Anda di halaman 1dari 24

TUGAS KELOMPOK

IMPELEMNTASI 5S DALAM MENINGKATKAN


MUTU LINGKUNGAN KERJA

Mata Kuliah
MANAJEMEN PENGEMBANGAN SUMBERDAYA MANUSIA

yang Diampu oleh


Dr. H. Endang Herawan. M.Pd.
Dr. H. Yahya Sudarya. M.Pd.
Dr. Asep Sudarsyah. M. Pd.

Oleh:
Dewi Prasmawaty NIM 1608361
Achmad Mauluddin NIM 1608367

JURUSAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN


SEKOLA PASCA SARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas segala limpahan rahmat dan karunia-
Nya, makalah yang berjudul Implementasi 5S dalam meningkatkan Mutu
Lingkungan Kerja dapat diselesaikan dengan baik.
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi sebagian
dari syarat untuk menyelesaikan mata kuliah Manajemen Pengembangan Sumber
Daya Manusia yang diampu oleh Dr. H Endang Herawan, M. Pd. dan Dr. Yahya
Sudarya, M.Pd. Serta Dr. Asep Sudarsyah, M. Pd. pada Program Studi Administrasi
Pendidikan Sekolah Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia.
Teriring ucapan terima kasih kepada dosen pengampuh yang telah
membimbing dengan sabar selama perkuliahan, rekan-rekan mahasiswa
administrasi pendidikan pasca sarjana angkatan 2016 kelas kemdikbud, dan semua
pihak yang telah membantu hingga terselesaikannya tugas ini tepat pada waktunya.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan, untuk itu
saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan untuk
kesempurnaan tulisan berikutnya. Penulis juga berharap semoga makalah ini dapat
bermanfaat untuk semua pihak. Amiin.

Bandung, Oktober 2017

Penulis,

i| MAKALAH IMPLEMENTASI 5S DALAM MENINGKATKAN MUTU LINGKUNGAN KERJA


DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN...................................................................................... 1
A. Latar Belakang ............................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................ 3
C. Tujuan .......................................................................................................... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................... 4
A. Pengertian Mutu ........................................................................................... 4
B. Pengertian Lingkungan Kerja ...................................................................... 4
C. Jenis Lingkungan Kerja................................................................................ 5
1. Lingkungan Kerja Fisik............................................................................ 5
2. Lingkungan Kerja Non Fisik .................................................................... 7
D. Pengertian 5S.......................................................................................... 8
BAB III PEMBAHASAN ................................................................................... 12
A. Prosedur Mutu Lingkungan Kerja.............................................................. 12
B. Metode 5S .................................................................................................. 13
C. Manfaat Lingkungan Kerja ........................................................................ 18
BAB IV PENUTUP ............................................................................................. 20
A. Kesimpulan ................................................................................................ 20
B. Saran........................................................................................................... 20
Daftar Pustaka..................................................................................................... 21

ii | MAKALAH IMPLEMENTASI 5S DALAM MENINGKATKAN MUTU LINGKUNGAN KERJA


BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mutu Lingkungan Kerja merupakan tingkat kepuasan, motivasi,
keterlibatan, dan pengalaman komitmen perseorangan mengenai kehidupan
mereka dalam bekerja atau pada saat mereka berada dalam lingkungan kerja.
Mutu Lingkungan Kerja juga berarti derajat dimana para individu sanggup
memuaskan kebutuhan individu mereka. Dalam prakteknya belum banyak
lembaga yang menerapkan Mutu Lingkungan Kerja sebagai salah satu
misinya. Pihak manajemen masih lebih memperhatikan kepentingan dalam
pencapaian tujuan perusahaan ketimbang kepentingan karyawan.
Dengan kata lain terjadi keseimbangan perhatian yang timpang.
Padahal sebagai organisasi atau perusahaan semestinya berkepentingan
meningkatkan kepuasan karyawan dengan cara menanamkan pada karyawan
rasa aman, keadilan, kebanggaan, demokrasi, kepemilikan, otonomi,
tanggungjawab, dan keluwesan. Suatu lembaga juga perlu berupaya
memperlakukan para karyawan dalam suasana kejujuran dan suasana saling
mendukung, membuka luas saluran komunikasi pada semua tingkatan,
menawarkan semua karyawan untuk berpartisipasi dalam pengambilan
keputusan, dan memberdayakan mereka melalui penugasan-penugasan.
Lingkungan kerja merupakan salah satu faktor dari fungsi manajemen
SDM, tepatnya fungsi perencanaan. Fungsi perencanaan berhubungan
langsung dengan pegawai yang bekerja pada lingkungan organisasi. Dengan
demikian lingkungan kerja dalam suatu organisasi akan berpengaruh kepada
semua kegiatan organisasi.
Lingkungan kerja yang buruk dipandang oleh banyak ahli sebagai hal
yang tidak ekonomis, karena merupakan penyebab utama pemborosan waktu
dan hal-hal lainnya yang berakibat hasil kerja (output) yang dihasilkan
karyawan akan menurun. Setiap orang baik secara individu maupun
kelompok memberikan reaksi dengan sensitifitas atau kepekaan yang cukup
tinggi terhadap iklim pkologis, misalnya cahaya lampu yang kurang terang,
kamar yang pengap, dll.
Umumnya karyawan menghendaki tempat kerja yang menyenangkan,
memberikan tempat kerja yang menyenangkan berarti telah menimbulkan
perasaan yang nyaman dalam bekerja pada karyawan. (Ahyari, 2002 : 206).

1| MAKALAH IMPLEMENTASI 5S DALAM MENINGKATKAN MUTU LINGKUNGAN KERJA


Produktivitas dan mutu kerja dipengaruhi faktor-faktor yang terkait
dengan lingkungan kerja; antara lain beban kerja berlebihan yang tidak dapat
diperkirakan, perubahan-perubahan di akhir waktu yang dirancang,
kurangnya peralatan yang sempurna, dan tidak efisiennya alir kerja. Dengan
demikian, penting diterapkan suatu strategi untuk menjamin bahwa kerja itu
dirancang untuk mencapai produktivitas dan mutu maksimum. Strategi
dimaksud antara lain; rancangan tempat kerja, rancangan alur pekerjaan,
komputerisasi, dan rancangan pekerjaan (pengayaan, perluasan, dan rotasi
pekerjaan). Dengan strategi tersebut diharapkan dua kepentingan
(manajemen dan karyawan) sekaligus dapat dicapai.
Dalam melaksanakan tugas-tugasnya setiap tenaga kerja berhubungan
langsung dan sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Menurut Agus Ahyari,
(2002: 206) lingkungan kerja dapat dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok
pertama adalah disediakannya berbagai macam fasilitas untuk karyawan,
seperti pelayanan makan/makanan, pelayanan kesehatan, dan pengadakan
kamar mandi/kamar kecil. Kelompok kedua adalah masalah kondisi kerja.
Pengaturan kondisi kerja yang baik akan meningkatkan produktivitas
perusahaan. Pengaturan kondisi kerja antara lain pengaturan penerangan
ruang kerja, pengaturan suhu udara, pengaturan suara bising, pemilihan
warna, ruang gerak yang diperlukan, dan keamanan karyawan. Kelompok
yang ketiga adalah masalah hubungan karyawan. Umumnya karyawan
menghendaki tempat kerja yang menyenangkan. Memberikan tempat kerja
yang menyenangkan berarti telah menimbulkan perasaan yang nyaman dalam
bekerja pada karyawan, sehingga dengan cara demikian dapat dikurangi atau
dihindarkan dari pemborosan waktu dan biaya, merosotnya kesehatan, dan
banyaknya kecelakaan kerja. Perusahaan dapat menciptakan lingkungan kerja
yang menyenangkan dalam artian ada hubungan yang baik antar karyawan,
antara karyawan dengan atasan, serta menjaga kesehatan, keamanan di ruang
kerja, maka akan dapat meningkatkan produktivitas kerja karyawan (Agus
Ahyari, 2002: 207).
Dalam meningkatkan mutu, selalu ada banyak cara dan alat
yang dapat digunakan. Cara ini tidak hanya digunakan untuk mutu
perusahaan manufaktur saja, namun juga mutu untuk lingkungan
tempat kerja. Lingkungan kerja yang bermutu dapat mengurangi
potensi terjadinya "bencana/ masalah" seperti adanya kesulitan

2| MAKALAH IMPLEMENTASI 5S DALAM MENINGKATKAN MUTU LINGKUNGAN KERJA


dalam mencari dokumen penting, staff yang cedera karena
tersandung, pemborosan waktu dan biaya dan sebagainya. "Bencana/
masalah" tersebut bisa jadi diakibatkan oleh ketidakrapian dan
ketidak terorganisiran barang-barang di tempat kerja. Salah satu
metode untuk mencegah hal-hal tersebut adalah 5S (Seiri, Seiton,
Seiso, Seiketsu dan Shitsuke).
5S adalah teknik untuk menjaga mutu lingkungan dalam sebuah
perusahaan atau institusi dengan cara mengembangkan
keterorganisasiannya. Teknik yang dimaksud ini melibatkan 5 langkah
yang dikerjakan secara berurutan dan dapat dilakukan dimanapun
selama atau sampai dengan penerapan secara menyeluruh.
Walaupun penerapan telah sukses, perusahaan masih harus berfokus
untuk melakukan peningkatan terus-menerus karena dengan jalan
inilah mutu bisa dicapai.

B. Rumusan Masalah
Begitu pentingnya mutu lingkungan kerja bagi karyawan dan perusahaan/
organisasi, sehingga penulis akan membahas mengenai bagaimana
menciptakan lingkungan kerja yang bermutu?

C. Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini yaitu:
1. Untuk mengetahui bagaimana lingkungan kerja yang bermutu.
2. Mengetahui bagaimana implementasi metode 5S (Seiri, Seiton, Seiso,
Seiketsu, Shitsuke) atau 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) dalam
perusahaan.

3| MAKALAH IMPLEMENTASI 5S DALAM MENINGKATKAN MUTU LINGKUNGAN KERJA


BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Mutu
David.L. Goetsh dan Stanley B.Davis (2003:4) , menyatakan bahwa
mutu adalah:
"Quality is dynamic state associated with product, service, people,
processes, and environments that meet or exceed expectation".
Mutu adalah keadaan yang dinamis yang berhubungan dengan produk,
pelayanan, proses, dan lingkungan yang sesuai atau melebihi harapan.
Adapun definisi mutu sebagaimana yang diambil oleh American Society
for Quality yang dikutip oleh Barry Render dan Jay Heizer (2005:253),
yaitu:
"Keseluruhan fitur dan karakteristik produk atau jasa yang mampu
memuaskan kebutuhan yang terlihat atau yang tersamar",
Dari pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa mutu merupakan
segala sesuatu yang sesuai standar dan atau melebihi harapan yang
berhubungan dengan input (sumberdaya), proses (pekerjaan) dan output
(barang dan jasa) serta lingkungan baik yang dapat dilihat, dirasakan maupun
yang tersamarkan.

B. Pengertian Lingkungan Kerja


Menurut Nitisemito (2000:183), lingkungan kerja adalah segala sesuatu
yang ada disekitar para pekerja yang dapat mempengaruhi dirinya dalam
menjalankan tugas-tugas yang diembankan. Definisi mengenai lingkungan
kerja juga dikemukakan oleh Sedarmayanti (2001:1) lingkungan kerja adalah
keseluruhan alat perkakas dan bahan yang dihadapi, lingkungan sekitarnya
dimana seseorang bekerja, metode kerjanya, serta pengaturan kerjanya baik
sebagai perseorangan maupun sebagai kelompok dapat ditarik kesimpulannya
bahwa kondisi lingkungan kerja baik akan menunjang produktivitas karyawan
yang pada akhirnya berdampak pada kenaikan tingkat kinerja karyawan.
Menurut Mardiana (2005) Lingkungan kerja adalah lingkungan dimana
pegawai melakukan pekerjaannya sehari-hari. Lingkungan kerja yang
kondusif memberikan rasa aman dan memungkinkan para pegawai untuk dapat
berkerja optimal. Lingkungan kerja dapat mempengaruhi emosi pegawai. Jika
pegawai menyenangi lingkungan kerja dimana dia bekerja, maka pegawai
tersebut akan betah di tempat kerjanya untuk melakukan aktivitas sehingga

4| MAKALAH IMPLEMENTASI 5S DALAM MENINGKATKAN MUTU LINGKUNGAN KERJA


waktu kerja dipergunakan secara efektif dan optimis prestasi kerja pegawai
juga tinggi. Lingkungan kerja tersebut mencakup hubungan kerja yang
terbentuk antara sesama pegawai dan hubungan kerja antar bawahan dan atasan
serta lingkungan fisik tempat pegawai bekerja.

C. Jenis Lingkungan Kerja


Menurut Sedarmayanti (2001) Secara garis besar, jenis lingkungan kerja
terbagi menjadi 2 yakni: 1) lingkungan kerja fisik, dan 2) lingkungan kerja non
fisik.
1. Lingkungan Kerja Fisik
Lingkungan kerja fisik menurut Sedarmayanti (2001:21), adalah semua
keadaan berbentuk fisik yang terdapat di sekitar tempat kerja yang dapat
mempengaruhi karyawan baik secara langsung maupun secara tidak langsung.
Lingkungan kerja fisik adalah sesuatu yang berada di sekitar para pekerja yang
meliputi cahaya, warna, udara, suara, serta musik yang mempengaruhi dirinya
dalam menjalankan tugas- tugas yang dibebankan (Moekijat, 1995:135).
Sedangkan menurut Sarwono (2005) Lingkungan kerja fisik adalah tempat
kerja pegawai melakukan aktivitasnya. Lingkungan kerja fisik mempengaruhi
semangat dan emosi kerja para karyawan. Faktor-faktor fisik ini mencakup
suhu udara di tempat kerja, luas ruang kerja, kebisingan, kepadatan, dan
kesesakan. Faktor-faktor fisik ini sangat mempengaruhi tingkah laku manusia.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa yang
dimaksud dengan lingkungan kerja fisik adalah keadaan di sekitar kantor atau
tempat bekerja yang dapat dirasakan oleh panca indra, seperti penerangan,
warna, udara, musik, kebersihan dan keamanan yang mempengaruhi karyawan
dalam menjalankan tugas-tugasnya atau pekerjaannya. Selanjutnya menurut
Sarwono (2005) Peningkatan suhu dapat menghasilkan kenaikan prestasi
kerja tetapi dapat pula malah menurunkan prestasi kerja. Kenaikan suhu pada
batas tertentu menimbulkan semangat yang merangsang prestasi kerja tetapi
setelah melewati ambang batas tertentu kenaikan suhu ini sudah mulai
mengganggu suhu tubuh yang mengakibatkan terganggunya pula prestasi kerja
(Sarwono,2005).
Menurut Robbins (2002) Lingkungan kerja fisik juga merupakan faktor
penyebab stress kerja pegawai yang berpengaruh pada prestasi kerja. Faktor-

5| MAKALAH IMPLEMENTASI 5S DALAM MENINGKATKAN MUTU LINGKUNGAN KERJA


faktor yang mempengaruhi lingkungan kerja fisik adalah: a) suhu, b)
kebisingan, c) penerangan, d) mutu udara.
a. Suhu
Suhu adalah suatu variabel dimana terdapat perbedaan individual yang
besar. Dengan demikian untuk memaksimalkan produktivitas, adalah
penting bahwa pegawai bekerja di suatu lingkungan dimana suhu diatur
sedemikian rupa sehingga berada diantara rentang kerja yang dapat
diterima setiap individu.
b. Kebisingan
Bukti dari telaah-telaah tentang suara menunjukkan bahwa suara-suara
yang konstan atau dapat diramalkan pada umumnya tidak menyebabkan
penurunan prestasi kerja sebaliknya efek dari suara-suara yang tidak dapat
diramalkan memberikan pengaruh negatif dan mengganggu konsentrasi
pegawai.
c. Penerangan
Bekerja pada ruangan yang gelap dan samara-samar akan menyebabkan
ketegangan pada mata. Intensitas cahaya yang tepat dapat membantu
pegawai dalam mempelancar aktivitas kerjanya. Tingkat yang tepat dari
intensitas cahaya juga tergantung pada usia pegawai. Pencapaian prestasi
kerja pada tingkat penerangan yang lebih tinggi adalah lebih besar untuk
pegawai yang lebih tua dibanding yang lebih muda.
d. Mutu Udara
Merupakan fakta yang tidak bisa diabaikan bahwa jika menghirup udara
yang tercemar membawa efek yang merugikan pada kesehatan pribadi.
Udara yang tercemar dapat menggangu kesehatan pribadi pegawai. Udara
yang tercemar di lingkungan kerja dapat menyebabkan sakit kepala, mata
perih, kelelahan, lekas marah, dan depresi.

Faktor lain yang mempengaruhi lingkungan kerja fisik adalah rancangan


ruang kerja. Rancangan ruang kerja yang baik dapat menimbulkan
kenyamanan bagi pegawai di tempat kerjanya. Faktor-faktor dari rancangan
ruang kerja tersebut menurut Robbins (2002) terdiri atas : a) Ukuran ruang
kerja, b) Pengaturan ruang kerja, c) Privasi.
a. Ukuran ruang kerja

6| MAKALAH IMPLEMENTASI 5S DALAM MENINGKATKAN MUTU LINGKUNGAN KERJA


Ruang kerja sangat mempengaruhi kinerja karyawan. Ruang kerja yang
sempit dan membuat pegawai sulit bergerak akan menghasilkan prestasi
kerja yang lebih rendah jika dibandingkan dengan karyawan yang
memiliki ruang kerja yang luas.
b. Pengaturan ruang kerja
Jika ruang kerja merujuk pada besarnya ruangan per pegawai, pengaturan
merujuk pada jarak antara orang dan fasilitas. Pengaturan ruang kerja itu
penting karena sangat dipengaruhi interaksi sosial. Orang lebih mungkin
berinteraksi dengan individu-individu yang dekat secara fisik. Oleh karena
itu lokasi kerja karyawan mempengaruhi informasi yang ingin diketahui.
c. Privasi
Privasi dipengaruhi oleh dinding, partisi, dan sekatan-sekatan fisik
lainnya. Kebanyakan pegawai menginginkan tingkat privasi yang besar
dalam pekerjaan mereka (khususnya dalam posisi manajerial, dimana
privasi diasosiasikan dalam status). Namun kebanyakan pegawai juga
menginginkan peluang untuk berinteraksi dengan rekan kerja, yang
dibatasi dengan meningkatnya privasi. Keinginan akan privasi itu kuat
dipihak banyak orang. Privasi membatasi gangguan yang terutama sangat
menyusahkan orang-orang yang melakukan tugas-tugas rumit.

Sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor


1405/Menkes/SK/XI/2002 tanggal 19 Nopember 2002 tentang Persyaratan
Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri, Persyaratan kesehatan
lingkungan kerja perkantoran dan industri meliputi : persyaratan air, udara,
limbah, pencahayaan, kebisingan, getaran, radiasi, vektor penyakit, persyaratan
kesehatan lokasi, ruang dan bangunan, toilet dan instalasi.

2. Lingkungan Kerja Non Fisik


Menurut Sedarmayanti (2001:31), lingkungan kerja non fisik adalah
semua keadaan yang terjadi yang berkaitan dengan hubungan kerja, baik
hubungan dengan atasan maupun hubungan sesama rekan kerja, ataupun
hubungan dengan bawahan, Lingkungan non fisik ini juga merupakan
kelompok lingkungan kerja yang tidak bisa diabaikan.
Sedangkan menurut Nitisemito (2000:171) perusahaan hendaknya dapat
mencerminkan kondisi yang mendukung kerja sama antara tingkat atasan,

7| MAKALAH IMPLEMENTASI 5S DALAM MENINGKATKAN MUTU LINGKUNGAN KERJA


bawahan, maupun yang memiliki status jabatan yang sama di perusahaan.
Kondisi yang hendaknya diciptakan adalah suasana kekeluargaan, komunikasi
yang baik dan pengendalian diri. Membina hubungan yang baik antara sesama
rekan kerja, bawahan maupun atasan harus dilakukan karena kita saling
membutuhkan. Hubungan kerja yang terbentuk sangat mempengaruhi
psikologis karyawan.
Dari pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud
dengan lingkungan kerja non fisik adalah keadaan di dalam tempat bekerja
yang mencerminkan hubungan atau interaksi antar manusia baik itu antara
atasan dengan bawahan, sesama bawahan, atau pegawai dengan
konsumen/pelanggan, sehingga menciptakan suasana yang harmonis, damai,
saling percaya dan komunikasi yang baik dalam menjalankan tugas dalam
pekerjaannya.
Menurut Mangkunegara (2004), untuk menciptakan hubungan hubungan
yang harmonis dan efektif, pimpinan perlu: 1) meluangkan waktu untuk
mempelajari aspirasi-aspirasi emosi pegawai dan bagaimana mereka
berhubungan dengan tim kerja dan 2) menciptakan suasana yang
meningkatkatkan kreativitas. Pengelolaan hubungan kerja dan pengendalian
emosional di tempat kerja itu sangat perlu untuk diperhatikan karena akan
memberikan dampak terhadap prestasi kerja pegawai. Hal ini disebabkan
karena manusia itu bekerja bukan sebagai mesin. Manusia mempunyai
perasaan untuk dihargai dan bukan bekerja untuk uang saja.
Menurut Sedarmayanti (2007), yang menjadi indikator-indikator
lingkungan kerja adalah: 1) penerangan, 2) suhu udara, 3) sirkulasi udara, 4)
ukuran ruang kerja, 5) tata letak ruang kerja, 6) privasi ruang kerja 7)
kebersihan 8) suara bising, 9) penggunaan warna, 10) peralatan kantor, 11)
keamanan kerja 11) musik ditempat kerja, 12) hubungan sesama rekan kerja
dan 13) hubungan kerja antara atasan dengan bawahan.

D. Pengertian 5S
5S merupakan suatu sistem yang dibuat pertama kali di Jepang untuk
merangkum serangkaian aktivitas untuk menghilangkan pemborosan yang
menyebabkan kesalahan, cacat dan kecelakaan kerja di tempat kerja. Nama 5S
berasal dari lima kata dalam bahasa Jepang, yaitu Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu,
dan Setsuke.

8| MAKALAH IMPLEMENTASI 5S DALAM MENINGKATKAN MUTU LINGKUNGAN KERJA


Definisi 5S menurut Takashi Osada (2004;X), yaitu sebagai berikut:
"5S merupakan kebulatan tekad untuk mengadakan
pemilahan di tempat kerja, mengadakan penataan,
pembersihan, memelihara kondisi yang mantap dan memelihara
kebiasaan yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan
dengan baik".
Adapun definisi 5S yang dikutip dari www.binus.ac.id. adalah
sebagai berikut:
"5S adalah teknik untuk menjaga mutu lingkungan dalam
sebuah perusahaan atau institusi dengan cara mengembangkan
keterorganisirannya".
Dari kedua definisi diatas dapat disimpulkan bahwa 5S
merupakan suatu cara atau langkah dalam upaya menciptakan dan
menjaga mutu lingkunga kerja agar tercipta kondisi yang aman dan
nyaman sehingga kita dapat melakukan suatu pekerjaan dengan baik.
5S terdiri dari Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke. Di
Indonesia 5S diterjemahkan menjadi 5R, yaitu Ringkas, Rapi, Resik,
Rawat, Rajin.
1. Seiri
Seiri berarti ringkas yang dalam pengertian industri adalah memilih
material dengan membuang atau memisahkan material yang tidak
dapat digunakan lagi dan menyimpan material yang masih dapat
digunakan (Pramono, 2008). Tujuan seiri adalah untuk
memaksimalkan dan mengoptimalkan lokasi yang ada hanya untuk
material yang dapat digunakan saja (Gaspersz, 2007).
Terorganisir berarti menjaga barang yang diperlukan serta
memisahkan barang yang tidak diperlukan dalam pekerjaan.
Dahulu supply untuk perusahaan sulit didapat. Kebiasaan
melempar barang-barang, baik yang berguna maupun tidak
sangatlah tidak dianjurkan. Namun saat ini supply barang
kebutuhan perusahaan sangat melimpah. Barang, jasa dan
informasi mudah didapat. Saat ini memisahkan barang yang betul-
betul diperlukan sangatlah penting karena perkembangan ekonomi
yang cukup cepat. Mengetahui benda mana yang tidak
digunakan, mana yang akan disimpan, serta bagaimana cara

9| MAKALAH IMPLEMENTASI 5S DALAM MENINGKATKAN MUTU LINGKUNGAN KERJA


menyimpan supaya dapat mudah diakses terbukti sangat berguna
bagi sebuah perusahaan,
2. Seiton
Seiton berarti rapi dalam arti menyimpan material pada lokasi
semestinya atau lokasi yang telah ditentukan. (Pramono, 2008).
Tujuan seiton ini adalah mempermudah pencarian material yang
bersangkutan jika dibutuhkan di kemudian hari. Terutama jika dicari
oleh orang lain yang sebelumnya tidak mengetahui lokasi
penyimpanannya (Gaspersz, 2007).
Kerapian adalah hal mengenai sebagaimana cepat kita meletakkan
barang dan mendapatkannya kembali pada saat diperlukan dengan
mudah. Perusahaan tidak boleh asal-asalan dalam memutuskan
dimana benda-benda harus diletakkan untuk mempereepat waktu
untuk memperoleh barang tersebut. Data waktu pemerolehan
barang perlu dikumpulkan dan dianalisa. Penganalisaan juga perlu
melibatkan staff, baik yang sering menggunakan barang tersebut
maupun staff yang jarang menggunakannya sehingga rencana yang
akan diterapkan dapat bersifat universal.
3. S ketiga adalah Seiso
Seiso berarti resik yaitu bersih memeriksa agar kondisi lingkungan
atau peralatan selalu bersih sebelum dan sesudah penggunaan
terutama saat meninggalkan area pekerjaan (Pramono, 2008). Tujuan
Seiso adalah menjaga atau memelihara agar area kerja tetap bersih
(Gaspersz, 2007).
Kebersihan harus dilaksanakan dan dibiasakan oleh setiap orang
dari CEO hingga pada tingkat office boy. Tahukah anda, bahwa
hal inilah yang menyebabkan area perumahan di Jepang tidak perlu
menggunakan jasa pembersih jalan? Orang jepang mengetahui
bahwa setiap keluarga bertanggungjawab untuk kebersihan baik di
rumah maupun disekitarnya. Penggunaan grafik dalam
menerapkan Seiso akan sangat membantu. Grafik ini harus
melibatkan tanggung jawab individu setiap orang dan setiap grey
area harus dihilangkan. Hal ini bertujuan untuk menghindarkan
perbedaan pendapat yang muncul diantara staff. Biasanya pendapat

10 | MAKALAH IMPLEMENTASI 5S DALAM MENINGKATKAN MUTU LINGKUNGAN KERJA


yang berbeda ini adalah mengenai siapa yang memiliki
tanggungjawab untuk menjaga kebersihan.
4. Seiketsu.
Seiketsu berarti rawat yaitu memastikan semua kondisi peralatan,
mesin, lingkungan dan kondisi lainnya sesuai dengan aturan yang
telah disepakati dan menjaga agar tetap terpelihara (Pramono, 2008).
Tujuan dari seiketsu adalah menciptakan konsistensi implementasi
seiri, seiton, dan seiso. Sasaran yang ingin dicapai dalam penerapan
seiketsu adalah menjaga kondisi area kerja tetap ringkas, rapi, dan
bersih (Osada, 2004). Kegiatan sehari-hari yang berkaitan dengan
tiga S yang pertama harus distandarisasi. Pada step ini manajemen
harus mulai nyata. Manajemen digunakan untuk menjaga
kerapian lingkungan kerja dimana staff akan memiliki akses
yang lebih cepat dan aman untuk memperoleh barang yang
diperlukan untuk menyelesaikan tugasnya. Kode wama sering
digunakan dalam langkah ini untuk mengingatkan letak benda.
Kekacauan akan muncul dan suasana kerja yang tidak nyaman
akan terjadi jika pengaturan tidak ditekankan secara terus
menerus, Hal ini dapat mengakibatkan munculnya suasana kerja
yang tidak diinginkan.
5. S yang terakhir adalah Shitsuke,
Setsuke berarti rajin dalam arti bisa seluruh prosedur kerja 5S
dilaksanakan secara ideal dan produktif disertai dengan improvement
untuk mencapai hasil yang lebih baik (Pramono, 2008). Tujuan
utama dari konsep setsuke adalah menjamin keberhasilan dari
kontinuitas program 5S sebagai suatu disiplin (Gazperz, 2007).
Disiplin maksudnya adalah menerapkan kemampuan melakukan
sesuatu sesuai dengan cara yang seharusnya. Kebiasaan
yang buruk dapat dihilangkan dengan cara mengajari staff
mengenai hal yang harus dilakukan dan membiasakan mereka
untuk berlatih kebiasaan yang baik.

11 | MAKALAH IMPLEMENTASI 5S DALAM MENINGKATKAN MUTU LINGKUNGAN KERJA


BAB III PEMBAHASAN

A. Prosedur Mutu Lingkungan Kerja


Prosedur ini bertujuan untuk memastikan kebersihan lingkungan kerja
agar selalu terjaga sehingga proses pelayanan berlangsung dengan nyaman,
aman dan higienis. Prosedur ini mencakup mulai dari mengidentifikasi ruang
yang diperlukan untuk pemeliharaan lingkungan kerja, pembuatan jadual,
pelaksanaan pemeliharaan dan dilakukan verifikasi atas pelaksanaan
pemeliharaan. Pemeliharaan lingkungan kerja adalah aktivitas yang
dilakukan untuk memastikan kebersihan ruangan / gedung / kamar mandi dan
halaman dalam keadaan siap untuk digunakan, higienis, nyaman dan aman.
Pemeliharaan lingkungan kerja dapat dilakukan secara harian, mingguan, atau
bulanan. Sedangkan yang melakukan kebersihan adalah petugas kebersihan
yang disediakan oleh perusahaan dan untuk menjaga kebersihan itu dilakukan
oleh seluruh pegawai perusahaan.
Sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
1405/Menkes/SK/XI/2002 tanggal 19 Nopember 2002 tentang Persyaratan
Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri, menyatakan bahwa
Pimpinan satuan kerja/unit perkantoran bertanggung jawab terhadap
penyelenggaraan penyehatan lingkungan kerja perkantoran. Dalam
melaksanakan tugas tersebut Pimpinan perkantoran dapat menunjuk seorang
petugas atau membentuk satuan kerja/unit organisasi yang mempunyai tugas
pokok dan fungsi di bidang kesehatan lingkungan kerja. Petugas atau satuan
kerja/unit organisasi yang ditunjuk untuk menyelenggarakan kesehatan
lingkungan kerja perkantoran harus melaksanakan tahap-tahap kegiatan,
meliputi antara lain :
a. Menyusun rencana/program kerja tahunan penyehatan lingkungan kerja
perkantoran yang merupakan bagian dari rencana/program kerja
perkantoran secara keseluruhan.
b. Menyusun rencana pelaksanaan kegiatan berdasarkan rencana/program
kerja tahunan yang meliputi :
1). Jenis kegiatan yang akan dilaksanakan
2). Sasaran/target tiap jenis kegiatan
3). Jadwal pelaksanaan kegiatan
4). Tenaga atau satuan kerja/unit organisasi yang akan melaksanakan
kegiatan.

12 | MAKALAH IMPLEMENTASI 5S DALAM MENINGKATKAN MUTU LINGKUNGAN KERJA


5). Peralatan, bahan atau sarana yang diperlukan (jenis dan jumlah)
6). Pembiayaan untuk tiap jenis kegiatan
7). Pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan
8). Pencatatan dan pelaporan.

B. Metode 5S
5S adalah untuk mencapai kesuksesan dalam melaksanakan
tugas sesuai bidangnya masing-masing. Penerapan ini juga dapat
berpengaruh pada kondisi lingkungan dan tempat kerja yang
baik, aman, dan nyaman dengan sasaran umum untuk melindungi
dan mengamankan seluruh sumber daya yang dimiliki oleh
perusahaan, baik berupa manusia maupun alat produksi lainnya.
Sedangkan sasaran khusus dapat meningkatkan produktivitas
satuan kerja, keselamatan dan kesehatan kerja (K3) serta kepuasan
pelanggan (konsumen).
Dalam mengimplementasikan metode 5S terdapat langkah-langkah,
adapun langkah-langkah tersebut adalah:
1. Langkah dalam Melakokan Seiri
Menentukan barang yang diperlukan atau yang tidak diperlukan,
menyingkirkan barang yang tidak diperlukan, sekaligus memastikan bahwa
barang yang diperlukan disimpan dalam jangkauan supaya lebih efisien
dengan memperhatikan frekuensi pemakaian. Barang yang tidak dipakai di
tempat kerja akan berdampak terhadap inventory, menurunkan produktifitas
dan menimbulkan bahaya. Langkah-langkah lebih spesifik adalah sebagai
berikut:
a. Cek-barang yang berada di area masing-masing.
b. Tetapkan kategori barang-barang yang digunakan dan yang tidak
digunakan.
c. Beri label warna merah untuk barang yang tidak digunakan
d. Siapkan tempat untuk menyimpan, membuang atau memusnahkan
barang- barang yang tidak digunakan.
e. Pindahkan barang-barang yang berlabel merah ke tempat yang telah
ditentukan.
Keuntungan yang akan didapat dalam menerapkan Seiri (Ringkas Sisih
Keteraturan-PemilahanSort):

13 | MAKALAH IMPLEMENTASI 5S DALAM MENINGKATKAN MUTU LINGKUNGAN KERJA


a. Kuantitatif:
1) Penghematan pemakaian ruangan.
2) Persediaan dan produk barang yang bermutu.
3) Kecepatan waktu pencarian barang/dokumen yang dibutuhkan.
b. Kualitatif:
1) Tempat kerja lebih aman.
2) Suasana kerja lebih nyaman.
3) Mencegah tempat/alat/bahan menjadi rusak lebih awal.

2. Langkah dalam Melakukan Seiton


Prinsip dasar seiton adalah melakukan pengaturan lingkungan kerja
dan peralatan secara rapi dengan sasaran tata letak dan penempatan
yang efisien sehingga pemborosan waktu untuk mencari barang bisa
dihilangkan, untuk memperlancar pekerjaan.
a. Setiap barang punya tempat.
b. Setiap tempat punya nama untuk barang tertentu.
c. Buat menjadi terorganisir dan sistematis.
d. Beri nama pada setiap tempat penyimpanan yang mudah diingat,
dapat menggunakan kode pada tempat penyimpan:
1) Bila berbentuk barang, berikan label dengan nama atau visual
sebagai ciri khas.
2) Bila berbentuk file atau softcopy data, atur semua folder di
komputer.
3) Pastikan agar mudah mengidentifikasi, saat file, barang ataupun
benda tersebut dibutuhkan, sehingga tidak perlu membuang
banyak waktu untuk mencarinya.
Keuntungan yang akan didapat dalam menerapkan Seiton (Rapi Susun
Kerapian Penataan - Set in Order):
a. Kuantitatif:
1) Kendali persediaan dan produk, secara efisien.
2) Waktu pencarian yang cepat.
3) Proses kerja yang lebih cepat.
4) Menghindari kesalahan.
5) Meminimalkan terjadinya kehilangan peralatan.
b. Kualitatif:

14 | MAKALAH IMPLEMENTASI 5S DALAM MENINGKATKAN MUTU LINGKUNGAN KERJA


1) Suasana kerja akan lebih nyaman.
2) Mendidik dan meningkatkan disiplin karyawan.
3) Memacu karyawan, agar terus menghasilkan ide yang kreatif.
4) Moral karyawan menjadi lebih tinggi.
5) Merasa aman di tempat kerja.
6) Menerapkan FIFO.
3. Langkah dalam Melakukan Seiso
Arti dari membersihkan lebih dari sekedar membuat barang bersih.
Hal ini lebih merupakan falsafah dan komitmen untuk bertanggung
jawab atas segala aspek barang yang Anda pergunakan, dan untuk
memastikan semua barang selalu berada dalam kondisi prima. Jangan
berpikir bahwa pembersihan pekerjaan yang melelahkan. Sebaliknya,
Anda harus memandangnya sebagai suatu bentuk pemeriksaan dan
pencegahan.
Dengan meningkatnya kecanggihan produk industri modem, debu,
kotoran, bahan asing, bunyi suara mesin yang keras dan
masalah lain kemungkinan besar dapat mengakibatkan barang cacat,
macet, bahkan kecelakaan kerja. Pembersihan adalah jawabannya.
Pembersihan harus dipandang sebagai cara untuk menghilangkan
penyebab masalah satu demi satu.
Pada umumnya ada tiga langkah pembersihan yang benar:
a. Tingkat Makro
Membersihkan segala sesuatu dan mencari cara untuk
menangani penyebab keseluruhan yang berkaitan dengan
keseluruhan gambaran global pekerjaan.
b. Tingkat Individual
Menangani satu tempat kerja tertentu atau satu mesih tertentu.
c. Tingkat Mikro
Membersihkan suku cadang alat bantu kerja tertentu. Penyebab
kotoran dicari dan diperbaiki.
Keuntungan yang akan didapat dalam menerapkan Seiso (Resik-
SapuKebersihan-PembersihanShine):
a. Kuantitatif:
1) Sistem pengawasan persediaan dan produk yang lebih murah
dan hemat.

15 | MAKALAH IMPLEMENTASI 5S DALAM MENINGKATKAN MUTU LINGKUNGAN KERJA


2) Meminimalkan biaya kerusakan pada peralatan.
3) Proses kerja cepat dan tidak berulang Benar pada saat
melakukan pekerjaannya pertama kali.
4) Meningkatkan kualitas produk.
5) Waktu melakukan pembersihan lebih cepat.
b. Kualitatif:
1) Suasana kerja lebih nyaman dan ceria.
2) Karyawan terus menghasilkan ide yang kreatif.
3) Moral karyawan meningkat.
4) Aman di tempat kerja.

4. Langkah dalam Melakukan Seiketsu


Apabila kegiatan Seiri, Seiton dan Seiso telah selesai, selanjutnya
kondisi mi hams dipertahankan sebagai suatu kebiasaan. Diperlukan
adanya standart berikut sarana untuk pengecekan, disosialisasikan dan
dilakukan review secara berkala.
Peringatan - peringatan visual yang menarik dan diatur secara
kreatif sangat diperlukan untuk membantu setiap orang memahami
tentang perlunya standartisasi untuk kebersihan dan bagaimana
melaksanakannya.
Alat bantu visual (gambar) ini juga sangat diperlukan untuk
mempermudah menunjukkan penyebab penyimpangan itu bisa terjadi
dan apa yang hams dilakukan untuk mengatasi hal tersebut. Prinsip-
prinsip alat bantu visual adalah:
a. Mudah dilihat dari jarak jauh.
b. Pasang peragaan pada barang yang bersangkutan.
c. Usahakan supaya setiap orang dapat mengatakan apa yang benar
dan apa yang salah.
d. Usahakan supaya setiap orang dapat menggunakannya dengan muda
kapan saja.
e. Usahakan supaya setiap orang dapat melakukannya dan mudah
membuat koreksi yang diperlukan.
f. Usahakan supaya dengan melaksanakannya membuat tempat kerja
lebih terang dan lebih teratur.

16 | MAKALAH IMPLEMENTASI 5S DALAM MENINGKATKAN MUTU LINGKUNGAN KERJA


Jika kita melakukan hal diatas, Anda akan menemukan bahwa
pekerjaan akan jauh lebih lancar dan hasilnya lebih baik. Berikut
keuntungan yang akan didapat dalam menerapkan Seiketsu (Rawat Seragam-
Kepatuhan-PemantapanStandardize):
a. Kuantitatif:
1) Biaya penyelenggaran operasi yang rendah.
2) Biaya pengeluaran tambahan (overhead) yang rendah.
3) Efisiensi dari proses meningkat.
4) Kuantitas pengeluaran menurun.
5) Sedikit keluhan dari pelanggan.
6) Produktivitas karyawan meningkat.
b. Kualitatif:
1) Mendidik disiplin karyawan positif.
2) Karyawan terus menghasilkan ide kreatif.
3) Kemahiran karyawan meningkat.
4) Karyawan setia kepada organisasi.
5. Langkah dalam melakukan Shitsuke
Setelah seiketsu (pemantapan) yang berarti melaksanakan aktivitas
5S dengan teratur, maka Shitsuke (pembiasaan) adalah komitmen
masing-masing individu untuk mematuhi peraturan. Tim yang baik
bermain dengan menaati peraturan. Di tempat kerja, kemiliteran,
maupun di lapangan olahraga, aktivitas tim merupakan aktivitas
kooperatif. Setiap orang harus bekerja sarna, berpikir bersama, dan
bertindak bersama untuk membentuk tim yang kuat. Makin banyak
pekerjaan, semakin penting kerja sarna diperlukan. Hal ini disebabkan
karena kesalahan terkecil sekalipun dapat berakibat fatal. Sistem, Prosedur,
dan Peraturan harus ketat dan dipatuhi oleh seluruh anggota tim. Setiap
orang harus berhati-hati untuk melakukan pekerjaan masing-masing
dengan benar.
Tidak terlalu sulit untuk memiliki kebiasaan untuk melaksanakan apa
yang diharapkan dari Anda. Hasil akhimya adalah setiap orang
bekerja sarna memperkuat tim dan memperkuat perusahaani
Caranya adalah dengan menciptakan tempat kerja yang disiplin, melalui:
a. Biasakan (sistematisasi) perilaku jika Anda yang menginginkan hasil
yang terbaik.

17 | MAKALAH IMPLEMENTASI 5S DALAM MENINGKATKAN MUTU LINGKUNGAN KERJA


b. Perbaiki komunikasi dan pelatihan untuk memperoleh mutu yang
terjamin.
c. Atur supaya orang mengambil bagian, setiap orang melakukan
sesuatu, kemudian mengimplementasikannya.
d. Atur segala sesuatu sehingga setiap orang merasa bertanggung jawab
atas apa yang mereka kerjakan.
Keuntungan yang akan didapat dalam menerapkan Shitsuke (Rajin
Senantiasa Kedisiplinan - PembiasaanSustain):
a. Kuantitatif:
1) Biaya pengeluaran rendah.
2) Produktivitas karyawan meningkat.
3) Kualitas produk/layanan meningkat.
4) Memperoleh manfaat dari pelaksanaan 5S.
5) Meminimalkan kecelakaan di tempat kerja.
b. Kualitatif:
1) Disiplin karyawan meningkat dan inovatif.
2) Ketrampilan karyawan meningkat.
3) Kesehatan karyawan bertambah baik.
4) Karyawan setia kepada organisasi.
5) Budaya kerja antar tim yang tinggi.
Jika anda mentaati prosedur sederhana ini, ada kemungkinan untuk
dapat mengelola dan memelihara sistem yang paling canggih
sekalipun dan membuatnya berjalan lancar.

C. Manfaat Lingkungan Kerja


Menurut Ishak dan Tanjung (2003), manfaat lingkungan kerja adalah
menciptakan gairah kerja, sehingga produktivitas dan prestasi kerja
meningkat. Sementara itu, manfaat yang diperoleh karena bekerja dengan
orang-orang yang termotivasi adalah pekerjaan dapat diselesaikan dengan
tepat. Yang artinya pekerjaan diselesaikan sesuai standard yang benar dan
dalam skala waktu yang ditentukan. Prestasi kerjanya akan dipantau oleh
individu yang bersangkutan, dan tidak akan menimbulkan terlalu banyak
pengawasan serta semangat juangnya akan tinggi. Manfaat penerapan 5S
secara umum, akan menghasilkan berbagai manfaat bagi perusahaan, seperti:
1. Meningkatkan semangat kerja tim.

18 | MAKALAH IMPLEMENTASI 5S DALAM MENINGKATKAN MUTU LINGKUNGAN KERJA


2. Tempat kerja yang lebih bersih, rapi dan teratur.
3. Lingkungan kerja yang lebih aman dan nyaman.
4. Pengunaan ruang kerja secara optimal.
5. Mempermudah pemeliharaan rutin.
6. Mengadakan standar kerja yang jelas.
7. Kendali persediaan yang lebih efektif.
8. Mengurangi biaya operasional.
9. Meningkatkan citra perusahaan.
10. Mengurangi keluhan pelanggan.
Dalam penerapannya 5S juga dapat diterapkan dalam kehidupan pribadi,
untuk menjadi pribadi unggulan, juga dapat diterapkan dalam organisasi
seperti Universitas dan Sekolah, untuk menjadi Universitas dan Sekolah
unggulan.

19 | MAKALAH IMPLEMENTASI 5S DALAM MENINGKATKAN MUTU LINGKUNGAN KERJA


BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan
Pada saat ini, perusahaan/organisasi yang dapat bertahan dan menjadi
yang terbaik, adalah perusahaan/organisasi yang berorientasi pada
pengembangan mutu lingkungan kerja pada perusahaan/organisasinya. Mutu
lingkungan kerja yang saat ini diakui sebagai yang terbaik adalah
implementasi metode unggulan 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu dan
Shitsuke). Mudah dimengerti tetapi sangat sulit diaplikasikan tanpa
keseriusan.
Hasil akhir dari kesuksesan penerapan 5S dalam rangka meningkatkan
mutu lingkungan kerja, antara lain: Menurunkan pemborosan, Meningkatkan
mutu dan produktivitas, Menghindari kecelakaan kerja, Meningkatkan
kinerja tim, Absensi yang rendah, Peningkatan dan perbaikan kinerja yang
berkelanjutan, Peralatan kantor dan lokasi kerja yang teratur, rapi dan bersih,
Gugus mutu yang berjalan dengan baik, Hasil produksi yang berkualitas baik,
Keunggulan untuk mempunyai karyawan yang bermental maju serta bersikap
dan berperilaku positif serta Langkah awal menuju perusahaan kelas dunia.

B. Saran
Dalam implementasi 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu dan Shitsuke),
haruslah dilakukan bertahap, harus dilakukan melalui tahapan pengenalan,
perubahan sikap dan kebiasaaan para pekerja, serta tahapan penerimaan
Budaya kerja yang baru tersebut. Perusahaan/ organisasi lebih memerhatikan
kepuasan kerja karyawan dengan cara lebih memerhatikan kesejahteraan para
karyawan-karyawannya dan juga meningkatkan mutu lingkungan kerja
supaya mampu menjaga konsistensi kinerja karyawan serta meningkatkan
mutu kesehatan bagi karyawan yang akhirnya dapat meningkatkan kinerja
perusahaan dan dapat mencapai tujuan target perusahaan
Pemimpin diharapkan lebih meningkatkan kerja sama dalam kelompok
dan dukungan terhadap masing-masing karyawan untuk meningkatkan
kinerja dari masing-masing karyawan.

20 | MAKALAH IMPLEMENTASI 5S DALAM MENINGKATKAN MUTU LINGKUNGAN KERJA


Daftar Pustaka

Ahyari, Agus. 2002. "Manajemen Produksi Perencanaan Sistem Produksi" Edisi


empat. Yogyakarta:BPFE.
Gazpersz, Vincent. 2007. Organizational excellence. Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama.
Goetsch, David L., Stanley B. Davis. 2003. Quality Management: Introduction to
Total Quality Management for Production, Processing, and Services (4th
Edition)., New Jersey: Prentice Hall
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1405/Menkes/SK/XI/2002 tanggal 19
Nopember 2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja
Perkantoran dan Industri.
Mangkunegara, Anwar P. 2004. Perilaku dan Budaya Organisasi. Bandung:
PT.Refika Aditama.
Moekijat. 1995. Perencanaan dan Pengembangan Karier Pegawai, cetakan 3.
Bandung: Remaja Rodaskarya.
Nitisemito, Alex. 2000. Manajemen Personalia. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Osada, T. 2004. Sikap kerja 5S (5thed.). (Mariani Gandamiharja, Trans.). Jakarta:
PPM. (Original work published 1991).
Pramono, Wishnu Arief, ST. 2008. Meraup kentungan dengan lean manufacturing,
Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Render, Barry and Jay Heizer. 2005. Operation management. edisi ketujuh. Jakarta:
Salemba Empat.
Sedarmayanti. 2001. Manajemen Perkantoran Modern. Bandung: Mandar Maju.

21 | MAKALAH IMPLEMENTASI 5S DALAM MENINGKATKAN MUTU LINGKUNGAN KERJA