Anda di halaman 1dari 13

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1. Sistem Kelistrikan PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang


3.1.1. Pembangkit Utama
Untuk menggerakkan seluruh komponen-komponen yang ada di PT.
PUSRI, terdapat beberapa unit penggerak utama yang digunakan sebagai unit
pembangkit tenaga listrik yang dihasilkan generator dengan turbin gas utama.
Pembangkit pada PT. PUSRI terdiri dari beberapa tempat, yaitu PUSRI II (2006-
J), PUSRI III (3006-J), PUSRI IV (4006-J) yang berkapasitas 15 MW, sedangkan
untuk PUSRI IB (5006-J) berkapasitas 22 MW. Masing-masing beroperasi sendiri
maupun paralel melalui sincronizing Bus.
Untuk menjamin kontinuitas beban dan keseimbangan beban maka pada
operasi normal keempat pembangkit tersebut dilengkapi dengan load shedding
sistem dan emergency generator.
Dalam sistem tenaga listrik, terdapat komponen yang dapat kita lihat mulai
dari sistem pembangkit sampai pada beban. Komponen tersebut terdiri dari turbin,
generator, transformator, sistem pengaman jaringan dan peralatan lainnya. Tiap-
tiap komponen tersebut mempunyai fungsi masing-masing, sehingga listrik dari
pusat pembangkit dapat sampai ke beban.
Tegangan pada bus generator 13,8 KV yang selanjutnya diturunkan oleh
transformator step down sesuai dengan kebutuhan beban. Beban pada PT.PUSRI
sebagian besar adalah motor-motor yang bekerja pada tegangan 13,8 KV, 2,4 KV,
dan 440 V. Selain itu juga untuk mensuplai beban pabrik yang lain, seperti
perumahan, penerangan jalan, rumah sakit serta fasilitas lainnya menggunakan
energi sendiri.
Bahan bakar utama Generator Turbin Gas (GTG) ialah mengunakan gas
alam. Spesifikasi GTG yang dipakai PT.PUSRI adalah sebagai berikut :
Bahan bakar : gas alam
Spesifikasi : 13.8 kV; 50 Hz; 3 phase

18
Kapasitas / Daya (desain) :
P-2 : 15 MW
P-3 : 15 MW
P-4 : 15 MW
P-1B : 22 MW
TOTAL : 67 MW
GTG P-II, P-III, P-IV dan P-IB pada kondisi normal beroperasi secara
paralel melalui synchronizing bus. Pada kondisi tertentu seperti pada saat ada
pekerjaan perbaikan di salah satu GTG, maka salah satu atau keempat GTG dapat
dioperasikan secara terpisah (berdiri sendiri).

Gambar 3.7 Sistem Interkoneksi GTG PUSRI

3.1.2. Pembangkit Emergency


Pembangkit emergency adalah sistem pembangkit yang digunakan
apabila pembangkit utama mengalami gangguan. Pembangkit emergency ini
bekerja secara otomatis, apabila sumber listrik dari sumber normal hilang,
transfer Switch dari ATS secara otomatis akan bekerja mengalihkan sumber
listrik dari sumber normal ke sumber emergency. Sementara itu UPS Secara
kontinu mensuplai tegangan 120 V ke panel kontrol dan DCS. Apabila supply

19
utama ke-UPS hilang, maka supply listrik langsung diambil alih oleh battery. Ada
dua macam alat yang digunakan sebagai pembangkit emergency yaitu :
a. Emergency Diesel Generator
Alat ini berfungsi untuk melayani beban-beban yang sangat kritis
dipabrik apabila pembangkit utama mengalami gangguan. Sistim kerja
Emergency Generator akan bekerja secara otomatis apabila sumber listrik dari
sumber normal hilang sehingga transfer switch dari ATS secara otomatis
akan bekerja mengalihkan sumber listrik dari sumber normal ke sumber
emergency.
b. Uninteruptible Power Supply (UPS) Alat ini berfungsi untuk melayani beban-
beban listrik yang tidak boleh terputus supply listriknya, seperti power supply
untuk panel kendali (Control Room). UPS secara kontinu mensuplai tegangan
120 Volt ke panel kontrol dan DCS, dan apabila supply utama ke UPS hilang
maka supply listrik langsung diambil alih oleh battery.

Gambar 3.8 Emergency Generator dan UPS


Sistem tegangan listrik yang dimiliki oleh pembangkit listrik PT.PUSRI
adalah terdiri dari :
a. Sistem tegangan 13,8 kv; 3 phase; 50 hz

20
Sistem tegangan ini merupakan jaringan distribusi utama dari
sumber pembangkit ke Pusat-Pusat Beban yang berupa :
Transformator (13,8 KV / 2,4 KV)
Transformator (13,8 KV / 480 V )
Motor dgn beban di atas 2000 HP seperti: 101-J1 P-III/IV, 5209-JCM
P-1B
b. Sistem tegangan 2,4 kv; 3 phase; 50 hz
Sistem tegangan ini digunakan untuk men-supply beban yang berupa :
Motor dengan kapasitas 200 HP s/d 2000 HP (Pompa Sungai,
Pabrik Urea, Cooling Tower, Bulk Storage dll)
Transformator 2,4 KV / 480 V
Transformator 2,4 KV / 110 V
c. Sistem tegangan 480 v; 3 phase; 50 hz
Sistem tegangan ini digunakan antara lain untuk :
Motor-motor dengan kapasitas sampai dengan 200 HP
Lampu-lampu sorot lapangan (Flood Light) di pabrik
Trafo Lampu penerangan
d. Sistem tegangan 220 v, 120 v
Sistem tegangan ini digunakan antara lain untuk :
Instalasi-instalasi listrik baik di perkantoran atau perumahan
Lampu penerangan
Instrumentasi pabrik
Battery Charger

3.2. Motor Listrik


3.2.1. Motor Listrik Secara Umum
Motor listrik adalah mesin listrik yang mengubah energi listrik menjadi
energi mekanik. Secara sederhana motor listrik hanya terdiri dari Rotor dan Stator.
Rotor adalah bagian yang bergerak atau berputar dan stator adalah bagian yang
diam. Pada motor listrik tenaga listrik diubah menjadi tenaga mekanik. Perubahan
ini dilakukan dengan mengubah tenaga listrik menjadi magnet. Sebagaimana kita

21
ketahui bahwa : kutub-kutub dari magnet yang senama akan tolak-menolak dan
kutub-kutub tidak senama, tarik-menarik. Maka kita dapat memperoleh gerakan
jika kita menempatkan sebuah magnet pada sebuah poros yang dapat berputar, dan
magnet yang lain pada suatu kedudukan yang tetap. Energi mekanik dari motor
listrik inilah yang banyak dimanfaatkan untuk melakukan kerja dalam dunia
industri.

Gambar 3.9 Klasifikasi motor listrik


Dalam dunia industri motor listrik yang paling banyak digunakan adalah
motor Induksi, tidak terkecuali di PT. PUSRI. Motor ini banyak digunakan karena
rancangannya yang sederhana, murah dan mudah didapat, dan dapat langsung
disambungkan ke sumber daya AC.

Sumber : Bengkel Listrik PT. PUSRI


Gambar 3.10 Bentuk Fisik Motor Listrik

22
3.2.2. Motor Induksi
Motor induksi dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok utama :
1. Motor induksi satu fase. Motor ini hanya memiliki satu gulungan stator,
beroperasi dengan pasokan daya satu fase, memiliki sebuah rotor kandang tupai,
dan memerlukan sebuah alat untuk menghidupkan motornya. Sejauh ini motor
ini merupakan jenis motor yang paling umum digunakan dalam peralatan rumah
tangga, seperti kipas angin, mesincuci dan pengering pakaian, dan untuk
penggunaan hingga 3 sampai 4 Hp.
2. Motor induksi tiga fase. Medan magnet yang berputar dihasilkan oleh pasokan
tiga fase yang seimbang. Motor tersebut memiliki kemampuan daya yang tinggi,
dapat memiliki kandang tupai atau gulungan rotor (walaupun 90% memiliki
rotor kandang tupai); dan penyalaan sendiri. Diperkirakan bahwa sekitar 70%
motor di industri menggunakan jenis ini, sebagai contoh, pompa, kompresor, belt
conveyor, jaringan listrik , dan grinder.Tersedia dalam ukuran 1/3 hingga
ratusan Hp.
Motor induksi bekerja sebagai berikut, Listrik dipasok ke stator yang akan
menghasilkan medan magnet. Medan magnet ini bergerak dengan kecepatan
sinkron disekitar rotor. Arus rotor menghasilkan medan magnet kedua, yang
berusaha untuk melawan medan magnet stator, yang menyebabkan rotor berputar.
Walaupun begitu, didalam prakteknya motor tidak pernah bekerja pada kecepatan
sinkron namun pada kecepatan dasar yang lebih rendah. Terjadinya perbedaan
antara dua kecepatan tersebut disebabkan adanya slip/geseran yang meningkat
dengan meningkatnya beban. Slip hanya terjadi pada motor induksi. Untuk
menghindari slip dapat dipasang sebuah cincin geser/ slip ring, dan motor tersebut
dinamakan motor cincin geser/slip ring motor.
Persamaan berikut dapat digunakan untuk menghitung persentase
slip/geseran(Parekh, 2003):
% Slip = (Ns Nb)/Ns x 100
Dimana:
Ns = kecepatan sinkron dalam RPM.

23
Nb = kecepatan dasar dalam RPM
Persamaan berikut dapt digunakan untuk menghitung kecepatan motor :
Ns = 120 f / P
Dimana :
F = Frekuensi (Hz)
P = Jumlah Kutub.

3.3. Transformator
3.3.1. Transformator Secara Umum
Transformator (trafo) adalah alat yang digunakan untuk menaikkan atau
menurunkan tegangan bolak-balik (AC). Transformator terdiri dari 3 komponen
pokok yaitu: kumparan pertama (primer) yang bertindak sebagai input, kumparan
kedua (skunder) yang bertindak sebagai output, dan inti besi yang berfungsi untuk
memperkuat medan magnet yang dihasilkan. Dalam sistem transmisi dan distribusi
tenaga listrik, transformator merupakan salah satu komponen yang paling penting.

Sumber : Transformator Pada Pusri IB PT. Pusri Palembang


Gambar 3.11 Bentuk Fisik Transformator

3.3.2. Prinsip Kerja Transformator


Prinsip kerja dari sebuah transformator adalah sebagai berikut. Ketika
Kumparan primer dihubungkan dengan sumber tegangan bolak-balik, perubahan
arus listrik pada kumparan primer menimbulkan medan magnet yang berubah.

24
Medan magnet yang berubah diperkuat oleh adanya inti besi dan dihantarkan inti
besi ke kumparan sekunder, sehingga pada ujung-ujung kumparan sekunder akan
timbul ggl induksi. Efek ini dinamakan induktansi timbal-balik (mutual
inductance).
Pada skema transformator di bawah ini, ketika arus listrik dari sumber
tegangan yang mengalir pada kumparan primer berbalik arah (berubah
polaritasnya) medan magnet yang dihasilkan akan berubah arah sehingga arus
listrik yang dihasilkan pada kumparan sekunder akan berubah polaritasnya.

Sumber : Bahan Ajar Teknik Elektro Politeknik Negeri Ujung Pandang


Gambar 3.12 Skema Transformator
Hubungan antara tegangan primer, jumlah lilitan primer, tegangan
sekunder, dan jumlah lilitan sekunder, dapat dinyatakan dalam persamaan

Dimana :
Vp = tegangan primer (volt)
Vs = tegangan sekunder (volt)
Np = jumlah lilitan primer
Ns = jumlah lilitan sekunder
Berdasarkan perbandingan antara jumlah lilitan primer dan jumlah lilitan skunder
transformator ada dua jenis yaitu:

25
1. Transformator step up yaitu transformator yang mengubah tegangan bolak-balik
rendah menjadi tinggi, transformator ini mempunyai jumlah lilitan kumparan
sekunder lebih banyak daripada jumlah lilitan primer (Ns > Np).
2. Transformator step down yaitu transformator yang mengubah tegangan bolak-
balik tinggi menjadi rendah, transformator ini mempunyai jumlah lilitan kumparan
primer lebih banyak daripada jumlah lilitan sekunder (Np > Ns).
Pada transformator (trafo) besarnya tegangan yang dikeluarkan oleh
kumparan sekunder adalah;
1. Sebanding dengan banyaknya lilitan sekunder (Vs ~ Ns).
2. Sebanding dengan besarnya tegangan primer ( VS ~ VP).
3. Berbanding terbalik dengan banyaknya lilitan primer.

3.4. Sistem Proteksi Tenaga Listrik


3.4.1. Sistem Proteksi Tenaga Listrik Secara Umum
Proteksi sistem tenaga listrik adalah sistem proteksi yang dipasang pada
peralatan-peralatan listrik suatu sistem tenaga listrik, misalnya generator, motor,
transformator, jaringan dan lain-lain, apabila terjadi kondisi tidak normal pada
operasi sistem itu sendiri. Kondisi ini dapat berupa hubung singkat, tegangan lebih,
beban lebih, frekuensi sistem rendah, asinkron dan lain-lain. Berikut ini adalah
manfaat sistem proteksi :
1. Menghindari dan mengurangi kerusakan peralatan-peralatan akibat gangguan
(kondisi abnormal operasi sistem). Semakin cepat reaksi perangkat proteksi yang
digunakan maka akan semakin sedikit pengaruh gangguan kepada kemungkinan
kerusakan alat.
2. Cepat mengelompokan dan menjaga luas daerah yang mengalami gangguan,
menjadi sekecil mungkin.
3. Dapat memberikan pelayanan listrik dengan keandalan yang tinggi kepada beban
dan juga mutu listrik yang baik.
4. Mengamankan manusia terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh listrik.
Banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam mempertahankan arus kerja
maksimum yang aman. Jika arus kerja bertambah melampaui batas aman yang

26
ditentukan dan tidak ada proteksi atau jika proteksi tidak memadai atau tidak
efektif, maka keadaan tidak normal dan akan mengakibatkan kerusakan isolasi.
Pertambahan arus yang berkelebihan menyebabkan rugi-rugi daya pada konduktor
akan berkelebihan pula, sedangkan pengaruh pemanasan adalah sebanding dengan
kwadrat dari arus:
H = 2 .R.t
Dimana :
H = panas yang dihasilkan (Joule)
I = arus listrik (ampere)
R = tahanan konduktor (ohm)
t = waktu atau lamanya arus yang mengalir (detik)

3.4.2 Komponen Sistem Proteksi Tenaga Listrik


Secara umum komponen sistem proteksi tenaga listrik adalah sebagai
berikut :
1. Circuit Breaker (CB)
Circuit Breaker adalah alat pemutus arus listrik otomatis, dikarenakan lebihnya
arus yang melewati circuit breaker tersebut. Contoh dari circuit breaker adalah :
MCB ( Mind Circuir Braeker), MCCB (Molded Case Circuir Braeker), ACB (Air
Circuir Braeker), VCB (Vacum Circuir Braeker), OCB ( Oil Circuir Braeker),
GCB (Gas Circuir Braeker), dan lain sebagainya.
2. Relay
Relay adalah sebuah alat elektro mekanik yang bekerja dengan memanfaatkan
teori arus listrik yang menghasilkan medan magnet. Pada dasarnya relay adalah
sebuah saklar yang bekerja untuk memutus dan menghubungkan arus listrik.
3. Current Transformer (CT)
Current Transformator adalah trafo yang menghasilkan arus di sekunder
dimana besarnya sesuai dengan ratio dan arus primernya. CT umumnya terdiri dari
sebuah inti besi yang dililiti oleh konduktor kawat tembaga. Output dari skunder
biasanya adalah 1 atau 5 ampere, ini ditunjukan dengan ratio yang dimiliki oleh CT
tersebut.

27
4. Potential Transformer (PT)
Potential Transformer adalah alat yang digunakan untuk menaikkan atau
menurunkan tegangan bolak-balik (AC).
5. Kabel control
Adalah sebagai media penghubung anatar komponen proteksi.
6. Catu daya.
Merupakan sumber tegangan DC untuk sistem proteksi.

3.4.3. Persyaratan Sitem Proteksi Tenaga Listrik


Ada beberapa persyaratan yang sangat perlu diperhatikan dalam suatu
perencanaan sistem proteksi yang efektif, yaitu:
1. Selektivitas dan Diskriminasi
Efektivitas suatu sistem proteksi dapat dilihat dari kesanggupan sistem
dalam mengisolir bagian yang mengalami gangguan saja.
2. Stabilitas
Sifat yang tetap inoperatif apabila gangguan-gangguan terjadi diluar zona
yang melindungi (gangguan luar)
3. Kecepatan Operasi
Sifat ini lebih jelas, semakin lama arus gangguan terus mengalir, semakin
besar kemungkinan kerusakan pada peralatan. Hal yang paling penting adalah
perlunya membuka bagian-bagian yang terganggu sebelum generator-generator
yang dihubungkan sinkron kehilangan sinkronisasi dengan sistem. Waktu
pembebasan gangguan yang tipikal dalam sistem-sistem tegangan tinggi adalah 140
ms. Dimana dimasa mendatang waktu ini hendak dipersingkat menjadi 80 ms
sehingga memerlukan relay dengan kecepatan yang sangat tinggi (very high speed
relaying).
4. Sensitivitas (kepekaan)
Yaitu besarnya arus gangguan agar alat bekerja. Harga ini dapat dinyatakan
dengan besarnya arus dalam jaringan aktual (arus primer) atau sebagai prosentase
dari arus sekunder (trafo arus).

28
5. Pertimbangan ekonomis
Dalam sistem distribusi aspek ekonomis hampir mengatasi aspek teknis,
oleh karena jumlah feeder, trafo dan sebagainya yang begitu banyak, asal saja
persyaratan keamanan yang pokok dipenuhi. Dalam suatu sistem transmisi justru
aspek teknis yang penting. Proteksi relatif mahal, namun demikian pula sistem atau
peralatan yang dilindungi dan jaminan terhadap kelangsungan peralatan sistem
adalah vital. Biasanya digunakan dua sistem proteksi yang terpisah, yaitu proteksi
primer atau proteksi utama dan proteksi pendukung (back up).
6. Realiabilitas (keandalan)
Sifat ini jelas, penyebab utama dari outage rangkaian adalah tidak
bekerjanya proteksi sebagaimana mestinya (mal operation).
7. Proteksi Pendukung
Proteksi pendukung (back up) merupakan susunan yang sepenuhnya
terpisah dan yang bekerja untuk mengeluarkan bagian yang terganggu apabila
proteksi utama tidak bekerja (fail). Sistem pendukung ini sedapat mungkin
indenpenden seperti halnya proteksi utama, memiliki trafo-trafo dan relay-relay
tersendiri. Seringkali hanya triping CB dan trafo -trafo tegangan yang dimiliki
bersama oleh keduanya. Tiap-tiap sistem proteksi utama melindungi suatu area atau
zona sistem daya tertentu. Ada kemungkinan suatu daerah kecil diantara zona -zona
yang berdekatan misalnya antara trafo-trafo arus dan circuit breaker-circuit breaker
tidak dilindungi. Dalam keadaan seperti ini sistem back up (yang dinamakan,
remote back up) akan memberikan perlindungan karena berlapis dengan zona-zona
utama.

29
30