Anda di halaman 1dari 44

MAKALAH ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS

Katagori Keluarga Dan Stake Holder Yang Ada Pada Tingkatan


Komunitas

Disusun Oleh:
1. Annisa Ayu Lesari (P3.73.24.3.15.003)
2. Puspa Sekar Mentari (P3.73.24.3.15.023)
3. Renny Emaliya Yuliska (P3.73.24.3.15.024)

POLTEKKES KEMENKES JAKARTA III


PRODI D-IV KEBIDANAN

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada kehadirat Allah SWT, yang mana dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah Nya kami dapat menyelesaikan makalah
mengenai Katagori Keluarga Dan Stake Holder Yang Ada Pada Tingkatan
Komunitasdan juga kami berterima kasih kepada dosen mata kuliah Asuhan
Kebidanan Komunitas, D-IV kebidanan Poltekkes Kemenkes Jakarta III yang telah
memberikan tugas ini kepada kami.

Kami sangat berharap makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca guna
dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai sistem
perkemihan.Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih sangat jauh
dari kata sempurna dan masih banyak kekurangan.Oleh sebab itu, kami berharap
pembaca dapat memberikan kritik dan saran untuk membangun makalah ini.

Semoga makalah ini dapat di pahami bagi siapa pun yang


membacanya.Sekiranya makalah yang kami susun ini dapat berguna bagi kami maupun
bagi orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat
kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami mohon kritik dan saran yang
membangun demi perbaikan di masa depan.

Jakarta, September 2017

Penyusun

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................................................... 2
DAFTAR ISI............................................................................................................................................... 3
BAB I ...................................................................................................................................................... 4
PENDAHULUAN .................................................................................................................................. 4
A. LATAR BELAKANG ................................................................................................................... 4
B. RUMUSAN MASALAH ............................................................................................................... 4
C. TUJUAN ........................................................................................................................................ 5
BAB II..................................................................................................................................................... 6
PEMBAHASAN MATERI ..................................................................................................................... 6
A. KELUARGA .................................................................................................................................. 6
B. STAKE HOLDER .................................................................................................................... 23
BAB III ................................................................................................................................................. 38
BAB IV ................................................................................................................................................. 39
KASUS .................................................................................................................................................... 40
JURNAL .................................................................................................................................................. 44

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan
beberapa anggota keluarga lainnya yang berkumpul dan tinggal dalam suatu rumah tangga
karena pertalian darah dan ikatan perkawinan atau adopsi, dimana antara satu dengan yang
lainnya saling tergantung dan berinteraksi. Bila salah satu anggota keluarga mempunyai
masalah kesehatan atau keperawatan, maka akan berpengarung terhadap anggota-anggota
yang lain dan keluarga-keluarga yang ada di sekitarnya (Effendi, 1998). Dalam memelihara
individu, keluarga tetap berperan sebagai pengambil keputusan dalam memelihara anggota
keluarga yang sakit. Hal ini terlihat nyata pada keluarga inti yang mengambil keputusan
tetapi juga anggota keluarga yang jauh (extended family).

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian dari keluarga?

2. Apa saja tipe keluarga?

3. Apa hubungan antara masalah kesehatan dengan keluarga dan anggotanya?

4. Bagaimana mengidentifikasi struktur organisasi sesuai dengan tingkatan dan hubungan


kekeluargaan?

5.Apa saja jenis stake holder yang ada di komunitas dan fungsi masing-masing?

6. Bagaimana mengidentifikasi stake holder yang ada pada tingkatan di komunitas?

7. Bagaimana mengembangkan tim kerja berdasarkan jenis stake holder yang ada di
komunitas?

4
C. TUJUAN

1. Mengetahui pengertian dari keluarga

2. Mengetahu tipe keluarga

3. Mempelajari hubungan antara masalah kesehatan dengan keluarga dan anggotanya

4. Mengidentifikasi struktur organisasi sesuai dengan tingkatan dan hubungan


kekeluargaan

5. Mempelajari jenis stake holder yang ada di komunitas dan fungsi masing-masing

6. Mengidentifikasi stake holder yang ada pada tingkatan di komunitas

7. Mempelajari pengembangkan tim kerja berdasarkan jenis stake holder yang ada di
komunitas

5
BAB II

PEMBAHASAN MATERI

A. KELUARGA

1. Pengertian Keluarga

Keluarga (bahasa Sanskerta: "kulawarga"; "ras" dan "warga" yang berarti "anggota")
adalah lingkungan yang terdapat beberapa orang yang masih memiliki hubungan
darah(Wikipedia, 2009). Menurut Departemen Kesehatan RI ( 2009 ), keluarga merupakan
unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang
berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling
ketergantungan. Sedangkan menurut Salvicion dan Ara Celis (2005), keluarga adalah dua
atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan
atau pengangkatan dan mereka hidupnya dalam suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama
lain dan dalam perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu
kebudayaan.

Menurut (Effendi, 1998) Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri
atas kepala keluarga dan beberapa anggota keluarga lainnya yang berkumpul dan tinggal
dalam suatu rumah tangga karena pertalian darah dan ikatan perkawinan atau adopsi, dimana
antara satu dengan yang lainnya saling tergantung dan berinteraksi. Bila salah satu anggota
keluarga mempunyai masalah kesehatan atau keperawatan, maka akan berpengarung terhadap
anggota-anggota yang lain dan keluarga-keluarga yang ada di sekitarnya Menurut( Busard
dan ball, 1966). Keluarga merupakan lingkungan social yang sangat dekat hubungannya
dengan seseorang. Dikeluarga itu seseorang dibesarkan, bertempat tinggal, berinteraksi satu
dengan yang lain, dibentuknya nilai-nilai, pola pemikiran, dan kebiasaanya dan berfungsi
sebagai saksi budaya luar, dan mediasi hubungan anak dengan lingkunganny ( Busard dan
ball, 1966). Menurut (WHO, 1969).Keluarga adalah anggota rumah tangga yang saling
berhubungan melalui pertalian darah adopsi atau perkawinan. Dari beberapa pengertian diatas
maka dapat disimpulkan secara umum bahwa keluarga itu terjadi jika ada:

6
1. Ikatan atau persekutuan (perkawinan atau kesepakatan).
2. Hubungan (darah atau adopsi atau kesepakatan).
3. Tinggal bersama dalam suatu atap (serumah).
4. Ada peran masing-masing anggota keluarga.

2. Tipe Keluarga

Keluarga yang memerlukan pelayanan kesehatan berasal dari berbagai macam pola
kehidupan.Sesuai dengan perkembangan sosial maka tipe keluarga berkembang
mengikutinya.Agar dapat mengupayakan peran serta keluarga dalam meningkatkan derajat
kesehatan maka perawat perlu mengetahui berbagai tipe keluarga.

Tipe keluarga tradisional :

a) The Nuclear family (Keluarga inti) yaitu keluarga yang terdiri dari suami istri dan
anak (kandung atau angkat).
b) The dyad family , suatu rumah tangga yang terdiri dari suami istri tanpa anak.
c) Keluarga usila, Keluarga terdiri dari suami dan istri yang sudah usia lanjut, sedangkan
anak sudah memisahkan diri.
d) The childless, Keluarga tanpa anak karena telambat menikah, bisa disebabkan karena
mengejar karir atau pendidikan.
e) The Extended family , keluarga yang terdiri dari keluarga inti ditambah keluarga lain,
seperti paman, bibi, kakek, nenek dan lain-lain.
f) Single parent yaitu keluarga yang terdiri dari satu orang tua dengan anak(kandung
atau angkat). Kondisi ini dapat disebabkan oleh perceraian atau kematian).
g) Commuter family, kedua orang tua bekerja diluar kota, dan bisa berkumpul pada hari
minggu atau libur saja.
h) Multigeneration family, Beberapa generasi atau kelompok umur yang tinggal bersama
dalam satu rumah.
i) Kin-network family, beberapa keluarga yang tinggal bersama atau saling berdekatan
dan menggunakan barang-barang pelayanan seperti dapur, sumur yang sama.
j) Blended family, keluarga yang dibentuk dari janda atau duda dan membesarkan anak
dari perkawinan sebelumnya.
k) Single adult living alone yaitu suatu rumah tangga yang terdiri dari satu orang
dewasa.

7
Tipe keluarga non tradisional:

a) The unmarried teenage mother, Keluarga yang terdiri dari satu orang dewasa terutama
ibu dengan anak dari hubungan tanpa nikah.
b) The Step parent family, keluarga dengan orang tua tiri.
c) Commune family, yaitu lebih satu keluarga tanpa pertalian darah yang hidup serumah.
d) The non marrital heterosexual cohabiting family, keluarga yang hidup bersama,
berganti-ganti pasangan tanpa nikah.
e) Gay and lesbian family, seorang yang mempunyai persamaan sex tinggal dalam satu
rumah sebagaimana pasangan suami istri.
f) Cohabitating couple, orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan perkawinan
karena alasan tertentu.
g) Group marriage family, beberapa orang dewasa yang telah merasa saling menikah,
berbagi sesuatu termasuk sex dan membesarkan anak.
h) Group network family, beberapa keluarga inti yang dibatasi oleh norma dan aturan,
hidup berdekatan dan saling menggunakan barang yang sama dan bertanggung jawab
membesarkan anak.
i) Foster family, keluarga yang menerima anak yang tidak ada hubungan saudara untuk
waktu sementara.
j) Homeless family, keluarga yang terbentuk tanpa perlindungan yang permanen karena
keadaan ekonomi atau problem kesehatan mental.
k) Gang, keluarga yang destruktif dari orang-orang muda yang mencari ikatan
emosional, berkembang dalam kekerasan dan criminal.

3. Kesejahteraan Keluarga

Dalam UU Nomor 10 Tahun 1992 memberikan batasan tentang keluarga sejahteraan


yaitu keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah, mampu memenuhi
kebutuhan hidup spiritual dan material yang layak, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
memiliki hubungan yang serasi, selaras, dan seimbang antara anggota antara keluarga dengan
masyarakat dan lingkungan.

Berdasarkan pengertian di atas, selanjutnya di kembangkan indikator yang


mencerminkan tingkat kesejahteraan keluarga di Indonesia. Indikator tersebut sangat

8
bermanfaat untuk memantau kondisi kesejahteraan keluarga di Indonesia dari waktu ke
waktu. Dalam indikator tersebut, tingkat kesejahteraan keluarga dibagi dalam 5 tahapan yaitu
tahap prasejahtera, tahap sejahtera I, tahap sejahtera II, tahap sejahtera III, dan tahap IV
(Menteri Negara Kependudukan/Kepala BKKBN Badan koordinasi Keluarga Berencana
Nasional 1996).

Dengan mengacu pada pembangunan keluarga sejahtera, maka kemiskinan atau


kurang sejahtera digambarkan dengan kondisi sebagai berikut:

a. Keluarga Pra Sejahtera

Keluarga prasejahtera adalah keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan


dasarnya secara minimal, seperti sandang, pangan, papan, kesehatan dan pendidikan. Mereka
digolongkan keluarga miskin atau prasejahtera apabila tidak mampu memenuhi salah satu
indikator berikut:

1. Menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya.

2. Makan minimal dua kali sehari.

3. Pakaian lebih dari satu pasang.

4. Sebagian lantai rumahnya tidak dari tanah; dan

5. Jika sakit dibawa ke sarana kesehatan.

b. Keluarga Sejahtera I

Keluarga sejahtera I adalah keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan fisik
minimum secara minimal namun belum dapat memenuhi kebutuhan sosial dan psikologis
seperti kebutuhan akan pendidikan, interaksi dalam keluarga, interaksi dengan lingkungan
tempat tinggal dan pekerjaan yang menjamin kehidudpan yang layak. Termasuk dalam
keluarga sejahtera I bila tidak mampu memenuhi salah satu indikator berikut:

1. Menjalankan ibadah secara teratur.

2. Minimal seminggu sekali makan daging/telur/ikan.

3. Minimal memiliki baju baru sekali dalam setahun.

9
4. Luas lantai rumah rata-rata 8M per anggota keluarga.

5. Semua anak berusia 5-15 tahun sekolah.

6. Salah satu anggota keluarga memiliki penghasilan tetap.

7. Dalam 3 bulan terakhir tidak sakit dan dapat melaksanakan fungsinya dengan baik.

c. Keluarga Sejahtera II

Keluarga sejahtera II adalah keluarga-keluarga yang dapat memenuhi kebutuhan dasar


kebutuhan psikologis tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan perkembangan (menabung
dan memperoleh informasi). Bila keluarga sudah mampu melaksanakan indikator dari
sejahtera I, Tetapi belum mampu melaksanakan indikator berikut:

8. . Upaya keluarga meningkatkan/menambah pengetahuan agama.


9. . Keluarga mempunyai tabungan.
10. Makan bersama paling kurang sekali sehari.
11. Ikut serta dalam kegiatan masyarakat.
12. Rekreasi bersama/penyegaran paling kurang sekali dalam sebulan.
13. Memperoleh berita dari surat kabar, radio, televisi, majalah.
14. Anggota keluarga mampu menggunakan transportasi.

Keluarga sejahtera tahap III

Yaitu keluarga yang memenuhi syarat 1 sampai 14 dan dapat pula memenuhi syarat
15
sampai 19, syarat pengembangan keluarga, yaitu:

15. Keluarga mempunyai upaya untuk meningkatkan pengetahuan agama. Pengertian


keluarga berupaya meningkatkan pengetahuan agama adalah upaya keluarga untuk
meningkatkan pengetahuan agama mereka masing-masing. Misalnya, mendengarkan
pengajian, mendatangkan guru mengaji atau guru agama bagi anak-anak, sekolah
madrasah bagi anak-anak yang beragama islam atau sekolah minggu bagi anak-anak
yang beragam kriste

10
16. Sebagian penghasilan keluarga ditabung dalam bentuk uang atau barang. Pengertian
sebagian penghasilan keluarga ditabung dalam bentuk uang atau barang adalah
sebagian penghasilan keluarga yang disisihkan untuk ditabung baik berupa uang
maupun barang (sialnya dibelikan hewan ternak, sawah, tanah, barang perhiasan,
rumah sewaan, dan sebagainya.
17. Kebiasaan keluarga makan bersama paling kurang seminggu sekali dimanfaatkan
untuk berkomunikasi. Pengertian kebiasaan keluarga makan bersama adalah
kebiasaan seluruh anggota keluarga untuk makan bersama-sama, sehingga waktu
sebelum atau sesudah makan dapat digunakan untuk komunikasi membahas persoalan
yang dihadapi dalam satu minggu atau untuk berkomunikasi dan bermusyawarah
antar seluruh anggota keluarga.

18. Keluarga ikut dalam kegiatan masyarakat di lingkungan tempat tinggal. Pengertian
keluarga ikut dalam kegiatan masyarakat di lingkungan tempat tinggal adalah
keikutsertaan seluruh atau sebagian dari anggota keluarga dalam kegiatan masyarakat
di sekitarnya yang bersifat sosial kemasyarakatan, seperti gotong royong, ronda
malam, rapat RT, arisan, pengajian, kegiatan PKK, kegiatan kesenian, olah raga, dan
sebagainya.
19. . Keluarga memperoleh informasi dari surat kabar, majalah, radio, TV, internet.
Pengertian keluarga memperoleh informasi dari surat kabar dari surat kabar, majalah,
radio, TV, internet adalah tersedianya kesempatan bagi anggota keluarga untuk
memperoleh akses informasi bagik secara lokal, nasional, regional, maupun
internasional, melalui media cetak (seperti surat kabar, majalah, bulletin) atau media
elektronik (seperti radi, televisi, internet). Media massa tersebut tidak perlu hanya
yang dimiliki atau dibeli sendiri oleh keluarga yang bersangkutan, tetapi dapat juga
yang dipinjamkan atau dimiliki oleh orang/keluarga lain, ataupun yang menjadi milik
umum/milik bersama.

Keluarga tahap III plus

Yaitu keluarga yang dapat memenuhi kriteria 1 sampai 19 dan dapat pula memenuhi
kriteria 20 dan 21 kriteria pengembangan keluarganya, yaitu:

20. Keluarga secara teratur dengan suka rela memberikan sumbangan materiil untuk
kegiatan sosial

11
Pengertian keluarga secara teratur dengn sukarela memberikan sumbangan materiil
untuk kegiatan soisal adalah keluarga yang memiliki rasa social yang besar dengan
memberikan sumbangan materiil secara teratur (waktu tertentu) dan sukarela, baik
daam bentuk uang maupun barang, bagi kepentingan masyarakat (seperti untuk anak
yatim piatu, rumah ibadah, yayasan pendidikan, rumah jompo, untuk membiayai
kegiatan-kegiatan di tingkat RT/RW/dusun, Desa, dan sebagainya) dalam hal ini tidak
termasuk sumbangan wajib.

21. . Ada anggota keluarga yang aktif sebagai pengurus perkumpulan sosial/ yayasan/
institusi masyarakat

Keluarga yang memiliki rasa social yang besar dengan memberikan bantuan tenaga,
pikiran, dan moral secara terus menerus untuk kepentingan sosial kemasyarakatan
dengan menjadi pengurus pada berbagai organisasi/ kepanitiaan (seperti pengurus
pada yayasan, organisasi adat, kesenian, olah raga, keagamaan, kepemudaan, institusi
masyarakat, pengurus RT/RW, LKMD/LMD, dan sebagainya).

Indikator tahapan keluarga sejahtera menurut BKKBN tahun 2010

No. Indikator Tahapan Keluarga Klasifikasi Kriteria Keluarga Sejahtera


Sejahtera
1. Makan dua kali sehari atau lebih Kebutuhan - Keluarga sejahtera I
2. Memiliki pakaian yang berbeda dasar (basic - Jika tidak dapat
3. Rumah yang ditempati mempunyai needs) memenuhi satu atau
atap, lantai, dan dinding yang baik lebih dari 6 indikator
4. Bila ada anggota keluarga yang sakit KS-I maka termasuk
dibawa ke sarana kesehatan ke dalam keluarga
5. PUS ingin ber-KB ke sarana Prasejahtera
pelayanan kontrasepsi
6. Semua anak umur 7-15 tahun dalam
keluarga bersekolah
7. Melaksanakan ibadah agama dan Kebutuhan - Keluarga sejahtera II
kepercayaan masing-masing psikologi - Jika tidak dapat
8. Paling kurang sekali seminggu (Psychological memenuhi satu atau

12
makan makan daging/ikan/telur Needs) lebih dari 8 indikator
9. Memperoleh paling kurang satu stel KS-II maka termasuk
pakaian baru dalam setahun ke dalam keluarga
10. Luas lantai rumah paling kurang 8m2 sejahtera I
untuk setiap penghuni rumah
11. Tiga bulan terakhir keluarga dalam
keadaan sehat
12. Ada anggota keluarga yang bekerja
untuk memeroleh penghasilan
13. Seluruh anggota keluarga umur 10-
60 tahun bisa baca tulisan latin
14. PUS dengan anak 2 atau lebih
menggunakan alat kontrasepsi
15. Keluarga berupaya meningkatkan Kebutuhan - Keluarga sejahtera III
pengetahuan agama pengembangan - Jika tidak dapat
16. Sebagian penghasilan keluarga (development memenuhi satu atau
ditabung dalam bentuk uang maupun needs) lebih dari 5 indikator
barang *) KS-III maka
17. Makan bersama paling kurang sekali termasuk ke dalam
seminggu untuk berkomunikasi keluarga sejahtera II
18. Mengikuti kegiatan masyarakat
19. Memperoleh informasi dari surat
kabar, radio, TV, majalah
20. Memberikan sumbangan materil Kebutuhan - Keluarga sejahtera III
secara teratur aktualisasi diri plus
21. Aktif sebagai pengurus organisasi (self esteem) - Jika tidak dapat
kemasyarakatan memenuhi satu atau
lebih dari 2 indikator
KS-III plus maka
termasuk ke dalam
KS-III

4. CIRI-CIRI KELUARGA

13
a) Keluarga merupakan hubungan perkawinan.
b) Keluarga berbentuk suatu kelembagaa yang berkaitan dengan hubungan perkawinan
yang disengaja dibentuk atau dipelihara.
c) Keluarga mempunyai system, tata nama (nomenclatur) termasuk perhitungan garis
keturunan.
d) Keluarga mempunyai fungsi ekonomi yang dibentuk oleh anggota-anggotanya
berkaitan dengan kemampuan untuk mempunyai keturunan dan membesarkan anak.
e) Keluarga merupakan tempat tinggal keluarga, rumah atau rumah tangga.

Ciri-ciri keluarga Indonesia diantara nya yaitu : Mempunyai ikatan yang sangat erat
dengan dengan dilandasi semangat gotong royong, dijiwai oleh nilai kebudayaan ketimuran,
Umumnya dipimpin oleh suami meskipun proses pemutusan dilakukan secara musyawarah.
(Setiadi. 2008)

5. FUNGSI POKOK KELUARGA

Fungsi-fungsi pokok dari keluarga yaitu :

1) Fungsi afektif. Adalah fungsi keluarga yang utama untuk mengarjakan segala sesuatu
untuk mempersiapkan anggota keluarga berhubungan dengan orang lain.
2) Fungsi sosialisasi. Adalah fungsi mengembangkan dan tempat melatih anak untuk
berkehidupan social.
3) Fungsi reproduksi. Adalah fungsi untuk mempertahankan generasi dan menjaga
kelangsungan keluarga.
4) Fungsi ekonomi. Keluarga berfungsi memenuhi kebutuhan keluarga secara ekonomi
5) Fungsi perawatan atau pemeliharaan kesehatan. Yaitu fungsi untuk mempertahankan
keadaan kesehatan keluarga agar tetap memiliki produktivitas tinggi.(Friedman,
1998).

Menurut UU no.10 tahun 1992 PP no.21 tahun 1994 secara umum fungsi keluarga adalah
sebagai berikut:

1) Fungsi keagamaan Membina norma ajaran agama sebagai dasar dan tujuan hidup
seluruh anggota keluarga.

14
2) Fungsi Budaya Membina tugas- tugas keluarga sebagai lembaga untuk meneruskan
norma- norma dan budaya masyarakat dan bangsa yang ingin dipertahankan.
3) Fungsi cinta kasih Menumbuhkembangkan potensi kasih sayang yang telah ada antar
anggota keluarga kedalam symbol- symbol nyata secara optimal dan terus menerus.
4) Fungsi perlindungan Memenuhi rasa aman anggota keluarga baik dari rasa tidak aman
yang timbul dari dalam maupun dari dalam keluarga.
5) Fungsu reproduksi Membina hubungan keluarga sebagai wahana pendidikan
reproduksi sehat baik bagi nggota keluarga maupun bagi keluarga sekitarnya.
6) Fungsi sosialisasi Menyadari, merencanakan dan menciptakkan lingkungan keluarga
sebagai wahana pendidikan dan sosialisasi anak pertama dan utama.
7) Fungsi ekonomi Melakukan kegiatan ekonomi baik diluar maupun didalam
lingkungan keluarga dalam rangka menopang kelangsungan dan perkembangan
kehidupan keluarga.
8) Fungsi pelestarian lingkungan Membina kesadaran, sikap dan praktek pelestarian
lingkungan intern keluarga.

4. PERAN KELUARGA

Peran adalah sesuatu yang diharapkan secara normatif dari seseorang dalam situasi
tertentu agar dapat memenuhi harapan-harapan. Peranan keluarga menggambarkan
seperangkat perilaku interpersonal, sifat, kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam
posisi dan situasi tertentu. Setiap anggota keluarga mempunyai peranan masing- masing,
antara lain:

1) Ayah Sebagai pemempin keluarga mempunyai peran sebagai pencari nafkah, pendidk,
pelindung, pemberi rasa aman bagi setiap anggota keluarga dan juga sebagai anggota
masyarakat kelompok sosial.
2) Ibu Sebagai pengurus rumah tangga, pengasuh dan pendidik anak- anak, pelindung
kelurga dan juga sebagai pencari nafkah tambahan keluarga dan juga sebagai anggota
masyarakat kelompok sosial.
3) Anak Berperan sebagai peilaku psikososial sesuai dengan perkembangan fisik,
mental, sosial dan spiritual.

5. Pemegang Kekuasaan Dalam Keluarga

15
Pemegang Kekuasaan dalam Keluarga Pemegang kekuasaan keluarga menurut (Effendi,
1998):

a. Patrikal, yang dominan memegang kekuasaan dalam keluarga adalah pihak ayah.
b. Matrikal, yang dominan memegang kekuasaan dalah keluarga adalah pihak ibu.
c. Equalitarian, yang dominan memegang kekuasaan dalam keluarga adalah pihak ayah
dan ibu.

6. Hubungan Antara Masalah Kesehatan Dengan Keluarga Dan Anggotanya


a. Keluarga sebagai unit pelayanan Freeman mengemukakan beberapa alasan sebagai
berikut :

Keluarga adalah unit utama dari masyarakat dan merupakan lembaga yang menyangkut
kehidupan masyarakat. Dalam masyarakat dimana hubungan yang erat antara anggota
keluarga dengan keluarga besar (extended family) sangat menonjol, maka keluarga sebagai
lembaga perlu diperhitungkan.

Keluarga sebagai suatu kelompok dapat menimbulkan, mencegah, mengabaikan atau


memperbaiki masalah-masalah kesehatan dalam kelompoknya sendiri. Hampir setiap
masalah kesehatan mulai dari awal sampai pada penyelesaiannya akan dipengaruhi oleh
keluarga. Keluarga mempunyai peran utama dalam memelihara kesehatan seluruh anggota
keluarga dan bukan individu sendiri yang mengusahakan tercapainya tingkat kesehatan yang
diinginkan.

Masalah kesehatan dalam keluarga saling berkaitan, penyakit pada salah satu anggota
keluarga akan mempengaruhi seluruh anggota keluarga tersebut. Peranan dari anggota
keluarga akan mengalami perubahan bila salah satu dari anggota keluarga menderita sakit. Di
lain pihak status kesehatan dari pasien juga sebagian akan ditentukan oleh kondisi
keluarganya. Dalam memelihara individu, keluarga tetap berperan sebagai pengambil
keputusan dalam memelihara anggota keluarga yang sakit. Hal ini terlihat nyata pada
keluarga inti yang mengambil keputusan tetapi juga anggota keluarga yang jauh (extended
family).

Keluarga merupakan perantara yang efektif, yang mudah untuk berbagai usaha-usaha
kesehatan masyarakat.Perawat dapat menjangkau masyarakat hanya melalui keluarga,
kesehatan masyarakat dapat ditingkatkan terutama melalui peningkatan kesehatan keluarga.

16
b. Kemampuan keluarga dalam pemeliharaan kesehatan Menurut Freeman, yang dimaksud
dengan kemampuan keluarga dalam pemeliharaan kesehatan keluarga sendiri adalah :
Mengenal masalah kesehatan setiap anggota keluarga Perubahan sekecil apapun yang
dialami anggota keluarga secara tidak langsung menjadi perhatian dan tanggung
jawab keluarga, oleh karena itu perlu mencatat dan memperhatikan segala perubahan
yang terjadi dalam keluarga.
Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat bagi keluarga. Tugas ini
merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari pertolongan yang tepat sesuai
dengan keadaan keluarga, dengan pertimbangan siapa diantara keluarga yang
mempunyai kemampuan memutuskan untuk menentukan tindakan keluarga.
Memberikan perawatan kepada anggota keluaraganya yang sakit atau yang tidak
dapat membantu dirinya sendiri. Tugas ini dapat dilakukan di rumah apabila keluarga
memiliki kemampuan untuk melakukan tindakan pertolongan pertama agar masalah
yng lebih parah tidak terjadi.
Mempertahankan suasana di rumah yang menguntungkan kesehatan dan
perkembangan kepribadian anggota keluarga.
Mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan lembaga kesehatan
dengan memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada. Keluarga yang
sanggup melaksanakan tugas kesehatan seperti tersebut di atas dapat dapat mengatasi
dengan baik masalah kesehatannya, sehingga keluarga yang demikian hanya
memerlukan pengawasan dan bimbingan seperlunya dari petugas kesehatan.
7. Tahap Interaksi Sehat - Sakit Keluarga
1) Upaya keluarga terkait promosi kesehatan: Keluarga memegang peranan yang penting
dalam berbagai bentuk upaya promosi kesehatan di dalam keluarga. Ada banyak
bentuk bentuk peningkatan kesehatan, pencegahan dan pengurangan resiko : Sekitar
masalah pola hidup berhenti merokok, olah raga, imunisasi dan lain-lain. Agar strategi
sehat dapat berhasil; menunut perbaikan pola hidup seluruh anggota keluarga .
Anggota keluarga perlu mempelajari status kesehatan mereka dan citra tubuh seperti
apakah tubuh mereka lemah, sakit-sakitan atau sehat. Anggota keluarga yang dapat
menunjukkan perilaku hidup sehat akan menjadi contoh yang sangat ampuh bagi
anggota keluarga yang lain.
2) Respon keluarga terhadap gejala-gejala. Tahapan ini dimulai: mengenal,
menginterprestasikan bahaya yang timbul, menujukkan kepeduliaan terhadap masalah

17
yang timbul. Keluarga meyakini gejalagejala penyakit yang timbul dan mencari jalan
penyelesaiannya. Tahap ini terdiri dari: kepercayaan yang menyangkut gejala atau
penyakit dari anggota keluarga, bagaimana menangani penyakit tersebut.
3) Mencari tempat pelayanan. Mulai ketika keluarga menyertakan adanya anggota
keluarga yang mengalami masalah kesehatan. Orang yang sakit dan keluarga mulai
mencari informasi, bantuan sesuai dgn keyakinan mereka baik kepada tenaga
profesional, maupun tenaga yg mereka yakini dapat membantu. Keputusan apakah
ditangani di rumah, di klinik atau RS cenderung dirundingkan di keluarga.
4) Merujuk dan mendapatkan pelayanan. Adanya kontak keluarga dengan pelayanan
kesehatan. Keluarga menentukan kepada siapa mereka akan berkonsultasi dan
mendapatkan pelayanan.
5) Respon segera keluarga terhadap penyakit. Keluarga menerima peran sakitnya?
Ditandai dengan: Ketergantungan terhadap tenaga kesehatan, Keinginan untuk
mentaati nasehat medik, Berusaha keras untuk sembuh. Tahap respon akut
penyesuaian yang harus segera dibuat. Penyakit serius/mengancam jiwa krisis
keluarga dapat terjadi respon kekuatan stresor.
6) Tahap penyesuaian/penyembuhan sakit, Penyakit serius dan kronis dari seorang
anggota keluarga mempengaruhi secara mendalam pada sistem keluarga, khususnya
struktur peran dan pelaksanaan fungsi keluarga. Keseriusan ketidakmampuan
Sentralitas klien dalam unit keluarga. Keluarga mempunyai peran yang bersifat
mendukung selama masa penyembuhan dan pemulihan. Keberadaan dukungan sosial
keluarga yang adekuat terbukti berhubungan dengan menurunnya mortalitas, lebih
mudah sembuh dari sakit, fungsi kognitif, fisik dan kesehatan emosi. Disamping itu,
pengaruh positif dari dukungan sosial keluarga adalah kemampuan penyesuaian
terhadap permasalahan - permasalahan dalam kehidupan yang penuh dengan stress.

8. Mengidentifikasi struktur organisasi sesuai dengan tingkatan dan hubungan


kekeluargaan

Tipe-tipe Organisasi Secara garis besar organisasi dapat dibedakan menjadi dua macam,
yaitu organisasi formal dan organisasi informal. Pembagian tersebut tergantung pada tingkat
atau derajat mereka terstruktur. Namun dalam kenyataannya tidak ada sebuah organisasi
formal maupun informal yang sempurna. Organisasi formal/ Resmi adalah organisasi yang

18
dibentuk oleh sekumpulan orang/masyarakat yang memiliki suatu struktur yang terumuskan
dengan baik, yang menerangkan hubungan-hubungan otoritasnya, kekuasaan, akuntabilitas
dan tanggung jawabnya, serta memilki kekuatan hukum. Struktur yang ada juga menerangkan
bagaimana bentuk saluran-saluran melalui apa komunikasi berlangsung.

Kemudian menunjukkan tugas-tugas terspesifikasi bagi masing-masing anggotanya.


Hierarki sasaran organisasi formal dinyatakan secara eksplisit. Status, prestise, imbalan,
pangkat dan jabatan, serta prasarat lainya terurutkan dengan baik dan terkendali. Selain itu
organisasi formal tahan lama dan mereka terencana dan mengingat bahwa ditekankan mereka
beraturan, maka mereka relatif bersifat tidak fleksibel. Contoh organisasi formal dalah
perusahaan besar, badan-badan pemerintah, dan universitas-universitas (J Winardi, 2003:9).
Organisasi informal/ keanggotaan pada organisasi-organisasi informal dapat dicapai baik
secara sadar maupun tidak sadar, dan kerap kali sulit untuk menentukan waktu eksak
seseorang menjadi anggota organisasi tersebut. Sifat eksak hubungan antar anggota dan
bahkan tujuan organisasi yang bersangkutan tidak terspesifikasi. Contoh organisasi informal
adalah pertemuan tidak resmi seperti makan malam bersama. Organisasi informal dapat
dialihkan menjadi organisasi formal apabila hubungan didalamnya dan kegiatan yang
dilakukan terstruktur dan terumuskan. Selain itu, organisasi juga dibedakan menjadi
organisasi primer dan organisasi sekunder menurut Hicks: Organisasi Primer, organisasi
semacam ini menuntut keterlibatan secara lengkap, pribadi dan emosional anggotanya.
Mereka berlandaskan ekspektasi rimbal balik dan bukan pada kewajiban yang dirumuskan
dengan eksak. Contoh dari organisasi semacam ini adalah keluarga-keluarga tertentu.
Organisasi Sekunder, organisasi sekunder memuat hubungan yang bersifat intelektual,
rasional, dan kontraktual. Organisasi seperti ini tidak bertujuan memberikan kepuasan
batiniyah, tapi mereka memiliki anggota karena dapat menyediakan alat-alat berupa gaji
ataupun imbalan kepada anggotanya. Sebagai contoh organisasi ini adalah kontrak kerjasama
antara majikan dengan calon karyawannya dimana harus saling setuju mengenai seberapa
besar pembayaran gajinya. Struktur Organisasi Struktur adalah cara sesuatu disusun atau
dibangun. Organisasi adalah suatu wadah berkumpulnya minimal dua orang untuk mencapai
sebuah tujuan.Struktur Organisasi adalah suatu susunan dan hubungan antara tiap bagian
secara posisi yang ada pada perusahaaan dalam menjalin kegiatan operasional untuk
mencapai tujuan.Struktur organisasi adalah bagaimana pekerjaan dibagi, dikelompokkan, dan
dikoordinasikan secara formal. Elemen struktur organisasi Ada enam elemen kunci yang
perlu diperhatikan hendak mendesain struktur, antara lain:

19
1) Spesialisasi pekerjaan. Sejauh mana tugas-tugas dalam organisasi dibagi-bagi ke dalam
beberapa pekerjaan tersendiri.
2) Departementalisasi. Dasar yang dipakai untuk mengelompokkan pekerjaan secara
bersama-sama. Departementalisasi dapat berupa proses, produk, geografi, dan pelanggan.
3) Rantai komando. Garis wewenang yang tanpa putus yang membentang dari puncak
organisasi ke eselon paling bawah dan menjelaskan siapa bertanggung jawab kepada
siapa.
4) Rentang kendali. Jumlah bawahan yang dapat diarahkan oleh seorang manajer secara
efisien dan efektif.
5) Sentralisasi dan Desentralisasi. Sentralisasi mengacu pada sejauh mana tingkat
pengambilan keputusan terkonsentrasi pada satu titik di dalam organisasi.Desentralisasi
adalah lawan dari sentralisasi.
6) Formalisasi. Sejauh mana pekerjaan-pekerjaan di dalam organisasi.
Macam- Macam Struktur Organisasi:
a. Struktur sederhana, adalah sebuah struktur yang dicirikan dengan kadar
departementalisasi yang rendah, rentang kendali yang luas, wewenang yang terpusat
pada seseorang saja, dan sedikit formalisasi. Struktur sederhana paling banyak
dipraktikkan dalam usaha-usaha kecil di mana manajer dan pemilik adalah orang yang
satu dan sama.
Kekuatan dari struktur ini adalah kesederhanaannya yang tercermin dalam
kecepatan, kefleksibelan, ketidakmahalan dalam pengelolaan, dan kejelasan
akuntabilitas. Satu kelemahan utamanya adalah struktur ini sulit untuk dijalankan
di mana pun selain di organisasi kecil karena struktur sederhana menjadi tidak
memadai tatkala sebuah organisasi berkembang karena formalisasinya yang
rendah dan sentralisasinya yang tinggi cenderung menciptakan kelebihan beban
(overload) di puncak.
b. Birokrasi Birokrasi adalah sebuah struktur dengan tugas-tugas operasi yang sangat
rutin yang dicapai melalui spesialisasi, aturan dan ketentuan yang sangat formal,
tugas-tugas yang dikelompokkan ke dalam berbagai departemen fungsional,
wewenang terpusat, rentang kendali yang sempit, dan pengambilan keputusan yang
mengikuti rantai komando. Kekuatan utama birokrasi ada kemampuannya
menjalankan kegiatan-kegiatan yang terstandar secara sangat efisien, sedangkan
kelemahannya adalah dengan spesialisasi yang diciptakan bisa menimbulkan konflik-
konflik subunit, karena tujuan-tujuan unit fungsional dapat mengalahkan tujuan
20
keseluruhan organisasi.Kelemahan besar lainnnya adalah ketika ada kasus yang tidak
sesuai sedikit saja dengan aturan, tidak ada ruang untuk modifikasi karena birokrasi
hanya efisien sepanjang karyawan menghadapi masalah yang sebelumnya telah
mereka hadapi dan sudah ada aturan keputusan terprogram yang mapan.
c. Struktur matriks Struktur matriks adalah sebuah struktur yang menciptakan garis
wewenang ganda dan menggabungkan departementalisasi fungsional dan produk.
Struktur matriks dapat ditemukan di agen-agen periklanan, perusahaan pesawat
terbang, laboratorium penelitian dan pengembangan, perusahaan konstruksi, rumah
sakit, lembaga-lembaga pemerintah, universitas, perusahaan konsultan manajemen,
dan perusahaan hiburan. Pada hakikatnya, struktur matriks menggabungkan dua
bentuk departementalisasi: fungsional dan produk Kekuatan departementalisasi
fungsional terletak, misalnya, pada penyatuan para spesialis, yang meminimalkan
jumlah yang diperlukan sembari memungkinkan pengumpulan dan pembagian sumber
daya khusus untuk keseluruhan produk. Kelemahan terbesarnya adalah sulitnya
mengoordinasi tugas para spesialis fungsional yang beragam agar kegiatan mereka
rampung tepat waktu dan sesuai anggaran. Departementalisasi produk, di lain pihak,
memiliki keuntungan dan kerugian yang berlawanan. Departementalisasi ini
memudahkan koordinasi di antara para spesialis untuk menyelesaikan tugas tepat
waktu dan memenuhi target anggaran. Lebih jauh, departementalisasi ini memberikan
tanggung jawab yang jelas atas semua kegiatan yang terkait dengan sebuah produk,
tetapi dengan duplikasi biaya dan kegiatan. Matriks berupaya menarik kekuatan
tersebut sembari menghindarkan kelemahan-kelemahan mereka. Karakteristik
struktural paling nyata dari matriks adalah bahwa ia mematahkan konsep kesatuan
komando sehingga karyawan dalam struktur matriks memiliki dua atasan -manajer
departemen fungsional dan manajer produk.Karena itulah matriks memiliki rantai
komando ganda. Desain Struktur Organisasi Modern
Struktur tim Struktur tim adalah pemanfaatan tim sebagai perangkat sentral untuk
mengoordinasikan kegiatan-kegiatan kerja. Karakteristik utama struktur tim
adalah bahwa struktr ini meniadakan kendala-kendala departemental dan
mendesentralisasi pengambilan keputusan ke tingkat tim kerja. Struktur tim juga
mendorong karyawan untuk menjadi generalis sekaligus spesialis.
Organisasi virtual Organisasi virtual adalah organisasi inti kecil yang
menyubkontrakkan fungsi-fungsi utama bisnis secara detail.

21
Organisasi Nirbatas Organisasi nirbatas adalah sebuah organisasi yang berusaha
menghapuskan rantai komando, memiliki rentang kendali tak terbatas, dan
mengganti departemen dengan tim yang diberdayakan.

Model desain struktur organisasi Ada empat model ekstrem dari desain organisasi:

1) Model mekanistis, yaitu sebuah struktur yang dicirikan oleh departementalisasi


yang luas, formalisasi yang tinggi, jaringan informasi yang terbatas, dan
sentralisasi.
2) Model organik, yaitu sebuah struktur yang rata, menggunakan tim lintas hierarki
dan lintas fungsi, memiliki formalisasi yang rendah, memiliki jaringan informasi
yang komprehensif, dan mengandalkan pengambilan keputusan secara partisipatif.
3) Model Piramid, model ini di buat persis sebuah piramida.
4) Model Horizontal, Model ini dibuat dengan manarik garis lurus secara horizontal
dengan pembagian funsional masing-masing bersama tugasnya masing-masing
Menurut pola hubungan kerja, lalu lintas wewenang dan tanggung jawab, maka
bentuk organisasi dapat dibedakan sebagai berikut:
A. Bentuk Organisasi Garis. Bentuk ini merupakan bentuk organisasi paling tua dan paling
sederhana. Bentuk organisasi diciptakan oleh Henry Fayol. Biasa juga disebut dengan
organisasi militer dimana cirinya adalah struktur organisasi ini relatif kecil, jumlah
karyawan yang relatif sedikit, saling kenal, dan spesialisai kerja yang belum begitu
rumit dan tinggi.

Kebaikannya:
Kesatuan komado terjamin baik karena pimpinan berada pada satu tangan.
Proses pengambilan keputusan berjalan dengan cepat karena jumlah orang yang
diajak berkonsultasi masih sedikit.
Rasa solidaritas dianatara karyawan umumnya tinggi karena saling mengenal.
Keburukannya:
Seluruh organisasi tergantung pada satu pimpinan (satu orang) dimana bila
pimpinan tersebut berhalangan maka organisasi tersebut akan mandek atau hancur.
Ada kecenderungan pimpinan bertindak secara otokratis.
Kesempatan karyawan untuk berkembang terbatas.
B. Bentuk Organisasi Fungsional Bentuk ini merupakan bentuk dimana sebagian atau
segelintir pimpinan tidak mempunyai bawahan yang jelas karena setiap pimpinan
22
berwenang memberikan komando pada bawahannya. Bentuk ini dikembangkan oleh
FW Taylor.
Kebaikannya:
Pembidangan tugas-tugas jelas.
Spesialisasi karyawan dapat dikembangkan dan digunakan semaksimal mungkin.
Digunakannya tenga-tenaga ahli dalam berbagai bidang sesuai dengan fungsinya.
Keburukannya:
adanya spesialisasi kerja maka akan sulit untuk mengadakan tour of duty.
Karyawan lebih mementingkan bidangnya sehingga sukar untuk melaksanakan
koordinasi.
C. Bentuk Organisasi Garis dan Staff Bentuk ini umumnya dianut oleh organisasi besar,
daerah kerja yang luas, mempunyai bidang tugas yang beraneka dan rumit serta
jumlah karyawan yang banyak.Bentuk ini diciptakan oleh Harrington Emerson.
Kebaikannya:
Dapat digunakan pada setiap organisasi yang besar, apapun tujuannya, luas
organisasinya, dan kompleksitas susunan organisasinya.
Pengambilan keputusan lebih mudah karena adanya dukungan dari staf ahli.
Perwujudan the right man in the right place lebih mudah terlaksana.
Keburukannya:
Sesama karyawan dapat terjadi tidak saling mengenal, solidaritas sulit terbangun
Karena susunan organisasinya yang koompleksitas, maka kesulitannya adalah
dalam bidang koordinasi antar divisi atau departemen.
D. Bentuk Organisasi Fungsional dan Staff Bentuk ini merupakan kombinasi dari bentuk
organisasi fungsional dan bentuk organisasi garis dan staff. Adapun kebaikan dan
keburukan dari bentuk organisasi ini adalah juga merupakan kombinasi dari bentuk
diatas.

B. STAKE HOLDER
1. Pengertian stakeholder
Pemangku kepentingan adalah terjemahan dari kata stakeholder dapat diartikan sebagai
segenap pihak yang terkait dengan isu dan permasalahan yang sedang diangkat. Istilah
stakeholder sudah sangat fenomenal. Kata ini telah dipakai oleh banyak pihak dan
hubungannnya dengan berbagi ilmu atau konteks, misalnya manajemen bisnis, ilmu

23
komunikasi, pengelolaan sumberdaya alam, sosiologi, dan lain-lain. Lembaga-lembaga
publik telah menggunakan istilah stakeholder ini secara luas ke dalam proses-proses
pengambilan dan implementasi keputusan. Secara sederhana, stakeholder sering dinyatakan
sebagai para pihak, lintas pelaku, atau pihak-pihak yang terkait dengan suatu issu atau suatu
rencana.
Dalam buku Cultivating Peace: Conflict and Collaboration in Natural Resources
Management, Ramirez mengidentifikasi berbagai pendapat mengenai stakekholder ini.
Beberapa defenisi yang penting dikemukakan seperti Freeman (1984) yang mendefenisikan
stakeholder sebagai kelompok atau individu yang dapat memengaruhi dan atau dipengaruhi
oleh suatu pencapaian tujuan tertentu.
Sedangkan Biset (1998) secara singkat mendefenisikan stekeholder merupakan orang
dengan suatu kepentingan atau perhatian pada permasalahan.Stakeholder ini sering
diidentifikasi dengan suatu dasar tertentu sebagimana dikemukakan. Freeman (1984), yaitu
dari segi kekuatan dan kepentingan relatif stakeholder terhadap issu.
Grimble and Wellard (1996), dari segi posisi penting dan pengaruh yang dimiliki mereka.
Menurut ISO 26000 SR, stakeholder didefenisikan Individu atau kelompok yang memiliki
kepentingan terhadap keputusan serta aktivitas organisasi sedangkan menurut standard
pengelolaan stakeholder AA1000 SES, defenisinya adalah Kelompok yang dapat
mempengaruhi dan/atau terpengaruh oleh aktivitas, produk atau layanan, serta kinerja
organisasi.

Pandangan-pandangan di atas menunjukkan bahwa pengenalan stakeholder tidak sekadar


menjawab pertanyaan siapa stekholder suatu issu tetapi juga sifat hubungan stakeholder
dengan issu, sikap, pandangan, dan pengaruh stakeholder itu. Aspek-aspek ini sangat penting
dianalisis untuk mengenal stakeholder.

2. Jenis stake holder yang ada di komunitas dan fungsi masing-masing

Berdasarkan kekuatan, posisi penting, dan pengaruh stakeholder terhadap suatu issu
stakeholder dapat diketegorikan kedalam beberapa kelompok ODA (1995) mengelompkkan
stakeholder ke dalam yaitu stakeholder primer, sekunder dan stakeholder kunci. Sebagai
gambaran pengelompokan tersebut pada berbagai kebijakan, program, dan proyek pemerintah
(publik) dapat kemukakan kelompok stakeholder seperti berikut :

Stakeholder Utama (primer)

24
Stakeholder utama merupakan stakeholder yang memiliki kaitan kepentingan secara
langsung dengan suatu kebijakan, program, dan proyek. Mereka harus ditempatkan sebagai
penentu utama dalam proses pengambilan keputusan.

1. Masyarakat dan tokoh masyarakat : Masyarakat yang terkait dengan proyek, yakni
masyarakat yang di identifkasi akan memperoleh manfaat dan yang akan terkena
dampak (kehilangan tanah dan kemungkinan kehilangan mata pencaharian) dari
proyek ini. Tokoh masyarakat : Anggota masyarakat yang oleh masyarakat
ditokohkan di wilayah itu sekaligus dianggap dapat menjadi aspirasi masyarakat

2. Pihak Manajer publik : lembaga/badan publik yang bertanggung jawab dalam


pengambilan dan implementasi suatu keputusan.

Stakeholder Pendukung (sekunder)

Stakeholder pendukung (sekunder) adalah stakeholder yang tidak memiliki kaitan


kepentingan secara langsung terhadap suatu kebijakan, program, dan proyek, tetapi memiliki
kepedulian (consern) dan keprihatinan sehingga mereka turut bersuara dan berpengaruh
terhadap sikap masyarakat dan keputusan legal pemerintah.

1. Lembaga(Aparat) pemerintah dalam suatu wilayah tetapi tidak memiliki tanggung


jawab langsung.

2. Lembaga pemerintah yang terkait dengan issu tetapi tidak memiliki kewenangan
secara langsung dalam pengambilan keputusan.

3. Lembaga swadaya Masyarakat (LSM) setempat : LSM yang bergerak di bidang yang
bersesuai dengan rencana, manfaat, dampak yang muncul yang memiliki concern
(termasuk organisasi massa yang terkait).

4. Perguruan Tinggi: Kelompok akademisi ini memiliki pengaruh penting dalam


pengambilan keputusan pemerintah.

5. Pengusaha (Badan usaha) yang terkait.

Stakeholder Kunci

Stakeholder kunci merupakan stakeholder yang memiliki kewenangan secara legal dalam
hal pengambilan keputusan.Stakeholder kunci yang dimaksud adalah unsur eksekutif sesuai

25
levelnya, legisltif, dan instansi. Misalnya, stekholder kunci untuk suatu keputusan untuk
suatu proyek level daerah kabupaten.

1. Pemerintah Kabupaten

2. DPR Kabupaten

3. Dinas yang membawahi langsung proyek yang bersangkutan

Jenis stakeholder dalam kesehatan adalah :

1. Stakeholder aktif adalah stakeholder kunci, karena mempunyai wewenang resmi.


Contoh stake holder aktif adalah Kementrian Kesehatan, Dinas Kesehatan,
Kementrian pendidikan, Dinas Pendidikan dll.
2. Stakeholder pasif adalah stakeholder pendukung, karena sebagai kelompok target dari
implementasi sistem kesehatan. Contoh stakeholder pasif adalah masyarakat publik
dan swasta.

3. Mengidentifikasi stake holder yang ada pada tingkatan di komunitas

Dalam kondisi apapun perusahaan/organisasi, menjalin komunikasi dengan para


stakeholder memegang peranan yang sangat penting. Kesalahan dalam mengelola komunikasi
dengan mereka akan berakibat buruk pada perusahaan/organisasi. Demikian juga jika suatu
krisis terjadi pada suatu perusahaan/organisasi. Apalagi dengan terbukanya informasi melalui
berbagai media mainstream maupun new media, memungkinkan stakeholder dengan cepat
memperoleh informasi. Jika komunikasi tidak dikelola dengan baik, para stakeholder yang
terkena dampak sangat mungkin bereaksi cepat sebagai hasil dari apa yang terjadi.
Pengertian stakeholder menurut Estaswara (2010:2), adalah sebagai berikut ; Individu atau
organisasi baik profit maupun non profit yang memiliki kepentingan dengan perusahaan
sehingga dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh pencapaian tujuan perusahaan.
Clarkson membagi stakeholder menjadi dua yaitu stakeholder primer dan stakeholder
sekunder;

a) Stakeholder primer Adalah pihak di mana tanpa partisipasinya yang berkelanjutan


organisasi tidak dapat bertahan. Contohnya adalah pemegang saham, investor, pekerja,
pelanggan, dan pemasok. Menurut Clarkson, suatu perusahaan atau organisasi dapat

26
didefinisikan sebagai suatu sistem Stakeholder primer yang merupakan rangkaian
kompleks hubungan antara kelompok-kelompok kepentingan yang mempunyai hak,
tujuan, harapan, dan tanggung jawab yang berbeda.
b) Stakeholder sekunder Didefinisikan sebagai pihak yang mempengaruhi atau dipengaruhi
oleh perusahaan, tapi mereka tidak terlibat dalam transaksi dengan perusahaan dan tidak
begitu penting untuk kelangsungan hidup perusahaan. Contohnya adalah media,
konsumen, dan berbagai kelompok kepentingan tertentu. Perusahaan tidak bergantung
pada kelompok ini untuk kelangsungan hidupnya, tapi mereka bisa mempengaruhi kinerja
perusahaan dengan mengganggu kelancaran bisnis perusahaan.

Pendapat yang lain menyatakan bahwa stakeholder terbagai dalam stakeholder internal
eksternal; Stakeholder Internal yang utama adalah: Pemegang saham, Manajemen dan top
executive, Karyawan, Keluarga karyawan. Stakeholder eksternal yang utama adalah:
Konsumen, Penyalur, Pemasok, Bank, Pemerintah, Pesaing, Komunitas, Pers. Pentingnya
menerapkan stakeholder management dalam bisnis adalah sebagai alat pendukung organisasi
untuk mencapai tujuan bisnis dengan mengintepretasikan dan mempengaruhi pihak
lingkungan internal dan eksternal, dengan menciptakan hubungan yang kuat antar stakeholder
sesuai dengan objective dan ekspektasi yang disetujui oleh masing-masing stakeholder.
Stakeholder management adalah suatu proses dan kontrol yang harus direncanakan dan
menggunakan prinsip yang mendasar, hal ini bertujuan untuk mendapatkan tingkat komitmen
dari para stakeholder yang akan mendukung tercapainya tujuan proyek atau bisnis. Berikut
ini adalah proses yang dilalui dalam melakukan menyiapkan informasi strategi pada
stakeholder management :

a) Stakeholder identification Mengidenfikasi stakeholder, baik internal maupuan eksternal


organisasi yang berkaitan dengan proyek/bisnis. Dalam ini, mapping sangat diperlukan
untuk mengetahui mana-mana saja yang merupakan stakeholder bagi proyek/bisnis.
b) Stakeholder analysis Melakukan analisa terhadap kebutuhan, ekspektasi, otoritas yang
dimiliki, serta komitmen dari para masing-masing stakeholder.
c) Stakeholder matrix Memposisikan stakeholder ke bentuk matric untuk mengetahui tingkat
pengaruh yang dimilikinya dan akibat yang didapat jika ekspetasi stakeholder tersebut
tidak terpenuhi. Jika tingkat interest semakin tinggi maka stakeholder tersebut harus
selalu diberi informasi tentang proyek yang berjalan dan jika tingkat pengaruhnya sangat
tinggi perlu dipenuhi ekspektasi yang diharapkan stakeholder.

27
d) Stakeholder engagement Didalam engagement komunikasi dari ekspektasi yang
diharapkan didiskusikan secara bersama dan membuat suatu nilai kesepatakan yang akan
disetujui bersama.
e) Mengkomunikasikan informasi Disini komunikasi dibentuk antar stakholder tentang
ekspektasi masing-masing stakeholder yang mana merupakan tingkat detil dari informasi
hasil diskusi dari stakeholder engagement. Selain itu, masalah keamanan informasi dan
klasifikasi confidentiality nya juga dibuat untuk keperluan pengamanan informasi. Dari
kelima proses diatas maka akan dibuat yang namanya stakeholder agreement. Disini
merupakan persetujuan dari komitmen, nilai-nilai yang ditetapkan dalam stakeholder
engagement, serta tujuan dari organisasi. Dengan kata lain stakeholder agreement
merupakan kumpulan dari hasil keputusan ekspektasi stakeholder terhadap organisas atau
proyek. Manajemen stakeholder merupakan salah satu disiplin pengetahuan penting bagi
para pelaku bisnis dan orang-orang sukses yang digunakan untuk memenangkan
dukungan terhadap orang lain. Melalui pelibatan secara tepat individu atau organisasi
yang memiliki perhatian, kepentingan, pengaruh dan kekuatan untuk merubah akan
membantu kita membangun keberhasilan dalam setiap bisnis, proyek atau karir kita.
Tema tentang manajemen stakeholder menjadi alat bantu penting untuk membantu kita
mengidentifikasi, memetakan dan memformulasikan keterlibatan mereka secara optimal
dalam tujuan kita. Disamping itu memastikan bahwa proyek yang kita kelola dapat
berhasil pada saat orang lain gagal.
f) Stakeholder Based Approach (Panduan Analisis Berbasis Stakeholder) Ketika kita lebih
sukses dalam pekerjaan dan karir, tindakan yang kita ambil dalam menjalankan organisasi
akan mempengaruhi semakin banyak orang. Semakin banyak orang yang dapat kita
pengaruhi, maka semakin besar kemungkinan tindakan kita berdampak kepada orang-
orang atau pihak-pihak yang memiliki kekuasaan dan pengaruh atas organisasi
tersebut.Orang-orang ini diharapkan dapat mendukung dan mendorong kinerja kita atau
bahkan menahan kita. Kondisi ini tentunya tidak terlepas dari kemampuan kita
memahami stakeholder yang ada di lingkungan organisasi dengan menggunakan cara
atau pendekatan yang tepat dalam menentukan pilihan untuk bertindak dan mengambil
keputusan. Salah satu cara yang dapat ditempuh dengan melakukan identifikasi unit binis
atau organisasi kita dengan melakukan analisis stakeholder yang dikenal dengan
Stakeholder Based Approach (SBA). Pendekatan ini dikembangkan untuk membantu para
pengambil keputusan, manajer proyek, pimpinan organasasi dalam melakukan
perencanaan untuk memetakan stakeholder dengan cara mengidentifikasi orang-orang
28
atau pihak-pihak kunci yang harus dikelola dan dimenangkan. Selanjutnya dibangun
strategi untuk membangun dukungan terhadap tujuan dan harapan organisasi dengan
melibatkan mereka sesuai peran dan kontribusinya. Beberapa manfaat dari penggunaan
pendekatan ini diantaranya:
Menggunakan pendapat para stakeholder yang paling kuat untuk membentuk tujuan
dari organisasi atau proyek pada tahap awal. Hal ini tidak hanya memberikan
dukungan terhadap organisasi atau tujuan lebih dari itu dapat dapat meningkatkan
kualitas dari hasil yang ditetapkan dalam rencana.
Mendapatkan dukungan dari para stakeholder yang kuat untuk membantu
memenangkan lebih banyak sumber daya, hal ini akan lebih mengoptimalkan kinerja
dalam mencapai tujuan.
Membangun strategi komunikasi dengan para stakeholder sejak awal secara intensif
untuk memastikan bahwa mereka memahami apa yang harus dilakukan dan
memahami manfaat dari organisasi atau proyek yang dilaksanakan, hal ini berarti
mereka dapat mendukung tujuan organisasi secara aktif jika di perlukan.
Mengantisipasi reaksi dari masyarakat terhadap keberadaan organisasi atau proyek
yang akan dilaksanakan dan mengintegrasikan dalam skema perencanaan untuk
mendapatkan dukungan dari mereka.

Bagaimana Melakukan Analisis Stakeholder Secara umum praktek pemetaan stakeholder


di awali dengan mengidentifikasi siapa saja orang atau pihak yang berkepentingan dan
berpengaruh terhadap organisasi atau proyek yang diusulakan.Langkah berikutnya bekerja di
luar kekuasaan mereka, pengaruh dan kepentingan, sehingga kita tahu kepada siapa harus
fokus. Langkah terakhir mengembangkan pemahaman secara komprehensif tentang
stakeholder yang paling penting agar kita tahu bagaimana mereka akan merespon, dan
sehingga kita bisa mengetahui bagaimana untuk memenangkan dukungan mereka, kita dapat
merekam analisis ini pada peta stakeholder. Setelah kita melakukan analisis dengan
menggunakan alat bantu ini masukkanlah dalam perencanaan untuk menentukan strategi
pelibatan mereka dan menentukan cara yang paling tepat bagaimana Kita akan
berkomunikasi dengan masing-masing stakeholder yang telah teridentifikasi.

Berikut langkah-langkah dalam melakukan analisis stakeholder :

Langkah 1: Mengidentifikasi Stakeholder Langkah pertama dalam analisis stakeholder


kita adalah untuk bertukar pikiran yang stakeholder kita. Sebagai bagian dari ini,

29
memikirkan semua orang yang terpengaruh oleh pekerjaan kita, yang memiliki pengaruh
atau kekuasaan di atasnya, atau memiliki kepentingan dalam kesimpulannya sukses atau
gagal. Dalam membangun setiap peta stakeholder dengan mengembangkan daftar
katagori dari orang, organisasi, lembaga atau pihak lainnya yang memiliki
bekepentingan terhadap organisasi atau tujuan kita . Setelah daftar adalah cukup lengkap
itu kemudian memungkinkan untuk menetapkan prioritas dalam beberapa cara,
kemudian menerjemahkan stakeholder prioritas tertinggi ke tabel atau gambar. Daftar
potensi stakeholder untuk setiap kegiatan tentunya akan melebihi waktu yang tersedia
untuk menganalisis termasuk kemampuan alat yang digunakan untuk memetakan sesuai
kebutuhan informasi yang ada. Tantangannya agar Kita tetap fokus pada stakeholder
yang benar-benar sesuai dan memiliki tingkat kepentingan terhadap organisasi sebagai
bagian dari komunitas khusus atau berorientasi terhadap tujuan proyek sehingga
memudahkan dalam memvisualisasikan. Pada saat mengidentifikasi stakeholder,
hendaknya mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

-Siapa saja penerima manfaat yang potensial perusahaan?

-Siapa saja yang mungkin menerima dampak buruk dari perusahaan?

-Apakah kelompok-kelompok yang rentan telah diidentifikasi ? Siapa saja ?

-Apakah kelompok-kelompok pendukung dan kelompok-kelompok lawan juga telah


diidentifikasi ? Siapa saja ?

-Apa saja hubungan-hubungan yang terjadi di antara stakeholder tersebut ?

Langkah 2: Prioritaskan Stakeholder Kita Pada tahapan ini kita telah memiliki daftar
panjang organisasi/lembaga atau orang-orang yang dipengaruhi oleh organisasi atau
pekerjaan kita. Beberapa mungkin memiliki kekuatan baik untuk menghambat atau
mendorong kinerja organiasasi. Beberapa mungkin tertarik dengan apa yang
direncanakan atau dilaksanakan oleh organisasi atau apa yang kita lakukan, sebagian
lainnya mungkin tidak peduli. Lakukan pemetaan secara mendalam terhadap
stakeholder tentang kekuatan/kepentingan dalam sebuah geradi atau kisi-kisi seperti
pada gambar, dan mengklasifikasikan para stakeholder dengan peran dan kontribusi
mereka atas tujuan organisasi serta ketertarikan pada pekerjaan yang kita
lakukan.Lakukan pengujian dengan meletakkan masing-masing stakeholder berdasakan
pengaruh dan kekuatan.Misalnya, atasan kita cenderung memiliki kekuatan yang tinggi

30
dan pengaruh dan harapan yang tinggi terhadap pekerjaan kita.Keluarga kita juga
mungkin memiliki harapan yang tinggi, tetapi tidak mungkin memiliki kekuatan atas
pekerjaan kita. Selanjutnya lakukan analisis dengan memposisikan stakeholder
(orang/organisasi/lembaga) dalam geradi tersebut untuk membantu kita bertindak
terhadap posisi mereka:
Kekuatan Tinggi, orang tertarik: orang-orang yang benar-benar harus terlibat dan
membuat upaya besar agar mereka puas terlibat dalam organisasi atau bisnis yang
Kita pimpin.
Kekuatan Tinggi, orang kurang tertarik: menempatkan dalam posisi untuk tetap
bekerja dengan menjaga kepuasan mereka, tetapi tidak terlalu banyak sehingga
mereka menjadi bosan dengan rencana dan komunikasi yang Kita buat.
Kekuatan rendah, orang-orang tertarik: menjaga orang-orang ini dengan
memberikan cukup banyak informasi, dan berbicara dengan mereka untuk
memastikan bahwa tidak ada masalah besar yang timbul dikemudian hari. Orang-
orang ini sangat membantu terhadap sukses organisasi dan rincian proyek Kita.
Kekuatan rendah, orang kurang tertarik: sekali lagi, memantau orang-orang ini, tapi
jangan bosan mereka untuk selalu berkomunikasi secara wajar tidak berlebihan.
Langkah 3: Memahami Stakeholder Kunci Pada langkah ini kita diarahkan untuk
memahami lebih dalam stakeholder kunci yang terlibat dalam pekerjaan atau bisnis.
Masing-masing orang atau organisasi perlu dinilai sejauhmana respon atau reaksi
terhadap proyek, dan bagaimana mereka terlibat dan memberikan kontribusi terhadap
keberhasilan pekerjaan. Disamping itu, juga perlu memahami cara terbaik untuk
melibatkan mereka dalam proyek serta membangun komunikasi efektif dengan mereka.
Pertanyaan kunci yang dapat membantu memahami stakeholder diantaranya:
Apa kepentingan finansial atau emosional yang mereka miliki dari hasil pekerjaan?
Apakah positif atau negatif?
Apa yang memotivasi mereka yang paling penting?
Informasi apa yang mereka inginkan dari kita?
Bagaimana mereka ingin menerima informasi dari kita?
Apa cara terbaik untuk berkomunikasi pesan kita kepada mereka?
Apa pendapat mereka saat ini pekerjaan kita? Apakah berdasarkan informasi yang
baik?
Siapa yang mempengaruhi pendapat mereka secara umum, dan yang mempengaruhi
pendapat mereka tentang kita?
31
Jika mereka tidak mungkin untuk menjadi positif, apa yang akan dimenangkan dari
mereka untuk mendukung kita?
Jika kita tidak berpikir kita akan dapat memenangkan mereka, bagaimana kita akan
mengelola sikap oposisi mereka?
Siapa lagi yang mungkin dipengaruhi oleh pendapat mereka? Apakah orang-orang ini
menjadi stakeholder dalam memperjuangkan hak mereka sendiri?

Cara yang cukup efektif untuk menjawab pertanyaan diatas dengan melakukan
komunikasi intensif untuk berbicara secara langsung dengan stakeholder. Biasanya ketika
kita berbicara langsung, orang cenderung untuk terbuka tentang pandangan mereka, dan
meminta pendapat dari masyarakat. Berkomunikasi informal seringkali merupakan langkah
pertama dalam membangun sebuah hubungan yang sukses dengan para stakeholder. Buatlah
catatan penting berupa rangkuman atas pemahaman yang di dapatkan pada saat melakukan
pemetaan stakeholder, sehingga dapat dengan mudah melihat dimana para stakeholder yang
akan bertindak sebagai blocker atau kritikus, dan yang cenderung pendukung. Salah satu
teknik yang dapat digunakan dengan memberikan kode warna pada saat memvisualisasikan
kekuatan dan repson mereka. Misalnya menampilkan stakeholder pendukungnya dengan
menggunakan warna hijau, blocker dan kritikus warna merah, dan orang lain yang netral
dengan warna putih. Berkomunikasi dengan stakeholder baik internal maupun eksternal
adalah hal yang tak bisa di hindari bagi suatu perusahaan. Perlunya menjalin komunikasi
dengan stakeholder internal antara lain sebagai berikut;

o Efektivitas kerja yang lebih besar


o The right man on the right job
o Keterlibatan orang dalam organisasi
o Meningkatkan motivasi untuk menghasilkan kinerja yang baik
o Meningkatkan komitmen terhadap Organisasi Hal terpenting dari komunikasi ini adalah
mengenai visi, strategi dan activities dari suatu perusahaan.

Beragam metode dalam berkomunikasi dengan stakeholder, misalnya secara lisan, tulisan
maupun audio visual. Corporate Communication dengan stakeholder internal :

1. Komunikasi dengan pemilik usaha Komunikasi ini dilakukan dengan tujuan:


o Membangkitkan perhatian pemilik pada perusahaan
o Mempromosikan pemilikan saham sebagai investasi jangka panjang
o Meningkatkan prestice perusahaan di mata pemilik

32
o Membujuk pemilik agar mau turut mempromosikan produk perusahaan
Prinsip yang dilakukan dalam komunikasi dengan pemilik usaha adalah :
o Informasi yang disampaikan sederhana sehingga mudah dipahami
o Informasi harus menarik dan tidak menjemukan
o Membangkitkan minat
o Mempertimbangkan ciri-ciri, sikap, dan kepentingan pemilik
2. Komunikasi dengan manajemen Komunikasi ini dilakukan dengan tujuan:
o Mengetahui sikap staf atau karyawan terhadap organisasi
o Mengetahui seberapa jauh pemahaman staf atau karyawan tentang aturan-aturan,
kebijakan, dan program-program organisasi
o Menjadikan karyawan dapat memberi kontribusi yang lebih besar bagi efisiensi
pelaksanaan kegiatan organisasi
o Mengantisipasi keluhan dan komplain dari staf atau karyawan sebelum berkembang
menjadi bom
Prinsip yang dilakukan dalam komunikasi dengan manajemen adalah:
o Kualitas informasi harus benar-benar teruji kebenarannya
o Informasi harus bisa digunakan sebagai dasar membuat keputusan
o Informasi didukung oleh fakta-fakta yang kuat
3. Komunikasi dengan karyawan Komunikasi ini dilakukan dengan tujuan :
o Mengetahui sejarah organisasi, struktur organisasi, pertumbuhan organisasi,
kedudukan finansial, kebijakan organisasi, rencana pengembangan, hubungan dengan
pihak lain
o Peluang pengembangan karier, informasi keamanan kerja, peluang mengikuti
pelatihan, prospek di masa depan, fakta tentang gaji, program2 pelayanan

Prinsip yang dilakukan dalam komunikasi dengan karyawan adalah :

o Komunikasi yang berfungsi sebagai sistem komunikasi antara pihak manajemen


dengan karyawan
o Pesan komunikasi harus menggunakan kata-kata lazim serta sesuai dengan pendidikan
mereka
o Informasi yang disampaikan harus dalam jumlah kecil agar mudah dipahami, dan
harus tepat waktu
o Adanya pengulangan pesan dengan penyajian yang berbeda

33
o Pemilihan media yang tepat dan pesan komunikasi yang dipersiapkan komunikator
yang handal Corporate Communication dengan stakeholder eksternal : Tujuan
dilakukannya corporate communication dengan eksternal adalah membina hubungan
baik dengan pihak luar yang menentukan keberhasilan organisasi atau lembaga bisnis.
Hal-hal yang dikomunikasikan adalah yang terkait dukungan terhadap organisasi demi
keberlangsungan organisasi seperti regulator, pemasok, perusahaan, penyalur,
pelanggan dan sebagainya.

Tujuan komunikasi dengan pelanggan adalah:

o Meyakinkan para pelanggan dan calon pelanggan bahwa produk atau jasa akan terus
ditingkatkan baik kualitas, kegunaan, serta macamnya
o Menyediakan sumber persediaan yang konsisten, kebijakan harga yang rasional
o Melayani pelanggan secara jujur, dan berusaha mengembangkan pelayanan untuk
kepuasan pelanggan.

Tujuan komunikasi dengan penyalur :

o Membantu para penyalur meningkatkan omset penjualan


o Menjelaskan kebijaksanaan dan manajemen organisasi
o Membantu manajemen distribusi
o Bekerja sama dengan para penyalur dalam mengiklankan produk
o Menerima keluhan penyalur dan pemecahannya
o Merangsang penyalur agar tetap setia terhadap produk
o Menampung gagasan dari penyalur

Tujuan komunikasi dengan penyalur adalah :

o Membina kepentingan bersama


o Menempatkan organisasi atau lembaga bisnis sebagai mitra usaha dan bekerja sama
dalam menyelesaikan masalah produksi dan persediaan
o Mempertahankan hubungan baik dengan para pemasok melalui perlakuan adil dan
terbuka
o Melengkapi sarana pemasok guna memudahkan hubungan dengan staf pembelian,
keuangan, kontrol kualitas, akunting, dan bagian lain yang berhubungan dengan
pasokan
o Mengetahui sikap pemasok

34
4. Mengembangkan tim kerja berdasarkan jenis stake holder yang ada di komunitas

Lembaga-lembaga publik telah menggunakan secara luas istilah stakeholder ini ke dalam
proses-proses pengambilan dan implementasi keputusan. Secara sederhana, stakeholder
sering dinyatakan sebagai para pihak yang terkait dengan suatu suatu rencana. Stakeholder
merupakan kelompok atau individu yang dukungannya diperlukan demi kesejahteraan dan
kelangsungan hidup organisasi maupun komunitas. Sebagai tenaga kerja professional yang
lingkup kinerjanya dekat dengan masyarakat, bidan merupakan pihak yang berpengaruh
didalam kehidupan suatu kelompok masyarakat itu sendiri, sehingga bidan dituntut untuk bisa
menyesuaikan diri serta mengembangkan tim kerja berdasarkan jenis steak holder yang
berbeda-beda disuatu kelompok masyarakat. Dalam organisasi publik, adalah sangat penting
untuk mengetahui siapa stakeholder yang memiliki kepentingan dan pengaruh terhadap
program yang dimiliki oleh organisasi. Dalam organisasi publik yang tradisional sering tidak
peduli dengan beragam stakeholder karena hanya fokus terhadap diri sendiri dan menganggap
program yang dimiliki oleh organisasinya berada dalam kontrol penuhnya. Padahal potensi
pendorong-penghambat-pengganggu dalam perencanaan maupun pelaksanaan program
bahkan sering ditimbulkan oleh para stakeholder yang tadinya tidak diperhitungkan sama
sekali. Untuk itu kita perlu untuk mengenali beberapa jenis stake holder yang ada. Stake
holder memiliki beberpa jenis, yaitu sebagai berikut :

a) Stakeholder primer, yaitu mereka yang langsung dipengaruhi oleh program yang
dijalankan oleh organisasi publik tertentu. Pengaruh disini dapat bersifat positif maupun
negative, contoh stake holder primer adalah masyarakat desa.
b) Stakeholder sekunder, yaitu mereka yang tidak langsung dipengaruhi oleh program yang
dijalankan oleh organisasi publik tertentu. Pengaruh disini dapat bersifat positif maupun
negatif pula. Contoh dari stake holder sekunder adalah para penyandang dana dan para
pelaksana dari kegiatan itu sendiri seperti dinas kesehatan dan bidan komunitas setempat.
c) Stakeholder utama, disebut juga sebagai stakeholder kunci yaitu mereka yang bisa
memiliki pengaruh positif / negative terhadap program pemerintah dan keberadaan mereka
sangat penting bagi organisasi yang memiliki program tersebut. Mereka adalah orang atau
lembaga yang memiliki kekuatan didalam perizinan suatu kegiatan, contoh dari
stakeholder utama ini yaitu kepala desa, bupati, walikota dan sebagainya. Untuk dapat
mengkategorikan stakeholders ke dalam stakeholder primer, sekunder maupun utama
maka sangat diperlukan pemahaman terhadap kepentingan stakeholder terhadap program

35
dari organisasi publik tersebut. Beberapa kepentingan stakeholder yang dapat
dikategorikan adalah sebagai berikut:
Ekonomi
Politik
Sosial
Budaya
Etnis
Lingkungan
Keamanan, atau kepentingan lain yang lebih spesifik.

Di dalam mengidentifikasi kepentingan para stakeholder perlu dikenali pula bagaimana


posisi para stakeholder tersebut terhadap program yang sedang direncanakan/dijalankan oleh
organisasi publik tertentu. Apakah mereka menunjukkan sikap mendukung abstain atau
bahkan secara terang-terangan menolaknya karena tidak sesuai dengan kepentingan yang
mereka perjuangkan. Dengan mengenali posisi tersebut, maka akan membantu kita dalam
merespon dan bagaimana bertindak terhadap para stakeholder tersebut. Analisis Stakeholder
Melakukan analisis terhadap stakeholder adalah memetakan posisi stakeholder terhadap
program yang akan dirancang/dijalankan oleh sebuah organisasi publik. Melakukan analisis
terhadap stakeholder adalah penting bagi sebuah organisasi public karena akan memberikan
isnpirasi tentang bagaimana kita harus bekerja bersama dengan Stakeholders dengan berbagai
tingkat kepentingan dan pengaruh yang berbeda. Berikut adalah beberapa manfaat melakukan
analisis stakeholder (Wisnubroto):

1. Mendapatkan lebih banyak gagasan pengembangan dan implementasi program/perubahan


2. Bisa memberi gambaran lebih jelas tentang konteks komunitas, potensi kesulitan, dan aset
yang ada
3. Sense of ownership terhadap program/upaya perubahan
4. Lebih Fair bagi semua
5. Meminimalisir penolakan terhadap program/perubahan
6. Memperkuat posisi kita jika ada oposisi terhadap program
7. Menjembatani modal sosial bagi komunitas
8. Meningkatkan kredibilitas organisasi kita : fair, etis, transparan, dan membuat orang suka
bekerja dengan kita
9. Meningkatkan peluang keberhasilan program/perubahan Setelah melakukan analisis
terhadap jenis stake holder yang ada di sebuah masyarakat tersebut, menurut pendapat

36
abdul karim pada tahun 2007, bahwa stake holder harus memiliki tiga unsur, yaitu power
(memiliki kuasa namun tetap berdasarkan norma dalam melakukan pemaksaannya),
legitimasi (seberapa jauh mau menerima keputusan), dan urgensi (besifat penting).

Merancang Strategi Hubungan Dengan Stakeholder

Untuk memudahkan pembuatan perencanaan, aktivitas-aktivitas perlu dikelompokkan


berdasarkan sifatnya, sedemikian rupa sehingga membentuk cluster perencanaan.

1. Perencanaan strategis: untuk hal-hal yang bersifat strategis, seperti rencana jangka
panjang, kegiatan-kegiatan yang komprehensif dan membutuhkan sumber daya yang
jelas, memerlukan pemikiran-pemikiran secara konseptual, analistis, realistis, dan
rasional, dikelompokkan ke dalam perencanaan strategis diperlukan keputusan
strategis
2. Perencanaan taktis: untuk hal-hal yang bersifat jangka pendek, dan kegitan-kegiatan
yang memengaruhi operasi perusahaan secara langsung dan merupakan penjabaran
dari keputusan strategis, dikelompokkan ke dalam perencanaan taktis. Diperlukan
landasan untuk menidaklanjuti hasil dari perencanaan taktis berupa kebijakan,
peraturan, petunjuk, dan prosedur.
3. Perencanaan operasional: untuk hal-hal yang bersifat operasional, seperti langkah-
langkah yang harus ditempuh untuk melaksanakan keputusan taktis, memerlukan
suatu perencanaan yang disebut perencanaan operasional. Setiap keputusan yang
diambil untuk melaksanakan hasil perencanaan operasional disebut keputusan
operasional

37
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Keluarga adalah bagian kecil dari masyarakat , terdiri dari beberapa orang yang
berkumpul dan di pimpin oleh kepala keluarga yang saling memiliki keterkaitan atau
hubungan yang erat dan tinggal bersama pada suatu tempat serta keluarga yang telah dapat
memenuhi kebutuhan fisik minimum secara minimal namun belum dapat memenuhi
kebutuhan sosial dan psikologis seperti kebutuhan akan pendidikan, interaksi dalam keluarga
disebut kesejateraan keluarga sedangkan setakeholeder adalah Orang yang memiliki minat
maupun kepentingan didalam suatu intasi . Hal ini bisa menyangkut kepentingan finansial
atau kepentingan lainnya. Jika orang tersebut terkena pengaruh dari apa yang terjadi pada
instasi, baik dampak positif maupun dampak negative orang tersebut dapat dikatan
setakholder.

38
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Aplikasi.bkkbn.go.id. Batasan Dan Pengertian MDK-Integrasi Aplikasi BKKBN. 2016.

http://anahuraki.lecture.ub.ac.id/

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/32296/4/Chapter%20II.pdf

http://www.bkkbn-jatim.go.id/bkkbn-jatim/html/indikasi.htm

Setiadi. 2007. Konsep Dan Proses Keperawatan Keluarga. Jakarta : GRAHA ILMU

www.librarybinus.ac.id

39
KASUS

Kasus Hubungan Stake Holder Dan Keluarga Dengan Kebijakan

Contoh Kasus :
DESA SIAGA. DESA JATIAN
KECAMATAN PAKUSARI KABUPATEN JEMBER, JAWA TIMUR
PROFIL DESA SIAGA JATIAN

Desa Siaga Jatian dengan tim Kesehatannyaberpusat pada Poskesdes yang bertepatan di
Puskesmas Pembantu dan Kantor Desa Jatian.
Nama Desa : Jatian
Kecamatan : Pakusari
Kabupaten : Jember
Provinsi : Jawa Timur
Luas Wilayah : 3.875.158 m
Alamat : Jl. Himalaya No. 83 kode Pos. 68181

Jumlah Penduduk :

Laki- Peremp
No Uraian laki uan Jumlah

1 Jumlah Penduduk 2950 3174 6124

2 Penduduk Miskin 1213 1147 2630

Rumah Tangga Miskin


3 ( RTM ) 1350

Jumlah Kepala Keluarga :

No Uraian Jumlah KK

1 Jumlah KK 1668

2 Jumlah KK Miskin 1350

40
Jumlah POSYANDU dan KADER :

Jumlah
No Nama Posyandu Alamat Kader

1 Sedap malam 32 Dusun Prasian 5

2 Sedap malam 33 Dusun Krajan 5

3 Sedap Malam 34 Dusun Plalangan 5

4 Sedap Malam 35 Dusun Krajan 5

5 Sedap Malam 36 Dusun Prasian 5

Jumlah Dukun Beranak yang sudah mendapatkan Pelatihan dan sebagai Mitra :

No Alamat Dukun Jumlah

1 Dusun Prasian 2

2 Dusun Plalangan 2

3 Dusun Krajan 2

Jumlah Tenaga Kesehatan

No Nama Uraian Jumlah

1 SOBIRIN Perawat 1

2 PUJI ASTUTI Bidan 1

41
Jumlah Ambulan Desa Tetap

No Nama Pemilik Jenis Kendaraan Alamat

1 Sobirin Avanza Dusun Prasian

2 Tri Widayanti Taruna + Pickup Dusun Prasian

3 Ahmad Saedi Jusuf Kijang Dusun Prasian

4 Zainuri Sepeda Motor Dusun Prasian

5 Ariyandi Yudoutomo. Trooper Dusun Prasian

42
43
JURNAL

KOMPETENSI ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS BERHUBUNGAN DENGAN KEMAMPUAN BIDAN


MELAKSANAKAN PERAWATAN KESEHATAN MASYARAKAT PEDESAAN

COMMUNITY MIDWIFERY CARE COMPETENCIES RELATED TO IMPLEMENT OF CARE COMMUNITY

Yeyen Putriana

STIKES Karya Husada Pare

(noanpujianto@gmail.com)

ABSTRAK

Pengukuran kualifikasi pendidikan tinggi adalah adanya relevansi antara produk yang dihasilkan dan
kebutuhan masyarakat sebagai kliennya.Tujuan penelitian ini untuk menganalisis relevansi antara
kompetensi asuhan kebidanan komunitas dan Ilmu Kesehatan Masyarakat, keterampilan komunitas
asuhan kebidanan, dan sikap bidan dalam melaksanakan pemeliharaan kesehatan masyarakat di
daerah pedesaan Kabupaten Pesawaran Lampung. Pendekatan penelitian dengan cross sectional,
menggunakan teknik sampling proporsional stratified random, responden adalah 40 bidan desa (D3
Kebidanan). Pengambilan data dengan kuesioner, dan analisis menggunakan Uji korelasi
Pearson.Hasil penelitian ini menunjukkan korelasi antara penguasaan kompetensi asuhan kebidanan
komunitas dan Ilmu Kesehatan Masyarakat, keterampilan asuhan kebidanan komunitas, dan sikap
bidan dalam melaksanakan pemeliharaan kesehatan masyarakat tidak bermakna. Korelasi antara
keterampilan asuhan kebidanan komunitas dengan kemampuan melaksanakan Perkesmas tidak
berarti, sikap terhadap Perkesmas dengan kemampuan melaksanakan Perkesmas memiliki korelasi
dan bermakna yang sangat kuat p<0,05. Kesimpulan penelitian ini, sikap positif terhadap upaya
Perkesmas dan kemampuan bidan melaksanakan Perkesmas memiliki relevansi sangat kuat.

Kata Kunci: Asuhan Komunitas, Kebidanan, Kompetensi. Program PHN

ABSTRACT

One of the measurement on the qualification of higher education is the presence of relevance
between the product resulted and the needs of the community as its client. The purpose of this
study was to analyze the relevance (relationship) between the mastery of knowledge competency of
community midwifery care and Public Health Sciences. This type of this research is with cross-
sectional approach using proportionate stratified random sampling technique, has been conducted
to 40 respondents D-3 midwifery graduates who served as rural midwife and implemented PHN
programs in the village. Competence variable and ability to implement PHN programs were
measured by questionnaire witha Likert scale of 15. Statistical tests using Pearson Correlation. The
results of this study showed that the correlation between the mastery of knowledge competency of
community midwifery care and Public Health Sciences. The correlation

44