Anda di halaman 1dari 12

PERTUMBUHAN TANAMAN KANGKUNG DARAT( Ipomoea reptans Poir.

) DEN-
GAN PEMBERIAN PUPUK ORGANIK BERBAHAN DASAR KOTORAN KELINCI

Irawati, Zuchrotus Salamah

ABSTRAK

P
enelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan tanaman kangkung darat den-
gan pemberian pupuk organik berbahan dasar kotoran kelinci dan untuk mengetahui
dosis kompos yang tepat untuk pertumbuhan tanaman kangkung darat serta untuk
mengetahui apakah hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai sumber belajar siswa SMA
kelas XII pada materi pembelajaran pertumbuhan tumbuhan.
Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimen yang menggunakan Rancangan
Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor yaitu dosis kompos terdiri dari 5 perlakuan yaitu:
D1=20 g/3 kg tanah, D2=40 g/3 kg tanah, D3=60 g/3 kg tanah, D4=40 g/3 kg tanah, D5=100
g/3 kg tanah masing-masing dengan 4 kali ulangan. Parameter pertumbuhan tanaman yang diu-
kur meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, panjang daun, panjang akar, berat basah dan berat
kering tanaman. Untuk mengetahui hasil penelitian diuji dengan Analisis Varian (ANAVA) dan
apabila ada perbedaan maka dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf 5%.
Pertumbuhan tanaman kangkung darat dengan pemberian pupuk organik berbahan
dasar kotoran kelinci yang berbeda-beda menunjukkan hasil yang berbeda pula. Dosis kompos
yang tepat untuk pertumbuhan tanaman kangkung darat adalah 60 g/3 kg tanah. Hasil penelitian
ini melalui metode pengkajian diharapkan dapat digunakan sebagai sumber belajar siswa SMA
kelas XII pada materi pembelajaran pertumbuhan tumbuhan.

Kata kunci : Pertumbuhan, Kangkung Darat (Ipomoea reptans, Poir.), Kotoran Kelinci

JURNAL BIOEDUKATIKA VOL. 1 NO. 1 JULI 2013 HAL. 1 - 96 


PENDAHULUAN kseimbangan antara penyerapan hara yang
cepat dengan pembentukan hara yang lam-
Kangkung merupakan jenis sayuran
bat. Oleh karena itu, pemupukan merupakan
yang sudah dikenal oleh seluruh lapisan ma-
suatu keharusan dalam sistem pertanian (Se-
syarakat Indonesia, kangkung darat meru-
tiawan, 2005).
pakan tanaman berumur pendek, yang men-
Pupuk yang digunakan bisa beru-
gandung gizi cukup tinggi, yaitu vitamin A,
pa pupuk organik atau pupuk anorganik.
B, C, protein, kalsium, fosfor, sitosterol dan
Penggunaan pupuk anorganik secara terus
bahan-bahan mineral terutama zat besi yang
menerus akan berdampak negatif terhadap
berguna bagi pertumbuhan badan dan kes-
produktivitas tanah. Karena itu, memupuk
ehatan (Anonim, 2000).
tanaman lebih dianjurkan menggunakan pu-
Sayuran ini dapat tumbuh dengan
puk organik. Pupuk organik dapat berupa
baik di pekarangan rumah, maupun areal
kompos, pupuk kandang, pupuk hijau dan
persawahan. Kangkung juga dapat hidup
pupuk organik cair. Bahan baku pupuk or-
dengan baik di daratan tinggi maupun da-
ganik sangat mudah diperoleh karena me-
ratan rendah sehingga hampir di seluruh
manfaatkan sampah organik yang berada
tanah air kita tanaman ini dapat dibudiday-
disekitar lingkungan. Seperti kotoran kelin-
akan. Selain itu tanaman kangkung darat
ci, tumpukan kotoran kelinci yang dibiarkan
dapat ditanam di daerah yang beriklim panas
begitu saja menyebabkan pencemaran ling-
maupun lembab, serta tumbuh baik pada ta-
kungan serta dapat mengganggu kesehatan.
nah yang kaya bahan organik dan unsur hara
Kotoran kelinci mengandung ber-
yang cukup, sehingga dalam pembudidayaan
bagai kandungan kimia yang sangat ber-
kangkung membutuhkan pupuk untuk men-
manfaat bagi tanaman. Unsur nitrogen yang
goptimalkan pertumbuhan dan hasil panen
terdapat pada kotoran kelinci menyebabkan
(Rukmana, 1994).
daun menjadi lebih besar dan berwarna hijau
Keperluan tanaman akan pupuk
tua. Unsur fosfor berperan dalam proses fo-
sama halnya dengan keperluan manusia
tosintesis sedangkan magnesium merupakan
akan makanan. Selain pemupukan dari luar,
salah satu unsur hara makro yang diperlukan
tanah telah menyediakan hara dan mineral
tanaman sebagai unsur pembentukan kloro-
yang cocok untuk tanaman. Namun, dalam
fil. Pertumbuhan jumlah daun sejalan den-
jangka panjang persediaan hara dalam tanah
gan bertambahnya umur tanaman. Semakin
semakin berkurang akibatnya terjadi ketida-
tua suatu tanaman maka makin banyak tunas
 JURNAL BIOEDUKATIKA VOL. 1 NO. 1 JULI 2013 HAL. 1 - 96
yang muncul sehingga jumlah daun semakin dengan gula putih (2 sendok) kemudian
banyak (Salisbury dan Ross, 1995). di aduk rata.
2). Campuran bahan padat (kotoran kelin-
METODE PENELITIAN ci) di siram dengan campuran bahan cair
Penelitian ini dilaksanakan di desa (EM4, air dan gula putih), kemudian di-
Glagahsari kecamatan Umbulharjo Yogya- aduk hingga tercampur rata. Kadar air
karta. Waktu penelitian dilaksanakan pada campuran bahan sekitar 30 40% yang
bulan November - Desember 2010. Alat ditandai dengan tidak adanya tetesan air
yang digunakan dalam penelitian ini adalah jika bahan di genggam dan akan mekar
timbangan, gelas, baskom, saringan, ukur, jika genggaman bahan dilepas.
mistar, oven, termometer, kertas label, be- 3). Bahan bahan yang sudah dicampur
sek, pH universal, higrometer, hand sprayer, dimasukan ke dalam karung, kemudian
plastik dan bambu untuk rumah penanaman, ujung karung diikat.
polybag dengan ukuran 30x30 cm seban- 4). Suhu kompos dipertahankan 40-500C,
yak 24 buah. Bahan yang digunakan dalam suhu di kontrol setiap hari dengan cara
penelitian ini adalah kotoran kelinci, benih mengaduk bahan tersebut agar suhunya
kangkung darat (Ipomoea reptans, Poir.), air tidak tinggi.
sumur untuk menyiram tanaman, dan tanah 5). Setelah 10 hari, bila kompos sudah matang
sebagai media tanam. sesuai dengan ciriciri sebagai berikut:
Variabel bebas meliputi kotoran jika diraba suhu tumpukan bahan yang
kelinci dengan dosis kompos kotoran kelinci, dikomposkan sudah dingin (mendekati
dalam penelitian ini yang digunakan adalah suhu ruang), tidak mengeluarkan bau
D0 = 0 g (kontrol), D1 = 20 g, D2 = 40 g,D3 busuk, berwarna kehitaman, dan jika di-
= 60 g, D4 = 80 g, D5 = 100 g. Variabel teri- larutkan dalam air tidak akan larut. Maka
kat dalam penelitian ini meliputi tinggi tana- kompos sudah siap untuk digunakan.
man, jumlah daun, berat basah, panjang akar, 6). Kompos yang sudah jadi di analisis kan-
dan berat kering tumbuhan. dungan unsur haranya di Laboratorium
Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan
Persiapan Pemberantasan Penyakit Menular Yogya-
Pembuatan Kompos karta.
1). Semua bahan cair dicampur (EM4 se- Perhitungan Dosis kompos
banyak 3 sendok dan air sebanyak 1 liter) Penggunaan kompos sebagai pupuk
JURNAL BIOEDUKATIKA VOL. 1 NO. 1 JULI 2013 HAL. 1 - 96 
tidak berbeda dengan pupuk kandang, dosis- hama penyakit dan mengurangi resiko
nya pun sama dengan pupuk kandang sekitar gangguan pertumbuhan akibat faktor alam
20 ton/ha (Lingga dan Marsono, 2008). dan lingkungan, rumah plastik di buat dari
1). Kompos per ha per tahun = 20 ton plastik dan bambu untuk penyangga.
= 20.000 kg Persiapan media
Luas lahan 1 ha = 10.000 m2 Tanah dibersihkan dari kerikil dan
Tebal tanah olahan 10 cm = 0,1 m rerumputan, kemudian ditimbang sebanyak
Isi tanah 1 ha = 10.000 m2 x 0,1 m 3 kg. Tanah kemudian dicampur dengan
= 1 x 103 x 103 dm3 kompos sesuai dengan dosis masing-mas-
Berat tanah 1 ha = isi tanah x Bj tanah ing. Tanah yang telah tercampur di masukan
= 1 x 106 dm3 x 1 kg/dm3 dalam polybag ukuran 30 x 30 cm. Media
= 1 x 106 kg siap untuk ditanam.
2). Dosis kompos untuk 1 kg tanah dosis Pemilihan benih
kompos 1 ha x 1 kg tanah per berat. Benih kangkung darat dipilih yang
Tanah 1 ha = 20.000 x 1/100.000 = 0,02 baik dengan cara disortir, salah satu cara un-
kg atau 20 gr. tuk mengetahui adalah dengan cara meren-
Artinya untuk kompos 20 ton per ha, damnya dengan dalam air, jika biji terapung
maka tiap 1 kg tanah olah dibutuhkan maka biji tersebut tidak baik untuk digunak-
0,02 kg atau 20 gr kompos. an.
3). Perlakuan dosis kompos yang digunakan Persemaian
dalam penelitian. Benih tanaman kangkung darat yang
Tanah yang digunakan dalam penelitian baik disebar pada besek (tempat persemaian)
sebanyak 3 kg untuk setiap polybag. yang telah di berisi campuran tanah dan pu-
Dosis kompos yang digunakan dalam puk kandang. Setelah 1 minggu benih yang
penelitian yaitu D0 = 0 g / 3 kg tanah tumbuh baik dan telah memiliki 3 daun per-
(kontrol), D1 = 20 g / 3 kg tanah, D2 = 40 tama semai yang seragam, tanaman baru
g / 3 kg tanah , D3 = 60 g / 3 kg tanah, D4 dipindahkan dalam polybag ukuran 30 x 30
= 80 g, D5 = 100 g / 3 kg tanah. cm yang telah diberi isi media tanam di beri
Pembuatan rumah plastik label atau tanda untuk masing-masing per-
Dalam penelitian ini digunakan lakuan.
rumah plastik dengan ukuran 3 x 2 m yang
bertujuan untuk melindungi tanaman dari
 JURNAL BIOEDUKATIKA VOL. 1 NO. 1 JULI 2013 HAL. 1 - 96
Pelaksanaan penelitian gamatan ini dilakukan seminggu sekali.
Penanaman
Tanaman kangkung darat umur 7 hari Panjang daun
dimasukkan dalam polybag yang telah dise- Panjang daun diukur pada 3 helai
diakan dengan mencabut bibit secara hati- daun di pilih yang sehat dan baik dari mas-
hati (pelan). Agar pencabutan tidak merusak ing masing tanaman, di ukur dari pangkal
perakaran tanaman. Dipilih bibit tanaman daun hingga ujung daun, pengamatan di-
yang memiliki tinggi seragam. Setiap media lakukan seminggu sekali.
tanam (polybag yang sudah dicampurkan Panjang akar
dengan sesuai dengan dosis masing-masing) Panjang akar diukur pada pangkal
di isi satu tanaman. hingga ujung dari akar pokok, pengamatan
Pemeliharaan dilakukan setelah penelitian berakhir
Tanaman disiram dengan air sumur Berat basah
setiap pagi dan sore dengan volume air 100 Berat basah yaitu berat keseluruhan
ml setiap polybag dilakukan setiap hari pada bagian tanaman segar tanpa pengeringan.
saat penanaman sampai panen. Untuk men- Akar, batang dan daun tanaman yang telah
jaga persaingan dan kualitas tanah dilakukan dicuci, ditiriskan. Air yang masih melekat
penyiangan terhadap tanaman pengganggu diangin anginkan lalu timbang secara kes-
lain (gulma). eluruhan. Penimbangan ini dilakukan diakh-
Pengamatan ir penelitian.
Tinggi tanaman (cm) Berat kering
Tinggi tanaman diukur dari pangkal Berat kering di peroleh dengan cara
tanaman sampai ujung daun dengan meng- di timbang berat kering kangkung darat.
gunakan penggaris. Data tinggi tanaman ke- Akar, batang, dan daun tanaman dimasuk-
mudian dicatat dan dikelompokkan sesuai kan dalam lipatan kertas/amplop yang ber-
dengan kode atau label yang tertera pada beda. Pengamatan tanaman dilakukan pada
tanaman tersebut. Pengukuran dilakukan minggu terakhir, dioven dengan suhu 80 0C
seminggu sekali. selama 2 x 24 jam.
Jumlah daun (helai) Pengukuran kondisi abiotik
Jumlah daun dihitung daun yang Pengukuran derajat keasaman (pH)
terbuka lebar, daun yang kuning dan layu media tanam dilakukan dengan menggunak-
atau menguning tidak diperhitungkan. Pen- an pH meter pada media sebelum diberi kon-
JURNAL BIOEDUKATIKA VOL. 1 NO. 1 JULI 2013 HAL. 1 - 96 
sentrasi kotoran kelinci dan media setelah pai standar kompetensi berupa media pem-
diberi konsentrasi kotoran kelinci. belajaran dalam bentuk Power Point pada
Pengukuran suhu lingkungan tempat peme- materi pertumbuhan tumbuhan
liharaan tanaman kangkung darat dengan
menggunakan termometer, dilakukan setiap HASIL DAN PEMBAHASAN

seminggu sekali pada pagi hari jam 06.30, Kandungan unsur hara yang dianalisis

siang hari jam 12.00 dan sore hari jam dalam pupuk berbahan dasar kotoran kelinci

16.30. adalah: C (Karbon), N (Nitrogen), P (Pos-

Pengukuran kelembaban lingkungan for) dan K (Kalium). Adapun analisis pupuk

tempat pemeliharan tanaman kangkung da- berbahan dasar kotoran kelinci dapat dilihat

rat di ukur dengan menggunakan higrom- pada Tabel 3. berikut ini:

eter, dilakukan setiap seminggu sekali pada


Parameter Hasil Uji (%)
pagi hari jam 06. 30, siang hari jam 12.00
N (Nitrogen) 2,34
dan sore hari jam 16.30. P (Posfor) 0,13
Penelitian disusun secara Rancangan K (Kalium) 0,84
Tabel 3. Hasil Uji Kandungan Unsur N, P dan K
Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari satu
Pupuk KotoranKelinci
faktor perlakuan yaitu dosis kotoran kelinci
yang terdiri dari 6 dosis yaitu : D0 = 0 g / 3
Hasil pengukuran tinggi tanaman kang-
kg tanah (kontrol), D1 = 20 g / 3 kg tanah,
kung darat dari beberapa perlakuan menun-
D2 = 40 g / 3 kg tanah , D3 = 60 g / 3 kg
jukkan adanya perbedaan rerata tinggi tana-
tanah, D4 = 80 g/ 3 kg tanah, D5 = 100 g /
man kangkung darat dapat dilihat pada tabel
3 kg tanah masing - masing perlakuan den-
4. Berikut.
gan 4 kali ulangan, sehingga terdapat 24 unit
percobaan. Perla- Rerata Tinggi BNT (0,05) =
Data hasil percobaan di analisis dengan uji kuan Tanaman (cm) 0,11
D0 30.69 a
Analisis Varian (Anava) untuk mengetahui D1 30.68 a
perbedaan antar perlakuan. Apabila hasil D2 31.07 b
analisis ada perbedaan nyata dilanjutkan D3 31.70 c
D4 31.09 b
dengan uji BNT pada taraf 5% untuk men- D5 30.62 a
getahui letak perbedaannya. Tabel 4. Hasil Perhitungan Rerata Tinggi Tana-
man Kangkung Darat Minggu Ke-1- sampai ke-6
Hasil penelitian sebagai sumber bela-
jar Biologi di SMA kelas XII untuk menca-
 JURNAL BIOEDUKATIKA VOL. 1 NO. 1 JULI 2013 HAL. 1 - 96
Perla- Minggu Ke (cm) mal.
kuan 1 2 3 4 5 6 Bertambahnya tinggi suatu tanaman
D0 8,24 9,98 15,24 20,26 25,9 30,70
D1 8,74 10,16 16,16 21,77 28,42 30,69 merupakan hasil pertumbuhan organ batang
D2 8,94 11,24 17,02 22,16 29,56 31,08 tanaman. Pertumbuhan suatu organ tidak
D3 9,58 11,48 18,46 24,56 31,04 31,70
D4 7,78 9,74 16,48 20,26 27,24 31,10 terlepas dari sel-sel penyusunnya. Pertumbu-
D5 7,6 9,26 14,02 19,74 24,4 30,62 han tinggi batang terjadi di dalam meristem
interkalar dari ruas, ruas itu memanjang seb-
Keterangan :
D0 = 0 g (kontrol) agai akibat meningkatnya jumlah dan melu-
D1 = perlakuan dosis 20 g
D2 = perlakuan dosis 40 g asnya sel.
D3 = perlakuan dosis 60g
D4 = perlakuan dosis 80 g
D5 = perlakuan dosis 100 g
Jumlah Daun

Perlakuan dosis pupuk kotoran kelinci


memberikan perbedaan yang signifikan Hasil pengukururan rerata jumlah

terhadap tinggi tanaman kangkung darat. daun tanaman kangkung darat (Ipomoea

Untuk mengetahui perbedaan antara kelom- reptans, Poir.) dapat dilihat pada Tabel 7.

pok perlakuan maka dilanjutkan dengan uji sebagai berikut:


Perlakuan Rerata Jumla Daun BNT (0.05) =
BNT 5% sebagai berikut : (cm) (0,77)
D0 24,2 b
Perla- Jumlah Daun (minggu) D1 27,7 d
kuan 1 2 3 4 5 6 D2 25,4 c
D3 31,0 e
D0 4,6 5,4 6,6 9,4 16,2 24,2
D4 27,4 d
D1 6,2 7,6 9,2 12,2 17,8 27,2
D5 21,3 a
D2 5,8 6,2 8,2 11,2 19,2 25,4
D3 7,4 8,4 10,2 16,6 21,2 31 Tabel 6. Hasil Perhitungan Rerata Jumlah Daun
D4 7,6 8,6 11,4 15,8 25,4 27,4 Tanaman Kangkung Darat Minggu ke-1 Sam-
pai Minggu ke-6
D5 7,8 9 12,8 14 17,8 21,3
Keterangan:
Tabel 5. Hasil Uji BNT 5 % Tinggi Tanaman
Kangkung Darat Umur 6 Minggu
D0 = 0 g (kontrol)
D1 = perlakuan dosis 20 g
Tinggi tanaman kangkung darat setelah D2 = perlakuan dosis 40 g
D3 = perlakuan dosis 60 g
diberi pupuk kotoran kelinci dari berbagai D4 = perlakuan dosis 80 g
D5 = perlakuan dosis 100 g
perlakuan dosis kotoran kelinci menunjuk-
kan adanya variasi. Pengaruh yang nyata Perlakuan dosis kotoran kelinci memberikan
pada perlakuan dosis 60 g, dapat memacu perbedaan yang signifikan terhadap jumlah
pertumbuhan tinggi tanaman secara opti- daun tanaman kangkung darat. Untuk men-
JURNAL BIOEDUKATIKA VOL. 1 NO. 1 JULI 2013 HAL. 1 - 96 
getahui perbedaan antara perlakuan maka Perla- Umur Tanaman (minggu)
kuan 1 2 3 4 5 6
dilanjutkan dengan uji BNT 5% sebagai
berikut : D0 3,74 5,9 6,81 8,71 10,3 12,8
D1 4,84 6,5 7,57 8,22 11,9 13
D2 5,44 6,6 8,18 9,71 11,5 13,3
Tabel 7. Hasil Uji BNT 5 % Jumlah Daun D3 6,2 6,9 10,7 12,5 14,3 14,7
D4 4,94 6,6 7,22 9,90 12,1 13,6
Kangkung Darat Umur 6 Minggu
D5 3,92 6,8 8,18 10,3 12,3 13,1
Keterangan:
D0 = 0 g (kontrol)
Jumlah daun tanaman kangkung darat D1 = perlakuan dosis 20 g
D2 = perlakuan dosis 40 g
setelah diberi pupuk kotoran kelinci yang D3 = perlakuan dosis 60 g
D4 = perlakuan dosis 80 g
bervariasi memberikan pengaruh yang nya- D5 = perlakuan dosis 100 g
ta pada perlakuan D3, hal ini dikarenakan
Perlakuan dosis pupuk kotoran kelinci
adanya unsur nitrogen yang terkandung pada
memberikan perbedaan yang signifikan ter-
perlakuan D3(60g) sesuai untuk kebutuhan
hadap panjang daun tanaman kangkung da-
tanaman sehingga pertumbuhan tanamannya
rat. Untuk mengetahui perbedaan, maka di-
menjadi optimal.
lanjutkan dengan uji BNT 5% dengan hasil
Menurut Gardner, dkk. (1991) bahwa
sebagai berikut :
daun berfungsi sebagai organ utama fotosin-
tesis pada tumbuhan tingkat tinggi. Umur
Perlakuan Rerata Jumla Daun BNT (0,05)
daun mempengaruhi fotosintesis, proses (cm) = 0,00
D0 12,99 a
penuaan menyebabkan kelambanan proses D1 12,99 a
fotosintesis. D2 13 a
D3 14,33 b
D4 12,99 a
Panjang Daun D5 12,99 a

Hasil pengukuran terhadap panjang Tabel 9. Hasil Uji BNT 5 % Panjang


daun tanaman kangkung darat dari Daun Kangkung Darat Umur 6 Minggu

beberapa perlakuan menunjukkan adanya


Pencapaian panjang daun setelah diberi pupuk
perbedaan, dapat dilihat sebagai berikut: kotoran kelinci yang bervariasi, menunjukkan yang
paling panjang terdapat pada perlakuan D3 (60 g),

Tabel 8. Hasil Perhitungan Rerata Pan- hal ini disebabkan karena unsur hara yang terkandung
pada perlakuan tersebut dapat memenuhi kebutuhan
jang Daun Kangkung Darat (Ipomoea
daun pada tanaman, sehingga pertumbuhan daun ber-
reptans Poir.) Minggu Ke-1 sampai Ke-6
langsung baik.

10 JURNAL BIOEDUKATIKA VOL. 1 NO. 1 JULI 2013 HAL. 1 - 96


Panjang Akar dan kelembaban tanah. Dari analisis fermentasi pu-
Hasil pengukuran terhadap Panjang akar puk dihasilkan unsur P yaitu 0,13%. Keberadaan air
tanaman kangkung darat dari beberapa perlakuan dan unsur P akan mempermudah akar tumbuh lebih
menunjukkan adanya perbedaan, dapat dilihat seb- baik dalam tanah. Sedangkan unsur K penting untuk
agai berikut: fungsi fisiologis tertentu pada akar dalam penyera-
Perlakuan Rerata Panjang Akar pan, dan juga kelembaban akan mendukung fungsi
Tanaman (cm)
fisiologis akar (Gardner, et al, 1991).
D0 7,96
D1 8,05
D2 9,50 Berat Basah
D3 11,25 Hasil pengukuran terhadap berat basah tana-
D4 9,50
man kangkung darat dari beberapa perlakuan menun-
D5 8,11
Tabel 10. Hasil Perhitungan Rerata Panjang Akar jukkan adanya perbedaan, dapat dilihat pada Tabel
Tanaman Kangkung Darat (Ipomoea reptans, 12. berikut ini:
Poir.) Pada Minggu ke-1 sampai Ke-6
Keterangan:
Perlakuan Rerata Berat Basah Tanaman
D0 = 0 g (kontrol) (gram)
D1 = perlakuan dosis 20 g D0 13,40
D2 = perlakuan dosis 40 g
D1 14,25
D3 = perlakuan dosis 60 g
D2 34,60
D4 = perlakuan dosis 80 g
D3 44,8
D5 = perlakuan dosis 100 g
D4 34,45
D5 13,38
Perlakuan dosis pupuk kotoran kelin- Tabel 12. Hasil Perhitungan Rerata Berat Basah
Tanaman Kangkung Darat (Ipomoea reptans,
ci memberikan perbedaan yang signifikan
Poir.) Pada Minggu Ke-1 sampai Ke-6
terhadap panjang akar tanaman kangkung
darat. Untuk mengetahui perbedaan antara Keterangan:
D0 = 0 g (kontrol)
perlakuan maka dilanjutkan dengan uji BNT D1 = perlakuan dosis 20 g
5% dengan hasil sebagai berikut : D2 = perlakuan dosis 40 g
Perlakuan Rerata Panjang BNT (0,05) = D3 = perlakuan dosis 60 g
Akar (cm) 0,14 D4 = perlakuan dosis 80 g
D0 7,95 a D5 = perlakuan dosis 100 g
D1 8,05 a
D2 9,50 b Perlakuan dosis pupuk kotoran kelinci
D3 11,25 c
D4 9,50 b
memberikan perbedaan yang signifikan ter-
D5 8,10 a hadap berat basah tanaman kangkung darat.
Tabel 11. Hasil Uji BNT 5 % Panjang Akar
Kangkung Darat pada Minggu ke-1 sampai Untuk mengetahui perbedaan antara per-
Ke-6
lakuan maka dilanjutkan dengan uji BNT
Pada perlakuan D3 (60g) terjadi keseimban- 5% dengan hasil sebagai berikut :
gan antara unsur hara diantaranya unsur N, P, K, air

JURNAL BIOEDUKATIKA VOL. 1 NO. 1 JULI 2013 HAL. 1 - 96 11


Perlakuan Rerata Berat Ba- BNT (0,05) = Keterangan:
sah (cm) 0,14 D0 = 0 g (kontrol)
D0 13,40 a D1 = perlakuan dosis 20 g
D1 14,25 b D2 = perlakuan dosis 40 g
D3 = perlakuan dosis 60 g
D2 34,6 c
D4 = perlakuan dosis 80 g
D3 44,8 d
D5 = perlakuan dosis 100 g
D4 34,45 c
D5 13,38 a
Tabel 13. Hasil Uji BNT 5 % Berat Basah Kang- Perlakuan dosis pupuk kotoran kelinci
kung Darat Umur 6 Minggu
memberikan perbedaan yang signifikan ter-

Setelah diberi pupuk kotoran kelin- hadap berat kering tanaman kangkung darat.

ci yang bervariasi, berat basah pada per- Untuk mengetahui perbedaan antara per-

lakuan D3 memberikan hasil yang paling lakuan maka dilanjutkan dengan uji BNT

baik. Menurut Salisbury dan Ross (1995), 5%, dengan hasil sebagai berikut:
Perlakuan Rerata Berat Ker- BNT 0,05 =
berat basah tanaman berhubungan dengan ing (cm) 0,11
banyaknya air yang diserap, senyawa yang D0 1,43 a
D1 1,47 a
dibutuhkan tanaman dalam jumlah besar
D2 2,25 c
pada setiap organ, tetapi kandungan air dari D3 3,7 d
D4 2,07 b
suatu jaringan tanaman dapat berubah atau
D5 1,99 b
tidak stabil sesuai dengan umur dan juga di-
pengaruhi oleh faktor lingkungan.
Unsur hara yang diserap akar dalam
jaringan tanaman berpengaruh terhadap be-
Berat Kering
rat kering tanaman (Lakitan, 1996). Hal ini
Hasil pengukuran terhadap berat ker-
disebabkan karena komposisi media yang
ing tanaman kangkung darat menunjukkan
adanya perbedaan, dapat dilihat sebagai baik, yang dapat menyimpan unsur hara.

Berikut: Berat kering tanaman pada perlakuan D3


Perlakuan Rerata Berat Kering Tanaman menunjukkan pertumbuhan tanaman opti-
(gram)
D0 1,43 mal, yang disebabkan oleh meningkatkan
D1 1,47 sintesis bahan-bahan organik, sehingga dapat
D2 2,25
D3 3,7 meningkatkan berat kering tanaman.
D4 2,07
D5 1,99
Tabel 14. Hasil Perhitungan Rerata Berat Ker-
ing Tanaman Kangkung Darat (Ipomoea reptans,
Poir.) Pada Minggu Ke-6

12 JURNAL BIOEDUKATIKA VOL. 1 NO. 1 JULI 2013 HAL. 1 - 96


KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian diperoleh kes- Djaja, Willyan. 2008. Langkah Jitu Mem-
impulan bahwa pertumbuhan tanaman kang- buat Kompos dari Kotoran Ternak &
kung darat (Ipomoea reptans,Poir.) dengan Sampah. Agromedia Pustaka. Jakarta.
perlakuan variasi dosis pupuk organik ber-
bahan dasar kotoran kelinci menunjukkan Gardner, F.B.R. Pearce dan R.L Mitchell.
hasil yang berbeda-beda. Dosis pupuk ber- 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya.
bahan dasar kotoran kelinci yang tepat pada UI Press. Jakarta.
pertumbuhan tanaman kangkung darat (Ipo-
moea reptans Poir.) yaitu 60 g. Indriani, Yovita Hety. 2007. Membuat Kom-
pos Secara Kilat. Penebar Swadaya,
Jakarta.
DAFTAR PUSTAKA
Kurniasih. 2000. Strategi Belajar Mengajar.
Anonim, 2000. Karakteristik Plasma Nutfah Rineka Cipta. Jakarta.
Kangkung. Buletin Plasma Nutfah
Vol. 12 No.1. Balai Penelitian Tana- Laegreid, M, O, C. Bockman, and O.
man Sayuran. Lembang. Kaarstand. 1999. Agriculture Fertiliz-
ers and the Environment. CABI Pub-
Anonim.2008 1 .Citizen.JournalismOn- lishing. New York.
line.http://citijournal.wordpress.
com/2008/01/12/kelinci-dengan-berb- Lakitan, B. 1996. Fisiologi Pertumbuhan
agai-manfaat dan Perkembangan Tanaman. PT Raja
Grafindo Persada. Jakarta.
Ambarwati, E. 2004. Budidaya Tanaman
Sayuran. F. Pertanian. UGM Press. Lingga dan Marsono. 2008. Petunjuk Peng-
Yogyakarta. gunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Ja-
karta.
Astanto. 1994. Pengelolaan Dan Dokumen-
tasi Plasma Nutfah Tanaman Pangan. Purwandari, Ari Wiyati. 2006. Budidaya
Makalah Ballitan Malang No. 94122, Tanaman Kangkung. AZKA Press. Ja-
BLPP Ketindan. Malang. karta.
JURNAL BIOEDUKATIKA VOL. 1 NO. 1 JULI 2013 HAL. 1 - 96 13
Ronoprawiro S. 1993. Produksi Tanaman
Sayuran di daerah Tropika. UGM
Press. Yogyakarta.

Rukmana, Rahmat. 1994. Seri Budidaya


Kangkung. Kanisius. Yogyakarta.

Salisbury, Frank B dan Ross, Cleon W. 1995.


Fisiologi Tumbuhan Jilid 3. Penerbit
ITB. Bandung.

Santoso. 1979. Ilmu Hara. Fakultas Biologi.


Yogyakarta.

Setiawan, Ade Iwan. 2005. Memanfaatkan


Kotoran Kelinci. Penebar Swadaya.
Jakarta.

Sitompul Dan Guritno. 1995. Analisis Per-


tumbuhan Tanaman. UGM Press. Yo-
gyakarta.

Tjitrosoepomo, G. 1994. Taksonomi Tum-


buhan (Spermatophyta). Cetakan II,
Gadjah Mada University Press. Yog-
yakarta

14 JURNAL BIOEDUKATIKA VOL. 1 NO. 1 JULI 2013 HAL. 1 - 96