke 3 dan 4 bulan November dan minggu ke 1 bulan Desember.
Kemudian untuk persiapan supervisi kunjungan kelas, Kepala MI Al Khairiyah Kangkung
menyiapkan instrumen supervisi menilai hasil belajar/ bimbingan siswa dan kemampuan guru yang
digunakan untuk merekam hasil observasi / kunjungan kelas.

2. Melaksanakan Supervisi
Salah satu tugas kepala madrasah adalah melaksanakan supervisi akademik. Untuk
melaksanakan supervisi akademik secara efektif diperlukan keterampilan konseptual, interpersonal dan
teknikal. Oleh sebab itu, setiap kepala sekolah/madrasah harus memiliki dan menguasai konsep
supervisi akademik yang meliputi: pengertian, tujuan dan fungsi, prinsip-prinsip, dan dimensi-dimensi
substansi supervisi akademik. Penekanan kedisiplinan bagi semua keluarga besar lembaga pendidikan
mutlak diperlukan, terlebih tenaga pendidikan dan kependidikan. Dengan melakukan kinerja dengan
disiplin, baik disiplin waktu maupun disiplin administrasi, maka langkah awal untuk mengawali segi
proses pendidikan yang baik dan bermutu. Dalam kaitan ini, kepala madrasah harus mampu membantu
guru mengembangkan kemampuan dan meningkatkan standart perilakunya. Sikap disiplin merupakan
sesuatu yang penting untuk menanamkan rasa kepada kewenangan mengajar, kerjasama dan rasa
hormat kepada orang lain.

Kepala madrasah sebagai motivator harus memiliki strategi yang tepat untuk memberikan
motivasi kepada para guru dalam melakukan berbagai tugas dan fungsinya. Motivasi ini dapat
ditumbukah melalui pengaturan lingkungan fisik, suasana kerja, disiplin dan dorongan penghargaan
secara efek. Bertanggung jawab terhadap mutu perencanaan kegiatan pembelajaran untuk setiap mata
pelajaran agar siswa mampu: (1) meningkat rasa ingin tahunya, (2) mencapai keberhasilan belajarnya
secara konsisten sesuai dengan tujuan pendidikan, (3) memahami perkembangan pengetahuan dengan
kemampuan mencari sumber informasi, (4) mengolah informasi menjadi pengetahuan, (5)
menggunakan pengetahuan untuk menyelesaikan masalah, (6) mengkomunikasikan pengetahuan pada
pihak lain, dan (7) mengembangkan belajar mandiri dan kelompok dengan proporsi yang wajar.

Supervisi akademik juga mencakup dokumen kurikulum, kegiatan belajar mengajar dan
pelaksanaan bimbingan dan konseling. Supervisi akademik tidak kalah pentingnya dibanding dengan
supervisi administratif. Sasaran utama supervisi akademik adalah proses belajar mengajar dengan
tujuan meningkatkan mutu proses dan mutu hasil pembelajaran. Variabel yang mempengaruhi proses
pembelajaran antara lain guru, siswa, kurikulum, alat dan buku pelajaran serta kondisi lingkungan dan
fisik. Oleh sebab itu, fokus utama supervisi edukatif adalah usaha-usaha yang sifatnya memberikan
kesempatan kepada guru untuk berkembang secara profesional sehingga mampu melaksanakan tugas
pokoknya, yaitu: memperbaiki dan meningkatkan proses dan hasil pembelajaran.

Sasaran utama supervisi akademik adalah kemampuan-kemampuan guru dalam


merencanakan kegiatan pembelajaran, melaksanakan kegiatan pembelajaran, menilai hasil
pembelajaran, memanfaatkan hasil penilaian untuk peningkatan layanan pembelajaran, menciptakan
lingkungan belajar yang menyenangkan, memanfaatkan sumber belajar yang tersedia, dan
mengembangkan interaksi pembelajaran (strategi, metode, teknik) yang tepat. Supervisi edukatif juga
harus didukung oleh instrumen-instrumen yang sesuai.

Dalam pelaksanaan supervisi kelas kepala madrasah memperoleh hasil sebagai berikut

Kelengkapan perangkat pembelajaran meliputi kelengkapan Kurikulum, RPP,Silabus, dan Bahan ajar
Laporan hasil Evaluasi guru tentang perangkat pembelajaran

No Nama Guru Mata Lengkap Tidak lengkap


Pelajaran/
kelas

1 Hi Arnasa Akidah

2 Solikha,S.Pd.I Kls 2 -

3 Sunarlik Klas3 -

4 Ani Kurniawaty, S.Pd.Sd Klas 6 -

5 Rohimah, S.kom Klas5 -

6 Safarini, S.Pd Klas 6 -

7 noviyanah,S.Pd.I Klas 4 -

8 Masrudin, S.Pd.I Al-Quran -

9 Nurhayati, S.E Klas 2 -

10 Murhani Kls 3 -

11 Masdalina,S.Pd. Kls 4 -

12 Guntur Tri Permana, S.Pd.I B.Arab -

13 Munawaroh Kls 1 -
14 Siti Dahliyah,S.Pd.I Matematika

15 Nuraini, S.Pd.I B.Inggris -

16 Fauziahl, S.Pd.I TPA -

17 Dewi Citra Kls 1 -

18 Agus Ghofur. SKI -

Untuk penerapan RPP di depan kelas dikatakan bahwa semua guru membuat Rencana
Pembelajaran ,namun ada dari mereka dalam melaksanakan pembelajaran jarang membawa RPP, dan
RPP disimpan di loker guru katna kata mereka agak kesulitan bila harus selalu membawa RPP bila
kegiatan pembelajaran harus selalu dibawa ke dalam kelas.

Selanjutnya untuk program penilaian dan analisis nilai hampir semua guru 90% sudah
meneraplan kegiatan penilaian dan pengolahan nilai.Aerinya semua guru sudah memahami dan
professional dalam pengolahan hasil kerja siswa dan menganalisis nilai serta mengadakan pengayaan
dan remidial

Upaya meningkatkan kompetensi profesional guru di MI Al Khairiyah Kangkung, Kepala


Madrasah menemukan bahwa guru-guru dalam perencanaan sudah mulai baik, dalam artian ada
beberapa guru sudah profesional dalam hal mengadakan perencanaan dalam proses belajar mengajar,
pelaksanaan proses belajar mengajar seperti menguasai landasan kependidikan, menguasai materi yang
akan diajarnya, menyesuaikan strategi mengajar dengan bahan pengajaran, menyesuaikan bahan
pelajaran, menghubungkan yang diajarkan dengan kebutuhan murid agar murid antusias
mempelajarinya, merumuskan tujuan atas materi yang diajarkannya, berusaha mencari materi dari
berbagai sumber, dan evaluasi belajar.

Namun demikian masih ada beberapa guru yang belum faham betul tentang perangkat
pembelajaran. Maka dari itu saya selaku kepala madrasah menyadari salah satu tugas saya dalam
kepemimpinan/manajer sekolah/madrasah memberikan pembinaan yang dianggap perlu dengan cara
mengadakan supervisi untuk mengetauhi dimana kelemahan guru saya dan mencarikan solusi jalan
keluarnya. Kami mengambil keputusan dengan hasil musyawarah dengan guru dan pengelolah
madrasah ini khususnya dari usulan guru untuk menemukan, solusi tersebut adalah mengadakan work
shop antar guru khususnya guru di MI Al Khairiyah Kangkung dan umumnya guru-guru di KKM MI Al
Khairiyah Kangkung yang masih belum faham tentang perangkat pembelajaran. Misalnya dalam
penyusunan Silabus, RPP, dan pembuatan kisi-kisi soal mata pelajaran. Selain itu yang diusulkan oleh
sebagian guru agar para guru selalu aktif maka dari pihak madrasah harus berani mengeluarkan dana
ekstra untuk mendukung kegiatan tersebut, sehingga para guru lebih aktif untuk menyampaikan
materinya kepada siswa, dan pada akhirnya akan terangkat kompetensi profesional guru.

Upaya meningkatkan kompetensi profesional guru di MI Al Khairiyah Kangkung, Kepala


Madrsah melakukan beberapa upaya demi terlaksananya proses belajar mengajar dan dapat
meningkatkan kompetensi profesional guru yang lebih baik karna selaku guru memang harus selalu
dituntut untuk selalu belajar dan berkembang sesuai dengan perkembangan jaman, apalagi dengan
telah dicanangkannya kurikulum 2013 maka guru di MI Al Khairiyah Kangkung tidak boleh fakum harus
dan harus berkembang. Kepala madrasah mengadakan beberapa palatihan baik berupa work shop
maupun seminar, seminar yang dilaksanakan antara lain: peningkatan profesionalitas guru dalam proses
belajar mengajar. Selain itu, juga mengadakan work shop. Adapun work shop yang pernah dilaksanakan
adalah work shop tentang pengembangan silabus, pembuat RPP, dan pembuatan soal, kisi-kisi soal, dan
system penilaian kurikulum 2013.

Dengan demikian berangkat dari beberapa pernyataan di atas, bahwa upaya-upaya yang
dilakukan oleh guru dan kepala madrasah untuk meningkatkan kompetensi profesional guru adalah :

1) Mengadakan pembenahan-pembenahan dalam proses belajar mengajar


2) Mengikuti pelarihan pelatihan baik tag duselengraakan oleh sekolah atau dengan mandiri
3) Melanjutkan / mengikuti jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan relevan.
Penilaian diantara peran kepala madrasah dalam upaya meningkatkan kompetensi profesional
guru melalui peningkatan profesional para guru, sebagaimana petikan wawancara dengan kepala yang
menyatakan bahwa dengan menggunakan tehnik-tehnik supervisi. Observasi kelas untuk menemukan
data-data yang aktual dan konkrit tentang masalah-masalah yang dihadapi guru dalam kelas.

Sebagai usaha untuk meningkatkan kompetensi profesional guru paling tidak hal yang harus
dan wajib dibenahi atau ditingkatkan kualitasnya dalam pembelajaran oleh kepala madrasah terlebih
dahulu adalah guru, karena guru merupakan tonggak darikeberhasilan suatu pembelajaran, walaupun
tidak terlepas dari peran seorang kepala madrasah. Dalam hal ini, kepala sekolah mempunyai tugas
pokok melaksanakan pembinaan terhadap para guru.Salah satu dari keberhasilan proses pendidikan
pada lembaga pendidikan tidak terlepas dari kontribusi kepala madrasah selaku penanggung jawab
utama. Proses pembinaan yang tepat sasaran dapat memberikan dampak yang jelas untuk merubah
atau meluruskan hal - hal yang dirasa kurang tepat. Supervisi klinis merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari kegiatan peningkatan kompetensi profesional guru proses belajar mengajar di sekolah.
Supervisi dipandang sebagai bantuan yang diberikan kepada guru agar dapat meningkatkan kualitas.
Sesuai dengan pernyataan kepala MI Al Khairiyah Kangkung, kami ingin menjadikan lulusan kami
berkualitas. Syaratnya adalah 8 SNP itu kami wujudkan dan jalankan dengan semaksimal mungkin.
Untuk menjadikan hal itu, maka diperlukan kerja sama yang baik dari para guru dan semua karyawan di
lembaga ini. Langkah awal untuk menjadikan lulusan yang berkompeten dibidangnya adalah minimal
dengan disiplin waktu, administrasi.

Intinya adalah keberhasilan yang dicapai pada lembaga pendidikan tidak hanya di sebabkan
oleh peran kepala madeasah semata. Harus ada kerja sama yang baik antara pimpinan lembaga dan
anggota yang lain. Penekanan kedisiplinan bagi semua keluarga besar lembaga pendidikan mutlak
diperlukan, terlebih tenaga pendidikan dan kependidikan. Dengan melakukan kinerja dengan disiplin,
baik disiplin waktu maupun disiplin administrasi, maka langkah awal untuk mengawali segi proses
pendidikan yang baik dan berkompetensi profesional guru.

Peningkatan proses belajar ,mengajar antara guru dengan siswa merupakan upaya untuk
menjadikan proses pendidikan menghasilkan lulusan yang berkualitas. Faktor lain juga yang menentukan
adalah profesionalisme guru. Salah satu cara adalah dengan cara supervisi yang dilakukan oleh kepala
madrasah. Kepala madrasah ketika ditanya tentang pembinaan guru, beliau mengatakan bahwa kami
tetap mengadakan pembinaan terhadap guru minimal satu bulan satu kali, ada juga per semester,
bahkan tahunan. Tujuan pembinaan terhadap guru adalah untuk menanamkan sikap disiplin mengajar,
memotivasi kerja guru, mengevaluasi tugas yang telah dilaksanakan.

Dari upaya tersebut kepala madrasah dituntut untuk mampu menumbuhkan sikap disiplin
mengajar para guru, terutama disiplin diri. Dalam kaitan ini, kepala madrasah harus mampu membantu
guru mengembangkan kemampuan dan meningkatkan standart perilakunya. Sikap disiplin merupakan
sesuatu yang penting untuk menanamkan rasa tanggung jawab kepada kewenangan mengajar,
kerjasama dan rasa hormat kepada orang lain.
Kepala madrasah sebagai motivator harus memiliki strategi yang tepat untuk memberikan
motivasi kepada para guru dalam melakukan berbagai tugas dan fungsinya. Motivasi ini dapat
ditumbukan melalui pengaturan lingkungan fisik, suasana kerja, disiplin dan dorongan penghargaan
secara efektif.

Dalam kedudukannya sebagai supervisor kepala madrasah bertugas melakukan berbagai


pengawasan dan pengendalian untuk membimbing para guru dalam menentukan bahan pelajaran yang
dapat meningkatkan potensi siswa, memilih metode yang akan digunakan dalam proses belajar
mengajar, mengadakan rapat dewan guru, dan mengadakan kunjungan kelas. Supervisi merupakan
control agar kegiatan pendidikan di madrasah terarah pada tujuan yang telah ditetapkan. Pengawasan
dalam kegiatan supervisi juga diperlukan yang sifatnya merupakan usaha membantu setiap personal
terutama guru, agar selalu melaksanakan kegiatan sesuai tugas dan tanggung jawab masing-masing.

Kinerja kepala madrasah tidak hanya dilaksanakan hanya sekedar menjalankan program yang
telah ada. Lebih dari itu tentunya juga kepala madrasah juga mempunyai tujuan-tujuan dengan
merencanakan sebuah kegiatan supervisi seperti yang dijelaskan oleh kepala madrasah. Salah satu yang
digunakan dalam pelaksanaan supervisi adalah supervisi klinik. Supervisi klinik ini digunakan untuk
memantau guru secara mendalam, karena di dalam supervisi ini terdapat cara-cara pembinaan yang
bersifat pendekatan terhadap guru.

Di samping mengadakan pembinaan guru, kepala MI Al Khairiyah Kangkung melakukan teknik


supervisi kepada para guru. Misalnya dari sisi administrasi, kita lihat apakah teman-teman guru
membuat perangkat belajar yang lengkap, agenda, bahan ajar, modul, RPP, promes, prota

Kontrol administrasi kita lakukan semua, untuk mempermudah pengecekan, biasanya


dilakukan pada tahun ajaran baru yang ditindaklanjuti oleh para guru dalam proses belajar mengajar.
Sebagai salah satu strategi kepala madrasah dalam meningkatkan proses belajar mengajar pada
lembaga yang dipimpin, maka selayaknya kegiatan supervisi harus benar-benar dijalankan. Lebih penting
lagi adalah bagaimana tindak lanjut dari hasil supervisi. Kepala madrasah juga berkata terkait dengan
cara/teknik dalam melakukna supervisi, kami beritahukan kepada semua para guru untuk selalu
mengajar dengan persiapan yang baik, karena sewaktu-waktu dan dipandang penting kami mengadakan
kegiatan supervisi di kelas.

Supervisi ini pada dasarnya merupakan pembinaan performa guru dalam proses belajar
mengajar. Sasaran supervisi ini, adalah untuk meningkatkan pengajaran guru di kelas, membangun
motivasi dan komitmen guru, juga untuk pembinaan guru, meluruskan kesalahan atau penyimpangan,
perbaikan program serta untuk meningkatkan kinerja guru.

Pelaksanaan supervisi akademik tidak melulu dilaksanakan dalam keadaan keadaan guru
sedang mengajar. Banyak cara yang dapat dijadikan acuan dalam menjalankan supervisi akademik .
Terkadang cara yang digunakan adalah cara yang langsung dijadwalkan dengan pelaksanaan evaluasi.

Kegiatan supervisi akademik ini, kepala madrasah tidak hanya melakukan sesuai dengan teori
yang ada. Tetapi juga melakukan pengembangan-pengembangan sesuai dengan kompetensi yang
dimiliki oleh kepala madrasah. Lebih dari itu, pengembangan disesuaikan dengan kompetensi keahlian
lembaga sekolah. Pernyataan kepala madrasah selaku pimpinan madrasah, ada bebrapa gabungan yang
saya lakukan. Administrasi, kita lihat apakah teman-teman guru membuat perangkat belajar yang
lengkap, agenda, bahan ajar, modul, rpp, promes dan prota. Kontrol administrasi kita lakukan semua,
biasanya pada tahun ajaran baru yang ditindaklanjuti oleh para guru dalam proses belajar mengajar.
Dari dari hasil supervisi, akan kelihatan berapa persen guru yang mempunuyai kendala dalam proses
belajar mengajar, setelah itu kita akan melakukan tindakan secara terstruktur dengan melakukan
pengembangan-pengembangan supervisi. Bahkan salah satunya adalah dengan cara melaksanakan
workshop, Diklat, pelatihan, dan lain-lain.

Di samping itu, selain memang sudah menjadi kewajiban seorang guru mempunyai surat ijin
mengajar atau perangkat belajarnya, kelengkapan dari administrasi perangkat belajar menandakan
lembaga itu professional. Sehingga bukti-bukti administrasi harus dilampirkan sebagai bukti bahwa
lembaga ini telah memenuhi standar kompetensi profesional guru pendidikan.

3. Menindak Lanjuti hasil supervisi

Pada tahapan terakhir dari kegiatan supervisi pengajaran, yang harus dilakukan seorang
supervisor adalah menindaklanjuti hasil supervisi pengajaran yang sudah terlaksana melalui informasi
yang didapat dari hasil supervisi untuk dijadikan landasan membuat keputusan, seperti tidak hadirnya
tenaga pengajar dalam kelas, lemahnya pengaruh pengajaran pada belajar anak didik harus disikapi
dengan tegas. Melalui cara ini peningkatan mutu pengajaran akan tercapai.

Selain itu yang menjadi tugas supervisor dalam menindaklanjuti hasil supervisi pengajaran
terdapat dua indicator utama yang harus dilakukan, yaitu:
1) Menyusun rencana program tindak lanjut bersama dengan pihak terkait sesuai dengan kebijakan
madrasah.
2) Mensosialisasikan hasil supervisi ke seluruh warga madrasah dan pihak lain yang terkait sesuai dengan
tugas fungsi pokoknya.
Melihat tugas pokok supervisor dalam menindaklanjuti hasil supervisi pengajaran di atas,
supervisor dapat merencanakan beberapa program yang menurut pertimbangan supervisor sesuai
dengan kebutuhan guru-guru dengan melihat hasil supervisi sebelumnya, seperti halnya program
inservice-training dan upgrading di madrasah.

Diharapkan dengan adanya pembinaan dan usaha perbaikan pendidikan melalui program
inservice-training dan upgrading terhadap guru-guru akan dapat memberikan perbaikan mutu
pengetahuan pada para pelaksana pendidikan yaitu guru yang pada akhirnya mempunyai implikasi
terhadap keberhasilan proses pengajaran sehingga menjadi pendidikan yang bermutu di sekolah yang
dipimpinnyaserta secaea ridak langsung maka mutu oendidikan akan mengalami peningkatan demikian
juda prestasi anak pun akan meningkat .

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Pelaksanaan Supervisi akademik kepala madrasah dalam meningkatkan kompetensi profesional guru
di MI Al Khairiyah Kangkung Bandar Lampung dilakukan dengan terlebih dahulu merencanakan program
supervisi akademik, kemudian melaksanakan supervisi dan menindaklanjuti hasil supervisi akademik.
Dari hasil supervisisi tersebut kepala madrasah menindak lanjutinya dengan upaya mengadakan
pelatihan-pelatihan, memberikan kesempatan secara luas terhadap guru untuk mengaktualisasikan diri,
melakukan kunjungan kelas, percakapan pribadi, penilaian sendiri, pemberian motivasi-motivasi, dan
lain-lain sedangkan upaya secara personal dengan pelatihan/work shop, membaca buku dan mencari
sumber-sumber lain seperti membaca buku referensi dan penunjang lainnya ,Kompetensi profesional
guru di MI Al Khairiyah Kangkung Bandar Lampung. Supervisi akademik kepala madrasah dilaksanakan
dalam ramgka tudas kepala madrasah melaksanakan tupoksinya sebagai seorang pemimpin/mamajet
dilembaganya, terlepas ada tidaknya gejala-gejala/temuan permasalahan yamg ada di madrasah
tersebut tetap seorang pemimpin harus melakukan supervisi dalam rangka terus mengadakan pernaikan
dan peningkatan kompetensi akademik semua gurunya sebahai pendidik yang prifesional dan unruk
meningkatkan muru pendidikan di madrasah tersebut. Dampak dari supervisi tentu dapat terlihat dan
dirasakan oleh kinerja guru tersebut, guru mengalami peningkatan dalam hal pembelajaran, mengelolah
program belajar mengajar, kemampuan mengelolah kelas, kemampuan menggunakan media atau
sumber belajar, kemampuan menguasai landasan pendidikan, kemampuan mengelola interaksi belajar-
mengajar, serta kemampuan menilai dan prestasi belajar siswa serta menganalisis serta mengadakan
pengayaan. Keuntungan yang diprrtoleh MI Al Khairiyah Kangkung Bandar Lampung dari supervisi
akademik kepala Madrasah adalah peningkatan mutu dan prestasi peserta didik dan lulusannya dapat
bersaing dengan lembaga pendidikan lainnya yang setingkat . Hal ini dapat dilihat dari kepercayaan
masyarakat terhadap keberadaan MI Al Khairiyah Kangkung Bandar Lampung sehingga keadaan jumlah
peserta didik dari tahun ke tahun semakin meningkatserta banyajnya prestasi yang di peroleh melalui
perlombaan- perlombaan

B. Rekomendasi

1. Kemampuan guru dalam proses belajar mengajar baik dalam hak memilih materi dan penggunaan
media danmengolah hasil belajar ( menilai menganalisis dan mengadakan pengayaan dan perbaikan)
2. Perlu melengkapi sarana-sarana pendidikan yang memadai agar dapat mendukung kegiatan
pembelajaran serta mampu mempergunakannya
3. Guru agar menambah wawasannya baik melalui membaca/melalui kegiatan-kegiatan yang berwawasan
kompetensi khususnya Pendidikan Agama Islam dengan mengikuti pelatihan-pelatihan sebagai
kebutuhan guru di Sekolah.
4. Agar guru lebih intensif dan kreatif dalam kegiatan pembelajaran untuk dapat menghidupkan suasana
kelas, agar dapat menarik dan mendorong minat anak didik dalam proses belajar. Karena materi yang
disampaikan secara menarik akan lebih mudah dipahami peserta didik.
5. Guru hendaknya tidak terpaku pada satu atau dua sumber belajar saja, karena masih banyak fasilitas
yang ada di sekolah yang dapat dijadikan sumber belajar.
6. Menjadi guru yang selalu produktif dalam bidangnya, misal membuat karya tulis dengan mengadakan
suatu penelitian guna menemukan ide pengembangan mutu profesi, metode belajar, dan lain-lain.
7. Guru yang produktif dalam bidangnya serta punya inofatif dalam profesinya maka dapat dikatan guru
tersebut adalah guru yang professional.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Azhari, Supervisi Rencana Program Pembelajaran, Jakarta: Rian Putra,

2004.

Ahmad Rohani, H.M dan Abu Ahmadi, Pedoman Penyelenggaraan Administrasi

Pendidikan Sekola, Jakarta: Bumi Aksara. 1991

Arifin, Kapita Selekta Pendidikan Islam dan Umum, Jakarta : PT Bumi Aksara, 1991

Badan Standar Nasional Pendidikan, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 13

Tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Pengawas, (Jakarta: BSNP, 2007.

Depdikbud, Panduan Manajemen Sekolah, Jakarta: Dirjen Dikdasmen, Direktorat

Dikmenum, 2009

Diknas, Undang-Undang RI Nomor 20. 2003. Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta:

Depdiknas, 2003.

Diknas, Undang-Undang RI Nomor 14. 2005. Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta:

Depdiknas. 2005

Gomes, Faustino Cardoso, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: Andi Offset,

2000).
Muhammad Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, Bandung : Remaja Rosda

Karya, 2002.

Nana Sudjana, Dasar- Dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru, 1991

Soetjipto, Raflis Kosasi, Profesi Keguruan, Jakarta: Rineka Cipta, 2000.

Syafruddin Nurdin, Guru Profesinal dan Implementasi Kurikulum, Jakarta : Ciputat

Pers, 2002.

Udin Syaefudin Saud, Pengembangan Profesi Guru, Bandung :Alfabeta, 2009


Makalah PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH

Kata Pengantar

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat serta karunia-Nya kepada saya sehingga saya berhasil
menyelesaikan Karya Ilmiah ini yang Alhamdulillah tepat pada
waktunya yang berjudul

PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH

Karya Ilmiah ini berisikan tentang informasi Pengertian Pendidikan


Karakter Di Sekitar Kita atau yang lebih khususnya membahas
penerapan Berkarakter di sekitar kita. Diharapkan Karya Ilmiah ini dapat
memberikan informasi kepada kita semua tentang pendidikan karakter
di sekitar kita.

Saya menyadari bahwa Karya Ilmiah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun
selalu saya harapkan demi kesempurnaan Karya Ilmiah ini.

Akhir kata, saya sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan Karya Ilmiah ini dari awal sampai
akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

Penulis
Daftar Isi

Halaman Judul..............................................

Halaman Pengesahan..........................................

Kata Pengantar.............................................

Daftar Isi..................................................

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah.................................

1.2 Rumusan Masalah........................................

1.3 Tujuan Penulisan.......................................

1.4 Manfaat Penulisan......................................

1.5 Pembatasan Masalah.....................................

1.6 Metode Penulisan.......................................

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pendidikan Berkarakter ....................


2.2 Perbedaan Karakter dan Kepribadian.................

2.3 Sejarah Munculnya Pendidikan Karakter...................

2.4 Nilai-Nilai Dalam Pendidikan Karakter.....................

2.5 Contoh Program Pendidikan Karakter

2.5.1 Lingkungan Sekolah

2.5.2 Lingkungan Keluarga

2.6 Fungsi Dan Tujuan Pendidikan Karakter..............

2.7 Prinsip Pendidikan Karakter............

2.8 Aktivitas pendidikan berkarakter di sekolah ....................

2.9 Peran guru dalam membentuk karakter siswa. ...............................

2.10 Penyimpangan karakter pada siswa.....................................

2.11 Cara menumbuhkan pendidikan berkarakter pada jati diri siswa.

2.12 Contoh-contoh perilaku penurunan moral

2.13 Sebab-sebab penurunan moral

2.14 Dampak penurunan moral

2.15 Upaya meminimalisir penurunan moral

2.16 Pengaruh penurunan moral terhadap prestasi belajar

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan............................................

3.2 Kritik................................................

3.3 Saran.................................................

Daftar Pustaka

BAB I
Pendahuluan

1.1 Latar belakang masalah


Persolan budaya dan karakter bangsa kini menjadi sorotan
tajam masyarakat, baik itu melalui media cetak, wawancara,
dialog dan lain sebagainya. Persoalan yang muncul di
masyarakat seperti korupsi, kekerasan, kejahatan seksual,
perusakan yang terjadi dimana-mana, sirkulasi ekonomi yang
terhambat serta dunia politik yang menuai pro dan kontra
menjadi salah satu topik yang hangat di masyarakat. Berbagai
alternatif penyelesaian masalah ini telah dilakukan seperti
peraturan, undang-undang.

Pendidikan karakter sebenarnya bukan hal yang baru. Sejak


awal kemerdekaan, masa orde lama, masa orde baru, dan masa
reformasi sudah dilakukan dengan nama dan bentuk yang
berbeda-beda.

Situasi sosial, kultural masyarakat kita akhir-akhir ini memang


semakin mengkhawatirkan. Ada berbagai macam peristiwa
dalam pendidikan yang semakin merendahkan harkat dan
martabat manusia. Hancurnya nilai-nilai moral, merebaknya
ketidakadilan, menjamurnya kasus korupsi, terkikisnya rasa
solidaritas telah terjadi dalam dunia pendidikan kita? Rupanya
usaha perbaikan di bidang pendidikan dirasa tidak hanya cukup
dengan perbaikan sarana dan prasarana pendidikan saja,
melainkan membutuhkan perencanaan kurikulum yang sangat
matang yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan bangsa.
Namun hingga saat ini belum menunjukkan hasil yang optimal,
terbukti dari fenomena sosial yang menunjukkan perilaku yang
tidak berkarakter sebagaimana disebut di atas.

Dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem


pendidikan Naional telah ditegaskan bahwa
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan
dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab.
Namun tampaknya upaya pendidikan yang dilakukan oleh
lembaga pendidikan dan institusi pembina lain belum
sepenuhnya mengarahkan dan mencurahkan perhatian secara
komprehensif pada upaya pencapaian tujuan pendidikan
nasional.nerapan hukum yang lebih kuat.

Kepedulian masyarakat terhadap pendidikan budaya dan


karakter bangsa juga telah menjadi perhatian pemerintah.
Pemerintah telah mengembangkan pendidikan budaya dan
karakter bangsa ini melalui Departemen Pendidikan Nasional.
Karena itulah kami tertarik menjadikan topik ini sebagai
bahasan karya ilmiah sederhana yang akan kami tulis.

1.3 Rumusan masalah


Dari latar belakang masalah tersebut,dapat dirumuskan
masalah,antara lain :
1.3.1 Bagaimana Fungsi dan tujuan Pendidikan Karakter?
1.3.2 Bagaimana nilai-nilai pendidikan berkarakter?

1.3.3 Bagaimana proses perencanaan pendidikan karakter di


sekolah menengah pertama?

1.3.4 Bagaimana aktivitas pendidikan berkarakter di sekolah?

1.3.5 Bagaimana proses evaluasi pendidikan karakter di


sekolah menengah pertama?

1.3.6 Bagaimana peran guru dalam membentuk karakter


siswa?

1.3.7 Bagaimana penyimpangan karakter pada siswa?

1.3.8 Bagaimana upaya mengurangi atau bahkan


menghilangkan penyimpangan karakter?

1.3.9 Bagaimana cara menumbuhkan pendidikan berkarakter


pada jati diri siswa?
1.4 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari karya ilmiah ini adalah sebagai berikut :

1.4.1 Menjelaskan pengertian pendidikan karakter.


1.4.2 Menjelaskan bagaimana pendidikan karakter disekolah
1.4.3 Menjelaskan tentang pentingnya pendidikan karakter.
1.4.4 Menjelaskan tentang perbedaan pendidikan karakter
dan kepribadian
1.4.5 Menjelaskan tentang dampak pendidikan karakter
1.4.6 Menjelaskan peran guru dalam pendidikan karakter
1.4.7 Untuk mengetahui fungsi dan tujuan Pendidikan
Karakter.
1.4.8 Mengetahui nilai-nilai pendidikan berkarakter.
1.4.9 Untuk mengetahui proses perencanaan pendidikan
karakter di sekolah.
1.4.10 Untuk mengetahui aktivitas pendidikan berkarak
1.4.11 Untuk mengetahui peran guru dalam membentuk
karakter siswa.
1.4.12 Mengetahui penyimpangan karakter pada siswa.
1.4.13 Untuk mengetahui upaya mengurangi atau bahkan
menghilangkan penyimpangan karakter.
1.4.14 Mengetahui cara menumbuhkan pendidikan
berkarakter pada jati diri siswa.

1.5 Manfaat Penulisan.


Dari tujuan penulisan tersebut, dapat ditulis manfaat penulisan,
sebagai berikut :

1.5.1 Agar pembaca mengetahui fungsi dan tujuan Pendidikan


Karakter.
1.5.2 Agar pembaca mengerti nilai-nilai pendidikan
berkarakter.
1.5.3 Agar mengetahui proses perencanaan pendidikan
karakter di sekolah menengah pertama.
1.5.4 Agar mengetahui aktivitas pendidikan berkarakter di
sekolah
1.5.5 Agar mengetahui peran guru dalam membentuk karakter
siswa
1.5.6 Agar pembaca mengerti penyimpangan karakter pada
siswa
1.5.7 Agar pembaca mengetahui upaya mengurangi atau
bahkan menghilangkan penyimpangan karakter
1.5.8 Agar pembaca mengerti cara menumbuhkan pendidikan
berkarakter pada jati diri siswa

1.6 Metode penelitian


1.6.1 Mengamati kondisi di lapangan
1.6.2 Browsing di Internet.
1.6.2 Membaca buku pendukung

Bab II
Pembahasan
2.1 Pengertian Pendidikan Berkarakter.
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai
karakter kepada siswa sekolah yang meliputi komponen
pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan. Untuk
melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang
Maha Esa, diri sendiri, dan sesama.Untuk itu proses pendidikan
karakter di sekolah melibatkan semua komponen seperti isi
kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas
hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran,
pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan
ekstrakurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan,
dan kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah.
Adapun pengertian pendidikan berkarakter menurut para ahli :
Pendidikan Karakter Menurut Lickona, yaitu suatu usaha
yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat
memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika
yang inti.
Pendidikan Karakter Menurut Suyanto, yaitu cara berpikir
dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk
hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga,
masyarakat, bangsa, maupun negara.
Menurut Ratna Megawangi (2004:95), Sebuah usaha untuk
mendidik anak anak agar dapat mengambil keputusan
dengan bijak dan mempraktekkannya dalm kehidupan sehari
hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang
positif kepada lingkungannya.
Definisi lainnya dikemukakan oleh Fakry Gaffar
(2010:1), Sebuah proses transformasi nilai nilai kehidupan
untuk ditumbuh kembangkan dalam kepribadian seseorang
sehingga menjadi satudalam perilaku kehidupan orang itu
Dalam buku Pendidikan Karakter, Kajian Teori dan Praktik di
Sekolah (2011:5), Pembelajaran yang mengarah pada
penguatan dan pengembangan perilaku anak secara utuh yang
didasarkan pada suatu nilai tertentu yang dirujuk oleh sekolah.
Pendidikan Karakter Menurut Kamus
Psikologi, yaitu kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau
moral, misalnya kejujuran seseorang, dan biasanya berkaitan
dengan sifat-sifat yang relatif tetap (Dali Gulo, 1982: p.29).
2.2 Perbedaan Karakter dan Kepribadian.
Kepribadian adalah hadiah dari Tuhan Sang Pencipta saat
manusia dilahirkan dan setiap orang yang
memiliki kepribadian pasti ada kelemahannya dan kelebihannya
di aspek kehidupan sosial dan masing-masing
pribadi. Kepribadian manusia secara umum ada 4, yaitu :

1. Koleris : tipe ini bercirikan pribadi yang suka kemandirian,


tegas, berapi-api, suka tantangan, bos atas dirinya sendiri.
2. Sanguinis : tipe ini bercirikan suka dengan hal praktis, happy
dan ceria selalu, suka kejutan, suka sekali dengan kegiatan
social dan bersenang-senang.
3. Phlegmatis : tipe ini bercirikan suka bekerjasama, menghindari
konflik, tidak suka perubahan mendadak, teman bicara yang
enak, menyukai hal yang pasti.
4. Melankolis : tipe ini bercirikan suka dengan hal detil,
menyimpan kemarahan, Perfection, suka instruksi yang jelas,
kegiatan rutin sangat disukai.

Saat setiap manusia belajar untuk mengatasi dan memperbaiki


kelemahannya, serta memunculkan kebiasaan positif yang
baru, inilah yang disebut dengan Karakter. Misalnya, seorang
dengan kepribadian Sanguin yang sangat suka bercanda dan
terkesan tidak serius, lalu sadar dan belajar sehingga mampu
membawa dirinya untuk bersikap serius dalam situasi yang
membutuhkan ketenangan dan perhatian fokus,
itulah Karakter. Pendidikan Karakter adalah pemberian
pandangan mengenai berbagai jenis nilai hidup, seperti
kejujuran, kecerdasan, kepedulian dan lain-lainnya.
Dan itu adalah pilihan dari masing-masing individu yang perlu
dikembangkan dan perlu di bina, sejak usia dini(idealnya).
Karakter tidak bisa diwariskan, karakter tidak bisa dibeli dan
karakter tidak bisa
ditukar. Karakter harus dibangun dan dikembangkan secara
sadar hari demi hari dengan melalui suatu proses yang tidak
instan. Karakter bukanlah sesuatu bawaan sejak lahir yang tidak
dapat diubah lagi seperti sidik jari.Banyak kami perhatikan
bahwa orang-orang dengan karakter buruk cenderung
mempersalahkan keadaan mereka. Mereka sering menyatakan
bahwa cara mereka dibesarkan yang salah, kesulitan keuangan,
perlakuan orang lain atau kondisi lainnya yang menjadikan
mereka seperti sekarang ini. Memang benar bahwa dalam
kehidupan, kita harus menghadapi banyak hal di luar kendali
kita, namun karakter Anda tidaklah demikian. Karakter Anda
selalu merupakan hasil pilihan Anda.
Ketahuilah bahwa Anda mempunyai potensi untuk menjadi
seorang pribadi yang berkarakter, upayakanlah itu. Karakter,
lebih dari apapun dan akan menjadikan Anda seorang pribadi
yang memiliki nilai tambah. Karakter akan melindungi segala
sesuatu yang Anda hargai dalam kehidupan ini.
Setiap orang bertanggung jawab atas karakternya. Anda
memiliki kontrol penuh atas karakter Anda, artinya Anda tidak
dapat menyalahkan orang lain atas karakter Anda yang buruk
karena Anda yang bertanggung jawab penuh.
Mengembangkan karakter adalah tanggung jawab pribadi
Anda.

2.3 Sejarah Munculnya Pendidikan Karakter

Pendidikan Karakter dipakai secara khusus dalam konteks


pendidikan, dan baru muncul pada akhir abd ke-18, dan untuk
pertam kalinya dicetuskan oleh pedadog Jerman F.W Foerster.
Terminologi ini mengacu pada sebuah pendekatan idealis-
spiritualis dalam pendidikan yang juga dikenal dengan teori
Pendidikan Normatif. Yang menjadi prioritas ialah nilai nilai
teransenden yang dipercaya sebagai motor penggerak sejarah,
baik individu maupun bagi sebuah perubahan sosial.
Namun sebenarnya Pendidikan Karakter telah lama menjadi
bagian inti sejarah pandidikan itu sendiri.
Lahirnya Pendidikan Karakter bisa dikatakan sebagai sebuah
usaha untuk menghidupkan kembali pedagogi ideal-spiritual
yang sempat hilang oleh Positivme yang dipelopori oleh filsuf
Perancis Auguste Comte. Foerster menolak gagasan
yangmeredusir pengalaman manusia pada sekedar bentuk
murni hidup alamiah.

2.4 Nilai-nilai Dalam Pendidikan karakter

Ada 18 butir nilai-nilai pendidikan karakter yaitu , Religius,


Jujur,Toleransi, Disiplin, Kerja Keras, Kreatif,
Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu,Semangat
Kebangsaan,Cinta tanah
air,Menghargai prestasi,Bersahabat/komunikatif,Cinta
Damai,Gemar membaca, Pedulilingkungan, Peduli social,
Tanggung jawab.
2.5 Contoh Program Pendidikan karakter.

2.5.1 Lingkungan Sekolah:


o Training Guru
Terkait dengan program pendidikan karakter disekolah,
bagaimana menjalankan dan melaksanakan pendidikan
karakter disekolah, serta bagaimana cara menyusun program
dan melaksanakannya, dari gagasan ke tindakan.
Program ini membekali dan memberikan wawasan pada guru
tentang psikologi anak, cara mendidik anak dengan memahami
mekanisme pikiran anak dan 3 faktor kunci untuk menciptakan
anak sukses, serta kiat praktis dalam memahami dan mengatasi
anak yang bermasalah dengan perilakunya.
o Program Bimbingan Mental
Program ini terbagi menjadi dua sesi program :
Sesi Workshop Therapy, yang dirancang khusus untuk siswa
usia 12 -18 tahun. Workshop ini bertujuan mengubah serta
membimbing mental anak usia remaja. Workshop ini bekerja
sebagai mesin perubahan instant maksudnya setelah
mengikuti program ini anak didik akan berubah seketika
menjadi anak yang lebih positif.
Sesi Seminar Khusus Orangtua Siswa, membantu orangtua
mengenali anaknya dan memperlakukan anak dengan lebih
baik, agar anak lebih sukses dalam kehidupannya. Dalam
seminar ini orangtua akan mempelajari pengetahuan dasar
yang sangat bagus untuk mempelajari berbagai teori psikologi
anak dan keluarga. Memahami konsep menangani anak di
rumah dan di sekolah, serta lebih mudah mengerti dan
memahami jalan pikiran anak, pasangan dan orang lain.
2.5.2 Lingkungan Keluarga:
o Membangun Karakter Anak Sejak Usia Dini.
Karakter akan terbentuk sebagai hasil pemahaman 3 hubungan
yang pasti dialami setiap manusia (triangle relationship), yaitu
hubungan dengan diri sendiri (intrapersonal), dengan
lingkungan (hubungan sosial dan alam sekitar), dan hubungan
dengan Tuhan YME (spiritual). Setiap hasil hubungan tersebut
akan memberikan pemaknaan/pemahaman yang pada akhirnya
menjadi nilai dan keyakinan anak. Cara anak memahami bentuk
hubungan tersebut akan menentukan cara anak
memperlakukan dunianya. Pemahaman negatif akan berimbas
pada perlakuan yang negatif dan pemahaman yang positif akan
memperlakukan dunianya dengan positif. Untuk itu,
Tumbuhkan pemahaman positif pada diri anak sejak usia dini,
salah satunya dengan cara memberikan kepercayaan pada anak
untuk mengambil keputusan untuk dirinya sendiri, membantu
anak mengarahkan potensinya dengan begitu mereka lebih
mampu untuk bereksplorasi dengan sendirinya, tidak
menekannya baik secara langsung atau secara halus, dan
seterusnya.
Biasakan anak bersosialisasi dan berinteraksi dengan
lingkungan sekitar. Ingat pilihan terhadap lingkungan sangat
menentukan pembentukan karakter anak. Seperti kata pepatah
bergaul dengan penjual minyak wangi akan ikut wangi, bergaul
dengan penjual ikan akan ikut amis. Seperti itulah, lingkungan
baik dan sehat akan menumbuhkan karakter sehat dan baik,
begitu pula sebaliknya. Dan yang tidak bisa diabaikan adalah
membangun hubungan spiritual dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Hubungan spiritual dengan Tuhan YME terbangun melalui
pelaksanaan dan penghayatan ibadah ritual yang
terimplementasi pada kehidupan sosial.

2.6 Fungsi dan tujuan Pendidikan Karakter.


Pendidikan karakter berfungsi untuk:
mengembangkan potensi dasar siswa agar berhati baik,
berpikiran baik, dan berperilaku baik.
memperkuat dan membangun perilaku siswa yang
multikultur.
meningkatkan peradaban siswa yang kompetitif dalam
pergaulan.

2.7 Prinsip Pendidikan Karakter


Character Education Quality Standards merekomendaikan
sebelas prinsip untuk mewujudkan pendidikan karakter yang
efektif, sebagai berikut:

Mempromosikan nilai-nilai dasar etika sebagai basis karakter.

Mengidentifikasikan karakter secara komprehensif supaya


mencakup pemikiran, perasaan dan perilaku.

Mengguanakan pendekatan yang tajam, proaktif dan efektif


untuk membangun karakter.

Menciptakan komunitas sekolah yang memiliki kepedulian.

Memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan


perilaku yang baik.
Memiliki cakupan terhadap kurikulum yang bermakna dan
menantang yang menghargai semua siswa, membangun
karakter mereka dan membantu mereka untuk sukses.

Mengusahakan tumbuhnya motivasi diri para siswa

Memfungsikan seluruh staf sekolah sebagai komunitas moral


yang berbagi tanggung jawab untuk pendidikan karakter yang
setia kepada nilai dasar yang sama.

Adanya pembagian kepimpinan moral dan dukungan luas dalam


membangun inisiatif pendidikan karakter.

Memfungsikan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra


dalam usaha membangun karakter.

Mengevaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai


guru-guru karakter, dan manifestasi karakter positif dalam
kehidupan siswa.
2.8 Aktivitas pendidikan berkarakter di sekolah.
a. Pembelajaran umum
Dilakukan secara bersama (semua jenjang atau perjenjang
kelas), dengan aktivitas: seminar, talk show, kesaksian,
demonstrasi (seni, OR, ketrampilan, kreativitas, dan lain-lain
yang sudah dimiliki siswa melalui kegiatan ekstrakurikuler
maupun mandiri). Tujuan: Menambah wawasan,
mengembangkan adversity question, spiritual question.
Pengenalan diri dan kemampuan mengeksplorasi diri serta
penghargaan terhadap kemampuan orang lain.

b. Pembelajaran klasikal
Dilakukan di dalam kelas dengan berbagai metode dan topik
yang mengacu pada kompetensi dasar:

1). Sikap dan perilaku yang hubungannya dengan Tuhan


2). Sikap dan perilaku yang hubungannya dengan diri sendiri
3). Sikap dan perilaku yang hubungannya dengan keluarga
4). Sikap dan perilaku yang hubungannya dengan masyarakat
dan bangsa
5). Sikap dan perilaku yang hubungannya dengan alam sekitar.
c. Pembelajaran lapangan/pendidikan berbasis
masyarakat/sekolah alam
Program kegiatan: live in, bakti sosial, Camp (perkemahan),
sanggar belajar.

Tujuan: agar siswa mengenal dan mampu beradaptasi serta


berinteraksi secara sehat dengan masyarakat yang heterogen
tanpa kehilangan identitas diri. Meningkatkan dan mewujudkan
kepedulian dan kepekaan sosial.
Mengenal dan mampu beradaptasi serta memanfaatkan
lingkungan bagi kesejahteraan hidup. Mengembangkan minat
dan menumbuhkan motivasi instrinsik serta dapat
mengembangkan dan memperoleh pengalaman.

d. Pendampingan mentor
Penunjukan siswa senior untuk dapat memberikan
pendampingan terhadap yuniornya dalam menghadapi berbagi
problematika pengembangan diri dan pergaulan. Tujuan:
melatih kemandirian dan memupuk rasa tanggung jawab.
Mampu memahami perasaan dan masalah orang lain serta
mendengarkan ide-ide dan mengatasi masalah secara
bertanggung jawab. Meningkatkan rasa percaya diri dan
hubungan yang mendalam serta penerimaan apa adanya
terhadap orang lain. Memperdalam pemahaman nilai-nilai
moral dan kebenaran.

e. Belajar membelajarkan
Aktivitas dilakukan dalam kelompok kecil di kelas dengan
membahas topik-topik permasalah/isu-isu up to date dalam diri
siswa dan di masyarakat. Guru bertindak sebagai pengamat.
Tujuan: memupuk dan mengembangkan cara berpikir kritis,
kreatif, etis dan menghargai orang lain.

Mengembangkan rasa percaya diri, berani namun sopan.


Menguatkan nilai-nilai moral dan kebenaran yang telah dimiliki.
Sistem evaluasi pendidikan karakter:
Evaluasi pendidikan karakter mencakup 3 aspek kecerdasan:
a. Kognitif: melalui obyektif test dan essay test
b. Afekti dan konatif: melalui essay test dan pengamatan
c. Psikomotorik: melalui pengamatan

2.9 Peran guru dalam membentuk karakter siswa.

Selain guru mengajar dan mendidik siswanya, prilaku dan


tingkah laku guru biasanya ditiru oleh siswa. Perilaku ini akan
membentuk karakter siswa. Contohnya :
Guru datang tepat waktu (contoh nilai yang ditanamkan:
disiplin)
Guru mengucapkan salam dengan ramah kepada siswa
ketika memasuki ruang kelas (contoh nilai yang ditanamkan:
santun, peduli)
Berdoa sebelum membuka pelajaran (contoh nilai yang
ditanamkan: religius)
Mengecek kehadiran siswa (contoh nilai yang ditanamkan:
disiplin, rajin)
Mendoakan siswa yang tidak hadir karena sakit atau karena
halangan lainnya (contoh nilai yang ditanamkan: religius,
peduli)
Memastikan bahwa setiap siswa datang tepat waktu (contoh
nilai yang ditanamkan: disiplin)
Menegur siswa yang terlambat dengan sopan (contoh nilai
yang ditanamkan: disiplin, santun, peduli

2.10 Penyimpangan karakter pada siswa.


Meskipun guru telah mengajarkan nilai-nilai karakter yang baik
kepada siswa, kadangkala siswa tidak menuruti atau tidak
mematuhi nilai karakter tersebut. Contohnya :
1. Siswa tidak jujur ketika mengerjakan soal ujian.
2. Tidak disiplin ketika mengikuti upacara bendera
(tidak memakai atribut yang lengkap) .
3. Tidak bertanggung jawab terhadap kesalahan.
4. Bertengkar karena suatu permasalahan
(merupakan contoh siswa yang tidak cinta damai)
5. Dll.
Upaya mengurangi atau bahkan menghilangkan penyimpangan
karakter pada siswa.
Bagi orang tua, sebaiknya lebih memperhatikan anaknya
Orangtua mengutamakan waktu bersama dengan keluarga
walaupun jam kerja padat
Bagi para guru, sebaiknya mulai menerapkan proses
pembelajaran yang aktif dan menyenangkan serta membantu
siswa yang mengalami kesulitan dalam suatu mata pelajaran.
Guru yang menjadi contoh dan panutan di sekolah juga
harus dapat memberi contoh yang baik kepada murid-
muridnya, seperti berpakaian rapi, berkata sopan, disiplin,
perhatian kepada murid dan menjaga kebersihan.
Melakukan kegiatan-kegiatan rutin di sekolah, seperti
setiap hari senin melakukan upacara bendera, berdoa sebelum
dan sesudah pelajaran, mengucap salam bila bertemu guru
atau teman.
Mengkoreksi perbuatan yang kurang baik secara spontan,
misalnya menegur ketika siswa berteriak-teriak ketika proses
pembelajaran berlangsung.
Memuji perbuatan yang baik , misalnya memperoleh nilai
tinggi, membantu teman atu bahkan memperoleh prestasi
dibidang seni atau olahraga.
Sekolah sebaiknya mendukung program pendidikan budaya
dan karakter bangsa dalam perwujudan misalnya toilet sekolah
yang bersih, bak sampah terletak di berbagai tempat dan
kondisi sekolah yang bersih.
Kita sendiri sebagai pelajar, hendaknya dapat menyaring
hal-hal yang baik menurut kita dan hal-hal yang buruk bagi kita.

2.11 Cara menumbuhkan pendidikan berkarakter pada jati diri


siswa.
Dibekali dengan ilmu pengetahuan
Meningkatkan motivasi siswa dalam meraih prestasi.
Memberi ruang kepercayaaan pada diri bahwa karakter yang
tidak baik bisa diubah menjadi karakter yang baik.
Antara siswa dengan guru sering berinteraksi,di dalam kelas
maupun di luar kelas.
Berani mengakui kesalahan dan mau berubah.
Harus menyelesaikan setiap persoalan yang masih belum
terselesaikan.
Dll.

2.12 Contoh-contoh perilaku penurunan moral

Ada beberapa peristiwa yang tergolong penyimpangan karakter


di negeri ini. Contoh kecil saja, di zaman yang sudah modern ini
banyak orang yang lupa beretika, lupa menjaga sopan santun,
tak mau saling tolong menolong, tak bertanggung jawab, tidak
tahu batas-batas pergaulan dan masih banyak lagi. Hal sekecil
itu saja sudah tak terkendali, apalagi hal yang besar.
Realitanya, banyak makelar kasus, penggelapan pajak, korupsi,
kejahatan yang dilakukan oleh oknum-oknum tak bertanggung
jawab dan yang amat sangat memprihatinkan adalah perilaku
remaja Indonesia yang masih berada di usia sekolah. Menurut
survey, pada tahun 2008 yang dilakukan di 33 provinsi di
Indonesia sekitar 18.000 penduduk Indonesia terjangkit
penyakit HIV dan AIDS, 63% remaja melakukan hubungan
seksual di luar nikah, 21% diantaranya melakukan aborsi dan
sekitar 3,2 juta penduduk Indonesia adalah pemakai narkoba
dan 1,1 juta diantaranya adalah pelajar tingkat SMP hingga
mahasiswa. Keadaan inilah yang membuat keadaan negeri ini
semakin buruk.

2.13 Sebab-sebab penurunan moral


Orang tua merupakan orang yang paling dekat dengan anak
sekaligus orang pertama yang memberikan kasih sayang,
bahkan ketika anak itu masih ada dalam kandungan.

Contohnya saja seorang ayah mengumandangkan adzan


dengan lirih di telinga sang anak ketika ia baru saja dilahirkan,
itulah bekal awal untuk mengawali hidup dengan kebaikan.
Sedangkan, ketika sang anak hendak tidur, ibulah yang
menenangkan atau membacakan dongeng untuknya.

Tidak hanya itu, ayah dan ibu juga mengajari putra putrinya
berjalan, berbicara dan mulai berkomunikasi dengan orang lain.
Dengan begitulah, orang tua memberi bekal utama dalam
megendalikan anaknya untuk menjadi anak yang baik.

Namun, kenyataannya ada orang tua yang belum mengerti


bagaimana cara mengasuh anak dengan penuh cinta dan kasih
sayang. Buktinya, ada saja orang tua yang menitipkan anaknya
kepada babby sitter atau pembantu rumah tangga.

Sehingga, anak tersebut mendapatkan pendampingan tumbuh


dan berkembang bukan dari orang tua yang sudah berkeahlian
mengurus anak dan tidak pula orang tua itu menjadi
pendamping terindah ketika anaknya tumbuh. Ada saja alasan
yang dijadikan para orang tua untuk memutuskan menitipkan
anak kepada babby sitter.

Salah satu alasan andalannya adalah karena harus mencari


nafkah untuk membiayai anak itu, padatnya jam kerja dan lain
sebagainya. Seharusnya tidak begitu. Boleh saja bekerja, tanpa
melupakan tugas utama sebagai orang tua.

Ada pepatah bilang, bahwa segala sesuatu yang ditangani oleh


orang yang bukan ahlinya, tunggulah saat kehancurannya.
Berarti harusnya para orang tua harus memiliki kemampuan
dalam hal mengurus anak.

Tidak hanya itu, bentuk perlakuan yang diterima anak dari


orang tua dan lingkungan, menentukan kualitas kepribadian
seorang individu. Seseorang yang memiliki kepribadian lemah
karena ia kurang mendapat perhatian penuh dari orang tua,
kurang rasa aman, sering dimanjakan.

Sebaliknya, seseorang yang memiliki kepribadian yang kuat


karena ia telah mendapat perhatian penuh dari orang tua,
kehangatan jiwa dan pemberian pengalaman hidup dari orang
tuanya.
Peran kedua sebagai seseorang yang mengembangkan karakter
anak adalah guru.

Sebagai seorang guru, hendaknya memiliki kemampuan dalam


mendidik siswanya terutama sering-sering mengecek siswanya.
Tidak hanya sekedar menghabiskan bab-bab pada buku
pelajaran, sekedar menyampaikan informasi atau mengejar
target kurikulum
Menurut pengakuan salah satu siswa, ada saja Penyakit guru
yang dapat mempengaruhi proses belajar mengajar di kelas,
diantaranya :

1. Tidak punya selera mengajar


2. Kurang memperkaya materi (lemah sumber)
3. Kurang disiplin
4. Asal masuk kelas
5. Tidak bisa komputer
6. Kurang terampil
7. Asal sampaikan materi, urutan tidak akurat
8. Di kelas diremehkan anak
Hal yang seperti inilah yang bisa menjadi salah satu
penghambatnya.

Peran ketiga adalah masyarakat atau tempat anak itu tinggal


atau bermain atau bergaul. Anak bisa terkontaminasi kebiasaan
yang buruk akibat pengaruh luar. Sehingga, sedini mungkin
orang tua harus bisa menjaga anak-anaknya dari pengaruh luar
yang negatif.

2.14 Dampak penurunan moral

2.14.1 Banyak anak berperilaku anarkis


2.14.2 Banyak anak tidak memiliki sikap yang santun terhadap
orang lain
2.14.3 Tidak mau tolong menolong dengan sesama
2.14.4 Tidak menghargai sesuatu
2.14.5 Banyak terjadi pemberontakan yang dilakukan anak
terhadap orang tuanya
2.14.6 Perubahan gaya hidup, mulai dari nilai-nilai agama, social
dan budaya
2.14.7 Jati diri bangsa Indonesia luntur

2.15 Upaya meminimalisir penurunan moral

2.15.1 Bagi pra orang tua, sebaiknya mulai sekarang belajar


bagaimana mengasuh anak yang baik dan benar dengan cara
mengikuti parenting education
2.15.2 Lebih memperhatikan anak dan mendampingi anak
dalam situasi apapun
2.15.3 Mengutamakan waktu bersama dengan keluarga
walaupun jam kerja padat
2.15.4 Bagi para guru, sebaiknya mulai menerapkan proses
pembelajaran yang aktif dan menyenangkan serta membantu
siswa yang mengalami kesulitan dalam suatu mata pelajaran.
2.15.5 Guru yang menjadi contoh dan panutan di sekolah juga
harus dapat memberi contoh yang baik kepada murid-
muridnya, seperti berpakaian rapi, berkata sopan, disiplin,
perhatian kepada murid dan menjaga kebersihan.
2.15.6 Melakukan kegiatan-kegiatan rutin di sekolah, seperti
setiap hari senin melakukan upacar bendera, berdoa sebelum
dan sesudah pelajaran, mengucap salam bila bertemu guru
atau teman
2.15.7 Mengkoreksi perbuatan yang kurang baik secara
spontan, misalnya menegur ketika siswa berteriak-teriak ketika
proses pembelajaran berlangsung
2.15.8 Memuji perbuatan tepuji, misalnya memperoleh nilai
tinggi, membantu teman atu bahkan memperoleh prestasi
dibidang seni atau olahraga
2.15.9 Sekolah sebaiknya mendukung program pendidikan
budaya ddan karakter bangsa dalam perwujudan misalnya
toilet sekolah yang bersih, bak sampah terletak di berbagai
tempat dan kondisi sekolah yang bersih
2.15.10 Kita sendiri sebagai pelajar, hendaknya dapat
menyaring hal-hal yang baik menurut kita dan hal-hal yang
buruk bagi kita

2.16 Pengaruh penurunan moral terhadap prestasi belajar

Sebuah penelitian yang sangat mengejutkan yang menyangkut


kecerdasan seseorang dalam meraih kesuksesan pernah
dikemukakan oleh pakar kelas dunia, Daniel Goleman yang
menyatakan bahwa 80% kesuksesan seseorang ditentukan
oleh kecerdasan emosinya (emotional quotient=eq), sedangkan
20% ditentukan oleh IQnya. Disinilah pembentukan karakter
itu sangat berperan untuk meraih kesuksesan. Jadi dapat
disimpulkan bahwa pendidikan karakter dapat dijadikan obat
agar terjadi peningkatan prestasi akademik pada siswa
2.17 Pendidikan Karakter yang Berhasil.

Keberhasilan program pendidikan karakter dapat diketahui


melalui pencapaian indikator oleh peserta didik sebagaimana
tercantum dalam Standar Kompetensi Lulusan SMP, yang
antara lain meliputi sebagai berikut:

Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap


perkembangan remaja

Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri.

Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan


yang lebih luas.

Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan


golongan sosial ekonomi dalam lingkup nasional.
Menunjukkan sikap percaya diri.

Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan


sumber-sumber lain secara logis, kritis,dankreatif.

Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan


inovatif.

Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan


potensi yang dimilikinya.

Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan


masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Mendeskripsikan gejala alam dan social.

Memanfaatkan lingkungan secara bertanggungjawab.


Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara demi terwujudnya
persatuan dalam Negara kesatuan Republik Indonesia.

Menghargai karyaseni dan budayanasional.

Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk


berkarya.

Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan


memanfaatkan waktu luang dengan baik.

Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun.

Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam


pergaulan di masyarakat;
Menghargai adanya perbedaan pendapat.
Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek
sederhana.

Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca,


dan menulis dalam bahasa Indonesia danbahasa Inggris
sederhana.

Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti


pendidikan menengah.

Memiliki jiwa kewirausahaan.

Menunjukkan sikap percaya diri.

Pada tataran sekolah, kriteria pencapaian pendidikan karakter


adalah terbentuknya budaya sekolah, yaitu perilaku, tradisi,
kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan
oleh semua warga sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah
harus berlandaskan nilai-nilai tersebut.
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas penulis dapat menyimpulkan beberapa kategori yaitu:
Bangsa Indonesia telah berusaha untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter melalui
sekolah-sekolah, terutama Sekolah Menengah Pertama (SMP), karena anak usia SMP sangat cocok untuk
diberi pembelajaran tentang pendidikan karakter.
Guru adalah orang tua para siswa. Karenanya, Rosulullah melarang para orangtua (guru) mendoakan
keburukan bagi anak-didiknya. Mendoakan keburukan kepada anak merupakan hal yang berbahaya.
Dapat mengakibatkan kehancuran anak dan masa depannya.

Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan
di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik
secara utuh, terpadu, dan seimbang.
Bila pendidikan karakter telah mencapai keberhasilan, tidak diragukan lagi kalau masa depan bangsa
Indonesia ini akan mengalami perubahan menuju kejayaan. Dan bila pendidikan karakter ini mengalami
kegagalan sudah pasti dampaknya akan sangat besar bagi bangsa ini, negara kita akan semakin
ketinggalan dari negara-negara lain.

DAFTAR PUSTAKA

https://www.google.com/#q=karya+ilmiah+karakter+pelajar
https://winniwidyaputri.wordpress.com/2013/02/26/contoh-
karya-tulis-sederhana-pendidikan-karakter/
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2010/08/20/pendidikan
-karakter-di-smp/
http://belajarpsikologi.com/pengertian-pendidikan-karakter/
file:///C:/Users/Mr.%20Rudy%20W/Documents/aiu%20de%20c
essa/data/contoh%20karya%20ilmiah%20yang%20baik%20dan
%20benar%20_%20ilmu%20pengetahuan.html
http://pipitmasihtk.blogspot.com/2012/11/mendidik-dan-
menumbuhkan-manusia.html
http://dhisaro.blogspot.com/2014/03/karya-ilmiah-pendidikan-
berkarakter.html
http://www.pendidikankarakter.com/peran-pendidikan-
karakter-dalam-melengkapi-kepribadian/
http://www.pendidikankarakter.com/kurikulum-pendidikan-
karakter/

Wurianto, Arif Budi. 2010. Pendidikan Karakter ( Character


Building). Jakarta : Erlangga

Zuriah, Nurul. 2007. Pendidikan Moral & Budi Pekerti Dalam


Perspektif Perubahan. Jakarta: Bumi Aksara.
MAKALAH TENTANG PENDIDIKAN BERKARAKTER

MAKALAH BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

TENTANG

PENTINGNYA PENDIDIKAN KARAKTER

Disusun Oleh :

Nama : ROSITA BUANA

N I M : ACC 110 061

Program Studi : Pendidikan Kimia


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

JURUSAN PENDIDIKAN MIPA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PALANGKA RAYA

2011

KATA PERGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan yang maha esa dengan rahmat dan
hidayah-Nya, penulis dapat menyusun makalah yang berjudul pentingnya pendidikan
karakter

Tujuan pembuatan makalah ini hanyalah untuk mengetahui betapa pentingnya


pendidikan bagi anak dan cara mengembangkan pikiran seorang anak.

Penulis kurang menguasai dalam hal membahas tentang Pendidikan Karakter pada
anak ini, karena penulis tidak terjun langsung kesasaran, tetapi hanya mencari informasi
lewat media.

Semoga usaha penulis dalam menyajikan makalah ini bisa bermanfaat, kritik dan
saran dari pembaca yang sifatnya membangun sangat diharapkan. Terimakasih.
Palangkaraya, . Desember 2011

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................................................... i

DAFTAR ISI.......................................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ............................................................................................... 1


1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................... 2
1.3 Batasan Masalah............................................................................................ 2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pendidikan Karakter ........................................................ 3


2.2 Penerapan Konsep Pendidikan Karakter
Dalam Pembelajaran Dikelas................................................................. 3
2.3 Nilai-nilai Pembelajaran Berkarakter ............................................ 5
2.4 Bentuk-Bentuk Pembelajaran Terpadu
Yang Bekarakter ........................................................................................... 5
2.5 Dasar Penerapan Pendidikan Karakter Dimulai ....................... 7
2.6 Dampak Dari Penerapan Pendidikan Berkarakter .................. 9

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ........................................................................................................ 12


3.2 Saran..................................................................................................................... 12
3.3 Daftar Pustaka............................................................................................... 12
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Saat ini pendidikan karakter baik di sekolah maupun di lingkungan rumah anak sangat
kurang. Hal ini dapat sangat dirasakan dengan semakin banyaknya pejabat yang melakukan
korupsi, para siswa dan mahasiswa yang selalu menyontek saat ujian, pelanggaran peraturan
saat berlalu lintas dan lain-lain. Kondisi ini di perparah lagi ketika para pendidik seperti
guru maupun dosen yang mengijinkan contek-menyontek berlangsung serta lemahnya hukum
di negara kita.
Pendidikan karakter sebaiknya di tanamkan dalam diri anak pada usia dini. Karena
sesuatu yang sudah di biasakan mulai dari kecil, akan menjadi penentu sikap anak kelak
supaya tidak ikut-ikutan gaya atau tindakan yang berbau negatif dan memiliki sifat
kejujuran serta budi pekerti yang luhur.
UU 20 2003 tentang Sisdiknas menyatakan bahwa Pendidikan Nasional Pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga Berangkat dari hal tersebut diatas, secara formal upaya menyiapkan kondisi,
sarana/prasarana, kegiatan, pendidikan, dan kurikulum yang mengarah kepada pembentukan
watak dan budi pekerti generasi muda bangsa memiliki landasan yuridis yang kuat. Namun,
sinyal tersebut baru disadari ketika terjadi krisis akhlak yang menerpa semua lapisan
masyarakat. Tidak terkecuali juga pada anak-anak usia sekolah. Untuk mencegah lebih
parahnya krisis akhlak, kini upaya tersebut mulai dirintis melalui pendidikan karakter
bangsa. Dalam pemberian pendidikan karakter bangsa di sekolah, para pakar berbeda
pendapat. Setidaknya ada tiga pendapat yang berkembang. Pertama, bahwa pendidikan
karakter bangsa diberikan berdiri sendiri sebagai suatu mata pelajaran. Pendapat kedua,
pendidikan karakter bangsa diberikan secara terintegrasi dalam mata pelajaran PKn,
pendidikan agama, dan mata pelajaran lain yang relevan. Pendapat ketiga, pendidikan
karakter bangsa terintegrasi ke dalam semua mata pelajaran.
Menyikapi hal tersebut diatas, penulis lebih memilih pada pendapat yang ketiga.
Untuk itu dalam makalah ini penulis mengambil judul "pentingnya pendidikan karakter ".
1.2. RUMUSAN MASALAH

1. Apakah yang dimaksud dengan pendidikan berkarater?


2. Bagaimana penerapan konsep pendidikan karakter dalam pembelajaran dikelas?
3. Apa saja nilai-nilai pembelajaran pendidikan berkarakter?
4. Bentuk-Bentuk Pembelajaran Terpadu Yang Bekarakter
5. Dimanakah seharusnya dasar penerapan pendidikan berkarakter di mulai?
6. Apa dampak yang dapat dari penerapkan pembelajaran berkrakter?

1.3. BATASAN MASALAH


Adapun batasan masalah dari makalah pendidikan berkarakter yang berjudul
pentingnya pendidikan karakter adalah pengertian pembelajaran berkarakter,
penerapannya dan hasil yang dapat di peroleh dari penerapan pembelajaran berkarakter.

BAB II

ISI

2.1. Pengertian Pendidikan Karakter


Pendidikan Karakter merupakan suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada
warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan
untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri
sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil.
Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus
dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses
pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran,
pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana
prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah.

Terlepas dari berbagai kekurangan dalam praktik pendidikan di Indonesia, apabila


dilihat dari standar nasional pendidikan yang menjadi acuan pengembangan kurikulum
(KTSP), dan implementasi pembelajaran dan penilaian di sekolah, tujuan pendidikan di SMP
sebenarnya dapat dicapai dengan baik. Pembinaan karakter juga termasuk dalam materi
yang harus diajarkan dan dikuasai serta direalisasikan oleh peserta didik dalam kehidupan
sehari-hari. Permasalahannya, pendidikan karakter di sekolah selama ini baru menyentuh
pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai, dan belum pada tingkatan internalisasi dan
tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

2.2. Penerapan Konsep Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran Dikelas


Secara akademik, pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan
budi pekerrti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang tujuannya mengembangkan
kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang
baik itu, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.
Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara Indonesia, diyakini
bahwa nilai dan karakter yang secara legal-formal dirumuskan sebagai fungsi dan tujuan
pendidikan nasional, harus dimiliki peserta didik agar mampu menghadapi tantangan hidup
pada saat ini dan di masa mendatang.
Secara mikro pengembangan nilai/karakter dapat dibagi dalam empat pilar, yakni
kegiatan belajar-mengajar di kelas, kegiatan keseharian dalam bentuk budaya sekolah
(school culture); kegiatan ko-kurikuler dan/atau ekstra kurikuler, serta kegiatan
keseharian di rumah, dan dalam masyarakat.
Dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas pengembangan nilai/karakter dilaksanakan
dengan menggunakan pendekatan terintegrasi dalam semua mata pelajaran (embeded
approach).
Pembelajaran Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa menggunakan pendekatan proses
belajar peserta didik belajar aktif dan berpusat pada anak, dilakukan melalui berbagai
kegiatan di kelas, sekolah, dan masyarakat .
Di Kelas dilaksanakan melalui proses belajar setiap mata pelajaran atau kegiatan
yang dirancang khusus. Setiap kegiatan belajar mengembangkan kemampuan dalam ranah
kognitif, afektif, dan psikomotor. Oleh karena itu tidak selalu diperlukan kegiatan belajar
khusus untuk mengembangkan nilai-nilai pada pendidikan budaya dan karakter bangsa. Meski
pun demikian, untuk pengembangan nilai-nilai tertentu seperti kerja keras, jujur, toleransi,
disiplin, mandiri, semangat kebangsaan, cinta tanah air, dan gemar membaca dapat
dikembangkan melalui kegiatan belajar yang biasa dilakukan guru. Untuk pegembangan
beberapa nilai lain seperti peduli sosial, peduli lingkungan, rasa ingin tahu, dan kreatif
memerlukan upaya pengkondisian sehingga peserta didik memiliki kesempatan untuk
memunculkan perilaku yang menunjukkan nilai tersebut.
Contoh dalam tujuan pembelajaran dikelas, siswa dapat :

Memperbesar dan memperkecil peta dengan bantuan garis-garis koordinat bersama-sama


dengan teliti/ cermat.
Menjelaskan pemanfaatan peta dengan penuh percaya diri.

2.3. Nilai-nilai Pembelajaran Berkarakter


Jenis-jenis nilai karakter yang dapat ditanamkan kepada peserta didik di kelas yaitu
:
Nilai Karakter dalam Hubunganya dengan Diri Sendiri:
- Jujur
- Bertanggung jawab
- Hidup sehat
- Disiplin
- Kerja Keras
- Percaya Diri
- Berjiwa Wira usaha
- Berpikir logis, kritis, kreatif, inovatif
- Mandiri
- Ingin tahu
-Cinta Ilmu
Nilai Karakter dalam Hubunganya dengan Sesama:
- Sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain
- Patuh pada aturan-aturan sosial
- Menghargai karya dan prestasi orang lain
- Santun
- Demokratis
Nilai karakter dalam hubungannya dengan Kebangsaan:
- Nasionalis
- Menghargai Keberagaman
Nilai Karakter dalam Hubungannya dengan Lingkungan:
- Peduli Sosial dan Lingkungan
Nilai Karakter dalam Hubunganya dengan Tuhan:
- Religius
-taqwa

2.4. Bentuk-Bentuk Pembelajaran Terpadu Yang Bekarakter


Menurut Cohen dalam Degeng (1989), terdapat tiga kemungkinan variasi
pembelajaran terpadu yang berkenaan dengan pendidikan yang dilaksanakan dalam suasana
pendidikan progresif yaitu kurikulum terpadu (integrated curriculum), hari terpadu
(integrated day), dan pembelajaran terpadu (integrated learning). Kurikulum terpadu adalah
kegiatan menata keterpaduan berbagai materi mata pelajaran melalui suatu tema lintas
bidang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna sehingga batas antara berbagai
bidang studi tidaklah ketat atau boleh dikatakan tidak ada. Hari terpadu berupa
perancangan kegiatan siswa dari sesuatu kelas pada hari tertentu untuk mempelajari atau
mengerjakan berbagai kegiatan sesuai dengan minat mereka. Sementara itu, pembelajaran
terpadu menunjuk pada kegiatan belajar yang terorganisasikan secara lebih terstruktur
yang bertolak pada tema-tema tertentu atau pelajaran tertentu sebagai titik pusatnya
(center core/center of interst).
Lebih lanjut, model-model pembelajaran inovatif dan terpadu yang mungkin dapat
diadaptasi, seperti yang ditulis oleh Trianto, 2009, dalam bukunya yang berjudul
Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik adalah sebagai berikut.
(1) Fragmentasi
Dalam model ini, suatu disiplin yang berbeda dan terpisah dikembangkan merupakan
suatu kawasan dari suatu mata pelajaran
(2) Koneksi
Dalam model ini, dalam setiap topik ke topik, tema ke tema, atau konsep ke konsep
isi mata pelajaran dihubungkan secara tegas
(3) Sarang
Dalam model ini, guru mentargetkan variasi keterampilan (sosial, berpikir, dan
keterampilan khusus) dari setiap mata pelajaran.
(4) Rangkaian/Urutan
Dalam model ini, topik atau unit pembelajaran disusun dan diurutkan selaras dengan
yang lain. Ide yang sama diberikan dalam kegiatan yang sama sambil mengingatkan konsep-
konsep yang berbeda.
(5) Patungan
Dalam model ini, perencanaan dan pembelajaran menyatu dalam dua disiplin yang
konsep/gagasannya muncul saling mengisi sebagai suatu sistem.
(6) Jala-jala
Dalam model ini, tema/topik yang bercabang ditautkan ke dalam kurikulum. Dengan
menggunakan tema itu, pembelajaran mencari konsep/gagasan yang tepat.

(7) Untaian Simpul


Dalam model ini, pendekatan metakurikuler menjalin keterampilan berpikir, sosial,
intelegensi, teknik, dan keterampilan belajar melalui variasi disiplin.
(8) Integrasi
Dalam model ini, pendekatan interdisipliner memasangkan antar mata pelajaran untuk
saling mengisi dalam topik dan konsep dengan beberapa tim guru dalam model integrasi riil.
(9) Peleburan
Dalam model ini, suatu disiplin menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keahliannya,
para pebelajar menjaring semua isi melalui keahlian dan meramu ke dalam pengalamannya.
(10) Jaringan
Dalam model ini, pebelajar menjaring semua pembelajaran melalui pandangan
keahliannya dan membuat jaringan hubungan internal mengarah ke jaringan eksternal dari
keahliannya yang berkaitan dengan lapangan

2.5. Dasar Penerapan Pendidikan Karakter Dimulai


Pendidikan karakter yang dicanangkan Kementrian Pendidikan Nasional
(Kemendiknas) akan diterapkan pada semua jenjang pendidikan, namun porsinya akan lebih
besar diberikan pada Sekolah Dasar (SD).
Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Muhammad Nuh, di Medan, Sabtu,
mengatakan, pendidikan karakter harus dimulai sejak dini yakni dari jenjang pendidikan SD.
Pada jenjang SD ini porsinya mencapai 60 persen dibandingkan dengan jenjang
pendidikan lainnya.Hal ini agar lebih mudah diajarkan dan melekat dijiwa anak-anak itu
hingga kelak ia dewasa.
"Pendidikan karakter harus dimulai dari SD karena jika karakter tidak terbentuk
sejak dini maka akan susah untuk merubah karakter seseorang,"katanya saat menjadi
pembicara pada acara seminar nasional "Pendidikan Karakter Bangsa" yang merupakan
rangkaian acara rapat pimpinan Program Pasca Sarjana (PPs) Lembaga Pendidik dan Tenaga
Kependidikan (LPTK) se-Indonesia di Universitas Negeri Medan (Unimed).
Ia mengatakan, pendidikan karakter tidak mendapatkan porsi yang besar pada
tingkat Taman Kanak-kanak (TK) atau sejenisnya karena TK bukan merupakan sekolah
tetapi taman bermain.
"TK itu taman bermain untuk merangsang kreativitas anak, bukan tempat belajar.
Jadi jika ada guru TK yang memberikan tugas atau PR maka itu guru kurang kerjaan dan tak
paham tugasnya," katanya.
Menurut dia, dalam menanamkan karakter pada seseorang yang paling penting adalah
kejujuran karena kejujuran bersifat universal.
Dalam hal ini siswa SD yang masih belum terkontaminasi dengan sifat yang kurang baik
sangat memungkinkan untuk ditanamkan sifat-sifat atau karakter untuk membangun bangsa.
Untuk itu, selain orang tua, guru SD juga mempunyai peranan yang sangat vital untuk
menempah karakter siswa.
"Pembinaan karakter yang termudah dilakukan adalah ketika anak-anak masih duduk
di bangku SD. Itulah sebabnya kita memprioritaskan pendidikan karakter di tingkat SD.
Bukan berarti pada jenjang pendidikan lainnya tidak mendapat perhatian namun porsinya
saja yang berbeda," katanya.

Lebih lanjut ia mengatakan, dunia pendidikan diharapkan sebagai motor penggerak


untuk memfasilitasi pembangunan karakter, sehingga anggota masyarakat mempunyai
kesadaran kehidupan berbangsa dan bernegara yang harmonis dan demokratis dengan tetap
memperhatikan norma-norma di masyarakat yang telah menjadi kesepakatan bersama.
Pembangunan karakter dan pendidikan karakter menjadi suatu keharusan karena
pendidikan tidak hanya menjadikan peserta didik menjadi cerdas, juga mempunyai budi
pekerti dan sopan santun sehingga keberadaannya sebagai anggota masyarakat menjadi
bermakna baik bagi dirinya maupun orang lain.
"Intinya pembinaan karakter harus dilakukan pada semua tingkat pendidikan hingga
Perguruan Tinggi (PT) karena PT harus mampu berperan sebagai mesin informasi yang
membawa bangsa ini menjadi bangsa yang cerdas, santun, sejahtera dan bermartabat serta
mampu bersaing dengan bangsa manapun," katanya.
Pada kesempatan itu, Mendiknas Muhammad Nuh juga diberikan sebuah buku yang
berjudul" Pendidikan Karakter Dalam Pembangunan Bangsa" setebal 200 halaman yang di
susun oleh pimpinan atau direktur PPs LPTK se-Indonesia sebagai salah satu hasil rapim PPs
LPTK se-Indonesia tahun lalu.
2.6. Dampak Dari Penerapan Pendidikan Berkarakter
Saat ini mulai marak dibicarakan mengenai pendidikan karakter. Tetapi yang masih
umum diterapkan mengenai pendidikan karakter ini masih pada taraf jenjang pendidikan pra
sekolah (taman bermain dan taman kanak-kanak). sementara pada jenjang sekolah dasar dan
seterusnya masih sangat-sangat jarang sekali. kurikulum pendidikan di Indonesia masih
belum menyentuh aspek karakter ini, meskipun ada pelajaran pancasila, kewarganegaraan
dan semisalnya, tapi itu masih sebatas teori dan tidak dalam tataran aplikatif. Padahal jika
Indonesia ingin memperbaiki mutu SDM dan segera bangkit dari ketinggalannya, maka
indonesia harus merombak istem pendidikan yang ada saat ini.
Mungkin banyak yang bertanya-tanya sebenarnya apa sih dampak pendidikan
karakter terhadap keberhasilan akademik? Beberapa penelitian bermunculan untuk
menjawab pertanyaan ini. Ringkasan dari beberapa penemuan penting mengenai hal ini
diterbitkan oleh sebuah buletin, Character Educator, yang diterbitkan oleh Character
Education Partnership. Dalam buletin tersebut diuraikan bahwa hasil studi Dr. Marvin
Berkowitz dari University of Missouri- St. Louis, menunjukan peningkatan motivasi siswa
sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan
karakter. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter
menunjukan penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat
keberhasilan akademik.
Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan
aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas
Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif, dan
pelaksanaannya pun harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan.
Dengan pendidikan karakter, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya.
Kecerdasan emosi adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa
depan, karena dengannya seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam
tantangan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.
Sebuah buku yang baru terbit berjudul Emotional Intelligence and School Success
(Joseph Zins, et.al, 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh
positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. Dikatakan bahwa ada
sederet faktor-faktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktor-faktor resiko
yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak, tetapi pada karakter, yaitu
rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan
berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan berkomunikasi.
Hal ini sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di
masyarakat, ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi, dan hanya 20 persen
ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Anak-anak yang mempunyai masalah dalam
kecerdasan emosinya, akan mengalami kesulitan belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol
emosinya. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah, dan
kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya para remaja yang
berkarakter atau mempunyai kecerdasan emosi tinggi akan terhindar dari masalah-masalah
umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan, tawuran, narkoba, miras, perilaku seks
bebas, dan sebagainya.
Pendidikan karakter di sekolah sangat diperlukan, walaupun dasar dari pendidikan
karakter adalah di dalam keluarga. Kalau seorang anak mendapatkan pendidikan karakter
yang baik dari keluarganya, anak tersebut akan berkarakter baik selanjutnya. Namun
banyak orang tua yang lebih mementingkan aspek kecerdasan otak ketimbang pendidikan
karakter.
Selain itu Daniel Goleman juga mengatakan bahwa banyak orang tua yang gagal dalam
mendidik karakter anak-anaknya entah karena kesibukan atau karena lebih mementingkan
aspek kognitif anak. Namun ini semua dapat dikoreksi dengan memberikan pendidikan
karakter di sekolah. Namun masalahnya, kebijakan pendidikan di Indonesia juga lebih
mementingkan aspek kecerdasan otak, dan hanya baru-baru ini saja pentingnya pendidikan
budi pekerti menjadi bahan pembicaraan ramai. Ada yang mengatakan bahwa kurikulum
pendidikan di Indonesia dibuat hanya cocok untuk diberikan pada 10-20 persen otak-otak
terbaik. Artinya sebagian besar anak sekolah (80-90 persen) tidak dapat mengikuti
kurikulum pelajaran di sekolah. Akibatnya sejak usia dini, sebagian besar anak-anak akan
merasa bodoh karena kesulitan menyesuaikan dengan kurikulum yang ada. Ditambah lagi
dengan adanya sistem ranking yang telah memvonis anak-anak yang tidak masuk 10
besar, sebagai anak yang kurang pandai. Sistem seperti ini tentunya berpengaruh negatif
terhadap usaha membangun karakter, dimana sejak dini anak-anak justru sudah dibunuh
rasa percaya dirinya. Rasa tidak mampu yang berkepanjangan yang akan membentuk pribadi
yang tidak percaya diri, akan menimbulkan stress berkepanjangan. Pada usia remaja
biasanya keadaan ini akan mendorong remaja berperilaku negatif. Maka, tidak heran kalau
kita lihat perilaku remaja kita yang senang tawuran, terlibat kriminalitas, putus sekolah,
dan menurunnya mutu lulusan SMP dan SMU.
Jadi, pendidikan karakter atau budi pekerti plus adalah suatu yang urgent untuk
dilakukan. Kalau kita peduli untuk meningkatkan mutu lulusan SD, SMP dan SMU, maka tanpa
pendidikan karakter adalah usaha yang sia-sia. Kami ingin mengutip kata-kata bijak dari
pemikir besar dunia.
Mahatma Gandhi memperingatkan tentang salah satu tujuh dosa fatal, yaitu
education without character(pendidikan tanpa karakter).
Dr. Martin Luther King juga pernah berkata: Intelligence plus character.that is
the goal of true education (Kecerdasan plus karakter.itu adalah tujuan akhir dari
pendidikan sebenarnya).
Juga Theodore Roosevelt yang mengatakan: To educate a person in mind and not in
morals is to educate a menace to society (Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan
otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat)..

BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Pendidikan karakter sangat penting diterapkan demi mengembalikan karakter bangsa
Indonesia yang sudah mulai luntur. Dengan dilaksanakannya pendidikan karakter di sekolah
dasar, diharapkan dapat menjadi solusi atas masalah-masalah sosial yang terjadi di
masyarakat. Pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah dapat dilaksanakan pada ranah
pembelajaran (kegiatan pembelajaran), pengembangan budaya sekolah dan pusat kegiatan
belajar, kegiatan ko-kurikuler dan atau kegiatan ekstrakurikuler, dan kegiatan keseharian
di rumah dan di masyarakat.

3.2 SARAN
Sebaiknya para orang tua, para pendidik dan pemerintah lebih menerapkan
pendidikan karakter kepada para anak atau anak didiknya agar mereka menjadi generasi
yang mempunyai akhlak yang baik,baik di lingkungan masyarakat maupun keagamaan.
3.3 DAFTAR PUSTAKA
http://www.yudinet.com/pendidikan/pengertian-makna-pendidikan-karakter/

http://kabar-pendidikan.blogspot.com/2011/05/makalah-pendidikan-karakter-dalam.html
http://www.pendidikankarakter.com/kurikulum-pendidikan-karakter/
http://www.pendidikankarakter.com/pentingnya-pendidikan-karakter-dalam-dunia-pendidikan/
http://roebyarto.multiply.com/journal/item/149?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem
http://taufikmulyana.blogspot.com/2011/11/mendiknas-penerapan-pendidikan-karakter.html
http://infobuatkita.wordpress.com/pendidikan-4/upaya-mendisiplinkan-siswa-melalui-
pendidikan-karakter/
http://pondokibu.com/28/dampak-pendidikan-karakter-terhadap-akademi-anak/
MAKALAH PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER

INTEGRASIPELAKSANAAN PENGEMBANGAN

PENDIDIKAN KARAKTER

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia memerlukan sumberdaya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai
pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi sumberdaya manusia tersebut, pendidikan
memiliki peran yang sangat penting. Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.15[1] Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab.

Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan di setiap jenjang,
mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini ( PAUD ), Sekolah Dasar ( SD ), Sekolah Menengah Pertama
(SMP) Maupun SMA/MA/SMK/MAK harus diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan
tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing,
beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat.

Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat, ternyata kesuksesan seseorang


tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh
kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya
ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen olehsoft skill. Bahkan orang-orang
tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard
skill.16[2] Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk
ditingkatkan.

Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha
Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap,
perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan
adat istiadat.

Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah
yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-
nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun
kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua
komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu
isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata
pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana
prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah.

Terlepas dari berbagai kekurangan dalam praktik pendidikan di Indonesia, apabila dilihat dari
standar nasional pendidikan yang menjadi acuan pengembangan kurikulum (KTSP) yang lalu dan
Kurikulum 2013 ( K13 ) sekarang, dan implementasi pembelajaran dan penilaian di sekolah, tujuan
pendidikan di semua level dan jenjang pendidikan sebenarnya dapat dicapai dengan baik. Pembinaan
karakter juga termasuk dalam materi yang harus diajarkan dan dikuasai serta direalisasikan oleh peserta
didik dalam kehidupan sehari-hari. Permasalahannya, pendidikan karakter di sekolah selama ini baru
menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai, dan belum pada tingkatan internalisasi dan
tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai upaya untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter, Kementerian
Pendidikan Nasional mengembangkan grand design pendidikan karakter untuk setiap jalur, jenjang, dan
jenis satuan pendidikan. Grand design menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan,
pelaksanaan, dan penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan. Konfigurasi karakter dalam konteks
totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dikelompokan dalam: Olah Hati (Spiritual and
emotional development) , Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik (Physical and
kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development).Pengembangan
dan implementasi pendidikan karakter perlu dilakukan dengan mengacu pada grand design tersebut.17[3]

Menurut UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 13 Ayat 1
menyebutkan bahwa Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat
saling melengkapi dan memperkaya.18[4] Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan
lingkungan. Pendidikan informal sesungguhnya memiliki peran dan kontribusi yang sangat besar dalam
keberhasilan pendidikan. Peserta didik mengikuti pendidikan di sekolah hanya sekitar 7 jam per hari, atau
kurang dari 30%. Selebihnya (70%), peserta didik berada dalam keluarga dan lingkungan sekitarnya. Jika
dilihat dari aspek kuantitas waktu, pendidikan di sekolah berkontribusi hanya sebesar 30% terhadap hasil
pendidikan peserta didik.19[5]

Selama ini, pendidikan informal terutama dalam lingkungan keluarga belum memberikan
kontribusi berarti dalam mendukung pencapaian kompetensi dan pembentukan karakter peserta didik.
Kesibukan dan aktivitas kerja orang tua yang relatif tinggi, kurangnya pemahaman orang tua dalam
mendidik anak di lingkungan keluarga, pengaruh pergaulan di lingkungan sekitar, dan pengaruh media
elektronik ditengarai bisa berpengaruh negatif terhadap perkembangan dan pencapaian hasil belajar
peserta didik. Salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah melalui pendidikan
karakter terpadu, yaitu memadukan dan mengoptimalkan kegiatan pendidikan informal lingkungan
keluarga dengan pendidikan formal di sekolah. Dalam hal ini, waktu belajar peserta didik di sekolah perlu
dioptimalkan agar peningkatan mutu hasil belajar, terutama pembentukan karakter peserta didik sesuai
tujuan pendidikan dapat dicapai.

Pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Materi
pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu
dikembangkan, dieksplisitkan, dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dengan demikian,
pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi,
dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat.

Kegiatan ekstra kurikuler yang selama ini diselenggarakan sekolah merupakan salah satu media
yang potensial untuk pembinaan karakter dan peningkatan mutu akademik peserta didik.20[6] Kegiatan
Ekstra Kurikuler merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran untuk membantu pengembangan
peserta didik sesuai dengankebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara
khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan
berkewenangan di sekolah. Melalui kegiatan ekstra kurikuler diharapkan dapat mengembangkan
kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial, serta potensi dan prestasi peserta didik.

Pendidikan karakter di sekolah juga sangat terkait dengan manajemen atau pengelolaan
sekolah. Pengelolaan yang dimaksud adalah bagaimana pendidikan karakter direncanakan, dilaksanakan,
dan dikendalikan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah secara memadai. Pengelolaan tersebut
antara lain meliputi, nilai-nilai yang perlu ditanamkan, muatan kurikulum,
pembelajaran, penilaian, pendidik dan tenaga kependidikan, dan komponen terkait lainnya. Dengan
demikian, manajemen sekolah merupakan salah satu media yang efektif dalam pendidikan karakter di
sekolah.

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan Integrasi Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran?

2. Bagaimana Pelaksanaan Pendidikan Karakter Secara Terintegrasi Di Dalam Proses Pembelajaran ?

3. Bagaiman Cara Mengembangkan Pendidikan Karakter untuk anak ?

C. Tujuan Penulisan

1. Untuk Mengetahui Apa yang dimaksud dengan Integrasi Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran?

2. Untuk Mengetahui Bagaimana Pelaksanaan Pendidikan Karakter Secara Terintegrasi Di Dalam Proses
Pembelajaran
3. Untuk Mengetahui Bagaiman Cara Mengembangkan Pendidikan Karakter untuk anak.

II. PEMBAHASAN

1. Apa yang dimaksud dengan Integrasi Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran ?


Yang dimaksud dengan pendidikan karakter secara terintegrasi di dalam proses pembelajaran adalah
pengenalan nilai-nilai, fasilitasi diperolehnya kesadaran akan pentingnya nilai-nilai, dan
penginternalisasian nilai-nilai ke dalam tingkah laku peserta didik sehari-hari melalui proses
pembelajaran baik yang berlangsung di dalam maupun di luar kelas pada semua mata pelajaran.21[7]
Pada dasarnya kegiatan pembelajaran, selain untuk menjadikan peserta didik menguasai kompetensi
(materi) yang ditargetkan, juga dirancang dan dilakukan untuk menjadikan peserta didik mengenal,
menyadari/peduli, dan menginternalisasi nilai-nilai dan menjadikannya perilaku.
Dalam struktur kurikulum kita, ada dua mata pelajaran yang terkait langsung dengan pengembanngan
budi pekerti dan akhlak mulia, yaitu pendidikan Agama dan PKn. Kedua mata pelajaran tersebut
merupakan mata pelajaran yang secara langsung (eksplisit) mengenalkan nilai-nilai, dan sampai taraf
tertentu menjadikan peserta didik peduli dan menginternalisasi nilai-nilai. Pada panduan ini, integrasi
pendidikan karakter pada mata-mata pelajaran selain pendidikan Agama dan PKn yang dimaksud lebih
pada fasilitasi internalisasi nilai-nilai di dalam tingkah laku sehari-hari melalui proses pembelajaran dari
tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Pengenalan nilai-nilai sebagai pengetahuan melalui
bahan-bahan ajar tetap diperkenankan, tetapi bukan merupakan penekanan. Yang ditekankan atau
diutamakan adalah penginternalisasian nilai-nilai melalui kegiatan-kegiatan di dalam proses
pembelajaran.
a. Berikut merupakan contoh nilai-nilai karakter yang dapat dijadikan sekolah sebagai nilai-nilai utama
yang diambil/disarikan dari butir-butir SKL dan mata pelajaran-mata pelajaran SMP yang ditargetkan
untuk diinternalisasi oleh siswa:

(1). Nilai karakter dalam hubungannya dengan Tuhan yaitu : Religius


(2). Nilai karakter dalam hubungannya dengan diri sendiri yaitu : Jujur, Bertanggung jawab, Bergaya hidup
sehat, Disiplin,Kerja keras, Percaya diriBerjiwa wirausaha, Berpikir logis, kritis, kreatif, daninovatif ,
Mandiri,Ingin tahu, dan Cinta ilmu
(3). Nilai karakter dalam hubungannya dengan sesame yaitu: Sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain,
Patuh pada aturan-aturan sosialn Menghargai karya dan prestasi orang lain, Santun, dan Demokratis
(4). Nilai karakter dalam hubungannya dengan lingkunganyaitu :Peduli sosial dan lingkungan
(5). Nilai kebangsaan yaitu :Nasionalis, Menghargai keberagaman.22[8]
b. Distribusibutir-butir karakter utama ke dalam mata pelajaranyaitu :

mengupayakandengan perencaan dan pengembangan kurikulum pada tingkat sekolah agar setiap mata
pelajaran dapat memuat atau terinternalisasi nilai-nilai karakter utama pada setiap mata pejaran yang
diajarkan pada peserta didik. Sehingga setiap guru memiliki tanggung jawab yang sama dalam
menanamkan nilai-nilai karakter dan bukan lagi hanya tanggung jawab guru pendidikan agama atau guru
PKN saja.

Tabel . Contoh Distribusi Nilai-Nilai Utama ke Dalam MataPelajaran.23[9]


Mata Pelajaran Nilai Utama

1. Pendidikan Religius, jujur, santun, disiplin, bertanggung jawab, cinta ilmu, ingin tahu, percaya
Agama diri, menghargai keberagaman, patuh pada aturan social, bergaya hidup sehat, sadar
akan hak dan kewajiban, kerja keras, peduli

2. PKn Nasionalis, patuh pada aturan sosial, demokratis, jujur, menghargai keragaman, sadar
akan hak dan kewajiban diri dan orang lain

3. Bahasa Indonesia Berfikir logis, kritis, kreatif dan inovatif, percaya diri, bertanggung jawab, ingin tahu,
santun, nasionalis

4. IPS Nasionalis, menghargai keberagaman, Berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif,
peduli social dan lingkungan, berjiwa wirausaha, jujur, kerja keras

5. IPA ingin tahu, berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, jujur, bergaya hidup sehat,
percaya diri, menghargai keberagaman, disiplin, mandiri, bertanggung jawab, peduli
lingkungan, cinta ilmu

6. Bahasa Inggris Menghargai keberagaman, santun, percaya diri, mandiri, bekerjasama, patuh pada
aturan sosial

7. Seni Budaya Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin tahu,
jujur, disiplin, demokratis

8. Penjasorkes Bergaya hidup sehat, kerja keras, disiplin, jujur, percaya diri, mandiri, menghargai
karya dan prestasi orang lain

9. TIK/Keterampilan Berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, mandiri, bertanggung jawab, dan
menghargai karya orang lain

10. Muatan Lokal Menghargai keberagaman, menghargai karya orang lain, nasionalis, peduli

Keberhasilan program pendidikan karakter dapat diketahui melalui pencapaian indikator oleh
peserta didik sebagaimana tercantum dalam Standar Kompetensi Lulusan SMP, yang antara lain meliputi
sebagai berikut:

1. Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja;
2. Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri;
3. Menunjukkan sikap percaya diri;
4. Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas;
5. Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup
nasional;
6. Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber lain secara logis,
kritis, dan kreatif;
7. Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif;
8. Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya;
9. Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari;
10. Mendeskripsikan gejala alam dan sosial;
11. Memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab;
12. Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara
demi terwujudnya persatuan dalam negara kesatuan Republik Indonesia;
13. Menghargai karya seni dan budaya nasional;
14. Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya;
15. Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang dengan baik;
16. Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun;
17. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat; Menghargai
adanya perbedaan pendapat;
18. Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana;
19. Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa Indonesia
dan bahasa Inggris sederhana;
20. Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah;
21. Memiliki jiwa kewirausahaan.24[10]

Pada tataran sekolah, kriteria pencapaian pendidikan karakter adalah terbentuknya budaya
sekolah, yaitu perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua
warga sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah harus berlandaskan nilai-nilai tersebut.
2. Bagaimana Pelaksanaan Pendidikan Karakter Secara Terintegrasi Di Dalam Proses Pembelajaran
?

Integrasi pendidikan karakter di dalam proses pembelajaran dilaksanakan mulai dari tahap
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran pada semua mata pelajaran. Di antara prinsip-
prinsip yang dapat diadopsi dalam membuat perencanaan pembelajaran (merancang kegiatan
pembelajaran dan penilaian dalam silabus, RPP, dan bahan ajar), melaksanakan proses pembelajaran, dan
evaluasi adalah prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) yang
selama ini telah diperkenalkan kepada guru, termasuk guru-guru SMP seluruh Indonesia sejak 2002.
Prinsip-prinsip tersebut secara singkat dijelaskan berikut ini.

1. Konstruktivisme (Constructivism)

Konstrukstivisme adalah teori belajar yang menyatakan bahwa orang menyusun atau membangun
pemahaman mereka dari pengalaman-pengalaman baru berdasarkan pengetahuan awal dan kepercayaan
mereka. Seorang guru perlu mempelajari budaya, pengalaman hidup dan pengetahuan, kemudian
menyusun pengalaman belajar yang memberi siswa kesempatan baru untuk memperdalam pengetahuan
tersebut.25[11]

Pemahaman konsep yang mendalam dikembangkan melalui pengalaman-pengalaman belajar


autentik dan bermakna yang mana guru mengajukan pertanyaan kepada siswa untuk mendorong aktivitas
berpikirnya. Pembelajaran hendaknya dikemas menjadi proses mengkonstruksi bukan menerima
pengetahuan. Dalam proses pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui
keterlibatan aktif dalam proses belajar mengajar. Siswa menjadi pusat kegiatan, bukan guru.
Pembelajaran dirancang dalam bentuk siswa bekerja, praktik mengerjakan sesuatu, berlatih secara fisik,
menulis karangan, mendemonstrasikan, menciptakan gagasan, dan sebagainya.

Tugas guru dalam pembelajaran konstruktivis adalah memfasilitasi proses pembelajaran dengan:

(a) menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa,

(b) memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri,

(c) menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.

2. Bertanya (Questioning)

Penggunaan pertanyaan untuk menuntun berpikir siswa lebih baik daripada sekedar memberi
siswa informasi untuk memperdalam pemahaman siswa. Siswa belajar mengajukan pertanyaan tentang
fenomena, belajar bagaimana menyusun pertanyaan yang dapat diuji, dan belajar untuk saling bertanya
tentang bukti, interpretasi, dan penjelasan. Pertanyaan digunakan guru untuk mendorong, membimbing,
dan menilai kemampuan berpikir siswa.

Dalam pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk:

(a) menggali informasi, baik teknis maupun akademis

(b) mengecek pemahaman siswa

(c) membangkitkan respon siswa

(d) mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa


(e) mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa

(f) memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru

(g) menyegarkan kembali pengetahuan siswa

3. Inkuiri (Inquiry)

Inkuiri adalah proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman, yang diawali dengan
pengamatan dari pertanyaan yang muncul. Jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut didapat melalui siklus
menyusun dugaan, menyusun hipotesis, mengembangkan cara pengujian hipotesis, membuat pengamatan
lebih jauh, dan menyusun teori serta konsep yang berdasar pada data dan pengetahuan.

Di dalam pembelajaran berdasarkan inkuiri, siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis
saat mereka berdiskusi dan menganalisis bukti, mengevaluasi ide dan proposisi, merefleksi validitas data,
memproses, membuat kesimpulan. Kemudian menentukan bagaimana mempresentasikan dan
menjelaskan penemuannya, dan menghubungkan ide-ide atau teori untuk mendapatkan konsep.

Langkah-langkah kegiatan inkuiri:

a) merumuskan masalah (dalam mata pelajaran apapun)

b) Mengamati atau melakukan observasi

c) Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lain
d) Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, atau audien yang lain
4. Masyarakat Belajar (Learning Community)
Masyarakat belajar adalah sekelompok siswa yang terikat dalam kegiatan belajar agar terjadi proses
belajar lebih dalam. Semua siswa harus mempunyai kesempatan untuk bicara dan berbagi ide,
mendengarkan ide siswa lain dengan cermat, dan bekerjasama untuk membangun pengetahuan dengan
teman di dalam kelompoknya. Konsep ini didasarkan pada ide bahwa belajar secara bersama lebih baik
daripada belajar secara individual.
Masyarakat belajar bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah. Seseorang yang terlibat
dalam kegiatan masyarakat belajar memberi informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan
sekaligus juga meminta informasi yang diperlukan dari teman belajarnya. Kegiatan saling belajar ini bisa
terjadi jika tidak ada pihak yang dominan dalam komunikasi, tidak ada pihak yang merasa segan untuk
bertanya, tidak ada pihak yang menganggap paling tahu. Semua pihak mau saling mendengarkan.
Praktik masyarakat belajar terwujud dalam:
(a) Pembentukan kelompok kecil

(b) Pembentukan kelompok besar

(c) Mendatangkan ahli ke kelas (tokoh, olahragawan, dokter, petani, polisi, dan lainnya)

(d) Bekerja dengan kelas sederajat

(e) Bekerja kelompok dengan kelas di atasnya

(f) Bekerja dengan masyarakat

5. Pemodelan (Modeling)

Pemodelan adalah proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja, dan belajar.
Pemodelan tidak jarang memerlukan siswa untuk berpikir dengan mengeluarkan suara keras dan
mendemonstrasikan apa yang akan dikerjakan siswa. Pada saat pembelajaran, sering guru memodelkan
bagaimana agar siswa belajar. Guru menunjukkan bagaimana melakukan sesuatu untuk mempelajari
sesuatu yang baru. Guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa.

Contoh praktik pemodelan di kelas:

a) Guru olah raga memberi contoh berenang gaya kupu-kupu di hadapan siswa

b) Guru PPKN mendatangkan seorang veteran kemerdekaan ke kelas, lalu siswa diminta bertanya jawab
dengan tokoh tersebut

c) Guru Geografi menunjukkan peta jadi yang dapat digunakan sebagai contoh siswa dalam merancang peta
daerahnya

d) Guru Biologi mendemonstrasikan penggunaan thermometer suhu badan

6. Refleksi (Reflection)

Refleksi memungkinkan cara berpikir tentang apa yang telah siswa pelajari dan untuk membantu
siswa menggambarkan makna personal siswa sendiri. Di dalam refleksi, siswa menelaah suatu kejadian,
kegiatan, dan pengalaman serta berpikir tentang apa yang siswa pelajari, bagaimana merasakan, dan
bagaimana siswa menggunakan pengetahuan baru tersebut. Refleksi dapat ditulis di dalam jurnal, bisa
terjadi melalui diskusi, atau merupakan kegiatan kreatif seperti menulis puisi atau membuat karya seni.
Realisasi refleksi dapat diterapkan, misalnya pada akhir pembelajaran guru menyisakan waktu
sejenak agar siswa melakukan refleksi. Hal ini dapat berupa:

(a) pernyataan langsung tentang apa-apa yang diperoleh siswa hari ini

(b) catatan atau jurnal di buku siswa

(c) kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari ini

(d) diskusi

(e) hasil karya

7. Penilaian Autentik (Authentic Assessment)

Penilaian autentik sesungguhnya adalah suatu istilah/terminologi yang diciptakan untuk


menjelaskan berbagai metode penilaian alternatif. Berbagai metode tersebut memungkinkan siswa dapat
mendemonstrasikan kemampuannya untuk menyelesaikan tugas-tugas, memecahkan masalah, atau
mengekspresikan pengetahuannya dengan cara mensimulasikan situasi yang dapat ditemui di dalam dunia
nyata di luar lingkungan sekolah. Berbagai simulasi tersebut semestinya dapat mengekspresikan prestasi
(performance) yang ditemui di dalam praktek dunia nyata seperti tempat kerja. Penilaian autentik
seharusnya dapat menjelaskan bagaimana siswa menyelesaikan masalah dan dimungkinkan memiliki
lebih dari satu solusi yang benar. Strategi penilaian yang cocok dengan kriteria yang dimaksudkan adalah
suatu kombinasi dari beberapa teknik penilaia.

Berikut ini contoh :

PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Kegiatan pembelajaran dari tahapan kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup, dipilih dan
dilaksanakan agar peserta didik mempraktikkan nilai-nilai karakter yang ditargetkan. Sebagaimana
disebutkan di depan, prinsip-prinsip Contextual Teaching and Learning disarankan diaplikasikan pada
semua tahapan pembelajaran karena prinsip-prinsip pembelajaran tersebut sekaligus dapat memfasilitasi
terinternalisasinya nilai-nilai.Selain itu, perilaku guru sepanjang proses pembelajaran harus merupakan
model pelaksanaan nilai-nilai bagi peserta didik. Diagram berikut menggambarkan penanaman karakter
melalui pelaksanaan pembelajaran.26[12]

Intervensi

Contextual Teaching and Leraning

Diagram Penanaman Karakter melalui Pelaksanaan Pembelajaran

Pendahuluan

Penutup

Inti

Eksplorasi

Elaborasi

Konfirmasi

1. Pendahuluan

Berdasarkan Standar Proses, pada kegiatan pendahuluan, guru:

a. menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti prosespembelajaran;
b.mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan
dipelajari;
c. menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai; dan
d. menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus.
Ada sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk mengenalkan nilai,membangun kepedulian akan nilai,
dan membantu internalisasi nilai atau karakter pada tahap pembelajaran ini.27[13] Berikut adalah
beberapa contoh.
a. Guru datang tepat waktu (contoh nilai yang ditanamkan: disiplin)

b. Guru mengucapkan salam dengan ramah kepada siswa ketika memasuki ruang kelas (contoh nilai yang
ditanamkan: santun, peduli)
c. Berdoa sebelum membuka pelajaran (contoh nilai yang ditanamkan: religius)
d. Mengecek kehadiran siswa (contoh nilai yang ditanamkan: disiplin, rajin)
e. Mendoakan siswa yang tidak hadir karena sakit atau karena halangan lainnya (contoh nilai yang
ditanamkan: religius, peduli)
f. Memastikan bahwa setiap siswa datang tepat waktu (contoh nilai yang ditanamkan: disiplin)
g. Menegur siswa yang terlambat dengan sopan (contoh nilai yang ditanamkan: disiplin, santun, peduli)
h. Mengaitkan materi/kompetensi yang akan dipelajari dengan karakter

i. Dengan merujuk pada silabus, RPP, dan bahan ajar, menyampaikan butir karakter yang hendak
dikembangkan selain yang terkait dengan SK/KD
2. Inti

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun 2007, kegiatan inti
pembelajaran terbagi atas tiga tahap, yaitu eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.28[14] Secara sederhana
dapat dikatakan bahwa pada tahap eksplorasi peserta didik difasilitasi untuk memperoleh pengetahuan
dan keterampilan dan mengembangkan sikap melalui kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa.
Pada tahap elaborasi, peserta didik diberi peluang untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan serta
sikap lebih lanjut melalui sumber-sumber dan kegiatan-kegiatan pembelajaran lainnya sehingga
pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta didik lebih luas dan dalam. Pada tahap konfirmasi, peserta
didik memperoleh umpan balik atas kebenaran, kelayakan, atau keberterimaan dari pengetahuan,
keterampilan, dan sikap yang diperoleh oleh siswa.

Berikut beberapa ciri proses pembelajaran pada tahap eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi yang potensial
dapat membantu siswa menginternalisasi nilai-nilai yang diambil dari Standar Proses.

a. Eksplorasi
1) Melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang
dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber (contoh
nilai yang ditanamkan: mandiri, berfikir logis, kreatif, kerjasama)

2) Menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain (contoh
nilai yang ditanamkan: kreatif, kerja keras)

3) Memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan,
dan sumber belajar lainnya (contoh nilai yang ditanamkan: kerjasama, saling menghargai, peduli
lingkungan)

4) Melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran (contoh nilai yang ditanamkan:
rasa percaya diri, mandiri)

5) Memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan (contoh nilai yang
ditanamkan: mandiri, kerjasama, kerja keras)

b. Elaborasi

1) Membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang
bermakna (contoh nilai yang ditanamkan: cinta ilmu, kreatif, logis)
2) Memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan
baru baik secara lisan maupun tertulis (contoh nilai yang ditanamkan: kreatif, percaya diri, kritis, saling
menghargai, santun)
3) Memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa
takut(contoh nilai yang ditanamkan: kreatif, percaya diri, kritis)
4)Memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif (contoh nilai yang ditanamkan:
kerjasama, saling menghargai, tanggung jawab)
5) Memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar (contoh nilai
yang ditanamkan: jujur, disiplin, kerja keras, menghargai)
6) Memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis,
secara individual maupun kelompok (contoh nilai yang ditanamkan: jujur, bertanggung jawab, percaya
diri, saling menghargai, mandiri, kerjasama)
7) Memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok (contoh nilai yang
ditanamkan: percaya diri, saling menghargai, mandiri, kerjasama)
8) Memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan (contoh
nilai yang ditanamkan: percaya diri, saling menghargai, mandiri, kerjasama)
9) Memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri
peserta didik (contoh nilai yang ditanamkan: percaya diri, saling menghargai, mandiri, kerjasama)
c. Konfirmasi

1) Memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah
terhadap keberhasilan peserta didik (contoh nilai yang ditanamkan: saling menghargai, percaya diri,
santun, kritis, logis)
2) Memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai
sumber (contoh nilai yang ditanamkan: percaya diri, logis, kritis)
3) Memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah
dilakukan (contoh nilai yang ditanamkan: memahami kelebihan dan kekurangan)
4) Memfasilitasi peserta didik untuk lebih jauh/dalam/luas memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap,
antara lain dengan guru:
a) berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawabpertanyaan peserta didik yang menghadapi
kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar (contoh nilai yang ditanamkan: peduli,
santun);
b)membantu menyelesaikan masalah (contoh nilai yang ditanamkan: peduli);
c) memberi acuan agar peserta didik dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi (contoh nilai yang
ditanamkan: kritis);
d) memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh (contoh nilai yang ditanamkan: cinta ilmu); dan
e) memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif (contoh nilai yang
ditanamkan: peduli, percaya diri).
3. Penutup

Dalam kegiatan penutup, guru:

a. bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan pelajaran (contoh nilai
yang ditanamkan: mandiri, kerjasama, kritis, logis);

b. melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan
terprogram (contoh nilai yang ditanamkan: jujur, mengetahui kelebihan dan kekurangan);
c.memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran(contoh nilai yang ditanamkan: saling
menghargai, percaya diri, santun, kritis, logis);
d. merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan
konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar
peserta didik; dan
e. menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.

3. Bagaiman Cara Mengembangkan Pendidikan Karakter untuk anak ?

Pendidikan karakter merupakan keharusan yang menjadi tanggung jawab bagi bangsa Indonesia
pada umumnya dan pelaku pendidikan pada khususnya, baik pendidik pada lembaga pendidikan formal,
non-formal, maupun informal. Penerapan pendidikan karakter tidak hanya sekedar memenuhi aspek-
aspek kognisi saja, tetapi yang lebih terpenting perlu mendapat perhatian serius aspek afeksi dan
psikomotorik. Misalnya seorang peserta didik tidak hanya sebatas mengetahui bahwa cinta kebersihan
merupakan sikap yang baik apalagi didukung oleh hadis Rasulullah saw Kebersihan sebagaian dari
Iman.,baru dapat dikatakan cinta kebersihan apabila sudahmampu bersikap LISA (LIhat Sampah Ambil).
Untuk itu, maka pendidikan karakter perlu pengembangan dengan berdasarkan pada prinsip-prinsip
yang dilakukan secara ilmiah, rasional, sistematis, dan berorientasi kepada peserta didik.

Diketahui bahwa objek pendidikan karakter adalah peserta didik, yang secara psikologis,
mentalitasnya masih labil dan fluktuatif. Kekeliruan atau kesalahan menangani karakter peserta didik,
berdampak pada prilaku peserta didik dengan rendahnya motivasi belajar peserta didik, membuat
keonaran, tawuran, pergaulan bebas, dan sebagainya. Oleh sebab itu, pengembangan pendidikan
karakter harus mengikuti kaidah-kaidah atau prinsip-prinsip keilmuan dan religious agar dapat
menghasilkan output yang unggul dan kompetitif.

Bagaimana Mengembangkan Pendidikan Karakter di Sekolah ?

a. Beberapa prinsip dalam pengembangan pendidikan karakter secara khusus adalah:


1). Prinsip Komunikasi keluarga-Sekolah

Pendidikan dasar merupakan kelanjutan dari pendidikan dalam keluarga. Kerja sama antara sekolah
dengan keluarga merupakan hal yang sangat penting. Sekolah tidak mungkinmengembangkan pendidikan
karakter tanpa peran aktif orang tua. Kerjasama keduanya diperlukan. Komunikasi sekolah dengan
keluarga bisa bermacam-macam. Mulai dari pertemuan orang tua, buletin sekolah, surat edaran, dll.
Intinya, segala macam cara dan alat komunikasi dengan orang tua bisa digunakan.
2). Prinsip Sehat

Pengembangan pendidikan karakter bertujuan membuat anak bertumbuh secara sehat. Setiap program
yang dibuat mesti mempertimbangkan kesehatan pertumbuhan anak didik. Kesehatan yang dimaksud
adalah kesehatan jasmani, rohani, dan psikologis. Anak-anak mesti diajari bagaimana cara menjaga
kesehatan. Mereka perlu mengetahui dan mengenali makanan-makanan sehat di sekitar lingkungan
sekolah mereka.

3). Prinsip Kegembiraan

Program pendidikan karakter di tingkat dasar bertujuan membuat anak gembira. Berbagai macam jenis
permainan, dinamika kelompok, serta permainan lain ditujukan agar anak merasakan dan mengalami
kegembiraan. Kegembiraan ini tidak bersifat individual, melainkan kegembiraan semua. Program
pendidikan karakter yang berhasil membuat semua anak menjadi riang dan gembira.

4). Prinsip Belajar

Mau tidak mau, lembaga pendidikan adalah sebuah tempat di mana anak menghayati nilai belajar.
Memupuk semangat belajar, membuat anak gemar membaca dan bertanya merupakan sasaran setiap
sekolah. Membuat anak kerasan dan nyaman di sekolah adalah syarat utama lingkungan belajar yang
baik.

5). Prinsip Kreatifitas

Jangan pernah mematikan kreatifitas siswa. Setiap anak adalah unik. Juga mereka memiliki motivasi
tertentu dalam bertindak. Pendidik perlu memahami motivasi siswa sebelum memberikan penilaian.
Memberikan pujian, dukungan, dan semangat bagi setiap anak sangat diperlukan. Kreatifitas anak perlu
diapresiasi dan dihargai.29[15]

Namun secara umum, prinsip-prinsip pengembangan pendidikan karakter yang dapat


diterapkan pada satuan pendidikan, yaitu:

a). Berkelanjutan;
b). Melalui semua mata pelajaran, pengembangan diri dan budaya satuan pendidikan;
c). Nilai tidak diajarkan tetapi melalui proses belajar;
d). Proses pendidikan dilakukan peserta didik secara aktif dan menyenangkan.30[16]
Prinsip pertama, berkelanjutan mengandung makna bahwa proses pengembangan nilai-nilai
karakter bangsa merupakan sebuah proses panjang dimulai dari awal peserta didik masuk sampai selesai
dari suatu satuan pendidikan31[17] Proses pengembangan menitikberatkan pada pembinaan, pengawasan
terhadap aktivitas peserta didik selama menempuh proses pembelajaran. Proses yang berkesinambungan
akan memperoleh hasil maksimal.

Prinsip kedua, mengandung makna bahwa proses pengembangan nilai-nilai karakter dilakukan
melalui kegiatan kurikuler setiap mata kuliah, kokurikuler, dan esktra kurikuler.32[18]Prinsip kedua ini
memberi pemahaman bahwa proses pengembangan nilai-nilai karakter dilakukan secara
berkesinambungan terhadap semua aktivitas yang dilakukan peserta didik, demikian pula dengan
pelibatan semua pendidik melalui mata pelajaran yang diberikan. Dengan demikian pendidikan karakter
bukan hanya menjadi tanggung jawab mata pelajaran tertentu.

Prinsip ketiga, mengandung makna materi nilai-nilai dan karakter bangsa diinternalisasi melalui
proses belajar dan tidak masuk ke dalam materi pokok bahasan. Hal yang wajib diperhatikan adalah satu
aktivitas belajar dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan dalam ranah kognitif, afektif,
konatif, dan psikomotorik.33[19]Bukan menjadi materi pelajaran, tetapi lebih kepada pembiasaan yang
diterapkan dalam proses pembelajaran, jadi bukan mengetahui, tetapi melakukan.
Prinsip keempat, yaitu proses pendidikan karakter dilakukan oleh peserta didik melalui suasana
belajar yang menimbulkan rasa senang dan tidak indoktrinatif.34[20]Peserta didik mengikuti proses
pembelajaran tanpa tekanan, tetapi belajar dengan penuh keceriaan dan kegembiraan learning is fun.

Selanjutnya, CharacterEducation Quality Standars merekomendasikan 11 prinsip untuk


mewujudkan pendidikan karakter yang efektif, yaitu:

(a). Mempromosikan nilai-nilai dasar etika sebagai basis karakter;

(b). Mengidentifikasi karakter secara komprehensif supaya mencakup pemikiran, perasaan, dan perilaku;

(c). Menggunakan pendekatan yang tajam, proaktif dan efektif untuk membangun karakter;

(d). Menciptakan komunitas sekolah yang memiliki kepedulian;

(e). Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan perilaku yang baik;

(f). Memiliki cakupan terhadap kurikulum yang bermakna dan menantang yang menghargai semua peserta
didik, membangun karakter mereka dan membantu mereka untuk sukses;

(g). Mengusahakan tumbuhnya motivasi diri dari para peserta didik;

(h). Memfungsikan seluruh staf satuan pendidikan sebagai komunitas moral yang berbagi tanggung jawab
untuk pendidikan karakter dan setia kepada nilai dasar yang sama;

(i). Adanya pembagian kepemimpinan moral dan dukungan luas dalam membangun inisiatif pendidikan
karakter;

(j). Memfungsikan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam usaha membangun karakter;

(k).Mengevaluasi karakter satuan pendidikan, fungsi staf sebagai pendidik karakter, dan manifestasi karakter
positif dalam kehidupan peserta didik35[21]
Secara umum, ada enam pilar pendidikan karakter, sebagaimana yang dirilis oleh Character
Counts! Coalition (a Project of the Joseph Institute of Ethcis36[22], yang dapat menjadi acuan, yaitu:

(a). Trustworthinees, bentuk karakter yang membuat seseorang menjadi berintegritas, jujur, dan loyal. Karakter
ini membangun kesadaran diri dan kesalehan personal yang menjunjung tinggi akhlak al karimah dan
berorientasi kepada kebenaran.

(b).Fairness, bentuk karakter yang membuat seseorang memiliki pemikiran terbuka serta tidak suka
memanfaatkan orang lain. Karakter ini mengembangkan kesadaran tentang kelemahan setiap manusia
sehingga penting bersikap terbuka dan mendengar kebenaran dari pihak lain, serta ikhlas menjalankan
kebenaran tersebut.

(c). Caring, Karakter ini mengembangkan kepedulian dan kesalehan sosial sebagai manusia yang memiliki
harga diri dan kehormatan. Karakter ini mengembangkan aspek citra diri sebagai manusia yang peka
terhadap lingkungan sosial dan tenggang rasa dalam menjalani kehidupan bersama dengan penuh
ketulusan.

(d).Respect, bentuk karakter yang membuat seseorang selalu menghargai dan menghormati orang lain.
Karakter ini yang memberikan kesadaran diri bahwa setiap manusia memiliki hak dan kewajiban yang
sama, ingin dihargai, diapresiasi, dihormati, dan dijaga perasaannya.

(e). Citizenship, bentuk karakter yang membuat seseorang sadar hukum dan peraturan serta peduli terhadap
lingkungan alam. Karakter ini mengembangkan kesadaran diri tentang taat azas, kepatuhan kepada
peraturan sebagai konsensus, dan kepedulian terhadap lingkungan alam.

(f). Responsibility, bentuk karakter yang membuat seseorang bertanggung jawab, disiplin, dan selalui
melaksanakan sesuatu dengan sebaik mungkin. Karakter ini membangun kesadaran diri tentang sikap
kehati-hatian, kewaspadaan, menjunjung tinggi hak dan kewajiban, serta bersikap profesional.

Berdasarkan pemikiran dan pandangan di atas, upaya yang harus dilakukan dalam pengembangan
dan pembentukan karakter pada satuan pendidikan adalah mensosialisasikan nilai-nilai positif dan
sekaligus menetapkan nilai-nilai tersebut yang menjadi acuan pendidikan karakter, menetapkan
pendekatan, model, dan strategi pendidikan karakter yang diterapkan pada satuan pendidikan, melibatkan
seluruh sivitas akademika dan staf penerapan pendidikan karakter, membangun iklim satuan pendidikan
yang mendukung pembentukan karakter, menyusun kurikulum yang berbasis pendidikan karakter,
melibatkan pihak keluarga dan masyarakat dalam pembentukan karakter pada satuan pendidikan, serta
dilakukan evaluasi secara berkelanjutan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pendidikan karakter
pada satuan pendidikan.

Pada sisi lain pendidikan karakter merupakan esensi dari pelaksanaan pendidikan, baik di keluarga,
sekolah, maupun di masyarakat. Dengan demikian, pendidikan karakter merupakan tanggung jawab
bersama, kapan dan dimana saja. Mengingat pentingnya pendidikan karakter, maka harus dikembangkan
dan diterapkan berdasarkan prinsip-prinsip ilmiah, rasional, sistematis, dan empiris. Oleh sebab itu,
penerapan pendidikan karakter di satuan pendidikan, khususnya di perguruan tinggi, harus dimenej
dengan baik, agar dapat diukur dan dievaluasi secara akuntabel dan professional.

b. Peranan Guru dalam Pengembangan Pendidikan Karakter di Sekolah


Dalam Pengembangan Karakter peserta didik di Sekolah, Guru memiliki posisi yang strategis
sebagai pelaku utama. Guru merupakan sosok yang bisa digugu dan ditiru atau menjadi idola bagi peserta
didik. Guru bisa menjadi sumber inpirasi dan motivasi peserta didiknya. Sikap dan prilaku seorang guru
sangat membekas dalam diri siswa, sehingga ucapan, karakter dan kepribadian guru menjadi cermin
siswa. Dengan demikian guru memiliki tanggung jawab besar dalam menghasilkan generasi yang
berkarakter, berbudaya, dan bermoral. Tugas-tugas manusiawi itu merupakan transpormasi, identifikasi,
dan pengertian tentang diri sendiri, yang harus dilaksanakan secara bersama-sama dalam kesatuan yang
organis, harmonis, dan dinamis.
Ada beberapa strategi yang dapat memberikan peluang dan kesempatan bagi guru untuk memainkan
peranannya secara optimal dalam hal pengembangan pendidikan karakter peserta didik di sekolah,
sebagai berikut :37[23]
1). Optimalisasi peran guru dalam proses pembelajaran. Guru tidak seharusnya menempatkan diri sebagai
aktor yang dilihat dan didengar oleh peserta didik, tetapi guru seyogyanya berperan sebagai sutradara
yang mengarahkan, membimbing, memfasilitasi dalam proses pembelajaran, sehingga peserta didik dapat
melakukan dan menemukan sendiri hasil belajarnya.

2). Integrasi materi pendidikan karakter ke dalam mata pelajaran. Guru dituntut untuk perduli, mau dan
mampu mengaitkan konsep-konsep pendidikan karakter pada materi-materi pembelajaran dalam mata
pelajaran yang diampunya. Dalam hubungannya dengan ini, setiap guru dituntut untuk terus menambah
wawasan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan pendidikan karakter, yang dapat diintergrasikan dalam
proses pembelajaran.

3).Mengoptimalkan kegiatan pembiasaan diri yang berwawasan pengembangan budi pekerti dan akhlak
mulia. Para guru (pembina program) melalui program pembiasaan diri lebih mengedepankan atau
menekankan kepada kegiatan-kegiatan pengembangan budi pekerti dan akhlak mulia yang kontekstual,
kegiatan yang menjurus pada pengembangan kemampuan afektif dan psikomotorik.

4).Penciptaan lingkungan sekolah yang kondusif untuk tumbuh dan berkembangnya karakter peserta didik.
Lingkungan terbukti sangat berperan penting dalam pembentukan pribadi manusia (peserta didik), baik
lingkungan fisik maupun lingkungan spiritual. Untuk itu sekolah dan guru perlu untuk menyiapkan
fasilitas-fasilitas dan melaksanakan berbagai jenis kegiatan yang mendukung kegiatan pengembangan
pendidikan karakter peserta didik.

5). Menjalin kerjasama dengan orang tua peserta didik dan masyarakat dalam pengembangan pendidikan
karakter. Bentuk kerjasama yang bisa dilakukan adalah menempatkan orang tua peserta didik dan
masyarakat sebagai fasilitator dan nara sumber dalam kegiatan-kegiatan pengembangan pendidikan
karakter yang dilaksanakan di sekolah.

6). Menjadi figur teladan bagi peserta didik. Penerimaan peserta didik terhadap materi pembelajaran yang
diberikan oleh seorang guru, sedikit tidak akan bergantng kepada penerimaan pribadi peserta didik
tersevut terhadap pribadi seorang guru.

III. PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Pendidikan karakter secara eksplisit sangat dapat diintegrasikan dalam proses pengajaran terutama pada
lembaga pendidikan formal, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini ( PAUD ), SMP dan
SMA/MA/SMK/MAK. Namun pengitegrasian pendidikan karakter sebenarnya sudah harus dilaklukan
pada lembaga pendidikan nonformal atau pendidikan lingkungan keluarga.
2. Pelakasanaan pendidikan karakter tentunya harus diproses pada proses pembelajaran disekolah. Proses
tersebut tercemin mulai dari bentuk kurikulum, silabus dan penyusunan RPP serta penilain akhir. Dalam
proses pembelajaran tentu peran guru lebih dominan mengatur segala scenario yang haris dilakukan untuk
mewujudkan proses pembentukan karakter anak didik. Guru merupakan Pengajar dan Pendidik yang
berarti disamping mentransfer ilmu pengetahuan, juga mendidik dan mengembangkan kepribadian peserta
didik melalui interaksi yang dilakukannya di kelas dan luar kelas .Guru hendaknya diberikan hak penuh
(hak mutelak) dalam melakukan penilaian (Evaluasi) hasil pembelajaran, karena dalam masalah
kepribadian atau karakter peserta didik, guru merupakan pihak yang paling mengetahui tentang kondisi
dan pengembangannya. dan Guru hendaknya mengembangkan sistem evaluasi yang lebih
menitikberatkan pada aspek afektif, dengan menggunakan alat dan bentuk penilaian essay dan wawancara
langsung dengan peserta didik. Orang tua pun juga berperan untuk meningkatkan pendidikan karakter
untuk anak-anak mereka secara maksimal.
3. Pengembangan pendidikan karkter tentunya merupakan hasil kerja sama yang maksimal antara orang tua
atau lingkungan keluarga dengan kemampuan maksimal guru atau pihak lembaga pendidikan formal.
Oleh karenanya lagi-lagi peran guru dan semua komponen sekolah menjadi barometer keberhasilan
pengembangan pendidikan karakter atas generasi masa depan bangsa kita.
B. Saran Dan Rekomendasi
1. Jika negara ini ingin generasinya memiliki karakter yang diharapkan maka keteladanan para pemimpin
bangsa ini adalah sesuatu yang mutlak, termasuk menyiapkan sejumlah kebijakan yang berkaitan
langsung dengan dunia pendidikan seperti menyiapkan kurikulum pendidikan yang lebih baik lagi.

2. Guru adalah pribadi yang harus ditiru dan digugu,oleh karenya guru harus menunjukkan karakter yang
baik jika siswanya ingin berkarakter yang diharapkannya. Oleh karenanya profesionalitas adalah harga
mati bagi guru dan tidak bisa ditawar dalam mengemban tugas mulianya.

3. Lembaga pendidikan formal adalah wadah yang pas untuk mengembangkan karakter generasi, oleh
karenanya sekolah sebagai wadah itu harus mampu menyiapkan sejulah scenario termasuk pengembangan
kurikulum dan inovasi model pembelajaran yang efektif, serta kesiapan manajemen pendidikan dan
kemampuan para pemimpin sekolah dalam mengelola lembaga nonprofit itu.

4. Makalah ini tentu masih jauh dari kesempurnaan, oleh karenanya kritik dan masukan yang kontruktif
sangat dinanti oleh penulis.

DAFTAR BACAAN

Akbar, Ali Ibrahim, Pendidikan Karakter Dalam Prespektif Modern.( Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2003.

Andrianto, Tuhana Taufiq. Mengembangkan Karakter Sukses Anak Di Era Cyber Jogjakarta : AR Ruzz Media, 2011.
Ahmad Tafsir, Peningkatan Keimanan dan Ketaqwaan siswa melalui mata Pelajaran Umum, Gema PWKGA Edisi
April, 2001.

Direktorat PSMP.Grand Design Pendidikan Karakter. Dirjen ManajemenPendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta :
Depdiknas, 2010.

Direktorat PSMP. Pembinaan Pendidikan Karakter Di Sekolah Meneng Pertama. Dirjen Manajemen Pendidikan
Dasar danMenengah, Jakarta; Depdiknas, 2010.

Direktorat PSMP. Pengembangan Bahan Ajar. Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta :
Depdiknas, 2010.

Eko Harianto, S.Sos.I. dalam http://suara-muhammadiyah.com/2015/?p=1039. Diunduh, pada tanggal 14 September


2016 e-Library

Farida, Meutia. (tanpa tahun.) Kebudayaan Nasional Indonesia:Penataan Pola Pikir. Dalam Google.com. Diunduh,
pada tanggal 14 September 2016

Hidayatullah, M. Furqon. Pendidikan Karakter Membangun Peradapan Bangsa.Surakarta : Yuma Pustaka, 2010.

Kesuma, Dharma. Dkk. Pendidikan Karakter Kajian Teori Dan Praktik Di Sekolah. Bandung; PT. Remaja
Rosdakarya, 2013.

Muslich, Mansur. Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional.Jakarta ; PT. Bumi Aksara,
2011.

Martianto, Hastuti. Pendidikan karakter: Paradigma baru dalam pembentukan manusia berkualitas. Bogor: IPB,
2002

Nasution, Muslimin. Pendidikan Kurikulum berbasis Budaya lokal. Jakarta: PT. Remaja Rosdakarya, 2008

Permendiknas No 39 Tahun 2008 Tentang Pembinaan Kesiswaan

Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi

Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Standar Kompetensi Lulusan

Renstra Direktorat Pembinaan SMP Tahun 2010 2014

PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan

PP No 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan


Sabda, Syaifuddin. Model Kurikulum Terpadu Iptek dan Imtak.. CiputatQuantum Teaching.Bandung : PT. Remaja
Rosdakarya, 2006.

Sofyatiningrum.. Kurikulum Berciri Keagamaan. (Makalah). Dalam Prosiding Pertemuan Dan Presentase Ilmiah Hasil
penelitian Bidang Pendidikan. Jakarta: Balitbang Depdiknas. 2009

Sukandi, Ujang. Belajar Aktif. Jakarta: Pusat Kurikulum.2010

UUD 1945 (amandemen) Pasal 31 ayat (3)

UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

UT.http://pustaka.ut.ac.id/puslata/online.php?menu=bmpshort_detail2&ID=284. Diunduh , pada tanggal 14 September


2016

Widy.2009 Kondisi Sosial Masyarakat Saat Ini dalamhttp://w1dy.ngeblogs.com/2015/12/09/tugas-ibdkondisi-sosial-


masyarakat-pada-saat-ini/. Diunduh, pada tanggal 14 September 2016

Yoga Hanggara Kurikulum dan Metoda pembelajaran di Indonesia dalamhttp://yohang.web.id/kurikulum-dan-


metode-pembelajaran-pendidikan-di-indonesia.html. Diunduh pada tanggal 14 September 2016.

Yusuf, Jamil. Reorientasi Pengembangan Profesionalitas Guru di Pidie Jaya. Banda Aceh: IAIN Ar-Raniry, 2009.

Makalah Pelaksanaan Pendidikan Karakter di SD


KATA PENGANTAR
Segala puji dan rasa syukur pada Allah SWT, yang telah memberikan berkah, rahmat dan hidayah
sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas Mata Kuliah Teori Pendidikan dan Pembelajaran dengan
judul Pelaksanaan Pendidikan Karakter di SD Muhammadiyah 22 Surabaya.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, karena Kesempurnaan adalah
milik Allah SWT semata. Namun penulis berharap adanya bimbingan, saran dan kritik yang dapat
memberi manfaat di kemudian hari.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada beberapa pihak yaitu Dosen Pengajar Teori
Pendidikan dan Pembelajaran Dr. Wahyudhi, M.S ; Kepala Sekolah dan teman teman guru SD
Muhamamadiyah 22 Surabaya, serta teman teman Manajemen Pendidikan Angkatan 2013, yang telah
membantu terselesaikannya makalah ini.

Akhir kata, semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi semua pembaca.

Surabaya, Oktober 2013

Penyusun
DAFTAR ISI

Halaman judul

Kata Pengantar

Daftar Isi

BAB I Pendahuluan

A. Latar Belakang

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan

BAB II Kajian Pustaka

1. Pengertian Pendidikan Karakter

2. Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar

3. Strategi Pendidikan Karakter di Sekolah

4. Nilai nilai dalam Pendidikan Karakter

5. Tahap tahap Pembentukan Karakter

BAB III Pembahasan

BAB IV Simpulan

BAB V Penutup

A. Kesimpulan
B. Saran

Daftar Pustaka

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sebuah peradaban akan menurun apabila terjadi demoralisasi pada masyarakatnya. Banyak
pakar, filsuf, dan orang-orang bijak yang mengatakan bahwa faktor moral akhlak adalah hal utama
yang harus dibangun terlebih dahulu agar bisa membangun sebuah masyarakat yang tertib, aman dan
sejahtera. Salah satu kewajiban utama yang harus dijalankan oleh orang tua kepada anak-anak kita.
Nilai-nilai moral kepada anak-anak kita. Nilai-nilai moral yang ditanamkan akan membentuk karakter
akhlak mulia yang merupakan pondasi penting bagi terbentuknya sebuah tatanan masyarakat yang
beradab dan sejahtera.

Indonesia saat ini sedang menghadapi masalah berat yang harus dilalui, yaitu terjadinya krisis
multidimensi yang berkepanjangan. Masalah ini sebetulnya mengakar pada menurunnya kualitas moral
bangsa yang dicirikan oleh membudayanya praktek KKN, konflik, antar etnis, agama, politisi, remaja,
antar RW, dsb meningkatnya kriminalitas, menurunnya etos kerja, dan banyak lagi. Budaya-budaya
tersebut adalah penyebab utama negara kita sulit untuk bangkit dari krisis ini. Karakter yang berkualitas
perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini. Usia dini merupakan masa kritis bagi pembentukan karakter
seseorang. Banyak pakar mengatakan bahwa kegagalan penanaman karakter sejak usia dini, akan
membentuk pribadi yang bermasalah dimasa dewasanya kelak. Selain itu, menanamkan moral kepada
generasi muda adalah usaha yang strategis. Oleh karena itu penanaman moral melalui pendidikan
karakter sedini mungkin kepada anak-anak adalah kunci utama untuk membangun bangsa.

Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas
tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi
peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia.
Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan
Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir
generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta
agama.

Sekolah Dasar Muhammadiyah 22 Surabaya memiliki tujuan untuk mempersiapkan


generasi muda yang taat beribadah, unggul, berakhlak mulia, cerdas, menguasai IPTEK, terampil, kreatif
dan mandiri. Dalam mencapai tujuan tersebut, sekolah mengembangkan budaya 5S (Senyum, Sapa,
Salam, Salim dan Santun), slogan, doa dan hadist sehari hari yang ditempatkan di beberapa lokasi
strategis yang diharapkan dapat membentuk karakter positip siswa.

B. Rumusan Masalah

Berkaitan dengan pemaparan di atas, maka penulis merumuskan masalah yang akan dibahas
dalam makalah ini, antara lain :

1. Apa pengertian pendidikan karakter itu?


2. Bagaimana pelaksanaan pendidikan karakter siswa di SD Muhammadiyah 22 Surabaya?
3. Apa saja kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pendidikan karakter siswa di SD Muhammadiyah 22
Surabaya?

C. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah yang diajukan pada penelitian ini maka penulisan makalah ini
bertujuan untuk :

1. Sebagai syarat menempuh Mata Kuliah Teori Pendidikan dan Pembelajaran


2. Menjelaskan pengertian pendidikan karakter
3. Mendeskripsikan pelaksanaan pendidikan karakter siswa di SD Muhammadiyah 22 Surabaya
4. Mendeskripsikan kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pendidikan karakter di SD Muhammadiyah
22 Surabaya.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

1. Pengertian Pendidikan Karakter


Menurut Lickona, karakter berkaitan dengan konsep moral (moral knonwing), sikap moral
(moral felling), dan perilaku moral (moral behavior). Berdasarkan ketiga komponen ini dapat dinyatakan
bahwa karakter yang baik didukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik,
dan melakukan perbuatan kebaikan. Bagan dibawah ini merupakan bagan keterkaitan ketiga kerangka
pikir

Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah bawaan, hati, jiwa, kepribadian,
budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak. Adapun berkarakter adalah
berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak. Menurut Tadkiroatun Musfiroh (UNY,
2008), karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi
(motivations), dan keterampilan (skills). Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti to mark atau
menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau
tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang
berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan
berkarakter mulia.
Suyanto (2009) mendefinisikan karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri
khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa,
maupun negara. Sedangkan menurut Kertajaya, karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda
atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu
tersebut, serta merupakan mesin yang mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berucap,
dan merespon sesuatu (Kertajaya, 2010). Menurut kamus psikologi, karakter adalah kepribadian
ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, dan biasanya berkaitan dengan
sifat-sifat yang relatif tetap (Dali Gulo, 1982: p.29).

Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah
yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan
nilai-nilai tersebut. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (pemangku pendidikan)
harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses
pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah,
pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan
etos kerja seluruh warga sekolah/lingkungan. Di samping itu, pendidikan karakter dimaknai sebagai
suatu perilaku warga sekolah yang dalam menyelenggarakan pendidikan harus berkarakter.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru,
yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak peserta didik.
Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan
materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya.
Menurut T. Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan
moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang
baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga
masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa, secara umum
adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya. Oleh
karena itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pedidikan
nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam
rangka membina kepribadian generasi muda.

Pendidikan karakter berpijak dari karakter dasar manusia, yang bersumber dari nilai moral
universal (bersifat absolut) yang bersumber dari agama yang juga disebut sebagai the golden rule.
Pendidikan karakter dapat memiliki tujuan yang pasti, apabila berpijak dari nilai-nilai karakter dasar
tersebut. Menurut para ahli psikolog, beberapa nilai karakter dasar tersebut adalah: cinta kepada Allah
dan ciptaan-Nya (alam dengan isinya), tanggung jawab, jujur, hormat dan santun, kasih sayang, peduli,
dan kerjasama, percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan;
baik dan rendah hati, toleransi, cinta damai, dan cinta persatuan. Pendapat lain mengatakan bahwa
karakter dasar manusia terdiri dari: dapat dipercaya, rasa hormat dan perhatian, peduli, jujur, tanggung
jawab; kewarganegaraan, ketulusan, berani, tekun, disiplin, visioner, adil, dan punya integritas.
Penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah harus berpijak kepada nilai-nilai karakter dasar, yang
selanjutnya dikembangkan menjadi nilai-nilai yang lebih banyak atau lebih tinggi (yang bersifat tidak
absolut atau bersifat relatif) sesuai dengan kebutuhan, kondisi, dan lingkungan sekolah itu sendiri.

Para pakar pendidikan pada umumnya sependapat tentang pentingnya upaya peningkatan
pendidikan karakter pada jalur pendidikan formal. Namun demikian, ada perbedaan-perbedaan
pendapat di antara mereka tentang pendekatan dan modus pendidikannya. Berhubungan dengan
pendekatan, sebagian pakar menyarankan penggunaan pendekatan-pendekatan pendidikan moral yang
dikembangkan di negara-negara barat, seperti: pendekatan perkembangan moral kognitif, pendekatan
analisis nilai, dan pendekatan klarifikasi nilai. Sebagian yang lain menyarankan penggunaan pendekatan
tradisional, yakni melalui penanaman nilai-nilai sosial tertentu dalam diri peserta didik. Ki Hadjar
Dewantara dari Taman Siswa di Yogyakarta bulan Oktober 1949 pernah berkata bahwa "Hidup haruslah
diarahkan pada kemajuan, keberadaban, budaya, dan persatuan. Sedangkan menurut Prof. Wuryadi,
manusia pada dasarnya baik secara individu dan kelompok, memiliki apa yang jadi penentu watak dan
karakternya yaitu dasar dan ajar. Dasar dapat dilihat sebagai apa yang disebut modal biologis (genetik)
atau hasil pengalaman yang sudah dimiliki (teori konstruktivisme), sedangkan ajar adalah kondisi yang
sifatnya diperoleh dari rangkaian pendidikan atau perubahan yang direncanakan atau diprogram.

2. Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar


Faktor keluarga sangat berperan dalam membentuk karakter anak. Namun kematangan emosi
sosial ini selanjutnya sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekolah sejak usia dini sampai usia remaja.
Bahkan menurut Daniel Goleman, banyaknya orang tua yang gagal dalam mendidik anak-anak,
kematangan, emosi sosial anak dapat dikoreksi dengan memberikan latihan pendidikan karakter kepada
anak-anak di sekolah terutama sejak usia dini.

Sekolah adalah tempat yang strategis untuk pendidikan karakter karena anak-anak dari semua
lapisan akan mengenyam pendidikan di sekolah. Selain itu anak-anak menghabiskan sebagian besar
waktunya di sekolah, sehingga apa yang didapatkannya di sekolah akan mempengaruhi pembentukan
karakternya. Indonesia belum mempunyai pendidikan karakter yang efektif untuk menjadikan bangsa
Indonesia yang berkarakter (tercermin dari tingkah lakunya). Padahal ada beberapa mata pelajaran
yangberisikan tentang pesan-pesan moral, misalnya pelajaran agama, kewarganegaraan, dan pancasila.
Namun proses pembelajaran yang dilakukan adalah dengan pendekatan penghafalan (kognitif). Para
siswa diharapkan dapat menguasai materi yang keberhasilannya diukur hanya dengan kemampuan anak
menjawab soal ujian (terutama dengan pilihan berganda). Karena orientasinya hanyalah semata-mata
hanya untuk memperoleh nilai bagus, maka bagaimana mata pelajaran dapat berdampak kepada
perubahan perilaku, tidak pernah diperhatikan. Sehingga apa yang terjadi adalah kesenjangan antara
pengetahuan moral (cognition) dan perilaku (action). Semua orang pasti mengetahui bahwa berbohong
dan korupsi itu salah dan melanggar ketentuan agama, tetapi banyak sekali orang yang tetap
melakukannya. Tujuan akhir dari pendidikan karakter adalah bagaimana manusia dapat berperilaku
sesuai dengan kaidah-kaidah moral.

Menurut Berman, iklim sekolah yang kondusif dan keterlibatan kepala sekolah dan para guru
adalah faktor penentu dari ukuran keberhasilan interfensi pendidikan karakter di sekolah. Dukungan
saran dan prasarana sekolah, hubungan antar murid, serta tingkat kesadaran kepala sekolah dan guru
juga turut menyumbang bagi keberhasilan pendidikan karakter ini, disamping kemampuan diri sendiri
(melalui motivasi, kreatifitas dan kepemimpinannya) yang mampu menyampaikan konsep karakter pada
ana didiknya dengan baik.

3. Strategi Pendidikan Karakter di Sekolah


Pelaksanaan pendidikan berkarakter sebagai salah satu inovasi dalam pembelajaran perlu segera
dilakukan dengan melakukan berbagai bentuk strategi khusus di tingkat sekolah. Hal ini diharapkan agar
tujuan pembelajaran dengan mengarah kepada pembentukan karakter dapat di capai yaitu membentuk
bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa
patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai
oleh iman dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa berdasarkan Pancasila. Strategi Pembelajaran
Berkarakter disekolah harus disusun dengan mengacu pada beberapa komponen yaitu strategi Kegiatan
Pembelajaran, Pengembangan budaya Sekolah dan Pusat Kegiatan Belajar, Kegiatan ko-kurikuler dan
atau kegiatan ekstrakurikuler, dan Kegiatan keseharian di rumah dan di masyarakat.

Secara rinci strategi pendidikan karakter di sekolah dapat dilakukan dengan langkah berikut:

a. Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran dalam kerangka pengembangan karakter peserta didik dapat
menggunakan pendekatan kontekstual sebagai konsep belajar dan mengajar yang membantu guru dan
peserta didik mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata, sehingga peserta
didik mampu untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya
dalam kehidupan mereka. Dengan begitu, melalui pembelajaran kontekstual peserta didik lebih memiliki
hasil yang komprehensif tidak hanya pada tataran kognitif (olah pikir), tetapi pada tataran afektif (olah
hati, rasa, dan karsa), serta psikomotor (olah raga).

Pembelajaran kontekstual mencakup beberapa strategi, yaitu: (a) pembelajaran berbasis


masalah, (b) pembelajaran kooperatif, (c) pembelajaran berbasis proyek, (d) pembelajaran pelayanan,
dan (e) pembelajaran berbasis kerja. Kelima strategi tersebut dapat memberikan pengaruh pada
pengembangan karakter peserta didik, seperti: karakter cerdas, berpikir terbuka, tanggung jawab, rasa
ingin tahu.

b. Pengembangan Budaya Sekolah dan Pusat Kegiatan Belajar


Budaya sekolah memiliki cakupan yang sangat luas, pada umumnya mencakup kegiatan ritual,
harapan, hubungan sosial-kultural, aspek demografi, kegiatan kurikuler, kegiatan ekstrakurikuler, proses
pengambilan keputusan, kebijakan maupun interaksi sosial antar komponen di sekolah. Budaya sekolah
adalah suasana kehidupan sekolah dimana peserta didik berinteraksi dengan sesamanya, guru dengan
guru, konselor dengan peserta didik, antar tenaga kependidikan, antara tenaga kependidikan dengan
pendidik dan peserta didik, dan antar anggota kelompok masyarakat dengan warga sekolah sekolah.
Interaksi internal kelompok dan antar kelompok terikat oleh berbagai aturan, norma, moral serta etika
bersama yang berlaku di suatu sekolah. Kepemimpinan, keteladanan, keramahan, toleransi, kerja keras,
disiplin, kepedulian sosial, kepedulian lingkungan, rasa kebangsaan, dan tanggungjawab merupakan
nilai-nilai yang dikembangkan dalam budaya sekolah.
Budaya sekolah diyakini merupakan salah satu aspek yang berpengaruh terhadap
perkembangan anak. Menurut penelitian Dr. Teerakiat Jareonsttasin (2000) tentang pengaruh sekolah
terhadap perkembangan anak, ditemukan empat hal utama (input dan output) yang saling
mempengaruhi. Yang terpenting adalah iklim atau budaya sekolah. Jika suasana sekolah penuh
kedisiplinan, kejujuran, kasih sayang maka hal ini akan menghasilkan output yang diinginkan berupa
katakter yang baik. Pada saat yang sama , guru akan merasakan kedamaian dan suasana sekolah seperti
itu akan meningkatkan pengelolaan kelas. Dengan pengelolaan kelas yang baik maka akan
menyebebakan prestasi akademik yang tinggi. Sebuah temuan penting lainnya adalah bila siswa
memeiliki karakter yang baik, maka hal ini akan berpengaruh langsung terhadap prestasi akademik yang
tinggi. Karena itu langkah pertama dalam mengaplikasikan pendidikan karakter di sekolah adalah
menciptakan suasana atau iklim sekolah yang cocok yang akan membantu transformasi guru-guru dan
siswa, juga staf-staf sekolah. Hal ini termasuk di dalamnya adalah objetive atau tujuan yang tepat untuk
sekolah, misi sekolah, kepemimpinan sekolah, kebijakan dan visi pihak manajemen moral para staf dan
guru, serta partisipasi orang tua dan siswa. Sesungguhnya, semua langkah dalam model pembelajaran
nilai-nilai karakter ini akan berkontribusi terhadap budaya sekolah.
Pengembangan budaya sekolah dan pusat kegiatan belajar dilakukan melalui kegiatan
pengembangan diri, yaitu:
1. Kegiatan rutin

kegiatan yang dilakukan peserta didik secara terus menerus dan konsisten setiap saat. Misalnya kegiatan
upacara hari Senin, upacara besar kenegaraan, pemeriksanaan kebersihan badan, piket kelas, shalat
berjamaah, berbaris ketika masuk kelas, berdoa sebelum pelajaran dimulai dan diakhiri, dan
mengucapkan salam apabila bertemu guru, tenaga pendidik, dan teman.

2. Kegiatan spontan

Kegiatan yang dilakukan peserta didik secara spontan pada saat itu juga, misalnya, mengumpulkan
sumbangan ketika ada teman yang terkena musibah atau sumbangan untuk masyarakat ketika terjadi
bencana.

3. Keteladanan

Merupakan perilaku dan sikap guru dan tenaga kependidikan dan peserta didik dalam memberikan
contoh melalui tindakan-tindakan yang baik sehingga diharapkan menjadi panutan bagi peserta didik
lain. Misalnya nilai disiplin, kebersihan dan kerapihan, kasih sayang, kesopanan, perhatian, jujur, dan
kerjakeras.

4. Pengkondisian

Penciptaan kondisi yang mendukung keterlaksanaan pendidikan karakter, misalnya kondisi toilet yang
bersih, tempat sampah, halaman yang hijau dengan pepohonan, poster kata-kata bijak yang dipajang di
lorong sekolah dan di dalam kelas.

c. Kegiatan ko-kurikuler dan atau kegiatan ekstrakurikuler


Aspek yang juga perlu diperhatikan dalam menyusun strategi adalah merancang kegiatan ko-
kurikuler dan ekstrakurikuler di tingkat sekolah. Demi terlaksananya kegiatan ko-kurikuler dan
ekstrakurikuler yang mendukung pendidikan karakter, perlu didukung dengan dengan perangkat
pedoman pelaksanaan, pengembangan kapasitas sumber daya manusia dalam rangka mendukung
pelaksanaan pendidikan karakter, dan revitalisasi kegiatan ko dan ekstrakurikuler yang sudah ada ke
arah pengembangan karakter.

4. Nilai nilai dalam Pendidikan Karakter


Kemdiknas (2010) menyatakan bahwa nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan budaya
dan karakter bangsa diidentifikasi dari sumber-sumber berikut ini :

1. Agama: masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama. Oleh karena itu, kehidupan
individu, masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaannya.
2. Pancasila: negara kesatuan Republik Indonesia ditegakkan atas prinsip-prinsip kehidupan
kebangsaan dan kenegaraan yang disebut Pancasila. Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalam
Pancasila menjadi nilai-nilai yang mengatur kehidupan politik, hukum, ekonomi,
kemasyarakatan, budaya, dan seni.
3. Budaya: sebagai suatu kebenaran bahwa tidak ada manusia yang hidup bermasyarakat yang
tidak didasari oleh nilai-nilai budaya yang diakui masyarakat itu. Nilai-nilai budaya itu dijadikan
dasar dalam pemberian makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antaranggota
masyarakat itu.
4. Tujuan Pendidikan Nasional: sebagai rumusan kualitas yang harus dimiliki setiap warga negara
Indonesia, dikembangkan oleh berbagai satuan pendidikan di berbagai jenjang dan jalur. Tujuan
pendidikan nasional memuat berbagai nilai kemanusiaan yang harus dimiliki warga negara
Indonesia.

Berdasarkan keempat sumber nilai itu, teridentifikasi sejumlah nilai untuk pendidikan budaya dan
karakter bangsa sebagai berikut.
1. Religius
Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap
pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

2. Jujur
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya
dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
3. Toleransi
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan
orang lain yang berbeda dari dirinya.

4. Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

5. Kerja Keras
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

6. Kreatif
Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah
dimiliki.

7. Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

8. Demokratis
Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

9. Rasa Ingin Tahu


Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu
yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.

10. Semangat Kebangsaan


Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas
kepentingan diri dan kelompoknya.

11. Cinta Tanah Air


Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas
kepentingan diri dan kelompoknya.

12. Menghargai Prestasi


Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat,
dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
13. Bersahabat/Komunikatif
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat,
dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

14. Cinta Damai


Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat,
dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

15. Gemar Membaca


Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi
dirinya.

16. Peduli Lingkungan


Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan
mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

17. Peduli Sosial


Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang
membutuhkan.

18. Tanggung Jawab


Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia
lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang
Maha Esa.

5. Tahap tahap Pembentukan Karakter


Membentuk karakter tidak bisa dilakukan dalam sekejap dengan memberikan nasihat, perintah,
atau instruksi, namun lebih dari hal tersebut. Pembentukan karakter memerlukan teladan/role model,
kesabaran, pembiasaan, dan pengulangan. Dengan demikian, proses pendidikan karakter merupakan
proses pendidikan yang dialami oleh siswa sebagai bentuk pengalaman pembentukan kepribadian
melalui mengalami sendiri nilai-nilai kehidupan, agama, dan moral. Menurut Ratna Megawangi, pendiri
Indonesia Heritage Foundation, ada tiga tahap pembentukan karakter, yakni:

1. Moral Knowing
Memahamkan dengan baik pada anak tentang arti kebaikan. Mengapa harus berperilaku baik. Untuk
apa berperilaku baik. Dan apa manfaat berperilaku baik.

2. Moral Feeling

Membangun kecintaan berperilaku baik pada anak yang akan menjadi sumber energi anak untuk
berperilaku baik. Membentuk karakter adalah dengan cara menumbuhkannya.

3. Moral Action

Bagaimana membuat pengetahuan moral menjadi tindakan nyata. Moral action ini merupakan outcome
dari dua tahap sebelumnya dan harus dilakukan berulang - ulang agar menjadi moral behavior.

Dengan melalui tiga tahap tersebut, proses pembentukan karakter akan menjadi lebih mengena
dan siswa akan berbuat baik karena dorongan internal dari dalam dirinya sendiri (Widiastuti, 2012).
BAB III

PEMBAHASAN

Salah satu tujuan Sekolah Dasar Muhammadiyah 22 Surabaya adalah untuk membentuk insan
Islam dan generasi muda yang beriman kokoh, berakhlak mulia, bertaqwa dan mampu ikhlas beramal.
Hal tersebut selaras dengan tujuan Pendidikan Karakter yaitu membentuk bangsa yang tangguh,
kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang
dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa
kepada Tuhan yang Maha Esa berdasarkan Pancasila.

Strategi Pembelajaran Berkarakter di SD Muhammadiyah 22 disusun dengan mengacu pada


beberapa komponen yaitu strategi Kegiatan Pembelajaran, Pengembangan budaya Sekolah dan Pusat
Kegiatan Belajar, Kegiatan ko-kurikuler dan atau kegiatan ekstrakurikuler, dan Kegiatan keseharian di
rumah dan masyarakat. Strategi Pembelajaran dapat dideskripsikan sebagai berikut :

1. Kegiatan pembelajaran

Pendidikan Muhammadiyah mengembangkan pendidikan agama menjadi 6 mata pelajaran yaitu


Al Islam (Aqidah, Ibadah dan Al Quran), Kemuhammadiyahan, Sejarah Islam dan Bahasa Arab dengan
total 8 jam pelajaran/minggu. Setiap hari siswa juga harus mengikuti kegiatan TPQ setelah kegiatan
berdoa bersama selama 2 jam pelajaran. Untuk mata pelajaran umum, pendidikan karakter terintegrasi
pada strategi pembelajaran di kelas, misal dengan pembelajaran kooperatif, karakter yang diharapkan
pada kegiatan pembelajaran tersebut adalah siswa dapat berkarakter religius, cerdas, rasa ingin tahu,
sikap bekerja sama, dan kreatif.
2. Pengembangan Budaya Sekolah dan pusat kegiatan belajar

Budaya sekolah adalah suasana kehidupan sekolah dimana peserta didik berinteraksi dengan
sesamanya, guru dengan guru, konselor dengan peserta didik, antar tenaga kependidikan, antara tenaga
kependidikan dengan pendidik dan ppeserta didik, , dan antar anggota kelompok masyarakat dengan
warga sekolah sekolah. Pengembangan budaya sekolah dan pusat kegiatan belajar di SD
Muhammadiyah 22 dilakukan melalui kegiatan pengembangan diri, yaitu:
1. Kegiatan rutin

kegiatan yang dilakukan peserta didik secara terus menerus dan konsisten setiap saat. Untuk
menumbuhkan karakter religius, SD Muhammadiyah 22 membiasakan siswa untuk sholat berjamaah
bersama teman dan guru baik pada saat shalat Dhuha tiap pagi setelah istirahat dan sholat dhuhur bagi
siswa kelas 3 6 di masjid sekolah. Siswa juga melakukan kegiatan berdoa sebelum pelajaran dimulai
ditambah dengan hafalan surat pendek yang berbeda tiap tingkatan kelas sehingga diharapkan saat lulus
dari SD, siswa telah hafal surat surat pendek Al Quran. Untuk menumbuhkan rasa keperduliaan sosial
terhadap sesama siswa diminta menyerahkan zakat fitrah, Baksos dan berQurban. SD Muhammadiyah
juga mengadakan kegiatan Jumat Bersih melalui pemeriksaaan kebersihan badan seperti kuku, gigi,
rambut dan telinga yang dilakukan setiap hari Jumat, setiap kelas telah dibentuk piket kelas. Setiap pagi
sebelum masuk kelas, peserta didik harus salim pada guru dan karyawan SD Muhammadiyah 22 yang
telah berbaris di halaman sekolah. Saat masuk kelas, harus mengucapkan salam dan untuk
menumbuhkan karakter disiplin, siswa yang datang terlambat, tidak diperbolehkan duduk hingga teman
temannya selesai berdoa lalu siswa yang terlambat harus berdoa sendiri.

2. Kegiatan spontan

Kegiatan yang dilakukan peserta didik secara spontan pada saat itu juga, yaitu mengumpulkan
sumbangan ketika ada teman yang terkena musibah atau sumbangan untuk masyarakat ketika terjadi
bencana. Saat salah satu teman sakit, guru mengajak siswa menjenguk ke rumah teman. Bila ada teman
kesusahan, seperti kehilangan seseorang yang dekat, guru mengajak siswa untuk bertakziah atau
melayat bersama sama. Kegiatan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan karakter peduli sosial dan
lingkungan.

3. Keteladanan
Merupakan perilaku dan sikap guru dan tenaga kependidikan dan peserta didik dalam memberikan
contoh melalui tindakan-tindakan yang baik sehingga diharapkan menjadi panutan bagi peserta didik
lain. Keteladanan yang ditunjukkan guru dan karyawan SD Muhammadiyah 22 melalui nilai disiplin yaitu
dengan datang ke sekolah sebelum peserta didik datang karena harus berbaris menyambut peserta
didik, kebersihan dan kerapihan pakaian, jilbab dan sepatu, kasih sayang, kesopanan, perhatian, jujur,
dan kerjakeras. Untuk menumbuhkan karakter religius siswa melalui keteladanan, guru dan karyawan
juga melaksanakan kegiatan mengaji bersama setiap pagi, kegiatan sholat tahajud berjamah di sekolah
1 bulan sekali dan mengikuti Kajian rutin untuk guru dan karyawan setiap bulan

4. Pengkondisian

Penciptaan kondisi yang mendukung keterlaksanaan pendidikan karakter, misalnya kondisi toilet yang
bersih, tempat sampah, halaman yang hijau dengan pepohonan, poster slogan, doa sehari hari dan
hadist pendek yang dipajang di lorong sekolah.

3. Kegiatan ko kurikuler dan ekstrakurikuler

SD Muhammadiyah 22 Surabaya mengadakan kegiatan ekstra kurikuler yang menunjang


pendidikan karakter seperti :

a. Hizbul Wathon (HW)

Melalui kegiatan HW, peserta didik dapat dilatih dan dibina untuk mengembangkan diri dan
meningkatkan hampir semua karakter. Misalnya, melatih disiplin, jujur, menghargai waktu, tenggang
rasa, rasa peduli sosial dan lingkungan serta bertanggung jawab.
b. Olahraga

Olahraga mengajarkan nilai sportivitas dalam bermain, bekerja sama dalam tim dan disiplin.

c. Outbond

Outbond merupakan aktivitas di luar kelas dengan menekankan aktivitas fisik yang penuh tantangan dan
petualangan. Dari kegiatan ini karakter yang diharapkan adalah mandiri, kreatif, rasa ingin tahu dan
bersahabat.
4. Kegiatan sehari hari di rumah dan masyarakat
Dalam kegiatan ini sekolah mengupayakan terciptannya keselarasan antara karakter yang
dikembangkan di sekolah dengan pembiasaan di rumah dan masyarakat. SD Muhammadiyah
memberikan Buku Penghubung Siswa yang memuat kegiatan Sholat 5 Waktu yang dilaksanakan siswa di
rumah. Orang tua diminta memberi tanda tangan saat siswa melaksanakan sholat 5 waktu.

BAB IV

SIMPULAN

Pelaksanaan pendidikan karakter di SD Muhammadiyah 22 Surabaya telah banyak


menyentuh nilai nilai dalam pendidikan karakter, terutama nilai religius karena terbukti nilai inilah
yang dapat membentengi seseorang untuk berbuat salah atau menyimpang dari kaidah agama dan
norma sosial di masyarakat. Pelaksanaan pendidikan karakter akan efektif apabila semua kalangan
terlibat. Tanpa kerjasama yang baik antara pihak sekolah (Kepala sekolah, guru, karyawan), tua dan
masyarakat sekitar, tentu karakter yang dikembangkan akan sulit tertanam dalam diri siswa.
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan
Pendidikan diartikan sebagai suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang
meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-
nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun
kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil.
Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk
komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian,
kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan
aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja
seluruh warga dan lingkungan sekolah.

B. Saran
Diharapkan dengan diterapkannya pendidikan karakter di SD Muhammadiyah 22 Surabaya dapat
membentuk pribadi siswa yang unggul dalam berperilaku dan memiliki kepribadian yang sesuai dengan
moral-moral pancasila dan agama. Untuk itu penerapan pendidikan karakter di SD sangat diperlukan,
sehingga kita dapat menjadi orang yang bermoral dan berPancasila