Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Makhluk hidup memiliki ukuran yang berbeda-beda. Ukuran tersebut dalam


kehidupannya dapat dilihat oleh mata telanjang dan ada yang tidak dapat langsung dilihat oleh
mata telanjang. Oleh karena itu untuk melihat makhluk tersebut yaitu dengan menggunakan
alat pembesar seperti mikroskop ataupun loop. Karena itulah makhluk yang dilihat dengan
mikroskop tersebut disebut sebagai mikroorganisme dikarenakan ukurannya yang terlalu kecil.
Tetapi biarpun ukurannya kecil, mikroorganisme juga memiliki kebutuhan layaknya makhluk
hidup yang lain. Kebutuhan tersebut dapat berupa fisik maupun kimia. Selain itu,
mikroorganisme juga melakukan proses perkembangbiakkan. Proses perkembangbiakkan
dilakukan oleh mikroorganisme agar mereka tidak punah. Dalam pertumbuhan
mikroorganisme, mereka memiliki beberapa fase pertumbuhan sel dan pertumbuhan
mikroorganisme dapat dikendalikan oleh beberapa cara. Dalam makalah ini akan dibahas
khususnya tentang metode pengendalian pertumbuhan mikroorganisme.

2. Tujuan

Adapun tujuan disusunnya makalah ini adalah untuk mengetahui metode pengendalian
mikroorganisme.

3. Rumusan Masalah

Adapaun rumusan masalah dari makalah ini adalah apa metode yang digunakan untuk
pengendalian mikroorganisme.
BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengendalian Mikroorganisme

Pengendalian pertumbuhan mikroba pada prinsipnya adalah menghambat atau


mencegah pertumbuhan mikroorganisme. Pengendalian mikroorganisme berdasarkan dua
hal :

1. Dengan membunuh mikroorganisme

2. Dengan menghambat pertumbuhan mikroorganisme.

Pengendalian pertumbuhan mikroorganisme biasanya secara fisika dan secara


kimia baik membunuh atau mencegah pertumbuhan mikroorganisme. Agen yang
membunuh sel-sel yang diistilahkan sidal, agen yang menghambat pertumbuhan sel-sel
(tanpa membunuh mereka) yang disebut sebagai statis. Dengan demikian, bakterisida
berarti membunuh bakteri, dan bakteriostatik berarti menghambat pertumbuhan sel-sel
bakteri. Bakterisida berarti membunuh bakteri, fungisida berarti membunuh jamur, dan
sebagainya.

Dalam mikrobiologi, istilah sterilisasi sangat erat berkaitan dengan pengendalian


pertumbuhan mikroorganisme yang merupakan penghancuran secara sempurna atau
penghapusan semua organisme yang terdapat di dalam atau pada suatu zat yang akan
disterilkan. Prosedur Sterilisasi melibatkan penggunaan panas, radiasi atau bahan kimia, dan
juga penghancuran sel secara fisika.

Pengendalian mikroorganisme bertujuan untuk menekan reproduksi mikroba.


Sehingga dengan pengendalian mikroorganisme kita dapat mencegah penyebaran penyakit
dan infeksi, membasmi mikroorganisme pada inang yang terinfeksi, dan mencegah
pembusukan dan perusakan bahan oleh mikroorganisme. Dengan cara membunuh
mikroorganisme atau membuat kondisi yang membuat mikroorgenisme tidak dapat
tumbuh.

Membunuh dan membatasi pertumbuhan mikroorganisme khususnyan sangat


penting dalam penyediaan dan pemeliharaan untuk keamanan makanan. Pengendalian
mikroorganisme juga merupakan praktek medis modern dan antimikroba untuk mencegah
dari infeksi dan menurunkan penyebaran mikroorganisme. Mikroorganisme dapat
dikendalikan dengan beberapa cara, dapat dengan diminimalisir, dihambat dan dibunuh
dengan sarana atau proses fisika atau bahan kimia. Dalam pengendalian mikroorganisme
umumnya dikenal :
A. Secara Fisika
1. Pemanasan suhu tinggi
a. Pendidihan
b. Pasteurisasi
c. Tyndalisasi
d. Autoklaf
2. Pendinginan dan pembekuan
3. Pengeringan (pengangkatan H2O)
4. Radiasi
a. Radiasi Ultraviolet
b. Cahaya Ultraviolet
c. Radiasi sinar-X dan pengion lainnya
5. Filtrasi
a. Filter bakteriologis
B. Secara Kimia
1. Antimikroba
a. Antiseptik
b. Desinfektan
2. Pengawet
3. Antibiotik

Ada beberapa istilah dalam mengendalikan jumlah populasi mikroorganisme,


diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Cleaning (kebersihan) dan Sanitasi
Cleaning dan Sanitasi sangat penting di dalam mengurangi jumlah populasi
mikroorganisme pada suatu ruang/tempat. Prinsip cleaning dan sanitasi adalah
menciptakan lingkungan yang tidak dapat menyediakan sumber nutrisi bagi
pertumbuhan mikroba sekaligus membunuh sebagian besar populasi mikroba.
2. Desinfeksi
Adalah proses pengaplikasian bahan kimia (desinfektans) terhadap peralatan,
lantai, dinding atau lainnya untuk membunuh sel vegetatif mikrobial. Desinfeksi
diaplikasikan pada benda dan hanya berguna untuk membunuh sel vegetatif saja, tidak
mampu membunuh spora.
3. Antiseptis
Merupakan aplikasi senyawa kimia yang bersifat antiseptis terhadap tubuh untuk
melawan infeksi atau mencegah pertumbuhan mikroorganisme dengan cara
menghancurkan atau menghambat aktivitas mikroba.
4. Sterilisasi
Proses menghancurkan semua jenis kehidupan sehingga menjadi steril. Sterilisasi
seringkali dilakukan dengan pengaplikasian udara.

Namun secara umum dalam pengendalian mikroorganisme dibagi dalam


teknologi fisika maupun kimia yang banyak digunakan untuk mengendalikan pertumbuhan
mikroba (tertentu), walaupun mungkin tidak sampai sempurna steril. Namun umumnya
mencegah pembusukan makanan atau menyembuhkan penyakit menular merupakan
tujuan utama.

A. Secara Fisika
Beberapa cara fisika dapat digunakan untuk mengendalikan populasi mikroba.
Misalnya seperti temperatur tinggi dan radiasi ionisasi. Metode Pengendalian
Mikroorganisme secara fisika adalah teknik mematikan mikroorganisme dengan tujuan
menghilangkan semua mikroorganisme yang ada pada bahan atau alat dengan proses
dan sarana fisik. Dengan cara fisika mikroorganisme dapat dikendalikan, yaitu dibasmi,
dihambat atau ditiadakan dari suatu lingkungan.
1. Pemanasan Suhu Tinggi
Pada suhu-suhu tertentu mikroorganisme dapat dimatikan. Waktu yang
diperlukan untuk membunuh tergantung pada jumlah organisme, spesies, sifat produk
yang dipanaskan, pH, dan suhu. Autoklaf merupakan instrumen yang digunakan untuk
membunuh semua mikroorganisme dengan panas, umumnya digunakan dalam proses
pengalengan, pembotolan, dan prosedur pengemasan steril.
a. Pendidihan
Pendidihan 100 o selama 30 menit dengan cara merebus bahan yang akan
disterilkan (memerlukan waktu lebih banyak di ketinggian). Membunuh semua
mikroorganisme yang patogen maupun non patogen kecuali beberapa endospora
dan dapat menonaktifkan virus.
b. Pasteurisasi
Pasteurisasi adalah penggunaan panas yang ringan dengan suhu
terkendali untuk mengurangi jumlah mikroorganisme patogen dengan berdasarkan
waktu kematian termal bagi tipe patogen yang paling resisten untuk dibasmi dalam
produk atau makanan. Dalam kasus pasteurisasi susu, waktu dan suhu tergantung
tujuan untuk membunuh jenis potensial yang patogen yang terdapat dalam susu
yang diinginkan.
Dalam proses pasteurisasi yang terbunuh hanyalah bakteri patogen dan
bakteri penyebab kebusukan namun tidak pada bakteri lainnya. Pasteurisasi
biasanya dilakukan untuk susu, rum, anggur dan makanan asam lainnya.
Selama proses ultrapasteurisasi, juga dikenal sebagai ultra high-temperature
(UHT) pasteurisasi, susu dipanaskan sampai suhu 140 C. Pada metode langsung,
susu dikontakkan langsung dengan uap pada suhu 140 C selama satu atau dua
detik. Sebuah film tipis susu dimasukkan melalui sebuah kamar tekanan uap tinggi,
sehingga terjadi pemanasan susu seketika. Susu lalu didinginkan oleh dengan sedikit
vakum yang bertujuan ganda menghilangkan kelebihan air dalam susu dari
kondensasi uap. Dalam metode tidak langsung ultrapasteurisasi, susu dipanaskan
dalam sebuah pelat penghantar panas. Butuh beberapa detik untuk suhu susu
mencapai 140 C, dan selama waktu itu susu yang terpapar panas. Jika
ultrapasteurisai ini dibarengi dengan kemasan aseptik, hasilnya adalah produk yang
tahan lama tanpa memerlukan pendinginan.
c. Tyndalisasi
Pemanasan yang dilakukan biasanya pada makanan dan minuman kaleng.
Tyndalisasi dapat membunuh sel vegetatif sekaligus spora mikroba tanpa merusak
zat-zat yang terkandung di dalam makanan dan minuman yang diproses. Suhu
pemanasan adalah 65oC selama 30 menit dalam waktu tiga hari berturut-turut.
d. Autoklaf
Autoklaf adalah alat sterilisasi yang mempergunakan uap dan tekanan yang
diatur. Autoklaf merupakan ruang uap berdinding rangkap yang diisi dengan uap
jenuh bebas udara dan dipertahankan pada suhu serta yang ditentukan selama
periode waktu yang dikehendaki. Pada alat ini bahan-bahan yang akan disterilkan
dipanaskan sampai 121 oC selama 15 sampai 20 menit pada tekanan uap 15 pon per
inci persegi (kirakira 1,5 atmosfir). Uap air jenuh memanaskan bahan-bahan tadi
sehingga dengan cepat disterilkan dengan melepaskan panas yang laten. Dengan
kondensasi sejumlah 1600 ml uap pada 100 oC dan tekanan 1 atmosfir, akan terjadi
embun sejumlah 1 ml dengan melepaskan 518 kalori. Air yang mengembun tadi
akan menyebabkan keadaan lembab yang cukup utuk membunuh kuman.
Udara merupakan penghatar panas yang buruk, oleh sebab itu harus
dikeluarkan dari ruangan otoklaf. Rongga di dalam otoklaf tidak boleh terlalu penuh
diisi dengan benda-benda yang akan disterilakan supaya dapat terjadi aliran uap
yang cukup baik. Autoklaf dipergunakan untuk mensterilkan pembenihan, barang-
barang dari karet, semperit, baju, pembalut dan lain-lain.

2. Pendinginan dan Pembekuan


Umumnya mikroorganisme hanya tumbuh sangat sedikit atau tidak sama sekali
pada suhu 0 o C. Makanan akan tahan lama jika disimpan di temperatur rendah untuk
memperlambat laju pertumbuhan dan pembusukan akibat adanya mikroorganisme
(misalnya susu). Tetapi suhu rendah tidak berarti bebas bakteri. Kasus psychrotrophs,
dari psychrophiles memang benar merupakan penyebab pembusukan yang biasa pada
makanan pada makanan yang didinginkan. Meskipun beberapa mikroba masih dapat
tumbuh dalam suhu sangat dingin serendah minus 20 o C, unutuk kebanyakan makanan
diawetkan untuk mencegah pertumbuhan mikroba dalam freezer rumah tangga.

3. Pengeringan (pengangkatan H 2 O)
Sebagian besar mikroorganisme tidak dapat tumbuh pada keadaan kekurangan
air(A w <0.90). Pengeringan sering digunakan untuk mengawetkan makanan (misalnya
buah-buahan, biji-bijian, dll). Metode ini melibatkan penghilangan air dari produk oleh
panas, penguapan, beku-pengeringan, dan penambahan garam atau gula. Pengeringaan
sel mikroba serta lingkungannya sangat mengurangi atau menghentikan aktivitas
metabolik. Diikuti dengaan sejumlaah sel. Pada umumnya lamanya mikroorganisme
bertahan hidup setelah pengeringan bervariasi tergantung dari faktor-faktor yang
mempengaruhinya. Yaitu :
a. Jenis mikroorgaanisme
b. Bahan pembawa yang akan dipakai untuk mengeringkan mikroorganisme
c. Kesempurnaan proses pengeringan
d. Kondisi fisik (cahaya, suhu, kelembaban yang dikenakan pada organisme yaang
dikeringkan.
Pengeringan di udara dapat membunuh sebagian besar kuman. Namun spora
tidak terpengaruh oleh pengeringan, karena itu merupakan cara yang kurang
memuaskan.

4. Radiasi (UV, x-ray, radiasi gamma)


Banyak mikroorganisme pembusukan dapat segera dibunuh oleh radiasi. Di
beberapa negara bagian Eropa, buah-buahan dan sayuran yang diradiasi untuk
meningkatkan umur penyimpanan hingga 500 persen. Praktek ini dapat digunakan
untuk pasteurisasi jus buah dengan mengalirkan jus di atas sumber cahaya ultraviolet
intensitas cahaya tinggi. Sistem UV untuk penggunaan air tersedia pribadi, perumahan
dan komersial untuk dapat digunakan dalam pengendalian bakteri, virus dan kista
protozoa.
Macam-macam radiasi yang digunakan :
1. Radiasi Ultraviolet
Ultraviolet merupakan unsur bakterisidal utama pada sinar matahari yang
menyebabkan perubahan-perubahan di dalam sel berupa :
a. Denaturasi protein
b. Kerusakan DNA
c. Hambatan repikasi DNA
d. Pembetukan H2O2 dan peroksida organik di dalam pembenihan
e. Merangsang pembentukan kolisin pada kuman kolisigenik dengan merusak
penghambatnya di dalam sitoplasma.
2. Cahaya Ultraviolet
Dipergunakan untuk :
a. Membunuh mikrooganisme
b. Membuat vaksin kuman dan virus.
c. Mencegah infeksi melalui udara pada ruang bedah, tempat-tempat umum dan
laboratorium bakteriologis.
3. Radiasi sinar-X dan pengion lainnya
Radiasi pengion memiliki kapasitas lebih besar untuk menginduksikan
perubahan-perubahan yang mematikan pada DNA sel. Cara ini berguna untuk sterilisasi
barang-barang sekali pakai misalnya benang bedah, semperit sekali pakai, pembalut
lekat dan lain-lain.
Menurut FDA, radiasi tidak membuat makanan menjadi radioaktif, juga tidak
terlihat perubahan rasa, tekstur, atau penampilan. Radiasi produk pangan untuk
mengendalikan penyakit yang terbawa makanan pada manusia umumnya telah
disahkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa Organisasi Kesehatan Dunia dan American
Medical Association. Dua bakteri penyebab penyakit penting yang dapat dikendalikan
oleh iradiasi meliputi Escherichia coli dan spesies Salmonella.

5. Filtrasi
Ada dua filter, yaitu filter bakteriologis dan filter udara :
a. Filter bakteriologis
Filter Bakteriologis biasanya digunakan untuk mensterilkan bahan-bahan yang
tidak tahan terhadap pemanasan, misalnya larutan gula, serum, antibiotika, antitoksin,
dll. Teknik filtrasi prinsipnya menggunakan penyaringan, dimana yang tersaring
hanyalah bakteri saja. Diantara jenis filter bakteri yang umum digunakan adalah :
Berkefeld (dari fosil diatomae), Chamberland (dari porselen), Seitz (dari asbes) dan
seluosa.
b. Filter udara
Filter udara berefisiensi tinggi untuk menyaring udara berisikan partikel (High
Efficiency Particulate Air Filter atau HEPA) memungkinkan dialirkannya udara bersih ke
dalam ruang tertutup dengan sistem aliran udara laminar (Laminar Air Flow).

B. Secara Kimia
1. Antimikroba
Antimikroba adalah zat kimia yang membunuh atau menghambat pertumbuhan
mikroorganisme. Antimikroba termasuk bahan pengawet kimia dan antiseptik, serta
obat yang digunakan dalam pengobatan penyakit menular pada tanaman dan
hewan. Antimikroba didapatkan dari sintetis atau berasal dari alam, dan mereka
memiliki efek atau sidal statis pada mikroorganisme.
a. Antiseptik
Antiseptik cukup berbahaya jika digunakan pada kulit dan selaput lendir,
dan tidak boleh digunakan secara internal. Contohnya seperti merkuri, perak
nitrat, larutan yodium, dan deterjen.
b. Desinfektan
Desinfektan merupakan bahan yang membunuh mikroorganisme, tetapi
tidak mencakup spora mikroorganisme, dan tidak aman digunakan untuk jaringan
hidup, desinfektan hanya digunakan pada benda mati seperti meja, lantai,
peralatan, dll. Efeknya terhadap permukaan benda atau bahan juga berbeda-beda.
Ada yang serasi dan ada yaang bersifat merusak. Oleh karena itu perlu diketahui
perilaku bahan kimia yaang akan digunakan sebagai desinfektan. Ciri-ciri
Desinfektan yang ideal :
a. Aktivitas antimikrobial, persyaratan yaang pertama ialah kemampuan
substansi untuk mematikan mikroorganisme. Pada konsentrasi rendah, zat
tersebut harus mempunyai aktivitas antimikrobial dengaan spektrum luas.
b. Kelarutan, yaitu harus dapat larut dalam air atau pelarut lain.
c. Stabilitas.
d. Tidak bersifat raacun bagi manusia maupun hewan dan tumbuhan.
e. Homogenitas, harus mempunyaai komposisi yang seragam sehingga bahan
aktifnya selalu terdapat dalam setiap aplikasi.
2. Pengawet
Merupakan bahan statis yang digunakan untuk menghambat pertumbuhan
mikroorganisme, dan paling sering digunakan dalam makanan. Bahan yang dapat
digunakan tidak berbahaya jika masuk ke dalam tubuh dan tidak beracun. Contohnya
adalah kalsium propionat, natrium benzoat, formaldehid, nitrat dan belerang dioksida.
3. Antibiotik
Berdasarkan sumber pembuatannya Antibiotik dibagi 3, yaitu :
a) Antibiotik sintetik
Antibiotik sintetik berguna dalam pengobatan penyakit dari mikroba maupun
virus. Contohnya adalah sulfonilamid, isoniazid, etambutol, AZT, asam nalidiksat dan
kloramfenikol. Perlu diperhatikan bahwa definisi mikrobiologi mengenai antibiotik
mengharuskan bahwa antibiotik akan digunakan untuk tujuan membunuh mikroba
dan tidak digunakan untuk terapi terhadap penyakit yang tidak berasal dari
mikroba. Oleh karena itu, farmakologi membedakan kemoterapi agen mikrobiologi
sebagai "antibiotik sintetik".
b) Antibiotik Alami
Antibiotik alami adalah antibiotik yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang
dapat membunuh atau menghambat mikroorganisme lainnya. Definisi yang lebih
luas antibiotik merupakan bahan kimia yang berasal dari alam (dari semua jenis sel)
yang memiliki efek untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan sel-sel jenis
lain. Sejak klinis antibiotik sebagian besar dihasilkan oleh mikroorganisme dan
digunakan untuk membunuh atau menghambat Bakteri menular.
Antibiotik yang bermolekul rendah (non-protein) yaitu molekul diproduksi
sebagai metabolit sekunder, terutama oleh mikroorganisme yang hidup di tanah.
Sebagian besar mikroorganisme ini membentuk beberapa jenis spora atau sel
dorman lainnya, dan ada dianggap ada hubungan (selain temporal) antara produksi
antibiotik dan proses sporulasi. Di antara produk antibiotik yang paling menonjol
adalah Penicillium dan Cephalosporium, yang merupakan sumber utama beta-laktam
antibiotik (penisilin dan turunannya). Dalam Bakteri, yang Actinomycetes,
khususnya Streptomyces spesies, menghasilkan berbagai jenis antibiotik termasuk
aminoglikosida (misalnya streptomisin), macrolides (misalnya eritromisin), dan
tetrasiklin. Endospora Bacillus sp menghasilkan antibiotik polipeptida seperti
polimiksin dan bacitracin.
c) Antibiotik semisintetik
Antibiotik semisintetik adalah antibiotik yang molekulnya diproduksi suatu
mikroba kemudian dimodifikasi oleh ahli kimia organik untuk meningkatkan sifat
antimikroba antibiotik tersebut atau membuat mereka unik agar dapat dipatenkan
secara farmasi.
2. Mengendalikan jumlah Mikroorganisme Kontaminan dan mencegah Transmisi
Menurunkan jumlah mikroorganisme kontaminan dan mencegah transmisi dapat
dilakukan dengan mencuci tangan. Mencuci tangan merupakan metode terbaik mencegah
transmisi mikroorganisme. Telah terbukti bahwa tindakan mencuci tangan secara signifikan
menurunkan infeksi pada ICU dan infeksi saluran pencernaan.
Faktor penting untuk mempertahankan higiene yang baik dan mempertahankan
integritas kulit seperti: (1) lama mencuci tangan; (2) paparan semua area tangan dan
pergelangan tangan ke alat yang digunakan; (3) menggosok dengan keras hingga terjadi
friksi; (4) pembilasan menyeluruh; (5) memastikan tangan telah dikeringkan.
Hampir semua bakteri transien dapat dihilangkan dengan sabun dan air, tetapi
bakteri residen akan tetap tinggal. Pencuci tangan bakterisida, misalnya Hibicrub Povidone-
iodine. Yang perlu perhatian khusus saat mencuci tangan adalah area tempat berkumpulnya
mikroorganisme, seperti di sela-sela jari. Walaupun mencuci tangan dengan menggunakan
bakterisida, namun tidak semua bakteri dapat dihilangkan. Tangan tidak pernah steril maka
dari itu kita memerlukan sarung tangan steril dalam melakukan tindakan-tindakan steril.
Selain itu pakaian pelindung yang digunakan ketika memasuki ruangan steril juga dapat
mencegah transmisi mikroorganisme. Dalam menurunkan jumlah organisme kontaminan
hal yang perlu diperhatikan adalah kebersihan, baik itu kebersihan diri maupun kebersihan
lingkungan.
KESIMPULAN

Pengendalian mikroorganisme dapat mencegah penyebaran penyakit dan infeksi,


membasmi mikroorganisme pada inang yang terinfeksi, dan mencegah pembusukan dan
perusakan bahan oleh mikroorganisme. Dengan cara membunuh mikroorganisme atau
membuat kondisi yang membuat mikroorgenisme tidak dapat tumbuh. Membunuh dan
membatasi pertumbuhan mikroorganisme khususnyan sangat penting dalam penyediaan dan
pemeliharaan untuk keamanan makanan. Pengendalian mikroorganisme juga penting pada
praktek medis modern dalam menurunkan penyebaran mikroorganisme. Mikroorganisme
dapat dikendalikan dengan beberapa cara, dapat dengan diminimalisir, dihambat dan dibunuh
dengan sarana atau proses fisika atau bahan kimia.
Pengendalian mikroorganisme juga merupakan hal yang sangat penting bagi manusia
dalam kehidupan, lingkungan dan keselamatannya. Manusia tidak akan pernah terlepas dengan
mikroorganisme baik yang patogen maupun dan non patogen. Namun ketika berhadapan
dengan mikroorganisme patogen pengendalian mikroorganisme bertujuan untuk :
1. Mencegah infeksi dan penularan penyakit berbahaya.
2. Menjaga kelangsungan hidup dari gangguan mikroorganisme yang patogen.
3. Memungkinkan untuk mengkonsumsi makan yang aman dan bebas dari mikroba yang
berbahaya.
4. Pada kondisi tertentu manusia diharuskan hidup dalam lingkungan yang bebas
gangguan dari mikroorganisme.
5. Dalam kebutuhan sehari-hari seperti makanan yang harus higienis dan bersih, serta
bebas daari mikroorganisme yang merugikan.
6. Pengendalian mikroorganisme memungkInkan kita untuk dapat mengobati pada
serangan infeksi mikroba tertentu.
7. Terutama sebagai paramedis adalah kunci utama dalam pengendalian mikroorganisme
sehingga harus benar-benar menguasai dan dapat melakukan penanganan pengendalian
mikroorganisme secara tepat.
DAFTAR PUSTAKA

http://www.textbookofbacteriology.net/.
http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/.
http://www.analisismuslim.blogspot.com/ pengendalian-pertumbuhan-mikroorganisme.html.

http://rachdie.blogsome.com/2006/10/14/pengendalian-mikroorganisme/
http://Andreas. wordpress.com/2010/08/11/Pertumbuhan_Mikroorganisme_Biologi_Online.html