Anda di halaman 1dari 6

KASUS PENYELESAIAN SENGKETA PAJAK

Contoh Kasus Keberatan :

PT. Abidin tahun 2008 dilakukan pemeriksaan dan telah diterbitkan ketetatapan pajak yaitu Surat
Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) yaitu sebesar Rp. 1000.000.000 dan setelah melakukan
pembahasan Akhir PT. Abidin setuju membayar sebesar (telah dilunasi dengan SSP) Rp.
200.000.000 dan sisa yang diajukan keberatan sebesar Rp. 800.000.000 ke Direktorat Jendral
Pajak dan mengabulkan keberatan sebagian dan dikenakan sanksi 50%.

Perhitungannya sebagai berikut :

SKPKB Sebesar Rp.1.000.000.000

Dalam pembahasan Akhir PT.Abidin setuju bayar sebesar Rp. 200.000.000

(telah dilunasi SSP)

Sisa yang diajukan keberatan sebesar Rp. 800.000.000

Keputusan Keberatan mengabulkan sebagian menjadi Rp. 750.000.000

Sanksi 50% x (Rp. 750.000.000- Rp. 200.000.000) Rp. 275.000.000

Jadi yang masih harus dibayar sebesar Rp.1.025.000.000

Sejak berlakunya Undang-undang Nomor 27 Tahun 2008 Pasal 25 ayat (3a) tentang
perubahan Undang-undang KUP, upaya hukum keberatan di syaratkan membayar sebesar yang
tercantum dalam Pembahasan Akhir Pemeriksaan, sebelum menyampaikan Surat Keberatan.

Sebagai konsekuensi hukumnya Apabila atas keberatan Wajib Pajak diTolak atau
dikabulkan hanya sebagian dan Wajib Pajak tidak mengajukan upaya hukum yang lebih tinggi
yaitu Banding maka Wajib Pajak akan dikenakan Sanksi Administrasi denda sebesar 50% dari
jumlah pajak berdasarkan keputusan keberatan dikurangi dengan pajak yang telah dibayar
sebelum mengajukan keberatan.
UPAYA YANG DILAKUKAN UNTUK MENYELESAIKAN SENGKETA PAJAK

Sengketa pajak diawali dari diterbitkannya surat ketetapan pajak atau diterbitkannaya surat
tindakan penagiahan pajak . Surat Ketetapan Pajak ada empat, SKPKB,SKPKBT,SKPLB,SKPN.
Maka upaya untuk menyelesaiakn sengketa pajak tersebut dapat dilakukan dengan cara berikut :

1. Upaya Hukum Keberatan

Sesuai ketentuan pasal 25 UU KUP, upaya hukum keberatan diajukan ke Direktorat Jendral
Pajak , yaitu ke kantor pelayanan pajak tempat dimana wajib pajak terdaftar. Untuk dapat
mengajukan upaya hukum keberatan, maka wajib pajak harus memenuhi syarat-syarat yang
ditentukan yaitu ;

a. Diajukan secara tertulis dengan menggunakan bahasa Indonesia


b. Diajukan dalam jangka 3 bulan sejak tanggal surat, tanggal pemotongan atau
pemungutan, kecuali wajib pajak dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat
dipenuhi karena keadaan diluar kekuasaan.
c. Mengemukan jumlah pajak terhutang atau jumlah pajak yang dipotong atau dipungut atau
jumlah rugi menurut penghitungan wajib pajak disertai alasan-alasan yang jelas.
d. Utuk satu surat keberatan diajukan terhadap waktu ketetapan pajak atau
pemotongan/pemungutan pajak.

Keputusan keberatan

Direktur Jenderal pajak dalam jangka waktu paling lama 12 bulan sejak tanggal surat
keberatan diterima harus memberi keputusan atas keberatan yang diajukan wajib pajak Jika
jangka waktu 12 bulan terlewati, maka keberatan dianggap DITERIMA.

Setelah kantor pajak melakukan proses pemerikasaan, sesuai pasal 26 ayat 3 UU KUP,
ada 4 kemungkinan keputusan yang dapat diterbitkan atau dikeluarkan oleh Direktorat Jendral
Pajak sebagai berikut :

a) Ditolak

Apabila dalam proses pemerikasaan yang dilakukan oleh direktur jendal pajak diketahui
tidak terdapat cukup alasan dan bukti, maka direktur jendral pajak akan mengluarkan
keputusan menolak keberatan wajib pajak. Jika demikian maka hanya ada dua pilihan yaitu
pertama wajib pajak harus tetap melunasi utang pajak sebesar tercantum dalam keputusan
keberatan. Kedua, wajib pajak dapat mengajukan upaya hukum lebih lanjut, yaitu banding
ke pengadilan pajak.

b) Diterima Sebagian

Apabila surat keberatan wajib pajak setelah dilakukan pemeriksaan ternyata hanya
sebagian alasan dan bukti yang mendukung untuk dikuranginya jumlah utang pajak yang
tercantum dalam ketetapan pajak akan mengeluarkan keputusan menerima sebagian.

c) Diterima Seluruhnya

Apabila dalam proses pemeriksaan yang diketahui adanya alasan dan bukti yang
mendukung untuk diterimanya seluruh keberatan wajib pajak sesuai perhitungan wajib
pajak, maka Direktur Jendral Pajak akan menebitkan keputusan menerima seluruh
keberatan.

d) Menambah Ketetapan Pajak

Apabila wajib pajak telah ditetapkan mempunyai utang pajak lalu diajukan keberatan maka
setelah dilakukan pemeriksaan oleh Direktur Jendral Pajak ternyata berdasarkan bukti yang
ada utang pajak wajib pajak menjadi lebih besar dari semula.

2. Upaya Hukum Banding

Menurut Undang-undang perpajakan apabila wajib pajak tidak merasa puas atas keputusan
keberatan yang telah dikeluarkan oleh Direktur Jendral Pajak berarti wajib pajak berhak
mengajukan upaya hukum banding sesuai undang-undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang
Pengadilan Pajak.

Apabila wajib pajak hendak mengajukan upaya hukum banding harus memenuhi syarat-
syarat sebagai berikut :
a. Permohonan diajukan secara tertulis dengan menggunakan bahasa indonesia.
b. Diajukan dalam jangka wakru 3 bulan sejak tanggal diterima keputusan mengenai
keberatan.
c. Terhadap satu keputusan diajukan satu surat banding.
d. Melampirkn satu keputusan yang dibanding dan bukti-buti pendukung lain.
e. Melunasi 50% dari jumlah yang terhutang atas keputusan yang dibanding.

3. Upaya Hukum Gugatan


Upaya hukum gugatan dapat dilakukan oleh wajib pajak terhadap pelaksanaan penagihan
pajak atau terhadap keputusan yang diajukan gugatan berdasarkan peraturan perundang-
undangan perpajakan yang berlaku.

Dalam pasal 23 ayat 2 undang-undang KUP menyatakan bahwa gugatan bukan hanya
terhadap penagihan pajak tetapi juga terhadap hal berikut :

a. Pelaksanaan Surat Paksa, Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan atau Pengumuman


Lelang.
b. Keputusan yang berkaitan dengan pelaksanaan keputusan perpajakan.
c. Keputusan pembetulan sebagaimana dimaksud dalam pasal 16 yang berkatan dengan
Surat Tagihan Pajak.
d. Keputusan menurut pasal 36 yang berkaitan dengan Surat Tagihan Pajak.

Untuk dapat mengajukan gugatan wajib pajak harus memenuhi syarat-syarat berikut :

a. Diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia


b. Jangka waktu untuk gugatan terhadap pelaksanaan penagihan pajak adalah 14 hari
semenjak tanggal pelaksanaan penagihan, sedangkan gugatan terhadap putusan 30 hari
sejak tanggal diterima putusan gugat.
c. Terhadap satu pelaksanaan surat penagihan atau keputusan diajukan satu surat gugatan.

4. Upaya Hukum Peninjauan Kembali (PK)

Upaya hukum ini merupakan upaya hukum luar biasa setelah adanya keputusan
yang berkekuatan hukum tetap yaitu ke Mahkamah Agung (MA) sesuai dengan
ketentuann undang-undang. Sesuai ketentuan pasal 91 Undang-undang Pengadialn Pajak,
permohonan Peninjauan kembali hanya dapat dilakukan berdasarkan 5 alasan yaitu :
a. Apabila Putusan Pengadilan Pajak didasarkan pada suatu kebohongan atau tipu
muslihat pihak lawan yang diketahui setelah perkaranya diputus atau didasarkan pada
bukti-bukti yang kemudian oleh hakim pidana dinyatakan palsu.
b. Apabila terdapat bukti tertulis baru yang penting dan bersifat menentukan apabila
dikethui pada tahap persidangan di Pengadilan Pajak akan menghasilakan putusn
yang berbeda.
c. Apabila telah dikabulkan suatu hal ang tidak dituntut atau lebih dari pada yang dituntut
d. Apabila mengenai suatu bagian dari tuntutan belum diputus tanpa dipertimbangkan
sebab-sebabnya.
e. Apabila terdapat suatu putusan yang nyata-nyata tidak sesuai dengan perturan
perundang-undangan yang berlaku.

C. PROSES PEMERIKSAAN DI PENGADILAN PAJAK


Undang-undang Pengadilan Pajak pada prinsipnya membedakan proses Pemeriksaaan di
pengadilan Pajak menjadi 2 yaitu proses pemeriksaan dengan cara biasa dan proses pemeriksaan
dengan cara cepat.
a. Pemeriksaan dengan cara biasa

Pemeriksaan dengan cara biasa dilakukan apabila :

1. Surat Permohonan Banding sudah memenuhi ketentuan formal


2. Gugatan telah memenuhi ketentuan formal

Pemeriksaan dengan cara biasa dilakukan oleh Majelis yang ditunjuk


oleh Ketua Pengadilan Pajak yang terdiri dari 3 orang Hakim, satu orang sebagai Ketua, dan
satu orang lagi sebagai Hakim Anggota.

b. Pemeriksaan dengan cara cepat

Pemeriksaan dengan cara cepat dapat dilakukan dalam hal-hal berikut:

1. Sengketa Pajak tertentu, sengketa pajak berupa banding atau gugatan yang tidak
memenuhi persyaratan formal.
2. Gugatan yang tidak diputus dalam jangka waktu 6 bulan sejak surat gugatan diterima.
3. Tidak dipenuhinya salah satu ketentuan Putusan Pengadilan Pajak yang seharusnya
dimuat atau kesalahan tulis, salah hitung dalam Putusan Pengadilan Pajak.
4. Sengketa yang berdasarkan pertimbangan hukum bukan merupakan wewenang
Pengadilan Pajak, misal gugatan pihak ketiga terhadap pelaksanaan sita berdasarkan
pengakuan hak milik atas barang yang disista.