Anda di halaman 1dari 13

1

I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ayam broiler merupakan hasil genetik yang memiliki karakteristik ekonomis,
pertumbuhan yang cepat sebagai penghasil daging, konversi pakan rendah,
dipanen cepat karena pertumbuhannya yang cepat dan sebagai penghasil daging
dengan serat lunak (Murtidjo, 1987).
Ayam broiler dipelihara hingga 6 sampai 13 minggu dengan bobot hidup
dapat mencapai 1,5 kg pada umur 6 minggu. Perkembangan ayam broiler mulai
dari Great grand parents stock, grand parents stock, parent stock dan final stock.
Great grand parent stock adalah jenis ayam yang berasal dari persilangan dan
seleksi dari berbagai kelas, bangsa atau varietas yang dilakukan oleh pembibit dan
merupakan bagian untuk membentuk grant parent stock. Dihasilkan dari
persilangan galur murni (pure line). Broiler pertumbuhannya akan optimal pada
suhu 19-210 C (Rasyaf, 1995). Dalam memelihara ayam broiler memerlukan
manajemen yang baik agar dapat menghasilkan keuntungan yang besar, makalah
ini akan mengkaji mengenai manajemen pada broiler

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana Persiapan kandang dan peralatan pada ayam Broiler ?
2. Bagaimana Starting Management pada ayam Broiler ?
3. Bagaimana Finishing Management pada ayam Broiler ?
4. Bagaimana Manajemen kandang (Ventilasi, litter, kecepatan angin,
penerangan) pada ayam Broiler ?
5. Bagaimana mnajemen pemanenan, prosesing karkas, penanganan limbah
serta biosekuriti operasional pada ayam Broiler ?

1.3 Tujuan
Agar mahasiswa dapat menambah wawasan ilmu manajemen ternak unggas
khususnya manajemen pada ayam broile
2

II
PEMBAHASAN

2.1 Persiapan kandang dan peralatan


2.1.1 Persiapan Kandang
Syarat kandang yang baik adalah kandang yang memenuhi standar yang
telah ditentukan. Syarat-syarat kandang yang harus dipenuhi adalah:
1. Kandang harus dibuat kuat agar dapat dipakai dalam waktu yang lama, dan
tidak mudah roboh karena angin yang kencang.
2. Dapat menahan air hujan dan teriknya matahari langsung masuk kandang,
tepi atap sebaiknya dibuat cukup lebar yaitu sekitar 1,25 meter dari
dinding kandang.
3. Dinding kandang tidak rapat tetapi harus terbuka, memiliki celah-celah
yang terbuka yang terbuat dari anyaman bambu, kawat ram atau jeruji-
jeruji bambu sehingga hewan pemangsa tidak dapat masuk melalui celah
yang terbuka tersebut.
4. Ruang ventilasi dapat ditambahkan dengan membuat sistem atap monitor
dan dapat menggunakan kipas angin yang berfungsi menyedot udara kotor
dalam kandang atau mengalirkan udara segar masuk ke dalam kandang.
5. Lantai kandang sebaiknya disemen agar memudahkan dalam pembersihan
kandang dan dibuat lebih tinggi dari tanah disekitarnya.
6. Ukuran/luas kandang tergantung dari jumlah ayam yang akan dipelihara.
Sebagai pedoman, kepadatan ayam dewasa per meter persegi adalah 10
ekor.
7. Selokan/parit sebaiknya dibuatkan disekeliling kandang. Hal ini penting
agar pembuangan air tidak menggenang.
8. Tata letak kandang hendaknya dibangun diatas tanah yang lebih tinggi dari
tanah sekitarnya agar udara dapat berputar dan bergerak bebas melintasi
kandang sehingga peredaran udara dapat berjalan dengan baik.
3

9. Jarak antar kandang juga harus mendapat perhatian karena dapat


mempengaruhi sirkulasi udara, tingkat kelembaban, dan temperatur di
dalam kandang,
10. Ukuran luas kandang tergantung dari kepadatan jumlah populasi ternak
yang dipelihara. kepadatan kandang ayam untuk umur 1-3 hari adalah 60-
70 ekor/m, pada umur 4-7 hari kepadatan kandang 40-50 ekor/m, umur
8-14 hari kepadatan kandang 20-30 ekor/m dan pada 15 hari sampai
panen kepadatan kandang 8-16 ekor/m.

2.1.2 Peralatan
Menurut Rasyaf (2005 : 18) Ayam yang dipelihara secara intensif dengan
cara dikandangkan secara terus menerus sepanjang hari, memerlukan peralatan-
peralatan teknis yang memadai, seperti tempat pakan dan minum, alat pemanas,
thermometer, dan peralatan lainnya maka untuk menunjang keberhasilan
produksi:
1. Tempat Pakan dan Minum
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengawasan pekerjaan sehari-
hari adalah tata letak tempat pakan, keadaan tempat pakan dan isi pakan. Tempat
pakan ada yang diletakkan dalam satu baris atau diletakkan berselang seling
dengan tempat minum. Kebutuhan tempat pakan dan minum tergantung dari
jumlah ayam yang dipelihara dan umur ayam. Pemeliharaan awal dengan jumlah
ayam 5000 ekor, diperlukan tempat pakan sejumlah 74 buah dan tempat minum
sebanyak 72 buah, sedangkan pada pemeliharaan akhir dengan jumlah ayam 4500
ekor diperlukan tempat pakan 74 buah dan tempat minum 72 buah.
2. Alat Pemanas.
Alat pemanas (brooder) berfungsi sebagai induk buatan yang memberi
kehangatan anak ayam (DOC). Alat ini digunakan untuk pemeliharaan masa awal
(starter) yang berlangsung selama 12 sampai 15 hari dimana anak ayam masih
memerlukan pemanasan dalam hidupnya. Alat pemanas ini hendaknya diletakkan
ditengah dengan ketinggian 1,3 sampai1,5 meter dari permukaan litter bahwa jika
4

pemanas menggunakan semawar, maka sebaiknya diletakkan pada ketinggian 50


sampai 75 cm diatas sekam.
3. Tirai kandang
Tirai ini diatur sesuai kebutuhan yaitu umur anak ayam, dan bahan yang
digunakansecara umum plastik. Tirai ini berfungsi untuk menahan udara, atau
angin kencangmasuk kedalam kandang, disamping itu untuk insulator agar suhu
kandang dapatterjaga kestabilannya.
4. Litter/ alas
Bahan alas yang penting dapat menyerap air dan memberi panas dan
nyaman pada ayam pedaging seperti; sekam serbuk /gergajian kayu, dll.
5. Chick guard pagar pembatas
Chick guard digunakan untuk membatasi ruang gerak anak ayam, dan agar
lebih mudahdalam mengatur kondisi lingkungan kandang yang nyaman seperti
suhu dankelembaban kandang
6. Thermometer
Thermometer berfungsi untuk mengontrol temperatur agar selalu optimal
sehingga kehidupan anak ayam tetap stabil dan pertumbuhan anak ayam tidak
terganggu.
7. Pakan
Pakan atau ransum merupakan salah satu faktor utama dalam usaha ternak
ayam broiler, lebih-lebih terhadap laju pertumbuhan dan peningkatan bobot badan
yang sangat cepat. Ransum merupakan kumpulan bahan makanan yang layak
dimakan oleh ayam dan telah disusun mengikuti aturan tertentu. Aturan itu
meliputi nilai gizi bagi ayam dan nilai kandungan gizi dari bahan makanan yang
digunakan. ransum starter diberikan pada ayam berumur satu sampai tiga minggu.
Umumnya biaya untuk ransum menempati 60%-75% dari total biaya produksi.
8. Obat-obatan dan Vaksin
Obat-obatan dan vaksin yang dimaksud adalah obat-obatan yang
digunakan untuk pengobatan ternak yang terserang penyakit, vaksin digunakan
untuk pencegahan penyakit serta antibiotika dan vitamin dapat mendukung
pertumbuhan ayam sehingga dapat tumbuh secara optimal.
5

2.2 Starting Management


Lima fase starter tersebut yaitu persiapan mendatangkan doc, perawatan
saat doc datang, pemeliharaan doc seterusnya, pemisahan jantan dan betina,
penanganan di masa kritis.
1. Persiapan kandang dan perlengkapannya
Sebelum anak ayam tiba maka kandang harus sudah siap. Persiapan
kandang doc untuk ayam broiler tidak berbeda dengan doc utuk ayam petelur.
Begitu pula perlengkapan kandangnya, sampai mencapai pertumbuhan bulu yang
sempurna. Penempatan tempat makan atau minum juga sama.
2. Ransum starter (0-3 minggu)
Ransum yaitu campuran dari berbagai bahan pakanyang diberikan selama
24 jam. Bahan pakan yang biasa digunakan untuk ransum ayam broiler yaitu
jagung kuning, dedak halus, bungkil kedelai, bungkil kelapa, tepung ikan, minyak
kelapa, kulit kerang, dan tepung tulang.
3. Pencegahan penyakit
Untuk menghasilkan ayam broiler yang sehat, selain memperhatikan
kebersihan lingkungan juga perlu melakukan vaksinasi maupun pemberian obat-
obatan dan vitamin. Vaksinasi dilakukan untuk mencegah penyakit unggas
menular yang tidak bisa diobati misalnya ND/tetelo, dan gumboro.

2.3 Finishing Management


Anak ayam yang bulunya telah tumbuh sempurna (selesai fase starter)
biasanya dipindahkan ke kandang finisher. Dalam pemeliharaan broiler biasanya
kandang untuk pemeliharaan finisher juga digunakan untuk brooder.
2.3.1 Perkandangan dan Perlengkapannya
Bagunan kandang yang digunakan yaitu kandang yang kedua sisi
dindingnya terbuka sebagai ventilasi. Pemeliharaan ayam broiler biasanya
menggunakan sistem litter. Sistem litter yaitu kandang yang lantainya ditutup
dengan bahan organik yang partikelnya berukuran kecil.
Untuk menjaga agar ayam tetap sehat maka tempat makan/minum harus
mudah di bersihkan,tidak mudah tumpah, mudah di isi, dan ayam mudah
6

makan/minum dari tempat tersebut. Tempat makan/minum yang di gunakan


petani ternak, umumnya berbentuk bulat (hanging feeder/materrer) di gantung di
langit-langit kandang dengan kawat/tali.

2.3.2 Ransum
Pada periode finisher (umur 3-6 minggu), kondisi pertumbuhan ayam
broiler mulai menurun. Untuk itu, protein dalam ransum diturunkan menjadi 20%
(NRC, 1994), sedangkan energi ransum, yang digunakan 3000-3200 kkal/kg.
Bahan-bahan penyusun ransum untuk starter tidak berbeda dengan bahan
penyusun ransum untuk finisher. Bentuk fisik ransum yang biasa diberikan pada
ayam broiler bisa berbentuk pellet, mash, atau crumble. Ransum ayam broiler
banyak dijual dengan merk dagang yang berbeda-beda, tergantung pabrik yang
mengeluarkan.
Penggantian ransum starter dengan ransum finisher sebaiknya tidak
dilakukan sekaligus, tetapi secara bertahap. Pada hari pertama mula-mula deberi
ransum starter 75% di tambah ransum finisher 25%, pada hari berikutnya diberi
ransum finisher 75% dan pada hari berikutnya baru diberikan ransum finisher
seluruhnya.

2.4 Manajemen kandang (Ventilasi, litter, kecepatan angin, penerangan)


Satu hal yang sangat penting menjadi pertimbangan berhubungan dengan
desain kandang, adalah iklim setempat untuk kondisi sepanjang tahun. Kondisi
lingkungan membawa pengaruh terhadap kesehatan dan performance dari ayam
broiler.
Ada 2 (dua) tipe utama dari sistem perkandangan pada pemeliharaan ayam broiler:
1. Kandang sistem tertutup (close house)
Karakteristik dari bangunan kandang close house modern dengan sistem
control lingkungan, meliputi adanya konstruksi pengaturan sistem ventilasi,
control penuh untuk sistem penyinaran, baik lama maupun intensitasnya,
kelengkapan kandang untuk mengatur temperature dan ventilasi harus bisa
menghasilkan dan menjaga kondisi yang optimum dalam lingkungan kandang,
7

didukung dengan daya listrik yang memadai, didukung dengan adanya alarm yang
berfungsi baik monitoring sistem yang ada, terutama untuk monitoring adanya
kelainan dalam kinerja sistem ventilasi.
2. Kandang sistem terbuka (open house)
Karakteristik dari kandang sistem terbuka yang baik, yaitu dibangun diatas
permukaan tanah yang benar-benar kering dengan sirkulasi udara yang bebas
keluar masuk kandang tanpa adanya hanmabatan, orientasi kandang dengan
bagian panjang sisi kandang membujur dari timur ke barat untuk mencegah
masuknya sinar matahari langsung kedalam kandang saat pagi maupun sore hari,
2.4.1 Ventilasi
Ventilasi yang baik merupakan satu hal yang sangat krusial untuk
mendukung kesehatan, pertumbuhan dan kenyamanan ayam yang ada dalam
kandang.
Untuk kandang sistem tertutup (close house), didesain dan konstruksi dari
sistem ventilasinya harus disesuaikan dengan luar ruangan, kapasitas kandang dan
kapasitas kerja dari sistem ventilasi yang akan dipasang.

2.4.2 Litter
Jenis litter merupakan salah satu faktor yang memengaruhi kenyamanan
hidup broiler. Penggunaan jenis bahan litter dapat memengaruhi suhu dan
kelembapan di dalam kandang litter yang basah dan suasana lembap di dalam
kandang yang mengakibatkan tingginya kadar amonia udara dalam kandang, dan
juga merupakan media tumbuhnya bibit penyakit (Rasyaf, 2007).
Adanya kelembapan litter dan suhu yang relatif optimal akan membuat
urea terurai menjadi gas amonia (NH3) dan gas karbondioksida (CO2). Gas
amonia bersifat toksik (beracun), sehingga jika bau amonia sudah tercium dalam
suatu kandang broiler maka dapat menyebabkan terganggunya pernapasan broiler
dan bahkan terjadinya kematian. Bahan litter yang dapat digunakan antara lain
sekam padi, serutan kayu, dan jerami padi.
8

2.4.3 Kecepatan Angin


Angin akan mempengaruhi kecepatan penyebaran polutan dengan udara di
sekitarnya. Kecepatan angin yang semakin tinggi menyebabkan pencampuran dan
penyebaran polutan dari sumber emisi di atmosfer akan semakin besar sehingga
konsentrasi zat pencemar menjadi encer begitu juga sebaliknya. Hal ini akan
menurunkan konsentrasi zat polutan di udara (Hasnaeni, 2004).
Pengaturan angin bisa dilakukan dengan penggunaan kandang panggung
dengan ketinggian sekitar 1,25-2 m karena memiliki sirkulasi udara yang baik
atau juga menggunakan blower atau kipas dengan kecepatan angin < 2,5 m/s dan
arah aliran anginnya juga harus searah, biasanya dari depan ke belakang dengan
penggunaan exhaust fan di bagian belakang.

2.4.4 Penerangan atau penyinaran


Penyinaran yang diberikan pada ayam broiler ditujukan untuk membantu
pencapaian berat badan dan tingkat hidup yang optimal dari ayam.

2.5 Manajemen pemanenan


Sebelum ayam dipanen, dilakukan pengosongan/pengangkatan tempat
pakan, tetapi air minum tetap diberikan untuk mencegah hilangnya berat badan
akibat dehidrasi. Disarankan memberikan air gula 5% apabila jarak kandang dan
tujuan lebih dari 100 km atau perjalanan lebih dari 3 jam untuk mengurangi
penyusutan berat badan. Pasca Panen meliputi stoving, pemotongan, pengulitan
atau pencabutan bulu, pengeluaran Jeroan dan pemotongan Karkas

2.6 Prosesing Karkas


Prossesing adalah kegiatan dari ayam disembelih sampai menjadi
bentuk karkas. Pertama kita harus memilih ayam yang memiliki performans yang
bagus agar menghasilkan karkas yang maksimal. . Langkah-langkah kegiatan
prosesing adalah memilihayam, menimbang bobot hidup, menyembelih,
menyabut bulu, pengeluaran organ dalam, dan pembentukan karkas. Karkas
9

ayam merupakan bagian tubuh tanpa bulu, darah, kepala danorgan dalam kecuali
hati dan gizard.

2.7 Penanganan limbah


Opsi dari manajemen penanganan limbah yang dapat dilaksanakan di
industri pangan antara lain adalah :
1. Pencegahan terbentuknya limbah yang berlimpah dengan cara
mempraktekkan teknologi proses yang lebih efisien
2. Pelaksanaan proses daur ulang limbah yang dihasilkan atau memanfaatkan
limbah sebagai bahan baku industri lainnya, dan
3. Perbaikan kualitas limbah yang dihasilkan melalui proses pengolahan
limbah yang sistematis.

2.8 Biosekuriti operasional di Broiler


1. Kontrol Lalu Lintas
Biosekuriti ini secara umum memberlakukan kontrol tehadap lalu lintas
orang, seperti mengunci pintu dan melarang semua pengunjung, atau mengizinkan
masuk orang tertentu dan personil yang dibutuhkan (profesional) setelah mereka
didesinfeksi, mandi semprot, lalu memakai sepatu khusus, baju penutup, dan topi
khusus yang telah didesinfeksi.
2. Vaksinasi
Aspek lain dari biosekuriti adalah mencegah penyakit melalui vaksinasi.
Antibiotika digunakan untuk memberantas infeksi bakteri. Karena tidak ada obat
yang dapat melawan infeksi virus, maka vaksinasi sebelum infeksi terjadi di
dalam flok ayam menjadi pilihan utama untuk melindungi ayam .
3. Pencatatan Riwayat Flok
Mencatat riwayat flok adalah cara yang mudah untuk menjaga kesehatan
flok ayam.
4. Pencucian Kandang Ayam Broiler
Pencucian kandang ayam broiler bisa dilakukan secara total atau
menyeluruh.
10

5. Kontrol Terhadap Pakan


Biosekuritas terhadap pakan harus dilakukan terutama ditingkat pabrik
pengolahan. Hal ini harus secara ketat dilakukan mengingat banyaknya agen
penyakit dan toksin yang dapat mencemari makanan.
11

III
KESIMPULAN

Ayam broiler adalah galur ayam hasil rekayasa genetik yang memiliki
karakteristik ekomomis dengan ciri khas pertumbuhan cepat sebagai penghasil
daging dengan masa panen yang pendek. Beternak ayam broiler merupakan usaha
yang dapat mengahasilkan keuntungan yang besar, namun ada beberapa hal yang
harus di perhatikan yaitu Persiapan kandang dan peralatan, Starting Management,
Finishing Management pada ayam Broiler, Manajemen kandang (Ventilasi, litter,
kecepatan angin, penerangan) pada ayam serta mnajemen pemanenan, prosesing
karkas, penanganan limbah dan biosekuriti operasional pada ayam Broiler faktor
faktor tersebut sangat mendukung usaha peternakan ayam broiler
12

DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi, R. 1984. Ilmu Makanan Ternak Umum. Gramedia Pustaka Utama.


Jakarta.

Hasnaeni, B. 2004. Fungsi pengaman dan estetika jalur hijau jalan (studi kasus di
Jalan Pajajaran Bogor). Skripsi. Jurusan Geofisika dan Meteorologi
Fakultas Matematika dan IPA. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Murtidjo, B. A. 1987. Pedoman Meramu Pakan Unggas. Kanisius. Yogyakarta.

North dan Bell. 1990. Commercial Chicken Production Manual. New York.

Priyatno. 1997. Mendirikan Usaha Pemotongan Ayam. Penebar Swadaya: Jakarta

Rasyaf, M. 1995-2007. Pengelolaan Peternakan Usaha Ayam Pedaging.


Gramedia. Jakarta.

Sastrawijaya, T. 1991. Pencemaran Lingkungan. PT Rineka Cipta. Jakarta.

Siregar A.P. 1982. Tehnik Beternak Ayam Pedaging di Indonesia. Margie Group
:Jakarta.

Sukardi, S. 1986. Ilmu Produksi Unggas II. Universitas soedirman : Purwokerto

Winarno, F.G. 1993. Pangan Gizi, Teknologi dan Konsumen.Gramedia. Pustaka


Utama : Jakarta
13

LAMPIRAN

Syarif Hidayatullah : Pencari Materi Subab 2.1-2.2


Ika Kartika : Pencari Materi Subab 2.3-2.4
Raden Mega Indah O Z : Penyusun Makalah
Arif Budiman : Pencari Materi Subab 2.7
Rio Hardi : Pencari Materi Subab 2.5-2.6
Anindita Mahendra : Pembuat Power Point
Nadzira Qalbi : Pencari Materi Subab 2.8