Anda di halaman 1dari 4

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Masalah kesehatan dengan gangguan sistem pernapasan masih menduduki
peringkat yang tinggi sebagai penyebab utama morbiditas dan mortalitas. Efusi pleura
merupakan salah satu kelainan yang mengganggu sistem pernapasan. Efusi pleura
sendiri sebenarnya bukanlah diagnosa dari suatu penyakit melainkan hanya lebih
merupakan symptom atau komplikasi dari suatu penyakit. Efusi pleura adalah suatu
keadaan dimana terdapat cairan berlebihan di rongga pleura, dimana kondisi ini jika
dibiarkan akan membahayakan jiwa penderitanya (Mc Grath, 2011)

Pleura adalah membran tipis terdiri dari 2 lapisan yaitu pleura viseralis dan
pleura parietalis. Kedua lapisan ini bersatu di daerah hilus arteri dan mengadakan
penetrasi dengan cabang utama bronkus, arteri dan vena bronkialis, serabut saraf dan
pembuluh limfe. Histologis kedua lapisan ini terdiri dari sel mesotelial, jaingan ikat,
pembuluh darah kapiler, dan pembuluh getah bening ( Harrison, 2000). Pleura
seringkali mengalami pathogenesis seperti terjadinya efusi cairan, misalnya
hidrothoraks dan pleuritis eksudativa karena infeksi, hemotoraks bila rongga pleura
berisi darah, piotoraks atau empiema thoracis bila berisi nanah, pneumothoraks bila
berisi udara (Soemantri, 2009). Penyebab dari kelainan patologi pada rongga pleura
bermacam-macam. Terutama karena infeksi tuberkulosis atau non tuberkulosis,
keganasan, trauma dll. Efusi pleura merupakan salah satu kelainan yang mengganggu
sistem pernafasan. Efusi pleura bukanlah diagnosis dari suatu penyakit, efusi pleura
adalah suatu keadaan dimana terdapat cairan berlebih di rongga pleura, jika kondisi
ini dibiarkan akan membahayakan jiwa penderitanya (Muttaqin, 2008).

Badan kesehatan dunia WHO memperkirakan jumlah kasus efusi pleura di


seluruh dunia cukup tinggi menduduki urutan ketiga setelah kanker paru, sekitar 10-
15 juta dengan 100-250 ribu kematian tiap tahunnya. Berdasarkan data dari medical
record di UPF ilmu penyakit paru RSUD Dr. Soetomo tahun 2010, didapatkan data
bahwa effusi pleura menduduki peringkat kedua setelah TB paru dengan jumlah kasus
yang datang sebanyak 364 orang dan angka mortalitasnya mencapai 26 orang.
Sedangkan tahun 2011 menduduki peringkat ke lima dengan angka mortalitasnya
mencapai 31 orang dan prosentase 8,0% dari 387 kasus efusi pleura yang ada,
sementara tahun 2012 mencapai 7,65% dari 366 kasus efusi pleura dan menduduki
peringkat kedua setelah TB paru atau angka mortalitasnya mencapai 38 orang,
(medical record RSUD Dr Soetomo tahun 2013). Efusi pleura suatu disase entity dan
merupakan suatu gejala penyakit yang serius yang dapat mengancam jiwa
penderitanya. Tingkat kegawatan pada efusi pleura ditentukan oleh jumlah cairan,
kecepatan pembentukan cairan dan tingkat penekanan paru (Medford dan Maskell,
2004)

Menurut Baughman (2000), efusi pleura menunjukkan tanda dan gejala yaitu
sesak nafas, bunyi pekak saat diperkusi diatas area yang berisi cairan. Umumnya
pasien datang dengan gejala sesak nafas, nyeri dada, batuk, dan demam. Pada
pemeriksaan fisik dapat ditemukan abnormalitas dengan bunyi redup pada perkusi,
penuruna fremitus pada palpasi dan penurunan bunyi nafas pada auskultasi paru bila
cairan efusi sudah melebihi 300 ml. Foto thorak dapat digunakan untuk
mengkonfirmasi terjadinya efusi pleura (Khairani.dkk, 2012). Akibat lanjut pada
pasien efusi pleura jika tidak ditangani dengan Water Scaled Drainage (WSD) akan
terjadi atelektasis pengembangan paru yang tidak sempurna karena desakan dari
cairan efusi pleura. Pemasangan WSD sendiri fungsinya untuk mengembalikan
kondisi di dalam cavum pleura kembali normal. WSD adalah suatu sitem drainase
yang menggunakan water scaled untuk mengalirkan udara atau cairan dari cavum
pleura tujuannya adalah untuk mempertahankan tekanan negatif rongga tersebut,
dalam keadaan normal rongga pleura memiliki tekanan negatif dan hanya terisi sedikit
cairan pleura atau lubricant (Muttaqin, 2008).

Permasalahan efusi pleura setelah dipasang WSD antara lain, nyeri akut
berhubungan dengan tindakan insisi pemasangan WSD, pola nafas tidak efektif,,
resiko infeksi berhubungan dengan tindakan insisi. Sesak nafas yang terjadi karena
masih adanya timbunan cairan dalam rongga paru yang akan memberikan kompresi
pada paru sehingga ekspansinya terganggu, dan berkurangnya kemampuan meregang
otot inspirasi akibat terjadi restriksi oleh cairan (Syafrudin dkk, 2009).

Dari latar belakng tersebut diatas permasalahan efusi pleura masih banyak
menimbulkan masalah oleh karena itu pengetahuan dan pemahaman yang dalam
tentang efusi pleura dan keterkaitannya merupakan pedoman penting bagi perawat
dalam memberikan asuhan keperawatan yang sesuai indikasi. Penerapan proses
keperawatan juga berperan penting dalam proses penyembuhan dan pencegahan,
untuk mengurangi insidensi kematian akibat efusi pleura.

1.2 Tujuan

1.2.1 Tujuan Umum


Menjelaskan asuhan keperawatan pada klien dengan efusi pleura

1.2.2 Tujuan Khusus


1. Mengetahui definisi tentang efusi pleura
2. Mengetahui etiologi dari efusi pleura
3. Mengetahui patofisiologi dari efusi pleura
4. Mengetahui manifestasi atau gejala dari efusi pleura
5. Mengetahui penatalaksanaan dari efusi pleura
6. Mengetahui masalah dan diagnosis dari efusi pleura

DAFTAR PUSTAKA

Baugman C Diane. 2000. Keperawatan Medikal Bedah.Jakarta:EGC

Harrison.2000.Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam, Volume 1. Jakarta:EGC

Khairani A, Syahruddin E, Partakusuma LG. Karakteristik Efusi Pleura di Rumah Sakit


Persahabatan. J. Respire Indo. 2012.32:155-160

McGrath E. Diagnosis of Pleural Effusion: A Systematic Approach. American Journal of


Critical Care 2011; 20: 119-128

Medford A, Maskell N. Pleural Effusion. Postgrad Med Journal 2005; 81: 702-710.

Muttaqin, A.2008.Pengantar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem


Pernafasan.Jakarta:Salemba Medika
Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo, Pedoman Diagnosis dan Terapi Lab/UPF Ilmu
Penyakit Paru, Airlangga University Press; 2013

Syafrudin dkk.2009.Ilmu Kesehatan Masyarakat.Jakarta:EGC