Anda di halaman 1dari 3

I.

TINJAUAN PUSTAKA

Kalorimeter adalah pengukuran panas secara kuantitatif yang masuk selama proses kimia.
Kalorimeter adalah alat untuk mengukur kalor dari reaksi yang dikeluarkan. Kalorimeter dapat
digunakan untuk menghitung energi dalam makanan dalam atmosfer dan mengukur jumlah
energi yang meningkat dalam suhu kalorimeter (Wahyu, 2010).

Energi mekanik akibat gerakan partikel materi dan dapat dipindah dari satu tempat ke
tempat lain disebut kalor. Pengukuran jumlah kalor reaksi yang diserap atau dilepaskan pada
suatu reaksi kimia dengan eksperimen disebut kalorimetri. Dengan menggunakan hukum Hess,
kalor reaksi suatu reaksi kimia dapat ditentukan berdasarkan data perubahan entalpi
pembentukan standar, energi ikatan dan secara eksperimen. Proses dalam kalorimetri
berlangsung secara adiabatik, yaitu tidak ada energi yang lepas atau masuk dari luar ke dalam
kalorimeter. Sedang hubungan kuantitatif antara kalor dan bentuk lain energi disebut
termodinamika. Termodinamika dapat didefinisikan sebagai cabang kimia yang menangani
hubungan kalor, kerja, dan bentuk lain energi dengan kesetimbangan dalam reaksi kimia dan
dalam perubahan keadaan. Hukum pertama termodinamika menghubungkan perubahan energi
dalam suatu proses termodinamika dengan jumlah kerja yang dilakukan pada sistem dan jumlah
kalor yang dipindahkan ke sistem (Keenan, 1980).

Suatu zat apabila diberi kalor terus menerus dan melepas kalor maksimum, maka zat
akan mengalami perubahan wujud. Peristiwa ini juga berlaku jika suatu zat melepaskan kalor
terus-menerus dan mencapai suhu minimumnya. Oleh karena itu selain kalor dapat digunakan
untuk mengubah suhu zat juga dapat digunakan untuk mengubah wujud zat (Soedojo, 1999).

Pengukuran jumlah kalor reaksi yang diserap atau dilepaskan pada suatu reaksi kimia
dengan eksperimen disebut kalorimeter. Dengan menggunakan hukum hess, kalor reaksi suatu
reaksi kimia dapat ditentukan berdasarkan data perubahan entalpi. Pembentukan standart, energi
ikatan dan secara eksperimen. Proses dalam kalorimeter berlangsung secara adiabatik, yaitu tidak
ada energi yang lepas atau masuk dari luar kedalam kalorimeter, dan hukum yang berlaku pada
proses ini adalah hokum azas blackyaitu:
Qlepas= Qterima
Q = M.C.T
Keterangan:
Q = jumlah kalor (joule)
M = massa zat (gram)
C = kalor jenis (kal/groc)
T = perubahan suhu
(Zemansky, 1988)

Kalor jenis zat adalah kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu satu satuan massa zat
tersebut sebanyak satu derajat. Kapasitas kalor adalah kalor yang diperlukan untuk menaikkan
suhu seluruh benda sebanyak satu derajat. Kalor lebur adalah kalor yang dibutuhkan untuk
melebur satu satuan massa pada suhu tetap. Kalor beku adalah kalor yang dilepaskan ketika zat
membeku. Titik lebuh normal adalah titik dimana benda tersebut berubah wujud menjadi cair.
Kalor uap adalah jumlah kalor yang diperlukan untuk menguapkan satu satuan massa cairan pada
suhu tetap. Kalor embun adalah jumlah kalor yang dibutuhkan untuk berubah wujud dari gas ke
cair satu satuan massa cairan pada suhu tetap. Titik didih normal adalah suhu dimana tekanan zat
cair sama dengan tekanan eksternal yang dialami oleh cairan (Bueche, 2006).

Azas black adalah hukum yang menyatakan bahwa kalor yang dilepaskan oleh zat
bersuhu tinggi akan selalu sama dengan jumlah kalor yang diterima dan zat lain yang bersuhu
rendah. Untuk menentukan kalor jenis suatu benda digunakan:
Cb=((Mk+Ck+Ma+Cd)(Tc-Ta))/(Mb(Tb-Tc)) (persamaan 4.4) Dari persamaan tersebut dapat
diturunkan menjadi: Mb Cb (Tb-Tc) = (Mk.Ck+Ma.Ca) (Tc-Ta)
Mb Cb T1 = Mk Ck (Tc-Ta) + Ma Ca (Tc-Ta) Qb = Qk+Qa (persamaan 4.6)
Sedangkan untuk menentukan kalor lebur es digunakan: Les= ((Mk Ck+Ma Ca)(Ta-Ta)-Mc Ca
Tc)/Mes (persamaan 4.5) Dari persamaan tersebut dapat diturunkan menjadi: Les.Mes =
(Mk.Ck+Ma.Ca) Tc-Ta Mc Ca Tc Mes.Les+Ma Ca Ta = Mk Ck (Tc-Ta) + Ma Ca (Tc-Ta) QL
+ Qa.C = Qk+Qa (persamaan 4.6)
(Giancoli,2001).

Bila dua sistem yang temperaturnya berbeda-beda dipersatukan, maka temperature


terakhir yang dicapai oleh kedua sistem tersebut berada diantara dua temperatur permukaan
tersebut. Suatu zat bahan (material substance) yakni kalorik, terdapat didalam setiap benda.
Sebuah benda pada temperatur tinggi mengandung lebih banyak kalori daripada benda
temperatur rendah. Bila kedua benda tersebut disatukan, maka benda yang kaya kalorinya
kehilangan sebagian kalorinya yang diberikank epada benda lain sampai kedua benda tersebut
belum mencapai temperatur yang sama. Teori kalorik mampu menjelaskan percampuran zat-zat
didalam sebuah kalorimeter. Sedangkan kalorimeter tersebut merupakan alat untuk menentukan
kalor jenis suatu zat (Halliday, 1999).