Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pasien dengan kehilangan gigi memiliki tiga pilihan yang dapat dilakukan.
Pertama, tidak melakukan pergantian atas gigi yang hilang tadi. Kedua,
memberikan geligi tiruan tetap. Ketiga, membuatkan geligi tiruan sebagian
lepasan (Gunadi et al, 2012).
Tujuan utama perawatan dengan gigi tiruan sebagian lepasan adalah
mempertahankan gigi yang masih ada, bukan pergantian dari gigi-gigi yang
hilang. Setelah dirancang perawatan yang memenuhi tujuan utama ini baru
dilakukan perkembangan untuk tujuan tambahan antara lain mempertahankan atau
memperbaiki fonetik, meningkatkan efisiensi pengunyahan, menstabilkan relasi
dental, dan memberikan estetik yang diperlukan (Carl et al, 2011).
Selama ini dikenal dan telah digunakan beberapa metode klasifikasi untuk
rahang yang sebagian giginya sudah hilang. Maksud utama pembuatan klasifikasi
untuk rahang yang sebagian giginya sudah hilang adalah untuk memungkinkan
dokter gigi berkomunikasi sejelas mungkin tentang keadaan rongga mulut yang
akan dibuatkan geligi tiruan. Suatu klasifikasi hendaknya memenuhi beberapa
syarat yaitu, menunjukkan dengan jelas dan cepat jenis keadaan tidak bergigi.
Kedua, memungkinkan perbedaan antara geligi tiruan sebagian lepasan yang
didukung gigi atau yang didukung gigi dan jaringan bukan gigi (dukungan
kombinasi). Ketiga, dapat menjadi petunjuk desain geligi tiruan. Keempat,
klasifikasi ini dapat diterima secara luas (Gunadi et al, 2012).
Selanjutnya dalam proses pembuatan desain geligi tiruan sebagian lepasan
berlaku suatu prinsip umum dan penting. Pertama-tama, dokter gigi perlu
megetahui selengkap-selengkapnya tentang keadaan fisik pasien yang akan
menerima protesa. Selain itu, sebelumnya ia juga sudah memahami betul data-
data mengenai bentuk, indikasi, dan fungsi dari cengkeram, letak sandaran,
macam konektor, bentuk sadel dan jenis dukungan yang akan diterapkan untuk
sebuah geligi tiruan (Nallaswamy, 2003).

1
Pada kasus ini, pembahasan terbatas pada desain gigi tiruan sebagian
lepasan sesuai dengan kasus, yaitu Klas II Kennedy karena dijumpai pada kasus
daerah tak bergigi terletak di bagian posterior dari gigi yang masih ada, tetapi
berada hanya pada salah satu sisi rahang saja (unilateral). Bagian tak bergigi
posterior selalu menentukan klas utama dalam klasifikasi. Sedangkan daerah tak
bergigi lain daripada yang sudah ditetapkan dalam klasifikasi, masuk dalam
modifikasi dan disebut sesuai dengan jumlah daerah dan ruangannya. Luasnya
suatu modifikasi atau jumlah gigi yang hilang tidak dipersoalkan, yang
dipersoalkan adalah jumlah tambahan daerah (ruang tak bergigi) (Gunadi et al,
2012).

1.2 Rumusan Masalah


Apa rencana perawatan pendahuluan, perawatan utama, dan perawatan
alternatif bagi pasien pada kasus klasifikasi Kennedy Klas II Rahang Atas dan
Kennedy Klas I modifikasi I Rahang Bawah?

1.3 Tujuan
Mengetahui rencana perawatan pendahuluan, perawatan utama, dan
perawatan alternatif bagi pasien pada kasus klasifikasi Kennedy Klas II Rahang
Atas dan Kennedy Klas I modifikasi I Rahang Bawah.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gigi Tiruan Sebagian Lepasan (GTSL)


2.1.1 Gambaran Umum
Gigi tiruan sebagian lepasan (GTSL) pada umumnya mengacu pada
penggantian satu atau lebih gigi yang hilang pada kuadran spesifik di rahang
(Robison & Bird 2013, p. 366).GTSL dibuat untuk menggantikan gigi geligi yang
hilang dan untuk mempertahankan jaringan lunak dan keras yang tersisa pada
rahang.GTSL mendistribusikan tekanan mastikasi pada gigi penyangga dan
mukosa tulang alveolar. Gigi penyangga merupakan gigi asli yang menjadi bagian
dari support GTSL. Gigi penyangga harus dalam kondisi baik atau direstorasi
untuk menahan daya kunyah dari GTSL (Phinney & Halstead 2004, pp. 552-4).

Gambar 1. Gigi tiruan sebagian lepasan akrilik

Gambar 2.Gigi tiruan sebagian lepasan kerangka logam (Robison & Bird 2013, p.
366).

3
2.1.2 Indikasi
Indikasi penggunaan gigi tiruan sebagian lepasan (GTSL) adalah sebagai
berikut (Nallaswamy 2003, pp. 267-9; Robinson & Bird 2013, pp. 366-7) :
a. Panjang rentang daerah edentulous
GTSL lebih dipilih untuk rahang dengan daerah edentulous yang panjang.
Tidak seperti GTT, GTSL dapat mengambil support dari jaringan lunak sepanjang
ridge. Demikian pula GTSL juga dapat membantu mendistribusikan tekanan di
sekitar ridge secara merata (Gambar 3).

Gambar 3. GTSL lebih dipilih untuk daerah edentulous dengan rentang panjang
karena basis gigi tiruan menjadi sarana untuk mendistribusikan tekanan secara
merata pada sepanjang bagian edentulous ridge (Nallaswamy 2003, pp. 267-9)

Penggunaan GTT dihindari dalam kasus rahang dengan daerah edentulous


panjang karena GTT menghasilkan tekanan berlebihan pada gigi
penyangga.Hukum Ante menyebutkan kalau GTT bisa digunakan atau tidak.
Hukum Ante : Area permukaan pericemental gigi penyangga yang
digunakan untuk GTT harus sama atau melebihi area permukaan pericemental
gigi yang diganti.
b. Usia
Pada pasien dengan usia di bawah 17 tahun, GTT merupakan kontraindikasi
karena pulpa masih terbuka dan tinggi mahkota klinis belum mencukupi, sehingga
alternatifnya adalah dirawat menggunakan GTSL.
c. Membantu proses mastikasi
GTSL merupakan suatu indikasi bila tujuannya membantu proses mastikasi
dan digunakan untuk memperbaiki kondisi kesehatan agar menjadi lebih baik.

4
d. Memperbaiki penampilan
Meningkatkan percaya diri, memperbaiki penampilan dan senyum.Hal ini
didapatkan dengan memperbaiki kontur alami bibir, pipi dan wajah.
e. Mencegah penuaan pada wajah
Merupakan suatu indikasi jika GTSL digunakan untuk mencegah penuaan
pada wajah.GTSL mencegah pembentukan garis penuaan premature dan keriput
di sekitar mulut. Ketika kehilangan gigi telah mempengaruhi fungsi bicara, GTSL
dapat memperbaiki hal ini dengan menutup space yang ditinggalkan oleh gigi
yang hilang
f. Mencegah masalah sendi rahang
Merupakan suatu indikasi jika GTSL digunakan untuk membantu menjaga
relasi yang sehat antara rahang atas dan rahang bawah.Mengoreksi posisi rahang
dibutuhkan untuk mencegah masalah sendi rahang atau TMJD.
g. Menjaga kesehatan jaringan rongga mulut yang tersisa
Merupakan suatu indikasi jika GTSL digunakan untuk menjaga kesehatan
jaringan rongga mulut yang tersisa baik itu jaringan keras maupun lunak
h. Mencegah drifting
Merupakan suatu indikasi jika GTSL digunakan untuk mencegah drifting gigi
lain menuju daerah sela yang ditinggalkan oleh gigi yang dicabut.
2.1.3 Kontraindikasi
Kontraindikasi penggunaan GTSL adalah sebagai berikut (Robinson &
Bird 2013, p. 366) :
a. Kekurangan gigi pada rahang untuk mensuport, menstabilisasi, dan
mempertahankan GTSL
b. Karies rampan dan/ atau kondisi jaringan periodontal yang parah yang
mengancam gigi geligi yang tersisa di rahang
c. Kondisi pasien yang kurang bisa menerima perawatan GTSL dan/ atau
kebersihan rongga mulut pasien yang jelek.
2.1.4 Keuntungan
Keuntungan penggunaan GTSL adalah sebagai berikut (Phinney &
Halstead 2004, pp. 552-4) :

5
a. GTSL dapat didesain untuk mensuport jaringan periodontal gigi yang
terlibat.
b. Jika dibandingkan dengan gigi tiruan tetap (GTT), perawatan
menggunakan GTSL membutuhkan biaya yang lebih murah
c. Ketika beberapa gigi hilang pada kedua sisi rahang, GTSL dapat didesain
untuk mengganti kehilangan gigi geligi dalam bentangan yang panjang.
d. GTSL tidak memerlukan tindakan pengurangan struktur gigi. GTSL dapat
disesuaikan untuk anak-anak dan dewasa dan dapat diganti dengan mudah.
e. GTSL memperbaiki bidang oklusi yang ideal dengan mencegah
supraerupsi gigi geligi pada rahang antagonis.
f. Pemeliharaan kebersihan rongga mulut yang baik pada gigi geligi
penyangga dan GTSL lebih mudah untuk pasien karena GTSL bersifat
dapat dilepas (removable).
g. GTSL mengembalikan kontak mesial distal antara gigi geligi dengan
kontinuitas antero-posterior rahang. Dalam hal ini menyediakan support
yang tidak dimiliki oleh gigi yang berdiri sendiri; oleh karena itu rahang
menjadi stabil.
h. GTSL dapat diperbaiki dan disesuaikan dengan mudah. Jika terdapat gigi-
gigi yang hilang pada rahang, cukup mendesain kembali GTSL baru.
i. Ketika tidak ada gigi sebagai distal attachment, GTSL merupakan
perawatan pilihan untuk mengganti fungsi dari kuadran gigi pada rahang.
j. GTSL membutuhkan prosedur intraoral yang lebih sediit daripada gigi
tiruan tetap (GTT). Hal ini berarti bahwa jumlah kunjungan dan waktu
kontrol pasien menjadi lebih sedikit.
2.2 Klasifikasi Kennedy
Klasifikasi Kennedy bertujuan untuk mengklasifikasikan lengkung gigi
yang tak bergigi dengan beberapa prinsip desain untuk situasi tertentu. Kennedy
membagi hilangnya gigi menjadi empat kelas. Area tak bergigi inilah yang
dijadikan dasar untuk menentukan masuk ke kelas mana (Carr & Brown 2011, pp.
17-9).
Berikut ini adalah klasifikasi Kennedy (Carr & Brown 2011, pp. 17-9) :

6
Kelas I : daerah tak bergigi terletak di posterior dari gigi yang masih ada dan
berada pada kedua sisi rahang (bilateral)
Kelas II : daerah tak bergigi terletak di posterior terhadap gigi yang masih ada dan
berada pada salah satu sisi rahang (unilateral)
Kelas III : daerah tak bergigi terletak di antara gigi-gigi yang masih ada di bagian
posterior maupun anterior dan unilateral.
Kelas IV : daerah tak bergigi terletak pada bagian anterior dari gigi-gigi yang
masih ada dan melewati garis tengah rahang.

Gambar 4. Klasifikasi Kennedy. A, kelas I rahang atas. B, Kelas II rahang bawah.


C, Kelas III rahang bawah. D, Kelas IV rahang atas (Carr & Brown 2011, pp. 17-
9).
Berikut ini beberapa peraturan dalam aplikasi metode Kennedy (Carr &
Brown 2011, pp. 17-9) :
1. Klasifikasi harus mengikuti adanya ekstraksi gigi yang dapat mengubah
klasifikasi awal.
2. Apabila molar ketiga hilang dan tidak digantikan maka tidak menjadi
pertimbangan dalam klasifikasi.

7
3. Apabila ada molar ketiga dan digunakan sebagai abutment, dilibatkan
dalam pertimbangan klasifikasi.
4. Apabila molar kedua hilang dan tidak digantikan, tidak dilibatkan dalam
pertimbangan klasifikasi (apabila molar kedua sisi lain juga hilang dan
tidak digantikan)
5. Gigi paling posterior dari area tak bergigi selalu menentukan
klasifikasinya.
6. Area tak bergigi selain menentukan klasifikasi juga untuk menentukan
modifikasi dan disebutkan sesuai dengan jumlah.
7. Luas modifikasi tidak dipertimbangkan, hanya jumlah daerah tak bergigi
tambahan.
8. Tidak ada daerah modifikasi yang dapat dilibatkan dalam kelas IV (daerah
tak bergigi lainnya yang terletak di posterior terhadap area bilateral
melewati garis tengah menentukan klasifikasi)
2.3 Implan Gigi
2.3.1 Definisi Implan Gigi
Implan gigi merupakan salah satu cara untuk mengganti gigi yang
hilangsehingga diperoleh fungsi pengunyahan, estetik dan kenyamanan yang
ideal. Implan gigi adalah suatu alat yang ditanam secara bedah ke dalam jaringan
lunak atau tulang rahang sehingga dapat berfungsi sebagai akar pengganti untuk
menahan gigi tiruan maupun jembatan. Keuntungan implan gigi adalah restorasi
tersebut sangat menyerupai gigi asli karena tertanam di dalam jaringan sehingga
dapat mendukung dalam hal estetik, perlindungan gigi tetangga serta
pengembangan rasa percaya diri (Srinivasan, 2005)
Pada prinsipnya implan gigi memerlukan bahan yang dapat diterima
jaringan tubuh, cukup kuat dan dapat berfungsi bersama-sama dengan restorasi
protesa di atasnya. Syarat implan gigi adalah sebagai berikut :
1.Biokompatibel
Yang dimaksud dengan biokompatibel adalah non toksik, non alergik, non
karsinogenik, tidak merusak dan mengganggu penyembuhanjaringan sekitar serta
tidak korosif.
2.Cukup kuat untuk menahan beban pengunyahan

8
3.Resistensi tinggi terhadap termal dan korosi
4.Elastisitasnya sama atau hampir sama dengan jaringan sekitar
5.Dapat dibuat dalam berbagai bentuk
2.3.2 Indikasi Dan Kontra indikasi Pemasangan Implan
Indikasi pemasangan implan gigi adalah :
1.Pada pasien dengan ketebalan tulang rahang yang cukup.
2.Pasien dengan kebersihan rongga mulut yang baik.
3.Pasien yang kehilangan semua atau sebagian gigi geliginya, akan tetapi sulit
memakai gigi tiruan konvensional akibat adanya koordinasi otot mulut yang
kurang sehingga stabilitas gigi tiruan sulit tercapai atau adanya refleks muntah
sehingga sulit memakai gigi tiruan.
4.Pasien yang menolak gigi aslinya diasah untuk pembuatan gigi tiruan.

Kontra indikasi pemasangan implan gigi :


1.Pada pasien dengan keadaan patologi pada jaringan lunak dan keras.
2.Luka ekstraksi yang baru.
3.Pasien dengan penyakit sistemik.
4.Pasien yang hipersensitif terhadap salah satu komponen implan.
5.Pasien dengan kebiasaan buruk seperti bruksism, merokok danalkohol.
6.Pasien dengan kebersihan mulut yang jelek.
2.3.3 Penatalaksanaan Faktor Resiko Dalam Pemasangan Implan
Penatalaksanaan faktor resiko dalam pemasangan implan adalah sebagai
berikut (Beikler 2003, pp. 305-16) :
a. Rencana perawatan
Dokter gigi harus memahami dan berkomunikasi dengan pasienbahwa
pemasangan implan tidak selamanya sukses. Faktor yang bisa mempengaruhi
keberhasilan perawatan implan ini harusdipertimbangkan sejak tahap rencana
perawatan, termasuk resiko operasi, potensi kegagalan dan desain protesa pada
restorasi akhir.
b. Kondisi sistemik pasien
Kondisi medis dan terapi dapat mempengaruhi keberhasilanperawatan

9
implan gigi, dan melalui pemeriksaan secara menyeluruh kondisi medis pasien
sebelum pemasangan implan sangat penting untuk dipertimbangkan.Misalnya,
diabetes melitus bukan merupakan kontra indikasi pemasanganimplan, tetapi
diabetes melitus harus berada dalam keadaan terkawal dan pasien harus
memahami bahwa tahap keberhasilan pada pasien diabetes melitus mempunyai
persentase sedikit lebih rendah jika dibandingkan pada pasien non diabetes.
Osteoporosis merupakan satu lagi kondisi yang bisa mempengaruhi pada
pemasangan implan. Kualitas tulang pada daerah implan harus dievaluasi secara
teliti pada pasien ini. Kondisi kardiovaskular, kelainan pendarahan, dan kondisi
sistemik lain yang bisa mempengaruhi mekanisme penyembuhan tubuh juga harus
diteliti terlebih dahulu. Infeksi HIV, leukemia, sindroma Sjogrens dan penyakit
autoimun lain yang memerlukan penggunaan kortikosteroid menghambat proses
penyembuhan dan mempengaruhi infeksi bakteri.
Pasien yang mempunyai dua atau lebih kondisi sistemik ini memiliki
resiko kegagalan yang lebih tinggi. Adalah sangat penting untuk meninjau kondisi
medis pasien secara hati-hati sebelum mempertimbangkan perawatan implan dan
menjelaskan kepada pasien bagaimana kondisi sistemik dapat mempengaruhi
keberhasilan perawatan.
c. Kondisi daerah implan
Pertimbangan yang paling penting dalam pemasangan implan ini adalah
kualitas dan kuantitas tulang serta bentuk alveolar ridge pada Pemeriksaan
radiografi dan klinis juga merupakan sesuatu yang penting dalam melakukan
penilaian dan untuk menemukan daerah implan dengan dukungan tulang yang
optimal.Dokter gigi juga harus hati-hati dalam mempertimbangkanpengambilan
keputusan apakah pemasangan implan dapat dilakukan segera setelah ekstraksi.
d. Persetujuan tindakan medis
Setelah melakukan penilaian apakah pasien tersebut sudah memenuhi
kriteria untuk dapat dilakukan perawatan implan, persetujuan tindakan medis
harus diperoleh dari pasien sebelum perawatan dimulai. Suatu persetujuan
tindakan medis harus mencakup:
1.Jumlah dan lokasi implan yang telah direncanakan
2.Operasi tambahan jika perlu

10
3.Prosedur anastesi
4.Potensi resiko dari operasi dan anastesi
5.Desain protesa dan restorasi akhir.
e. Pembuatan protesa
Pembuatan implan protesa memerlukan teknik keahlian yang khusus yang
berbeda dengan pembuatan protesa konvensional. Tujuan utama adalah untuk
mencapai fungsi dan estetik wajah dan gigi, maka perhatian yang khusus harus
diberikan dalam pemeliharaan implan dan restorasi akhir dalam mencapai
keberhasilan jangka panjang.
2.3.4 Pemeriksaan Sebelum Implan Gigi
a. Keluhan Utama
Yang perlu ditanyakan adalah apa masalah atau kekhawatiran pasien,
apa tujuan perawatan pasien, dan bagaimana harapan pasien. Perhatian utama
pasien, keinginan untuk perawatan, dan hasil yang sukses harus
dipertimbangkan. Pasien akan mengukur keberhasilan implan menurut kriteria
pribadi. Keseluruhan kenyamanan dan fungsi restorasi implan jadi faktor yang
paling penting, tetapi kepuasan dengan penampilan restorasi akhir juga akan
mempengaruhi persepsi keberhasilan oleh pasien. Selain itu, kepuasan pasien
dipengaruhi oleh persepsi dampak perawatan yang meningkatkan kualitas
hidup pasien. Apakah pertanyaan dokter tentang kualitas hidup berubah atau
tidak, pasien kemungkinan besar akan mengukur keberhasilan perawatan
dengan perbandingan kondisi pretreatment. Pasien akan mengevaluasi untuk
diri mereka sendiri apakah perawatan implam membantu mereka untuk makan
lebih baik, terlihat lebih baik, atau merasa lebih baik pada dirinya sendiri
(Newman, Takei & Klokkevold 2012, pp. 639-41).

b. Riwayat Kesehatan
Riwayat kesehatan menyeluruh diperlukan untuk setiap pasien yang
membutuhkan perawatan gigi, terlepas dari apakah implan adalah bagian dari
rencana.Riwayat kesehatan harus didokumentasikan secara tertulis dalam
bentuk formulir riwayat kesehatan standar dan secara lisan melalui wawancara
dengan dokter yang merawat.Riwayat kesehatan pasien harus ditinjau untuk

11
kondisi apapun yang mungkin menempatkan pasien pada risiko efek samping
atau komplikasi.Pasien harus dalam kondisi cukup sehat untuk menjalani
perawatan bedah untuk penempatan implan gigi. Setiap gangguan yang dapat
mengganggu proses penyembuhan luka normal, terutama yang berkaitan
dengan metabolisme tulang, harus dipertimbangkan untuk dianggap sebagai
faktor risiko atau kontraindikasi terapi implant (Newman, Takei &
Klokkevold 2012, pp. 639-41).
Pemeriksaan fisik secara menyeluruh dibenarkan jika ada pertanyaan
muncul tentang status kesehatan patient.Tes laboratorium yang tepat
(misalnya, tes koagulasi untuk pasien dengan terapi obat antikoagulan) harus
diminta untuk mengevaluasi lebih lanjut kondisi apapun yang dapat
mempengaruhi kemampuan pasien untuk menjalani rencana tindakan bedah
dan prosedur restoratif yang aman dan efektif.Jika ada pertanyaan tentang
status kesehatan pasien, perizinan untuk melakukan tindakan bedah harus
diperoleh dari dokter yang merawat pasien (Newman, Takei & Klokkevold
2012, pp. 639-41).

c. Riwayat Perawatan Dokter Gigi


Sebuah tinjauan riwayat perawatan gigi pasien bisa menjadi bagian
dari evaluasi secara keseluruhan.Apakah pasien melaporkan riwayat abses
rekuren atau sering, yang mungkin menunjukkan kerentanan infeksi atau
diabetes.Apakah pasien memiliki banyak restorasi.Bagaimana kondisi
kebersihan mulut pasien.
Riwayat individu sebelumnya dengan operasi dan prosthetics harus
didiskusikan.Jika laporan pasien banyak masalah dan kesulitan dengan
perawatan gigi di masa lalu, termasuk riwayat ketidakpuasan dengan
perawatan di masa lalu, pasien mungkin mengalami kesulitan serupa dengan
terapi implan.Hal ini penting untuk mengidentifikasi masalah di masa lalu dan
untuk menjelaskan faktor-faktor yang berkontribusi.Dokter gigi juga harus
menilai pengetahuan gigi pasien dan pemahaman yang tentang perawatan
yang diinginkan pasien, serta sikap pasien dan motivasi terhadap implant
(Newman, Takei & Klokkevold 2012, pp. 639-41).

12
d. Pemeriksaan Intraoral
Pemeriksaan intraoral dilakukan sebelum pemasangan implant untuk
mengevaluasi kondisi jaringan keras dan lunak rongga mulut. Selain itu,
penting dipastikan tidak adanya kondisi patologis pada jaringan rongga
mulut. Jika terdapat lesi pada rongga mulut harus diobati terlebih dahulu
sebelum pemasangan implant. Kriteria tambahan yang perlu
dipertimbangkan termasuk kebersihan rongga mulut pasien, kesehatan gigi
dan jaringan periodontal, keadaan oklusi, jaw relationship, kondisi sendi
temporomandibular, dan kemampuan untuk terbuka lebar. Setelah
pemeriksaan intraoral, dokter dapat mengevaluasi lokasi untuk implan
dalam rahang, seperti mengukur ruang yang tersedia untuk penempatan
implan (Newman, Takei & Klokkevold 2012, pp. 639-41).

e. Pemeriksaan Radiografi
Pemeriksaan radiografi digunakan untuk mendapatkan informasi
terkait kuantitas, kualitas, dan lokasi tulang alveolar yang tersedia untuk
tempat pemasangan implan. Prosedur radiografi yangbisa digunakan,
termasuk radiografi periapikal, proyeksi panoramik, dan cross-sectional
imaging (Newman, Takei & Klokkevold 2012, pp. 639-41).

f. Pemeriksaan Jaringan Keras


Model studi digunakan untuk menentukan lokasi potensial untuk
implan gigi. Model diartikulasikan dengan tepat diagnostic wax untuk
mengevaluasi ruang yang tersedia dan untuk menentukan rencana
perawatan.Evaluasi Jaringan keras rongga mulut. Selanjutnya dilakukan
evaluasi kepadatan tulang. Secara klinis pemeriksaan tulang rahang terdiri
dari palpasi untuk merasakan kerusakan pada anatomi tulang rahang dan
variasi anatomi rahang. Hubungan spasial tulang harus dievaluasi dalam
tampilan tiga dimensi karena implan harus ditempatkan di posisi yang
sesuai dengan prostesis (Newman, Takei & Klokkevold 2012, pp. 639-41).

g. Pemeriksaan Jaringan Lunak

13
Evaluasi kualitas, kuantitas, dan lokasi jaringan lunak yang ada di
lokasi implan memungkinkan untuk mengantisipasi jenis jaringan yang akan
mengelilingi implan setelah pengobatan selesai (keratinisasi). Untuk daerah
dengan minimal mukosa berkeratin dapat ditambah dengan gingival graft
atau connective tissue grafts (Newman, Takei & Klokkevold 2012, pp. 639-
41).

g. PemeriksaanCBCT
Cone Beam Computed Tomography (CBCT) merupakan
pemeriksaan densitas tulang yang dilakukan sebelum melakukan tindakan
implant gigi.Nilai densitas tulang sangat berhubungan dengan kualitas
tulang.Jadi kebutuhan untuk menyediakan metode yang akurat dan objektif
untuk mengevaluasi densitas tulang merupakan hal yang aling penting
(Jorge et. al. 2014, pp. 125).
CBCT memberikan gambaran kepala dan leher dengan keuntungan
gambar beresolusi lebih tinggi, dosis radiasi yang lebih kecil, dan biaya
yang lebih murah daripada tomografi konvensional.Namun CBCT juga
memiliki kekurangan yaitu mengeluarkan sebaran radiasi, detector memiliki
area x-ray dengan dynamic range yang terbatas (Jorge et. al. 2014, pp. 125).

Gambar 5. CBCT

14
BAB III

LAPORAN KASUS

3.1 Data Kasus

Penderita wanita usia 51 tahun dating ke klinik RSGMP ingin dibuatkan


gigi tiruan lepasan, supaya makan menjadi enak. Dia bekerja sebagai pegawai
kasir supermarket, gigi hilang karena dicabut. Pencabutan terakhir 3 bulan yang
lalu, bawah kiri, biaya ditanggung sendiri.

3.2 Anamnesis

1. Keluhan utama
Pasien ingin dibuatkan gigi tiruan lepasan supaya makan menjadi enak
2. Riwayat Geligi
Pasien kehilangan gigi oleh karena pencabutan gigi region bawah kiri 3
bulan yang lalu
3. Pengalaman dengan gigi tiruan
Pasien belum pernah memakai Gigi Tiruan Lepasan sebelumnya
3.3 Gambar Model

Gambar 6.Model tampak atas

15
Gambar 7.Model tampak depan

Gambar 8.Model tampak samping

3.4 Pemeriksaan Klinis

Intra Oral

a. Status Umum :
Gigi hilang : 27, 36, 37, 44, 46, 47
Gigi anterior rahang bawah berdesakan

16
Gigi 11 dan 21 mesioversi
Gigi 22 distoversi
Gigi 31 linguoversi
Gigi 41 labioversi
Gigi 45 distobersi
Gigi 46 tipping
b. Jaringan Lunak:
Defek pada bukal gigi 45
c. Vestibulum :
Rahang atas anterior: dangkal
posterior: dangkal
Rahang atas anterior: dangkal
Posterior: dangkal
d. Bentuk Insisif Pertama Atas: tapering
e. Frenulum: rendah
f. Bentuk ridge :
Rahang Atas kiri: flat
Rahang Bawah kanan: tapering
kiri: tapering
g. Relasi Ridge/Gigi:
Anterior : Normal
Posterior : Normal
h. Bentuk palatum : ovoid
i. Retromylohyoid
kanan : dangkal
kiri : dangkal

3.5 Diagnosis

Gigi hilang : 27, 36, 37, 44, 46, 47,


Gigi anterior rahang bawah berdesakan
Gigi 11 dan 21 mesioversi.
Gigi 22 distoversi

17
Gigi 41 labioversi
Gigi 45 distobersi
Gigi 46 tipping
3.6 Rencana Perawatan
1. Perawatan Pendahuluan
a. Dilakukan DHE pada pasien
b. Perawatan periodonsia
Dilakukan scalling
c. Pada rencana perawatan utama dilakukan preparasi rest oklusal gigi
13, 26, 35, 43, dan 45
d. Pada rencana perawatan alternatif (pemasangan implant) sebelumnya
dilakukan pemeriksaan:
Pemeriksaan kondisi sistemik
CBCT
Radiografi Panoramik
2. Perawatan Utama
a. Rahang Atas
Klasifikasi Klas II Kennedy tanpa modifikasi
1. GTSL Akrilik
a. Basis : plat akrilik
b. Anasir gigi : akrilik pada gigi 27
c. Klamer 3 jari pada gigi 26
d. Klamer half Jackson pada gigi 16
e. Indirect retainer berupa rest cingulum pada gigi 13
f. Sayap bukal pada region gigi yang hilang

18
Gambar 9. Desain utama RA

b. Rahang Bawah
Klasifikasi Klas I Kennedy modifikasi 1
1. GTSL Akrilik
a. Basis : plat akrilik
b. Anasir gigi : akrilik pada gigi 36, 37, 44, 46, dan 47
c. Klamer gillete pada gigi 43
d. Rest mesial pada gigi 43
e. Klamer 2 jari rest mesial pada gigi 35 dan 45
f. Perluasan plat di atas cingulum pada gigi anterior
g. Sayap bukal pada region gigi yang hilang

Gambar 10. Desain utama RB

3. Perawatan Alternatif
a. Rahang Atas
Klasifikasi Klas II Kennedy tanpa modifikasi

19
1. Implan pada gigi 27

Gambar 11.Desain alternatif RA


b. Rahang Bawah
Klasifikasi Klas I Kennedy modifikasi 1
1. GTSL Akrilik
a. Basis : plat akrilik
b. Anasir gigi : akrilik pada gigi 36, 37, 44, 46, dan 47
c. Klamer half jackson pada gigi 43
d. Klamer 2 jari rest mesial pada gigi 35 dan 45
e. Perluasan plat di atas cingulum pada gigi anterior
f. Sayap bukal pada region gigi yang hilang

Gambar 12. Desain alternatif RB

20
BAB IV
PEMBAHASAN

Pada kasus ini, seorang penderita wanita usia 51 tahun, datang keklinik
RSGMP ingin dibuatkan gigi tiruan sebagian lepasan. Berdasarkan anamnesa
yang telah dilakukan, penderita adalah seorang kasir sebuah
supermarket.Penderita ingin membuat gigi tiruan sebagian lepasan supaya dapat
makan dengan enak.Gigi lubang karena dicabut.Pencabutan terakhir 3 bulan yang
lalu, pada gigi bawah kiri.Biaya perawatan ditanggung oleh penderita.
Perawatan pendahuluan pertama yang dilakukan adalah Dental Health
Education (DHE). DHE bertujuan agar pasien memiliki kesadaran untuk berupaya
meningkatkan kesehatan rongga mulutnya. DHE juga bertujuan untuk
mengkondisikan ronga mulut agar lebih baik sebagai tempat gigi tiruan sebagian
lepasan (GTSL) yang akan dibuat. Perawatan pendahuluan kedua yang akan
dilakukan adalah scalling untuk membersihkan kalkulus yang mengganggu
kesehatan jaringan periodonsium terutama pada gigi yang akan digunakan sebagai
penyangga.

Tahap awal pembuatan GTSL adalah melakukan pencetakan rahang atas


dan rahang bawah pasien dengan bahan cetak alginat. Hasil cetakan kemudian
dicor menggunakan gipsum tipe 3 untuk mendapatkan sebuah model studi dan
model kerja. Model studi digunakan untuk membantu menentukan rencana
perawatan sedangkan model kerja digunakan untuk membantu pembuatan GTSL
dari mulai surveying, pembuatan galengan gigit, penanaman model kerja dalam
artikulator, sampai GTSL selesai diprosessing sekaligus dipoles (sudah jadi) dan
siap diinsersikan ke rongga mulut pasien. Surveying dan block out merupakan
tahapan penting yang harus dilakukan pada model kerja untuk menentukan arah
pasang dari GTSL yang akan dibuat.

Perawatan Utama
Rahang Atas
Desain GTSL yang digunakan adalah mucosal borne dan berdasarkan
Klasifikasi Kennedy, kasus ini merupakan Klasifikasi Kennedy Klas II karena

21
terdapat gigi yang hilang pada bagian posterior satu sisi.Pada kasus ini, pasien
dibuatkan gigi tiruan sebagian lepasan (GTSL) akrilik yaitu mengganti gigi yang
hilang dengan anasir gigi tiruan berbahan dasar akrilik serta basis gigi tiruan
sebagian lepasan yang juga dibuat menggunakan bahan dasar akrilik. Basis akrilik
bertujuan sebagai support gigi tiruan sebagian lepasan dan memindahkan tekanan
oklusal ke jaringan di bawahnya. Selain itu, anasir gigi yang dipilih berbahan
akrilik agar dapat menyatu dengan baik dengan saddle gigi tiruan, karena dengan
bahan yang sama anasir gigi akan melekat secara kimiawi pada basis gigi
tiruan.GTSL akrilik dipilih sebagai pilihan perawatan utama karena
pembuatannya menggunakan biaya yang cukup murah sehingga sesuai dengan
kemampuan ekonomi pasien sebagai kasir di sebuah supermarket.

Pada bagian bukal dari daerah edentulous posterior diberikan sayap untuk
memberikan support. Digunakan klamer pada gigi 26 dengan macam klamer 3
jari. Dengan menggunakan klamer 3 jari maka tekanan dari GTSL akan diberikan
kepada gigi sehingga tidak membebani mukosa yang akan menyebabkan resorbsi
yang berlebih pada tulang alveolar. Selain itu digunakan klamer half Jackson pada
gigi 16. Penggunaan klamer Half Jackson bertujuan mengurangi terjadinya
pengungkitan sehingga gigi tiruan dapat terletak stabil dalam rongga mulut. Pada
sisi lingual gigi anterior rahang atas tidak dilakukan peninggian plat akrilik karena
penggunaan klamer Half Jackson sudah cukup kuat mencegah ungkitan pada
GTSL. Pada gigi 13, digunakan rest cingulum yang berfungsi sebagai indirect
retainer. Rest cingulum tersebut diletakkan pada gigi 13 karena cingulum dari gigi
13 baik dan tidak mengalami kelainan.

Sadel di RA dilakukan perluasan outline sadel sampai ke


hamular notch, hal ini akan menghasilkan distribusi tekanan pada area yang luas
dan meminimalisasi kemungkinan banyaknya tekanan yang diterima. Selain itu,
perluasaan tersebut juga dapat menambah retensi gigi tiruan. Perluasan plat
akrilik pada daerah palatum diperluas sampai daerah di depan batas palatum
durum dan palatum molle, hal ini mencegah terjadinya tekanan yang dapat
merangsang pasien muntah.

22
Rahang Bawah

Desain GTSL yang digunakan adalah tooth and mucosal borne mengingat
terdapat free end pada kedua sisi rahang serta kehilangan gigi 44 yang masih
diapit oleh gigi 43 dan gigi 45. Dengan desain tooth and mucosal borne
pembagian beban kunyah tidak hanya disangga oleh gigi saja, tetapi juga pada
mukosa.
Prinsip dari GTSL Kennedy klas I adalah mengurangi beban dan membagi
beban seluas-luasnya sehingga pada desain ini dilakukan perluasan sadel ke
retromolar pad. Selain itu, pada desain ini jumlah anasir gigi dikurangi yaitu tidak
mengikutkan gigi M3 bertujuan untuk mengurangi beban yang diterima oleh gigi
penyangga.
GTSL terbuat dari akrilik, pemilihan bahan akrilik dikarenakan teknik
pembuatannya yang lebih sederhana dibanding dengan GTSL kerangka logam.
Selain itu, pembuatannya juga relatif menghemat waktu dan biaya serta cukup
baik dalam segi estetik.
Pada disain dibuat sayap pada bagian yang terdapat anasir gigi, panjang
sayap disesuaikan dengan kedalaman mucobucal fold pada penderita, sehingga
pasien akan merasa nyaman saat pemakaian, tidak menyebabkan pasien muntah
dan lebih retentif.
Retensi pada GTSL ini yaitu dengan memasang klamer 2 jari dengan rest
mesial pada gigi 35 dan 45 serta klamer gillet dengan rest mesial pada gigi 43.
Klamer 2 jari dengan rest mesial pada gigi 35 dan 45 berfungsi sebagai direct
retainer. Klamer ini dipilih karena dapat menerima dan mendistribusikan beban
serta mencegah terlepasnya GTSL ke arah vertikal, sedangkan rest mesial
berfungsi sebagai pembagi beban. Selain itu, dilakukan pemasangan klamer gillet
dengan rest mesial pada gigi 43. Penggunaan klamer gillet dan pemberian rest
mesial sebagai direct retainer.
Selain itu dilakukan peninggian plat anterior hingga daerah cingulum yang
nantinya berfungsi sebagai indirect retainer untuk mencegah gaya ungkit pada
GTSL saat digunakan untuk mengunyah, sehingga GTSL menjadi lebih stabil saat
digunakan di rongga mulut penderita. Selain itu, peninggian plat anterior juga

23
bertujuan memperluas permukaan akrilik di daerah anterior agar plat akrilik tidak
mudah patah.
Namun, GTSL akrilik juga memiliki beberapa kekurangan, antara lain
mudah patah dan mudah berubah bentuk sehingga apabila penderita tidak
kooperatif atau tidak merawat GTSL dengan baik maka GTSL tidak bertahan
lama. Selain itu ada beberapa pasien yang alergi terhadap sisa monomer dari
akrilik yang dapat menimbulkan alergi pada mukosa mulutnya.
Perawatan Alternatif
Rahang Atas
Perawatan alternative untuk Rahang Atas yaitu implant. Penderita dapat
melakukan perawatan implant pada gigi 27. Implant gigi memiliki keunggulan
yaitu sangat menyerupai gigi asli karena tertanam di dalam jaringan sehingga
dapat mendukung estetik, perlindungan gigi tetangga, serta meningkatkan rasa
percaya diri pasien. Implant gigi dapat dilakukan pada pasien dengan syarat
ketebalan tulang rahang cukup dan kebersihan rongga mulut baik. Implan gigi
tidak boleh dipasang jika pada jaringan lunak dan keras rongga mulut pasien
terdapat kondisi patologis, luka ekstraksi masih baru di daerah edentulous yang
akan dipasang implan, pasien mengidap penyakit sistemik pasien hipersensitif
terhadap salah satu komponen implan, pasien memiliki kebiasaan buruk seperti
bruxism, merokok dan alkohol, dan jika kebersihan rongga mulut pasien jelek.
Selain hal-hal tersebut, dokter gigi juga harus mempertimbangkan faktor penting
lainnya sebelum memasang implan gigi yaitu keinginan dan keadaan ekonomi
pasien.

Pembuatan implan gigi membutuhkan biaya yang cukup mahal. Selain itu,
sebelum implant, harus dilakukan pemeriksaan tambahan seperti pemeriksaan
kondisi sistemik, CBCT, dan pemeriksaan radiografi panoramik.Pada pasien
dengan usia lanjut sebaiknya diperiksa terlebih dahulu OH dari pasien dan perlu
dilakukan pemeriksaan pendahuluan. Karena pekerjaan dari pasien merupakan
kasir supermarket, maka pilihan perawatan tersebut dapat dipertimbangkan
kembali.

24
Rahang Bawah
Sedangkan desain perawatan alternatif untuk RB, tidak jauh berbeda
dengan Rahang atas. Pada desain ini dilakukan perluasan sadel ke retromolar pad
yang berfungsi sebagai penambah retensi. Selain itu, pada desain ini jumlah anasir
gigi dikurangi yaitu tidak mengikutkan gigi M3 bertujuan untuk mengurangi
beban yang diterima oleh gigi penyangga.
Pada disain dibuat sayap pada bagian yang terdapat anasir gigi, panjang
sayap disesuaikan dengan kedalaman mucobucal fold pada penderita sehingga
akan lebih retentif.
Retensi pada GTSL ini yaitu dengan memasang klamer 2 jari dengan rest
mesial pada gigi 35 dan 45 sebagai direct retainer serta klamer half jackson pada
gigi 43 sebagai indirect retainer. Klamer ini dipilih karena dapat menerima dan
mendistribusikan beban serta mencegah terlepasnya GTSL ke arah vertikal,
sedangkan rest mesial berfungsi untuk menambah support pada GTSL tersebut.
Selain itu dilakukan peninggian plat anterior hingga daerah cingulum
untuk menambah support dan agar plat akrilik tidak mudah patah.

25
BAB V
KESIMPULAN

Menurut klasifikasi Kennedy, kehilangan gigi pada pasien dalam kasus ini
dapat dikategorikan klasifikasi Kennedy klas II pada rahang atas dan klasifikasi
Kennedy klas I modifikasi 1 pada rahang bawah. Pemilihan desain perawatan
utama rahang atas dan rahang bawah dengan menggunakan GTSL akrilik,
sedangkan untuk desain perawatan alternatif pada rahang atas menggunakan
implan dan rahang bawah menggunakan GTSL akrilik dengan pemilihan klamer
yang berbeda dengan desain perawatan utama.

26
DAFTAR PUSTAKA

Beikler, T&Flemmig, TF 2003, Implants in The Medically Compromised


Patient, Crit Rev Oral Bio Med, vol. 14, no. 4, pp. 305-16.
Carr, AB & Brown, DT2011, McCrackens Removable Partial Prosthodontics.
12thed, Elsevier Mosby, St. Louis, pp. 17-9, 30-46
Jorge, RMN, Campos, JCR, Santos, SM, Tavares, JMRS 2014, Biodental
Engineering III, Taylor & Francis Group, London, p. 125.
Nallaswamy, D2003, Textbook of Prosthodontics, Jaypee, New Delhi, pp. 267-9
Newman, MG, Takei, HH & Klokkevold, PR, 2012. Caranzas Clinical
Periodontology. 11th Edition, Elsevier Saunders,St. Louis, pp. 639-41
Phinney, JD & Halstead, JH. 2004,Delmar's Dental Assisting: A Comprehensive
Approach, Delmar Learning, New York, pp. 552-4
Robinson, DS & Bird, DL 2013, Essentials of Dental Assisting, Elsevier, St.
Louis, pp. 366-7
Silva, BJD 2008, Oxford American Handbok of Clinical Dentistry, Oxford
University Press, Oxford, p. 306
Srinivasan, B 2005, Introduction to Dental Implanthology: Textbook of Oral and
Maxillofacial Surgery, 2nded., Elsevier, Churchill Livingstone 2005, pp.
472-86.

27
LAMPIRAN

Pertanyaan dan Jawaban (Pleno)

Kelompok 1

1. Pada perawatan utama rahang atas pada gigi 26 mengapa memilih klamer 3
jari, mengapa tidak memakai 2 jari rest mesial?
Jawab: Sebenarnya bisa, tetapi kasus ini saddle pendek, jadi lebih indikasi
untuk memakai klamer 3 jari
2. Pemberian plat mengapa sampai gigi 16?
Jawab: Karena kalau perluasan plat sampai 16 akan lebih stabil. Untuk
kennedy kelas 1 dan kelas 2 saddle seluas mungkin, di RA sampai hamular
notch dan RB sampai retromolar pad (jaringan keras), yang bisa sebagai
support sehingga beban tidak hanya disalurkan ke ridge, sehingga bisa
mengurangi resorpsi.

Kelompok 2
1. Pada perawatan utama gigi 43, apa memungkinkan pada satu gigi caninus
diberi 2 klamer (rest mesial dan gillete)?
Jawab: Gillete sebagai direct retainer dan rest sebagai support, dan selama
keadaan gigi baik dan akarnya kuat maka bisa diberi 2 klamer.

Kelompok 4
1. Mengapa di RB perawatan utama gigi 43 memakai gillete dan ada peninggian
plat, berarti ada dua indirect retainer, apa tidak berlebihan?
Jawab: Tidak, karena berbeda fungsinya, karena gillete sebagai direct retainer
sedangkan peninggian plat sebagai indirect retainer
2. Pada implan, kenapa memakai foto panoramik sebelumnya?
Jawab: untuk suatu perawatan implan SOP nya harus dilakukan panoramik.
Panoramik untuk melihat keadaan seluruh keadaan RM, melihat sinus,
ketinggian tulang. Kalau misalnya ragu-ragu, silahkan menggunakan periapikal
foto.

28
3. Untuk melihat resorbsi tulang, kenapa tidak memakai periapikal saja?
Jawab: Pertimbangan panoramik: tidak hanya bisa melihat jaringan pada gigi yg
hilang tapi melihat kondisi jaringan secara umum, jika foto periapikal tidak
bisa melihat kondisi jaringan secara menyeluruh.

Kelompok 5

1. Pada perawatan utama RB desain menggunakan klamer gillete (tooth borne),


sedangkan pada perawatan alternatif menggunakan half jackson (mucosa
borne), bukannya itu berbeda, bagaimana?

Jawab: Sebenarnya bisa menggunakan gillete atau half jackson, Alasan memakai
gillete pada perawatan utama adalah untuk membantu membagi beban ke gigi,
dan secara estetik lebih baik.

2. Bagaimana bisa mengetahui kalau ridge flat?

Jawab: Dilihat dari modelnya, waktu kita melihat dari model terlihat flat pada
rahang atas.

3. Apakah pada kasus ridge flat mempengaruhi pemilihan desain? apa bisa dibuat
desain yang lain?

Jawab: Bentuk ridge mempengaruhi pemilihan desain, Desain GTL selain akrilik
bisa menggunakan metal untuk RA pada kasus flat. Keuntungan metal, bisa
membuat kerangka logam yang seminimal mungkin, bisa menghantar panas
dan dingin.

Kelompok 6

1. Pada perawatan alternatif RB, mengapa klamer half jackson dipilih sebagai
indirect retainer (Karena setahu saya indirect retainer berupa peninggian plat
dan rest oklusal )?
Jawab: Mohon maaf salah tulis, Half jackson sebagai direct retainer, dan
peninggian plat sebagai indirect retainer

29
Kelompok 7

1. Pada gigi 45 merupakan single standing tooth, Mengapa memilih klamer 2 jari
rest mesial, tidak dibebaskan saja?
Jawab: Karena mucosa borne dan saddle panjang sehingga menggunakan
klamer 2 jari rest mesial sebagai direct retainer, selain itu gigi 45 kondisinya
masih bagus apabila digunakan sebagai retensi. (Tambahan: single standing
tooth, desain ini tidak bisa disalahkan tapi dilihat juga dari keadaan giginya
sendiri. Bisa juga diberikan peninggian plat dari gigi 33 sampai gigi 43. kelas
1,2,4 harus ada indirect retainer untuk mencegah ungkitan ketika denture
digunakan untuk mengunyah makanan yang lengket).

Kelompok 8

1. Pada perawatan alternatif RA, kenapa memilih implan? Kenapa tidak memilih
GTT?
Jawab: Pada kasus ini perawatan dengan GTT merupakan kontraindikasi
karena yang hilang gigi posterior 27, karena gigi paling belakang tidak ada
retainernya, kurang kuat untuk memakai GTT. Tetapi untuk GTT lekat sebelah
(cantilever bridge) untuk posterior hanya digunakan jika kehilangan giginya
sampai Premolar saja. Retainer harus 2, jadi misal gigi Caninus yang hilang,
retainer pada P1 dan P2, gigi Caninus sebagai pontik

Kelompok 9

1. Pada perawatan utama RB pada gigi 43, mengapa desain kalian tidak memakai
peninggian plat, namun menggunakan gillete dan rest mesial?
Jawab: Pada perawatan utama RB pada gigi 43, kami memilih menggunakan
gillete dan rest mesial karena fungsi rest mesial sebagai support dan peninggian
platnya ada di insisive nya.

30
Kelompok 10:

1. Apa yang dimaksud dengan pemeriksaan CBCT? Apa fungsinya?


Jawab: Pemeriksaan CBCT adalah pemeriksaan radiografi untuk memeriksa
densitas tulang. Densitas tulang dalam satu rahang tidak sama.

31