Anda di halaman 1dari 13

A.

Spermatogenesis
Spermatozoa adalah sel kecambah yang mana setelah masak kemudian
bergerak melalui epidydimis, yang mampu membuahi ovum setelah terjadinya
kapasitasi pada hewan betina. Spermatozoa itu menjadi aktif bergerak setelah
menyentuh bahan-bahan yang disekresikan oleh kelenjar-kelenjar aksesoris (ampula,
kelenjar vesicularis, kelenjar prostate, dan kelenjar cowpers). Meskipun demikian,
banyak diantara spermatozoa tersebut mengalami degenerasi dan diserap kembali
oleh sel-sel epithelium epididimis dan vas deferens dan banyak pula ynag
disekresikan dalam urin
Spermatozoa yang normal memiliki kepala , leher, badan dan ekor. Bagian
depan dinding kepala (yang mengandung asam dioxyribonucleik, di dalam
kromosom), tampak sekitar 2/3 bagian tertutup acrosom. Tempat sambungan dasar
acrosom dan kepala disebut cincin nucleus. Diantara kepala dan badan terdapat
sambungan pendek, yaitu leher yang berisi centriole proximal , yang kadang-kadang
dinyatakan sebagai pusat kenetik aktivitas spermatozoa. Bagian badan dimulai dari
leher dan berlanjut ke cincin centriole. Bagian badan dan ekor mampu bergerak
bebas, meskipun tanpa kepala. Ekor berupa cambuk, membantu mendorong
spermatozoa untuk bergerak maju

Gambar : Mekanisme Spermatogenesis


Pembentukan spermatozoa dari spermatogonia di dalam testis disebut
spermatogenesis. Proses ini meliputi poliferasi spermatogonia melalui pembelahan
mitosis yang terulang dan tumbuh membentuk spermatocyte primer, kemudian
melalui pembelahan reduksi (meiosis) membentuk spermatocyte sekunder.
Sprmatozoit sekunder membelah menjadi spermatid yang mengadakan metamorphose
menjadi gamet yang motile (dapat bergerak) dan mempunyai potensi fungsional
yang dinamakan spermatozoa. Proses metamorphose spermatid sering dinamakan
spermatogenesis
Spermatogenesis adalah suatu proses dimana sel-sel kelamin primer dalam
testis menghasilkan spermatozoa. Sperma terbentuk dalam tubuli semeniferi dari sel-
sel induk sperma yang diploid, spermatid tipe A, yang terletak pada membran basalis.
Spermatogenesis merupakan suatu proses komplek yang meliputi
spermatocytogenesis merupakan suatu proses kompleks yang meliputi pembelahan
dan defferensiasi sel. Selama prose tersebut jumlah kromosom direduksi oleh diploid
(2n ; 60 pada sapi, 54 pada domba, dan 38 pada babi) menjadi haploid (n) pada setiap
sel. Juga terjadi reorganisasi komponen-komponen inti sel dan sitoplsma secara
meluas. Spermatogenesis meliputi spermatositogenesis atau pembentukan
spermatosit primer dan sekunder dari spermatogenia tipe A dan permiogenesis atau
pembentukan spermatozoa dari spermatid.
Proses spermatogenesis dapat dibagi menjadi empat fase, yaitu :
1. Fase I (15 17 hari) pembelahan mitosis dimana spermatogenesis menjadi
dua anak sel yaitu satu spermatogonium dormant yang menjadi kuntinuitas
spermatogenesis dan atau spermatogonium aktif yang menbagi diri menjadi
empat kali sehingga menbentuk 16 spermatocyt primer (2n).
2. Fase II (kurang lebih 15 hari)pembelahan mitosis dari spermatocyt primer
(2n) menjadi spematosit sekunder (n).
3. Fase III (beberapa jam) pembelahan spematosit sekunder menjadi spermatid.
4. Fase IV (kurang lrbih 15 hari) methamorfosis spermatid menjadi spematozoa
tanpa pembelahan sel. Proses spermatogenesis meliputi perombakan radikal
bentuk sel dimana sebagian besar cytoplasma termasuk asam ribonucleid
(RNA), air atau glycogen terlepas atau menghilang.
Proses spematogenesis dikendalikan oleh kelenjar endokrin. Rangkaian
kejadian pengendalian hormon terhadap spermatogenesis pada sapi jantan adalah
pada waktu pubertas. GnRH, LH mempengaruhi sel Leydig untuk menghasilkan
androgen kemudian androgen membuat epitel germinalis dari tubuli semeniferi
bereaksi terhadap FSH, LH dan androgen. Selain itu androgen melalui pengaruhnya
terhadap seluruh alat kelamin jantan membantu mempertahankan kondisi yang
optimum terhadap seluruh alat kelamin jantan membantu mempertahankan kondisi
yang optimum terhadap keadaan spermatogenesisi, pengankutan sperma dan
penempatan air mani didaerah penbuahan sel (Parthodihardjo, 1992)
Pertumbuhan Spermatozoa
Serangkain tahapan dalam pembentukan spermatozoa, yaitu (1)
spermatogenesis, sel-sel yang umumnya terdapat pada perifer tubulus seminiferi,
jumlahnya bertambah secara mitosis, suatu tipe pembelahan sel-sel anakan hampir
sama dengan induknya, (2) spermatosit primer ini dihasilkan oleh spermatogenia,
mengalami migrasi menuju kepusat tubulus semineferi dan mengalami pembelahan
miosis, jumlah kromosom dibagi dalam spermatosit sekunder, (3) dua spermatosit
sekunder yang terbentuk dari masing-masing spermatosit primer terbagi secara
mitosis menjadi empat spermatid, (4) masing-masing spermatid mengalami
serangkaian perubahan nukleus dan sitoplasma (spermatogenesis) dari sel yang
bersifat non metil menjadi sel motil(sel yang mampu berabak) dengan membentuk
flagum(ekor) untuk membentuk spermatozoa, (5) spermatozoa adalah kecambah yang
mana setelah masuk kemudian bergerak melalui epiidymis yang mampu membuahi
ovum setelah terjadinya kapasitas pada hewan betina (Frandson, 1993)
Spermatogenesis Pada Saat Maturasi
Pada umumnya spermatozoa mengalami pematangan selama perjalanannya
melalui epididymis yang ditandai oleh perpindahan butiran cytoplasma dari daerah
proximal (proximal protoplasmic droplet) menyusuri bagian tengah kebagian distal
ekor 9distal protoplasmic droplet) dan akhirnya menghilang sebelum ejakulasi. Pada
sapi, butiran protoplasma proksimal ditemukan pada 44 % spermatozoa didalam
caput dan hanya 2 % didalam cauda epididymis adalah 2 10 kali lebih subur
daripada sperma dari kepala epidydimis. Mungkin karena abnormalitas gerakan-
gerakan sel-sel sperma yang diambil dari caput epidydimis (Toilehere, 1979).
Spermatozoa diangkut dalam jumlah yang besar cairan sekresi tubuli
semineferi dan rete testis kedalam tubuli efferens testis yang berliku-liku yang
terletak dekat caput epidydimis dan bermuara keductus epidydimis. Aktivitas otot
licin yang membantu pengankutan semen melalui ductuli efferens testis. Aktifitas
peristaltik otot licin epididimis bertanggung jawab atas pengangkutan sperma
kedaerah ini. Mekanisme kontraktil yang terlihat dalam pengangkutan sperma pada
hewan jantan sebagian diatur oleh oxicotin (Salisbury, 1985).
Spermatozoa tertimbun didalam epidydimis menjadi dewasa sebelum
perjalanannya didalam pembuluh epidydimis itu, yang mencapai panjang 33 35 m.
Didalam epidydimis spermatozoa menjadi masak terhadap kemampuannya untuk
memperlihatkan mobilitas yang spontan dan kemampuannya untuk membuahi ovum.
Bila spermatozoa itu melanjutkan proses pendewasaannya selama dalam
perjalanannya didalam epidydimis, masa protoplasma yang berupa butiran-butiran
sitoplasma, yang biasanya berada disekitar leher spermatozoa akan bergerak menuju
kebagian ekor dan secara normal akan terlepas sebelum diejakulasikan pada waktu
spermatozoa akan bergerak menuju kebagian ekor dan secara normal akan terlepas
sebelum diejakulasikan pada waktu spermatozoa itu berada dalam epidydimis bagian
kepala. Namun demikian dapat terjadi bahwa butiran dari sitoplasma masih tetap
tinggi dispermatozoa sesudah ejakulasi dan spermatozoa yang tidak sempurnaproses
pendewasaanya (Salisbury,1985)
Mekanisme Hormonal Pada Saat Pembentukan Spermatozoa

Gambar : Mekanisme Hormonal Spermatogenesis


Proses spermatogenesis dikendalikan oleh hormon dan kelenjar endokrin.
Proses kejadian pengendalian hormon terhadap spermatogenesis pada sapi jantan
adalah waktu pubertas gonadotropin. LH akan mempengaruhi sel-sel leydig untuk
menghasilkan androgen. Androgen membuat epitel germinalis dari tubuli semineferi
bereaksi terhadap FSH. FSH menyebabkan dimulainya sspermatogenesis dan
pembelahan sel spermatogenesis. Spermatogenesis akan berkesinambungan diatur
oleh keseimbangan timbal balik hormon-hormon FSH, LH dan hormon-hormon yang
diproduksi oleh testis dan androgen. Selain itu androgen melalui proses pengaruhnya
terhadap seluruh alat kelamin jantan membantu mempertahankan kondisi yang
uptimum terhadap spermatogenesis, pengangkutan spermatozoa, dan penempatan air
mani didaerah terjadinya pembuahan pada hewan betina.
B. Oogenesis

Gambar : Mekanisme Oogenesis


Oogenesis merupakan suatu proses pembentukan ovum, dimana proses
pembentukannya terjadi di ovarium bagian perifer atau ovarium tepi. Pada ternak
mamalia sebelum ovulasi sel telur terletak pada satu sisi ovarium terbungkus dari satu
masa padat sel-sel folikuler yang disebut cumuloophorus. Sel telur yang baru
diovulasikan dikelilingi oleh lapisan sel granulose (corona radiata).
Pada masa pubertas, oosit primerakan mengadakan pembelahan meiosis I
menghasilkan satu sel oosit sekunder yang besar dan satu sel badan kutub pertama
(polar body primer) yang lebih kecil. Perbedaan bentuk ini disebabkan sel oosit
sekunder mengandung hampir semua sitoplasma sedangkan sel badan kutub pertama
hanya terdiri dari nukleus saja.
Oosit sekunder ini mempunyai kromosom setengah kromosom oosit primer
yaitu 23 kromosom (haploid).Dalam pembelahan meiosis II, oosit sekunder
membelah diri menghasilkan satu sel ootid yang besar dan satu badan kutub kedua
(polar body sekunder).Ootid yang besar tersebut mengandung hampir semua
sitoplasma. Pada saat yang sama, badan kutub pertama membelah diri menjadi dua
kutub. Selanjutnya ootid tumbuh menjadi sel telur (ovum) yang mempunyai
kromosom bersifat haploid (n).
Sedangkan ketiga badan kutub kecil hancur sehingga setiap oosit primer
hanya menghasilkan satu sel telur yang fungsional. Sel telur (ovum) yang besar itu
mengandung sumber persediaan makanan, ribosom, RNA, dan komponen
komponen sitoplasma lain yang berperan dalam perkembangan embrio. Sel telur yang
matang diselubungi oleh membrane corona radiate dan zona pellusida.
Mitosis dan meiosis merupakan bagian dari siklus sel dan hanya mencakup 5-
10% dari siklus sel. Persentase waktu yang besar dalam siklus sel terjadi pada
interfase.Interfase terdiri dari periode G1, S, dan G2.Pada periode G1 selain terjadi
pembentukan senyawa-senyawa untuk replikasi DNA, juga terjadi replikasi organel
sitoplasma sehingga sel tumbuh membesar, dan kemudian sel memasuki periode S
yaitu fase terjadinya proses replikasi DNA. Setelah DNA bereplikasi, sel tumbuh
(G2) mempersiapkan segala keperluan untuk pemisahan kromosom, dan selanjutnya
diikuti oleh proses pembelahan inti (M) serta pembelahan sitoplasma (C). Selanjutnya
sel hasil pembelahan memasuki pertumbuhan sel baru (G1).
Mekanisme Oogenesis
1. Sel-Sel Kelamin Primordial
Sel-sel kelamin primordial mula-mula terlihat di dalam ektoderm embrional
dari saccus vitellinus dan mengadakan migrasi ke epitelium germinativum kira-kira
pada minggu ke 6 kehidupan intrauteri.Masing-masing sel kelamin primordial
(oogonium) dikelilingi oleh sel-sel pregranulosa yang melindungi dan memberi
nutrien oogonium dan secara bersama-sama membentuk folikel primordial.
2. Folikel Primordial
Folikel primordial mengadakan migrasi ke stroma korteks ovarium dan folikel
ini dihasilkan sebanyak 200.000.Sejumlah folikel primordial berupaya berkembang
selama kehidupan intrauteri dan selama masa kanak-kanak, tetapi tidak satupun
mencapai pemasakan. Pada waktu pubertas satu folikel dapat menyelesaikan proses
pemasakan dan disebut folikel de Graaf dimana didalamnya terdapat sel kelamin yang
disebut oosit primer.
3. Oosit Primer
Inti (nukleus) oosit primer mengandung 23 pasang kromosom (2n).Satu
pasang kromosom merupakan kromosom yang menentukan jenis kelamin, dan
disebut kromosom XX. Kromosom-kromosom yang lain disebut autosom. Satu
kromosom terdiri dari dua kromatin.Kromatin membawa gen-gen yang disebut DNA.
4. Pembelahan Meiosis Pertama
Meiosis terjadi di dalam ovarium ketika folikel de Graaf mengalami
pemasakan dan selesai sebelum terjadi ovulasi. Inti oosit atau ovum membelah
sehingga kromosom terpisah dan terbentuk dua set yang masing-masing mengandung
23 kromosom. Satu set tetap lebih besar dibanding yang lain karena mengandung
seluruh sitoplasma, sel ini disebut oosit sekunder. Sel yang lebih kecil disebut badan
polar pertama. Kadang-kadang badan polar primer ini dapat membelah diri dan secara
normal akan mengalami degenerasi.
Pembelahan meiosis pertama ini menyebabkan adanya kromosom haploid
pada oosit sekunder dan badan polar primer, juga terjadi pertukaran kromatid dan
bahan genetiknya. Setiap kromosom masih membawa satu kromatid tanpa pertukaran,
tetapi satu kromatid yang lain mengalami pertukaran dengan salah satu kromatid pada
kromosom yang lain (pasangannya). Dengan demikian kedua sel tersebut
mengandung jumlah kromosom yang sama, tetapi dengan bahan genetik yang
polanya berbeda.
5. Oosit Sekunder
Pembelahan meiosis kedua biasanya terjadi hanya apabila kepala spermatozoa
menembus zona pellucida oosit (ovum).Oosit sekunder membelah membentuk ovum
masak dan satu badan polar lagi, sehingga terbentuk dua atau tiga badan polar dan
satu ovum matur, semua mengandung bahan genetik yang berbeda.Ketiga badan
polar tersebut secara normal mengalami degenerasi. Ovum yang masak yang telah
mengalami fertilisasi mulai mengalami perkembangan embrional.
Hormon Hormon yang Berperan dalam Proses Oogenesis
Proses pembentukan oogenesis dipengaruhi oleh kerja beberapa hormone.
Pada wanita usia reproduksi terjadi siklus menstruasi oleh aktifnya aksis
hipothalamus-hipofisis-ovarium. Hipothalamus menghasilkan hormon GnRH
(gonadotropin releasing hormone) yang menstimulasi hipofisis mensekresi hormon
FSH (follicle stimulating hormone) dan LH (luteinizing hormone). FSH dan LH
menyebabkan serangkaian proses di ovarium sehingga terjadi sekresi hormon
estrogen dan progesteron.
LH merangsang korpus luteum untuk menghasilkan hormon progesteron dan
merangsang ovulasi. Pada masa pubertas, progesteron memacu tumbuhnya sifat
kelamin sekunder.FSH merangsang ovulasi dan merangsang folikel untuk
membentuk estrogen, memacu perkembangan folikel. Sertahormon prolaktin
merangsang produksi susu.
Mekanisme umpan balik positif dan negatif aksis hipothalamus-hipofisis-
ovarium yaitu tingginya kadar FSH dan LH akan menghambat sekresi hormon GnRH
oleh hipothalamus. Sedangkan peningkatan kadar estrogen dan progesteron dapat
menstimulasi (positif feedback, pada fase folikuler) maupun menghambat (inhibitor
atau negatif feedback, pada saat fase luteal) sekresi FSH dan LH di hipofisis atau
GnRH di hypothalamus.
C. Pubertas
Pubertas Dapat didefinisikan sebagai umur atau waktu dimana organ organ
reproduksi mulai berfungsi dan perkembang biakan dapat terjadi. Pada hewan jantan,
pubertas ditandai oleh kesanggupan berkopulasi dan menghasilkan sperma disamping
perubahan perubahan kelamin skunder lain. Pada hewan betina pubertas
dicerminkan oleh terjadinya estrus dan ovulasi. Sebelum pubertas, saluran reproduksi
betina dan ovarium perlahan lahan bertambah ukuran dan tidak menunjukkan
aktivitas fungsional. Pertumbuhanyang lambat ini sejajar dengan pertumbuhan berat
badan sewaktu hewan berangsur dewasa.
1. Pubertas pada Hewan Betina
Pubertas merupakan batasan umur atau waktu hewan betina secara fisik dan
fisiologis siap untuk melakukan perkawinan dan berkembang biak. Pada hewan
betina pubertas ditandai dengan terjadinya estrus/birahi dan ovulasi. Pubertas lebih
jelas terlihat pada hewan betina dibandingkn dengan hewan jantan. Pubertas atau
dewasa kelamin terjadi sebelum dewasa tubuh tercapai. Sebelum pubertas, saluran
reproduksi dan organ-organ reproduksi perlahanlahan bertambah dalam ukuran dan
secara fisiologis belum berfungsi.
Willie (1994) dalam Salisbury dan VanDemark (1985) membagi
perkembangan dan pendewasaan alat reproduksi sapi menjadi tiga tingkatan. Tingkat
pertama, pendewasaan kelenjar hipofise sebagai penghasil hormon reproduksi pada
umur 36 bulan. Kedua, pendewasaan ovarium sebagai pengasil sel telur dan
hormon pada umur 612 bulan. Tingkatan terakhir, pendewasaan uterus sebagai
tempat perkembangan embrio pada saat bning, perkembangan organ ini tidak pernah
sempurna sebelum mencapai umur tiga tahun atau lebih. Umur dan bobot tubuh
hewan pada saat timbulnya puberta berbeda-beda menurut spesiesnya,
Pubertas pada hewan betina ditandai dengan estrus yang terjadi secara tiba-
tiba sehingga sangat menyolok perubahannya. Pubertas biasanya terjadi apabila berat
dewasa tubuh hampir tercapai dan kecepatan pertumbuhan mulai menurun. hewan-
hewan muda tidak oleh dikawinkan sampai pertumbuhan badannya memungkinkan
suatu kebuntingan dan kelahiran normal. Sapi-sapi dara sebaiknya dikawinkan
berdasarkan ukuran dan berat bukan berdasarkan umur.
Mekanisme timbulnya pubertas dikontrol secara fisiologis yang melibatkan
gonad dan kelenjar adenohifpofise, maka pubertas dipengaruhi oleh hormon, genetik,
nutrisi, dan lingkungan.
a. Hormon
Pertumbuhan dan perkembangan organ-organ kelamin betina pada waktu
pubertas dipengaruhi oleh hormon-hormon gonadotropin dan hormon-hormon
gonadal. Pelepasan FSH ke dalam aliran darah menjelang pubertas menyebabkan
folikel-folikel pada ovarium mulai tumbuh. Folikel yang tumbuh dari folikel
primer menjadi folikel sekunder dan folikel tersier, yang akhirnya matang
menjadi folikel de Graaf. Ovarium beratnya menjadi bertambah dan kemudian
menghasilkan hormon estrogen yang akan disekresikan ke dalam aliran pembuluh
darah. Estrogen akan menyebabkan saluran reproduksi tumbuh dan berkembang,
sedangkan pengaruh LH menyebabkan ova yang telah matang akan diovulasikan
ke tuba uterina.
Awal pubertas pada hewan betina disebabkan oleh pelepasan hormon
gonadotropin dari kelenjar adenohipofise ke dalam pembuluh darah dan bukan
produksi hormon-hormon tersebut secara tiba-tiba. Pada hewan yang belum
dewasa kelamin terbukti mengandung hormon-hormon gonadotopin pada hewan-
hewan betina muda immatur akan menyebabkan ovarium dan saluran reproduksi
memberikan respon dengan terjadinya estrus dan ovulasi.
b. Genetik
Faktor genetik yang berpengaruh terhadap pubertas dicerminkan dengan
adanya perbedaan-perbedaan antar bangsa, strain, dan persilangan. Bangsa sapi
perah mencapai pubertas lebih cepat dibandingkan dengan sapi potong. Sapi-sapi
Brahman dan Zebu mencapai pubertas 612 bulan lebih lambat daripada bangsa-
bangsa sapi eropa. Pada umumnya, pubertas akan lebih cepat pada
perkawinan cross breeding dibandingkan denganinbreeding.
Pengaruh bangsa terhadap umur pubertas didemonstrasikan dengan
membandingkan sapi bangsa besar dan kecil. Penelitian di Nebraska membagi-
bagi sapi menjadi tiga kategori, yaitu bangsa sapi persilangan Jersey yang
mencapai pubertas lebih pendek; persilangan Carolais dengan pubertas yang
panjang; pubertas sedang pada persilangan Hereford dengan Angus dan South
Devon. Persilangan sapi Jersey mengalami pubertas pada umur 322 hari
dibandingkan dengan persilangan yang lain 364415 hari. Bobot tubuh yang
dicapai pada saat pubertas 219 kg pada persilangan Jersey, sedangkan yang lain
266303 kg.
c. Nutrisi
Kekurangan pakan pada hewan akan menyebabkan penundaan pubertas,
sedangkan kelebihan pakan akan memperpendek pubertas. Pakan yang cukup
diperlukan untuk fungsi endoktrin yang normal. Sintesis dan sekresi hormon-
hormon reproduksi oleh kelenjar-kelenjar endoktrin dipengaruhi oleh tingkatan
pakan yang diberikan, semakin berkualitas dan kecukupan jumlah pakan yang
diberikan maka sintesis hormon akan lebih cepat. Pertumbuhan dan
perkembangan organ reproduksi akan terhambat apabila hewan betina muda
mengalami kekurangan pakan baik kualitas maupun kuantitasnya.
d. Lingkungan
Faktor lingkungan seperti temperatur dan kelembaban dapat mnyebabkan
penundaan pubertas. Kelompok sapi yang berada pada daerah bertemperatur
tinggi (Brahman dan Shorthorn) dapat tumbuh lebih cepat tetapi pubertasnya
tertunda dibandingkan dengan kelompok sapi yang berada pad daerah
bertemperatur rendah (Santa Gertrudis). Umunya sapi yang dikandangkan pada
suhu 10oC, pubertas dicapai pada umur 300 hari dibandingkan 398 hari pada suhu
28,9oC dan 320 hari pada kandang terbuka. Sapi-sapi yang dikandangkan pada
suhu 10oC pubertasnya dicapai adalah 290 hari untuk sapi Santa Gertrudis, 303
hari pada sapi Shorthorn, dan 300 hari untuk sapi Brahman.
Faktor lingkungan lainnya yang dapat mempercepat timbulnya pubertas
adalah kehadiran pejantan pada sekelompok betina. Ineraksi hewan jantan dan
hewan betina akan merangsang perkembangan kelenjar endoktrin dan saluran
reproduksi sehingga hewan akan lebih cepat mencapai pubertas.
2. Pubertas pada Hewan Jantan
Pubertas merupakan batasan umur dan waktu hewan jantan secara fisik dan
fisiologis siap untuk melakukan perkawinan dan berkembang biak. Pada hewan
jantan, pubertas ditandai dengan telah direproduksinya hormon adrogen dan
spermatozoa serta organ-organ reproduksi telah berkembang dan ternak mampu
melakukan kopolasi. Kriteria lain yang menandai pubertas pada hewan jantan adalah
adanya spermatozoa di dalam epididimis, terjadi ejakulasi dengan adanya stimulasi
elektrik, penis telah mengalami ereksi dan perpanjangan, penis mampu melewati
preputium, dan libido hewan mulai tampak. Seperti halnya pada hewan betina,
pubertas pada hewan jantan dipengaruhi oleh hormon, geneik, nutrisi, dan
lingkungan.
a. Homon
Pubertas pada hewan jantan dimulai dengan adanya ransangan pada
hipotalamus untuk memproduksi GnRH. Hormon tersebut akan merangsan
adenohipofise untuk menghasilkan FSH dan pada saat itu diproduksi testosteron
oleh testes. Regulasi hormon-hormon tersebut menyebabkan terjadinya pubertas.
Androgen dan gonadotrophin akan mengawali proses spermatogenesis, androgen
menstimulir perkembangan penis dan kelenjar pelengkap, serta keinginan
kelamin.
b. Genetik
Umur pubertas pada ternak berbeda-beda sesuai bangsa ternak, seperti terlihat
pada Tabel 7. Pada bangsa ternak yang sama, pubertas juga terjadi dalam waktu
yang berbeda; bangsa yang besar biasanya akan mencapai pubertas lebih lama
dibandingkan dengan bangsa kecil. Hal ini didasarkan pada alasan bahwa hormon
androgen mampu menekan perkembangan tulang, sehingga pada bangsa yang
menghasilkan androgen lebih awal ternak yang bersangkutan akan menjadi kecil.
Pada kondisi yang sama bangsa Jersey mencapai pubertas pada umur 68 bulan
dibandingkan dengan Santa Gertrudis pada umur 1418 bulan.
Sapi hasil crossbreeding akan mencapai pubertas pada umur yang lebih muda
dibandingkan dengan sapi hasil inbreeding. Sapi hasil crossbreeding mencapai
pubertas pada umur 51 minggu dibandingkan dengan yang bukan yanitu 57
minggu. Pengamatan ini didasarkan pada kemampuan untuk berkopulasi dan
menghasilkan sperma yang memungkinkan terjadinya fertilisasi. Sapi-sapi yang
digunakan pada pengamatan ini adalah Hereford, Angus, dan Charolais, serta
persilangan diantara ketiganya.
c. Nutrisi
Kualitas dan kuantitas pakan merupakan faktor paling penting yang
mempengaruhi pencapaian pubertas, kelebihan pakan akan mempercepat
pubertas dan kekurangan pakan akan menunda pubertas. Alasan ini didasarkan
pada inisiasi pengaruh hormon terhadap reproduksi hewan jantan. Fakor pakan
yang berpengaruh adalah TDN, energi, protein, dan komponen lainnya.
Pejantan sapi perah yang diberi TDN dengan kadar 130, 100, dan 60 %
mampu memproduksi sperma pada umur 37, 43, dan 51 minggu dengan obot
tubuh masing-masing 292, 262, dan 235 kg. Penelitian pada sapi Holstain yang
diberi pakan dengan TDN 100 dan 60%, pubertas dicapai pada umur 45 minggu
dengan bobot tubuh 267 kg dan 52 minggu dengan bobot tubuh 160 kg.
Pengamatan diatas menunjukkan bahwa interaksi pakan dan ukuran badan sama
baiknya dengan reproduksi. Kenytaan ini memberikan gambaran bahwa seleksi
ternak tidak hanya didasarkan pada umur dan ukuran badan saja, tetapi keduanya.
d. Lingkungan
Pada kondisi musim dingin pejantan-pejantan yang sedang tumbuh dan
mendekati pubertas akan mengalami penundaan pubertas. Hal ini dikarenakan
lingkung akan mempengaruhii persediaan pakan. Pada domba, musim dingin
berpengaruh terhadap pencapaia pubertas. Domba muda yang akan digumnakan
pada musim gugur untuk perkawinan pertama akan mengalami infertilitas pada
musim panas, ini berarti domba-domba tersebut harus menunggu sampai
mencapai umur satu tahun untuk digunakan sebagai pemacek.
TUGAS INDIVIDU
ILMU REPRODUKSI TERNAK

SPERMATOGENESIS, OOGENESIS, DAN PUBERTAS

OLEH :

NAMA : MUSLIMIN
NIM : I111 13 3ZZZZ
KELAS : GANJIL

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015