Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH TEKNOLOGI SEDIAAN CAIR DAN SEMI PADAT

FORMULASI SUSPENSI ERITROMISIN

Disusun oleh:

1. Atika Rizki (F120155006)

2. Lailil Mukaromah (F120155014)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH KUDUS


PROGRAM STUDI S-1 FARMASI
Alamat : Jl. Ganesha I Purwosari Kudus 59316, Jawa Tengah, Indonesia
Telp : (0291) 437 218/442993
TAHUN 2016/2017
i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik, dan hidayah-nya penulis dapat menyelesaikan makalah tentang Formulasi
Eritromisin dengan baik, meskipun banyak kekurangan didalamnya. Penulis juga
berterimakasih pada Ibu Eko Retnowati, M.Si.,M.Farm.,Apt selalu dosen mata kuliyah teknologi
sediaan cair dan semi padat yang telah memberikan tugas ini kepada kami sebagai penulis
sebagai mahasiswa.
Penulis berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan tentang vitamin. Penulis juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini
terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, penulis berharap adanya kritik,
saran, dan usulan demi perbaikan makalah yang telah di buat di masa yang akan datang,
mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya
makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi penulis sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya penulis mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penulisan dan
penulis memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan makalah ini.

Rabu, 20 september 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................... i

DAFTAR ISI.............................................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .......................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................................... 3
1.3 Tujuan ........................................................................................................................ 3
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Sediaan suspensi
2.1.1 Pengertian Suspensi .......................................................................................... 4
2.1.2 Stabilitas Suspensi ............................................................................................ 5
2.1.3 Ukuran partikel ................................................................................................. 5
2.1.4 Kekentalan (viskositas) .................................................................................... 5
2.1.5 Jumlah partikel ................................................................................................. 6
2.1.6 Sifat atau muatan positif ................................................................................... 6
2.1.7 Bahan pensuspensi alam bukan gom ................................................................ 8
2.1.8 Cara mengerjakan obat dalam suspensi............................................................ 10
2.2 Zat aktif eritromisin
2.2.1 Indikasi eritromisin........................................................................................... 13
2.2.2 Kontraindikasi eritromisin ................................................................................ 14
2.2.3 Dosis eritromisin dan cara penggunaan............................................................ 14
2.2.4 Efek samping eritromisin ................................................................................. 15
2.2.5Peringatan dan perhatian ................................................................................... 15
2.2.6Interaksi eritromisin .......................................................................................... 15
2.3 Cara pembuatan formulasi suspense eritromisin ....................................................... 16
2.4 Formulasi suspense eritromisin ................................................................................. 17
2.5 Pemerian formulasi suspense eritromisin .................................................................. 18
2.6 Perhitungan formulasi eritromisin ............................................................................. 22

iii
2.7 Pengujian formulasi eritromisin ................................................................................ 23
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan .................................................................................................................... 25
3.2 Sarsan ........................................................................................................................ 25

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

iv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Suspensi banyak digunakan karena mudah penggunaannya terhadap anak- anak,
bayi, dan juga untuk orang dewasa yang sukar menelan tablet atau kapsul. Suspensi juga
dapat diberi zat tambahan untuk menutupi rasa tidak enak dari zat aktifnya. Umumnya
bentuk cair lebih disukai daripada bentuk tablet atau kapsul karena mudah ditelan dan
mudah diatur penyesuaian dosisnya untuk anak (Ansel, 1989). Suatu suspensi dari mulai
diolah sampai menjadi produk yang pada akhirnya sampai ke pasien membutuhkan
waktu yang cukup lama. Oleh karena itu, sediaan tersebut harus tetap stabil, baik dalam
penyimpanan maupun dalam penggunaan. Hal ini dimaksudkan agar obat dalam bentuk,
bau, dan rasanya dapat diterima pasien dalam keadaan yang baik. Faktor yang
mempengaruhi stabilitas fisik suspensi adalah volume sedimentasi, sifat alir, dan ukuran
partikel (Ansel, 1989).
Secara fisik, sebagian obat berbentuk padat. Kelarutan (solubilility) suatu obat
merupakan sifat fisikokimia yang sangat penting. Penentuan kelarutan obat dan cara
pemodifikasi (meningkatkan dan menurunkan) kelarutan sangat penting dalam
mengembangkan sediaan. Kesediaan hayati (bioavailabilility/BA) dari suatu obat yang
diberikan secara oral bergantung terutama pada kelarutan obat dalam salur cerna dan
permeabilitasnya melewati membrane salur cerna. Hal ini merupakan dasar pokok
system klasifikasi biofarmasetika (Biopharmaseutical Classification Syistem/ BCS).
Sebelum dapat diserap, molekul obat harus berada dalam keadaan terlarut agar obat
dapat ditranspormelalui membrane biologi. Oleh sebab itu, kelarutan yang rendah
didalam air (cairan salur cerna) akan dapat menunda/memperlama/membatasi absorbs
obat. Kelarutan obat penting pula diketahui bila obat dimasukkan kedalam aliran darah.
Selain itu, dalam studi farmakologi, dan farmakokinetik kelarutan obat penting
diketahui selama tahap pengembangan obat.
Untuk zat aktif yang tidak setabil dalam pembawa air, kesetabilan zat aktif dapat
dipertahankan karena kontak zat padat dengan medium pendispersi dapat dipersingkat
dengan mendispersikan zat padat dengan medium pendispersi pada saat akan

1
digunakan. Beberapa obat dengan berbagai efek samping yang menyebabkan gangguan
pada organ lain setelahnya membuat ahli farmasi memikirkan secara mendalam tentang
pembangunan sediaan obat yang mudah terabsorbsi dan memiliki efeksamping yang
lebih sedikit.
Suspensi atau yang bias kita sebut dalam bahasa latin suspensiones dalam
pembuatannya pembasahan partikel dari serbuk yang tidak larut didalam cairan
pembawa adalah langkah yang penting. Kadang-kadang adalah sukar mendispersi
serbuk, karena adanya udara, lemak dan lain-lain kontaminan. Serbuk tadi tidak dapat
segera dibasahi, walaupun BJ nya mereka mengambang pada permukaan cair.
Sedangkan pada serbuk yang halus mudah kemasukan udara dan sukar dibasahi
meskipun ditekan dibawah permukaan dari suspensi medium.
Mudah dan sukar terbasahinya serbuk dapat dilihat dari sudut kontak yang
dibentuk serbuk dengan permukaan cairan. Serbuk dengan kontak 900 akan
menghasilkan serbuk yang terapung keluar dari cairan. Sedangkan serbuk yang
mengambang dibawah cairan mempunyai sudut kontak yang lebih kecil dan bila
tenggelam, menunjukan tidak adanya sudut kontak.
Dalam pembuatan suspensi penggunaan surfaktan (wetting agent) adalah sangat
berguna dalam penurunan tegangan antara muka antara partikel padat dan cairan
pembawa. Sebagai akibat turunnya tegangan antar muka akan menurunkan sudut
kontak, dan pembasahan akan dipermudah.
Salah satu masalah yang dihadapi dalam proses pembuatan suspensi adalah cara
memperlambat penimbunan partikel serta menjaga homogenitas partikel. Cara tersebut
merupakan salah satu tindakan untuk menjaga stabilitas suspensi. Beberapa fsaktor yang
mempengaruhi stabilitas suspensi adalah ukuran partikel, kekentalan (viskositas),
jumlah partikel (konsentrasi) dan sifat atau muatan partikel.
Pembuatan sediaan farmasi dalam bentuk suspensi mempunyai beberapa alasan
diantaranya karena obat tersebut tidak larut dalam air. Eritromisin merupakan
antimikroba yang dihasilkan oleh Streptomyces eryterus yang sangat sukar larut dalam
air. Eritromisin bersifat bakteriostatik dan bakterisid, tergantung dari jenis kuman dan
kadar eritromisin. Aktif terhadap kuman gram positif cocci, gram negatif cocci,dan
beberapa gram negatif basili. Eritromisin dapat diindikasikan untuk infeksi kulit dan

2
jaringan lunak yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus, infeksi saluran pernapasan
pada anak, batuk rejan, sinusitis yang disebabkan Streptococcus pyogenes, Haemofilus
influenzae, Streptococcus pneumoniae, Mycoplasma pneumoniae. Radang panggul akut
yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae pada penderita yang alergi terhadap
penisilin. Pencegahan terhadap endocarditis bacterial pada penderita yang alergi
terhadap penisilin dengan riwayat demam rematik dan kelainan jantung bawaan.
Eritromisin aktif terhadap kuman anaerob dalam usus sehingga bersama neomisin
digunakan untuk profilaksis bedah usus. Penyakit Legionnaires, karier Bordetella
pertussis pada nasofaring. Eritromisin biasa digunakan untuk infeksi Mycoplasma
pneumoniae, penyakit Legionnaire, infeksi klamidia, difteri, pertusis, infeksi
Streptococcus, Staphylococcus, infeksi Camylobacter, tetanus, syphilis, gonore
(Purwanto, 2002). Sediaan dari eritromisin berupa delayed-release capsules, delayed-
release tablets dan ophtalamic ointment (Gerald, 2005).
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa itu suspensi?
2. Apa itu eritromisin?
3. Apa formulasi suspensi eritromisin?
4. Apa pemerian formulasi suspensi tersebut?
5. Bagaiman pembuatan suspense eritromisin?
6. Bagaimana perhitungan formulasi tersebut?
7. Apa pengujian formulasi tersebut?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu suspense
2. Untuk mengetahui apa itu eritromisin
3. Untuk mengetahui formulasi suspense eritromisin
4. Untuk mengetahui pemerian formulasi suspense eritromisin
5. Untuk mengetahui cara pembuatan suspense eritromisin
6. Untuk mengetahui perhitungan formulasi eritromisin
7. Untuk mengetahui pengujian formulasi eritromisin

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Sediaan Suspensi

2.1.1 pengertian suspensi

Suspensi adalah sediaan cairan yang mengandung partikel padat


terdispersi dalam suatu pembawa cair dengan flavouring agent yang cocok untuk
pemberian obat (USP27).Yang terdispersi dalam fase cair yang mengandung partikel
padat dalam bentuk halus yang terdispersi dalam fase cair dengan bahan pengaroma
yang sesuai yang ditujukan untuk penggunaaan oral. Beberapa suspensi yang diberi
etiket sebagai susu atau magma termasuk dalam kategori ini. Beberapa suspensi dapat
langsung digunakan., sedangkan yang lain berupa campuran padat dalam bentuk halus
yang harus dikontitusikan terlebih dahulu dengan pembawa yang sesuai, segera sebelum
digunakan. Sediaan ini disebut Untuk Suspensi Oral.
Suspensi topikal adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat dalam
bentuk halus yang terdispersi dalam pembawa cair yang ditujukan untuk penggunaan
pada kulit . losion eksternal harus mudah menyebar didaerah pemakaian, dan cepat
kering membentuk lapisan film pelindung. Beberapa suspensi yang diberi etiket sebagai
Lotio termasuk dalam kategori ini.
Supensi tetes telinga adalah sediaan cair mengandung partikel-partikel halus yang
ditujukan untuk diteteskan pada telinga bagian luar.
Suspensi oftalmik adalah sediaan cair steril yang mengandung partikel-partikel
sangat halus yang terdispersi dalam cairan pembawa untuk pemakaian pada mata. Obat
dalam suspensi harus dalam bentuk termikronisasi agar tidak menimbulkan iritasi atau
goresan pada kornea, suspensi obat mata tidak boleh digunakan jika terdapat masa yang
mengeras atau terjadi pengumpalan.
Suspensi untuk injeksi adalah sediaan cair steril berupa suspensi serbuk dalam
medium cair yang sesuai dan tidak boleh menyumbat jarum suntiknya (syringe ability)
serta tidaka disuntikkan secara intra vena atau kedalam larutan spiral.

4
Suspensi untuk injeksi terkonstitusi adalah sediaan padat kering dengan bahan
pembawa yang sesuai untuk membentuk larutan yang memenuhi semua persyaratan
untuk suspensi steril setelah penambahan bahan pembawa yang sesuai.

2.1.2 Stabilitas Suspensi

Salah satu masalah yang dihadapi dalam proses pembuatan suspensi adalah cara
memperlambat penimbulan partikel serta menjaga homogenitas partikel. Cara tersebut
merupakan salah satu tindakan untuk menjaga stabilitas suspensi. Beberapa faktor yang
memengaruhi stabilitas suspensi ialah:

2.2.3 Ukuran partikel

Ukuran partikel erat hubungannya dengan luas penampang partikel tersebut serta
daya tekan keatas dari cairan suspensi itu. Hubungan antara ukuran partikel merupakan
perbandinga terbalik dengan luas penampangnya. Sedangkan antara luas penampang
dengan daya tekan ke atas terdapat hubungan linier. Artinya semakin kecil ukuran
partiker semakin besar luas penampangnya (dalam volume yang sama). sedangkan
semakin besar luas penampang partikel, daya tekanan keatas cairan akan semakin besar,
akibatnya memperlambat gerakan partikel untuk mengendap sehingga untuk
memperlambat gerakan tersebut dapat dilakukan dengan memperkecil ukuran partikel.

2.1.4 Kekentelan (Viskositas)

Kekentalan suatu cairan memengaruhi pula kecepatan aliran aliran tersebut,


seakin kental suatu cairan, kecepatan alirannya semakin turun atau semakin kecil.
Kecepatan aliran dari cairan tersebut akan memengaruhi pula gerakan turun partikel yang
terdapat di dalamnya. Dengan demikian, dengan menambah kekentalan atau viskositas
cairan, gerakan turun partikel yang dikandungnya akan diperlambat. Perlu diingat bahwa
kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar sediaan mudah dikocok dan dituang.
Hal ini dapat dibuktikan dengan Hukum Stokes.

Keterangan: V = kecepatan aliran

d = diameter partikel

5
p = bobot jenis partikel

p = bobot jenis cairan

g = gravitasi

= viskositas cairan

2.1.5 Jumlah Partikel (Konsentrasi)

Jika di dalam suatu ruangan terdapat partikel dalam jumlah besar, maka partikel
akan sulit melakukan gerakan bebas karena sering terjadi benturan antara partikel
tersebut. Oleh benturan ini akan menyebabkan terbentuknya endapana zat tersebut, oleh
karena itu semakin besar konsentrasi partikel, makin besar kemungkinannya terjadi
endapan partikel dalam waktu singkat.

2.1.6 Sifat atau Muatan partikel

Suatu Suspensi Kemungkinan besar terdiri atas beberapa macam campuran bahan
yang sifatnya tidak selalu sama dengan demikian, ada kemungkinan terjadi interaksi antar
bahan yang menghasilkan bahan yang sukar larut dalam cairan tersebut. Karena sifat
bahan tersebut sudah merupakan sifat alam, kita tidak dapat memengaruhinya.
Stabilitas fisik suspensi farmasi didefinisikan sebagai kondisi suspensi dimana
partikel tidak mengalami agregasi dan tetap terdistribusi merata. Jika partikel mengendap,
partikel tersebut akan mudah tersuspensi kembali dengan pengocokan ringan. Partikel
yang mengendap ada kemungkinan dapat saling melekat oleh suatu kekuatan untuk
membentuk agregrasi dan selanjutnya membentukcompacted cake, peristiwa itu
disebutcaking.
Jika dilihat dari faktor-faktor di atas, maka faktor konsentrasi dan sifat partikel
tersebut merupakan faktor yang tatap, artinya tidak dapat diubah lagi karena konsentrasi
merupakan jumlah obat yang tertulis dalam resep dan sifat partikel merupakan jumlah
obat yang tertulis dalam resep dan sifat partikel merupakan sifat alam . yang dapat diubah
atau disesuaikan adlah ukuran partikel dan viskositas.
Ukuran partikel dapat diperkecil dengan memngunakan mixer, homognizer,
colloid mill, dan mortir. Sedangkan viskositas fase eksternal dapat dinaikkan dengan

6
menambahkan zat pengental yang dapat larut kedalam cairan tersebut. Bahan-bahan
pengental ini sering disebut suspending agent (bahan pensuspensi), yang umumnya
bersifat mudah mengembang dalam air (hidrokoloid).
Bahan pensuspensi ataususpending agent dapat dikelompokkan sebagai bahan
pensuspensi dari alam dan bahan pensuspensi sintetik.

Bahan Pensuspensi dari Alam

Bahan alam dari jenis gom sering disebut gom atau hidrokoloid. Gom dapat
larut atau mengembang atau mengikat air sehingga campuran tersebut
mambentuk musilago atau lendir. Dengan terbentuknya misilago, viskositas cairan
tersebut bertambah dan akan menambah stabilitas suspensi. Kekentalan musilago sangat
dipengaruhi oleh panas, pH, dan proses fermantasi bakteri. Hal ini dapat dibuktikan
dengan percobaan berikut.
Simpan dua botol yang berisi musilago sejenis. Satu botol ditambah dengan
asam dan dipanaskan, kemudian keduanya disimpan ditempat yang sama. Setelah
beberapa hari diamati, ternyata botol yang ditambah asam dan dipanaskan mengalami
penurunan viskositas yang lebih cepat dibandingkan dengan botol tanpa pemanasan.
Golongan gom meliputi:

A. Akasia ( Pulvis Gummi Arabic)

Bahan ini diperoleh dari eksudat tanaman Acasia sp., dapat larut dalam air, tidak
larut dalam alkohol, dan bersifat asam. Vikositas optimum musilagonya adalah
antara pH 5-9. Jika ada suatu zat yang menyebabkan pH tersebut menjadi di luar
pH 5-9 akan menyebabkan penurunan viskositas yang nyata. Musilago Gom arab
dengan kadar 35% memiliki kekentalan kira-kira sama dengan gliserin. Gom ini
mudah dirusak oleh bakteri sehingga dalam suspensi harus ditambahkan zat
pengawet(preservative).

B. Chondrus

Diperoleh dari tanamanChondrus crispus atau gigartina mamilosa, dapat larut


dalam air, tidak larut dalam alkohol dan bersifat basa. Ekstrak dari Chondrus

7
disebut karagen. Yang banyak dipakai oleh industri makanan. Karagen
merupakan derivat dari sakarida sehingga mudah dirusak oleh bakteri dan
memerlukan penambahan pengawet untuk suspensi tersebut.

C. Tragakan

Merupakan eksudat dari tanaman Astragalus gummifera. Tragakan sangat


lambat mengalami hidrasi sehingga untuk mempercepat hidrasi biasanya
dilakukan pemanasan Mustilago tragakan lebih kental dari pada musilago dan
Gom arab. Musilago tragakan hanya baik sebagai stabilisator suspensi, tapi bukan
sebagai emulgator.

D. Algin

Diperoleh dari beberapa spesies ganggang laut. Di perdagangan terdapat dalam


bentuk garamnya, yaitu natrium alginat. Algin merupakan senyawa organik yang
mudah mengalami fermentasi bakteri sehingga suspensi dengan algin memerlukan
bahan pengawet. Kadar yang dipakai sebagai bahan pensuspensi umumnya 1-2%.

2.1.7 Bahan Pensuspensi Alam Bukan Gom

Penggunaan suspending agent dalam suspensi adalah untuk meningkatkan


viskositas suspensi sehingga suspensi menjadi lebih stabil. Salah satu contoh dari
suspending agent adalah PGA (Pulvis Gummi Arabici). PGA atau gom arab, Gom
akasia, gummi acaciae adalah eksudat gom kering yang diperoleh dari batang dan dahan
Acacia senegal wllid dan beberapa spesies Acacia lain. Pemerian hampir tidak berbau
dan rasa tawar seperti lendir. Kelarutannya mudah larut dalam air yang akan
menghasilkan larutan yang kental dan tembus cahaya. PGA praktis tidak larut dalam
etanol 95% P (Anonim, 1979). PGA mempunyai fungsi sebagai stabilizing agent,
suspending agent, emulsifying agent, viscosity-increasing agent (Rowe dan Sheskey,
2000). Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi stabilitas fisik
1. Mudah tidaknya dituang
Suspensi dituang dari botol dengan kemiringan kurang lebih 450, waktu yang
diperlukan untuk mencapai volume tertentu dicatat.

8
2. Ukuran partikel
Ukuran partikel ditentukan secara mikroskopis dengan cara, skala okuler
dikalibrasi dengan cara mikrometer ditempatkan di bawah mikroskop. Setelah
itu garis awal skala okuler dihimpitkan dengan garis awal objektif dan
ditentukan harga skala okuler; suspensi yang partikelnya akan dianalisis
diletakkan di atas obyek glass, lalu dilakukan grouping, yaitu ditentukan
ukuran partikel yang terkecil dan terbesar untuk sediaan dengan membagi
jarak ukur menjadi beberapa bagian; diukur kurang lebih 100 partikel dan
digolongkan ke dalam grup yang telah ditentukan.
3. Viskositas
Caranya suspensi yang telah dingin dimasukan dalam wadah, kemudian
viskosimeter dicelupkan di wadah tersebut. Tunggu hingga jarum berhenti
bergerak, catat angka yang tertera. Penetapan dilakukan tiap minggu selama
dua bulan.
4. Redispersibilitas
Suspensi yang telah disimpan dalam tabung berskala dengan volume yang
sama digojok dengan kecepataan tertentu menggunakan alat penggojok.
Waktu yang diperlukan untuk terdispersi kembali dicatat.

Suspending agent alam yang bukan gom adalah tanah liat. Tanah liat yang sering
dipergunakan untuk tujuan menambah stabilitas suspensi ada 3 macam yaitu bentonit,
hectorite, dan veegum. Jika tanak liat dimasukkan kedalam air, mereka akan
mengembang dan mudah bergerak jika dilakukan pengocokan, peristiwa ini
disebut tiksotrofi. Karena peristiwa tersebut kekentalan cairan akan bertambah
sehingga stabilitas suspensi menjadi lebih baik
Ketiga tanah liat tersebut bersifat tidak larut dalam air sehingga penambahan
bahan tersebut kedalam suspensi adalah dengan menaburkan pada campuran suspensi.
Keuntungan penggunaan bahan suspensi dari tanah liat adalah tidak dipengaruhi oleh
suhu atau panas dan fermentasi dari bakteri, karena bahan-bahan tersebut merupakan
senyawa anorganik, bukan golongan karbihidrat.

9
Bahan Pensuspensi Sintesis :

a. Derivat selulosa

Termasuk kedalam golonga ini adalah metil selulosa (methosoll,


tylose), karboksimetilselulosa (GMC), hidroksimetil selulosa. De belakang nama
tersebut biasanya terdapat angka atau nomor, misalnya methosol 1500. Angka ini
menunjukkan kemampuan cairan pelarut untuk meningkatkan viksositasnya.
Semakin besar angkanya, kemampuannya semakin tinggi. Golongan ini tidak
diabsorbsi oleh usus halus dan tidak beracun sehingga banyak dipakai dalam
produksi makanan. Dalam farmasi selain untuk bahan pensuspensi juga digunakan
sebagai laksansia dan bahan penghancur atau desin tregator dalam pembuatan
tablet.

b. Golongan organik polimer

Yang paling terkenal dalam kelompok ini adalah Carbophol 934 (nama
dagang suatu pabrik). Organik polimer berupa serbuk putih, bereaksi asam, sediki
larut dalam air, tidak beracun dan tidak mengiritasi kulit, serta sedikit
pemakainannya sehingga bahan tersebut banyak digunakan sebagai bahan
pensuspensi. Untuk memperoleh viskositas yang baik diperlukan kadar 1%.
Carbophol sangat peka terhadap panas dan elektrolit. Hal tersebut akan
mengakibatkanpenurunan viskositas larutannya.

2.1.8 Cara Mangerjakan Obat dalam Suspensi

Suspensi dapat dibuat dengan metode sebagai berikut.

Metode Dispersi

Meode ini dilakukan dengan cara menambahkan serbuk bahan obat ke dalam
musilago yang telah terbentuk, kemudian baru diencerkan. Perlu diketahui bahwa
kadang-kadang terjadi kesukaran pada saat mendispersikan serbuk ke dalam pembawa.
Hal tersebut karena adanya udara, lemak, atau kotaminan pada serbuk. Serbuk yang

10
sangat halus mudah termasuk diudara sehingga sukar dibasahi. Mudah dan sukarnya
bentuk dibasahi tergantung pada besarnya sudut kontak antara zat terdispersi dengan
medium. Jika sudut kontak 90%, serbuk akan mengambang diatas cairan. Serbuk yang
demikian disebut memiliki sifat hidrofob. Untuk menurunkan tegangan permukaan antara
partikel zat padat dengan cairan tersebut perlu ditambahkan zat pembasah atau wetting
agent.

Metode fresifikasi

Zat yang hendak di despersikan dilarutkan dahulu kedalam pelarut organik yang
hendak dicampur dengan air. Setelah larut dalam pelarut organik, larutan zat ini
kemudian diencerkan denga larutan pensuspensi dalam air sehingga akan terjadi endapan
harus tersuspensi dengan bahan pensuspensi. Cairan organik tersebut adalah ethanol,
propilen glikol, dan polietilenglikol.

Sistem pembentukan suspensi


a. Sistem flokulasi

Dalam sistem flokulasi, partikel flokulasi terikat, cepat mengendap dan pada
penyimpanan tidak terjadi cake dan mudah tersuspensi kembali.

b. Sistem deflokulasi

Partikel deflokulasi mengendap perlahan dan akhirnya membentuk sediner kan


terjadi agregrasi, dan akhirnya terbentuk cake yang keras dan sukar tersuspensi kembali.

Secara umum sifat partikel flokulasi dan deflokulasi adalah :

Deflokulasi

1. Partikel suspensi dalam keadaan terpisah satu dengan yang lainnya.


2. Sedimentasi yang terjadi lambat, masing-masing partikel mengandap terpisah dan
partikel berada dalam ukuran paling kecil.

11
3. Sedimen terbentuk lambat.
4. Akhirnya sedimen akan membentuk cake yang keras dan sukar terdispersi kembali.
5. Wujud suspensi bagus karena zat tersuspensi dalam waktu relatif lama terlihat
bahwa ada endapan dan cairan atas berkabut.

Flokulasi
1. Partikel merupakan agregat yang bebas.
2. Sedimantasi terjadi cepat.
3. Sedimentasi terbentuk cepat
4. Sdedimen tidak membentuk cake yang keras dan padat dan mudah terdispersi
kembali seperti semula.
5. Wujud suspensi kurang bagus sebab sedimantasi terjadi cepat dan di atasnya terjadi
daerah cairan yang jernih dan nyata.

Formulasi Suspensi

Untuk membuat suspensi stabil secara fisik ada dua cara, yaitu:

1. Penggunaan structured vehicle untuk menjaga pertikel deflokulasi dalam


suspensi. Structured vehicle adalah larutan hidro koloid seperti tilose, gom,
bentonit, dan lain-lain.

2. Penggunaan prinsip-prinsip flokulasi untuk membentuk flok, meskipun


cepat terjadi pengendapan, tetapi dengan pengocokan ringan mudah
disuspensi kembali.

Pembuatan suspensi sistem flokulasi

1. Partikel diberi zat pembasah dan dispersi medium.


2. Setelah itu ditambahkan zat pemflokulasi, biasanya larutan elektrolit, surfaktan,
atau polimer.

12
3. Diperoleh suspensi flokulasi sebagai pruduk akhir.
4. Jika dikehendaki, agar flok yang terjadi tidak cepat mengendap, maka ditambah
structured vehicle.
5. Produk akhir yang diperoleh ialah suspensi flokulasi dalam structured vehicle.
Bahan pemflokulasi yang dipergunakan dapat berupa larutan elektrolit, surfaktan,
atau polimer. Untuk partikel yang bermuatan positif digunakan zat pemflokulasi
yang bermuattan negatif, dan sebaliknya. Contohnya, untuk suspensi
bismutsubnitrat yang bermuatan nehatif yaitu kalium fosfat monobase. Untuk
suspensi sulfonamida yang bermuatan negatif digunakan zat pemflokulasi yang
bermuatan positif yaitu AICI (aluminium triklorida).

Bahan Pengawet

Penambahan bahan lain dapat pula dilakukan untuk menambah stabilitas suspensi,
antara lain dengan penambahan bahan pengawet. Bahasa ini sangat diperlukan terutama
untuk suspensi yang menggunakan hidrokoloid alam, karena bahan ini sangat mudah
dirusak oleh bakteri.
Sebagai bahan pengawet dapat digunakan butil parabenzoat (1:1250), propil
parabenzoat (1:4000), Nipasol, Nipagin 1%.
Di samping itu, banyak pula digunakan garam kompleks merkuri sebagai
pengawet, karena hanya diperlukan jumlah yang kecil, tidak toksis, dan tidak iritasi,
misalnya fenil merkuri nitrat, fenil merkuri kloroda, fenil merkuri asetat.

2.2 Zat Aktif Eritromisin


2.2.1 Indikasi eritromisin
Eritromisin merupakan antibiotik golongan makrolida yang cara kerjanya
menghambat sintesis protein kuman dengan jalan berikatan secara reversibel dengan
ribosom subunit 50S, dan bersifat bakteriostatik atau bakterisid tergantung dari jenis
kuman dan kadar obat makrolida. Eritromisin dihasilkan oleh suatu strain Streptomyces
erythreus. Eritromisin aktif terhadap kuman Gram positif cocci (Staphylococcus dan
streptococcus) dan Gram negatif cocci (spesies Neisseria) dan beberapa Gram negatif

13
seperti spesies basilli. Eritromisin juga aktif pada Chamydia dan treponema seperti S.
pyogenes dan S. pneumoniae (Gerald, 2005).
Eritromisin dapat diindikasikan untuk infeksi kulit dan jaringan lunak yang
disebabkan oleh Staphylococcus aureus (resistensi dapat terjadi selama pengobatan).
Infeksi saluran pernapasan pada anak, batuk rejan (pertusis), sinusitis yang disebabkan
Streptococcus pyogenes, Haemofilus influenzae, Streptococcus pneumoniae,
Mycoplasma pneumoniae. Radang panggul akut yang disebabkan oleh Neisseria
gonorrhoeae pada penderita yang alergi terhadap penisilin. Pencegahan terhadap
endocarditis bacterial pada penderita yang alergi terhadap penisilin dengan riwayat
demam rematik dan kelainan jantung bawaan. Eritromisin aktif terhadap kuman anaerob
dalam usus sehingga bersama neomisin digunakan untuk profilaksis bedah usus. Penyakit
Legionnaires, karier Bordetella pertussis pada nasofaring. Eritromisin biasa digunakan
untuk infeksi Mycoplasma pneumoniae, penyakit Legionnaire, infeksi klamidia, difteri,
pertusis, infeksi Streptococcus, Staphylococcus, infeksi Camylobacter, tetanus, syphilis,
gonore (Purwanto, 2002).
Mengenal obat Ertromisin di apotek, obat eritromisin tersedia dalam bentuk
kapsul, tablet, dan syirup dengan kekuatan dosis berfariasi sebagai berikut :
Eritromisin Kapsul: 250 mg, 500 mg. Eritromisin Tablet: 250 mg, 500 mg. Eritromisin
Syirup: 200 mg/5 ml (100 mg); 400 mg/5 mL (100 mL)
2.2.2 Kontraindikasi
Orang yang memiliki alergi atau hipersensitif terhadap eritromisin dan golongan obat
macrolide lainnya. Orang dengan gamgguan fungsi hati. Sedang menjalani pengobatan
dengan terfenadine, astemizole, pimozide, atau cisapride.

2.2.3 Dosis Eritromisin dan Cara Penggunaan


Dosis oral dari eritromisin untuk dewasa dan anak di atas 8 tahun 250 500mg setiap
6 jam, atau 0,5-1g tiap 12 jam; lebih dari 4g per hari jika dalam keadaan infeksi berat.
Untuk anakanak di atas 2 tahun 125mg setiap 6 jam, untuk umur 2-8 tahun 250mg
setiap 6 jam. Dosis dapat ditingkatkan pada infeksi berat (Anonim, 2005).
Pada penggunaan eritromisin perlu diperhatikan karena dapat terjadi gangguan
fungsi hati pada pasien yang menggunakan eritromisin estalat >14 hari. Efek samping

14
dari penggunaan eritromisin yaitu kejang perut, mual, muntah, diare (pada pemberian
oral dosis besar), urtikaria, anafilaksis, gangguan pendengaran yang reversibel pada
pemberian IV 4 g/hari atau lebih (jarang), iritasi vena terhadap pemberian IV (jarang).
Kontra indikasi dari eritromisin yaitu hipersensitif terhadap eritromisin, penyakit hati
pada penggunaan eritromisin estalat. Obatobat yang berinteraksi dengan eritromisin
yaitu karbamazepin (meningkatkan konsentrasi carbamazepin), ergotamin (meningkatkan
potensi ergot), warfarin (meninggikan potensi teofilin) dan siklosporin (meningkatkan
kadar siklosporin) (Purwanto, 2002).

2.2.4 Efek Samping Eritromisin


Radang usus besar yang parah akibat penggunaan antibiotic (colitis
pseudomembran) peradangan hati, kebingungan atau halusinasi, peradangan ginjal atau
infeksi sakit perut, biduran.
Pada orang yang alergi terhadap eritromisin, maka dapat menimbulkan gejala-
gejala, kesulitan bernafas, pembengkakan pada wajah, bibir, lidah atau tenggorokan.
Segera hubungi dokter.

2.2.5 Peringatan dan Perhatian


Harap berhati-hati apabila obat eritromisin ini hendak digunakan pada penderita
gangguan fungsi hati (dengan atau tanpa penyakit kuning) dan gangguan fungsi ginjal.
Waspadai penggunaan jangka panjang karena dapat menyebabkan resistensi bakteri.
Konsultasikan kepada dokter terlebih dahulu untuk ibu hamil dan menyusui dan hendak
menggunakan eritromisin.

2.2.6 Interaksi Eritromisin


Teofilin, toksisitas teofilin bias meningkat. Krabamazepin, konsentrasi obat
krabamazepin dalam darah akan meningkat. Warfarin, waktu protombin bias memanjang.
Metilprednisolon, mengurangi eliminasi metilprednisolon. Ergotamin tartrat,
meningkatkan toksisitas ergotamine.

15
2.3 Formulasi suspense eritromisin
2.3.1 Formulasi suspense eritromisin

NO. Bahan Jumlah Fungsi bahan Alasan Penambahan


1. Eritromisin 30 mg/mL Zat aktif Eritromisin sangat sukar larut
dalam air, maka dari itu dibuat
sedian suspense rekrontruksi
2. Metil paraben 0,1% Pengawet Karena sediaan multiple dose dan
mengandung air maka mudah
ditumbuhi mikroba sehingga
digunakan metil paraben sebagai
pengawet untuk memperlama
jangka waktu penyimpanan
3. Sukrosa 30% Pemanis Menutupi rasa pahit
4. PVP 2% Pengikat Menyatukan bahan-bahan agar
terbentuk
5. Aerosol 0,1% Absorben Absorben
6. Etanol 5% Pelarut Pelarut
7. CMC-Na FSH 1,5% Suspending Karena akan dibuat sebagai
agent suspense maka dibutuhkan
Suspending agent
8. Strawberry 0,2% Pengaroma Untuk menutupi rasa karakteristik
essens rasa yang tidak enak dari
eritromisin. Sehingga rasa lebih
menarik konsumen
9. Red colour 0,2% Pewarna Digunakan agar sediaan yang
dibuat lebih menarik dan
digunakan pewarna ini karena
sesuai pengaroma yang digunakan
10. Aquades Ad 100% Pelarut Pelarut

16
Bobot granul teoritis = berat zat aktif + berat eksipien

Jumlah botol =

Bobot granul setiap botol =

Jumlah CMC-Na FSH =

Aerosil yang digunakan =

Bobot granul teoritis = berat zat aktif + berat eksipien

= 3,6 + (0,12+36+0,7944)

= 40,5114 gr

Bobot granul yang diperoleh saat praktikum = 36 gr

Jumlah botol

1,7417 gr

Bobot granul setiap botol = = 21,0911 gr

Jumlah CMC-Na FSH =

Aerosil yang digunakan =

2.4 Cara Pembuatan Formulasi Suspense Eritromisin


- Alat dan bahan disiapkan
- Dipanaskan aquadest hingga mendidih lalu didinginkan

17
- Bahan-bahan ditimbang, botol dikalibrasi 100 ml
- Eritromisin dimasukkan ke dalam lumpang digerus sampai halus
- Sukrosa digerus sampai halus, lalu ditambahkan red colour, dicampur hingga
merata
- Eritromisin ditambahkan sukrosa, metil paraben, strawberry essens
- Campur hingga semua bahan merata
- Larutkan PVP dalam 5 ml etanol setelah itu masukkan ke dalam mortar yang
telah berisi campuran bahan sedikit demi sedikit hingga terbentuk massa yang
dapat digranulasi
- Massa yang telah terbentuk diayak dengan nomer mesh 12, kemudian keringkan-
anginkan hingga kadar air pada granul hanya 2%
- Tambahkan CMC-Na FSH dan aerosol ke dalam granul sambil dibentuk granul
- Granul ditimbang kemudian dimasukkan dalam botol
- Ditambahkan dengan aquadest yang telah dingin sampai tanda batas tara, dikocok
hingga rata kemudian dievaluasi

2.5 Pemerian Formulasi Suspense Eritromisin


1. Eritromisin
Rumus molekul : C37H67NO13
Nama kimia : Erythromycinum
Pemerian : Serbuk hablur putih atau agak kuning; tidak berbau a tau praktis
tidak berbau (FI IV, hal 357)
Inkompatibilitas : Dengan natrium ampisilin dan natrium kloklasilin
2. Metil Paraben
Rumus molekul : C8H8O3
Nama Kimia : Methyl-4-hydroxybenzoate
Pemerian : Serbuk hablur halus, putih hampir tidak berbau, tidak
mempunyairasa, agak membakar diikuti rasa tebal (FI III hal 378).
Hablur Kecil, tidak berwarna atau sabuk hablur, putih; tidak
berbau atau berbau khas lemah; mempunyai sedikit rasa terbakar

(FI IV, hal 551)

18
Inkompatibilitas : Aktivitas antimikroba metil paraben dan senyawa paraben lain,
umumnya berkurang jika terdapat surfaktan non ionik, misalnya
polisorbat 80, karena dapat terjadi miselisasi, Inkompatibel dengan
bentoniy, magnesium trisilikat, talk, tragakan, sodium alginat,
sorbitol, essensial oil dan atropin
3. Sukrosa
Rumus molekul : C12H22011
Nama Kimia : b-D-fructofuranosyl-a-D-glucopyranoside
Pemerian : Hablur Putih atau tidak berwarna; massa hablur atau berbentuk
kubus atau serbuk hablur putih; tidak berbau; rasa manis, stabil di
udara. Larutannya netral terhadap lakmus. Sakarosa adalah gula
yang diperoleh dari Saccharum officinarum Linn~ (Familia
Graminae) , Beta vulgaris Linn (FI IV, hal 752)

Inkompatibilitas : Sebuk Sukrosa yang terkontaminasi dengan logam berat


menyebabkan sukrosa inkompatibel dengan bagan aktif misalnua
asam askorbat, sukrosa terhidrolisis menjadi dekstrosa dan fruktosa
(gula invert). Sukrosa juga inkompatibel dengan alumunium
(HOPE 6, hal 703-706)

4. PVP (polyvinylpyrrolidone)
Rumus Molekul : (C6H9NO)n
Nama Kimia : 1-Ethenyl-2-pyrrolidinone homopolymer
Pemerian : Serbuk halus, putih krem-putih berwarna, tidak berbau atau
hampir tidak berbau, bubuk higroskopis. Povidones dengan nilai K
sama dengan atau lebih rendah dari 30 yang diproduksi dengan
spray drying. Povidone K-90 dan K-nilai yang lebih tinggi
povidones yang diproduksi dengan drum drying dan berbentuk
lempengan. (Handbook of Pharmaceutical Excipient 6, hal
581583)
Inkompatibilitas : Povidone kompatibel dalam larutan dengan berbagai anorganik
garam, resin alami dan sintetis, dan bahan kimia lainnya.

19
Membentuk aduk molekul dalam larutan dengan sulfathiazole,
natrium salisilat, asam salisilat, fenobarbital, tanin, dan senyawa
lain; lihat Bagian 18. khasiat beberapa pengawet, misalnya
thimerosal, mungkin terpengaruh oleh pembentukan kompleks
dengan povidone. (Handbook of Pharmaceutical Excipient 6, hal
581-583)

5. Aerosil
Rumus Molekul : SiO2
Nama Kimia : Silika
Pemerian : Silika submicroscopic dengan ukuran partikel sekitar 15 nm. Ini
adalah ringan, longgar, putih kebiruan berwarna, tidak berbau,
hambar, bubuk amorf. (Handbook of Pharmaceutical Excipient 6,
hal 185)
Inkompatibilitas : Inkompatibel dengan diethylstilbestrol
(Handbook of Pharmaceutical Excipient 6, hal 185)
6. Etanol
Rumus Molekul : C2H6O
Nama Kimia : Ethanol
Pemerian : Cairan mudah menguap, jernih, tidak berwarna, bau khas dan
menyebabkan rasa terbakar pada lidah. (Handbook of

Pharmaceutical Excipient 6, hal 17)


Inkompatibilitas : Dalam kondisi asam, solusi etanol dapat bereaksi keras dengan
bahan pengoksidasi. Campuran dengan alkali dapat menggelapkan
warna karena reaksi dengan jumlah sisa aldehida. Garam organik
atau akasia dapat diendapkan dari larutan berair atau dispersi.
Solusi Etanol juga kompatibel dengan aluminium wadah dan dapat
berinteraksi dengan beberapa obat. (Handbook of Pharmaceutical
Excipient 6, hal 17)

7. CMC-Na FSH

20
Rumus Molekul :-
Nama Kimia : Carboxymethylcellulose Sodium
Pemerian : Serbuk atau granul, putih sampai krem; higroskopik. (FI IV, hal
175)
Inkompatibilitas : -Inkompatibel dengan larutan asam kuat dan dengan larutan
garam dari beberapa logam
-pengendapan terjadi pada pH 2 dan pada saat pencampuran
dengan etanol 95%.
-Membentuk kompleks dengan gliserin dan pektin.

8. Strawberry Esens
Rumus Molekul :-
Nama Kimia :-
Pemerian : Larutan berwarna merah muda, berbau aromatis, rasa strawberry
Inkompatibilitas :-
9. Red Colour
Rumus Molekul : C20H11N2Na3O10S3

Nama Kimia :Trisodium3-hidroksi-4-(4-sul-phonato-1-naphthylazo)


naftalena2,7-disulphonate.
Pemerian : Gelap, serbuk coklat kemerahan
Inkompatibilitas :-
10. Aquadest
Rumus Kimia : H2O
Nama Kimia : Aquadestillata
Pemerian : cairan jernih, tidak bewarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa.
Inkompatibilitas :-

21
2.6 Perhitungan Formulasi Eritromisin

Eritromisin 0 ml = 3,6 gram

Metil Paraben ml = 0,12 gram

Sukrosa ml = 36 gram

PVP

Aerosil

Etanol
CMC-Na FSH
Strawberry essens ml = 0,24 ml

Red colour ml = 0,24 ml

Aquadest Ad 100 ml
NO. Bahan Jumlah Jumlah Jumlah penimbangan 2
dalam penimbangan 1 botol
formula botol

1 Eritromisin 30 mg/ml 1,8 gr 3,6 gr

2 Metil 0,1 % 0,06 gr 0,12 gr


Paraben
3 Sukrosa 30 % 18 gr 36 gr
4 PVP 2%

22
5 Aerosil 0,1 % 0,0105 gr
6 Etanol 5% 5 ml 5 ml
7 CMC-Na 1,5 % 0, 9 gr
FSH
8 Strawberry 0,2 % 0,12 ml 0,24 ml
Essens
9 Red Colour 0,2 % 0,12 ml 0,24 ml
10 Aquadest Ad 100 ml Ad 100 ml Ad 100 ml

2.7 Pengujian Formulasi Eritromisin


No. Jenis evaluasi Prinsip evaluasi Jumlah Hasil Syarat
sampel pengamatan
1. Uji organoleptis Pengamatan secara 1 Warna = Suspensi
(warna, bau, visual. merah muda memperb
Rasa = aiki rasa
rasa dan
sedikit pahit untuk zat
kejernihan) Bau = aktif
strawberry yang
pahit
2. Uji kecepatan Berdasarkan kecepatan 1 H0 = 5,3cm
sedimentasi pengendapan partikel
partikel dalam dalam suspensi akibat
suspensi setelah adanya gaya gravitasi
direkronstruksi bumi setelah didiamkan
selama waktu tertentu
(10, 20, 30, 60, 2 jam,
1 hari, 3 hari) dengan
menghitung rasio tinggi
endapan yang terbentuk

23
setelah waktu tertentu
dengan tinggi sediaan
awal.
3. Uji stabilitas Sediaan disimpan pada 7 -
sediaan temperatur kamar untuk
mengamati lamanya
stabilitas sediaan.
4. Uji volume kamar untuk mengamati 30 Dari 100 ml
terpindahkan lamanya stabilitas sediaan. menjadi 91
ml
5. Pendapatan Penetapan kadar zat aktif 1 -
kadar zat aktif dengan metode analisis
yang sesuai
6. Waktu 5 detik Waktu
rekonstit
usi harus
singkat

24
BAB III

PENUTUP

1.1 Kesimpulan
1. Didapatkan sediaan suspensi rekonstitusi eritromisin berwarna merah muda, rasanya
sedikit pahit, dan aromanya strawberry, dengan pH = 5.
2. Suspensi eritromisin ini mudah untuk terdispersi dalam waktu 5 detik dan ketika
mengendap mudah diredispersikan kembali.
3. Eritromisin tidak stabil didalam air, sehingga dibuat sediaan dalam bentuk suspensi
rekonstitusi.
4. Suspensi eritromisin mempunyai khasiat antimalaria dan antibakteri.

1.2 Saran
1. Lebih kritis dalam membeli dan menerima obat, jangan malu untuk bertanya dan juga
jangan lupa untuk selalu menanyakan penggunaan serta dosis obat jenis apapun yang
diterima
2. Pada saat perhitungan derajat flokulasi SLS yang baik.
3. Dalam pembuatan suspensi lebih baik menggunakan cara dispersi dengan melarutkan
CMC pada air panas, karena akan menghasilkan suspensi yang baik.

25
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta :

Departemen Kesehatan Republik Indonesia

Ika Ristia. 2011. Uji Stabilitas Fisik Dan Daya Antibakteri Suspensi Eritromisin Dengan

Suspending Agent Pulvis Gummi Arabici. Pharmacon Vol 12 No. 2 Desember 2011

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta :
Departemen Kesehatan Republik Indonesia

Ika Ristia. 2011. Uji Stabilitas Fisik Dan Daya Antibakteri Suspensi Eritromisin Dengan
Suspending Agent Pulvis Gummi Arabici. Pharmacon Vol 12 No. 2 Desember 2011

26