Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Allah Swt, menciptakan manusia berpasang-pasangan antara laki-laki dan

perempuan. Penciptaan ini bertujuan agar mereka saling menjalin hubungan

antara yang satu dengan yang lain, saling mencintai, menghasilkan keturunan,

hingga terciptanya perasaan kasih dan sayang di dalam berumah tangga.

Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Rum ayat 21:








Artinya:
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu
isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa
tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
bagi kaum yang berfikir. (QS. al-Rum [30]: 21).1

Pernikahan itu bukan saja merupakan satu jalan yang amat mulia untuk

mengatur kehidupan rumah tangga dan keturunan, tetapi juga dapat dipandang

sebagai satu jalan menuju pintu perkenalan antara satu kaum dengan kaum yang

lain, dan perkenalan itu akan menjadi jalan untuk menyampaikan pertolongan

antara satu dengan yang lainnya.2

1
Departemen Agama RI, al-Quran dan Terjemahnya, (Semarang: CV. Toha Putra,1995),
hal. 644.
2
Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2005), hal. 374.

1
2

Adapun tujuan dari pernikahan menurut agama Islam adalah untuk

memenuhi petunjuk agama dalam rangka mendirikan keluarga yang harmonis,

sejahtera dan bahagia. Harmonis dalam menggunakan hak dan kewajiban anggota

keluarga, sedangkan sejahtera artinya terciptanya ketenangan lahir batin yang

disebabkan terpenuhinya kebutuhan hidup lahir dan batin, sehingga timbul

kebahagiaan yakni kasih sayang antar anggota keluarga.3

Pernikahan merupakan salah satu peristiwa yang sangat penting dalam

kehidupan masyarakat kita. Pernikahan juga merupakan pertemuan yang teratur

antara pria dan wanita untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tertentu, baik

bersifat biologis, maupun psikologis, sosial ekonomi maupun budaya bagi

masing-masing.

Adapun tujuan pernikahan, di antaranya; pertama, adalah menjaga manusia

dari penyelewengan melakukan sesuatu yang tidak diinginkan atau yang

merugikan diri pribadi atau masyarakat seperti perzinaan. Kedua, tujuan

pernikahan untuk melestarikan keturunan dan mengabdikan eksistensi manusia di

atas permukaan bumi. Ketiga, untuk memberi arti bagi setiap jenis, bahwa ia

adalah pasangan bagi jenis lawannya. Hal ini dibuktikan dengan ciptaan Allah

bagi Hawa dan Adam dihadirkan di dalam dunia.4

Demikianlah maksud pernikahan yang sejati dalam Islam. selain untuk

kemaslahatan dalam rumah tangga dan keturunan, juga untuk kemaslahatan

masyarakat.

3
Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama, Ilmu
Fiqh, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1994), hal. 62.
4
Sayuti Thalib, Hukum Kekeluargaan Indonesia, (Jakarta: UI Press, 1974), hal. 49.
3

Dalam pernikahan tentu saja dipandang kurang sempurna apabila

dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi tanpa sebuah perayaan. Pernikahan yang

dilaksanakan tanpa sebuah perayaan akan menimbulkan konsekuensi tersendiri

dalam kehidupan bermasyarakat sebagai makhluk sosial. Konsekuensi itu sendiri

adalah timbulnya suatu fitnah bagi pasangan suami istri yang telah

melangsungkan pernikahan. Pernikahan tersebut dipandang sah menurut hukum

Islam, akan tetapi belum mendapat legal menurut pandangan masyarakat.

Sebuah pernikahan perlu adanya suatu walimah, yaitu perayaan yang

menyertai adanya pernikahan untuk terjadinya akad nikah antara kedua mempelai

kepada masyarakat. Walimah itu penting karena dengan prinsip pokok pernikahan

dalam Islam yang harus diresmikan sehingga diketahui secara umum oleh

masyarakat.

Pelaksanaan pernikahan tidak bisa lepas dari pelaksanaan walimah al-ursy

yang dilaksanakan pada saat akad nikah atau sesudahnya bahkan setelah

berkumpulnya suami istri, dengan menyuguhkan makanan dan mengundang

tetangga dan sanak saudara, yang bertujuan untuk memberitahukan kepada

masyarakat tentang adanya pernikahan antara seorang pria dan seorang wanita

sehingga terhindar dari pernikahan sirri sebagai tanda rasa syukur kepada Allah

Swt serta untuk menampakkan kegembiraan dan untuk menyambut kedua

mempelai. Nabi bersabda:

:


4


5
.
Artinya:
Anas menceritakan, bahwa Rasulullah Saw melihat bekas kuning pada diri
Abdurrahman bin Auf, maka Nabi Saw bertanya: Apa ini? Dia
menjawab: Saya telah menikah dengan seorang perempuan dengan mahar
emas sebesar biji kurma. Nabi Saw bersabda: Semoga Allah Swt
memberkatimu, dan adakanlah walimah al-ursy walaupun hanya dengan
seekor kambing. (HR. Al-Nasai).

Resepsi pernikahan atau dalam istilah Arab dikenal dengan walimah al-

ursy adalah sebagai rasa sukur terhadap Tuhan yang telah mempersatukan dua

makhluk yang saling mencintai dan telah mengikrarkan janji untuk saling menjaga

satu sama lain. Resepsi pernikahan juga dapat dikatakan sebuah pengumuman

bahwasanya si A dan B telah melakukan pernikahan. Dikatakan pengumuman

karena orang yang hadir pada resepsi tersebut akan mengetahui bahwa si A dan B

telah menikah.

Jumhur ulama berpendapat bahwa hukum pelaksanaan walimah al-ursy

adalah sunnah, bukan merupakan kewajiban, karena disuguhkannya makanan

dalam walimah al-ursy adalah karena adanya peristiwa menggembirakan yaitu

adanya pernikahan, maka hukumnya diserupakan dengan pelaksanaan walimah-

walimah yang lain yang juga dilaksanakan karena adanya peristiwa

menggembirakan yaitu menunjukkan kepada hukum sunnah.6

Sedangkan Ibnu Hazm berpendapat lain, yaitu hukum mengadakan walimah

al-ursy adalah wajib, hal ini disebutkan dalam kitab al-Muhalla sebagai berikut:

5
Ahmad bin Syaib Abu Abdirrahman al-Nasai, Sunan al-Nasai, (Beirut: Dar al-Kutub
al-Ilmiyyah, 1411H/ 1991 M), juz. 2, hal. 312.
6
Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin Habib al-Mawardi, al-Hawi al-Kabir, (Beirut: Dar
al-Kutub al-Ilmiyyah, 1407 H/ 1987 M), juz. 9, hal. 556.
5

7
.

7
Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Said bin Hazm, al-Muhalla, (Kairo: Thibaah al-
Muniriyyah, 1404 H/ 1984 M). juz. 9, hal. 450.
6

Artinya:
Diwajibkan atas tiap-tiap orang yang menikah untuk melaksanakan walimah
al-ursy dengan sesuatu baik sedikit atau banyak.

Melihat konteks masyarakat Indonesia saat ini, pelaksanaan walimah al-

ursy merupakan acara yang tidak bisa dipisahkan dalam acara pernikahan, yang

dilaksanakan sebelum akad nikah atau sesudahnya atau bahkan setelah

berkumpulnya suamu istri. Di samping sudah menjadi kebiasaan dalam

masyarakat, walimah al-ursy ini merupakan ungkapan kegembiraan dengan

mengundang sanak saudara dan para tetangga. Hal ini dimaksudkan untuk

memberi penegasan kepada masyarakat secara umum dan untuk menghindari

kecurigaan yang berlebihan atas pernikahan tersebut.

Berangkat dari pemikiran Ibnu Hazm dan melihat konteks masyarakat

Indonesia saat ini, maka hukum pelaksanaan walimah al-ursy sangat menarik

untuk dibahas. Sehingga diharapkan dari pembahasan ini mendapat pemecahan

dari problem-problem yang sering timbul dalam masyarakat yang selalu menuntut

adanya kepastian hukum Atas dasar ini, maka penulis tertarik meneliti pendapat

Ibnu Hazm tentang bentuk suap yang diperbolehkan dan menuangkannya dalam

bentuk tesis dengan judul: ANALISIS PEMIKIRAN IBNU HAZM TENTANG

HUKUM PELAKSANAAN WALIMAH AL-URUSY DAN

RELEVANSINYA DENGAN KONTEKS MASYARAKAT INDONESIA.

B. Permasalahan

1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan pemaparan latar belakang masalah di atas, dan dari judul

yang telah ditetapkan, maka akan muncul beberapa permasalahan yang


7

membutuhkan jawaban. Permasalahan-permasalahan tersebut antara lain

adalah:

a. Bagaimana pandang ulama empat mazhab terhadap walimah al-ursy?

b. Apakah hikmah dan filosofi diselenggarakannya walimah al-ursy?

c. Bagaimana persepsi masyarakat Indonesia secara umum mengenai

penyelenggaraan walimah al-ursy?

d. Apa hukum menghadiri acara walimah al-ursy?

e. Bagaimana pandangan Ibnu Hazm terhadap walimah al-ursy?

2. Batasan Masalah

Dari sekian banyak permasalahan yang muncul dari judul di atas, maka

untuk lebih terarahnya penelitian ini, penulis membatasinya dengan pemikiran

Ibnu Hazm tentang wajibnya penyelenggaraan walimah al-ursy.

3. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah di atas, maka permasalahan yang akan

dicarikan jawabannya dalam penelitian ini adalah:

a. Bagaimana pendapat Ibnu Hazm tentang penyelenggaraan walimah al-

ursy dan metode istinbath hukumnya?

b. Bagaimana relevansi pemikiran Ibnu Hazm tentang penyelenggaraan

walimah al-ursy dengan konteks keindonesiaan?


8

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui pendapat Ibnu Hazm tentang penyelenggaraan walimah

al-ursy dan metode istinbath hukumnya.

2. Untuk mengetahui relevansi pemikiran Ibnu Hazm tentang penyelenggaraan

walimah al-ursy dengan konteksk eindonesiaan.

Sedangkan kegunaan penelitian ini adalah:

1. Sebagai khazanah keilmuan dan tambahan literatur di bidang fiqih, terutama

yang bekaitan dengan pemikiran Ibnu Hazm sebagai tokoh zhahiriyah dan

kajian tentang hukum pelaksanaan walimah al-ursy.

2. Sebagai bahan pertimbangan untuk penelitian selanjutnya.

3. Sebagai salah satu syarat guna mendapatkan gelar magister di bidang

Hukum Islam pada Program Pascasarjana UIN Sultan Syarif Kasim Riau.

D. Penegasan Istilah

1. Walimah al-Ursy

Walimah arti harfiahnya adalah berkumpul, karena pada waktu itu

berkumpul suami-isteri. Dalam istilah khusus, walimah yaitu tentang makan

dalam acara perkawinan. Dalam kamus hukum, walimah juga adalah makanaan

pesta pengantin atau setiap makanan untuk undangan dan lain sebagainya.8

Kata walimah berasal dari al-walam yang mempunyai arti al-

8
Abdul Ghalib Ahmad Isa, Pernikahan Islami, (Solo: CV. Pustaka Mantiq, 1999), hal. 32-
33.
9

jam'u (berkumpul), karena setelah prosesi ijab-qabul dalam akad nikah

keduanya bisa berkumpul. Ada juga yang mengartikan al-walim itu

makanan pengantin, yang maksudnya adalah makanan yang disediakan

khusus dalam acara pesta pernikahan. Bisa juga diartikan dengan makanan

untuk tamu undangan atau lainnya.9 Ibnu Katsir mengemukakan bahwa

walimah adalah makanan yang dibuat untuk pesta pernikahan.10 Sedangkan

menurut Ibn al-Arabi, bahwa kata walimah mengandung makna sempurna

dan bersatunya sesuatu.11 Sebagai istilah, walimah biasanya digunakan untuk

menyebut perayaan tasyakur atas terjadinya peristiwa yang menggembirakan.

Namun istilah ini mengalami penyempitan makna, digunakan sebagai istilah

untuk perayaan syukuran atas terselenggaranya pernikahan, atau yang lazim

juga kita kenal dengan istilah resepsi pernikahan.

2. Ibnu Hazm

Nama lengkapnya adalah Abu Muhammad Ali ibn Ahmad ibn Said Ibnu

Hazm ibn Galib ibn Shalih ibn Khalaf ibn Madan ibn Sufyan ibn Yazid ibn

Abi Sufyan ibn Harb ibn Umayyah ibn Abd Syams al-Umawi, yang lebih

dikenal dengan sebutan Ibnu Hazm al-Zhahiri ini lahir pada suatu subuh di

akhir bulan di Cordova pada Rabu, 30 Ramadhan 384 H/ 7 November 994 M.12

9
Hasan Shadily, Eksiklopedi Hukum Islam, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1996), vol. 7,
hal. 117.
10
Abu al-Fida Imaduddin Ismail bin Umar bin Katsir, al-Nihayah, (Beirut: Dar al-Fikr,
1407 H/ 1987 M), juz. 2, hal. 219.
11
Abu Bakar ibn al-Arabi, Ahkam al-Quran, (Beirut: Dar al-Fikr, 1409 H/ 1989 M), juz.
5, hal. 226.
12
Muhammad Abu Zahra, Ibn Hazm Hayatuh wa Atsaruhu wa Arauh wa Fiqihuh, (Kairo:
Dar al-Fikr al-Arabi, 1409 H/ 1989 M), hal. 542.
10

Dalam ranah fiqih ia penganut Mazhab Zhahiri. Sebelum memilih untuk

menganut Mazhab Zhahiri, beliau adalah seorang pengikut mazhab Maliki,

sebab mazhab ini adalah mazhab resmi yang dipakai di Andalusia dan Afrika

Utara saat itu. Ketika masih mengikuti mazhab ini kecendrungan untuk tidak

terbelenggu dengan ikatan mazhab sesungguhnya sudah ada pada dirinya,

sehingga wajar di kemudian hari ia memutuskan keluar dari Mazhab Maliki

dan pindah ke Mazhab Syafii. Faktor yang membuatnya tertarik dan

terkagum-kagum pada mazhab ini adalah keberpihakan dan penguasaan Syafii

terhadap nash, penolakan terhadap konsep istihsan dan mashlahah mursalah.13

Hanya bertahan beberapa saat di Mazhab Syafii ia memutuskan untuk

hengkang. Ia merasa tidak puas karena mazhab ini masih menggunakan qiyas

yang merupakan instrumen dari ijtihad bi al-rayi yang sangat ia kecam. Ia

akhirnya memutuskan menarik diri dari Mazhab Syafii dan memilih Mazhab

Zhahiri yang didirikan oleh Abu Daud (w. 883 M/ 270 H) dari Ashfahan (340

Km di Selatan Teheran Ibu kota Iran). Alasan utama ia memilih mazhab ini

adalah kesamaan platform dalam berijtihad.14

Ajaran pokok Mazhab Zhahiri bertumpu pada dua hal; pertama, bahwa

pemahaman terhadap nash harus berdasarkan pada makna yang zhahir saja. Al-

Quran dan sunnah menurut Mazhab Zhahiri mampu menjelaskan maknanya

sendiri, di mana zhahir lafaz langsung menunjukkan makna yang diinginkan

oleh Allah, tanpa perlu proses penggalian makna di belakang teks. Kedua,

dalam masalah yang tidak ditemukan jawabannya dari nash secara eksplisit,

13
Ibid, hal. 542.
14
Ibid, hal. 543-544.
11

Mazhab Zhahiri menggunakan konsep yang mereka sebut dengan dalil, yaitu

ber-istidlal dengan bersandarkan pada zhahir teks pula.

E. Tinjauan Pustaka Terdahulu

Berdasarkan penelusuran penulis tentang penelitian-penelitian yang telah

dilakukan dan ada keterkaitannya dengan pemikiran Ibnu Hazm atau berhubungan

dengan kajian tentang suap atau korupsi, penulis menemukan beberapa penelitian

sebagai berikut:

1. Istishab menurut Pemikiran Hukum Ibnu Hazm al-Zhahiri, oleh Rahman

Alwi, tesis Program Studi Hukum Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,

tahun 2004. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemikiran Ibnu

Hazm tentang istishab setelah salah satu instrumen istinbath hukum.

2. Masturbasi; Hukum dan Pengaruhnya terhadap Ibadah Puasa Menurut

Perspektif Imam Syafii dan Ibn Hazm, oleh Azli, tesis Program Studi

Hukum Islam, UIN Sultan Syarif Kasim Riau, tahun 2011. Penelitian ini

merupakan penelitian komparatif antara pemikiran Imam Syafii dan Ibnu

Hazm tentang masturbasi.

3. Larangan bagi Perempuan Haidh menurut Ibnu Hazm dalam Tinjauan

Maqashid al-Syariah dan Relevansinya dengan Kemajuan Ilmu

Pengetahuan, oleh Syahmihartis, tesis Program Studi Hukum Islam, UIN

Sultan Syarif Kasim Riau, tahun 2011. Penelitian ini bertujuan untuk

melihat relevansi pemikiran Ibnu Hazm tentang larangan bagi perempuan

haidh dengan kehidupan modern.


12

4. Kedudukan Saksi Perempuan dalam Perbuatan Zina (Analisa Komparatif

Pemikiran Imam Syafii dan Ibn Hazm), oleh Yuli Susanti, tesis Program

Studi Hukum Islam, UIN Sultan Syarif Kasim Riau, tahun 2011. Penelitian

ini merupakan kajian komparatif antara pemikiran Imam Syafii dengan

Ibnu Hazm tentang kedudukan saksi perempuan, khususnya dalam

perbuatan zina.

5. Kompetensi Rasio dalam Epistemologi Hukum Islam (Studi terhadap

Pemikiran Ibnu Hazm 994 H-1064 M), oleh Khairuddin, tesis Program

Studi Hukum Islam, UIN Sultan Syarif Kasim Riau, tahun 2004. Penelitian

ini merupakan kajian pemikiran Ushul Fiqih Ibnu Hazm yang lebih

difokuskan pada kedudukan akal dalam penetapan hukum.

6. Etika Politik; Telaah Konsepsi Ibnu Hazm tentang Imamah dalam Islam,

oleh Khoiruddin Siagian, Tesis Program Studi Hukum Islam, UIN Sultan

Syarif Kasim Riau, 2002. Penelitian ini merupakan kajian pemikiran Ibnu

Hazm tentang politik yang difokosukan pada etika dalam proses

pengangkatan dan pemilihan seorang pemimpin.

7. Adat Pernikahan Di Kota Pekalongan, oleh Moch. Lukluil Maknun, dimuat

di Jurnal Penelitian, vol. 10, No. 2, November 2013. Kesimpulan dari

penelitian ini adalah bahwa secara ringkas tahapan pernikahan yang ada di

Kota Pekalongan pada umumnya adalah; nakokke, sangsangan, nentokke

dino, pasrahan tukon, malem midodaren, walimah, aqad nikah, resepsi, dan

balik kloso. Adapun warna adat pernikahan di Kota Pekalongan yang

membedakan dengan adat Jawa pada umumnya adalah; (1) Adat


13

membolehkan pasangan calon pengantin berpacaran setelah tunangan; (2)

Pada H-1 dan H-0 resepsi, tidak banyak rangkaian upacara; (3) Kata

walimah di Kota Pekalongan lebih dimaksudkan pada pembacaan maulid

al-Barzanji menjelang aqad nikah; (4) Pada saat aqad nikah, kedua

pengantin tidak duduk bersanding; (5) Ada istilah bedhol gelung untuk

menyebut pesta resepsi yang diringkas diadakan di pihak laki-laki; (6) Ada

istilah balik kloso sisan tilik untuk menyebut kunjungan pihak keluarga

pengantin perempuan sembari membarikan sumbangan kepada pengantin

yang berada di rumah pihak laki-laki bersamaan pindahnya kedua

pengantin; (7) Ada istilah nunggak seme untuk menyebut laki-laki yang

menikahi saudara isteri setelah isteri meninggal; (8) Undangan terkait acara

pernikahan ada beberapa macam.15

8. Nikah Sirri Menurut Perspektif al-Quran, oleh Ali Akbar, dimuat di Jurnal

Ushuluddin Vol. XXII No. 2, Juli 2014. Kesimpulannya adalah: Nikah sirri

atau lazim juga disebut nikah bawah tangan dalam konteks masyarakat

Indonesia adalah pernikahan yang dilakukan oleh wali atau wakil wali dan

disaksikan oleh para saksi, tetapi tidak dilakukan di hadapan Petugas

Pencatat Nikah (PPN) sebagai aparat resmi pemerintah atau perkawinan

yang tidak dicatatkan di Kantor Urusan Agama (KUA), sehingga dengan

sendirinya tidak mempunyai Akta Nikah yang dikeluarkan oleh pejabat

yang berwenang. Terjadinya nikah sirri, antara lain disebabkan karena hamil

di luar nikah, faktor tekanan ekonomi, ingin melakukan poligami secara

15
Moch. Lukluil Maknun, Adat Pernikahan di Kota Pekalongan, Jurnal PenelitianVol.
10, No. 2, November 2013, hal. 294-312.
14

diam-diam karena takut terjerumus dalam pergaulan bebas, atau karena

ingin menghindar dari peraturan yang berlaku. Meskipun nikah tersebut

dinilai sah, namun Rasul menyuruh masyarakat yang menikah untuk

mengumumkan pernikahannya dengan walimah (kenduri/ syukuran), guna

untuk menghindari dari fitnah. Selain dapat menimbukkan dampak negatif,

nikah sirri dapat pula menimbulkan/dosa bagi pelakupelakunya, karena

melanggar ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah (ulul amri).

Sementara al-Quran memerintahkan setiap muslim untuk mentaati ulul

amri selama tidak bertentangan dengan hukum Allah. Dalam hal pencatatan

tersebut, ia bukan saja tidak bertentangan, tetapi justru sangat sejalan

dengan semangat al-Quran.16

Adapun distingsi atau perbedaan pembahasan penelitian yang akan penulis

lakukan dengan penelitian-penelitian sebelumnya adalah terletak pada objek

pemikiran dari tokoh sentral dalam penelitian ini, yaitu pemikiran Ibnu Hazm

tentang walimah al-usry dan relevansinya dengan konteks masyarakat Indonesia.

F. Kerangka Teori

1. Pengertian Walimah al-Ursy

Walimah ( )artinya al-jamu (berkumpul), sebab antara suami dan

istri berkumpul. Walimah ( )berasal dari kata Arab: yang berarti

makanan pengantin. Maksudnya adalah makanan yang disediakan khusus

16
Ali Akbar, Nikah Sirri Menurut Perspektif al-Quran, Jurnal Ushuluddin Vol. XXII
No. 2, Juli 2014, hal. 73.
15

dalam acara pesta perkawinan. Bisa juga diartikan sebagai makanan untuk

tamu undangan atau lainnya. Walimah diadakan ketika acara akad nikah

berlangsung, atau sesudahnya, atau ketika hari perkawinan (mencampuri

istrinya) atau sesudahnya. Bisa juga diadakan tergantung adat dan kebiasaan

yang berlaku dalam masyarakat.17

Ibnu Katsir dalam kitabnya al-Nihayah, mengemukakan bahwa:


Artinya:
Makanan yang dibuat untuk pesta perkawinan.18

2. Dasar Hukum Walimah al-Ursy

Jumhur ulama sepakat bahwa mengadakan walimah itu hukumnya

sunnah muakad. Hal ini didasarkan hadis Rasulullah Saw.


:

19
.) (

Artinya:
Dari Annas, ia berkata, Rasulullah Saw, mengadakan walimah dengan
seekor kambing untuk istri-istrinya dan untuk Zainab. (HR. Bukhari dan
Muslim).





20
.) (

Artinya:

17
Sohari Sahrin Tihami, Fikih Munakahat (Jakarta: Rajawali Pers, 2010) hal, 131.
18
Abu Bakar ibn al-Arabi, Ahkam al-Quran,Op. Cit, juz. 5, hal. 226.
19
Muhammad bin Ismail Abu Abdillah al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, (Beirut: Dar ibn
Katsir, 1407 H/ 1987 M), juz. 2, hal. 309. Lihat juga Abu al-Husein al-Hajjaj ibn Muslim al-
Qusyairi Muslim al-Nisaburi, Shahih al-Muslim, (Beirut: Dar al-Jil, 1404 H/ 1984 M), juz. 2, hal.
211.
20
Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, (Beirut: Dar al-Fikr, 1404 H/ 1984 M), juz. 2, hal.
211.
16

Dari Buraidah, ia berkata, Ketika Ali melamar Fatimah, Rasulullah Saw,


bersabda, Sesungguhnya untuk pesta perkawinan harus ada acara
walimah-nya. (HR. Ahmad)


:



21

.
Artinya:
Anas berkata, Rasulullah Saw, tidak pernah pengadakan walimah bagi
istri-istrinya, juga bagi Zainab. Beliau menyuruh aku, lalu aku
memanggil orang atas nama beliau. Kemudian beliau hidangkan kepada
mereka roti dan daging sampai mereka kenyang. (HR. Baihaqi).

Menurut jumhur ulama, beberapa hadis tersebut di atas menunjukkan

bahwa walimah itu boleh diadakan dengan makanan apa saja sesuai

kemampuan. Hal itu ditunjukkan oleh Nabi Saw, bahwa perbedaan-perbedaan

dalam mengadakan walimah oleh beliau bukan membedakan atau melebihkan

salah satu dari yang lain, tetapi semata-mata disesuaikan dengan keadaan

ketika sulit atau lapang.

3. Hukum Menghadiri Undangan Walimah

Untuk menunjukkan perhatian, memeriahkan, dan menggembirakan

orang yang mengundang, maka orang yang diundang walimah wajib

mendatanginya. Adapun wajibnya mendatangi undangan walimah, apabila (1)

tidak ada uzur syari, (2) tidak ada perbuatan munkar (3) yang diundang baik

dari kalangan orang kaya maupun miskin.22

21
Abu Bakar Ahmad bin al-Husaini bin Ali bin Abdillah al-Baihaqi, Sunan al-Shaghir li al-
Baihaqi, (Beirut: Dar al-Fikr, 1408 H/ 1988 M), juz. 2, hal. 407.
22
Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, (Beirut: Dar al-Fikr, 1409 H/ 1989 M), juz. 3, hal 207.
17

Dasar hukum wajibnya mendatangi undangan walimah adalah hadis Nabi

Saw, sebagai berikut:

:


23
) ( .
Artinya:
Dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Saw, telah bersabda, Jika salah
seorang di antaramu diundang ke-walimah, maka hendaklah ia datangi.
(HR. Bukhari).

:


24
( ) .
Artinya:
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw, telah bersabda, Barangsiapa
meninggalkan undangan, sesungguhnya ia telah durhaka kepada Allah
dan Rasul-Nya. (HR. Bukhari).

:


25
( ) .

Artinya:
Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Saw bersabda, Jika aku diundang untuk
makan kambing, niscaya saya datangi, dan jika aku dihadiahi kaki depan
kambing, niscaya aku terima. (HR. Bukhari).

Jika undangan itu bersifat umum, tidak tertuju kepada orang-orang

tertentu, maka tidak wajib mendatangi, tidak juga sunnah. Misalnya orang yang

mengundang berkata, Wahai orang banyak, datangilah walimah saya, tanpa

menyebut orang tertentu, atau dikatakan, Undanglah setiap orang yang kamu

temui.

23
Muhammad bin Ismail Abu Abdillah al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Op. Cit, juz. 2, hal.
311.
24
Ibid, hal. 312.
25
Ibid, hal. 313.
18

Nabi Muhammad Saw bersabda:


..
:
:


: , : ..
26
.) ( .
Artinya:
Anas berkata, Nabi Saw menikah lalu masuk bersama istrinya.
Kemudian ibuku membuat kue untuk Ummu Salamah, lalu
menempatkannya pada bejana. Lalu ia berkata, Wahai saudaraku,
bawalah ini kepada Rasulullah Saw, lalu aku bawa kepada beliau, lalu
beliau bersabda: Letakkanlah. Kemudian sabdanya lagi, Undanglah si
anu dan si anu, dan orang-orang yang kamu temui. Lalu saya undang
orang-orang yang disebutkan dan saya temui. (HR. Muslim).

Ada yang berpendapat bahwa hukum menghadiri undangan adalah wajib

kifayah. Ada juga yang berpendapat hukumnya sunnah. Adapun hukum

mendatangi undangan selain walimah, menurut jumhur ulama adalah sunnah

muakkad. Sebagian golongan Syafii berpendapat wajib. Akan tetapi, Ibnu

Hazm menyangkal bahwa pendapat ini dari jumhur sahabat dan tabiin, karena

hadis-hadis di atas memberikan pengertian tentang wajibnya menghadiri

undangan.

Secara rinci undangan itu wajib didatangi, apabila memenuhi syarat

sebagai berikut: (1) Pengundangannya mukallaf, merdeka dan berakal sehat.

(2) Undangannya tidak dikhususkan kepada orang-orang kaya saja, sedangkan

orang miskin tidak. (3) Undangan tidak ditujukan hanya kepada orang yang

disenangi dan dihormati. (4) Pengundangnya beragama Islam (pendapat yang

lebih sah). (5) Khusus pada hari pertama (pendapat yang lebih terkenal). (6)

26
Abu al-Husein al-Hajjaj ibn Muslim al-Qusyairi Muslim al-Nisaburi, Shahih al-Muslim,
Op. Cit, juz. 2, hal. 213.
19

Belum didahului oleh undangan lain. Kalau ada undangan lain, maka yang

pertama harus didahulukan. (7) Tidak ada kemungkaran dan hal-hal lain yang

menghalangi kehadirannya. (8) Yang diundang tidak ada uzur syari.27

4. Hikmah Walimah al-Ursy

Diadakannya walimah dalam pesta perkawinan mempunyai beberapa

hikmah, antara lain sebagai berikut: (1) Merupakan rasa syukur kepada Allah

Swt. (2) Tanda penyerahan anak gadis kepada suami dari kedua orang tuanya.

(3) Sebagai tanda resminya adanya akad nikah. (4) Sebagai tanda memulai

hidup baru bagi suami isteri. (5) Sebagai realisasi arti sosiologis dari akad

nikah.28

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa walimah adalah makanan

yang disuguhkan pada pesta perkawinan atau bisa disebut dengan resepsi

pernikahan. Hukumnya melaksanakan resepsi pernikahan menurut mayoritas

ulama adalah sunnah muakkad, namun menghadiri undangan walimah adalah

wajib selama syarat-syaratnya terpenuhi sesuai dengan apa yang telah

dijelaskan di atas.

27
Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, Op. Cit, juz. 3, hal 209.
28
Hasan al-Hamdani, Risalah Nikah, Terj. Agus Salim, (Jakarta: Anai, 1999), hal. 97.
20

G. Metode Penelitian

Penggunaan metode merupakan suatu keharusan mutlak dalam penelitian.

Di samping untuk mempermudah penelitian juga untuk menjadikan penelitian

lebih efektif dan rasional guna mencapai hasil penelitian yang lebih optimal.

Penelitian merupakan suatu cara pendekatan yang tepat untuk dapat memperoleh

data-data yang akurat, oleh karena diperlukan adanya metode penelitian yang

harus ada relevansinya antara komponen yang satu dengan komponen yang lain.29

1. Jenis Penelitian

Sebagai dasar penyusunan tesis ini, agar dapat tercapai apa yang

diharapkan, penulis mengadakan suatu penelitian untuk mendapatkan data dan

penjelasan-penjelasan tentang masalah tersebut di atas. Penelitian ini

menggunakan penelitian kepustakaan (library research), yaitu penelitian yang

menggunakan sumber bahan-bahan tertulis seperti manuskrip, buku, majalah,

surat kabar, dan dokumen lainnya.30

Penelitian ini bersifat kualitatif, di mana penyajian data tidak dilakukan

dengan numeric sebagaimana penyajian data secara kuantitatif. Secara

metodologis, tata cara mengungkapkan pemikiran seseorang ataupun

pandangan kelompok orang adalah dengan menggunakan penelitian secara

kualitatif.31

29
Sutrisno Hadi, Metodologi Research, (Yogyakarta: Andi Offset, 1990), hal. 9.
30
Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), hal.
125.
31
Noeng Muhadjir, Metode Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta: Rakesarasin, 1996), hal. 94.
21

2. Sumber Data

Data dalam penelitian ini dapat dikelompokkan kepada dua macam, yaitu

data primer dan data sekunder. Karena yang menjadi fokus dalam penelitian ini

adalah pemikiran Ibnu Hazm dalam persoalan fiqih, maka yang akan menjadi

data primer di dalam penelitian ini adalah karya Ibnu Hazm di dalam bidang

fiqih, yaitu kitab al-Muhalla. Sementara data sekunder dalam penelitian ini

adalah buku-buku yang memiliki korelasi dan relevansi dengan judul

penelitian. Penulis juga memperkaya dengan pelbagai tulisan ilmiah, jurnal,

laporan-laporan jurnalistik (media massa). Adapun data tersier berupa

kamus-kamus yang dapat menjelaskan tentang arti, maksud, atau istilah yang

terkait dengan pembahasan ini.

3. Metode Pengumpulan Data

Oleh karena penelitian ini bersifat penelitian pustaka, maka metode yang

dipergunakan untuk memperoleh data yang dikehendaki adalah dengan cara

menggali atau mengeksplorasi pemikiran-pemikiran ulama fiqih, terutama

pemikiran Ibnu Hazm yang menjadi fokus kajian dalam penelitian ini, yang

berkaitan dengan permasalahan di atas yang tersebar di dalam karya tulis

mereka, baik yang berbentuk buku maupun dalam bentuk artikel.

Pengumpulan data dalam penelitian ini melalui beberapa tahap, yaitu:

pertama, studi kepustakaan atau observasi literatur. Metode ini dipergunakan

untuk meneliti literatur atau tulisan-tulisan yang ada hubungannya dengan

pokok permasalahan yang dibahas. Kedua, literatur-literatur yang ada


22

diklasifikasikan sesuai dengan hubungannya dengan penelitian. Ketiga, setelah

itu dilakukan penelaahan yakni dengan cara membaca, mempelajari, atau

mengkjai literatur-literatur yang mengemukakan masalah-masalah yang

berkaitan dengan penelitian. Prinsipnya, teknik pengumpulan data ini

digunakan untuk menggambarkan masalah penelitian secara alamiah.32

4. Teknik Analisa Data

Analisis data yang digunakan adalah analisis isi (content analysis),33

yakni metode analisis yang diarahkan pada materi atau teks yang terdapat

dalam karya Ibn Hazm, terutama kitab al-Muhalla. Sebagaimana dinyatakan

oleh Haltsi bahwa content analysis adalah suatu teknik yang digunakan untuk

menarik kesimpulan melalui usaha menemukan karakteristik pesan yang

dilakukan secara objektif dan sistematis.34

H. Teknik Penulisan

Penulisan tesis ini mengacu pada Buku Panduan Penulisan Tesis dan

Disertasi Program Pascasarjana yang diterbitkan oleh Program Pascasarjana

Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, tahun 2012 dan Kamus Besar

Bahasa Indonesia (KBBI) yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan

Kebudayaan RI, tahun 1999. Adapun untuk transliterasi Bahasa Arab ke Bahasa

32
Mastuhu, dkk. Manajemen Penelitian Agama; Perspektif Teoritas dan Praktis, (Jakarta:
Badan Litbang Agama, 2000), hal. 86.
33
Content Analysis secara bahasa dapat diartikan dengan analisis isi atau kajian isi. Ini
merupakan analisis ilmiah tentang isi pesan suatu komunitas. Lihat Noeng Muhadjir, Metode
Penelitian Kualitatif, Op. Cit, hal. 94. Lihat juga Soedjono dan Abdurrahman, Bentuk Penelitian;
Suatu Pemikiran dan Penerapan, (Jakarta: Rineka Cipta: 1999), hal. 18.
34
Ibid, hal. 95.
23

Indonesia berpedoman kepada Surat Keputusan Mentri Agama dan Pendidikan

dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 158 tahun 1987 dan Nomor

0543/U11987.35

I. Sistematika Penulisan

Dalam usaha mencari jawaban atas pokok permasalahan di atas, penulisan

tesis ini dibagi menjadi lima bab, yaitu:

Bab pertama merupakan bab pendahuluan, terdiri dari latar belakang

masalah, identifikasi, batasan, dan rumusan masalah, tujuan dan kegunaan

penelitian, tinjauan pustaka, kerangka teori, metode penelitian, teknik penulisan,

dan sistematika penulisan.

Bab kedua merupakan bab pembahasan tentang profil ringkasi Ibn Hazm,

terdiri dari kelahiran dan keturunannya, pertumbuhan, karir politik, perjalanan

intelektual, karya-karya, komentar ulama, dan wafatnya.

Bab ketiga merupakan bab tinjauan umum tentang walimah al-ursy, yang

berisi tentang pengertian walimah al-ursy, dasar hukum, hukum menghadirinya,

pendapat ulama mazhab, dan lain-lain.

Bab keempat merupakan bab inti yang akan menjawab permasalahan yang

muncul di dalam penelitian ini, yaitu pemikiran Ibnu Hazm tentang walimah al-

ursy dan relevansi dalam konteks masyarakat Indonesia.

Bab kelima adalah bab penutup, berisi kesimpulan dari pembahasan bab-bab

sebelumnya dan saran.

35
Tim Penulis, Buku Panduan Penulisan Tesis dan Disertasi Program Pascasarjana,
(Pekanbaru: Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, 2012), hal.
31.