Anda di halaman 1dari 14

DESI MULYAWATI_M3511015

PENGGOLONGAN OBAT ANTI FUNGI

Jamur adalah organisme mikroskopis tanaman yang terdiri dari sel, seperti
cendawan, dan ragi. Beberapa jenis jamur dapat berkembang pada permukaan
tubuh yang bisa menyebabkan infeksi kulit, kuku, mulut atau vagina. Jamur yang
paling umum menyebabkan infeksi kulit adalah tinea. For example, tinea pedis
('athletes foot) . Infeksi umum yang ada pada mulut dan vagina disebut seriawan.
Hal ini disebabkan oleh Candida. Candida merupakan ragi yang merupakan salah
satu jenis jamur. Sejumlah Candida umumnya tinggal di kulit.
Obat antijamur terdiri dari beberapa kelompok yaitu :

kelompok polyene (amfoterisin B, nistatin, natamisin)


kelompok azol (ketokonazol, ekonazol, klotrimazol, mikonazol, flukonazol,
itrakonazol)
allilamin (terbinafin)
Echinocandins (caspofugin)

selain kelompok diatas masih ada beberapa kelompok obat jamur minor
lainnya seperti griseofulvin, asam benzoat dan masih banyak lagi.

Mekanisme kerja obat antijamur

secara umum dengan mempengaruhi sterol membran plasma sel jamur, sintesis
asam nukleat jamur, dan dinding sel jamur yaitu kitin, glukan,dan
mannooprotein.

1. Sterol membran plasma : ergosterol dan sintesis ergosterol.Ergosterol adalah


komponen penting yang menjaga integritas membran sel jamur dengan cara
mengatur fluiditas dan keseimbangan dinding membran sel jamur. Kerja obat
antijamur secara langsung (golongan polien) adalah menghambat sintesis
ergosterol dimana obat ini mengikat secara langsung ergosterol dan channel
ion di membran sel jamur, hal ini menyebabkan gangguan permeabilitas
berupa kebocoran ion kalium dan menyebabkan kematian sel. Sedangkan
kerja anti jamur secara tidak langsung (golongan azol) adalah mengganggu
biosintesisergosterol dengan cara mengganggu demetilasi ergosterol pada
jalur sitokrom P450(demetilasi prekursor ergosterol).

PENGGOLONGAN OBAT ANTIFUNGI_FARMAKOLOGI_BU ZULFA


DESI MULYAWATI_M3511015

2. Sintesis asam nukleat: Kerja obat anti jamur yang mengganggu sintesis asam
nukleat adalah dengan cara menterminasi secara dini rantai RNA dan
menginterupsi sintesis DNA.Sebagai contoh obat antijamur yang
mengganggu sintesis asam nukleat adalah 5flusitosin (5 FC), dimana 5 FC
masuk ke dalam inti sel jamur melalui sitosinpermease. Di dalam sel jamur 5
FC diubah menjadi 5 fluoro uridin trifosfat yang menyebabkan terminasi dini
rantai RNA. Trifosfat ini juga akan berubah menjadi 5fluoro deoksiuridin
monofosfat yang akan menghambat timidilat sintetase sehingga memutus
sintesis DNA.
3. Unsur utama dinding sel jamur : glukans Dinding sel jamur memiliki keunikan
karena tersusun atas mannoproteins,kitin, dan dan glukan yang
menyelenggarakan berbagai fungsi, diantaranya menjaga rigiditas dan bentuk
sel, metabolisme, pertukaran ion pada membran sel.Sebagai unsur
penyangga adalah glukan. Obat antijamur seperti golongan ekinokandin
menghambat pembentukan 1,3 glukan tetapi tidak secara
kompetitif.Sehingga apabila glukan tidak terbentuk, integritas struktural dan
morfologi sel jamur akan mengalami lisis

A. Golongan Polyene

obat jamur kelompok polyene bekerja dengan cara mengikat sterol dalam membran
sel jamur.

contohnya adalah nistatin, candicin dan Amfoterisin B

1. NISTATIN

Nistatin merupakan suatu antibiotik polien yang dihasilkan oleh Streptomyces


noursei. Obat yang berupa bubuk wama kuning kemerahan ini bersifat higroskopis,
berbau khas, sukar larut dalam kloroform dan eter. Larutannya mudah terurai dalam
air atau plasma. Sekalipun nistatin mempunyai struktur kimia dan mekanisme kerja
mirip dengan amfoterisin B, nistatin lebih toksik sehingga tidak digunakan sebagai
obat sistemik. Nistatin tidak diserap melalui saluran cema, kulit maupun vagina.

PENGGOLONGAN OBAT ANTIFUNGI_FARMAKOLOGI_BU ZULFA


DESI MULYAWATI_M3511015

Nistatin menghambat pertumbuhan berbagai jamur dan ragi tetapi tidak aktif
terhadap bakteri, protozoa dan virus.

mekanisme kerja.

Nistatin hanya akan diikat oleh jamur atau ragi yang sensitif. Aktivitas antijamur
tergantung dari adanya ikatan dengan sterol pada membran sel jamur atau ragi
terutama sekali ergosterol. Akibat terbentuknya ikatan antara sterol dengan antibiotik
ini akan terjadi perubahan permeabilitas membran sel sehingga sel akan kehilangan
berbagai molekul kecil.

2. AMFOTERISIN B

Amfoterisin A dan B merupakan hasil fermentasi streptomyces nodosus. Sembilan


puluh delapan persen campuran ini terdiri dari amfoterisin B yang mempunyai
aktivitas antijamur. Kristal seperti jamur atau prisma berwarna kuning jingga, tidak
berbau, dan tidak berasa ini merupakan antibiotik poliena yang bersifat basa amfoter
lemah, tidak larut dalam air, tidak stabil, tidak tahan suhu di atas 37C, tetapi dapat
bertahan sampai berminggu pada suhu 4C.

PENGGOLONGAN OBAT ANTIFUNGI_FARMAKOLOGI_BU ZULFA


DESI MULYAWATI_M3511015

Mekanisme kerja
Amfoterisin B berikatan kuat dengan sterol yang terdapat pada membran sel
jamur sehingga membran sel bocor dan kehilangan beberapa bahan intrasel dan
menyebabkan kerusakan yang tetap pada sel.
Salah satu penyebab efek toksik yang ditimbulkan disebabkan oleh pengikatan
kolesterol pada membran sel hewan dan manusia.
Resistensi terhadap amfoterisin B mungkin disebabkan oleh terjadinya perubahan
reseptor sterol pada membran sel.

Farmakokinetik
Absorbsi : sedikit sekali diserap melalui saluran cerna.
Waktu paruh kira-kira 24-48 jam pada dosis awal yang diikuti oleh eliminasi fase
kedua dengan waktu paruh kira-kira 15 hari, sehingga kadar mantapnya akan
tercapai setelah beberapa bulan setelah pemberian.
Ekskresi : obat ini melalui ginjal berlangsung lambat sekali, hanya 3 % dari jumlah
yang diberikan.

Efek samping

Infus : kulit panas, keringatan, sakit kepala, demam, menggigil, lesu,


anoreksia, nyeri otot, flebitis, kejang dan penurunan faal ginjal.

PENGGOLONGAN OBAT ANTIFUNGI_FARMAKOLOGI_BU ZULFA


DESI MULYAWATI_M3511015

50% penderita yang mendapat dosis awal secara IV akan mengalami demam
dan menggigil.
Flebitis (-) menambahkan heparin 1000 unit ke dalam infus.
Asidosis tubuler ringan dan hipokalemia sering dijumpai pemberian kalium.
Efek toksik terhadap ginjal dapat ditekan bila amfoterisin B diberikan bersama
flusitosin.

Indikasi

Untuk pengobatan infeksi jamur seperti koksidioidomikosis, aspergilosis,


kromoblastomikosis dan kandidosis.
Amfoterisin B merupakan obat terpilih untuk blastomikosis.
Amfoterisin B secara topikal efektif terhadap keratitis mikotik.

Sediaan

Amfoterisin B injeksi tersedia dalam vial yang mengandung 50 mg bubuk

Dosis

Pada umumnya dimulai dengan dosis yang kecil (kurang dari 0,25 mg/kgBB)
yang dilarutkan dalam dekstrose 5 % dan ditingkatkan bertahap sampai 0,4-
0,6 mg/kgBB sebagai dosis pemeliharaan.
Secara umum dosis 0,3-0,5 mg/kgBB cukup efektif untuk berbagai infeksi
jamur, pemberian dilakukan selama 6 minggu dan bila perlu dapat dilanjutkan
sampai 3-4 bulan

3. Candicin

Kandisin merupakan campuran antibiotik polien yang berasal dari kelompok


Actinomycetes, seperti Streptomyces griseus dan spesies lainnya. Obat ini berupa
bubuk kuning kemerahan, berbau tajam, sukar larut dalam air, sedikit larut dalam
alcohol, dan aseton.

Kandisin hanya digunakan untuk kandidosis vaginal dan tersedia dalam


bentuk tablet vaginal 3 mg dan salep vaginal 0,06 % yang dilengkapi dengan

PENGGOLONGAN OBAT ANTIFUNGI_FARMAKOLOGI_BU ZULFA


DESI MULYAWATI_M3511015

aplikatornya. Diberikan 2 kali sehari selama 2 minggu. Jarang ditemukan efek


samping yang serius, kadang-kadang dapat timbul iritasi vulva dan vagina yang
ringan.

B. Golongan Azole

Obat jamur golongan Azoles, Anti jamur kelompok azole merupakan obat jamur
yang paling banyak digunakan di indonesia, obat jamur golongan azoles bekerja
dengan cara menghambat -lanosterol 14 demethylase.

Kelompok azol dapat dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan jumlah nitrogen
pada cincin azol. Kelompok imidazol (ketokonazol, mikonazol, dan klotrimazol) terdiri
dari dua nitrogen dan kelompok triazol (itrakonazol, flukonazol, varikonazol,
danposakonazol) mengandung tiga nitrogen.
Kedua kelompok ini memiliki spektrum dan mekanisme aksi yang sama. Triazol
dimetabolisme lebih lambat dan efek samping yang sedikit dibandingkan imidazol,
karena keuntungan itulah para peneliti berusahamengembangkan golongan triazol
daripada imidazol.
Mekanisme kerja
Pada umumnya golongan azol bekerja menghambat biosintesis ergosterol
yangmerupakan sterol utama untuk mempertahankan integritas membran sel jamur.
Bekerja dengan cara menginhibisi enzim sitokrom P 450, C-14--demethylase yang
bertanggung jawab merubah lanosterol menjadi ergosterol, hal ini mengakibatkan
dinding sel jamur menjadi permeabel dan terjadi penghancuran jamur.
contoh obat jamur golongan azoles adalah ketokonazole, mikonazole, ekonazol,
klotrimazol, itrakonazol dan flukonazole.
1. Ketokonazol.

Mekanisme kerja

Seperti azole jenis yang lain, ketoconazole berinterferensi dengan biosintesis


ergosterol, sehingga menyebabkan perubahan sejumlah fungsi sel yang
berhubungan dengan membran.

PENGGOLONGAN OBAT ANTIFUNGI_FARMAKOLOGI_BU ZULFA


DESI MULYAWATI_M3511015

Farmakokinetik

Absorbsi : diserap baik melalui saluran cerna dan menghasilkan kadar


plasma yang cukup untuk menekan aktivitas berbagai jenis jamur.
Penyerapan melalui saluran cerna akan berkurang pada penderita dengan pH
lambung yang tinggi,pada pemberian bersama antasid.
Distribusi : ketokonazol setelah diserap belum banyak diketahui.
Ekskresi : Diduga ketokonazol diekskresikan bersama cairan empedu
ke lumen usus dan hanya sebagian kecil saja yang dikeluarkan bersama
urin, semuanya dalam bentuk metabolit yang tidak aktif.

Efek samping

Efek toksik lebih ringan daripada Amfoterisin B.


Mual dan muntah merupakan ESO paling sering dijumpai
ESO jarang : sakit kepala, vertigo, nyeri epigastrik, fotofobia, parestesia, gusi
berdarah, erupsi kulit, dan trombositopenia.

Indikasi

Ketokonazol terutama efektif untuk histoplasmosis paru, tulang, sendi dan


jaringan lemak.

Kehamilan dan laktasi


Obat ini sebaiknya tidak diberikan pada wanita hamil karena pada tikus, dosis 80
mg/kgBB/hari menimbulkan cacat pada jari hewan coba tersebut.

2. Itrakonazol

Mekanisme kerja

Seperti halnya azole yang lain, itraconazole berinterferensi dengan enzim


yang dipengaruhi oleh cytochrome P-450, 14(-demethylase. Interferensi ini
menyebabkan akumulasi 14-methylsterol dan menguraikan ergosterol di

PENGGOLONGAN OBAT ANTIFUNGI_FARMAKOLOGI_BU ZULFA


DESI MULYAWATI_M3511015

dalam sel-sel jamur dan kemudian mengganti sejumlah fungsi sel yang
berhubungan dengan membran

Farmakokinetik

Itrakonazol akan diserap lebih sempurna melalui saluran cerna, bila diberikan
bersama dengan makanan. Dosis 100 mg/hari selama 15 hari akan
menghasilkan kadar puncak sebesar 0,5 g/ml.
Waktu paruh eliminasi obat ini 36 jam (setelah 15 hari pemakaian).

Sediaan dan dosis

Itrakonazol tersedia dalam kapsul 100 mg.


Untuk dermatofitosis diberikan dosis 1 x 100mg/hari selama 2-8 minggu
Kandidiasis vaginal diobati dengan dosis 1 x 200 mg/hari selama 3 hari.
Pitiriasis versikolor memerlukan dosis 1 x 200 mg/hari selama 5 hari.
Infeksi berat mungkin memerlukan dosis hingga 400 mg sehari.

Efek samping

Kemerahan,
pruritus,
lesu,
pusing,
edema,
parestesia
10-15% penderita mengeluh mual atau muntah tapi pengobatan tidak perlu
dihentikan

Indikasi

Itrakonazol memberikan hasil memuaskan untuk indikasi yang sama dengan


ketokonazol antara lain terhadap blastomikosis, histoplasmosis,
koksidiodimikosis, parakoksidioidomikosis, kandidiasis mulut dan tenggorokan
serta tinea versikolor.

PENGGOLONGAN OBAT ANTIFUNGI_FARMAKOLOGI_BU ZULFA


DESI MULYAWATI_M3511015

3. Flukonazol
Flukonazol merupakan inhibitor cytochrome P-450 sterol C-14 alpha-demethylation
(biosintesis ergosterol) jamur yang sangat selektif.
Mekanisme kerja
Pengurangan ergosterol, yang merupakan sterol utama yang terdapat di dalam
membran sel-sel jamur, dan akumulasi sterol-sterol yang mengalami metilase
menyebabkan terjadinya perubahan sejumlah fungsi sel yang berhubungan dengan
membran.
Farmakokinetik

Obat ini diserap sempurna melalui saluran cerna tanpa dipengaruhi adanya
makanan ataupun keasaman lambung.
Kadar puncak 4-8 g dicapai setelah beberapa kali pemberian 100 mg.
Waktu paruh eliminasi 25 jam sedangkan ekskresi melalui ginjal melebihi 90%
bersihan ginjal.

Sediaan dan dosis

Flukonazol tersedia untuk pemakaian per oral dalam kapsul yang


mengandung 50 dan 150mg.
Dosis yang disarankan 100-400 mg per hari.
Kandisiasis vaginal dapat diobati dengan dosis tunggal 150 mg.

Efek samping

Gangguan saluran cerna merupakan ESO paling banyak


Reaksi alergi pada kulit, eosinofilia, sindrom stevensJohnson.

Indikasi

Flukonazol dapat mencegah relaps meningitis oleh kriptokokus pada


penderita AIDS setelah pengobatan dengan Amfoterisin B. Obat ini juga
efektif untuk pengobatan kandidiasis mulut dan tenggorokan pada penderita
AIDS.

PENGGOLONGAN OBAT ANTIFUNGI_FARMAKOLOGI_BU ZULFA


DESI MULYAWATI_M3511015

4. Mikonazol

Mikonazol merupakan turunan imidazol sintetik yang relatif stabil, mempunyai


spektrum ani jamur yang lebar baik terhadap jamur sistemik maupun jamur
dermatofit.

Mekanisme Kerja

Mikonazol menghambat sintesis ergosterol yang menyebabkan permeabilitas


membran sel jamur meningkat

Farmakokinetik

Daya absorbsi Miconazole melalui pengobatan oral kurang baik..


Miconazole sangat terikat oleh protein di dalam serum. Konsentrasi di dalam
CSF tidak begitu banyak, tetapi mampu melakukan penetrasi yang baik ke
dalam peritoneal dan cairan persendian.
Kurang dari 1% dosis parenteral diekskresi di dalam urin dengan komposisi
yang tidak berubah, namun 40% dari total dosis oral dieliminasi melalui
kotoran dengan komposisi yang tidak berubah pula.
Miconazole dimetabolisme oleh liver dan metabolitnya diekskresi di dalam
usus dan urin. Tidak satupun dari metabolit yang dihasilkan bersifat aktif

Indikasi

Diindikasikan untuk dermatofitosis, tinea versikolor, dan kandidiasis


mukokutan.

Efek samping

Berupa iritasi dan rasa terbakar dan maserasi memerlukan penghentian


terapi.

Sediaan dan dosis

Obat ini tersedia dalam bentuk krem 2% dan bedak tabur yang digunakan 2
kali sehari selama 2-4 minggu.

PENGGOLONGAN OBAT ANTIFUNGI_FARMAKOLOGI_BU ZULFA


DESI MULYAWATI_M3511015

Indikasi

Krem 2 % untuk penggunaan intravaginal diberikan sekali sehari pada malam


hari untuk mendapatkan retensi selama 7 hari.
Gel 2% tersedia pula untuk kandidiasis oral.

C. Golongan allilamin

obat jamur golongan Allylamines, bekerja dengan menghambat epoxidase squalene.


contohnya adalah terbinafine

Terbinafin merupakan suatu derivat alilamin sintetik dengans truktur mirip naftitin.
Obat ini digunakan untuk terapi dermatofitosis, terutama onikomikosis. Namun, pada
pengobatan kandidiasis kutaneus dan tinea versikolor,terbinafin biasanya
dikombinasikan dengan golongan imidazol atau triazol karena penggunaannya
sebagai monoterapi kurang efektif.

Farmakokinetik

Terbinafin diserap baik melalui saluran cerna, tetapi bioavailabilitasnya menurun


hingga 40% karena mengalami metabolisme lintas pertama di hati. Obat ini terikat
dengan protein plasma lebih dari 99% dan terakumulasi di kulit, kuku dan jaringan
lemak. Waktu paruh awalnya adalah sekitar 12 jam dan berkisar antara 200 sampai
400 jam bila telah mencapai kadar mantap. Obat ini masih dapat ditemukan dalam
plasma hingga 4-8 minggu setelah pengobatan yang lama. Terbinafin dimetabolisme
di hati menjadi metabolit yang tidak aktif dan diekskresikan di urin. Terbinafin tidak di
indikasikan untuk pasien azotemia atau gagal hati karena dapat terjadi peningkatan
kadar terbinafin yang sulit diperkirakan.

D. Golongan Echinocandins

Obat jamur golongan Echinocandins, bekerja dengan menghambat sistesa glukan


dalam dinding sel.

contoh obat jamur golongan echinocandins adalah caspofugin.

PENGGOLONGAN OBAT ANTIFUNGI_FARMAKOLOGI_BU ZULFA


DESI MULYAWATI_M3511015

1. caspofungin

adalah antijamur sistemik dari suatu kelas baru yang disebut ekinokandin. Obat ini
bekerja dengan menghambat sintesis beta (1,3)-Dglukan, suatu komponen esensial
yang membentuk dinding sel jamur.

Dalam darah 97% obat terikat protein dan masa paruh eliminasinya 9-11 jam.Obat
ini dimetabolisme secara lambat dengan cara hidrolisis dan asetilasi.Ekskresinya
melalui urin hanya sedikit sekali.

indikasi

Kandidiasis invasif, termasuk kandidemia pada pasien neutropenia atau non-


neutropenia.

1. Kandidiasis esofagus.
2. Kandidiasis orofarings.
3. Aspergilosis invasif yang sudah refrakter terhadap antijamur lainnya.

Pengobatan umumnya diberikan selama 14 hari. Keamanan obat ini belum diketahui
pada wanita hamil dan anak berumur kurang dari 18 tahun.

E. Golongan obat jamur minor lainnya

Contoh : griseofulvin, asam benzoat dan asam salisilat

1. Griseofulvin

Griseofulvin adalah antibiotik anti jamur yang dihasilkan oleh sejumlah spesies
Penicillium dan pertama kali diperkenalkan adalah berbentuk obat oral yang
diperuntukkan bagi pengobatan penyakit dermatophytosis

PENGGOLONGAN OBAT ANTIFUNGI_FARMAKOLOGI_BU ZULFA


DESI MULYAWATI_M3511015

Mekanisme Kerja

Griseofulvin kelompok obat fungistatis yang mengikat protein-potein


mikrotubular dan berperan untuk menghambat mitosis sel jamur.
Selain itu, griseofulvin juga inhibitor (penghambat) bagi sintensis asam
nukleat.

Farmakokinetik

Griseofulvin kurang baik penyerapannya pada saluran cerna bagian atas


karena obat ini tidak larut dalam air. Penyerapan lebih mudah bila griseofulvin
diberikan bersama makanan berlemak
Dosis oral 0.5 hanya akan menghasilkan kadar puncak dalam plasma kira-
kira 1 g/ml setelah 4 jam.
Obat ini mengalami metabolisme di hati dan metabolit utamanya adalah 6-
metilgriseofulvin.
Waktu paruh obat ini kira-kira 24 jam, 50% dari dosis oral yang diberikan
dikeluarkan bersama urin dalam bentuk metabolit selama 5 hari.

Efek samping

Leukopenia dan granulositopenia menghilang bila terapi dilanjutkan.


Sakit kepala keluhan utama pada kira-kira 15% penderita yang biasanya
hilang sendiri sekalipun pemakaian obat dilanjutkan.
artralgia, neuritis perifer, demam, pandangan mengabur, insomnia,
berkurangnya kecakapan, pusing dan sinkop, pada saluran cerna dapat
terjadi rasa kering mulut, mual, muntah, diare dan flatulensi.
Pada kulit dapat terjadi urtikaria, reaksi fotosensitivitas, eritema multiform,
vesikula dan erupsi menyerupai morbili.

Indikasi

Efektif untuk infeksi jamur di kulit, rambut, dan kuku yang disebabkan oleh
jamur Microsporum, Tricophyton, dan Epidermophyton.

PENGGOLONGAN OBAT ANTIFUNGI_FARMAKOLOGI_BU ZULFA


DESI MULYAWATI_M3511015

Sediaan dan dosis

Griseofulvin tersedia dalam bentuk tablet berisi 125 dan 500 mg dan suspesi
mengandung 125 mg/ml.
Pada anak griseofulvin diberikan 10 mg/kgBB/hari
Untuk dewasa 500-1000 mg/hari dalam dosis tunggal.
Hasil memuaskan akan tercapai bila dosis yang diberikan dibagi empat dan
diberikan setiap 6 jam

Kontraindikasi

Griseofulvin bersifat kontraindikasi pada pasien penderita penyakit liver


karena obat ini menyebabkan kerusakan fungsi hati

2. Asam benzoat dan asam salisilat

Kombinasi asam benzoat dan asam salisilat dalam perbandingannya 2 : 1(biasanya


6% dan 3%) ini dikenal sebagai salepWhitfield. Asam benzoat memberikan efek
fungistatik sedangkan asam Salisilat memberikan efek keratolitik. Karena asam ben-
zoat hanya bersifat fungistatik maka penyembuhan baru tercapai setelah lapisan
tanduk yang menderita infeksi terkelupas seluruhnya, sehingga pemakaian obat ini
membutuhkan waktu beberapa minggu sampai bulanan. Salep ini banyak digunakan
untuk pengobatan tinea pedis dan kadang-kadang juga untuk tinea kapitis. Dapat
terjadi iritasi ringan pada tempat pemakaian, juga ada keluhan kurang
menyenangkan dari para pemakainya karena salep ini berlemak.

PENGGOLONGAN OBAT ANTIFUNGI_FARMAKOLOGI_BU ZULFA