Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kinerja keuangan menjadi salah satu aspek penilaian yang fundamental mengenai
kondisi yang dimiliki perusahaan (Nainggolan, 2004). Horne (2005) menyatakan bahwa
pengukuran kinerja keuangan meliputi hasil perhitungan rasio-rasio keuangan yang berbasis
pada laporan keuangan perusahaan yang dipublikasikan dan telah diaudit oleh akuntan
publik. Rasio-rasio keuangan dirancang untuk membantu para analis dalam mengevaluasi
suatu perusahaan berdasarkan atas laporan keuangannya.

Penilaian kinerja keuangan dapat dilakukan dengan menganalisis Laporan Keuangan


perusahaan. Analisis Laporan Keuangan mencakup apakah suatu aktiva dan pasiva
perusahaan dikelola secara benar, termasuk juga aktivitas pendanaannya untuk meningkatkan
nilai perusahaan (value of the firm). Analisis kinerja keuangan juga dapat dipergunakan
sebagai kerangka kerja perencanaan dan pengendalian keuangan. Dalam bagian ini akan
dibahas mengenai analisis commonsize dan analisis trend.

Analisis sumber dan penggunaan dana atau sering disebut analisis aliran dana,
merupakan alat analisis finansial yang dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana dana
digunakan dalam perusahaan dan bagaimana pendanaan atau pembelanjaannya. Laporan
aliran dana atau sering disebut Laporan Sumber dan Penggunaan Dana merupakan alat
penting bagi manajer keuangan atau kreditur dalam menilai dari mana sumber dana dan
digunakan untuk apa saja dana tersebut. Dengan analisa sumber dan penggunaan dana akan
dapat diketahui bagaimana perusahaan mengelola atau menggunakan dana yang dimilikinya,
analisis ini juga dapat memberi pemahaman yang lebih baik terhadap operasi keuangan
perusahaan.
Aliran dana dalam perusahaan bisa digambarkan sebagai proses yang kontinyu.
Untuk setiap penggunaan dana haruslah ada sumbernya. Dalam arti yang luas, aktiva-aktiva
yang dimiliki perusahaan menunjukkan penggunaan bersih dari dana, sedangkan hutan-
hutang dan modal sendiri mencerminkan sumber dananya.

1
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, adapun masalah yang muncul sebagai berikut:

1. Bagaimanakah cara melakukan analisis commonsize?


2. Bagaimanakah cara melakukan analisis trend?
3. Bagaimanakah cara melakukan analisis sumber dan penggunaan dana?

1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah diatas adapun tujuan penulisan dari paper ini yaitu :

1. Untuk mengetahui cara untuk melakukan analisis commonsize.


2. Untuk mengetahui cara untuk melakukan analisis trend.
3. Untuk mengetahui cara untuk melakukan analisis sumber dan penggunaan dana.

Adapun manfaat dari pembuatan paper ini adalah selain untuk menyelesaikan tugas yang
diberikan oleh dosen mata kuliah Manajemen Keuangan, penulis juga dapat memberikan
suatu kontribusi mengenai materi analisis laporan keuangan serta analisis sumber dan
penggunaan dana dan dapat memberikan sebuah dorongan untuk lebih memahami dan
mampu dalam melakukan analisis terhadap laporan keuangan serta analisis sumber dan
penggunaan dana.

1.4 Metode Penulisan

Metode dan teknik penulisan yang digunakan dalam penulisan paper ini adalah metode
studi pustaka. Studi pustaka dilakukan untuk mendapatkan data dan informasi yang kemudian
data tersebut akan dijadikan dasar atau pedoman untuk melihat adanya ketidaksesuaian antara
teori dengan kenyataan sebagai penyebab dari permasalahan yang dibahas dalam paper ini.

Sumber sumber yang dijadikan sebagai rujukan untuk studi pustaka diperoleh dari
berbagai sumber bacaan. Baik itu buku maupun e-book.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Laporan Keuangan Pokok

Pada umumnya laporan keuangan yang disusun oleh suatu perusahaan meliputi:
neraca, perhitungan rugi laba, laporan perubahan posisi keuangan dan catatan atas laporan
keuangan. Neraca adalah suatu ikhtisar yang memuat rincian pendapatan dan biaya dalam
rangka perhitungan laba atau rugi untuk suatu periode tertentu. Untuk dapat menggambarkan
secara jelas sifat dan perkembangan yang dialami perusahaan dari waktu ke waktu sangat
dianjurkan agar perusahaan menyusun laporan keuangan komparatif. Laporan komparatif ini
setidaknya untuk dua tahun terakhir. Apabila neraca dapat disusun secara sistematis, maka
akan memberikan gambaran mengenai posisi keuangan perusahaan pada saat tertentu.

Pos-pos neraca dapat dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu:

1. Pos-pos aktiva (assets items).


2. Pos-pos utang (liabilities).
3. Modal sendiri (share holders equity)
Pasiva pada neraca menunjukkan sumber-sumber dana, dan aktiva neraca
menunjukkan alokasi dananya. Jadi membahas Manajemen Keuangan dan Pasiva (asset &
liabilities management). Sumber-sumber dana dan alokasi dana ini perlu dikelola dengan
baik. Ibarat arus air, kita menggambarkan dalam unsur-unsur sumber (sources),
penampungan (reservoir) dan penggunaannya (uses). Bagaimana mengendalikan dan
mengarahkan sources, reservoir, dan uses dalam mencapai tujuan (objectives) ini merupakan
pokok Manajemen Keuangan. Komponen neraca dapat digolongkan sebagai berikut:

AKTIVA

- Aktiva Lancar
- Investasi (Penyertaan)
- Aktiva Tetap
- Aktiva Lain-lain

KEWAJIBAN

- Kewajiban Lancar

3
- Kewajiban jangka Panjang
- Kewajiban Lain-lain

MODAL

- Modal Saham
- Agio Saham
- Laba yang ditahan

Penyajian komponen-komponen neraca lazimnya sebagai berikut:


- Aktiva, diklasifikasikan menurut tuntutan likuiditas.
- Kewajiban, diklasifikasikan menurut urutan jatuh tempo.
- Modal, diklasifikasikan berdasarkan sifat kekekalannya.

Perhitungan rugi laba harus disusun sedemikian rupa agar dapat memberikan
gambaran mengenai hasil usaha perusahaan dalam periode tertentu. Cara penyajian rugi laba
adalah sebagai berikut:

- Harus memuat secara rinci unsur-unsur pendapatan dan beban.


- Seyogyanya disusun dalam bentuk urutan ke bawah.
- Harus dipisahkan antara hasil dari bidang usaha lain serta pos luar biasa,

Secara umum, komponen-komponen rugi laba terdiri dari:

- Penjualan
- Harga Pokok Penjualan
- Laba bruto
- Beban usaha
- Pendapatan dan beban lain-lain
- Laba sebelu pajak penghasilan
- Pajak penghasilan
- Laba bersih

4
2.2 Analisis Persentase Per Komponen (Commonsize)
Munawir (2004) mengungkapkan analisis persentase per komponen (commonsize)
adalah laporan keuangan dalam bentuk persentase masing-masing pos neraca terhadap
jumlahnya, dan masing-masing pos rugi laba terhadap penjualan. Dikatakan persentase per
komponen karena tiap-tiap pos dinyatakan dalam bentuk persentase. Jadi analisis persentase
per komponen adalah metode analisis laporan keuangan yang disusun secara vertikal untuk
mengetahui persentase investasi pada masing-masing pos aktiva terhadap total aktiva, pos-
pos pasiva terhadap total pasivanya, serta pos-pos rugi laba terhadap total penjualan netonya.
Keuntungan utama yang diperoleh analisis ini akan dapat diperoleh suatu dasar atau ukuran
umum yang dapat digunakan sebagai pembanding.
Persentase investasi adalah berapa persen investasi yang tertanam pada masing-
masing aktiva tersebut, yang dihitung dengan cara membandingkan antara masing-masing
aktiva terhadap jumlah aktiva. Perbandingan pos-pos aktiva terhadap total aktiva juga
merupakan distribusi investasi yang tertanam pada masing-masing aktiva. Pada sisi pasiva
neraca, dapat menggambarkan mengenai struktur permodalan perusahaan, dengan cara
menghitung persentase jumlah hutang terhadap jumlah pasiva dan jumlah modal sendiri
dengan jumlah pasiva. Dalam laporan rugi laba, kita juga akan dapat mengetahui berapa
persen dari pendapatan atau penjualan itu diserap oleh masing-masing pos biaya yang terjadi.
Caranya dengan membandingkan antara masing-masing pos biaya terhadap jumlah penjualan.
Berikut ini diberikan contoh PT IMASINDO untuk tahun 2011 dan 2012.

5
PT IMASINDO
NERACA PERBANDINGAN COMMONSIZE
31 DESEMBER 2011 dan 2012
% SUB
2011 2012 % TOTAL
TOTAL
(Rp.000.000) (Rp.000.000) 2011 2012 2011 2012
AKTIVA
Kas 3 5 1 1 1 1
Piutang dagang 130 164 36 38 23 26
Persediaan 210 235 58 55 37 38
Persekot biaya 20 25 5 6 3 4
Jumlah aktiva lancar 363 429 100 100

Tanah 15 15 7 8 3 2
Bangunan 147 109 72 57 26 18
Aktiva tetap lainnya 63 90 31 47 11 15
Cad. peny. Ak. Tetap (22) (24) (10) (12) (4) (4)
Jumlah aktiva tetap 203 190 100 100
Jumlah Aktiva 566 619 100 100

HUTANG & MODAL


Hutang dagang 167 210 59 62 30 34
Hutang wesel 35 70 12 20 6 11
Hutang gaji 81 60 29 18 14 10
Jumlah Hutang Lancar 283 340 100 100

Hutang jangka panjang 10 10 3 4 2 2


Modal saham 50 50 18 18 9 8
Laba ditahan 223 219 79 78 39 35
Jumlah Modal 283 279 100 100
Jumlah Ht. dan Modal 566 619 100 100

6
PT IMASINDO
LAPORAN RUGI LABA PERBANDINGAN COMMONSIZE
31 DESEMBER 2011 dan 2012
2011 2012 Persentase Per
(Rp.000.000) (Rp.000.000) Komponen
Penjualan neto 700 898 100 100
Harga pokok 566 638 81 71
Laba kotor 134 260 19 29
Biaya operasi :
Biaya penjualan 40 127 6 14
Biaya administrasi 22 68 3 8
Laba operasi 72 65 10 7
Biaya lain-lain 5 11 1 1
Laba bersih sebelum pajak 67 54 10 6
Pajak 20 16 3 2
Laba bersih setelah pajak 47 38 7 4

Analisis dan Interpretasi

Aspek Likuiditas

Likuiditas menunjukkan kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka pendek


dengan aktiva lancar yang dimilikinya. Kondisi likuiditas PT IMASINDO dapat dilihat dari
distribusi pos-pos aktiva lancar terhadap jumlah aktiva lancar, yang menunjukkan bahwa
likuiditas perusahaan mengalami kenaikan. Hal ini terlihat dari persentase persediaan yang
menurun dari 58% pada tahun 2011 menjadi 55% pada tahun 2012. Sebagaimana diketahui
bahwa semakin dominan pos-pos aktiva lancar yang tingkat likuiditasnya rendah seperti
persediaan, menunjukkan bahwa likuiditas perusahaan kurang baik.

Aspek Solvabilitas

Solvabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan membayar seluruh kewajiban


(jangka pendek dan jangka panjang) dengan modal sendiri yang dimilikinya. Persentase
modal sendiri dari hutang memperlihatkan bahwa modal sendiri PT IMASINDO pada tahun
2011 sebesar 48% yang terdiri dari modal saham 9% dan laba ditahan 38%. Jumlah utang

7
sebesar 52%. Kalau dibandingkan dengan tahun 2012, maka terlihat jumlah modal sendiri
berkurang menjadi 43% dan jumlah utang bertambah menjadi 57%. Peranan utang lebih
besar daripada modal sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan semakin besar
menggunakan dana pinjaman. Dengan kata lain, tingkat solvabilitas perusahaan semakin
menurun. Semakin besar peranan dana pinjaman berarti margin of safety bagi para kreditur
semakin menurun.

Tingkat Efisiensi

Tingkat efisiensi biaya, umumnya dikaitkan antara biaya dengan pendapatan.


Berdasarkan angka-angka persentase di laporan rugi laba. Persentase harga pokok penjualan
tahun 2011 sebesar 81% artinya bahwa dari jumlah pendapatan diserap untuk biaya produksi
sebesar 81% dan sisanya sebagai laba kotor 19%. Kalau dibandingkan dengan tahun 2012,
harga pokok penjualan hanya menyerap 71% dari penjualan. Hal ini dapat disimpulkan
adanya peningkatan efisiensi dalam biaya produksi. Sebagai akibatnya, laba kotor
mengalami peningkatan dari 19% menjadi 29% dari penjualan. Jika dilihat dari biaya
operasi, nampak ada peningkatan biaya yang cukup besar yaitu dari 9% tahun 2011 menjadi
22% tahun 2012. Dengan demikian, di bagian kantor nampaknya bekerja kurang efisien.

Rentabilitas

Rentabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan memperoleh laba. Rentabilitas PT


IMASINDO memperlihatkan bahwa persentase laba bersih sesudah pajak menurun, hal ini
terlihat pada tahun 2011 sebesar 6% dari penjualan, sedangkan pada tahun 2012 turun
menjadi 4% dari penjualan. Hal ini disebabkan karena terjadinya kenaikan biaya operasi
yang cukup besar. Berdasarkan kondisi tersebut, dapat disimpulkan Rentabilitas perusahaan
semakin menurun.

2.3 Analisis Trend (Indeks)

Analisis indeks atau trend merupakan salah satu metode analisis laporan keuangan
untuk mengetahui kecenderungan atau tendensi keadaan keuangan suatu perusahaan apakah
naik, turun atau tetap. Kecenderungan posisi keuangan tersebut dapat diketahuai dari laporan
keungan yang di susun untuk tiga periode atau lebih. Untuk melihat trend tersebut digunakan
angka indeks 100.

8
Cara penyusunan laporan dengan indeks :

1. Menentukan tahun dasar, yaitu tahun yang dianggap normal

2. Menentukan angka indeks 100 pada tahun dasar untuk masing-masing pos dalam
tahun dasar

3. Pos-pos dari periode laporan yang dianalisis dibandingkan dengan pos-pos yang sama
dalam laporan keuangan dasar

4. Pada umumnya, tidak semua pos-pos neraca dan laporan laba rugi dari beberapa
periode dihitung, karena tujuan utama dari perhitungan rasio adalah membuat
perbandingan antara pos-pos yang mempunyai hubungan informasi dengan pos-pos
lainnya.

Kecenderungan naiknya penjualan selama beberapa periode dikaitkan dengan aktiva


yang beroperasi dalam periode yang sama akan diperoleh informasi besarnya tingkat
perputaran aktiva merupakan perbandingan antara jumlah penjualan terhadap jumlah aktiva
yang beroperasi. Rasio ini menggambrakan ukuran tentang sampai seberapa jauh aktiva ini
telah dipergunakan di dalam kegiatan perusahaan, atau menunjukkan berapa kali aktiva
produkti berputar dalam suatu periode.

Ukuran tingkat perputaran aktiva ini kadang-kadang dihitung bukan dari aktiva
produktif melainkan dari jumlah aktiva. Kecenderungan naiknya piutang aging yangb diikuti
dengan kecenderungan turunnya penjualan, biasanya mencerminkan keadaan yang kurang
baik. Kecenderungan naiaknya piutang dagang menunjukkan adanya over investment dalam
piutang dan mungkin sebagai akibat dari tidak efektifnya bagian penagihan piutang.

Kecenderungan naiknya persediaan diikuti dengan kecenderungan turunnya penjualan


biasanya mencerminkan adanya over investment dalam persediaan atau fasilitas peralatan,
sehingga menunjukkan keadaan kurang baik. Kecenderungan menurunnya volume penjualan
yang terus menerus diikuti dengan tanda-tanda naiknya investasi, khususnya bila
bertambahnya investasi ini membuat beban bunga tetap, hal ini akan menggambarakan
perkembangan keungan yang kurang sehat.Tingkat perputaran aktiva yang tinggi
menunjukkan manajemen yang efektif. Tetapi dapat juga tingkat perputran yang tinggi
disebabkan aktiva perusahaan yang sudah tua dan sudah susut habis.oleh karena itu tinggkat

9
perputaran yang tinggi belum menggambarkan secara pasti tentang keefektifan kegiatan
perusahaan.

Kecenderungan naiknya penjualan dikaitkan dengan kecenderungan naiknya biaya


operasi yang lebih rendah, akan menggambarkan kecenderungan naiknya laba operasi.
Kecenderungan turunnya hutang lancar dimana perubahan tersebut menimbulkan atau
membentuk tingkat likuiditas perusahaan yang lebih besar biasanya dipandang sebagai hal
yang menguntungkan. Kecenderungan naiaknya naiknya modal sendiri menunjukkan
keadaan keungan yang baik. Hal ini terutama apabila trend utang turun, atau trend utang naik
tetapi kenaikannya masih lebih rendah jika di bandingkan dengan kenaikan modal sendiri.

Contoh 1

Suatu pos telah naik dari Rp 10 juta menjadi Rp 20 juta atau 100. Pos lainnya juga
naik dari Rp 1.000 juta menjai Rp 2.000, juta atau naik 100%. Kedua pos ini sama-sama telah
naik 100%. Akan tetapi pos yang pertama mungkin tidak penting, artinya jika dibandingkan
dengan pos yang kedua. Jadi apabila di dalam menganalisis trend/indeks ini tidak
mengikutsertakan angka-angka absolutnya, maka akan memberikan interprestasi yang kurang
tepat.

Contoh 2

Kenaikan uang muka biaya sebesar 100%. Kenaikan tingkat persediaan sebesar 10%.
Pada umumnya di dalam menganalisis yang menjadi perhatian adalah suatu perubahan
kenaikan persentase yang besar. Padahal dalam beberapa hal tidak tepat. Bila dilihat
perubahan di atas, maka kenaikan nilai persediaan walaupun kecil (hanya 10%) harus
mendapatkan perhatian lebih besar dari pada kenaikan persekot biaya.

Di dalam mengalisis persentase kecenderungan ini, perlu juga melihat angka


absolutnya. Dengan demikian hasil interprestasi tidak akan menyesatkan. Hal ini perlu di
perhatikan di dalam mengalisis persentase kecenderungan adalah penentuan tahun dasar.
Persentase kecenderungan akan lebih bermanfaat menghasilkan interprestasi yang mendekati
kebenaran apabila dipenuhi beberapa syarat anatara lain :

1) Prinsip- prinsip akuntansi harus dilakukan secara konsisten pada periode yang
bersangkutan.

2) Selama periode yang dianalisis tidak terjadi perubahan tingkat harga, atau nilai uang.

10
Berikut ini adalah laporan keuangan dengan persentase kecenderungan trend.

PT. PRADNYANA

NERACA PERBANDINGAN DENGAN PERSEN KECENDERUNGAN

PER 31 DESEMBER 2008 - 2012

Pos-pos Desember 31 (Rp.000.000) % Kecenderungan th dasar 2008 = 100 %


Aktiva lancar 2008 2009 2010 2011 2012 2009 2010 2011 2012
Kas 6 3 1,5 2,5 1 50 25 42 17
Piutang dagang 48 50 65 82 95 104 135 171 198
Persediaan 90 92,5 105 117,5 145 103 117 131 161
Persekot biaya 5 7,5 10 12,5 15 150 200 250 300
Jumlah aktiva lancar 149 153 181,5 214,5 256 103 122 144 172
Tanah 7,5 7,5 7,5 7,5 7,5 100 100 100 100
Bangunan 71 78 73,5 54,5 50,5 110 104 77 71
Aktiva tetap lainnya 32,5 35,5 31,5 45 45 109 97 138 138
Cad. Peny. Aktiva tetap (9) (11) (11) (12) (13) (117) (122) (133) (144)
Jumlah aktiva 251 263.5 283 309,5 346 105 113 123 138
Hutang dan modal
Hutang dagang 44 57 83,5 105 138 130 190 239 314
Hutang wesel 5 7,5 17,5 35 50 150 350 700 1000
Hutang gaji 20 24 40,5 30 36,5 120 203 150 183
Jumlah hutang lancar 69 88,5 141,5 170 224,5 128 205 246 325
Hutang jk. Panjang 5 5 5 5 5 100 100 100 100
Jumlah hutang 74 93,4 146,5 175 229 126 198 236 310
Modal saham 25 25 25 25 25 100 100 100 100
Laba ditahan 152 145 111,5 109,5 91,5 95 73 72 60
177 170 136,5 134,5 116,5 96 77 76 66
Jml. Hutang dan modal 251 263,5 283 309,5 346 105 113 123 138

11
PT. PRADNYANA

LAPORAN RUGI-LABA PERBANDINGAN DENGAN PERSEN


KECENDERUNGAN

31 DESEMBER 2008 - 2012

POS-POS Desember 31 (Rp.000.000) Persen kecenderungan tahun dasar 2008=100


2008 2009 2010 2011 2012 2009 2010 2011 2012
Penjualan neto 524 474,5 350 449 547,5 91 67 86 104
Harga pokok penjulan 406 375,5 283 319 368 92 70 79 91
Laba kotor 118 99 67 130 179,5 84 57 110 152
Biaya penjulan 59,5 52 20 63,5 100,5 87 34 107 169
Biaya administrasi 30 20 11 34 53,5 67 37 113 178
Biaya operasi 89,5 72 31 97,5 154 80 35 109 172
Laba operasi 28,5 27 36 32,5 25,5 95 126 114 89
Biaya lain-lain (bunga) 1,5 2 2,5 5,5 7,5 133 167 367 500
Laba bersih sebelum pajak 27 25 33,5 27 18 93 124 100 67
Pajak 8 8 10 8 5 93 124 100 67
Laba bersih setelah pajak 19 18 23 19 13 93 124 100 67

Analisis dan Interprestasi

Aspek Likuiditas

Aktiva lancar dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 mengalami kenaikan
masing-masing 3%, 22%, 4% dan 72%. Kenaikan utang lancer pada periode yang sama
adalah 28%, 105%, 146% dan 225 %. Dari kenaikan persentase kecenderungan dapat kita
lihat bahwa kenaikan utang lancar jauh lebih besar dari pada kenaikan aktiva lancer. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa trend likuiditas cenderung menurun.

Aspek Solvabilitas

Jumlah uang dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 naik masing-masing 26%,
98%, 136% dan 210%. Sementara penurunan modal sendiri pada periode yang sama masing-
masing 4%, 23%, 24% da 34%. Hal ini menunjukkan bahwa ada kecenderungan perubahan
semakin besar dibelanjai dana pinjaman. Dari angka tersebut, dapat di simpulkan bahwa trand
solvabilitas perusahaan cenderung menurun.

12
Aspek Rentabilitas

Trand laba dari tahun ke tahun menunjukkan penurunan. Laba operasi tahun 2009
turun 5%, tahun 2010n naik 26%, tahun 2011 naik 14% dan tahun 2012 turun 11%.
Sementara jumlah aktiva dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 naik masing-masing 5%,
13%, 23% dan 38%. Dari trend angka tersebut dapat di simpulkan bahwa kecenderungan
rentabilitas perusahaan semakin menurun.

Aspek Aktivitas Usaha

Trend penjulan neto dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2011 turun masing-masing
9%, 33%, 14% dan tahun 2012 naik 4%. Kalau dibandingkan dengan trend piutang dagang
yang naik tahun 2009 samapai dengan tahun 2012 masing-masing 4%, 35%, 71% dan 98%,
maka dapat di simpulkan bahwa bagian penagihan bekerja kurang efektif. Seharusnya apabila
trend penjualan turun, maka trend piutang dagang selayaknya turun. Kemudian kalau
dibandingkan antar trend penjualan dengan trend persediaan menunjukkan bahwa trend
persediaan naik 3%, tahum 2010 naik 17%, tahun 2011 naik 31% dan tahun 2012 naik 61%.
Apabila keadaannya normal, maka dapat disimpulkan bahwa ada kemungkinan bagian
pembelian atau bagian pemasaran atau bagian produksi bekerja kurang efisien. Jadi kalau
yang menumpuk bahan baku berarti bagian pembelian yang kurang beres, dan apabila yang
menumpuk bahan jadi / dalam proses, maka kemungkinan bagian pemasaran atau bagian
produksi yang berkerja kurang cermat.

2.4 Analisis Sumber dan Penggunaan Dana


2.4.1 Pengertian Analisis Sumber dan Penggunaan Dana
Analisis sumber dan penggunaan dana atau sering disebut analisis aliran dana,
merupakan alat analisis finansial yang dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana dana
digunakan dalam perusahaan dan bagaimana pendanaan atau pembelanjaannya. Laporan
aliran dana atau sering disebut Laporan Sumber dan Penggunaan Dana merupakan alat
penting bagi manajer keuangan atau kreditur dalam menilai dari mana sumber dana dan
digunakan untuk apa saja dana tersebut. Dengan analisa sumber dan penggunaan dana akan
dapat diketahui bagaimana perusahaan mengelola atau menggunakan dana yang dimilikinya,
analisis ini juga dapat memberi pemahaman yang lebih baik terhadap operasi keuangan
perusahaan.
Aliran dana dalam perusahaan bisa digambarkan sebagai proses yang kontinyu.
Untuk setiap penggunaan dana haruslah ada sumbernya. Dalam arti yang luas, aktiva-aktiva

13
yang dimiliki perusahaan menunjukkan penggunaan bersih dari dana, sedangkan hutang-
hutang dan modal sendiri mencerminkan sumber dananya.
Aliran dana dalam satu periode dapat diketahui melalui laporan keuangan (neraca dan
laporan laba/rugi) untuk dua periode atau dua titik waktu. Analisis ini dimulai dari
penyusunan laporan perubahan neraca yang disusun atas neraca dua periode tersebut. Dari
laporan perubahan neraca dan informasi laba dari laporan laba/rugi itulah disusun laporan
sumber dan penggunaan dana. Laporan ini menunjukkan dari mana sumber dana dan
digunakan apa saja dana tersebut.
Pengertian dana dapat berbeda-beda tergantung pada tujuan analisis. Dalam hal ini
pengertian dibagi dalam dua katagori yaitu dana dalam pengertian kas dan dana dalam
pengertian modal kerja. Pengertian modal kerja adalah modal kerja netto yaitu kelebihan
aktiva lancar di atas hutang lancar. Dalam Bab ini diuraikan analisis sumber penggunaan
dana dalam artian kas yang disebut Laporan Sumber dan Penggunaan Kas dan analisis
sumber dan penggunaan dana dalam artian modal kerja yang disebut laporan Sumber dan
Penggunaan Modal Kerja.
2.4.2 Laporan Sumber dan Penggunaan Kas

Kas merupakan aktiva yang paling likuid atau merupakan salah satu unsur aktiva
lancar yang paling tinggi likuiditasnya. Semakin besar jumlah kas yang dimiliki oleh suatu
perusahaan akan semakin tinggi pula tingkat likuiditasnya. Tetapi suatu perusahaan yang
mempunyai tingkat likuiditas yang tinggi karena adanya kas dalam jumlah yang besar berarti
tingkat perputaran kas tersebut rendah dan mencerminkan over investment dalam kas dan
berarti pula bahwa perusahaan kurang efektif dalam mengelola kas. Jumlah kas yang relatif
kecil akan diperoleh tingkat perputaran kas yang tinggi dan keuntungan yang diperoleh akan
lebih besar. Suatu perusahaan yang hanya mengejar keuntungan tanpa memperhatikan
likuiditas, mengakibatkan perusahaan kurang mampu membayar kewajibannya sewaktu-
waktu. Berdasarkan uraian tersebut, dapat dinyatakan bahwa kas sangat berperanan dalam
menentukan kelancaran kegiatan perusahaan, oleh karena itu kas harus direncanakan dan
diawasi, baik penerimaannya (sumber-sumbernya) maupun penggunaannya
(pengeluarannya). Perencanaan dan pengawasan kas bisa dilakukan dengan menganalisis
Laporan Sumber dan Penggunaan Kas.

Laporan Sumber dan Penggunaan Kas atau Laporan Perubahan Kas (cash flow
statement) disusun untuk menunjukkan perubahan kas selama satu periode dan dengan
menunjukkan dari mana sumber-sumber kas dan penggunaannya. Laporan Sumber dan

14
Penggunaan Kas dapat digunakan sebagai dasar dalam menaksir kebutuhan kas di masa
mendatang dan kemungkinan sumber-sumber yang ada, atau dapat digunakan sebagai dasar
perencanaan dan peramalan kebutuhan kas atau cash flow di masa yang akan datang.
Sedangkan bagi kreditur atau bank Laporan Sumber dan penggunaan Kas akan dapat menilai
kemampuan perusahaan dalam membayar bunga atau mengembalikan pinjamannya.

Penyusunan Laporan Sumber dan Penggunaan Kas diperlukan langkah-langkah


sebagai berikut (Riyanto, 2002):

1) Membandingkan dua Neraca untuk menyusun perubahan pada masing-masing


elemen Neraca.
2) Mengelompokkan perubahan-perubahan tersebut dalam kelompok perubahan
yang memperbesar kas dan kelompok yang memperkecil kas. Mengelompokkan elemen-
elemen dalam Laporan Laba/Rugi atau Laporan Laba Ditahan ke dalam kelompok yang
memperbesar kas dan kelompok yang memperkecil jumlah kas.
3) Mengadakan konsolidasi dari semua informasi tersebut ke dalam Laporan
Sumber dan Penggunaan Kas.

Elemen-elemen dari neraca yang selalu diperhatikan berdasarkan penggolongan


sebagai berikut:

1) Elemen-elemen aktiva lancar selain kas


2) Elemen-elemen aktiva tetap
3) Elemen-elemen dari modal baik dari modal sendiri maupun modal asing
4) Keuntungan perusahaan yang berasal dari operasi.

Perubahan dari masing-masing elemen tersebut yang mempunyai efek memperbesar


kas disebut sebagai sumber kas. Dengan demikian adanya sumber kas dapat ditandai dengan:
1) Berkurangnya aktiva lancar selain kas
Berkurangnya aktiva lancar selain kas adalah merupakan sumber dana yang
menambah kas. Misalnya, berkurangnya piutang karena adanya pelunasan, akan masuk ke
dalam kas. Begitu juga berkurangnya surat-surat berharga menunjukkan terjualnya surat-
surat berharga dan hasil penjualan tersebut akan menambah kas. Berkurangnya persediaan
berarti terjualnya persediaan dan hasil penjualan mengakibatkan bertambahnya kas.

15
2) Berkurangnya aktiva tetap
Berkurangnya aktiva tetap dapat derjadi karena adanya transaksi penjualan aktiva
tetap dan hasil penjualannya akan menambah kas. Disamping itu, berkurangnya aktiva tetap
karena depresiasi juga merupakan sumber dana yang menambah kas.
3) Bertambahnya hutang-hutang
Bertambahnya hutang jangka pendek maupun hutang jangka panjang merupakan
sumber dana yang menambah kas.
4) Bertambahnya modal
Penambahan modal ke dalam perusahaan oleh pemiliknya, misalnya melalui
penjualan saham baru, akan menambah kas dan merupakan sumber dana.
5) Adanya keuntungan dari operasi perusahaan.
Adanya laba yang ditahan, akan merupakan sumber dana dan memperbesar kas. Laba
ditahan merupakan bagian laba yang tidak dibagi kepada pemiliknya (dividen), yang
dipegang perusahaan dalam bentuk tunai, laba ditahan menjadi alternatif sumber dana yang
berasal dari interval perusahaan.
Sebaliknya, perubahan yang efeknya memperkecil kas merupakan penggunaan kas,
yang ditandai dengan:
1) Bertambahnya aktiva lancar selain kas
Bertambahnya aktiva lancar selain kas ini dapat disebabkan karena adanya transaksi
pembelian, yang merupakan aliran kas keluar perusahaan. Adanya pembelian jelas
membutuhkan dana sehingga mengurangi kas yang dimiliki perusahaan.
2) Bertambahnya aktiva tetap
Bertambahnya aktiva tetap dapat terjadi karena pembelian, ini berarti telah terjadi
penggunaan dana untuk pembelian tersebut.
3) Berkurangnya hutang
Berkurangnya hutang berarti telah terjadi pembayaran sehingga jumlah kas akan
berkurang.
4) Berkurangnya modal
Hal ini dapat terjadi karena perusahaan mengambil kembali saham-saham yang
tertanam dan ini berarti berkurangnya dana yang merupakan penggunaan dana.
5) Pembayaran dividen tunai
Dividen tunai dibayarkan dari laba netto sesudah pajak pembayaran ini jelas
merupakan penggunaan dana.

16
6) Adanya kerugian
Terjadinya kerugian berarti perusahaan harus menutup kerugian tersebut dengan
mengurangi dana yang ada.
Berikut adalah ilustrasi penyusunan Laporan Sumber dan Penggunaan Kas :

Neraca PT PERMANA

Pada akhir tahun 2011 dan 2012 (dalam jutaan rupiah)

Keterangan 2011 2012


AKTIVA

Kas 32,000 30,000

Surat-surat berharga 75,000 70,000

Piutang 250,000 200,000

Persediaan 650,000 400,000

Jumlah aktiva lancar 1.007.000 700,000


Aktiva Tetap

Pabrik dan Perlengkapannya 2,000,000 2,300,000

Akumulasi penyusutan (400,000) (500,000)

Jumlah Aktiva Tetap Bersih 1.600.000 1.800.000

Total Aktiva 2.607.000 2.500.000


PASIVA

Hutang dagang 97,000 40,000

Hutang wesel 210,000 150,000

Hutang bank 400,000 425,000

Hutang lainnya 25,000 25,000

Hutang pajak 125,000 120,000

Jumlah hutang lancar 847,000 760,000

Hutang jangka panjang 600,000 540,000

Saham biasa 700,000 700,000

Laba yang ditahan 460,000 500,000

Total Pasiva 2.607.000 2.500.000

17
Laporan Laba Rugi PT PERMANA

Pada akhir tahun 2011 dan 2012 (dalam jutaan rupiah)

Keterangan 2011 2012


Penjualan 3,500,000 3,600,000
Harga pokok penjualan 2,600,000 2,700,000
Laba kotor 900,000 900,000
Biaya operasi (penjualan, administrasi, umum) 180,000 200,000
Laba sebelum bunga dan pajak 720,000 700,000
Bunga 160,000 150,000
Laba sebelum pajak 560,000 550,000
Pajak (40%) 224,000 220,000
Laba bersih setelah pajak 336,000 330,000

Berdasarkan Neraca dan Laporan Laba/Rugi tersebut maka selanjutnya dapat dimulai
langkah-langkah penyusunan laporan sumber dan penggunaan dana. Sumber dan
penggunaan dana yang dianalisis adalah sumber dan penggunaan tahun 2012.
Langkah pertama adalah menyusun laporan perubahan neraca dan mengklasikasikan
perubahan elemen-elemen ke dalam perubahan yang meningkatkan kas (sumber dana) dan
perubahan yang menurunkan kas (penggunaan dana).
Dari laporan perubahan neraca dapat diketahui elemen-elemen yang merupakan
sumber kas dan elemen-elemen penggunaan kas.

18
PT PERMANA
LAPORAN PERUBAHAN NERACA
(dalam jutaan rupiah)
Keterangan 2011 2012 Sumber Penggunaan
Kas 32,000 30,000 2,000
Surat surat berharga 75,000 70,000 5,000
Piutang 250,000 200,000 50,000

Persediaan 650,000 400,000 250,000


Aktiva tetap 2,000,000 2,300,000 300,000

Akum. penyusutan (400,000) (500,000) 100,000


Total aktiva tetap 2,607,000 2,500,000
Hutang dagang 87,000 40,000 47,000
Hutang wesel 210,000 150,000 60,000
Hutang bank 400,000 425,000 25,000
Hutang pajak 125,000 120,000 5,000
Hutang lainnya 25,000 25,000
Hutang Jk. panjang 600,000 540,000 60,000
Saham biasa 700,000 700,000
Laba yang ditahan 460,000 500,000 40,000
Total pasiva 2,607,000 2,500,000

Jumlah 472,000 472,000

Langkah berikutnya perlu menghitung dana yang bersumber dari operasi. Dana dari
operasi bersumber dari laba bersih tahun 2011 sebesar Rp. 330.000 juta dan penyusutan Rp.
100.000 juta. Dana tersebut sebagian digunakan untuk membayar dividen yang dapat
dibuktikan dari laporan laba ditahan 2012 yang dapat dirinci seperti berikut ini dalam jutaan.

Laba ditahan awal 2012 (akhir 2011) Rp 460.000


Laba bersih 2012 Rp 330.000
Laba ditahan yang tersedia 2012 Rp 790.000
Laba ditahan 2012 Rp (500.000)
Dividen tunai 2012 Rp 290.000
Langkah terakhir dapat disusun laporan sumber dan penggunaan dana.

19
PT PERMANA
LAPORAN SUMBER DAN PENGGUNAAN KAS
PERIODE 2012 (Dalam Jutaan Rupiah)

Sumber Penggunaan
Dana diperoleh dari operasi
Laba bersih 330,000 Dividen 290,000
Penyusutan 100,000 Tambahan aktiva tetap 300,000
Berkurangnya surat berharga 5,000 Berkurangnya hutang dagang 47,000
Berkurangnya piutang 50,000 Berkurangnya hutang wesel 60,000
Berkurangnya persediaan 250,000 Berkurangnya hutang pajak 5,000
Berkurangnya hutang jangka
Kenaikan hutang bank 25,000 60,000
panjang
Penurunan Kas 2,000
Jumlah 762,000 Jumlah 762,000

Berdasarkan Laporan Sumber dan Penggunaan Kas tersebut dapat diperoleh beberapa
catatan. Penggunaan kas yang utama adalah untuk menambah aktiva tetap, membayar
dividen dan membayar hutang (hutang dagang, hutang wesel dan hutang jangka panjang).
Penggunaan kas ini terutama dibelanjai dari operasi (laba bersih dan penyusutan), terjualnya
persediaan dan tertagihnya piutang. Ternyata penggunaan kas lebih besar Rp. 2.000 juta
sehingga kas berkurang sebesar Rp 2.000 juta pula.

2.4.3 Laporan Sumber dan Penggunaan Modal Kerja

Pengertian modal kerja disini adalah modal kerja neto yaitu kelebihan aktiva lancar
(current assets) di atas hutang lancar (current liabilities). Apabila pada suatu saat modal
kerja lebih besar daripad modal kerja sebelumnya berarti terjadi kenaikan modal kerja. Ini
berarti sumber modal kerja lebih besar dari penggunaannya, demikian pula sebaliknya.
Untuk melakukan analisis perlu diketahui faktor-faktor penyebab perubahan tersebut. Dalam
hal aktiva lancar dan hutang lancar dikatagorikan sebagai current account.

Laporan Sumber dan Penggunaan Modal Kerja merupakan sumber dan penggunaan
dana dalam artian yang lebih luas. Berdasarkan laporan ini dapat diketahui dari mana saja
sumber-sumber modal kerja dan untuk apa saja penggunaannya. Berdasarkan

20
pengelompokan komponen neraca dapat dijelaskan, bahwa yang merupakan sumber-sumber
modal kerja adalah:

1) berkurangnya aktiva tetap


2) bertambahnya hutang jangka panjang
3) bertambahnya modal
4) keuntungan dari operasi

Sedangkan penggunaan modal kerja adalah:

1) pembayaran dividen tunai (cash dividend)


2) bertambahnya aktiva tetap
3) berkurangnya hutang jangka panjang
4) berkurangnya modal
5) kerugian dari operasi perusahaan

Langkah-langkah dalam penyusunan laporan sumber dan penggunaan modal kerja:

1) Menyusun laporan perubahan modal kerja.


2) Mengelompokkan perubahan unsur-unsur non current account yang dapat
memperbesar dan memperkecil modal kerja.
3) Mengelompokkan unsur-unsur dalam laporan laba/rugi dan laba ditahan ke
dalam kelompok perubahan yang memperbesar atau memperkecil modal kerja.
4) Menyusun laporan sumber dan penggunaan modal kerja.
Dengan kembali melihat laporan keuangan PT PERMANA maka pertama dapat
dihitung perubahan modal kerja sebagai berikut:
Modal kerja 2011 sebesar Rp 160.000 juta (Rp 1.007.000 juta Rp 847.000 juta).
Modal kerja 2012 negatif Rp 60.000 juta (Rp 700.000 juta Rp 760.000 juta).

21
Berikut adalah penyusunan Laporan Perubahan Modal Kerja PT PERMANA:

PT PERMANA
Laporan Perubahan Modal Kerja
(Dalam Jutaan Rupiah)
Keterangan 2011 2012 Bertambah/ Berkurang
Kas 32,000 30,000 (2,000)
Surat surat berharga 75,000 70,000 (5,000)

Piutang 250,000 200,000 (50,000)

Persediaan 650,000 400,000 (250,000)

Total aktiva Lancar 1,007,000 700,000 (307,000)

Hutang dagang 87,000 40,000 47,000

Hutang wesel 210,000 150,000 60,000

Hutang bank 400,000 425,000 (25,000)

Hutang pajak 125,000 120,000 5,000


Hutang lainnya 25,000 25,000

Total Hutang Lancar 847,000 760,000 87,000

Perubahan Modal Kerja 160,000 (60,000) (220,000)

Dengan demikian, selama 2011 2012 terjadi penurunan modal kerja sebesar Rp
220.000 juta. Ini menunjukkan bahwa penggunaan modal kerja lebih besar dari pada
sumbernya. Laporan sumber dan penggunaan modal kerja dapat disusun dengan melihat
kembali laporan perubahan neraca dan perhitungan dana dari operasi dan cash dividend.

22
PT PERMANA
Laporan Perubahan Non-Current Account
(Dalam Jutaan Rupiah)
Keterangan 2011 2012 Sumber Penggunaan
Aktiva tetap 2.000.000 2.300.000 300,000
Akum. penyusutan (400,000) (500,000) 100,000
Total aktiva tetap 1.600.000 1.800.000

Hutang Jk. panjang 600,000 540,000 60,000


Saham biasa 700,000 700,000
Laba yang ditahan 460,000 500,000 330,000 290,000
Total pasiva 1.760.000 1.740.000

Menghitung dana yang digunakan untuk membayar dividen :


Laba ditahan awal 2012 ( akhir 2011) Rp. 460.000.000
Laba bersih 2012 Rp 330.000.000
Laba ditahan yang tersedia 2012 Rp. 790.000.000
Laba ditahan 2012 Rp. 500.000.000
Dividen tunai 2012 Rp 290.000.000

PT PERMANA
Laporan Sumber dan Penggunaan Modal Kerja
Periode 2011-2012
(Dalam Jutaan Rupiah)
Sumber Penggunaan

Dana dari operasi Dividen 290,000

Laba bersih 330,000

Penyusutan 100,000 Penambahan aktiva tetap 300,000

Penurunan modal kerja 220,000 Penurunan hutang jangka panjang 60,000

Jumlah 650,000 Jumlah 650,000

Dari laporan tersebut dapat dilihat bahwa penurunan modal kerja sebesar Rp 220 juta
diantaranya adalah untuk menambah aktiva tetap.

23
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Analisis laporan keuangan mencakup apakah suatu aktiva dan pasiva perusahaan
dikelola secara benar, termasuk juga aktivitas pendanaannya untuk meningkatkan nilai
perusahaan (value of the firm). Melalui analisis laporan keuangan dapat diketahui kinerja
keuangan suatu perusahaan, yang dipergunakan untuk menilai kekuatan dan kelemahan
perusahaan pada saat ini sebagai kerangka kerja perencanaan dan pengendalian keuangan.
Analisis persentase per komponen atau commonsize adalah metode analisis laporan
keuangan yang disusun secara vertikal untuk mengetahui persentase investasi pada masing-
masing pos aktiva terhadap total aktiva, pos-pos pasiva terhadap total pasivanya, serta pos-
pos laba rugi terhadap total penjualan nettonya. Analisis indeks atau trend ialah salah satu
metode analisis laporan keuangan untuk mengetahui kecenderungan atau tendensi keadaan
keuangan suatu perusahaan, apakah naik, turun, atau tetap.
Analisis Sumber dan Penggunaan Kas akan dapat digunakan sebagai dasar
perencanaan dan peramalan kebutuhan kas di masa yang akan datang. Sumber kas dapat
ditandai dengan : berkurangnya aktiva lancar selain kas; berkurangnya aktiva tetap;
berkurangnya aktiva tetap dapat terjadi karena adanya transaksi penjualan aktiva tetap dan
hasil penjualannya akan menambah kas; bertambahnya hutang-hutang; bertambahnya hutang
jangka pendek maupun hutang jangka panjang; bertambahnya modal; dan adanya keuntungan
dari operasi perusahaan. Sebaliknya penggunaan kas, yang ditandai dengan : bertambahnya
aktiva lancar selain kas; bertambahnya aktiva tetap; berkurangnya hutang; berkurangnya
modal; pembayaran dividen tunai; dan adanya kerugian.
Laporan Sumber dan Penggunaan Modal Kerja dapat diketahui dari mana saja
sumber-sumber modal kerja dan untuk apa saja penggunaannya. Sumber-sumber modal kerja
adalah : bertambahnya modal; keuntungan dari operasi. Sedangkan penggunaan modal kerja
meliputi pembayaran dividen tunai (cash dividend); bertambahnya aktiva tetap; berkurangnya
hutang jangka panjang; berkurangnya modal dan kerugian dari operasi perusahaan.
3.2 Saran
Laporan keuangan yang dihasilkan oleh perusahaan dari tahun ke tahun dapat digunakan
untuk mengetahui atau mendeteksi aliran dana yaitu dari mana sumber dana itu berasal atau
dihasilkan dan untuk apa serta bagaimana dana tersebut digunakan atau dibelanjakan. Oleh

24
karena itu, perusahaan harus hati-hati dalam menangani masalah keuangan dalam
pengelolaan sumber dan penggunaan modal kerja atau dana. Laporan sumber dan
penggunaan dana ini merupakan suatu laporan yang berguna bagi pihak manajemen
perusahaan, para kreditur, para pemegang saham, dan pihak-pihak lainnya.

25
DAFTAR PUSTAKA

Brigham. Eugene F, Joel F. Houston. Manajemen Keuangan Edisi Kedelapan Buku 1.


Penerbit Erlangga. Diakses Pada 17 September 2016, dari Google Scholar.

Wiagustini, Ni Luh Putu. 2014. Manajemen Keuangan. Denpasar : Udayana Univerity Press.

26