Anda di halaman 1dari 15

Laporan Praktikum Kimia Organik I

IDENTIFIKASI GUGUS FUNGSIONAL


Hidrokarbon, Alkohol Dan Fenol Serta Aldehid Dan Keton

Tanggal Percobaan: Senin, 28 November 2016


Tanggal Pengumpulan: Kamis, 8 November 2016
Nama: Muhamad Adnan Rinaldi
NIM: 1157040035
Semester/Kelas: III/Kimia A
Kelompok: 4

Jurusan Kimia
Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati
Bandung
2016
1. Tujuan Percobaan
a. Mengidentifikasi gugus hidrokarbon dari sampel benzena, toluena dan
minyak parafin.
b. Mengidentifikasi gugus alkohol dan fenol dari sampel sikloheksanol,
etanol, dan fenol.
c. Mengidentifikasi gugus aldehid dan keton dari sampel aseton dan
sikloheksanon.

2. Teori Dasar

Senyawa di alam begitu banyak dan melimpah, saat ini diperkirakan


sudah mencapai jutaan dan akan terus bertambah dengan hadirnya senyawa-
senyawa baru hasil sintesis para ahli kimia organik. Dapat dipastikan
senyawa organik merupakan senyawa yang paling banyak dibandingkan
dengan senyawa lain (Riswiyanto, 2009).
Senyawa karbon atau yang biasa dikenal dengan senyawa organik
adalah suatu senyawa yang unsur-unsur penyusunnya terdiri dari atom
karbon dan atom-atom hidrogen, oksigen, nitrogen, sulfur, halogen, atau
fosfor (Riswiyanto, 2009).
Salah satu langkah untuk analisis kualitatif dari senyawa organik
adalah melalui identitas gugus fungsi. Dengan mengetahui gugus fungsi
maka dapat diketahui golongan dari senyawa organik tersebut karena setiap
golongan senyawa organik mempunyai sifat tertentu bergantung pada gugus
fungsional yang dimilikinya. Secara umum senyawa organik yang
mempunyai gugus fungsi yang sama akan mempunyai sifat yang sama
(Anonim, 2014).

HIDROKARBON
Dalam bidang kimia, hidrokarbon adalah sebuah senyawa yang
terdiri dari unsur atom karbon (C) dan atom hidrogen (H). Seluruh
hidrokarbon memiliki rantai karbon dan atom-atom hidrogen yang berikatan
dengan rantai tersebut. Istilah tersebut digunakan juga sebagai pengertian
dari hidrokarbon alifatik.
Tipe-tipe hidrokarbon
Klasifikasi hidrokarbon yang dikelompokkan oleh tatanama organik adalah:
a. Hidrokarbon jenuh/tersaturasi (alkana) adalah hidrokarbon yang paling
sederhana. Hidrokarbon ini seluruhnya terdiri dari ikatan tunggal dan terikat
dengan hidrogen. Rumus umum untuk hidrokarbon tersaturasi adalah
CnH2n+2. Hidrokarbon jenuh merupakan komposisi utama pada bahan bakar
fosil dan ditemukan dalam bentuk rantai lurus maupun bercabang.
Hidrokarbon dengan rumus molekul sama tetapi rumus strukturnya berbeda
dinamakan isomer struktur.
b. Hidrokarbon tak jenuh/tak tersaturasi adalah hidrokarbon yang memiliki
satu atau lebih ikatan rangkap, baik rangkap dua maupun rangkap tiga.
Hidrokarbon yang mempunyai ikatan rangkap dua disebut dengan alkena,
dengan rumus umum CnH2n. Hidrokarbon yang mempunyai ikatan rangkap
tiga disebut alkuna, dengan rumus umum CnH2n-2.
c. Sikloalkana adalah hidrokarbon yang mengandung satu atau lebih cincin
karbon. Rumus umum untuk hidrokarbon jenuh dengan 1 cincin adalah
CnH2n.
d. Hidrokarbon aromatik, juga dikenal dengan arena, adalah hidrokarbon yang
paling tidak mempunyai satu cincin aromatik.
Hidrokarbon dapat berbentuk gas (contohnya metana dan propana),
cairan (contohnya heksana dan benzena), lilin atau padatan dengan titik
didih rendah (contohnya paraffin wax dan naftalena) atau polimer
(contohnya polietilena, polipropilena dan polistirena).
ALKOHOL
Dalam kimia, alkohol (atau alkanol) adalah istilah yang umum untuk
senyawa organik apa pun yang memiliki gugus hidroksil (-OH) yang terikat
pada atom karbon, yang ia sendiri terikat pada atom hidrogen dan/atau atom
karbon lain.
Gugus fungsional alkohol adalah gugus hidroksil yang terikat pada
karbon hibridisasi sp3. Ada tiga jenis utama alkohol - 'primer', 'sekunder,
dan 'tersier'. Nama-nama ini merujuk pada jumlah karbon yang terikat pada
karbon C-OH. Alkohol primer paling sederhana adalah metanol. Alkohol
sekunder yang paling sederhana adalah 2-propanol, dan alkohol tersier
paling sederhana adalah 2-metil-2-propanol.
Rumus kimia umum alkohol adalah CnH2n+1OH'
FENOL
Fenol atau asam karbolat atau benzenol adalah zat kristal tak
berwarna yang memiliki bau khas. Rumus kimianya adalah C6H5OH dan
strukturnya memiliki gugus hidroksil (-OH) yang berikatan dengan cincin
fenil. Kata fenol berasal dari Fenil Alkohol (Phenyl Alcohol). Selain itu,
nama fenol juga merujuk pada beberapa zat yang memiliki cincin aromatik
yang berikatan dengan gugus hidroksil.
Fenol memiliki kelarutan terbatas dalam air, yakni 8,3 gram/100 ml.
Fenol memiliki sifat yang cenderung asam, artinya ia dapat melepaskan ion
H+ dari gugus hidroksilnya. Pengeluaran ion tersebut menjadikan anion
fenoksida C6H5O yang dapat dilarutkan dalam air.
Dibandingkan dengan alkohol alifatik lainnya, fenol bersifat lebih
asam. Hal ini dibuktikan dengan mereaksikan fenol dengan NaOH, di mana
fenol dapat melepaskan H+. Pada keadaan yang sama, alkohol alifatik
lainnya tidak dapat bereaksi seperti itu. Pelepasan ini diakibatkan
pelengkapan orbital antara satu-satunya pasangan oksigen dan sistem
aromatik, yang mendelokalisasi beban negatif melalui cincin tersebut dan
menstabilkan anionnya.
ALDEHID
Alkanal merujuk pada segolongan senyawa organik yang memiliki
gugus fungsional karbonil yang terikat pada rantai karbon di satu sisi dan
atom hidrogen di sisi yang lain. Golongan ini dikenal pula sebagai golongan
aldehid (aldehid juga merupakan nama gugus fungsional). Contoh senyawa
yang paling dikenal dari golongan ini adalah metanal atau lebih populer
dengan nama trivialnya formaldehida atau formalin.
KETON
Keton bisa berarti gugus fungsi yang dikarakterisasikan oleh sebuah
gugus fungsi karbonil (O=C) yang terhubung dengan dua atom karbon
ataupun senyawa kimia yang mengandung gugus karbonil. Keton memiliki
rumus umum R1(CO)R2.
Senyawa karbonil yang berikatan dengan dua karbon membedakan
keton dari asam karboksilat, aldehida, ester, amida, dan senyawa-senyawa
beroksigen lainnya. Ikatan ganda gugus karbonil membedakan keton dari
alkohol dan eter. Keton yang paling sederhana adalah aseton (secara
sistematis dinamakan 2-propanon).
Atom karbon yang berada di samping gugus karbonil dinamakan
karbon-. Hidrogen yang melekat pada karbon ini dinamakan hidrogen-.
Dengan keberadaan asam katalis, keton mengalami tautomerisme keto-enol.
Reaksi dengan basa kuat menghasilkan enolat.
Gugus karbonil bersifat polar, sehingga mengakibatkan senyawa
keton polar. Gugus karbonil akan berinteraksi dengan air melalui ikatan
hidrogen, sehingga keton larut dalam air. Ia merupakan akseptor ikatan
hidrogen, dan bukannya donor, sehingga ia tidak akan membentuk ikatan
hidrogen dengan dirinya sendiri. Hal ini membuat keton lebih mudah
menguap daripada alkohol dan asam karboksilat.
(Wikipedia, 2016)

3. Cara Kerja
A. Tes pada senyawa hidrokarbon.
Tes Bayer
Sampel benzena dimasukkan ke dalam tabung reaksi lalu ditambahkan
3 tetes KMnO4 dan 3 ml Na2CO3. Kemudian dikocok lalu diamati
hasilnya. Hal yang sama dilakukan pada sampel toluen dan minyak
parafin.
Tes Asam Sulfat
Larutan H2SO4 dimasukkan dengan hati-hati ke dalam tabung reaksi
melalui dinding tabung. Kemudian dimasukkan sampel benzena lalu
diamati hasilnya. Hal yang sama dilakukan pada sampel toluen dan
minyak parafin.
*saat mereaksikan minyak parafin, tabung reaksi harus disimpan di
dalam gelas kimia berisi air panas (sambil dipanaskan di atas penangas
air)
B. Tes pada senyawa alkohol.
Uji Lucas
1 ml sampel sikloheksanol dimasukkan ke dalam tabung reaksi lalu
ditambahkan 1 ml reagen lucas. Amati hasilnya. Hal yang sama
dilakukan pada sampel etanol dan fenol.
Uji Kromat (Uji Bordwell-Wellman)
1 ml sampel sikloheksanol dimasukkan ke dalam tabung reaksi
kemudian ditambahkan 10 tetes aseton dan 2 tetes asam kromat
kemudian dipanaskan lalu amati hasilnya. Hal yang sama dilakukan
pada sampel etanol dan fenol.
Uji Reaksi dengan Alkali
1 ml sampel sikloheksanol dimasukkan ke dalam tabung reaksi lalu
ditambahkan 5 ml larutan NaOH 10% lalu diamati hasilnya. Hal yang
sama dilakukan pada sampel etanol dan fenol.
C. Tes pada senyawa aldehid dan keton.
Uji Asam Kromat
1 ml sampel aseton dimasukkan ke dalam tabung reaksi lalu
ditambahkan dengan 4 tetes asam kromat lalu diaduk dan didiamkan
selama 10 menit dan hasilnya diamati. Hal yang sama dilakukan pada
sampel sikloheksanon.
Uji Fenilhidrazin
1 ml sampel aseton dimasukkan ke dalam tabung reaksi lalu ditetesi 20
tetes larutan fenilhidrazin lalu diamati hasilnya. Hal yang sama
dilakukan pada sampel sikloheksanon.

4. Hasil Pengamatan
Perlakuan Pengamatan

Tes Senyawa Hidrokarbon (Tes Bayer)

Sampel benzena dimasukkan ke Sampel benzena berwarna jingga.


dalam tabung reaksi.
Ditambahkan 3 tetes KMnO4 dan 3 KMnO4 berwarna ungu pekat dan
ml Na2CO3. Na2CO3 tidak berwarna.

Kemudian dikocok lalu diamati Larutan menjadi berwarna merah


hasilnya. kecoklatan.

Hal yang sama dilakukan pada Toluena berupa cairan tidak


sampel toluen. berwarna.
Terbentuk dua lapisan warna, pada
lapisan atas tidak berwarna dan
lapisan bawah berwarna ungu.

Hal yang sama dilakukan pada Minyak parafin berupa cairan


sampel minyak parafin. kental tidak berwarna.
Larutan menjadi berwarna ungu
tetapi tidak merata.

Tes Senyawa Hidrokarbon (Tes Asam Sulfat)

Larutan H2SO4 dimasukkan H2SO4 pekat berupa cairan


dengan hati-hati ke dalam tabung berwarna putih keruh.
reaksi melalui dinding tabung.
Kemudian dimasukkan sampel Suhu pada tabung meningkat dan
benzena lalu diamati hasilnya. larutan menjadi berwarna kuning.

Hal yang sama dilakukan pada Suhu pada tabung meningkat dan
sampel toluen. larutan menjadi berwarna kuning
muda sedikit keruh.

Hal yang sama dilakukan pada Larutan menjadi berwarna putih


sampel minyak parafin. keruh dan terdapat buih.

Tes Pada Senyawa Alkohol (Uji Lucas)

1 ml sampel sikloheksanol Sikloheksanol berupa cairan tidak


dimasukkan ke dalam tabung berwarna.
reaksi.
Lalu ditambahkan 1 ml reagen Reagen lucas berupa cairan
lucas. Lalu diamati hasilnya. berwarna putih.
Larutan menjadi berwarna putih
keruh.

Hal yang sama dilakukan pada Etanol berupa cairan tak berwarna.
sampel etanol. Larutan menjadi berwarna putih
keruh.

Hal yang sama dilakukan pada Fenol berupa cairan berwarna


sampel fenol. putih.
Terdapat 2 lapisan setelah
direaksikan. Lapisan atas berwarna
ungu muda dan lapisan bawah
berwarna putih.
Tes Pada Senyawa Alkohol (Uji Kromat (Uji Bordwell-Wellman))

1 ml sampel sikloheksanol
dimasukkan ke dalam tabung
reaksi.
Kemudian ditambahkan 10 tetes Aseton berupa cairan tak
aseton dan 2 tetes asam kromat berwarna.
Asam kromat berupa cairan
berwarna jingga.

Lalu dipanaskan lalu diamati Larutan menjadi tidak berwarna.


hasilnya.
Hal yang sama dilakukan pada Larutan menjadi tidak berwarna.
sampel etanol.
Hal yang sama dilakukan pada Terdapat 2 lapisan. Lapisan atas
sampel fenol. berwarna merah muda dan lapisan
bawah berwarna putih.

Tes Pada Senyawa Alkohol (Uji Reaksi dengan Alkali)

1 ml sampel sikloheksanol
dimasukkan ke dalam tabung
reaksi.
Lalu ditambahkan 5 ml larutan Larutan NaOH berupa cairan tidak
NaOH 10% lalu diamati hasilnya. berwarna.
Terdapat 2 lapisan. Lapisan atas
berwarna putih keruh dan lapisan
bawah tidak berwarna.

Hal yang sama dilakukan pada Larutan menjadi tidak berwarna.


sampel etanol.
Hal yang sama dilakukan pada Larutan menjadi tidak berwarna.
sampel fenol.
Tes pada senyawa aldehid dan keton (Uji Asam Kromat)

1 ml sampel aseton dimasukkan ke


dalam tabung reaksi.
Lalu ditambahkan dengan 4 tetes Larutan menjadi berwarna kuning.
asam kromat lalu diaduk dan
didiamkan selama 10 menit dan
hasilnya diamati.
Hal yang sama dilakukan pada Terdapat 2 lapisan. Lapisan atas
sampel sikloheksanon. berwarna putih dan lapisan bawah
tidak berwarna.

Tes pada senyawa aldehid dan keton (Uji Fenilhidrazin)

1 ml sampel aseton dimasukkan ke


dalam tabung reaksi.
Ditetesi 20 tetes larutan Fenilhidrazin berupa cairan
fenilhidrazin lalu diamati hasilnya. berwarna kuning muda.
Larutan menjadi berwarna kuning.

Hal yang sama dilakukan pada Larutan menjadi berwarna kuning.


sampel sikloheksanon.

5. Pembahasan

Gugus fungsi merupakan kelompok atom dalam molekul yang


berperan dalam memberikan karakteristik pada molekul tersebut. Untuk
mengidentifikasi suatu gugus fungsi, dilakukan uji penambahan suatu
reagen tertentu ke dalam sampel.

Percobaan pertama adalah identifikasi pada senyawa hidrokarbon


dengan tes bayer dan tes asam sulfat, sampel yang digunakan adalah
benzena, toluen, dan minyak parafin.
Uji bayer dilakukan dengan penambahan 3 tetes KMnO4 dan 3 ml
Na2CO3. KMnO4 merupakan senyawa oksidator yang digunakan untuk
mengetahui adanya ikatan rangkap atau tidak pada suatu senyawa.

Hasil positif ditunjukkan dengan hilangnya warna ungu pada reagen


bayer (KMnO4). Ketika benzena dicampurkan dengan KMnO4, warna
larutan menjadi ungu tapi setelah ditambahkan Na2CO3, warna ungu
menghilang dan warna larutan menjadi merah kecoklatan. Hal ini berarti
menunjukkan hasil positif karena benzena tidak reaktif dengan oksidator
MnO4, warna larutan sebelum penambahan natrium karbonat adalah ungu
yang merupakan warna dari KMnO4 itu sendiri. Tetapi berubah warna
ketika ditambahkan natrium karbonat yang ditandai hilangnya warna ungu
pada larutan sampel.

Pada sampel toluena, setelah sampel ditambahkan KMnO4, larutan


tetap berwarna ungu, tetapi setelah penambahan Na2CO3, terbentuk dua
warna yaitu tidak berwarna pada lapisan atas dan warna ungu pada lapisan
bawah. Toluena merupakan bahan dari produksi asam benzoat dengan
reaksi oksidasi. Tetapi membutuhkan katalis agar reaksi berjalan cepat.

Jadi, Na2CO3 yang ditambahkan merupakan katalis. Lapisan tidak


berwarna merupakan asam benzoat yang terbentuk dan lapisan bawah
berwarna ungu merupakan mangan yang belum bereaksi karena mangan
berwarna ungu.

Pada sampel minyak parafin, hasil reaksi menunjukkan bahwa


larutan sampel tidak bereaksi dengan reagen lucas karena minyak parafin
merupakan gugus alkana yang tidak memiliki ikatan rangkap sehingga atom
H pada setiap atom C maksimal yang membuatnya menjadi kurang reaktif
daripada senyawa rangkap. Dan ketika mereaksikannya minyak parafin,
harus dalam keadaan panas karena minyak parafin dalam suhu rendah akan
berbentuk padatan.
Selanjutnya adalah tes asam sulfat. Asam sulfat yang digunakan
merupakan asam sulfat dengan kepekatan tinggi sehingga harus lebih hati-
hati saat memindahkannya atau mereaksikannya.

Saat sampel benzena dimasukkan ke dalam tabung reaksi berisi


asam sulfat pekat, suhu langsung meningkat yang menunjukkan adanya
reaksi eksoterm dan larutan menjadi berwarna kuning yang menunjukkan
bahwa benzena telah bereaksi dengan asam sulfat membentuk asam benzena
sulfonat (C6H6O3S).

Senyawa toluena (metilbenzen) yang merupakan hidrokarbon


aromatik juga bereaksi dengan asam sulfat dan merupakan reaksi eksoterm
karena suhunya meningkat tetapi warna yang dihasilkan adalah kuning
muda keruh.

Minyak parafin juga bereaksi dengan asam sulfat karena uji asam
sulfat ini menghasilkan suatu senyawa alkil hidrosulfat yang dapat diperoleh
dari alkana, buih yang dihasilkan merupakan tanda bahwa sedang terjadi
reaksi tetapi alkana yang bereaksi masih dalam jumlah yang sedikit.

Percobaan selanjutnya adalah identifikasi pada senyawa alkohol


dengan menggunakan sampel sikloheksanol, etanol, dan fenol.

Uji pertama yang dilakukan adalah uji lucas yang pada prinsipnya
untuk mengetahui alkohol primer, sekunder, atau tersier. Alkohol primer
tidak akan bereaksi dengan reagen lucas, alkohol sekunder akan bereaksi
dengan lambat sedangkan alkohol tersier akan bereaksi dengan cepat.

Sikoheksanol bereaksi dengan reagen lucas mengasilkan larutan


berwarna putih keruh dengan reaksi yang relatif lambat karena
sikloheksanol merupakan alkohol sekunder.

Etanol yang direaksikan dengan reagen lucas menghasilkan larutan


berwarna putih keruh yang secara fisik berarti bereaksi, tetapi secara kimia,
etanol yang merupakan alkohol primer tidak mudah bereaksi dengan reagen
lucas. Sehingga dapat disimpulkan bahwa warna putih keruh adalah warna
dari reagen lucas itu sendiri. Hal ini terbukti dengan membandingkan hasil
reaksinya dengan hasil reaksi sikloheksanol. Hasil dari reaksi etanol dan
dengan reagen lucas lebih merata.

Fenol yang ditambahkan reagen lucas mereagen lucas tidak merata


warna putihnya sedangkan hasil reaksi sikloheksanol nghasilkan dua lapisan
warna yaitu lapisan atas berwarna ungu muda dan lapisan bawah berwarna
putih yang menandakan fenol cepat bereaksi dengan reagen lucas karena
fenol merupakan alkohol tersier.

Selanjutnya uji asam kromat (uji bordwell-wellman) dengan


menggunakan aseton sebagai pelarut dan asam kromat sebagai penguji.
Secara teori, alkohol primer dan sekunder akan mudah teroksidasi dengan
asam kromat sedangkan alkohol tersier tidak.

Pada sampel sikloheksanol dan etanol menghasilkan larutan yang


sama yaitu tidak berwarna. Warna jingga dari asam kromat yang
menghilang menandakan terjadinya reaksi pada kedua sampel ini.

Larutan fenol yang diuji menghasilkan dua lapisan warna yaitu


merah muda pada lapisan atas dan putih pada lapisan bawah yang
menunjukkan bahwa fenol tidak larut dalam asam kromat karena
kebanyakan fenol merupakan asam lemah dan jika asam dicampur dengan
asam, tidak akan terjadi reaksi.

Selanjutnya uji dengan senyawa alkali yang menggunakan NaOH


sebagai reagen.

Sikloheksanol yang merupakan asam lemah akan bereaksi dengan


NaOH yang bersifat basa, pada percobaan ini terbentuk dua lapisan yaitu
lapisan atas berwarna putih keruh dan lapisan bawah tidak berwarna.

Etanol dan fenol pun akan bereaksi dengan NaOH menghasilkan


larutan tidak berwarna.
Reaksi asam basa seharusnya menghasilkan garam, tetapi pada
percobaan ini sampel yang digunakan tidak banyak, sehingga garam yang
terbentuk tidak terlihat.

Selanjutnya adalah percobaan identifikasi senyawa aldehid dan


keton dengan menggunakan sampel aseton dan sikloheksanon.

Tes pertama yaitu uji asam kromat. Secara teori, keton tidak akan
teroksidasi dengan asam kromat ini, tetapi aldehid akan bereaksi dengan
asam kromat ditandai dengan warna hijau dari C3+.

Pada kedua sampel, tidak dihasilkan warna hijau sehingga dapat


disimpulkan bahwa keduanya merupakan jenis keton. Hasil campuran dari
aseton dan asam kromat adalah larutan berwarna kuning muda, warna
kuning dihasilkan dari asam kromat itu sendiri dan warnanya terlihat sedikit
memudar karena terhalang oleh aseton yang tidak berwarna. Sedangkan
pada sampel sikloheksanon, terdapat dua lapisan yang terbentuk yaitu warna
putih pada lapisan atas dan lapisan bawah yang tidak berwarna.

Selanjutnya adalah tes fenilhidrazin. Fenilhidrazin akan bereaksi


dengan sikloheksanon dan aseton. Pada percobaan ini ditandai dengan
warna kuning muda dari fenilhidrazin menjadi semakin pekat ketika
direaksikan dengan sampel.

6. Kesimpulan
a. Hasil dari percobaan membuktikan hasil yang positif. Dari uji bayer
dapat diketahui bahwa benzena dan toluena memiliki ikatan rangkap.
Dan minyak parafin memiliki ikatan tunggal.
b. Hasil dari percobaan menunjukkan hasil yang positif. Dari uji lucas
dapat diketahui bahwa sikloheksanol merupakan alkohol sekunder,
fenol merupakan alkohol tersier dan etanol merupakan alkohol primer.
c. Dari percobaan dapat diketahui bahwa kedua sampel merupakan keton.
Secara teori pun kedua sampel merupakan keton.
7. Daftar Pustaka
Anonim. 2014. http://www.chem-is-try.org. Diakses pada tanggal 4
Desember 2016.
Fesseden and Fesseden. 1986. Kimia Organik Jilid 1. Erlangga: Jakarta.
Riswiyanto. 2009. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga.
Wikipedia. 2016. Alkanal. Diambil dari
https://id.wikipedia.org/wiki/Alkanal Diakses pada tanggal 4 Desember
2016.
Wikipedia. 2016. Alkohol. Diambil dari
https://id.wikipedia.org/wiki/Alkohol Diakses pada tanggal 4 Desember
2016.
Wikipedia. 2016. Fenol. Diambil dari https://id.wikipedia.org/wiki/Fenol
Diakses pada tanggal 4 Desember 2016.
Wikipedia. 2016. Gugus Fungsional. Diambil dari
https://id.wikipedia.org/wiki/Gugus_fungsional Diakses pada tanggal 4
Desember 2016.
Wikipedia. 2016. Hidrokarbon. Diambil dari
https://id.wikipedia.org/wiki/Hidrokarbon Diakses pada tanggal 4
Desember 2016.
Wikipedia. 2016. Keton. Diambil dari https://id.wikipedia.org/wiki/Keton
Diakses pada tanggal 4 Desember 2016.