Anda di halaman 1dari 25

Laporan Praktikum

IKATAN KIMIA

AINUN REGITA CAHYANI ASNAR

H041171304

LABORATORIUM KIMIA DASAR


DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR I

IKATAN KIMIA

Disusun Oleh
AINUN REGITA CAHYANI ASNAR
H041171304

Laporan ini telah diperiksa oleh :

Asisten

NUR AULIA
H311 15 501
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menemukan senyawa-senyawa

kimia. Senyawa kimia ada yang ion dan kovalen. Seperti yang kita ketahui

bahwa ilmu kimia sangat penting, dimana di era seperti sekarang ini semua

makanan mengandung zat-zat kimia dan kita perlu mengetahui senyawa-senyawa

yang mempunyai ikatan ion dan ikatan kovalen.

Dalam ilmu kimia dibahas tentang ikatan kimia. Ikatan kimia merupakan

ikatan yang terjadi karena adanya gaya tarik antara partikel-partikel yang

berikatan. Dengan adanya ikatan kimia tersebut maka baik sifat kimia maupun

sifat fisika dari senyawa, seperti dapat menghantarkan listrik, kepolaran,

kereaktifan, bentuk molekul, warna, sifat magnet titik didih yang tinggi dapat

dijelaskan melalui berbagai teori ikatan kimia tersebut. Semua unsur itu berada

dalam keadaan yang tidak stabil, kecuali gas mulia. Karena unsur-unsur itu tidak

stabil maka unsur-unsur itu akan berproses untuk mencapai keadaannya yang

stabil, sebagaimana kestabilan pada gas mulia.

Salah satu teori ikatan kimia adalah Ikatan Molekul. Dengan adanya

ikatan molekul tersebut maka dapat dijelaskan sifat fisika maupun kimia dari

suatu senyawa atau ion kompleks yang terbentuk dari iakatan kimia, seperti

perbedaan titik didih suatu senyawa dan kelarutan.


Untuk itu, kita perlu mengetahui senyawa apa saja yang berikatan ion dan

kovalen, mengetahui reaksi-reaksi yang dihasilkan, senyawa-senyawa yang

membentuk reaksi kompleks.

1.2 Maksud Dan Tujuan Percobaan

1.2.1 Maksud Percobaan


Untuk mengetahui perbedaan senyawa yang mempunyai ikatan

elektrovalen (ion) dengan ikatan kovalen dan mengetahui perbedaan reaksi

pembentukan ikatan kompleks dengan bukan kompleks.

1.2.2 Tujuan Percobaan

Ada pun tujuan dari percobaan ini, yaitu:

1. Membedakan senyawa yang mempunyai ikatan elektrovalen dan ikatan

kovalen.

2. Membedakan reaksi pembentukan kompleks dan bukan kompleks.

1.3 Prinsip Percobaan

Ada pun prinsip dalam percobaan ini adalah mereaksikan NaCl, CCl4, dan

CHCl3 dengan AgNO3. Mereaksikan HCl, CH3COOH, dan C2H5OH dengan Metil

Orange. Mereaksikan CuSO4 dengan NaOH, BaCl2, dan K4Fe(CN)6.

Mereaksikan FeCl3 dan K4Fe(CN)6 dengan KCNS.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Ikatan-ikatan ion dibentuk oleh daya tarik elektrostatik antara ion-ion yang

dihasilkan dari perpindahan elektron-elektron dari satu atom ke atom lainnya. Jika

sebuah elektron dipindahkan dari satu atom ke atom lainnya, akan terbentuk ion

positif dan ion negatif yang menimbulkan daya tarik antara ion-ion sehingga

menghasilkan ikatan (Bresnick, 2002).

Menurut Syukri (1999), Senyawa ion yang terbentuk dari ion positif dan

negatif tersususun selang seling membentuk molekul raksasa tersebut akan

mempunyai sifat tertentu, yaitu:

1. Titik lebur dan titik didih, daya tarik antara ion positif dan negatif dalam

senyawa ion cukup besar, satu ion berikatan dengan beberapa ion yang

muatannya berlawanan. Akibatnya, titik lebur dan titik didih senyawa ion

lebih tinggi.

2. Kelarutan, pada umumnya senyawa ion larut dalam pelarut polar (seperti air

dan amonia), karena sebagian molekul pelarut menghadapkan kutub

negatifnya ke ion positif, dan sebagian lagi menghadapkan kutub positifnya ke

ion negatif, akhirnya ion ion terpisah satu sama lain).

3. Hantaran listrik, hantaran listrik terjadi bila medium mengandung partikel

bermuatan yang dapat bergerak bebas, seperti elektron dalam sebatang logam,

senyawa ion berwujud padat, tidak menghantarkan listrik, karena ion positif

dan negatif terikat kuat satu sama lain. Akan tetapi cairan senyawa ion akan
menghantarkan lisrik karena ion ionnya menjadi lepas dan bebas. Senyawa

ion juga dapat menghantarkan listrik, bila larut dalam pelarut polar (senyawa

misalnya air) karena terionisasi.

4. Kekerasan, Karena kuatnya ikatan antara ion positif dan negatif, maka

senyawa ion berupa padatan keras dan berbentuk kristal, permukaan kristal itu

tidak mudah digores atau digeser.

Ikatan kimia adalah ikatan yang terjadi karena adanya gaya tarik antar

partkel - partikel yang berikatan. Atom unsur yang sangat elektropositif dapat

melepaskan 1 atau 2 elektron yang terdapat pada kulit terluarnya dan atom unsur

yang elektronegatif dapat menerima 1 atau 2 elektron yang dilepaskan oleh atom

unsur yang elektropositif. Istilah polar kadang kadang dipergunakan sebagai

penggani istilah elektrovalen. Menurut Langmuir, senyawa yang terbentuk karena

adanya serah terima elektron pada atom atom pembentuknya disebut senyawa

elektrovalen atau senyawa ionis, dan ikatan pada senyawa tersebut dinamakan

ikatan elektrovalen, atau ikatan ionis. Pada suhu kamar, senyawa ionis terdapat

dalam bentuk kristal yang disebut kristal ion. Kristal ion tersebut terdiri dari ion

ion positif dan ion ion negatif (Syarifuddin, 1994).

Menurut Lewis, Langmuir, Kosel, suatu atom berikatan dengan atom atom

lain dan membentuk senyawa, maka atom atom tersebut mengalami perubahan

yang sedemikian rupa sehingga mempunyai konfigurasi elektron yang menyerupai

konfigurasi elektron yang menyerupai elektron gas mulia (Syarifuddin, 1994).

Ikatan ion merupakan ikatan antara ion ion positif dan ion ion negatif,

yang terjadi karena partikel yang muatannya saling berlawanan akan

mengakibatkan terjadinya tarik menarik antar ion ion tersebut . Ion positif dan
ion negatif akan terbentuk apabila terjadi serah terima elektron antar

atom (Syarifuddin, 1994).

Dua unsur (satu cenderung melepas elektron dan yang lain cenderung

menerima), bila bersentuhan belum tentu menjadi senyawa ion, sebab bergantung

pada tingkat energi sebelum dan sesudah reaksi. Senyawa ion bukanlah sederhana,

tetapi merupakan molekul raksasa yang terbentuk dari ion positif dan negatif yang

selang seling sedemikian rupa hingga teratur (Syukri, 1999).

Ikatan kovalen merupakan ikatan yang terjadi antara dua atom dengan

pemakaian bersama sama. Brom, karbon dioksida, Heksana, Amonia, dan etil

alkohol merupakan contoh dari senyawa senyawa kovalen. Titik leleh dan titik

didih senyawa kovalen cenderung lebih rendah daripada senyawa ion. Hal ini

disebabkan oleh fakta bahwa untuk melelehkan dan manguapkan suatu zat padat

maupun cairan molekul hanya membutuhkan energi secukupnya untuk

mengalahkan energi gaya tarik Van der Waals antar molekul (Audrey,1991).

Sebagai syarat pembentukan molekul menurut teori orbital molekul adalah

bahwa orbital yang terlibat dalam pembentukan ikatan harus hanya berisi satu

elektron. Dua atom yang akan terikat harus mempunyai kedudukan sedemikian

rupa hingga satu orbital yang terisi satu elektron mengalami overlap atau saling

tindih dengan orbital yang lain. Bila hal ini terjadi, maka dua orbital bergabung

untuk membentuk orbital ikatan tunggal yang ditempati oleh dua elektron. Dua

buah elektron yang menempati orbital harus mempunyai arah spin yang berlawan,

yaitu berpasangan. Makin besar overlap orbital orbital atom, makin kuat ikatan

yang terbentuk. Ikatan inilah yang seing disebut ikatan kovalen (Hardjono, 1987).
Ikatan ion terbentuk jika terjadinya perpindahan elektron di antara atom

untuk membentuk partikel yang bermuatan listrik dan mempunyai daya tarik-

menarik. Daya tarik menarik di antara ion-ion yang bermuatan berlawanan

merupakan suatu ikatan ion. Ikatan kovalen terbentuk dari terbaginya (sharing)

elektron di antara atom-atom. Dengan perkataan lain, daya tarik-menarik inti atom

pada elektron yang terbagi di antara elektron itu merupakan suatu ikatan kovalen

(Brady, 1999).

Ikatan kimia adalah sebuah proses fisika yang bertanggung jawab dalam

interaksi gaya tarik menarik antara dua atom atau molekul yang menyebabkan

suatu senyawa diatomik ataupoliatomik menjadi stabil. Penjelasan mengenai gaya

tarik menarik ini sangatlah rumit dan dijelaskan oleh elektrodinamika kuantum.

Dalam prakteknya para kimiawan biasanya bergantung pada teori kuantum atau

penjelasan kualitatif yang kurang kaku (namun lebih mudah untuk dijelaskan)

dalam menjelaskan ikatan kimia. Secara umum, ikatan kimia yang kuat

diasosiasikan dengan transfer elektron antara dua atom yang berpartisipasi. Ikatan

kimia menjaga molekul-molekul, kristal, dan gas diatomik untuk tetap bersama.

Selain itu ikatan kimia juga menentukan struktur suatu zat (John, 2009).

Kekuatan ikatan-ikatan kimia sangatlah bervariasi. Pada umumnya, ikatan

kovalen dan ikatan ion dianggap sebagai ikatan "kuat", sedangkan ikatan

hidrogen dan ikatan Van der Waals dianggap sebagai ikatan "lemah". Hal yang

perlu diperhatikan adalah bahwa ikatan "lemah" yang paling kuat dapat lebih kuat

daripada ikatan "kuat" yang paling lemah (John, 2009).

Sifat senyawa ion beberapa sifat senyawa ion yang penting adalah sebagai

berikut: larutan atau leburannya dapat menghantarkan arus listrik, mempunyai


titik leleh dan titik didih yang tinggi, sangat keras dan getas, pada umumnya larut

dalam pelarut polar dan tidak larut dalam pelarut non polar (Baroroh, 2004).

Sifat senyawa kovalen sifat-sifat senyawa kovalen antara lain kebanyakan

menunjukkan titik leleh rendah, pada suhu kamar berbentuk cairan atau gas, larut

dalam pelarut non polar dan sedikit larut dalam air, sedikit menghantarkan listrik,

mudah terbakar dan banyak yang berbau (Syukri, 1999).

Menurut Petrucci (1987) Perbedaan antara senyawa ion dan senyawa

kovalen terletak pada :

1. Pada senyawa ion, titik leleh rendah, sdangkan pada senyawa kovalen titik

leleh tinggi.

2. Senyawa ion larut dalam air dan hanya sebagian yang larut dalam pelarut no

polar, sedangkan pada senyawa kovalen, larut dalam pelarut non polar, namun

hanya sebagian yang larut dalam air.

3. Senyawa ion pada suhu kamar berupa padatan, sedangkan senyawa kovalen

dalam suhu kamar, berupa gas atau cairan.

4. Senyawa ion dapat menghantarkan arus listrik., sedangkan senyawa kovalen

hanya sebagian yang dapat menghantarkan arus listrik.

5. Senyawa ion dapat terbakardan tidak berbau, sedangkan pada senyawa

kovalen dapat terbakar dan berbau.


BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Bahan

Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah 14 jenis larutan

diantaranya NaCl, CH3COOH, HCl, CuSO4, CCl4, NH4OH, CHCl3, C2H5OH,

BaCl2, FeCl3, KCNS, K3FE(CN)6 dan K4Fe(CN)6. Serta menyiapkan indicator

metil orange (MO).

3.2 Alat Percobaan

Alat yang yang digunakan pada percobaan ini adalah tabung reaksi dan

pipet tetes.

3.3 Prosedur Percobaan

3.3.1 Reaksi Pengendapan Asam Nitrat

Siapkan 3 buah tabung reaksi. Masing masing tabung reaksi diisi

dengan 1 ml AgNO3. Tabung (1) ditetesi dengan NaCl, tabung (2) dengan

CCl4/Alkohol, dan tabung (3) dengan CHCl3, masingmasing sebanyak 3 5 tetes.

Perhatikan dan catat perubahan yang terjadi.

3.2.2 Reaksi dengan Metil Orange (MO)

Siapkan 3 buah tabung reaksi. Tabung (1) diisi dengan HCl, tabung (2)

dengan CH3COOH dan tabung (3) dengan C2H5OH, masing masing sebanyak

2,5. Selanjutnya, setiap tabung reaksi ditetesi dengan indikator Metil orange
(MO). Perhatikan dan catat perubahan yang terjadi Reaksi dengan Pengendapan

Hidroksida.

3.2.3.1 Reaksi dengan penambahan NH4OH

Siapkan 2 buah tabung reaksi yang diisi dengan 1 ml CuSO4. Masing

masing tabung ditetesi dengan larutan amonia sampai tidak terjadi endapan.

Tabung reaksi (1) ditambah dengan larutan BaCl2, tabung (2) dengan K4Fe(CN)6,

masingmasing 23 tetes. Perhatikan dan catat perubahan yang terjadi.

3.2.3.2 Reaksi dengan penambahan NH4OH

Siapkan 2 buah tabung reaksi yang diisi dengan 1 ml CuSO4. Tabung (1)

ditambah dengan BaCl2 dan tabung (2) dengan K4Fe(CN)6 masing masing 2 3

tetes. Perhatikan dan catat perubahan yang terjadi.

3.2.4 Reaksi dengan Kalium Tiosianat (KCNS)

Siapkan 2 buah tabung reaksi. Tabung reaksi (1) diisi dengan FeCl3 dan

tabung (2) dengan K3Fe(CN)6 masing masing 1 ml. Ke dalam tabung (1) dan (2)

ditambahkan 2 3 tetes KCNS. Perhatikan dan catat perubahan yang terjadi.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

4.1.1 Tabel Hasil Pengamatan Pengendapan Garam Nitrat

Larutan Ditambah AgNO3 Keterangan

Terjadi perubahan warna menjadi putih dan terjadi


NaCl Ikatan Kovalen
pengendapan

CCl4 Bening, terjadi pengendapan Ikatan Ion

CHCl3 Larutan bening, tidak terjadi endapan Ikatan Kovalen

4.1.2 Reaksi Dengan Indikator Metil Orange (M.O)

Larutan Ditambah MO Keterangan

HCl Perubahan warna menjadi merah Asam kuat

CH3COOH Perubahan warna menjadi orange Asam lemah

C2H5OH Perubahan warna menjadi kuning Asam lemah

4.1.3 Pengendapan Garam Hidroksida

Ditambah pereaksi

Larutan BaCl2 K4Fe(CN)6 Keterangan

Berubah warna Membentuk

CuSO4 + NH4OH Keruh, terjadi menjadi warna senyawa

sedikit endapan coklat kompleks


CuSO4 + NH4OH Keruh, Terjadi Terjadi Membentuk

banyak endapan perubahan senyawa

warna menjadi kompleks

warna coklat

muda

BaCl = Ikatan Ion


Terjadi
CuSO4 Keruh, terjadi K4Fe(CN)6 =
perubahan
endapan Senyawa
warna
kompleks

4.1.4 Pengendapan dengan KCNS

Larutan
Ditambah KCNS Keterangan

FeCl3 Merah kecoklatan senyawa kompleks

K4Fe(CN)6 Kuning / Tidak berubah Bukan senyawa kompleks

4.2 Reaksi-reaksi

1. Reaksi Pengendapan Dengan Garam Nitrat

NaCl + AgNO3 AgCl + NaNO3

CCl4 + AgNO3 AgCl + HNO3

C2H5OH + AgNO3
2. Reaksi Dengan Indikator Metil Orange (MO)

a. CuSO4+ NH4OH (Sedikit) (NH4)2SO4 + Cu(OH)2

CuSO4 + NH4OH (Banyak) (NH4)2SO4 + Cu(OH)2

(NH4)2SO4 + Cu(OH)2 + BaCl2 BaSO4 + 2NH4Cl

(NH4)2SO4 + Cu(OH)2 + K4Fe(CN)6 K4FeSO4 + 2NH4(CN)6

b. CuSO4 + BaCl2 Ba(SO4)2 + CuCl2

c. CuSO4 + K4Fe(CN)6 K4Fe(SO4) + Cu(CN)6

3. Pengendapan Garam Hidroksida

FeCl3 + KCNS Fe(CNS)3 + 3KCl

K4Fe(CN)6 + 6KCNS

4.3 Pembahasan

4.3.1 Pengendapan Garam Nitrat

Pada percobaan pengendapan garam nitrat, kita menetukan senyawa

tersebut termasuk ikatan ion atau ikatan kovalen. Ikatan ion dalam pelarutnya

akan terurai menjadi ion-ionnya, sedangkan ikatan kovalen tidak demikian. Pada

percobaan ini, larutan yang digunakan adalah NaCl, CCL4, dan CHCl3. Kemudian

masing masing ditambahkan AgNO3. Hasilnya pada NaCl + AgNO3, warnanya

keruh dan terdapat endapan , larutan pun bereaksi menghasilkan ion sehingga

disebut terjadi ikatan ion. Pada CCl4 + AgNO3, warnanya tetap, larutan

mengendap dan disebut ikatan ion. Pada CHCl3 + AgNO3, dimana tidak terjadi

perubahan warna dan disebut ikatan kovalen. Hal ini sesuai dengan teori.

4.3.2 Reaksi Indikator Metil Orange (MO)


Pada percobaan ini kita ingin mengetahui reaksi senyawa dengan indikator

MO. Percobaan ini menggunakan tiga buah tabung reaksi, dimana tabung reaksi

pertama diisi dengan HCl, tabung reaksi (2) dengan CH3COOH, dan tabung (3)

dengan C2H5OH. Pada saat tabung reaksi pertama ditetesi dengan metil orange,

larutan bereaksi dengan berubah warna menjadi merah, hal ini karena HCL

merupakan asam kuat. Pada tabung kedua ditetesi juga dengan metil orange,

larutan bereaksi dengan berubah warna menjadi orange, menunjukkan bahwa

CH3COOH merupakan asam lemah. Ketika tabung ketiga ditetesi dengan metil

orange larutan berubah warna menjadi kuning, menunjukkan bahwa C2H5OH

merupakan asam lemah, hampir mendekati pH basa. HCL> CH3COOH>

C2H5OH . Hal ini sesuai dengan teori.

4.3.3 Pengendapan Garam Hidroksida

Percobaan ini bertujuan untuk membedakan apakah senyawa tersebut

termasuk senyawa kompleks atau senyawa bukan kompleks. Pada percobaan ini

disiapkan 6 buah tabung reaksi yang berisi larutan CuSO4 masing masing

sebanyak 1 ml. pada 2 tabung reaksi pertama ditambahkan dengan NH4OH

sedikit, sepasangnya lagi ditambahkan dengan NH4OH berlebih, dan sepasang

terakhir tidak ditambahkan apapun. Pada saat sepasang tabung reaksi pertama

masing masing diisi dengan BaCl2 dan K4Fe(CN)6, didapatkan larutan yang

berubah menjadi berwarna biru muda terdapat endapan berwarna putih, sedangkan

yang berubah menjadi warna biru terdapat endapan warna cokelat,kedua tabung

reaksi membentuk ikatan ion dan merupakan senyawa kompleks. Pada sepasang

tabung reaksi berikutnya yang berisi larutan NH4OH berlebih dan ditetesi dengan

larutan seperti dengan cara diatas, didapatkan tabung reaksi yang memiliki warna
biru muda terdapat endapan, dan yang satu lagi memiliki warna cokelat muda,

kedua tabung reaksi ini terdapat banyak senyawa kompleks. Pada sepasang tabung

reaksi yang terakhir hanya berisi larutan CuSO4 yang ditetesi dengan larutan

seperti diatas, masing - masing mengalami perubahan warna menjadi biru muda.

Ada yang terdapat endapan putih, ada juga yang terdapat endapan coklat,larutan

ini merupakan senyawa kompleks. Hal ini sesuai dengan teori.

4.3.4 Pengendapan Garam Hidroksida

Pada percobaan ini didapatkan FeCl3 + KCNS, mengalami reaksi dan

berubah warna menjadi merah bata atau merah kecoklatan, sedangkan pada

larutan K4Fe(CN)6 + KCNS tidak mengalami reaksi, tidak terjadi perubahan

warna. Ini membuktikan larutan pertama membentuk senyawa kompleks dan

larutan kedua bukan kompleks.


BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari hasil praktikum ikatan kimia, dapat disimpulkan bahwa:

1. Ikatan kovalen koordinasi adalah penggunaan pasangan elektron bersama

yang berasal dari 1 atom untuk digunakan bersama atom lain. Ikatan ion

maupun ikatan kovalen dalam suatu senyawa dapat diketahui dengan

mereaksikannya dengan larutan AgNO3. Apabila bereaksi dan warna

senyawa berubah menjadi putih maka senyawa memiliki ikatan ion, misalnya

larutan NaCl. Dan apabila tidak terjadi reaksi atau tidak terjadi perubahan

warna maka senyawa tersebut memiliki ikatan kovalen, misalnya CCl4 dan

CHCl3.

2. Senyawa kompleks disebut juga senyawa koordinasi terdiri atas ion pusat dan

gugus koordinasi atau ligan. Gugus koordinasi sebagai donor pasangan

elektron sedangkan atom pusat sebagai akseptor. Misalnya senyawa

K4Fe(CN)6 dan K4Fe(CN)6. Pembentukan senyawa kompleks dapat diketahui

dengan mereaksikan senyawa tersebut dengan larutan BaCl2 dan senyawa

kompleks juga seperti K4Fe(CN)6. Apabila bereaksi dan menghasilkan

endapan cokelat maka merupakan senyawa kompleks.


5.2 Saran

5.2.1 Saran untuk Laboratorium

Untuk laboratorium sebaiknya saluran air lebih diperlancar untuk

mengefisienkan waktu membersihkan alat-alat laboratorium yang telah digunakan

dalam praktikum.

5.2.2 Saran untuk Praktikum

Sebaiknya praktikan lebih hati-hati dalam melakukan percobaan karena adanya

bahan atau zat yang berbahaya.


DAFTAR PUSTAKA

Bresnick, S., 2002, Kimia Umum, Jakarta, Hipokrates.

Companion, A.L., 1991, Ikatan Kimia, Bandung, Institut Teknologi Bandung.

Meenakshisundram, S. P., 2007, Chemistry Higher Secondary First Year,


Tamilnadu, Tamilnadu Textbook Corporation.

Poulsen, T., 2010, Introduction To Chemistry, U.S, C-K 12 Foundation.

Suja, W., 2014, Penggunaan Analogi Dalam Pembelajaran Kimia, 3(2):400.

Sukartono, 1983, Ilmu Kimia Bahan Persiapan Ujian Masuk Perguruan Tinggi,
Yogyakarta, Gadjah Mada University Press.
LAMPIRAN-LAMPIRAN

Lampiran 1: Bagan Kerja

1. Pengendapan garam nitrat

AgNO3 1 mL

- Siapkan 3 buah tabung reaksi. Masing-masing

tabung reaksi diisi dengan 1 mL AgNO3.

- Tabung (1) ditetesi dengan NaCl 3-5 tetes

- Tabung (2) ditetesi dengan CCl4/alcohol 3-5

tetes

- Tabung (3) ditetesi dengan CHCl3 3-5 tetes.

- Perhatikan dan catat perubahan yang terjadi.

Hasil

2. Reaski dengan Metil Orange (MO)

Metil Orange (MO)

- Siapkan 3 buah tabung reaksi.

- Tabung (1) diisi dengan HCl 2 mL

- Tabung (2) diisi dengan CH3COOH 2 mL

- Tabung (3) diisi dengan C2H5OH 2 mL.

- Setiap tabung reaksi ditetesi dengan indicator

Metil Orange (MO) sebanyak 2-3 tetes

- Perhatikan dan catat perubahan yang terjadi.


Hasil
-
3. Pengendapan garam hidroksida

a. Dengan tambahan amonia

CuSO4 1 mL

- Siapkan 2 buah tabung reaksi yang diisi dengan

1 mL CuSO4.

- Masing-masing tabung ditetesi dengan larutan

ammonia sampai tidak terjadi endapan

- Tabung reaksi (1) ditambah dengan larutan

BaCl2 2-3 tetes

- Tabung (2) ditambah dengan K4Fe(CN)6 2-3

tetes.

- Perhatikan dan catat perubahan yang terjadi.

Hasil

b. Tanpa tambahan ammonia

CuSO4 1 mL

- Siapkan 2 buah tabung reaksi yang diisi dengan


1 mL CuSO4.
- Tabung reaksi (1) ditambah dengan larutan
BaCl2 2-3 tetes
- Tabung (2) ditambah dengan K4Fe(CN)6 2-3
tetes.
- Perhatikan dan catat perubahan yang terjadi.

Hasil
4. Reaksi dengan KCN

KCNS

- Siapkan 2 buah tabung reaksi.

- Tabung reaksi (1) diisi dengan FeCl31 mL

- Tabung (2) diisi dengan K3Fe(CN)6 1 mL

- Ke dalam tabung (1) dan (2) masing-masing

ditambahkan 2-3 tetes KCNS.

- Perhatikan dan catat perubahan yang terjadi.

Hasil
Lampiran 2. Foto Percobaan

Gambar 1. Reaksi Pengendapan Asam Nitrat

Gambar 2. Reaksi dengan Pengendapan Hidroksida


Gambar 3. Indikator Metil Orange (MO)

Gambar 4. Reaksi dengan Metil Orange (MO)


Gambar 5. Reaksi dengan Kalium Tiosianat (KCNS)