Anda di halaman 1dari 34

Mata Kuliah Dasar Sistem Tenaga Listrik

(Basic Power System)

Nilai Mahasiswa

UTS UAS Nilai Nilai


Nama Tugas(20%) Lain2(10%)
(35%) (35%) Angka Huruf

Althur 56 38 100 100 62.9 T


Ariska 64 38 100 100 65.7 T
Disra 76 100 100 56.6 T
Dimas 61 55 100 100 70.6 B
Surawan 81 74 100 100 84.25 A
Syifaul 68 90 100 100 85.3 A
Silvia 79 76 100 100 84.25 A
A : Nilai Akhir > 80
B : 70 <= Nilai Akhir <= 80
C : Nilai Akhir < 70

UTS
Soal : Jawaban :

UAS
Soal : Jawaban :

Tugas Kuliah
Tugas-1: Buku Electric Circuit Analysis (10.21, 1o.22, ) Jawaban:
Tugas-2: Buku Electric Circuit Analysis (10.21, 1o.22, ) Jawaban:

Tugas-3:

Quiz
Soal Quiz-1

Handout Kuliah
Handout-7 : Prinsip Mesin Induksi

Umum

Nama mesin induksi digunakan karena proses pembangkitan fluksi medan


rotor dimulai dari induksi fluksi medan stator pada konduktor rotor.
Pada motor induksi, suplai listrik bolak-balik (AC ) membangkitkan fluksi
medan putar stator (Bs). Fluksi medan putar stator ini memotong konduktor
rotor, sehingga membangkitkan ggl pada konduktor rotor. Karena konduktor
rotor adalah rangkaian terhubung singkat, maka akan mengalirlah arus rotor.
Karena adanya arus pada konduktor rotor, maka akan timbul medan rotor (Br).
Kemudian rotor berputar karena terjadi interaksi tarik-menarik antara medan
putar stator dan medan rotor.
Induksi yang membangkitkan torka-start terjadi karena medan putar stator
memotong konduktor rotor yang diam. Perbedaan kecepatan medan stator (ns)
dan rotor (nr) ini harus dijaga karena jika ns=nr, motor akan berhenti berputar.
Perbedaan kecepatan ini disebut slip dimana

Slip = (ns nr )/ ns

Pada motor slip bernilai positif, karena ns lebih besar dari nr.
Pada generator induksi, slip bernilai negative. Awalnya Stator dihubungkan
dengan jala-jala listrik untuk membangkitkan medan putar stator dan
induksi pada rotor, sehingga rotor berputar. Kemudian prime-mover yang
terkoneksi dengan rotor dan diputar searah dengan putaran rotor, memberi
tambahan torka sehingga rotor berputar melebihi kecepatan sinkron,
sehingga slip bernilai negatif. Dan akhirnya energi listrik dikembalikan
kepada jala-jala listrik.

Karakteristik slip terhadap mode kerja ini diperlihatkan pada kurva berikut:

Gambar-1

Motor induksi

Model rangkaian ekivalen

Gambar-2
Dengan V1=tegangan suplai stator, R1= tahanan belitan stator, X1= reaktansi

bocor stator, R2= tahanan konduktor rotor, X2= reaktansi bocor rotor, s = slip.

Perhatikan bahwa model di atas sama dengan model rangkaian ekivalen

transformator.

Menentukan rangkaian ekivalen

Pengukuran Beban nol


Pengukuran beban nol sama halnya dengan pengukuran Open-circuit pada
transformator untuk mendapatkan harga Rc dan Xm.

Dari pengukuran diperoleh:

Daya input = P0
Tegangan Input = V1
Arus input (eksitasi) = I0
Kemudian dari perhitungan akan diperoleh:

Pengukuran Hubung singkat


Pengukuran hubung singkat untuk mendapatkan nilai resistansi dan reaktansi
bocor pada stator dan rotor. Hal ini dilakukan dengan cara menahan putaran
rotor, Tegangan input stator diberikan cukup kecil saya untuk menghindari motor
terbakar.
Dari pengukuran diperoleh:

Daya input = Psc


Tegangan hubung-singkat = Vsc
Arus hubung-singkat = Isc
Kemudian dari perhitungan akan diperoleh:

Pembangkitan medan putar

Uraiannya sama dengan medan putar stator pada motor sinkron.

Pembangkitan Torka

Persamaan torka T = P/ = 3 E2.I2.cos

Dari rangkaian ekivalen diperoleh


Terlihat bahwa Torka adalah fungsi dari slip seperti terlihat dalam diagram berikut
Gambar-3

Dari persamaan terlihat Torka maksimum dapat diperoleh saat slip = +/- R2/X2

Tmaksimum = +/- 3 V12/2X2

Dari kurva terlihat :

Pada saat start, torka maksimum diperoleh dengan cara membuat R2=X2
Besar R2 mempengaruhi besar slip ketika terjadi torka maksimum.
Jenis motor induksi

Gambar-4

Ada dua jenis motor induksi yang berbeda pada rotornya, yaitu:
Rotor sangkar (squirrel cage rotor)
Konstruksinya rotornya sangat sederhana yaitu merupakan besi pejal dengan
konduktor rotor sebagai rangka, sehingga biaya produksi yang rendah membuat
motor jenis ini banyak digunakan
Rotor belitan (wound rotor)
Rotornya memiliki belitan tiga fasa dengan jumlah kutub yang sama dengan
stator. Belitan rotor ini juga diberikan tambahan Resistansi luar yang terhubung
melalui slip-ring. Tahanan ini berfungsi untuk membatasi arus start dan juga
untuk memberikan torka maksimum saat start, dengan cara membuat nilai R2=X2.

Pengaturan Kecepatan

Dari persamaan kecepatan sinkron dan Torka


ns= (120 x frekuensi suplai)/jumlah kutub
kecepatan motor induksi dapat diatur dengan :

Mengatur frekuensi suplai jala-jala listrik

Mengatur tegangan suplai jala-jala listrik

Mengatur tahanan luar, yang hanya dapat dilakukan pada rotor belitan.

Handout-6 : Prinsip Mesin Sinkron

Umum

Belitan medan terdapat pada rotor


Belitan jangkar pada stator
Pada motor sinkron, suplai listrik bolak-balik (AC ) membangkitkan fluksi
medan putar stator (Bs) dan suplai listrik searah (DC) membangkitkan medan
rotor (Bs). Rotor berputar karena terjadi interaksi tarik-menarik antara medan
putar stator dan medan rotor. Namun dikarenakan tidak adanya torka-start
pada rotor, maka motor sinkron membutuhkan prime-mover yang memutar
rotor hingga kecepatan sinkron agar terjadi coupling antara medan putar
stator (Bs) dan medan rotor (Br).
Pada generator sinkron, suplai listrik searah (DC) membangkitkan fluksi
medan rotor (Br). Rotor yang diputar prime-mover menyebabkan fluksi medan
rotor memotong tegak lurus belitan stator, sehingga membangkitkan ggl pada
belitan stator. Jika belitan stator ini dihubungkan dengan beban, maka akan
mengalirlah arus, yang disebut arus jangkar. Arus jangkar ini selanjutnya
akan menimbulkan reaksi jangkar yang tergantung jenis beban.
Model dan Diagram Fasor

Gambar-1

Gambar-1(a) adalah model motor sinkron dan Gambar-1(b) adalah model generator
sinkron. Perbedaannya hanya pada arah arus saja. Kemudian gambar-2(b) adalah
diagram fasor generator sinkron dengan factor daya terbelakang (lagging) dan sudut
factor daya , dengan E1=Eaf dan E2=Va

Gambar-2

Dengan E1=Eaf = ggl = Va pada beban nol


Va = tegangan terminal
R = tahanan stator

X = Reaktansi sinkron = reaktansi bocor + reaktansi magnet = Xa+Xm

Motor sinkron

Pembangkitan Torka

Interaksi antara medan putar stator (Bs) dan medan rotor (Br) yang
membangkitkan torka seperti terlihat dalam persamaan berikut:

T = Bsx Bs(sin )
disebut sudut beban karena besarnya tergantung pembebanan. Pada saat
beban nol nilai =0. Jika dibebani, medan rotor tertinggal dari rotor sebesar ,
kemudian berputar sama lagi. Beban maksimum tercapai pada =90o. Jika
beban dinaikkan terus melebihi batas itu, maka motor akan kehilangan
sinkronisasi dan akhirnya akan berhenti.

Pembangkitan medan putar

Pada Motor sinkron 3 fasa, mengalir arus seimbang pada tiap fasa dengan
beda sudut fasa 120o

ia = Im sin t
ib = Im sin (t-120o)
ic = Im sin (t-240o)
Tiap arus fasa membangkitkan ggm F yang merupakan fungsi sudut ruang
seperti ia Fa.cos . Dengan Fa=Fm. sin t
Maka ggm F tiap fasa yang dibangkitkan
Fa = Fm sin t.cos
Fb = Fm sin (t-120o).cos (-120o)
Fc = Fm sin (t-240o) .cos (-240o)
Resultan ketiga ggm, Fr=Fa+ Fb +Fc
Dan jika kemudian disederhanakan dengan persamaan trigonometri akan
diperoleh

F(,t) = 3/2 Fm.cos (-t)

yang berarti resultan-mmf adalah medan putar sebagai fungsi dari ruang dan
waktu, seperti terlihat dalam gambar-3 berikut:

Gambar-3

Pengaruh Penguatan Medan

Untuk membangkitkan fuksi dibutuhkan daya reaktif yang bersifat induktif.


Pada motor sinkron, ggm dibangkitkan arus medan (DC) pada belitan rotor.
Jika arus medan ini cukup, maka motor tidak membutuhkan suplai energi
reaktif dari sisi stator yang bersumber dari jaringan listrik. Sehingga motor
bekerja dengan faktor daya = 1.
Jika penguatan arus medan kurang, maka motor sinkron akan menarik daya
reaktif yang bersifat induktif dari sisi stator. Sehingga motor bekerja dengan
factor daya(pf) terbelakang (lagging). Artinya motor menjadi pembangkit daya
reaktif yang bersifat induktif.
Kebalikannya jika kelebihan penguatan arus medan, maka motor sinkron akan
menarik daya reaktif yang bersifat kapasitif dari sisi stator. Sehingga motor
bekerja dengan factor daya (pf) mendahului (leading). Artinya motor menjadi
pembangkit daya reaktif yang bersifat kapasitif.

Kondensor sinkron

Seperti diuraikan di atas, jika motor sinkron kelebihan penguatan arus medan, maka
motor sinkron akan menarik daya reaktif yang bersifat kapasitif dari sisi stator.
Sehingga motor bekerja dengan factor daya (pf) mendahului (leading). Artinya motor
menjadi pembangkit daya reaktif yang bersifat kapasitif. Sehingga motor sinkron
dapat digunakan untuk memperbaiki factor daya (pf). Dalam hal ini motor sinkron
disebut Kondensor sinkron.

Karakteristik Torka dan Sudut daya

Gambar-4 memperlihatkan bahwa Torka adalah fungsi sin , dengan adalah sudut
daya. Pada motor sinkron nilai negatif dan nilainya positif pada generator sinkron.
Torka maksimum dicapai pada = +/- 90o. Jika melebihi batas itu, maka motor atau
generator akan kehilangan stabilitas dan sinkronisasi dan pada akhirnya akan
berhenti.
Gambar-4

Generator sinkron

Reaksi Jangkar

Jika generator terhubung dengan beban, maka akan mengalir arus pada
belitan stator (arus jangkar). Arus jangkar ini ternyata membangkitkan fluksi
medan jangkar (a) yang berinteraksi dengan fluksi medan rotor (f),
sehingga menghasilkan resultan medan R= a + f. Adanya interaksi ini
disebut reaksi jangkar.Reaksi jangkar ini tergantung jenis beban.
Jika beban resistif, maka arus jangkar Ia sefasa dengan ggl E0 dan a tegak
lurus terhadap f..
Jika beban kapasitif murni, maka arus jangkar Ia mendahului (leading) 90o
terhadap ggl E0. Kemudian a sefasa dan memperkuat f sehingga terjadi
penguatan magnet (pemagnetan).
Jika beban induktif murni, maka arus jangkar Ia terbelakang (lagging) 90o
terhadap ggl E0. Kemudian a berlawanan fasa dan memperlemah f sehingga
terjadi pelemahan magnet (pendemagnetan).

Reakstansi sinkron

Adanya reaksi jangkar yang mempengaruhi pemagnetan ini dinyatakan


dengan Xm (reaktansi magnet). Seperti terlihat pada gambar-2(a), reaktansi
magnet Xm ditambah reaktansi bocor Xa adalah reaktansi sinkron X.
Nilai reaktansi sinkron diperoleh melalui pengetesan tanpa beban dan short
circuit untuk mendapatkan kurva seperti gambat-5 berikut :
Gambar-5

Dari percobaan tanpa beban diperoleh kurva OCC (ggl sebagai fungsi dari
arus medan) yang kemudian diambil kurva liniernya (airgap-line). Dan dari
percobaan hubung singkat diperoleh kurva SCC (arus jangkar sebagai fungsi
dari arus medan). Maka akan diperoleh reaktansi sinkron X = Eo/Ihs = Oa/bf

Kerja Paralel
Untuk memenuhi kebutuhan pemakaian listrik, biasanya akan digunakan dua atau
lebih generator sinkron. Kerja parallel ini dapat dilakukan dengan syarat:
Harga sesaat ggl kedua generator harus sama besarnya dan bertentangan
arahnya.
Frekuensi kedua generator harus sama.
Fasa kedua generator harus sama.
Urutan fasa kedua generator harus sama.

Alat yang digunakan untuk melakukan itu semua disebut synchronizer.

Handout-5 : Prinsip Energi Elektromekanik

Konversi Energi

Pada generator, energi mekanik dirubah menjadi energi listrik


Sebaliknya pada motor energi listrik dirubah menjadi energi mekanik
Antara kedua energi itu, energi tersimpan dalam bentuk energi medan magnet
seperti terlihat dalam gambar 1-a berikut:
Gambar 1

Gambar 1-b adalah model relay yang dapat menjelaskan proses perubahan energi
listrik menjadi energi mekanik dengan gerak mendatar (sumbu x). Prinsip ini dapat
kita gunakan untuk menjelaskan sistem mesin berputar pada motor listrik.
Dengan v=tegangan, i=arus, e=ggl yg dibangkitkan, =flux linkage, r=resistansi
belitan

Kurva energi medan magnet seperti berikut


gambar-2

Persamaan di atas jika kita turunkan lebih lanjut


Dengan F=gaya gerak magnet, =fluksi, =reluctansi, L=induktansi, =sudut putar
Prinsip Kerja Mesin Berputar

Semua mesin berputar (AC maupun DC) paling tidak mempunyai 4 bagian :

Stator adalah bagian yang diam

Rotor adalah bagian yang berputar

Celah udara (air-gap) sebagai tempat berlangsungnya transfer energi.

Perangkat tambahan, seperti komutator pada mesin DC dan penggerak mula pada
motor sinkron.

Prinsip kerja generator dan motor listrik dijelaskan dengan aturan tangan kanan
seperti gambar-3 berikut:
gambar-3

Pada generator listrik, bila sebuah konduktor digerakkan tegak lurus memotong
medan magnet dengan kerapatan B, maka akan dibangkitkan e (gaya gerak
listrik). Dan jika konduktor tersebut terhubung dengan beban atau terhubung
singkat maka akan mengalir arus pada konduktor searah jari tengah tangan
kanan.
Kebalikannya pada motor listrik, bila medan magnet B memotong tegak lurus
yang konduktor dialiri arus maka konduktor tersebut akan digerakkan searah ibu
jari kanan.

Handout-4 : Transformator

Hukum Ampere

N . i = H . l (ampere.turn)

Gaya gerak magnet (ggm) akan dibangkitkan jika kumparan dengan jumlah
belitan(N) dialiri arus listrik(i)

Hukum Faraday

e = - N d/dt
Gaya gerak listrik (ggl) akan dibangkitkan/di-induksikan jika inti besi ditembus oleh
Medan magnet yang berubah-ubah.

Pembangkitan fluksi

o Perubahan fluksi karena

Perubahan fungsi waktu sumbernya Arus bolak-balik (AC)

Perubahan posisi konduktor karena berputarnya rotor pada mesin dinamis.

o Breakdown Hk. Faraday

e = - d/dt (,t)

Dengan d (,t) = (d/d).d + (d/dt).dt

Maka e = -(d/d).(d/dt)- d/dt

= e (rotasi) + e (transformasi)

o Belitan primer mengalirkan arus kecil AC

Arus eksitasi(exciting current = i0)

o i0 membangkitkan fluksi () yang menimbulkan adanya flux lingkage

o Perubahan fluksi terhadap waktu karena arus AC membangkitkan ggl

o Pada trafo ideal (Zero resistance) e1 =V1

o Arus eksitasi (i0) membangkitkan:

Arus Magnetisasi (Im) yang berfungsi membangkitkan flux ()

Arus Core-loss (Ic) yang berfungsi membangkitkan Daya Aktif (Pi) terkait dengan
adanya rugi-rugi daya pada core.P1=E1 I0 cos

Transformator Ideal

o Ggl pada belitan primer : e1 = -N d1/dt

o Induksi pada belitan skunder : e2 = -N d2/dt

o Tegangan skunder jika dilihat dari sisi primer : e1/e2=N1/N2


o Arus skunder jika dilihat dari sisi primer : I1/I2=N2/N1

o Impedansi skunder jika dilihat dari sisi primer

(V1/V2)/ (I1/I2) = (N1/N2)/ (N2/N1)

V1/I1= (N1/N2)2 V2/I2

Z1 = (N1/N2)2 Z2

Rangkaian Ekivalen

Gambar-1

Open Circuit Test

o Untuk menentukan parameter Rc dan Xm

o Data yang diperoleh

Daya input = P0

Tegangan Input = V1

Arus input (eksitasi) = I

o Data yang diperoleh dari perhitungan

|y o| =Io/V1gc = P0/(V1)2

bm = ((yo)2 (gc)2)1/2

yo = gc - jbm

Zek = Rc + jXm
Zek = 1/yo

Short Circuit Test o Untuk menentukan parameter R1 dan X1o Data yang
diperoleh

Daya input = Psc

Tegangan Input = Vsc

Arus hubung singkat = Isc

o Data yang diperoleh dari perhitungan

Zsc = Vsc/Isc = (R2+ X2)1/2

R= Psc/(Isc)2

X= (Zsc2 - R2)1/2

Handout-3: Analisis Fasor

Bilangan Kompleks

K = a + jb

Metode Euler

ej = (cos + j sin )

Bentuk Polar

K = a + jb = |K| sudut () = (a2 +b2)1/2 sudut (tan-1(b/a))

Sinyal Sinus & Cosinus

Tegangan
V(t) = Vm (Sin t)
= Vm sudut (0)
Arus
I(t) = Im . Sin (t + )
= Im sudut ()

Beban Resistif

I(t) = Im . Sin (t + )
V(t) = R I(t)
= R Im Sin (t + )
Vm = R Im

Tegangan sefasa dengan arus

Beban Induktif

Arus I(t) = Im . Sin (t + )


Tegangan melintas inductor
VL(t) = L dI(t)/dt
= L Im d/dt {Sin(t + )}
= L Im Cos(t + )
= L Im Sin(t + + 90o)

VL(t) = L Im Sin(t + + 90o)

= Vm Sin(t + + 90o) = Vm sudut (90o)


Vm = L Im

Tegangan mendahului Arus

Beban Kapasitif

V(t) = Vm . Sin (t + )

Ic(t) = C dV(t)/dt
= C Vm d/dt {Sin(t + )}
= C Vm Cos(t + )
= C Vm Sin(t + + 90o)

Ic(t) = C Vm Sin(t + + 90o)

= Im Sin(t + + 90o) = Im sudut (90o)


Im = C Vm

ARUS mendahului TEGANGAN

Impedansi
Z = R + j X = R + j (XL- XC)

Bentuk Polar
Z= |Z| sudut () = (R2 +X2)1/2 sudut (tan-1(X/R))

Daya Rata-rata

p = v.i
Daya rata-rata = Vrms. Irms Cos
Tegangan efektif
Vrms = Vm/(2)1/2
Arus Efektif

Irms = Im/(2)1/2

Daya Kompleks

S = P + JQ = |S| sudut ()
S = Volt.Ampere = VA
P = Daya Nyata (Aktif ) = S x Cos (Watt)
Q = Daya Reaktif = = S x Sin (VAR)

Faktor Daya (Power Factor)

PF = Cos
= tan-1 (X/R) = tan-1 (Q/P)

Handout-2 : Dasar Elektromagnet


Medan Magnet

Gerak elektron dalam konduktor membangkitkan medan magnet


Medan magnet memiliki arah, kerapatan, dan intensitas yang digambarkan dengan
garis2 fluks ().
Kerapatan medan magnet (B) Wb/m2: banyaknya garis2 fluks yang menembus suatu
luas bidang tertentu (besaran vector).
Intensitas medan magnet (H) Wb/m: besarnya fluks sepanjang jarak tertentu (besaran
vector).
Hubungan B & H B = H, dengan : permeabilitas bahan
o o : permeabilitas udara = 4.10-7 H/m
o Besi, nikel, dan sejenisnya mempunyai permeablitas tinggi, disebut feromagnetik.

Hukum Ampere

N . i = H . l (ampere.turn)
Gaya gerak magnet (ggm) akan dibangkitkan jika kumparan dengan jumlah belitan(N)
dialiri arus listrik(i)

Hukum Faraday

e = - Nd/dt

Gaya gerak listrik (ggl) akan dibangkitkan/di-induksikan jika inti besi ditembus oleh
Medan magnet yang berubah-ubah.
Perubahan fluksi karena
o Perubahan fungsi waktu sumbernya Arus bolak-balik (AC)
o Perubahan posisi konduktor karena berputarnya rotor pada mesin dinamis.
Breakdown Hk. Faraday
e = - d/dt (,t)
dengan d (,t) = (d/d).d + (d/dt).dt
Maka e = -(d/d).(d/dt)- d/dt

= e (rotasi) + e (transformasi)
Rangkaian Magnet

Gaya gerak magnet (ggm) = F = N.i

adalah perbedaan potensial magnet yang menggerakkan fluksi.


Fluksi = (weber)

Reluktansi = R = F/ (ampere.turn/weber) R = l /( .A)


Hukum Maxwell

Integral { H.dl } = Integral { I.dA } Integral keliling (l) kuat medan magnet sebanding
dengan arus listrik yang menembus area luas (A) yang terkurung oleh lintasan keliling
tersebut.

N.i = Hc. Lc + Hg. Lg = (Bc/c).Lc+ (Bg/g).Lg

= c.(Lc/Ac. c) + g.(Lg/Ag. g) = (Rc+ Rg)

Jika c >>> o, maka sebagian besar ggm yang dibangkitkan sebagian besar terdapat
pada celah udara (air gap)

Handout-1: Pengantar Sistem Tenaga


Umum

Listrik seperti halnya barang/jasa melalui 3 tahapan yaitu:


o Tahap produksi, dilakukan pada Sistem pembangkitan
o Tahap distribusi, dilakukan oleh Sistem transmisi dan distribusi
o Tahap konsumsi, dilakukan oleh konsumen rumah tangga atau industri.

Sistem Pembangkit

Sistem pembangkit, terdiri dari beberapa jenis tergantung energi yang dirubah:
o PLTA: energi air energi kinetic pd. Turbin energi medan magnit & medan
listrik pd alternator energi listrik
o PLTU : air dipanaskan dalam suatu boiler dengan bahan baker gas/batu-
bara/minyak/nuklir hingga berubah menjadi uap air dengan tekanan dan suhu
yang sangat tinggi energi kinetic pd. Turbin dst.
o PLTD : energi kimia pd. Bahan baker motor diesel (solar) energi medan
magnet dan medan listrik pd. Alternator - dst.
o Dll.
Bagian utama sistem generator listrik adalah:
o Prime mover : yang berfungsi memutar rotor (bagian berputar dari alternator).
Pada PLTA, PLTU, dll. Kecuali PLTD berupa turbin.
Pada PLTD berupa motor diesel.
o Alternator : yang membangkitkan listrik bolak-balik.

Sistem Transmisi dan Distribusi

Antara pusat pembangkitan dengan pusat konsumen (beban) berjarak jauh sekali.
Pengantarnya disebut sistem transmisi.
Tegangan listrik dibangkitkan generator pada pusat pembangkit sebesar 380 volt p-p
Tegangan listrik yang diterima konsumen juga sebesar 380 volt p-p atau 220 volt p-n.
Namun karena jarak antara pusat pembangkit dengan pusat beban sangat jauh, maka
tegangan sistem transmisi dan distribusi harus sangat tinggi agar daya listrik yang
dikirimkan tidak hilang sebaga
Pada sistem transmisi (pusat pembangkit sd. pusat penerima) tegangan dinaikkan
hingga berkisar 150-500kVolt (SUTET), kemudian diturunkan menjadi berkisar 70kV
pada saluran sub-transmisi (pusat penerima sd. pusat beban), dan diturunkan lagi
menjadi 20kV pada Gardu Induk. Dengan menggunakan Trafo Distribusi, tegangan
itu diturunkan lagi hingga 380 volt p-p yang dapat digunakan oleh konsumen rumah
tangga.
o Pada konsumen industri biasanya diberikan suplai 3 phase dengan tegangan 380V
p-p.
o



Peralatan yang berfungsi menaik-turunkan tegangan listrik disebut Transformator.
o Transformator Step-Up berfungsi menaikkan tegangan.
o Transformator Step-Down berfungsi menurunkan tegangan.