Anda di halaman 1dari 29

BUKU AJAR

PENUNTUN PRAKTIKUM

PRAKTIKUM FENOMENA DASAR

OLEH:
I KETUT GEDE WIRAWAN
I GEDE PUTU AGUS SURYAWAN

JURUSAN TEKNIK MESIN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS UDAYANA
TAHUN 2016
KATA PENGANTAR

Puja dan puji syukur penulis haturkan kehadapan Tuhan Yang maha Esa,
karena berkat rahmat dan karuniaNya revisi buku peunjuk praktikum Fenomena
Dasar ini dapat diselesaikan pada waktunya.
Pada keempatan ini penulis ucapkan terimakasih kepada
1. Dekan Fakultas Teknik Universitas Udayana
2. Ketua dan sekretaris jurusan Teknik Mesin
3. Semua pihak yang tidak bisa penuliis sebutkan satu per satu.
Harapan penulis, dengan tersedianya buku petunjuk praktikum edisi 2016 ini
maka penyelenggaraan Praktikum Fenomena Dasar mahasiswa Jurusan Teknik
Mesin Universitas Udayana dapat berjalan dengan baik.. Mudah-mudahan buku ini
bermanfaat bagi mahasiswa dan civitas akademika.

Bukit Jimbaran, Maret 2016


Penulis

i
PETUNJUK UMUM PRAKTIKUM

I. MAKSUD DAN TUJUAN


Praktikum Fenomena Dasar ada 4 item praktikum yaitu Defleksi Batang,
Linier Heat Conduction, Flash & Fire Point dan Impact Jet. Untuk 2 item Defleksi
batang dan Linier Heat Conduction dilaksanakan di Lab. Proses Produksi. Untuk
Flash & Fire Point dan Impact Jet dilaksanakan dilab Motor Bakar dan Lab
Mekanika Fluida.
Maksud dari praktikum ini adalah: memahami lebih lanjut fenomena
perpindahan panas terutama menghitung nilai konduktivitas material dan fenomena
pada defleksi batang. Mengetahui temperatur titik nyala dan titik bakar suatu bahan
bakar. Mengetahui fenomena gaya yang terjadi pada jet air yang menumbuk suatu
bidang plat.
Tujuan praktikum ini adalah: mengetahui nilai konduktivitas material pada
beberapa material dan dipanaskan dengan daya yang berbeda-beda. Mengetahui
temperatur titik nyala dan titik bakar suatu bahan bakar dengan penambahan aditif.
Mengetahui gaya tumbuk oleh jet air pada berbagai bentuk plat.

II. TATA TERTIB PRAKTIKUM


A. PESERTA WAJIB
1. Mendaftarkan diri sebagai peserta praktikum
2. Peserta praktikum hadir 15 menit sebelum praktikum dimulai.
3. Berlaku sopan, bertanggung jawab, berinisiatif dan kreaktif terhadap tugas-
tugas yang diberikan selama praktikum.
4. Tas dan barang lainnya yang tidak dibutuhkan dalam kegiatan praktikum
agar diletakkan ditempat yang telah disediakan.
5. Peserta praktikum harus menandatangani daftar hadir sebelum dan sesudah
praktikum dilaksanakan.
6. Bila suatu hal berhalangan hadir (tidak bisa mengikuti praktikum) peserta
wajib melaporkan diri kepada Ka. Lab. untuk menyampaikan alasan
ketidakhadirannya. Catatan: ketidakhadiran tanpa sepengetahuan yang
berwenang, maka peserta dianggap gugur.
7. Peserta boleh meninggalkan tempat praktikum hanya atas seijin Ka.
Lab/Teknisi/Instruktur.
ii
8. Mentaati peraturan dalam menggunakan alat dan bahan yang dipakai dalam
praktikum. Merusak peralatan (pecah, hilang dll) akibat kelalaian, peserta
wajib mengganti, memperbaiki dan sebagainya sebagaimana perintah Ka.
Lab.

B. PESERTA DILARANG
1. Merokok, mengobrol, membuat kegaduhan, ribut, mengacau dan sebagainya
selama praktikum.
2. Menggunakan fasilitas laboratorium diluar yang telah ditentukan.
3. Pindah kelompok, kecuali atas perintah Ka. Lab.
4. Melakukan jenis kegiatan lain tanpa seijin Ka. Lab, Teknisi/Instruktur.

C. SANGSI SANGSI
Pelanggaran-pelanggaran atas Tata Tertib selama praktikum dan pembuatan
laporan akan dikenakan sangsi sebagai berikut:
1. Peringatan secara lisan
2. Peringatan secara tertulis
3. Pengurangan nilai praktikum
4. Dinyatakan tidak lulus praktikum
5. Pelanggaran katagori berat, dikeluarkan sebagai mahasiswa Program Studi
Teknik Mesin.

III. PENULISAN LAPORAN


a. Format Laporan sebagai berikut:
Kata Pengantar
Lembar Persetujuan
Daftar Isi
BAB I Defleksi Batang
1.1 Teori Penunjang
1.2 Tujuan Praktikum
1.3 Prosedur Praktikum
1.4 Hasil dan Pembahasan.
BAB II Perpindahan Panas Konduksi Linier
2.1 Teori Penunjang
iii
2.2 Tujuan Praktikum
2.3 Prosedur Praktikum
2.4 Hasil dan Pembahasan.
BAB III Flash Point & Fire Point
3.1 Teori Penunjang
3.2 Tujuan Praktikum
3.3 Prosedur Praktikum
3.4 Hasil dan Pembahasan.
BAB IV Impact Jet
4.1 Teori Penunjang
4.2 Tujuan Praktikum
4.3 Prosedur Praktikum
4.4 Hasil dan Pembahasan.
BAB V Penutup
5.1 Simpulan
5.2 Saran
Daftar Pustaka

b. Setiap kelompok membuat laporan praktikum rangkap 2 (dua)


c. Laporan praktikum diserahkan ke Kalab (Dosen yang mengkoordinir
praktikum), setelah mendapat pengesahan dosen pembimbing, paling lambat
4 (empat) minggu setelah penyelenggaraan praktikum
d. Nilai dari Teknisi dan Dosen Pembimbing diserahkan ke Kalab bersamaan
dengan laporan praktikum
e. Keterlambatan penyerahan laporan, maka yang bersangkutan dianggap gugur
sebagai peserta praktikum
f. Nilai praktikum merupakan hasil penilaian dari kehadiran, unjuk kerja
(kegiatan praktikum), tugas dan penulisan laporan.

iv
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i


PETUNJUK UMUM PRAKTIKUM ...................................................................... ii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... vi
BAB I DEFLEKSI BATANG ..................................................................................1
1.1. Tujuan ..............................................................................................................1
1.2. Dasar Teori .......................................................................................................1
1.3. Alat Dan Bahan Praktikum ...............................................................................6
1.4. Prosedur Praktikum ..........................................................................................6
1.5. Tugas .................................................................................................................7
BAB II PERPINDAHAN PANAS KONDUKSI LINIER ......................................8
2.1. Tujuan ...............................................................................................................8
2.2. Dasar Teori ........................................................................................................8
2.3. Prosedur Praktikum .........................................................................................10
2.4. Tugas ...............................................................................................................12
BAB III FLAST POINT DAN FIRE POINT ........................................................13
3.1. Tujuan .............................................................................................................13
3.2. Dasar Teori ......................................................................................................13
3.3. Peralatan Praktikum ........................................................................................14
3.4. Prosedur Praktikum .........................................................................................14
3.5. Pengumpulan Data ..........................................................................................15
BAB IV IMPACT JET .........................................................................................16
3.1. Tujuan .............................................................................................................16
3.2. Dasar Teori ......................................................................................................16
3.3. Perhitungan-Perhitungan .................................................................................18
3.4. Alat-Alat Praktikum ........................................................................................19
3.5. Prosedur Praktikum .........................................................................................21

vi
BAB I
DEFLEKSI BATANG

1.1 TUJUAN
1. Mengetahui teori dasar defleksi pada batang uji, untuk bentuk rektangular
dan circular.
2. Membandingkan defleksi batang hasil percobaan dengan hasil
perhitungan (secara teoritis)
3. Mengetahui variabel-variabel yang mempengaruhi defleksi pada batang.

1.2 DASAR TEORI


1.2.1 PERSAMAAN DIFERENSIAL KURVA DEFLEKSI
Defleksi adalah perubahan yang berupa lendutan yang dihitung dari kondisi
awal tanpa beban sampai batang melendut akibat pembebanan. Penggambaran
defleksi yang terjadi pada batang yang ditumpu dapat dilihat pada gambar di bawah
ini.

Gambar 1.1 : Batang Terdefleksi.

Penurunan titik C setinggi Y dari titik awal inilah yang disebut defleksi.
Besarnya defleksi Y disetiap jarak X pada batang dapat dihitung. Hubungan ini bisa
dituliskan dalam bentuk persamaan yang sering dinamakan persamaan defleksi.
Didalam mendesain suatu poros, perhatian biasanya tidak hanya ditujukan
kepada tegangan-tegangan yang timbul akibat aksi beban, tetapi juga kepada defleksi
yang ditimbulkan oleh beban ini. Selanjutnya dibuat ketentuan bahwa defleksi
maksimum tidak boleh melampaui suatu bagian kecil tertentu dari rentang batang.

1
d

Gambar 1.2 : Kurva Defleksi.

Misalkan kurva AmB pada gambar diatas merupakan bentuk sumbu batang
setelah lenturan ( pembengkokan terjadi ). Lenturan terjadi pada bidang simetri oleh
karena gaya-gaya lintang yang bekerja pada bidang-bidang itu. Kurva ini dinamakan
Kurva Defleksi ( Deflection Curve ). Untuk mendapatkan persamaan diferensial
kurva ini ditarik sumbu-sumbu koordinat seperti terlihat pada gambar dan anggap
bahwa lengkungan kurva defleksi pada titik manapun, hanya tergantung kepada
besarnya momen M di titik itu. Persamaan tersebut adalah :
d2y
EI . = - Mx
dx 2
dy
EI . = EI = Mdx C1 ( Persamaan Kurva Kemiringan )
dx
EIy = Mdx.dx C x C
1 2 ( Persamaan Kurva Elastis )

dimana :
x dan y = adalah sistem koordinat
E = modulus elastisitas batang
I = momen inersia penampang batang terhadap sumbu netral.
Mx = momen bending pada jarak x, biasanya merupakan fungsi x.
C1 dan C2 adalah konstanta integrasi yang harus dievaluasi dari kondisi balok
tertentu dan pembebanannya.

2
1.2.2 METODE LUAS BIDANG MOMEN
Metode ini juga dapat digunakan untuk menentukan defleksi pada suatu titik
tertentu.

d
t B/A
AB

Gambar 5.3 : Metode Luas Bidang Momen

Pada gambar di atas sebuah batang AB menerima beban tertentu sehingga


mengalami lendutan. Demikian pula akan terjadi momen lentur. Kita tinjau dua buah
titik D dan E yang setelah melendut mempunyai jarak sejauh ds dan perpotongan
normal dari titik tersebut di O membentuk sudut d dan diagram momennya akan
terbentuk seperti pada gambar yang diarsir. Persamaan yang dihasilkan adalah :
1 M
d = ds = ds
EI
karena defleksi yang terjadi sangat kecil maka dapat dituliskan ds = dx sehingga :
M
d = dx
EI
Persamaan ini kalau ditafsir dari grafis diatas maka d adalah sama dengan luas
bidang elemen Mdx yang diarsir pada diagram momen lentur dibagi dengan flextural
rigidity beam ( EI ). Persamaan diatas berlaku untuk elemen-elemen yang kecil
sehingga sudut antara garis singgung di titik A dan B akan didapat dengan
menjumlahkan elemen-elemen, sehingga secara integral dapat dituliskan :
B
M
AB = EI dx
A

Sehingga dari persamaan diatas lahir theorema I yaitu :

3
Besarnya sudut antara garis singgung yang melalui sembarang titik pada suatu
garis eleastisitas adalah merupakan luasan bidang momen antara titik-titik tersebut
dibagi dengan EI beam . Sehingga dapat ditulis dalam bentuk :
( Luas) AB
AB =
EI
Jarak vertikal antara garis singgung yang melalui titik D dan E yang berpotongan
dengan garis vertikal yang melelui titik B adalah dt. Setiap segitiga yang terbentuk
ini dianggap sebagai busur lingkaran dengan jari-jari x dan dengan sudut d.
dt = x d
untuk jarak penyimpangan vertikal titik B adalah merupakan penjumlahan dt dari
setiap elemen-elemen kecil dari titik A sampai titik B sehingga bisa dituliskan
sebagai berikut :
B B B
xMdx
M 1
tAB = BB = xd =
A
x
A
EI
dx =
EI A

1.2.3 STATIS TAK TENTU PADA BATANG-BATANG ELASTIS


Suatu batang dikatakan statis tertentu, bila gaya reaksi tumpuan batang akibat
gaya luar yang bekerja pada batang tersebut dapat dihitung dengan persamaan statis
yaitu : Fx = 0 ; Fy = 0 ; M = 0.
Suatu batang dikatakan statis tak tentu, bila gaya reaksi tumpuan batang akibat
gaya luar yang bekerja pada batang tidak bisa dihitung dengan persamaan statis saja.
Dalam hal ini perlu ada tambahan persamaan yaitu persamaan akibat deformasi dari
beam.
1.2.4 PEMBEBANAN DENGAN TIPE TUMPUAN ROL - ROL
Pembebanan dengan tipe tumpuan rol-rol menggunakan spesimen 6 mm atau
6 x 10 mm :

Gambar 1.4 Balok dengan tipe tumpuan rol-rol ( dua Perletakan )

4
Rumus Umum untuk tipe tumpuan Rol Rol :

R A x 3 Px a 3 R L3 PL a 3
= - + A x
6 EI 6 EI 6 LEI 6 LEI

1.2.5 PEMBEBANAN DENGAN TIPE TUMPUAN JEPIT-JEPIT


Pembebanan dengan menggunakan tipe tumpuan jepit-jepit menggunakan
spesimen 6 mm atau 6 x 10 mm :

Gambar 1.5 Balok dengan tipe tumpuan jepit-jepit


Rumus umum defleksi untuk tipe tumpuan jepit-jepit :
6 A1 a1 6 A2 b2
MA.a + 2MC ( a + b ) + MB.b + + = 6EI C C
L1 L2 a b
Momen Inersia
bh 3
Bentuk rektangular (spesimen 6 x 10 mm) I=
12
d 4
Bentuk circular atau silinder (spesimen 6 mm) I=
64

5
1.2.6 BAGIAN-BAGIAN UTAMA ALAT UJI LENDUTAN BATANG

Gambar 1.6 Bagian-bagian Utama Alat Uji Lendutan.


1. Rangka Alat Uji Lendutan Batang.
2. Slider beserta tumpuan.
3. Tempat penyimpanan spesimen.
4. Dudukan dial indikator.

1.3 ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM


Alat Uji Lendutan Batang
Dial Indikator kecermatan 0,01 mm
Mistar Ukur
Batang uji profil rectanguler dan circuler
Bentuk rektangular adalah spesimen 6 x 10 mm
Bentuk circular adalah spesimen 6 mm
Bahan spesimen uji yaitu SS AISI No 301
E spesimen = 1,97 x 106 kg/cm2

1.4 PROSEDUR PRAKTIKUM


1. Siapkan bahan dan alat praktikum
2. Pasang Dial Indikator pada dudukannya, ditengah-tengah batang
3. Pasang batang uji profil tertentu yang akan dilakukan percobaan
4. Lakukan pembebanan dari 230 gram sampai 920 gram (tambahkan
setiap 230 gram) pada jarak a = 200 mm.
5. Catat besarnya defleksi yang terjadi pada Dial Indikator
6. Ulangi lagi pada jarak a = 250 dan 300 mm.

6
1.5 TUGAS
1. Hitung defleksi dengan jarak a pada masing-masing percobaan secara teoritis?
2. Bandingkan hasilnya, antara defleksi secara teoritis dan hasil percobaan!
3. Buat grafik antara pembebanan Vs defleksi (teoritis dan percobaan) pada
masing-masing a (jarak beban)!

Tabel 5.1 Hasil Defleksi Batang (rektanguler & circular)

VARIASI L E I
teoritis percobaan
2 4
P a (mm) (N/mm ) (mm )
(N) (mm)
300 600
2.3 250 600
200 600
300 600
4.6 250 600
200 600
300 600
6.9 250 600
200 600
300 600
9.2 250 600
200 600

Keterangan:
I = Momen inersia
P = F = m x g = Pembebanan yang terjadi
m = massa ( kg )
g = gaya gravitasi ( m/s2 )
L = Jarak tumpuan (mm)
E = Modulus elastisitas bahan.
= Defleksi batang (mm)

7
BAB II

PERPINDAHAN PANAS KONDUKSI LINIER

2.1 TUJUAN
1. Memahami dasar teori perpindahan panas
2. Memahami teori perpindahan panas konduksi
3. Dapat menjelaskan konduksi linier .
4. Memahami nilai konduktivitas material

2.2 DASAR TEORI


Perpindahan panas sangat penting di bidang rekayasa teknik dan aspek-aspek
kehidupan. Banyak peralatan rumah tangga dibuat dengan memakai prinsip-prinsip
perpindahan panas, seperti : peralatan masak, oven, setrika, mesin mobil, knalpot,
pendingin ruangan dan lain-lain.
Prinsip kerja alat adalah ada sumber panas pada sisi kiri dan penyerap panas
pada sisi kanan sehingga ada perbedaan temperatur yang cukup besar (signifikan)
sepanjang logam yang diuji. Sumber panas berasal dari pemanas listrik, benda uji
beserta pemanasnya semua diisolasi. Benda uji terdiri brass, copper, aluminium dan
stainless steel dengan tebal 20 mm dan diameter 30 mm

Energi yang terjadi pada heater di berikan pleh persamaan:


W=VxI . (1)
Dimana:
W = Daya listrik (watt)
V = Tegangan listrik (volt)
I = Arus listrik (ampere)

8
untuk kasus ini W = q

Distribusi temperatur saat pengujian didapat grafik seperti dibawah

Gambar 2.1. Gradien Temperatur Linier

Gradien temperatur adalah (T1 T2)/L

9
2.3 PROSEDUR PRAKTIKUM

1. Siapkan alat utama seperti gambar 2.2

Gambar 2.2. Alat Utama percobaan


2. Siapkan alat LINIER HEAT CONDUCTION EXPERIMENT
(TD1002A) Seperti gambar 2.3.

Gambar 2.3. Linier Heat Conduction Experiment

10
3. Posisi alau ukur temperatur adalah seperti gambar 2.4.

Gambar 2.4. Posisi alat ukur temperatur

4. Alirkan air melalui selang


5. Pasang spesimen uji pada alat seperti gambar 2.5

Gambar 2.5. Posisi pemasangan Spesimen uji

6. Hidupkan power listrik


7. Hidupkan komputer
8. Input daya sebesar 30 watt
9. Tunggu sampai keadaan steady, baca temperatur T1, T2, T3, T4, T5, T6
dan T7 pada komputer.
10. Catat hasil temperatur pada tabel 2.1
11. Ulangi procedure diatas dengan daya 50 watt
12. Ulangi procedure diatas dengan bahan stainless steel pada daya 30 watt

11
13. Benda uji terdiri brass, copper, aluminium dan stainless steel dengan
tebal 20 mm dan diameter 30 mm. Tetapi dalam praktikum ini yang
digunakan dua spesimen yaitu brass dan stainless steel.

2.4. TUGAS
1. Lengkapi tabel berikut (didapat 3 tabel)
Tabel 2.1 Hasil pengukuran

Power (W) T1 T2 T3 T4 T5 T6 T7

Jarak dari T1 0 0,02 m 0,04m 0,06m 0,08 m 0,10 m 0,12 m

2. Buatlah grafik hubungan temperatur dan jarak (termokopel)


3. Hitung gradien ketiga praktikum diatas
4. Hitung nilai konduktivitas termal (k)
5. Bandingkan nilai k pada brass pemanasan 30 watt dan brass pemanasan 50
watt
6. Bandingkan nilai k pada brass pemanasan 30 watt dan stainles steel
pemanasan 30 watt.

12
BAB III
FLAST POINT DAN FIRE POINT

3.1 TUJUAN
Mengetahui titik nyala (Flast Point) dan titik bakar (Fire Point) dari bahan
bakar
Mengetahui pengaruh aditif atau campuran lain terhadap titik nyala dan titik
bakar.

3.2 DASAR TEORI


Secara umum bahan bakar dibedakan menjadi:
Bahan Bakar padat, antara lain : batu bara, kayu dan ampas.
Bahan bakar cair, antara lain : bensin, solar, minyak tanah.
Bahan bakar gas antara lain : natural gas, petroleum gas, biogas
Bahan bakar cair merupakan hydrokarbon komponen yang didapat dari sumber alam
maupun secara buatan. Beberapa keunggulan bahan bakar cair dibandingkan bahan
bakar padat antara lain:
Handlingnya yang mudah
Menggunakan alat bakar yang lebih kompak
Keberhasilan dari hasil pembakarannya.
Salah satu kekurangan adalah harus melalui proses pemurnian yang cukup komplek.
Dalam suatu bahan bakar cair, karakteristik yang perlu diperhatikan adalah besarnya
flast point dan fire point.
Flast Point adalah temperatur pada keadaan dimana uap diatas bahan bakar
akan terbakar dengan cepat (meledak) apabila nyala api didekatkan padanya.
Fire Point adalah temperatur pada keadaan dimana uap diatas permukaan
bahan bakar secara kontinyu apabila nyala api didekatkan padanya.
Flast point dan fire point penting untuk mengetahui karakteristik kestabilan bahan
bakar terhadap kemungkinan menyala/terbakar. Juga untuk mempertimbangkan cara
penanganan serta deliveri yang aman.

13
3.3 PERALATAN PRAKTIKUM
Flash point tester, dengan asesoris : 1 test inset with cover & cup, 1 termometer,
1 stirrer coupling, 1 dripping vessel, 1 holder.
Bahan bakar solar
Aditif, menggunakan Diesel Fuel Testment & Injector Cleaner with antigel/cold
flow improver, FL.oz (236 ml); atau aditif lainnya
Gas LPG.

3.4 PROSEDUR PRAKTIKUM


1. Sebelum melakukan percobaan, semua komponen peralatan ada dalam
keadaan bersih (cup/cawan, stirrer).
2. Bahan bakar yang akan diuji dimasukkan kedalam cawan/cup sesuai dengan
ukuran yang ada pada cup/cawan. Tutup dari cup/cawan tidak boleh basah.
3. Cawan diletakkan pada alat, kemudian dipasang tutupnya. Stirrer
dihubungkan kemotor pengaduk (stirring motor), termometer harus dipasang
dengan baik.
4. Setelah alat-alat dengan baik terpasang lalu saklar stirrer dipasang.
5. Nyala api pemandu (pilot flame) dinyalakan dari aliran bahan bakar gas
dengan panjang nyala 4 mm dan disiapkan di mulut penutup celah
(shutter).
6. Nyalakan pemanas penutup sehingga suhu bahan bakar naik tidak lebih dari
5 0C/menit. (Prediksi terlebih dahulu karakter bahan bakar).
7. Operasikan alat penutup celah (shutter) sehingga api pemandu turun/masuk
kedalam cawan/cup. Dan biarkan 1 detik, setelah itu kembalikan shutter
pada posisi semula. Cara mengoperasikan shutter adalah dengan memuntir
knop hitam searah jarum jam 150
8. Apabila saat api pemandu masuk kedalam uap bahan bakar tersulut maka
suhu yang terbaca pada termometer adalah flash point bahan bakar uji.
9. Prosedur nomor 7 diatas dilakukan lagi untuk setiap kenaikan suhu
40C/menit hingga titik nyala tercapai.
10. Apabila flash point yang tercapai pada prosedur nomor 7 diatas dilanjutkan
hingga tercapai fire point (suhu pada mana uap bahan bakar akan
terbakar/nyala secara tetap).

14
11. Hentikan pemanasan (heater dimatikan) dan prosedur nomer 7 dilakukan lagi
untuk penambahan aditif, hingga tercatat kembali, fire point dan flash point.
12. Pengujian dilakukan berkali-kali, minimum 3 kali untuk satu bahan bakar.
13. Pengujian selesai, padamkan api pemandu, bersihkan semua alat hingga
benar-benar kering.

Gambar 1. (a) Falsh Point Tester (b) Gambar Skematik

3.5 PENGUMPULAN DATA


Data yang dicatat dalam pengujian

Tabel 3.1 Data Hasil Pengujian


Campuran Bahan Bakar Temperatur (0 C)
Solar (ml) Aditif (ml) Flash Point Fire Point
66 -
66 4
66 12

3.6 Tugas
1. Buatlah grafik hubungan jumlah zat aditif dan temperatur untuk flash point
dan fire point!
2. Berilah penjelasan/analisa hasil pengujian!

15
BAB IV
IMPACT JET

4.1 TUJUAN
1. Untuk mengetahui gaya yang dihasilkan oleh sebuah jet air yang menumbuk
permukaan sebuah pelat atau pembelok yang merupakan laju perubahan
momentum.
2. Mengetahui perbedaan gaya yang dihasilkan dengan pembelok yang berbeda.
3. Menambah pengetahuan cara kerja alat dan pengoprasian alat uji.
4. Membandingkan sekaligus membuktikan teori-teori yang didapat dibangku
kuliah, dengan kenyataan dilapangan.

4.2 DASAR TEORI


Impect Jet digunakan untuk mengetahui gaya yang dihasilkan oleh sebuah jet
air yang menumbuk permukaan sebuah pelat atau pembelok. Perubahan kecepatan
fluida akibat pembelok mengakibatkan laju perubahan momentum, dimana oleh
Newton dikatakan sebagai Hukum Newton II tentang gerakan.
Daftar Simbol yang Digunakan:
A = Luasan penampang melintang dari jet (m2)
F = Gaya normal diatas permukaan bidang tumbukan (Newton)
S = Gaya reaksi pada permukaan bidang tumbukan (Newton)

m = Laju aliran massa (kg/dt)


n = Konstanta
V = Kecepatan jet (m/dt)
P = Kerapatan massa jet air (kg/m2)
= Sudut antara arah jet dengan permukaan bidang tumbukan.

4.2.1 BIDANG TUMBUK PELAT DATAR


(Diameter Nozzle adalah 5 mm dan 8 mm)
Gaya teoritis di atas bidang tumbuk:
F = A V2
Dimana:
= kerapatan fluida (untuk air = 1000 kg/m3)

16
A1 = 1,9634 x 10-5 m2 (untuk diameter nozzle 5 mm)
V = kecepatan fluida (m/dt)
Bila k = A dan n = 2 (untuk kedua nozzle)
Maka akan diperoleh:
a. Untuk nozzle 8 mm maka k = 0,0502
b. Untuk nozzle 5 mm maka k = 0,0196

4.2.2 BIDANG TUMBUK CONICAL


Gaya teoritis diatas bidang tumbuk

F= m V sin
Dimana:

m= A V
sin = 0,707
Komponen vertikal searah jet (tumbukan) S :
S = F sin

= m V sin sin

= m V sin2
Maka
S = A V2 sin2
Sehingga k = A sin2 dan n = 2 (untuk ke dua nozzle)

4.2.3 BIDANG TUMBUK HEMISPHERICAL


Hubungan antara F dan V adalah sebagai berikut:
n
F=kV
Dimana k dan n adalah konstanta
sehingga log F = log k + n log V
Perubahan dalam kecepatan = V (-V) = 2V

Perubahan dalam momentum = m 2V


Gaya dalam arah jet air F = 2 m V, dimana m= A V


Maka
F = 2 A V2

17
Dengan k = 2 A dan n = 2 (untuk 2 nozzle)

4.3 PERHITUNGAN-PERHITUNGAN
a). Bidang Tumbuk Datar
Secara Teoritis:
Dengan perhitungan, F = A V2 Newton

2
Nozzle 5 mm, F V
50,9
2
Nozzle 8 mm, F V
19,9

Hasil percobaan (dari kertas grafik)


Nozzle 5 mm, log F = m log V + C
Bila log F = +1 dan log F = -1 maka:
1 = m 2,53 + log C
- 1 = m 1,44 + log C
Maka diperoleh m = 1,83 sehingga log C = - 3,6299
Jadi

V 1,83
F
37,7

V 1,90
Cara yang sama untuk nozzle 8 mm, didapat F
15,7

b). Bidang Tumbuk Conical


Dengan perhitungan, F = A V2 sin

V2
Nozzle 5 mm, F
72
V2
Nozzle 8 mm, F
28
Hasil percobaan (dari kertas grafik)
Nozzle 5 mm, log F = m log V + C
Bila log F = +1 dan log F = -1 maka:
1 = m 3,15 + log C

18
- 1 = m 1,95 + log C
Maka diperoleh m = 1,67 sehingga log C = - 4,2605

V 1,67
Sehingga F
71
Cara yang sama untuk nozzle 8 mm adalah;

V 1,82
F
44
c). Bidang Tumbuk Hemispherical
Dengan perhitungan, F = 2 A V2

V2
Nozzle 5 mm, F
25,25

V2
Nozzle 8 mm, F
9,9
Hasil percobaan (dari kertas grafik)
Nozzle 5 mm, log F = m log V + C
Bila log F = +1 dan log F = -1 maka:
1 = m 2,32 + log C
- 1 = m 1,24 + log C
Maka diperoleh m = 1,85 sehingga log C = - 3,2963

V 1,85
Sehingga F
27
Cara yang sama untuk nozzle 8 mm adalah;

V 1,92
F
10,2

4.4 ALAT-ALAT PRAKTIKUM


a. Vane type : Flat, Conical, hemispherical
b. Nosel : 5 mm dan 8 mm
c. Massa : 3,0 kgm
d. Impact jet : Panjang 225 mm, Lebar 160 mm dan tinggi 450 mm
e. Stop watch

19
Gambar 4.1 Skematik Alat Percobaan Impect Jet
Keterangan:
1. Beban pembalans berupa butiran-butiran timah
2. Bidang tumbuk yang dapat diganti-ganti (datar dan hemispherical)
3. Nozzle yang dapat diganti-ganti (diameter 5 mm dan 8 mm)
4. Bak penampung air yang jatuh dari nozzle
5. Tabung kaca yang berisi skala untuk membaca jumlah air yang keluar dari
nozzle yang ditampung di bak penampungan (liter)
6. Bak sumber air
7. Inlet (bar)
8. Pompa
9. Outlet (bar)
10. Tabung kaca
11. Tiang penyeimbang antara semprotan air dengan beban pembalans

20
12. Katup berupa kran.

(a) (b)

(c)

Keterangan
a) Bidang tumbuk datar yang ditumbuk oleh gaya sebesar F.
b) Bidang tumbuk hemispherical yang ditumbuk oleh gaya yang sama.
c) Nozzle dengan diameter 5 mm dan 8 mm.

4.5 PROSEDUR PERAKTIKUM


a. Susunlah peralatan dengan Nozzele 5 mm dan pembelok normal (pelat datar)
yang telah dilengkapi talam yang berisi massa yang telah
ditentukan/ditimbang (mengikuti petunjuk teknis). Jarak antara nozzel
dengan permukaan bidang tumbuk diatur sedemikian rupa pada posisi
pengambilan data.
b. Hidupkan pompa
c. Bukalah katup pengontrol aliran hingga terbuka penuh.
d. Aturlah katup pengontrol aliran sehingga diperoleh kondisi kesetimbangan
(balans) antara gaya aksi jet air dengan gaya reaksi massa pemberat diatas
talam.
e. Perhatikan bentuk dari jet air yang dibelokkan diatas permukaan bidang
tumbuk.
f. Catat waktu yang dibutuhkan untuk mencapai volume 10 liter air.

21
g. Kurangi massa diatas talam, atur kembali katup pengontrol aliran, lakukan
kembali kegiatan (d sampai dengan f).
h. Kegiatan (g) diulangi untuk 8 ulangan pengambilan data.
i. Tutuplah katup pengontrol, matikan pompa dan percobaan dapat dilanjutkan
untuk percobaan nozzele 8 mm.
j. Gantilah nozzele 5 mm dengan nozzele 8 mm.
k. Ulangi kegiatan a sampai dengan i.
l. Ulangi percobaan diatas untuk bidang tumbuk conical dan hemispherical.

4.6 TUGAS
1. Buatlah tabel hasil-hasil percobaan
2. Buatlah grafik hubungan F dengan V untuk masing-masing bidang
tumbukan
3. Buatlah tabel hasil-hasil perhitungan
4. Analisalah hasil pecobaan dan perhitungan yang telah diperoleh!

Tabel 4.1 Data percobaan Nozzle (5 mm/8 mm) (datar/hemispherical/conical)


No Massa pembalans Waktu untuk Tekanan
(gram) 10 liter (detik) Inlet (bar) Outlet (bar)
1
2
3
4
5

22
Tabel 4.2 Hasil perhitungan percobaan
No Balance Pressure Debit Kecepatan Gaya F
Weight (bar) (liter/min) jet (m/s) (N)
(gram)
1
2
3
4
5

23