Anda di halaman 1dari 10

Fotosintesis berlangsung di kloroplas, yang mana pada bagian ini mengandung banyak pigmen

klorofil. Kloroplas mempunyai bentuk seperti cakram dengan ruang yang disebut stroma. Stroma ini
dibungkus oleh dua lapisan membran. Membran stroma ini disebut tilakoid, yang didalamnya
terdapat ruang-ruang antar membran yang disebut lokuli. Di dalam stroma juga terdapat lamela-
lamela yang bertumpuk-tumpuk membentuk grana (kumpulan granum). Granum sendiri terdiri atas
membran tilakoid yang merupakan tempat terjadinya reaksi terang dan ruang tilakoid yang
merupakan ruang di antara membran tilakoid. Bila sebuah granum disayat maka akan dijumpai
beberapa komponen seperti protein, klorofil a, klorofil b, karetonoid, dan lipid. Secara keseluruhan,
stroma berisi protein, enzim, DNA, RNA, gula fosfat, ribosom, vitamin-vitamin, dan juga ion-
ion logam seperti mangan (Mn), besi (Fe), maupun perak (Cu). Pigmen fotosintetik terdapat
pada membrantilakoid. Sedangkan, pengubahan energi cahaya menjadi energi kimia berlangsung
dalam tilakoid dengan produk akhir berupa glukosa yang dibentuk di dalam stroma. Klorofil sendiri
sebenarnya hanya merupakan sebagian dari perangkat dalam fotosintesis yang dikenal
sebagai fotosistem (Ernita, 2011)

Klorofil adalah pigmen hijau yang ada dalam kloroplastida. Nama klorofil barasal dari bahasa yunani
yaitu chlorophyll (choloros = green (hijau) dan phyllon = leaf (daun). Pada umumnya klorofil terdapat
pada kloroplas sel-sel mesofil daun, yaitu pada sel-sel parenkim palisade dan atau parenkim bunga
karang. Dalam kloroplas, klorofil terdapat pada membran thylakoid grana. Pada tumbuhan tingkat
tinggi terdapat dua jenis klorofil yaitu klorofil-a dan klorofil-b. Pada keadaan normal, proporsi
klorofil-a jauh lebih banyak daripada klorofil-b. Klorofil a biasanya berwarna hijau muda, sedangkan
klorofil b berwarna hijau tua. Klorofil berperan dalam transfer elektron berenergi tinggi, dan pusat
dari reaksi fotosintesis berada pada klorofil a.

Klorofil dapat dibedakan menjadi bebrapa tipe, yaitu: klorofil a, b, c, d dan tipe e. pembagian
tersebut adalah berddasarkan rantai samping yang mengingat inti porfitinnya. Jenis klorofil
yang paling banyak ditemukan pada tumbuhan tingkat tinngi adalah jenis a dan b. Klorofil laen
(jenis c, d, e) ditemukan hanya pada alga dan dikombinasikan dengan klorofil a (Syamsul Huda,
2011).

Gb. Struktur klorofil a dan klorofil b

Selain klorofil, di dalam kloroplas juga terdapat pigmen-pigmen lainnya, yaitu Karotinoid yang
merupakan derivate dari likopen. Pada korola, kaliks, kulit buah yang telah matang atau masak,
klorofil telah menghilang (terurai) dan menimbulkan warna kuning atau warna merah yang
kemudian tampak, atau warna-warna lainnya. Dalam hal demikina kloroplas telah berganti isi yang
disebut kromoplas. Jenis-jenis pigmen yang terdapat pada tumbuhan adalah klorofil,
karotenoid, xantofil, antosianin, fikobilin, dan masih banyak lagi (Anonim, 2009).

Pigmen klorofil memiliki peran/fungsi tertentu, klorofil a berperan dalam reaksi terang dan mampu
menyerap energi cahaya merah, biru, dan ungu. Klorofil b berperan untuk menyerap cahaya biru dan
oranye, Karotenoid merupakan pigmen penyebab warna merah, orange dan kuning pada sayuran,
dan berperan untuk menyerap cahaya biru dan ungu, Xantofil bertanggung jawab memberikan
warna kuning cerah pada sayuran, Antosianin Pemberi warna merah, biru dan violet baik pada
bunga, buah dan sayur (Tergolong flavonoid yang larut dalam air), Fikobilin memantulkan cahaya
merah biru pada anging merah (Susilowarno, G. 2008). Pembahasan
Pada percobaan ini digunakan ethanol 96% adalah dengan tujuan untuk melarutkan klorofil yang ada
pada daun (pemisahan pigmen klorofil pada daun).

Dari hasil percobaan di atas, terlihat bahwa daun yang memiliki kandungan klorofil total tertinggi
adalah daun singkong sebesar 43,878. Dan daun yang memiliki kandungan klorofil terendah adalah
daun kangkung, daun bawang dan daun seledri sebesar 4,848. Di awal, daun kangkung terlihat
berwarna lebih hijau daripada daun kemangi, tetapi daun kemangi memiliki kadar klorofil total lebih
besar dari daun kangkung. Begitu juga pada daun melinjo dan daun kemangi, daun melinjo terlihat
berwarna lebih hijau dibandingkan daun kemangi. Tetapi daun kemangi memiliki kadar klorofil lebih
besar daripada daun melinjo. Hal ini membuktikan bahwa tanaman yang berwarna lebih hijau,
belum tentu memiliki kadar klorofil yang tinggi.

Daun yang memiliki kandungan klorofil a terbanyak adalah daun pepaya, sebesar 27, 372. Dan yang
memiliki kandungan klorofil a terendah adalah daun melinjo, sebesar 3, 106. Sedangkan daun yang
memiliki kandungan klorofil b terbesar adalah daun pepaya sebesar 47, 425. Dan yang memiliki
kandungan klorofil b terendah adalah daun melinjo, sebesar 5,257.

Dari hasil daun pepaya terlihat memiliki kadar klorofil a dan klorofil b tertinggi dari daun-daun yang
lain. Hal ini disebabkan karena faktor umur dari tanaman. Warna hijau daun sangat berkaitan erat
dengan kandungan klorofil. Pada umumnya, semakin tua daun maka warna hijau daun akan semakin
tinggi kandungan klorofilnya. Selain itu Struktur dan metabolisme daun tua telah lebih sempuran
bila dibandingkan dengan daun muda dalam fotosintesis yang tinggi serta berpengaruh pada sintesis
protein. Hal ini merupakan indikator pertama yang menunjukkan, bawasanya makin tua umur suatu
daun maka akan semakin tinggi kadar klorofil yang dikandungnya. Selain itu juga karena faktor
dari intensitas cahaya, dan daun pepaya yang digunakan adalah daun yang banyak terkena sinar
matahari. Karena klorofil dapat terbentuk dengan adanya sinar matahari yang mengenai langsung
ketanaman.

Dan hal itu terbalik dengan hasil dari daun melinjo, dimana daun melinjo memiliki kadar klorofil a
dan klorofil b terendah dari daun-daun yang lain. Karena daun melinjo yang digunakan mengkin
daun yang muda, dan tidak banyak terkena sinar matahari langsung.

Berikut ini faktor-faktor yang memepengaruhi kadar klorofil pada tanaman menurut Dwidjoseputro
(1994) :

1. Pembawa faktor, dimana pembentukan klorofil misalnya pada pembentukan pigmen-pigmen lain
seperti hewan dan manusia yang dibawah oleh suatu gen tertentu di dalam kromosom. Begitu pula
dengan tanaman, jika tidak ada klorofil maka tanaman tersebut akan tampak putih (albino), contoh
seperti tanaman jagung.

2. Sinar matahari, dimana klorofil dapat terbentuk dengan adanya sinar matahari yang mengenai
langsung ketanaman.

3. Oksigen, pada tanaman yang dihasilkan dalam keadaan gelap meskipun diberikan sinar matahari
tidak dapat membentuk klorofil, jika tidak diberikan oksigen.
4. Karbohidrat ternyata dapat membantu pembentukan klorofil dalam daun-daun yang mengalami
pertumuhan. Tanpa adanya karbohidrat, maka daun-daun tersebut tidak mampu mengahasilkan
klorofil.

5. Nitrogen, Magnesium, dan Besi merupakan suatu keharusan dalam pembentukan klorofil, jika
kekurangan salah satu dari zat-zat tersebut akan mengakibatkan klorosis pada tumbuhan.

6. Unsur Mn, Cu, dan Zn meskipun jumlah yang dibutuhkan hanya sedikit dalam pembentukan
klorofil. Namun, jika tidak ada unsur-unsur tersebut maka tanaman akan mengalami klorosis juga.

7. Air, kekurangan air pada tumbuhan mengakibatkan desintegrasi dari klorofil seperti terjadi pada
rumput dan pohon-pohon dimusim kering.

8. Temperatur 30-40C merupakan suatu kondisi yang baik untuk pembentukkan klorofil pada
kebanyakkan tanaman, akan tetapi yang paling baik ialah pada temperatur antara 26-30C

KESIMPULAN

Dari hasil percobaan diatas dapat disimpulkan bahwa:

1. Tanaman yang berwarna lebih hijau daripada tanaman lain, belum tentu memiliki kadar klorofil
yang tinggi juga.

2. Dari macam-macam tanaman yang telah diuji kadar klorofilnya diatas, daun pepaya ternyata
memiliki kadar klorofil a dan b tertinggi yaitu 27,372 dan 47,425. Dan daun melinjo memiliki kadar
klorofil a dan b terendah yaitu 3, 106 dan 5,257.

3. Daun singkong memiliki kadar klorofil total tertinggi yaitu sebesar 43,878. Dan daun kangkung,
daun bawang dan daun seledri memiliki kadar klorofil total terendah yaitu 4,848.

4. Ada banyak faktor yang mempengaruhi kadar/kandungan klorofil pada tanaman, antara lain
yang utama adalah faktor dari umur tanaman dan intensitas cahaya.

DAFTAR PUSTAKA

Lovera, Ernita. 2011. Praktikum Klorofil. Universitas Brawijaya : Malang

Huda, Syamsul. 2011. Fotosintesis. Universitas Airlangga : Malang

http://id.shvoong.com/exact-sciences/1947735-klorofil-dan-penyebarannya-di-perairan/

diunduh pada 20 Maret 2012

http://anasyuraiddah.wordpress.com/2009/11/22/pengukuran-kadar-klorofil-pada-daun-

dengan-spektrofotometri/ (diunduh pada tanggal 20 Maret 2012)

(http://klorofil-klorofil.blogspot.com/)

Diunduh pada tanggal 20 Maret 2012

.........................................................................................................................................................
Klorofil adalah pigmen hijau fotosintetis yang terdapat dalam tanaman, Algae dan Cynobacteria.
nama "chlorophyll" berasal dari bahasa Yunani kuno : choloros = green (hijau), and phyllon= leaf
(daun). Fungsi krolofil pada tanaman adalah menyerap energi dari sinar matahari untuk digunakan
dalam proses fotosintetis yaitu suatu proses biokimia dimana tanaman mensintesis karbohidrat (gula
menjadi pati), dari gas karbon dioksida dan air dengan bantuan sinar matahari (Subandi, 2008).

Warna daun berasal dari klorofil, pigmen warna hijau yang terdapat di dalam kloroplas. Energi
cahaya yang diserap klorofil inilah yang menggerakkan sitesis molekul makanan dalam kloroplas.
Kloroplas ditemukan terutama dalam sel mesofil, yaitu jaringan yang terdapat di bagian dalam daun.
Karbon dioksida masuk ke dalam daun, dan oksigen keluar, melalui pori mikroskopik yang di sebut
stomata (Campbell, 2003).

Klorofil merupakan zat hijau daun yang terdapat pada semua tumbuhan hijau yang
berfotosintesis. Berdasarkan penelitian, klorofil ternyata tidak hanya berperan sebagai
pigmen fotosintesis. Proses fotosintesis membutuhkan klorofil, maka klorofil umumnya
disintesis pada daun untuk menangkap cahaya matahari yang jumlahnya berbeda pada tiap
spesies tergantung dari faktor lingkungan dan genetiknya. Faktor-faktor yang mempengaruhi
sintesis klorofil meliputi: cahaya, gula atau karbohidrat, air, temperatur, faktor genetik dan
unsur-unsur nitrogen, magnesium, besi, mangan, Cu, Zn, sulfur, dan oksigen.

Faktor utama pembentuk klorofil adalah nitrogen (N). Unsur N merupakan unsur hara makro.
Unsur ini diperlukan oleh tanaman dalam jumlah banyak. Unsur N diperlukan oleh tanaman,
salah satunya sebagai penyusun klorofil. Tanaman yang kekurangan unsur N akan
menunjukkan gejala antara lain klorosis pada daun. Tanaman tidak dapat menggunakan
N2 secara langsung. Gas N2 tersebut harus difiksasi oleh bakteri menjadi amonia
(NH3) (Hendriyani dan Setiari, 2009).

Klorofil pada tumbuhan ada dua macam, yaitu klorofil a dan klorofil b. perbedaan kecil antara
struktur kedua klorofil pada sel keduanya terikat pada protein. Sedangkan perbedaan utama antar
klorofil dan heme ialah karena adanya atom magnesium (sebagai pengganti besi) di tengah cincin
profirin, serta samping hidrokarbon yang panjang, yaitu rantai fitol (Santoso, 2004).

Antara klorofil a dan klorofil b mempunyai struktur dan fungsi yang berbeda, dimana klorofil a di
samping bisa menyerap energi cahaya, klorofil ini juga bisa merubah energi cahaya dan tidak bisa
merubahnya menjadi energi kimia dan energi itu akan ditransfer dari klorofil b ke klorofil a. Klorofil b
ini tidak larut dalam etanol tapi dapat larut dalam ester, dan kedua jenis klorofil ini larut dalam
senyawa aseton (Devlin, 1975).

Semua tanaman hijau mengandung klorofil a dan krolofil b. Krolofil a terdapat sekitar 75 % dari total
klorofil. Kandungan klorofil pada tanaman adalah sekitar 1% basis kering. Dalam daun klorofil banyak
terdapat bersama-sama dengan protein dan lemak yang bergabung satu dengan yang lain. Dengan
lipid, klorofil berikatan melalui gugus fitol-nya sedangkan dengan protein melalui gugus hidrofobik
dari cincin porifin-nya. Rumus empiris klorofil adalah C55H72O5N4Mg (klorofil a) dan C55H70O6N4Mg
(klorofil b) (Subandi, 2008).

Dari semua radiasi matahari yang dipancarkan, hanya panjang gelombang tertentu yang
dimanfaatkan tumbuhan untuk proses fotosintesis, yaitu panjang gelombang yang berada pada
kisaran cahaya tampak (380-700 nm). Cahaya tampak terbagi atas cahaya merah (610 - 700 nm),
hijau kuning (510 - 600 nm), biru (410 - 500 nm) dan violet (< 400 nm). Masing-masing jenis cahaya
berbeda pengaruhnya terhadap fotosintesis. Hal ini terkait pada sifat pigmen penangkap cahaya
yang bekerja dalam fotosintesis. Pigmen yang terdapat pada membran grana menyerap cahaya yang
memiliki panjang gelombang tertentu. Pigmen yang berbeda menyerap cahaya pada panjang
gelombang yang berbeda (Pratama, 2009).

Spektrofotometri sesuai dengan namanya adalah alat yang terdiri dari spektrofotometer dan
fotometer akan menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang energi secara relatif.
Jika energi tersebut ditransmisikan maka akan ditangkap oleh klorofil yang terlarut tersebut. Pada
fotometer filter sinar dari panjang gelombang yang diinginkan akan diperoleh dengan berbagai filter
yang punya spesifikasi melewati banyaknya panjang gelombang tertentu (Noggle dan Fritz, 1979).

Pada praktikum kali ini untuk penentuan kadar klorofil menggunakan daun bayam (Amaranthus
spinosus) dengan umur yang berbeda yaitu daun umur muda yaitu daun yang diambil pada pucuk,
daun setengah tua diambil daun nomor 3 dari pucuk, dan daun dewasa yaitu daun nomor 5
kebawah. Masing-masing daun tersebut diekstrak dan ekstrak tersebut dibiarkan selama 1 minggu.
Setelah diekstrak, terlihat jelas perbedaan warna ekstrak dari daun yang berbeda usianya. Untuk
warna ekstrak tercerah didapat pada daun setengah tua.

Selanjutnya dilakukan penentuan kadar klorofil dengan menggunakan alat yang disebut dengan
spektrofotometer. Harga alat ini sangat mahal sehingga dalam penggunaannya perlu dilakukan
secara hati-hati.

Untuk menggunakan alat tersebut pertama isi akuades pada cuvet yang nantinya akan dijadikan
sebagai blanko, kemudian diletakkan pada spektofotometer dengan hati-hati dan selanjutnya
ditekan tombol zero untuk mengkalibrasi alat tersebut. Selanjutnya isi cuvet lainnya dengan ekstrak
daun bayam (Amaranthus spinosus) yang ada. Masukkan 1 cuvet berisi ekstrak daun bayam
ditempat cuvet berisi akuades diletakkan sebelumnya sedangkan cuvet berisi akuades dipindahkan
pada posisi diatas cuvet berisi ekstrak daun bayam. Lalu spektofotometer kembali dikalibrasi.
Setelah pengkalibrasian selesai, maka dipilih panjang gelombang yang diinginkan yang tertera
pada monitor spektrofotometer. Klorofil yang terkandung pada ekstrak daun bayam tersebut
selanjutnya akan ditembakkan sesuai dengan panjang gelombang yang telah dipilih dan nantinya
akan terlihat nilai kadar klorofil dari ekstrak daun bayam yang diukur pada monitor.

Dari hasil percobaan dan perhitungan yang dilakukan diperoleh bahwa kadar klorofil yang paling
banyak terdapat pada daun bayam yang berusia setengah tua yaitu 5,07 mg/l, sedangkan pada daun
bayam yang berusia muda 2,65mg/l dan daun bayam usia dewasa 4,66 mg/l.

Adapun rumus yang digunakan untuk menghitung klorofil total yaitu:

Klorofil Total (mg/l) = 20,2 D645 + 0,02 D663

Diperolehnya hasil tersebut dapat dikarenakan pada daun bayam berusia setengah tua memiliki
kadar klorofil yang paling maksimal karena pada usia ini daun melakukan proses fotosintesis secara
aktif sedangkan pada daun muda diperoleh hasil kadar klorofil terendah dikarenakan kadar klorofil
yang terbentuk masih sedikit dan masih dalam proses pembentukan, selanjutnya pada daun dewasa
kadar klorofilnya sudah sedikit berkurang dibandingkan dengan daun setengah tua. Hal ini dapat
terjadi karena rusaknya klorofil yang ada.

Dari hasil percobaan juga diperoleh hasil bahwa dari ketiga ekstrak daun bayam dengan umur yang
berbeda diperoleh kadar klorofil a lebih tinggi dibandingkan dengan kadar klorofil b. Hal ini sesuai
dengan pernyataan Subandi (2008) bahwaSemua tanaman hijau mengandung klorofil a dan krolofil
b. Krolofil a terdapat sekitar 75 % dari total klorofil.

Untuk menghitung klorofil a dan klorofil b menggunakan rumus:

Klorofil a = 12,7 D663 + 2,69 D645

Klorofil b = 22,9 D645 + 0,02 D663

Jadi setelah melakukan praktikum ini praktikan dapat mengetahui dan menggunakan
spektofotometer sesuai prosedur yang benar dalam satu diantara kegunaanya yaitu penentuan
kadar klorofil.

F. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum Penentuan Kadar Klorofil secara Spektoskopi maka dapat disimpulkan
bahwa kadar klorofil total tertinggi didapatkan pada ekstrak daun bayam (Amaranthus
spinosus) yang berusia setengah tua sebesar 5,07 mg/l. Sedangkan pada daun dewasa 4,66 mg/l dan
daun muda hanya 2,65 mg/l.

Selanjutnya diperoleh bahwa kadar klorofil a pada semua ekstrak daun bayam (Amaranthus
spinosus) lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan kadar klorofil b.

Dan dalam penggunaan spektrofotometer harus dilakukan secara hati-hati karena alat tersebut
sangat sensitif dan jangan lupa untuk mengkalibrasi terlebih dahulu sebelum menggunakannya.

DAFTAR PUSTAKA
Campbell, Neil A. Biologi. 2003. Jakarta: Erlangga.

Devlin, Robert M. 1975. Plant Physiology Third Edition. New York : D. Van Nostrand.

Hendriyani, Ika Susanti dan Setiari, Nintya. 2009. Kandungan Klorofil dan Pertumbuhan Kacang
Panjang (Vigna sinensis) pada Tingkat Penyediaan Air yang Berbeda. J. Sains & Mat. Vol 17 No. 3,
Juli 2009: 145-
150. http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:mfANPEqVi0kJ:eprints.undip.ac.id/2
335/1/artikel_jsm_nintya.pdf+Klorofil+pdf&h. (Diakses pada 17 Mei 2012).

Noggle, Ray, R dan Fritzs, J. George. 1979. Introductor Plant Physiology. New Delhi : Mall of India
Private Ilmited.

Pratama, Tomi Anugrah.


2009. Fotosintesis.http://thetom022.files.wordpress.com/2009/06/fotosintesis.pdf . (Diakses
pada 17 Mei 2012).
Santoso. 2004. Fisiologi Tumbuhan. Bengkulu : Universitas Muhammadiyah Bengkulu.

Subandi, Aan. 2008. Metabolisme. http://metabolisme.blogspot.com/2007/09. (Diakses pada 17


Mei 2012).

.............................................................................................................................................................

TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Klorofil
Klorofil adalah pigmen hijau fotosintetis yang terdapat dalam tanaman, Algae
danCynobacteria. nama "chlorophyll" berasal dari bahasa Yunani kuno : choloros= green(hijau),
and phyllon= leaf (daun). Fungsi krolofil pada tanaman adalah menyerap energi darisinar
matahari untuk digunakan dalam proses fotosintetis yaitu suatu proses biokimiadimana tanaman
mensintesis karbohidrat (gula menjadi pati), dari gas karbon dioksida danair dengan bantuan
sinar matahari (Subandi, 2008).
Klorofil adalah pigmen karena menyerap cahaya, yakni radiasi elekromagnetik pada
spectrum kasat mata(visib). Senyawa putih mengandung semua warna spectrum kasat mata dari
merah sampai violet. Tetapi seluruh panjang gelombang unsurnya tidak di serap dengan baik
secara merata oleh klorofil. Klorofil ada 2 macam yaitu klorofil a dan klorofil b yang terdiri dari
molekul polfirin, hemoglobin, moglobin dan enzim sitokrom ( kimbal, 1990 ).
Klorofil a yang dapat berperan serta langsung dalam reaksi terang, yang mengubah
energi matahari menjadi energi kimia. Klorofil b hanya dalam satu gugus fungsional yang di ikat
pada porfirin (Campbell, 2000).
Pembentukan klorofil seperti halnya pembentukan pigmen-pigmen lain pada hewan dan
manusia dibawakan oleh suatu gen tertentu di dalam kromosom, jika gen ini tidak ada maka
tanaman tampak putih belaka. Klorofil dapat di bentuk dengan tiada memerlukan cahaya. Terlalu
banyak sinar berpengaruh buruk terhadap klorofil. Larutan klorofil yang di hadapkan pada sinar
kuat tampak berkurang hijaunya. Tanaman akan mengalami klorosis jika kekurangan unsur-
unsur Mn, Cu, Zn meskipun dalam jumlah yang sangat sedikit (dwidjo saputra, 1978).
Penentuan kadar klorofil dalam jaringan tanaman di lakukan dengan cara mengekstrak
pigmen klorofil dengan aseton atau methanol kemudian hasil ekstrak di amati absorbansi pada
663 nm dan 645 nm (anonymous, 2009).
Klorofil merupakan zat hijau daun yang terdapat pada semua tumbuhan hijau
yang berfotosintesis. Berdasarkan penelitian, klorofil ternyata tidak hanya berperan
sebagai pigmen fotosintesis. Proses fotosintesis membutuhkan klorofil, maka klorofil
umumnyadisintesis pada daun untuk menangkap cahaya matahari yang jumlahnya berbeda
pada tiapspesies tergantung dari faktor lingkungan dan genetiknya (Hatta, 2002 )
Klorofil pada tumbuhan ada dua macam, yaitu klorofil a dan klorofil b. perbedaankecil
antara struktur kedua klorofil pada sel keduanya terikat pada protein. Sedangkan perbedaan
utama antar klorofil dan heme ialah karena adanya atom magnesium (sebagai pengganti besi) di
tengah cincin profirin, serta samping hidrokarbon yang panjang, yaiturantai fitol. (Santoso, 2004).
B. Pengertian Spektrofotometri
Spektrofotometri merupakan suatu metoda analisa yang didasarkan pada pengukuran
serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombamg
spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detektor fototube.
Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitan atau absorban suatu sampel sebagai
fungsi panjang gelombang. Sedangkan pengukuran menggunakan spektrofotometer ini, metoda
yang digunakan sering disebut dengan spektrofotometri (Saputra, 2012).
Spektrofotometri dapat dianggap sebagai perluasan suatu pemeriksaan visual dengan
studi yang lebih mendalam dari absorbsi energi. Absorbsi radiasi oleh suatu sampel diukur pada
berbagai panjang gelombangdan dialirkan oleh suatu perkam untuk menghasilkan spektrum
tertentu yang khas untuk komponen yang berbeda (Saputra, 2012).
Pembahasan
Pada praktikum kali ini untuk penentuan kadar klorofil menggunakan daun bayam (Amaranthus
spinosus), daun ubi (Manihot utilisima), daun kangkung (Ipomoea aguatica ) dengan umur yang
berbeda yaitu daun umur muda yaitu daun yang diambil pada pucuk, daun setengah tua diambil
daun nomor 3 dari pucuk, dan daun dewasa yaitu daun nomor 5 kebawah. Masing-masing daun
tersebut diekstrak dan ekstrak tersebut dibiarkan selama 1 minggu. Setelah diekstrak, terlihat
jelas perbedaan warna ekstrak dari daun yang berbeda usianya. Untuk warna ekstrak tercerah
didapat pada daun setengah tua.
Selanjutnya dilakukan penentuan kadar klorofil dengan menggunakan alat yang disebut dengan
spektrofotometer. Spektrofotometer merupakan alat yang memiliki banyak fungsi. Salah satu
kegunaannya yaitu dalam penentuan kadar klorofil daun. Harga alat ini sangat mahal sehingga
dalam penggunaannya perlu dilakukan secara hati-hati. Untuk menggunakan alat tersebut
pertama isi akuades pada cuvet yang nantinya akan dijadikan sebagai blanko, kemudian
diletakkan pada spektofotometer dengan hati-hati dan selanjutnya ditekan tombol zero untuk
mengkalibrasi alat tersebut. Selanjutnya isi cuvet lainnya dengan ekstrak daun bayam
(Amaranthus spinosus), daun ubi dan daun kangkung yang ada. Masukkan 1 cuvet berisi ekstrak
daun bayam ditempat cuvet berisi akuades diletakkan sebelumnya sedangkan cuvet berisi
akuades dipindahkan pada posisi diatas cuvet berisi ekstrak daun bayam. Lalu spektofotometer
kembali dikalibrasi. Setelah pengkalibrasian selesai, maka dipilih panjang gelombang yang
diinginkan yang tertera pada monitor spektrofotometer. Klorofil yang terkandung pada ekstrak
daun bayam, daun ubi dan daun kangkung tersebut selanjutnya akan ditembakkan sesuai
dengan panjang gelombang yang telah dipilih dan nantinya akan terlihat nilai kadar klorofil dari
ekstrak daun bayam yang diukur pada monitor.
Adapun rumus yang digunakan untuk menghitung kadar klorofil yaitu:
Klorofil Total (mg/l) = 20,2 D645 + 0,02 D663
Klorofil a = 12,7 D663 + 2,69 D645
Klorofil b = 22,9 D645 + 0,02 D663
Dari hasil percobaan dan perhitungan yang dilakukan diperoleh bahwa kadar klorofil yang paling
tinggi terdapat pada daun ubi. Hal ini dapat terlihat pada hasil kadar klorofil total pada masing-
masing daun. Pada daun bayam kadar klorofil daun muda yaitu 4,82214 mg/l, sedangkan pada
daun bayam yang sedang 5,038 mg/l dan daun bayam yang tua, yaitu 1,88284 mg/l. Pada daun
ubi kadar klorofil daun muda yaitu 4,79932 mg/l, sedangkan pada daun ubi yang sedang,
yaitu 7,39338 mg/l dan daun ubi yang tua, yaitu 4,84224 mg/l. Sedangkan pada daun kangkung
yaitu : kadar klorofil daun muda yaitu 5,07612 mg/l, sedangkan pada daun kangkung
yang sedang, yaitu 3,78728 mg/l dan daun kangkung yang tua, yaitu 4,39334 mg/l.
Diperolehnya hasil tersebut dapat dikarenakan pada daun bayam, ubi dan kangkung yang
sedang (setengah tua) memiliki kadar klorofil yang paling maksimal karena pada usia ini daun
melakukan proses fotosintesis secara aktif sedangkan pada daun muda diperoleh hasil kadar
klorofil terendah dikarenakan kadar klorofil yang terbentuk masih sedikit dan masih dalam proses
pembentukan, selanjutnya pada daun dewasa kadar klorofilnya sudah sedikit berkurang
dibandingkan dengan daun setengah tua. Hal ini dapat terjadi karena rusaknya klorofil yang ada.
Dari hasil percobaan juga diperoleh hasil bahwa dari ketiga ekstrak daun bayam, daun ubi dan
daun singkong dengan umur yang berbeda diperoleh kadar klorofil a lebih tinggi dibandingkan
dengan kadar klorofil b. Hal ini sesuai dengan pernyataan Subandi (2008) bahwa Semua
tanaman hijau mengandung klorofil a dan krolofil b. Krolofil a terdapat sekitar 75 % dari total
klorofil.
Untuk menghitung klorofil a dan klorofil b menggunakan rumus:
Klorofil a = 12,7 D663 + 2,69 D645
Klorofil b = 22,9 D645 + 0,02 D663
Dari rumus tersebut di peroleh kadar klorofil a dan klorofil b yaitu, pada daun bayam yang muda
Klorofil a = 9,87312 mg/l dan Klorofil b = 5,46474 mg/l. Daun bayam yang sedang kadar Klorofil
a = 5,76251 mg/l dan Klorofil b = 5,71012 mg/l. Sedangkan pada daun bayam yang tuan Klorofil
a = 2,94257 mg/l dan Klorofil b = 2,20124 mg/l. Pada daun ubi, daun yang muda Klorofil a
= 8,20673 mg/l dan Klorofil b = 5,43922 mg/l. Daun ubi yang sedang kadar Klorofil a =
13,92315 mg/l dan Klorofil b = 8,37888 mg/l. Sedangkan pada daun ubi yang tua Klorofil a =
9,81231 mg/l dan Klorofil b = 5,48754 mg/l. Pada daun kangkung , daun yang muda Klorofil a
= 4,43439 mg/l dan Klorofil b = 5,75382 mg/l. Daun kangkung yang sedang kadar Klorofil a =
6,77683 mg/l dan Klorofil b = 4,29218 mg/l. Sedangkan pada daun kangkung yang tua Klorofil a
= 6,89563 mg/l dan Klorofil b = 4,97924 mg/l.
Antara klorofil a dan klorofil b mempunyai struktur dan fungsi yang berbeda, dimana klorofil a di
samping bisa menyerap energi cahaya, klorofil ini juga bisa merubah energi cahaya dan tidak
bisa merubahnya menjadi energi kimia dan energi itu akan ditransfer dari klorofil b ke klorofil a.
Klorofil b ini tidak larut dalam etanol tapi dapat larut dalam ester, dan kedua jenis klorofil ini larut
dalam senyawa aseton.
Dari hasil percobaan juga diperoleh hasil bahwa dari ketiga ekstrak daun bayam dengan umur
yang berbeda diperoleh kadar klorofil a lebih tinggi dibandingkan dengan kadar klorofil b. Hal ini
sesuai dengan pernyataan Subandi (2008) bahwa Semua tanaman hijau mengandung klorofil a
dan krolofil b. Krolofil a terdapat sekitar 75 % dari total klorofil.
Jadi setelah melakukan praktikum ini praktikan dapat mengetahui dan menggunakan
spektofotometer sesuai prosedur yang benar dalam satu diantara kegunaanya yaitu penentuan
kadar klorofil dan praktikan dapt mengukur kadar klorofil yang terdapat pada daun ubi, daun
kangkung dan daun bayam.
A. Kesimpulan
Setelah dilakukan nya percobaan ini mengunakan alat spektrofotometer, dalam penggunaan
spektrofotometer harus dilakukan secara hati-hati karena alat tersebut sangat sensitif dan jangan
lupa untuk mengkalibrasi terlebih dahulu sebelum menggunakannya. Pada daun yang masih
muda konsentrasi klorofil masih rendah, sedangkan daun setengah tua sangat tinggi dan
menurun drastis pada daun dewasa akibat penuaan. Tingginya konsentrasi klorofil menunjukkan
tingginya penyerapan energi cahaya oleh daun itu sendiri. Semakain tinggi penyerapan cahaya
pada daun maka semakin maksimal kinerja dalam proses fotosintesisnya.
Dan setelah dilakukan nya percobaan didapat kan hasil yaitu pada daun bayam kadar klorofil
daun muda yaitu 4,82214 mg/l, sedangkan pada daun bayam yang sedang 5,038 mg/l dan daun
bayam yang tua, yaitu 1,88284 mg/l. Pada daun ubi kadar klorofil daun muda yaitu 4,79932 mg/l,
sedangkan pada daun ubi yang sedang, yaitu 7,39338 mg/l dan daun ubi yang tua, yaitu
4,84224 mg/l. Sedangkan pada daun kangkung yaitu : kadar klorofil daun muda yaitu 5,07612
mg/l, sedangkan pada daun kangkung yang sedang, yaitu 3,78728 mg/l dan daun kangkung
yang tua, yaitu 4,39334 mg/l.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2011. Pengukuran Kadar Klorofil. http://wikipedia/ Pengukuran Kadar Klorofil/sains.com.
Diakses pada tanggal 29 Mei 2011.

Campbell, Neil A. Biologi. 2003. Jakarta: Erlangga.

Dwijoseputro. D. 1978. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: Gramedia pustaka utama.


Dwijoseputro. D. 1994. Pengantar Fisiologi Tanaman. Jakarta : Gramedia.

Hatta, M. 2002. Hubungan Antara Klorofil-a dan Ikan Pelagis. Bogor : IPB.
Hendriyani, Ika Susanti dan Setiari, Nintya. 2009. Kandungan Klorofil dan Pertumbuhan Kacang
Panjang (Vigna sinensis) pada Tingkat Penyediaan Air yang Berbeda. J. Sains & Mat. Vol 17
No. 3, Juli 2009: 145-
150. http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:mfANPEqVi0kJ:eprints.undip.ac.i
d/2335/1/artikel_jsm_nintya.pdf+Klorofil+pdf&h. (Diakses pada 17 Mei 2012).

Kimball, J.W., 2000. Biologi Edisi Kelima Jilid 1. Erlangga: Jakarta.

Lakitan, Benyamin., 1993. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. PT. Grafindo Persada: Jakarta.
Saputra, Edy, 2012. Spektrofotometer. http://www.chem-is-try.org. Diakses tanggal 28 Maret
2012, pukul 20.45 WITA.
Salisbury, Frank B, dkk. 2000. Fisiologi Tumbuhan. Bandung: Penerbit ITB Bandung.
Sasmitamihardja, Dardjat dan Arbayah Siregar. 1996. Fisiologi Tumbuhan. Bandung: Jurusan
Biologi FMIPA ITB.