Anda di halaman 1dari 6

A.

DESAIN/ PENDEKATAN PENELITIAN


Desain Penelitian rancangan, pedoman ataupun acuan penelitian yang
akan dilaksanakan (Soemartono, 2003). Desain Penelitian ini harus
memuat segala sesuatu yang berkaitan dengan pelaksanaan penelitian
yang akan dilakukan. Sifat desain penelitian mendekati komprehensif dari
keseluruhan kerja penelitian, maka apabila peneliti telah siap dengan
desain penelitian berarti separuh kerja penelitiannya telah selesai (Bungin,
2001).

Desain Penelitian Sosial dapat dilakukan dengan menggunakan dua


pendekatan:
1. Pendekatan Kuantitatif,
2. Pendekatan Kualitatif

1. PENDEKATAN KUANTITATIF
Pendekatan ini dikenalkan pertamakali oleh Descartes. Descartes
memperkenalkan metode penelitian ini dengan istilah Deduktif.
Pendekatan ini dikembangkan oleh Auguste Comte yang kemudian dikenal
dengan istilah Pendekatan Positivistik (Sukidin, 2002).

Pendekatan Kuantitatif merupakan pendekatan yang bermula dari studi


tentang ilmu-ilmu alam (natural science) berupa kajian pseudokuantitatif
yang mengharuskan semua kajian penelitian diukur dengan angka-angka
kuantitatif secara ontologis dan harus diletakkan pada tatanan realisme dan
nave realisme.

Pendekatan Positivisme ini amat percaya bahwa kebenaran itu bersifat


universal. Bagi metode positivis-kuantitatif, individu adalah representasi
dari beroperasinya struktur sosial yang eksistensinya berada di luar
kesadaran individu. Perilaku individu dalam sebuah konteks sosial

1
sepenuhnya dilihat sebagai hasil determinasi struktur atas individu (Sukidin,
2002). Individu adalah aktor yang berperilaku, bahkan berperasaan
menurut script (naskah) yang terdapat dalam struktur. Apa yang
dibayangkan sebagai struktur itu (yang didalamnya memuat nilai,
kepercayaan, ideologi, norma dan institusi) menjadi penentu tentang
bagaimana individu merespon sebuah peristiwa sosial.

2. PENDEKATAN KUALITATIF
Suatu penelitian, khususnya penelitian grounded (penelitian dasar:
Eksplorasi dan Deskripsi) umumnya menggunakan pendekatan kualitatif
dalam analisis-analisisnya. Penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang
menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai dengan
menggunakan prosedur-prosedur statistik atau dengan cara kuantifikasi
lainnya (Strauss dan Corbin, 1997).

Pendekatan kualitatif dalam hal ini seungguhnya adalah prosedur penelitian


yang menghasilkan data-data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan
dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati. Sehingga data yang
dikumpulkan adalah data yang berupa kata/ kalimat maupun gambar (bukan
angka-angka). Data-data ini bisa berupa naskah wawancara, catatan
lapangan, foto, video, dokumen pribadi, memo ataupun dokumen resmi
lainnya (Maleong, 1994).

Sedangkan Menurut Milles and Huberman (1994) penelitian kualitatif


adalah conducted through an intense and or prolonged contact with a field
or life situation. These situation are typically banal or normal ones,
replective of the everyday life individuals, groups, societies and
organizations

2
Penelitian Kualitatif ini juga dapat dimaknai sebagai rangkaian kegiatan
penelitian yang mengembangkan pola pikir induktif dalam menarik suatu
kesimpulan dari suatu fenomena tertentu. Pola berfikir Induktif ini adalah
cara berfikir dalam rangka menarik kesimpulan dari sesuatu yang bersifat
khusus kepada yang sifatnya umum.

Dengan pendekatan ini peneliti dapat memperoleh gambaran yang lengkap


dari permasalahan yang dirumuskan dengan memfokuskan pada proses
dan pencarian makna dibalik fenomena yang muncul dalam penelitian,
dengan harapan agar informasi yang dikaji lebih bersifat komprehensif,
mendalam, alamiah dan apa adanya.

C. PERBEDAAN PENELITIAN KUALITATIF DENGAN KUANTITATIF


Paling tidak terdapat 7 ciri yang membedakan Penelitian Kualitatif dengan
Penelitian Kuantitatif (Sukidin, 2002):
Tabel
Perbedaan Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif

Jenis
No. Penelitian Kualitatif Penelitian Kuantitatif
Perbedaan
1. Kerangka Menolak sepenuhnya Menuntut penyusunan
Teori penggunaan kerangka ke-rangka teori
teori sebagai persiapan
penelitian. 1)
2. Hipotesis Tidak terikat oleh Hipotesis sangat
Hipotesis. Berang-kat diperlukan untuk
dari pikiran kosong pembuktian.
dalam rangka
membangun suatu
konsep atau preposisi.
3. Ubahan Tidak menentukan Mengukur ubahan
ubahan2)
4. Hubungan Berfungsi sebagai Ada jarak antara Peneliti
Peneliti instrumen dan menyatu dengan Responden
dengan dengan subjek
Responden penelitian 3)

3
5. Metode Dilakukan dengan Dilakukan dengan
Analisis Data
analisis Interaktif4) analisis Linear
ataupun analisis alur
tahapan5)
6. Proses dan Lebih mementingka Lebih mementingkan
Hasil Proses 6) Hasil
7. Responden Informan dan Random Sampling,
dan Sampel Snowbolling sampling Ukuran Sampel, luas
sampel, dan metode
sampling7)

1) Membuat persiapan teoretik hanya akan menghasilkan penelitian yang


artifisial dan jauh dari sifat naturalnya. Hal ini terjadi karena penelitian
kualitatif adalah membangun ilmu ideografik, sementara kuantitatif
bertujuan membangun ilmu nomothetik (Muhadjir, 2000). Jika dalam
penelitian kualitatif terdapat kerangka teoretik, maka ada dua kemungkinan:
1) teori yang ada itu hanya untuk sekedar untuk tongkat yang kemungkinan
akan dibuang jika mendapatkan hal yang baru di lapangan. 2) penelitian
tidak sepenuhnya kualitaitf, karena berbagai permasalahan misalnya
keterbatasan waktu, dsb.

2) Dalam penelitian melihat suatu fenomena, penelitian kualitatif berusaha


melihat objek dalam konteksnya dan menggunakan tata pikir logik lebih dari
sekedar linear kausal. Penelitian kualitatif tidak menentukan ubahan-
ubahan dan kategori ubahan serta tidak berusaha mengukur ubahan itu,
apalagi mengkuantifikasikan.

3) Dalam penelitian kualitatif, peneliti dalam rangka pengumpulan data


berfungsi sebagai instrumen yang berusaha untuk mengikuti asumsi-
asumsi kultural dan mengikuti data kualitatif. Peneliti melakukan
pengamatan berperan serta atau participant observation atau juga disebut
sebagai pengamatan terlibat. Oleh karena itu dalam penelitian kualitatif
peneliti dan subjek penelitian harus melebur seoleh-olah tidak ada lagi
pemisah/ jarak diantara keduanya (Moleong, 1995). Dalam pengumpulan

4
data kualitatif dapat dilakukan dengan dua pendekatan: 1) pengamatan
secara aktif dan langsung (pengamatan peran serta), sehingga peneliti
dapat menguak segala sesuatu yang terjadi di lapangan. 2) Dokumen
pribadi, termasuk didalamnya wawancara bebas. Dokumen ini dapat
berupa buku harian, surat, otobiografi dan catatan hasil wawancara.

4) Analisis Interaktif, dikenalkan oleh Milles dan Huberman (1994) ditujukan


untuk kecermatan dan menjaga kualitas hasil penelitian. Dalam Analisis
interaktif ini masing-masing komponen pengumpulan data, reduksi data,
display data dan kesimpulan hasil dilakukan secara simultan atau secara
siklus.

5) Analisis Alur tahapan dikenalkan oleh Strauss dan Corbin (1997) yang
terdiri dari Open Coding, Axial Coding dan Selective Coding. Open Coding
merupakan upaya peneliti untuk mengumpulkan data-data sebanyak
mungkin yang terkait dengan subjek penelitian. Axial Coding adalah upaya
mengorganisir data-data yang telah diperoleh dari open coding berdasarkan
atas kategorinya untuk dikembangkan ke arah beberapa proposisi. Pada
tahap Axial Coding juga dilakukan upaya analisis hubungan antar kategori.
Selective Coding adalah upaya untuk memeriksa mana kategori yang inti
dan kaitannya dengan kategori yang lain, sehingga dapat diketahui dan
dijelaskan mana yang menjadi kategori inti atau pusat dari konsep atau
kategori lainnya.

6) Dalam penelitian kualitatif yang dipentingkan adalah kedalaman materi,


bukan keluasan materi penelitian (Sukidin, 2002)

7) Dalam Penelitian kuantitatif, semakin banyak/ besar sampel maka akan


semakin kecil kesalahan sampling. Namun dalam penelitian kualitatif
banyak/ sedikitnya informan tidak menentukan akurat atau tidaknya

5
penelitian. Bahkan dalam penelitian kualitatif bisa jadi informannya hanya
satu orang.

D. KRITIK ATAS PENDEKATAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF

1. Kritik atas Pendekatan Kuantitatif (Sukidin, 2002)


1. Metode Kuantitatif banyak membelenggu empirisme dan
rasionalisme subjek kajian
2. Dianggap gagal dalam mengungkap realitas sosial yang unik dan
beragam, yang hanya bisa didekati dengan pendekatan kualitatif
3. Kajian Kuantitatif terbatas pada desain ekslusifisme, terbatas pada
kajian variabel tertentu dan menghilangnya (makna) generalisasi.
4. Kajian atas manusia tidak sama dengan kajian atas kebendaan yang
bersifat statis dan linear.
5. Dianggap tidak mampu mempertemukan teori yang bersifat umum
dengan konteks lokal
6. Kabur dalam mengungkap kasus atau keunikan individu.

2. Kritik atas Pendekatan Kualitatif


1. Hasil penelitiannya tidak representatif
2. Terlalu bersifat Subjektif
3. Tidak dapat digunakan untuk menggeneralisir suatu fakta sosial
secara universal dan hanya dapat digunakan pada wilayah
kontekstual
4. Cenderung melebih-lebihkan pada penghargaan terhadap
subjektifitas individu, kelompok, masyarakat dan atau suatu
organisasi tertentu (Fatchan, 2001).