Anda di halaman 1dari 13

TUGAS

FARMASI RUMAH SAKIT


APA YANG HARUS DILAKUKAN OLEH RUMAH
SAKIT TERUTAMA INSTALASI FARMASI
MENGHADAPI PERDAGANGAN BEBAS ASEAN?

Disusun oleh:

SUCI DEVITA PUTRI


(1441012050)
APOTEKER ANGKATAN III 2014

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2014
APA YANG HARUS DILAKUKAN OLEH RUMAH
SAKIT TERUTAMA INSTALASI FARMASI
MENGHADAPI PERDAGANGAN BEBAS ASEAN?

A. PENDAHULUAN

1. Perdagangan Bebas ASEAN

Pedagangan bebas merupakan kesepakatan beberapa negara untuk


bergabung dalam satu wadah perdagangan, sehingga memungkinkan terjadinya
pergerakan bebas individu, modal, barang dan jasa layanan antar negara yang
menjadi anggotanya (Anna U.R,2008).

Salah satu tujuan berdirinya ASEAN, berkaitan dengan mempercepat


pertumbuhan ekonomi negara-negara yang tergabung di dalamnya. ASEAN Free
Trade Area (AFTA) adalah bentuk konkrit dari kerja sama tersebut. Berlakunya
AFTA mendorong lahirnya usaha-usaha baru, yang mendukung terjalinnya
kerjasama perdagangan di antara negara ASEAN. Tujuannya untuk meningkatkan
kualitas produk dan daya saing yang sehat, sehingga mampu berkompetisi dalam
aturan yang sama. Ini yang disebut Harmonisasi.

Manfaat perdaganggan bebas adalah: (Anna U.R,2008).


a) meningkatkan pemerataan tenaga kerja dan produktifitas
b) memfasilitasi pergerakan bebas faktor-faktor untuk produksi
c) faktor-faktor produksi dialokasikan lebih efisien
d) meningkatkan persaingan
e) meningkatkan nilai ekonomis sehingga harga jasa lebih murah
f) barang/jasa tersedia lebih banyak pilihan
g) pasar yang lebih luas memungkinkan tumbuhnya produk baru

Pada tahun 1995, para Menteri Perdagangan negara-negara ASEAN


menyepakati The ASEAN Common Market; kemudian pada tahun 2007 di Cebu,
Filipina, disepakati rencana-rencana berikut:

2
1) Develop Asean into a single market
2) Eliminate tariffs and non-tariffs barriers
3) Free movement of professionals
4) Encourage private participation
5) Harmonise custom procedures

Pasar global yang diciptakan dalam layanan kesehatan di negara-negara


ASEAN, lambat atau cepat pasti akan berlangsung. Tahun 2004 di Vientiane,
Laos juga pernah diadakan acara penyusunan standarisasi dan regulasi layanan
kesehatan. Pada awal 2008 Menteri Perdagangan bertemu di Bangkok untuk
membicarakan kerjasama dalam perdagangan layanan kesehatan. Suatu rencana
kerja disusun untuk menuju perdagangan bebas dalam sektor layanan kesehatan
pada tahun 2010. Semua ini ditujukan untuk lebih mendekatkan anggota ASEAN
menuju liberalisasi perdagangan antar negara ASEAN yang di targetkan
terealisasi tahun 2015. Peningkatan kualitas layanan dan lapangan kerja yang
lebih luas dalam industri layanan kesehatan, itulah yang diharapkan dari
perdagangan bebas pelayanan kesehatan di ASEAN (Anna U.R,2008).

2. Instalasi Farmasi Rumah Sakit

Instalasi farmasi rumah sakit adalah suatu departemen atau unit atau
bagian di suatu rumah sakit yang dipimpin oleh seorang apoteker dan dibantu oleh
beberapa apoteker yang memenuhi persyaratan peraturan perundang-undangan
yang berlaku dan kompeten secara profesional dan merupakan tempat
penyelenggaraan yang bertanggung jawab atas seluruh pekerjaan serta pelayanan
paripurna, mencakup perencanaan, pengadaan, produksi, penyimpanan perbekalan
kesehatn/ sediaan farmasi, dispensing obat berdasarkan resep bagi penderita rawat
tinggal dan rawat jalan; pengendalian mutu; dan pengendalian distribusi dan
penggunaan seluruh perbekalan kesehatan di rumah sakit; pelayanan farmasi
klinik umum dan spesialis, mencakup pelayanan langsung pda penderita dan
pelayanan klinik merupakan program rumah sakit secara keseluruhan (Siregar,
2004).

3
Menurut PerMenkes No. 58 tahun 2014, instalasi farmasi adalah unit
pelaksana fungsional yang menyelenggarakan seluruh kegiatan pelayanan
kefarmasian di Rumah Sakit dan berfungsi sebagai tempat pengelolaan perbekalan
farmasi serta memberikan pelayanan kefarmasian dalam penggunaan obat dan alat
kesehatan.

Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) memiliki tugas dan tanggung jawab:
Pengelolaan perbekalan farmasi mulai perencanaan, pengadaan,
penyimpanan, penyiapan, peracikan, pelayanan langsung dan
pengendalian.
Menyediakan terapi obat yang optimal, pelayanan bermutu dengan biaya
minimal.
Pengembangan pelayanan kefarmasian yang luas dan terkoordinasi dengan
baik & tepat. Melangsungkan Pelayanan farmasi optimal.
Pelayanan Farmasi profesional berdasarkan prosedur Kefarmasian dan etik
profesi.
Melaksanakan KIE.
Melakukan pengawasan berdasar aturan yang berlaku.
Menyelenggarakan pendidikan & pelatihan, penelitian & pengembangan
di bidang farmasi.
Memfasilitasi dan mendorong tersusunnya standar pengobatan dan
formularium RS.

Adapun tugas seorang apoteker dirumah sakit adalah melaksanakan


kegiatan kefarmasian seperti mengawasi pembuatan, pengadaan, pendistribusian
obat/ perbekalan farmasi serta berperan dalam program pendidikan dan penelitian,
pembinaan kesehatan masyarakat melalui pemantauan keamanan, efektifitas,
efisiensi biaya dan ketepatan penggunaan obat oleh pasien. Dengan demikian
apoteker di rumah sakit dapat membantu tercapainya suatu pengobatan yang aman
dan rasional yang berorientasi pada pasien dan bukan hanya berorientasi pada
produk (Siregar, 2004).

4
B. PEMBAHASAN

Dalam era perdagangan bebas, setiap perusahaan termasuk rumah sakit


menghadapi persaingan ketat. Meningkatnya intensitas persaingan dan jumlah
pesaing juga menuntut manajemen rumah sakit terutama instalasi farmasi untuk
selalu memperhatikan kebutuhan dan keinginan pasien serta berusaha memenuhi
apa yang mereka harapkan dengan cara yang lebih memuaskan daripada yang
dilakukan pesaing. Perhatian tidak terbatas pada produk atau jasa yang dihasilkan
saja, tetapi juga pada aspek proses, sumber daya manusia, dan lingkungan.

Dengan diberlakukannya ASEAN Free Trade Area (AFTA) atau


perdagangan bebas, berdampak negatif bagi instalasi farmasi rumah sakit (IFRS)
sebagai unit bisnis satu-satunya pelayanan kefarmasian di rumah sakit sehingga
banyak rumah sakit baik rumah sakit swasta maupun pemerintah di Indonesia
terancam gulung tikar khususnya bagi rumah sakit yang tidak mampu bersaing.
Hal ini disebabkan karena instalasi farmasi merupakan salah satu revenue center
utama mengingat lebih dari 90% pelayanan kesehatan di rumah sakit
menggunakan perbekalan farmasi (obat-obatan, bahan kimia, bahan radiologi, alat
kesehatan, alat kedokteran, dan gas medik) dan 50% dari seluruh pemasukan
rumah sakit berasal dari pengelolaan perbekalan farmasi. Artinya disamping
luasnya peran instalasi farmasi dalam kelancaran pelayanan kesehatan dan
instalasi farmasi juga memberikan sumber pemasukan terbesar di rumah sakit.
Sudah dapat diprediksi bahwa pendapatan rumah sakit akan mengalami
penurunan jika masalah perbekalan farmasi tidak dikelola secara cermat serta
penuh tanggung jawab (Melva A.V.S, 2009).

Era globalisasi ini investasi asing mulai masuk ke Indonesia, mereka


mendirikan rumah sakit, pabrik obat, dan jasa lainnya dengan sistem yang mereka
punya, mereka bisa menguasai pasar. Sementara di Indonesia mengandalkan
BPJS, karena saat ini tarif BPJS tidak bisa menutupi biaya operasional. Selain itu
BPJS Kesehatan sebagai wadah masyarakat Indonesia mendapatkan kemudahan
dalam pelayanan kesehatan belum sepenuhnya terjalankan. Hal itu mengingat

5
anggaran BPJS hanya lima persen, sedangkan di negara lain enam hingga delapan
persen. Akibatnya pelayanan kesehatan pada negara tersebut lebih murah
dibandingkan Indonesia sendiri, sehingga masyarakat lebih banyak memilih
pelayanan kesehatan di negara orang dibandingkan negara sendiri.

Agar bisa bersaing ke depannya, maka rumah sakit terutama bagi instalasi
farmasi (IFRS) sebagai unit bisnis satu-satunya penyedia pelayanan farmasi di
rumah sakit dituntut mempunyai rumusan/managemen strategi yang tepat untuk
meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian, salah satunya menyiapkan
managemen obat di rumah sakit.

Manajemen obat di rumah sakit merupakan salah satu aspek penting dari
rumah sakit. Ketidakefisienan akan memberikan dampak negatif terhadap biaya
operasional bagi rumah sakit, karena bahan logistik obat merupakan salah satu
tempat kebocoran anggaran. Untuk itu manajemen obat dapat dipakai sebagai
proses penggerak dan pemberdayaan semua sumber daya yang dimiliki untuk
dimanfaatkan dalam rangka mewujudkan ketersediaan obat setiap dibutuhkan agar
operasional efektif dan efisien (Lilihata, 2011).

Rumah Sakit harus menyusun kebijakan terkait manajemen pengunaan


Obat yang efektif. Kebijakan tersebut harus ditinjau ulang sekurang-kurangnya
sekali setahun. Peninjauan ulang sangat membantu Rumah Sakit memahami
kebutuhan dan prioritas dari perbaikan sistem mutu dan keselamatan penggunaan
Obat yang berkelanjutan. Rumah Sakit perlu mengembangkan kebijakan
pengelolaan Obat untuk meningkatkan keamanan, khususnya Obat yang perlu
diwaspadai (high-alert medication). High-alert medication adalah Obat yang
harus diwaspadai karena sering menyebabkan terjadi kesalahan/kesalahan serius
(sentinel event) dan Obat yang berisiko tinggi menyebabkan Reaksi Obat yang
Tidak Diinginkan (ROTD) (Anonim, 2014).

Apoteker bertanggung dalam kegiatan manajerial/ managemen obat di


instalasi farmasi rumah sakit yang akan menjamin, memastikan kualitas, manfaat,
dan keamanannya. Pengelolaannya harus dilaksanakan secara multidisiplin,

6
terkoordinir, dan menggunakan proses yang efektif untuk menjamin kendali mutu
dan biaya. Untuk mengemban tanggung jawab tersebut apoteker yang diinginkan
adalah apoteker yang berkompeten, sehingga mampu bersaing menghadapi
perdagangan bebas ASEAN. Menurut PerMenKes No.58 tahun 2014 pasal 6 ayat
2, untuk dapat melaksanakan pengawasan dan pengendalian terhadap pelayanan
obat-obatan di rumah sakit , maka pelayanan obat-obatan di instalasi farmasi
rumah sakit harus memberlakukan kebijakan sistem satu pintu.

Sistem satu pintu adalah bahwa rumah sakit hanya memiliki satu kebijakan
kefarmasian termasuk pembuatan formularium, pengadaan, dan pendistribusian
alat kesehatan, sediaan farmasi, dan bahan habis pakai yang bertujuan untuk
mengutamakan kepentingan pasien melalui instalasi farmasi rumah sakit. Dengan
demikian semua perbekalan farmasi yang beredar di rumah sakit merupakan
tanggung jawab mutlak instalasi farmasi rumah sakit sehingga tidak dibenarkan
adanya pengelolaan perbekalan farmasi di rumah sakit yang dilaksanakan selain
oleh instalasi farmasi rumah sakit (Anonim, 2014).

Istilah satu pintu berarti satu kebijakan (Formularium RS, tata laksana
obat, harga jual obat sergam, dan menentukan distributor yang tepat), satu SOP,
satu pengawasan operasional, dan satu sistem informasi. Tujuannya untuk
menghindari resep keluar dengan outlet apotik di tiap lantai, jemput resep,
fasilitas antar untuk jarak tertentu, dan kerja sama dengan poli rawat jalan,
sehingga dapat meningkatkan pendapatan rumah sakit.

Dengan kebijakan pengelolaan sistem satu pintu, unit distribusi Instalasi


Farmasi Rumah Sakit (Apotik Rumah Sakit) secara bertahap harus difungsikan
sepenuhnya sebagai satu-satunya apotik rumah sakit yang berkewajiban
melaksanakan Pelayanan Kefarmasian, sehingga Rumah Sakit akan
mendapatkan manfaat dalam hal: (Anonim, 2014)
a) pelaksanaan pengawasan dan pengendalian penggunaan Sediaan
Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai;

7
b) standarisasi Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai;
c) penjaminan mutu Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
Medis Habis Pakai;
d) pengendalian harga Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai;
e) pemantauan terapi Obat;
f) penurunan risiko kesalahan terkait penggunaan Sediaan Farmasi,
Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai (keselamatan
pasien);
g) kemudahan akses data Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai yang akurat;
h) peningkatan mutu pelayanan Rumah Sakit dan citra Rumah Sakit;
i) peningkatan pendapatan Rumah Sakit dan peningkatan
kesejahteraan pegawai.

Masalah yang sering terjadi pada managemen pengelolaan obat di Instalasi


Farmasi Rumah Sakit yang harus diperhatikan dan solusi/hal yang perlu dilakukan
oleh rumah sakit terutama instalasi farmasi rumah sakit (IFRS) agar mampu
bersaing menghadapi peradagangan bebas ASEAN: (Wirdah dkk., 2013)
Tabel 1. Masalah dan solusi managemen pengelolaan obat di IFRS
Tahapan Masalah Solusi
A. Seleksi Tidak semua Rumah Sakit memiliki Membentuk PFT dan menyusun
formularium formularium rumah sakit dan fungsi
PFT di dalam memilih obat yang
memenuhi standar efficacy,
safety,sebagai kriteria dalam seleksi
obat
B. Perencanaan Sisa persediaan dan dana pengadaan Menggunakan data sisa persediaan
periode lalu seringkali tidak dan data penggunaan periode lalu
dijadikan sebagai dasar perencanaan sebagai dasar perencanaan
Pola prevalensi penyakit yang selalu Menggunakan 10 penyakit teratas
berubah di dalam proses seleksi dan
perencanaan.
Presentase perencanaan dengan Melakukan perencanaan obat
kenyataan masih berkisar 72,73% dengan selektif yang mengacu pada

8
prinsip efektif, aman, ekonomis dan
rasional dan diadakan koreksi
dengan metode ABC-VEN.
C. Pengadaan Alokasi dana pengadaan yang telah Perlu adanya pengusulan kenaikan
ditetapkan oleh pemerintah masih anggaran pengadaan obat kepada
sangat kurang. Pemerintah supaya ketersediaan
obat dapat terpenuhi.
Proses pengadaan tidak dilakukan Memberikan masukkan berbasis
oleh instalasi farmasi tetapi data kepada pemerintah untuk
penunjukkan panitia pengadaan oleh melibatkan IFRS dalam proses
pemerintah pengadaan sehingga proses
pengelolaan obat menjadi bagian
integral dan obat akan menjadi
produk teraupetik dan bukan barang
(komoditas bisnis).
Perlu dilakukan pengadaan langsung Harus memilih supplier secara
secara berkala sehingga ketersediaan selektif (pabrikan, distributor) yang
obat dapat terjamin. memenuhi aspek mutu produk yang
terjamin, aspek legal dan harga
murah.
Sering terlambatnya barang datang Melakukan koordinasi rutin kepada
dan terjadi kekosongan obat supplier/ distributor dan kerjasama
dengan beberapa apotek di luar RS
dalam penyediaan obat-obatan cito.
Prosedur tetap dan waktu pengadaan Menetapkan SOP dan waktu
obat melalui pembelian langsung pengadaan obat melalui pembelian
belum berjalan secara langsung.
konsiten.
D. Penyimpanan Rendahnya nilai ITOR yang Mengendalikan jumlah persediaan,
menyebabkan menumpuknya stock menyediakan data persediaan dan
obat. dukungan SIM berbasis IT
Masih besarnya persentase obat Pendataan obat-obatan yang
kadaluwarsa. mendekati tanggal kadaluwarsa.
Masih kurangnya tenaga terlatih di Mengadakan/mengikutsertakan
dalam pengelolaan inventory. tenaga instalasi farmasi di dalam
kegiatan pelatihan mengenai
inventory control Management
Belum terintegrasinya SOP tentang Melaksanakan kebijakan farmasi
perbekalan farmasi sehingga belum satu pintu serta mengusulkan
dapat dicapai monitoring dan kepada pihak manajemen rumah
evaluasi atas pelaksanaan kegiatan sakit agar mengintegrasikan SOP
penerimaan tentang perbekalan farmasi.
Masih adanya item obat yang tidak Pemantauan dan pengawasan
digunakan selama 3 bulan berturut- terhadap stock setiap bulan agar
turut dapat diketahui adanya obat yang
merupakan stock mati.

9
E. Distribusi Pengendalian sistem distribusi Mengembangkan SOP distribusi
perbekalan farmasi yang belum perbekalan farmasi selain itu perlu
berfungsi secara optimal adanya penggunaan SIM dalam
mengawasi dan mengendalikan
distribusi perbekalan farmasi
sehingga dapat berjalan optimal.
Belum dilakukannya evaluasi dan Membentuk PFT dan
monitoring secara berkala terhadap memberdayakannya dalam rangka
sistem distribusi obat. evaluasi dan monitoring terhadap
pengelolaan obat
Masih rendahnya tingkat Mengevaluasi dan melakukan
ketersediaan obat sistem perencanaan dan pengadaan
obat dengan selektif disesuaikan
dengan kebutuhan rumah sakit serta
mengacu pada prinsip efektif,
aman, ekonomis dan rasional.
F. Penggunaan Masih besarnya item obat per lembar Peran PIO dalam memberikan
resep informasi obat sehingga peresepan
obat lebih rasional, efektif dan
efisien
Belum dilakukan monitoring dan Memberdayakan PFT dalam rangka
evaluasi secara berkala terhadap evaluasi dan monitoring terhadap
penggunaan obat penggunaan obat

Masih banyaknya item obat yang Perlu adanya SIM di dalam


tidak terlayani di unit pelayanan mengawasi dan menjamin kualitas
farmasi (apotek) obat dari kondisi stock sehingga
terhindar dari kerusakan,
kehilangan, kekurangan dan
kelebihan.

10
C. KESIMPULAN
Untuk mampu bersaing dalam perdagangan bebas ASEAN, IFRS harus
memiliki strategi managemen terutama menagemen pengelolaan sediaan farmasi
(mulai dari perencanaan, seleksi, pengadaan, dstribusi hingga penggunaan).
Ketidakefisienan akan memberikan dampak negatif terhadap biaya operasional
bagi rumah sakit, karena bahan logistik obat merupakan salah satu tempat
kebocoran anggaran. Perencanaan Perbekalan Farmasi dilakukan dengan
pemilihan prioritas jenis, jumlah, dan harga perbekalan farmasi disesuaikan
dengan kebutuhan dan anggaran untuk menghindari kekosongan obat, serta
dilakukan dengan metode konsumsi sesuai anggaran yang tersedia. Pedoman yang
digunakan dalam perencanaan: (Anonim, 2014)
DOEN, Formularium Rumah Sakit, Standar Terapi Rumah Sakit
Data catatan medik
Anggaran yang tersedia
Data pemakaian periode lalu
Penetapan prioritas
Siklus penyakit
Sisa persediaan
Waktu tunggu pemesanan
Rencana pengembangan

Hal-hal yang harus dilakukan oleh IFRS menghadapi pasar bebas ASEAN:
Managemen pengelolaan obat yang tepat
Melakukan perencanaan pengadaan sediaan farmasi sesuai anggaran
dengan menggunakan metode konsumsi, morbiditas, penyesuaian
konsumsi, atau metode proyeksi tingkat pelayanan dari keperluan
anggaran
Menentukan metode pengadaan yang cocok apakah itu tender, pemilihan
langsung, penunjukkan langsung, atau swakelola.

11
Membentuk PFT untuk menyusun formularium dan fungsi PFT didalam
memilih obat yang memenuhi standar efficacy, safety serta berbagai
kriteria dalam seleksi obat.
Perlu adanya pengusulan kenaikan anggaran pengadaan obat kepada
pemerintah
Perlu adanya SIM di dalam mengawasi dan menjamin kualitas obat dan
kondisi stock sehingga terhindar dari kerusakan, kehilangan, kekurangan
dan kelebihan.
Melakukan perencanaan obat dengan selektif yang mengacu pada prinsip
efektif, aman, ekonomis dan rasional dan diadakan koreksi dengan metode
ABC-VEN.
Mengadakan/mengikutsertakan tenaga instalasi farmasi di dalam kegiatan
pelatihan mengenai inventory control management.
Mengoptimalkan sistem penerapan satu pintu disertai dengan sarana dan
prasarana serta SDM yang menunjang serta mengevaluasi dan melakukan
sistem perencanaan dan pengadaan obat dengan selektif disesuaikan
dengan kebutuhan rumah sakit serta mengacu pada prinsip efektif, aman,
ekonomis dan rasional.
Melakukan koordinasi rutin kepada supplier atau distributor dan
bekerjasama dengan beberapa apotek di luar RS di dalam penyediaan obat-
obatan cito.
Memberdayakan PFT dalam rangka evaluasi dan monitoring terhadap
penggunaan obat di RS
Harus memilih supplier secara Harus memilih supplier secara selektif
(pabrikan, distributor) yang memenuhi aspek mutu produk yang terjamin,
aspek legal dan harga murah.
Pemantauan dan pengawasan terhadap stock setiap bulan agar dapat
diketahui adanya obat yang merupakan stock mati.
Peran PIO dalam memberikan informasi obat sehingga peresepan obat
lebih rasional, efektif dan efisien.

12
Daftar Pustaka

Anonim. 2014. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 58 Tahun


2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit.
http://binfar.kemkes.go.id.

Anna U.R. 2008. Dampak Pasar Bebas ASEAN Terhadap Praktek Kardiologi di
Negara-Negara ASEAN. J Kardiol Ind: 29:1-4.

Lilihata R.N. 2011. Analisis Manajemen Obat di Instalasi Farmasi Rumah Sakit
Umum Daerah Masohi Kabupaten Maluku Tengah. (Tesis). Yogjakarta :
Fakultas Farmasi. Universitas Gadjah Mada

Melva, A.V.S. 2009. Pengaruh Mutu Pelayanan Terhadap Pemanfaatan Instalasi


Farmasi Runah Sakit Umum Daerah (IFRSUD) Pandan Tahun 2008.
(Tesis). Medan: USU.

Siregar, C.J.P. 2004. Farmasi Rumah Sakit Teori dan Penerapan. Jakarta: EGC.

Wirdah W.R., A.Fudholi, & G.Pamudji.2013. Evaluasi Pengelolaan Obat Dan


Strategi Perbaikan dengan Metode Hanlon Di Instalasi Farmasi Rumah
Sakit Umum Daerah Karel Sadsuitubun Kabupaten Maluku Tenggara Tahun
2012. Prosiding Seminar Nasional Perkembangan Terkini Sains Farmasi
dan Klinik III.

13