Anda di halaman 1dari 102

BAB II

DASAR TEORI

2.1 Tinjauan Umum

PT. PP Property hendak membangun apartemen dan tower dalam proyek


Grand Sungkono Lagoon. Proyek ini terdiri dari 4 tower yang
direncanakan berdiri area tanah seluas 3.5 Ha. Salah satu towernya adalah
Caspian yang terdiri dari 48 lantai dan 3 basement.

Pembangunan akan dibangun secara bertahap dimana tahap 1 adalah


pembangunan menara dan kemudian pada tahap 2 akan dibangun area mall.
Tinggi bangunan total kurang lebih 175 m. Elevasi basement akan terletak di
15 m dibawah elevasi ground floor dimana level ini diasumsikan sebagai
level tanah eksisting. Berikut adalah gambar arsitektural Caspian Tower.

Gambar 2.1 Perencanaan Caspian Tower


Lokasi proyek Grand Sungkono Lagoon berada pada seputar jalan Mayjen
Sungkono, tepatnya berada di Jl. Abdul Wahab Siamin Kav. 9-10
Surabaya. Berikut adalah lokasi berdasarkan peta bumi.

Gambar 2.2 Lokasi Rencana Caspian Tower

Lokasi Caspian Tower berada di sisi jalan Villa Bukit Mas yang berada
tepat di belakang Taman Makam Pahlawan Sepuluh November dengan
koordinat 717'25.51"S dan 11242'23.20"E.
2.2 Data Tanah Lapangan
2.2.1 Lokasi Titik Uji Tanah
Untuk mengetahui kondisi tanah pada lokasi Grand Sungkono
Lagoon, maka telah dilakukan penyelidikan tanah berupa sondir
dan uji SPT di lokasi rencana. Penyelidikan tanah dilakukan di 7
titik SPT dan 5 titik sondir dalam area rencana. Berikut ini adalah
hasil penyelidikan tanah yang dilakukan oleh PT. Testana.

Gambar 2.3 Denah Titik Bor dan Titik Sondir


2.2.2 Hasil Uji Tanah
Hasil uji tanah berdasarkan laporan penyelidikan tanah oleh pihak
pelaksana lapangan terdiri dari 2 jenis hasil uji yakni hasil uji
lapangan dan hasil uji laboratorium.

2.2.2.1 Hasil Uji Lapangan


Hasil Uji lapangan ini merupakan hasil pengamatan lapangan
dan pencatatan pembacaan SPT dan sondir. Berikut adalah hasil
plot nilai SPT berdasarkan kedalaman.

Gambar 2.4 Plot N-SPT vs Kedalaman (m)


Hasil sondir untuk setiap titik dipaparkan dalam gambar
berikut ini.

Gambar 2.5 Plot qc& FR vs Kedalaman (m)

2.2.2.2 Hasil Uji Laboratorium


Hasil uji laboratorium terdiri dari parameter fisis, parameter
kuat geser tanah dan parameter Kemampatan tanah. Berikut
adalah hasil plot parameter fisis tanah terhadap kedalaman
untuk setiap titik Bor.
Gambar 2.6 Plot Parameter Fisis Tanah vs Kedalaman (m)

Gambar 2.7 Plot PI & LL pada Grafik Cassagrande (1948)


Berdasarkan hasil plot didapat bahwa tanah pada area proyek
Caspian Tower didominasi oleh tanah lempung dan lanau.

Parameter kuat geser tanah berdasarkan hasil uji triaksial


kondisi terkonsolidasi dan tak teralirkan (Consolidated
Undrained) didapat pada kedalaman -5 m hingga kedalaman
-18 m untuk variasi tiap titik bor. Berikut adalah hasil plot nilai
kuat geser tanah yang terdiri dari kohesi (c) dan sudut geser.

Gambar 2.8 Plot Nilai Kuat Geser Tanah vs Kedalaman

Hasil laboratorium untuk nilai kuat geser dari uji tanah


Triaksial Cu didapat secara rata rata dari hasil plot diatas
untuk kedalaman -2 m hingga -12 m bernilai 22 kPa dan untuk
kedalaman -12 m hingga -18 m sebesar 62 kPa sedangkan nilai
sudut geser tanah berkisar antara 200 250 dari permukaan
hingga kedalaman -18 m.
Parameter kemampatan tanah dihasilkan dari uji konsolidasi
menggunakan oedometer. Uji dilakukan pada kedalaman -6 m
hingga kedalaman -78 m dimana pengambilan sampel uji
bervariasi untuk setiap titik SPT.

2.3 Struktur Organisasi Proyek


Menurut Paulus Nugraha: 1992, Proyek merupakan suatu kegiatan yang
berlangsung dalam kurun waktu, sumber daya, dan tujuan yang telah
ditetapkan dengan jelas. Dalam pelaksanaannya, suatu proyek sering
dihadapkan pada masalah keterbatasan tertentu seperti anggaran yang
dimiliki, jadwal yang harus terpenuhi dan sumber daya yang tersedia.
Sehingga untuk mencapai tujuan dalam suatu proyek diperlukan
manajemen yang baik, meliputi aspek perencanaan, pengaturan tenaga
kerja, pengarahan dan pengendalian. Sukses atau gagalnya mengelola
proyek konstruksi sangat tergantung kepada orang orang yang
mengelolanya. Kesimpulannya manajemen merupakan kegiatan mengatur
atau memimpin berbagai kegiatan orang atau kelompok orang dalam
rangka mencapai tujuan bersama yang ditetapkan.

Paulus Nugraha melanjutkan, salah satu contoh penerapan manajemen,


khususnya manajemen organisasi bilamana dua orang atau lebih
bersepakat untuk bekerja sama. Untuk itu diperlukan suatu pengaturan
yang jelas, siapa mengerjakan apa, dan kepada siapa orang yang bekerja
itu harus mempertanggungjawabkan pekerjaannya dalam bentuk laporan.
Dibentuklah struktur organisasi sebagai sarana penentuan dan pengaturan
serta pembagian tugas antara orang atau kelompok. Organisasi diperlukan
supaya pekerjaan dapat dilaksanakan dengan tertib dan teratur. Di samping
itu juga diperlukan adanya pembatasan tanggung jawab yang jelas
sehingga tidak menimbulkan overlapping kerja. Karena dengan adanya
tanggung jawab yang rangkap akan mengakibatkan terhambatnya
kelancaran kerja terutama akan dialami oleh bawahan.
Salah satu aspek dalam manajemen proyek adalah aspek organizing atau
pengaturan. Permasalahan organizing atau pengaturan ini sangat diperlukan
terutama untuk menangani suatu proyek. Oleh karena itu, diperlukan adanya
suatu bentuk organisasi yang sesuai dengan proyek yang akan dikerjakan.
Dimana fungsi dari organisasi itu sendiri adalah merubah sesuatu (dapat
berupa material, informasi, ataupun masyarakat) melalui suatu tatanan
terkoordinasi yang mampu memberikan nilai tambah, sedemikian sehingga
organisasi tersebut dapat mencapai tujuannya dengan baik. (Istimawan
Dipohusodo: 1996, hal 40)

Bentuk dan organisasi proyek menurut Suharto dan Imam dapat dibagi,
antara lain:

2.3.1 Struktur Organisasi Kontraktual

Struktur Organisasi Kontraktual adalah struktur organisasi proyek


yang menunjukkan pihak-pihak yang terlibat dalam suatu proyek
dengan wewenang dan tanggung jawab sesuai kontrak yang
disetujui bersama.

Secara umum skema Struktur Organisasi Kontraktual dalam suatu


proyek memberikan gambaran pihak-pihak yang terkait dalam
suatu proyek. Keterlibatan pihak-pihak tersebut terbagi dalam garis
atau instruksi dan garis koordinasi.

2.3.2 Struktur Organisasi Proyek Fungsional

Pada organisasi proyek fungsional, lingkup kegiatan proyek diserahkan


dan menjadi bagian atau tambahan kegiatan fungsional serta dipimpin oleh
manajer. Struktur organisasi tersebut dianggap kurang efektif untuk
menangani proyek yang berukuran besar, kompleks dan multi disiplin yang
memerlukan integrasi ketat antara para pelaku dan komponen pekerjaan
yang bersangkutan, baik dan dalam maupun dan luar organisasi. (Imam
Soeharto: 1995, hal. 50)
Jalur laporan/ arus kegiatan fungsional
------------- Jalur laporan/ arus kegiatan proyek

Gambar 2.9 Struktur organisasi proyek fungsional


2.3.3 Struktur Organisasi Proyek Koordinasi

Adanya penunjukkan seorang koordinator yang bertugas sepenuhnya


mengurusi proyek, yaitu mengkoordinasi pekerjaan, tenaga, dan
kegiatan lain yang berhubungan dengan proyek. Karena adanya
koordinator yang bertindak sebagai staf dan melapor pada manajer
maka semua urusan proyek akan mendapatkan lebih perhatian
dibanding OPF. (Imam Soeharto: 1995, hal. 52)

Pemasaran

Pemeliharaan

Gambar 2.10 Struktur organisasi proyek koordinasi


2.3.4 Struktur Organisasi Proyek Murni

Organisasi ini sering disebut organisasi murni karena disini proyek


berstastus mandiri, artinya, proyek ini terpisah dan sejajar dengan
divisi atau departemen lain dalam perusahaan. (Imam Soeharto:
1995, hal. 55)

Gambar 2.11 Struktur Organisasi Murni

2.3.5 Struktur Organisasi Proyek Matriks

Organisasi ini dimaksudkan untuk mengambil segi-segi positif


struktur fungsional dan OPM. Dari sudut pandang perusahaan
secara menyeluruh dalam menangani proyek. Pada OPM tergabung
dua unsur yaitu organisasi fungsional dan proyek. Masing-masing
komponen OPM secara administratif tetap terkait dengan
departemen yang bersangkutan dengan induk organisasinya dan
terkait ke pimpro mengenai penanganan proyek. (Imam Soeharto:
1995, hal. 57)

Gambar 2.12 Struktur Organisasi Matriks

2.4 Sistem Kesehatan, Keamanan, dan Keselamatan Kerja (K3)

Pekerjaan konstruksi pada umumnya mempunyai tingkatan resiko paling


tinggi terhadap terjadinya kecelakaan kerja khususnya bagi pekerja
bangunan. Salah satu kebutuhan untuk mencegah dan atau mengurangi
terjadinya potensi kecelakaan dan penyakit akibat kerja yaitu dengan
menerapkan Sistem Management Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SM-
K3).

Penerapan SM-K3 ini tentunya dilaksanakan mulai dari perencanaan,


pelaksanaan, dan pengendalian proses kegiatan pekerjaan di proyek dalam
rengka menghasilkan produk yang bermutu dengan cara yang aman, sehat,
dan ramah lingkungan baik di lapangan maupun di kantor proyek.
2.4.1 Sistem Manajemen K3

Dibagi menjadi 2 pengertian, yaitu:

Secara Filosofis

Suatu pemikiran atau upaya untuk menjamin keutuhan dan


kesempurnaan baik jasmani maupun rohani, tenaga kerja pada
khususnya dan masyarakat pada umumnya terhadap hasil karya
dan budayanya menuju masyarakat adl dan makmur.

Secara Keilmuan

Ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah


kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

2.4.2 Tujuan Keselamatan Lingkungan Kerja

Dalam rangka melindungi hak setiap pekerja atas keselamatan dan


kesehatan serta melindungi aset perusahaan sehingga tercipta
tempat kerja untuk proses produksi yang aman, efisiensi, dan
produktif, maka melalui komitmen dan kebijakan mutu,
keselamatan, dan kesehatan kerja yang telah ditetapkan oleh
manajemen, memiliki arti dan tujuan penerapan sistem manajemen
keselamatan kerja sebagai berikut :

Mencegah terjadinya cidera dalam pekerjaan konstruksi.


Mencegah penyakit akibat kerja.
Menyediakan lingkungan pekerjaan yang sehat aman serta
meningkatkan praktek-praktek kerja yang aman.
Menyediakan fasilitas dan peralatan yang dibentuk dan dipelihara
secara aman dan baik.
Mematuhi semua persyaratan dan perundang undangan
Pemerintah Indonesia.
Bekerjasama dengan pemerintah, masyarakat, perusahaan
industri dan pihak yang terlibat lainnya untuk meningkatkan
prakte-praktek kerja yang baik.
Mengendalikan penggunaan bahan berbahaya dan beracun (B3).
Mempromosikan dan mengembangkan kepedulian keselamatan
kerja pada suatu tingkatan tinggi.
Menyediakan pelatihan yang diperlukan untuk memungkinkan
para karyawan bekerja secara aman dan baik.
Menyediakan suatu sistem guna mendapatkan program tanggap
darurat yang efisien bilamana terjadi keadaan darurat.
Khususnya terhadap bahaya kebakaran, bencana banjir, dan
sebagainya.

2.4.3 Peralatan Keselamatan Kerja

Dalam UU RI No. 18 Tahun 1999 Tentang Jasa Konstruksi Pasal 23


(Ayat 2) menerangkan bahwa Penyelenggara pekerjaan konstuksi
wajib memenuhi ketentuan tentang keteknikan, keamanan,
keselamatan dan kesehatan kerja, perlindungan tenaga kerja, serta
tata lingkungan setempat untuk menjamin terwujudnya tertib
penyelenggaraan pekerjaan konstruksi. Alat dan peralatan
keselamatan kerja yang biasa digunakan oleh pekerja adalah
sebagai berikut :

Helm
Helm merupakan alat yang berfungsi melinding kepala. Alat
pengaman kepala ini memang sudah sangat wajib untuk
dugnakan salam setiap pekerjaan proyek. Helm ini juga untuk
membedakan jabatan yang ada diproyek tersebut yang ditandai
dengan warna helm.
Selain helm proyek, dalam pekerjaan pengelasan juga
digunakan helm las. Yang berfungsi sebagai pelindung muka
dari percikan api akibat pengelasan.

Gambar 2.12 Helm Proyek


Sarung Tangan

Sarung tangan berfungsi untuk melindungi tangan pada saat


melakukan pekerjaan. Sarung tangan yang digunakan untuk
pekerjaan proyek konstruksi memiliki ketebalan yang berbeda
dengan sarung tangan biasa, karena berfungsi sebagai
pelindung tangan dalam melakukan pekerjaan dilapangan,
seperti mengelas, melindungi tangan dari aliran listrik,
mengangkat/memindahkan beton, dan pekerjaan lainnya.

Gambar 2.13 arung Tangan


Safety Shoes/Boots

Safety shoes digunakan dalam setiap pekerjaa proyek dan


menjadi hal yang wajib untuk digunakan pekerja konstruksi.
Berfungsi sebagai pengaman kaki dari benda-benda keras dan
tajam.

Gambar 2.14 Boots

Body Harness

Body Harness merupakan alat bantu pengamanan pada


pekerjaan proyek serta memiliki fungsi untuk melindungi tubuh
pada saat berada di ketinggian tertentu. Berfungsi menjaga
pekerja konstruksi agar tidak jatuh pada saat proses pengerjaan
Gambar 2.15 Body Harness
Safety Google

Safety google berfungsi untuk melindungi daerah mata, agar


partikel kecil, sinar yang menyilaukan, radiasi dan debu tidak
mengganggu penglihatan. sebagai contoh saat proses
pengelasan besi.

Gambar 2.16 Safety Google

Face Shield

Face shield berfungsi sebagai perlindungan pada mata dan


wajah. sehingga terhindar dari paparan bahan kimia yang bisa
merusak mata dan wajah. alat ini bisa dipasang di helm atau
memegangnya memakai tangan.

Gambar 2.17 Face Shield


Respirator atau Masker

Berfungsi sebagai penutup hidung, sehingga bisa membantu


penyaringan udara yang terhirup ketika sedang bekerja.
terutama di kawasan yang kualitas udaranya sangat rendah,
seperti beracun dan berdebu.

Gambar 2.18 Respirator atau Masker

Selain itu, terdapat peralatan yang harus disediakan dalam area


konstruksi, yaitu sebagai berikut :

Kotak P3K

Apabila terjadi kecelakaan kerja baik yang bersifat ringan


ataupun berat pada pekerja konstruksi, sudah seharusnya
dilakukan pertolongan pertama di proyek. Untuk itu,
pelaksana konstruksi wajib menyediakan obat-obatan yang
digunakan untuk pertolongan pertama.
Gambar 2.19 Kotak P3K
Rambu-rambu dan isyarat bahaya

Seperti namanya, rambu serta isyarat bahaya disini untuk


memperingatkan para pkerja agar tetap berhati-hati agar
tidak mengalami kecelakaan kerja. Rambu yang biasanya
dipasang sepeti zona berbahaya, peringatan menggunakan
APD, dan lain sebagainya.

Gambar 2.20 Rambu-rambu

Spanduk Himbauan

Berfungsi untuk menghimbau para pekerja untuk mematuhi


peraturan Kesehatan, Keselematan, dan Keamanan Kerja
atau akan memasuki wilayah wajib memakai APD.

Gambar 2.21 Spanduk Himbauan


Safety Induction Area

Area kosong yang terletak diluar area proyek, biasanya untuk


dilakukan briefing sebelum pekerjaan dimulai setiap harinya
guna memastikan bahwa pekerja memahami untuk menjaga
keselamatannya selama bekerja di area proyek konstruksi.

Gambar 2.22 Safety Induction Area

2.5 Pelaksanaan Proyek


2.5.1 Desain Galian Basement

Spesifikasi ini berhubungan dengan pekerjaan galian dalam


termasuk mobilisasi peralatan, pengukuran, dewatering mulai dari
instalasi dan seterusnya, pembuangan sisa galian dan semua
pekerjaan yang berkaitan dengan pekerjaan ini.

Metode pelaksanaan harus dilampirkan serta alat-alat yang akan


digunakandalam pekerjaan galian dengan memperhatikan kondisi
tanah dan permukaan air tanah yang ada, sifat dan jenis tanah yang
dihadapi, sifat peralatan yang akan digunakan serta fasilitas yang
dibutuhkan untuk tahap awal maupun pada tahap selanjutnya.

Kontraktor bertanggung jawab untuk melaksanakan galian dalam ini


hingga mencapai kedalaman sesuai yang disyaratkan dan melakukan
seluruh tindakan yang dianggap perlu untuk pengamanan site akibat
galian dalam, seluruh saluran dan fasilitas lain di sekitar proyek
harus dijaga dengan baik, dan selama pekerjaan berlangsung
saluran harus tetap dalam kondisi baik dan dapat digunakan.

Kontraktor harus mengikuti semua Standar dan Peraturan yang


dikeluarkan oleh Pemerintah daerah setempat, ataupun ketentuaan
lain yang tujuannya untuk memastikan bahwa pekerjaan dapat
dilakukan dengan aman, dan tidak mengganggu lingkungan di
sekitar proyek. Jika belum diatur oleh Standar dan Peraturan yang
ada, maka Standar dan Peraturan dari tempat lain dapat digunakan
sebagai referensi untuk melakukan pekerjaan tersebut. Jika Standar
dan Peraturan ini ternyata tidak sesuai satu dengan yang lainnya,
maka keadaan yang lebih aman harus digunakan sebagai
acuan/pegangan baik untuk penawaran maupun pelaksanaan
pekerjaan ini.

Semua galian harus dilakukan sesuai dengan yang ditentukan di dalam


gambar, seperti panjang, lebar, dalam dan kemiringan agar pekerjaan
basement dapat diselesaikan. Jika menggunakan galian terbuka (open
cut), maka harus digunakan sistem pengamanan slope dari
gerusan/erosi air hujan maupun sengatan sinar matahari dll.

Perlindungan terhadap galian terbuka yaitu semua galian terbuka


miring dengan rasio lebih curam dari 1 : 2 (vertikal : horisontal)
harus dilindungi dengan lapisan adukan beton setebal minimum 5
cm ditambah jaringan kawat (wire mesh) tidak lebih satu hari
setelah galian dilakukan, dan jika M.A.T cukup tinggi, tanah sangat
jelek, atau cuaca yang tidak menunjang, maka segera harus diberi
perlindungan. Sebelum perlindungan diatas dibuat, maka semua
permukaan galian tersebut sementara waktu harus dilindungi
dengan lembaran plastik atau terpal.
Volume galian adalah semua ukuran dari pekerjaan galian harus
berdasarkan ukuran bersih di antara ukuran terluar dari struktur
permanen. Harus dipertimbangkan adanya perluasan galian yang
diperlukan untuk kemudahan pelaksanaan.

2.3.2 Pelaksanaan struktur basement

Pelaksanaan struktur basement saat ini ada dua cara, yaitu:

a) Sistem Bottom Up
Pada sistem ini, struktur basement dilaksanakan setelah seluruh
pekerjaan galian selesai mencapai galian elevasi rencana (sistem
konvensional). Pelat basement paling bawah dicor terlebih dahulu
sehingga menjadi Raft foundation dengan metode papan catur,
kemudian basement diselesaikan dari bawah keatas, dengan
menggunakan scaffolding. Kolom, balok dan slab dicor ditempat
(cast in place). Pada sistem ini galian tanah dapat berupa open cut ,
sering tidak menggunakan dewatering cut off , tetapi menggunakan
dewatering sistem predrainage dan struktur dinding penahan
tanahnya menggunakan steel sheet pile yang bisa sementara
maupun permanen dengan perkuatan strutting , ground anchor atau
free cantilever. Dalam hal ini pekerjaan dewatering akan
diberhentikan, harus dihitung lebih dahulu apakah struktur
basement yang telah selesai dibangun mampu menahan tekanan ke
atas dari air tanah yang ada, agar terjadi deformasi dari bangunan
yang dapat menyebabkan keretakan struktur
b) Sistem Top Down

Pada sistem ini, struktur basement dilaksanakan bersamaan dengan


pekerjaan galian basement, urutan penyelesaian balok dan pelat
lantainya dimulai dimulai dari atas kebawah, dan selama proses
pelaksanaan, struktur plat dan balok tersebut didukung oleh tiang
baja yang disebut King Post (yang dipasang bersamaan dengan
bored pile). Sedangkan dinding basement dicor lebih dulu dengan
sistem diaphragm wall, dan sekaligus diaphragm wall berfungsi
sebagai cut off dewatering

2.3.2.1 Metode Pelaksanaan Konstruksi Sistem Bottom Up


(Konvensional)

Secara garis besar kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada


pelaksanaan konstruksi basement dengan metode bottom up ialah
sebagai berikut:

1. Mobilisasi peralatan.
2. Pelaksaanaan pondasi tiang.
3. Pelaksanaan dinding penahan tanah (sheet pile).
4. Penggalian dan pembuangan tanah.
5. Dewatering.
6. Poer pondasi.
7. Waterproofing.
8. Tie beam dan pondasi rakit.
9. Dinding basement dan struktur bertahap keatas.
10. Lantai basement bertahap keatas.

Secara umum, kegiatan-kegiatan pekerjaan tersebut diatas adalah item


pekerjaan utama yang hampir dapat selalu ditemukan dalam suatu
pelaksanaan pekerjaan basement dengan metode bottom up. Berikut
adalah gambaran pelaksanaan pekerjaan berdasarkan urutan pekerjaan
yang mana harus dimulai dari lantai dasar basement.
Gambar 2.23 Pelaksanaan basement dengan metode bottom up

2.3.2.1 Metode Pelaksanaan Konstruksi Sistem Top Down

Pada metode konstruksi Top Down, stuktur basement dilaksanakan


bersamaan dengan pekerjaan galian basement, urutan penyelesaian
balok dan plat lantainya dimulai dari atas ke bawah, dan selama
proses pelaksanaan, struktur plat dan balok tersebut didukung oleh
tiang baja yang disebut King Post (yang dipasang bersamaan dengan
bored pile). Sedang dinding basement dicor lebih dulu dengan sistem
diaphragm wall, dan sekaligus diaphragm wall tersebut.

Biasanya untuk penggalian basement digunakan alat khusus, seperti


excavator ukuran kecil. Bila jumlah lantai basement banyak, misal
lima lantai, maka untuk kelancaran pekerjaan, galian dilakukan
langsung untuk dua lantai sekaligus, sehingga space cukup tinggi
untuk kebebasan proses penggalian. Lantai yang dilalui, nantinya
dilaksanakan dengan cara biasa, menggunakan scaffolding (seperti
pada sistem bottom up biasa).
Bila struktur basement telah selesai, maka tiang king post dicor beton
dan bila diperlukan dapat ditambah penulangannya. Lubang lubang
lantai basement yang dipergunakan untuk pegankutan tanah galian,
ditutup kembali. Pengecoran struktur atas, dilaksanakan seperti biasa,
yaitu dari bawah ke atas (lantai satu, dua, dan seterusnya).

Untuk pelaksanaan lantai yang dilalui agar space galian cukup


longgar. Maka lantai yang bersangkutan dicor dengan sistem
scaffolding biasa. Bila struktur king post cukup kuat. Maka pada saat
menyelesaikan basement , dapat dibarengi dengan struktur atas
(sering disebut dengan sistem up and down).

Pada prinsipnya metode Top down dapat disebut sebagai cara


membangun terbalik, yaitu membangun dari atas ke bawah . secara
teknis, metode ini sudah bukan menjadi masalah lagi di Indonesia,
tetapi mengingat bahwa metode baru pada akhir-akhir ini dicoba,
maka permasalahan yang timbul adalah kapan digunakan metode ini
serta bagaimana teknik manajemennya agar tercapai tujuan utama
proyek tersebut.

Berikut ini tahapan dalam pelaksanaan metode konstruksi top down:

1. Pengecoran bored pile dan pemasangan king post


2. Pengecoran diaphragm wall.
3. Lantai basement 1, dicor di atas tanah dengan lantai kerja
4. Galian basement 1, dilaksanakan setelah lantai basement 1
cukup menggunakan excavator kecil). Disediakan lubang
lantai dan ramp sementara untuk pembuangan tanah galian.
5. Lantai basement 2, dicor diatas tanah dengan lantai kerja.
6. Galian basement 2, dilaksanakan seperti galian basement 1,
begitu seterusnya.
7. Terakhir mengecor raft foundation.
8. King post dicor, sebagai kolom struktur.
9. Bila diperlukan, pelaksanaan basement, dapat dimulai
struktur atas, sesuai dengan kemampuan dari king post yang
ada (sistem up & down)

Gambar 2.24 Pelaksanaan basement dengan metode top down


BAB IV

PEMBAHASAN

4.1. Proses Penggalian Basement

FLOWCHART GALIAN
Kondisi Awal

a. Tanah berada pada Elevasi awal -1,25 m

b. Pembagian Zona menjadi 3 Zona galian

1. Tahap Pertama

a. Galian Tahap Pertama dilakukan pada zone 1 pada elevasi -5,6 m


(menyesuaikan elevasi waller beam).

b. Dilanjutkan pekerjaan waller beam pada zone 1.


Volume Galian = 6464,47 m3
2. Tahap Kedua (Layer 1)

a. Galian layer pertama zone 2 pada elevasi -5,6 m

b. Pekerjaan ini bersamaan dengan ground anchor, waller beam pada zone 1

c. Pembuatan Ramp untuk akses Alat Berat (excavator dan dump truck)

Volume Galian = 9267,83 m3

3. Tahap Ketiga (Layer 2)

a. Galian area Podium, zone 3 pada elevasi -6,80 m

Volume Galian = 5084,59 m3

Total Waktu = 7 hari

Produksi per hari = 50 rit per hari


4. Tahap Keempat (Layer 2)
Pr 52

od m3

uk To

si tal

pe W

r ak
Vo
ha tu
lu
ri =9
me
= ha
Ga
50 ri

5. lia
rit Pr
Tah
ap n
od
kee
mp =
uk
at
(lay 23
si
er
3) 23
pe
m
r
3
ha
To
ri
Vo
tal
=
lu
W
50
me
ak
rit
Ga
tu
lia
=
n
4
=
ha
54
ri
6. Tahap Keempat (Layer 4)

Volume Galian = 2785 m3

Total Waktu = 25 hari

Produksi per hari = rit

7. Tahap Keempat (Layer 5)

Volume Galian = 18902,51 m3

Total Waktu = 25 hari

Produksi per hari = 38 rit per hari


8. Tahap Ketujuh (Layar 3)

Volume Galian = 9549,70 m3

Total Waktu = 21 hari

Produksi per hari = 50 rit

9. Tahap Kedelapan (Layer 3)

Volume Galian = 3933,61 m3

Total Waktu = 10 hari

Produksi per hari = 50 rit


10. Tahap Kesembilan (Layer 3)

Volume Galian = 1685,23 m3

Total Waktu = 6 hari

Produksi per hari = 50 rit

11. Tahap Kesepuluh (Layer 2)


Volume Galian = 10097,12 m3

Total Waktu = 30 hari

Produksi per hari = 50 rit


12. Tahap Kesebelas (RAFT)

Volume Galian = 4824,62 m3

Total Waktu = 10 hari

Produksi per hari = 50 rit

13. Tahap Kedua Belas (PIT LIFT)

Volume Galian = 1112,32 m3

Total Waktu = 3 hari

Produksi per hari = 50 rit


14. Tahap Ketiga Belas (Layer 3)

Volume Galian = 2779,99 m3

Total Waktu = 9 hari

Produksi per hari = 50 rit


4.2. Instalasi Listrik

Instalasi listrik merupakan suatu rangkaian dari peralatan listrik yang


saling berhubungan antar satu dengan yang lain, dan berada dalam satu
lingkup system ketenaga listrikan.Instalasi listrik yang lebih baik adalah
instalasi yang aman bagi manusia dan akrab dengan lingkungan sekitarnya.
Mengingat bahwa listrik dapat pula membahayakan manusia dan dapat
menimbulkan dampak negative terhadap lingkungan, maka selalu
diupayakan agar tenaga listrik yang didistribusikan dapat dilaksanakan
secara:

a. Aman bagi manusia dan peralatan

b. Handal dalam arti mampu menyalurkan energy listrik dengan baik bagi
konsumen

Dalam sistim kelistrikan dikenal dua macam sistim instalasi antara lain :

1. Instalasi dalam yaitu instalasi dalam adalah instalasi yang


digunakan untuk pelayanan tenaga listrik yang terpasang di dalam
gedung gedung seperti perumahan yang mendapatkan supplai
tenaga listrik dari instalasi jaringan luar.
2. Instalasi Luar yaitu instalasi listrik yang dipasang diluar bangunan
seperti penyalur tenaga listrik dari jaringan distribusi ke konsumen.
Instalasi luar ada dua macam yaitu jaringan tegangan menengah
(JTM) dan jaringan tegangan rendah (JTR)

Adapun jenis instalasi terbagi atas :

1. Instalasi Penerangan

2. Instalasi Daya
Instalasi Daya

Instalasi daya merupakan instalasi listrik yang menggunakan tenaga listrik


untuk melayani mesin-mesin listrik seperti pada motor-motor listrik,
pendingin ruangan, lift dan lain-lain. Adapun peralatan-peralatan yang
digunakan pada instalasi daya antara lain :

a. Pengaman

b. Penghantar

c. Kontak-kontak

d. Tombol tekan

e. Kontaktor

f. Panel
Instalasi Penerangan

Instalasi penerangan adalah instalasi listrik yang khusus dipergunakan


untuk melayani beban penerangan. Untuk pencahayaan suatu ruangan
didasarkan pada fungsi daripada ruangan tersebut. Kebutuhan peralatan
instalasi penerangan antara lain sebagai berikut :

a. Lampu penerangan

b. Saklar

c. Kontak-kontak

d. Pipa

e. Penghantar

f. Pengaman

g. Kotak sambung

h. Panel hubung bagi (PHB)


Dilapangan, kami diberikan tugas untuk menyusun penerangan pada
Apartemen Grand Sungkono Lagoon Tower Caspian. Dala hal ini jenis
Instalasi yang kami kerjakan adalah Instalasi Dalam, dikarenakan pelayanan
tenaga listrik yang terpasang digunakan di dalam gedunggedung.

Apabila berdasarkan jenisnya, Instalasi ini termasuk Instalasi penerangan


dikarenakan instalasi listrik ini khusus dipergunakan untuk melayani beban
penerangan. Untuk pencahayaan suatu ruangan yang didasarkan pada
fungsi daripada ruangan tersebut
4.3. Variaton Order

Variation order (vo) atau pekerjaan tambah kurang merupakan hal yang sering
terjadi dalam pelaksanaan proyek konstruksi gedung maupun sipil. Variation
order atau pekerjaan tambah kurang ini merupakan bentuk penyempurnaan
design yang sudah ada di dalam sebuah kontrak pekerjaan.

Secara singkat variation order dapat didefinisikan sebagai modifikasi dari


original kontrak (Schaulfelbeger & Holm, 2002). Menurut Fisk (2006)
variation order merupakan suatu kesepakatan antara pemilik dan kontraktor
untuk menegaskan adanya perubahan-perubahan rencana dan jumlah
kompensasi biaya kepada kontraktor yang terjadi pada saat pelaksanaan
konstruksi, setelah penandatanganan kerja antara pemilik dan kontraktor.

Menurut Fisk (2006) tujuan variation order adalah :

1. Untuk mengubah rencana kontrak dengan adanya metode khusus dalam


pembayaran.
2. Untuk mengubah spesifikasi pekerjaan, termasuk perubahan pembayaran
dan waktu kontrak dari sebelumnya.
3. Untuk persetujuan tambahan pekerjaan baru, dalam hal ini termasuk
pembayaran dan perubahan dalam kontrak.
4. Untuk tujuan administrasi dalam menetapkan metode pembayaran kerja
extra maupun penambahannya.
5. Untuk mengikuti penyesuaian terhadap harga satuan kontrak bila ada
perubahan spesifikasi.
6. Untuk pengajuan pengurangan biaya insentif proposal bila ada perubahan
proposal value engineering.
7. Untuk menyesuaikan schedule proyek akibat perubahan.
8. Untuk menghindari perselisihan antara pihak kontraktor dengan pemilik.

Di lapangan kami diberi tugas untuk mencari perbedaan denah for


construction dan denah tender guna mendapatkan perubahan sehingga
dapat mengajukan variation order agar dapat mengajukan biaya tambahan
4.4. Beton Pracetak
Sistem pabrikasi dalam pembuatan sruktur beton bertulang dikenal dengan
sistem pracetak. SNI 03-2847-2002 mendefinisikan beton pracetak sebagai
komponen beton yang dicor ditempat yang bukan merupakan posisi akhir
didalam struktur. Pada dasarnya beton pracetak meliputi 3 (tiga) tahapan
pekerjaan :

1. Pembuatan (pabrikasi)
2. Pengangkatan
3. Pemasangan (perakitan)

Analisa Elemen Pelat Pracetak Saat Pengangkatan

Dengan metode coba-coba pada program SAP 2000 untuk mendapatkan


nilai momen yang seimbang antara titik angkat dan momen lapangan saat
diangkat, maka didapat nilai momen dan letak titik angkat yang paling
aman.

Elemen pelat pracetak dimodelkan sebagai struktur shell yang diberi tumpuan
sendi di empat titik. Tumpuan tersebut adalah letak titik angkatnya. Peletakan
tumpuan dilakukan secara coba-coba untuk mendapatkan nilai momen
lapangan dan momen pada titik angkat yang relatif kecil dan sama.
Arah
Momen Momen Elemen Keterangan

M11 Max 72.68 22,23,29,30,32,33,39,40 Lapangan

M11 Min -111.66 12,13,19,30,42,43,49,50 Tumpuan

M22 Max 116.47 55,56,57,5,6,7 Lapangan

M22 Min -159.07 12,13,19,30,42,43,49,50 Tumpuan


4.5. Stabilitas Lereng (Slope Stability Nursery)

a. Pengertian Stabilitas Lereng

Lereng adalah permukaan bumi yang membentuk sudut kemiringan


tertentu dengan bidang horizontal Lereng dapat terbentuk secara alamiah
karena proses geologi atau karena dibuat oleh manusia. Lereng yang
terbentuk secara alamiah misalnya lereng bukit dan tebing sungai,
sedangkan lereng buatan manusia antara lain yaitu galian dan timbunan
untuk membuat jalan raya dan jalan kereta api, bendungan, tanggul sungai
dan kanal serta tambang terbuka.

Suatu longsoran adalah keruntuhan dari massa tanah yang terletak pada
sebuah lereng sehingga terjadi pergerakan massa tanah ke bawah dan ke
luar. Longsoran dapat terjadi dengan berbagai cara, secara perlahan-lahan
atau mendadak serta dengan ataupun tanpa tanda-tanda yang terlihat.
Setelah gempa bumi, longsoran merupakan bencana alam yang paling
banyak mengakibatkan kerugian materi maupun kematian. Kerugian dapat
ditimbulkan oleh suatu longsoran antara lain yaitu rusaknya lahan
pertanian, rumah, bangunan, jalur transportsi serta sarana komunikasi.

Analisis kestabilan lereng harus berdasarkan model yang akurat mengenai


kondisi material bawah permukaan, kondisi air tanah dan pembebanan
yang mungkin bekerja padalereng. Tanpa sebuah model geologi yang
memadai, analisis hanya dapat dilakukan dengan menggunakan
pendekatan yang kasar sehingga kegunaan dari hasil analisis dapat
dipertanyakan. Beberapa pendekatan yang dapat dilakukan adalah dengan
menggunakan metode-metode seperti : metode Taylor, metode janbu,
metode Fenellius, metode Bishop, dll
Dalam menentukan kestabilan atau kemantapan lereng dikenal istilah
faktor keamanan (safety factor) yang merupakan perbandingan antara
gaya-gaya yang menahan gerakan terhadap gaya-gaya yang menggerakkan
tanah tersebut dianggap stabil, bila dirumuskan sebagai berikut :

Faktor kemanan (F) = gaya penahan / gaya penggerak


Dimana untuk keadaan :

F > 1,0 : lereng dalam keadaan mantap


F = 1,0 : lereng dalam keadaan seimbnag, dan siap untuk longsor
F < 1,0 : lereng tidak mantap

Jadi dalam menganalisis kemantapan lereng akan selalu berkaitan dengan


perhitungan untuk mengetahui angka faktor keamanan dari lereng tersebut.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemantapan lereng, antara lain :

Penyebaran batuan

Penyebaran dan keragaman jenis batuan sangat berkaitan dengan


kemantapan lereng, ini karena kekuatan, sifat fisik dan teknis suatu jenis
batuan berbeda dengan batuan lainnya. Penyamarataan jenis batuan akan
mengakibatkan kesalahan hasil analisis. Misalnya :
o kemiringan lereng yang terdiri dari pasir tentu akan berbeda dengan
lereng yang terdiri dari lempung atau campurannya.

Struktur geologi

Struktur geologi yang mempengaruhi kemantapan lereng dan perlu


diperhatikan dalam analisis adalah struktur regional dan lokal. Struktur ini
mencakup sesar, kekar, bidang perlapisan, sinklin dan antiklin,
ketidakselarasan, liniasi, dll. Struktur ini sangat mempengaruhi kekuatan
batuan karena umumnya merupakan bidang lemah pada batuan tersebut,
dan merupakan tempat rembesan air yang mempercepat proses pelapukan.
Morfologi

Keadaan morfologi suatu daerah akan sangat mempengaruhi kemantapan


lereng didaerah tersebut. Morfologi yang terdiri dari keadaan fisik,
karakteristik dan bentuk permukaan bumi, sangat menentukan laju erosi
dan pengendapan yang terjadi, menent ukan arah aliran air permukaan
maupun air tanah dan proses pelapukan batuan.

Iklim

Iklim mempengaruhi temperatur dan jumlah hujan, sehingga berpengaruh


pula pada proses pelapukan. Daerah tropis yang panas, lembab dengan
curah hujan tinggi akan menyebabkan proses pelapukan batuan jauh lebih
cepat daripada daerah sub-tropis. Karena itu ketebalan tanah di daerah
tropis lebih tebal dan kekuatannya lebih rendah dari batuan segarnya.

Tingkat pelapukan

Tingkat pelapukan mempengaruhi sifat-sifat asli dari batuan, misalnya


angka kohesi, besarnya sudut geser dalam, bobot isi, dll. Semakin tinggi
tingkat pelapukan, maka kekuatan batuan akan menurun.

Hasil kerja manusia

Selain faktor alamiah, manusia juga memberikan andil yang tidak kecil.
Misalnya, suatu lereng yang awalnya mantap, karena manusia menebangi
pohon pelindung, pengolahan tanah yang tidak baik, saluran air yang tidak
baik, penggalian / tambang, dan lainnya menyebabkan lereng tersebut
menjadi tidak mantap, sehingga erosi dan longsoran mudah terjadi. Pada
dasarnya longsoran akan terjadi karena dua sebab, yaitu naiknya tegangan
geser (shear strees) dan menurunnya kekuatan geser (shear strenght).
Adapun faktor yang dapat menaikkan tegangan geser adalah :
o Pengurangan penyanggaan lateral, antara lain karena erosi,
longsoran terdahulu yang menghasilkan lereng baru dan kegiatan
manusia.
o Pertambahan tegangan, antara lain karena penambahan beban,
tekanan air rembesan, dan penumpukan.
o Gaya dinamik, yang disebabkan oleh gempa dan getaran lainnya.

o Pengangkatan atau penurunan regional, yang disebabkan oleh


gerakan pembentukan pegunungan dan perubahan sudut
kemiringan lereng.
o Pemindahan penyangga, yang disebabkan oleh pemotongan tebing
oleh sungai, pelapukan dan erosi di bawah permukaan, kegiatan
pertambangan dan terowongan, berkurangnya/hancurnya material
dibagian dasar.
o Tegangan lateral, yang ditimbulkan oleh adanya air di rekahan
serta pembekuan air, penggembungan lapisan lempung dan
perpindahan sisa tegangan.
Sedangkan faktor yang mengurangi kekuatan geser adalah :

o Keadaan atau rona awal, memang sudah rendah dari awal


disebabkan oleh komposisi, tekstur, struktur dan geometri lereng.
o Perubahan karena pelapukan dan reaksi kimia fisik, yang
menyebabkan lempung berposi menjadi lunak, disinteggrasi batuan
granular, turunnya kohesi, pengggembungan lapisan lempung,
pelarutan material penyemen batuan.
o Perubahan gaya antara butiran karena pengaruh kandungan air dan
tekanan air pori.
o Perubahan struktur, seperti terbentuknya rekahan pada lempung
yang terdapat di tebing / lereng.

Dalam pelaksanaannya kami diberikan tugas menghitung stabilitas


lereng, guna peletakan posisi crawler crane yang difungsikan untuk
membangun Tower Crane. Dan kami diminta untuk menghitung apakah
lereng cukup kuat untuk menahan beban crawler crane.
4.6 Termite Proofing Control

a. Definisi Termite Proofing Control

Termite Proofing Control adalah Pengendalian rayap dengan metode


umpan,menggunakan system sentricon yang sangat efektif membasmi
koloni rayap jenis Coptotermes Sp. Sistem ini di lakukan dengan dua
metode yaitu :

1. Metode Preventif

Tindakan pencegahan untuk mengidentifikasi serangan rayap dini.

2. Metode Eliminasi

Mengendalikan serangan hama rayap dengan tujuan mengeliminasi


seluruh koloni rayap yang sudah menyerang bangunan.

b. Peralatan :
1. Injector
2. Power Spray
3. Drum Air
4. Selang Bertekanan
c. Alat/bahan yang digunakan

1. LENTRA
merupakan anti rayap non repellent (tak menolak),
sehingga rayap tidak bisa mengenalinya dan akan datang ke area yang
disemprot maka tubuhnya akan terpapar langsung oleh larutan
semprot. Pada umumnya anti rayap yang digunakan dalam perlakuan
pra konstruksi dan pasca konstruksi adalah dari jenis
anti rayap repellent yang artinya rayap akan menghindari area yang
telah disemprot (menolak) tapi masih aktif mencari celah lain untuk
menyerang struktur bangunan.

2. CISLIN 25 EC
Cislin 25 EC adalah insektisida berbentuk konsentrat yang dapat
diemulsikan, berasal dari golongan pyrethroid, memiliki
kecepatan knockdown dan efek flushing yang baik.
Cislin 25 EC memiliki efek langsung pada rayap dan akan memberikan
kontrol infestasi dengan mengendalikan nimfa, rayap dewasa dan
rayap yang menyerang dari lokasi lain. Termitisida bahan pengawet
kayu racun kontak dan lambung berbentuk pekatan yang dapat
diemulsikan berwarna kuning jernih untuk mengendalikan rayap
tanah Coptotermes gestroi dan rayap kayu kering
Cryptotermes cynochephalus.
LENTRA CISLIN 25 EC

d. Metode pelaksanaan
1. Pekerjaan persiapan :
Pembersihan lokasi, seleksi dan negosiasi, vendor, pengadaan material
2. Pemilihan metode :
Urutan pelaksanaan (Anti Rayap Pra-Konstruksi/Pasca Konstruksi),
Komposisi Cairan Termitisida
3. Campurkan bahan terminisida dengan air sesuai dengan komposisi
pada label produk. Dituang ke dalam wadah drum penampung
4. Untuk Anti Rayap Pra-Konstruksi (Pelaksanaan sebelum lantai kerja) :

Lokasi di bawah pelat lantai (setelah pekerjaan urugan pasir di bawah


lantai kerja)
Semprotkan larutan terminisida yang telah dicampur ke atas
permukaan area yang telah dipersiapkan

5. Untuk Anti Rayap Pasca-Konstruksi (pelaksanaan sesudah lantai


kerja). Maka dilakukan injeksi terminisida per m2 sesuai spesifikasi.
e. Flow Chart Metode Pelaksanaan

START

Persiapan Areal Penyemprotan

Pemilihan Metode
(Urutan pelaksanaan, komposisi cairan terminisida)

Penggunaan APD sebelum


Penyemprotan

Penyemprotan
Terminisida

Perbaiki

Inspeksi
TIDAK
YA

FINISH
f. Pelaksanaan di Lapangan

a. Pre Construction / Pra konstruksi ( Proses pembangunan )

Pekerjaan termite control Pra konstruksi dilakukan sebelum atau


pada saat bangunan didirikan melalui tahap-tahap sebagai berikut:

1. Perlakuan pada pondasi


Setelah lubang pondasi selesai digali, dasar dindingnya
disemprot dengan larutan termitisida secara merata
sebanyak 5 liter larutan /m2.
Semprot dan siram kedua sisi pondasi secara merata dengan
larutan termitisida dosis 10 liter larutan /m (dalam pondasi
1 m lurus, 5 liter sebelah kanan dan 5 liter sebelah kiri).
Tanah galian atau urugan harus disemprot secara merata
dengan larutan termitisida. Setelah pondasi dibangun, tanah
galian dimasukan kembali kedalam lubang pondasi agar
berfungsi sebagai penyangga serangan rayap.

2. Perlakuan sebelum pemasangan lantai


Sebelum lantai dipasang, semua permukaan tanah disemprot
dengan larutan termitisida dengan dosis 5 liter larutan / m2.

3. Wood Treatment (Perlakuan pada Kayu)


Perlakuan pada kayu bertujuan melindungi konstruksi kayu
selain dari serangan rayap tanah juga rayap kayu kering dan
bubuk kayu kering. Dapat dilakukan pada pra dan pasca
konstruksi. Pada pekerjaan ini digunakan Metode Injeksi
Kayu (wood injector) yang dipasangkan secara permanen pada
konstruksi kayu, misalnya kusen, pintu, jendela, tiang dan
dinding kayu.
Peralatan yang digunakan:

1. Pentil kayu
2. Alat bor kayu dan tembok
3. Palu
4. Mesin Injektor bertekanan tinggi 50 - 180 BAR.
5. Hand Sprayer

Metode pekerjaan
1. Penginjeksian pentil kayu pada kayu yang belum atau
sudah di cat.
2. Memasukkan termitisida kedalam kayu dilakukan
dengan menggunakan alat pistol injeksi bertekanan
50 180 bar melalui pentil kayu , sehingga penetrasi
termitisida dalam kayu meresap sempurna keseluruh
bagian kayu.
3. Penyemprotan (spraying) dan pelaburan (brusing)
dilakukan diseluruh permukaan kayu hingga basah dan
merata dengan larutan termisida. Sedangkan pada kayu
yang belum dicat, permukaan dioles dengan larutan
termitisi. Sedangkan untuk rangka atap , kuda-kuda,
reng dan kaso dioles atau disemprot dengan larutan
termitisida. Pengolesan dan penyemprotan selain
kepermukaan kayu juga ke bagian ujung-ujung kayu,
celah-celah dan retakan dengan dosis 200 ml larutan
tiap m2 permukaan.
g. Post Construction / Pasca Konstruksi (bangunan lama/sudah jadi)

Pekerjaan termite control pasca konstruksi dilakukan untuk bangunan yang


sudah ada/berdiri untuk mempertahankannya dari serangan rayap melalui
tahap-tahap sebagai berikut:

1. Membuat lubang pada lantai dengan jarak 15 cm dari dinding.


Lubang tersebut berdiameter 1 cm dengan kedalaman 30 cm
menembus kedalam tanah. Jarak dari lubang yang satu ke
lubang lainnya 30-40 cm. Agar tidak terjadi kerusakan
menggunakan mata bor khusus untuk beton/ubin
2. Dari lubang yang dibuat akan diinjeksikan larutan termitisida
menggunakan power spray dengan dosis 2 liter larutan per
lubang
3. Setelah selesai disuntikkan semua lubang yang dibuat tadi
ditutup kembali dengan semen sewarna lantai.
4. Peralatan yang digunakan : BOR , INJECTOR, PENTIL

h. Pemasangan Larutan Anti Rayap

a. Penyemprotan larutan anti rayap pada tanah dilakukan di kanan dan


kiri pondasi atau sloof yang pelaksanaannya bersamaan dengan
pengurukan kan kiri pondasi atau sloof. Atau dapat juga dilakukan
dengan cara injeksi apabila dilaksanakan setelah pengurukan tanah.

b. Penyemprotan larutan anti rayap pada tanah lantai dasar sebelum


pemasangan lantai kerja atau ubin.
i. Pelaksanaan Pekerjaan Pemasangan Larutan Anti Rayap

Pelaksanaan pekerjaan tersebut diatas setelah dikeluarkan Surat


Perintah Kerja dari pihak PT. Pembangunan Perumahan dan
mengikuti jadwal pekerjaan sipil.

1. Perlakuan I

Penyemprotan pada dasar galian pondasi jika pondasi masih berada di atas
permukaan air tanah dengan cara spray.

2. Perlakuan II

Penyemprotan tanah urug sekeliling dinding pondasi dengan kedalaman


sampai diatas permukaan air tanah dengan cara injeksi. Perlakuan untuk
sekeliling pondasi dengan kedalaman lebih dari 1m dilaksanakan
penyemprotan pada tanah urug kembali setiap kedalaman 50cm,
bersamaan dengan pekerjaan pengurukan.
3. Perlakuan III

Penyemprotan pada kanan kiri beton sloof yang dilaksanakan dengan cara
injeksi atau spraying.

4. Perlakuan IV

Penyemprotan pada permukaan lantai dasar yang berhubungan langsung


dengan tanah, yang dilaksanakan sebelum pemasangan lantai kerja.
Dalam Pelaksanaannya kami diberi tugas untuk menyusun materi Termite
Proofing Control seperti yang diatas menjadi PowerPoint.
4.7 Mass Concrete

a. Pengertian Mass Concrete

Mass Concrete adalah pekerjaan pengecoran masal dengan jumlah beton


yang sangat besar .Pekerjaan mass concrete memerlukan pengendalian
thermal yang mana dalam hal ini pengecoran beton dengan volume besar
mengakibatkan terjadinya proses hidrasi semen atau proses pengerasan
dimana beton akan mengeras dengan cara mengeluarkan hidrasi yang besar
sehingga berpotensi beton menjadi retak dan beton menjadi tidak konjugasi.

b. Definisi Mass Concrete

( Berdasarkan ACI 207 ) :


Mass concrete adalah segala volume beton dengan dimensi yang cukup besar
sehingga perlu pengendalian thermal tehadap panas yang ditimbulkan oleh
proses hydrasi semen.
Potensial Problem Mass Concrete :
Masalah yang biasa terjadi pada Mass concrete adalah Retak Thermal yaitu
retak pada beton yang disebabkan adanya perbedaan temperatur beton antar
o
lapisan maupun dengan suhu lingkungan 20 C (ACI, Jurnal Vol. 94 No 2,
1997), dan kenaikan maksimum atau penurunan suhu yang menyebabkan
o
kontraksi dan mengakibatkan crack adalah 40 C/Jam.
c. Persyaratan Teknis Mass Concrete

1. Supply beton yang kontinyu.


2. Kecepatan pengecoran yang memadai.
3. Jenis dan kapasitas peralatan yang memadai.
4. Kapasitas tenaga kerja yang mencukupi.
5. Metode pengecoran yang tepat untuk menghindari cold joint.
6. Mix design beton yang sesuai.
7. Schedule pengecoran yang tepat dengan mempertimbangkan kondisi lalu
lintas dan lamanya pengecoran.
8. Pengendalian thermal dengan pemasangan thermocouple untuk monitoring
suhu beton.

d. Material Mass Concrete

MATERIAL VOLUME SATUAN

Besi Beton U-50 1.034.821,52 Kg

Volume Besi 131,82 m3

Volume Mass Concrete 4404,11 m3

Volume Beton Mass Concrete 4272,28 m3

Floor Hardener (out of scop) 1617,9 m2

Wiremesh 184 Lembar

Kawat Ayam 790 m2

Plywood

Waterstop
Pipa/Besi untuk Tiang Thermo couple 3 buah

Plastic Cor 1617,9 m2

Sterofoam + Lakban 1617,9 m2

Thermo couple 9 buah (3 -


titik)

Kawat Harmonika 537,6 m2

Mantel Jas Hujan, Senter, HT Sesuai -


kebutuhan

e. Peralatan Pendukung Untuk Pekerjaan Mass Concrete

ALAT VOLUME SATUAN

Mesin Trowel 1 unit

Concrete Pump 4 + 1 cadangan unit

Pompa Air (engine) + 5 unit


selang 3 inch

Vibrator, Selang Vibrator 4 + 3 cadangan unit


(@16 unit)

Thermo Couple 3 unit

Tenda 1620 m2

Compressor 1 Unit
Kesediaan Power Panel 8 Panel

Genset Cadangan 250 1 Unit


kVA

Penerangan Lampu HPIT 33 Buah


400 watt

f. Perhitungan Waktu dan Produktivitas

Volume Mass Concrete : 4.404,11 m3


Volume Besi Mass Concrete : 133,82 m3
Volume Beton Mass Concrete : 4.270,29 m3
Kapasitas Produksi Mass Concrete : 112,00 m3/jam
Lama Pelaksanaan Mass Concrete : 38 jam
: 1,59 hari

87,348 m
25,00 m
3,49

Dari perhitungan di atas


dapat disimpulkan jika Mass
Concrete dapat diselesaikan
dalam 1,59 hari.
g. Perhitungan Cycle Time Truck Mixer
DATA

Volume beton mass concrete = 4.270,73 m3


Jumlah Pompa = 4,00 bh
Kapasitas Pompa = 28,00 m3/jam
Kapasitas Produksi Mass Concrete = 112,00 m3/jam
Lama Pelaksanaan Mass Concrete = 38 jam
Kapasitas Truck Mixer = 7,00 m3
PERHITUNGAN

Jumlah Truck Mixer untuk 1 pompa = 4,00 Truck/jam

Jumlah total Truck Mixer = 16,00 Truck/jam


Cycle Time kedatangan Truck Mixer = 4,00 menit

h. Persiapan dalam Menjaga Kontinuitas Pengiriman Beton

a. Persiapan alat, personel dan infrastruktur proyek (jalan akses, lahan parkir
dan manuver serta area cuci TM)
b. Kapasitas Batching Plant :
Kapasitas Batching Plant harus kapasitas bongkar proyek
c. Cycle time dari batching plant ke lokasi
proyek Cycle time terdiri atas :
1. Waktu loading beton
2. Waktu mixing beton
3. Waktu perjalanan berangkat ke lokasi
4. Waktu parkir, manuver dan tunggu di proyek
5. Waktu bongkar (cor)
6. Waktu cuci TM di proyek
7. Waktu perjalanan pulang dari proyek
d. Jumlah kebutuhan minimal Truck Mixer
i. Batching Plant Support
1. PLANT ROMOKALISARI

Lokasi : Jl. Tambak Langon 23 B, Gresik


Kapasitas Batching Plant : 60 m3/jam
Kapasitas Silo : Cement 180 Ton, Fly Ash 90 Ton
Armada Truk Mixer : 25 units
Whell Loader : 2 Units
Stock Yard Materials : 2500 m3

ACTIVITY
CAPACITY 60 M3 / HOUR
DISTANCE 23 KM
LOADING 10 MINUTES
TRIP TO SITE 70 MINUTES
SLUMP AND TEMPERATURE CHECK 5 MINUTES
UNLOADING 12 MINUTES
CLEANING 5 MINUTES
TRIP BACK TO PLANT 70 MINUTES

TOTAL TM (3 CP) @25 M3/HOUR 25 UNITS

2. PLANT KARANG PILANG


Location : Komplek Wira Jatim, Karang Pilang Surabaya
Batching Plant Cap. : 60 m3/jam + 60 m3/jam
Silo Cap. : Cement 360 Ton, Fly Ash 360 Ton
Mixer Truck : 40 units
Whell Loader : 2 Units
Stock Yard Materials : 6000 m3
ACTIVITY
CAPACITY 60 M3 / HOUR
DISTANCE 13 KM
LOADING 10 MINUTES
TRIP TO SITE 70 MINUTES
SLUMP AND TEMPERATURE CHECK 5 MINUTES
UNLOADING 12 MINUTES
CLEANING 5 MINUTES
TRIP BACK TO PLANT 60 MINUTES

TOTAL TM (3 CP) @25 M3/HOUR 40 UNITS


Rute rute perjalanan dari plant ke
proyek a. Plant romokalisari

plant proyek
(jarak tempuh 23 km)
b. Plant karangpilang
plant proyek

(jarak tempuh 13 km)


c. Plant kedung cowek (cadangan)
jl. Kedung cowek 219 kel. Tanah kali kec. Kedinding rt.03 rw. 05
- surabaya)
d. Plant karang andong (cadangan)
ds. Driyorejo kec. Driyorejo kab. Gresik

j. Manajemen Komunikasi Order Beton


k. Proses Quality Control

l. Persiapan alat, APD dan K3 yang dibutuhkan


m. Kontrol Kualitas Beton
Meliputi :
1. Pengukuran suhu beton segar
2. Pengukuran slump beton
3. Pengambilan benda uji

Kriteria penerimaan beton : Pembacaan suhu beton


1. Suhu beton segar 30 C segar dilaksanakan secara
2. Slump beton 12 2 cm random satu kali dari lima
buah mixer.

3
Pengambilan benda uji setiap 120 m

( 18 truk mixer) diambil 1 set (4 benda uji).

1 benda uji untuk umur 7 hari


2 benda uji untuk umur 28 hari
1 benda uji untuk umur 56 hari (cadangan)
Pengujian slump sesuai dengan ASTM C143-96
Pengujian slump di lapangan dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan
sebagai berikut:

Beton dapat dikembalikan bila ternyata slump beton melebihi batas atas
ketentuan yang ditetapkan (> 140mm).
Bila slump beton berada lebih rendah dari batas bawah (< 100mm), maka
akan dilakukan penambahan admixture untuk penyesuaian slump beton.
Sesuai SNI 03-2847-2002 mengenai frekuensi pengambilan benda uji untuk
"mass concrete yaitu satu set untuk setiap 120M atau setiap 18 truk
(1 set = 4 benda uji). Hal ini berdasarkan akumulatif volume beton secara
menyeluruh untuk masing-masing group pompa beton.
Pengujian:
- 7 hari
1 benda uji
- 28 hari
2 benda uji
- cadangan
1 benda uji

n. Metode Pelaksanaan Mass Concrete

START START

Pendatangan Material Pengajuan Shop


Drawing
Tidak

Pengambilan Sampel Ya / Tidak


Benda Uji
Ya

Pengujian Tidak Shop Drawing

Sesuai dengan Mutu Pengajuan Ijin Kerja


dan Syarat Teknis
Tidak

Ya / Tidak Ya / Tidak

Ya Ya

Besi dapat digunakan Pelaksanaan

FINISH FINISH
Pengangkatan besi ke area pile cap tower (mass concrete) menggunakan
tenaga manusia dan Mobile Crane / Tower Crane.

START

Pembesian

Check List Pembesian


(Partial)

Tidak

Ya / Tidak

Ya

Siap untuk Pengecoran

Pengecoran

FINISH

Pengecoran baru dilaksanakan setelah dilaksanakan proses check list


pembesian (pembesian sudah sesuai dengan rencana).

Personel pengecoran (4 group)


1 Orang Mandor
1 Group :

- Tukang finishing : 4 orang


- Tukang cor & vibrator : 2 orang
Pemadatan dan Pengecoran
Pemadatan dilakukan dengan mengunakan vibrator dengan metode yang
benar tanpa menyentuh permukaan bekisting. Kecepatan pengecoran dan
kontinuitas pengecoran perlu diperhatikan. Pengecoran dilakukan layer-layer
tanpa cold joint.

Gambar Penempatan Vibrator pada Gundukan Beton

Hanya dipermukaan yang


terpadatkan

Beton tak terpadatkan

Cara yang salah

Posisi ke 2

Posisi ke 3 Posisi ke 1

Gundukan beton
sewaktu dituang

Cara yang benar


Alat pemadat beton (vibrator) yang digunakan yaitu tipe Elektrik, sehingga
diperlukan untuk menarik kabel listrik ke area pile cap tower pada saat
pengecoran.
Alat vibrator yang disediakan sebanyak 4 buah.

- Mengeluarkan udara yang terjebak didalam beton.

- Beton segar mengandung 5 20% udara terjebak.

Proses :

1. Mengkonsilidasikan partikel agregat dan sampai rata pada level atas

(3 detik).

2. Mengeluarkan udara terjebak (7 15 detik).

Diameter head vibrator yang digunakan ukuran 40 60 mm.

Pengecoran dibuat full depth


3
Asumsi beton setting 3 jam Vol Beton = 3 x 112 m3 = 336 m
Dengan tebal mass concrete 2,5 m,
3
maka tiap 1 zona dapat dikerjakan sebanyak +336 m
o. Site Installation dan Traffic Management

Traffic Management Mass Concrete (Alternatif 1)


Traffic Management Mass Concrete (Alternatif 2)

Traffic Management Mass Concrete


p. Item dan Urutan Pekerjaan

Metode Pengecoran full Depth 2,5 m


Pengecoran Raft Foundation area Tower dilakukan 1 kali.
Luas Area Mass Concrete : 1617.92 m2
Volume Mass Concrete : 4.404 m3
Menggunakan Bekisting Precast
1. Pekerjaan Bekisting Pit Lift & Lean Concrete

Bekisting pit lift menggunakan material batako atau puing potongan tiang
pancang yang dipecah-pecah

Sedangkan lean concrete menggunakan material beton B0 atau campuran


mortar biasa setebal 5 cm

2. Tahapan Pembuatan Precast Dinding Mass Concrete

1. Siapkan dan bersihkan lahan fabrikasi precast.

2. Buat dasar cetakan menggunakan phenolfilm.

3. Buat cetakan menggunakan besi hollow 5x5 yg ukuran dan bentuk cetakan
dapat disesuaikan sesuai kebutuhan.

4. Pasang wiremesh M4 sebagai tulangan dan besi D10 sebagai lifting loop.

5. Olesi cetakan dengan minyak bekisting.

6. Pengecoran precast Dinding dengan mutu k 300 setebal 7cm(selimut beton


raft).

7. Setelah matang (Usia beton 24jam), angkat precast dan letakkan di stockyard
dengan rapi.
3. Tahapan Pemasangan Precast Dinding Raft Foundation

1. Urugan pasir pada mass concrete sebagai landasan untuk lantai kerja.
2. Lantai kerja tebal 5 cm pada dasar Mass Concrete.
3. Pemasangan dinding precast Raft Foundation diangkut oleh tenaga manual
menggunakan alat angkat.
4. Penimbunan tanah diluar dinding mas concrete.
Denah Precast Raft

Detail Precast Raft


Bekisting Pit Lift
4. Pekerjaan Pembesian

Pemasangan stek tulangan kolom sesuai shopdrawing

Pemasangan separator besi untuk memisahkan tulangan atas dan bawah

Digunakan besi Dia 13-19 dengan jarak tertentu

Pemasangan dudukan relat, terbuat dari besi siku dan dilas ke tulangan

Level dari dudukan relat ini ditentukan oleh tim surveyor yang disesuaikan
dengan level beton raft
5. Pemasangan Tenda dan Thermocouple

Pembuatan Pos Monitoring Pendatangan Beton & Tes Benda Uji


1. Pos dibuat dengan menyewa tenda ataupun dengan membuat sendiri
dengan bahan yang ada di proyek.
2. Pos dibuat dengan kokoh,stabil, dan teduh.

Pembuatan Tenda Terpal


1. Tenda Pelindung berfungsi sebagai Pelindung beton dari hujan dan panas
setelah dicor.
Rangka : Besi Pipa/Hollow
Pengencang : Besi D10
Bahan : Terpal
6. Pengecoran Pit Lift

1. Persiapan sebelum Pengecoran


Pemasangan plastik cor pada stek tulangan kolom dan shearwall untuk
melindungi tulangan tersebut dari percikan beton pada saat pengecoran.

Pengendalian Retak Termal dengan Pemasangan Thermocouple


Pemasangan Penerangan
Penerangan cukup untuk proses pengecoran di malam hari
Dipasang 33 titik lampu berdaya 400 Watt

Trial Lokasi Pompa


Trial Pompa bertujuan untuk mensimulasikan lokasi pompa sesuai dengan
perencanaan site plan
Setelah didapatkan lokasi pompa yang sesuai maka lokasi tersebut
dimarking/ditandai agar mempercepat proses setting lokasi pompa pada saat
hari H
Kegiatan ini dilakukan 1 hari sebelum pelaksanaan mass concrete
Karena lokasi pompa beralas tanah, maka digunakan plat baja untuk
memudahkan manufer dan pengoperasian kendaraan
Trial Lokasi Manufer Truck Mixer
Kegiatan ini bertujuan untuk mensimulasikan pola manufer truck dan
memastikan apakah manufer bisa lancar
Kegiatan ini dilakukan bersamaan dengan proses trial posisi pompa
Pengecekan jalan kerja, pastikan jalan kerja cukup untuk lewat dan proses
manufer truck mixer.
Jalan kerja yang menggunakan plat baja tebal 5 mm

Trial Setting Pompa


Setting pompa dilakukan sekitar 12 jam sebelum mass concrete dimulai
Pompa diletakkan pada lokasi yang sudah ditentukan pada saat trial /
simulasi perletakan pompa beton pada hari sebelumnya
Pasang terpal di bagian belakang bawah untuk menampung tumpahan beton
pada saat pengecoran
2. Pelaksanaan Pengecoran
Tes Slump
Tes Slump : 1 benda uji setiap truck mixer
Tes Tekan Benda uji : sepasang benda uji setiap 10 truck mixer (Sesuai
spesifikasi proyek)

Pengecoran Mass Concrete


Proses penuangan beton dari pipa tremi ke lokasi cor
Proses perataan beton dengan menggunakan jidar aluminium yang bertumpu
pada pipa relat, dari proses ini akan didapatkan elevasi beton yang rata,
seragam dan sesuai dengan yang direncanakan
Jika volume beton yang dicor sudah mencapai dari total, maka dilakukan
opname bersama dengan suplier untuk menghitung sisa volume beton yang
harus dikirim ke site
Dengan opname ini akan didapatkan berapa sisa volume beton (real dan lebih
akurat) yang harus dikirim ke site
Perataan permukaan beton
Monitoring elevasi permukaan beton dengan menggunakan alat waterpass
Penggosokan permukaan beton sebelum ditrowel
Talang ditutup dengan terpal agar tidak perlu cuci talang di lingkungan
proyek. Ban Truck mixer dicuci sebelum meninggalkan lokasi proyek
dilokasi washing bay. Untuk menjaga agar proses mass concrete berjalan
continue dan lancar, salah satunya adalah dengan menjaga keamanan proyek
serta proses-proses perijinan. Untuk itu diperlukan koordinator petugas
keamanan dan perijinan.

3. Setelah Pengecoran
Floor Hardener dan Finish Trowel
Finishing pengecoran dilakukan dengan menaburkan floor hardener dan
finish trowel
Setelah permukaan beton mulai mengeras (namun masih mengandung air),
taburkan serbuk floor hardener
Hati-hati, jangan sampai beton mengeras, karena serbuk floor hardener tidak
bisa melekat pada permukaan beton sehingga proses floor hardener akan
mengalami kegagalan
Kemudian digosok dengan menggunakan alat trowel
Curing Beton
Curing beton bertujuan untuk menjaga agar tidak terjadi perbedaan yang
ekstrim antara permukaan dan bagian dalam beton. Perbedaan suhu yang
terlalu ekstrim akan menyebabkan crack pada permukaan beton. Dan dalam
hal ini digunakan plastik cor, dan styrofoam 3 cm untuk menjaga suhu panas
permukaan beton.

Monitoring Suhu
Alat yang digunakan adalah Kabel Thermocouple di cor pada beton, kabel
penghubung thermocouple, dan alat pengukur suhu. Pembacaan suhu
dilaksanakan setelah pengecoran usai sebagai berikut :
Untuk 24 jam pertama pembacaan dilaksanakan setiap 2 jam
Untuk 2 x 24 jam berikutnya pembacaan dilaksanakan setiap 3 jam
Selanjutnya dilaksanakan selama 4 kali pagi 09.00, siang 12.00, sore 17.00
dan malam 20.00 selama 7 hari.
Pembacaan suhu dihentikan setelah dicapai delta suhu konstan < 20 derajat C
Pemasangan sterofoam sebagai isolasi panas sehingga dapat menahan &
melepas panas secara perlahan-lahan agar pendinginan permukaan dapat
terkendali. Selama selisih suhu 20 derajat celsius retak thermal dapat
dihindari.

q. Kontrol Suhu Mass Concrete

Tujuan : Mengeliminasi retak thermal dengan mengontrol perbedaan suhu


dan suhu campuran (sebelum, pada saat dan setelah pengecoran )
Kontrol ini harus juga dievaluasi antara biaya dengan manfaatnya
Scope : Thermal conctrol ini akan diaplikasikan pada mass concrete raft
foundation di Tower Caspian Grand Sungkono Lagoon

r. Metode Alternatif

1. Optimasi Mix Desain


Penggunaan semen low heat misalnya semen tipe 2
Penggunaan fly ash atau slag sebagai pengganti porsi semen
Penggunaan rasio air semen yang rendah
Mengurangi penggunaan semen pada campuran
2. Insulinasi Permukaan Beton
Untuk mengontrol perbedaan suhu antara bagian core dengan permukaan
beton
Metode ini menggunakan material plastik dan stereofoam yg digelar pada
permukaan mass concrete
Insulasi juga bisa dilakukan dengan mempertahankan bekisting samping untuk
tidak segera dibuka, agar panas pada permukaan beton tidak terlalu cepat lepas

s. Thermal Control Plan

o
Batasan Suhu maksimum : 90 C
o
Batasan beda suhu : 20 C
Untuk menjamin tidak dilampauinya batasan di atas, PP akan melakukan
thermal control plan dengan mencoba semua alternatif metode yang sudah
disebutkan sebelumnya :

o Optimasi mix desain campuran beton (By Batching Plan)


o Cooling material, alat, dan beton sebelum pengecoran (By Batching Plan)
o Insulasi permukaan beton (By PP)
o Temperature monitoring & report (By PP)

Dalam pelaksanaannya kami diberikan tugas untuk menyusun materi Mass


Concrete seperti diatas menjadi PowerPoint.
4.8 Kasus di Lapangan

Tekanan lateral tanah adalah tekanan oleh tanah pada bidang horizontal.
Contoh aplikasi teori tekanan lateral adalah untuk desain-desain seperti
dinding penahan tanah, dinding basement, terowongan, dll. Tekanan lateral
tanah dapat dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:

Jika dinding tidak bergerak K menjadi koefisien tekanan tanah diam


(K0)

Jika dinding bergerak menekan ke arah tanah hingga runtuh, koefisien K


mencapai nilai maksimum yang dinamakan tekanan tanah pasif (Kp)

Jika dinding menjauhi tanah, hingga terjadi keruntuhan, nilai K


mencapai minimum yang dinamakan tekanan tanah aktif (Ka)

Gambar di bawah ini mendeskripsikan tentang arah pergerakan dinding


menurut tekanan lateral yang bekerja.

Gambar Jenis Tekanan Tanah Berdasarkan Arah Pergerakan Dinding

Dalam suatu proyek konstrusi terutama gedung bertingkat banyaj, wajar bila
ditemui struktur bawah tanah yang nantinya akan digunakan sebagai basement
dan ruang parkir. Lain dengan struktur atas ayng kebanyakan terdiri dari balok,
plat, corewall/shearwall, pada struktur bawah terdapat lebih banyak strukur.
Beragamnya jenis struktur bawah sebagian besar dipengaruhi oleh struktur tanah
dan muka air tanah lokasi. Masing-masing jenis tanah memiliki
karakteristik sendiri sehingga perlu adanya perlakuan khusus agar struktur
bawah yang dibangun mampu menopang stuktur atas bangunan.

Waller beam merupakan salah satu struktur bawah yang ada di proyek. Waller
beam sebenarnya bagian dari sistem penahan tanah. Pada saat proses pengga;ian
di suatu lokasi dilakukan apalag penggalian dengan elevasi yang dalam,
diperlukan adanya struktur tersendiri untuk menahan agar tidak runtuk.

Salah satu jenis dinding penahan tanah adalah Ground anchor dan soldier pile
yang merupakan jenis bore pile yang terdiri dari campuran semen dan
menggunakan sebagai struktur adalah kawat baja yang ditanahm pada
posisinya miring 45 terhadap soldier pile sisi bangunan bagian luar dalam
tanah. Biasanya sturkutr seperti ini sudah cukup untuk menahan tanah,
namun pada lokasi galian yang dalam dan kodisi tanah yang buruk, maka
diperlukan perlakuan khususuntuk memperkuat dinding penahan yaitu sistem
anchor. Karena pengangkuran tidak mungkin dilakukan di tiap angkur, maka
dibuatlah Capping beam sebagai pengikat antar pile sehingg soldier pile
nekerja menjadi satu sistem penahan tanh. Selain itu capping beam juga
berfungsi untuk dudukan angkur.

Pada pelaksanaannya, capping beam pada awalnya berfungsi sebagai struktur


yang penyatukan soldier pile, agar soldier pile dapat bekerja secara
bersamaan. Capping beam bergeser dari kondisi awal di 7cm menjadi 9cm.
Salah satu penyebabnya adalah pada tumpuan capping beam tepat di ujung
soldier pile, dilakukan penggalian tanah. Sedangkan, dalam kondisi ini tanah
memiliki tegangan aktif yang dapat memperkuat posisi soldier pile menjadi
berkurang kekuatannya. Sehingga mengakibatkan soldier pile yang bergeser
dan diikuti oleh capping beam.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengawasan dan pengamatan selama KKN-P berlangsung


pada Proyek Pembangunan Gedung Apartemen Grand Sungkono Lagoon
Tower Caspian, dapat ditarik kesimpulan diantaranya :

1. Struktur organisasi pada Proyek Pembangunan Gedung Apartemen Grand


Sungkono Lagoon Tower Caspianterdiri dari Pemilik Proyek, Kontraktor
Rancang Bangun dan Konsultan MK yang saling berkoordinasi sehingga
pengelolaan proyek dapat menghasilkan efisiensi waktu, biaya proyek sesuai
dengan anggaran, dan kualitasnya sesuai dengan perencanaan.Dengan
demikian, optimasi fungsi masing-masing bagian dapat dicapai sesuai dengan
tujuannya. Hal ini sangat penting artinya bagi proses perkembangan setiap
bagian proyek, sehingga koordinasi secara efektif dalam pengelolaan seluruh
tahapan pembangunan proyek yang dilakukan bisa menjadi satu manajemen
yang utuh dan terpadu.

2. Dalam pelaksanaan fisik suatu proyek, permasalahan yang tidak terduga dan
kompleks dapat muncul dikarenakan oleh beberapa sebab tertentu. Hal
tersebut harus diselesaikan dalam kurun waktu yang singkat mengingat suatu
proyek mempunyai jangka waktu pelaksanaan yang sudah ditentukan.
Permasalahan dan kendala yang dihadapi selama pengerjaan proyek adalah:

1. Cuaca yang tidak menentu dan sering kali hujan. Ketika hujan turun maka
pekerja akan menghentikan aktifitasnya.
2. Kurangnya pengetahuan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja, hal ini
dapat terlihat pada banyaknya pekerja yang tidak menggunakan alat
keselamatan dan kesehatan kerja seperti safety shoes, helm kerja dan alat
pengaman lainnya.
3. Capping beam pada awalnya berfungsi sebagai struktur yang penyatukan
soldier pile, agar soldier pile dapat bekerja secara bersamaan. Capping beam
bergeser dan diikuti soldier pile.

5.2 Saran
Berdasarkan hasil pengamatan saat melakukan Kuliah Kerja Nyata Praktik
(KKN-P) pada Proyek Pembangunan Gedung Apartemen Grand Sungkono
Lagoon Tower Caspianini tidak terlepas dari kesulitan dan hambatan yang
timbul dalam pelaksanaan pekerjaan. Untuk mengatasi kesulitan dan
hambatan tersebut saran yang kiranya perlu diperhatikan antara lain:

1. Perlu dilakukan pengawasan yang terpadu dan terorganisir untuk pekerjaan


di lapangan, sehingga pekerja dapat melaksanakan pekerjaannya sesuai
dengan gambar rencana, syarat, dan ketentuan yang telah ditetapkan.
2. Pembuatan drainase di area yang lebih baik untuk menghindari genangan air
saat terjadinya hujan di lokasi proyek.
3. Faktor cuaca pada saat pekerjaan perlu mendapat perhatian khusus, kondisi
cuaca yang ada jangan sampai menjadi kendala utama dalam penyelesaian
pekerjaan, melainkan harus diantisipasi sedini mungkin sehingga tidak banyak
waktu dan biaya yang terbuang sia sia.
3. Aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja perlu diperhatikan untuk mencegah
hal-hal yang tidak diinginkan, dapat dilakukan dengan memberikan
penyuluhan secara rutin kepada pekerja tentang pentingnya penggunaan alat
keselamatan selama di dalam lokasi proyek.
4. Pemasangan tanda keselamatan pada lokasi yang memiliki risiko tinggi atau
rawan kecelakaan agar semua pihak mengetahui prosedur yang harus
dijalankan demi menghindari terjadinya kecelakaan.