Anda di halaman 1dari 24

KONSEP HUKUM KONTRAK/HUKUM PERJANJIAN

OLEH:

SANG AYU DIAH FEBRIANI 1506305006 03

NI LUH PUTU PURNA YOGISWARI 1506305011 04

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

TAHUN 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan
karunia-Nya sehingga penyusunan paper yang berjudul Konsep Hukum Kontrak/
Hukum Perjanjian dapat selesai tepat pada waktunya.

Penulis menyadari bahwa penulisan paper ini masih jauh dari sempurna, mengingat
keterbatasan pengetahuan dan pengalaman yang penulis miliki. Oleh karena itu, penulis
mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari berbagai pihak demi
kesempurnaan pada pembuatan paper berikutnya. Besar harapan penulis, semoga
pembuatan paper ini bermanfaat bagi pembaca, khususnya bagi mahasiswa.

Denpasar, 18 September 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................................... i


DAFTAR ISI ..................................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................................. 1
1.1. Latar Belakang ...................................................................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah ................................................................................................................. 1
1.3. Tujuan ................................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................................... 3
2.1. Pengertian dan Sahnya Suatu Kontrak .................................................................................. 3
2.1.1. Pengertian Kontrak .................................................................................................... 3
2.1.2. Sahnya Suatu Kontrak................................................................................................ 7
2.2. Batal dan Pembatalan Suatu Kontrak ................................................................................. 10
2.3. Anatomi Kontrak ................................................................................................................ 13
BAB III SIMPULAN ................................................................................................................... 20
3.1. Simpulan ............................................................................................................................. 20
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................. 21

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Bisnis merupakan sarana para Enterpreneur sebagai ajang berkreasi dengan


bertujuan untuk mempermudah masyarakat dalam menjalani hidup. Baik itu berupa jasa
maupun produk. Dengan istilah lain para pengusaha adalah pembantu perekonomian
Negara, supaya sistem perekonomian di dalam negeri tetap seimbang.

Pada kenyataannya, pengusaha hampir 60% telah keluar dari visi diatas yang
akhirnya mereka lebih pada sistem kapital, dimana pengusaha mendapatkan penghasilan
dengan sebesar-besarnya dan modal yang relatif minim. Hal ini, telah jelas bahwa para
pengusaha kebanyakan telah berasaskan demikian.

Sistem yang digunakan salah satunya adalah Kontrak. Kontrak merupakan jenis
perikatan yang sah untuk bekerjasama baik itu mengkontrak seseorang, jasa, ataupun
barang. Dengan bersistemkan kontrak maka salah satu perusahaan atau individu akan
dimudahkan dalam perjalanan bisnisnya.

Kontrak memiliki beberapa definisi, keabsahan hukum, sistem, bentuk, syarat


dan lain sebagainya yang akan dibahas pada paper ini yang berjudul Konsep Hukum
Kontrak/Hukum Perjanjian.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah pada penelitian ini
adalah sebagai berikut:

1. Apa pengertian kontrak?


2. Bagaimana sahnya suatu kontrak?
3. Bagaimana batal dan pembatalan suatu kontrak?
4. Bagaimana anatomi kontrak?

1
1.3. Tujuan

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah
sebagai berikut:

1. Untuk menjelaskan pengertian kontrak.


2. Untuk menjelaskan sahnya suatu kontrak.
3. Untuk menjelaskan batal dan pembatalan suatu kontrak.
4. Untuk menjelaskan anatomi kontrak.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian dan Sahnya Suatu Kontrak

2.1.1. Pengertian Kontrak

Perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seseorang berjanji kepada orang


lainnya atau dimana dua orang saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal. Kontrak
atau contracts (dalam bahasa Inggris) dan overeenskomst (dalam Bahasa Belanda)
dalam pengertian yang lebih luas kontrak sering dinamakan juga dengan istilah
perjanjian.

Istilah kontrak atau perjanjian dalam sistem hukum nasional memiliki


pengertian yang sama, seperti halnya di Belanda tidak dibedakan antara pengertian
contract dan overeenkomst. Kontrak adalah suatu perjanjian (tertulis) antara dua
atau lebih orang (pihak) yang menciptakan hak dan kewajiban untuk melakukan atau
tidak melakukan hal tertentu.

Definisi perjanjian/ kontrak menurut para ahli

1. Menurut UU KUH Perdata dalam Buku 2 bab 1 tentang Perikatan pasal 1313,
menyebutkan Suatu persetujuan adalah suatu perbuatan di mana satu orang atau lebih
mengikatkan diri terhadap satu orang lain atau lebih.

2. Setiawan menilai bahwa rumusan Pasal 1313 BW tersebut selain tidak lengkap juga
terlalu luas. Dinilai tidak lengkap karena hanya menyebutkan persetujuan sepihak saja.
Disebut sangat luas karena kata perbuatan mencakup juga perwakilan sukarela dan
perbuatan melawan hukum. Karenanya, Setiawan mengusulkan perumusannya menjadi
perjanjian adalah perbuatan hukum, dimana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya
atau saling mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih.

3
3. Dalam KBBI kontrak adalah

a. perjanjian (secara tertulis) antara dua pihak dalam perdagangan, sewa-menyewa,


dsb
b. persetujuan yang bersanksi hukum antara dua pihak atau lebih untuk melakukan
atau tidak melakukan kegiatan.
c. mengikat dengan perjanjian (tentang mempekerjakan orang dsb).
d. menyewa

4. Polak menganggap bahwa suatu persetujuan tidak lain adalah suatu perjanjian
(afspraak) yang mengakibatkan hak dan kewajiban.

Perikatan dan perjanjian adalah suatu hal yang berbeda. Perikatan dapat lahir
dari suatu perjanjian dan Undang-undang. Suatu perjanjian yang dibuat dapat
menyebabkan lahirnya perikatan bagi pihak-pihak yang membuat perjanjian tersebut.
Sebagai bahan perbandingan untuk membantu memahami perbedaan dua istilah tersebut,
perlu dikutip pendapat Prof Subekti dalam bukunya Hukum Perjanjian mengenai
perbedaan pengertian dari perikatan dengan perjanjian. Beliau memberikan definisi dari
perikatan sebagai berikut: Suatu perikatan adalah suatu perhubungan hukum antara dua
orang atau dua pihak, berdasarkan mana pihak yang satu berhak menuntut sesuatu hal
dari pihak lain, dan pihak yang lain berkewajiban untuk memenuhi tuntutan itu.
Sedangkan perjanjian didefinisikan sebagai berikut: Suatu perjanjian adalah suatu
peristiwa dimana seseorang berjanji kepada seorang lain atau dimana dua orang itu
saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal.

Hakekat antara perikatan dan perjanjian pada dasarnya sama, yaitu merupakan
hubungan hukum antara pihak-pihak yang diikat didalamnya, namun pengertian
perikatan lebih luas dari perjanjian, sebab hubungan hukum yang ada dalam perikatan
munculnya tidak hanya dari perjanjian tetapi juga dari aturan perundang-undangan.

Hukum kontrak merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, yaitu contract of law,
sedangkan dalam bahasa Belanda disebut dengan istilah overeenscomstrecht. Lawrence
M. Friedman mengartikan hukum kontrak adalah :

4
Perangkat hukum yang hanya mengatur aspek tertentu dari pasar dan mengatur
jenis perjanjian tertentu." (Lawrence M. Friedman, 2001:196). Lawrence M. Friedman
tidak menjelaskan lebih lanjut aspek tertentu dari pasar dan jenis perjanjian tertentu.
Apabila dikaji aspek pasar, tentunya kita akan mengkaji dari berbagai aktivitas bisnis
yang hidup dan berkembang dalam sebuah market. Di dalam berbagai market tersebut
maka akan menimbulkan berbagai macam kontrak yang dilakukan oleh para pelaku
usaha. Ada pelaku usaha yang mengadakan perjanjian jual beli, sewa-menyewa, beli
sewa, leasing, dan lain-lain.

Michael D Bayles mengartikan contract of law atau hukum kontrak adalah


Might then be taken to be the law pertaining to enporcement of promise or agreement.
(Michael D. Bayles, 1987:143) Artinya, hukum kontrak adalah sebagai aturan hukum
yang berkaitan dengan pelaksanaan perjanjian atau persetujuan. Pendapat ini mengkaji
hukum kontrak dari dimensi pelaksanaan perjanjian yang dibuat oleh para pihak, namun
Michael D. Bayles tidak melihat pada tahap-tahap prakontraktual dan kontraktual.
Tahap ini merupakan tahap yang menentukan dalam penyusunan sebuah kontrak.
Kontrak yang telah disusun oleh para pihak akan dilaksanakan juga oleh mereka sendiri.

Charles L. Knapp and Nathan M. Crystal mengartikan law of contract is: Our
society's legal mechanism for protecting the expectations that arise from the making of
agreements for the future exchange of various types of performance, such as the
compeyance of property (tangible and untangible), the performance of services, and the
payment of money (Charles L. Knapp and Nathan M. Crystal, 1993:4), artinya hukum
kontrak adalah mekanisme hukum dalam masyarakat untuk melindungi harapan-
harapan yang timbul dalam pembuatan persetujuan demi perubahan masa datang yang
bervariasi kinerja, seperti pengangkutan kekayaan (yang nyata maupun yang tidak
nyata), kinerja pelayanan, dan pembayaran dengan uang. Pendapat ini mengkaji hukum
kontrak dari aspek mekanisme atau prosedur hukum. Tujuan mekanisme ini adalah
untuk melindungi keinginan/harapan yang timbul dalam pembuatan konsensus di antara
para pihak, seperti dalam peijanjian pengangkutan, kekayaan, kinerja pelayanan, dan
pembayaran dengan uang.

Definisi lain berpendapat bahwa hukum kontrak adalah "Rangkaian kaidah-


kaidah hukum yang mengatur berbagai persetujuan dan ikatan antara warga-warga

5
hukum." (Ensiklopedia Indonesia, tt: 1348). Definisi hukum kontrak yang tercantum
dalam Ensiklopedia Indonesia mengkajinya dari aspek ruang lingkup pengaturannya,
yaitu persetujuan dan ikatan warga hukum. Tampaknya, definisi ini menyamakan
pengertian antara kontrak (perjanjian) dengan persetujuan, padahal antara keduanya
adalah berbeda. Kontrak (perjanjian) merupakan salah satu sumber perikatan,
sedangkan persetujuan salah satu syarat sahnya kontrak, sebagaimana yang diatur dalam
Pasal 1320 KUH Perdata.

Dengan adanya berbagai kelemahan dari definisi di atas maka definisi itu perlu
dilengkapi dan disempurnakan. Jadi, menurut penulis, bahwa hukum kontrak adalah
"Keseluruhan dari kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan hukum antara dua
pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum."

Definisi ini didasarkan pada pendapat Van Dunne, yang tidak hanya mengkaji
kontrak pada tahap kontraktual semata-mata, tetapi juga harus diperhatikan perbuatan
sebelumnya. Perbuatan sebelumnya mencakup tahap pracofitractual dan post
contractual. Pra-contractual merupakan tahap penawaran dan penerimaan, sedangkan
Post Contractual adalah pelaksanaan perjanjian. Hubungan hukum adalah hubungan
yang menimbulkan akibat hukum. Akibat hukum, yaitu timbulnya hak dan kewajiban.
Hak merupakan sebuah kenikmatan, sedangkan kewajiban merupakan beban. Dari
berbagai definisi di atas, dapat dikemukakan unsur-unsur yang tercantum dalam hukum
kontrak, sebagaimana dikemukakan berikut ini:

1. Adanya kaidah hukum

Kaidah dalam hukum kontrak dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu tertulis
dan tidak tertulis. Kaidah hukum kontrak tertulis adalah kaidah-kaidah hukum yang
terdapat di dalam peraturan perundang-undangan, traktat, dan yurisprudensi. Sedangkan
kaidah hukum kontrak tidak tertulis adalah kaidahkaidah hukum yang timbul, tumbuh,
dan hidup dalam masyarakat. Contoh, jual beli lepas, jual beli tahunan, dan lain-lain.
Konsep-konsep hukum ini berasal dari hukum adat.

6
2. Subjek hukum

Istilah lain dari subjek hukum adalah rechtsperson. Rechtsperson diartikan


sebagai pendukung hak dan kewajiban. Yang menjadi subjek hukum dalam hukum
kontrak adalah kreditur dan debitur. Kreditur adalah orang yang berpiutang, sedangkan
debitur adalah orang yang berutang.

3. Adanya prestasi

Prestasi adalah apa yang menjadi hak kreditur dan kewajiban debitur. Prestasi
terdiri dari:

memberikan sesuatu,
berbuat sesuatu, dan
tidak berbuat sesuatu.

4. Kata sepakat

Di dalam Pasal 1320 KUH Perdata ditentukan empat syarat sahnya perjanjian.
Salah satunya kata sepakat (konsensus). Kesepakatan adalah persesuaian pernyataan
kehendak antara para pihak.

5. Akibat hukum

Setiap perjanjian yang dibuat oleh para pihak akan menimbulkan akibat hukum. Akibat
hukum adalah timbulnya hak dan kewajiban. Hak adalah suatu kenikmatan dan
kewajiban adalah suatu beban.

2.1.2. Sahnya Suatu Kontrak

Syarat sahnya kontrak ada 4, yaitu sebagai berikut :

1. Kesepakatan

Kesepakatan yang dimaksud disini adalah kesepakatan antara pihak yang


berkontrak. Kontrak hanya bisa terjadi jika para pihak sepakat untuk melakukan kontrak.
Jika di kemudian hari terbukti bahwa kontrak yang dilakukan para pihak terjadi bukan
karena kesepakatan para pihak, maka dapat dimintakan pembatalan perjanjian.

7
Kesepakatan ini diatur dalam Pasal 1320 ayat (1) KUH Perdata. Yang dimaksud
dengan kesepakatan adalah persesuaian pernyataan kehendak antara satu orang atau
lebih dengan pihak lainnya. Yang sesuai itu adalah pernyataannya, karena kehendak itu
tidak dapat dilihat/diketahui orang lain. Ada lima cara terjadinya persesuaian pernyataan
kehendak, yaitu dengan:

1. bahasa yang sempurna dan tertulis;


2. bahasa yang sempurna secara lisan;
3. bahasa yang tidak sempurna asal dapat diterima oleh pihak lawan. Karena dalam
kenyataannya seringkali seseorang menyampaikan dengan bahasa yang tidak
sempurna tetapi dimengerti oleh pihak lawannya;
4. bahasa isyarat usal dapat diterima oleh pihak lawannya;
5. diam atau membisu, tetapi asal dipahami atau diterima pihak lawan (Sudikno
Mertokusumo, 1987: 7)

Pada dasarnya, cara yang paling banyak dilakukan oleh para pihak, yaitu dengan
bahasa yang sempurna secara lisan dan secara tertulis. Tujuan pembuatan perjanjian
secara tertulis adalah agar memberikan kepastian hukum bagi para pihak dan sebagai
alat bukti yang sempurna, di kala timbul sengketa di kemudian hari.

2. Kecakapan

Para pihak yang berkontrak harus cakap menurut hukum. Mengenai siapa saja
yang boleh melakukan kontrak, Pasal 1329 KUH Perdata menegaskan bahwa setiap
orang yang dinyatakan cakap untuk berkontrak, kecuali bila Undang-Undang
menyatakan tidak cakap. Adapun pembahasan mengenai cakap atau tidak cakap hukum
akan dibahas lebih lanjut dalam sub bab mengenai subyek hukum.

Kecakapan bertindak adalah kecakapan atau kemampuan untuk melakukan


perbuatan hukum. Perbuatan hukum adalah perbuatan yang akan menimbulkan akibat
hukum. Orang-orang yang akan mengadakan perjanjian haruslah orang-orang yang
cakap dan mempunyai wewenang untuk melakukan perbuatan hukum, sebagaimana
yang ditentukan oleh undan-undang. Orang yang cakap dan berwenang untuk
melakukan perbuatan hukum adalah orang yang sudah dewasa.

8
3. Suatu Hal Tertentu (Obyek atau Prestasi)

Suatu hal tertentu yang dimaksud disini adalah adanya benda atau obyek hukum
atau prestasi yang diperjanjikan dalam kontrak. Jika para pihak telah melakukan kontrak,
kemudian terbukti bahwa obyek atau prestasi yang diperjanjikan dalam kontrak ternyata
tidak ada, maka kontrak dinyatakan batal demi hukum.

4. Suatu Sebab yang Halal (Causa yang Halal)

Causa yang halal yang dimaksud disini bukanlah halal dalam makna agama
Islam. Halal yang dimaksud disini adalah sesuatu yang diperbolehkan oleh Undang-
Undang atau hukum positif yang berlaku di Indonesia. Jika setelah melakukan kontrak
ternyata terbukti bahwa obyek yang diperjanjikan melanggar Undang-Undang atau
hukum positif yang berlaku di Indonesia, maka kontrak yang terjadi batal demi hukum.

Kesepakatan dan kecakapan disebut sebagai syarat subyektif. Sedangkan syarat


ketiga dan keempat, yaitu suatu hal tertentu dan suatu sebab yang halal disebut sebagai
syarat obyektif.

Selain keempat syarat di atas, hal lain yang harus dipenuhi dalam kontrak adalah
sebagai berikut :

1) Tidak ada unsur paksaan (Duress, Dwang)

Kontrak tidak boleh dilakukan dengan paksaan atau di bawah ancaman. Baik
pihak pertama maupun pihak kedua harus memiliki kerelaan untuk melakukan kontrak.
Jika pada suatu waktu terbukti bahwa kontrak tersebut ditanda-tangani oleh salah satu
pihak atau kedua-duanya dengan paksaan atau di bawah ancaman, maka kontrak yang
dimaksud batal demi hukum.

2) Tidak ada unsur penipuan (Fraud, Misrepresentation)

Kontrak juga tidak boleh mengandung unsur penipuan. Penipuan bisa terjadi jika
salah satu pihak yang berkontrak dengan sengaja mengaburkan fakta atau tidak
memberikan keterangan yang semestinya kepada pihak yang hendak melakukan kontrak
dengannya. Jika pada suatu waktu terbukti adanya unsur penipuan dalam kontrak, maka
kontrak yang dimaksud batal demi hukum.

9
3) Tidak ada unsur kesilapan (Mistake, Dwaling)

Unsur kesilapan dapat terjadi jika para pihak tidak hati-hati dalam melakukan
kontrak. Baik yang terkait dengan obyek hukum maupun dengan subyek hukum.

Syarat-syarat suatu kontrak dibedakan menjadi tiga, yaitu sebagai berikut :

1) Syarat Esensialia

Syarat yang harus ada dalam suatu kontrak atau akta perjanjian. Jika tidak ada,
maka kontrak atau akta perjanjian itu menjadi cacat. Contohnya dalam kontrak sewa-
menyewa, maka syarat esensialianya antara lain adalah barang dan harga sewa.
Sedangkan contoh dalam kontrak kerja, maka syarat esensialianya antara lain adalah
pekerjaan.

2) Syarat Naturalia

Syarat yang bisa dicantumkan dalam perjanjian. Jika syarat tersebut tidak ada,
maka perjanjian tidak cacat dan tetap sah. Syarat naturalia terdapat dalam peraturan
perundang-undangan dan kebiasaan. Contoh syarat naturalia dalam kontrak sewa-
menyewa adalah mengenai pompa air, para pihak tidak menyertakan ketentuan
pemasangan pompa air sendiri dalam kontrak, kemudian si penyewa memasang sendiri
dan membawa pompa itu kembali setelah kontrak sewa berakhir.

3) Syarat Aksidentalia

Syarat yang bersifat khusus dan tidak mutlak. Tapi jika para pihak menganggap
bagian tersebut penting, maka perlu dicantumkan dalam akta. Contoh syarat aksidentalia
dalam kontrak sewa-menyewa adalah dicantumkannya penyerahan kwitansi
pembayaran listrik dan batas akhir pembayaran per-bulannya dalam suatu kontrak.

2.2. Batal dan Pembatalan Suatu Kontrak

Berkaitan dengan syarat-syarat untuk sahnya suatu perjanjian, telah dijelaskan,


bahwa apabila suatu syarat obyektif (hal tertentu atau causa yang halal) tidak terpenuhi,
maka perjanjiannya adalah batal demi hukum (null and void). Artinya adalah dari awal
dianggap tidak ada suatu perjanjian yang terjadi, dan tidak ada pula suatu perikatan

10
antara orang-orang yang bermaksud membuat perjanjian itu. Dengan demikian antara
satu pihak dengan pihak yang lain tidak dapat mengadakan tuntutan hukum, karena
dianggap dasar hukumnya tidak ada.
Apabila dalam pembuatan suatu perjanjian, tidak terpenuhi syarat subyektif-nya
(cakap dalam membuat perjanjian), maka perjanjian tersebut tidak batal demi hukum
tapi dapat dimintakan pembatalan (canceling) oleh salah satu pihak, yaitu pihak yang
tidak cakap menurut hukum (orang tua atau walinya, ataupun ia sendiri apabila ia sudah
cakap).
Kenapa kedua hal ini harus dibedakan? Perjanjian yang tidak mengandung atau
tidak menyebutkan suatu hal tertentu, dapat dikatakan bahwa perjanjian tersebut tidak
dapat dilaksanakan, karena tidak terang atau jelas apa yang diperjanjikan oleh masing-
masing pihak. Sedangkan perjanjian yang isinya tidak halal, sudah dapat dipastikan
bahwa perjanjian tersebut tidak boleh dilaksanakan karena melanggar hukum dan
kesusilaan. Dari sudut keamanan dan ketertiban, sudah jelas bahwa perjanjian-
perjanjian seperti itu harus dicegah. Hal demikian dapat dengan seketika diketahui oleh
hakim, apabila salah satu atau kedua belah pihak mengajukan tuntutan hukum di
pengadilan.
Dalam hal adanya tuntutan hukum dari salah satu pihak, mengenai tidak
terpenuhinya syarat-syarat subyektif dalam perjanjian, maka para pihak harus bisa
membuktikan hal tersebut, karena hakim tidak begitu saja bisa mengetahuinya. Oleh
kerena itu, dalam hal adanya kekurangan mengenai syarat subyektif dalam perjanjian,
undang-undang menyerahkan kepada pihak yang berkepentingan, apakah ia
menghendaki pembatalan perjanjian atau tidak. Jadi perjanjian yang demikian itu bukan
batal demi hukum, tetapi dapat dimintakan pembatalan.
Persetujuan kedua belah pihak yang merupakan kesepakatan harus diberikan
secara bebas. Dalam Hukum Perjanjian ada tiga sebab yang membuat persetujuan (ijin)
tidak bebas, yaitu :

1. Paksaan, yang dimaksud adalah paksaan rohani atau paksaan jiwa (psychis),
bukan paksaan fisik. Misalnya : salah satu pihak karena diancam atau ditakut-
takuti terpaksa menyetujui suatu perjanjian.
2. Kekhilafan atau kekeliruan, dapat terjadi apabila salah satu pihak khilaf tentang
hal-hal yang pokok dari apa yang diperjanjikan atau tentang sifat-sifat yang

11
penting dari barang yang menjadi obyek perjanjian, ataupun mengenai orang
dengan siapa diadakan perjanjian itu. Kekhilafan atau kekeliruan tersebut harus
sedemikian rupa, sehingga apabila ia tidak khilaf mengenai hal-hal tersebut, ia
tidak akan memberikan persetujuannya.
3. Penipuan, terjadi apabila satu pihak dengan sengaja memberikan keterangan-
keterangan yang palsu atau tidak benar disertai dengan tipu muslihat untuk
membujuk pihak lawannya memberikan persetujuan (perijinan)-nya. Pihak yang
menipu itu bertindak secara aktif untuk menjerumuskan lawannya. Menurut
yurisprudensi, tidak cukuplah seseorang itu hanya melakukan kebohongan
mengenai sesuatu hal saja, paling tidak sedikitnya harus ada suatu rangkaian
kebohongan atau suatu perbuatan yang dinamakan tipu muslihat.

Dengan demikian, maka ketidakcakapan seseorang dan ketidakbebasan dalam


memberikan persetujuan (perijinan) pada suatu perjanjian, memberikan hak kepada
pihak yang tidak cakap hukum dan pihak yang tidak bebas (di bawah ancaman) dalam
memberikan sepakatnya itu untuk meminta pembatalan perjanjiannya. Hak meminta
pembatalan hanya ada pada satu pihak saja, yaitu pihak yang oleh undang-undang diberi
perlindunganitu.

Dalam Pasal 1454 Kitab Undang Undang Hukum Perdata, meminta pembatalan
atas suatu perjanjian dibatasi sampai suatu batas waktu tertentu, yaitu 5 tahun. Batas
waktu tersebut mulai berlaku :

Dalam hal ketidakcakapan salah satu pihak, berlaku sejak orang tersebut
menjadi cakap menurut hukum.
Dalam hal paksaan, berlaku sejak hari dimana paksaan (ancaman) tersebut
berhenti.
Dalam hak kekhilafan atau penipuan, berlaku sejak hari diketahuinya kekhilafan
atau penipuan itu.

Ada dua cara meminta pembatalan pada hakim :

1. Pihak yang berkepentingan secara aktif sebagai penggugat meminta kepada


hakim supaya perjanjian tersebut dibatalkan.

12
2. Menunggu sampai ia digugat di depan hakim untuk memenuhi perjanjian
tersebut. Di depan pengadilan itulah, ia sebagai tergugat mengemukakan pada
hakim bahwa perjanjian tersebut telah disetujuinya ketika ia belum cakap hukum
atau karena ia dibawah ancaman atau ia khilaf mengenai obyek perjanjian atau
karena ia kena tipu. Atas alasan tersebut ia memohon pada hakim untuk
meminta pembatalan atas perjanjian tersebut. Meminta pembatalan secara
pembelaan ini tidak ada batas waktunya.

2.3. Anatomi Kontrak

Pada dasarnya, susunan dan anatomi kontrak, dapat digolongkan menjadi tiga
bagian, yaitu bagian pendahuluan, isi, dan penutup. Apa yang dimuat dalam masing-
masing bagian tersebut tentu saja tidak sama pentingnya antara satu kontrak dengan
kontrak yang lainnya karena biasanya kontrak yang sederhana tidak begitu banyak hal
yang dicantumkan dalam bagian pendahuluan begitu pula pada bagian penutup.
Ketiga hal itu dijelaskan sebagai berikut :
1. Bagian Pendahuluan
Dalam bagian pendahuluan dibagi menjadi tiga sub bagian, yaitu sebagai
berikut:
a. Sub bagian pembuka (description of the intrument).
Subbagian ini memuat tiga hal berikut, yaitu:
1. Sebutan atau nama kontrak dan penyebutan selanjutnya (penyingkatan)
yang dilakukan,
2. Tanggal dari kontrak yang dibuat dan ditandatangani, dan
3. Tempat dibuat dan ditandatanganinya kontrak.
b. Sub bagian pencantuman identitas para pihak (Caption/ Komparisi).
Dalam sub bagian ini dicantumkan identitas para pihak yang mengikat diri
dalam kontrak dan siapa-siapa yang menandatangani kontrak tersebut. Komparisi /
Identitas Para Pihak Bagian ini merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan,
namun sering kurang mendapatkan porsi sebagaimana yang seharusnya.
Pada bagian ini dituliskan identitas para pihak. Apabila perorangan, maka yang
wajib ditulis disini minimal adalah nama, pekerjaan, alamat yang bersangkutan.
Apabila sebuah badan hukum, misalnya Perseroan Tebatas (PT), maka yang berhak

13
tanda tangan disini, adalah yang berhak mewakili, bertindak untuk dan atas nama PT
yang besangkutan. Apabila yang hendak menandatangani kontrak adalah Direkturnya,
maka harus dicantumkan dasar kewenangan direktur, sebagaimana terdapat dalam Akta
pendirian/Anggaran dasar PT yang bersangkuan, dalam hal ini perlu dituliskan nomor
dan tanggal Akta Pendirian/Anggaran Dasar PT tersebut. Apabila yang akan
menandatangani kontrak adalah salah seorang manajer atau pejabat di PT tersebut, maka
harus ada Kuasa. Mengapa ini penting? Ini penting sebagai antisipasi apabila terjadi hal
hal-hal yang tidak kita inginkan di kemudian hari dan kita mengetahui dengan siapa kita
bertransaksi, apakah perorangan atau badan hukum.
Ada tiga hal yang perlu diperhatikan tentang identitas para pihak, yaitu:
1. Para pihak harus disebutkan secara jelas;
2. Orang yang menandatangani harus disebutkan kapasitasnya sebagai apa;
3. Pendefinisian pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak.
Peraturan-Peraturan Yang Berkaitan Khusus Dengan Komparisi:
1. Pasal 38,39,40,47 Uujn
2. Pasal 393 Bw Jo Pasal 370 Bw
3. UU No.1/1974 Dan Pp No.9/1975 Yaitu Pasal 31 Dan Ps 36
4. UU No.13/1985 Tentang Aturan Bea Materai
5. Peraturan hukum lainnya
Adapun mengenai contoh bentuk komparisi adalah sebagai berikut:
1) MODEL 1: bertindak untuk diri sendiri (Pasal 38 Ayat (3) UUJN)
Tuan AMIR, lahir di Pekalongan pada tanggal tujuh belas Agustus seribu
sembilan ratus tujuh puluh empat (17-08-1974), warga negara Indonesia, wiraswasta,
bertempat tinggal di Semarang, Jalan Durian Nomor 100, Rukun Tetangga 02 Rukun
Warga 02, Keluarahan Pleburan, Kecamatan Semarang Timur, pemegang kartu tanda
penduduk nomor 12.34.5678.009.
2) MODEL 2 : dalam hal karena perwakilan atau kuasa.
KUASA LISAN
Tuan Zaky, lahir di Pekalongan pada tanggal tujuh belas Agustus seribu
sembilan ratus tujuh puluh empat (17-08-1974), warga negara Indonesia, wiraswasta,
bertempat tinggal di Semarang, Jalan Durian Nomor 100, Rukun Tetangga 02 Rukun

14
Warga 02, Kelurahan Pleburan, Kecamatan Semarang Timur, pemegang kartu tanda
penduduk nomor 12.34.5678.009.
Menurut keterangannya dalam hal ini bertindak selaku kuasa lisan dari dan oleh
karena itu untuk dan atas nama serta seberapa perlu menguatkan dirinya guna
menanggung dan menjamin Nyonya Dika, lahir di Jakarta pada tanggal tujuh Agustus
seribu sembilan ratus tujuh puluh (07-08-1970), warga negara Indonesia, wiraswasta,
bertempat tinggal di Jakarta Pusat, Jalan SawoNomor 10, Rukun Tetangga 10 Rukun
Warga 10, Kelurahan Menteng, Kecamatan Gondangdia, pemegang kartu tanda
penduduk nomor 12.34.666.111.
SURAT KUASA BAWAH TANGAN (Pasal 47 Ayat (1))
Tuan AMIR, lahir di Pekalongan pada tanggal tujuh belas Agustus seribu
sembilan ratus tujuh puluh empat (17-08-1974), warga negara Indonesia, wiraswasta,
bertempat tinggal di Semarang, Jalan Durian Nomor 100, Rukun Tetangga 02 Rukun
Warga 02, Kelurahan Pleburan, Kecamatan Semarang Timur, pemegang kartu tanda
penduduk nomor 12.34.5678.009.
Menurut keterangannya dalam hal ini bertindak berdasarkan surat kuasa yang
dibuat dibawah tangan tertanggal sepuluh Maret dua ribu sebelas (10-03-2011),
bermaterai cukup yang aslinya dilekatkan atau dijahitkan pada minuta akta ini, selaku
kuasa dari dan oleh karena itu untuk dan atas nama Nyonya Rahma, lahir di Jakarta
pada tanggal tujuh Agustus seribu sembilan ratus tujuh puluh (07-08-1970), warga
negara Indonesia, wiraswasta,bertempat tinggal di Jakarta Pusat, Jalan Sawo Nomor 10,
Rukun Tetangga 10 Rukun Warga 10, Kelurahan Menteng, Kecamatan Gondangdia,
pemegang kartu tanda penduduk nomor 12.34.666.111.
SURAT KUASA DIBAWAH TANGAN YANG DILEGALISASI/
DIWAARMEKING
Tuan Yudi, lahir di Pekalongan pada tanggal tujuh belas Agustus seribu
sembilan ratus tujuh puluh empat (17-08-1974), warga negara Indonesia, wiraswasta,
bertempat tinggal di Semarang, Jalan Durian Nomor 100, Rukun Tetangga 02 Rukun
Warga 02, Keluarahan Pleburan, Kecamatan Semarang Timur, pemegang kartu tanda
penduduk nomor 12.34.5678.009.
Menurut keterangannya dalam hal ini bertindak berdasarkan surat kuasa dibawah
tangan tertanggal sepuluh februari dua ribu sebelas (10-02-2011) yang telah di legalisasi

15
oleh saya, Notaris, dibawah Nomor 100/2011 tanggal sepuluh Februari dua ribu sebelas
(10-02-2011), surat tersebut yang bermaterai cukup, dijahitkan pada minuta akta ini
selaku kuasa dari dan oleh karena itu untuk dan atas nama Tuan Abang Suparjo, lahir di
Semarang pada tanggal satu Mei seribu sembilan ratus tujuh puluh (01-05-1970), warga
negara Indonesia, swasta, bertempat tinggal di Semarang, jalan Rahman Hakim Nomor
33, Rukun Tetangga 01 Rukun Warga 01, Kelurahan Pleburan, Kecamatan Semarang
Barat, pemegang Kartu Tanda Penduduk Nomor 01.051970.
c. Sub bagian penjelasan, pada subbagian diberikan alasan/penjelasan mengapa para
pihak mengadakan kontrak (sering disebut dengan bagian premis)

2. Bagian Isi

Ada empat hal yang tercantum dalam bagian isi, yaitu sebagai berikut:

a. Klausula definisi (definition)


Dalam klausula ini biasanya dicantumkan berbagai definisi untuk keperluan
kontrak. Definisi ini hanya berlaku pada kontrak tersebut dan dapat mempunyai arti
dari pengertian umum. Klausula definisi penting dalam rangka mengefisienkan
klausula-klausula selanjutnya karena tidak perlu diadakan pengulangan.
b. Klausula transaksi (operative language)
Klausula transaksi adalah klausula-klausula yang berisi tentang transaksi yang
akan dilakukan. Misalnya dalam jual beli aset maka harus diatur tentang objek yang
akan dibeli dan pembayarannya. Demikian pula dengan suatu kontrak usaha patungan,
perlu diatur tentang kesepakata para pihak dalam kontrak tersebut.
c. Klausula spesifik
Klausula spesifik mengatur hal-hal yang spesifik dalam suatu transaksi. Artinya
klausula tersebut tidak terdapat dalam kontrak dengan sanksi yang berbeda.
d. Klausula ketentuan umum
Klausula ketentuan umum adalah klausula yang seringkali dijumpai dalam
berbagai kontrak dagang maupun kontrak lainnya. Klausula ini antara lain mengatur
tentang domisili hukum, penyelesaian sengketa, pilihan hukum, pemberiyahuan,
keseluruhan dari perjanjian, dan lain-lain.
3. Bagian Penutup
Ada dua hal yang tercantum pada bagian penutup, yaitu sebagai berikut:

16
a. Sub bagian kata penutup (closing), kata penutup biasanya menerangkan
bahwa perjanjian tersebut dibuat dan ditandatangani oleh pihak-pihak yang memiliki
kapasitas untuk itu. Atau para pihak menyatakan ulang bahwa mereka akan terikat
dengan isi kontrak.
b. Sub bagian ruang penempatan tanda tangan adalah tempat pihak-pihak
menandatangani perjanjian atau kontrak dengan menyebutkan nama pihak yang terlibat
dalam kontrak, nama jelas orang yang menandatangani dan jabatan dari orang yang
menandatangani.
Di dalam Pasal 22 ayat (2) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa
Konstruksi telah ditentukan uraian-uraian yang harus dimuat dalam Kontrak Kerja
Konstruksi. Uraian-uraian tersebut adalah sebagai berikut:
1. Para pihak, yang memuat secara jelas para pihak. Yang dimaksud dengan identitas
para pihak adalah nama, alamat, kewarganegaraan, wewenang penanda tangan, dan
domisili.
2. Rumusan pekerjaan, yang memuat uraian yang jelas dan rinci tentang lingkup
kerja, nilai pekerjaan, dan batasan waktu pelaksanaan. Lingkup kerja meliputi:
a. volume pekerjaan, yakni besarnya pekerjaan yang harus dilaksanakan,
termasuk volume pekerjaan tambah atau kurang. Dalam mengadakan
perubahan volume pekerjaan, perlu ditetapkan besarnya perubahan volume
yang tidak memerlukan persetujuan para pihak terlebih dahulu;
b. persyaratan administrasi, yakni prosuder yang harus dipenuhi oleh para
pihak dalam mengadakan interaksi;
c. persyaratan teknik, yakni ketentuan keteknikan yang wajib dipenuhi oleh
penyedia jasa;
d. pertanggungan atau jaminan yang merupakan bentuk perlindungan antara
lain untuk pelaksanaan pekerjaan, penerimaan uang muka, kecelakaan bagi
tenaga kerja dan masyarakat. Perlindungan tersebut dapat berupa antara lain
asuransi atau jaminan yang diterbitkan oleh bank atau lembaga bukan bank;
e. laporan hasil pekerjaan konstruksi.
3. Nilai pekerjaan, yakni jumlah besarnya biaya yang akan diterima oleh penyedia
jasa untuk pelaksanaan lingkup pekerjaan. Batas waktu pelaksanaan adalah jangka

17
waktu untuk menyelesaikan keseluruhan lingkup pekerjaan termasuk masa
pemeliharaan.
4. Masa pertanggungan dan/atau pemeliharaan, yang memuat tentang jangka
waktu pertanggungan dan/atau pemeliharaan yang menjadi tanggung jawab penyedia
jasa.
5. Tenaga ahli, yang memuat tentang jumlah, klasifikasi dan kualifikasi tenaga ahli
untuk melaksanakan pekerjaan konstruksi.
6. Hak dan kewajiban, yang memuat hak pengguna jasa untuk memperoleh hasil
pekerjaan konstruksi serta kewajibannya untuk emenuhi ketentuan yang diperjanjikan
serta hak penyedia jasa untuk memperoleh informasi dan imbalan serta kewajibannya
melaksanakan pekerjaan konstruksi.
7. Cara pembayaran, yang memuat ketentuan tentang kewajiban pengguna jasa
dalam melakukan pembayaran hasil pekerjaan konstruksi.
8. Cedera janji, yang memuat ketentuan tentang tanggung jawab dalam hal salah satu
pihak tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana diperjanjikan.
9. Penyelesaian perselisihan, yang memuat ketentuan tentang tata cara penyelesaian
akibat ketidaksepakatan.
10. Pemutusan kontrak kerja konstruksi, yang memuat ketentuan tentang
pemutusan kontrak kerja konstruksi yang timbul akibat tidak dapat dipenuhinya
kewajiban salah satu pihak.
11. Keadaan memaksa (force majeur), yang memuat ketentuan tentang kejadian
yang timbul di luar kemauan dan kemampuan para pihak, yang menimbulkan kerugian
bagi salah satu pihak.
12. Perlindungan pekerja, yang memuat ketentuan tentang kewajiban para pihak
dalam pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja serta jaminan sosial.
13. Aspek lingkungan, yang memuat kewajiban para pihak dalam pemenuhan
ketentuan tentang lingkungan.
Di samping itu, di dalam kontrak kerja konstruksi dapat juga dimaksudkan
tentang:
1. kesepakatan para pihak tentang pemberian intensif,
2. sub penyedia jasa, dan

18
3. pemasok bahan dan atau komponen bangunan dan atau peralatan yang harus
memenuhi standar yang berlaku.
Untuk kontrak kerja konstruksi pekerjaan perencanaan harus memuat tentang
hak atas kekayaan intelektual. Hak atas kekayaan intelektual adalah hasil inovasi
perencanaan konstruksi dalam suatu pelaksanaan kontrak kerja konstruksi baik bentuk
hasil akhir perencanaan dan/atau bagian-bagiannya yang kepemilikannya dapat
diperjanjikan. Ini berarti bahwa atas kekayaan intelektual itu dapat dimiliki oleh
pemberi jasa atau penyedia jasa. Dengan demikian, salah satu pihak, baik pemberi jasa
maupun penyedia jasa dapat mengajukan haknya kepada Pemerintah.
Apabila dianalaisis uraian-uraian tentang substansi kontrak kerja konstruksi,
tampaklah bahwa uraian-uraian itu telah memenuhi syarat, baik syarat teoritis maupun
pragmatis. Uraian kontrak itu telah mengatur secara lengkap tentang hal-hal yang harus
tercantum di dalam kontrak konstruksi.

19
BAB III

SIMPULAN

3.1. Simpulan

Hukum kontrak merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, yaitu contract of law,
sedangkan dalam bahasa Belanda disebut dengan istilah overeenscomstrecht. Hukum
kontrak adalah "Keseluruhan dari kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan
hukum antara dua pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat
hukum."

Syarat sahnya kontrak ada 4, yaitu sebagai berikut : kesepakatan, kecakapan,


suatu hal tertentu (obyek atau prestasi), dan suatu sebab yang halal (causa yang halal).
Selain keempat syarat di atas, hal lain yang harus dipenuhi dalam kontrak adalah
sebagai berikut : tidak ada unsur paksaan (duress, dwang), tidak ada unsur penipuan
(fraud, misrepresentation), tidak ada unsur kesilapan (mistake, dwaling). Syarat-syarat
suatu kontrak dibedakan menjadi tiga, yaitu sebagai berikut : syarat esensialia, syarat
naturalia, dan syarat aksidentalia.

Berkaitan dengan syarat-syarat untuk sahnya suatu perjanjian, telah dijelaskan,


bahwa apabila suatu syarat obyektif (hal tertentu atau causa yang halal) tidak terpenuhi,
maka perjanjiannya adalah batal demi hukum (null and void). Artinya adalah dari awal
dianggap tidak ada suatu perjanjian yang terjadi, dan tidak ada pula suatu perikatan
antara orang-orang yang bermaksud membuat perjanjian itu. Dengan demikian antara
satu pihak dengan pihak yang lain tidak dapat mengadakan tuntutan hukum, karena
dianggap dasar hukumnya tidak ada.

Pada dasarnya, susunan dan anatomi kontrak, dapat digolongkan menjadi tiga
bagian, yaitu bagian pendahuluan, isi, dan penutup. Apa yang dimuat dalam masing-
masing bagian tersebut tentu saja tidak sama pentingnya antara satu kontrak dengan
kontrak yang lainnya karena biasanya kontrak yang sederhana tidak begitu banyak hal
yang dicantumkan dalam bagian pendahuluan begitu pula pada bagian penutup.

20
DAFTAR PUSTAKA

Annisa, Ayu. 2016. Diambil dari:


https://www.academia.edu/11453127/A._ISTILAH_DAN_PENGERTIAN_HU
KUM_KONTRAK. (18 September 2017)

Ariswanto, Dery. 2016. Diambil dari:


http://leesyailendranism.blogspot.co.id/2016/12/makalah-anatomi-kontrak.html.
(18 September 2017)

Fuady, Munir. 2012. Pengantar Hukum Bisnis: Menata Bisnis Modern di Era Global.
Bandung: PT Citra Aditya Bakti.

Nheezwa. 2015. Diambil dari:


https://www.academia.edu/12900986/SYARAT_SAHNYA_KONTRAK_SUBY
EK_DAN_OBYEK_HUKUM_KONTRAK. (18 September 2017)

Salim. 2008. Perkembangan Hukum Kontrak Innominaat di Indonesia bagian kesatu,


Jakarta: Sinar Grafika.

21