Anda di halaman 1dari 6

Diagnosis dan Terapi

Pasien Sinkope
16 MAY 2017
Sinkope atau bahasa awamnya "pingsan" adalah
kondisi yang tidak jarang ditemui di praktek sehari-hari.
Tantangan bagi dokter adalah membedakan apakah
diagnosis pasien memang dikategorikan sebagai
sinkope atau diagnosis banding yang lain.
Data statistik menunjukkan bahawa hampir 40% dari
populasi dewasa pernah mengalami episode sinkope.
Sinkope lebih sering terjadi pada wanita, dan semakin
bertambah usia, insiden makin sering dijumpai.
Dibawah ini aku rangkumkan beberapa poin penting dari
EIMED Merah tentang diagnosis dan terapi sinkope.
Penjelasan di EIMED Merah cukup singkat dan
sederhana untuk diaplikasikan di IGD.

Diagnosis dan
Terapi Sinkope
Sinkope adalah suatu kehilangan kesadaran sesaat
akibat hipoperfusi serebral global yang ditandai dengan
onset yang cepat, jangka waktu pendek, dan recovery
penuh secara spontan. Kondisi ini sering disertai
dengan ketidakmampuan dalam mempertahankan tonus
postural.
Turunnya tekanan darah sistemik diikuti dengan
turunnya aliran darah serebral menjadi dasar terjadinya
sinkope. Henti aliran darah ke otak secara tiba-tiba
walau hanya 6-8 detik sudah cukup menyebabkan
kehilangan kesadaran secara penuh.

Klasifikasi Sinkope
1 Sinkope refleks (neurally-mediated)
Vasovagal
Situasional
Sinkope sinus karotis
2 Sinkope akibat hipotensi orthostatik
Gagal otonomik primer
Gagal otonomik sekunder
Deplesi volumik
3 Sinkope kardiak
Aritmia (bradikardia, takikardia, obat-obatan)
Penyakit struktural jantung

Diagnosis Sinkope
Dalam penegakkan diagnosis sinkope perlu ditentukan
apakah pasien benar sinkope atau bukan. Hal ini
penting untuk menentukan tindakan klinis selanjutnya.
Coba kita perhatikan diagram di bawah.
Anamnesis Sinkope
Pasien dengan sinkope harus dipastikan memang
sesuai definisi sinkope yaitu
1 Kehilangan kesadaran
2 Onset cepat
3 Jangka waktu pendek
4 Recovery penuh spontan
5 Tonus Postural tidak stabil
Jika semua kriteria di atas jelas, maka jangan ragu
untuk mendiagnosis sebagai sinkope. Jika hanya ada
beberapa kriteria yang positif dan masih meragukan
diagnosisnya, kamu bisa menghitung stratifikasi risiko
sinkope.
Kalau misal hasil stratifikasi risiko sinkope menunjukkan
Hi risk, jangan ragu untuk menatalaksana pasien segera
sesuai etiologi. Kalau risiko rendah, namun didapatkan
sinkope berulang, kamu perlu melakukan tes EKG atau
merujuk pasien untuk tes EEG. Nah, kalau pasien risiko
rendah dan baru pertama kali sinkope, anggap saja
koinsiden, tidak usah dievaluasi lebih lanjut.
Bagaimana jika ternyata kamu dapatkan pasien bukan
sinkope?
Kalau sudah kayak gini biasanya ini kasus yang
complicated. Aku sarankan sih kamu rujuk/konsulkan
pasien ke spesialis (SpPD/SpS). Takutnya pingsan
pasien disebabkan faktor berbahaya yang tidak kita
ketahui.
Beberapa anamnesis yang perlu kamu tanyakan adalah
1 Sebelum terjadinya sinkope, mungkin ada periode
prodromal dengan keluhan pusing melayang,
nausea, berkeringat, badan lemas, dan gangguan
penglihatan.
2 Riwayat obat-obatan yang sedang dikonsumsi.
Pemeriksaan Fisik Sinkope
Pemeriksaan vital sign adalah suatu keharusan.
Temuan pada pemeriksaan fisik tergantung adanya
komorbiditas. Tekanan darah sistolik biasanya adalah
sekitar 60 mmHg. Lakukan pemeriksaan jantung-paru
dan neurologik. Periksa juga apakah ada tanda-tanda
trauma.
Pemeriksaan Penunjang
1 EKG: bila dicurigai suatu sinkope aritmik
2 Ekhokardiografi: bila diketahui telah ada penyakit
jantung sebelumnya.
3 Orthostatic challenge (lying-to-standing orthostatic test
dan/atau head-up tilt test): bila sinkope terkait posisi
tegak atau dicurigai suatu mekanisme refleks.
4 Tes lain yang mungkin tidak spesifik seperti evaluasi
neurologik atau pemeriksaan darah.
Ini ada video bagus yang aku dapat dari Youtube untuk
melakukan pemeriksaan orthostatic challenge

Terapi Sinkope
Terapi sinkope sangat bergantung dengan jenis sinkope
dan etiologi pasie. Yang penting, tujuan terapi pada
pasien sinkope antara lain memperpanjang survival,
mambatasi cedera fisik, serta mencegah kekambuhan.
Coba kita perhatikan algoritma tatalaksana sinkope di
bawah

Keterangan :
4 ARCV: arrhytmogenic right ventricular cardiomyopathy
5 DCM : dilated cardiomyopathy
6 HOCM : hypertrophic cardiomyopathy
7 ICD : implantable cardioverter defibrilator
Salah satu etiologi sinkope yang akan cukup sering
kamu temui di IGD adalah pasien dengan kelainan
aritmia. Pertama, kamu harus pastikan bahwa pasien
mengalami aritmia. Tentu kamu membutuhkan EKG
untuk melakukannya. Interpretasi hasil bacaan EKG
yang tepat akan sangat menentukan ketepatan
pemilihan modalitas terapi.