Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keadaan gizi yang baik merupakan salah satu unsur penting dalam

upaya pencapaian derajat kesehatan yang optimal untuk meningkatkan

mutu kehidupan bangsa. Kekurangan gizi, terutama pada anak-anak akan

menghambat proses tumbuh kembang. Pertumbuhan yang terjadi pada

seseorang meliputi perubahan fisik seperti panjang badan, berat badan,

lingkar kepala, dan lain-lain. Perkembangan yang dialami seorang anak

merupakan rangkaian perubahan secara teratur dari satu tahap

perkembangan ke tahap perkembangan berikutnya, dan berlaku secara

umum, misal: anak berdiri dengan satu kaki, berjinjit, berjalan, menaiki

tangga, berlari dan seterusnya. Secara umum terdapat dua faktor utama

yang berpengaruh terhadap faktor tumbuh kembang anak, yaitu faktor

genetik dan faktor lingkungan (Berhman, 2000).

Faktor genetik merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir

proses tumbuh kembang anak. Faktor genetik antara lain berbagai faktor

bawaan yang normal dan patologik, jenis kelamin, suku bangsa atau

bangsa. Berdasarkan instruksi genetik yang terkandung di dalam sel telur

yang telah dibuahi, dapat ditentukan kualitas dan kuantintas pertumbuhan.

Pertumbuhan ditandai dengan intensitas dan kecepatan pembelahan,

derajat sensitivitas jaringan terhadap rangsangan, umur pubertas dan

1
2

berhentinya pertumbuhan tulang. Faktor lingkungan merupakan

lingkungan biopsikososial yang mempengaruhi individu setiap hari

mulai dari konsepsi sampai akhir hayatnya. Faktor lingkungan memegang

peranan penting dalam tumbuh kembang (Berhman, 2000).

Pemberian nutrisi secara mencukupi pada bayi harus sudah dimulai

sejak dalam kandungan, yaitu dengan pemberian nutrisi yang cukup

memadai pada ibu hamil. Setelah lahir, harus diupayakan pemberian ASI

secara eksklusif, yaitu pemberian ASI saja sampai anak berumur 4 sampai

6 bulan (Nursalam, 2005).

Pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita sebagian besar

ditentukan oleh jumlah ASI yang diperoleh, termasuk energi dan zat gizi

lainnya yang terkandung di dalam ASI tersebut. ASI tanpa bahan makanan

lain dapat mencukupi kebutuhan pertumbuhan usia sekitar enam bulan.

Pemberian ASI tanpa pemberian makanan lain selama enam bulan tersebut

melalui menyusui secara eksklusif. WHO (2006), ASI eksklusif adalah

bayi hanya menerima ASI dari ibu atau pengasuh yang diminta

memberikan ASI dari ibu, tanpa penambahan cairan atau makanan padat

lain, kecuali sirup yang berisi vitamin, suplemen mineral atau obat.

Allah SWT memerintahkan para ibu untuk menyusui anak-anaknya

hingga dua tahun. Perintah ini bukan tanpa manfaat, karena akhir-akhir ini

semakin banyak penelitian yang mengungkap dahsyatnya Air Susu Ibu

(ASI) untuk membentuk generasi yang berakhlakul karimah, namun yang

terjadi sekarang, para ibu enggan menyusui bayinya sama sekali. Mereka
3

beranggapan bahwa kualitas susu formula dapat menggantikan ASI,

bahkan mutunya lebih baik daripada ASI (Chomaria, 2011).

Menurut King (1993 dalam Chomaria 2011), sindrom bayi botolan

melanda negara berkembang karena banyak ibu bahkan yang miskin dan

berpendidikan rendah sekalipun, termakan rayuan dan janji susu formula.

Bayi montok, lucu, dan berkulit putih menjadi harapan banyak ibu, hal ini

menyebabkan para ibu lebih suka memberikan bayi mereka susu formula,

walau penyajiannya tidak sesuai dengan petunjuk takaran (sangat encer)

sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan gizi untuk tumbuh kembang

bayinya. Data menunjukkan bahwa jumlah ibu yang menyusui bayinya

semakin berkurang sedangkan jumlah ibu yang menggunakan susu

formula untuk bayinya semakin meningkat.

Penggunaan susu formula menjadikan anak-anak tidak mendapatkan

apa yang telah menjadi hak dasarnya. Anak akan terjauhkan dari interaksi

hangat yang berupa penyatuan ragawi, dekapan dan belaian ibu sejak dini,

karena anak merupakan amanah dan menyusui anak merupakan naluri

alamiah seorang ibu. Di masyarakat sekitar, perilaku tidak memberikan

ASI eksklusif telah diterima dengan wajar dan ibu yang melakukannya

tidak merasa terbebani, padahal secara moral tindakan mereka salah.

Betapa ibu telah kehilangan sisi naluriah keibuannya dengan tega tidak

memberikan apa yang telah menjadi hak anak (Chomaria, 2011).

Kurva pertumbuhan yang diterbitkan oleh National Center for Health

Statistics (NCHS), bahwa berat badan bayi akan meningkat dua kali lipat
4

dari berat lahir saat usia 6 bulan, berat badan bayi yang mendapat ASI lebih

ringan dibanding bayi yang mendapat susu formula sampai usia 6 bulan.

Hal ini tidak berarti bahwa berat badan bayi yang mendapat susu formula

lebih baik dibanding bayi yang mendapat ASI. Berat berlebih pada bayi

yang mendapat susu formula justru menandakan terjadi kegemukan.

Kegemukan ini dapat berlangsung hingga beranjak dewasa nanti. Adapun

bayi yang diberi ASI tidak perlu khawatir akan kegemukan, karena ASI

menyesuaikan kebutuhan energi tubuh bayi itu sendiri. Kurva pertumbuhan

yang normal adalah kurva bayi yang mendapat ASI, yaitu membandingkan

Berat Badan anak saat ini dengan Berat Badan Ideal berdasarkan Growth

Chart dari CDC atau WHO (Putriani, 2010)

ASI eksklusif sangat penting untuk pertumbuhan bayi, maka

Kementerian Kesehatan telah menerbitkan surat keputusan Menteri

Kesehatan nomor: 450/Menkes/SK/IV/2004 tentang Pemberian ASI

eksklusif. ASI eksklusif diberikan sejak bayi lahir sampai bayi berumur 6

bulan dan dilanjutkan sampai umur 2 tahun dan pemberian makanan

tambahan yang sesuai. Tenaga kesehatan yang bekerja di sarana pelayanan

kesehatan agar menginformasikan kepada ibu hamil yang baru melahirkan

untuk memberi ASI eksklusif dan tenaga kesehatan harus

menginformasikan Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui

(LMKM), (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2007).

ASI memang merupakan makanan paling ideal bagi bayi, namun

tidak semua ibu dapat memberikan ASI pada bayinya, ada beberapa
5

kondisi yang menyebabkan ibu hanya dapat memberikan Pengganti Air

Susu Ibu (PASI). Sulistijani (2001) mengungkapkan pemberian PASI

dapat dimengerti jika alasan bayi sakit seperti kekurangan cairan, radang

mulut atau infeksi paru-paru, bayi lahir dengan berat badan rendah, bayi

lahir sumbing (bawaan). Pemberian PASI juga dapat disebabkan oleh

masalah pada pihak ibu seperti jumlah dan mutu ASI kurang memadai

sehingga tidak mencukupi kebutuhan bayi, ibu menderita sakit, seperti

ginjal atau penyakit menular, ibu menderita infeksi, luka puting, mastitis,

ibu mengalami gangguan jiwa atau epilepsi dan ibu sedang menjalani

terapi obat yang tidak aman bagi bayi.

Makanan PASI berupa susu formula dapat diberikan dengan alasan-

alasan tersebut di atas. Umumnya susu formula untuk bayi terbuat dari

susu sapi yang susunan zat gizinya diubah sedemikian rupa sehingga dapat

diberikan kepada bayi tanpa menimbulkan efek samping. ASI merupakan

nutrisi yang paling ideal untuk bayi maka perubahan yang dilakukan pada

komponen gizi susu sapi harus mendekati susunan zat gizi ASI. Meskipun

para ahli teknologi pangan telah berusaha untuk memperbaiki susunan zat

gizi susu sapi agar komposisinya mendekati susunan zat gizi ASI, sampai

saat ini usaha tersebut belum menunjukkan hasil yang baik (Krisnatuti,

2004).

Apabila dibandingkan dengan ASI, susu formula memiliki banyak

kelemahan terutama dalam hal kandungan gizinya. Penggunaan susu

formula harus di kontrol dari kemungkinan masuknya organisme-


6

organisme patogen atau terjadinya kontaminasi yang dapat menyebabkan

diare. Pengaturan makanan bayi dengan PASI sama dengan pengaturan

makanan dengan ASI. Pemberian PASI dilakukan berdasarkan kebutuhan

gizi bayi terutama dalam hal kebutuhan air, energi dan protein.

Secara nasional cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia

berfluktuasi dan menunjukkan kecenderungan menurun selama 3 tahun

terakhir. Berdasarkan data survey Kesehatan Nasional menunjukkan

bahwa cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi 06 bulan turun dari

62,2% tahun 2007 menjadi 56,2% pada tahun 2008, sedangkan cakupan

pemberian ASI eksklusif pada bayi sampai 6 bulan turun dari 28,6% pada

tahun 2007 menjadi 24,3% pada tahun 2008 (Susenas 2004-2009 dalam

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2011).

Berdasarkan data di atas tampak bahwa pemberian ASI eksklusif di

Indonesia mengalami penurunan yang sesungguhnya ASI eksklusif sangat

dibutuhkan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Hal ini

disebabkan oleh gencarnya pemasaran susu formula diberbagai media

khususnya media audio visual (televisi). Media sangat berperan dalam

mengubah satu paradigma berpikir, yang terbukti dengan adanya

pergeseran nilai dan penghargaan antara wanita karir dengan ibu rumah

tangga. Media banyak mengangkat tema perempuan modern sebagai

perempuan yang cerdas dan sukses serta berkiprah di luar rumah. Pada

sebuah iklan susu formula digambarkan seorang ibu dengan memakai

pakaian kerja sebelum meninggalkan anaknya ia mempersiapkan sebotol


7

susu untuk buah hatinya. Image masyarakat mulai membenarkan bahwa

ibu dalam iklan tersebut merupakan ibu yang jempolan, karena sebelum

bekerja, ia telah memberikan susu formula dengan kualitas terbaik untuk

anaknya. Pada iklan tersebut, dua pesan telah tersampaikan, yaitu peran

sebagai wanita karir yang sukses serta susu formula untuk kesuksesan

tumbuh kembang anak.

Gencarnya media massa mengangkat pentingnya susu formula yang

dilengkapi dengan berbagai nutrisi menyebabkan kaum ibu merasa

membutuhkan susu tersebut demi tumbuh kembang anaknya. Bayangan

seorang anak yang cerdas, montok, lucu, membuat ibu ingin membentuk

anak-anaknya seperti sosok dalam iklan tersebut. Alhasil, mereka mulai

menciptakan kebutuhan untuk bayinya, bahwa sang bayi memerlukan susu

formula, karena kandungan susu formula lebih unggul daripada ASI.

Penelitian yang dilakukan oleh Ariani (2006) untuk membandingkan

pertumbuhan berat badan bayi yang mendapat ASI, PASI, dan kombinasi

ASI-PASI dengan sampel 38 bayi prematur terdiri dari 18 laki-laki

(47,4%) dan 20 perempuan (52,6%), diperoleh hasil bahwa hanya 6 bayi

(15,8%) yang mendapat ASI sedangkan sisanya mendapat PASI (23,6%)

dan ASI+PASI (60,6%). Hasil penelitian menunjukkan terdapat

peningkatan berat badan pada ketiga kelompok bayi tetapi yang bermakna

secara statistik adalah pada kelompok PASI dan kelompok ASI ditambah

PASI. Berdasarkan penelitian tersebut, ibu lebih banyak menggunakan

PASI untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi prematur.


8

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bayi yang diberikan susu

formula memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengalami obesitas di

kemudian hari. Penelitian pada 15.000 anak yang menjadi peserta

NursesHealth Study II di Harvard menemukan bahwa anak-anak yang

mendapatkan ASI secara eksklusif atau hampir eksklusif dalam 6 bulan

pertama kehidupannya memiliki risiko lebih rendah untuk mengalami

obesitas dibandingkan anak yang mendapatkan susu formula. Risiko berat

badan berlebih juga lebih rendah diantara anak-anak yang mendapatkan

ASI lebih lama. Hal ini disebabkan karena seorang bayi yang diberikan

ASI cenderung mengambil sesuai yang diperlukannya dan kemudian

berhenti, sedangkan bayi yang diberi susu formula cenderung mengambil

lebih banyak kalori (Walker, 2005).

Studi pendahuluan yang telah dilakukan pada bulan Juli 2012, di

Kelurahan Kebon Jeruk, didapatkan hasil dari 10 responden, 6 bayi

mendapatkan PASI, 2 bayi yang mendapatkan ASI eksklusif, dan 2 bayi

yang mendapatkan ASI dengan PASI. Berat badan bayi yang mendapatkan

PASI terlihat lebih berat dibandingkan dengan bayi yang mendapatkan

ASI eksklusif. Rendahnya data bayi yang mendapatkan ASI eksklusif dan

tingginya data bayi yang mendapatkan PASI.

Berdasarkan data tersebut diatas, pada penelitian ini peneliti

menggunakan indikator pertumbuhan tidak hanya berat badan, melainkan

berat badan, panjang badan dan lingkar kepala pada bayi yang berat badan

lahirnya normal. Dari perbedaan tersebut maka peneliti ingin mengetahui


9

bagaimana perbandingan pertumbuhan berat badan, panjang badan, dan

lingkar kepala bayi yang mendapat ASI eksklusif dengan bayi yang sudah

diberikan PASI pada usia tersebut. Sehingga peneliti tertarik untuk

melakukan penelitian tentang perbandingan pertumbuhan bayi yang

diberikan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif dengan Pengganti Air Susu Ibu

(PASI) di Kelurahan Kebon Jeruk.

B. Rumusan Masalah

Pemberian ASI eksklusif yang menurun dan besarnya angka

pemberian PASI dapat mempengaruhi pertumbuhan bayi dimana

pertumbuhan merupakan proses fisiologis bagi makhluk hidup, apabila

pada awal pertumbuhan mengalami hambatan, maka pertumbuhan

kedepannya akan gagal, oleh sebab itu pertumbuhan sejak dini akan

mempengaruhi pertumbuhan pada masa berikutnya. Salah satu faktor

pertumbuhan dipengaruhi oleh nutrisi, sejauh mana nutrisi dapat

mempengaruuhi pertumbuhan pada bayi usia 6 sampai 7 bulan, maka

peneliti ingin meneliti bagaimana perbandingan pertumbuhan berat badan,

panjang badan, dan lingkar kepala bayi yang diberikan ASI eksklusif

dengan PASI.
10

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pertumbuhan berat

badan, panjang badan dan lingkar kepala bayi yang diberikan ASI

eksklusif dengan PASI.

2. Tujuan Khusus

a Mengetahui berat badan, panjang badan dan lingkar kepala bayi

yang diberikan ASI eksklusif.

b Mengetahui berat badan, panjang badan dan lingkar kepala bayi

yang diberikan PASI.

c Mengetahui perbandingan berat badan, panjang badan dan lingkar

kepala bayi yang diberikan ASI eksklusif dengan yang diberikan

PASI.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna baik bagi masyarakat, dan

institusi, yaitu :

1. Bagi Kelurahan Kebon Jeruk

Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan

masyarakat tentang manfaat ASI eksklusif untuk pertumbuhan berat

badan, panjang badan, dan lingkar kepala sebagai salah satu indikator

kesehatan serta memberikan masukan dalam meningkatkan upaya

promosi pertumbuhan kesehatan bayi.


11

2. Institusi Pendidikan Keperawatan

Menambah informasi dan wawasan mahasiswa tentang pengaruh

pemberian ASI eksklusif terhadap pertumbuhan berat badan, panjang

badan, dan lingkar kepala bayi usia 6 bulan serta sebagai bahan

penambahan karya ilmiah pada bagian ilmu keperawatan.

3. Institusi Pelayanan Kesehatan

Memberikan informasi mengenai manfaat pemberian ASI eksklusif

terhadap pertumbuhan bayi usia 6 bulan serta diharapkan pelayanan

kesehatan mampu menerapkan program ASI eksklusif selama 6 bulan

untuk meningkatkan kesehatan bayi khususnya di wilayah Kebon

Jeruk.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini mengenai perbandingan pertumbuhan berat badan,

panjang badan, dan lingkar kepala bayi yang diberikan ASI eksklusif

dengan yang diberikan PASI. Subjek penelitian ini adalah bayi 6 sampai 7

bulan yang diberikan ASI eksklusif dengan PASI di Kelurahan Kebon

Jeruk Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain penelitian studi cross-

sectional. Metode pengambilan data berupa kuesioner dan pengukuran

langsung.