Anda di halaman 1dari 7

JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN

VOLUME 10 No. 04 Desember l 2007 Halaman 159 - 165


Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan
Makalah Kebijakan

POLITIK DALAM ORGANISASI


(SUATU TINJAUAN MENUJU ETIKA BERPOLITIK)
POLITICS IN ORGANIZATION
(A REVIEW LEADING TO ETHICS OF POLITICS)

Siswanto
Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan,
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Depkes RI, Surabaya

ABSTRACT perusahaan Badan Usaha Milik Daerah yang


Being a social entity, organizations including health dipunyainya karena ditengarahi banyak terjadi KKN
organizations can be interpreted as a political arena where
actors are contesting their interests. Consequently, the
sehingga perusahaan tidak efisien. Akhirnya,
interaction of actors in organizational life would involve power, diputuskan bahwa untuk merekrut direktur utama
influence and interests. Every actor within organizations dilakukan secara transparan melalui pengumuman
including managers try to improve his/her power, either position di media massa dan kemudian dilakukan fit and
power or personal power, in order to achieve his/her own
goals and interests. Political activities would entail the ability to
proper test di hadapan stakeholder kunci. Terpilihlah
exercise power sources with certain political tactics to win seorang direktur profesional untuk membenahi
interests. Political activities are natural and unpreventable for manajemen perusahaan. Untuk menyehatkan
the interaction of actors in organizational life. However, every perusahaan, sang direktur melakukan pembersihan
actor should take into consideration ethics for performing more
elegant politics, in order that some ones influence unto others
besar-besaran terhadap berbagai praktik KKN karena
not due to a coercive, frightened and painful manner. Rather, pendekatannya yang terkesan radikal, maka
the influence on others behavior is due to principles or at least terjadilah demo besar-besaran oleh karyawan
due to benefit exchange. perusahaan dan pendemo menuntut sang direktur
Keywords: organization, politics, ethics
untuk mundur dari jabatan sebagai direktur utama.
Selama beberapa bulan, boleh dikatakan tiada hari
tanpa demo. Bahkan, kemelut perusahaan milik
ABSTRAK daerah tersebut sampai ke meja anggota DPRD
Sebagai sebuah entitas sosial, keberadaan organisasi termasuk karena para pendemo (karyawan) menyampaikan
organisasi kesehatan, dapat diinterpretasikan sebagai wahana
kemelut manajemen perusahaan kepada wakil
politik tempat para aktor berebut kepentingan. Oleh karena itu,
interaksi antaraktor dalam kehidupan organisasi akan selalu rakyat (anggota DPRD). Akhir cerita, setelah melalui
terkait dengan kekuasaan pengaruh, dan kepentingan. Setiap proses tarik ulur di antara para politisi, sang direktur
aktor dalam organisasi termasuk manajer akan berusaha diminta untuk mundur dari jabatan direktur utama
meningkatkan kekuasaannya, baik kekuasaan berdasar
perusahaan tersebut karena ia dianggap tidak
kedudukan maupun kekuasaan pribadi, dalam rangka memburu
kepentingan dan tujuannya. Aktivitas politik melibatkan demokratis dalam gaya kepemimpinannya. Kisah
kemampuan memainkan sumber kekuasaan dengan taktik politik ini adalah kisah nyata, namun penulis sengaja
tertentu untuk memenangkan kepentingan. Aktivitas politik membuatnya anomim untuk menjaga etika
merupakan sesuatu yang natural dan tidak dapat dicegah dalam
penulisan.
interaksi antaraktor dalam kehidupan organisasi. Namun
demikian, setiap aktor harus memperhatikan etika berpolitik yang Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah di atas
elegan agar pengaruh seseorang pada perilaku orang lain tidak adalah bahwa seorang manajer akan mengalami
bersifat memaksa, menakut-nakuti, dan menyakitkan, tetapi kegagalan apabila cara memimpinnnya hanya
merupakan pola perilaku karena berpegang pada prinsip atau
mengedepankan satu paradigma manajemen saja.
setidaknya karena asas pertukaran manfaat.
Pada kisah di atas, sang manajer terjebak pada
Kata Kunci: organisasi, politik, etika praktik manajemen paradigma rasional tanpa
memperhitungkan kekuatan politik di dalam
organisasi. Dengan kata lain, sang manajer telah
PENGANTAR gagal memimpin perusahaan karena tidak memiliki
Alkisah, salah satu pemerintah kota di Provinsi keterampilan politis yang adekuat untuk melakukan
Jawa Timur ingin membenahi manajemen perubahan organisasi, menuju kinerja perusahaan

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 10, No. 4 Desember 2007 l 159
Siswanto: Politik dalam Organisasi

yang lebih baik. Semestinya, profesionalitas sebagai selalu ada dalam setiap kehidupan organisasi.
manajer haruslah diinterpretasikan sebagai Berkenaan dengan praktik manajemen melalui
penguasaan semua paradigma manajemen, pendekatan politik, maka seorang manajer
kemudian mampu menggunakannya secara tepat (termasuk pemain lainnya) harus paham bagaimana
orang dan tepat waktu (contingency of people and bermain politik yang etis dan elegant, sehingga
of timeliness). Salah satu paradigma manajemen secara etis dapat diterima oleh anggota lainnya.
yang harus dipertimbangkan oleh praktisi Permainan politik yang tidak etis dalam jangka
manajemen adalah politik organisasi (organizational panjang akan berakibat buruk terhadap kredibilitas
politics). pelakunya.
Masyarakat kebanyakan sering memaknai Melihat aktivitas organisasi sebagai aktivitas
politik dengan konotasi negatif dan kotor. Umat politik merupakan penyegaran terhadap pemahaman
manusia adalah makhluk sosial dalam memenuhi kehidupan organisasi yang selama ini selalu
kebutuhan hidupnya dan saling berinteraksi satu didominasi oleh cara pandang instrumental, yang
dengan lainnya. Proses interaksi memenuhi analisisnya mengabaikan motif dan kepentingan
kebutuhannya tersebut manusia membentuk aktor yang terlibat dalam organisasi. Dalam
kelompok-kelompok komunitas serta manusia akan kelompok sosial, termasuk organisasi, manusia
selalu dihadapkan pada unsur kekuasaan dan selalu terlibat interaksi antar satu dengan lainnya.
pengaruh. Kekuasaan dan pengaruh merupakan Setiap anggota akan membawa minat, kepentingan,
unsur utama dalam politik. Untuk memenuhi persepsi, dan tujuan yang berbeda-beda. Oleh karena
kepentingannya (meraih cita-cita dan tujuannya), itu, proses pengaruh-mempengaruhi merupakan hal
setiap manusia mau tidak mau harus menggunakan yang wajar dalam kehidupan organisasi. Dengan kata
politik (kekuasaan dan pengaruh) sebagai alat lain, politik adalah suatu kenyataan sosial yang harus
berinteraksi antara manusia satu dengan manusia dihadapi oleh anggota organisasi, termasuk manajer.
lainnya. Dengan demikian, politik adalah kenyataan Ada ungkapan yang menarik meskipun kita tidak
hidup yang harus dihadapi dan dijalankan oleh setiap suka politik, kita tidak bisa menghindar dari politik.
orang selama ia berinteraksi secara sosial. Politik didefinisikan oleh Dahl2 sebagai setiap
Tulisan ini akan mendiskusikan beberapa isu pola hubungan yang kokoh antarmanusia dan
penting tentang paradigma politik organisasi, di melibatkan secara cukup mencolok kendali,
antaranya organisasi sebagai wahana politik, pengaruh, kekuasaan dan kewenangan. Pada
kekuasaan dan sumber-sumbernya, praktik politik prinsipnya politik adalah suatu jaringan interaksi
dalam organisasi, dan akhirnya didiskusikan etika antarmanusia dengan kekuasaan diperoleh,
berpolitik dalam organisasi. Dengan memahami ditransfer, dan digunakan. Dengan menggunakan
politik organisasi, diharapkan para praktisi definisi ini, maka dapat dikatakan bahwa politik tidak
manajemen dapat memperluas cakrawala hanya terjadi pada sistem pemerintahan, namun
pandangnya tentang politik organisasi sebagai politik juga terjadi pada organisasi formal, badan
paradigma alternatif dalam mengelola organisasi. usaha, klub-klub pribadi, organisasi keagamaan,
kelompok suku primitif, marga, dan bahkan pada
Organisasi Sebagai Wahana Politik unit keluarga. Pusat analisis politik adalah
Organisasi sebagai salah satu entitas sosial kekuasaan dan pengaruh. Kekuasaan didefinisikan
juga tidak terlepas dari politik. Setiap orang dalam sebagai potensi seorang aktor dapat mempengaruhi
organisasi akan menggunakan taktik dan strateginya aktor lain, sehingga aktor lain tersebut menuruti
masing-masing untuk memperebutkan sumber daya kemauan aktor pertama. Dalam kontes saling
yang terbatas, baik itu menyangkut distribusi pengaruh-mempengaruhi ini, maka tiap-tiap aktor
informasi, kekuasaan, karir maupun penghargaan akan saling beradu kekuasaan untuk memenangkan
lainnya. Organisasi kesehatan, seperti rumah sakit kepentingan, dengan taktik memainkan
juga tidak terlepas dari kegiatan politik. Strauss1 kekusaannya masing-masing.
dalam penelitiannya di institusi rumah sakit Pemahaman bahwa organisasi adalah sebuah
mengidentifikasi pola interaksi antar aktor di rumah entitas politik akan mampu menyadarkan manajer
sakit (dokter, perawat dan staf administrasi) sebagai melihat organisasi secara utuh dan tidak hanya
keteraturan hasil negosiasi (negotiated order). Tak mengandalkan pada cara-cara instrumental saja.
dapat disangkal bahwa negosiasi merupakan salah Morgan3 dan Bolman & Deal4 misalnya, melihat
satu bentuk aktivitas politik untuk mendapatkan organisasi sebagai wahana atau gelanggang politik
komitmen bersama. Untuk menjadi manajer yang tempat bernegosiasi kepentingan oleh para
efektif, seorang manajer harus sadar bahwa politik anggotanya. Drory5 mendefinisikan politik organisasi

160 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 10, No. 4 Desember 2007
Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

sebagai perilaku informal di dalam organisasi dengan tapi merefleksikan sumber kekuatan untuk
menggunakan kekuasaan dan pengaruh melalui mempengaruhi tindakan orang lain. Kekuasaan
tindakan terencana yang diarahkan untuk peningkatan bersifat netral, apakah akan bersifat baik atau buruk
karir individu pada situasi untuk memperoleh banyak tergantung dari motif yang menggunakannya. Ada
pilihan keputusan. Selanjutnya, Miles6 mendefinisikan baiknya kita renungkan ungkapan Baltasar Gracian
politik organisasi sebagai proses yaitu setiap aktor berikut: Satu-satunya keuntungan memiliki
atau kelompok dalam organisasi membangun kekuasaan adalah bahwa Anda dapat melakukan
kekuasaan untuk mempengaruhi penetapan tujuan, lebih banyak kebaikan.9
kriteria atau proses pengambilan keputusan Berbeda dengan kekuasaan yang merujuk
organisasional dalam rangka memenuhi kepada ketersediaan sumber daya, pengaruh
kepentingannya. Analisis organisasi dari perspektif merujuk kepada tindakan atau praktik. Pengaruh
politik melibatkan tiga diskursus yaitu kepentingan, dapat didefinisikan sebagai penggunaan kekuasaan
kekuasaan dan pengaruh. atau otoritas untuk mempersuasi orang lain agar
Morgan3 mendefinisikan kepentingan sebagai mereka mengikuti kehendak si pengguna
predisposisi yang mempengaruhi tindakan kekuasaan.10 Lebih jauh, Yukl11 menyebutkan bahwa
seseorang dalam berinteraksi secara sosial, meliputi pengaruh adalah efek dari tindakan agen tehadap
tujuan, nilai, keinginan, harapan, dan orientasi pihak lain (target). Secara sekuensial dapat
seseorang. Lebih jauh, Morgan 3 membagi dikatakan bahwa kekuasaan menimbulkan pengaruh
kepentingan ke dalam tiga kategori yaitu kepentingan dan akhirnya pengaruh mempengaruhi tindakan
pekerjaan, kepentingan karir dan kepentingan orang lain (kekuasaan pengaruh tindakan orang
ekstramural. Kepentingan pekerjaan adalah lain). Namun demikian, beberapa rujukan tentang
kepentingan yang terkait dengan tugas seseorang perilaku politik sering mempertukarkan istilah
sesuai kedudukan dan jabatan yang diembannya. kekuasaan dan pengaruh.2
Sementara, kepentingan karir terkait dengan masa Asumsi dasar organisasi sebagai entitas
depan seseorang dalam organisasi (posisi dan politik3,4,12 yaitu: (1) organisasi adalah koalisi yang
jabatan yang lebih baik), yang bisa saja tidak terdiri dari berbagai individu dan kelompok dengan
berhubungan dengan kepentingan pekerjaan. Dalam berbagai kepentingan, (2) dalam organisasi selalu
komponen kepentingan juga termasuk kepentingan ada potensi perbedaan menyangkut kepribadian,
ekstramural yang terdiri dari kepribadian, sikap, nilai, keyakinan, kepentingan, sikap, persepsi, dan minat
keyakinan dan komitmen di luar pekerjaan yang dari para anggotanya, (3) kekuasaan memainkan
semuanya akan membingkai pola perilaku seseorang peranan penting dalam memperebutkan sumber
baik menyangkut pekerjaan maupun karir. daya, (4) tujuan organisasi, pengambilan keputusan
Dalam interaksi antaraktor dalam organisasi, dan proses manajemen lainnya adalah hasil dari
setiap aktor menggunakan kekuasaan dan pengaruh bargaining, negosiasi, dan brokering dari berbagai
untuk dapat memenuhi tujuannya. Kekuasaan faksi peserta, (5) karena keterbatasan sumber daya
didefinisikan sebagai peluang seorang aktor dalam dan setiap aktor berebut kepentingan, maka konflik
interaksi sosialnya berada di posisi memenangkan adalah wajar (natural) dalam kehidupan organisasi.
keinginannya meski ada hambatan dari pihak lain.7
Sebagai ilustrasi, A mempunyai kekuasaan Kekuasaan dan Sumber-Sumbernya
terhadap B, kalau A dapat mempengaruhi atau Untuk memahami lebih jauh tentang bagaimana
memaksa B untuk melakukan sesuatu yang para aktor dalam organisasi saling mempengaruhi
diinginkan oleh A.8 Dengan kata lain, kekuasaan dan mengapa aktor tertentu dapat mengendalikan
adalah suatu sumber daya yang merefleksikan aktor lainnya, kita harus mengenal sumber-sumber
kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang kekuasaan dalam organisasi. Sumber-sumber
lain untuk bertindak sesuai dengan keinginan orang kekuasaan yang dipakai para aktor untuk saling
pertama. Kekuasaan bukan merefleksikan tindakan, mempengaruhi adalah sebagaimana ditunjukkan
pada Tabel 1.

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 10, No. 4 Desember 2007 l 161
Siswanto: Politik dalam Organisasi

Tabel 1. Sumber-Sumber Kekuasaan dalam Organisasi11

Sumber kekuasaan Penjelasan


1. Kekuasaan berdasarkan Pengaruh potensial yang berasal dari kewenangan yang sah karena
kedudukan kedudukannya dalam organisasi
a. Kewenangan formal Kewenangan yang mengacu pada hak prerogatif, kewajiban dan tanggung jawab
seseorang berkaitan dengan kedudukannya dalam organisasi atau sistem sosial.
Agen mempunyai hak untuk membuat permintaan tertentu dan orang yang
ditargetkan mempunyai kewajiban untuk mematuhinya.
b. Kontrol terhadap sumber Kontrol dan penguasaan terhadap sumber daya dan imbalan terkait dengan
daya dan imbalan kedudukan formal. Makin tinggi posisi seseorang dalam hirarki organisasi, makin
banyak kontrol yang dipunyai orang tersebut terhadap sumber daya yang
terbatas.
c. Kontrol terhadap hukuman Kontrol terhadap hukuman dan kapasitas untuk mencegah seseorang
(coercive power) memperoleh imbalan.
d. Kontrol terhadap informasi Menyangkut kontrol terhadap akses terhadap informasi penting maupun kontrol
terhadap distribusinya kepada orang lain.
e. Kontrol ekologis Menyangkut kontrol terhadap lingkungan fisik, teknologi dan metode
pengorganisasian pekerjaan.
2. Kekuasaan pribadi Pengaruh potensial yang melekat pada keunggulan individu
a. Kekuasaan keahlian Kekuasaan yang bersumber dari keahlian dalam memecahkan masalah tugas-
(expert power) tugas penting. Semakin tergantung pihak lain terhadap keahlian seseorang,
semakin bertambah kekuasaan keahlian (expert power) orang tersebut.
b. Kekuasaan kesetiaan Potensi seseorang yang menyebabkan orang lain mengagumi dan memenuhi
(referent power) permintaan orang tersebut. Referent power terkait dengan keterampilan interaksi
antar pribadi, seperti pesona, kebijaksanaan, diplomasi dan empati.
c. Kekuasaan karisma Sifat bawaan dari seseorang yang mencakup penampilan, karakter dan
kepribadian yang mampu mempengaruhi orang lain untuk suatu tujuan tertentu.

Pada Tabel 1 terlihat bahwa kelompok sumber mengelaborasi atau mengumpulkan sumber-sumber
kekuasaan berdasarkan kedudukan akan berlimpah kekuasaan lainnya dengan baik, ia akan kehilangan
pada orang-orang yang secara hirarkis mempunyai legitimasinya sebagai leader, yang berakibat pada
kedudukan dalam organisasi. Seorang manajer akan munculnya leader-leader bayangan dalam
mempunyai kekuasaan kedudukan paling besar organisasi.
karena ia mampu memainkan keseluruhan sumber-
sumber kekuasaan berdasarkan kedudukan. Posisi Praktik Politik dalam Organisasi
di bawah manajer, seperti kepala bidang atau kepala Setiap aktor termasuk manajer menggunakan
bagian akan menguasai sumber kekuasaan tertentu taktik dan strategi untuk mempengaruhi aktor lain
lebih banyak daripada sumber kekuasaan lainnya dengan menggunakan sumber kekuasaan yang
sesuai tugas dan fungsinya. Sebagai contoh, kepala dimiliki. Secara deskriptif, beberapa taktik yang
bidang perencanaan akan mempunyai kontrol lebih dipakai oleh para aktor adalah sebagai berikut:12
besar terhadap distribusi sumber daya; sementara 1). Membentuk koalisi dengan pihak lain untuk
kepala bagian tata usaha akan mempunyai kontrol meningkatkan dukungan dan sumber daya
lebih besar terhadap ekologi pekerjaan seseorang. 2). Menciptakan suasana (seremoni dan simbol)
Dengan memahami sumber-sumber kekuasaan untuk membentuk persepsi dan perilaku orang-
dalam organisasi, dapat dimengerti bahwa aktor orang sesuai dengan peran dan fungsinya
paling berkuasa adalah aktor yang mampu 3). Mentransformasikan kepentingan kita menjadi
mengumpulkan banyak sumber-sumber kekuasaan; kepentingan pihak lain dengan mengubah
dan hal ini tidak selalu merujuk kepada manajer. persepsi dan tindakan pihak lain
Memang, manajer mempunyai kesempatan lebih 4). Memperluas jumlah pemain yang terlibat dalam
besar untuk mengumpulkan sumber-sumber suatu isu yang menjadi kepentingan kita untuk
kekuasaan. Setidaknya, posisi manajer sudah mendapatkan perhatian yang lebih luas
mendapatkan tiga sumber kekuasaan yaitu otoritas 5). Melaksanakan negosiasi dan tawar-menawar
formal, penggunaan struktur dan aturan, serta kendali dengan pihak lain yang bersinggungan dengan
pengambilan keputusan. Manajer yang tidak mampu kepentingan kita untuk mendapatkan kompromi

162 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 10, No. 4 Desember 2007
Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

6). Memilih waktu yang tepat untuk setiap tindakan Cara-cara mempengaruhi orang dengan pendekatan
agar situasi menguntungkan kita (manajer). rasa takut (paksaan), baik pendekatan lunak maupun
Sarana aktivitas politik untuk saling pendekatan keras akan menghasilkan kendali yang
mempengaruhi antar aktor dalam organisasi adalah bersifat sementara dan reaktif. Efek yang muncul
melalui komunikasi. Hubungan antara komunikasi, akibat mempengaruhi dengan paksaan adalah
penggunaan sumber kekuasaan, menanamkan permusuhan, pertengkaran, oposisi, ketergantungan,
pengaruh, dan pemenangan kepentingan dapat balas dendam, pengendalian sementara, sabotase,
diabstraksikan sebagaimana skema pada Gambar 1. kepatuhan terpaksa, hubungan menang-kalah, hasil-
Lee9 dalam bukunya The Power Principle, hasil sementara, bahkan pemberontakan.9
membagi proses mempengaruhi (proses berkuasa) Di samping cara mempengaruhi dengan
menjadi tiga macam yaitu: (i) mempengaruhi dengan menebar rasa takut, banyak dari kita mempengaruhi
paksaan (rasa takut), (ii) mempengaruhi berdasarkan orang lain dengan cara memberi dan menerima,
manfaat (tukar-menukar), dan (iii) mempengaruhi bertukar, berdagang, dan berusaha melakukan tukar-
berdasarkan prinsip. Mempengaruhi dengan paksaan menukar yang adil (asas pertukaran manfaat).
menghasilkan efek rasa takut; mempengaruhi Dengan demikian, mempengaruhi berdasarkan azas
berdasarkan manfaat menghasilkan efek kewajaran; manfaat pada dasarnya adalah menemukan
selanjutnya mempengaruhi berdasarkan prinsip akan kesepakatan antar kedua belah pihak yang saling
menghasilkan efek rasa hormat. menguntungkan. Konsesi yang dipertukarkan dapat
Mempengaruhi orang dengan rasa takut berupa uang, informasi, keahlian tertentu atau akses
meliputi pendekatan keras dan pendekatan lunak. terhadap sumber daya.9 Sumber-sumber kekuasaan
Cara-cara dengan pendekatan keras, misalnya: berdasarkan azas pertukaran manfaat adalah
menindas, memaksa, mengendalikan, menusuk dari kekuasaan memberi imbalan, kekuasaan
belakang, mengkambinghitamkan, mengintimidasi, berdasarkan posisi, kekuasaan berdasarkan
mengganggu, mengancam, menakut-nakuti, keahlian, kekuasaan terhadap informasi, kekuasaan
meremehkan, menyepelekan, menyalahkan dan terhadap sumber daya, kekuasaan berdasarkan
melemahkan. 9,13 Sementara itu, cara-cara peluang, dan kekuasaan berdasarkan koneksi.9
pendekatan lunak, misalnya: mengaburkan, Apa yang kita lakukan dalam mempengaruhi
memperdayai, menipu, merayu, menghambat, orang lain berdasarkan azas pertukaran manfaat
mengalihkan, membuat sedih, membuat kecil hati, yaitu: (i) membuat kesepakatan, (ii) tawar-menawar,
menghalangi, menyiasati dan merampas hak.9,13 (iii) berdebat, (iv) mengadakan pertukaran,

Gambar 1. Hubungan antara Komunikasi, Taktik Mempengaruhi dan Pemenangan Kepentingan


(Diadaptasi dari Degeling12)

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 10, No. 4 Desember 2007 l 163
Siswanto: Politik dalam Organisasi

(v) konsensus, (vi) saling mengalah, (vii) bahwa setiap individu mempunyai kebebasan untuk
memperebutkan, (viii) bertengkar, dan (ix) mengemukakan pendapat dan berbicara,
berkompromi. Apa yang kita peroleh dari cara sebagaimana diatur dalam Piagam Hak Asasi
mempengaruhi berdasarkan azas manfaat adalah Manusia. Prinsip keadilan mengisyaratkan individu
pola interaksi yang bersifat fungsional dan wajar untuk memberlakukan dan menegakkan aturan-
(tanpa rasa takut). Namun demikian, pola hubungan aturan secara adil dan tidak berat sebelah sehingga
berdasarkan manfaat bersifat sementara dan terdapat distribusi manfaat dan biaya yang pantas.15
bersyarat, artinya bila situasi berubah dan manfaat Tampak bahwa ketiga kriteria penilaian etis dan
tidak didapatkan lagi maka kekuasaan akan tidak etis tersebut bersifat bersaing (trade-off), satu
menghilang (menguap).9 kriteria dapat saling melemahkan atau meniadakan
Cara ketiga untuk mempegaruhi orang lain kriteria lainnya. Misalnya, dalam rangka peningkatan
adalah berdasarkan prinsip kehormatan. Prinsip- efisiensi dan produktivitas organisasi, perusahaan
prinsip kekuasaan berdasarkan kehormatan memecat 10% karyawan yang kurang produktif.
diantaranya adalah persuasif, sabar, lembut, Dalam pandangan utilitarianisme, keputusan ini
menerima, bermurah hati, mengasihi, mengajari, bermanfaat untuk jumlah terbanyak, namun boleh
mendisiplinkan, bersikap konsisten dan hidup jadi mengabaikan hak-hak individu (hak mendapatkan
berintegritas. Hasil-hasil yang diperoleh dari pekerjaan dan penghidupan) dan rasa keadilan
kekuasaan berdasarkan prinsip kehormatan adalah (adanya perlakukan diskriminatif yaitu adanya
kemitraan, sinergi, peningkatan kapasitas, pemecatan sebagian kecil karyawan). Dalam
pengendalian internal yang positif, penguasaan diri, melakukan tindakan politik, siapapun aktornya (bisa
perilaku etis, kesalingtergantungan, proaktivitas, manajer atau staf) haruslah berpedoman pada tiga
kepercayaan, solusi menang-menang, kesepakatan kriteria etis tadi.
kemitraan, dan pola hubungan jangka panjang yang Di samping ketiga kriteria tersebut, ada the
memuaskan.9 golden rule dari perilaku politik, yaitu Perlakukan
Perhatikan ungkapan mutiara berikut: Kekuasaan orang lain sebagaimana kamu menginginkan orang
bisa dipandang sebagai kekuasaan dengan lain memperlakukanmu (Do unto others as you want
ketimbang kekuasaan atas, dan kekuasaan dapat them to do unto you) atau Jangan lakukan sesuatu
digunakan untuk membangkitkan kompetensi dan pada orang lain yang mana kamu tidak menginginkan
kooperasi, bukannya dominansi serta pengendalian orang lain melakukan hal itu kepadamu (Dont do
Anne L Barstow (Dikutip dari Lee9). anything to anyone that you wouldnt want them to
do to you).
Etika Berpolitik dalam Organisasi Sebagai saringan dapat juga dipakai empat
Pembahasan politik organisasi tidaklah langkah pertanyaan berikut: (i) apakah perilaku itu
lengkap tanpa berbicara tentang etika berpolitik merupakan kebenaran?, (ii) apakah perilaku itu adil
dalam organisasi. Pertimbangan etis haruslah untuk semua pihak terkait?, (iii) apakah perilaku itu
merupakan suatu kriteria pengontrol dalam perilaku akan membangun komitmen dan pertemanan yang
politik untuk mempengaruhi pihak lain. Etik adalah lebih baik?, dan (iv) apakah perilaku itu bermanfaat
standar moral apakah suatu perilaku baik atau buruk untuk semua pihak terkait? Apabila jawaban dari
menurut norma masyarakat.14 Perilaku politik yang keempat pertanyaan saringan tersebut, dalam batas-
etis adalah perilaku yang bermanfaat untuk individu batas tertentu memenuhi syarat, maka dapat
dan organisasi, sedangkan perilaku politik yang tidak dikatakan perilaku tersebut adalah etis.14
etis adalah perilaku yang bermanfaat untuk individu Perilaku politik dalam kelompok cara
tetapi melukai organisasi.14 mempengaruhi dengan menebar rasa takut,
Setidaknya terdapat tiga kriteria untuk menilai misalnya menusuk dari belakang, mengintimidasi,
apakah cara kita bertindak etis atau tidak etis yaitu mengkambinghitamkan, mengganggu, mengancam,
prinsip utilitarianisme, hak dan keadilan. Prinsip menakut-nakuti, meremehkan, menyepelekan,
utilitarianisme mengajarkan bahwa keputusan yang menyalahkan, melemahkan, mengaburkan,
kita ambil haruslah memberikan manfaat terbesar memperdayai, menipu, merayu, menghambat,
untuk jumlah orang terbesar. Pandangan demikian mengalihkan, membuat sedih, membuat kecil hati,
menekankan pada kinerja kelompok (kinerja menghalangi, menyiasati dan merampas hak adalah
organisasi). Dengan kata lain, pengambilan perilaku politik yang kurang atau tidak etis. Siapapun
keputusan adalah dalam rangka efisiensi dan orangnya akan sakit hati bila ditusuk dari belakang,
produktivitas organisasi, bukan untuk mengambil dikambinghitamkan, disepelekan, diremehkan,
keuntungan sepihak. Prinsip hak menekankan diperdayai dan tindakan sejenisnya.

164 l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 10, No. 4 Desember 2007
Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Perilaku politik dalam kelompok cara KEPUSTAKAAN


mempengaruhi dengan azas manfaat dan 1. Strauss. A. et al .The Hospital and Its Negotiated
kelompok cara mempengaruhi dengan kehormatan Order, in Friedson, Eliot, The Hospital in Modern
merupakan perilaku politik yang etis dan dapat Society, Free Press J/Glencoe, New York,
diterima semua pihak. Hasil perilaku politik 1963:147-69.
berdasarkan azas manfaat adalah komitmen dan 2. Dahl, R., Analisis Politik Modern (Terjemahan),
konsensus, sehingga perilaku politik demikian Bumi Aksara, Jakarta, 1994.
(meski bersifat situasional) adalah etis dan dapat 3. Morgan, G. Images of Organization, Sage
diterima semua pihak. Selanjutnya, perilaku politik Publications, London, 1996.
berdasarkan asas kehormatan menduduki tataran 4. Bolman, L.G & Deal, T.E. Reframing
tertinggi bila dilihat dari tingkat keetisan-nya. Organizations: Artistry, Choice, and Leadership,
Perilaku politik berdasarkan azas kehormatan Jossey-Bash Publishers, San Francisco, 1991.
mampu menanamkan ideologi dan cara hidup 5. Drory. Perceived Political Climate and Job
kepada pihak lain. Perilaku politik berdasarkan azas Attitudes. Organizational Studies,
kehormatan banyak ditunjukkan oleh para pemimpin 1993;14(1):59-71.
besar dunia. Tokoh Mahatma Gandhi, misalnya, 6. Miles, R.H. Organizational Politics, Macro
mampu mempengaruhi lawan dan kawan karena Organizational Behavior, Goodyear Publishing
prinsip hidup yang dipegangnya yaitu kesederhanaan Co, Santa Monica,1980:151-85.
dan kejujuran. 7. Weber, M. The Theory of Social and Economic
Organization, from Henderson, A.M. and
KESIMPULAN DAN SARAN Parsons, T., Glencoe Press, New York, 1947.
Untuk menjadi manajer yang efektif, 8. Blau, P.M. Exchange and Power in Social Life,
keterampilan manajemen instrumental saja tidaklah Wiley, New York, 1965.
cukup, namun harus dibarengi dengan kemampuan 9. Lee, B. The Power Principle (Terjemahan),
politik yang adekuat. Di dalam setiap kehidupan Binarupa Aksara, Jakarta, 2002.
organisasi baik organisasi formal maupun informal 10. Hawkin, K & Miller. The Essentials of Power,
selalu terdapat fenomena politik yang melibatkan Influence, and Persuasion, Harvard Business
kepentingan, kekuasaan dan pengaruh. Dalam School Press, Boston, 2006.
proses mempengaruhi guna mengejar 11. Yukl, G. A. Leadership in Organizations,
kepentingannya, setiap aktor akan saling memainkan Prentice Hall Inc, New Jersey, 1994.
sumber kekuasaannya untuk mempengaruhi aktor 12. Degeling, P. Management of Organization,
lainnya, sehingga apa yang terjadi tak ubahnya University of New South Wales, Sydney, 1997.
seperti permainan. Apapun taktik yang dipakai oleh 13. Mc Bride, N. Politics, Power and Influence,
aktor dalam rangka mempengaruhi aktor lain untuk 2004, diakses dari http://
mengejar kepentingannya selayaknya harus tetap www.nicholsonmcbride.com/news/index.php.
dalam kerangka etika berorganisasi dengan tetap 14. Irwin. Power, Politics and Ethics, The McGraw
memegang the golden rule yaitu perlakukan orang Hill Companies, New York, 2002.
lain sebagaimana kamu menginginkan orang lain 15. Robbins, S. Organizatinal Behavior
memperlakukanmu atau jangan lakukan sesuatu (Terjemahan), PT Indeks, Jakarta, 2006.
pada orang lain yang mana kamu tidak menginginkan
orang lain melakukan hal itu kepadamu.

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 10, No. 4 Desember 2007 l 165