Anda di halaman 1dari 3

Fantasi Kemerdekaan

Oleh: Yonky Karman

Taman Tugu Proklamasi di Jakarta sering menjadi simpul pertemuan untuk memperjuangkan
hak-hak dasar rakyat. Bulan Juli lalu tugu itu dikunjungi ribuan anak-anak pinggiran dari
Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Mereka bersenandung, "Kamilah ini anak
merdeka. Semua di dunia milik bersama, tuk dibagi sama adil dan beradab."

Dalam surat pembaca dari Medan, disimpulkan, negara telah mundur 45 tahun (Kompas,
18/7). Kondisi sekarang mirip pengalamannya semasa kecil tahun 1962-1966. Jalan-jalan
rusak parah, sering terjadi pemadaman bergilir, antrean panjang minyak tanah, kelangkaan
premium, serta harga beras, gula, dan minyak goreng melambung. Padahal, bahan dasarnya
melimpah di Tanah Air. Kita masih berkutat dengan isu-isu pembangunan yang mendasar.

Negara kuat

Kita tak berdaya menghadapi serbuan produk murah dari China yang membuat produk dan
produktivitas kita tertekan. Saat Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat
melarang beberapa produk China, tak ada sikap reaktif dari China. Namun, saat otoritas
Indonesia melakukan hal serupa, langsung ada reaksi balasan.

Dalam brosur bertajuk Politik (November, 1945), fantasi politik Tan Malaka adalah merdeka
100 persen. Merdeka secara bentuk (bernegara) dan isi (berdaulat). Kontroversi tentang
perjanjian kerja sama pertahanan Indonesia-Singapura pada dasarnya mencerminkan
kelemahan Indonesia dalam penguasaan teknologi militer sehingga konsesi yang diberikan
mengganggu kedaulatan negeri.

Kita kaya bahan mentah industri dan bahan bakar minyak. Namun, emas, tembaga, logam
lain, dan sebagian besar minyak dan gas kita dikuasai asing yang menguasai teknologi
mutakhir. Seharusnya modal asing ditanam sejauh suatu barang belum bisa dibuat sendiri
atau sejauh investasi itu tidak membahayakan perindustrian, pertahanan, dan kesejahteraan
bangsa. Namun, hingga kini belum ada negosiasi ulang terhadap isi kontrak karya.

Namun, kurang dari satu tahun masa pemerintahan Evo Morales, Presiden Bolivia itu
berhasil mewujudkan janji politiknya saat kampanye. Ia menjadikan perusahaan asing
menjadi mitra yang ikut mengatasi problem sosial, bukan mengeruk kekayaan dan
melestarikan kemiskinan. Berhadapan dengan keberpihakan tanpa pamrih, berbagai
perusahaan minyak dan gas asing di Bolivia terpaksa menandatangani program nasionalisasi.

Problem "statism"

Rakyat Indonesia bagai menunggu Godot untuk kehadiran pemimpin seperti itu. Republik
lebih didominasi peran penguasa daripada publik. Intervensi pemerintah dalam kehidupan
bernegara begitu besar sehingga menyerap spontanitas warga. Kalaupun ada spontanitas, itu
dibiarkan penguasa sebagai bagian dari skenario melanggengkan status quo. Birokrasi
berkepentingan untuk membuat rakyat tidak cukup kuat menggoyang penguasa.

1
Untuk memeriksa pejabat yang terindikasi korupsi, birokrasi izin pemeriksaan dibiarkan
rumit. Korupsi birokrasi mengerikan bagai gurita mafia nyaris di semua bidang. Kekayaan
negara digerogoti di depan mata. Padahal, kekuatan suatu negara berbanding lurus dengan
penegakan hukumnya. Demokrasi kita baru pada tahap prosedural yang melegitimasi oligarki
kekuasaan.

Negara akan kuat jika birokrasi tak dibiarkan membangun kleptokrasi. Beberapa kali dana
nonbudgeter menjadi kasus hukum. Seharusnya itu memiliki efek domino. Seharusnya segera
ada penertiban rekening dana nonbudgeter di semua departemen. Seharusnya ada tindakan
hukum yang memaksa semua (tidak satu-dua orang) penerima dana mengembalikannya ke
kas negara.

Problem statism adalah rakyat ada untuk negara. Negara bukan untuk rakyat. Negara tidak
menjalankan kewajibannya memenuhi dan melindungi hak dasar rakyat. Pembahasan RUU
Pelayanan Publik di parlemen terus tertunda. Substansi kebijakan politik tidak memihak
kesejahteraan rakyat. Negara korup dipadati kumpulan massa tanpa karakter yang merampas
kesejahteraan rakyat.

Rakyat sejahtera

Bung Hatta dalam salah satu amanat pidatonya berkata, "Negara akan kuat kalau
pemerintahnya dipercaya rakyat. Rakyat akan makmur kalau pemerintahnya mencintai
rakyat" (rapat umum di Kabanjahe, 22 November 1950). Di era globalisasi, upaya negara
untuk menyejahterakan rakyat berhadapan dengan kekuatan pasar global.

Peringkat daya saing global produk kita menurun, terutama di bidang manufaktur, garmen,
tekstil, dan hasil alam. Berdasarkan hasil survei World Economic Forum (WEF) tahun 2007,
Indonesia ada di posisi 50 dari 125 negara di dunia. Posisi itu masih di bawah India, Filipina,
Vietnam, China, Sri Lanka, dan Banglades.

Semasa dijajah Belanda hingga abad ke-18, produk rempah Indonesia berjaya di pasar dunia.
Cengkeh dan pala dari Maluku. Lada dari Bangka dan Belitung. Kayu manis dari Sumatera
Barat. Vanili dari Bali dan Lampung. Namun, kini rempah kita kalah bersaing dengan India,
Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Petani rempah kita harus diberi penyuluhan dan insentif
sebab produktivitas tanaman rempah baru 40-60 persen dari seluruh potensi.

Salah besar jika pemerintah negeri agraris membiarkan kemiskinan di kalangan petani. Harus
ada langkah nyata membantu petani mengantisipasi fenomena tahunan, kekeringan, dan
banjir. Masalah ini tidak cukup diatasi dengan imbauan menteri pertanian agar menghemat
air. Kemiskinan adalah salah satu karakteristik rakyat lemah.

Bulan lalu, saat memperingati Ulang Tahun Ke-60 Kemerdekaan, Perdana Menteri
Manmohan Singh menegaskan, rakyat India belum merdeka dari kemiskinan. Pertumbuhan
ekonomi baru dinikmati segelintir orang. Malanutrisi menjadi aib nasional, 46 persen anak
di bawah usia tiga tahun menderita kurang gizi. Itulah fantasi kemerdekaan pemimpin India.

Menurut Laporan Bank Pembangunan Asia bulan lalu, globalisasi berperan memperlebar
kesenjangan pendapatan di hampir seluruh negara Asia. Tanpa kebijakan afirmatif
pemerintah, globalisasi berpihak pada warga berpendidikan baik. Jika pemerintah melepas
pendanaan pendidikan kepada mekanisme pasar, kaum terdidik akan lebih sedikit lagi.

2
Padahal, kekuatan daya saing bangsa berbanding lurus dengan penguasaan ilmu dan
teknologi.

Negara kuat dan rakyat sejahtera adalah fantasi kemerdekaan para pendiri republik. Dalam
segala keterbatasan, fantasi itu telah menghadirkan kemerdekaan. Jika tak terjadi kelangkaan
fantasi kemerdekaan, seharusnya kita sedang membebaskan diri dari belenggu kemiskinan.