Anda di halaman 1dari 28

ANALISIS ANION KELAS B

Makalah Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Kimia Analisis

Disusun oleh:
Kelompok 5 Tingkat IA Farmasi 2015
Dila Taruli (NIM. 11151020000029) Icha Putri M (NIM. 11151020000044)
Syifa Mufidah (NIM. 11151020000037) Devi Oktavia (NIM. 11151020000036)
Arvian Istara (NIM. 11151020000019) Maudina S (NIM. 11151020000049)
Adzdzikra D.A. (NIM. 11151020000026) Najah D.A (NIM. 11151020000037)
Rizqita A.S. (NIM. 11151020000029) Salman A.F. (NIM. 11151020000037)
Vesty Anis T (NIM. 11121020000002) Agung F.N. (NIM. 11121020000041)
Rakha Jati Prasetyo (NIM. 11121020000028)

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2015-2016
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat
dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul Analisis Anion Kelas
B. Adapun tugas makalah ini disusun untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh Ibu Lina
Elfita, M.Si.,Apt selaku dosen mata kuliah Kimia Analisis..
Ucapan terima kasih tak lupa kami sampaikan kepada pihak-pihak yang telah membantu
kami menyelesaikan tugas ini dari dukungan teman-teman, orang tua, serta bimbingan dan
kesempatan yang telah diberikan Ibu Lina Elfita, M.Si.,Apt kepada kami untuk membahas
Analisis Anion Kelas B. Makalah ini akan membahas apa saja yang berkaitan tentang cara
menganalisis anion-anion yang termasuk dalam kelas B.
Kami sudah berusaha sebaik mungkin dalam mengerjakan makalah ini, namun mustahil
apabila makalah yang kami buat tidak ada kekurangan maupun kesalahan, maka dari itu kami
berharap kritik dan saran dari para pembaca yang dapat membangun kami menjadi lebih baik
lagi. Kami berharap dari penyusunan makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kami serta
para pembaca.

Ciputat, April 2016

(Tim Penyusun)

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................................................... i

DAFTAR ISI ...................................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................................... 1

A. Latar Belakang ........................................................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah ...................................................................................................................... 2

C. Tujuan ........................................................................................................................................ 2

BAB II ISI........................................................................................................................................... 3

A. Sulfat (SO42-) ......................................................................................................................... 3

B. Peroksidisulfat (S2O82-) ......................................................................................................... 5

C. Silikat (SiO32-) ....................................................................................................................... 6

D. Ortofosfat .............................................................................................................................. 8

E. Arsenit ................................................................................................................................... 9

F. Arsenat ................................................................................................................................ 10

G. Kromat dan Dikromat ......................................................................................................... 11

H. Asetat (CH3COO-)............................................................................................................... 14

I. Format ................................................................................................................................. 15

J. Tartrat (HCOO-) .................................................................................................................. 16

K. Sitrat (C6H5O73-) .................................................................................................................. 17

L. Salisilat (C6H4(OH)COO- ATAU C7H5O3-)......................................................................... 20

M. Benzoat (C6H5COOH atau C7H5O2)................................................................................... 21

BAB III PENUTUP .......................................................................................................................... 24

A. Kesimpulan .............................................................................................................................. 24

B. Saran......................................................................................................................................... 24

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................................... 25

ii
1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Analisis kualitatif yang bertujuan utama untuk mengenali komposisi atau struktur
bahan kimia, cukup banyak jenisnya, sesuai dengan jenis bahan kimia yang terdapat
dalam sampel. Analisis kualitatif untuk bahan organik biasanya menjadi bagian kajian
dari kimia organik sehingga tidak dimasukkan dalam bagian kimia analitik. Bahan kimia
dalam sampel organik juga cukup banyak ragamnya sesuai dengan struktur dari bahan
tersebut. Bahan kimia organik molekuler berbeda cara penetapannya dengan bahan kimia
anorganik ionik.
Analisis kualitatif anion secara sistematis telah berkembang cukup lama. Berkat
kajian yang dilakukan oleh Karl Remegius Fresenius sejak tahun 1840. Analisis anion
lebih sederhana dibanding analisis kation, tetapi lebih memerlukan ketelitian dalam
melakukan observasi dari gejala-gejala yang timbul.
Metode yang tersedia untuk mendeteksi anion tidaklah sesistematik seperti
metode analisis kation. Sampai kini, belum pernah dikemukakan skema yang benar-benar
memuaskan, yang memungkinkan pemisahan anion-anion yang umum ke dalam
golongan utama, dan pemisahan berikutnya. Namun, kita bisa memisahkan anion ke
dalam golongan utama yang bergantung dengan kelarutan garam peraknya, garam
kalsium atau bariumnya, dan garam zinknya. Namun, ini hanya boleh dianggap berguna
untuk memberi indikasi dari keterbatasan-keterbatasan metode ini.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana mengidentifikasi adanya anion secara kualitatif?
Bagaimana pemisahan golongan anion kelas A dan B?
Bagaimana mengidentifikasi anion kelas B menggunakan reagensia khusus?

C. Tujuan
Dapat mengidentifikasi anion kelas B menggunakan analisis kualitatif dan uji
spesifik

2
BAB II
ISI

A. Sulfat (SO42-)
Rumus empiris: SO42-

Ar : 96.06 satuan massa atom


Organoleptis :
1. Bentuk : zat mikroskopik
2. Warna : tak berwarna
3. Bau : tidak berbau

Sifat-sifat Anion Sulfat:


Kebanyakan sulfat sangat larut dalam air. Kecuali dalam kalsium sulfat, stronsium
sulfat dan barium sulfat, yang tak larut. Sulfat dari kalsium dan merkurium (II) larut sedikit,dan
kebanyakan sulfat dari logam-logam sisanya, larut.beberapa sulfat basa, misalnya dari merkurium,
bismut, dan kromium, juga tak larut dalam air, tetapi larut dalam asam klorida encer.
Kegunaan :
Sulfat berwujud sebagai zat mikroskopik (aerosol) hasil dari pembakaran bahan bakar
fosildan biomassa. Apa yang dihasilkan menambah keasaman atmosfer dan
mengakibatkan hujan asam
Reaksi-reaksi Sulfat
No Reagensia ReaksiUmum Hasil

1. Larutan SO42- + Ba2+ BaSO4 Endapan putih barium sulfat,


Barium Klorida tetapi larut sedang-sedang saja
dalam asam klorida pekat yang
mendidih
2. Larutan timbel SO42-+ Pb2+ PbSO4 Endapan putih
asetat
3. Larutan perak SO42- + 2Ag+ Ag2SO4 Endapan kristalin putih

3
nitrat
4. Uji natrium Garam-garam barium
rodizonat menghasilkan endapan coklat
kemerahan dan natrium
rodizonat. Sulfat dan asam sulfat
menyebabkan hilangnya warna
dengan seketika, karena
pembentukan barium sulfat yang
tak larut.
5. Uji kalium Jika barium sulfat diendapkan
permangat- dalam larutan yang mengandung
barium sulfat kalium permangat, endapan akan
diwarnai merah-jambu
(lembayung) oleh adsorpsi
sedikit permangat itu. Permangat
yang telah diadsorpsi di atas
endapan ini, tak dapat direduksi
oleh zat-zat pereduksi yang
umum; kelebihan kalium
permangat di dalam cairan induk
mudah bereaksi dengan zat-zat
pereduksi, sehingga menjadikan
barium sulfat yang merah-jambu
nampak jelas dalam larutan tak
berwarna
6. Larutan SO42-+ 3Hg2+ + 2H2O Endapankuning
merkurium HgSO4.2HgO+ 4H+

7. Larutan Endapan putih benzidina sulfat


benzidina (Reagensia ini dapat
hidroklorida karsinogenik (dapat

4
menimbulkan kanker))

B. Peroksidisulfat (S2O82-)

Organoleptis
Bentuk : Serbuk
Warna : putih/bening
Kelarutan : kelarutan peroksodisulfat yang paling
terkenal, yaitu natrium, kalium, amonium, dan barium, larut
dalam air, diantara mana garam kaliumnya yang paling
sedikit larut (17,7 g/l pada 0o C).
Gambar 1
Reaksi spesifiknya adalah sebagai berikut:
Sumber: image.google.com
1. Air
Semua terurai bila didihkan dengan air menjadi sulfatnya, asam sulfat bebas, dan oksigen.
2S2O82- + 2H2O 4SO42- + 4H+ + O2
2. Larutan perak nitrat (AgNO3)
Jika diberi reagensia Perak Nitrat akan menghasilkan endapan hitam perak peroksida,
Ag2O2
S2O82 + Ag+ +2H2O Ag2O2 + 2SO42- + H+
3. Larutan barium klorida (BaCl2)
Penambahan Barium Klorida tidak akan mengasilkan endapan yang segera pada larutan
yang dingin, namun jika didiamkan dan dipanaskan akan terjadi endapan barium sulfat.
4. Larutan Kalium Iodida (KI)
Penambahan reagen ini akan menyebabkan Iod dibebaskan perlahan-lahan.
S2O82 + 2I- I2 + 2SO42-
5. Larutan Mangan (II) Sulfat
Penambahan reagen ini akan menyebabkan terbentuknya endapan coklat.
S2O82 + Mn2+ + 4 OH- MnO2.H2O + 2SO42- + H2O
6. Uji Benzedina Asetat
Perlakuan:

5
Campurkan 1 tetes larutan uji + 1 tetes reagensia benzidina asetat akan menghasilkan
larutan yang berwarna biru

C. Silikat (SiO32-)

Gambar 2
Sumber: image.google.com
Silikat merupakan senyawa silikon yang berikatan dengan oksigen. Unsur ini dapat dibuat
dari silikon dioksida (SiO2) yang terdapat dalam pasir, melalui reaksi:
SiO2(s) + 2C(s) Si(s) + 2CO(g)
Silikat, dalam ilmu kimia, adalah suatu senyawa yang mengandung satu anion dengan satu
atau lebih atom silikon pusat yang dikelilingi oleh ligan elektronegatif. Jenis silikat yang sering
ditemukan umumnya terdiri dari silikon dengan oksigen sebagai ligannya. Anion silikat, dengan
muatan listrik negatif, harus mendapatkan pasangan kation lain untuk membentuk senyawa
bermuatan netral.
Silika, atau silikon dioksida, SiO2, sering dianggap sebagai silikat, walaupun senyawa ini
tidak bermuatan negatif dan tidak memerlukan ion pasangan. Silika ditemukan di alam dalam
bentuk mineral kuarsa.
Senyawa silikat dalam bentuk asam terdiri dari asam ortosilikat (H4SiO4), asam
metasilikat(H2SiO3), dan asam disilikat(H2Si2O5). Untuk mempelajari dan mengidentifikasi
reaksi senyawa silikat gunakan larutan natrium silikat (waterglass) (30%) komersial dan
diencerkan lima kali banyaknya.
1. Asam Klorida Encer
SiO32- + 2H+ H2SiO(s)
Penambahan HCl encer dalam larutan silikat akan memperoleh endapan asam
metasilikat berbentuk seperti gelatin terutama jika dipanaskan. Endapan tak akan
larut dalam asam pekat. Endapan akan menjadi bubuk putih silika tak larut (SiO2)
jika endapan diuapkan dalam HCl pekat diatas penangas air.

6
2. Larutan Amonium Klorida atauAmonium Karbonat
SiO32- + 2NH4+ H2SiO3(s) + 2NH3
Basa1 + Asam2 Asam1 + Basa2
Penambahan larutan amonium klorida atau amonium karbonat akan menghasilkan
endapan asam silikat yang seperti gelatin. Analisa ini penting dalam analaisa
kualitatif rutin, karena silikat akan ikut diendapkan oleh larutan amonium klorida
dalam golongan IIIA. Reaksi yang terjadi adalah raksi asam-basa.
3. Larutan Perak Nitrat
SiO32- + 2Ag+ Ag2SiO3(s)
Campuran ini akan menghasilkan endapan kuning perak silikat yang larut dalam
asam encer dan larutan amonia.
4. Larutan Barium Klorida
SiO32-+ Ba2+ BaSiO3(s)
Akan menghasilkan endapan putih barium silikat yang larut dalam nitrat encer.
5. Uji Manik Garam Mikrokosmik
Kawat platinum bagian ujung dibengkokkan menjadi lingkaran
kecil, panaskan kawat sampai membara kemudian secara cepat
dicepulkan kedalam garam mikrokosmik
Garam mikrokosmik Na(NH4)HPO4.4H2O yang menempel
dilebur menjadi manik bening mirip kaca, tembus cahaya dan tak
berwarna mengandung banyak natrium metafosfat.
Leburan manik yang masih panas dicelupkan kedalam sedikit
larutan silika dan dipanaskan lagi sampai silika yang dihasilkan
melayang dalam masa yang dilebur.
CaSiO3 + NaPO3 CaNaPO4 + SiO2
Silikat yang tak larut di buat bubuk dan dicampur pelebur dalam
krus nikel atau besi untuk menghasilkan silikat logam alkali,
karbonat logam alkali bereaksi dengan silikat dan menghasilkan
silikat logam alkali.
SiO2 + Na2CO3 CO2(g) + Na2SiO3

7
Massa yang dingin diuapkan ditambah HCl encer sampai kering
diatas tangas air. Silikat logam akan membentuk gelatin dan akan
menjadi amorf.
SiO23- + 2H+ SiO2(s) + H2O
6. Uji Silikon Tetrafluorida
Silika yang berasal dari pemisahan dengan amonium klorida dipanaskan dalam
kalsium fluorida dan sedikit asam sulfat, sehingga akan menghasilkan gas silikon
tetrafluorida.
SiO + 2CaF2 + 2H2SO4 2CaSO4 + SiF4(g) + 2H2O
Kemudian campuran tadi masukkan dalam kapsul kecil timbel atau platinum dan
tambahkan asam sulfat pekat sampai terbentuk pasta encer, aduk dengan kawat
platinum dan dipanaskan perlahan. Dekatkan perlahan cincin kawat paltinum
yang menopang tetesan air di atas campuran. Tetes air akan keruh karena
hidrolisis silikon tetrafluorida yang diserapnya.
3SiF(g) + 2H2O SiO2(s) + 2[SiF6]2- + 4H+
7. Uji Amonium Molibdat-Benzidina (Karsinogenik)
1 tetes larutan silika ditambahkan sedikit asam kurang dari 0,5M, masukkan
dalam krus porselen. Tambahkan reagen molibdat, panaskan hati-hati diatas kasa
asbes sampai keluar gelembung, dinginkan. Tambahkan setetes reagen benzidina
dan setetes larutan natrium asetat jenuh. Akan diperoleh larutan warna biru.
8. Uji Amonium Molibdat-Timah(II)
Silikat padat taruh dalam krus kecil dari timbel atau platinum, tambahkan sedikit
natrium fluorida dan beberapa tetes asam sulfat pekat. Tutup krus dengan selofan,
panaskan perlahan dan jarak krus agak jauh dari api. Tambahkan larutan natrium
hidroksida dalam krus, tambahkan 2 tetes reagen molibdat dan beberapa tetes
timah (II) klorida 0,25M dan tambahkan larutan natrium hidroksida sampai timah
(II) melarut. Larutan akhir akan berwarna biru.

D. Ortofosfat

Nama Unsur : Ortofosfat (PO43-)


Sifat Unsur : Larut dalam air, titik didih 550 K, dan titik leleh 317,7 K

8
Kegunaan : Pembuatan pupuk, pestisida, korekapi, dan deterjen

Reaksi-Reaksi Anion Ortofosfat


Reagensia Reaksi Hasil

2- + +
Larutan perak nitrat HPO4 + 3Ag AgPO4 + H Endapan kuning perak

2- 2-
Larutan barium klorida HPO4 + Ba BaHPO4 Endapan amorf putih
2- 2+
Magnesium nitrat HPO4 + Mg + NH3 MgNH4PO4 Endapan kristalin putih

Amonium molibdat Penambahan berlebihan


menghasilkan endapan
ammonium fosfomolibdat
yang kuning kristalin

2- 3+ +
Larutan besi(III) klorida HPO4 + Fe FePO4 + H Endapan putih-kekuningan
besi(III) fosfat

2 2+
Larutan zirconium nitrat HPO4 + ZrO ZrO(HPO4) Endapan zirkonilfosfat,
yang putih seperti gelatin

Uji kobalt nitrat fosfat Na(NH)4HPO4 NaPO3 + NH3 + Massa biru dari fosfat
H2O NaCoPO4
Amonium molibdat Endapan kuning
kuinina sulfat

E. Arsenit

Ciri-ciri Arsenik:
1. Zat padat berwarna abu-abu seperti baja
2. Jika dipanaskan, arsenik bersublimasi dan timbul bau seperti bawang putih
3. Jika dipanaskan dalan aliran udara yang bebas, arsenic menyala dengan nyala biru,
menghasilkan asap putih arsenik (III) oksida

9
4. Semua senyawa arsenic beracun
5. Tak larut dalam asam klorida dan asam sulfat encer
6. Larut dengan mudah dalam asam nitrat encer dan menghasilkan ion arsenit
7. Dalam asam nitrat pekat menghasilkan arsenat

Reaksi-reaksi arsenik (III):


1. Hidrogen sulfida: endapan kuning arsenik (III) sulfide
2As3+ + 3H2S As2S3 + 6H+
Endapan tak larut dalam asam klorida pekat tetapi larut dalam asam nitrat pekat panas.
Endapan juga larut dengan mudah dalam larutan hidroksida alkali dan ammonia.
Ammonium sulfida juga melarutkan endapan.
2. Perak nitrat: endapan kuning perak arsenit dalam larutan netral
AgO33- + 3Ag+ Ag3AsO3
Endapan larut dengan baik dalam asam nitrat dan ammonia
3. Campuran magnesia (larutan yang mengandung MgCl2, NH4Cl dan sedikit NH3 atau
magnesium nitrat (larutan yang mengandung Mg(NO3)2, NH4NO3, dan sedikit NH3)): tak
ada endapan
4. Larutan tembaga sulfat: endapan hijau tembaga arsenit (hijau Scheele)
Endapan larut dalam asam dan dalam larutan ammonia (dengan membentuk larutan biru).
Endapan juga larut dalam larutan natrium hidroksida ketika dididihkan dan tembaga (I)
oksida mengendap.

5. Kalium tri-iodida (larutan iod dalam kalium iodida): menghasilkan ion arsenit dengan
kehilangan warna
AsO33- + I- + H2O AsO43- + 3I- + 2H+
6. Larutan timah (II) klorida dan asam klorida pekat (Uji Bettendroff): beberapa tetes
larutan arsenit ditambahkan pada 2 ml asam klorida pekat dan 0.5 ml larutan timah (II)
klorida jenuh, larutan dipanaskan perlahan-lahan. Larutan menjadi coklat tua dan
akhirnya hitam disebabkan oleh pemisahan arsenic unsur:
2As3+ + 3Sn2+ 2As + 3Sn4+

F. Arsenat

10
Reaksi-reaksi Arsenat:
1. Hidrogen silfida: tak terjadi endapan segera dengan adanya asam klorida encer. Jika
aliran gas diteruskan, campuran arsenik (III) sulfida dan belerang akan mengendap
dengan lambat. Pengendapan akan lebih cepat dalam larutan panas.
2AsO43- + 5H2S AsO33- + S + H2O
2AsO43- + 3H4S + 6H+ As2S3 + 6H2O
2. Larutan perak nitrat: endapan merah-kecoklatan perak arsenat Ag3AsO4
Endapan larut dalam asam dan dalam larutan ammonia, tetapi tak larut dalam asam
asetat.
AsO43- + 3Ag+ Ag3AsO4
3. Campuran magnesia: endapan kristalin putih magnesium ammonium arsenat
AsO43- + Mg2+ + NH4+ Mg(NH4)AsO4
4. Larutan ammonium molibdat: bila reagensia ini dan asam nitrat ditambahkan dengan
sangat berlebihan kepada larutan arsenat, dapat diperoleh endapan kristalin berwarna
kuning yaitu ammonium arsenomolibdat
5. Larutan kalium iodida: jika disertakan asam klorida pekat, iod akan diendapkan
6. Larutan uranil asetat: endapan seperti gelatin berwarna kuning muda uranil ammonium
arsenat. Endapan larut dalam asam mineral tetapi tak larut dengan asam asetat

G. Kromat dan Dikromat


1. Asam Kromat
Sifat-sifatnya
Nama lain : Asam tetraokso kromat
Titik lebur : 197oC
Titik didih : 250oC

2. Kalium Dikromat
Sifat-sifatnya
Berat Molekul 294,2 g/mol
Oksidator kuat
Hablur

11
Merah jingga
Lebih mudah larut dalam air panas
Banyak digunakan dalam pembuatan klise
Dapat menyebabkan iritasi kulit, mata, pernapasan, dan ginjal

Kromat logam biasanya adalah zat-zat padat berwarna, yang menghasilkan larutan kuning
bila dapat larut dalam air.

No Reaksi Reaksi Hasil Pengamatan Keterangan


1 Larutan Barium CrO42-+ Ba2+ BaCrO4 Kuning muda Endapan larut
Klorida dalam asam mineral
encer
2 Larutan Perak CrO42- + 2Ag+ Ag2CrO4 Merah-kecoklatan
Nitrat
Endapan+ Nitrat 2Ag2CrO4 + 2H+ 4Ag+ + Endapan larut
encer Cr2O72- +H2O
Endapan + larutan Ag2CrO4 + 4NH3 Endapan larut
ammonia 2[Ag(NH3)2]+ + CrO42-
Endapan+ Asam Ag2CrO4 + 2Cl- 2AgCl Putih
Klorida + CrO42-
3 Larutan Timbel CrO42- + Pb2+ PbCrO4 Kuning Endapan larut
Asetat dalam larutan
NaOH
+ Larutan asam
asetat maka
terbentuk kembali
endapan
Endapan + Asam 2PbCrO4 + 2H+ 2Pb2+ + Endapan Larut
Nitrat Encer Cr2O72- + H2O
4 Hidrogen Peroksida CrO42- + 2H+ + 2H2O2 CrO5 Larutan menjadi biru Pewarnaan akibat
+ 3H2O tua kromium

12
pentoksida
5 Hidrogen Sulfida 2CrO42- + 3H2S + 10H+ Larutan menjadi hijau Terjadi pemisahan
2Cr3+ + 3S + 8H2O belerang
6 Reduksi kromat dan a. Belerang dioksida Larutan menjadi hijau Perubahan warna
dikromat 2CrO42- + 3SO2 + 4H+ akibat pembentukan
2Cr3+ + 3SO42- + 2H2O ion kromium (III)

b. Kalium Iodida Larutan menjadi


2CrO42- + 6I- + 16H+ coklat kebiruan
2Cr3+ + 3I2 + 8H2O

c. Besi (II)
CrO42- + 3Fe2+ + 8H+
Cr3+ + 3Fe3+ + 4H2O

d. Etanol Reduksi
2CrO42- + 3C2H5OH + berlangsung lambat
10H+ 2Cr3+ + akibat asam mineral
3CH3CHO + 8H2O dalam suasana
dingin
7 Reduksi kromat 2K2CrO4 + 16HCl 2Cr3+ + Terbentuk larutan
atau dikromat padat 3Cl2 + 4K+ + 10Cl- + 8H2O yang mengandung
dengan HCl pekat K2Cr2O7 + 14HCl 2Cr3+ + ion kromium (III)
3Cl2 + 2K+ + 8Cl- + 7H2O
8 Difenil karbazida - Larutan menjadi Jika kromat dalam
(larutan diasamkan merah tua jumlah kecil, maka
dengan asam sulfa larutan berwarna
tencer + 1-2 tetes lembayung
reagen)
9 Uji asam - Larutan menjadi
kromotropat merah

13
H. Asetat (CH3COO-)

Sifat fisik dan kimia asetat


Kelarutan : semua asetat normal, kecuali perak dan merkurium (I) asetat yang sangat
sedikit larut. Beberapa asetat basa, misalnya asetat basa dasri besi, alumunium, dan
kromium, tak larut dalam air.
Asam bebasnya, CH3COOH adalah cairan yang tak bewarna dengan bau yang menusuk
Titik didi 1170
Titik lebur 170
Dapat bercampur dengan air dalam semua perbandingan
Bersifat korosif terhadap kulit manusia

Reaksi-reaksi asetat
No Kation/Larutan Uji Reaksi Hasil
1. H2SO4 (encer) CH3COO- + H+ CH3COOH Bau seperti cuka
2. H2SO4 (pekat) Bau menusuk
3. Etanol CH3COOH + C2H5OH Bau segar seperti
CH3COO.C2H5 + H2O buah
4. Larutan Perak CH3COO- + Ag+ CH3COOAg Endapan kristalin
Nitrat putih perak asetat
5. BaCl2/ CaCl2 - Tak ada perubahan
6. Besi (III) Klorida 6CH3COO- + 3Fe 3+ +2H2O [Fe3 Larutan merah -tua
(OH)2(CH3COO)6]+ +2H+
Diencerkan dan [Fe3 (OH)2(CH3COO)6]+ + 4H2O Endapan merah-
dididihkan 3Fe(OH)2CH3COO + 3CH3COOH +H+ kecoklatan besi (III)
basa
7. Reaksi kakodil Bau busuk
oksida
8. Uji lantanum nitrat Warna biru
9. Uji indigo Biru/ hijau-kebiruan
10. Pemijaran Menghasilkan aseton

14
I. Format

Sifat fisik dan kimia format


Kelarutan: kebanyakan format larut dalam air, kecuali garam-garam timbel, perak, dan
merkurium (I) yang sangat sedikit larut.
Asam bebasnya (HCOOH) adalah cairan yang berbau menyengat
Titik didih : 100,50
Titik lebur: 80
Dapat bercampur dengan air dalam segala perbandingan
Menimbulkan lepuh-lepuh bila mengenai kulit

No Kation/Larutan Uji Reaksi Hasil


1. H2SO4 (encer) HCOO- + H+ HCOOH Menghasilkan gas
asam format dan bau
yang menyengat
2. H2SO4 (pekat) HCOONa + H2SO4 CO + Na+ +HSO4- Menghasilkan gas
+ H2O karbon monoksida
dan diperoleh nyala
biru yang khas
3. Etanol HCOOH + C2H5OH HCOO.C2H5 + Menghasilkan gas
H2O etil format dan bau
yang sedap
4. Larutan Perak HCOO- + Ag+ HCOOAg Endapan putih perak
Nitrat format
Direduksi pada 2HCOOAg 2Ag + HCOOH +CO2 Endapan perak hitam
suhu kamar dan
dipanaskan
5. BaCl2/ CaCl2 - Tak ada perubahan
6. Besi (III) Klorida 6HCOO- + 3Fe 3+ [Fe3(HCOO)6]3+ Larutan merah
Diencerkan dan [Fe3(HCOO)6]3+ + 4H2O Endapan coklat besi
dididihkan 2Fe(OH)2HCOO + 4HCOOH +Fe3+ (III) format basa

15
7. Larutan merkurium 2HCOO- + 2HgCl2 Hg2Cl2 + 2Cl- + Endapan putih
(II) klorida CO + CO2 +H2O merkurium (I)
klorida
+ larutan format 2HCOO- + Hg2Cl2 2Hg + 2Cl- + Merkurium logam
yang berlebih CO + CO2 +H2O abu-abu
8. Uji merkurium (II) 2HCOOH + HgO (HCOO)2Hg + H2O Endapan putih
format 2(HCOO)2Hg (HCOOH) + CO2 merkurium (I)
(HCOO)2Hg2 2Hg + HCOOH + endapan merkurium
CO2 logam abu-abu
9. Uji formaldehida- Warna merah jambu-
asam kromotropat lembayung
10. Pemijaran Menghasilkan
oksalat-oksalat
padanannya dan
hidrogen

J. Tartrat (HCOO-)

Sifat-sifat Tartrat:
1. Meleleh pada suhu 168oC (334,4o F) 172oC.
2. Dapat larut dalam air dan etanol dan gliserol, namun tak larut dalam kloroform.
3. Menjadi tak stabil apabila terkena panas secara terus-menerus.
4. Dapat bereaksi dengan agen-agen oksidatif, reduktif, dan zat-zat alkali.
5. Dapat membebaskan gas H2 yang mudah meledak, terutama bila larutan ini terpapar
dengan logam-logam yang reaktif seperti besi, seng, dan aluminium.
6. Bersifat korosif terutama apabila dalam bentuk larutan.

Manfaat Tartrat
Dalam produksi makanan, termasuk kedalam asidulan, yaitu zat yang berperan sebagai
zat pengasam.
Penegas rasa dan warna pada makanan.
Dapat mencegah pertumbuhan mikroba pada makanan.
Sebagai pengawet makanan.

16
Digunakan sebagai campuran tepung soda kue dalam pembuatan roti.
Reaksinya adalah sebagai berikut:

NO. REAGENSIA REAKSI HASIL

1. H2SO4 H2.C4H4O6 CO + CO2 +2C + 3H2O Tartrat akan terurai


C + 2H2SO4 2SO2 + CO2 + 2H2O secara kompleks

2- 2- +
2. AgNO3 C4H4O6 .C4H4O6 + 2Ag Endapan putih seperti
dadih susu
Ag2.C4H4O6

2+ 2-
3. CaCl2 Ca + C4H4O6 Ca.C4H4O6 Endapan kristalin putih

2- +
4. KCl C4H4O6 + K + CH3COOH Endapan kristalin tak
-
berwarna
KH.C4H4O6 + CH3COO

5. Uji Fenion - Warna lembayung-tua


atau biru
6. Uji Resorsinol - Terbentuk cincin merah

7. Uji Tembaga - Larutan biru tua


Hidroksida

8. Uji - Larutan warna hijau


-dinaftol

9. Kerja oleh panas - Asam tartrat terurai dan


timbul bau gula hangus
serta dilepaskan uap
yang mudah menyala

K. Sitrat (C6H5O73-)

Kelarutan Asam sitrat, HOOC.CH2.C(OH)-CO2H.CH2.COOH.H2O atau


H3.C6H5O7.H2O adalah zat padat kristalin yang sangat larut dalam air, ia menjadi tak-berhidrat
pada 55 dan melebur pada 160. Ia merupakan asam tribasa, dan karenanya menghasilkan tiga

17
deret garam. Sitrat normal dari logam-logam alkali mudah larut dalam air, sitrat logam lainnya
larut sangat sedikit. Sitrat asam lebih mudah larut daripada tartrat asam. Untuk mempelajari
reaksi-reaksi ini, pakailah larutan natrium sitrat. Na3.C6H5O7.2H2O, 0,5M.

1. Asam sulfat pekat


Bila suatu sitrat padat dipanaskan dengan asam sulfat pekat, dilepaskan karbon
monoksida dan karbon dioksida, larutan perlahan-lahan akan menjadi gelap warnanya
akibat pemisahan karbon, dan belerang dioksida dilepaskan (bandingkan Tartrat, yang
mengarang hampir segera).
Hasil-hasil reaksi yang mula-mula adalah karbon dioksida dan asam aseton
dikarboksilat(I), yang terakhir ini mengalami penguraian sebagian (parsial) menjadi
aseton(II) dan karbon dioksida.
HOOC.CH2.C(OH)CO2H.CH2.COOH
CO + H2O + HOOC.CH2.CO.CH2.COOH(I);
HOOC.CH2.CO.CH2.COOH
CH3.CO.CH3 (II) + 2CO2
Kita boleh menggunakan pembentukan perantara asam aseton dikarboksilat ini,
serta interaksi zat yang terakhir dengan larutan natrium nitroprusida dengan
menghasilkan pewarnaan merah, sebagai suatu uji terhadap sitrat.
Bila kira-kira 0,5 g suatu sitrat atau asam sitrat diolah dengan 1 ml asam sulfat
pekat selama 1 menit, campuran didinginkan, dengan hati-hati diencerkan dengan air,
dijadikan basa dengan larutan natrium hidroksida lalu ditambahkan beberapa milliliter
larutan natrium nitroprusida yang baru saja dibuat, terjadilah perwarnaan merah yang tua.
2. Larutan perak nitrat
Jika sitrat ditambahkan dengan larutan perak nitrat maka akan menghasilkan
endapan perak sitrat, Ag3.C6H5O7, yang putih dan seperti dadih susu, dari larutan netral.
Endapan larut dalam larutan amonia encer, dan larutan ini mengalami hanya sedikit
sekali reduksi menjadi perak setelah dididihkan (perbedaan dari tartrat).
C6H5O73- + 3Ag+ Ag3.C6H5O7
Ag3.C6H5O7 + 6NH3 3[Ag(NH3)2]+ + C6H5O73-
3. Larutan kalsium klorida

18
Jika sitrat ditambahkan dengan kalsium klorida maka tak ada endapan dengan
larutan netral dalam keadaan dingin (perbedaan dari tartrat), tetapi setelah didihkan
selama beberapa menit, dihasilakn suatu endapan kristalin kalsium sitrat
Ca3(C6H5O7)2.4H2O. Jika larutan natrium hidroksida ditambahkan kepada larutan yang
dingin yang mengandung kalsium klorida berlebihan, terjadi pengendapan segera dari
kalsium sitrat yang amorf, yang tak larut dalam larutan-larutan alkali kaustik (hidroksida
logam-logam alkali), tetapi larut dalam larutan ammonia klorida , setelah larutan
ammonia klorida itu dididihkan, mengendaplah kalsium sitrat kristalin yang kini tak
dapat larut dalam amonium klorida.
2C6H5O73- + 3Ca2+ Ca3(C6H5O7)2
4. Larutan kadmium asetat
Jika sitrat ditambahkan dengan kadmium asetat akan menghasilkan endapan
kadmium sitrat Cd3(C6H5O7)2 yang putih seperti gelatin, praktis tak larut dalam air
mendidih, tetapi mudah larut dalam asam asetat panas (tartrat tidak memberi endapan).
2C6H5O73- + 3Cd2+ Cd3(C6H5O7)2
5. Uji Denige
Tambahkan 0,5 ml larutan merkurium(II) sulfat asam kepada 3 ml larutan sitrat,
panaskan sampai mendidih, lalu tambahkan beberapa tetes larutan kalium permanganat
0,02M. Warna permanganat akan menghilang dengan cepat, lalu, dengan agak tiba-tiba,
terbentuk endapan putih yang berat, yang terdiri dari garam rangkap merkurium(II) sulfat
basa dengan merkurium(II) aseton dikarboksilat.
HgSO4.2HgO.2[CO(CH2.CO2)2Hg]
Garam dari asam-asam halogen menggangu, maka harus dihilangkan sebelum melakukan
pengujian.
Reagensia (suatu larutan merkurium(II) sulfat asam) dibuat dengan menambahkan
10 ml asam sulfat pekat dengan perlahan-lahan kepada 50 ml air, dan melarutkan 2,2 g
merkurium(II) oksida dalam larutan yang panas itu.
6. Kerja oleh panas
Garam sitrat dan asam sitrat mengarang bila dipanaskan, dilepaskan karbon
monoksida, karbon dioksida, dan uap-uap yang berbau tajam.

19
L. Salisilat (C6H4(OH)COO- ATAU C7H5O3-)
Kelarutan Asam salisilat, C6H4(OH)COOH (asam o-hidroksibenzoat), membentuk jarum-
jarum tak berwarna, yang melebur pada 155. Asamnya sedikit larut dalam air dingin, tetapi lebih
larut dalam air panas, darimana zat itu dapat dikristalkan kembali. Zat ini mudah larut dalam
alkohol dan eter. Terkecuali garam timbel, merkurium, perak, dan bariumnya, garam monobasa-
nya, C6H4(OH)COOM-ini adalah garamnya yang paling umum terdapat mudah larut dalam air.
Untuk mempelajari reaksi-reaksi ini, pakailah larutan natrium salisilat, C6H4(OH)COONa
atau Na.C7H5O3, 0,5M.
1. Asam sulfat pekat
Natrium salisilat padat melarut dengan dipanaskan , pengarangan timbul
perlahan-lahan, disertai pelepasan karbon monoksida dan belerang dioksida.
2. Asam sulfat pekat dan metanol (uji minyak gandapura minyak wintergreen)
Bila 0,5 g suatu garam salisilat atau asam salisilat diolah dengan suatu campuran
dari 1,5 ml asam sulfat pekat dan 3 ml metanol, dan keseluruhannya dipanaskan
perlahan-lahan, kita memperoleh bau harum yang khas dari esternya, metal salisilat(I)
(minyak wintergreen). Bau ini mudah dideteksi dengan menuangkan campuran itu ke
dalam larutan natrium karbonat encer yang ditaruh dalam sebuah cawan porselen.
C6H4(OH)COOH + CH3OH C6H4(OH)COO.CH3 (I) + H2O
(Asam sulfat bertindak sebagai zat pendehidrasi).
3. Asam klorida encer
Menghasilkan endapan kristalin asam salisilat, dari larutan garam-garamnya.
Endapan ini larut sedang-sedang saja dalam air panas, dari mana ia akan mengkristal
setelah didinginkan.
4. Larutan perak nitrat
Menghasilkan endapan kristalin berat, perak salisilat Ag.C7H5O3, dari larutan
netral ia larut dalam air mendidih, dan mengkristal dari larutan setelah didinginkan.
C6H4(OH)COO- + Ag+ C6H4(OH)COOAg
5. Larutan besi(III) klorida
Pewarnaan merah-lembayung tua dengan larutan salisilat netral atau dengan asam
salisilat bebas, warna menghilang pada penambahan asam mineral encer, tetapi tidak ada
penambahan sedikit asam asetat. Banyak asam organik (asetat, tartarat, dan sitrat) jika

20
ada serta dalam jumlah sangat berlebihan, akan mencegah pembentukan warna, tetapi
penambahan beberapa tetes larutan amonia encer akan membuat warna itu muncul.
6. Asam nitrat encer
Bila suatu salisilat atau asam bebasnya dididihkan dengan nitrat encer (2M) dan
campuran dituangkan ke dalam air dingin yang volumenya 4 kali lipat dari volume
campuran, kita memperoleh endapan kristalin asam 5-nitrosalisilat. Endapan disaring dan
dikristalkan kembali dari air mendidih, asam ini setelah dikeringkan, mempunyai titik
lebur 226.
C6H4(OH)COOH + HNO3 C6H3(NO2)(OH)COOH + H2O
Asam-asam polinitro salisilat terbentuk bila konsentrasi asam nitrat melebihi 2-
3M. Perlu ditekankan di sini, bahwa asam-asam nitrosalisilat bisa meledak pada
pemanasan yang kuat, dan ini harus diingat benar-benar ketika sedang menghilangkan
salisilat dengan mengoksidasikannya dengan asam nitrat dan menguapkannya sampai
kering sebelum mengendapkan Golongan IIIA. Jika kita menduga ada salisilat, mungkin
yang paling baik adalah menghilangkannya dengan mengasamkan larutan yang pekat
dengan asam klorida encer, sebagian besar dari asam salisilat itu akan memisah setelah
didinginkan.
7. Kapur soda
Bila asam salisilat atau salah satu dari garamnya dipanaskan dengan kapur soda
dalam sebuah tabung pemijar, akan dilepaskan fenol, C6H5(OH), yang bisa dikenal dari
baunya yang khas.
C6H4(OH)COONa + NaOH C6H5OH Na2CO3
8. Kerja oleh panas
Bila berangsur-angsur dipanaskan diatas titik leburnya, asam salisilat akan
menyublim. Jika zat ini dipanaskan dengan cepat, ia akan terurai menjadi karbon dioksida
dan fenol. Salisilat mengarang ketika dipanaskan dan melepaskan fenol.
C6H4(OH)COOH C6H5OH + CO2

M. Benzoat (C6H5COOH atau C7H5O2)

Adalah zat padat putih, kristalin, titik leburnya adalah 121o. Asam ini sedikit larut dalamair
dingin, tetapi lebih larut dalam air panas, dimana ia akan mengkristal setelah didinginkan; ia

21
larut dalamalkohol dan eter. Semua benzoat, kecuali garam benzoat dari perak dan besi (III)
basa, mudah larut dalamair dingin.
Untuk mempelajari reaksi ini, pakailah larutan kalium benzoat (C6H5COOK atau
K,C7H5O2 , 0,5M)
1. Asam sulfat pekat
Tak timbul pengarangan pada pemanasan asam benzoat padat dengan reagensia ini; asam
benzoat itu membentuk suatu sublimat pada dinding-dalam tabung-uji dan dilepaskan
uap-uap yang merangsang (mengiritasi)

2. Asam sulfat encer


Endapan kristalin putih, asam benzoat,dari larutan benzoat yang dingin. Asam ini dapat
di saring, dikeringkan di antara kertas saring atau di atas batu ubin yang berpori dan
diidentifikasi dari titik leburnya (121o). Jika titik lebur ini rendah, ia dapat di kristalisasi
kembali dari air panas
C6H5COO- + H+ C6H5COOH

3. Asam sulfat pekat dan etanol panaskan 0,5 g suatu benzoat atau asam benzoat dengan
suatu campuran dari 1,5 ml asam sulfat pekat dan 3ml etanol selama beberapa menit.
Biarkan campuran menjadi dingin, dan perhatikan bau aromatis (harum) yang khas dan
sedap dari esternya, etil benzoat. Bau ini lebih ketara jika campuran dituangkan ke dalam
larutan natrium karbonat encer yang ditaruh dalam sebuah cawan penguap; tetes etil
benzoat yang seperti minyak akan memisah.
C6H5.COOH + C2H5OH C6H5.COOC2H5 + H2O

4. Larutan perak nitrat


Endapan putih perak benzoat, Ag.C7H5COO- , dari larutan-larutan netral. Endapan larut
dalam air panas dan mengkristal dari larutan setelah didinginkan; endapan ini juga larut
dalam amonia encer.
C6H5.COO- + Ag+ C6H5COOAg
C6H5COOAg + 2NH3 [Ag(NH3)2+ + C6H5.COO-

22
5. Larutan besi (III) klorida
Endapan besi (III) benzoat basa yang berwarna jingga-kekuningan (seperti kulit kerbau)
dari larutan-larutan netral. Endapan larut dalam asam klorida, dibarengi dengan
pemisahan asam benzoat.
(3C6H5.COO- + 2Fe3+ + 3 H2O (C6H5.COO)3Fe.Fe(OH)3 + 3H+

6. Kapur asam soda benzoat dan benzoat-benzoat, bila dipanaskan dalam sebuah tabung
pemijar dengan kapur soda berlebih, akan terurai menjadi benzoat, C6H6 , yang terbakar
dengan nyala yang berasap dan karbon dioksida yang bersenyawa dengan alkali yang
ada.
C6H5.COOH + 2NaOH C6H6 Na 2 C03 + H2O

7. Kerja oleh panas bila asam benzoat dipanaskan dalam tabung pemijar, ia melebur,
menguap, dan mengembun dalam bagian-bagian tabung yang dingin. Berbarengan
dengan ini, dilepaskan suatu uap yang merangsang, tetapi tak terjadi pengarangan. Jika
sedikit dari atom itu atau dari salah satu garamnya dipanaskan diatas kertas platinum atau
pecahan porselene , ia akan terbakar dengan nyala api biru berasap.

23
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kelompok Anion kelas B ini dibedakan berdasarkan reaksi-reaksi dalam larutan yang
kemudian dibagi lagi menjadi dua kelompok yaitu berdasarkan reaksi pengendapan dan reaksi
oksidasi dan reduksi pada larutan. Metode pengidentifikasian anion memang tidak sesistematis
pada kation. Namun, prosedur yang dilakukan terhadap anion lebih sederhana dibanding kation.

B. Saran
Sekiranya makalah ini sangat jauh dari kata sempurna walau kami sudah
membuatnya dengan maksimal, maka mohon diharapkan kritik dan saran dari pembaca yang
mebuat kami bangkit menjadi lebih baik lagi.

24
DAFTAR PUSTAKA

Svehla, G. 1985. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimakro Bagian I
dan II. Jakarta: PT Kalman Media Pustaka

25